Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

TEKNIK RADIOGRAFI III


“ Teknik Pemeriksaan Colon In Loop “

Dosen pengampu : Annisa, S.Tr Rad

Disusun oleh : Kelompok 2

Hadi Eka Hamdani 17002007


Lili Wahyuni 17002010
Zuezilla 17002017
Saidatiya Aninda Hawari 17002011

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


AWAL BROS PEKANBARU
PROGRAM STUDI DIII RADIOLOGI
TAHUN AJARAN 2018 / 2019
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ iii

A. Latar Belakang ......................................................................................


B. Rumusan Masalah ................................................................................. iv
C. Tujuan Masalah ....................................................................................

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 1

A. Definisi .................................................................................................
B. Tujuan Pemeriksaan..............................................................................
C. Anantomi ..............................................................................................
D. Indikasi ................................................................................................. 2
E. Kontra Indkasi ......................................................................................
F. Persiapan Pasien ................................................................................... 3
G. Persiapan Alat Dan Bahan ....................................................................
H. Proyeksi Pemeriksaan ........................................................................... 4
I. Kriteria Gambaran ................................................................................

BAB III PENUTUP .......................................................................................... 9

A. Kesimpulan ...........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 10

i
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ilmu pengetahuan di bidang kedokteran semakin berkembang yaitu dengan


ditemukannya alat dan metode yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosa
terhadap penderita dilakukan berbagai cara antara lain: pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan secara radiologis.

Pemeriksaan secara radiologi mampu memberikan informasi secara


radiografi yang optimal baik keadaan anatomis maupun fisiologis dari suatu organ
di dalam tubuh yang tidak dapat di raba dan di lihat oleh mata secara langsung serta
mampu memberikan informasi mengenai kelainan-kelainan yang mungkin
dijumpai pada organ-organ yang akan diperiksa.

Pada saat ini hampir semua organ dan sistem di dalam tubuh kita dapat
diperiksa secara radiologis, bahkan setelah ditemukan kontras media yang berguna
memperlihatkan jaringan organ yang mempunyai nomor atom yang lebih kecil
sehingga kelainan pada organ tersebut dapat didiagnosa. Pemeriksaan radiologi
secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu pemeriksaan radiologi tanpa
kontras dan pemeriksaan radiologi yang menggunakan bahan kontras. Dalam
penyusunan makalah ini, penulis menyajikan salah satu pemeriksaan yang
menggunakan bahan kontras yaitu pemeriksaan colon inloop. Pemeriksaan colon
inloop adalah pemeriksaan secara radiologi yang menggunakan bahan kontras
positif yaitu Barium Sulfat dan bahan kontras negatif yaitu udara dengan tujuan
untuk mengvisualisasikan keadaan colon atau usus besar yang dimasukkan ke
dalam tubuh melalui anus.

Adapun teknik-teknik yang rutin dilakukan pada pemeriksaan colon inloop


yaitu dengan menggunakan proyeksi antero-posterior, postero-anterior, lateral,
obliq kanan dan kiri. Dengan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk menyusun
sebuah makalah yang berjul “ Teknik Pemeriksaan Colon In loop ”

ii
B. Rumusan masalah

Bagaimana tatalaksana pemeriksaan radiologi Colon Inloop

C. Tujuan masalah

Untuk mengetahui penatalaksanaan pemeriksaan radiologi Colon Inloop

iii
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian

Teknik pemeriksaan colon in loop adalah teknik pemeriksaan secara


radiologis dari usus besar dengan menggunakan media kontras secara retrograde.

B. Tujuan Pemeriksaan

Tujuan pemeriksaan colon in loop adalah untuk mendapatkan gambaran


anatomis dari kolon sehingga dapat membantu menegakkan diagnosa suatu
penyakit atau kelainan-kelainan pada kolon.

C. Anatomi

D. Indikasi dan Kontra Indikasi


1. Indikasi
a. Kolitis, adalah penyakit-penyakit inflamasi pada colon, termasuk
didalamnya kolitis ulseratif dan kolitis crohn.
b. Carsinoma atau keganasan
c. Divertikel, merupakan kantong yang menonjol pada dinding colon,
terdiri atas lapisan mukosa dan muskularis mukosa.
d. Megakolon adalah suatu kelainan kongenital yang terjadi karena tidak
adanya sel ganglion di pleksus mienterik dan submukosa pada segmen
colon distal.Tidak adanya peristaltik menyebabkan feses sulit melewati
segmena gangglionik, sehingga memungkinkan penderita untuk buang
air besar tiga minggu sekali.
e. Obstruksi atau illeus adalah penyumbatan pada daerah usus besar.
f. Invaginasi adalah melipatnya bagian usus besar ke bagian usus itu
sendiri.
g. Stenosis adalah penyempitan saluran usus besar.
h. Volvulus adalah penyumbatan isi usus karena terbelitnya sebagian usus
ke bagian usus yang lain.
i. Atresia ani adalah tidak adanya saluran dari colon yang seharusnya ada.

1
2. Kontra Indikasi
a. Perforasi, terjadi karena pengisian media kontras secara mendadak dan
dengan tekanan tinggi.
b. Obstruksi akut atau penyumbatan.
c. Diare berat.

E. Persiapan Pasien

Tujuan persiapan pasien sebelum dilakukan pemeriksaan colon in loop


adalah untuk membersihkan kolon dari feses, karena bayangan dari feses dapat
mengganggu gambaran dan menghilangkan anatomi normal sehingga dapat
memberikan kesalahan informasi dengan adanya filling defect.

Prinsip dasar pemeriksaan colon in loop memerlukan beberapa persiapan pasien,


yaitu :

1. Mengubah pola makanan pasien

Makanan hendaknya mempunyai konsistensi lunak, rendah serat dan


rendah lemak untuk menghindari terjadinya bongkahan - bongkahan tinja
yang keras.

2. Minum sebanyak-banyaknya

Pemberian minum yang banyak dapat menjaga tinja selalu dalam


keadaan lembek

3. Pemberian obat pencahar

Apabila kedua hal diatas dijalankan dengan benar, maka pemberian obat
pencahar hanya sebagai pelengkap saja.

F. Persiapan Alat dan Bahan


1. Persiapan alat pada pemeriksaan colon in loop, meliputi :
a. Pesawat x – ray siap pakai
b. Kaset dan film sesuai dengan kebutuhan
c. Marker

2
d. Standar irigator dan irigator set lengkap dengan kanula rectal .
e. Vaselin dan jelly
f. Sarung tangan
g. Penjepit atau klem
h. Kain kassa
i. Bengkok
j. Apron
k. Plester
l. Tempat mengaduk media kontras

G. Persiapan bahan
1. Media kontras, yang sering dipakai adalah larutan barium dengan
konsentrasi antara 70 – 80 W/V % (Weight /Volume). Banyaknya larutan
(ml) tergantung pada panjang pendeknya kolon, kurang lebih 600 – 800 ml
2. Air hangat untuk membuat larutan barium
3. Vaselin atau jelly, digunakan untuk menghilangi rasa sakit saat kanula
dimasukkan kedalam anus.

H. Teknik Pemasukan Media Kontras


1. Metode kontras tunggal

Barium dimasukkan lewat anus sampai mengisi daerah sekum.


Pengisian diikuti dengan fluoroskopi. Untuk keperluan informasi yang lebih
jelas pasien dirotasikan ke kanan dan ke kiri serta dibuat radiograf full
filling untuk melihat keseluruhan bagian usus dengan proyeksi antero
posterior. Pasien diminta untuk buang air besar, kemudian dibuat radiograf
post evakuasi posisi antero posterior.

2. Metode kontras ganda


a. Pemasukan media kontras dengan metode satu tingkat.

Merupakan pemeriksaan colon in loop dengan menggunakan media


kontras berupa campuran antara BaSO4 dan udara. Barium dimasukkan

3
kira-kira mencapai fleksura lienalis kemudian kanula diganti dengan
pompa. Udara dipompakan dan posisi pasien diubah dari posisi miring
ke kiri menjadi miring ke kanan setelah udara sampai ke fleksura lienalis.
Tujuannya agar media kontras merata di dalam usus. Setelah itu pasien
diposisikan supine dan dibuat radiograf.

b. Pemasukan media kontras dengan metode dua tingkat.


1) Tahap pengisian

Pada tahap ini dilakukan pengisian larutan BaSO4 ke dalam lumen


kolon, sampai mencapai pertengahan kolon transversum. Bagian yang
belum terisi dapat diisi dengan mengubah posisi penderita.

2) Tahap pelapisan

Dengan menunggu kurang lebih 1-2 menit agar larutan BaSo4


mengisi mukosa kolon.

3) Tahap pengosongan

Setelah diyakini mukosa terlapisi maka larutan perlu dibuang


sebanyak yang dapat dikeluarkan kembali.

4) Tahap pengembangan

Pada tahap ini dilakukan pemompaan udara ke lumen kolon.


Pemompaan udara tidak boleh berlebihan (1800- 2000 ml) karena
dapat menimbulkan kompikasi lain, misalnya refleks vagal yang
ditandai dengan wajah pucat, pandangan gelap, bradikardi, keringat
dingin dan pusing.

5) Tahap pemotretan

Pemotretan dilakukan bila seluruh kolon telah mengembang


sempurna.

I. Proyeksi Radiograf
1. Proyeksi Antero Posterior (AP).

4
Pasien diposisikan supine di atas meja pemeriksaan dengan MSP (Mid
Sagital Plane) tubuh berada tepat pada garis tengah meja pemeriksaan.
Kedua tangan lurus di samping tubuh dan kedua kaki lurus ke bawah. Objek
diatur dengan menentukan batas atas processus xypoideus dan batas bawah
adalah symphisis pubis.

Titik bidik pada pertengahan kedua crista illiaca dengan arah sinar vertikal
tegak lurus dengan kaset. Eksposi dilakukan saat pasien ekspirasi penuh
dan tahan nafas.

Kriteria radiograf menunjukkan seluruh kolon terlihat, termasuk fleksura


dan kolon sigmoid.

2. Proyeksi AP Aksial (Ballinger, 1999).

Posisi pasien supine di atas meja pemeriksaan dengan MSP tepat pada garis
tengah meja pemeriksaan. Kedua tangan lurus di samping tubuh dan kedua
kaki lurus ke bawah. Atur pertengahan kaset dengan menentukan batas atas
pada puncak illium dan batas bawah symphisis pubis.

Titik bidik pada 5 cm di bawah pertengahan kedua crista illiaca dengan arah
sinar membentuk sudut 30° - 40° kranial. Eksposi dilakukan saat pasien
ekspirasi penuh dan tahan nafas.

Kriteria radiograf menunjukkan rektosigmoid di tengah film dan sedikit


mengalami superposisi dibandingkan dengan proyeksi antero posterior,
tampak juga kolon transversum.

3. Proyeksi LPO (Ballinger, 1999).

Pasien diposisikan supine kemudian dirotasikan kurang lebih 35° - 45°


terhadap meja pemeriksaan. Tangan kiri digunakan untuk bantalan dan
tangan kanan di depan tubuh berpegangan pada tepi meja pemeriksaan. Kaki
kiri lurus sedangkan kaki kanan ditekuk untuk fiksasi.

Titik bidik 1-2 inchi ke arah lateral kanan dari titik tengah kedua crista
illiaca, dengan arah sinar vertikal tegak lurus terhadap kaset.

4. Proyeksi RPO (Ballinger, 1999).

5
Posisi pasien supine di atas meja pemeriksaan kemudian dirotasikan ke
kanan kurang lebih 35° - 45° terhadap meja pemeriksaan.Tangan kanan
lurus di samping tubuh dan tangan kiri menyilang di depan tubuh
berpegangan pada tepi meja. Kaki kanan lurus ke bawah dan kaki kiri sedikit
ditekuk untuk fiksasi. Titik bidik pada 1-2 inchi ke arah lateral kiri dari titik
tengah kedua crista illiaca dengan arah sinar vertikal tegak lurus terhadap
kaset. Eksposi dilakukan saat pasien ekspirasi penuh dan tahan nafas.

Kriteria radiograf menunjukkan tampak gambaran fleksura lienalis dan


kolon asenden.

5. Proyeksi Postero Anterior (Ballinger, 1999).

Pasien diposisikan tidur telungkup (prone) di atas meja pemeriksaan dengan


MSP tubuh berada tepat di garis tengah meja pemeriksan. Kedua tangan
lurus di samping atas tubuh dan kaki lurus ke bawah. MSP objek sejajar
dengan garis tengah meja pemeriksaan, objek diatur diatas meja
pemeriksaan dengan batas atas processus xypoideus dan batas bawah
sympisis pubis tidak terpotong, pada saat eksposi pasien ekspirasi dan tahan
nafas. Titik bidik pada pertengahan kedua crista illiaca dengan arah sinar
vertikal tegak lurus kaset Kriteria radiograf seluruh kolon terlihat termasuk
fleksura dan rektum.

6. Proyeksi Postero Anterior Aksial (Balinger, 1999).

Pasien tidur telungkup di atas meja pemeriksaan dengan MSP tubuh berada
tepat pada garis tengah meja pemeriksaan. Kedua tangan lurus disamping
tubuh dan kaki lurus kebawah. MSP objek sejajar dengan garis tengah grid,
pertengahan kaset pada puncak illium. Eksposi pada saat ekspirasi dan tahan
nafas. Titik bidik pada pertengahan kedua crista illiaca dengan arah sinar
menyudut 30° - 40° kaudal.

Kriteria : tampak rektosigmoid ditengah film, daerah rektosigmoid terlihat


lebih sedikit mengalami superposisi dibandingkan dengan proyeksi PA,
terlihat kolon transversum dan kedua fleksura.

7. Proyeksi RAO

6
Posisi pasien telungkup di atas meja pemeriksaan kemudian dirotasikan ke
kanan kurang lebih 35˚- 45˚ terhadap meja pemeriksaan. Tangan kanan lurus
di samping tubuh dan tangan kiri menyilang di depan tubuh berpegangan
pada tepi meja. Kaki kanan lurus ke bawah dan kaki kiri sedikit di tekuk
untuk fiksasi. Titik bidik pada 1-2 inchi ke arah lateral kiri dari titik tengah
kedua krista illiaka dengan arah sinar vertikal tegak lurus terhadap kaset.
Ekposi dilakukan pada saat pasien ekspirasi dan tahan napas.

Kriteria : menunjukkan gambaran fleksura hepatika kanan terlihat sedikit


superposisi bila di bandingkan dengan proyeksi PA dan tampak juga daerah
sigmoid dan kolon asenden.

8. Proyeksi LAO

Pasien ditidurkan telungkup di atas meja pemeriksaan kemudian dirotasikan


kurang lebih 35˚ - 45˚ terhadap meja pemeriksaan. Tangan kiri di samping
tubuh dan tangan di depan tubuh berpegangan pada meja pemeriksaan, kaki
kanan ditekuk sebagai fiksasi, sedangkan kaki kiri lurus. Titik bidik 1-2
inchi ke arah lateral kanan dari titik tengah kedua krista illiaka dengan sinar
vertikal tegak lurus terhadap kaset. Ekposi dilakukan pada saat pasien
ekspirasi dan tahan napas.

kriteria : menunjukkan gambaran fleksura lienalis tampak sedikit


superposisi bila dibanding pada proyeksi PA, dan daerah kolon desenden
tampak.

9. Proyeksi Lateral (Ballinger, 1999).

Pasien diposisikan lateral atau tidur miring dengan Mid Coronal Plane
(MCP) diatur pada pertengahan grid, genu sedikit fleksi untuk fiksasi. Arah
sinar tegak lurus terhadap film pada Mid Coronal Plane setinggi spina illiaca
anterior superior (SIAS). Eksposi dilakukan saat pasien ekspirasi dan tahan
nafas.

kriteria : daerah rectum dan sigmoid tampak jelas, rectosigmoid pada


pertengahan radiograf.

10. Proyeksi Left Lateral Dicubitus (LLD)

7
Pasien diposisikan ke arah lateral atau tidur miring ke kiri dengan bagian
abdomen belakang menempel dan sejajar dengan kaset. MSP tubuh berada
tepat pada garis tengah grid. Titik bidik diarahkan pada pertengahan kedua
crista illiaka dengan arah sinar horisontal dan tegak lurus terhadap kaset.
Eksposi dilakukan pada saat pasien ekspirasi dan tahan napas.

kriteria radigraf menunjukkan bagian atas sisi lateral dari kolon asenden
naik dan bagian tengah dari kolon desenden saat terisi udara.

11. Proyeksi Axial Metode Chassard Lapine

Posisi pasien duduk dengan punggung pada sisi meja, sehingga MCP tubuh
sedekat mungkin pada garis tengah meja pemeriksaan. Pertengahan panggul
berada tepat pada pertengahan film, dan pasien membungkuk. Kedua tangan
berpegangan pada pergelangan kaki untuk fiksasi. Sinar diarahkan tegak
lurus melewati daerah lombo sakral setinggi trochanter mayor.

Kriteria radiograf menunjukkan gabungan rektosigmoid dan sigmoid pada


proyeksi axial dan tampak rektum.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian makalah yang penulis susun, penulis dapat mengambil


kesimpulan yaitu:

8
1. Pada pemeriksaan colon inloop ada berbagai macam proyeksi pemotretan.
Proyeksi pemotretan dipilih selalu mempetimbangkan keadaan umum
pasien serta disesuaikan dengan klinis pasien itu sendiri.
2. Pada dasarnya proyeksi yang digunakan pada pemeriksaan colon inloop
sama tujuannya kecuali dalam hal teknik posisi yang membedakan.

DAFTAR PUSTAKA

Merriel volume 2 Episode 9