Anda di halaman 1dari 15

BAB I SISTEM PERAWATAN

Tujuan Pembelajaran Umum


Mahasiswa dapat memahami system perawatan pada bangunan gedung
Tujuan Pembelajaran Khusus
1. Dapat mendefinisikan istilah-istilah dalam perawatan gedung
2. Dapat menyebutkan tujuan pemeliharaan dan perbaikan
3. Mengidentifikasi input pekerjaan berupa kerusakan-kerusakan yang akan dilakukan
perawatan
4. Mengetahui proses perawatan
5. Mendokumentasikan seluruh pekerjaan perawatan, termasuk yang belum dapat
dilaksanakan

1.1 Definisi

1. Pemeliharaan
Pemeliharaan adalah tindakan rutin pada bangunan atau komponennya sebelum
mengalami kerusakan, guna mempertahankan atau memperpanjang umur layannya
(Teknologi audit forensik, repair dan retrofit untuk rumah dan bangunan gedung, Sjafei
Amri).

Pemeliharaan bangunan adalah usaha mempertahankan kondisi bangunan agar tetap


berfungsi sebagaimana mestinya atau dalam usaha meningkatkan wujud bangunan,
serta menjaga pengaruh yang merusak (Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan
Gedung Negara, PERMEN PU No. 45/PRT/M/2007).

2. Perbaikan Ringan pada kerusakan ringan


Perbaikan ringan adalah suatu usaha untuk mengembalikan kinerja bangunan atau
komponenya kepada keadaan awalnya.

3. Perbaikan dengan Perkuatan ada beban baru /tambahan


Perbaikan dengan perkuatan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan
bangunan atau komponennya untuk melampaui kemampuan awalnya.

1
Restorasi adalah upaya mengembalikan suatu bangunan atau komponenya agar dapat
digunakan kembali dengan cara perbaikan ringan atau perbaikan dengan perkuatan.

4. Retrofitting
Retrofitting adalah ungkapan umum tentang istilah perbaikan ringan, perbaikan dengan
perkuatan ataupun restorasi.

5. Maintenance (perawatan)
Building Maintenance Management mendefinisikan “ Maintenance (perawatan) adalah
suatu kombinasi kegiatan yang dilakukan untuk menjaga suatu benda baik itu dengan
mengganti elemen atau memperbaikinya sampai dicapai kondisi yang layak
dipergunakan dan dapat diterima (BS 3811:1964).”

6. Perawatan bangunan
Perawatan bangunan adalah usaha memperbaiki kerusakan yang terjadi agar bangunan
dapat berfungsi dengan baik sebagai mana mestinya. (Pedoman Teknis Pembangunan
Bangunan Gedung Negara, PERMEN PU No. 45/PRT/M/2007)

1.2 Tujuan Pemeliharaan dan perbaikan


Tujuan dari pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan adalah untuk mengupayakan
tercapainya atau memperpanjang umur pakai rencana bahan, konstruksi bangunan atau
meningkatkan fungsi serta kekuatan bangunan. Sasaran dari pekerjaan pemeliharaan dan
perbaikan adalah untuk mengoptimalkan pemanfaatan dana pembangunan.

Tujuan utama dari pekerjaan ini adalah


1. Memperpanjang usia bangunan.
2. Menjaga fungsi bangunan agar sesuai dengan rencana.
3. Untuk menjamin ketersediaan perlengkapan yang ada dan mendapat keuntungan
investasi yang maksimum.
4. Untuk menjamin kesiapan oprasional peralatan, seperti dalam menghadapi keadaan
darurat atau bencana.
5. Untuk menjamin keselamatan manusia yang mempergunakan fasilitas bangunan
tersebut.
6. Menghindari kerugian yang lebih besar dan gangguan kenyamanan pengguna akibat
kerusakan bangunan.

2
Tujuan perawatan , Pemeliharaan dan pengoperasian menurut Ahli Perawatan Bangunan
Indonesia digambarkan seperti diagram dibawah. Tujuan ditinjau dari pihak-pihak yang
berkepentingan atas keinginannya terhadap adanya gedung.

Gambar 1.1 Tujuan Perawatan

TUJUAN PERAWATAN, PEMELIHARAAN DAN PENGOPERASIAN

1. IMAGE 1. AMAN
2. ASET TERPELIHARA KEINGINAN KEINGINAN 2. AVAILABILITY
3. ROI PEMILIK GEDUNG PENGHUNI 3. NYAMAN
4. PRESTIGE
4. BIAYA EKONOMIS

PERAWATAN, PEMELIHARAAN DAN PENGOPERASIAN GEDUNG

1. GOOD OPERATED &


MAINTAINED 1. AMAN
2. SPARE PART & TUNTUTAN KEINGINAN 2. AVAILABILITY
MATERIAL AS FASILITAS PEMDA
STANDARD GEDUNG

Sumber : Asosiasi Perawatan Bangunan Indonesia (APBI)

Perawatan (maintenance) adalah sebatas melakukan upaya pemeliharaan dan perbaikan


bangunan gedung sampai dengan pada kondisi aslinya (original). Selebihnya upaya untuk
menambah atau meningkatkan kondisi bangunan melebihi dari aslinya atas permintaan
pengguna (user requirement) disebut improvement atau modernization. Apabila pada tahap
perencanaan dan konstruksi dilaksanakan dengan baik atau sedikit penyimpangan maka
kerusakan gedung jarang terjadi pada bagian struktur. Pekerjaan struktur paska konstruksi

3
dilakukan terhadap perkuatan yang dibutuhkan pada saat perbaikan atau dilakukannya
improvement, secara detail penanganan struktur akan dibahas pada bab 4.

Gambar 1.2 The passage of time related to maintenance requirements

STANDARD

User requirement

Improvement (modernization)

Original/standard
maintenance
deterioration

TIME

Sumber : Reginal Lee, Building Maintenance Management

1.3 Kerusakan Bangunan Gedung

Kerusakan adalah cacat fisik berupa penyimpangan dari perencanakan yaitu gambar dan
spesifikasi dimana pada perencanaan telah didasarkan ketentuan, pedoman atau peraturan
Dari sumber Course Note dari PEDC (Politeknik Education Developmen Center)
Batas toleransi adalah suatu penyimpangan yang sangat kecil dan masih diterima sesuai
pedoman, standar, peraturan atau ketentuan-ketentuan yang ada.
Cacat (failure) adalah penyimpangan atau kerusakan sedang yang akibatnya akan dapat
mengganggu fungsi bangunan namun tidak sampai membahayakan penghuni.
Kegagalan (defect) adalah penyimpangan atau kerusakan berat yang akibatnya sangat
mengganggu atau membahayakan penghuni seperti misalnya gedung akan runtuh.

4
Gambar 1.3 Ilustrasi cacat dan kegagalan

KEGAGALAN

CACAT

SESUAI
ASUMSI-ASUMSI PROSES
KONSTRUKSI HASIL SESUAI DAN
DALAM
BATAS

TOLERANSI
PENGARUH-PENGARUH
CACAT

KEGAGALAN

PENYIMPANGAN

Pada standar perawatan gedung negara kerusakan ini diklasifikasikan menjadi kerusakan
kecil, kerusakan sedang dan kerusakan berat. Identifikasi klasifikasi kerusakan mesti
diperjelas agar setiap personal yang terkait dengan langkah-langkah perbaikannya
mempunyai pendapat yang sama. Penyamaan pendapat ini akan diperlukan karena terkait
dengan standar biaya perawatan. Seperti standar perawatan gedung Negara Yaitu :
▪ Standar biaya pemeliharaan gedung sebesar maksimal 2 % dari nilai gedung/tahun
▪ Standar biaya perbaikan kerusakan ringan maksimal 30 % dari nilai gedung
▪ Standar biaya perbaikan kerusakan sedang maksimal 45 % dari nilai gedung
▪ Standar biaya perbaikan kerusakan berat maksimal 65 % dari nilai gedung

Sifat kerusakan

Sifat kerusakan dilihat dari pengaruh kerusakan terhadap pengguna gedung dan dampak
negatif dari kerusakan itu terhadap komponen disekelilingnya. Walaupun suatu kerusakan
kecil seperti kran air rusak, kerusakan ini dampaknya sangat mengganggu aktifitas
penghuni. Contoh kerusakan yang yang mengakibatkan kerusakan komponen
disekelilingnya adalah kebocoran atap, walaupun kebocoran kecil, air yang masuk kedalam
gedung dapat merusak langit-langit, mengotori dinding dan sebagainya. Sifat kerusakan
dibagi menjadi tiga yaitu :

5
Tabel 1.1 Sifat Kerusakan

Sifat Kerusakan Pengaruh/ Dampak Contoh kerusakan

Emergency Kerusakan yang mempunyai pengaruh Kerusakan kran air, atap


sangat tinggi terhadap aktivitas penghuni bocor, instalasi listrik,
dan kerusakan komponen lainnya pada Kunci pintu utama dan
gedung lain-lain

Urgent Kerusakan yang mempunyai pengaruh Kerusakan pada lantai


tinggi terhadap aktivitas penghuni dan keramik di bagian yang
kerusakan komponen lainnya pada sering dilalui, pada
gedung plafon, jalan berlubang
atau paving blok lepas
dan lain-lain.

Normal Kerusakan kecil yang menyebabkan Cat dinding, pintu atau


fungsi kurang sempurna atau penurunan bagian lainnya kusam,
tampak pada komponen bangunan yang keramik lepas dibagian
mempunyai pengaruh kecil pada yang jarang dilewati dan
aktivitas penghuni. lain-lain.

Perbaikan tak terencana ( Unplanned)

Tidak semua pekerjaan dan perbaikan yang akan dilakukan adalah kerusakan yang sudah
terjadi sebelumnya, bisa saja pada saat pelaksanaan tahun berjalan terjadi/ muncul
kerusakan dan harus segera dilakukan perbaikan. Perbaikan ini akan memerlukan biaya
dan sebelumnya tidak dianggarkan dalam perencanaan. Perlu pengelompokan pekerjaan tak
terencana dan terencana dalam pembuatan program pemeliharaan dan perbaikan.
Karakteristik dan konsekuensi pekerjaan terencana dan tak terencana berbeda dan
mempengaruhi system pemeliharaan dan perbaikan seperti struktur organisasi dan ,
pengerahan tenaga kerja, pengadaan suku cadang dan peralatan, pengadaan jasa pihak luar
dan lain-lain. Perbaikan tak terencana sering terjadi bersifat emergency sehingga langsung
dieksekusi, untuk itu dibutuhkan tenaga kerja atau staf yang selalu stand by setiap hari (
day to day ).

6
Tabel 1.2 Perbedaan perbaikan terencana dan tak terencana

Penanganan
Ciri dan Day to day Terencana
konsekuensi
▪ Lokasi terisolasi ▪ Pekerjaan dapat dikelompokkan
Ciri-ciri ▪ Skala kecil ▪ Skala besar
▪ Nilainya kecil ▪ Nilainya besar
▪ Tidak terprediksi ▪ Dapat diprediksi
Konsekuensi ▪ Banyak waktu terbuang ▪ Waktu efektif
▪ Kesulitan akses ▪ Akses tidak masalah
▪ Biaya administrasi ▪ Biaya administrasi menjadi
menjadi tinggi rendah
▪ Kebutuhan bahan sedikit ▪ Volume bahan besar
▪ Sulit mengendalikan ▪ Mudah mengawasi dan
biaya, waktu dan kualitas mengendalikan
Sumber : Reginal Lee, building maintenance management

Input Pekerjaan Pemeliharaan dan perbaikan Gedung


Input pekerjaan perawatan gedung adalah kerusakan-kerusakan yang ada pada bagian
gedung yang akan dilakukan perawatan yang disebut sebagai item pekerjaan perawatan.
Untuk mengetahui dan mengumpulkan kerusakan-kerusakan yang ada dapat ditempuh
dengan cara :
▪ Laporan dari penghuni atau pengguna gedung
▪ Dilakukan survey yaitu dengan melihat seluruh bagian gedung untuk menemukan
adanya kerusakan.
▪ Dari program perawatan jangka panjang dimana pada saat dibuat dilakukan
perkiraan umur setiap komponen gedung. Perkiraan awal bisa benar atau tidak
sesuai, untuk itu diperlukan pengecekan dengan melihat ke tempat komponen yang
diperkirakan umurnya sudah habis.
Setelah ditempuh lanhkah-langkah tersebut maka disusunlah item pekerjaan perawatan
sesuai klasifikasinya. Klasifikasi ini bisa berdasarkan jenisnya (perawatan lantai,
pengecatan tembok dll), (sifatnya (normal,urgent, emergency), volume pekerjaan dan
besaran biayanya.

Perawatan terjadwal dan tak terjadwal (Schedule dan contingency)


Perawatan setiap gedung selalu ada dua jenis pekerjaan perawatan yaitu :
1. Perawatan yang pelaksanaannya dapat ditunda sehingga akan dilaksanakan sesuai
jadwal (schedule) yang dibuat terlebih dahulu dan

7
2. Perawatan terhadap kerusakan yang tiba-tiba terjadi (contingency) dan harus segera
diperbaiki karena apabila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih parah, gangguan
pengguna gedung, operasi atau kegiatan pengguna gedung berhenti dan lain-lain.

1.4 Proses Pemeliharaan dan perbaikan Gedung

Sebelum membahas proses pemeliharaan dan perbaikan gedung perlu mengetahui terlebih
dahulu proses gedung secara secara menyeluruh dari awal sampai akhir. Tahapan proses
gedung terdiri dari perencanaan, pembangunan, operasi dan pemeliharaan, perobohan
(demolition). Di Indonesia teknologi pada tahap perencanaan dan pembangunan telah
sangat maju, namun pada tahap operasi dan pemeliharaan termasuk demolisi belum begitu
berkembang. Informasi atau literatur tentang operasi dan pemeliharaan gedung masih
sedikit.
Dilihat dari lamanya waktu, tahap operasi dan pemeliharaan adalah yang paling lama yaitu
selama umur bangunan ( untuk gedung dapat mencapai 50 tahun). Setiap tahapan pada
proses gedung saling berkaitan, efisiensi pada tahap operasi dan pemeliharaan sangat
tergantung pada kualitas perencanaan dan pembangunan (masa konstruksi). Sikap yang
wperlu selalu diingat bagi perencana, pelaksana dan pengawas adalah kemudahan operasi
(aktivitas pengguna gedung) dan perawatan yang ekonomis. Walaupun pada akhir
pelaksanaan pembangunan gedung ada masa pemeliharaan yaitu untuk menjamin bahwa
semua komponen gedung berfungsi dengan baik, namun masih belum cukup ada
kesinambungan yang memadahi ke tahap operasional. Sebaiknya pada saat selesai
dibangun dan diseerah terimakan ke pemilik gedung dokumen serahterima ditambahkan
petunjuk perawatan (maintenance manual).
Proses gedung dijelaskan secara lengkap pada gambar nomor 4.1 Untuk aturan keuangan
(financial regulation) di Indonesia untuk gedung negara dapat menggunakan Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum tentang pedoman teknis pembangunan gedung Negara.
Proses pemeliharaan dan perbaikan gedung meliputi pengumpulan item pekerjaan
pemeliharaan dan perbaikan yang akan dilakukan, proses pemeliharaan dan perbaikan dan
administrasi dokumentasi pekerjaan yang telah dilaksanakan. Menurut Reginal Lee proses
pemeliharaan dan perbaikan secara menyeluruh digambarkan seperti gambar1.5 integrasi
system schedule dan contingency.
Integrasi Perawatan terjadwal dan tak terjadwal (Schedule dan contingency)
Perawatan setiap gedung selalu ada dua jenis pekerjaan perawatan yaitu :
3. Perawatan yang pelaksanaannya dapat ditunda sehingga akan dilaksanakan sesuai
jadwal (schedule) yang dibuat terlebih dahulu dan
4. Perawatan terhadap kerusakan yang tiba-tiba terjadi (contingency) dan harus segera
diperbaiki karena apabila tidak akan menyebabkan kerusakan lebih parah, gangguan
pengguna gedung, operasi atau kegiatan pengguna gedung berhenti dan lain-lain.

8
Gambar 1.4 The total building process, showing the role
played by maintenance

PHYSICAL CONDITION

Technical Survey
Financial regulator
MAINTENANCE
OWNER USER OBJECTIVES
standard

Financial regulator maintenance manual


Quality & cost guarantee &
Control warrantee
BRIEF DESIGN MAINTENANCE DEMOLITION
CONSTRUCTION
Maintaining facilities to
Statement of Optimum a standard consistent End of physical
Physical
recuerement & spatial & or economic life
realization of with overall police
constraints physical or improvement
environment design

INFORMATION AND RESEARCH

Sumber : Reginal Lee, building maintenance management

9
Gambar 1.5 Integrasi system schedule dan Contingency

SCHEDULE
CONTINGENCY

LONGTERM USER REQUEST


PROGRAM

UP-DATE
ANNUAL PRE-VIEW
INSPECTION NO

CONTINGENCY BUDGET
NECY
ALLOWANCE NO

YES

OWN
LABOUR PRIORITY
NO

YES

YES WITHIN
TIME MONTHLY NORMAL
PROGRAMME BUDGE
T

PREPARE WEEKLY URGEN


CONTRACT PROGRAMME
DOKUMENT

TENDERING DAILY EMERGENCY


PROCEDURE PROGRAMME

Perawatan terjadwal direncanakan dengan mengelompokkan pekerjaan sejenis,


mengatur waktu pelaksanaannya, jumlah perawatan disesuaikan dengan anggaran, dan

10
penentuan pekerjaan yang akan ditangani sendiri dan yang akan dikontrakkan. Lebih
lanjut akan ditentukan proses pengadaan jasa sesuai aturan yang berlaku dan disiapkan
dokumen kontraknya. Contoh pekerjaan seperti pengecatan dinding, perkerasan jalan
dengan paving blok dan lain-lain.

Perawatan yang bersifat contingency pada umumnya diterima dari laporan penghuni
atau pengguna ruang karena adanya kerusakan yang menggnggu aktifitasnya.
Kerusakan ini langsung disurvey, ditentukan metoda perbaikannya dan bila perlu
langsung diperbaiki atau perbaikan hanya bisa ditunda sementara waktu. Bila ditunda
sementara waktu harus dilakukan pengamanan terhadap gangguan kerusakan dan
dijelaskan ke pengguna ruang. Untuk perbaikan kerusakan yang segera ditangani ini
umumnya dibutuhkan dana taktis (dana yang dapat dipergunakan dengan segera).
Perawatan contingency in i pada umumnya terjadi pada kerusakan utilitas gedung, atau
kerusakan pada bagian atau ruangan penting seperti kerusakan pintu atau jendela ruang
keuangan atau ruang yang berisi dokumen- dokumen penting.

1.5 Keandalan bangunan gedung

Keandalan adalah …

a. Keselamatan
▪ Kemampuan mendukung beban muatan
▪ Kemampuan mencegah dan menanggulangi kebakaran
▪ Kemampuan mencegah bahaya petir

b. Kesehatan
▪ Memenuhi persyaratan system penghawaan
▪ Memenuhi persyaratan system pencahayaan
▪ Memenuhi persyaratan system sanitasi
▪ Memenuhi persyaratan penggunaan bahan bangunan

c. Kenyamanan
▪ Kenyamanan ruang gerak
▪ Kenyamanan hubungan antar ruang
▪ Kenyamanan kondisi udara dalam ruang
▪ Tingkat getaran dan tingkat kebisingan

d. Kemudahan
▪ Kemudahan hubungan ke dari dan dalam bangunan gedung
▪ Kelengkapan sarana dan prasaranayang berlaku.

1.6 Audit dan Dokumentasi Perawatan

11
Audit dilakukan untuk mengecek apakah pengelolaan perawatan telah efisien.
Kelemahan audit perawatan adalah tidak ada ukuran tunggal untuk menganalisa
jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sudah dilakukan. Seperti pada audit akuntan,
ciri-ciri penting maintenance audit perlu dievaluasi sebagai control internal apakah
kegiatan sudah berlangsung secara efektif.
Rincian maintenance audit
Teknis
Bagaimana kondisi bangunan secara umum ?
Apakah ada standar perawatan yang diikuti ?
Apakah kerusakan-kerusakan yang ada sudah diperbaiki dengan benar ?
Apakah perbaikan yang dilakukan sudah memuaskan ?
Apakah penghuni sudah puas dengan kualitas pekerjaan dan kecepatan respon dari
laporan.

Manajemen
Apakah ada maintenance policy ?
Apakah ada struktur organisasi ?
Apakah prosedur operasi didefinisikan dengan jelas ?
Apakah record terjaga dan selalu di up-date ?
Berapa persen pekerjaan terencana ?
Berapa persen pekerjaan emergency ?
Berapa rata-rata backlog ?
Apakah work order system sudah efisien ?
Apakah ada pengendalian terhadap waktu, biaya dan kualitas ?
Apakah terlibat ? jika ada, pada design bangunan baru.

Financial
Apakah biaya masih dalam batas anggaran yang disetujui ?
What is the return on capital for direct labour ?
Berepa ratio biaya administrasi terhadap total biaya ?
Berapa biaya administrasi per perbaikan pekerjaan ?

Direct labour force


Berapa gross output per orang ?
Berapa harga-harga material yang digunakan ?
Berapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan ?
Berapa man-hours per job ?
Bagaimana motivasinya dalam melaksanakan pekerjaan ?
Berapa persen waktu yang tidak produktif
Contractors
Bagaimana seleksi kontraktor ?
Bagaimana dasar pembayarannya ?
Bagaimana pengendalian kontrak terhadap waktu, biaya dan kualitas ?
Berapa rata-rata perbedaan antara total biaya akhir dan harga tender ?
Berapa rata-rata dela dalam penyelesaian pekerjaan ?

12
Apakah kualitas pekerjaan memuaskan ?

Dokumentasi
Masa perawatan bangunan gedung berlangsung selama umur gedung, contoh untuk
gedung untuk perbaikan selama umur gedung sebesar 1,5 % dari biaya awal (Initial
Cost) dan untuk pemeliharaan sebesar 0,5 % dari initial cost pertahun. Catatan sejarah
perawatan termasuk biayanya adalah penting untuk menghindari pemborosan maupun
kecilnya anggaran perawatan yang dapat menyebabkan kinerja gedung kurang.
Terutama pada gedung-gedung komersial dimana anggaran perawatan telah
dipertimbangkan dalam kesatuan rencana bisnis.
Estimasi biaya perawatan awal diperhitungkan dari umur komponen gedung dimana
biaya akan dikeluarkan pada saat penggantian komponen. Dari profil perawatan yang
berdasarkan siklus penggantian/pembaharuan komponen (renewal cycles) biaya
perawatan pertahun ditentukan. Estimasi biaya ini digunakan untuk pengendalian biaya
jangka panjang, untuk itu maka penting melakukan dokumentasi perawatan.
Dokementasi sebagian besar berupa tabulasi yang memuat item pekerjaan perawatan,
waktu pelaksanaan, besarnya biaya perawatan dan penjelasan-penjelasan lainnya yang
penting untuk diketahui.
Isi dokumentasi terdiri dari
Judul berupa perawatan dan tahun pelaksanaan
1. Nomor item perawatan
2. Item pekerjaan perawatan ( bisa dipisah menjadi pekerjaan pemeliharaan dan
pekerjaan perbaikan)
3. Spesifikasi sebelum dilakukan perawatan
4. Volume pekerjaan
5. Biaya
6. Waktu pelaksanaan
7. Lokasi
8. Sifat pekerjaan ( normal, urgent atau emergency)
9. Pelaksanaan ( swakela atau kontrak), dokumen kontrak dilampirkan
10. Spesifikasi setelah pelaksanaan
11. Pekerjaan yang belum dapat dilaksanakan ( untuk input tahun berikutnya)

Latihan Soal
1. Sebutkan definisi pemeliharaan, perbaikan dan improvement
2. Sebutkan tujuan dari pemeliharaan dan perbaikan
3. Jelaskan yang dimaksud kerusakan bersifat normal, urgen dan emergency
4. Jelaskan cara menentukan item pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan
5. Jelaskan cara menangani kerusakan yang terjadi yang tidak dapat direncanakan
(unplanned)
6. Jelaskan pentingnya dokumentasi pekerjaan perawatan.

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Reginal Lee. 1987. Building Main tenance Management. Third edition .


William Collins Sons & Co.Ltd. London

14
2. Asosiasi Perawatan Bangunan Indonesia (APBI). 2002. Building Operation And
Maintenance Services. Jakarta
3. Himpunan Ahli Perawatan Bangunan Indonesia (HAPBI). 2002. Musyawarah
Nasional I. Jakarta.
4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 45/PRT/M/2007. Pedoman Teknis
Pembangunan Bangunan Gedung Negara. Jakarta
5. ………………….., 1987. Cacat dan Kegagalan . Pusat Pengembangan pendidikan
Politeknik. Bandung
6. Jimmy S. Yuwana.2005. Panduan Sistem Bangunan Tinggi. Penerbit Erlangga.
Jakarta
7. Sjafei Amri. 2006. Teknologi Audit Forensik, Repair dan Retrofit Untuk Rumah
& Bangunan Gedung. Yayasan John Hi-Tech Idetama. Jakarta
8. Arch’s. 1993. Building Maintenance Manual For Housing Co-OPS
(understanding maintenance issues and how to deal with them). Association
Resource Co-operation Housing Ltd. New South Wales.
9. Udi Raharjo. 2004. Sistem Operasi dan Pemeliharaan Bangunan. Pusat
Pendidikan Keahlian Teknik. BPSDM Departemen Pekerjaan Umum. .

15