Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN BBDM MODUL 6.

SKENARIO 4

Disusun oleh:

BBDM 15

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

2019
DAFTAR PESERTA DIDIK

BBDM 15

No. Nama Peserta Didik NIM Paraf


1. Veramita Augusta Arisandy 22010116120017 1.
2. Azizah Indria Putri 22010116120018 2.
3. Ahmad Wasil 22010116120027 3.
4. Anafatun Ihtammaliya 22010116120028 4.
5. Afina Mirra Astuti 22010116120037 5.
6. Megawati Sianturi 22010116120038 6.
7. Ananda Rizky Hapsari 22010116120047 7.
8. Maulida Zahra 22010116120048 8.
9. Fathurrahman 22010116120057 9.
10. Shafira Maharani Malik 22010116120058 10.

Mengetahui

Tutor BBDM 15 Skenario 4,

(dr. Sulistiyati Bayu Utami, Ph.D, Sp.JP)


SKENARIO 4

Seorang Ibu Hamil Dengan Keluhan Ada Infeksi Di Jalan Lahir

Seorang perempuan G1P0A0, 18 tahun, hamil 9 bulan, datang ke puskesmas


membawa surat rujukan bidan dengan terdapat infeksi condiloma akuminata di
bibir kemaluan. Pada saat ini ibu tersebut datang untuk pemeriksaan kehamilan usia
kehamilan 36 minggu dengan didampingi suami. Sejak 3 bulan terakhir pasien
mengeluh sering diare dan muncul sariawan di rongga mulut.

Puskesmas dengan layanan VCT (Voluntary Counselling Test) memiliki program


PMTCT/PPIA (Program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak). Dokter
puskesmas dengan adanya program PITC (Provider Iniciated HIV Testing and
Counselling) memberi konseling untuk pemeriksaan test HIV klinik VCT. Setelah
1 minggu kemudian, hasil test anti HIV dinyatakan reaktif.

Pasien khawatir jika bayinya tertular HIV. Saat ini datang ke psukesmas tempat
anda bertugas hendak konsultasi mengenai kehamilannya dan cara mencegah
penularan HIV ke bayinya.

Riwayat sosial : suami bekerja sebagai penjaga keamanan tempat hiburan


malam (tampak bertato di beberapa bagian tubuh)
Keadaan umum : baik, kesadaran compos mentis
TD : 110/70
Nadi : 84 kali permenit
Frekuensi napas : 20 kali permenit
Suhu : 37,2 celcius
Pemeriksaan Obstetri : janin tunggal intra uterin, letak kepala taksiran berat janin
1550 gram
DJJ : 140 kali permenit
Status Genitalis : tampak lesi papilloma bergerombol di vulva dextra
I. TERMINOLOGI
1. PMTCT/PPIA
Program pemerintah untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi,
pada usia produktif, remaja pra nikah, kehamilan HIV (+) melalui
berbagai cara seperti konseling, edukasi, dan skrining. Permenkes No 51
Th 2013 menyarankan semua ibu hamil untuk dilakukan screening HIV.
Tanpa pengobatan penularan mencapai 25% - 50% ibu ke bayi.
2. Pelayanan VCT
Layanan konseling dan tes HIV yang dibutuhkan oleh klien secara aktif
dan individual yang dilakukan oleh konselor. Menekankan pada
pengkajian dan penekanan faktor resiko klien, mendiskusikan keinginan
menjalani tes HIV dan indikasi, serta strategi untuk mengurangi resiko.
3. PITC
Merupakan suatu tes dan konseling HIV yang diprakarsai oleh petugas
kesehatan pada pengunjung yankes sebagai bagian dari standar
pelayanan medis yang bertujuan untuk membuat tujuan klinis yang tidak
mungkin dilaksanakan tanpa mengetahui status HIV seperti pada
keputusan pemberian ART.
4. Condiloma akuminata
Kutil Kelamin yang merupakan IMS minor (penularan tidak selalu dari
berhubungan seksual dan autoinokulasi) disebabkan oleh HPV tipe 6
dan 11 dengan ukk papilloma berbagai bentuk (akuminata/kubis,
papuler/kubah, keratotik/kusta, makuler/datar) dengan kejadian
terbanyak pada wanita. Faktor predisposisi selama kehamilan yg
meningkatkan risiko HIV dan sebaliknya.

II. RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana interpretasi data yang ada di skenario?
2. Apakah hasil tes anti HIV reaktif berhubungan dengan keluhan?
3. Mengapa pada ibu terdapat kondiloma akuminata,sering sariawan,
dan diare?
4. Apa pentingnya PMTCT pada kasus?
5. Apa perbedaan VCT dan PITC?

III. HIPOTESIS
1. Riwayat sosial : kemungkinan pasangan lebih dari satu sehingga
meningkatkan risiko IMS. Tato : menggunakan jarum yang tidak
steril sehingga dapat menjadi media penularan HIV
Keadaan umum, TD, suhu, nadi, frekuensi nafas : normal
Pemeriksaan obstetric : normal
Berat janin: kecil masa kehamilan
DJJ : normal
Status genitalis : dicurigai kondiloma akuminata
2. Sudah positif menderita HIV. Diare dan sariawan merupakan gejala
klinis HIV. Imun turun dan gampang terkena penyakit.pada
pemeriksaan ELISA ada ikatan antibody dan antigen yg
menunjukkan hasil positif. Sariawan : HIV stadium 2, diare: HIV
stadium 3
3. HIV menyerang imunitas seluler dan dapat terjadi infeksi
oportunistik. Kekebalan menurun dapat menyebabkan sariawan dan
diare. Kondiloma: karna ada infeksi HPV, lesi berpotensi menjadi
media transmisi HIV
CD4 berperan dalam penyembuhan lesi kondiloma akuminata.
Apabila CD4 menurun penyembuhan akan jadi lambat
4. Mencegah terjadinya infeksi dari ibu ke bayi.
Skrining pada ibu hamil: sifilis, HIV
5. PITC = disarankan dari petugas kesehatan
VCT = pasien secara sadar meminta untuk diperiksa
IV. PETA KONSEP

Riwayat Sosial

Infeksi Infeksi HIV Pada PMTCT/PPIA


Condiloma Kehamilan
Akuminata

Tatalaksana Konseling
Pemeriksaan
Manajemen
Persalinan

Manajemen ASI

V. SASARAN BELAJAR
1. Diagnosis HIV AIDS pada kehamilan
2. Pelaksanaan program PITC
3. Pelaksanaan program PMTCT/PPIA
4. Terapi (ARV) pada ibu hamil HIV
5. Manajemen persalinan pada ibu hamil
6. Manajemen ASI pada bayi dengan ibu HIV
7. Tatalaksana rujukan
8. Edukasi dan konseling pada ibu hamil HIV

VI. BELAJAR MANDIRI


1. Diagnosis HIV AIDS pada kehamilan
Langkah pertama untuk mendiagnosis HIV/AIDS adalah anamnesis
secara keseluruhan kemudian dilakukan pemeriksaan diagnostik infeksi
HIV dapat dilakukan secara virologis (mendeteksi antigen DNA atau
RNA) dan serologis (mendeteksi antibodi HIV) pada spesimen darah.
Pemeriksaan diagnostik infeksi HIV yang dilakukan di Indonesia
umumnya adalah pemeriksaan serologis menggunakan tes cepat (Rapid
Test HIV) atau ELISA. Pemeriksaan diagnostik tersebut dilakukan
secara serial dengan menggunakan tiga reagen HIV yang berbeda dalam
hal preparasi antigen, prinsip tes, dan jenis antigen,yang memenuhi
kriteria sensitivitas dan spesifitas.
Tes diagnostik untuk infeski HIV antara lain:
1. Skrening
 ELISA unutk HIV-1, HIV-2, atau keduanya
 Aglutinasi latek untuk HIV-1
2. Konfirmasi
 Wastern blot (WB) untuk HIV-1 dan HIV-2
 Indirect immunofluorescence antibody assay (IFA) untuk
HIV-1
 Radioimmuno precipitation antibody assay (RIPA) untuk
HIV-1
3. Lain-lain
 ELISA untuk HIV-1 p24 antigen
 Polymerase chain reaction (PCR) untuk HIV-1

Hasil pemeriksaan dinyatakan reaktif jika hasil tes dengan


reagen 1 (A1),reagen 2 (A2), dan reagen 3(A3) ketiganya positif. Untuk
ibu hamil dengan factor risiko yang hasil tesnya indeterminate, tes
diagnostik HIV dapat diulang denganbahan baru yang diambil minimal
14 hari setelah yang pertama dan setidaknya tesulang menjelang
persalinan (32-36 minggu).33,34Komisi Penanggulangan AIDS (KPA)
Indonesia menetapkan untuk mendiagnosis AIDS dengan kriteria WHO
digunakan untuk keperluan surveilans epidemiologi. Dalam hal ini
seseorang dapat didiagnosis berdasarkan gejala klinis,yang terdiri dari
gejala mayor dan minor. Pasien yang dikatakan AIDS jika menunjukan
hasil tes HIV positif disertai minimal terdapat 2 gejala mayor atau
terdapat 2 gejala minor dan 1 gejala mayor. Pemeriksaan jumlah sel
CD4 dapat segera di lakukan setelah pertama kali dinyatakan positif
HIV dan saat akan melahirkan menggunakan spesimen darah.

1. Gejala Mayor
 Berat badan turun >10% dalam 1bulan
 Diare kronik berlangsung > 1 bulan
 Demam berkepanjangan > 1bulan
 Penurunan Kesadaran
 Demensia/HIV ensefalopati
2. Gejala Minor
 Batuk menetap > 1 bulan
 Dermatitis generalisata
 Herpes Zooster multisegmental dan berulang
 Kandidiasis orofaringeal
 Herpes simpleks kronis progresif
 Limfadenopati generalisata
 Infeksi jamur berulang pada alatkelamin wanita
 Retinitis Cytomegalovirus
2. Pelaksanaan program PITC
Provider Initiated HIV Testing and Counselling (PITC) adalah suatu
tes HIV dan konseling yang diprakarsai oleh petugas kesehatan kepada
pengunjung sarana layanan kesehatan sebagai bagian dari standar
pelayanan medis. Tujuan utamanya adalah untuk membuat keputusan
klinis dan/atau menentukan pelayanan medis khusus yang tidak
mungkin dilaksanakan tanpa mengetahui status HIV seseorang.
Apabila seseorang yang datang ke sarana layanan kesehatan
menunjukkan adanya gejala yang mengarah ke HIV maka tanggung
jawab dasar dari petugas kesehatan adalah menawarkan tes dan
konseling HIV kepada pasien tersebut sebagai bagian dari tatalakasana
klinis. Sebagai contoh petugas kesehatan memprakarsai tes dan
konseling HIV kepada pasien TB dan pasien suspek TB, pasien IMS,
pasien gizi buruk, pasien dengan gejala atau tanda IO lainnya.
PITC juga bertujuan untuk mengidentifikasi infeksi HIV yang tidak
nampak pada pasien dan pengunjung sarana layanan kesehatan. Oleh
karenannya kadang‐kadang tes dan konseling HIV juga ditawarkan
kepada pasien dengan gejala yang mungkin tidak terkait dengan HIV
sekalipun. Pasien tersebut dapat mendapatkan manfaat dari pengetahuan
tentang status HIV positifnya guna mendapatkan layanan pencegahan
dan terapi yang diperlukan secara lebih dini. Dalam hal ini tes dan
konseling HIV ditawarkan kepada semua pasien yang berkunjung ke
sarana layanan kesehatan selama berinteraksi dengan petugas kesehatan.
Seperti halnya KTS, PITC pun harus mengedepankan “three C”:
informed consent, counselling and confidentiality atau suka rela,
konseling dan konfidensial.
Pelaksanaan PITC di berbagai tingkat epidemik meliputi:
 Tingkat epidemik HIV yang meluas (generalized epidemic)
Bertujuan mengidentifikasi infeksi HIV pada seluruh pasien
yang berobat ke UPK
 Tingkat epidemik HIV yang terkonsentrasi dan rendah
(concentrated and low epidemic)
Pasien yang mempunyai indikasi atau infeksi tertentu seperti
AIDS, Tuberkulosis, dan anak yang diketahui terlahir dari ibu HIV
positif.
3. Pelaksanaan program PMTCT/PPIA
Upaya PPIA dilaksanakan melalui kegiatan pencegahan dan
penanganan HIV secara komprehensif dan berkesinambungan dalam
empat komponen (prong) sebagai berikut:
1. Prong 1: pencegahan penularan HIV pada perempuan usia
reproduksi.
2. Prong 2: pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada
perempuan dengan HIV.
3. Prong 3: pencegahan penularan HIV dan sifilis dari ibu hamil
(dengan HIV dan sifilis) kepada janin/bayi yang dikandungnya.
4. Prong 4: dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu
dengan HIV beserta anak dan keluarganya

A. Prong 1: pencegahan penularan HIV pada perempuan usia


reproduksi.
Langkah dini yang paling efektif untuk mencegah terjadinya
penularan HIV pada bayi adalah dengan mencegah perempuan usia
reproduksi tertular HIV. Komponen ini dapat juga dinamakan
pencegahan primer. Pendekatan pencegahan primer bertujuan untuk
mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi secara dini, bahkan
sebelum terjadinya hubungan seksual. Hal ini berarti mencegah
perempuan muda pada usia reproduksi, ibu hamil dan pasangannya
untuk tidak terinfeksi HIV. Dengan demikian, penularan HIV dari
ibu ke bayi dijamin bisa dicegah.

Untuk menghindari penularan HIV, dikenal konsep


“ABCDE” sebagai berikut.

1. A (Abstinence): artinya Absen seks atau tidak melakukan


hubungan seks bagi yang belum menikah.
2. B (Be faithful): artinya Bersikap saling setia kepada satu
pasangan seks (tidak berganti-ganti pasangan).
3. C (Condom): artinya Cegah penularan HIV melalui hubungan
seksual dengan menggunakan kondom.
4. D (Drug No): artinya Dilarang menggunakan narkoba.
5. E (Education): artinya pemberian Edukasi dan informasi yang
benar mengenai HIV, cara penularan, pencegahan dan
pengobatannya.

Kegiatan yang dapat dilakukan untuk pencegahan primer


antara lain sebagai berikut.

1. KIE tentang HIV-AIDS dan kesehatan reproduksi, baik secara


individu atau kelompok dengan sasaran khusus perempuan usia
reproduksi dan pasangannya.
2. Dukungan psikologis kepada perempuan usia reproduksi yang
mempunyai perilaku atau pekerjaan berisiko dan rentan untuk
tertular HIV (misalnya penerima donor darah, pasangan dengan
perilaku/pekerjaan berisiko) agar bersedia melakukan tes HIV.
3. Dukungan sosial dan perawatan bila hasil tes positif.

B. Prong 2: pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada


perempuan dengan HIV

Perempuan dengan HIV dan pasangannya perlu


merencanakan dengan seksama sebelum memutuskan untuk ingin
punya anak. Perempuan dengan HIV memerlukan kondisi khusus
yang aman untuk hamil, bersalin, nifas dan menyusui, yaitu aman
untuk ibu terhadap komplikasi kehamilan akibat keadaan daya tahan
tubuh yang rendah; dan aman untuk bayi terhadap penularan HIV
selama kehamilan, proses persalinan dan masa laktasi. Perempuan
dengan HIV masih dapat melanjutkan kehidupannya, bersosialisasi
dan bekerja seperti biasa bila mendapatkan pengobatan dan
perawatan yang teratur. Mereka juga bisa memiliki anak yang bebas
dari HIV bila kehamilannya direncanakan dengan baik. Untuk itu,
perempuan dengan HIV dan pasangannya perlu memanfaatkan
layanan yang menyediakan informasi dan sarana kontrasepsi guna
mencegah kehamilan yang tidak direncanakan.

Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut.

1. Meningkatkan akses ODHA ke layanan KB yang menyediakan


informasi dan sarana pelayanan kontrasepsi yang aman dan efektif.
2. Memberikan konseling dan pelayanan KB berkualitas tentang
perencanaan kehamilan dan pemilihan metoda kontrasepsi yang
sesuai, kehidupan seksual yang aman dan penanganan efek samping
KB.
3. Menyediakan alat dan obat kontrasepsi yang sesuai untuk
perempuan dengan HIV.
4. Memberikan dukungan psikologis, sosial, medis dan keperawatan.
C. Prong 3: pencegahan penularan HIV dan sifilis dari ibu hamil
(dengan HIV dan sifilis) kepada janin/bayi yang dikandungnya

Pada ibu hamil dengan HIV yang tidak mendapatkan upaya


pencegahan penularan kepada janin atau bayinya, maka risiko
penularan berkisar antara 20-50%. Bila dilakukan upaya
pencegahan, maka risiko penularan dapat diturunkan menjadi
kurang dari 2%. Dengan pengobatan ARV yang teratur dan
perawatan yang baik, ibu hamil dengan HIV dapat melahirkan anak
yang terbebas dari HIV melalui persalinan pervaginam dan
menyusui bayinya. Pada ibu hamil dengan sifilis, pemberian terapi
yang adekuat untuk sifilis pada ibu dapat mencegah terjadinya sifilis
kongenital pada bayinya.

Pencegahan penularan HIV dan sifilis pada ibu hamil yang


terinfeksi HIV dan sifilis ke janin/bayi yang dikandungnya
mencakup langkah-langkah sebagai berikut.

1. Layanan antenatal terpadu termasuk tes HIV dan sifilis.


2. Menegakkan diagnosis HIV dan/atau sifilis.
3. Pemberian terapi antiretroviral (untuk HIV) dan Benzatin
Penisilin (untuk sifilis) bagi ibu.
4. Konseling persalianan dan KB pasca persalianan.
5. Konseling menyusui dan pemberian makanan bagi bayi dan
anak, serta KB.
6. Konseling pemberian profilaksis ARV dan kotrimoksazol pada
anak.
7. Persalinan yang aman dan pelayanan KB pasca persalinan.
8. Pemberian profilaksis ARV pada bayi.
9. Memberikan dukungan psikologis, sosial dan keperawatan bagi
ibu selama hamil, bersalin dan bayinya.
Semua kegiatan di atas akan efektif jika dijalankan secara
berkesinambungan. Kombinasi kegiatan tersebut merupakan strategi
yang paling efektif untuk mengidentifikasi perempuan yang
terinfeksi HIV dan sifilis serta mengurangi risiko penularan dari ibu
ke anak pada masa kehamilan, persalinan dan pasca kelahiran.

D. Prong 4: dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu


dengan HIV beserta anak dan keluarganya

Ibu dengan HIV memerlukan dukungan psikososial agar


dapat bergaul dan bekerja mencari nafkah seperti biasa. Dukungan
medis dan perawatan diperlukan untuk mencegah terjadinya
komplikasi akibat penurunan daya tahan tubuh. Dukungan tersebut
juga perlu diberikan kepada anak dan keluarganya.

Dukungan Psikososial

Pemberian dukungan psikologis dan sosial kepada ibu


dengan HIV dan keluarganya cukup penting, mengingat ibu dengan
HIV maupun ODHA lainnya menghadapi masalah psikososial,
seperti stigma dan diskriminasi, depresi, pengucilan dari lingkungan
sosial dan keluarga, masalah dalam pekerjaan, ekonomi dan
pengasuhan anak. Dukungan psikososial dapat diberikan oleh
pasangan dan keluarga, kelompok dukungan sebaya, kader
kesehatan, tokoh agama dan masyarakat, tenaga kesehatan dan
Pemerintah. Bentuk dukungan psikososial dapat berupa empat
macam, yaitu:
 dukungan emosional, berupa empati dan kasih sayang;
 dukungan penghargaan, berupa sikap dan dukungan positif;
 dukungan instrumental, berupa dukungan untuk ekonomi keluarga;
 dukungan informasi, berupa semua informasi terkait HIV-AIDS dan
seluruh layanan pendukung, termasuk informasi tentang kontak
petugas kesehatan/LSM/kelompok dukungan sebaya.
Dukungan Medis dan Perawatan

Tujuan dari dukungan ini untuk menjaga ibu dan bayi tetap
sehat dengan peningkatkan pola hidup sehat, kepatuhan pengobatan,
pencegahan penyakit oportunis dan pengamatan status kesehatan.
Dukungan bagi ibu meliputi:

 pemeriksaan dan pemantauan kondisi kesehatan;


 pengobatan dan pemantauan terapi ARV;
 pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik;
 konseling dan dukungan kontrasepsi dan pengaturan kehamilan;
 konseling dan dukungan asupan gizi;
 layanan klinik dan rumah sakit yang bersahabat;
 kunjungan rumah

Dukungan bagi bayi/anak meliputi:

 diagnosis HIV pada bayi dan anak;


 pemberian kotrimoksazol profilaksis;
 pemberian ARV pada bayi dengan HIV;
 informasi dan edukasi pemberian makanan bayi/anak;
 pemeliharaan kesehatan dan pemantauan tumbuh kembang
anak;
 pemberian imunisasi.

Penyuluhan yang diberikan kepada anggota keluarga meliputi:

 cara penularan HIV dan pencegahannya;


 penggerakan dukungan masyarakat bagi keluar

4. Terapi (ARV) pada ibu hamil HIV


Merujuk pada pedoman muktahir, semua ibu hamil dengan HIV
diberikan terapi ARV, tanpa harus memeriksakan jumlah CD4 dan viral
load terlebih dahulu, karena kehamilan itu sendiri merupakan indikasi
pemberian ARV yang dilanjutkan seumur hidup. Pemeriksaan CD4
dilakukan untuk memantau pengobatan, bukan sebagai acuan untuk
memulai terapi.

Untuk memulai terapi ARV perlu dipertimbangkan hal-hal


berikut:

 persiapan fisik/mental klien secara untuk menjalani terapi melalui


edukasi prapemberian ARV;
 bila terdapat infeksi oportunistik, maka infeksi perlu diobati
terlebih dahulu. Terapi ARV baru bisa diberikan setelah infeksi
oportunistik diobati dan stabil (kira-kira setelah dua minggu sampai
dua bulan pengobatan).
 Profilaksis kotrimoksazol diberikan pada stadium klinis 2, 3, 4 dan
atau CD4 < 200. Untuk mencegah PCP, Toksoplasma, infeksi
bacterial (pneumonia, diare) dan bermanfaat juga untuk mencegah
malaria pada daerah endemis;
 Pada ibu hamil dengan tuberkulosis: OAT selalu diberikan
mendahului ARV sampai kondisi klinis pasien memungkinkan
(kira-kira dua minggu sampai dua bulan) dengan fungsi hati baik
untuk memulai terapi ARV.

Syarat pemberian ARV pada ibu hamil dikenal dengan


singkatan SADAR, yaitu sebagai berikut.

 Siap: menerima ARV, mengetahui dengan benar efek ARV terhadap


infeksi HIV.
 Adherence: kepatuhan minum obat.
 Disiplin: minum obat dan kontrol ke dokter.
 Aktif: menanyakan dan berdiskusi dengan dokter mengenai terapi.
 Rajin: memeriksakan diri jika timbul keluhan.

Protokol pemberian terapi antiretroviral (ARV) untuk ibu


hamil dengan HIV
 Secara umum, yang direkomendasikan untuk ibu hamil HIV positif
adalah terapi menggunakan kombinasi tiga obat (2 NRTI + 1
NNRTI). Perlu dihindari penggunaan “triple nuke” (3 NRTI).
 Paduan obat ARV Kombinasi Dosis Tetap / Fixed Dose
Combination (FDC): TDF (300mg) + 3TC (300mg) + EFV (600mg).
 Ibu yang status HIV-nya diketahui sebelum kehamilan dan sudah
mendapatkan ARV, maka ARV tetap diteruskan dengan paduan
obat yang sama seperti saat sebelum hamil.
 Ibu hamil yang status HIV diketahui saat kehamilan, segera
diberikan ARV tanpa melihat umur kehamilan, berapapun nilai CD4
dan stadium klinisnya.
 Ibu hamil yang status HIV-nya diketahui dalam persalinan, segera
diberikan ARV. Pilihan Paduan obat ARV sama dengan ibu hamil
dengan HIV lainnya.

Pemberian Obat ARV pada Ibu Hamil

No Kondisi Rekomendasi Pengobatan


1  ODHA hamil, • TDF(300mg) + 3TC (300mg) + EFV
segera terapi ARV (600mg)
 ODHA datang pada Alternatif:
masa persalinan • AZT (2x300mg) + 3TC (2x150mg) +
dan belum NVP (1x200mg, setelah 2 minggu
mendapat terapi 2x200mg)
ARV, lakukan tes, • TDF (1x300mg) + 3TC (atau FTC)
bila hasil reaktif (2x150mg) + NVP (2x200mg)
berikan ARV • AZT (2x300mg) + 3TC (2x150mg) +
EFV (1x600mg)
2 ODHA sedang • Lanjutkan dengan ARV yang sama
menggunakan ARV dan selama dan sesudah persalinan
kemudian hamil
3 ODHA hamil dengan • TDF (1x300mg) + 3TC (atau FTC)
hepatitis B yang (1x300mg) + EFV (1x600mg) atau
memerlukan terapi • TDF (1x300mg) + 3TC (atau FTC)
(2x150mg) + NVP (2x200mg)
4 ODHA hamil dengan • Bila OAT sudah diberikan, maka
tuberkulosis aktif dilanjutkan. Bila belum diberikan, maka
OAT diberikan terlebih dahulu sebelum
pemberian ARV.
• Rejimen untuk ibu bila OAT sudah
diberikan dan tuberkulosis telah stabil:
TDF + 3TC + EFV
Keterangan: AZT/ZDV: zidovudin; 3TC: lamivudin; FTC: emtricitabin;
NVP: nevirapin; EFV: efavirens; TDF: tenovofir

Efek samping obat

Nama obat Efek samping Kontraindikasi


AZT  Anemia (makin lama • Alergi obat
pajanan makin berat, • Hb < 7 g/dL
namun reversibel) • Netropenia (<750
 Mual, sakit kepala, sel/mm3)
mialgia, insomnia • Disfungsi hati dan
ginjal berat
NVP • Hepatotoksik (perlu • Alergi terhadap
observasi klinis dalam benzodiazepin
12 minggu pertama) • Disfungsi hati
• Ruam kulit
TDF • Nefrotoksik (perlu • Disfungsi ginjal
observasi klinis selama
6 bulan pertama)
5. Manajemen persalinan pada ibu hamil
Persalinan yang dilakukan pada ibu hamil dengan HIV haruslah
persalinan aman yang bertujuan untuk menurunkan risiko penularan
HIV dari ibu ke bayi, serta risiko terhadap ibu, tim penolong
(medis/non-medis) dan pasien lainnya. Persalinan melalui bedah sesar
berisiko lebih kecil untuk penularan terhadap bayi, namun menambah
risiko lainnya untuk ibu. Risiko penularan pada persalinan pervaginam
dapat diperkecil dan cukup aman bila ibu mendapat pengobatan ARV
selama setidaknya enam bulan dan/atau viral load kurang dari 1000
kopi/mm3 pada minggu ke-36.

Macam-macam Persalinan :
a. Persalinan Pervaginam
Syarat Persalinan :
- Pemberian ARV mulai pada < 14 minggu (ART > 6 bulan) atau
;
- VL < 1000 kopi/mm3
Keuntungan :
- Mudah dilakukan di sarana kesehatan yang terbatas
- Masa pemulihan pasca persalinan singkat
- Biaya rendah
Kerugian :
- Risiko penularan pada bayi relatif tinggi 10-20%, kecuali ibu
telah minum ARV teratur > 6 bulan atau diketahui kadar VL <
1000 kopi/mm3
b. Persalinan Perabdominam (seksio sesarea)
- Ada indikasi obstetrik
- VL > 1000 kopi/mm3
- Pemberian ARV dimulai pada usia kehamilan > 36 minggu
Keuntungan :
- Risiko penularan yang rendah (2-4%) atau dapat mengurangi
risiko penularan sampai 50-60%
- Terencana pada minggu ke 38
Kerugian :
- Lama perawatan bagi ibu lebih panjang
- Perlu sarana dan fasilitas pendukung yang lebih memadai
- Risiko komplikasi selama operasi dan pasca operasi lebih tinggi
- Ada risiko komplikasi anastesi
- Biaya lebih mahal
Hal-hal berikut perlu diperhatikan dalam memberikan
pertolongan persalinan yang optimal pada ibu dengan HIV.
1. Pelaksanaan persalinan, baik melalui seksio sesarea maupun
per vaginam, perlu memperhatikan kondisi fisik ibu dan
indikasi obstetrik.
2. Ibu hamil dengan HIV harus mendapatkan informasi
sehubungan dengan keputusannya untuk menjalani
persalinan per vaginam ataupun melalui seksio sesarea.
3. Tindakan menolong persalinan ibu dengan HIV, baik per
vaginam maupun seksio sesarea harus memperhatikan
kewaspadaan umum yang berlaku untuk semua persalinan
6. Manajemen ASI pada bayi dengan ibu HIV
 Konseling Ibu menggunakan susu formula atau ASI eksklusif
Risiko penularan HIV lewat ASI adalah 15-20%, apabila terdapat
lecet pada payudara Ibu risiko meningkat menjadi 65%
Risiko penularan lewat susu formula adalah 0%
Sangat tidak dianjurkan mixed feeding, risiko penularan adalah
24,1%
 Jika Ibu memilik ASI:
- Harus ASI eksklusif 6 bulan kemudian dihentikan diganti
dengan susu formula
- Pastikan bayi melekat dan menghisap dengan baik untuk
mencegah terjadinya mastitis dan gangguan puting susu
 Jika Ibu memilih susu formula:
- Diperhatikan AFASS
A: Acceptable (mudah diterima)
F: Feasible (mudah dilakukan)
A: Affordable (terjangkau)
S: Sustainable (berkelanjutan)
S: Safe (aman penggunaan)
- Dijamin ketersediaan air bersih dan sanitasi
- Ibu mampu menyediakan susu formula dalam jumlah cukup
untuk tumbuh kembang
 Dalam kondisi lain bisa diberikan ASI oleh ibu susuan yang HIV
negatif
 Apapun pilihan Ibu tentang pemberian nutrisi bagi bayi perlu diberi
dukungan
7. Tatalaksana rujukan
Bidan desa/bidan praktek mandiri/pustu/polindes/poskesdes dapat
melakukan rujukan ke puskesmas atau langsung ke rumah sakit
kabupaten/kota dalam keadaan emergensi. Sebaliknya, mereka dapat
menerima rujukan balik dari puskesmas/ rumah sakit untuk membantu
melakukan pemantauan kepatuhan minum obat ARV dan layanan
konseling terkait PPIA dan sifilis.
Puskesmas, rumah sakit pratama dan rumah sakit kelas D dapat
melakukan rujukan ke rumah sakit kabupaten/kota atau langsung ke
rumah sakit propinsi dalam keadaan emergensi. Rumah sakit rujukan
tingkat kabupaten/kota dan propinsi wajib melakukan komunikasi dan
rujukan kembali ke puskesmas dan jaringannya untuk tatalaksana kasus
secara komprehensif berkelanjutan.
Rumah sakit kabupaten/kota dapat melakukan rujukan ke rumah
sakit Propinsi. Rumah sakit rujukan tingkat propinsi wajib melakukan
komunikasi dan rujukan kembali ke rumah sakit kabupaten/kota untuk
tatalaksana kasus secara komprehensif berkelanjutan.
8. Edukasi dan konseling pada ibu hamil HIV
1. Mengurangi stigma buruk dengan ibu yang terkena HIV
2. Meningkatkan kemampuan masyarakat melakukan perubahan dan
melakukan praktek pencegahan penularan HIV
3. Komunikasi perubahan perilaku untuk remaja/ dewasa muda
4. Mobilisasi masyarakat untuk memotivasi ibu hamil serta menjalani
konseling tes HIV
5. Promosi dan distribusi kondom untuk mencegah terjadinya HIV
6. Promosi alat kontrasepso lain untuk mencegah kehamilan yang tidak
dinginkan
7. Penyuluhan ke masyarakat tentang pencegahan HIV dari ibu ke bayi
8. Menghindari kehamilan yang tidak direncanakan
9. Jika ibu hamil HIV (+) maka akan diberikan ARV sesuai ketentua
serta konseking untuk makan bayi dan manajemen persalinan
10. Memberikan layanan psikologi dan social kepada ibi HIV(+) dan
keluarganya.

VII. DAFTAR PUSTAKA


1. Williams Obstetri edisi 24, F. Gary Cunningham, Kenneth J. Leveno,
Steven L. Bloom, John C. Hauth, Dwight J. Rause, Catherine Y. Spong.
Mc Graw Hill-Education: 2014
2. Ilmu Kebidanan Sarwono, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo: 2013
3. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu Di Fasilitas Kesehatan Dasar Dan
Rujukan. Kementrian Kesehatan Tahun 2013
4. Pedoman Manajemen Program Pencegahan Penularan HIV Dan Sifilis
Dari Ibu Ke Anak. Kementrian Kesehatan RI 2015
5. Tes Dan Konseling HIV Terintegrasi Di Sarana Kesehatan / PITC.
Kementrian Kesehatan RI Tahun 2010