Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

UJI KANDUNGAN LIPID

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Biokimia


yang diampu oleh Dr. Betty Lukiati, M.S. dan Rahmi Masita, S.Si., M.Sc.

Oleh Kelompok 3 Offering G :

Ade Wahyu Pratama (180342618041)


Ikfi Nihayatul M (180342618037)
Riza Aliyya (180342618066)
Sania Sayyida Ummah (180342618002)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
MEI 2019
A. TUJUAN
1. Mengetahui sifat-sifat fisik dan kima lipid
2. Mengetahui reaksi-reaksi identifikasi dan sifat lipid
B. HASIL PENGAMATAN
1. Uji Akrolein
No. Bau sebelum Bau setelah
Bahan Reagen Hasil
pemanasan pemanasan

1. Minyak Zaitun Tidak berbau Bau tengik +

2. Susu Kambing Susu amis Bau tengik +

3. Minyak Ikan Tidak berbau Minyak terbakar +

4. Minyak Kelapa Sawit Tidak berbau Minyak terbakar +

5. Minyak Wijen Tidak berbau Minyak terbakar +

6. Mentega Tidak berbau Mentega leleh -


Kristal
7. Minyak VCO KHSO4 Menyengat Tengik +++
anhidros menyengat

8. Susu Sapi Susu amis Menyengat +

9. Minyak Jelantah Minyak tengik Minyak terbakar +


(lama)

10. Daging Bau amis ikan Lemak terbakar +

11. Minyak Jagung Tidak berbau Jagung bakar -

12. Susu Kedelai Kedelai Manis -

2. Uji Benedict
No. Bahan Reagen Warna Awal Warna Sesudah Hasil

1. Minyak Zaitun Benedict Kuning bening Biru + endapan -


putih

2. Susu Kambing Putih Hijau +

3. Minyak Ikan Kuning Kuning pekat + +


garis hijau muda

4. Minyak Kelapa Sawit Kuning Kuning pekat + +


garis hijau muda

5. Minyak Wijen Coklat Jingga +

6. Mentega Kuning Kuning cerah -

7. Minyak VCO Tidak Berwarna Biru -

8. Susu Sapi Putih Hijau +


9. Minyak Jelantah Kuning keruh Hijau tua +++
kekuningan +
cincin orange

10. Daging Merah muda Hijau bening + +


cincin orange

11. Minyak Jagung Kuning bening Coklat muda, +


terdapat
endapan

12. Susu Kedelai Putih Hijau lumut, +


terdapat
endapan

13. Gliserol Tidak Berwarna Biru muda -

3. Uji Salkowski
No. Bahan Reagen Warna Awal Warna Sesudah Hasil

1. Minyak Zaitun Kloroform Kuning bening Hijau +


+ H2SO4 kecoklatan
pekat
2. Susu Kambing Putih Endapan putih -

3. Minyak Ikan - - -

4. Minyak Kelapa Sawit Putih keruh Merah + coklat +


+ coklat gelap

5. Minyak Wijen Coklat Merah +

6. Mentega Kuning Kuning bening -

7. Minyak VCO Tidak Berwarna Tidak Berwarna -


+ endapan
oranye

8. Susu Sapi Putih Putih + endapan -


tidak berwarna

9. Minyak Jelantah Merah muda Merah +


kecoklatan +
hijau

10. Daging Kuning keruh Merah +


kecoklatan

11. Minyak Jagung Kuning bening Coklat +


kehitaman
12. Susu Kedelai Putih Putih, endapan -
tidak berwarna

13. Kolesterol Putih Hijau +


kemerahan

4. Uji Asam Basa


No. Lakmus Indikator
Bahan Lakmus Biru Hasil
Merah Universal

1. Minyak Zaitun Merah Merah - Asam

2. Susu Kambing Merah Merah - Asam

3. Minyak Ikan Merah Merah - Asam

4. Minyak Kelapa Sawit Biru Biru - Basa

5. Minyak Wijen Merah Merah pH 5 Asam lemah

6. Mentega Merah Merah pH 5 Asam lemah

7. Minyak VCO Merah Merah pH 5 Asam lemah

8. Susu Sapi Merah Merah pH 6 Asam lemah

9. Minyak Jelantah Merah Merah pH 5 Asam lemah

10. Daging Merah Merah pH 6 Asam lemah

11. Minyak Jagung Merah Biru - Asam

12. Susu Kedelai Merah Biru - Asam

5. Kelarutan Asam Lemak / Minyak


No. Bahan Reagen Kelarutan

Air Tidak larut

HCl Tidak larut

Na2CO3 Larut
1. Minyak Zaitun
Alkohol dingin Tidak larut

Eter Larut

Aseton dingin Tidak larut

2. Susu Kambing Air Larut

HCl Tidak larut

Na2CO3 Larut
Alkohol dingin Larut

Eter Tidak larut

Aseton dingin Larut

Air Tidak Larut

HCl Tidak Larut

Na2CO3 Tidak Larut


3. Minyak Ikan
Alkohol dingin Tidak Larut

Eter Tidak Larut

Aseton dingin Tidak Larut

Air Tidak larut

HCl Tidak larut

Na2CO3 Tidak larut


4. Minyak Kelapa Sawit
Alkohol dingin Larut

Eter Larut

Aseton dingin Larut

Air Tidak larut

HCl Tidak larut

Na2CO3 Larut
5. Minyak Wijen
Alkohol dingin Tidak larut

Eter Larut

Aseton dingin Tidak larut

Air Tidak larut

HCl Larut

Na2CO3 Larut
6. Mentega
Alkohol dingin Tidak larut

Eter Larut

Aseton dingin Larut

7. Minyak VCO Air Tidak Larut

HCl Tidak Larut


Na2CO3 Larut

Alkohol dingin Tidak Larut

Eter Larut

Aseton dingin Tidak Larut

Air Larut

HCl Larut

Na2CO3 Larut
8. Susu Sapi
Alkohol dingin Tidak Larut

Eter Tidak Larut

Aseton dingin Tidak Larut

Air Tidak Larut

HCl Tidak Larut

Na2CO3 Tidak Larut


9. Minyak Jelantah
Alkohol dingin Tidak Larut

Eter Larut

Aseton dingin Larut

Air Larut

HCl Larut

Na2CO3 Larut
10. Daging
Alkohol dingin Larut

Eter Tidak Larut

Aseton dingin Larut

Air Tidak larut

HCl Tidak larut

Na2CO3 Larut
11. Minyak Jagung
Alkohol dingin Tidak larut

Eter Larut

Aseton dingin Tidak larut

12. Susu kedelai Air Larut


HCl Larut

Na2CO3 Larut

Alkohol dingin Larut

Eter Larut

Aseton dingin Larut

6. Uji Emulsi
No. Bahan Reagen Hasil

Air Tidak larut, tidak ada emulsi


1. Minyak Zaitun
Sabun Larut, terbentuk emulsi sedikit

Air Terbentuk endapan putih, tidak


2. Susu Kambing ada emulsi

Sabun Larut, terbentuk emulsi banyak

Air -
3. Minyak Ikan
Sabun -

Air Tidak ada emulsi


4. Minyak Kelapa Sawit
Sabun Terbentuk emulsi

Air Tidak ada emulsi


5. Minyak Wijen
Sabun Terbentuk emulsi

Air Tidak ada emulsi


6. Mentega
Sabun Terbentuk emulsi

Air Tidak larut, tidak ada emulsi


7. Minyak VCO
Sabun Terbentuk emulsi

Air Larut, tidak ada emulsi


8. Susu Sapi
Sabun Terbentuk emulsi

Air Tidak larut, tidak ada emulsi


9. Minyak Jelantah
Sabun Terbentuk emulsi

Air Larut, , tidak ada emulsi


10. Daging
Sabun Terbentuk emulsi

Air Tidak larut, tidak ada emulsi


11. Minyak Jagung
Sabun Larut, tidak ada emulsi
Air Larut, tidak ada emulsi
12. Susu Kedelai
Sabun Larut, tidak ada emulsi

7. Uji Kristal Lemak


No. Bahan Reagen Foto Hasil

1. Minyak Zaitun Larutan Tidak


Eter terbentuk
kristal lemak

2. Susu Kambing Tidak


terbentuk
kristal lemak

3. Minyak Ikan - -

4. Minyak Kelapa Sawit Sedikit,


berbentuk
bulat kecil,
dan tidak
berwarna

5. Minyak Wijen Tidak


terbentuk
kristal lemak
6. Mentega Tidak
terbentuk
kristal lemak

7. Minyak VCO Banyak


kristal lemak
berbentuk tak
beraturan
berwarna
kuning

8. Susu Sapi Sedikit


Kristal lemak
berbentuk tak
beraturan
berwarna
kuning

9. Minyak Jelantah Banyak


kristal lemak
berbentuk
bulat
berwarna
hijau

10. Daging Sedikit tetapi


besar
berbentuk tak
beraturan
berwarna
hijau
11. Minyak Jagung Terbentuk
Kristal kuning
sangat kecil,
bulat

12. Susu Kedelai Berbentuk


bulat kecil

C. ANALISIS DATA
Pada praktikum uji lemak terdapat 6 uji yang dilakukan.
1. Uji Akrolein
Yang pertama adalah uji akrolein. Pada uji ini menggunakan reagen kristal KHSO 4 anhidros.
Pada bahan minyak zaitun setelah diberi reagen, bau sebelum dipanaskan tidak berbau, setelah
dilakukan pemanasan tercium bau tengik, hasilnya bahan positif. Pada bahan susu kambing setelah
diberi reagen, bau sebelum dipanaskan bau susu amis, setelah dilakukan pemanasan tercium bau
tengik, hasilnya bahan positif. Pada bahan minyak ikan, minyak kelapa sawit dan minyak wijen
setelah diberi reagen, bau sebelum dipanaskan tidak berbau, setelah dilakukan pemanasan tercium
bau minyak terbakar, hasilnya bahan positif. Pada bahan mentega setelah diberi reagen, bau
sebelum dipanaskan bau susu amis, setelah dilakukan pemanasan tercium mentega leleh, hasilnya
bahan negatif. Pada bahan minyak VCO setelah diberi reagen, bau sebelum dipanaskan tidak
berbau, setelah dilakukan pemanasan tercium bau tengik menyengat, hasilnya bahan positif yang
tinggi. Pada bahan susu sapi setelah diberi reagen, bau sebelum dipanaskan susu amis, setelah
dilakukan pemanasan tercium bau menyengat, hasilnya bahan positif. Pada bahan minyak jelantah
setelah diberi reagen, bau sebelum dipanaskan bau minyak tengik (lama), setelah dilakukan
pemanasan tercium minyak terbakar, hasilnya bahan positif. Pada bahan daging setelah diberi
reagen, bau sebelum dipanaskan bau amis ikan, setelah dilakukan pemanasan tercium lemak
terbakar, hasilnya bahan positif. Pada bahan minyak jagung, setelah diberi reagen, bau sebelum
dipanaskan tidak berbau, setelah dilakukan pemanasan tercium bau jagung bakar, hasilnya bahan
negatif. Pada bahan susu kedelai, setelah diberi reagen, bau sebelum dipanaskan bau kedelai,
setelah dilakukan pemanasan tercium bau manis, hasilnya bahan negatif.
2. Uji Benedict
Pada uji benedict reagen yang digunakan adalah benedict (campulan fehling A dan B). Pada
bahan minyak zaitun sebelum dilakukan uji Benedict bahan berwarna kuning bening, setelah diberi
reagen benedict terjadi perubahan warna menjadi biru dan terdapat endapan putih, maka hasilnya
negatif. Pada bahan susu kambing sebelum dilakukan uji Benedict bahan berwarna putih, setelah
diberi reagen benedict terjadi perubahan warna menjadi hijau, maka hasilnya positif. Pada bahan
minyak ikan dan minyak kelapa sawit sebelum dilakukan uji Benedict bahan berwarna kuning,
setelah diberi reagen benedict terjadi perubahan warna menjadi kuning pekat dan terdapat garis
hijau muda, maka hasilnya positif. Pada bahan minyak wijen sebelum dilakukan uji Benedict bahan
berwarna coklat, setelah diberi reagen benedict terjadi perubahan warna menjadi jingga, maka
hasilnya positif. Pada bahan mentega sebelum dilakukan uji Benedict bahan berwarna kuning,
setelah diberi reagen benedict terjadi perubahan warna menjadi kuning cerah, maka hasilnya
negatif. Pada bahan minyak VCO sebelum dilakukan uji Benedict bahan tidak berwarna, setelah
diberi reagen benedict terjadi perubahan warna menjadi biru, maka hasilnya negatif. Pada bahan
susu sapi sebelum dilakukan uji Benedict bahan berwarna putih, setelah diberi reagen benedict
terjadi perubahan warna menjadi hijau, maka hasilnya positif. Pada bahan minyak jelantah sebelum
dilakukan uji Benedict bahan berwarna kuning keruh, setelah diberi reagen benedict terjadi
perubahan warna menjadi hijau tua kekuningan dan terbentuk cincin orange, maka hasilnya positif
yang tinggi. Pada bahan daging sebelum dilakukan uji Benedict bahan berwarna merah muda,
setelah diberi reagen benedict terjadi perubahan warna menjadi hijau bening dan terbentuk cincin
orange, maka hasilnya positif. Pada bahan minyak jagung sebelum dilakukan uji Benedict bahan
berwarna kuning bening, setelah diberi reagen benedict terjadi perubahan warna menjadi coklat
muda dan terbentuk endapan, maka hasilnya positif. Pada bahan susu kedelai sebelum dilakukan uji
Benedict bahan berwarna putih, setelah diberi reagen benedict terjadi perubahan warna menjadi
hijau lumut dan terbentuk endapan, maka hasilnya positif. Pada bahan gliserol sebelum dilakukan
uji Benedict bahan tidak berwarna, setelah diberi reagen benedict terjadi perubahan warna menjadi
biru muda, maka hasilnya negatif.
3. Uji Salkowski
Pada uji Salkowski pengujian dilakukan dengan reagen kloroform + H2SO4 pekat. Pada
bahan minyak zaitun sebelum dilakukan uji Salkowski bahan berwarna kuning bening, setelah
diberi reagen kloroform + H2SO4 pekat terjadi perubahan warna menjadi hijau kecoklatan, maka
hasilnya positif. Pada bahan susu kambing sebelum dilakukan uji Salkowski bahan berwarna putih,
setelah diberi reagen kloroform + H2SO4 pekat terbentuk endapan putih, maka hasilnya negatif.
Pada bahan minyak ikan tidak dapat diuji karena terbatasnya bahan. Pada bahan minyak kelapa
sawit sebelum dilakukan uji Salkowski bahan berwarna putih keruh, setelah diberi reagen kloroform
+ H2SO4 pekat terjadi perubahan warna menjadi merah, coklat dan ada coklat gelap, maka hasilnya
positif. Pada bahan minyak wijen sebelum dilakukan uji Salkowski bahan berwarna coklat, setelah
diberi reagen kloroform + H2SO4 pekat terjadi perubahan warna menjadi merah, maka hasilnya
positif. Pada bahan mentega sebelum dilakukan uji Salkowski bahan berwarna kuning, setelah
diberi reagen kloroform + H2SO4 pekat menjadi berwarna kuning bening, maka hasilnya negatif.
Pada bahan minyak VCO sebelum dilakukan uji Salkowski bahan tidak berwarna, setelah diberi
reagen kloroform + H2SO4 pekat menjadi tidak berwarna dan ada endapan orange, maka hasilnya
negatif. Pada bahan susu sapi sebelum dilakukan uji Salkowski bahan berwarna putih, setelah diberi
reagen kloroform + H2SO4 pekat menjadi berwarna putih dan terbentuk endapan tidak berwarna,
maka hasilnya negatif. Pada bahan minyak jelantah sebelum dilakukan uji Salkowski bahan
berwarna merah muda, setelah diberi reagen kloroform + H2SO4 pekat terjadi perubahan warna
menjadi merah kecoklatan dan hijau, maka hasilnya positif. Pada bahan daging sebelum dilakukan
uji Salkowski bahan berwarna kuning keruh, setelah diberi reagen kloroform + H2SO4 pekat terjadi
perubahan warna menjadi merah kecoklata, maka hasilnya positif. Pada bahan minyak jagung
sebelum dilakukan uji Salkowski bahan berwarna kuning bening, setelah diberi reagen kloroform +
H2SO4 pekat terjadi perubahan warna menjadi coklat kehitaman, maka hasilnya positif. Pada bahan
susu kedelai sebelum dilakukan uji Salkowski bahan berwarna putih, setelah diberi reagen
kloroform + H2SO4 pekat menjadi berwarna putih dan terbentuk endapan tidak berwarna, maka
hasilnya negatif. Pada bahan kolesterol sebelum dilakukan uji Salkowski bahan berwarna putih,
setelah diberi reagen kloroform + H2SO4 pekat terjadi perubahan warna menjadi hijau kemerahan,
maka hasilnya positif.
4. Uji Asam Basa
Uji asam basa ini menggunakan lakmus merah, lakmus biru dan indikator universal. Pada
bahan minyak zaitun, susu kambing, dan minyak ikan kertas lakmus merah tetap berwarna merah,
sedangkan kertas lakmus biru berubah menjadi merah, tidak dilakukan pengujian dengan indikator
universal dikarenakan jumlahnya yang hanya terbatas, hasilnya bahan bersifat asam. Pada bahan
minyak kelapa sawit kertas lakmus merah berubah menjadi warna biru, sedangkan kertas lakmus
biru tetap biru, tidak dilakukan pengujian dengan indikator universal dikarenakan jumlahnya yang
hanya terbatas, hasilnya bahan bersifat basa. Pada bahan minyak wijen, mentega, minyak VCO dan
minyak jelantah kertas lakmus merah tetap berwarna merah, sedangkan kertas lakmus biru berubah
menjadi merah, pada indikator universal menunjukkan pH 5, hasilnya bahan bersifat asam lemah.
Pada bahan susu sapi dan daging kertas lakmus merah tetap berwarna merah, sedangkan kertas
lakmus biru berubah menjadi merah, pada indikator universal menunjukkan pH 6, hasilnya bahan
bersifat asam lemah. Pada bahan minyak jagung dan susu kedelai kertas lakmus merah tetap
berwarna merah, sedangkan kertas lakmus biru berubah menjadi merah, tidak dilakukan pengujian
dengan indikator universal dikarenakan jumlahnya yang hanya terbatas, hasilnya bahan bersifat
asam.
5. Kelarutan Asam Lemak / Minyak
Pada Uji Kelarutan Minyak/Lemak diuji dengan 6 reagen yaitu air, HCl, Na2CO3, alkohol
dingin, eter, dan aseton dingin. Pada bahan minyak zaitun dalam reagen air, HCl, alkohol dingin dan
aseton dingin hasilnya tidak larut sedangkan dalam reagen Na2CO3 dan eter hasilnya larut. Pada
bahan susu kambing dalam reagen HCl dan eter hasilnya tidak larut sedangkan dalam reagen air,
Na2CO3, alkohol dingin dan aseton dingin hasilnya larut. Pada bahan minyak ikan dalam reagen
air, HCl, Na2CO3, alkohol dingin, eter, dan aseton dingin hasilnya tidak larut semua. Pada bahan
minyak kelapa sawit dalam reagen air, HCl dan Na2CO3 hasilnya tidak larut sedangkan dalam
reagen alkohol dingin, eter, dan aseton dingin hasilnya larut. Pada bahan minyak wijen dalam
reagen air, HCl, alkohol dingin dan aseton dingin hasilnya tidak larut sedangkan dalam reagen
Na2CO3 dan eter hasilnya larut. Pada bahan mentega dalam reagen air dan alkohol dingin hasilnya
tidak larut sedangkan dalam reagen HCl, Na2CO3, eter dan aseton dingin hasilnya larut. Pada
bahan minyak VCO dalam reagen air, HCl, alkohol dingin dan aseton dingin hasilnya tidak larut
sedangkan dalam reagen Na2CO3 dan eter hasilnya larut. Pada bahan susu sapi dalam reagen
alkohol dingin, eter dan aseton dingin hasilnya tidak larut sedangkan dalam reagen air, HCl dan
Na2CO3 hasilnya larut. Pada bahan minyak jelantah dalam reagen air, HCl, Na2CO3 dan alkohol
dingin hasilnya tidak larut sedangkan dalam reagen eter dan aseton dingin hasilnya larut. Pada
bahan daging dalam reagen eter saja hasilnya tidak larut sedangkan dalam reagen air, HCl,
Na2CO3, alkohol dingin dan aseton dingin hasilnya larut. Pada bahan minyak jagung dalam reagen
air, HCl, alkohol dingin dan aseton dingin hasilnya tidak larut sedangkan dalam reagen Na2CO3
dan eter hasilnya larut. Pada bahan minyak ikan dalam reagen air, HCl, Na2CO3, alkohol dingin,
eter, dan aseton dingin hasilnya larut semua.
6. Uji Emulsi
Uji emulsi menggunakan reagen air dan air sabun. Pada bahan minyak zaitun dalam reagen
air hasilnya tidak larut dan tidak ada emulsi, sedangkan pada reagen sabun hasilnya larut dan
terbentuk emulsi sedikit. Pada bahan susu kambing dalam reagen air hasilnya terbentuk endapan
putih dan tidak ada emulsi, sedangkan pada reagen sabun hasilnya larut dan terbentuk emulsi
banyak. Pada bahan minyak ikan tidak dapat diamati karena bahannya terbatas. Pada bahan minyak
kelapa sawit, minyak wijen dan mentega dalam reagen air hasilnya tidak ada emulsi, sedangkan
pada reagen sabun hasilnya terbentuk emulsi. Pada bahan minyak VCO dalam reagen air hasilnya
tidak larut dan tidak ada emulsi, sedangkan pada reagen sabun hasilnya terbentuk emulsi. Pada
bahan susu sapi dalam reagen air hasilnya larut dan tidak ada emulsi, sedangkan pada reagen sabun
hasilnya terbentuk emulsi. Pada bahan minyak jelantah dalam reagen air hasilnya tidak larut dan
tidak ada emulsi, sedangkan pada reagen sabun hasilnya terbentuk emulsi. Pada bahan daging
dalam reagen air hasilnya larut dan tidak ada emulsi, sedangkan pada reagen sabun hasilnya
terbentuk emulsi. Pada bahan minyak jagung dalam reagen air hasilnya tidak larut dan tidak ada
emulsi, sedangkan pada reagen sabun hasilnya terbentuk emulsi. Pada bahan susu kedelai dalam
reagen air hasilnya larut dan tidak ada emulsi, sedangkan pada reagen sabun hasilnya larut dan tidak
ada emulsi.
7. Uji Kristal Lemak
Uji kristal lemak menggunakan reagen eter dan dilakukan pengamatan menggunakan
mikroskop. Pada bahan minyak zaitun, susu kambing, mentega dan minyak wijen setelah diberi
reagen eter dan diamati menggunakan mikroskop, hasilnya tidak terbentuk kristal lemak. Pada
bahan minyak ikan tidak dapat diamati karena bahanya habis dikarenakan persediaannya yang
terbatas. Pada bahan minyak kelapa sawit setelah diberi reagen eter dan diamati menggunakan
mikroskop, hasilnya terdapat kristal lemak sedikit, berbentuk bulat kecil dan tidak berwarna. Pada
bahan minyak VCO setelah diberi reagen eter dan diamati menggunakan mikroskop terdapat kristal
lemak berbentuk tak beraturan berwarna kuning dan berjumlah banyak. Pada bahan susu sapi
setelah diberi reagen eter dan diamati menggunakan mikroskop terdapat kristal lemak berbentuk tak
beraturan berwarna kuning tetapi jumlahnya sedikit. Pada bahan minyak jelantah setelah diberi
reagen eter dan diamati menggunakan mikroskop, hasilnya terdapat banyak kristal lemak berbentuk
bulat dan berwarna hijau. Pada bahan daging setelah diberi reagen eter dan diamati menggunakan
mikroskop, hasilnya terdapat kristal lemak dalam jumlah sedikit berukuran besar dengan bentuk
tidak beraturan dan
berwarna hijau.
Pada bahan minyak
jagung setelah
diberi reagen eter
dan diamati
menggunakan
mikroskop terdapat
kristal kuning sangat kecil dan bentuknya bulat. Pada bahan susu kedelai setelah diberi reagen eter
dan diamati menggunakan mikroskop, hasilnya terdapat kristal berbentuk bulat kecil.
D. PEMBAHASAN
1. Uji Akrolein
Uji akrolein adalah uji untuk mengetahui terjadinya dehidrasi gliserol, uji ini dilakukan
pada dua sampel yaitu, minyak zaitun, dan susu kambing. Uji ini dilakukan dengan cara
menambahkan KHSO4 yang berfungsi sebagai katalisator pembentukkan gliserol pada sampel
yang mengandung gliserol tersebut. (Ketaren,1986) Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh
bahwa minyak zaitun, dan susu kambing menghasilkan bau khas. Hal ini terjadi karena gliserol
dihidrolisis menghasilkan gugus propanal yang menimbulkan bau khas. Berarti minyak zaitun,
dan susu kambing merupakan triester dari asam lemak dan gliserol.
Ketika lemak dipanaskan setelah ditambahkan agen pendehidrasi (KHSO4) yang akan
menarik air, maka bagian gliserol akan terdehidrasi kedalam bentuk aldehid tidak jenuh atau
dikenal sebagai akrolein (CH2=CHCHO) yang memiliki bau seperti lemak.
2. Uji benedict
Bahan minyak zaitun, sebelum ditambah dengan reagen benedict + H 2O2 + FeCl3
berwarna kuning bening, setelah ditambah dengan reagen mengalami perubahan warna menjadi
biru dengan endapan putih, hal ini mengidentifikasikan bahwa hasil uji gliserol dengan
benedict dari bahan minyak zaitun negatif.
Bahan susu kambing, sebelum ditambah dengan reagen Benedict + H2O2 + FeCl3 berwarna
putih, setelah ditambah dengan reagen mengalami perubahan warna menjadi hijua, hal ini
mengidentifikasikan bahwa hasil uji gliserol dengan benedict dari bahan susu kambing positif.
3. Uji Salkowski
Uji salkowski merupakan uji kualitatif yang dilakukan untuk mengidentifikasi
keberadaan kolesterol. Kolesterol dilarutkan dengan kloroform anhidrat lalu dengan volume
yang sama ditambahkan asam sulfat. Asam sulfat berfungsi sebagai pemutus ikatan ester lipid.
Apabila dalam sampel tersebut terdapat kolesterol maka lapisan kolesterol di bagian atas
menjadi berwarna hijau dan asam sulfat terlihat berubah menjadi kuning dengan warna
fluorescens hijau (Pramarsh, 2008). Dari hasil percobaan uji salkowski menunjukkan hasil
dengan terbentuk cincin coklat yang menunjukkan terjadinya reaksi antara kolesterol dengan
asam sulfat pekat. Hasil dari pengujian ini terdapat beberapa bahan yang menunjukkan hasil
negatif, hal ini mungkin terjadi dikarenakan kadar kolesterol yang terkandung dalam bahan
tersebut rendah.
4. Uji Asam Basa
Pada percobaan ini hasil yang diperoleh adalah semua bahan bersifat asam di mana bahan
bahan tersebut menunjukkan perubahan pada pengujian sifat asam basa dengan menggunakan
kertas lakmus merah dan kertas lakmus biru, yang mana kertas lakmus merah tetap berwarna
merah sedangkan kertas lakmus biru berubah menjadi merah, yang mana bahan-bahan tersebut
bersifat asam. Akan tetapi berbeda dengan hasil dari bahan minyak kelapa sawit yang
mengubah lakmus merah menjadi biru yang artinya bahan tersebut bersifat basa. Hasil ini tidak
sesuai dengan teori yang ada bahwa minyak kelapa memiliki sifat asam. Kekeliruan hasil
percobaan ini terjadi dimungkinkan karena adanya kesalahan pada saat pemipetan larutan
sehingga kadarnya tidak sesuai dengan yang semestinya.
5. Uji Kelarutan Lipid
Lipid memiliki sifat kelarutan yang berbeda-beda. Lipid dapat larut dalam pelarut
organik nonpolar seperti eter, aseton, benzena dan pelarut polar yang dipanaskan dan tidak dapat
larut dalam air tetapi sedikit larut dalam alkohol. Kelarutan lemak dalam suatu pelarut
ditentukan oleh sifat polaritas asam lemak nya titik asam lemak yang bersifat polar cenderung
larut dalam pelarut polar sedangkan asam lemak non polar larut dalam pelarut non polar. Daya
kelarutan asam lemak biasanya lebih tinggi dari komponen gliseridanya dan dapat larut dalam
pelarut organik bersifat polar dan nonpolar. Semakin panjang rantai karbon semakin sukar
dalam pelarut polar. Lemak dan minyak merupakan salah satu kelompok yang termasuk
golongan lipid. Pada uji ini kelarutan lipid ditentukan oleh sifat kepolaran pelarut baik pelarut
non polar maupun pelarut polar.
Berdasarkan hasil percobaan bahan minyak zaitun tidak larut dalam air karena minyak zaitun
bersifat nonpolar sedangkan air bersifat polar. Sedangkan bahan susu kambing dapat larut
dengan pelarut air. Hal ini dikarenakan butiran lemak susu kambing yang berdiameter kecil dan
homogen berukuran antara 1-10 milimikron, sehingga susu kambing lebih mudah diserap oleh
kulit manusia atau bisa dikatakan lebih mudah larut jika dibandingkan dengan minyak zaitun
(Sodiq dan Abidin, 2008).
Pada pelarut HCl, kedua bahan tidak larut. Hal ini sesuai dengan literatur, dikarenakan HCL
sendiri tergolong larutan yang bersifat polar sehingga tidak dapat melarutkan kedua bahan yang
bersifat nonpolar. Minyak zaitun dan susu kambing yang dilarutkan kedalam larutan Na2CO3
seharusnya tidak dapat menyatu. Karena Na2CO3 bukan larutan non polar, sedangkan minyak
hanya dapat larut dalam larutan non polar. Larutan Na2CO3 juga mengandung garam yang
merupakan dapat larut dalam air,sedangkan minyak tidak dapat larut dalam air. Alkohol dingin
tidak melarut kan minyak zaitun namun melarutkan susu kambing karena dari susu kambing
yang cenderung lebih polar dari minyak zaitun. Pada pelarut eter, minyak zaitun larut,
sedangkan susu kambing tidak larut.
Suatu lipid didefinisikan sebagai senyawa organik yang terdapat dalam alam serta tak larut
dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non polar seperti suatu hidrokarbon atau dietil eter.
Pada pelarut aseton dingin seharusnya kedua bahan larut. Beberapa kesalahan yang terjadi
dalam uji kelarutan ini dikarenakan kurangnya jumlah penambahan pada bahan pelarut sehingga
bahan yang seharusnya larut menjadi tidak larut, kemungkinan tercampur dengan bahan lain,
ketidak akuratan dalam melihat kelarutannya, disebabkan juga karena volume yang sedikit, jadi
kelarutannya tidak terlihat jelas
6. Uji Emulsi
Emulsi adalah salah satu campuran yang terdiri dari zat yang tidak tercampur atau tidak
homogen, seperti air dan minyak, pengemulsian adalah zat yang menstabilkan emulsi yang
biasanya berupa protein. emulsi dapat pula diartikan sebagai dispersi atau suspensi menstabil
suatu cairan lain yang keduanya tidak saling melarutkan.
Berdasarkan pengamatan pada uji ini sesuai dengan teori yang ada, air yang ditambahkan
dengan minyak tidak membentuk emulsi yang stabil adalah karena air yang sifatnya polar
sangat susah larut dalam minyak yang sifatnya nonpolar sehingga kedua cairan tersebut akan
saling memisah (tidak bisa bersatu). Hal yang menyebabkan emulsi tidak stabil pada
penambahan minyak dengan air adalah karena tidak adanya emulsigator pada reagen uji
sehingga kondisinya stabil. Sementara itu penambahan minyak dengan larutan sabun
membentuk emulsi yang stabil karena larutan tersebut mampu menurunkan tegangan
permukaan antara kedua fase cairan inilah yang dinamakan zat pengemulsi daya kerja zat
pengemulsi terutama disebabkan oleh bentuk molekulnya yang dapat terikat baik pada minyak
maupun air emulsifier akan membentuk lapisan di sekeliling minyak sebagai akibat
menurunnya tegangan permukaan dan absorbsi melapisi butir-butir minyak sehingga
mengurangi kemungkinan bersatunya butir-butir minyak satu sama lain.
7. Uji Kristal Kolesterol
Pada percobaan ini, kita ingin mengetahui bentuk kristal dari lemak. Adapun hasil yang
diperoleh dari percobaan ini ialah terlihat/nampak ada gambar kristal pada pengamatan di
bawah mikroskop larutan lemak yang telah dicampurkan dengan eter. Menurut teori, kadar
kolesterol yang tinggi akan mengendap lalu membentuk kristal. Kolesterol dapat larut dalam
pelarut lemak, misalnya eter, kloroform, benzena, dan alkohol panas. Apabila terdapat dalam
konsentrasi tinggi, kolesterol mengkristal dalam bentuk kristal yang tidak berwarna, tidak
berasa dan tidak berbau. Dan hasil yang diperoleh kurang sesuai dengan teori yang ada.
Terdapat beberapa bahan yang tidak nampak kristal lemaknya. Pada pengujian ini, tidak
ditemukan kristal karena adanya keungkinan bahwa dalam bahan yang kami uji hanya terdapat
kolesterol dengan kadar yang rendah sehingga ketika diamati di bawah mikroskop tidak
ditemukan adanya kristal lipid atau kristal kolesterol.
B. KESIMPULAN

1. Lipid yang membentuk membran seluler biasanya amphipathic. Ini berarti bahwa satu ujung
dari setiap molekul lipid tertarik pada air dan yang lainnya menolak air. Ketika molekul lipid
terendam air, seperti pada sel hidup, sifat ini secara otomatis memaksa lipid menjadi selaras
yang menciptakan penghalang air alami. Hambatan ini berfungsi sebagai membran luar sel,
yang memungkinkan spesialisasi sel dan kerja sama. Memahami bagaimana lipid menolak air
dengan satu ujung dan menariknya ke yang lain memerlukan pemahaman tentang struktur
kimia dasar dari molekul lipida dan molekul air. Molekul air secara alami bersifat polar, yaitu
satu sisi memiliki muatan positif sementara yang lain memiliki muatan negatif. Lipid terbentuk
kurang ion hidrogen pada satu ujung, yang membuat mereka bermuatan positif dan hidrofilik,
atau tertarik pada air. Ujung lainnya memiliki ion yang seimbang, tidak bermuatan dan karena
itu hidrofobik, atau ditolak oleh air.

2. Reaksi-reaksi identifikasi pada lipid dapat dilakukan dengan berbagai macam uji diantaranya :

 Kelarutan Lipid, Uji ini terdiri atas analisis kelarutan lipid maupun derivat lipid terhadap
berbagai macam pelarut. Lipid tidak dapat larut dalam pelarut polar seperti air tetapi dapat larut
pada pelarut non polar seperti eter

 uji acrolein, Dalam uji ini terjadi dehidrasi gliserol dalam bentuk bebas atau dalam
lemak/minyak menghasilkan aldehid akrilat atau akrolein.

 Uji emulsi, Lemak/minyak dapat terhidrolisis lalu menghasilkan asam lemak dan gliserol.
Proses hidrolisis yang disengaja biasa dilakukan dengan penambahan basa kuat seperti NaOH
dan KOH, melalui pemanasan dan menghasilkan gliserol dan sabun.
 Uji salkowski untuk kolesterol yang merupakan uji kualitatif yang dilakukan untuk mendeteksi
adanya kolesterol.

C. DAFTAR PUSTAKA

Azhari, M.A. 2015. Uji kelarutan, Akrolein, Ketidakjenuhan, Ketengikan, dan Kolesterol Pada
Lipid. Bogor: Departemen Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut
pertanian Bogor.
Haernuryadin, Kevin. 2015. Laporan Akhir Praktikum Biokimia Karbohidrat. Sumedang:
Laboratorium Biokimia dan Fisiologi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran.
Ketaren. 1986. Pengantar Teknologi Minyak Dan Lemak Pangan. Jakarta: Universitas Indonesia
press.
Pramarsh. 2008. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1. Jaakarta: Erlangga.
Sakinah, S.Q. 2011. Laporan Praktikum Biokimia: Lipid. Makassar: Laboratorium Terpadu
Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin.
Sartika, R.A. 2009. Pengaruh Suhu dan Lama Proses Menggoreng (Deep Frying) Terhadap
Pembentukan Asam Lemak Trans. Depok: Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas
Kesehatan Masyarakat.
G. LAMPIRAN

Gambar Uji Bahan uji Gambar Uji Bahan uji

Gliserol 5
Gliserol tetes + Gliserol
dengan 5ml Akrolein dipanaskan
benedict benedict

Minyak
zaitun 5 Minyak
Gliserol
dengan tetes + Akrolein zaitun
benedict 5ml dipanaskan
benedict

Susu
Susu
Gliserol kambing
dengan Akrolein kambing
+ 5 ml
benedict dipanaskan
benedict

Kolesterol
Air sabun
+
Salkowski Emulsi + minyak
kloroform
zaitun
+ H2SO4
Minyak
Air sabun
zaitun +
Salkowski Emulsi + susu
kloroform
kambing
+ H2SO4

Susu
kambing Air +
Salkowski + Emulsi minyak
kloroform zaitun
+ H2SO4

Susu
kambing
+ lakmus Air + susu
Reaksi
merah + Emulsi kambing
asam basa
lakmus
biru

Minyak
zaitun +
Minyak
lakmus
Reaksi zaitun +
merah + Kelarutan
asam basa air
lakmus
biru

Susu Minyak
Kelarutan kambing Kelarutan zaitun +
+ air HCl
Susu Minyak
Kelarutan kambing Kelarutan zaitun +
+ HCl Na2CO3

Minyak
Susu
zaitun +
Kelarutan kambing Kelarutan alkohol
+ Na2CO3
dingin

Susu
Minyak
kambing
Kelarutan Kelarutan zaitun +
+ alkohol
eter
dingin

Minyak
Susu
zaitun +
Kelarutan kambing Kelarutan aseton
+ eter
dingin

Susu
kambing
Kelarutan
+ aseton
dingin