Anda di halaman 1dari 36

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Biologi merupakan ilmu yang mengkaji tentang makhluk hidup dan

interaksi di dalamnya. Adapun makhluk hidup terdiri dari banyak organisme baik

yang kasat mata maupun yang tidak dapat dilihat langsung oleh mata. Cabang

ilmu biologi seperti sitologi, mikrobiologi, dan anatomi dipelajari melalui

pengamatan objek yang kecil. Pengamatan mikroskopis seperti sel dan bakteri

tidak dapat diamati melalui mata telanjang. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu alat

yang dapat melihat objek-objek mikroskopis seperti mikroskop.

Mikroskop merupakan alat bantu yang memungkinkan kita dapat mengamati

objek yang berukuran sangat kecil. Hal ini membantu memecahkan persoalan

manusia tentang organisme yang berukuran kecil. Ada dua jenis mikroskop

berdasarkan pada kenampakan objek yang diamati, yaitu mikroskop dua dimensi

(mikroskop cahaya) yang mempunya perbesaran maksimum 1000 kali. Dan

mikroskop tiga dimensi (mikroskop stereo) yang memiliki pembesaran 7 hingga

30 kali. Sedangkan berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibedakan menjadi

mikroskop cahaya dan mikroskop elektron. Mikroskop elektron sebuah mikroskop

yang mampu melakukan perbesaran objek sampai 2 juta kali, yang menggunakan

elektro statik dan elektro magnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan

gambar serta memiliki kemampuan perbesaran objek serta resolusi yang lebih

bagus daripada mikroskop cahaya. Mikroskop elektron ini menggunakan jauh

2
lebih banyak energi dan radiasi elektromagnetik yang lebih pendek dibandingkan

mikroskop cahaya.

Banyaknya mahasiswa yang masih belum paham dengan penggunaan dan

fungsi bagian-bagian mikroskop sehingga kegiatan praktikum ini didakan sebagai

sarana pemahaman mahasiswa tentang tata cara penggunaan mikroskop.

Disamping itu penggunaan mikroskop akan menjadi ilmu dasar bagi mahasiswa

Ilmu dan Teknologi Pertanian untuk menunjang praktikum selanjutnya.

Ilmu biologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kehidupan. Biologi

mempunyai berbagai macam cabang ilmu antara lain Sitologi dan Histologi.

Biologi sel (juga disebut sitologi, dari bahasa Yunani kytos, "wadah")

adalah ilmu yang mempelajari sel, salah satu dari cabang-cabang biologi. Hal

yang dipelajari dalam biologi sel mencakup sifat-sifat fisiologis sel seperti

struktur dan organel yang terdapat di dalam sel, lingkungan dan interaksi sel, daur

hidup sel, pembelahan sel dan fungsi sel (fisiologi), hingga kematian sel. Hal-hal

tersebut dipelajari baik pada skala mikroskopik maupun skala molekular, dan sel

biologi meneliti baik organisme bersel tunggal seperti bakteri maupun sel-sel

terspesialisasi di dalam organisme multisel seperti manusia. Sel sendiri adalah

unit struktural dan fungsional terkecil penyusun mahluk hidup. Biologi dibagi

menjadi banyak bidang antara lain adalah sitologi yang mempelajari tentang sel

dan histologi yang mempelajari tentang jaringan.

Sitologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang sel dan pada umumnya

sel didefenisikan sebagai unit terkecil dari organisme hidup yang memiliki fungsi

struktural,fungsional,dan hereditas. Gambaran akan penemuan sel oleh Robert

3
Hooke pada tahun 1665 yang menemukan adanya sayatan tipis gabus botol yang

dinamai dengan sel. Dan sel ini secara umum mempunyai dua struktur yakni

protoplasma (bagian sel yang hidup) dan dinding sel (bagian sel yang mati).

Histologi adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur jaringan secara

detail menggunakan mikroskop pada sediaan jaringan yang dipotong tipis, salah

satu dari cabang-cabang biologi. Histologi dapat juga disebut sebagai ilmu

anatomi mikroskopis. Histologi merupakan cabang ilmu biologi anatomi yang

mempelajari tentang susunan struktur sel-sel yang memiliki fungsi fisiologi yang

sama tersusun menjadi satu jaringan yang kompleks.

B. Tujuan

Praktikum pengenalan Mikroskop, Sitologi, dan Histologi bertujuan untuk :

1. Memperkenalkan mikroskop dan cara penggunaanya


2. Mempelajari cara pembuatan sediaan segar suatu obyek
3. Mempelajari struktur sel eukariotik, prokariotik, dan benda ergastik dalam
sel makhluk hidup

4
II. TINJAUAN PUSTAKA

Mikroskop adalah suatu alat yang terdiri dari sistem optik/lensa untuk

melihat benda-benda yang berukuran kecil yang tidak dapat dilihat oleh mata

telanjang (Sumarsono, 2009).

Ukuran sel sangat mikroskopis, karena itu hanya dapat terlihat dengan

mikroskop. Besarnya berkisar antara 0,1 dan 100 um. Sel terkecil dikenal

:Mycoplasma, disebut juga PPLO (pleuro pneumonia like organism). Ada

menggolongkan pada bakteri, karena itu ia adalah bakteri terkecil. Sel terbesar

yang dikenal adalah telur (ovum). Ovum berukuran besar karena mengandung

butir cadangan makanan dan selaput pelindung (Yatim, 1987).

Mikroskop memiliki bagian – bagian yang terdiri dari:

1. Lensa Okuler: yaitu lensa yang dekat dengan mata pengamat lensa ini berfungsi

untuk membentuk bayangan maya, tegak, dan diperbesar dari lensa objektif

2. Lensa Objektif: lensa ini berada dekat pada objek yang di amati, lensa ini

membentuk bayangan nyata, terbalik, di perbesar. Di mana lensa ini di atur

oleh revolver untuk menentukan perbesaran lensa objektif.

3. Tabung Mikroskop (TUBUS): tabung ini berfungsi untuk mengatur fokus dan

menghubungan lensa objektif dengan lensa okuler.

4. Makrometer (Pemutar Kasar): makrometer berfungsi untuk menaik turunkan

tabung mikroskop secara cepat.

5
5. Mikrometer (Pemutar Halus): pengatur ini berfungsi untuk menaikkan dan

menurunkan mikroskop secara lambat, dan bentuknya lebih kecil daripada

makrometer.

6. Revolver: berfungsi untuk mengatur perbesaran lensa objektif dengan cara

memutarnya.

7. Reflektor: terdiri dari dua jenis cermin yaitu cermin datar dan cermin cekung.

Reflektor ini berfungsi untuk memantulkan cahaya dari cermin ke meja objek

melalui lubang yang terdapat di meja objek dan menuju mata pengamat.

Cermin datar digunakan ketika cahaya yang di butuhkan terpenuhi, sedangkan

jika kurang cahaya maka menggunakan cermin cekung karena berfungsi untuk

mengumpulkan cahaya.

8. Diafragma: berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk.

9. Kondensor: berfungsi untuk mengumpulkan cahaya yang masuk, alat ini dapat

putar dan di naik turunkan.

10. Meja Mikroskop: berfungsi sebagai tempat meletakkan objek yang akan di

amati.

Biologi adalah ilmu mengenai kehidupan. Istilah ini diambil dari bahasa

Belanda "biologie", yang juga diturunkan dari gabungan kata bahasa Yunani,

Obyek kajian biologi sangat luas dan mencakup semua makhluk hidup.

Karenanya, dikenal berbagai cabang biologi yang mengkhususkan diri pada setiap

kelompok organisme, seperti botani, zoologi, dan mikrobiologi. Berbagai aspek

kehidupan dikaji. Ciri-ciri fisik dipelajari dalam anatomi, sedang fungsinya dalam

6
fisiologi; Perilaku dipelajari dalam etologi, baik pada masa sekarang dan masa

lalu (dipelajari dalam biologi evolusioner dan paleobiologi); Bagaimana makhluk

hidup tercipta dipelajari dalam evolusi; Interaksi antarsesama makhluk dan

dengan alam sekitar mereka dipelajari dalam ekologi; Mekanisme pewarisan sifat

yang berguna dalam upaya menjaga kelangsungan hidup suatu jenis makhluk

hidup dipelajari dalam genetika. Ilmu biologi banyak berkembang pada abad ke-

19, dengan ilmuwan menemukan bahwa organisme memilik karakteristik pokok.

Biologi kini meruapakan subyek pelajaran sekolah dan universitas dari seluruh

dunia, dengan lebih dari jutaan makalah dibuat setial tahun dalam susunan luas

jurnal biologi dan kedokteran. Ilmu biologi dirintis oleh Aristoteles, ilmuwan

berkebangsaan Yunani. Dalam terminologi Aristoteles, "filosofi alam" adalaha

cabang filosofi yang meneliti fenomena alam, dan mencakupi bidang yang kini

disebut sebagai fisika, biologi, dan ilmu pengetahuan alam lainnya (Bayung,

2009).

Sel adalah struktural terkecil dan fungsional dari suatu makhluk hidup

yang secara independen mampu melakukan metabolisme, reproduksi dan kegiatan

kehidupan lainnya yang menunjang kelangsungan hidup sel itu sendiri. Suatu sel

dikatakan hidup apabila sel tersebut masih menunjukkan ciri-ciri kehidupan

antaralain melakukan aktifitas metabolisme, mampu beradaptasi dengan

perubahan lingkungannya, peka terhadap rangsang, dan ciri hidup lainnya. Suatu

sel hidup harus memiliki protoplas, yaitu bagian sel yang ada di bagian dalam

dinding sel. Protoplas dibedakan atas komponen protoplasma dan non

protoplasma.Komponen protoplasma yaitu terdiri atas membran sel, inti sel, dan

7
sitoplasma(terdiri dari organel-organel hidup). Komponen non protoplasma dapat

pula disebut sebagai benda ergastik (Subandi, 2008).

Histologi mempelajari jaringan penyusun tubuh, kimia jaringan dan sel

dipelajari dengan metode analitik mikroskopik dan kimia. Zat-zat kimia di dalam

jaringan dan sel dapat dikenali dengan reaksi kimia yang menghasilkan senyawa

berwarna tak dapat larut, diamati dengan mikroskop cahaya atau penghamburan

elektron oleh presipitat yang dapat diamati menggunakan mikroskop elektron.

Disamping reaksi kimia yang terjadi dalam jaringan , metode lain misalnya

metode fisis sering digunakan, misalnya mikroskop interferensi yang

memungkinkan penentuan massa sel atau jaringan dan mikroskop

spektrophotometri yang memungkinkan penentuan jumlah DNA dan RNA dalam

sel. Jaringan adalah kumpulan dari sel-sel sejenis atau berlainan jenis termasuk

matrik antar selnya yang mendukung fungsi organ atau sistem tertentu (Harjana,

2011).

Berdasarkan pembentukannya, jaringan pada tumbuhan dibedakan menjadi

dua macam, yaitu jaringan primer dan jaringan sekunder. Jaringan primer adalah

jaringan yang berasal dari titik tumbuh primer, contoh jaringan primer misalnya

epidermis, korteks, xilem primer, floem primer, kambium, dan empulur.

Pertumbuhannya disebut pertumbuhan primer, contohnya akar menjadi panjang,

batang menjadi tinggi dan daun menjadi lebar (Saktiyono, 1989).

Jaringan sekunder adalah jaringan yang tumbuh akibat aktivitas titik

tumbuh sekunder ( meristem sekunder ). Pertumbuhannya disebut pertumbuhan

8
sekunder, ada pada Gymnospermae dan dikotil. Titik tumbuh sekunder meliputi

kambium vasis, kambium intervasis, perikambium (perisikel), dan kambium

gabus (felogen). Jaringan akan membentuk organ tertentu pada tumbuhan, seperti

akar, batang, dan daun. Parenkim adalah jaringan penting pada xilem sekunder

tanaman benih, dengan fungsi mulai dari penyimpanan hingga pertahanan dan

dengan efek pada sifat fisik dan mekanik kayu (Saktiyono, 1989).

Jaringan menurut fungsinya dibedakan menjadi dua yaitu jaringan muda

atau meristem dan jaringan dewasa atau permanen. Jaringan terdiri dari jaringan

muda atau meristem, jaringan dasar atau parenkim, sklerenkim, xilem, dan floem.

Jaringan permanen dibagi menjadi dua yaitu jaringan epidermis dan jaringan

parenkim. Jaringan permanen merupakan jaringan yang telah mengalami

deferensiasi. Umumnya jaringan dewasa tidak membelah diri, bentuknya pun

relatif permanen serta rongga selnya besar (Brotowidjoyo, 1989).

Jaringan meristem dibagi menjadi tiga yaitu meristem apikal yang terletak

di ujung batang dan akar, meristem lateral yang terletak di kambium gabus dan

meristem interkalar yang terletak diantara satu dan lainnya. Jaringan meristem

adalah jaringan muda yang terdiri atas sel-sel yang mempunyai sifat membelah

diri.Jaringan muda yang sel-selnya selalu membelah atau bersifat meristematik.

Fungsi sel meristematik adalah mitosis. Bentuk dan ukuran sama relatif, kaya

protoplasma, umumnya rongga sel yang kecil (Prawiro, 1997).

Jaringan permanen dibagi menjadi dua yaitu jaringan epidermis

dan jaringan parenkim (Yatim, 1987). Jaringan pelindung (epidermis)

9
merupakan jaringan yang menutupi permukaan organ tubuh tumbuhan. Jaringan

ini berfungsi melindungi jaringan yang ada disebelah dalamnya. Jaringan ini tidak

terdapat klorofil kecuali pada daerah sekitar stomata. Jaringan dasar tersusun atas

sel-sel parenkim yang membentuk suatu jaringan yang sederhana pada tumbuhan

yang menempati tempat disebelah dalam jaringan epidermis. Jaringan parenkim

terdiri atas sel-sel hidup, letak selnya renggang sehingga terdapat rongga antar

interseluler. Jaringan parenkim yang terdiri atas jaringan tiang dan jaringan

spons berfungsi sebagai tempat terjadinya proses fotosintesis dan tempat

menyimpan cadangan makanan (Pratiwi, 2000)

Sitologi merupakan bidang ilmu yang perkembangannya diawali dengan

ditemukannya teknologi mikroskop. Saat itu bahasan utamanya masih menitik

beratkan pada analisis struktur sel dengan mengandalkan penglihatan indra mata

menggunakan mikroskop cahaya konvensional. Saat ini sitologi sudah

berkembang sangat pesat seiring dengan perkembangan teknologi mikroskop

elektron dan teknologi instrumentasi analisis kimia, sehingga biologi sel saat

inicenderung dikupas dalam skalamolekuler. Pembahasan yang sangat mendalam

mengenai mekanisme proses kehidupan akhirnya memunculkan cabang-cabang

ilmu seperti biokimia,biofisika dan biologi molekuler.(Sri Widyarti,2017)

Sel eukaroiotik mempunyai inti yang jelas inti dibatasi oleh membran inti,

yang bahan intinya terdapat dalam inti sel. Sel eukariotik mempunyai dua macam

membran rangkap yaitu membran sitoplasma dan membran inti. Didalam inti sel

terkandung sebagian besar DNA. Biasanya sel eukariotik membentuk organisme

multisel, tidak dapat berguna apabila satu sel. Berbeda dengan organisme unisel

10
dapat hidup walaupun hanya satu sel. Karena kemapuannya dalam

mempertahankan hidupnya baik dalam metabolisme ataupun

perkembangbiakanya, contohnya: pada hewan dan tumbuhan. (Waluyo,2008)

Sel adalah unit atau unsur terkecil yang dimiliki semua bagian, Sel

disesuaikan dengan tugas dan fungsinya, atau dengan jaringan tempat sel itu

berada. Beberapa sel, misalnya yang berada dalam sistem saraf dan otot, memang

sangat khas. Beberapa lainnya, seperti yang ada dalam jaringan ikat,

perkembangannya tidak sempurna yang ada di otot atau saraf. Pada umumnya,

semakin khusus tugas suatu sel semakin kecil daya tahannya menghadapi

kerusakan dan paling sukar memperbaiki atau menggantikannya.(Evelyn

C.Pearce,2009)

Substansi ergastik disebut juga benda ergastik yang berisi substansi cair

maupun padat dan merupakan hasil dari metabolisme sel. Adapun benda ergastik

yang bersifat padat adalah amilum, aleuron, kristal Ca-oksalat, kristal kresik,

sistolit. Sedang benda ergastik yang bersifat cair atau lendir dari hasil tambahan

metabolisme yang bersifat organik atau anorganik terdapat di dalam cairan sel

berupa zat-zat yang larut di dalamnya, antara lain asam organik, karbohidrat,

protein, lemak, gum, lateks tanin, antosian alkaloid, minyak eteris, atau minyak

atsiri, dan hars, yang ditemukan dalam sitoplasma atau dalam vakuola.

(Purnobasuki, 2011)

11
III. METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum sitologi dan histologi antara lain

adalah mikroskop binokuler, pipet, gelas beaker, pinset, jarum, silet, gelas objek

dan penutup.

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini antara lain , Umbi

bawang merah (Alium cepa), Umbi wortel (Daucus carota), Aceto carmine,

Metilin blue, Akuades, Umbi kentang (Solanum tuberosum), Jagung (Zea mays),

Kulit pisang (Musa sp.), Daun seledri (Apium graveolens), Daun durian (Durio

zibethinus), Daun jambu (Syzygium aqueum).

B. Prosedur Kerja

B.1 Penggunaan Mikroskop

1. Diletakan mikroskop pada meja datar.

2. Diputar pembawa objektif sehingga objektif dengan pembesaran terlemah,


berada tepat diatas lubang yag terdapat di meja benda.

3. Diputar knop makrometer sehingga teropong sedikit terangkat dari meja benda.

4. Dilihat lensa okuler dan diatur cermin sedemikian rupa sehingga diperoleh
lingkaran pandang yang terang.

5. Diletakkan sediaan yang akan diamati di atas meja benda.

12
6. Diturunkan tubuh mikroskop dengan hati – hati sampai objektif hampir
menyeluruh.

7. Sambil di lihat lensa okuler, dicari amatan.

8. Difokuskan dengan memutar mikrometer.

9. Apabila pengamatan telah selesai, diatur letak cermin, dan diatur lensa objektif
dari perbesaran yang terlemah dahulu.

10. Digambar dan ditulis fungsi pada masing-masing bagian.

B.2 Histologi dan Sitologi

1. Diambil bahan berupa bagian sayatan kecil setipis mungkin.

2. Diletakan iris tipis tersebut diatas gelas objek yang telah diberi satu tetes
aquades.

3. Diletakan kaca penutup di tepi media air dengan posisi miring , hati – hati agar
gelembung udara tidak masuk.

4. Dilakukan pengamatan lalu digambar.

13
1V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

A.1 Tabel hasil pengamatan sitologi


No Nama Preparat Gambar Foto Keterangan

1 Aleuron a.Butir – butir


Biji jagung aleuron
(Zea mays) Perbesaran 4x

2 Nukleus a.Dinding sel


Bawang merah b.Nukleus
(Allium cepa) c.Sitoplasma
perbesaran 4x

3 Plastida a.Plastida
Umbi Wortel perbesaran 10x
(Daucus
coreta)

4 Amilum a.Buliran
Umbi Kentang amilum
(Solonum perbesaran 4x
tuberosa)

14
A. 2 Tabel hasil pengamatan histologi
No NamaPrepar Gambar Foto Keterangan
at
1 Trikoma
Daun duren
(Durio a.trikomata
zibethinus) Perbesaran 40x

2 A.Sel
Parenkima Parenkim
Kulit pisang B.Rongga
(Musa sp.) intraseluler
Perbesaran 4x

5 Stomata A.Stomata
Daun jambu B.Dinding sel
(Syzygium Perbesaran 40x
samarangen
se)

6 Sklerenkima a. Parenkim
Batang b. Kolenkim
seledri c. Jaringan
(Apium pembuluh
groveolens Perbesaran 10x
L.)

15
A.3 Mikroskop dan bagiannnya

16
B. Pembahasan

Mikroskop (bahasa Yunani: micros = kecil dan scopein = melihat) adalah

sebuah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata

kasar. Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini disebut

mikroskopi, dan kata mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah terlihat oleh

mata. Dalam perkembangannya mikroskop mampu mempelajari organisme hidup

yang berukuran sangat kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang,

sehingga mikroskop memberikan kontribusi penting dalam penemuan

mikroorganisme dan perkembangan sejarah mikrobiologi (Pramesti, 2010).

Bagian – bagian mikroskop dan fungsinya, yaitu :

1. Lensa Okuler, yaitu lensa yang dekat dengan mata pengamat, lensa

ini berfungsi untuk membentuk bayangan maya, tegak, dan

diperbesar dari lensa objektif.

2. Lensa Objektif, lensa ini berada dekat pada objek yang di amati, lensa

ini membentuk bayangan nyata, terbalik, di perbesar. Di mana lensa

ini di atur oleh revolver untuk menentukan perbesaran lensa objektif.

3. Tabung Mikroskop (tubus), tabung ini berfungsi untuk mengatur

fokus dan menghubungan lensa objektif dengan lensa okuler.

4. Makrometer (pemutar kasar), makrometer berfungsi untuk menaik

turunkan tabung mikroskop secara cepat.

17
5. Mikrometer (pemutar halus), pengatur ini berfungsi untuk

menaikkan dan menurunkan mikroskop secara lambat, dan

bentuknya lebih kecil daripada makrometer.

6. Revolver, revolver berfungsi untuk mengatur perbesaran

lensa objektif dengan cara memutarnya.

7. Reflektor, terdiri dari dua jenis cermin yaitu cermin datar dan

cermin cekung. Reflektor ini berfungsi untuk memantulkan

cahaya dari cermin ke meja objek melalui lubang yang terdapat

di meja objek dan menuju mata pengamat. Cermin datar

digunakan ketika cahaya yang di butuhkan terpenuhi, sedangkan

jika kurang cahaya maka menggunakan cermin cekung karena

berfungsi untuk mengumpulkan cahaya.

8. Diafragma, berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya

yang masuk.

9. Kondesor, kondensor berfungsi untuk mengumpulkan cahaya

yang masuk, alat ini dapat putar dan di naik turunkan.

10. Meja Mikroskop, berfungsi sebagai tempat meletakkan

objek yang akan di amati.

11. Penjepit Kaca, penjepit ini berfungsi untuk menjepit kaca

yang melapisi objek agar tidak mudah bergeser .

12. Lengan Mikroskop, berfungsi sebagai pegangang pada

mikroskop.

18
13. Kaki Mikroskop, berfungsi untuk menyangga atau

menopang mikroskop.

14. Sendi Inklinasi (pengatur sudut), untuk mengatur sudut atau

tegaknya mikroskop (Nuyadi, 2008).

Sitologi merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang

sel ( Damayanti et al,2015). Menurut Pratiwi (2015) histologi adalah ilmu yang

mempelajari tentang matriks ekstraseluler. Ukuran matriks ekstraseluler yang

kecil sehingga diperlukan mikroskop untuk mengamatinya, sehingga histologi

juga dapat disebut ilmu anatomi mikroskopis. Sitologi hanya berbicara dalam

tingkat sel saja sedangkan histologi membahas atau meneliti tentang arsitektur

jaringan – jaringan tertentu (Mulyadi, 2011). Histologi adalah ilmu yang

mempelajari tentang struktur jaringan secara detail menggunakan mikroskop pada

sediaan jaringan yang dipotong tipis, salah satu dari cabang – cabang biologi

(Anggrawati dan Astuti, 2017). Histologi mempelajari jaringan penyusun tubuh,

kimia jaringan, dan sel dipelajari dengan metode analitik mikroskopis dan kimia

(Weather dan Daniels, 1987).

Sel prokariotik merupakan sel uniseluler yang tidak berkembang atau

berdiferensiasi menjadi bentuk multiseluler. Beberapa bakteri rumbuh dalam

filamen atau kumpulan sel, tetapi kumpulan sel dalam koloni identik dan mampu

memiliki eksistensi independen. Sel – sel dapat berdekatan satu sama lain, sebab

mereka tidak terpisah setelah pembelahan sel. Mereka tetap terbungkus di dalam

membran dengan cairan yang disekresikan sel. Namun, tidak terdapat hubungan

dan komunikasi antar sel. Prokariotik dapat ditemukan di seluruh penjuru bumi,

19
mulai dari laut dalam hingga ke tepian air panas, bahkan di seluruh permukaan

tubuh kita (Samtoso, 2016). Kelompok prokariotik meliputi kelompok

Archaebakteria (bakteri purba) dan Eubakteria (monera) yang beranggotakan

bakteri, mikoplasma, dan Cyanophyta. Struktur umum sel prokariotik yang

diwakili oleh bakteri berturut – turut dari luar ke dalam adalah dinding sel,

membran sel, mesosom, sitoplasma, ribosom, dan materi inti (DNA dan RNA)

(Novel et al , 2012).

Menurut Campbell et al (2010), interior sel prokariotik disebut sitoplasma.

Istilah ini juga digunakan untuk menyebut wilayah diantara nukleus dan membran

plasma pada sel eukariotik. Terdapat berbagai macam organel dengan bentuk dan

fungsinya yang terspesialisasi di dalam sitoplasma sel eukariotik, yang tersuspensi

dalam sitisol. Struktur yang dibatasi membran ini tidak terdapat pada sel

prokariotik. Dengan demikian, ada atau tidak adanya nukleus sejati hanya salah

satu contoh perbedaan kompleksitas struktur antara dua tipe sel.

Menurut santoso dan Santri (2016), sel – sel eukariotik berukuran 10 kali

lebih besar dari sel prokariotik dan volumenya dapat 1000 kali lipatnya.

Perbedaan dasarnya adalah adanya kompartemen dalam sel berlapis membran,

aktivitas metabolisme terjadi. Hal yang paling penting adalah adanya DNA di

dalam nukleus. Berdasarkan struktur inilah nama eukariotik yang berarti inti

sebenarnya diberikan.

Beberapa karakteristik yang membedakan sel eukariotik dengan sel

prokariotik adalah (1) massa sel eukariotik lebih efektif dibandingkan sel

20
prokariotik; (2) eukariotik memiliki endomembran yang tidak dimiliki banyak sel

prokariotik; (3) sel eukariotik telah memisalhan transkripsi dan translasi

sedangkan sel prokariotik belum; (4) sebagaian besar sel prokariotik memiliki satu

genom melingkar, sedangkan genom eukariotik telah didistribusikan selama

kromosom linear; (5) eukariotik memanfaatkan intron dalam transkripsi gen,

sedangkan prokariotik tidak (Norris dan Berstein, 2009).

Menurut Waluyo (2006), sel prokariotik adalah sel yang tidak memiliki

membran inti. Sel ini intinya tidak jelas, biasanya berupa nukleid. Organelnya

tidak lengkap, pada umunya hanya terdapat nukleid, mesosom, dan lamela. Sel

prokariotik hanya memiliki membran luar yang membungkus sel. Sel prokariotik

biasanya terdapat pada organisme berbentuk unisel. Contoh organisme prokariotik

yaitu bakteri dan ganggang biru.

Menurut waluyo (2006), sel eukariotik memiliki inti sel yang jelas. Inti

dibatasi oleh membran inti, yang bahan intinya terdapat di dalam inti sel. Sel

eukariotik memiliki dua macam membran rangkap yaitu membran sitoplasma dan

membran inti. DNA terkandung di dalam inti sel. Biasanya sel eukariotik

membentuk organisme multiseluler, tidak dapat berguna apabila hanya satu sel.

Sitologi sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, salah satunya dalam

bidang pertanian. Salah satu contoh fungsi sitologi dalam bidang pertanian adalah

sitologi dapat digunakan untuk mengetahui kualitas buah naga jingga (Fajarwati,

2011). Manfaat sitologi selanjutnya terutama di bidang pertanian adalah

peningkatan kualitas dan kuantitas hasil panen menggunakan metode rekayasa

21
genetika. Selain itu, rekayasa genetika juga dapat digunakan untuk menghasilkan

tanaman dengan keunggulan – keunggulan tertentu (Ningsih, 2011). Manfaat

sitologi lainnya adalah dalam bidang kedokteran yaitu penelitian tentang sel

kanker (Fithroni, 2012).

Manfaat histologi dalam kehidupan adalah histologi merupakan ilmu dasar

dalam setiap penelitian umtuk memunculkan dan mengembangkan ilmu

pengetahuan, salah satu contohnya adalah penetilian untuk mengetahui manfaat

teh hitam dalam mengurangi resiko kerusakan otak dengan ilmu

histologi(Suryandari,2010). Menurut Sulisetyowati dan Oktariani (2015) dengan

mempelajari ilmu histologi peneliti dapat mengamati pengaruh lendir bekicot

(Achatina fulica) dengan proses penyembuhan luka. Penelitian tersebut

menghasilkan kesimpulan bahwa lendir bekicot dapat mempercepat penyembuhan

luka karena mengandung achatin isolat yang merupakan zat antibakteri.

Secara garis besar, jaringan penyusun tumbuh-tumbuhan dapat dibedakan

menjadi dua macam, yaitu jaringan meristem dan jaringan dewasa. Jaringan

meristem adalah jaringan yang terus menerus membelah dan jaringan ini relatif

sangat muda. Jaringan ini memiliki sitoplasma yang penuh dan mempunyai

kemampuan totipotensi yang tinggi karena kemampuan membentuk jaringan yang

lain berupa jaringan dewasa. Jaringan meristem dapat dibagi menjadi Jaringan

meristem primer dan jaringan meristem sekunder. Pada jaringan meristem primer,

jaringan ini pada tumbuhan terdapat pada bagian organ yang paling muda ( pada

tunas, ujung organ). Jaringan ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari

pertumbuhan embrional atau tunas atau lembaga yang mana mempunyai

22
kemampuan untuk membelah, memanjang dan berdefrensiasi serta spesialisasi

membentuk jaringan yang dewasa. Jaringan ini cenderung menghasilkan hormon

auksin sehingga membuat terjadinya pembelahan yang terus menerus kearah

memanjang. Jaringan ini terletak di ujung batang, ujung akar yang kemudian

dikenal dengan meristem apikal yang mengarah ke dominansi apikal.

Pertumbuhan jaringan meristem primer ini sering disebut pertumbuhan primer.

Jaringan meristem primer menimbulkan batang dan akar bertambang panjang

bukan melebar, sedangkan pada jaringan meristem sekunder adalah jaringan

meristem yang berasal dari jaringan meristem primer yang melakukan defrensiasi

dan spesialisasi. Jaringan ini merupakan jaringan dewasa namun mempunyai

kemampuan totipotensi lagi. Jaringan ini berada di bagian tengah dari organ untuk

melakukan pembentukan jaringan yang berbeda dari yang sebelumnya.

Pertumbuhan jaringan meristem sekunder disebut pertumbuhan sekunder.

Pertumbuhannya kearah membesar sehingga menimbulkan pertambahan besar

tubuh tumbuhan. Contoh jaringan meristem sekunder yaitu kambium.

Jaringan meristem berdasarkan asalnya, meristem dibagi menjadi: meristem

primer dan meristem sekunder. Meristem primer adalah meristem yang

berkambang dari sel embrional dan merupakan lanjutan dari kegiatan embrio.

Terletak pada kuncup ujung batang dan ujung akar atau ujung tunas. Sedangkan,

Meristem sekunder adalah meristem yang berkembang dari jaringan dewasa yang

telah mengalami diferensiasi dan spesialisasi (sudah terhenti pertumbuhannya)

tetapi menjadi embrional kembali. Contoh Kambium gabus pada batang dikotil

23
dan gymnospermae dapat terbentuk dari sel-sel korteks dibawah epidermis

(Triantono, 2014).

Menurut Mulyani (2006), terdapat beberapa jenis jaringan, atara lain

jaringan sederhana yaitu jaringan yang terdiri dari satu sel. Jaringan kompleks

yaitu jaringan yang terdiri dari banyak sel. jaringan pengangkut yaitu jaringan

yang berguna untuk transportasi hasil asimilasi dari daun ke seluruh bagian

tumbuhan dan pengangkutan air serta garam-garam mineral. Jaringan penguat

yaitu jaringan yang berfungsi untuk menguatkan bagian tubuh tumbuhan.

1. Jaringan Sederhana

Jaringan yang terdiri dari 1 macam sel antara lain :

A. Jaringan Parenkim

Jaringan Parenkim merupakan jaringan tanaman yang paling umum dan

belum berdiferensiasi. Kebanyakan karbohidrat non-struktural dan air disimpan

oleh tanaman pada jaringan ini. Jaringan Parenkim biasanya memiliki dimensi

panjang dan lebar yang sama (isodiametrik) dan protoplas aktif dibungkus oleh

dinding sel primer dengan selulose yang tipis. Ruang interseluler antar sel umum

terdapat pada parenkim. Nama lain dari jaringan parenkim adalah jaringan dasar.

Jaringan parenkim dijumpai pada kulit batang, kulit akar, daging, daun, daging

buah dan endosperm. Bentuk sel parenkim bermacam-macam. Sel parenkim yang

mengandung klorofil disebut klorenkim, yang mengandung rongga-rongga udara

disebut aerenkim. Penyimpanan cadangan makanan dan air oleh tubuh tumbuhan

dilakukan oleh jaringan parenkim.

24
2. Jaringan Kompleks

Adalah jaringan yang memiliki banyak sel antara lain :

A. Jaringan Pelindung

Merupakan jaringan yang melindungi bagian tubuh pada tumbuhan dan

jaringan ini dibagi menjadi 2 jaringan lain yaitu :

1. Jaringan Epidermis

Epidermis merupakan lapisan sel-sel paling luar dan menutupi permukaan

daun, bagian-bagian bunga, buah, biji serta batang dan akar. Biasanya epidermis

hanya terdiri dari selapis sel yang berbentuk pipih dan rapat. Fungsi jaringan

epidermis adalah sebagai pelindung jaringan di dalamnya serta sebagai tempat

pertukaran zat. Jaringan epidermis daun terdapat di permukaan atas dan

permukaan bawah daun. Jaringan epidermis daun tidak mempunyai kloroplas

kecuali pada bagian sel penutup stomata.

2. Jaringan Gabus

Jaringan gabus merupakan jaringan yang tersusun dari sel-sel parenkim

gabus. Pada tumbuhan dikotil, jaringan gabus dibentuk oleh kambium gabus atau

felogen dan terletak disebelah bawah dari jaringan epidermis. Jaringan gabus yang

dibentuk ke arah dalam disebut feloderm yang merupakan sel-sel hidup,

sedangkan sel gabus yang dibentuk ke arah luar disebut felem dan merupakan sel-

sel mati, dengan bentuk sel kotak, dinding selnya mengalami penebalan oleh

suberin, serta bersifat semipermeabel (tidak tembus air).

25
B. Jaringan Pengangkut

Jaringan pengangkut adalah jaringan yang berguna untuk transportasi hasil

asimilasi dari daun ke seuruh bagian tumbuhan dan pengangkutan air serta garam-

garam mineral. Dan Jaringan pengangkut dibagi menjadi dua yaitu :

1. Xilem

Xilem merupakan jaringan kompleks karena tersusun dari beberapa

tipe sel yang berbeda. Penyusun utamanya adalah trakeid dan trakea sebagai

saluran pengangkut air dengan penebalan dinding sel yang cukup tebal sekaligus

berfungsi sebagai penyokong. Xilem juga tersusun atas serabut, sklerenkim, serta

sel-sel parenkim yang hidup dan berperan dalam berbagai kegiatan metabolisme

sel. Xilem disebut juga sebagai pembuluh kayu yang membentuk kayu pada

batang. Trakeid dan trakea merupakan dua kelompok sel yang membangun

pembuluh xilem. Kedua tipe sel berbentuk bulat panjang, berdinding sekunder

dari lignin dan tidak mengandung kloroplas sehingga berupa sel mati. Perbedaan

pokok antara keduanya, adalah pada trakeid tidak terdapat perforasi (lubang-

lubang), hanya ada celah (noktah), berupa plasmodesmata yang menghubungkan

satu sel dengan sel lainnya.

Sedangkan pada trakea terdapat perforasi pada bagian ujung-

ujung selnya. Transpor air dan mineral pada trakea berlangsung melalui perforasi

ini, sedangkan pada trakeid berlangsung lewat noktah (celah) antar sel selnya. Sel-

sel pembentuk trakea tersusun sedemikian rupa sehingga merupakan deretan sel

memanjang (ujung bertemu ujung) membentuk pipa panjang (kapiler). Bentuk

penebalan pada dinding trakea dapat berupa cincin spiral, atau jala.

26
2. Floem

Pada prinsipnya, floem merupakan jaringan parenkim.Tersusun atas

beberapa tipe sel yang berbeda, yaitu buluh tapis, sel pengiring, parenkim,

serabut, dan sklerenkim. Floem juga dikenal sebagai pembuluh tapis, yang

membentuk kulit kayu pada batang. Unsur penyusun pembuluh floem terdiri atas

dua bentuk, yaitu: sel tapis (sieve plate) berupa sel tunggal dan bentuknya

memanjang dan buluh tapis (sieve tubes) yang serupa pipa. Dengan bentuk seperti

ini pembuluh tapis dapat menyalurkan gula, asam amino serta hasil fotosintesis

lainnya dari daun ke seluruh bagian tumbuhan.

C. Jaringan Penguat

Jaringan penguat berfungsi untuk menguatkan bagian tubuh tumbuhan

meliputi dua jaringan yaitu :

1. Jaringan kolenkim

Kolenkim terdiri dari sel – sel yang serupa dengan parenkim tapi dengan

penebalan pada dinding sel primer disudut sudut sel tidak menyeluruh. Umumnya

terletak pada bagian peripheral batang dan beberapa bagian daun. Dinding sel

yang plastis dan fleksibel pada kolenkim member dukungan yang cukup untuk sel

– sel tetangganya. Karena kolenkim jarang menghasilkan dinding sel sekunder,

jaringan ini tampak sebagai sel – sel dengan penebalan dinding sel yang ekstensif.

Hubungan erat antara jaringan kolenkim dan parenkim tampak pada batang

dimana kedua jaringan ini terletak bersebelahan. Banyak contoh menunjukkan

tidak adanya batas khusus antara kedua jaringan, karena sel – sel dengan

ketebalan sedang ada antara kedua jenis jaringan yang berbeda ini. Sebagian besar

27
dinding sel jaringan kolenkim terdiri dari senyawa selulosa merupakan jaringan

penguat pada organ tubuh muda atau bagian tubuh tumbuhan yang lunak.

2. Jaringan Sklerenkim

Jaringan Sklerenkim adalah jaringan penguat pada tanaman.

Penebalan lignin terletak pada dinding sel primer dan sekunder dan dinding

menjadi sangat tebal. Hanya ada sedikit ruang untuk protoplas yang nantinya

hilang jika sel dewasa (gambar jaringan sklerenkim). Sel – sel yang terdiri dari

jaringan sklerenkim mungkin terbagi menjadi 2 tipe: serat (fibre) atau sklereid

yang keras . Serat atau fibre biasanya memanjang dengan dinding berujung

meruncing pada penampang membujur (longitudinal section; L.S.), sedangkan

sklereid atau sel batu pada batok kelapa adalah contoh yang baik dari bagian

tubuh tumbuhan yang mengandung serabut dan sklereid. Sklereid terdapat pada

organ tanaman yang biasanya keras baik buah dan biji. Bagian bergerigi pada

buah pir disebabkan oleh sel – sel batu (stone cell, sklereid) , biji jambu biji kuga

tersusun atas sklereid . Selain mengandung selulosa dinding sel, jaringan

sklerenkim mengandung senyawa lignin, sehingga sel-selnya menjadi kuat dan

keras.

Substansi ergastik disebut juga benda ergastrik yang berisi substansi cair

maupun padat dan merupakan hasil dari metabolisme sel. Adapun benda ergastik

yang bersifat padat adalah amilum, aleuron, kristal Ca-oksalat, kristal kersik,

sistolit. Sedang benda ergastik yang bersifat cair atau lendir dari hasil tambahan

metabolisme antara lain asam organik, karbohidrat, protein, lemak, gum, lateks

28
tanin, antosian alkaloid, minyak eteris atau minyak atsiri, dan hars, yang

ditemukan dalam sitoplasma atau dalam vakuola (Purnobasuki, 2011).

Kristal Ca Oksalat termasuk bahan ergastik yang bersifat padat. Terbentuk

sebagai hasil akhir metabolisme, ada juga yang terbentuk karena terjadinya

pemadatan zat – zat cair makananan cadangan, sehingga berwujud butiran.

Kristal ini cukup banyak di kortex, parenkim floem dan parenkim xilem bisa juga

ditemukan di vakuola atau plasma selnya. Proses terjadinya melalui pengendapan

hasil metabolisme. Endapan tersebut berupa asam oksalat yang bersifat racun bagi

tumbuh – tumbuhan (Renawati et al, 2017).

Hasil pengamatan ini sesuai dengan Kartasapoetra (1991) yang menyatakan

bahwa Kristal ca-oksalat terdapat dalam sel berbagai tumbuhan. Biasanya terdapat

dalam sel korteks, akan tetapi terkadang juga dapat ditemukan pada sel-sel

parenkim floem dan parenkim xylem. Kristal-kristal ini terdapat dalam vakuola

sel atau plasma selnya. Kristal-kristal itu memiliki berbagai bentuk, salah satunya

adalah kristal dengan bentuk butiran kecil, kristal ini biasanya disebut kristal

pasir, banyak ditemukan dalam sel-sel daun serta tangkai daun bayam.

Hasil pengamatan daun duren (Durio zibethinus) untuk mengamati trikoma

menggunakan perbesaran 40x didapatkan gambar trikoma. Untuk mengamati

jaringan penguat kolenkima menggunakan daun Jagung (Zea mays) dengan

perbesaran 4x didapatkan gambar aleuron. Untuk mengamati jaringan epidermis

menggunakan Kentang (Solanum tuberosum) dengan perbesaran 4x didapatkan

gambar bulir amilum. Untuk mengamati jaringan parenkim digunakan kulit pisang

29
(Musa sp.) dengan perbesaran 4x didapatkan gambar jaringan parenkim dan

rongga intraseluler. Untuk mengamati stomata digunakan daun jambu air

(Syzygium samarangense) dengan perbesaran 40x didapatkan gambar stomata,

dinding sel. Untuk mengamati jaringan kolenkim digunakan batang seledri

(Apium graveolens L.) dengan perbesaran 10x didapatkan gambar jaringan

parenkim, kolenkim, dan jaringan pembuluh. Untuk mengamati Nukleus

digunakan bawang merah (Allium cepa) dengan perbesaran 4x didapatkan gambar

dinding sel, Nukleus, dan sitoplasma. Untuk mengamati plastida digunakan wortel

(Daucus carota) dengan perbesaran 10x didapatkan gambar plastida.

30
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Mikroskop adalah alat bantu yang digunakan untuk melihat dan mengamati

benda-benda yang berukuran sangat kecil yang tidak mampu dilihat dengan mata

telanjang. Kata Mikroskop berasal dari bahasa latin, yaitu “mikro” yang berarti

kecil dan kata “scopein” yang berarti melihat. Benda kecil dilihat dengan cara

memperbesar ukuran bayangan benda tersebut hinga berkali-kali lipat. Bayangan

benda dapat dibesarkan 40 kali, 100 kali, 400 kali, bahkan 1000 kali, dan

perbesaran yang mampu dijangkau semakin meningkat seiring dengan

perkembangan teknologi .

Sel merupakan penyusun struktur kehidupan yang paling kecil atau paling

sederhana dan dapat dilihat hanya dengan menggunakan alat bantu optik berupa

mikroskop. Secara keseluruhan suatu sel tumbuhan umumnya memiliki

komponen-komponen pembentuk yang sama yaitu dinding sel, nukleus,

mitokondria, ribosom, lisosom, membran sel, vakuola, plastid, sentrosom, badan

golgi, dan reticulum endoplasma. Semuanya memiliki fungsi yang berbeda-beda

sesuai dengan tugasnya masing-masing. Berdasarkan dari organel penyusunnya

sel gabus dan sel umbi kentang dikategorikan sebagai sel yang mati atau tidak

melakukan aktivitas karena tidak mempunyai organel penyusun berupa

sitoplasma, plastid, dan inti sel.

31
Jaringan adalah sekelompok sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang

sama. Jaringan-jaringan yang berbeda dapat bekerja sama untuk suatu fungsi

fisiologi yang sama membentuk organ. Jaringan dipelajari dalam cabang biologi

yang dinamakan histologi. Jaringan tumbuhan dapat dibedakan menjadi jaringan

meristematik dan jaringan dewasa. Jaringan meristem terbagi menjadi dua, yaitu

meristem primer dan sekunder. Macam-macam modifikasi epidermis antara lain:

stomata, dan trikomata (rambut-rambut). Fungsi floem untuk mengangkut dan

menyebarkan zat-zat makanan yang merupakan hasil fotosintesis dari bagian-

bagian lain yang ada di bawahnya. Fungsi xilem adalah mengangkut air serta

garam-garam mineral dari akar ke semua anggota tumbuhan dan juga menjadi

penyokong/kekuatan mekanis untuk tumbuhan.

Kesimpulan dari praktikum kali ini adalah praktikan dapat melihat serta

memahami macam-macam sel dan bagian dalam sel. Praktikan dapat melihat

benda-benda ergastik. Praktikan dapat melihat macam-macam bentuk parenkim

serta jaringan penguatnya. Praktikan dapat melihat trikomata, stomata, dan

epidermis.

32
B. Saran

Dalam melakukan percobaan sebaiknya kita harus lebih teliti agar kita dapat

dengan mudah menemukan jaringan-jaringan yang kita amati di mikroskop dan

supaya tidak terjadi kekeliruan saat menggambar jaringan-jaringan tersebut. Dan

dalam memperlakukan mikroskop pun kita harus lebih sabar dan tetap fokus agar

proses pengamatan membuahkan hasil yang baik.

33
DAFTAR PUSTAKA

Anggrawati, Hetty dan S. A. P. D. Astuti. 2017. Histologi dan Anatomi Fisiologi


Manusia. Erlangga. Jakarta.
Bayung. 2009. “Pembuatan Media Pmbelajaran Biologi”. Journal Speed - Sentra
Penelitian Engineering Dan Edukasi – vol 1 No 4.
Brotowidjoyo. 1989. Zoologi Dasar. Jakarta : Erlangga
Damayanti Fitri, Ika Rostika, Muhammad Mansur. 2015. “Kajian Morfologi,
Sitologi, dan Struktur Anatomi Daun Nepenthes spp. asal Kalimantan
Barat”. Jurnal Bioedukasi volume 8, nomor 2
Fajarwati, Siti Yuliana. 2011. Analisis Sitologi Tanaman Buah Naga Jingga dan
Kaitannya Dengan Kualitas Buah. Skripsi. Surakarta : Fakultas
Pertanian, Universitas Sebelas Maret.
Fithrony, M. Tsalis. 2012. Pengaruh Radioterapi Area Kepala dan Leher
Terhadap Curah Saliva. Skripsi. Semarang : Fakultas Kedokteran,
Universitas Diponegoro, .
Harjana, Tri. 2011. Histologi. Yogyakarta. Universitas Gajah Mada Press
Junquire lc and Carneiro j. 1980. Histologi Dasar Edisi ke-8. EGC. Jakarta.

Kartasapoetra, Ir. A.G. 1991. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan (tentang Sel


dan Jaringan). PT Rineka Cipta. Jakarta.

Mulyadi. 2011. “Bronkoskopi Serat Optik Pada Saluran Nafas Bawah”. Jurnal
Kedokteran Syiah Kuala. 11(1). 28 – 33.

Mulyani, Sri. Anatomi Tumbuhan. 2006. Kanisius. Yogjakarta.

Ningsih, Hardian. 2011. Studi Kromosom Tanaman Mata Kucing (Dimocarpus


malesianus leenh.) Dalam Upaya Peningkatan Buah. Skripsi. Surakarta :
Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Mare.
Norris, Vic dan Robert Root Berstein. 2009. “The Eukaryotic Cell Originated In
The Integration and Redistribution of Hyperstructures From Communities
and Prokaryotic Cells Based On Molecular”. International Journal of
Molecular Science. 10(21)
Novel, Sinta Sasika, Ria Khoirunnisa Apriyani, Heri Setiabudi dan Ratu Safitri.
2012. Biomedik. CV Trans Info Media. Jakarta.
Nuyadi, Ratna. 2008. Mikroskop dan Teknologi Nano. Jakarta : Erlangga.

34
Pearce, Evelyn. 2009. Anatomi dan Fisiologis Untuk Paramedis. Jakarta :
Gramedia Utama
Poedjiadi, A. 2009. Dasar – Dasar Biokimia. Jakarta : Universitas Indonesia
Press..
Pratiwi, H. C. dan Abdul Manaf. 2015. “Teknik Dasar Histologi Pada Ikan
Gurami (Osphronemus gourame)”. Jurnal Ilmiah dan Kelautan.2(7):153
– 157.
Purnobasuki, H. 2011. Inklusi Sel. Surabaya : Universitas Airlangga Press

Respati, S. M. B. 2008. “Macam – Macam Mikroskop dan Cara Penggunaannya”.


Jurnal Momentum. 4(2). 42 – 44

Saktiyono.1989. Biologi 2. Jakarta : Bumi Aksara.


Subandi. 2008. Sel-sel pada organisme multiseluler. Bandung : ITB

Sumarsono. 2009. Pengertian Mikroskop. Jakarta : Erlangga

Triantono, M. Ichwan. 2014. “Biologi Dasar Mempelajari Tentang Jaringan Pada


Tumbuhan”. Jurnal Edukasi Biologi FKIP.
Waluyo, Joko.2008.Biologi Dasar. Jember : Universitas Press.

Wheather dan Burkitt Daniels. 1987. Funcional Histology A Text and Color Atlas.
London : Churchill Livingstone.
Widyarti, Sri. 2011. Biologi molekuler prinsip dasar analisis. Jakarta : Erlangga

Yatim,Wildan.1987. Biologi. Bandung : Tarsito.

35
LAMPIRAN

Gambar 1 Gambar 2

Kentang perbesaran 4x Daun Wortel perbesaran 10x

Gambar 3 Gambar 4

Jagung perbesaran 4x Bawang Merah perbesaran 4x

36
Gambar 5 Gambar 6

Daun Durian perbesaran 40x Daun Seledri perbesaran 10x

Gambar 7 Gambar 8

Daun Jambu perbesaran 10x Kulit Pisang perbesaran 10x

37