Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGATAR

Assalamu’allaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala

berkat, rahmat, taufik serta hidayah-nya yang tiada terkira besarnya, sehingga

penulis dapat menyelesaikan tugas hasil laporan praktikum “Pemeriksaan ASO

Metode Slide”

Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada

kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena

itu dengan tangan terbuka penulis menerima saran dan kritik dari pembaca agar

penulis dapat memperbaiki laporan selanjutnya.

Akhir kata penulis berharap semoga hasil laporan praktikum ini dapat

bermanfaat bagi pembaca.

Wasalamu’allaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Gorontalo, April,2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGATAR ............................................................................................... i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

DAFTAR TABEL ................................................................................................ iv

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 2

1.3 Tujuan Praktikum ................................................................................... 2

1.4 Manfaat Praktikum ................................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 3

2.1 Bakteri Streptococcus ............................................................................. 3

2.2 Patogenesis ............................................................................................. 4

2.3 Gejala ...................................................................................................... 5

2.4 Pengertian Anti streptolisin-O (ASO)..................................................... 6

2.5 Pemeriksaan Antistreptolisin-O (ASO) .................................................. 7

BAB III METODE PRAKTIKUM ...................................................................... 9

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum ................................................................ 9

3.2 Metode .................................................................................................... 9

3.3 Prinsip Kerja ........................................................................................... 9

3.4 Pra Analitik ............................................................................................. 9

3.5 Analitik .................................................................................................... 9

3.6 Pasca Analitik ........................................................................................ 10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 11

4.1 Hasil ...................................................................................................... 11

ii
4.2 Pembahasan .......................................................................................... 11

BAB V PENUTUP ............................................................................................... 13

5.1 Kesimpulan ........................................................................................... 13

4.2 Saran ..................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 14

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Antistreptolisin-O (ASO) ........................................ 11

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suatu infeksi oleh β-hemolitic Streptococcus grup-A akan merangsang

beberapa Ab, baik terhadap beberapa produk ekstraseluler dari kuman

(streptolisin, hialuronidase, streptokinase, DNA ase) maupun terhadap

komponen permukaan dari dinding sel kuman cell surface membrane antigen

(CSMA). Ab terhadap CSMA inilah yang diduga menyebabkan terjadinya

kelainan pada jantung (endokardium) penderita demam rematik atau ginjal

penderita glomerulonefritis (Mindarti.,dkk.2010).

Pemeriksaan antibodi streptokokus mendeteksi adanya antibodi terhadap

berbagai antigen yang dihasilkan oleh streptokokus grup A. Pemeriksaan ini

terdiri atas pemeriksaan kadar Anti streptolisin O (ASO), kadarn

antideoksiribonuklease-B (anti DnaseB) dan streptozyme test. Penetapan

kadar Anti streptolisin O merupakan pemeriksaan utama untuk menentukan

apakah sebelumnya pernah terinfeksi oleh streptokokus grup A yang

menyebabkan komplikasi penyakit post streptokokus (Mindarti.,dkk.2010).

Adanya antibody yang spesifik terhadap streptolisin-O ini kemudian

dipakai sebagai ASO biasanya mulai meningkat 1-4 minggu setelah

terjadinya infeksi. Bila infeksi kemudian mereka, maka titer ASO akan

kembali normal setelah sekitar 6 bulan. Bila titer tidak menurun, suatu infeksi

ulangan mungkin terjadi (Bratawidjaya K G, 2012). Berdasarkan latar

1
belakang diatas maka dilakukan praktikum pemeriksaan Anti streptolisin O

(ASO).

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana cara pemeriksaan ASO dilakukan menggunakan metode

aglutinasi Lateks?

1.3 Tujuan Praktikum

Untuk mengetahui cara pemeriksaan ASO dilakukan menggunakan

metode aglutinasi Lateks.

1.4 Manfaat Praktikum

Manfaat dari praktikum ini yaitu praktikan mampu mengetahui cara

pemeriksaan ASO dilakukan menggunakan metode aglutinasi Lateks.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bakteri Streptococcus

Streptococcus adalah bakteri sferis gram positif yang khasnya berpasangan

atau membentuk rantai selama pertumbuhannya. Spesies yang virulen

mungkin menghasilkan kapsul yang terdiri dari acid hialuronik danprotein M,

habitat dari spesies ini ialah saluran pernapasan atas (rongga hidung dan

faring). Antar infeksi-infeksi yang di sebabkan oleh spesies ini adalah demam

scarlet, faringitis, impetigo, demam rheumatic, dan lain-lain. Streptococcus

dikelaskan berdasarkan morfologi koloni, sifat biokimia, kespesifikan

serologi dan sifat hemolisis pada agar darah. Beberapa zat antigen yang

ditemukan di dalam Streptococcus, yaitu (Brooks, 1996) :

1. Antigen dinding sel spesifik-golongan

Terdapat dalam dinding sel pada banyak Streptococcus dan

merupakan dasar penggolongan serologic. Spesifik serologic dari

karbohidrat spesifik golongan ditentukan oleh gula amino.

2. Protein M

Zat ini adalah faktor virulensi utama dari Streptococcus pyogenes

golongan A. Protein ini juga memudahkan perlekatan sel pada epitel-

epitel inang. Protein ini nampak sebagai bentuk yang mirip rambut pada

dinding sel Streptococcus.

3
3. Zat T

Antigen ini tidak mempunyai hubungan dengan virulensi

Streptococcus. Zat ini diperoleh dari Streptococcus melalui pencernaan

proteolitik yang cepat merusak protin M. Zar ini juga tidak tahan

terhadap asam dan panas.

4. Nukleoprotein

Ekstraksi Streptococcus dengan basa lemah menghasilkan campuran

protein dan zat-zat lain dengan spesifitas serologic yang rendah dan di

namakan zat P. Zat ini mungkin merupakan sebagian besar badan sel

Streptococcus.

2.2 Patogenesis

Suatu infeksi oleh β-hemolitik Streptococcus group A akan marangsang

sel-sel imunokompeten untuk memproduksi antibody-antibodi, baik terhadap

produk-produk ekstraselular dari kuman (streptolisin, hialuronidase,

streptokinase, DNASE) maupun terhadap komponen permukaan dari dinding

sel kuman (cell-surface/membrane antigen-CSMA). Antibodi terhadap

CSMA inilah yang diduga menyebabkan terjadinya kelainan pada jantung

dari penderita dengan glomerulonefritis.. Sebagian basar dari strain-strain

serologik dari Streptococcus Group A menghasilkan dua enzim hemolitik

yaitu Streptolisin O dan S. Di dalam tubuh penderita, Streptolisin O akan

merangsang pembentukan antibodi yang spesifik yaitu Anti streptolisin O

(ASTO) sedangkan yang dibentuk Streptolisin S tidak spesifik.

(Handojo,1982)

4
Reaksi auto imun terhadap Streptococcus secara teori akan mengakibatkan

kerusakan jaringan atau manifestasi demam rheumatic, dengan cara :

1. Streptococcus group A akan menyebabkan infeksi faring

2. Antigen Streptococcus akan menyebabkan pembentukan antibodi pada

pejamu yang hiperimun.

3. Antibodi bereksi dengan antigen Streptococcus dan dengan jaringan

pejamu yang secara antigeni sama seperti Streptococcus.

4. Autoantibodi tersebut bereaksi dengan jaringan pejamu,sehingga

menyebabkan kerusakan jaringan (Price, 2003)

2.3 Gejala

Gejala demam rheumatic dapat terjadi secara mendadak dan secepat kilat.,

dengan demam, takikardi, dan rasa sakit pada sendi yang membengkak atau

dapat tersamar dan tidak nyata, hanya bergejala malaise dan demam ringan.

Bila di dahului oleh infeksi Streptococcus tersamar secara klinik, biasanya

akan mereda sebelum mulai gejala demam rheumatic. Tidak ada gambaran

klinik atau laboratorium demam rheumatic yang khas untuk penyakit ini.

Gejala-gejalanya mencakup (Robbins.,Kumar, 1995) :

1. Riwayat nyeri tenggorokan, positif untuk Streptococcus β-hemolisa grup

A apabila di biakkan. Riwayat infeksi biasanya berupa nyeri kepala,

demam, pembengkakan kelenjar limpa di sepanjangrahang dan nyeri

perut atau mual.

5
2. Timbul polyarthritis migratonile, termasuk peradangan sendi-sendi di

sertai pembengkakan, kemerahan dan kalor (panas). Yang sering terkena

adalah sendi-sendi besar di siku, lutut dan pergelangan tangan dan kaki.

3. Terbentuk nodus-nodus subkutis yang keras dan terletak di atas otot dan

sendi-sendi yang terkena. Nodus-nodus ini tidak nyeri dan transient.

4. Eritema marginatum (suatu ruang transien), terutama di badan, lengan

bagian dalam dan paha.

2.4 Pengertian Anti streptolisin-O (ASO)

Anti streptolisin O adalah suatu antibodi yang dibentuk oleh tubuh

terhadap suatu enzim proteolitik. Streptolisin O yang diproduksi oleh β-

hemolitik Streptococcus A group A dan mempunyai aktivitas biologic

merusak dinding sel darah merah serta mengakibakan terjadinya hemolisis

(Bratawidjaya K G, 2012).

Streptolisin O adalah toksin yang merupakan dasar sifat β-hemolitik

organisme ini. Streptolisin O ialah racun sel yang berpotensi mempengaruhi

banyak tipe sel termasuk netrofil, platelets dan organel sel, menyebabkan

respon imun dan penemuan antibodinya (Bratawidjaya K G, 2012).

Anti streptolisin O bisa digunakan secara klinis untuk menegaskan infeksi

yang baru saja. Antibodi itu tidak merusak kuman dan tidak mempunyai

dampak perlindungan, tetapi adanya antibody itu dalam serum menunjukkan

bahwa didalam tubuh baru saja terdapat streptococcus yang aktif. Antibody

yang dibentuk adalah Antistreptolysin-O (ASO), Antihialuronidase (AH),

Antistreptokinase (anti SK), antidesoksiribonuklease B (AND B), dan

6
antinikotinamid adenine dinukleotidase (anti-NADase) (Bratawidjaya K G,

2012).

2.5 Pemeriksaan Antistreptolisin-O (ASO)

Pemeriksaan ASTO (Anti streptolisin O) merupakan suatu pemeriksaan

darah yang berfungsi untuk mengukur kadar antibodi terhadap streptolisin O,

suatu zat yang dihasilkan oleh bakteri Streptococcus grup A. Ada dua prinsip

dasar penetuan ASTO, yaitu:

1. Netralisasi/penghambat hemolisis

Streptolisin O dapat menyebabkan hemolisis dari sel darah merah,

akan tetapi bila Streptolisin O tersebut di campur lebih dahulu dengan

serum penderita yang mengandung cukup Anti streptolisin O sebelum di

tambahkan pada sel darah merah, maka streptolisin O tersebut akan di

netralkan oleh ASO sehingga tidak dapat menibulkan hemolisis lagi.

Pada tes ini serum penderita di encerkan secara serial dan di

tambahkan sejumlah streptolisin O yang tetap (Streptolisin O di awetkan

dengan sodium thioglycolate). Kemudian di tambahkan suspensi sel

darah merah 5%. Hemolisis akan terjadi pada pengenceran serum di

mana kadar/titer dari ASO tidak cukup untuk menghambat hemolisis

tidak terjadi pada pengencaran serum yang mengandung titer ASO yang

tinggi.

2. Aglutinasi pasif

Streptolisin O merupakan antigen yang larut. Agar dapat

menyebabkan aglutinasi dengan ASO. Maka Streptolisin O perlu

7
disalutkan pada partikel-partikel tertentu. Partikel yang sering dipakai

yaitu partikel lateks. Sejumlah tertentu Streptolisin O (yang dapat

mengikat 200 IU/ml ASO) di tambahkan pada serum penderita sehingga

terjadi ikatan Streptolisin O – anti Strepolisin O (SO – ASO).

Bila dalam serum penderita terdapat ASO lebih dari 200 IU/ml, maka

sisa ASO yang tidak terikat oleh Streptolisin O akan menyebabkan

aglutinasi dari streptolisin O yang disalurkan pada partikel – partikel

latex . Bila kadar ASO dalam serum penderita kurang dari 200 IU / ml ,

maka tidak ada sisa ASO bebas yang dapat menyebabkan aglutinasi

dengan streptolisin O pada partikel – partikel latex.

Tes hambatan hemolisis mempunyai sensitivitas yang cukup baik,

sedangkan tes aglutinasi latex memiliki sensitivitas yang sedang. Tes

aglutinasi latex hanya dapat mendeteksi ASO dengan titer di atas 200

IU/ml.

Penetapan ASO umumnya hanya memberi petunjuk bahwa telah

terjadi infeksi oleh streptokokus. Yang lebih penting diperhatikan adanya

kenaikan titer. Meskipun semula titer rendah tetapi bila terjadi

peningkatan dan tetap tinggi pada pemeriksaan berikutnya, adanya

infeksi oleh streptokokus (Handojo,1982).

8
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum ini dilakukan pada tanggal 15 April 2019 pada pukul 13.00

WITA, dan bertempat di lingkungan STIKES Bina MAndiri Gorontalo

khususnya di laboratorium Fitokimia.

3.2 Metode

Adapun metode yang digunakan dalam praktikum pemeriksaan

Antistreptolisin-O (ASO) yaitu metode aglutinasi Lateks.

3.3 Prinsip Kerja

Reagen AS Direct Latex adalah sebuah suspense partikel Lateks

Polystirence yang telah disensitisasi dengan Streptolisin-O. Ketika reagen

dicampur dengan serum yang mengandung antibody anti-SLO, terjadi sebuah

reaksi Ag-Ab yang dapat dilihat secara visual karena timbulnya aglutinasi.

3.4 Pra Analitik

Persiapan Alat Dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu

Tabung tutup merah, Centrifuge,Holder, Disposible, Torniquet, Mikropipet,

Pipet tetes, Alat tes, KIT Streptolisin-O (ASO), Serum/plasma, Kapas alkohol

dan kering.

3.5 Analitik

1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

9
2. Mengambil darah vena dengan menggunakan holder dan disposable

kemudian dimasukkan darahnya pada tabung tutup merah.

3. Masukkan kedalam centrifuge dan diputar selama 15 menit.

4. Keluarkan dari dalam centrifuge, kemudian letakkan 40 ul serum yang

tidak diencerkan keatas area hitam pada slide.

5. Campur dengan baik LR dan tambahkan 1 tetes ke atas tetesan serum.

6. Campur dengan batang pengaduk kedua tetesan tersebut diatas dan

miringkan slide.

7. Perhatikan ada tidaknya aglutinasi dalam waktu tidak lebih dari 3 menit.

3.6 Pasca Analitik

a) Positif (+) : Terjadi aglutinasi.

b) Negatif (-) : Tidak terjadi aglutinasi.

10
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan didapatkan hasil

berdasarkan pada tabel berikut ini :

Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Antistreptolisin-O (ASO)

Sampel Metode Hasil Keterangan

Tidak terjadi aglutinasi pada

Serum Aglutinasi Lateks Negatif slide saat serum dan LR

dicampurkan

4.2 Pembahasan

Menurut (Bratawidjaya K G, 2012) pemeriksaan ASO adalah tata cara

pemeriksaan laboratorium untuk menentukan kadar Anti streptolisin O secara

kualitatif / semi kuantitatif. ASO ( Anti streptolisin O) merupakan antibodi

yang paling dikenal dan paling sering digunakan untuk indikator terdapatnya

infeksi streptococcus. Lebih kurang 80 % penderita demam reumatik /

penyakit jantung reumatik akut menunjukkan kenaikkan titer ASO ini; bila

dilakukan pemeriksaan atas 3 antibodi terhadap streptococcus, maka pada 95

% kasus demam reumatik / penyakit jantung reumatik didapatkan peninggian

atau lebih antibodi terhadap streptococcus.

11
Antibodi Streptolisyn O (ASO) dapat dideteksi melalui pemeriksaan

dengan ASO Latex Test Kit yang menggunakan metode aglutinasi. Prinsip

pemeriksaan ialah reaksi antara antibodi anti streptolysin O dengan antigen

streptolysin O yang dilekatkan pada latex ditunjukan dengan adanya

aglutinasi. Pemeriksaan ASO latex ini dapat dilakukan dengan 2 macam

metode tes yaitu kualitatif (tes penyaringan) dan tes semi-kuantitatif. Metode

kualitatif dilakukan dengan membuat suspensi latex dicampur dengan serum

dengan kadar meningkat, kemudian aglutinasi terjadi dalam waktu 2 menit.

Sedangkan metode uji semi-kuantitatif dapat dilakukan dengan cara yang

sama sebagai uji kuantitatif dengan menggunakan pengenceran serum dalam

garam, garam buffer fosfat atau garam glisin.

Pada praktikum ASO menggunakan metode Aglutinasi lateks dengan uji

kualitatif dilakukan dengan membuat suspensi latex dicampur dengan serum

dengan kadar meningkat, kemudian aglutinasi terjadi dalam waktu 2 menit.

Didapatkan hasil negatif yang ditandai dengan tidak terjadinya aglutinasi

pada area hitam slide.

12
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa

pemeriksaan ASO adalah tata cara pemeriksaan laboratorium untuk

menentukan kadar Anti streptolisin O secara kualitatif / semi kuantitatif. ASO

( Anti streptolisin O) merupakan antibodi yang paling dikenal dan paling

sering digunakan untuk indikator terdapatnya infeksi streptococcus. Pada

praktikum ASO menggunakan metode Aglutinasi lateks dengan uji kualitatif

dilakukan dengan membuat suspensi latex dicampur dengan serum dengan

kadar meningkat, kemudian aglutinasi terjadi dalam waktu 2 menit.

Didapatkan hasil negatif yang ditandai dengan tidak terjadinya aglutinasi

pada area hitam slide.

4.2 Saran

Saran untuk praktikum selanjutnya pada saat penggunakan strip rapid test

tidak boleh menggunakan yang sudah kadarluasa karena dapat mempengaruhi

hasil dan juga dapat mendapatkan hasil yang invalid akibat komponen strip

test yang rusak.

13
DAFTAR PUSTAKA

Bratawidjaya K G, 2012. Imunologi Dasar Edisi ke-10. Jakarta: Badan Penerbit


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Brooks, Geo. F, dkk. 2005. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 1. Jakarta : Salemba


Medika.EGC.

Handojo, Indro. 1982. Serologi Klinik. Surabaya : Fakultas Kedokteran. UNAIR

Mindarti.,dkk.2010.Hubungan Antara Kadar Anti Streptolisin-O Dan Gejala


Klinis Pada Penderita Tonsilitis Kronis. Jurnal Kedokteran Yarsi 18 (2) :
121-128 (2010).

Price, A. Sylvia, dkk. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.


Jakarta :

Robbins dan Kumar. 1995. Buku Ajar Patologi II Edisi 4. Jakarta : EGC.

14
LAMPIRAN

Hasil pemeriksaan ASO

15

Anda mungkin juga menyukai