Anda di halaman 1dari 25

SISTEM INFORMASI KESEHATAN

SIKDA GENERIK

Oleh :

Wiwit Andriyani (183112540120169)


Luh Ayu Mas Krisnadewi (183112540120175)
Siti Mawaddah Minangkabau (183112540120177)

FAKULTAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


PROGRAM D-IV KEBIDANAN
UNIVERSITAS NASIONAL

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) dilakukan oleh berbagai
program, baik di lingkungan Kementerian Kesehatan maupun diluar sektor kesehatan.
Dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019, terdapat
target strategis untuk meningkatkan pengembangan Sistem Informasi Kesehatan (SIK).
Perencanaan kesehatan di tingkat Kementerian Kesehatan pada dasarnya sudah berjalan
dengan baik yang ditandai dengan pemanfaatan IT melalui sistem e-planning, e-
budgeting dan e-monev.
Ketersediaan informasi kesehatan sangat diperlukan dalam penyelenggaraan
upaya kesehatan yang efektif dan efisien. Berdasarkan UU No. 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan, dijelaskan mengenai tanggung jawab pemerintah dalam ketersediaan akses
terhadap informasi, edukasi & fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan dan
memelihara derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Informasi kesehatan ini dapat
diperoleh melalui Sistem Informasi Kesehatan atau SIK.
Permasalahan yang dihadapi dalam perencanaan kesehatan antara lain adalah
kurang tersedianya data dan informasi yang memadai, sesuai kebutuhan dan tepat waktu.
Permasalahan juga muncul karena belum adanya mekanisme yang dapat menjamin
keselarasan dan keterpaduan antara rencana dan anggaran Kementerian Kesehatan
dengan rencana dan anggaran kementerian/lembaga terkait serta Pemerintah Daerah atau
Pemda (Kabupaten, Kota, dan Provinsi), termasuk pemanfaatan hasil evaluasi atau kajian
untuk input dalam proses penyusunan perencanaan (Kemenkes RI, 2015).
Menurut Kepmenkes Nomor 551 tahun 2002 tentang kebijakan dan strategi
pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) adalah memfasilitasi
pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA). Efektifnya SIKNAS
tergantung oleh efektifnya SIKDA-SIKDA di provinsi maupun kabupaten/kota (Depkes
RI, 2002).
Sistem Informasi Kesehatan (SIK) di Indonesia tidak berjalan secara optimal dan
belum maksimal dalam memberikan informasi yang diperlukan dalam proses
pengambilan keputusan di berbagai tingkat sistem kesehatan, mulai dari puskesmas di
tingkat kecamatan sampai dengan Kementrian Kesehatan di tingkat pusat. Hal tersebut
disebabkan karena informasi kesehatan saat ini aksesnya masih sulit, data dan informasi
tidak akurat. Padahal informasi tersebut sangat penting dan diperlukan keberadaannya
dalam menentukan arah kebijakan dan strategi perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan kesehatan nasional.
Selain itu puskesmas sebagai pelaksana kesehatan terendah, mengalami kesulitan
dalam melakukan pelaporan, dengan banyaknya laporan yang harus dibuat berdasarkan
permintaan dari berbagai program di Kementrian Kesehatan, dimana data antara satu
laporan dari satu program dengan laporan lain dari program lainnya memiliki dataset
yang hampir sama, sedangkan aplikasi untuk membuat berbagai laporan tersebut
berbeda-beda. Sehingga menimbulkan tumpang tindih dalam pengerjaannya, yang
menghabiskan banyak sumberdaya dan waktu dari petugas puskesmas.
Melihat berbagai kondisi diatas maka dibutuhkan suatu Sistem Informasi
Kesehatan untuk digunakan di daerah (Puskesmas dan Dinas Kesehatan) yang sesuai dan
dapat memenuhi kebutuhan berbagai pihak, mulai dari tingkat puskesmas hingga ke
Kementrian Kesehatan dengan standar minimum atau disebut Sistem Informasi
Kesehatan Daerah Generik (SIKDA Generik) (Saparingga, 2011).

B. Tujuan SIKDA Generik


SIKDA seharusnya bertujuan untuk mendukung SIKNAS, namun dengan
terjadinya desentralisasi sektor kesehatan ternyata mempunyai dampak negatif. Terjadi
kemunduran dalam pelaksanaan sistem informasi kesehatan secara nasional, seperti
menurunnya kelengkapan dan ketepatan waktu penyampaian data SP2TP/SIMPUS,
SP2RS dan profil kesehatan. Dengan desentralisasi, pengembangan sistem informasi
kesehatan daerah merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Namun belum adanya
kebijakan tentang standar pelayanan bidang kesehatan (termasuk mengenai data dan
informasi) mengakibatkan persepsi masing-masing pemerintah daerah berbeda-beda. Hal
ini menyebabkan sistem informasi kesehatan yang dibangun tidak standar juga. Variabel
maupun format input/output yang berbeda, sistem dan aplikasi yang dibangun tidak dapat
saling berkomunikasi.
Selain di daerah, di lingkungan Kementerian Kesehatan pun belum tersusun satu
sistem informasi yang standar sehingga masing-masing program membangun sistem
informasinya masing-masing dengan sumber data dari kabupaten/kota/provinsi.
Akibat keadaan di atas, data yang dihasilkan dari masing-masing daerah tidak
seragam, ada yang tidak lengkap dan ada data variabel yang sama dalam sistem informasi
satu program kesehatan berbeda dengan di sistem informasi program kesehatan lainnya.
Maka validitas dan akurasi data diragukan, apalagi jika verifikasi data tidak terlaksana.
Ditambah dengan lambatnya pengiriman data, baik ke Dinas Kesehatan maupun ke
Kementerian Kesehatan, mengakibatkan informasi yang diterima sudah tidak up to date
lagi dan proses pengolahan dan analisis data terhambat. Pada akhirnya para pengambil
keputusan/ pemangku kepentingan mengambil keputusan dan kebijakan kesehatan tidak
berdasarkan data yang akurat.
Melihat berbagai kondisi di atas maka dibutuhkan suatu aplikasi sistem informasi
kesehatan yang “berstandar nasional” dengan format input maupun output data yang
diharapkan dapat mengakomodir kebutuhan dari tingkat pelayanan kesehatan,
kabupaten/kota, provinsi, hingga pusat.
Untuk itu awal tahun 2012, Kementerian Kesehatan melalui Pusat data dan
Informasi meluncurkan aplikasi ”SIKDA Generik”. Seluruh unit pelayanan kesehatan
yang meliputi puskesmas dan rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta, dapat
terhubung jejaring kerjasamanya melalui aplikasi SIKDA Generik. Perangkat lunak ini
dibangun dengan tujuan:
1. Menampung semua kebutuhan data program, akademisi, pembuat keputusan dan
lainnya dengan mencatat data individu (disaggregate) termasuk dari sektor swasta
agar SIK yang berjalan secara paralel sekarang bisa diintegrasikan menjadi satu
sistem pada masa depan.
2. Mengirim data individu dan disimpan di dalam Bank Data Kesehatan yang
membolehkan adanya *“data query” yaitu melakukan manipulasi pada data base
untuk memberikan Informasi yang diperlukan dalam format yang sesuai kapan
saja tanpa permintaan variabel baru kepada field.
3. Mengkomputerisasikan proses kerja di fasilitas kesehatan agar pekerjaan lebih
efisien dan transparan sehingga biaya untuk sistem kesehatan bisa diminimalkan.

C. Manfaat Generik
Aplikasi “SIKDA Generik” dirancang dan dibuat untuk memudahkan petugas
puskesmas saat melakukan pelaporan ke berbagai program di lingkungan Kementerian
Kesehatan. Dengan demikian diharapkan aliran data dari level paling bawah sampai ke
tingkat pusat dapat berjalan lancar, terstandar, tepat waktu, dan akurat sesuai dengan yang
diharapkan.
Diharapkan aplikasi tersebut dapat berguna secara efektif sebagai alat komunikasi
pengelola data/informasi di daerah, dapat saling tukar menukar data dan informasi, serta
membantu pengelola data/informasi agar selalu siap memberikan data atau gambaran
kondisi kesehatan secara utuh dan berdasarkan bukti.
Aplikasi “SIKDA Generik” merupakan penerapan standarisasi Sistem Informasi
Kesehatan, sehingga diharapkan dapat tersedia data dan informasi kesehatan yang cepat,
tepat dan akurat dengan mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam
pengambilan keputusan/kebijakan dalam bidang kesehatan. Fungsi-fungsi yang
ditampung dalam SIKDA Generik adalah seperti berikut:
1. Modul Puskesmas – semua fungsi utama puskesmas seperti pendaftaran dan
manajemen pasien, poliklinik (medical record elektronik), apotek, inventori,
laborato-rium/radiologi, kasir dan pelaporan.
2. Modul Rumah Sakit – semua fungsi utama rumah sakit seperti pendaftaran dan
manajemen pasien, poliklinik (medical record elektronik), apotek, inventori,
laborato-rium/radiologi dan kasir dan pelaporan.
3. Modul Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota – fungsi pelaporan dan data
query termasuk untuk yang dari sektor swasta.
4. Modul Bank Data Nasional – Koneksi dan integrasi kepada bank data lokal (di
dinas kesehatan provinsi/ kabupaten/kota) dan perangkat lunak lainnya yang di-
pakai oleh sektor swasta, penyimpanan dan query data termasuk *dashboard.
Distribusi data adalah lewat internet (login ke www.depkes.go.id).

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian SIKDA Generik


SIKDA Generik merupakan Sistem Informasi Kesehatan Daerah yang dirancang
untuk dapat memenuhi berbagai persyaratan minimum yang dibutuhkan dalam
pengelolaan informasi kesehatan daerah, dari proses pengumpulan, pencatatan,
pengolahan, sampai dengan diseminasi informasi kesehatan.
SIKDA Generik hadir melalui proses inventarisasi berbagai SIKDA elektronik
yang saat ini berjalan dan digunakan di daerah, memilih yang terbaik, kemudian
dianalisis sehingga dihasilkan satu set deskripsi kebutuhan SIKDA Generik, yang
mewakili kebutuhan seluruh komponen dalam sistem kesehatan Indonesia dan
disesuaikan dengan standar yang diatur dalam Pedoman Nasional SIK.
SIKDA Generik ini dirancang untuk menjadi standar bagi Pemerintah Daerah
dalam pengelolaan informasi kesehatan di daerah, meliputi pelaksana kesehatan yang ada
didalamnya yaitu Puskesmas, Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Dinas Kesehatan Propinsi.
Sehingga SIKDA Generik terbagi menjadi beberapa sub system yaitu Sistem Informasi
Manajemen Puskesmas (SIMPUS), Sistem Informasi Manajemen Dinas Kesehatan (SIM
DINKES), Sistem Informasi Eksekutif dan Sistem Komunikasi Data

B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dan interaksi dari berbagai komponen dalam SIKDA Generik
dapat dilihat dalam bagan berikut :

Model SIKDA Generik dapat dilihat pada gambar berikut.


Keterangan :

1. Fasilitas/institusi kesehatan yang masih manual/paper based, data dientri di


computer entry station SIKDA Generik yang ada di kantor dinas kesehatan
kab/kota. Data yang dientri bisa berbentuk data individual maupun agregat. Khusus
untuk data puskesmas, data dientri melalui Sub Sistem SIM Puskesmas pada
SIKDA Generik sehingga data yang diinput adalah data pasien secara individual.
2. Puskesmas yang telah memiliki perangkat komputer tetapi belum menggunakan
aplikasi SIMPUS dapat menggunakan aplikasi SIKDA Generik, yang terhubung ke
data base lokal di puskesmas tersebut atau langsung terhubung ke data base SIKDA
Generik di Server SIKDA Generik yang ditempatkan di Kantor Dinkes kab/Kota
melalui jaringan internet online.
3. Puskesmas, rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya yang sudah
menggunakan komputer ataupun aplikasi sistem informasi manajemen lainnya,
dapat melakukan eksport/sinkronisasi/migrasi file data base secara online melalui
internet melalui Sub Sistem Komunikasi Data pada SIKDA Generik.
4. Setiap pemangku kepentingan dapat mengakses informasi kesehatan pada SIKDA
Generik melalui Sub Sistem Executive Information Dashboard, yang berisi
indikator-indikator kesehatan kab/kota yang merupakan rangkuman dari data-data
puskesmas, rumah sakit, dan instalasi farmasi kab/kota. Laporan/informasi
disajikan secara ringkas dalam bentuk grafik, tabel, maupun statistik, dengan
berbagai kriteria yang dapat ditentukan sesuai keinginan pengguna.

C. Jenis SIKDA Generik


1. Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS)
Aplikasi SIM Puskesmas digunakan di puskesmas dalam kegiatan
pencatatan berbagai kegiatan pelayanan, baik itu kegiatan dalam gedung maupun
kegiatan luar gedung, dan dapat dilakukan koneksi data base secara oline melalui
jaringan internet ke Server SIKDA Generik di dinas kesehatan, maupun ke data
base lokal yang ada di puskesmas. Kegiatan puskesmas yang mampu ditangani
oleh SIM Puskesmas adalah :

a. Pengelolaan informasi riwayat medis pasien per individu


b. Pengelolaan informasi kunjungan pasien ke puskesmas.
c. Pengelolaan informasi kegiatan pelayanan kesehatan dalam gedung,
meliputi:
 Pelayanan rawat jalan (poliklinik umum, gigi, KIA, imunisasi, dll)
 Pelayanan UGD
 Pelayanan rawat inap
d. Pengelolaan informasi pemakaian dan permintaan obat/farmasi di
puskesmas, pos obat desa, pos UKK.
e. Pengelolaan informasi tenaga kesehatan puskesmas
f. Pengelolaan informasi sarana dan peralatan (inventaris) puskesmas
g. Pengelolaan informasi kegiatan luar gedung yang meliputi
 Kegiatan puskesmas pembantu, puskesmas keliling, bidan desa,
posyandu, polindes, poskesdes, poskestren.
 Pengelolaan informasi pembiayaan kesehatan masyarakat dan
keuangan puskesmas
 Pengelolaan informasi gizi masyarakat
 Pengelolaan informasi surveilans (pengendalian penyakit)
 Pengelolaan informasi promosi kesehatan
 Pengelolaan informasi kesehatan lingkungan
h. Pengelolaan pelaporan internal dan ekternal puskesmas

2. Sistem Informasi Manajemen Dinas Kesehatan (SIM DINKES)


Aplikasi ini berfungsi untuk menangani pencatatan dan pengelolaan data
yang berasal dari:

a. Pengelolaan data puskesmas, berfungsi untuk mencatat dan mengelola


data manual dari puskesmas yang ada dalam wilayah kerja dinkes
kabupaten/kota, yang bersifat agregat.
b. Pengelolaan data rumah sakit tingkat kabupaten/ kota, berfungsi untuk
mengentri data manual yang berasal dari rumah sakit, baik pemerintah
maupun swasta, yang berada dalam wilayah kerja dinkes kabupaten/kota
yang bersifat agregat.
c. Pengelolaan data rumah sakit tingkat provinsi, berfungsi untuk mengentri
data manual yang berasal dari rumah sakit, baik pemerintah maupun
swasta, yang berada dalam wilayah kerja dinkes provinsi yang bersifat
agregat.
d. Pengelolaan data apotek/instalasi farmasi, berfungsi untuk mencatat dan
mengelola data manual yang berasal dari apotek/instalasi farmasi baik
pemerintah maupun swasta, yang berada dalam wilayah kerja dinkes
kabupaten/kota, yang bersifat agregat.
e. Pengelolaan data penunjang, berfungsi untuk mencatat dan mengelola
data manual, yang bersifat agregat, yang berasal dari laboratorium/
radiologi/ fasilitas penunjang lainnya, baik itu milik pemerintah maupun
swasta yang berada dalam wilayah kerja dinkes kabupaten/kota.
f. Pengelolaan data kesehatan lainnya, yang berfungsi untuk mencatat dan
mengelola data kesehatan yang berasal dari fasilitas kesehatan selain
puskesmas, rumah sakit, apotek/instalasi farmasi, dan laboratorium
penunjang, yang berada dalam wilayah kerja dinas kesehatan, misalnya
dari lembaga lintas sektor (institusi non kesehatan), praktik dokter dan
klinik, lembaga survei, dan organisasi kesehatan lainnya, yang berada
dalam wilayah kerja dinas kesehatan.
g. Pengelolaan data SDM, yang berfungsi untuk mencatat dan mengelola
data SDM kesehatan di kabupaten/kota/provinsi.
h. Pengelolaan data aset, berfungsi untuk mencatat dan mengelola data aset
pada dinkes kabupaten/ kota dan dinkes Provinsi.

Pada SIM Dinkes, data yang dientri bersifat agregat

3. Sistem Informasi Eksekutif


Sistem Informasi Eksekutif, berfungsi untuk menampilkan profil
kesehatan daerah, yang di dalamnya berisi indikator kesehatan daerah yang
merupakan rangkuman dari data-data puskesmas, rumah sakit, dan gudang
farmasi kabupaten/kota. Informasi disajikan secara ringkas dalam bentuk grafik
tabel, maupun statistik, yang dapat diakses oleh jajaran pimpinan misalnya bupati,
gubernur, kepala dinas kesehatan, dan pemangku kepentingan lainnya.

4. Sistem Komunikasi Data


Sistem Komunikasi Data Kesehatan, berfungsi untuk menangani proses
sinkronisasi/ migrasi data yang berbentuk soft copy yang berasal dari dinas
kesehatan kabupaten/kota, puskesmas, rumah sakit, laboratorium, apotek/farmasi,
dan institusi kesehatan lainnya yang telah menggunakan perangkat komputer,
aplikasi sistem informasi manajemen dan telah terhubung secara online melalui
jaringan internet ke data base SIKDA Generik dalam proses pengelolaan data.

Jenis data yang dikomunikasikan adalah sebagai berikut :


a. Data umum fasilitas pelayanan kesehatan
b. Data pasien baru
c. Data kunjungan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan
d. Data morbiditas
e. Data pengelolaan obat dan alat kesehatan
f. Data pengelolaan sarana dan prasarana fasilitas pelayanan kesehatan
g. Data pengelolaan tenaga kesehatan dan non kesehatan
h. Data statistik daerah
D. Tahap pelaksanaan SIKDA Generik
SIKDA Generik mulai dipikirkan pengembangannya pada saat dirasakan adanya
kebutuhan suatu sistem yang memenuhi kebutuhan pengelolaan data dan informasi yang
standar, dapat terintegrasi secara nasional dan dapat diterapkan di wilayah dengan sumber
daya yang terbatas. Hal ini terealisasi dengan adanya bantuan teknis dari GIZ (The
Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit) untuk Pusat Data dan
Informasi Kementerian Kesehatan.
Pengembangan SIKDA Generik mulai terlihat hasilnya dengan selesainya modul
SIM Puskesmas berupa prototype testing di Pusdatin dan prototype testing untuk
puskesmas per tanggal 31 Agustus 2011. Sesuai dengan rencana, per 30 September 2011
akan selesai. Modul Bank Data dan SIM Dinkes (uji coba). Bank data di Pusdatin (uji
coba), di Dinkes dengan menjalankan prototype puskesmas) dan per 30 oktober 2011
diharapkan Modul Konektivitas (Sistem Komunikasi Data) selesai. dan membuat
“Connectathon”, dimulai dengan 3 – 5 sistem yang sudah jadi. (Connectathon untuk
menguji dan memilih vendor). Integrasi dengan aplikasi-aplikasi di rumah sakit, instalasi
farmasi/apotek dan fasilitas penunjang lain mulai dilaksanakan tahun 2012.
Dalam penerapan SIKDA Generik ada beberapa hal yang harus ada dan
dipersiapkan yaitu pelatihan, pendampingan, dan perubahan budaya kerja. Dari ketiga hal
tersebut, dua yang pertama yaitu pelatihan dan pendampingan sudah diakomodir oleh
Pusdatin Kemenkes dan sudah disiapkan anggarannya. Sedangkan yang nomor tiga yaitu
kesiapan dan kemauan para pengguna sendiri, merupakan tantangan tersendiri bagi
terlaksananya penerapan SIKDA Generik, akan tetapi ini pun pasti bisa diintervensi
mungkin dengan berbagai cara seperti pelatihan, workshop dan pendampingan dalam
pengelolaan dan pemanfaatan data, publikasi pemanfaatan data, pemberian penghargaan
dan publikasi bagi daerah dengan pengelolaan SIKDA terbaik.

E. Tantangan dalam penerapan SIKDA Generik


Di Indonesia terdapat 138 kabupaten/kota (kondisi tahun 2009/2010) yang
termasuk daerah bermasalah kesehatan (DBK) dan/atau daerah terpencil, perbatasan dan
kepulauan (DTPK) yang pada umumnya merupakan daerah yang masih kurang dalam
ketersediaan infrastrukur dan SDM. Hal ini menjadi suatu tantangan dan perlu persiapan
dan perencanaan khusus dalam penerapan SIKDA Generik di daerah-daerah tersebut.
Oleh karena itu untuk penerapan SIKDA Generik dan pengembangan SIK secara umum,
telah diupayakan penyediaan sebagian kebutuhan dana dari Global Fund. Persiapan dan
perencanaan tersebut digunakan untuk:
1. Pengadaan hardware, pengiriman dan instalasi (USD 952,531 – 1.10 dana GF)
2. Sub-contract penerapan di lapangan (USD 2,331,000 – 1.09 dana GF).
Vendor 1 wilayah atau 1vendor untuk semua
Vendor harus mempunyai: 1 tim di setiap kabupaten, Training classroom (ruang
pelatihan), Rotasi, Pendampingan rutin (1 hari kunjungan ke puskesmas setiap
minggu)
3. Manajemen proyek SIKDA (oleh Pusdatin)
 Vendor Performance
 Contract Manajemen
Perlu dipikirkan pula adanya kabupaten/kota atau puskesmas yang sudah
menerapkan SIK komputerisasi online dan telah memiliki bank data yang telah terisi
data. Untuk daerah tersebut harus terus diberikan dorongan dan monitoring, serta
disediakan koneksi agar data yang ada dapat masuk ke bank data nasional.
Untuk program kesehatan yang selama ini telah memiliki sistem informasi yang
terpisah-pisah, perlu dilakukan advokasi agar sejalan dengan penerapan SIKDA Generik,
sistem informasi program-program yang terpisah mulai diakhiri. Dengan demikian akan
mengurangi fragmentasi.
Dalam pengembangan aplikasi biasanya menggunakan jasa pihak ketiga
(vendor), Mengingat SIK dikembangkan menuju ke sistem komputerisasi online, perlu
adanya jaminan interoperabilitas dan konektivitas dari aplikasi yang dikembangkan. Oleh
karena itu perlu dilakukan kegiatan semacam connectathon. Connectathon adalah
kegiatan untuk menguji interoperabilitas dan konektivitas dari suatu sistem teknologi
informasi, mengikuti spesifikasi yang telah ditentukan oleh IHE (Integrating the
Healthcare Enterprise, inisiatif bersama dari profesional kesehatan dan industri untuk
meningkatkan metode sistem komputer dalam berbagi informasi kesehatan).
BAB III

BENTUK APLIKASI SIKDA


DAFTAR PUSTAKA

Pelatihan Sikda Generik, https://slideplayer.info/slide/1903044/

Sikda Generik, http://www.depkes.go.id

Sistem Informasi Kesehatan (SIKDA), http://dinkes.lebakkab.go.id//