Anda di halaman 1dari 45

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN(RPP)

Sekolah :SMA SWASTA METHODIST 7 MEDAN


Mata pelajaran :Kimia
Kelas/Semester :XI/2
Materi Pokok :Sistem Koloid
Alokasi Waktu :12 × 45 menit (3 minggu)

A. Kompetensi Inti
Kompetensi Sikap Spiritual dan Kompetensi Sikap Sosial dicapai melalui pembelajaran
tidak langsung (indirect teaching) pada pembelajaran Kompetensi Pengetahuan dan
Kompetensi Keterampilan melalui keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan
memperhatikan karakteristik mata pelajaran, serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

KI3: Memahami,menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan


faktual,konseptual, prosedural,dan metakognitif berdasarkan rasaingin tahunya
tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni,budaya,dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan,kebangsaan, kenegaraan,dan peradaban terkait
penyebabfenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural
padabidang kajianyang spesifik sesuai denganbakat dan minatnyauntuk
memecahkan masalah
KI4: Mengolah,menalar,menyaji,dan menciptadalamranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinyadi sekolah secara mandiri
sertabertindak secara efektifdan kreatif,danmampu menggunakan metodasesuai
kaidah keilmuan

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi


KOMPETENSI DASAR DARI KI 3 KOMPETENSI DASAR DARI KI 4
4.15 Membuat makanan atau produk lain
3.15 Mengelompokkan berbagai tipe
yang berupa koloid atau melibatkan
sistem koloid, menjelaskan sifat-
prinsip koloid
sifat koloid dan penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari

Pengembangan IPK dalam pencapaian KD

Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)


3.15.1 Mengetahui jenis-jenis koloid. 4.15.1 Menyajikan laporan pembuatan
3.15.2 Menjelaskan sifat-sifat koloid. bahan makanan atau produk lain
3.15.3 Mengetahui proses pembuatan koloid. yang berupa koloid atau melibatkan
3.15.4 Menganalisis peranan koloid dalam prinsip koloid
kehidupan sehari-hari dan industri.

C. Tujuan Pembelajaran
Melalui model pembelajaran Problem Base Learningdengan menggali informasi dari
berbagai sumber belajar, penyelidikan sederhana dan mengolah informasi, diharapkan
siswa terlibat aktif selama proses belajar mengajar berlangsung, memiliki sikap ingin
tahu, teliti dalam melakukan pengamatan dan bertanggungjawab dalam menyampaikan
pendapat, menjawab pertanyaan, memberi saran dan kritik, serta dapat
menganalisisreaksi kesetimbangan ion larutan garam, sifat asam-basa larutan garam, pH
larutan garam, serta dapat menyajikan datahasilpercobaan dan penelusuran
informasimengenai larutan garam.

D. Materi Pembelajaran
1. Reaksi pelarutan garam..
2. Garam yang bersifat netral.
3. Garam yang bersifat asam-basa.
4. pH larutan garam

C. Pendekatan, Metode dan Model Pembelajaran


Pendekatan : saintifik
Metode : diskusi kelompok, tanya jawab, dan penugasan, praktikum
Model : Problem base learning (PBL)

F. Media Pembelajaran
Media/Alat : Lembar Kerja, Papan Tulis/White Board, LCD, alat Lab

G. Sumber Belajar
1. Buku Kimia Kelas XI (Sudarmo, U. dan Mitayani N., 2014, Kimia untuk SMA Kelas XI,
Erlangga, Jakarta).
2. Internet.
3. Buku/ sumber lain yang relevan.

H. Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan 1 dan 2 (4 ×45 menit)
PPK (religius)
Pendahuluan (30 menit)
1. Memberi salam dan berdoa sebelum pembelajaran dimulai;
2. Mengkondisikan suasana belajar yang menyenangkan;
3. Melalui tanya jawab membahas kembali tentang pembelajaran sebelumnya;
4. Merekam (memperhatikan dan menulis ungkapan yang dikemukakan peserta didik di
papan tulis), memberikan sedikit ulasan;
5. Menyampaikan kompetensi dan tujuan yang akan dicapai berkaitan dengan jenis-jenis
koloid;
6. Menyampaikan garis besar cakupan materi jenis-jenis koloiddan kegiatan yang akan
dilakukan;
7. Menyampaikan metode pembelajaran dan teknik penilaian yang akan digunakan saat
membahas materi jenis-jenis koloid.

Kegiatan Inti (120 menit)


Fase 1: Mengorientasikan peserta didik pada masalah aktual dan autentik
1. Peserta didik memperhatikan dan menelaah beberapa peristiwa dalam kehidupan
sehari-hari yang disajikankan lewat tayangan slide. Contoh bahan pengamatan:

Critical Thinking, HOTS dan


Literasi(Memprediksi dan
PPK (rasa ingintahu dan Mengidentifikasi Tujuan Membaca)
gemar membaca)
Peristiwa Pertama
Dalam kehidupan sehari-hari, pastinya semua kalian pernah melihat bahkan mengonsumsi yang
namanya susu. Tahukah kalian bahwa susu ini adalah salah satu contoh dari koloid jenis enulsi? Susu
merupakan jenis koloid yang sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa susu
disgolongkan sebagai koloid? Apakah yang dimaksud dengan koloid jenis emulsi?
Jika kita memperhatikan dengan seksama bagaimana larutan susu itu, maka
kita akan dapat memperhatikan apa yang membedakannya dengan air biasa
(akuades). Maka analisislah apa yang membedakannya dari larutan lainnya,
mengapa susu tersebut digolongkan sebagai jenis dari koloid.

Critical Thinking, HOTS dan


Literasi(Memprediksi dan
PPK (rasa ingintahu dan Mengidentifikasi Tujuan Membaca)
gemar membaca)
Peristiwa Kedua

Pernahkah kalian melihat agar-agar?Pernahkah kalian membuatnya?


Pernahkah kalian mengonsumsi agar-agar?Mungkin jawaban untuk
seluruh pertanyaan di atas adalah, ya dan pernah. Nah, pernahkah
kalian memikirkan sebenarnya agar-agar itu disebut padat atau
cair?Apakah termasuk dalam keduanya atau bukan?

Nah, agar-agar juga sama halnya dengan susu yaitu merupakan


koloid. Namun, jenisnya berbeda.Maka, selidikilah jenis koloid
apakah agar-agar tersebut?

Critical Thinking, Creativity, HOTS,


Literasi(Memprediksi dan Mengidentifikasi
Tujuan Membaca)

2. Dengan memperhatikan beberapa peristiwa-peristiwa tersebut peserta didik diharapkan dapat


memprediksi apa yang terjadi, menyusun masalah dan memecahkannya, serta
mengembangkannya. Permasalahandiarahkan pada jenis-jenis koloid.

Fase 2: Mengorganisasi peserta didik untuk belajar

Collaboration

1. Perserta didik untuk membagi diri dalam beberapa kelompok (penentuan Kelompok
ditetapkan oleh guru). Tiap kelompok terdiri 4–5 orang.
2. Dibagikan bahan bacaan tambahan disamping buku-buku yang telah dimiliki peserta didik
untuk bahan diskusi perserta didik.
3. Perumusan dan pemecahan masalah diselasaikan melalui forum diskusi kelompok.

Fase 3: Membimbing individual dan kelompok dalam penyelidikan

Collaboration

1. Peserta didik untuk melakukan diskusi kelas melalui bimbingan.


Collaboration, Critical Thinking, Creativity, HOTS
dan Literasi(Mengidentifikasi, membuat informasi
dan membuat keterkaitan)
PPK ( rasa
ingin tahu,
gemar 2. Peserta didik memahami dan mengkaji peristiwa-peristiwa yang disajikan kemudian
membaca, merumuskan masalahnya melalui bimbingan, menyelesaikan masalah dan peserta didik
kreatif termotivasi untuk berdiskusi dalam menggali informasi dari berbagai sumber maupun
demokratis, hand-out yang telah dibagikan.
komunikatif
3. Peserta didik termotivasi untuk diskusi dan melakukan penyelidikan sederhana
, dan tentangjenis-jenis koloiddalam kelompoknya terkait dengan informasi yang diharapkan.
tanggung
jawab
Creativity, Communication dan Literasi(Membuat
ringkasan, konfirmasi, revisi atau menolak prediksi,
menggunakan fitur, mengubah moda dan
menjelaskan antar moda)

4. Peserta didik menuliskan hasil pekerjaanya (untuk masing-masing peserta didik) dan hasil
diskusi kelompok pada kertas yang telah disediakan.

Fase 4 : Membantu peserta didik dalam mengembangkan dan menyajikan hasil


pemecahan masalah/hasil karya

1. Guru memantau jalannya diskusi dan membimbing peserta didik untuk mempresentasikan
hasil diskusinya.
Communication

2. Masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok.

Critical Thinking, HOTS dan


Literasi(Identifikasi informasi, konfirmasi
dan merevisi)

3. Perwakilan kelompok memperhatikan sajian/paparan serta menilai hasil diskusi kelompok


lain yang telah dipresentasikan,mencermatinya dan membandingkan dengan hasil dari
kelompoknya sendiri kemudianmendiskusikan kembali pada kelompok masing-masing.

Critical Thinking and


Communication

4. Perwakilan kelompok untuk memberikan tanggapan dengan mengajukan


pertanyaan,meminta konfirmasi ataupunmemberikan masukan terhadap kelompok
lainnya.
5. Guru mencatat hal-hal yang menyimpang atau tumpang tindih atau “unik” antara
kelompok yang satu dengan yang lain.

6. Guru menilai keaktifan peserta didik (individu dan kelompok) dalam kelas saat
berdiskusi, merancang/melakukan penyelidikan sederhana maupun presentasi
berlangsung.

Fase 5 : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Critical Thinking and


Communication

1. Peserta didik mengkaji ulang proses/hasil pemecahan masalah melalui bimbingan.


2. Guru memberikan penjelasan mengenai hal yang tumpang tindih atau “unik” dan
mengulas hal yang baru dan berbeda pada tiap kelompok.

3. Melakukan diskusi kelas / tanya jawab.


4. Bertanya tentang hal yang kurang dipahami oleh peserta didik.
Penutup (30 menit)
1. Memfasilitasi dalam menemukan kesimpulan tentang jenis-jenis koloid, melalui review
indikator yang hendak dicapai pada hari itu.
2. Beberapa peserta didik untuk mengungkapkan contoh koloid dalam kehidupan sehari-
hari.
3. Memberikan tugas kepada peserta didik mengenai jenis-jenis koloid, dan mengingatkan
peserta didik untuk mempelajari materisifat-sifat koloid yang akan dibahas dipertemuan
berikutnya (kegiatan ini dilakukan di pertemuan ke-2).
4. Melakukan penilaian untuk mengetahui tingkat ketercapaian indikator (kegiatan ini
dilakukan di pertemuan ke-2).
5. Memberi salam.

Pertemuan 3 dan 4 (4 ×45 menit)


Pendahuluan (30 menit)
PPK (religius)
1. Memberi salam dan berdoa sebelum pembelajaran dimulai;
2. Mengkondisikan suasana belajar yang menyenangkan;
3. Melalui tanya jawab membahas kembali tentang jenis-jenis koloidyang di bahas di
pertemuan sebelumnya;
4. Merekam (memperhatikan dan menulis ungkapan yang dikemukakan peserta didik di
papan tulis), memberikan sedikit ulasan;
5. Menyampaikan kompetensi dan tujuan yang akan dicapai berkaitan dengan sifat-sifat
koloid dalam kehidupan sehari-hari;
6. Menyampaikan garis besar cakupan materi sifat-sifat koloiddan kegiatan yang akan
dilakukan;
7. Menyampaikan metode pembelajaran dan teknik penilaian yang akan digunakan saat
membahas materi sifat-sifat koloid.

Kegiatan Inti (120 menit)


Fase 1: Mengorientasikan peserta didik pada masalah aktual dan autentik
1. Peserta didik memperhatikan dan menelaah beberapa peristiwa dalam kehidupan sehari-
hari yang disajikankan lewat tayangan presentasi dan hand out. Contoh bahan
pengamatan:
PPK (rasa ingintahu dan
gemar membaca)
Peristiwayang diamati

Pernahkah kalian mendengar


istilah ‘dialisis’?Dialisis disebut
juga cuci darah. Cuci darah
biasanya akan menggunakan
sebuah mesin untuk
membersihkan darah dari zat-zat
yang tidak diperlukan. Mesin ini
disebut juga dialyzer, karna
berfungsi untuk memisahkan
darah dari zat pengganggunya
(penyaringan/filtrasi). Dalam hal
ini digunakan sifat dari koloid
yang tidak akan lolos dari
membrane semipermeable.
Namun yang bias melewatinya
hanya ion-ion yang perlu untuk
di buang saja. Prinsip dari dialyzer tersebut dihubungkan dengan sifat
koloid.Analisislah bagaimana mekanisme kerjanya dan hubungkan dengan materi
pembelajaran hari ini.

Critical Thinking, HOTS dan


Literasi(Memprediksi dan
PPK (rasa ingintahu dan Mengidentifikasi Tujuan Membaca)
gemar membaca)
Peristiwayang diamati

Pernahkah kalian
memperhatikan cahaya
lampu mobil pada jalan
yang berkabut?
Atau pernahkah kalian
memperhatikan jika pada
suatu tempat yang tertutup
dan bercelah dipaparkan
cahaya?
Jika kalian mengamatinya maka akan terlihat adanya partikel-partikel yang diudara
yang akan terlihat jelas ketika dilewati oleh cahayan tersebut. Sifat koloid apakah
yang berlaku untuk hal tersebut.
Critical Thinking, HOTS dan
Literasi(Memprediksi dan
Mengidentifikasi Tujuan Membaca)

2. Dengan memperhatikan data tersebut peserta didik diharapkan dapat memprediksi apa
yang terjadi, menyusun masalah dan memecahkannya, serta
mengembangkannya.Permasalahandiarahkan pada sifat-sifat koloid dalam kehidupan
sehari-hari.

Fase 2: Mengorganisasi peserta didik untuk belajar

Collaboration

1. Perserta didik membagi diri dalam beberapa kelompok (penentuan Kelompok


ditetapkan oleh guru). Tiap kelompok terdiri 4–5 orang.
2. Dibagikan bahan bacaan tambahan disamping buku-buku yang telah dimiliki peserta
didik untuk bahan diskusi perserta didik.
3. Perumusan dan pemecahan masalah diselasaikan melalui forum diskusi kelompok.

Fase 3: Membimbing individual dan kelompok dalam penyelidikan

Collaboration

1. Peserta didik melakukan diskusi kelas melalui bimbingan.

Collaboration, Critical Thinking, Creativity, HOTS


dan Literasi(Mengidentifikasi, membuat informasi
dan membuat keterkaitan)
PPK ( rasa
ingin tahu,
gemar 2. Peserta didik menelaah dan mengkaji peristiwa-peristiwa yang disajikan kemudian
membaca, merumuskan, menyelesaikan masalah dan memotivasi/mendorong peserta didik
kreatif untuk berdiskusi dalam menggali informasi dari berbagai sumber maupun hand-out
yang telah dibagikan.
demokratis,
komunikatif, 3. Peserta didik termotivasi untuk diskusi tentangsifat-sifat koloid.
dan tanggung
Creativity, Communication dan Literasi(Membuat
jawab
ringkasan, konfirmasi, revisi atau menolak prediksi,
menggunakan fitur, mengubah moda dan
mejelaskan antar moda)

4. Peserta didik menuliskan hasil pekerjaanya (untuk masing-masing peserta didik) dan
hasil diskusi kelompok pada file presentasi sesuai dengan kreativitas masing-
masing.
Fase 4 : Membantu peserta didik dalam mengembangkan dan menyajikan hasil
pemecahan masalah/hasil karya

1. Guru memantau jalannya diskusi dan membimbing peserta didik untuk mempresentasikan
hasil diskusinya.

Communication

2. Masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi dengan cara


menampilkan hasil-hasil kerja kelompoknya.

Critical Thinking, HOTS dan Literasi(Identifikasi


informasi, konfirmasi dan merevisi)

3. Perwakilan kelompok untuk memperhatikan dan menilai sajian/paparan hasil karya dari
kelompok lain yang telah ditampilkan di ruang belajar,mencermatinya dan
membandingkan dengan hasil dari kelompoknya sendiri kemudianmendiskusikan kembali
pada kelompok masing-masing.

Critical Thinking and


Communication

4. Perwakilan kelompok untuk memberikan tanggapan dengan mengajukan


pertanyaan,meminta konfirmasi ataupunmemberikan masukkan terhadap kelompok
lainnya.

5. Guru mencatat hal-hal yang menyimpang atau tumpang tindih atau “unik” antara
kelompok yang satu dengan yang lain.

6. Guru menilai keaktifan peserta didik (individu dan kelompok) dalam kelas saat
berdiskusi, merancang/melakukan penyelidikan sederhana maupun presentasi
berlangsung.

Fase 5 : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Critical Thinking and


Communication

1. Peserta didik mengkaji ulang proses/hasil pemecahan masalah melalui bimbingan.


2. Guru memberikan penjelasan mengenai hal yang tumpang tindih atau “unik” dan
mengulas hal yang baru dan berbeda pada tiap kelompok.

3. Melakukan diskusi kelas / tanya jawab.


4. Bertanya tentang hal yang kurang dipahami oleh peserta didik.
Penutup (30 menit)
1. Memfasilitasi dalam menemukan kesimpulan tentang sifat-sifat koloid, melalui review
indikator yang hendak dicapai pada hari itu.
2. Peserta didik untuk mengungkapkan beberapa sifat-sifat koloid dalam kehidupan sehari-
hari.
3. Memberikan tugas kepada peserta didik, dan mengingatkan peserta didik untuk
mempelajari materipembuatan koloiddan peran koloid dalam kehidupan sehari-hari yang
akan dibahas dipertemuan berikutnya (kegiatan ini dilakukan di pertemuan ke-4).
4. Melakukan penilaian untuk mengetahui tingkat ketercapaian indikator (kegiatan ini
dilakukan di pertemuan ke-4).
5. Memberi salam.

Pertemuan 5 dan 6 (4 ×45 menit)


Pendahuluan (30 menit)
PPK (religius)
1. Memberi salam dan berdoa sebelum pembelajaran dimulai;
2. Mengkondisikan suasana belajar yang menyenangkan;
3. Melalui tanya jawab membahas kembali tentang sifat-sifat koloid yang di bahas di
pertemuan sebelumnya;
4. Merekam (memperhatikan dan menulis ungkapan yang dikemukakan peserta didik di
papan tulis), memberikan sedikit ulasan;
5. Menyampaikan kompetensi dan tujuan yang akan dicapai berkaitan dengan pembuatan
koloid dan peran koloid dalam kehidupan sehari-hari;
6. Menyampaikan garis besar cakupan materipembuatan koloid dan peran koloid dalam
kehidupan sehari-haridan kegiatan yang akan dilakukan;
7. Menyampaikan metode pembelajaran dan teknik penilaian yang akan digunakan saat
membahas materi pembuatan koloid dan peran koloid dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan Inti (120 menit)


Fase 1: Mengorientasikan peserta didik pada masalah aktual dan autentik
1. Peserta didik memperhatikan dan menelaah beberapa contoh gambaryang menunjukkan
peran koloid dalam kehidupan sehari-hariyang disajikankan lewat tayangan presentasi
dan hand out. Contoh bahan pengamatan:

Gambar cat
Gambar Es krim
Critical Thinking, HOTS dan
Literasi(Memprediksi dan
Mengidentifikasi Tujuan Membaca)

2. Dengan memperhatikan data tersebut peserta didik diharapkan dapat memprediksi apa
yang terjadi, menyusun masalah dan memecahkannya, serta
mengembangkannya.Permasalahandiarahkan pada pembuatan dan peran koloid dalam
kehidupan sehari-hari.

Fase 2: Mengorganisasi peserta didik untuk belajar

Collaboration

1. Perserta didik membagi diri dalam beberapa kelompok (penentuan Kelompok ditetapkan
oleh guru). Tiap kelompok terdiri 4–5 orang.
2. Dibagikan bahan bacaan tambahan disamping buku-buku yang telah dimiliki peserta
didik untuk bahan diskusi perserta didik.
3. Perumusan dan pemecahan masalah diselesaikan melalui forum diskusi kelompok.

Fase 3: Membimbing individual dan kelompok dalam penyelidikan

Collaboration

1. Peserta didik melakukan diskusi kelas melalui bimbingan.

Collaboration, Critical Thinking, Creativity, HOTS


dan Literasi(Mengidentifikasi, membuat informasi
dan membuat keterkaitan)
PPK ( rasa
ingin tahu,
gemar
2. Peserta didik menelaah dan mengkaji contoh yang disajikan kemudian merumuskan,
membaca, menyelesaikan masalah dan memotivasi/mendorong peserta didik untuk berdiskusi dalam
kreatif menggali informasi dari berbagai sumber maupun hand-out yang telah dibagikan.
demokratis,
komunikatif, 3. Peserta didik termotivasi untuk diskusi tentangpembuatan dan peran serta koloid dalam
kehidupan sehari-hari.
dan tanggung
jawab
Creativity, Communication dan Literasi(Membuat
ringkasan, konfirmasi, revisi atau menolak prediksi,
menggunakan fitur, mengubah moda dan
mejelaskan antar moda)

4. Peserta didik menuliskan hasil pekerjaanya (untuk masing-masing peserta didik) dan hasil
diskusi kelompok pada kertasyang telah disediakan.
Fase 4 : Membantu peserta didik dalam mengembangkan dan menyajikan hasil
pemecahan masalah/hasil karya

1. Guru memantau jalannya diskusi dan membimbing peserta didik untuk mempresentasikan
hasil diskusinya.

Communication

2. Masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.

Critical Thinking, HOTS dan Literasi(Identifikasi


informasi, konfirmasi dan merevisi)

3. Perwakilan kelompok untuk memperhatikan dan menilai sajian/paparan hasil karya dari
kelompok lain yang telah dipresentasikan,mencermatinya dan membandingkan dengan
hasil dari kelompoknya sendiri kemudianmendiskusikan kembali pada kelompok masing-
masing.

Critical Thinking and


Communication

4. Perwakilan kelompok untuk memberikan tanggapan dengan mengajukan


pertanyaan,meminta konfirmasi ataupunmemberikan masukkan terhadap kelompok
lainnya.

5. Guru mencatat hal-hal yang menyimpang atau tumpang tindih atau “unik” antara
kelompok yang satu dengan yang lain.

6. Guru menilai keaktifan peserta didik (individu dan kelompok) dalam kelas saat
berdiskusi, merancang/melakukan penyelidikan sederhana maupun presentasi
berlangsung.

Fase 5 : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Critical Thinking and


Communication

1. Peserta didik mengkaji ulang proses/hasil pemecahan masalah melalui bimbingan.

2. Guru memberikan penjelasan mengenai hal yang tumpang tindih atau “unik” dan
mengulas hal yang baru dan berbeda pada tiap kelompok.

3. Melakukan diskusi kelas / tanya jawab.

4. Bertanya tentang hal yang kurang dipahami oleh peserta didik.


Penutup (30 menit)
1. Memfasilitasi dalam menemukan kesimpulan tentangpembuatan dan peran koloid
dalam kehidupan sehari-hari, melalui review indikator yang hendak dicapai pada hari
itu.
2. Peserta didik untuk mengungkapkan beberapa peran koloid dalam kehidupan sehari-
hari.
3. Memberikan tugas kepada peserta didik, dan mengingatkan peserta didik untuk
mempelajari materisistem koloiddan meminta peserta didik untuk mempersiapkan
diri untuk tes yang akan dilakuakn (kegiatan ini dilakukan di pertemuan ke-5).
4. Melakukan penilaian untuk mengetahui tingkat ketercapaian indikator (kegiatan ini
dilakukan di pertemuan ke-6).
5. Memberi salam.
I. Penilaian

1. Teknik Penilaian:
a. Penilaian Sikap : Observasi/pengamatan/Jurnal
b. Penilaian Pengetahuan : Tes Tertulis
c. Penilaian Keterampilan : Unjuk Kerja/ Praktik, Portofolio
2. Bentuk Penilaian :
a. Observasi : lembar pengamatan aktivitas peserta didik
b. Tes tertulis : uraian dan lembar kerja
c. Unjuk kerja : lembar penilaian presentasi
d. Portofolio : penilaian laporan
3. Instrumen Penilaian (terlampir)
4. Remedial
a. Pembelajaran remedial dilakukan bagi peserta didik yang capaian KD nya belum
tuntas
b. Tahapan pembelajaran remedial dilaksanakan melalui remidial teaching
(klasikal), atau tutor sebaya, atau tugas dan diakhiri dengan tes.
c. Tes remedial, dilakukan sebanyak 3 kali dan apabila setelah 3 kali tes remedial
belum mencapai ketuntasan, maka remedial dilakukan dalam bentuk tugas tanpa
tes tertulis kembali.
5. Pengayaan
a. Bagi peserta didik yang sudah mencapai nilai ketuntasan diberikan
pembelajaran pengayaan sebagai berikut:
- Siwa yang mencapai nilai n(ketuntasan)  n  n(maksimum) diberikan
materi masih dalam cakupan KD dengan pendalaman sebagai pengetahuan
tambahan
- Siwa yang mencapai nilai n  n(maksimum) diberikan materi melebihi
cakupan KD dengan pendalaman sebagai pengetahuan tambahan.

Medan, Oktober 2018


Disetujui oleh,
Kepala Sekolah SMAS Methodist 7 Guru Pamong

Drs. Syaiful Joni Parlindungan Frida Kristina Situmorang

Mahasiswa Calon Guru

Esra Hana M. Simamora


NIM: 4152131003
LAMPIRAN-LAMPIRAN RPP
I. MATERI
SISTEM KOLOID

A. Sistem Dispersi

Jika kita mencampurkan suatu zat dengan zat cair, maka akan terjadi penyebaran secara merata dari
suatu zat tersebut ke dalam zat cair. Hal inilah yang disebut sebagai sistem dispersi. Dispersi terdiri
dari dua fase yaitu faase yang didispersikan ddan fase pendispersi.Pada umumnya, fase yang
jumlahnya lebih sedikit disebut sebagai fase terdispersi, sedangkan fase yang jumlahnya lebih banyak
disebut sebagai medium pendispersi. Jadi sistem dispersi adalah pencampuran antara fase terdispersi
dengan medium pendispersi yang bercampur secara merata.

Berdasarkan ukuran partikelnya, sistem dispersi dibedakan menjadi 3 yaitu :

1. Larutan sejati atau dispersi molekuler.


Larutan sejati adalah campuran antara zat padat atau zat cair sebagai fase terdispersi dengan zat cair
sebagai medium pendispersi. Pada larutan sejati, fase terdispersi tersebar sempurna dengan medium
pendispersi sehingga dihasilkan campuran yang homogen, antara fase terdispersi dengan medium
pendispersinya tidak dapat dibedakan lagi. Molekul-molekul fase terdispersi tersebar secara merata ke
dalam komponen medium pendispersi, sehingga larutan disebut juga dispersi molekuler.

2. Koloid atau dispersi halus.


Koloid adalah suatu campuran antara fase terdispersi dengan medium pendispersi tetapi fase
terdispersinya bukan dalam bentuk molekuler melainkan gabungan dari beberapa molekul. Secara
visual, bentuk fisik koloid sama seperti bentuk larutan tetapi jika diamati dengan mikroskop ultra,
campuran ini bersifat heterogen.

3. Suspensi atau dispersi kasar.


Suspensi adalah campuran heterogen antara fase terdispersi dengan medium pendispersi dimana fase
terdispersinya tidak dapat bercampur secara merata ke dalam medium pendispersinya. Pada
umumnya, fase terdispersinya berupa padatan sedangkan medium pendispersinya berupa cairan. Dalam
suspensi, antara fase terdispersi dengan medium pendispersinya dapat dibedakan dengan jelas.

B. Sistem Koloid
Koloid berasal dari bahasa Yunani, dari kata “ kolla “ dan “ oid “. Kolla berarti lem, sedangkan oid
berarti seperti/mirip. Istilah koloid diperkenalkan pertama kali oleh Thomas Graham pada tahun
1861 berdasarkan pengamatannya terhadap gelatin yang merupakan kristal tetapi sukar mengalami
difusi. Padahal umumnya kristal mudah mengalami difusi.

Berdasarkan fase terdispersi dan medium pendispersinya, maka sistem koloid dapat dibedakan
menjadi 8 jenis yaitu seperti yang ditunjukkan dalam tabel berikut ini.
Dalam sistem koloid, fase terdispersi dan medium pendispersinya dapat berupa zat padat, cair atau
gas.

C. Sifat-Sifat Koloid
Beberapa sifat koloid diantaranya adalah :

1. Efek Tyndall
Efek Tyndall adalah efek penghamburan cahaya yang disebabkan oleh partikel-partikel koloid.
Pertama kali dikemukakan oleh John Tyndall ( 1820-1893 ), seorang fisikawan Inggris; setelah
mengamati seberkas cahaya putih yang dilewatkan pada sistem koloid.

Apabila seberkas cahaya misalnya dari lampu senter, dilewatkan pada 3 gelas yang masing-
masing berisi suatu dispersi, koloid dan larutan; maka jika dilihat secara tegak lurus dari arah
datangnya cahaya, akan jelas terlihat bahwa cahaya yang melewati dispersi dan koloid
mengalami peristiwa penghamburan dan pemantulan. Sedangkan berkas cahaya yang melewati
larutan tidak akan mengalami peristiwa penghamburan dan pemantulan tersebut ( berkas cahaya
diteruskan ).

Gambar : John Tyndall Gambar : Efek Tyndal


Pada Koloid

Contoh peristiwa efek Tyndall :

o Sorot lampu mobil pada malam hari yang berdebu, berasap, atau berkabut akan tampak jelas.
o Berkas sinar matahari yang melalui celah daun pada pagi hari yang berkabut, akan tampak
jelas.
o Terjadinya warna biru di langit pada siang hari dan warna jingga atau merah di langit pada
saat matahari terbenam.
2. Gerak Brown
Gerak Brown adalah gerak acak atau gerak zig-zag yang dilakukan oleh partikel-partikel koloid.
Pertama kali disampaikan oleh Robert Brown ( 1827 ), seorang ahli biologi dari Inggris. Dia
mengamati pergerakan tepung sari yang terus-menerus di dalam air melalui mikroskop ultra.
Gerakan ini dapat terjadi karena disebabkan oleh adanya tumbukan antara partikel-partikel
pendispersi terhadap partikel-partikel zat terdispersi, sehingga partikel-partikel zat terdispersi
akan terlontar. Lontaran tersebut akan mengakibatkan partikel terdispersi menumbuk partikel
terdispersi yang lain dan akibatnya partikel yang tertumbuk akan terlontar juga.

Peristiwa tersebut akan terus berulang dan hal itu dapat terjadi karena ukuran partikel terdispersi
yang relatif lebih besar dibandingkan dengan ukuran partikel pendispersinya.

Gambar : Robert Brown Gambar : Gerak Brown

Gerak Brown dipengaruhi oleh ukuran partikel dan suhu.

 Semakin kecil ukuran partikel-partikel koloid, gerak Brown akan semakin cepat, dan
sebaliknya.
 Semakin tinggi suhu koloid, gerak Brown akan semakin cepat; dan sebaliknya.
Gerak Brown merupakan salah 1 faktor yang menyebabkan koloid menjadi stabil. Oleh karena
bergerak terus-menerus, maka partikel koloid dapat mengimbangi gaya gravitasi, sehingga tidak
mengalami sedimentasi ( pengendapan ).

3. Muatan Koloid
Partikel-partikel koloid bermuatan listrik, ada yang positif dan ada yang negatif.

Adanya muatan listrik pada partikel-partikel koloid tersebut dapat dijelaskan dengan beberapa
peristiwa yaitu :

a. Elektroforesis.
Elektroforesis adalah pergerakan partikel-partikel koloid karena pengaruh medan listrik.

Jika ke dalam sistem koloid dimasukkan 2 batang elektrode kemudian dihubungkan dengan
sumber arus searah, maka partikel koloid akan bergerak ke salah 1 elektrode; bergantung pada
jenis muatannya.
Koloid bermuatan negatif akan bergerak ke anode ( elektrode positif ) sedangkan koloid yang
bermuatan positif akan bergerak ke katode ( elektrode negatif ).

Gambar: Peristiwa elektroforesis pada koloid

Jadi, elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan koloid.

Contoh penggunaan metode ini adalah :

 untuk identifikasi DNA


 penyaring debu pada cerobong asap pabrik ( = disebut pesawat Cottrel ).

b. Adsorpsi.
Adsorpsi adalah peristiwa penyerapan spesi ( muatan listrik atau ion dan molekul netral ) oleh
permukaan partikel koloid. Peristiwa ini terjadi karena adanya gaya tarik molekul, atom atau
ion pada permukaan adsorben ( koloid ). Kemampuan menarik / menyerap ini disebabkan juga
karena adanya tegangan permukaan koloid yang cukup tinggi, sehingga jika ada partikel /
spesi yang menempel akan cenderung dipertahankan pada permukaannya.

Spesi yang diserap disebut fase terserap, sedangkan spesi yang menyerap disebut adsorben.
Jika partikel koloid ( awalnya netral ) mengadsorpsi ion yang bermuatan positif ( kation ),
maka koloid tersebut akan menjadi bermuatan positif juga, dan sebaliknya. Adanya peristiwa
ini menyebabkan partikel koloid menjadi bermuatan listrik.

Jika permukaan koloid bermuatan positif, maka spesi yang diserap harus bermuatan negatif,
dan sebaliknya.

Contoh :

Sol Fe(OH)3 ( netral ) dalam air akan mengadsorpsi ion positif ( kation ), sehingga menjadi
bermuatan positif.

Sol As2S3 ( netral ) akan mengadsorpsi ion negatif ( anion ), sehingga menjadi bermuatan
negatif.

C H
+
-
l Ion
H negatif
H
Io +
+ n
p
H H H
os
+ + itif
+
F
e
(
O
Gambar : Adsorpsi Koloid
H
)
Muatan koloid juga merupakan faktor yang menstabilkan koloid selain gerak Brown. Oleh
karena bermuatan sejenis, maka partikel-partikel koloid akan saling tolak-menolak sehingga
terhindar dari pengelompokan / penggumpalan antar sesama partikel 3koloid tersebut (
sehingga tidak terjadi peristiwa pengendapan ).

Contoh penggunaan sifat adsorpsi dari koloid :

a. Pemutihan gula tebu.


Gula yang masih berwarna dilarutkan dalam air, kemudian dialirkan melalui tanah
diatomae dan arang tulang. Zat warna dalam gula akan diadsorpsi sehingga dihasilkan gula
yang lebih putih.

b. Penyembuhan sakit perut yang disebabkan oleh bakteri patogen dengan serbuk karbon aktif
atau norit.
c. Pewarnaan tekstil.
Pencelupan serat wol, kapas atau sutera ( sebelum diwarnai ) menggunakan larutan
Al2(SO4)3 atau larutan basa.

d. Penjernihan air.
Dilakukan dengan menggunakan tawas atau Al2(SO4)3. Di dalam air, Al2(SO4)3 akan
terhidrolisis membentuk Al(OH)3 yang berupa koloid. Koloid ini akan mengadsorpsi zat-
zat warna atau zat pencemar dalam air.

e. Adsorpsi gas oleh zat padat ( misalnya pada masker gas yang berisi arang halus ).

c. Koagulasi.
Disebut juga dengan istilah penggumpalan. Adalah peristiwa pengendapan partikel-partikel
koloid sehingga fase terdispersi terpisah dari medium pendispersinya.

Koagulasi terjadi karena hilangnya kestabilan untuk mempertahankan partikel-partikel koloid


agar tetap tersebar di dalam medium pendispersinya.

Hilangnya kestabilan koloid ini disebabkan karena adanya penetralan muatan / pelucutan
muatan partikel koloid yang mengakibatkan terjadinya penggabungan partikel-partikel koloid
menjadi suatu kelompok / agregat yang lebih besar.

Penggabungan ini terjadi karena adanya gaya kohesi antar partikel koloid. Jika ukuran agregat
partikel koloid sudah mencapai ukuran partikel suspensi, maka terjadilah koagulasi.

Pelucutan muatan koloid dapat terjadi pada sel elektroforesis atau jika elektrolit ditambahkan
ke dalam sistem koloid.

Jika arus listrik dialirkan cukup lama ke dalam sel elektroforesis, maka partikel koloid akan
digumpalkan ketika mencapai elektrode.

Koloid yang bermuatan negatif akan digumpalkan di anode ( elektrode positif ), sedangkan
koloid yang bermuatan positif akan digumpalkan di katode ( elektrode negatif ).

Koagulasi koloid karena penambahan elektrolit dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Koloid bermuatan negatif akan menarik kation, sedangkan koloid yang bermuatan positif
akan menarik anion. Ion-ion tersebut akan membentuk selubung lapisan ke-2. Jika
selubung lapisan ke-2 tersebut terlalu dekat, maka selubung itu akan menetralkan muatan
koloid sehingga terjadi koagulasi.
 Semakin besar muatan ion, semakin kuat gaya tarik-menariknya dengan partikel koloid,
sehingga semakin cepat terjadi koagulasi.
Pada proses koagulasi terjadi hal-hal sebagai berikut :

a. Kestabilan koloid disebabkan karena adanya muatan listrik pada permukaan partikel koloid
dan adanya fase terdispersi yang afinitasnya lebih tinggi daripada medium pendispersi.
b. Koagulasi dapat dilakukan dengan cara mekanik dan kimiawi.
 Cara mekanik : pemanasan, pendinginan dan pengadukan.
 Cara kimiawi : penetralan silang atau menghilangkan muatan dan penambahan
elektrolit.

3 +
Fe -
+ Cl
-
+ Cl
-
-
Cl
Cl +
-
Cl
+
Fe +
(O
H)
2

Gambar: Koagulasi Fe( OH)2

Contoh proses-proses yang memanfaatkan sifat koagulasi dari koloid :

a. Pengolahan karet dari bahan mentahnya ( lateks ) dengan koagulan berupa asam format.
b. Proses penjernihan air dengan menambahkan tawas.
Tawas aluminium sulfat (mengandung ion Al3+) dapat digunakan untuk menggumpalkan
lumpur koloid atau sol tanah liat dalam air (yang bermuatan negatif).

c. Proses terbentuknya delta di muara sungai.


Terjadi karena koloid tanah liat dalam air sungai mengalami koagulasi ketika bercampur
dengan elektrolit dalam air laut.
d. Asap atau debu pabrik dapat digumpalkan dengan alat koagulasi listrik ( pesawat Cottrel).
Metode ini dikembangkan oleh Frederick Cottrel ( 1877 - 1948 ).

e. Proses yang dilakukan oleh ion Al3+ atau Fe3+ pada penetralan partikel albuminoid yang
terdapat dalam darah, mengakibatkan terjadinya koagulasi sehingga dapat menutupi luka.

d. Koloid Pelindung.
Koloid pelindung adalah koloid yang bersifat melindungi koloid lain agar tidak mengalami
koagulasi. Koloid pelindung akan membentuk lapisan di sekeliling partikel koloid yang lain.
Lapisan ini akan melindungi muatan koloid tersebut sehingga partikel koloid tidak mudah
mengendap atau terpisah dari medium pendispersinya.

Contohnya :

 Pada pembuatan es krim digunakan gelatin untuk mencegah pembentukan kristal


besar es atau gula.
 Zat-zat pengemulsi ( sabun dan deterjen ).
 Butiran-butiran halus air dalam margarin distabilkan dengan lesitin.
 Partikel-partikel karbon dalam tinta dilindungi dengan larutan gom.
 Warna-warna dalam cat distabilkan dengan oksida logam dengan menambahkan
minyak silikon.
 Pada industri susu, kasein digunakan untuk melindungi partikel-partikel minyak
atau lemak dalam medium cair.
e. Dialisis.
Kestabilan suatu koloid dapat dipertahankan dengan menambahkan sedikit elektrolit dengan
konsentrasi yang tepat ke dalam koloid tersebut.

Jika konsentrasi elektrolit tidak tepat, justru akan terbentuk ion-ion yang mengganggu
kestabilan koloid. Untuk mencegah adanya ion-ion pengganggu, dilakukan dengan cara
dialisis menggunakan alat yang disebut dialisator.

Pada proses ini, sistem koloid dimasukkan ke dalam wadah terbuat dari selaput semi
permeabel (kantong koloid ) dan dicelupkan ke dalam air yang mengalir terus-menerus.

Selaput semi permeabel adalah selaput yang dapat melewatkan partikel-partikel kecil ( ion-ion
atau molekul sederhana ), tetapi mampu menahan partikel koloid. Dengan demikian, ion-ion
akan keluar dari kantong koloid dan hanyut terbawa air.
Gambar : Peristiwa Elektrolisis

Contohnya :

o Untuk memurnikan protein dari partikel-partikel lain yang ukurannya lebih kecil.
o Untuk memisahkan tepung tapioka dari ion-ion sianida.
o Untuk proses cuci darah bagi penderita gagal ginjal ( blood dialisis ).
o Proses pemisahan hasil metabolisme dari darah oleh ginjal manusia.
Jaringan ginjal bersifat sebagai selaput semi permeabel, yang dapat dilalui oleh air dan
molekul-molekul sederhana (seperti urea), tetapi menahan butir-butir darah yang
merupakan koloid.

4. Koloid Liofil dan Liofob


Koloid yang medium pendispersinya cair, dibedakan atas koloid liofil dan koloid liofob.

a. Koloid liofil adalah suatu koloid yang fase terdispersinya dapat menarik medium
pendispersi yang berupa cairan akibat adanya gaya Van der Waals atau ikatan
hidrogen.Liofil artinya “cinta cairan” (Bahasa Yunani; lio=cairan; philia=cinta). Sol
liofil yang setengah padat disebut gel. Contoh gel antara lain selai dan gelatin.

Jika medium pendispersinya berupa air, maka disebut koloid hidrofil.

Koloid hidrofil mempunyai gugus ionik atau gugus polar di permukaannya, sehingga
mempunyai interaksi yang baik dengan air. Butir-butir koloid liofil / hidrofil dapat
mengadsorpsi molekul mediumnya sehingga membentuk suatu selubung ( = disebut
solvatasi / hidratasi ). Akibatnya butir-butir koloid terhindar dari agregasi /
pengelompokan. Sol hidrofil tidak menggumpal pada saat penambahan sedikit
elektrolit. Zat terdispersinya dapat dipisahkan melalui proses pengendapan atau
penguapan.

b. Koloid liofob adalah suatu koloid yang fase terdispersinya tidak dapat mengikat atau
menarik medium pendispersinya. Liofob berarti takut cairan. (phobia=takut).
Jika medium pendispersinya berupa air, maka disebut koloid hidrofob.

Koloid ini biasanya berasal dari senyawa anorganik.


Koloid hidrofob bersifat irreversibel, artinya tidak dapat kembali ke keadaan semula.
Misalnya : sol emas. Jika medium pendispersinya diambil, sol emas membentuk emas
padat. Setelah emas padat terbentuk, tidak dapat berubah menjadi sol emas kembali,
meskipun ditambah dengan medium pendispersinya.

Contohnya : sol AgCl dan sol CaCO3, susu, mayonaise, sol belerang, sol sulfida, sol
logam, sol Fe(OH)3.

Koloid hidrofob tidak akan stabil dalam medium polar ( misalnya air ) tanpa adanya zat
pengemulsi atau koloid pelindung.Zat pengemulsi membungkus partikel-partikel
koloid hidrofob, sehingga terhindar dari koagulasi. Susu ( emulsi lemak dalam air )
distabilkan oleh sejenis protein susu, yaitu kasein; sedangkan mayonaise ( emulsi
minyak nabati dalam air) distabilkan oleh kuning telur.

Perbedaan sifat koloid hidrofil dan koloid hidrofob.

No Koloid Hidrofil Koloid Hidrofob

1 Stabil Kurang stabil

2 Terdiri atas zat organik Terdiri atas zat anorganik

3 Kekentalannya tinggi Kekentalannya rendah

Sukar diendapkan dengan penambahan zat


4 Mudah diendapkan oleh zat elektrolit
elektrolit

5 Kurang menunjukkan gerak Brown Gerak Brown sangat jelas

6 Kurang menunjukkan efek Tyndall Efek Tyndall sangat jelas

7 Dapat dibuat gel Hanya beberapa yang dapat dibuat gel

Hanya dapat dibuat dengan cara


8 Umumnya dibuat dengan cara dispersi
kondensasi

9 Partikel terdispersi mengadsorpsi molekul Patikel terdispersi mengadsorpsi ion

10 Reversibel Ireversibel

11 Mengadsorpsi mediumnya Tidak mengadsorspi mediumnya

Contoh : sabun, agar-agar, kanji, detergen, Contoh : sol belerang, sol logam, sol
12
gelatin AgCl
D. Pembuatan Koloid
Dapat dilakukan dengan 2 cara utama, yaitu :

1. Cara Kondensasi.
Dengan cara ini, partikel larutan sejati ( molekul atau ion ) bergabung membentuk partikel
koloid. Pembuatan koloid dengan cara ini dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu : cara kimia dan
fisika.

Cara Kimia.

Adalah cara pembuatan partikel koloid dari partikel larutan sejati melalui reaksi kimia;
meliputi :

a. Reaksi Hidrolisis.
Adalah reaksi yang terjadi antara garam dengan air.

Contoh : reaksi pembentukan sol Fe(OH)3

FeCl3(aq) + 3 H2O(l) Fe(OH)3(s) + 3 HCl(aq)

b. Reaksi Substitusi.
o Pembuatan sol AgCl.
AgNO3(aq) + NaCl(aq) AgCl(s) + NaNO3(aq)

o Pembuatan sol belerang.


Na2S2O3(aq) + 2 HCl(aq) S(s) + 2 NaCl(aq) + H2SO3(aq)

o Pembuatan sol As2S3


Melalui reaksi dekomposisi rangkap = reaksi pertukaran ion, yaitu reaksi yang
digunakan untuk membuat koloid dari zat-zat yang sukar larut .

2 H3AsO3(aq) + 3 H2S(g) As2S3(s) + 6 H2O(l)

c. Reaksi Redoks.
Adalah reaksi yang melibatkan perubahan bilangan oksidasi.

 Pembuatan sol belerang.


2 H2S(g) + SO2(aq) 3 S(s) + 2 H2O(l)

 Pembuatan sol emas.


2 AuCl3(aq) + 3 HCHO(aq) + 3 H2O(l) 2 Au(s) + 6 HCl(aq) + 3 HCOOH(aq)

Cara Fisika.

Adalah cara pembuatan partikel koloid dengan cara mengkondensasikan partikel melalui :

a. Penggantian Pelarut.
 Pembuatan sol belerang.
Sol belerang dalam air dapat dibuat dengan cara melarutkan belerang ke dalam alkohol
hingga larutan menjadi jenuh. Selanjutnya, larutan jenuh yang terbentuk diteteskan ke
dalam air sedikit demi sedikit.

 Pembuatan gel kalsium asetat.


Kalsium asetat sukar larut dalam alkohol, tetapi mudah larut dalam air. Oleh karena
itu, gel kalsium asetat dibuat dengan cara melarutkan kalsium asetat dalam air
sehingga membentuk larutan jenuh. Selanjutnya, larutan jenuh tersebut ditambahkan
ke dalam alkohol hingga terbentuk gel.

 Pembuatan sol damar.


Damar larut dalam alkohol, tetapi sukar larut dalam air. Mula-mula damar dilarutkan
dalam alkohol hingga diperoleh larutan jenuh. Selanjutnya, larutan jenuh tersebut
ditambah air hingga diperoleh sol damar.

b. Pengembunan Uap.
Sol raksa ( Hg ) dibuat dengan cara menguapkan raksa. Setelah itu, uap raksa dialirkan
melalui air dingin hingga akhirnya diperoleh sol raksa.

2. Cara Dispersi.
Dengan cara ini, partikel koloid diperoleh dengan cara memperkecil ukuran partikel dari suspensi
kasar menjadi partikel berukuran koloid.

Pembuatan koloid dengan cara dispersi, dapat dilakukan melalui beberapa metode yaitu :

a. Cara Mekanik.
Pembuatan koloid secara mekanik dilakukan dengan cara menggerus / menghaluskan
partikel-partikel kasar menjadi partikel-partikel halus. Selanjutnya, didispersikan ke dalam
medium pendispersi. Pada umumnya ke dalam sistem koloid yang terbentuk; ditambahkan zat
penstabil yang berupa koloid pelindung. Zat penstabil ini berfungsi untuk mencegah
terjadinya koagulasi.

Contoh :

Sol belerang dapat dibuat dengan cara menggerus serbuk belerang bersama-sama dengan zat
inert ( misalnya gula pasir ) kemudian mencampur serbuk halus tersebut dengan air.

b. Cara Peptisasi.
Cara peptisasi adalah cara pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan
dengan bantuan suatu zat pemecah ( zat pemeptisasi ). Zat pemeptisasi akan memecahkan
butir-butir kasar menjadi butir-butir koloid.

Istilah peptisasi dihubungkan dengan istilah peptonisasi yaitu proses pemecahan protein (
polipeptida ) dengan menggunakan enzim pepsin sebagai katalisatornya.

Contoh :
o Agar-agar dipeptisasi oleh air
o Nitroselulosa oleh aseton
o Karet oleh bensin
o Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S
o Endapan Al(OH)3 dipeptisasi oleh AlCl3.

c. Cara Busur Bredig.


Cara ini digunakan untuk membuat sol-sol logam ( koloid logam ). Logam yang akan
dijadikan koloid digunakan sebagai elektrode yang dicelupkan ke dalam medium pendispersi.
Kemudian dialiri arus listrik yang cukup kuat sehingga terjadi loncatan bunga api listrik. Suhu
tinggi akibat adanya loncatan bunga api listrik mengakibatkan atom-atom logam akan
terlempar ke dalam medium pendispersi ( air ), lalu atom-atom tersebut akan mengalami
kondensasi sehingga membentuk suatu koloid logam.

Jadi, cara busur Bredig merupakan gabungan antara cara dispersi dan kondensasi.

Contoh : Pembuatan sol platina dalam sol emas.

d. Cara Homogenisasi.
Adalah suatu cara yang digunakan untuk membuat suatu zat menjadi homogen dan berukuran
partikel koloid.

Cara ini banyak dipakai untuk membuat koloid jenis emulsi, misalnya susu.

Pada pembuatan susu, ukuran partikel lemak pada susu diperkecil hingga berukuran partikel
koloid. Caranya dengan melewatkan zat tersebut melalui lubang berpori bertekanan tinggi.
Jika partikel lemak dengan ukuran partikel koloid sudah terbentuk, zat tersebut kemudian
didispersikan ke dalam medium pendispersinya.

e. Cara Dispersi dalam Gas.


Pada prinsipnya, cara ini dilakukan dengan menyemprotkan cairan melalui atomizer.

Menggunakan sprayer pada pembuatan koloid tipe aerosol, misalnya obat asma semprot, hair
spray dan parfum.
Cara Memurnikan Koloid.

Ada 3 cara untuk memurnikan koloid, yaitu :

a. Dialisis.
Dialisis adalah teknik memurnikan koloid dengan cara melewatkan suatu pelarut pada sistem
koloid melalui membran semi permeabel.Ion-ion atau molekul terlarut akan terbawa oleh
pelarut, sedangkan partikel koloid tidak.

b. Ultrafiltrasi.
Diameter partikel koloid lebih kecil daripada partikel suspensi sehingga koloid tidak dapat
disaring menggunakan kertas saring biasa. Koloid dapat disaring dengan menggunakan kertas
saring yang berpori halus. Untuk memperkecil pori, kertas saring dicelupkan ke dalam
kolodian, misalnya selofan.

c. Elektroforesis.
Selain untuk menentukan muatan koloid dan memisahkan asap dan debu dari udara,
elektroforesis juga dapat digunakan untuk memurnikan koloid dari partikel-partikel zat pelarut.

Cara kerjanya :

Koloid yang bermuatan negatif akan bergerak ke arah elektrode positif, sedangkan koloid yang
bermuatan positif akan bergerak ke arah elektrode negatif sehingga campuran koloid positif dan
negatif dapat dipisahkan.

Koloid dalam Kehidupan Sehari hari

1. Detergen :

Sabun dan detergen termasuk jenis koloid Asosiasi. Sabun dan detergen tersusun atas bagian
kepala ( polar) yang bersifat liofil ( hidrofil ) dan bagian ekor ( nonpolar ) yang bersifat liofob
( hidrofob ).

Bagian ekor lebih suka berikatan dengan minyak atau lemak, sedangkan bagian kepala lebih
suka berikatan dengan air. Ketika sabun / detergen dilarutkan dalam air, maka molekul-
molekul sabun / detergen akan mengadakan asosiasi dan orientasi karena gugus nonpolarnya (
ekor ) saling terdesak sehingga terbentuk partikel koloid. Bagian kepala ( hidrofil)
akan menghadap ke air sedangkan bagian ekornya ( hidrofob ) akan berkumpul mengarah ke
dalam.
Ketika pakaian kotor direndam dalam larutan sabun / detergen, gugus nonpolar dari sabun /
detergen akan menarik partikel kotoran ( lemak / minyak ) dari bahan cucian, kemudian
mendispersikannya ke dalam air.

Setelah dikucek dan dibilas, noda lemak akan diikat oleh sabun atau detergen yang akhirnya
akan larut dalam air.

Sebagai bahan pencuci, sabun dan detergen bukan saja berfungsi sebagai pengemulsi tetapi
juga sebagai penurun tegangan permukaan air. Air yang mengandung sabun / detergen
mempunyai tegangan permukaan yang lebih rendah, sehingga lebih mudah meresap pada
bahan cucian.

2. Pengolahan Air Bersih


Secara garis besar, pengolahan air secara sederhana dapat dilakukan melalui 3 tahap, yaitu :

a. Koagulasi.
Koloid yang digunakan untuk menggumpalkan kotoran, yaitu : Al(OH) 3 yang bisa diperoleh dari
tawas KAl(SO4)2, aluminium sulfat dan Poly Aluminium Chloride ( PAC = polimer dari AlCl3-
AlCl3-AlCl3-..... )

b. Penyaringan.
Bertujuan untuk memisahkan gumpalan kotoran yang dihasilkan dari proses koagulasi.

Bahan yang dipakai : pasir, kerikil, ijuk.

c. Penambahan Desinfektan.
Bertujuan untuk membunuh kuman-kuman yang terlarut dalam air.

Bahan yang dipakai : kaporit [ Ca (OCl)2 ] atau klorin.


Gambar : Skema Pengolahan Air minum

3. Pemurnian gula

Gula tebu yang masih berwarna dilarutkan dengan air panas, kemudian dialirkan melewati sistem
koloid, yaitu tanah

diatom atau karbon. Zat warna pada gula tebu akan teradsorpsi sehingga akan diperoleh gula yang
bersih dan putih

4. Pembentukan delta

Tanah liat dan pasir yang terbawa oleh aliran sungai merupakan sistem koloid yang bermuatan
negatif. Sedangkan

air laut mengandung ion-ion Na+, Mg2+, dan Ca2+. Ketika air sungai dan air laut bertemu di muara,
maka partikel-partikel air laut yang bermuatan positif akan menetralkan sistem koloid pada air
sungai sehingga terjadi koagulasi yang ditandai dengan terbentuknya delta.

5. Penggumpalan darah

Darah mengandung koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terdapat suatu luka kecil, untuk
membantu penggumpalan

darah digunakan styptic pencil atau tawas yang mengandung ion Al3+ dan Fe3+. Ion-ion ini akan
menetralkan muatan-muatan partikel koloid protein sehingga membantu penggumpalan darah.

Daftar Pustaka

Herdayanto, 2004. Praktikum Kimia kelas XI SMA. Mascot media nusantara.Bandung

Nana S. 2007. Kimia XI SMA . Grafindo. Bandung..

Kneth, Raymond Davis,1988.General Chemistry. Third edition, New York: Saunders College
Publishing .

Rachmawati, , 2004, Kimia SMA Kelas XI , Jakarta:Esis Erlangga.


PENILAIAN
1. Afektif
2. Kognitif
3. Psikomotorik

INTRUMEN PENILAIAN AFEKTIF


Nama Satuan pendidikan : SMA SWASTA METHODIST 7 MEDAN
Tahun pelajaran : 2018/2019
Kelas/Semester : X/2
Mata Pelajaran : Kimia
KEJADIAN/ BUTIR POS/ TINDAK
NO WAKTU NAMA
PERILAKU SIKAP NEG LANJUT
1

3
4

5
6

8
9

10

11
12
13

14
15

16

17

18

19

20

21
22

23
24
KEJADIAN/ BUTIR POS/ TINDAK
NO WAKTU NAMA
PERILAKU SIKAP NEG LANJUT
25
26

27

28
29

30

31

32
33

34

35

36

37

Medan, Oktober 2018


Disetujui oleh,
Kepala Sekolah SMAS Methodist 7 Guru Pamong

Drs. Syaiful Joni Parlindungan Frida Situmorang, S.Pd

Mahasiswa Calon Guru

Esra Hana M. Simamora


NIM: 4152131003
INSTRUMEN TES TERTULIS

Satuan Pendidikan : SMA SWASTA METHODIST 7 MEDAN


Mata Pelajaran : Kimia
Kelas :XII
Kompetensi dasar : 3.11 Menganalisis kesetimbangan ion dalam larutan garam dan
mengitung pH-nya

Soal:
A. Pilihlah satu jawaban yang paling benar!

1. Pada pembuatan es krim, zat yang digunakan sebagai koloid pelindung adalah ….
A. Lesitin
B. Lemak
C. Susu
D. Mayones
E. Gelatin

2. Suatu campuran heterogen yang terdiri dari zat terdispersi dan zat pendispersi disebut
A. Larutan sejati
B. Suspensi kasar
C. Koloid
D. Dispersi kasar
E. Dispersi molekular

3. Berdasarkan fasa terdispersi dan medium pendispersinya, maka koloid dapat


dikelompokkan menjadi…..
A. Sol, emulsi, dan larutan
B. Sol, emulsi, dan buih
C. Sol, emulsi, dan dispersi kasar
D. Aerosol, emulsi, dan bubuk
E. Sol, emulsi, dan dispersi molekular

4. Salah satu aplikasi koloid dalam kehidupan sehari-hari ialah pada proses cuci darah,
yakni …
A. Efek Tyndal
B. Gerak Brown
C. Elektroforesis
D. Dialisis
E. Suspensi

5. Pembentukan sol Fe(OH)3 dapat dilakukan dengan cara kimia, yakni dengan reaksi …
A. Hidrolisis
B. Redoks
C. Substitusi
D. Eliminasi
E. Hidrogenasi
B. Selesaikan permasalahan berikut:

Critical Thinking, HOTS

Amatilah gambar di atas. Deskripsikan yang dimaksud dengan gambar tersebut dana apa-apa
saja peristiwa yang terdapat dalam gambar.
Pedoman pensekoran :

Alternatif Penyelesaian Skor


1. Gambarkan di atas menunjukkan larutan (sebelah kiri) dan koloid (sebelah 1
kanan) yang dipaparkan cahaya melalui dindingnya.
2. Peristiwa yang terjadi pada gambar menggambarkan saah satu sifat dari 1
koloid, yakni efek tyndall.
3. Sifat yang ditunjukkan ialah adanya cahaya yang dihamburkan dan 1
dipantulkan.
4. Contoh dari peristiwa di atas menunjukkan bahwa pada gelas yang berisi 1
koloid cahayanya terlihat dihamburkan dan di pantulkan sementara pada
larutan tidak terjadi hal tersebut.
Total skor 4

SkorPerolehan
Nilai Perolehan = × 100
skor maksimal

Medan, Oktober 2018


Disetujui oleh,
Kepala Sekolah SMAS Methodist 7 Guru Pamong

Drs. Syaiful Joni Parlindungan Frida Situmorang, S.Pd

Mahasiswa Calon Guru

Esra Hana M. Simamora


NIM: 41521311003
INSTRUMEN PENILAIAN PRESENTASI
Nama Satuan pendidikan : SMAN Sw. Methodist 7 Medan
Tahun pelajaran : 2018/2019
Kelas/Semester : X/2
Mata Pelajaran : Kimia
Kelengkapan Penulisan Kemampuan
Total Nilai
No Nama Siswa Materi Materi Presentasi
Skor Akhir
4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1
1

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24
25

26

27

28

29

30

311

32

33

34

35

36

37

SkorPerolehan
Nilai Perolehan = × 100
Skor maksimal
PEDOMAN PENSKORAN:

SKOR
NO ASPEK KRITERIA YANG DINILAI
MAKS

Presentasi terdiri atas, Judul, Isi Materi
dan Daftar Pustaka
 Presentasi sistematis sesuai materi
4
 Menuliskan rumusan masalah
1 Kelengkapan Materi  Dilengkapi gambar / hal yang menarik
yang sesuai dengan materi
 Hanya 3 kriteria yang terpenuhi 3
 Hanya 2 kriteria yang terpenuhi 2
 Hanya 1 kriteria yang terpenuhi 1
 Materi dibuat dalam bentuk charta /
Power Point
 Tulisan terbaca dengan jelas
4
 Isi materi ringkas dan berbobot
2 Penulisan Materi  Bahasa yang digunakan sesuai dengan
materi
 Hanya 3 kriteria yang terpenuhi 3
 Hanya 2 kriteria yang terpenuhi 2
 Hanya 1 kriteria yang terpenuhi 1
 Percaya diri, antusias dan bahasa yang
lugas
 Seluruh anggota berperan serta aktif
4
 Dapat mengemukanan ide dan
3 Kemampuan presentasi berargumentasi dengan baik
 Manajemen waktu yang baik
 Hanya 3 kriteria yang terpenuhi 3
 Hanya 2 kriteria yang terpenuhi 2
 Hanya 1 kriteria yang terpenuhi 1
SKOR MAKSIMAL 12
Medan, Oktober 2018
Disetujui oleh,
Kepala Sekolah SMAS Methodist 7 Guru Pamong

Drs. Syaiful Joni Parlindungan Frida K Situmorang, S.Pd

Mahasiswa Calon Guru

Esra Hana M.Simamora


NIM: 4152131003
Mata Pelajaran : Kimia SMA
Kelas/Semester :XI/ Semester 1
Kurikulum : Kurikulum 2013

Bahan Kls/ Level Bentuk No.


No. Kompetensi Dasar Konten/Materi Indikator Soal
Semester Kognitif Soal Soal
1 Mengelompokkan berbagai tipe XI/ 2 Jenis koloid Disajikan ciri dari suatu campuran, Pemahaman PG 1
sistem koloid, menjelaskan sifat- peserta didik dapat menentukan jenis (C2)
sifat koloid dan penerapannya campuran tersebut.
dalam kehidupan sehari-hari
Disajikan beberapa jenis koloid Pemahaman PG 2
2 berdasarkan fase terdispersi dan (C2)
pendispersi, peserta didik dapat
menentukan jenis koloid.

3 Sifat-sifat koloid Disajikan sifat-sifat yang dimiliki Penerapan PG 3


koloid, peserta didik dapat (C3)
menganalisis sifat yang dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari.

4 Pembuatan koloid Disajikan suatu sol koloid, peserta didik Pemahaman PG 4


dapat menentukan reaksi (C2)
pembuatannya.

Disajikan contoh produk koloid dalam Pemahaman PG 5


5 kehidupan sehari-hari, peserta didik (C2)
menentukan koloid pelindungnya.

Disajikan gambar, peserta didik Penalaran Uraian 6


6 mendeskripsikan gambar yang diamati (C4) (HOTS)
KARTU SOAL NO. 1

Mata Pelajaran : Kimia SMA


Kelas/Semester :XI/ Semester 2
Kurikulum : Kurikulum 2013
Satuan Kerja :SMA SWASTA METHODIST 7 MEDAN

Kompetensi Dasar :
Mengelompokkan berbagai tipe sistem koloid, menjelaskan
sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari
Materi : Sistem Koloid
Indikator Soal : Disajikan ciri dari suatu campuran, peserta didik dapat
menentukan jenis campuran tersebut.
Level Kognitif : Pemahaman (C2)

Soal:
Suatu campuran heterogen yang terdiri dari zat terdispersi dan zat pendispersi disebut
A. Larutan sejati
B. Suspensi kasar
C. Koloid
D. Dispersi kasar
E. Dispersi molekular

Kunci/Pedoman Penskoran:C
KARTU SOAL NO. 2

Mata Pelajaran : Kimia SMA


Kelas/Semester :XI/ Semester 2
Kurikulum : Kurikulum 2013
Satuan Kerja :SMA SWASTA METHODIST 7 MEDAN

Kompetensi Dasar :
Mengelompokkan berbagai tipe sistem koloid, menjelaskan
sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari
Materi : Sistem Koloid
Indikator Soal : Disajikan beberapa jenis koloid berdasarkan fase terdispersi dan
pendispersi, peserta didik dapat menentukan jenis koloid.
Level Kognitif : Pemahaman (C2)

Soal:
Berdasarkan fasa terdispersi dan medium pendispersinya, maka koloid dapat dikelompokkan
menjadi…..
A. Sol, emulsi, dan larutan
B. Sol, emulsi, dan buih
C. Sol, emulsi, dan dispersi kasar
D. Aerosol, emulsi, dan bubuk
E. Sol, emulsi, dan dispersi molekular

Kunci/Pedoman Penskoran:B
KARTU SOAL NO. 3

Mata Pelajaran : Kimia SMA


Kelas/Semester :XI/ Semester 2
Kurikulum : Kurikulum 2013
Satuan Kerja :SMA SWASTA METHODIST 7 MEDAN

Kompetensi Dasar :
Mengelompokkan berbagai tipe sistem koloid, menjelaskan
sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari
Materi : Sistem Koloid
Indikator Soal : Disajikan sifat-sifat yang dimiliki koloid, peserta didik dapat
menganalisis sifat yang dijumpai dalam kehidupan sehari-
hari.
Level Kognitif : Pemahaman (C2)

Soal:
Pembentukan sol Fe(OH)3 dapat dilakukan dengan cara kimia, yakni dengan reaksi …
A. Hidrogenasi
B. Redoks
C. Substitusi
D. Eliminasi
E. Hidrolisis

Kunci/Pedoman Penskoran :E
KARTU SOAL NO. 4

Mata Pelajaran : Kimia SMA


Kelas/Semester :XI/ Semester 2
Kurikulum : Kurikulum 2013
Satuan Kerja :SMA SWASTA METHODIST 7 MEDAN

Kompetensi Dasar :
Mengelompokkan berbagai tipe sistem koloid, menjelaskan
sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari
Materi : Sistem Koloid
Indikator Soal : Disajikan sifat-sifat yang dimiliki koloid, peserta didik dapat
menganalisis sifat yang dijumpai dalam kehidupan sehari-
hari.
Level Kognitif : Penerapan (C3)

Soal:
Salah satu aplikasi koloid dalam kehidupan sehari-hari ialah pada proses cuci darah, yakni …
A. Efek Tyndal
B. Gerak Brown
C. Elektroforesis
D. Dialisis
E. Suspensi

Kunci/Pedoman Penskoran:D
KARTU SOAL NO. 5

Mata Pelajaran : Kimia SMA


Kelas/Semester :XI/ Semester 2
Kurikulum : Kurikulum 2013
Satuan Kerja :SMA SWASTA METHODIST 7 MEDAN

Kompetensi Dasar :
Mengelompokkan berbagai tipe sistem koloid, menjelaskan
sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari
Materi : Sistem Koloid
Indikator Soal : Disajikan contoh produk koloid dalam kehidupan sehari-
hari, peserta didik menentukan koloid pelindungnya.
Level Kognitif : Pemahaman (C2)

Soal:
Pada pembuatan es krim, zat yang digunakan sebagai koloid pelindung adalah ….
A. Lesitin
B. Lemak
C. Susu
D. Keratin
E. Gelatin

Kunci/Pedoman Penskoran:E
KARTU SOAL NO. 6

Mata Pelajaran : Kimia SMA


Kelas/Semester :XI/ Semester 2
Kurikulum : Kurikulum 2013
Satuan Kerja :SMA SWASTA METHODIST 7 MEDAN

Kompetensi Dasar :
Mengelompokkan berbagai tipe sistem koloid, menjelaskan
sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari
Materi : Sistem Koloid
Indikator Soal : Disajikan gambar, peserta didik mendeskripsikan gambar
yang diamati
Level Kognitif : Penalaran (C4)

Soal:
Critical Thinking, HOTS

Amatilah gambar di atas. Deskripsikan yang dimaksud dengan gambar tersebut dana apa-apa saja
peristiwa yang terdapat dalam gambar.
Pedoman pensekoran :

Alternatif Penyelesaian skor


5. Gambarkan di atas menunjukkan larutan (sebelah kiri) dan koloid (sebelah 1
kanan) yang dipaparkan cahaya melalui dindingnya.
6. Peristiwa yang terjadi pada gambar menggambarkan saah satu sifat dari 1
koloid, yakni efek tyndall.
7. Sifat yang ditunjukkan ialah adanya cahaya yang dihamburkan dan 1
dipantulkan.
8. Contoh dari peristiwa di atas menunjukkan bahwa pada gelas yang berisi 1
koloid cahayanya terlihat dihamburkan dan di pantulkan sementara pada
larutan tidak terjadi hal tersebut.
Total skor 4

Kunci/Pedoman Penskoran:C

Keterangan:
Soal ini termasuk soal HOTS karena:
1) mengandung masalah kontekstual dan mengandung stimulus yang menarik.
2) memproses dan menerapkan informasisifat koloid dalam kehidupan sehari-hari.
3) menganalisis gambar untuk menggambarkan pengamatan..
4) menggunakan infomasi pada keterangan gambar untuk membuat kesimpulan.

Anda mungkin juga menyukai