Anda di halaman 1dari 15

INDONESIA MASA DEMOKRASI LIBERAL : KABINET DJUANDA

TAHUN 1957-1959

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH

Sejarah Kontemporer

Yang dibina oleh Dr. Dewa Agung Gede Agung M.Hum

Oleh:

Anggyansyah Yusuf M (160731614890)


Harum Dwi Rahayu (160731614942)
Rohmatun Maidah (160731614806)
Yuschika Tammuan (160731614845)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
Februari 2019

i
DAFTAR ISI
BAB I ............................................................................................................................ 1

PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1

1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 2

1.3 Tujuan .................................................................................................................. 2

BAB II ........................................................................................................................... 3

PEMBAHASAN ........................................................................................................... 3

2.1 Biografi singkat Ir Djuanda ................................................................................. 3

2.2 Terbentuknya Kabinet Djuanda.......................................................................... 4

2.3 .Kebijakan Kabinet Djuanda ............................................................................... 6

PENUTUP ................................................................................................................... 10

3.1 Kesimpulan ........................................................................................................ 10

DAFTAR RUJUKAN ................................................................................................. 12

ii
BAB I

PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dijabarkan mengenai latar belakang, rumusan masalah dan tujuan
dari penulisan makalah.

1.1 Latar Belakang


Republik Indonesia Serikat (RIS) merupakan sebuah pemerintahan yang
didapat dari hasil kesepakatan dalam perundingan KMB oleh KNIP yang bersidang
pada tanggal 6-15 Desember 1949. Dalam sidang bersama parlemen dan senat RIS
tanggal 16 desember 1945 terpilihlah Ir. Soekarno sebagai presiden RIS dan berakhir
dengan membentuk kabinet yang terdiri dari 13 menteri dan 3 menteri sebagai
perdana menteri, 11 orang diantaranya adalah Republikan. Salah satu tokoh
terkemuka yang duduk dikursi kabinet adalah Ir. Djuanda. Namun tak lama RIS
dibubarkan karena rakyat di negara-negara federal menginginkan bentuk negara
kesatuan (Poesponegoro & Notosusanto, 2008).

Setelah RIS kembali menjadi negara kesatuan pada tahun 1950 mulailah
terjadi banyak pergantian kabinet yang disebabkan oleh seringnya kelompok oposisi
menjatuhkan kabinet. Salah satu kabinet yang pernah ada di Indonesia adalah kabinet
Djuanda. Kabinet Djuanda terbentuk setelah demisioner kabinet Ali Sastroamijoyo.
pada masa kabinet Ali, Ir Djuanda merupakan seorang Direktur Biro perencanaan
negara dan berhasil merumuskan rencana pembangunan lima tahun 1956-1960. Akan
tetapi karena kabinet Ali semakin menurun maka diadakan rapat untuk pengganti Ali
Satroamijoyo dan berakhir dengan usulan Ali akan Djuanda sebagai pemimpin
kabinet baru (Poesponegoro & Notosusanto, 2008).

Kabinet Djuanda sering disebut Zaken kabinet atau kabinet ahli, karena
dalam kabinet ini komposisi anggotanya merupakan tokoh-tokoh yang memiliki
kemampuan yang sesuai dibidangnya masing-masing. Program-program kabinet ini
juga tidak jauh berbeda dengan program dari kabinet-kabinet sebelumnya. Selain itu

1
kabinet Djuanda memiliki prestasi yang membanggakan yaitu dengan menghasilkan
Deklarasi Djuanda yang mana deklarasi ini mengatur kembali batas perairan
Indonesia, mengatur mengenai laut pedalaman dan laut territorial. Melalui deklarasi
Djuanda menunjukan telah terciptanya kesatuan wilayah Indonesia dimana lautan dan
daratan merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak bisa dipisahkan. Sehingga dari
latar belakang diatas penulis mengambil tema penulisan makalah “Indonesia masa
Demokrasi Liberal : Kabinet Djuanda tahun 1957-1959”.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana biografi singkat Ir Djuanda ?

2. Bagaimana proses terbentuknya kabinet Djuanda ?

3. Bagaimana kebijakan-kebijakan pada masa kabinet Djuanda?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana biografi singkat Ir Djuanda

2. Untuk mengetahui bagaimana proses terbentuknya kabinet Djuanda

3. Untuk mengetahui bagaimana kebijakan-kebijakan pada masa kabinet Djuanda

2
BAB II

PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijabarkan mengenai pembahasan dari rumusan masalah.

2.1 Biografi singkat Ir Djuanda


Ir. Djuanda Kartawidjaja adalah seorang politisi yang lahir di Tasikmalaya
tanggal 14 Januari 1911 dari pasangan Raden Kartawidjaya dan Nyai momot
(Setyawan, 2017). Beliau merupakan perdana menteri kesepuluh sekaligus perdana
menteri terakhir Indonesia. Setelah itu ia menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam
Kabinet Kerja I.Sumbangsih terbesar beliau kepada bangsa ini adalah ketika
dikeluarkan Deklarasi Djuanda tahun 1957.Isi deklarasi ini menyatakan bahwa
laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam
kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI atau lebih dikenal
dengan negara kepulauan. Hal ini tercantum dalam konvensi hukum laut
United Nations Conventionon Law ofthe Sea (UNCLOS). Karena jasanya dalam
memperjuangkan pembangunan lapangan terbang sehingga dapat terlaksana,
namanya diabadikan sebagai nama lapangan terbang di Surabaya yaitu Bandara
Djuanda. Tak hanya itu saja, namanya juga dijadikan nama hutan raya di Bandung
yaitu Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda.

Djuanda memiliki latar belakang pendidikan dasar Belanda Europeesche


Lagere School yang berada di Cicalengka. Kemudian Setelah itu, ia melanjutkan
ke TechnischeHoogeschoolteBandoeg (THS) yang sekarang dikenal dengan nama
ITB. Saat itu, ia mengambil jurusan teknik sipil. Saat menjadi mahasiswa, ia juga
aktif dalam organisasi non-politik seperti Paguyuban Pasundan dan Muhammadiyah.
Ia pun sempat merasakan menjadi pimpinan sekolah Muhammadiyah. Kemudian, ia
bekerja sebagai pegawai di Departemen Pekerjaan Umum provinsi Jawa Barat.

Djuanda merupakan seorang abdi negara serta abdi masyarakat. Ia merupakan


sosok pegawai negeri yang patut diteladani. Setelah lulus dari TH Bandung, ia lebih

3
memilih menjadi guru di SMA Muhammadiyah yang gajinya hanya seadanya.
Padahal, di waktu yang sama, ia ditawari untuk menjadi asisten dosen di TH Bandung
yang gajinya tentu lebih besar.Setelah empat tahun mengabdi di SMA
Muhammadiyah, ia mengabdi ke dinas pemerintahan. Kali ini ia bekerja di Jawaatan
Irigasi Jawa Barat.

Setelah Proklamasi, tepatnya tanggal 28 September 1945, ia memimpin


para pemuda untuk mengambil alih Jawatan Kereta Api dari Jepang. Setelah kejadian
tersebut, ia diangkat oleh pemerintah RI sebagai Jawatan Kereta Api untuk wilayah
Jawa Madura. Ia juga sempat beberpa kali menjabat sebagai menteri, seperti Menteri
Perhubungan dan Menteri Pengairan, Kemakmuran Keuangan dan Pertahanan. Ia
juga sempat menjadi anggota dalam Perundingan KMB. Ia bertindak sebagai Ketua
Panitia Ekonomi dan Keuangan Delegasi Indonesia. Dalam perundingan ini, Belanda
mengakui kedaulatan Indonesia.

Boleh dikatakan bahwa, Djuanda merupakan seorang pemimpin yang


luwes. Ia bisa bergabung dengan semua golongan baik itu presiden, menteri ataupun
masyarakat biasa. Pada 7 November 1963, Djuanda wafat karena terkena serangan
jantung. Berdasarkan Keputusan Presiden RI No.224/1963, Ir. Djuanda
diangkat menjadi tokoh nasional.

2.2 Terbentuknya Kabinet Djuanda


Kabinet Djuanda terbentuk setelah demisioner kabinet Ali Sastroamijoyo.
Pada masa kabinet Ali Sastroamijoyo, Ir, Djuanda menjadi direktur Biro Perancanaan
Negara dan berhasil merumuskan Rencana Pembangunan Lima Tahun 1956-1960.
Keberhasilan perumusan perancanaan pembangunan Negara tidak mampu
direalisasikan karena pada masa kabinet Ali Sastroamijoyo terjadi gejolak politik dan
menimbulkan pemberontakan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

4
Pemberontakan daerah Kabinet Ali Sastroamijoyo diakibatkan adanya
pengunduran diri dari Wakil Presiden Mohammad Hatta. Mundurnya Moh. Hatta
sebagai wakil Presiden tidak direstui oleh para pemimpin daerah luar jawa sehingga
terjadi ketidakpercayaan terhadap kebijakan Pemerintah Pusat. Wakil Presiden Moh.
Hatta mundur mengakibatkan tidak ada lagi politik Dwi Tunggal sehingga membuat
Ir. Soekarno tidak memiliki mitra dengan intelektual yang
sepadan(Suwarno,2012:63).

Kabinet Ali Sastroamijoyo semakin suram ketika Presiden mengeluarkan


kebijakan yang disebut konsepsi Presiden yang dikeluarkan tanggal 21 Febuari
1957(Tim Penulisan Sejarah,2009:378).Presiden Soekarno mengumumkan
konsepsinya dan membuat Negara goyah sehingga memunculkan masalah yang baru.
Masalah tersebut ialah berbagai dari pertentangan dari berbagai tokoh politik saat itu.
Konsepsi Presiden yang diumumkan tersebut berisi : a). Sistem demokrasi
Parlementer diganti dengan sistem demokrasi terpimpin, b). dibentuk suatu kabinet
gotong royong yang anggotanya memasukkan partai-partai dalam parlemen, dalam
hal ini kabinet kaki empat, c). Pembentukan dewan nasional yang beranggotakan
golongan fungsional, buruh tani, pengusaha dan golongan perwira militer
dimasukkan juga dalam Dewan Nasional seperti Kepala Staf AD, AL,AU, Kapolri,
Jaksa Agung(Kementerian Penerangan RI,1970:23). Pada tahun ini juga banyak
muncul perlawanan daerah yang bersifat separatis bahkan bisa dikatakan makar
terhadap sebuah Negara. Sementara itu di kalangan internal kabinet sendiri banyak
yang bermasalah, sehingga berujung pada ditariknya menteri-menteri oleh partai
politik tertentu. Masalah yang semakin memuncak ini membuat Ali Sastroamijoyo
akhirnya mengembalikan mandatnya kepada Presiden Soekarno(Aman,2013:4)

Kemudian rapat tertutup digelar untuk menentukan kabinet pengganti Ali


Sastroamijoyo dan berakhir dengan usul Ali Sastroamijoyo yang mengusulkan
Ir.Djuanda untuk dipilih memimpin kabinet baru.(Tim Penulisan Sejarah,
2009:378).). Ali Sastroamijoyo memilih Ali Sastroamijoyo karena sudag bekerja
sama selama Ali Sastroamijoyo menjadi Perdana Menteri. Etos kerja Ir. Djuanda

5
yang baik dan bertanggung jawab dibuktikan dengan berhasil merumuskan Rencana
Pembangunan Lima Tahun saat Ali Sastroamijoyo menjadi Perdana Menteri.
Penyebab lain terpilihnya Ir. Djuanda karena beliau merupakan orang yang tidak
memiliki partai dan bekerja dengan kehendaak sendiri tanpa terpengaruh oleh partai
(Setyawan,2017:6)

Hasil rapat tertutup tersebut akhirnya direalisasikan oleh Presiden dengan


mengangkat Ir. Djuanda sebagai Perdana Menteri pada tanggal 9 April 1957
berdasarkan Surat Keputusan RI No.108 tahun 1957(Suprapto,1985:190). Penunjukan
Ir. Djuanda mendapat dukungan beberapa pihak terutama di kalangan mantan
Perdana Menteri yang pernah bekerja dengan Ir. Djuanda sehingga Ir. Soekarno juga
mempercayakan Menteri Pertahanan kepada Ir. Djuanda. Karakter kepemimpinan dan
hasil kerja Ir. Djuanda yang memuaskan merupakan salah satu faktor eksternal
pemilihan Ir. Djuanda sebagai Perdana Menteri. Faktor internal pemilihan Ir. Djuanda
dikarenakan adanya konsepsi Presiden yang akan merubah sistem Demokrasi
Parlementer menjadi sistem Demokrasi Terpimpin sehingga membutuhkan Perdana
Menteri yang tidak berpartai agar tidak ada gesekan politik dan sesuai keinginan
Presiden. (Moedjanto,1988:104).

Kabinet Djuanda disebut dengan Kabinet ahli atau Zaken Kabinet karena
anggota kabinetnya terdiri dari para ahli bidang masing-masing. Kabinet Djuanda
merupakan kabinet terakhir masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Liberal,
selain itu kabinet Djuanda merupakan Kabinet terlama yang berkuasa di
Pemerintahan indonesia dengan rentan waktu 9 April 1957 hingga 10 Juli 1959
(Moedjanto,1988:104).

2.3 .Kebijakan Kabinet Djuanda


Tanggal 9 April 1957, kabinet Djuanda mulai aktif setelah Keputusan
Presiden Nomor 108 tahun 1957 ditetapkan. Kabinet Djuanda merupakan kabinet
ekstra parlementer sehingga kedudukan kabinet dalam pemerintah kuat, namun harus

6
tunduk dengan kehendak presiden. Oleh sebab itu, program kerja kabinet Djuanda
tidak jauh dari keinginan Presiden Soekarno. Anggota Kabinet Djuanda atau
seseorang non partai atau keluar dari partainya sehingga tidak terikat akan suatu
partai (Moedjanto, 1988, hal. 104). Kabinet Djuanda memiliki lima program kerja
yang disebut Pancakarya, yaitu membentuk Dewan Nasional, normalisasi keadaan
Republik Indonesia, melanjutkan pembatalan KMB, perjuangan Irian Barat, serta
mempergiat pembangunan (Setyawan, 2017, hal. 281).
Program kerja kabinet Djuanda yang pertama adalah pembentukan Dewan
Nasional, dengan mengesahkan Undang-Undang Darurat pada tanggal 6 Mei 1957
dan 11 Juli 1957. Dewan Nasional merupakan awal penerapan demokrasi terpimpin
yang sesuai dengan rencana Konsepsi Presiden. Namun, menurut Ir. Djuanda,
Dewan Nasional dibentuk untuk menjadi penasihat pemerintahan, sehingga tidak ada
perubahan dalam konstitusi dan kabinet tetap menjadi tanggungjawab Parlemen
(Nanulaita, 1983, hal. 137). Tetapi, dalam kenyataannya Dewan Nasional membuat
Presiden Soekarno semakin leluasa mengatur pemerintahan dan melemahkan fungsi
kabinet.
Program kerja Kabinet Djuanda yang kedua adalah normalisasi keadaan
Republik Indonesia. Pada masa Kabinet Ali, Indonesia mengalami pergolakan di
daerah-daerah yang mengancam keutuhan NKRI, maka Ir. Djuanda memilih untuk
menormalisasi keadaan Republik Indonesia. Masalah pemberontakan di daerah,
menurut keterangan Ir. Djuanda dalam koran Java Bude tanggal 10 April 1957,
menerangkan bahwa:
“Masalah pemberontakan ini bahkan lebih sulit dibandingkan
dengan Kabinet Presiden di Yogyakarta pada tahun 1948selama
pemberotakan Madiun, bahwa kesulitan saat ini dibentuk secara
substansial dengan tiga isu, isu tersebut adalah masalah
administrasi dan masalah keuangan dan ekonomi. Ir. Djuanda juga
menjelaskan bahwa ia memiliki beberapa ide untuk menyelesaikan
isu-isu daerah namun saat ini ia tidak bersedia untuk membuat

7
pernyataan apapun tentang masalah tersebut (Setyawan, 2017, hal.
282).
Wawancara tersebut menjelaskan bahwa menurut Ir. Djuanda, masalah
pemberontakan daerah saat itu lebih sulit ditangani dibandingkan masalah
pemberontakan Madiun tahun 1948. Salah satu pemberontakan yaitu di daerah
Sumatera yang merupakan akibat dari ketidakpuasan pemerintahan daerah terhadap
pemerataan ekonomi oleh pemerintah pusat, sehingga timbul pemberontakan.
Program kerja Kabinet Djuanda yang kedua ini dimulai dengan mengadakan
Musyawarah Nasional dan bekerjasama dengan Dewan Nasional(Suprapto, 1985, hal.
196). Musyawarah Nasional akan dilakukan di Gedung Proklamasi, Pegangsaan
Timur 56 Jakarta dan ditentukan pada bulan September 1957. Musyawarah Nasional
juga mengundang mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Moh. Hatta, dengan
mengutus Dr. J. Leimena untuk menemuinya (Nanulaita, 1983, hal. 139).
Program kerja selanjutnya adalah perjuangan Irian Barat, dilaksanakan setelah
keputusan Musyawarah Nasional. Kebijakan Perdana Menteri Djuanda dalam
memperjuangkan Irian Barat dibawa dalam rapat PBB dan mendapat dukungan penuh
dari Presiden dan Dewan Nasional (Moedjanto, 1988, hal. 108). Ir. Djuanda juga
berharap mendapat dukungan dari negara-negara koalisi Indonesia karena
sebelumnya, Ir. Djuanda telah melakukan hubungan internasional dengan negara lain
sehingga memiliki hubungan diplomatik yang baik. Sebelum program ini
terselesaikan, terdapat peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden Soekano
pada November 1957, ketika Presiden Soekarno sedang berkunjung ke sekolah
daerah Cekini, Jakarta. Granat-granat yang dilemparkan ke Presiden Soekarno
meledak sehingga menewaskan beberapa siswa dan wali murid. Namun, kejadian
tersebut tidak melukai Presiden Soekarno yang masih sempat menghindar (Ricklefs,
2009, hal. 541).
Peristiwa tersebut membuat Ir. Djuanda khawatir mengenai hasil musyawarah
nasional tidak terealisasikan karena suhu politik di Indonesia semakin meningkat.
Terlepas dari itu, Ir. Djuanda melakukan tugasnya dan mengeluarkan kebijakan untuk
pemogokan umum seluruh buruh di Indonesia selama 24 jam terhadap perusahaan

8
milik Belanda pada 3 Desember 1957 (Kemendikbud, 2012, hal. 293). Kebijakan
tersebut berimbas dari adanya kegagalan PBB dalam melakukan perundingan dengan
Belanda mengenai Irian Barat.
Kebijakan terakhir adalah mempergiat pembangunan. Kebijakan mempergiat
pembangunan kabinet Djuanda tertuju pada masyarakat desa, yang merupakan bagian
penting bagi negara Indonesia. Masyarakat desa merupakan penyumbang devisa
negara melalui ekspor timah dan karet. Devisa negara tersebut digunakan untuk
melakukan pembangunan pasca kemerdekaan. Ir. Djuanda melakukan pembangunan
masyarakat desa dengan menyusun kebijakan Rencana Pembangunan Lima Tahun
1956-1960 (Setyawan, 2017, hal. 287).

9
BAB III

PENUTUP
Pada bab ini akan dijabarkan mengenai kesimpulan dari penulisan makalah.

3.1 Kesimpulan
Ir Djuanda merupakan salah satu tokoh politisi penting yang pernah menjadi
ketua salah satu kabinet Indonesia, Kabinet Djuanda lebih tepatnya, Kabinet djuanda
menyumbang salah satu hal yang sangat penting bagi Indonesia, yaitu dengan
menghasilkan Deklarasi Djuanda yang mana deklarasi ini mengatur kembali batas
perairan Indonesia, mengatur mengenai laut pedalaman dan laut territorial. Melalui
deklarasi Djuanda menunjukan telah terciptanya kesatuan wilayah Indonesia dimana
lautan dan daratan merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak bisa dipisahkan.
Kabinet Djuanda terbentuk dari hasil rapat tertutup pada masa kabinet Ali, hal
ini dikarenakan kabinet Ali mengalami kemunduran yang sangat pesat sehingga harus
diganti. Kabinet Djuanda disebut dengan Kabinet ahli atau Zaken Kabinet karena
anggota kabinetnya terdiri dari para ahli bidang masing-masing. Kabinet Djuanda
merupakan kabinet terakhir masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Liberal,
selain itu kabinet Djuanda merupakan Kabinet terlama yang berkuasa di
Pemerintahan indonesia dengan rentan waktu 9 April 1957 hingga 10 Juli 1959.
Pada masa kabinet Djuanda terdapat beberapa program kerja. Program kerja
kabinet Djuanda yang pertama adalah pembentukan Dewan Nasional, dengan
mengesahkan Undang-Undang Darurat pada tanggal 6 Mei 1957 dan 11 Juli 1957,
kemudian Program kerja Kabinet Djuanda yang kedua adalah normalisasi keadaan
Republik Indonesia. Pada masa Kabinet Ali, Indonesia mengalami pergolakan di
daerah-daerah yang mengancam keutuhan NKRI, maka Ir. Djuanda memilih untuk
menormalisasi keadaan Republik Indonesia. Program kerja selanjutnya adalah
perjuangan Irian Barat, yang dilaksanakan setelah keputusan Musyawarah Nasional,
dan program yang terakhir adalah Kebijakan terakhir adalah mempergiat

10
pembangunan dengan pencapaian atau kontribusi terbesar adalah deklarasi Djuanda
yang , mengatur mengenai laut pedalaman dan laut territorial.

11
DAFTAR RUJUKAN

Aman, F. (2013). Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia Masa Kabinet Djuanda
1957-1959. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Indonesia, T. P. (2009). Sejarah Indonesia Jilid VI. Jakarta: Balai Pustaka.

Kemendikbud, T. (2012). Indonesia Dalam Arus Sejarah 7: Pasca Revolusi.


Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.

Moedjanto. (1988). Indoensia Abad ke-20. Yogyakarta: Kanisius.

Nanulaita, I. O. (1983). Ir. Haji Juanda Kartawidjaya. Jakarta: Departemen


Pendidikan dan Kebudayaan.

Poesponegoro, M. D., & Notosusanto, N. (2008). Sejarah Nasional Indonesia


jilid VI. Jakarta: Balai Pustaka.

RI, K. P. (1970). Susunan dan Program Kabinet selama 25 tahun. Jakarta: Prajina
Paramita.

Ricklefs. (2009). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi Ilmu


Semesta.

Setyawan, A. (2017). Djuanda Kartawidjaya: Dari Menteri Hingga Perdana Menteri


1949-1959. Surabaya: Jurusan Pendidikan Sejarah UNESA.

Setyawan, A. B. (2017). Djuanda Kartawidjaya: Dari Mentari hingga Perdama


Menteri 1946-1959. AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah Volume 5 ,
273-288.

12
Suprapto, B. (1985). Perkembangan Kabinet dan Pemerintahan di Indonesia. Jakarta:
Ghalia Indonesia.

Suwarno. (2012). Sejarah Politik Indonesia Modern. Yogyakarta : Ombak.

13

Anda mungkin juga menyukai