Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH HIDROLOGI

“AIR TANAH”

I Wayan Rikiawan
17503013

UNIVERSITAS NEGERI MANADO


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN FISIKA
PROGRAM STUDI FISIKA
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan
rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa
disusun dalam waktu yang ditentukan dengan judul ‘AIR TANAH”.
Saya berharap semoga makalah ini bisa menambah pengatahuan dan
pengalaman para pembaca. Namaun terlepas dari itu, saya memahami bahwa
masih ada kekurangan dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya, sehingga
makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karenanya saya sangat
mengharapkan kritik serta saran yang sifat membangun agar saya dapat
memperbaiki makalah ini.

Tondano, Mei 2019


Penyusun :

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.3 Rumusan Masalah ........................................................................... 1
1.3 Tujuan ............................................................................................ 2
1.4 manfaat ........................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Air Tanah ........................................................................................ 4
2.2 Kondisi Air Tanah .......................................................................... 5
2.3 Air Bawah Permukaan .................................................................... 7
2.4 Porositas dan Permeabilitas ............................................................ 9
2.5 Pendugaan Potensi Air Tanah dengan Metode Geolistrik ............ 12
2.6 Konsep Umum Akuifer ................................................................ 16
2.7 Identifikasi Parameter Fisika Air Tanah pada Akuifer ................. 19
2.7.1 Temperatur ......................................................................... 19
2.7.2 pH ....................................................................................... 20
2. 8 Penetapan Kadar Air Tanah dengan Metode Gravimetrik .......... 20
2.9 Kedalaman Air Tanah ................................................................... 22
2.10 Manfaat Air Tanah ...................................................................... 23
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................... 22
3.2 Saran ............................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 23

ii
BAB I

PENDAHULUAN

Air yang berada di wilayah jenuh dibawah permukaan tanah disebut air

tanah. Secara global, dari keseluruhan air tawar yang berada di planet Bumi lebih

dari 97 % terdiri atas air tanah. Tampak bahwa peranan air tanah di Bumi sangat

penting. Air tanah dapat dijumpai dihampir semua tempat di Bumi. Ia dapat

ditemukan dibawah gurun pasir yang paling kering sekalipun. Demikian juga di

bawah tanah yang membeku karena tertutup lapisan salju atau es. Sumbangan

terbesar air tanah berasal dari daerah arid dan semi-arid serta daerah lain yang

mempunyai formasi geologi yang paling sesuai untuk penampungan air tanah.

Dengan semakin berkembangnya industri serta permukiman dengan segala

fasilitasnya seperti lapangan golf, kolam renang, maka ketergantungan manusia

pada air tanah semakin terasakan. Namun demikian, patut disayangkan bahwa

untuk memenuhi kebutuhan air air tanah yang semakin meningkat tersebut, cara

pengambilan air tanah sering kali tidak sesuai dengan prinsip – prinsip hidrologi

yang baik sehingga sering kali meninbulkan dampak negatif yang serius terhadap

kelangsungan dan kualitas sumber daya air tanah. Dampak negatif pemanfaatan

air tanah yang berlebihan seperti pencemaran sumur – sumur penduduk, terutama

yang berdekatan dengan aliran sungai yang mejadi sarana pembuangan limbah

pabrik.

Air di Bumi yang meliputi air laut, air danau dan air sungai akan

mengalami penguapan yang disebabkan oleh pemanasan sinar matahari. Dalam

hidrologi, penguapan dari badan air secara langsung disebut evaporasi. Penguapan

1
air yang terkandung dalam tumbuhan disebut transpirasi. Jika penguapan dari

permukaan air bersama – sama dari penguapan dari tumbuh – tumbuhan disebut

evapotranspirasi. Penguapan dari dedaunan dan batang pohon yang basah disebut

intersepsi. Hujan dalam istilah hidrologi disebut presipitasi yakni tetes air dari

awan yang jatuh kepermukaan tanah.

Hujan yang turun ke permukaan Bumi jatuh langsung kepermukaan tanah.

Permukaan air danau, sungai, laut, hutan, atau perkebunan. Air yang meresap ke

tanah akan terus sampai kedalaman tertentu dan mencapai permukaan air tanah

(ground water) yang disebut perkolasi. Jika aliran tanah muncul atau keluar akan

menjadi mata air (spring). Mata air yang keluar dengan cara rembesan disebut

seepage.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan air tanah ?

2. Bagaimana kondisi air tanah ?

3. Bagaimana keadaan air bawah permukaan ?

4. Apa yang dimaksud dengan porositas dan permeabilitas ?

5. Bagaimana Pendugaan potensi air tanah dengan metode geolistrik ?

6. Bagaimana konsep umum akuifer ?

7. Bagaimana identifikasi parameter fisika air tanah pada akifer ?

8. Bagaimana penetapan kadar air tanah dengan metode gravimetrik ?

9. Bagaimana kedalaman air tanah ?

10. Apa manfaat air tanah ?

1.3 Tujuan

2
1. Untuk mengetahui pengertian air tanah.

2. Untuk memahami kondisi air tanah.

3. Untuk mengetahui keadaan air bawah tanah.

4. Untuk memahami tentang porositas dan permeabilitas.

5. Untuk memahami pendugaan potensi air tanah dengan metode geolistrik.

6. Untuk mengetahui konsep umum akuifer.

7. Untuk memahami identifikasi parameter fisika air tanah pada akifer.

8. Untuk mengetahui penetapan kadar air tanah dengan metode gravimetrik.

9. Untuk mengetahui kedalaman air tanah.

10. Untuk mengetahui manfaat air tanah.

1.4 Manfaat

Agar pembaca dapat mengetahui pengertian air tanah dan bagaimana

proses terbentuknya air tanah serta manfaat air tanah dalam kehidupan sehari –

hari.

3
BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Air Tanah

Air tanah adalah air yang berada pada lapisan di bawah permukaan tanah.

Dan juga dapat diartikan air yang bergerak dalam lapisan tanah yang terdapat di

dalam ruang ruang antara butir butir tanah yang membentuk itu atau dikenal

dengan air lapisan dan di dalam retakan retakan dari batuan yang dikenal dengan

air celah. Keadaan air tanah ada yang tekekang dan air tanah bebas. Jika air tanah

itu bebas maka permukaannya akan membentuk gradient yang dikenal dengan

gradient hidrolik sehingga pergerakan air tanahnya akan membentuk sebuah

kontur.

Menurut hokum Darcy kecepatan aliran air tanah dapat dirumuskan sebagai

berikut :

V = k. I

Dimana :

V = kecepatan aliran ( m3/dt )

K = koefisien permeabilitas.

I = gradient hidrolik.

Pemanfaatan air tanah melalui sumur gali perhitungannya didasarkan pada

kepadatan penduduk per kecamatan dengan asumsi bahwa air tanah yang diambil

hanya dipergunakan untuk keperluan sehari-hari saja yaitu 60 l/hr/jiwa. Untuk

memperkirakan kebutuhan dan penggunaan air tanah dangkal disetiap kecamatan,

dipakai rumus sebagai berikut:

4
Qp = Pn x Kp

Dimana :

Qp = penggunaan/kebutuhan air tanah dangkal (l/hr/km2)

Pn = kepadatan penduduk rata-rata per kecamatan (jiwa/km2)

Kp = kebutuhan air penduduk rata-rata (l/hr/jiwa)

Untuk menghitung Jumlah pengam bilan air tanah yang digunakan untuk

mengairi areal irigasi dihitung dengan memakai rumus :

Q = t x Qs (l/hr)

Dimana :

Q = jumlah debit pemompaan (l/hr)

t = jam operasi pompa (jam/hr)

Qs = kapasitas debit terpasang pompa (l/det)

2.2 Kondisi Air Tanah

Kondisi Air Tanah:

 Zona jenuh air

 Kapasitas Lapangan

 Zona air kapiler

 Titik layu permanen

 Zona layu permanen

1. Zona air jenuh

Zona ini adalah suatu lapisan tanah yang mengandung air tanah yang

relatif tak terhubung dengan udara luar dan lapisan tanahnya atau aquifer bebas.

Zona jenuh air adalah dapat juga disebut zona dibawah air tanah mengisi seluruh

5
rongga-rongga tanah. Pada kondisi ini tanah dianggap dalam kedudukan jenuh

sempurna, batas dari zona jenuh air yaitu permukaan air tanah (water table) atau

freatis dan tekanan hidrostatis pada permukaan air tanah adalah nol.

2. Kapasitas Lapangan

Kapasitas Lapangan (field capacity) artinya kondisi air tanah antara titik

layu permanen dengan kondisi jenuh air. Lebih mudahnya, jika tanah dalam pot

disiram air, maka kelebihan air akan menetes ke bawah. Keadaan dimana air

tersisa yang masih menempel pada agregat-agregat tanah tersebut disebut

kapasitas lapang.

Pada kondisi kapasitas lapang, tanah mengandung air yang optimum bagi

tanaman karena pori makro berisi udara, sedangkan pori mikro berisi air

seluruhnya. Kandungan air pada kapasitas lapang ditahan tegangan 1/3 atm atau

pada pF 2,54.

Kapasitas lapang sangat penting karena dapat menunjukkan kapasitas

maksimum dari tanah dan dapat menentukan jumlah air pengairan yang

diperlukan untuk membasahi tanah sampai lapisan di bawahnya.

3. Zona air Kapiler

Letak zona kapiler terletak di atas zona jenuh , dan ketebalan zona ini

tergantung dari jenis tanahnya . Akibat tekanan kapiler , air terhisap keatas

mengisi ruangan di antara butiran tanah . Pada keadaan seperti ini air mengalami

keadaan negatif.

6
4. Titik layu permanen

Titik layu permanen (permanent wilting point) artinya kondisi kandungan

air tanah yang sudah tidak bisa diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan layu

dan mati. Jika tanah tersebut disiram kembali dengan air, tanaman masih tetap

tidak mampu menyerap air karena sudah mati. Pada titik layu permanen, air

ditahan pada tegangan 15 atm atau pada pF 4,2. Titik layu permanen disebut juga

koefisien layu tanaman.

5. Zona Layu Permanen

Kandungan air tanah di mana akar-akar tanaman mulai tidak mampu lagi

menyerap air dari tanah.

Hubungan Antar Komponen Tanah

Gambar 2.1 hubungan antar komponen Tanah.

Co2 dari udara Fotosintesis : Co2 + H2o karbohidrat (glukosa) glukosa pati

dan senyawa organik lain dalam buah dan biji air dari tanah.

2.3 Air Bawah Permukaan

Air bawah permukaan adalah sejumlah air di bawah permukaan bumi yang

dapat dikumpulkan dengan sumur-sumur, terowongan atau sistem drainase, atau

aliran yang secara alami mengalir ke permukaan tanah melalui pancaran atau

7
rembesan. Kebanyakan air tanah berasal dari hujan. Air hujan yang meresap ke

dalam tanah menjadi bagian dari air tanah, perlahan-lahan mengalir ke laut, atau

mengalir langsung dalam tanah atau dipermukaan dan bergabung dengan aliran

sungai.

Banyaknya air yang meresap ke tanah bergantung pada ruang dan waktu,

selain itu juga dipengaruhi kecuraman lereng, kondisi material permukaan tanah

dan jenis serta banyaknya vegetasi dan curah hujan. Meskipun curah hujan besar

tetapi lerengnya curam, ditutupi material impermeabel, persentase air mengalir di

permukaan lebih banyak dari pada meresap ke bawah.Sedangkan pada curah

hujan sedang, pada lereng landai dan permukaannya permeabel, persentase air

yang meresap lebih banyak.

Sebagian air yang meresap tidak bergerak jauh karena tertahan oleh daya

tarik molekuler sebagai lapisan pada butiran butiran tanah.Sebagian menguap ke

atmosfir dan sisanya merupakan cadangan bagi tumbuhan selama belum ada

hujan. Air yang tidak tertahan dekat permukaan menerobos ke bawah sampai zona

dimana seluruh ruang terbuka pada sedimen atau batuan terisi air (jenuh air). Air

dalam zona saturasi ini dinamakan air tanah. Batas atas zona ini disebut muka air

tanah. Lapisan tanah, sedimen atau batuan diatasnya yang tidak jenuh air disebut

zona aerasi. Muka air tanah umumnya tidak horisontal, tetapi lebih kurang

mengikuti permukaan topografi diatasnya. Apabila tidak ada hujan maka muka air

di bawah bukit akan menurun perlahan-lahan sampai sejajar dengan lembah

(Usman et al. 2017). Namun hal ini tidak terjadi, karena hujan akan mengisi lagi.

8
Daerah dimana air hujan meresap ke bawah sampai zona saturasi dinamakan

daerah rembesan. Dan daerah dimana air tanah keluar dinamakan discharge area.

Air tanah berasal dari berbagai sumber.Air tanah yang berasal dari resapan

air permukaan disebut air meteoric. Air tanah bisa juga berasal dari air yang

terjebak pada waktu pembentukan batuan sedimen disebut air konat. Air tanah

yang berasal dari aktivitas magma ini disebut dengan air juvenil. Dari ketiga

sumber air tanah tersebut air meteoric merupakan sumber air tanah terbesar.

Air tanah ditemukan pada formasi geologi permeabel (tembus air) yang

dikenal sebagai akuifer yang merupakan formasi pengikat air yang

memungkinkan jumlah air yang cukup besar untuk bergerak melaluinya pada

kondisi lapangan yang biasa. Air tanah juga di temukan pada akiklud (atau dasar

semi permeabel) yaitu suatu formasi yang berisi air tetapi tidak dapat

memindahkannya dengan cukup cepat untuk melengkapi persediaan yang berarti

pada sumur atau mata air. Deposit glasial pasir dan kerikil, kipas aluvial dataran

banjir dan deposit delta pasir semuanya merupakan sumber-sumber air yang

sangat baik.

Jumlah air dalam tanah

Gambar 2.2 jumlah air dalam tanah

9
Volume air = 150 mm = 0,150 m x 1 m x 1 m = 0,150 m3 Volume Tanah

= 1 m x 1 m x 1 m = 1 m3 Jika tanah semula dalam keadaan kering diberi air 150

mm, maka kadar air tanah sekarang = 0,150 m3 / 1 m3 = 0,15 m3 atau 15%

volume.

2.4 Porositas dan Permeabilitas

Air dapat menyusup ke bawah permukaan karena batuan dasar yang padat

mempunyai ruang pori-pori, seperti halnya tubuh tanahyang urai yaitu pasir dan

kerikil. Pori-pori atau ruang kosong dalam batuan dapatberupa ruang antar

butiran-butiran mineral, rekahan-rekahan, rongga-rongga pelarutan, atau

gelembung. Dua sifat fisik yang mengontrol besarkandungan dan pergerakan air

bawah permukaan adalah porositas dan permeabilitas.

Porositas adalah perbandingan antar ruang kosong dengan seluruh volume

batuan atau sedimen yang dinyatakan dalam persen (Seyhan 1977). Porositas

menentukan banyaknya air yang dapat dikandung dalam batuan. Porositas

dipengaruhi oleh besar dan bentuk butir material penyusun batuan tersebut,

susunan butiran-butirannya dan ukuran pori (Gambar 2).

10
Gambar 2.3 Porositas dan Permeabilitas

Porositas merupakan angka tak berdimensi biasanya diwujudkan dalam

bentuk prosentase (%).Umumnya untuk tanah normal mempunyai porositas

berkisar antara 25%-75%, sedangkan untuk batuan yang terkonsolidasi berkisar

antara 0%-10%.Material berbutir halus mempunyai porositas yang lebih besar

dibandingkan dengan tanah berbutir kasar. Porositas pada material seragam lebih

besar dibandingkan material beragam. Porositas dapat dibagi menjadi dua yaitu

porositas primer dan porositas sekunder. Porositas primer adalah porositas yang

ada sewaktu bahan tersebut terbentuk sedangkan porositas sekunder dihasilkan

oleh retakanretakan dan alur yang terurai.Pori-pori merupakan ciri batuan sedimen

klastik dan bahan butiran lainnya. Pori berukuran kapiler dan membawa air yang

disebut air pori.

Permeabilitas juga sangat berpengaruh pada aliran dan jumlah air tanah.

Permeabilitas merupakan kemampuan batuan atau tanah untuk melewatkan atau

11
meloloskan air melalui suatu media porous (Seyhan 1977). Permeabilitas

tergantung pada faktor-faktor seperti besarnya rongga-rongga dan derajat

hubungan antar rongga.Batuan yang porositasnya rendah umumnya

permeabilitasnya pun rendah dan batuan yang porositasnya tinggi belum tentu

permeabilitasnya tinggi, karena besarnya hubungan antar rongga sangat

menentukan.

Demikian pula dengan daya tarik molekuler permukaan batuan yang

merupakan gaya tarik menarik antara permukaan padat dan lapisan film air. Gaya

tarik ini bekerja tegak lurus terhadap ruang pori. Pada tekanan yang normal air

akan menempel ketat ditempatnya sehingga permeabilitas rendah. Tabel 1

memperlihatkan nilai porositas dan permeabilitas berbagai batuan.

Gambar 2.4

tabel nilai porositas berbagai batuan (Srivastava and Verhoef 1992)

12
2.5 Pendugaan Potensi Air Tanah dengan Metode Geolistrik

Air tanah merupakan salah satu sumber akan kebutuhan air bagi kehidupan

makhluk di muka bumi. Usaha memanfaatkan dan mengembangkan air tanah

telah dilakukan sejak jaman kuno. Dimulai menggunakan timba yang ujungnya

diikat pada bambu kemudian dilengkapi dengan pemberat (sistem pegas),

kemudian berkembang dengan menggunakan teknologi canggih dengan cara

mengebor sumur-sumur dalam sampai kedalaman 200 meter.

Dalam usaha untuk mendapatkan susunan mengenai lapisan bumi,

kegiatan penyelidikan melalui permukaan tanah atau bawah tanah haruslah

dilakukan, agar bisa diketahui ada atau tidaknya lapisan pembawa air (akuifer),

ketebalan dan kedalamannya serta untuk mengambil contoh air untuk dianalisis

kualitas airnya. Meskipun air tanah tidak dapat secara langsung diamati melalui

permukaan bumi, penyelidikan permukaan tanah merupakan awal penyelidikan

yang cukup penting, paling tidak dapat memberikan suatu gambaran mengenai

lokasi keberadaan air tanah tersebut.

Beberapa metode penyelidikan permukaan tanah yang dapat dilakukan,

diantaranya : metode geologi, metode gravitasi, metode magnit, metode seismik,

dan metode geolistrik. Dari metode-metode tersebut, metode geolistrik merupakan

metode yang banyak sekali digunakan dan hasilnya cukup baik (Bisri,1991).

Sebelum pengambilan air tanah dengan sumur dalam (bor dalam) ini

dilakukan, terlebih dahulu dilakukan penyelidikan awal di atas permukaan tanah

untuk mengetahui ada tidaknya lapisan pembawa air (akuifer). Sementara itu,

13
potensi air tanah (akuifer) yang ada dikampus Tegal Boto Universitas Jember

tidak diketahui secara pasti, karena belum pernah dilakukan penelitian.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui susunan lapisan bawah

permukaan tanah, sehingga dapat diketahui adanya lapisan pembawa air tanah

atau akuifer yang ada di Kampus Tegal Boto Universitas Jember dengan

menggunakan pendekatan Geolistrik.

Pendugaan geolistrik ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran

mengenai lapisan tanah di bawah permukaan dan kemungkinan terdapatnya air

tanah dan mineral pada kedalaman tertentu. Pendugaan geolistrik ini didasarkan

pada kenyataan bahwa material yang berbeda akan mempunyai tahanan jenis yang

berbeda apabila dialiri arus listrik. Air tanah mempunyai tahanan jenis yang lebih

rendah daripada batuan mineral. Beberapa penelitian yang terkait dengan

pendugaan geolistrik ini diantaranya : penyelidikan untuk mengetahui sebaran

mineral batu bara (Azhar, dkk., 2003) dan penyelidikan eksplorasi air bawah

tanah (Ali M.N, dkk., 2003).

Prinsip kerja pendugaan geolistrik adalah mengukur tahanan jenis

(resistivity) dengan mengalirkan arus listrik kedalam batuan atau tanah melalui

elektroda arus (current electrode), kemudian arus diterima oleh elektroda

potensial. Beda potensial antara dua elektroda tersebut diukur dengan volt meter

dan dari harga pengukuran tersebut dapat dihitung tahanan jenis semua batuan

dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Anonim, 1992 dan Todd, 1980):

𝑉
ρ = 2.π . a .
𝐼

14
ρ adalah tahanan jenis, 2π konstanta, V beda potensial, I kuat arus dan a adalah

jarak elektroda Menurut Bisri (1991) Ada beberapa macam aturan pendugaan

lapisan bawah permukaan tanah dengan geolistrik ini, antara lain : aturan Wenner,

aturan Schlumberger, aturan ½ Wenner, aturan ½ Schlumberger, dipole-dipole

dan lain sebagainya. Prosedur pengukuran untuk masing-masing konfigurasi

bergantung pada variasi resistivitas terhadap kedalaman yaitu pada arah vertikal

(sounding) atau arah lateral (mapping) (Derana, 1981). Metode resistivitas

dengan konfigurasi Schlumberger dilakukan dengan cara mengkondisikan spasi

antar elektrode potensial adalah tetap sedangkan spasi antar elektrode arus

berubah secara bertahap (Sheriff, 2002). Pengukuran resistivitas pada arah vertikal

atau Vertical Electrical Sounding (VES) merupakan salah satu metode geolistrik

resistivitas untuk menentukan perubahan resistivitas tanah terhadap kedalaman

yang bertujuan untuk mempelajari variasi resistivitas batuan di bawah permukaan

bumi secara vertikal (Telford, et al., 1990).

Metode ini dilakukan dengan cara memindahkan elektroda dengan jarak

tertentu maka akan diperoleh harga-harga tahanan jenis pada kedalaman yang

sesuai dengan jarak elektroda. Harga tahanan jenis dari hasil perhitungan

kemudian diplot terhadap kedalaman (jarak elektroda) pada kertas ‘log–log’ yang

merupakan kurva lapangan. Selanjutnya kurva lapangan tersebut diterjemahkan

menjadi jenis batuan dan kedalamannya. Prinsip konfigurasi geolistrik

ditunjukkan pada Gambar 1.

Dengan memindahkan elektroda dengan jarak tertentu maka akan

diperoleh harga-harga tahanan jenis pada kedalaman yang sesuai dengan jarak

15
elektroda. Harga tahanan jenis dari hasil perhitungan kemudian diplot terhadap

kedalaman (jarak elektroda) pada kertas ‘log–log ’ yang merupakan kurva

lapangan. Selanjutnya kurva lapangan tersebut diterjemahkan menjadi jenis

batuan dan kedalamannya

Gambar 2.5. konfigurasi geolistrik

Pengukuran resitivitas suatu titik sounding dilakukan dengan jalan

mengubah jarak elektrode secara sembarang tetapi mulai dari jarak elektrode kecil

kemudian membesar secara gradual. Jarak antar elektrode ini sebanding dengan

kedalaman lapisan batuan yang terdeteksi. Makin besar jarak elektrode maka

makin dalam lapisan batuan yang dapat diselidiki. Interpretasi data resistivitas

didasarkan pada asumsi bahwa bumi terdiri dari lapisan-lapisan tanah dengan

ketebalan tertentu dan mempunyai sifat kelistrikan homogen isotrop, dimana batas

antar lapisan dianggap horisontal.

Survei resistivitas akan memberikan gambaran tentang distribusi

resistivitas bawah permukaan. Harga resistivitas tertentu akan berasosiasi dengan

16
kondisi geologi tertentu. Untuk mengkonversi harga resistivitas ke dalam bentuk

geologi diperlukan pengetahuan tentang tipikal dari harga resistivitas untuk setiap

tipe material dan struktur daerah survey. Harga resistivitas batuan, mineral, tanah

dan unsur kimia secara umum telah diperoleh melalui berbagai pengukuran dan

dapat dijadikan sebagai acuan untuk proses konversi (Telford, et al., 1990). Nilai

resistivitas sebenarnya dapat dilakukan dengan cara pencocokan (matching) atau

dengan metode inversi. Pada penelitian ini dilakukan dengan metode inversi,

menggunakan program IPI2WIN.

2.6 Konsep Umum Akuifer

Akuifer adalah suatu lapisan pembawa air tanah dengan permeabilitas

yang cukup yang menghantarkan dan ditempati oleh air tanah dalam jumblah

ekonomis contohnya yang umum terdapat sebagai endapan aluvial, bekas sungai

purba, dataran pantai dan lain – lain meskipun sudah terkonsolidasi batu pasir

dapat bertindak sebagai akuifer yang baik. Akuifer yang lain adalah batu gamping

rekah dan berongga. Untuk batuan lain kemungkinannya ditempati air kecuali bila

rekah – rekah. Ada dua macam akuifer yaitu Unconfined aquifer (akuifer tertekan)

dan Confined aquifer (akuifer tak tertekan).

Lapisan batuan yang mempunyai sifat meluluskan dan meneruskan air

disebut lapisan pembawa air (akuifer). Sedangkan lapisan batuan yang

mempunyai sifat tidak dapat meluluskan dan sedikit lsekali meneruskan air

disebut kedap air (aquiclude). Air yang jatuh pada lapisan kedap air sebagai

lapisan kedap air sebagian besar akan mengalir di permukaan tanah menuju ke

tempat – tempat yang lebih rendah sebagai aliran permukaan. Banyak atau

17
sedikitnya air yang disimpan lapisan pembawa air atau diteruskan oleh suatu

lapisan pembawa tergantung pada sifat – sifat kesarangan ( porosity), permeabel,

dan sifat – sifat keterusan ( transmissibllity) dari lapisan yang bersangkutan.

Umumnya air bawah tanah terjadi di ruang atau pori yang kecil pada

batuan dan alluvial. Dimana akumulasi air bawah tanah ditemukan di atas lapisan

batuan yang impermeabel, dan pemodelan air tanah merupakan hal penting dalam

ekplorasi oleh karena itu harus diketahui letak lapisan akuifer yang diduga

merupakan lapisan terakumulasi fluida. Akuifer air tanah ditemukan dalam dua

keadaan akuifer tertekan (Unconfined aquifer ) dan akuifer tak tertekan ( Confined

aquifer ). Akuifer tertekan (Unconfined aquifer ) adalah airnya terakumulasi di

atas lapisan impermeabel ( lapisan batu pasir ). Akuifer tak tertekan ( Confined

aquifer ) adalah merupakan akuifer yang ditemukan diantara dua lapisan

impermeabel ( lapisan batu pasir ). Air yang mengalir ke dalam akuifer berasal

dari suatu tempat di permukaan yang tidak ditemui lapisan impermeabel paling

atas. Air bawah tanah pada akuifer cendrung memiliki tekanan besar.

Aliran air bawah tanah tergantung pada topografi suatu daerah dan

gravitasi. Sehingga besar bergerak kebawah sesuai gravitasi, air terhadap pada

permukaan dan bergerak ke bawah menuju Water table pada lapisan impermeabel.

Water table adalah batas daerah yang memiliki tekanan air yang sama dengan

tekanan atmosfer. Air tanah dapat muncul secara wajar sebagai rembesan dan

mata air atau sumur gali, sumur bor, dan saluran – saluran. Sifat air tanah

mempunyai tekanan hidrostatiska lebih besar dari tekanan udara luar. Apabila

18
dibor air tanahnya akan naik lebih tinggi dari pada kedudukan lapisan pembawa

air.

2.7 Identifikasi Parameter Fisika Air Tanah Pada Akifer

Perilaku keterdapatan dan kemunculan air tanah melalui lapisan akuifer


pada sumber air, merupakan sarana penting untuk dipergunakan dalam melakukan
identifikasi proses apa yang terjadi pada sistem tata air tanah, dalam akuifer suatu
cekungan. (Zhang dkk, 1996). Beberapa sifat fisik airtanah yang diukur di
lapangan meliputi: temperatur (T), (Total Dissolved Solids), keasaman (pH),
ketinggian (elevasi), debit, Eh, Ec.
2.7.1 Temperatur

Dari 142 contoh sumber air berupa mataair dan sumurgali menempati pada

UHS I, CAT.Bandung – Soreang, memiliki temperatur rata-rata terukur 24.706

°C, dengan kesalahan pendugaan 0.0117 %,

Temperatur minimum 21.0 °C untuk Langensari – Cikidang, Lembang pada

elevasi 1190 m.dpl. dan maksimum 36,4 °C adalah di lokasi mataair Lembah

G.Geulis – Rancaekek, pada akuifer Breksi – Lava (Qyl). No. 28. Pengamatan

tahun 2012. Diperlihatkan pada histogram.

Untuk 111 contoh sumur pemboran, pada UHs Gabungan, diketahui nilai
temperatur rata-rata terukur adalah sebesar 23.42 °C, dengan kesalahan pendugaan
1.277 %, Temperatur minimum terukur 21.0 °C untuk sumur pemboran di Hotel
Eldorado, Lembang pada elevasi 1060 m.dpl. dan maksimum 27.2°C adalah di
lokasi sumur pemboran PT.BSTM, Moh Toha elevasi 754 .dpl.
Akan tetapi batasan secara pasti belum dapat ditentukan. Penetapan
katagori air mesotermal (kisaran suhu air tanah mirip atau sama dengan suhu
udara), hipotermal (kisaran suhu airtanah lebih rendah dibandingkan suhu udara),
dan hipertermal (kisaran suhu airtanah lebih tinggi dibandingkan suhu udara).

19
Temperatur airtanah, khususnya pada mataair dan sumurgali, sangat
dipengaruhi temperatur udara. Perbedaan relatif kecil di antara kedua temperatur
tersebut diduga merupakan indikasi akifer pada UHs I yang merupakan akifer tak
tertekan, sedangkan perbedaan yang besar mengindikasikan adanya aliran airtanah
yang lebih dalam. Akan tetapi batasan secara pasti belum dapat ditentukan.
Penetapan katagori air mesotermal (kisaran suhu air tanah mirip atau sama dengan
suhu udara), hipotermal (kisaran suhu air tanah lebih rendah dibandingkan suhu
udara), dan hipertermal (kisaran suhu air tanah lebih tinggi dibandingkan udara).
2.7.2 pH

Pengukuran pH merupakan bagian penting dalam menggali informasi

mengenai tingkat keasaman air tanah. Umumnya nilai pH bervariasi dari 6 hingga

8,5. Hasil pengukuran pH di daerah penelitian menghasilkan kisaran 6 s/d 9

dengan rata-rata 6,82 (Gambar 3). Nilai yang sering muncul adalah 7 sampai 7.2.

Pada gambar tersebut terlihat bahwa air tanah pada Formasi Cibereum (Qyt)

menunjukkanpH paling tinggi, sedang Qob (formasi undiferetiated) memiliki pH

paling rendah, yaitu 6,7. Air tanah pada lahar dan lava memiliki pH menengah.

Piroklastik (Qyt) memilki pH tertinggi, sebesar 7,3.

2.8. Penetapan Kadar Air Tanah dengan Metode Gravimetrik

Kadar air tanah dinyatakan sebagai perbandingan antara massa/berat air


yang ada dalam contoh sebelum pengeringan dan massa/berat contoh setelah
dikeringkan sampai mencapai massa/berat yang tetap pada 105 oC. Sebagai
alternatif, volume air yang ada pada satu unit volume dapat dijadikan ukuran
kandungan air tanah. Oleh karenanya, ukuran kandungan air tanah yang biasa
digunakan dalam studi-studi tanah adalah perbandingan tanpa dimensi atau
persentase, sehingga membuat definisi gravimetrik dan volumetrik menjadi tidak
sama. Dengan demikian, penting untuk menyatakan kandungan air tanah secara
spesifik, apakah berdasarkan perbandingan dua massa (gravimetrik) atau dua
volume (volumetrik). Kandungan air tanah berdasarkan gravimetrik berhubungan

20
dengan kandungan air tanah berdasarkan volumetrik melalui BD (bulk density, ρb
(Mgm-3) dan berat jenis air, ρw (Mg m-3), menurut rumus:
θv = (ρb/ρw) θm
dimana: θv = kadar air volumetrik (m3m-3), dan θm = kadar air gravimetrik
(kgkg-1).
Kadar air volumetrik dapat dikonversikan dengan mudah menjadi cara
yang biasa digunakan untuk kadar air media, kejenuhan, yang dinyatakan sebagai
rasio kejenuhan, derajat kejenuhan atau kejenuhan relatif. Sifat ini
menggambarkan perbandingan kadar air volumetrik terukur terhadap kadar air
dalam keadaan jenuh (θs). Pada keadaan jenuh, kadar air sama dengan porositas.
Oleh karena itu, derajat kejenuhan menggambarkan fraksi ruang pori yang terisi
air dengan kisaran 0-1. Kejenuhan efektif (Se), diperhitungkan untuk kadar air
residual (θr). Nilai ini berkisar dari 0 pada kejenuhan residu sampai 1 pada saat
jenuh:
Se = (θv – θr) / (θs – θr)
Definisi kejenuhan secara nyata adalah apabila seluruh pori terisi air,
namun tidak sama dengan definisi kejenuhan residu yang merupakan kondisi
”kering” terhadap referensi semua pengukuran. Referensi untuk kondisi kering
yang secara umum diterima untuk kadar air tanah adalah kondisi ”kering” contoh
tanah pada 105 °C dan tekanan 1 (satu) atm sampai berat contoh tetap. Ini
merupakan dasar dari metode gravimetrik. Untuk alasan praktis, suhu yang telah
dipilih dan atau disepakati harus dapat dicapai oleh alat standar pada semua
laboratorium. Pilihan suhu pada atau di atas titik didih air menyebabkan
kehilangan air relatif cepat dari contoh Penetapan Kadar Air Tanah dengan
Metode Gravimetri 133 pada waktu analisis, sehingga lebih menghemat waktu.
Sementara, suhu di atas 105°C menyebabkan volatilisasi komponen organik tanah,
menyebabkan kehilangan massa yang berhubungan dengan keadaan air awal yang
ada pada contoh. Pada tanah-tanah mineral yang mempunyai
kadar bahan organik rendah (< 5%), jumlah bahan organik yang hilang pada suhu
105 °C relatif sedikit dibandingkan dengan massa total, sehingga kesalahan
pengukuran kadar air menjadi kecil. Jika tanah mengandung bahan organik yang

21
lebih tinggi, jumlah kerikil yang banyak, atau mengandung garam, maka
komponen khusus tersebut harus diperhatikan dalam menentukan kondisi
kekeringan dan interpretasi hasil.
Metode gravimetrik adalah metode yang paling sederhana secara
konseptual dalam menentukan kadar air tanah. Pada prinsipnya mencakup
pengukuran kehilangan air dengan menimbang contoh tanah sebelum dan sesudah
dikeringkan pada suhu 105 – 110 °C dalam oven. Hasilnya dinyatakan dalam
presentase air dalam tanah, yang dapat diekspresikan dalam presentase terhadap
berat kering, berat basah atau terhadap volume. Masing-masing dari presentase
berat ini dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
1. % H2O berat kering = (berat H2O/ berat tanah kering oven) x 100%

2. % H2O berat basah = (berat H2O/ berat basah tanah) x 100%

3. % H2O volume = % H2O berat kering x BD (bulk density)

Air ditahan oleh komponen tanah pada kisaran energi yang lebar dan tidak
ada waktu yang pasti pada level energi yang mana, tanah mencapai kondisi kering
ketika suhu mencapai 105 °C. Contoh tanah terus menurun massanya secara
perlahan-lahan pada 105 °C untuk beberapa hari. Selain itu, beberapa contoh
tanah mengandung bahan organik yang sebagian tervolatilisasi pada suhu 105 °C.
Jadi penurunan massa, mungkin disebabkan oleh volatilisasi dari komponen
bukan air. Dengan demikian, ada masalah pengendalian suhu, meskipun oven
pengering yang digunakan pada hampir semua laboratorium dapat
mempertahankan suhu pada kisaran 100-110 °C. Suhu dalam oven bervariasi
tergantung pada lokasi dalam ruang oven. Hal ini menyebabkan suhu aktual tanah
tidak terukur, dan variasi ini menyebabkan pemanasan yang berbeda antara contoh
tanah yang ditempatkan pada oven yang sama pada waktu yang sama. Selain
ketidak sempurnaan ini, metode oven pengering merupakan metode yang tepat
atau yang paling baik untuk menghasilkan data kadar air tanah. Metode ini bisa
digunakan baik di laboratorium maupun di lapangan.

22
2.9 Kedalaman Air Tanah

Fator – faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan kedalaman air

tanah adalah sebagai berikut :

1. Permeabilitas tanah adalah tingkat kemampuan lapisan batuan atau

kemampuan tanah dalam menyerap air. Hal ini ditentukan oleh besar

kecilnya pori – pori batuan penyusun tanah. Semakin besar pori – pori

batuan, semakin banyak air yang dapat diserap oleh tanah tersebut. Lapisan

batuan yang tidak dapat ditembus air disebut lapisan lolos air atau

permeabel.

2. Kemiringan lereng atau tofografi curam menyebabkan air yang lewat

sangat cepat sehingga air yang meresap sangat sedikit.

2.10 Manfaat Air Tanah

a) Kebutuhan rumah tangga, yaitu untuk mandi, mencuci, memasak, dan air

minum.

b) Irigasi yaitu sumber air bagi pertanian, misalnya sumur bor di daerah

indramayu, Jawa Barat.

c) Perindustrian, yaitu dimanfaatkan sebagai sumber air industri, misalnya

industri testil dimanfaatkan untuk pencelupan, industri kulit untuk

membersihkan kulit, dan lain – lain.

d) Merupakan bagian yang penting dalam siklus hidrologi.

e) Merupakan penyediaan air bersih secara alami.

f) Untuk menyediakan air bagi hewan dan tumbuhaan.

23
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

1. Air tanah adalah air yang berada pada lapisan di bawah permukaan tanah.

Dan juga dapat diartikan air yang bergerak dalam lapisan tanah yang

terdapat di dalam ruang ruang antara butir butir tanah yang membentuk itu

atau dikenal dengan air lapisan dan di dalam retakan retakan dari batuan

yang dikenal dengan air celah. .

2. Manfaat Air Tanah

 Kebutuhan rumah tangga, yaitu untuk mandi, mencuci, memasak, dan air

minum.

 Irigasi yaitu sumber air bagi pertanian, misalnya sumur bor di daerah

indramayu, Jawa Barat.

 Perindustrian, yaitu dimanfaatkan sebagai sumber air industri, misalnya

industri testil dimanfaatkan untuk pencelupan, industri kulit untuk

membersihkan kulit, dan lain – lain.

 Merupakan bagian yang penting dalam siklus hidrologi.

 Merupakan penyediaan air bersih secara alami.

 Untuk menyediakan air bagi hewan dan tumbuhaan.

3.2 SARAN

Untuk dapat paham sepenuhnya dalam pelajaran Hidrologi kita tidak dapat

hanya bergantung pada penjelasan di atas, tapi lebih baik cari penjelesan –

penjelasan lainnya agar dapat menambah wawasan kita.

24
DAFTAR PUSTAKA

Hendra Wahyudi Kondisi dan Potensi Dampak Pemanfaatan Air Tanah di

Kabupaten Sumenep Staf pengajar Program Studi Diploma Teknik Sipil FTSP

ITS

Rahma Hi. Manrulu, Aryadi Nurfalaq, dan Iis Dahlia Hamid*) Pendugaan

Sebaran Air Tanah Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas Konfigurasi

Wenner dan Schlumberger Di Kampus 2 Universitas Cokroaminoto Palopo

Program Studi Fisika, Fakultas Sains, Universitas Cokroaminoto Palopo Kampus

2, Jl. Lamaranginang Kota Palopo Sulawesi-selatan*)Email

Roni Putra, Eko Swistoro, M. Farid pendugaan potensi air tanah dan

hubungannya dengan kualitas air tanah serta implementasi pada pembelajaran

fisika PENDIPA Journal of Science Education, 2018: 2(2), 170-177

Altf Noor Anna kondisi air tanah di daerah perkotaan : promblema antara

kuantitas dan kualitas air

Anindya Arma Risanti, Kurniawan Andre Cahyono, Latifah, Melati Ayuning

Putri, Novita Rahmawati, Roesdi Fitra Ariefin,Safira Prameswari, Wisnu Agung

Waskito, Tjahyo Nugroho Adji, dan Ahmad Cahyadi Hidrostratigrafi Akuifer dan

Estimasi Potensi Airtanah Bebas Guna Mendukung Kebutuhan Air Domestik

Desa Sembungan Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,

Indonesia Email Koresponden:Anindya.arma.r@mail.ugm.ac.id

Hendri Aswar pemodelan kondisi air tanah dalam (akuifer) di desa tegolorejo

kab. Demak berdasarkan data tahanan jenis

25