Anda di halaman 1dari 38

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu tujuan pembelajaran bahasa Indonesia ialah siswa dituntut untuk

memiliki keterampilan menulis. Keterampilan menulis ini sesuai dengan Standar

Kompetensi (SK) dan Kompetensi Inti (KI) pada kurikulum 2013. kurikulum 2013

menyajikan pendekatan yang baru untuk proses pembelajaran yang diharapkan

dapat merubah proses pembelajaran yang berbentuk klasikal. Secara umum, proses

pembelajaran yang dilakukan dimulai dari KI-3 dan KI-4, sedangkan KI-1 dan KI-

2 merupakan dampak yang diharapkan muncul dari proses pembelajaran.

Menulis merupakan bentuk penyajian dalam tulisan yang sedemikian rupa

berdasarkan alur cerita dengan menuangkan ide dan gagasan yang ada dalam

pikiran. Kegiatan menulis salah satu kegiatan untuk menuangkan ide, gagasan, dan

pokok pikiran kepada orang lain. Dilihat dari pentingnya kegiatan menulis maka

perlu adanya pengembangan dalam kegiatan menulis. Menulis merupakan salah

satu wadah untuk mngembangkan dan menuangkan kemampuan bahasa tulis

dalam membuat drama. Sekolah sebagai lembaga formal yang melaksanakan

proses belajar mengajar yang selalu berkaitan dengan kegiatan menulis yang

nantinya bisa digunakan dalam keterampilan menulis salah satunya, yaitu

dalam menulis drama. Dengan keterampilan itu, seseorang dapat mengungkapkan

ide, pikiran, perasaan, dan kemampuannya kepada orang lain melalui tulisan.

Salah satu jenis tulisan yang dapat melatih kemampuan siswa dalam

menulis adalah materi Menulis Naskah drama. Menulis Naskah drama sangat

penting dikuasai siswa karena terdapat dalam Kurikulum 2013 yang terdapat pada
2

KI. 3 yaitu memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural)

berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya

terkait fenomena dan kejadian tampak mata, kemudian KI 4 yaitu mencoba,

mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai,

memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung,

menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber

lain yang sama dalam sudut pandang/teori. Adapun KD yang digunakan yaitu KD

4.16 yaitu menyajikan drama dalam bentuk pentas atau naskah

Berdasarkan hasil wawancara tanggal 28 Januari 2019 dengan Guswa

Okrita S. Pd guru bahasa Indonesia di SMP N 3 Solok Selatan, diperoleh informasi

bahwa rendahnya kemampuan menulis naskah drama siswa disebabkan oleh

beberapa faktor berikut. Pertama, siswa masih banyak yang belum paham dalam

menulis khususnya menulis Naskah drama. Hal ini dapat dilihat dari nilai yang

diperoleh siswa dalam menulis naskah drama. Kedua, selama kegiatan

pembelajaran berlangsung siswa kurang berpartisipasi untuk menyumbangkan

pendapat. Ketiga, siswa juga kurang memahami materi menulis Naskah drama yang

dijelaskan oleh guru sehingga berdampak pada kemampuan menulis naskah drama

siswa.

Selanjutnya, dari hasil wawancara tanggal 26 Januari 2019 dengan 5 orang

siswa, dapat diketahui beberapa kendala dalam menulis naskah drama yang dialami

siswa. Pertama, siswa tidak berminat dalam belajar naskah drama. Kedua, siswa

ada yang berminat namun tidak paham dalam membuatnya, Ketiga, siswa

mengalami kesulitan mengembangkan karakter tokoh. Keempat, siswa sulit


3

mengembangkan dialog dan kelima, siswa malas berpartisipasi dalam membuat

naskah drama.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka guru dituntut untuk melakukan

inovasi dalam pembelajaran menulis naskah drama. Metode Pembelajaran

Kooperatif memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkomunikasi dan

berinteraksi sosial dengan temannya untuk mencapai tujuan pembelajaran,

sementara guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator aktivitas siswa. Dalam

pembelajaran ini kegiatan aktif dengan pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa

dan mereka bertanggung jawab atas pembelajarannya. Pembelajaran Kooperatif

memiliki banyak metode dan strategi, salah satunya adalah Metode Pembelajaran

Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS). Metode belajar mengajar TPS merupakan

jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi

siswa. Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Think – Pair – Share dipilih karena

dianggap dapat membantu kesulitan siswa dimana dalam pembelajaran ini siswa

dianggap dapat lebih aktif bekerja di dalam kelompok dan dapat berbagi

pengalaman dalam menulis naskah drama secara berpasangan. Sehingga siswa

dapat lebih terpacu dalam menulis naskha drama. Hal ini akan sangat bagus dalam

usaha melibatkan siswa secara lebih aktif dalam pembelajaran menulis naskah

drama.

Berdasarkan uraian di atas, model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat

dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. Oleh

karena itu, peneliti akan melakukan penelitian mengenai keterampilan menulis

Naskah drama menggunakan salah satu Model Pembelajaran Kooperatif dengan


4

judul penelitian yaitu “kemampuan menulis Naskah drama menggunakan Model

Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) terhadap Siswa kelas VIII

SMP N 3 Solok Selatan”

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas diperoleh gambaran umum tentang

permasalahan pembelajaran keterampilan menulis bahasa Indonesia di sekolah

tersebut. Permasalahan-permasalahan tersebut diantaranya sebagai berikut. Dari

segi Guru, pertama, siswa masih banyak yang belum paham dalam menulis

khususnya menulis naskah drama. Hal ini dapat dilihat dari nilai yang diperoleh

siswa dalam menulis naskah drama. Kedua, selama kegiatan pembelajaran

berlangsung siswa kurang berpartisipasi untuk menyumbangkan pendapat. Ketiga,

siswa juga kurang memahami materi menulis Naskah drama yang dijelaskan oleh

guru sehingga berdampak pada kemampuan menulis naskah drama siswa.

Kemudian dari segi siswa, pertama, siswa tidak berminat dalam belajar naskah

drama. Kedua, siswa ada yang berminat namun tidak paham dalam membuatnya,

Ketiga, siswa mengalami kesulitan mengembangkan karakter tokoh. Keempat,

siswa sulit mengembangkan dialog dan kelima, siswa malas berpartisipasi dalam

membuat naskah drama.

C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, permasalahan pada penelitian ini

dibatasi pada kemampuan menulis Naskah drama menggunakan Metode

Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) siswa kelas VIII SMP N 3

Solok Selatan.
5

D. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah kemampuan

menulis naskah drama siswa kelas SMP N 3 Solok Selatan dengan Metode

Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) terhadap Siswa kelas VIII

SMP N 3 Solok Selatan?

E. Tujuan Penelitian
Sesuai rumusan masalah di atas, penelitian bertujuan untuk

mendeskripsikan kemampuan menulis naskah drama siswa SMP N 3 Solok Selatan

dengan menggunakan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share

(TPS) terhadap siswa kelas VIII SMP N 3 Solok Selatan.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak berikut.

Pertama, untuk siswa SMP N 3 Solok Selatan diharapkan dapat membantu dan

mempermudah siswa untuk memahami materi menulis Naskah drama. Kedua,

untuk guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP N 3 Solok Selatan. dapat dijadikan

pedoman untuk merancang teknik dan strategi pembelajaran, sehingga

keterampilan menulis khususnya keterampilan menulis naskah drama siswa

semakin meningkat. Ketiga, untuk peneliti lain, sebagai bahan rujukan dan

bandingan dalam melakukan penelitian selanjutnya tentang pembelajaran menulis

naskah drama. Keempat, peneliti sendiri untuk menambah wawasan berpikir dalam

menghasilkan karya tulis yang lebih baik lagi.

G. Definisi Operasional

Agar tidak terjadi kesalahan penafsiran terhadap judul penelitian, penulis

mengemukakan sesuai dengan judul penelitian yaitu :


6

1. Kemampuan adalah kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam

tugas dalam suatu pekerjaan atau sebuah penilaian terkini atas apa yang dapat

dilakukan seseorang.

2. Menulis adalah suatu kegiatan untuk menyampaikan gagasan, pikiran, dan ide

yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan melalui tulisan.

3. Naskah drama karangan yang berisi cerita atau lakon. Dalam naskah tersebut

terutama nama-nama tokoh dalam cerita, dialog yang diucapkan para tokoh,

dan keadaan panggung yang diperlakuka, bahkan kadang-kadang juga

dilengkapi penjelas tentang tata bahasa, tata lampu dan tata suara (

4. Think – Pair – Share merupakan model pembelajaran kooperatif yang

memiliki prosedur ditetapkan secara eksplisit memberikan waktu lebih

banyak kepada siswa untuk memikirkan secara mendalam tentang apa yang

dijelaskan atau dialami (berfikir, menjawab, dan saling membantu satu sama

lain).
7

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teoritis

Kajian teori yang digunakan dalam penelitian ini ada lima. Kelima teori

tersebut adalah: (1) hakikat menulis, (2) hakikat Naskah drama, (3) kemampuan

menulis Naskah drama, (4) indikator kemampuan Menulis Naskah drama, (5)

hakikat Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share, (6) penerapan

model pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) dalam menulis

Naskah drama.

1. Hakikat Menulis

Pada sub bagian ini akan dibahas beberapa teori yang berkaitan dengan

(a) pengertian menulis, (b) tujuan menulis, dan (c) langkah-langkah menulis, (d)

manfaat menulis.

a. Pengertian Menulis

Menurut Nurjamal (2011:69) menulis merupakan sebuah proses kreatif

menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis untuk tujuan, misalnya

memberitahu, meyakinkan, menghibur. Hasil dari proses kreatif menulis ini biasa

disebut dengan istilah tulisan atau karangan. Kedua istilah tersebut mengacu pada

hasil yang sama meskipun ada pendapat yang mengatakan kedua istilah tersebut

memiliki pengertian yang berbeda. Istilah menulis sering dilekatkan pada proses

kreatif yang berjenis ilmiah. Sementara, istilah mengarang sering dilekatkan pada

proses kreatif yang sejenis.

Menurut Kusumaningsih, dkk (2013:65) menyatakan bahwa menulis ialah

kegiatan menyampaikan sesuatu menggunakan bahasa melalui tulisan, dengan


8

maksud dan pertimbangan tertentu untuk mencapai sesuatu yang dikehendakai

(Rahardi, 2003:39). Menurut Rosidi (2009:2) menyatakan bahawa menulis

merupakan kegiatan menuangkan pikiran dan perasaan seseorang yang

diungkapkan dalam bahasa tulis. Menulis merupakan kegiatan untuk menyatakan

pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan yang diharapkan yang diharapkan dapat

dipahami oleh pembaca dan berfungsi sebagai alat komunikasi secara langsung.

Dengan demikian dapat dikatakan bahawa menulis merupakan kegiatan seseorang

untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca dalam bahasa tulis agar bisa

dipahami oleh pembaca.

Berdasarkan pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa menulis adalah

kegiatan menyampaikan sesuatu menggunakan bahasa melalui tulisan, dengan

maksud dan pertimbangan tertentu untuk mencapai sesuatu yang dikehendaki. Hasil

dari proses kreatif menulis ini biasa disebut dengan istilah tulisan atau karangan.

Kedua istilah tersebut mengacu pada hasil yang sama meskipun ada pendapat yang

mengatakan kedua istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda.

b. Tujuan Menulis

Menurut Semi (2003: 14) secara umum tujuan menulis adalah sebagai

berikut: pertama, untuk memberikan arahan, maksudnya memberikan petunjuk

kepada orang lain dalam mengajarkan sesuatu. Kedua, menjelaskan sesuatu,

maksudnya memberikan uraian penjelasan tentang suatu hal yang harus diketahui

oleh orang lain. Ketiga, menceritakan kejadian, maksudnya memberikan

informasi tentang suatu hal yang berlangsung disuatu tempat pada suatu waktu.

Keempat, meringkaskan, maksudnya membuat rangkuman suatu tulisan sehingga


9

menjadi singkat. Kelima, meyakinkan, maksudnya tulisan yang berusaha

meyakinkan orang lain agar setuju dan sependapat denganya.

Menurut Dalman (2015:8) menulis bertujuan memberikan informasi secara

lengkap kepada pembaca sehingga pembaca dapat memperluas pengetahuan dan

pengalamanya.

Menurut Rosidi (2009:5-6) tujuan menulis dapat dikategorikan sebagai

berikut: Pertama, memberitahu atau menjelaskan. Kedua, meyakinkan atau

mendesak. Ketiga, Menceritakan sesuatu. Keempat, mempengaruhi pembaca.

Kelima, menggambarkan sesuatu.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan menulis adalah

dengan menulis dapat memberikan informasi secara lengkap dan memberikan

pengetahuan. Tidak hanya dapat memberikan pengetahuan menulis juga dapat

memberikan arahan kepada orang lain, dan dalam menulis juga dapat menceritakan

sesuatu atau menjelaskan suatu kejadian. Dalam menulis juga dapat

mengungkapkan gagasan atau ide-ide dan perasaan si penulis kepada pembaca.

c. Langkah-langkah Menulis

Menurut Kusumaningsih, Dewi dkk (2013:70) ada enam langkah-langkah

menulis sebagai berikut: Pertama, menentukan tema, Kedua, menentukan tujuan,

Ketiga, mengumpulkan data (bahan), Keempat, menyusun kerangka karangan,

Kelima, mengembangkan kerangka menjadi paragraf, Keenam, pemberian judul

karangan sesuai isi karangan.

Menurut Tarigan (2009:10) menyatakan bahwa langkah-langkah menulis

adalah sebagi berikut. Pertama, mengumpil poko-pokok pembicaraan. Kedua


10

menyusun pokok persoalan. Ketiga, membuat bagan (outline) dan menulis kalimat

judul. Keempat, tulis paragraf sesuai dengan bagan. Kelima, akhir paragraph

dengan suatu kalimat yang sesuai sebagai penutup. Keenam, tutup atau akhiri

paragraph dengan suatu judul yang menarik.

Nurjamal (2011:72) mengatakan bahwa ada beberapa langkah menulis.

Pertama, terdapat relevansi ynag baik antara judul dengan bagian pendahuluan,

bagian isi, dan bagian penutup tulisan. Kedua, terdapat relevansi yang baik antara

bagian awal atau pendahuluan dengan bagian isi dengan bagian akhir atau penutup

tulisan, atau sebaliknya. Ketiga, terdapat relevansi antara kalimat atau klausa ynag

satu dengan kalimat/klausa yang lain dalam tiap alinea. Keempat, terdapat relevansi

yang pas antara isi tulisan dengan tujuannya.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa langkah-

langkah menulis adalah kita harus memilih dan menetapkan tema apa yang akan

dibahas, menetapkan tujuan, merancang tulisan sesuai dengan topik yang telah

ditentukan, menulis, menyunting atau merevisi kembali tulisan yang ditulis,

menulis naskah jadi. Jadi, untuk mendapatkan sebuah tulisan yang baik itu maka

seseorang harus memperhatikan langkah-langkah menulis tersebut.


11

d. Manfaat Menulis

Menurut Dalman, (2011:6) manfaat menulis sebagai berikut. Pertama,

meningkatkan kecerdasan. Kedua, pengembangan daya insiatif dan kreatifitas.

Ketiga, penumbuhan keberanian. Keempat, pendorong kemauan dan kemampuan

mengumpulkan informasi.

Menurut Tarigan (2008:22-23) manfaat menulis dalam empat manfaat

diantaranya. Pertama, alat komunikasi tidak langsung. Kedua, menolong berfikir

secara kritis. Ketiga, memperdalam daya tangkap atau persepsi, memecahkan

masalah-masalah yang dihadapi, menyusun bagi pengalaman.

Menurut Komaidi (2007:12) menyatakan manfaat menulis Pertama,

melatih kepekaan dalam melihat realitas di sekitar. Kedua, mendorong kita untuk

mencari refrensi seperti buku, majalah, Koran, jurnal dan sejenisnya. Ketiga,

terlatih untuk menyusun pemikiran dan argumen kita secara runtut, sistematis, dan

logis. Keempat, dengan menulis secara psikologis akan mengurangi tingkat

ketegangan dan stress kita. Kelima, dengan menulis selin itu kita juga memperoleh

honorarium (penghargaan) yang membentuk kita secra ekonomi. Keenam, dengan

menulis sang penulis semakin popular dan dikenal oleh publik pembaca.

Berdasarkan beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menulis

dapat memberikan manfaat. Diantaranya dapat meningkatkan kecerdasan dan

meningkatkan kratifitas. Selain itu menulis juga memberikan manfaat dalam

memperdalam daya tangkap, dan dapat menolong secara kritis.


12

2. Hakikat Naskah Drama

Teori yang dijelaskan pada naskah drama adalah: (a) pengertian naskah

drama, (b) unsur-unsur drama. (c) langkah-langkah menulis naskah drama. (d)

indikator menulis naskah drama.

a. Pengertian Naskah Drama

Menurut Komaidi (2007:233) naskah drama adalah karangan yang berisi

cerita atau lakon. Dalam naskah tersebut terutama nama-nama tokoh dalam cerita,

dialog yang diucapkan para tokoh, dan keadaan panggung yang diperlakuka,

bahkan kadang-kadang juga dilengkapi penjelas tentang tata bahasa, tata lampu

(lighting), dan tata suara (musik pengiring). Thahar (2008:178) menyatakan bahwa

naskah drama merupakan salah satu genre sastra yang mengandung unsur cerita,

berupa dialog dalam tokoh sebagai sarana primernya.

Menurut Waluyo (2002:2), naskah drama adalah salah satu genre karya

sastra yang sejajar dengan prosa dan puisi. Berbeda dengan prosa maupun puisi,

naskah drama memiliki bentuk sendiri yaitu ditulis dalam bentuk dialog yang

didasarkan atas konflik batin dan mempunyai kemungkinan dipentaskan.

Endraswara (2011:39) menyebutkan naskah drama adalah kesatuan teks

yang membuat kisah. Naskah atau Naskah drama dapat digolongkan menjadi dua,

yaitu: (1) part text, artinya yang ditulis dalam teks hanya sebagian saja, berupa garis

besar cerita. Naskah semacam ini biasanya diperuntukkan bagi pemain yang sudah

mahir. (2) full text, adalah Naskah drama dengan penggarapan komplet, meliputi

dialog, monolog, karakter, iringan, dan sebgainya. Bagi pemain yang masih tahap
13

berlatih, teks semacam ini patut dijadikan pegangan. Hal ini juga akan memudahkan

pertunjukan. Hanya saja, sering membatasi kreativitas pentas.

Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa naskah

drama adalah suatu karangan atau cerita yang berupa tindakan atau perbuatan yang

masih berbentuk teks atau tulisan.

b. Unsur-Unsur dalam Naskah Drama

Naskah Drama sebagai karya sastra dibangun oleh beberapa unsur

menurut Mulyadi (2007:233) antara lain, Pertama, tokoh. Kedua, alur. Ketiga, latar.

Kempat, amanat. Kelima, tema. Keenam, dialog.

1) Tokoh

Menurut Mulyadi (2016:228), tokoh merupakan orang yang mengambil

bagian dan mengalami sebagian atau seluruh peristiwa-peristiwa yang terdapat

didalam plot. Tokoh dalam drama dapat dibedakan berdasarkan pertama, segi

peranan, kedua, fungsi penampilan, dan ketiga, perwatakannya. Berdasarkan fungsi

penampilannya tokoh dibedakan menjadi tokoh antagonis yaitu tokoh penyebab

terjadinya konflik, tokoh protagonis yaitu menampilkan nilai-nilai yang ideal, dan

tokoh tritagonis yaitu tokoh penengah atau pendamai dari konflik cerita.

Berdasarkan perwatakannya, tokoh dibedakan menjadi tokoh datar yaitu tokoh

yang hanya memiliki satu watak tunggal dan tokoh bulat yaitu tokoh yang

digambarkan secara rinci oleh pengarang.

Menurut Nurgiyantoro, (1995:166) penokohan lebih luas pengertiannya

daripada tokoh sebab ia sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana

perwatakan dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita


14

sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan

sekaligus menyaran pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam

sebuah cerita.

Pemilihan aspek penamaan untuk tokoh diniatkan sejak semula oleh

pengarang untuk mewakili permasalahan dan konflik yang hendak dikemukakan.

Oleh sebab itu, dalam upaya penemuan permasalahan drama, pembaca perlu

mempertimbangkan unsur penamaan tokoh. Setiap nama yang diberikan kepada

tokoh akan menyiratkan imajinasi segera dihubungkan dengan pengetahuan tentang

realitas yang mereka miliki. Pemberian nama tertentu pada diri tokoh oleh

pengarang akan memberikan pengaruh pada diri tokohnya.

Menurut Hasanuddin WS dan Muhardi (1992:24) tokoh-tokoh yang

dihadirkan pengarang, untuk dapat membangun persoalan dan menciptakan

konflik-konflik, biasanya melalui peran-peran tertentu yang harus mereka lakukan.

Jarang tokoh yang mempunyai peran tinggal, biasanya tergantung dengan interaksi

sosial yang dilakukan. Perubahan lawan interaksi sosial dan menyebabkan

berubahnya peran seorang tokoh setiap peran biasanya selalu hadir berpasangan

dengan peran lain dalam membentuk suatu permasalahan atau konflik. Setiap peran

membawa isi permasalahn dan koflik drama. Oleh sebab itu, perubahan peran akan

menyebabkan perubahan tingkah laku, ucapan, tindakan, sebagai perwujudan dan

perasaan tokoh dalam perannya itu. Tingkah laku dan ucapan tokoh membentuk

karakter yang bersumber dari gejolak-gejolak psikis tokoh tersebut. Seorang tokoh,

karena situasi serta lawan interaksi yang berbeda akan tampil dalam peran yang

berbeda akan menyebabkan munculnya kondisi karakter yang berbeda-beda


15

Keadaan fisik tokoh dapat pula memberikan tuntutan bagi pemahaman

drama. Persoalannya, keadaan fisik biasanya berkaitan dengan peran tokoh, seorang

yang berperan sebagai tukang pukul tidak mungkin berfidsik kurus kerempeng.

Keberhasilan pengarang dapat diukur sejauh mana ia mengatur karakter yang

berbeda diukur tokoh ceritanya dalam berbagai peran.

Dari pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa penokohan atau

perwatakan adalah ciri-ciri jiwa seorang tokoh dalam suatu cerita, baik keadaan

lainnya maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidup, sikap, keyakinan,

dan adat istiadat.

2) Alur

Menurut Mulyadi (2016:229) alur merupakan rangkaian peristiwa dalam

drama yang mempunyai penekanan adanya hubungan sebab-akibat. Alur drama

dapat ditelusuri melalui motif yang menyebabkan munculnya suatu peristiwa. Motif

munculkan aksi dari tokoh untuk merealisasikan tujuannya dalam suatu peristiwa.

Aksi yang dilakukan tokoh akan memunculkan konflik.

Menurut Hasanuddin WS dan Muhardi (1992:29) Hubungan antara satu

peristiwa atau sekelompok peristiwa dengan peristiwa atau sekelompok peristiwa

yang lain disebut dengan alur. Alur tersebut bersifat kuasalitas karena hubungan

yang satu dengan yang lainnya menunjukkan sebab-akibat. Karakteristik alur dapat

dibedakan menjadi konvensional dan inkonvesional. Alur konvensional adalah jika

peristiwa yang disajikan lebih dahulu selalu menjadi penyebab munculnya

peristiwa yang hadir sesudahnya. Peristiwa yang muncul kemudian selalu menjadi

akibat dari peristiwa yang diceritakan sebelumnya. Sedangkan alur inkonvensional


16

adalahperistiwa yang diceritakan kemudian yang menjadi penyebab dari peristiwa

yang diceritakan sebelumnya, atau peristiwa yang diceritakan lebih dahulu menjadi

akibat dari peristiwa yang diceritakan sesudahnya.

Hubungan antara suatu peristiwa dengan peristiwa yang lain disebut

sebagai alur. Alur yang baik adalah alur yang memiliki kuasalitas sesama peristiwa

yang ada didalam sebuah Naskah drama. Permasalahan drama haruslah dicari pada

peristiwa yang dominan yang menjadi penyebab muncul konflik pada drama,

merupakan inti permasalahan drama yang hendak diketahui pengarang. Peristiwa

dan konflik biasanya berkaitan erat, ada peristiwa tertentu yang dapat menimbulkan

terjadinya konflik, sebaliknya karna terjadinya konflik, peristiwa-peristiwa lain pun

dapat bermunculan (Nurgiyantoro, 1994:123). Konflik dapat dinilai sebagai puncak

dari perselisihan antara kepentingan pihak protagonis dan pihak antagonis. Semua

peristiwa yang membangun drama akan direkayasa sepenuhnya oleh pengarang

untuk bermuara kepada terciptanya konflik drama.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, disimpulkan bahawa alur,

peristiwa adalah rangkaian jalannya suatu peristiwa atau kejadian dalam cerita yang

berkembang secara bertahap dan runtut dalam enam tahap, yaitu eksposisi, konflik,

komplikasi, krisis, resolusi, dan keputusan.


17

3) Latar dan Ruang

Menurut Mulyadi (2016:230) latar dan ruang merupakan segala sesuatu

yang mengacu kepada keterangan mengenai waktu, tempat, dan suasana peristiwa.

Latar berkaitan pula dengan tuang yang menjadi unsur dalam pementasan drama.

Sama halnya dengan latar, ruang juga menyangkut tema dan suasana tetapi dalam

hubungannya dalam pementasan.

Menurut Hasanuddin WS dan Muhardi (1992:30) latar merupakan

identitas permasalahan drama sebagai karia fiksionalitas yang secara samar

diperlihatkan penokohan dan alur. Jika permasalahan drama sudah diketahui

melalui alur atau penokohan, maka latar dan ruang memperjelas suasana, tempat,

serta waktu peristiwa itu berlaku. Latar memberikan pikiran cerita secara konkret

dan jelas, hal ini penting untuk memberikan kesan realiatis kepada pembaca,

menciptakan suasan tertentu seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi (Burhan

Nurgiyantoro, 1995:217). Ruang juga menyangkut tempat dan suasana dan erat

kaitannya dengan pementasan. Kadang-kadang kita menemukan bahwa latar

banyak mempengaruhi penokohan dan kadang-kadang membentuk tema.

Dari pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa latar adalah ruang

atau tempat terjadinya peristiwa dan memperjelas suasana, tempat, serta waktu

peristiwa itu berlaku.

4) Amanat

Menurut Mulyadi (2016:231) amanat merupakan pesan atau makna yang

ingin disampaikan oleh pengarang. Amanat dapat ditentukan melalui tafsir pribadi

berdasarkan sudut pandang tertentu sehingga amanat bersifat kias, subjektif, dan
18

umum. Umumnya, amanat memberikan manfaat bagi kehidupan secara praktis.

Amanat dapat disampaikan secara tersurat dalam karya sastra maupun tersirat.

Amanat atau makna dibagi menjadi dua, yakni makna niatan dan makna muatan.

Makna niatan adalah makna yang diniatkan oleh pengarang dalam katra sastra yang

ditulisnya. Sementara makna muatan adalah makna yang termuat dalam kara sastra

tersebut.

Menurut Hasandin WS dan Muhardi (1992:38) amanat merupakan opini,

kecendrungan, kecenderungan, dan visi pengarang terhadap tema yang

dikemukakannya. Amanat dalam sebuah drama dapat terjadi lebih dari satu, asal

semuanya itu terkait dengan tema. Pencarian amanat pada dasarnya identik atau

sejalan dengan teknik pencarian tema. Oleh sebab itu amanat juga merupakan

kristalisasi dari berbagai peristiwa, prilaku tokoh dan latar cerita.

Jadi dapat disimpulkan amanat adalah pesan yang ingin disampaikan

penulis atau pengarang kepada si pembaca atau penonton berupa nilai-nilai yang

dapat dijadikan contoh atau teladan dalam kehidupan.

5) Tema

Menurut Mulyadi (2016:230) tema adalah ide cerita yang menjadi pusat

cerita dan inti permasalahan dalam drama. Tema memberi kesatuan pada peristiwa-

peristiwa yang diterangkan dalam cerita. Tema bersifat lugas, objektif, dan khusus.

Mengacu pada sifat tersebut, perumusan tema dilakukan berdasarkan teks yang

tersurat.

Menurut Hasanuddin WS dan Muhardi ( 1992:38) tema adalah inti

permasalahan yang hendak dikemukakan pengarang dalam karyanya. Oleh sebab


19

itu tema merupakan hasil konklusi dari berbagai peristiwa yang terkait dari

penokuhan dan latar. Dalam sebuah drama terdapat banyak peristiwa yang masing-

masingnya mengemban permasalahan, tetapi hanya ada sebuah tema bagi intisari

dari permasalahan-permasalah tersebut.

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tema adalah pikiran atau

gagasan pokok yang mendasari suatu cerita harus dikembangkan sedemikian rupa

sehingga menghasilkan suatu cerita yang menarik.

6) Dialog

Menurut Mulyadi (2016:231) dalam drama, dialog menjadi hal utama

sehingga cerita yang disampaikan dalam drama menjadi lebih lugas. Plot, suasana,

dan konflik dalam drama dibangun oleh dialog antar tokoh, tidak seperti prosa yang

umumnya dibangun lewat narasi.

Menurut Emzir dan Salfur Rohman (2015:265) dialog adalah pembicaraan

tokoh. Dialog merupakan unsur terpenting dalam drama, berbeda dengan film

karena dalam beberapa menit dalam film meluncur tanpa dialog karena

penghayatan penonton dapat dibantu dengan gambar. Oleh karena itu, ada dua hal

yang harus dipenuhi dalam dialog, yaitu (1) dialog harus dapat mempertinggi nilai

gerak, (2) dialog harus baik dan bernilai tinggi. Dari pendapat ahli di atas dapat

disimpulkan bahwa dialog adalah hal yang utama dalam drama yaitu percakapan

yang dilakukan dengan maksud tertentu untuk bertujuan berjalannya sebuah cerita.

Menurut Hasanuddin WS dan Muhardi (1992:24) tokoh-tokoh yang

dihadirkan pengarang untuk dapat membangun persoalan dan menciptakan konflik

konflik biasanya melalui peran-peran tertentu yang harus mereka lakukan. Jarang
20

tokoh yang mempunyai peran tinggal, biasanya tergantung dengan interaksi sosial

yang dilakukan. Perubahan lawan interaksi sosial dan menyebabkan perubahan

peran seorang tokoh setiap perannya biasanya selalu hadir berpasangan dengan

peran lain dalam membentuk suatu permasalahan atau konflik. Setiap peran

membawa isi permasalahan dan konflik drama. Oleh sebab itu, perubahan peran

akan menyebabkan perubahan tingkah laku, ucapan, tindakan, sebagai perwujudan

perasaan tokoh dalam perannya itu. Tingkah laku dan ucapan tokoh membentuk

karakter yang bersumber dari gejolak- gejolak psikis tokoh tersebut. Seorang tokoh,

karena situasi serta lawan Interaksi yang berbeda.

c. Langkah-Langkah Menulis Naskah Drama

Menurut Mulyadi (2016:233) langkah-langkah menulis naskah drama

adalah antara lain: Pertama, tema yang akan diangkat dalam drama. Kedua,

persoalan atau konflik yang menjadi inti cerita drama. Ketiga, membuat sinopsis

atau ringkasan cerita untuk memandu proses penulisan naskah sehingga alur dan

persoalan tidak melebar. Dengan adanya sinopsis, penulisan lakon menjadi terarah

dantidak mengada-ngada. Keempat, kerangka cerita yang berfungsi sebagai

pembingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. Dengan membuat kerangka

cerita, penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak bertele-tele.

Kelima, tokoh protagonis dalam drama. Tokoh protagonis secara mendetail, tokoh

lain akan mudah ditentukan. Semakin detail penggambaran karakterprotagonis,

semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. Keenam, Cara penyelesaian konflik

yang disajikan dalam drama. Ketujuh, menyusun naskah drama dengan

mengembangkan gagasan dari kerangka cerita yang telah dibuat.


21

d. Indikator Menulis Naskah Drama

Berdasarkan kajian teori, diterapkan bahwa indikator kemampuan menulis

naskah drama menurut Mulyadi (2016:228) ada lima. Indikator tersebut antara lain:

Pertama, menentukan tokoh. Kedua, menentukan alur dari naskah drama. Ketiga,

menentukan latar dan ruang. Keempat, menerapkan amanat. Kelima, menerapkan

tema dan keenam, menyusun dialog.

3. Hakikat Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share

Dalam hakikat Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share ada

beberapa hal, diantaranya yaitu sebagai berikut : 1) pengertian Metode

Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share , 2) Keunggulan Think-Pair-

Share, 3) tujuan Think-Pair-Share , 4) karakteristik Think-Pair-Share , 5) langkah-

langkah pembelajaran dengan menggunakan Think-Pair-Share , 6) penerapan

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share terhadap keterampilan

menulis Naskah drama

a. Pengertian Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)

Menurut Trianto (2010:81) Think Pair Share (TPS) atau berpikir berpasangan

berbagi adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk

mempengaruhi interaksi siswa. Sedangkan menurut Suyatno (2009:54) mengatakan

bahwa TPS adalah model pembelajaran kooperatif yang memiliki prosedur

ditetapkan secara eksplinsit memberikan waktu lebih banyak kepada siswa untuk

memikirkan secara mendalam tentang apa yang dijelaskan atau dialami (berfikir,

menjawab, dan saling membantu satu sama lain).


22

Berdasarkan pendapat di atas dapat diambil kesimpulan Think PairShare

(TPS) adalah model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bekerjasama

dalam kelompok-kelompok kecil dengan tahap thinking (berfikir), pairing

(berpasangan), dan sharing ( berbagi).

b. Keunggulan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe


Think Pair Share
Menurut Kunandar, (2009:367) menyatakan bahwa ”tipe think pair

sharememiliki keuntungan yaitu “mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi

dan diskusi perlu diselengarakan dalam setting kelompok kelas secara

keseluruhan”.

menurut Buchari (2009:91) menyatakan bahwa “prosedur yang digunakan

dalam Think-Pair-Share dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk

merespon dan saling bantu. Guru memperkirakan hanya melengkapi penyajian

singkat atau siswa membaca tugas”.

Adapun kelemahan Think-Pair-Share menurut Sayuga (2014:29) adalah 1)

Terdapat banyak kelompok berpasangan yang perlu dimonitor. 2) Jika ada

perselisihan anatara siswa, tidak ada siswa yang dapat menjadi penengah, karena

kelompok berpasangan hanya terdiri atas dua orang. 3) Harus mengubah kebiasaan

belajar siswa, karena sebelumnya siswa hanya sebatas mendengarkan ceramah dari

guru namun dengan teknik Think Pair Share (TPS) siswa harus belajar berpikir

memecahkan masalah secara individu dan kemudian secara kelompok.

Jadi dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa TPS merupakan teknik

sederhana yang mempunyai keuntungan dapat mengoptimalkan partisipasi siswa

dalam mengeluarkan pendapat, dan meningkatkan pengetahuan. Siswa


23

meningkatkan daya pikir (thinking) terlebih dahulu, sebelum masuk ke dalam

kelompok berpasangan (pairing), kemudian di bagi ke dalam kelompok (sharing).

Pada tipe TPS setiap siswa saling berbagi ide, pemikiran atau informasi yang

mereka ketahui tentang permasalahan yang diberikan oleh guru, dan bersama-sama

mencari solusinya.Hal ini dapat membuat siswa meninjau dan memecahkan

permasalahan yang dari sudut yang berbeda, namun menuju ke arah jawaban yang

sama.

c. Tujuan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)


Tujuan think pair share tidak jauh berbeda dengan tujuan dari model

pembelajaran kooperatif. Menurut Nurhadi (2004:66) tujuan dari TPS adalah

”tujuan secara umumnya adalah untuk meningkatkan penguasaan akademik, dan

mengajarkan keterampilan sosial”.

Selanjutnya menurut Trianto (2009:59) berpendapat bahwa tujuan

pembelajaran kooperatif TPS adalah a) dapat meningkatkan kinerja siswa dalam

tugas-tugas akademik, b) unggul dalam membantu siswa memahami konsep-

konsep yang sulit, c) membantu siswa menumbuhkan keterampilan berpikir kritis.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari

model kooperatif tipe TPS adalah untuk meningkatkan penguasaan akademik,

mengajarkan keterampilan sosial dan membantu siswa dalam menumbuhkan

keterampilan berpikir kritis, serta meningkatkan pemahaman siswa dalam

memahami konsep-konsep yang sulit.


24

d. Langkah - langkah Metode Pembelajaran Kooperatif TipeThink Pair


Share (TPS)
Trianto (2014:130) menjelaskan langkah-langkah dalam pembelajaran

Think-Pair- Share sebagai berikut : 1) Berpikir (Think), guru membagi siswa dalam

kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok. 2)

Berpasangan (Pair), gurumeminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa

yang telah mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat

menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang diajukan atau menyatukan gagasan

apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasi, secara normal guru memberi

waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit. 3) Berbagi (Sharing), guru meminta setiap

pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan.

Metode kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) mempunyai langkah-

langkah pembelajaran tersendiri walaupun tidak terlepas dari konsep umum

langkah-langkah kooperatif. Langkah-langkah TPS menurut Kunandar (2009:367)

sebagai berikut: 1) langkah 1: Berpikir (Thinking), yaitu guru mengajukan

pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu satu menit

untuk berpikir sendiri mengenai jawaban atau isu tersebut. 2) langkah 2:

Berpasangan (Pairing), yakni guru meminta kepada siswa untuk berpasangan dan

mendiskusikan mengenai apa yang dipikirkan. 3) langkah 3: Berbagi (Sharing),

yakni guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerjasama

dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan.

Pendapat di atas di pertegas lagi oleh Nurhadi (2004:67) yaitu: 1) Berpikir

(thinking), yaitu guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran

kemudian siswa diberikan waktu satu menit untuk berfikir sendiri mengenai
25

jawaban atau isu tersebut. 2) berpasangan (pairing), yaitu guru meminta kepada

siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan.

3) berbagi ( sharing), dimana guru meminta pasangan- pasangan tersebut untuk

berbagi atau bekerjasama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah

mereka bicarakan.

Sedangkan sintak-sintak TPS menurut Suyatno (2009:54) adalah guru

menyajikan materi klasikal, berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja

kelompok dengan cara berpasangan sebangku- sebangku (Think- pair), presentasi

kelompok (share), kuis individual, buat skor perkembangan siswa, umumkan hasil

kuis dan berikan reward.

Kemudian dijelaskan oleh Istarani (2012:67) langkah-langkah model

pembelajaran Kooperatif TPS yaitu : 1) Guru menyampaikan inti materi dan

kompetensi yang ingin dicapai. 2) Peserta didik diminta untuk berpikir tentang

materi/permasalahan yang disampaikan guru. 3) Peserta didik diminta berpasangan

dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran

masing-masing. 4) Guru memimpin hasil pleno kecil diskusi, tiap kelompok

mengemukakan hasil diskusinya. 5) Berawal dari kegiatan tersebut, guru

mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang

belum diungkapkan para peserta didik. 6) Guru memberi kesimpulan. 7) Penutup

Dari beberapa pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa

langkah-langkah penggunaan tipe Think Pair Share yaitu dengan memberikan suatu

masalah kepada siswa sehingga siswa berpikir sendiri tentang masalah yang telah

diberikan. kemudian siswa diminta duduk berpasangan untuk mendiskusikan


26

masalah yang telah diberikan, lalu masalah yang telah didiskusikan tersebut

dipresentasi/ditampilkan di depan kelas agar siswa bisa berbagi dengan siswa yang

lain tentang apa yang telah didiskusikan. Pada kegiatan ini guru akan berkeliling

dari pasangan yang satu ke pasangan yang lainnya untuk menerima dan memantau

laporan dari siswa tentang apa yang telah mereka diskusikan.

e. Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS)

Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share

terhadap keterampilan menulis naskah drama siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Solok

selatan dari teori Istarani (2012:67) yaitu sebagai berikut. Pertama, guru membagi

siswa dalam beberapa kelompok dengan anggota masing-masing kelompok adalah

4 orang dan guru meminta siswa untuk memikirkan tema Naskah drama yang akan

ditulis. Kedua, siswa memikirkan tema Naskah drama yang akan ditulis dan

memilih pasangan untuk menceritakan pengalaman yang pernah dialami yang

berkaitan dengan tema yang dipilih. Ketiga, siswa secara berpasangan akan berbagi

pengalaman yang pernah dialami yang berkaitan dengan tema masing-masing.

Kemudian masing-masing siswa menulis Naskah drama berdasarkan pengalaman

dari pasangan sesuai dengan tema yang di tentukan. Keempat, kedua pasangan

bertemu kembali dalam kelompok berempat. Kelima, siswa mempunyai

kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat dan

mengevaluasi kekurangan Naskah drama masing-masing secara berkelompok.


27

B. Penelitian yang Relevan

Penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini telah dilakukan

oleh Wulandari (2014) berjudul Kemampuan Menulis Naskah Drama Dengan

Menggunakan Teknik Pemodelan Siswa Kelas XI SMA Negeri 4 Pariaman”.

Dalam penelitian ini disimpulkan (a) kemampuan siswa dalam menyesuaikan

tema dengan naskah drama berada pada kategori baik, dengan persentase

56,66%, (b) kemampuan siswa dalam mendeskripsikan tokoh berada pada

ketegori cukup baik, dengan persentase 50%, (c) kemampuan siswa dalam

mendeskripsikan alur dalam naskah drama berada pada kategori baik, dengan

persentase 40%, dan (d) kemampuan siswa dalam mendeskripsikan gaya bahasa

dalam naskah drama berada pada kategori tidak tergambar (baik) dengan

persentase 56,66%. Secara keseluruhan dari aspek tema, tokoh, alur, dan gaya

bahasa tersebut, nilai rata-rata dari kategori sangat tergambar berjumlah 40,62%,

cukup tergambar 19,16%, kurang tergambar berjumlah 11,66%, dan tidak

tergambar berjumlah 28,33%.

Kedua, Penelitian Mustofa (2012) yang judul penelitiannya yaitu “Kemampuan

Menulis Naskah Drama Siswa Kelas VIII SMPN 1 Ujungpangkah Kabupaten

Gresik Tahun Pelajaran 2011/2012”. Penelitian ini bertujuan untuk

mendeskripsikan kemampuan menulis naskah drama siswa kelas VIII SMPN 1

Ujungpangkah.. Hasil penelitian ini adalah keempat aspek yang diteliti, aspek

dialog yang mampu mencapai ≥ 75 (SKM). Aspek dialog mampu mencapai skor

rata-rata tertinggi yaitu 86,8 dan aspek alur mencapai skor rata-rata paling rendah

yaitu 58,9.
28

Penelitian lainnya yang relevan dengan penelitian ini juga dilakukan oleh

Asmawati (2014) berjudul “Kemampuan Menulis Naskah drama Siswa Kelas VIII

SMP Negeri 20 Padang dengan Menggunakan Media Cerpen” berdasarkan

penelitian yang telah dilakukan terhadap kemampuan menulis naskah drama siswa

kelas VIII SMPN 20 Padang dengan menggunakan media cerpen, dapat

disimpulkan sebagai berikut: Kemampuan menulis naskah drama siswa kelas VIII

SMPN 20 Padang dengan menggunakan media cerpen memperoleh rata-rata

sebesar 84,93 berada pada rentangan 75-85% berkualisifikasi baik (B). Nilai yang

diperoleh berkisar 66,7, artinya nilai terendah 66,7 dan yang tertinggi 100.

Kemampuan menulis naskah drama dengan menggunakan media cerpen, untuk

indikator 1 (menggambarkan latar) diperoleh nilai 33,33--100 dengan rata-rata

84,52, berada pada rentangan 76-85% kualisifikasi baik (B). siswa sudah mampu

menggambarkan latar dalam naskah drama yang ditulis. Kemampuan menulis

naskah drama dengan menggunakan media cerpen, untuk indikator 2 (tokoh)

diperoleh nilai 100 rentangan 96-100% berkualisifikasi sempurna (S). Siswa sudah

mampu menentukan tokoh dalam naskah drama yang ditulisnya. Kemampuan

menulis naskah drama dengan menggunakan media cerpen untuk indikator 3

(rangkaian peristiwa) diperoleh nilai 33,33-100 dengan rata-rata 70,23

berkualisifikasi lebih dari cukup (LDC). Siswa sudah mampu menghubungkan

rangkaian peristiwa sehingga melahirkan alur cerita dalam naskah drama yang

ditulis. Kemampuan siswa dalam menulis naskah drama berada pada kualisifikasi

baik (B) dengan nilai 84,93. Siswa sudah mampu menulis naskah drama dengan

menggunakan media cerpen.


29

Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh penelitian

sebelumnya. Perbedaan penelitian ini terletak pada sampel penelitian, variabel

penelitian. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 3 Solok Selatan.

Variabel penelitian ini adalah kemampuan menulis Naskah drama siswa las VIII

SMPN 3 Solok Selatan sebelum dan sesudah menggunakan model pembelajaran

tipe Think–Pair–Share (TPS) Sedangkan tujuan dalam penelitian ini adalah untuk

menganalisis kemampuan menulis menggunakan model pembelajaran kooperatif

tipe Think–Pair–Share (TPS) siswa kelas VIII SMPN 3 Solok Selatan.

Perbedaan lainnya yaitu pada penelitian pertama, menggunakan teknik

Pemodelan sedangkan penelitian ini menggunakan metode pembelajaran Think–

Pair–Share (TPS), penelitian kedua perbedaannya yaitu wilayah penelitian yaitu di

daerah Ujungpangkah Kabupaten Gresik sedangkan penelitian ini di lakukan di

wilayah Solok Selatan, pada penelitian ketiga peneliti menggunakan media cerpen

sedangkan pada penelitian ini peneliti menggunakan metode pembelajaran

Koperatif tipe Think–Pair–Share (TPS)

C. Kerangka Konseptual

Berdasarkan urutan kajian teori maka perlu rumuskan kerangka berfikir

dalam penelitian ini. Pada penelitian ini, penulis ingin melihat kemampuan menulis

naskah drama siswa dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe

Think-Pair-Share. Untuk lebih jelasnnya akan digambarkan dalam kerangka

konseptual sebagai berikut:


30

Kemampuan Menulis
Naskah drama

Model Pembelajaran
Kooperatif tipe Think–Pair–
Share (TPS)

Unsur Naskah drama

Indikator
1. Tokoh
2. Alur
3. Latar
4. Tema
5. Dialog
6. Amanat

“Kemampuan Menulis Naskah drama Siswa


Kelas VIII SMP N 3 Solok Selatan dengan
Menggunakan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Think – Pair – Share

Gambar 1. Kerangka Konseptual


31

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Menurut Arikunto (2002:

10), penelitian kuntitatif adalah penelitian yang banyak menggunakan angka, mulai

dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari

hasilnya. Penggunaan jenis dan metode penelitian disesuaikan dengan tujuan

penelitian ini, yaitu mendeskripsikan kemampuan siswa kelas VIII SMP N 3 Solok

Selatan dalam menulis Naskah drama dengan menggunakan Metode pembelajaran

kooperatif tipe Think – Pair – Share (TPS)

B. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.

Metode deskriptif digunakan untuk mengungkapkan gambaran atau tulisan secara

sistematis, aktual, dan akurat mengenai fakta objek yang akan diteliti serta

menganalisis data sehingga dapat diketahui gambaran tentang kemampuan menulis

Naskah drama kelas VIII SMP N 3 Solok Selatan dalam menulis Naskah drama

dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Think – Pair – Share

(TPS).

C. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah siswa kelas kelas VIII SMP N 3 Solok Selatan

yang terdaftar tahun ajaran 2017/2018. Jumlah siswa kelas VIII yang terdaftar pada

tahun ajaran tersebut adalah 180 orang siswa yang tersebar dalam 6 kelas. Penarikan

sampel dilakukan berdasarkan pendapat Arikunto (2002:117), yaitu pengambilan

sampel dilakukan dengan purposive sampling yang mengambil sampel bukan

22
32

didasarkan pada strata, random, atau daerah, tetapi didasarkan atas adanya tujuan

tertentu. Peneliti hanya mengambil satu kelas saja, yaitu kelas VIII.3 Alasan kelas

VIII.3 dipilih sebagai sampel penelitian karena kelas ini merupakan kelas yang

homogen, dilihat dari jenis kelamin dan nilai menulis Naskah drama yang

bervariasi.

D. Variabel dan Data

Menurut Arikunto (2010: 161), variabel adalah objek yang menjadi titik

perhatian dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini hanya satu variabel yaitu

kemampuan menulis naskah drama siswa kelas VIII SMP N 3 Solok Selatan dengan

menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Think – Pair – Share (TPS).

Data tersebut diperoleh dengan cara memberikan tes menulis Naskah drama kepada

siswa, tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menulis

Naskah drama dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think –

Pair – Share (TPS).

E. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes unjuk kerja.

Menurut Arikunto (2010:193) tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta

alat yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi,

keterampilan, atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Tes yang

digunakan dalam penelitian ini adalah tes unjuk kerja, yaitu tes menulis Naskah

drama. Tes ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Pembelajaran Kooperatif tipe

Think-Pair-Share terhadap keterampilan menulis naskah drama. Indikator yang

akan dinilai yaitu tokoh, alur, latar, tema, dialog.


33

F. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara; (1)

menjelaskan materi tentang naskah drama dan langkah-langkah Menulis naskah

drama yang baik dan benar yaitu sebagai berikut: Pertama, guru membagi siswa

dalam beberapa kelompok dengan anggota masing-masing kelompok adalah 4

orang dan guru meminta siswa untuk memikirkan tema Naskah drama yang akan

ditulis. Kedua, siswa memikirkan tema Naskah drama yang akan ditulis dan

memilih pasangan untuk menceritakan pengalaman yang pernah dialami yang

berkaitan dengan tema yang dipilih. Ketiga, siswa secara berpasangan akan berbagi

pengalaman yang pernah dialami yang berkaitan dengan tema masing-masing.

Kemudian masing-masing siswa menulis Naskah drama berdasarkan pengalaman

dari pasangan sesuai dengan tema yang di tentukan. Keempat, kedua pasangan

bertemu kembali dalam kelompok berempat. Kelima, siswa mempunyai

kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat dan

mengevaluasi kekurangan Naskah drama masing-masing secara berkelompok., (2)

memberikan kerangka dengan menggunakan teknik TPS, (3) menugasi sampel

menulis Naskah drama, dan (4) menilai tulisan sampel dengan menggunakan

lembaran pengamatan (rubrik) yang disusun berdasarkan kriteria yang telah

diterapkan.
34

G. Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan beberapa langkah. Langkah pertama

mengidentifikasi tulisan siswa apakah tulisan tersebut berupa Naskah drama atau

tidak. Langkah kedua menentukan skor kemampuan siswa menulis Naskah drama

menurut struktur Naskah drama. Untuk itu digunakan format sebagai berikut ini.

Untuk itu digunakan format sebagai berikut ini.

Tabel 3.
Dekriptor Penilaian Kemampuan Menulis Naskah Drama

Indikator Aspek Penilaian Skor

Tokoh Skor 1 diberikan jika siswa menggambarkan salah 1


satu dari penokohan (terdapat pemeran, fungsi
penampilan dan menggambarkan perwatakan).

Skor 2 diberikan jika siswa menggambarkan dua 2


dari penokohan (terdapat pemeran, penampilan
tokoh dan menggambarkan perwatakan).

Akor 3 diberikan jika siswa menggambarkan 3


semua penokohan (terdapat peran tokoh,
penampilan tokoh, dan menggambarkan
perwatakan).

Skor 1 diberikan jika siswa mengembangkan salah 1


satu dari kriteria alur (menunjukkan sebab akibat,
Alur menuturkan rangkaian peristiwa dan mengandung
konflik) dalam Naskah drama.

Skor 2 diberikan jika siswa mengembangkan dua 2


dari kriteria alur (menunjukkan sebab akibat,
menuturkan rangkaian peristiwa dan mengandung
konflik) dalam Naskah drama.

Skor 3 diberikan jika siswa telah menggambarkan 3


seluruh kriteria alur (menunjukkan sebab akibat,
menuturkan rangkaian peristiwa dan mengandung
konflik) dalam teks naskah drama.
35

Latar Skor 1 diberikan jika siswa menggambarkan salah 1


satu dari kriteria latar (gambaran tempat, waktu,
dan suasana) dalam Naskah drama.

Skor 2 diberikan jika siswa menggambarkan dua 2


dari kriteria latar (gambaran tempat, waktu, dan
suasana) dalam Naskah drama.

diberikan jika siswa menggambarkan semua 3


kriteria latar (gambaran tempat, waktu, dan
suasana) dalan Naskah drama.

Tema Skor 1 diberikan jika penulisan naskah drama 1


siswa terdapat 3 inti permasalahan yang tidak
sesuai dengan tema yang ditentukan.

Skor 2 diberikan jika penulisan naskah drama 2


siswa terdapat 2 inti permasalahan yang tidak
sesuai dengan tema yang ditentukan.

Skor 3 diberikan jika penulisan naskah drama yang 3


ditulis siswa terdapat seluruh inti permasalahan
yang sesuai dengan tema yang ditentukan.

Skor 1 diberikan jika siswa mengembangkan salah 1


Dialog satu dari penilaian kriteria dialog (melukiskan plot,
suasana, dan konflik) dalam drama.

Skor 2 diberikan jika siswa mengembangkan dua 2


dari penilaian kriteria dialog (melukiskan plot,
suasana, dan konflik) dalam drama.

diberikan jika siswa menggambarkan tiga kriteria 3


dialog (melukiskan plot, suasana, dan konflik)
dalam drama.

Langkah ketiga adalah pengolahan skor mentah yang diperoleh siswa

menjadi nilai dengan rumus berikut ini. (Abdurrahaman dan Ellya Ratna, 2003 :

264).
𝑆𝑀
∑𝑁 = 𝑋 𝑆 𝑚𝑎𝑥
𝑆1

Keterangan : N = tingkat penguasaan


SM = skor yang diperoleh
36

S1 = skor yang harus dicapai dalam satu tes


Smax = skala yang digunakan

Langkah empat menentukan klasifikasikan kelompok kemampuan untuk

mengklasifikasikan kemampuan tersebut digunakan Pilihan Acuan Patokan (PAP)

dengan skala 10. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada format ini: Abdurrahman

dan Ellya Ratna, (2003:264).

Tabel4 Penentuan Patokan dengan Perhitungan Persentase


Untuk Skala 10
Tingkat Penguasaan Nilai Ubahan Skala 10 Kualifikasi
96 - 100% 10 Sempura
86 – 95% 9 Baik Sekali
76 – 85% 8 Baik
66 – 75% 7 Lebih dari Cukup
56 – 65% 6 Hampir cukup
46 – 55% 5 Cukup
36 – 45% 4 Kurang
26 – 35% 3 Kurang sekali
16 -25% 2 Buruk
0 – 15% 1 Buruk sekali
Abdurrahman dan Ellya Ratna (2003:265)

Berdasarkan kualifikasi dan rentangan skor akan didapat frekuensi.

Kemudian untuk menetukannya menurut Abdurrahman dan Ellya Ratna (2003:270)

digunakan rumus sebagai berikut.

∑ 𝐹𝑋
M= 𝑁

Keterangan :
M = mean (rata-rata hitung)
f = frekuensi
x = skor (nilai yang diperoleh siswa)
N = jumlah siswa (sampel) Langkah keenam membuat histogram dan langkah
ketujuh membuat simpulan.
37

KEPUSTAKAAN

Abdurrahman dan Ellya Ratna. 2003. Evaluasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia. Padang: UNP.

Arikunto, Suharsimi. 2008. Dasar-dasar Evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi


Aksara.

Dalman, 2015.Penulisan Populer.Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Dalman. 2016. Keterampilan Menulis. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Endraswara, Suwardi. 2011. Metode Pembelajaran Drama. Yogyakarta: FBS


Universitas Negri Yogyakarta.

Hasanuddin WS. 2009. Drama Karya Dalam Dua Dimensi Kajian Teori, Sejarah
dan Analisis. Bandung: Angkasa.

Istarani. 2011. 58 Model Pembelajaran Inovatif. Medan: Media Persada.

Kusumaningsih, Dewi, dkk. 2013. Terampil Berbahasa Indonesia. Yogyakarta:


Andi.

Komaidi didik. 2007. Aku Bisa Menulis Panduan Praktis Menulis Kreatif.
Yogyakarta: Sabda Media.

Marselina. 2013. Pengaruh Penggunaan Tekink Pemodelan Terhadap Kemampuan


Menulis Naskah Drama Siswa Kelas VIII 3 SMPN Koto Solok. Skripsi.
Universitas Negeri Padang.

Mawadah, Mariratul. 2014. “Perbedaan Kemampuan Menulis Naskah Drama


dengan Model Pembelajaran Kontekstual Tipe Pemodelan Dan
Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC Pada Siswa Kelas IX SMP N 2
Malalak”. Tesis. Padang: Program Pascasarjana Universitas Negeri
Padang.
Istarani. 2012. 58 Model Pembelajaran Inovatif. Medan: Perpustakaan Nasional
Republik Indonesia

Nurhadi. 2004. Pembelajaran Konstekstual (Context Acing And Learning/CTL)


Dan Penerapannya Dalam KBK. Malang:Universitas Negeri Malang.

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif- Progesif. Jakarta :


Kencana.

Mulyadi, Yadi. Dkk. 2016. Intisari Sastra Indonesia. Bandung: Yrama Widya.
38

Nurjamal, Daeng. Dkk. 2013.Terampil Berbahasa.Bandung: Alfabet.

Purwono, Joni dkk. 2014. Penggunaan Media Audio Visual Pada Mata Pelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam Di Sekolah Menengah Pertama Negri 1
Pencitan. Jurnal Teknologi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 2,
ISSN: 2354-641.

Rosidi, Imron, 2009. Menulis siapa takut. Yogyakarta: Kanisius.


Semi, M. Atar. 2003. Menulis Efektif. Padang: UNP Press.

Semi, M. Atar. 2008. Stilistika Sastra. UNP Press.

Shoimin, Aris. 20014. 68 Model Pembelajaran Inovatif Dalam Kurikulum 2013.


Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabet

Usman, Basyiruddin dan Anawir. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat


Pers.

Waluyo, J. Herman. 2002. Drama Teori dan Pengajarannya.Yogyakarta:


Hanindita Graha Widya.