Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bahan ajar secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan
sikap yang harus dipelajari peserta diklat dalam rangka mencapai standar
kompetensi yang telah ditentukan. Materi jenis prosedur merupakan materi
yang berkenaan dengan langkah-langkah yang harus diikuti secara sistematis
atau berurutan dalam mengerjakan suatu tugas. Misalnya langkah-langkah
mengoperasikan peralatan komputer dan sebagainya. . Materi jenis sikap
(afektif) adalah materi yang berkenaan dengan sikap atau nilai, misalnya nilai
kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar,
semangat bekerja, dsb. Berkenaan dengan penentuan bahan ajar ini, secara
umum masalah dimaksud meliputi cara penentuan jenis materi, kedalaman,
ruang lingkup, urutan penyajian, perlakuan terhadap bahan ajar, dsb. Masalah
lain yang berkenaan dengan bahan ajar adalah memilih sumber di mana bahan
ajar itu didapatkan. Ada kecenderungan sumber bahan ajar dititikberatkan
pada buku. Padahalbanyak sumber bahan ajar selain buku yang dapat
digunakan. Bukupun tidak harus satu macam dan tidak harus sering berganti
seperti terjadi selama ini. Berbagai buku dapat dipilih sebagai sumber bahan
ajar. Termasuk masalah yang sering dihadapi pengajar berkenaan dengan
bahan ajar adalah pengajar memberikan bahan ajar atau bahan ajar terlalu luas
atau terlalu sedikit, terlalu mendalam atau terlalu dangkal, urutan penyajian
yang tidak tepat, dan jenis materi bahan ajar yang tidak sesuai dengan
kompetensi yang ingin dicapai oleh peserta diklat. Sehubungan dengan itu,
perlu disusun rambu-rambu pemilihan dan pemanfaatan bahan ajar untuk
membantu pengajar agar mampu memilih bahan ajar atau bahan ajar dan
memanfaatkannya dengan tepat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat ditenttukan rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Darimana Sumber-sumber bahan pelajaran?
2. Bagaimana Masyarakat?
3. Bagaimana masyarakat dekat dan jauh?
4. Bagaimana sumbangan ahli-ahli ilmu social
5. Bagaimana kurikulum dan kebudayaan?
6. Bagaimana perubahan masyarakat
7. Bagaimana kurikulum dan pengatahuan
8. Apakah pengetahuan?
9. Bagaimana tingkat pengetahuan?
10. Bagaimana struktur disiplin dan struktur mental?
11. Bagaimana seleksi bahan pelajaran?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat ditenttukan tujuan
penulisan adalah untuk mengetahui sebagai berikut:
1. Sumber-sumber bahan pelajaran
2. Masyarakat
3. masyarakat dekat dan jauh
4. sumbangan ahli-ahli ilmu social
5. kurikulum dan kebudayaan
6. Perubahan masyarakat
7. Kurikulum dan pengatahuan
8. Pengetahuan
9. Tingkat pengetahuan
10. Struktur disiplin dan struktur mental
11. Seleksi bahan pelajaran
12. BAB II
PEMBAHASAN

A. Sumber-Sumber Bahan Pelajaran


Untuk menentukan bahan pelajaran dalam pengembangan kurikulum pada
hakikatnya nya ada tiga sumber yakni:
1. Masyarakat dan kebudayaannya
2. Anak dengan minat serta kebutuhannya
3. Pengetahuan yang telah dikumpulkan oleh umat manusia sebagai hasil
pengalamannya dan telah disusun secara sistematis oleh para ilmuwan
dalam sejumlah disiplin ilmu.
Ketiga sumber itu harus digunakan dalam proporsi yang seimbang. Namun
selalu ada kemungkinan bahwa salah satu sumber lebih diutamakan,
bergantung pada tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Salah satu hal yang
paling pelik sejak dulu ialah keseimbangan antara kepentingan masyarakat
atau negara dan kepentingan individu. (Nasution, 2003)
Sering kita dengar istilah sumber belajar, orang juga banyak yang telah
memanfaatkan sumber belajar, namun umumnya yang diketahui hanya
perpustakaan dan buku sebagai sumber belajar. Padahal secara tidak terasa
apa yang mereka gunakan, orang, dan benda tertentu adalah termasuk sumber
belajar. Sumber belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan
disimpan dalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu siswa dalam
belajar sebagai perwujudan dari kurikulum. Bentuknya tidak terbatas apakah
dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi dari
berbagai format yang dapat digunakan oleh peserta diklat, ataupun pengajar.
Sadiman mendefinisikan sumber belajar sebagai segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk belajar, yakni dapat berupa orang, benda, pesan, bahan,
teknik, dan latar (Sadiman, Arief S., Pendayagunaan Teknologi Informasi dan
Komunikasi untuk Pengajaran, makalah, 2004). Menurut Association for
Educational Communications and Technology (AECT, 1977), sumber belajar
adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh pengajar, baik
secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar
mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan
pengajaran.Dengan demikian maka sumber belajar juga diartikan sebagai
segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung
informasi dapat digunakan sebagai wahana bagipeserta didik untuk
melakukan proses perubahan tingkah laku. Dari pengertian tersebut maka
sumber belajar dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu dimana saja seseorang
dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku maka
tempat itu dapat dikategorikan sebagai tempat belajar yang berarti
sumber belajar, misalnya perpustakaan, pasar, museum, sungai,
gunung, tempat pembuangan sampah, kolam ikan dan lain
sebagainya.
b. Benda yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan
tingkah laku bagi peserta diklat,, maka benda itu dapat dikategorikan
sebagai sumber belajar.
c. Orang yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu di mana
peserta diklat,dapat belajar sesuatu, maka yang bersangkutan dapat
dikategorikan sebagai sumber belajar.
d. Bahan yaitu segala sesuatu yang berupa teks tertulis, cetak, rekaman
elektronik, web, dll yang dapat digunakan untuk belajar.
e. Buku yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri
oleh peserta diklat, dapat
dikategorikan sebagai sumber belajar.
f. Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi, misalnya peristiwa
kerusuhan, peristiwa bencana, dan peristiwa lainnya yang pengajar
dapat menjadikan peristiwa atau fakta sebagai sumber belajar.
(Sutrisno, 2013)
Sumber belajar akan menjadi bermakna bagi peserta diklat maupun
pengajar apabila sumber belajar diorganisir melalui satu rancangan yang
memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar.
Jika tidak maka tempat atau lingkungan alam sekitar, benda, orang, dan atau
buku hanya sekedar tempat, benda, orang atau buku yang tidak ada artinya
apa-apa. Dari uraian tentang pengertian sumber belajar di atas, dapat
disimpulkan bahwa bahan ajar merupakan bagian dari sumber belajar. Bahan
ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu pengajar/
instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang
dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
Bahan ajar atau teaching-material, terdiri atas dua kata yaitu teaching atau
mengajar dan material atau bahan. Melaksanakan pengajaran diartikan
sebagai proses menciptakan dan mempertahankan suatu lingkungan belajar
yang efektif. Buku dapat digunakan sebagai bahan rujukan, atau dapat
digunakan sebagai bahan tertulis yang berbobot. Secara singkat dapat
dikatakan bahwa bahan ajar merupakan seperangkat materi/substansi
pengajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis,
menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta diklat,
dalam kegiatan pengajaran. Dengan bahan ajar memungkinkan peserta diklat,
dapat mempelajari suatu kompetensi secara runtut dan sistematis sehingga
secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan
terpadu. (Sutrisno, 2013)
Lebih lanjut disebutkan bahwa bahan ajar berfungsi sebagai:
a. Pedoman bagi pengajar yang akan mengarahkan semua aktivitasnya
dalam proses pengajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi
yang seharusnya diajarkan kepada peserta diklat.
b. Pedoman bagi peserta diklat yang akan mengarahkan semua
aktivitasnya dalam proses pengajaran, sekaligus merupakan
substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya.
c. Alat penguasaan hasil pengajaran

B. Masyarakat
Fungsi sekolah erat hubungannya dengan kebutuhan masyarakat. Sekolah
Sejak mulanya didirikan oleh masyarakat untuk kepentingan masyarakat demi
kelanjutan hidup, perkembangan dan kebahagiaan masyarakat. Karena itu
diusahakan agar kurikulum relevan dengan kebutuhan masyarakat. Relevansi
juga merupakan salah satu patokan penting dalam pengembangan kurikulum
kita. (Nasution, 2003)
Dia pendidik yang mencampuri persekolahan akan mempunyai pandangan
masing-masing apa yang harus diajarkan agar anak-anak yang dididik akan
menjadi manusia yang berguna dalam masyarakat. diantaranya ada beberapa
tokoh yang terkenal tentang cara meningkatkan relevansi kurikulum.
(Nasution, 2003)
Lebih dari 100 tahun yang lalu Herbert Spencer 1860 telah mengajukan
pertanyaan yang hingga kini masih berlaku " What Knowledge is of most
worth worth" ia berpendapat bahwa yang paling perlu diajarkan di sekolah
adalah hal-hal yang berkenaan dengan:
1. Self-preservation, usaha menjaga kelangsungan hidup individu, misalnya
menjaga kesehatan, soal makanan, melindungi diri terhadap pengaruh
alam, bahaya, kejahatan dan sebagainya.
2. Securing the necessities of Life, usaha mencari nafkah, untuk menutupi
kebutuhan hidup, mempelajari keterampilan untuk melakukan pekerjaan
tertentu, dan sebagainya.
3. Rearing a family, memelihara keluarga, mendidik anak.
4. Maintaining proper social and political relationship. Memelihara hubungan
sosial dan politik yang baik.
5. Enjoying life is short time, menikmati waktu senggang.

Salah seorang tokoh yang berpengaruh dalam mencari relevansi


pendidikan dengan masyarakat ialah Franklin bobbit. Ia berusaha secara
ilmiah mengembangkan kurikulum. Cara ini hingga sekarang pada prinsipnya
masih dilakukan. Bobbit berpendapat bahwa sekolah harus mendidik anak
agar menjadi manusia dewasa dalam masyarakat. Maka karena itu sudah
sewajarnya diadakan analisis yang sistematis tentang apakah yang dilakukan
oleh orang dewasa dalam masyarakat. Itulah yang harus diajarkan di sekolah
agar kurikulum benar-benar relevan ia ia menemukan sejumlah kegiatan
utama dalam kehidupan manusia yakni:
1. Kegiatan bahasa: Inter komunikasi sosial
2. Kegiatan kesehatan
3. Kegiatan kewarganegaraan
4. Kegiatan sosial umumnya, bergaul dan bercampur dengan orang lain.
5. Kegiatan waktu, senggang menikmati rekreasi
6. Usaha menjaga kesegaran rohani sejalan dengan usaha menjaga kesegaran
jasmani
7. Kegiatan Religius
8. Kegiatan orang tua, membesarkan anak, memelihara kehidupan keluarga
yang sehat.
9. Kegiatan praktis yang bersifat tak vokasional dan khas
10. Melakukan pekerjaan sesuai dengan bakat seseorang.
Setiap kegiatan dapat dibagi lagi dalam bagian-bagian yang lebih
terperinci yang dapat dituangkan ke dalam tujuan tujuan yang lebih spesifik.
Dengan demikian babi juga memberikan suatu teknik tentang cara
pengembangan kurikulum, yang hingga sekarang banyak dilakukan, antara
lain dalam pengembangan kurikulum menurut PPSI di Indonesia. (Nasution,
2003)
Teknik itu juga diterapkan oleh W.W Charters untuk pengembangan
kurikulum pendidikan profesi atau pekerjaan tertentu dengan menganalisis
kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam Jabatan itu dengan demikian dapat
diperoleh kurikulum yang efektif efisien dan relevan untuk pendidikan
jururawat, sekretaris, jurutik, pramugari, pelayan, dan sebagainya. Juga untuk
pendidikan guru dapat dijalankan prosedur itu hingga diketahui Apa yang
harus dilakukan guru yang efektif. Demikianlah timbul ide pendidikan guru
berdasarkan kompetensi. Relevansi pendidikan dengan kehidupan masyarakat
juga merupakan dasar pemikiran kurikulum yang menggunakan fungsi-fungsi
sosial atau meja rias of living yang diajarkan adalah hal-hal yang berkenaan
dengan pusat pusat kegiatan manusia dalam hidupnya antara lain:
1. Perlindungan pelestarian hidup harta dan kekayaan alam.
2. Produksi barang dan jasa serta distribusi hasil hasil produksi.
3. Konsumsi barang dan jasa
4. Komunikasi dan transportasi barang dan manusia.
5. Rekreasi
6. ekspresi rasa keindahan
7. Ekspresi rasa keagamaan
8. Pendidikan
9. Perluasan kebebasan.
10. Integrasi pribadi individu
11. Eksplorasi
Boleh dikatakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia,
dimanapun dan kapanpun, telah tercakup dalam pusat-pusat kegiatan itu.
Walaupun zaman berubah namun pada prinsipnya kegiatan itu sama.
Hubungan erat yang diinginkan dalam kurikulum juga diusahakan dalam
kurikulum yang berdasarkan Apa yang disebut persistent Life situation yaitu
situasi situasi dan masalah-masalah dan masalah-masalah hidup yang
dihadapi manusia sepanjang masa seperti halnya dengan pendekatan dengan
pendekatan Major areas of living terdahulu. Dengan persistent Life situation
dimaksud situasi situasi yang persisten ya itu yang senantiasa muncul kembali
dalam hidup manusia.
Sejak ada manusia di dunia ini berusaha melindungi diri dari bahaya yang
datang dari lingkungannya. Kalau dahulu ia tinggal di tinggal di ia tinggal di
tinggal di dalam gua, mempertahankan diri dengan tombak, kini ia tinggal
dalam rumah yang dapat dihangatkan atau didinginkan, dilindungi oleh polisi
tentara yang menggunakan senjata mutakhir. (Nasution, 2003)
Persistent Life situation ini situation ini berkenaan dengan:
1. Perkembangan individu dalam aspek fisik, intelektual, moral, dan estetis.
2. Perkembangan sosial, yakni hubungan antar individu, antar individu
dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok.
3. Perkembangan kemampuan menghadapi pengaruh lingkungan yakni gejala
gejala alamiah, sumber-sumber teknologi, dan pengaruh pengaruh, dan
pengaruh ekonomi sosial politik.
Tidak ada kurikulum di negara manapun yang tidak memperhitungkan
faktor masyarakat sebagai pokok pertimbangan penting dalam pengembangan
kurikulum nya, sesuai dengan masyarakat yang dicita-citakan. Kurikulum kita
di Indonesia kita harapkan agar dapat membentuk warga negara sesuai
falsafah Pancasila yang mampu dan bersedia memberikan sumbangan kepada
pembangunan bangsa dan negara kita.

C. Masyarakat Dekat Dan Jauh


Masyarakat dapat merupakan lingkungan dekat tempat sekolah itu berada
yang mempunyai ciri-ciri tersendiri mengenai letak geografis, penduduk adat
istiadat, mata pencaharian, sejarah dan sebagainya. Pengenalan tentang
lingkungan dekat sangat berharga bagi anak sebagai dasar untuk mengenal
lingkungan yang lebih luas. Lingkungan dekat senantiasa merupakan sumber
yang kaya bagi para bagi kegiatan dan pengalaman belajar.
Selain masyarakat dekat itu kurikulum juga dipengaruhi oleh masyarakat
yang lebih luas yakni nasional, bahkan internasional. Kemerdekaan Indonesia
mempercepat hubungan antar pulau dan antar suku menuju ke arah persatuan
dan kesatuan. Perkembangan teknologi, khususnya komunikasi dan
transportasi menjadikan segala jarak dan meningkatkan hubungan dan saling
ketergantungan antar bangsa. (Nasution, 2003)
D. Sumbangan Ahli-Ahli Ilmu Sosial
Secara teoritis mudah dipahami bahwa kurikulum harus
relevan dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Dalam
praktek ternyata bahwa masalah ini sangat pelik. Masalah
masyarakat banyak diselidiki oleh ahli-ahli ilmu sosial seperti
sosiologi, antropologi, psikologi, psikologi sosial. Masing-masing
meneliti aspek-aspek tertentu dari masyarakat sambil
menggunakan istilah-istilah profesional yang tidak selalu mudah
dipahami oleh penganut disiplin lain. Gambaran yang mereka
berikan hanya sebagian sebagian, sedangkan pendidikan
memerlukan gambaran keseluruhan dari masyarakat. Selain itu
tidak selalu ilmu-ilmu sosial itu memberi gambaran yang sama
sekalipun mengenai aspek yang sama karena meninjaunya dari
titik pandangan dan kerangka konsep yang berbeda-beda. Maka
sukarlah bagi para pendidik untuk mencari penerapan hasil
penelitian ahli ilmu sosial itu dalam pengembangan kurikulum.
Educator searching for Let's Marvin Perry stroke Memories Of
concept and ideas In White brand of social disiplines, each
embedded in specialized thought system and a specialized
language. (Nasution, 2003)
E. Kurikulum Dan Kebudayaan
Umumnya dikatakan bahwa kurikulum harus relevan dengan kebudayaan
masyarakat Tempat pendidikan itu berlangsung, bahwa isi kurikulum
ditentukan berdasarkan analisis kebudayaan masyarakat. Melalui pendidikan
anak-anak menyerap unsur-unsur kebudayaan kebudayaan berkat proses
akulturasi atau sosialisasi agar mereka dapat hidup memenuhi cara-cara yang
diinginkan oleh masyarakat.
Walaupun pada umumnya dasar penentuan kurikulum itu mudah diterima,
masalahnya menjadi Kompleks Bila ditinjau lebih lanjut. Kebudayaan
mempunyai tafsiran yang bermacam-macam. Sukardi berikan satu rumusan
yang dapat diterima oleh semua. Kebudayaan dapat ditafsirkan sebagai segala
aspek cara hidup masyarakat tertentu, dapat juga dipandang sebagai hasil
terbaik masyarakat berupa kesusastraan dan kesenian.
Dalam masyarakat yang pluralistik sukar menentukan kebudayaan yang
sama sehingga timbul masalah apakah yang dianggap kebudayaan sama itu
tidak akan dianggap asing oleh masyarakat yang berbeda kebudayaannya.
Hingga manakah kebudayaan sama itu dimasukkan ke dalam kurikulum
dalam kurikulum dimasukkan ke dalam kurikulum dalam kurikulum
kurikulum merupakan masalah yang tidak selalu mudah dipecahkan.
F. Perubahan Masyarakat
Kesulitan lain timbul karena perubahan yang terjadi di dalam masyarakat,
khususnya atas pengaruh perkembangan teknologi yang serba cepat.
Kemajuan teknologi yang mempermudah komunikasi dan transportasi antar
bangsa membawa perubahan dalam segala aspek kebudayaan. Disamping itu
kemajuan teknologi menciptakan kota-kota Metropolitan, dimana manusia
mudah kehilangan identitasnya dan makna hidupnya. Teknologi juga
memberikan kepada manusia daya luar biasa berupa tenaga atom yang dapat
digunakan untuk memakmurkan atau menghancurkan umat manusia. Dalam
keadaan yang serba dinamik itu sukar menentukan
Perubahan-perubahan dalam masyarakat menambah kepelikan dalam
pendidikan dan pengembangan kurikulum. Kita harus mendidik anak yang
makin asing bagi kita untuk masa depan yang tak kita kenal. Konflik-konflik
nilai-nilai yang dilahirkan menimbulkan keragu-raguan pada para pendidik
mengenai nilai-nilai yang dianutnya dan yang diterimanya dari masa lampau.
Orang tua dan guru tak dapat lagi di terima murid murid sekarang sebagai
model kepribadian, atau sebagai suri tauladan, karena segera dicap sebagai
koloid dan tidak mengikuti zaman kini.
Sebaliknya pengaruh mass Media Media Media dan teman sebaya
bertambah besar. Kepribadian generasi muda yang dipengaruhi zaman
modern ini akan berbeda sekali dengan apa yang dialami generasi tua
sehingga terjadi kesenjangan antara kedua generasi itu. Menjadi persoalan
dalam pengembangan kurikulum hingga manakah aspirasi generasi muda
perlu dipertimbangkan agar ada maknanya bagi mereka.
G. Kurikulum dan Pengetahuan
Orang tua mengirimkan anak ke sekolah agar anak itu memperoleh
sejumlah pengetahuan. Rasanya tak dapat dibayangkan sekolah tanpa
pengetahuan. Pengetahuan apa yang paling berharga yang perlu diajarkan
kepada murid-murid?
Kemampuan manusia untuk mencari dan memperoleh pengetahuan baru
sungguh mengagumkan. Menurut para ilmuwan dalam sejumlah disiplin
ilmu, pengetahuan berlipat ganda dalam kurun waktu 10 tahun. Anak yang
lahir sekarang akan menghadapi pengetahuan yang 4 kali lipat banyaknya bila
ia lulus perguruan tinggi dan bila ia berusia 50 tahun pengetahuan akan 30
kali lipat banyaknya bila dibandingkan dengan waktu Ia lahir. Seorang yang
lulus perguruan tinggi 20 tahun yang lalu mungkin tidak akan sanggup lagi
menempuh ujian SMA sekarang. Membludaknya pengetahuan dengan
kecepatan yang luar biasa itu dikenal sebagai ledakan atau eksplosi
pengetahuan. Eksplosi ini tidaknya berarti bertambahnya atau menumpuknya
pengetahuan, melainkan juga timbulnya disiplin-disiplin baru dalam ilmu
pengetahuan yang memberi orientasi Baru terhadap pengetahuan.
H. Apakah Pengetahuan?
Apakah sebenarnya pengetahuan itu tidak mudah dijawab. Apa artinya kita
tahu akan sesuatu, bawa apa yang kita ketahui itu benar dan bukan Fantasi,
terkaan atau kepercayaan. Maka apakah pengetahuan menjadi sama dengan
Apakah kebenaran. Pengetahuan harus benar. Bagaimanakah memperoleh
kebenaran merupakan pemikiran bagi berbagai aliran falsafah.
Aliran rasionalisme beranggapan bahwa pengetahuan yang benar hanya
dapat diperoleh berkat intelek pikiran atau rasio. Penganut aliran ini
meragukan informasi yang di peroleh melalui alat Dria. Apa yang diamati
mungkin keliru karena alat Ria tak dapat di percaya sepenuhnya. Pengetahuan
yang sebenarnya berada di bidang atau di atas apa yang diamati. Bahkan
adanya kebenaran itu lepas dari keberadaan manusia. Pengetahuan yang benar
hanya dapat dikenal melalui rasio atau intelek murni. Untuk mencapai
pengetahuan kita harus melampaui mentransenden kondisi Kita sebagai
manusia. Di dunia ini kita hanya dapat melihat bayangan kebenaran. Plato
dan Aristoteles merupakan pelopor aliran rasionalisme ini.
Sebaliknya aliran empirisme yang merupakan reaksi terhadap mistisisme
rasionalisme, berpendirian bahwa pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui
alat Dria. Aliran empiris ini dipelopori oleh John Locke. Memang diakui
bahwa alat Dria tidak sepenuhnya dapat dipercaya seperti yang dikemukakan
oleh aliran rasionalisme. Maka karena itu pengetahuan yang diperoleh
melalui alat Dria tidak bersifat mutlak akan tetapi tentatif.
Pendapat bahwa pengetahuan manusia bersifat tentatif atau sementara juga
dianut oleh aliran pragmatisme Yang disuarakan oleh John dewey.
Pengetahuan bersifat tentatif, hipotesis dan karena itu dapat senantiasa
berubah, diperbaiki, atau dikembangkan. Pengetahuan dapat disampaikan
dengan pengalaman, yang senantiasa dapat disempurnakan. Belajar adalah
rekonstruksi pengalaman. Tiap orang harus mengembangkan pengalamannya
sendiri yang mungkin berbeda dengan orang lain termasuk guru. Namun John
dewey tidak dapat menerima bahwa pengetahuan itu semuanya bersifat
personal, subjektif. Ia berpendapat bahwa pengetahuan yang diperoleh
dengan metode ilmiah, walaupun tidak bersifat mutlak dan permanen, dapat
dianggap objektif dan pada saat tertentu dapat diterima oleh semua orang.
Pendirian yang berbeda-beda tentang hakikat pengetahuan atau
epistimologi kurang dianggap oleh Para pengembang kurikulum sebagai
pegangan yang mantap untuk menentukan apa yang akan diajarkan. Maka
harus digunakan dasar yang lain untuk menentukan pengetahuan Apa yang
sebaiknya dimasukkan ke dalam kurikulum. Itu misalnya dapat dicari dengan
menganalisis kebutuhan dan hakikat perkembangan anak, atau analisis
masyarakat dan kebudayaan.
I. Tingkat Pengetahuan
Tidak semua pengetahuan mempunyai nilai yang sama bagi pendidikan.
Pengetahuan dapat digolongkan dalam berbagai tingkatan. Makin tinggi
tingkatannya makin besar nilainya. Hilda Taba memindahkan tingkatan
pengetahuan sebagai berikut:
1. Fakta khusus, jumlah pengikut sipenmaru tahun 1985 berjumlah kira-kira
900.000 orang. Pengetahuan ini mempunyai tingkat abstraksi yang paling
rendah dan karena itu lekas menjadi usang. Pengenalan ini tidak mampu
menghasilkan pengetahuan baru dan tidak mendorong orang untuk
berpikir. Namun pengetahuan berupa fakta dan informasi nilai yang paling
banyak diajarkan melalui hafalan dan latihan. Ujian dan tes terutama
didasarkan atas bahan serupa ini karena mudah dan cepat dinilai, kalau
perlu dengan menggunakan komputer mengingat Besarnya jumlah
pengikut.
2. Ide-ide pokok, prinsip-prinsip generalisasi menguasai ide-ide pokok
memungkinkan kita memahami dan menjelaskan sejumlah gejala spesifik
atau sejumlah bahan pelajaran.
3. Konsep. Bagi Hilda Taba Konsep ini lebih tinggi daripada ide pokok.
Konsep ini memakan waktu yang lebih lama untuk dikembangkan dan
dipahami sepenuhnya seperti konsep kebudayaan demokrasi, perubahan
sosial.
4. Sistem pemikiran, dan metode penelitian, metode merumuskan pertanyaan
menurut disiplin ilmu tertentu, cara-cara logis untuk melihat hubungan
antara berbagai ide. Tiap disiplin mempunyai cara atau sistem berpikir
sendiri, mempunyai caranya tersendiri memandang dan mengorganisasi
gejala-gejala tertentu..
J. Struktur Disiplin dan Struktur Mental
Jerome S bruner menganjurkan agar dalam mempelajari suatu disiplin
atau mata pelajaran diutamakan penguasaan struktur disiplin ilmu itu. Dengan
struktur dimaksud prinsip prinsip atau ide ide fundamental disiplin itu
memahami struktur berarti memahami hubungan dalam bahan mata pelajaran
itu. Struktur itu memungkinkan transfer yakni penggunaan dalam situasi-
situasi lain dan juga membantu murid untuk mengingatnya. Sedapat mungkin
struktur itu tidak disuruh hafal akan tetapi ditemukan sendiri oleh murid.
Setiap orang mempunyai suatu struktur mental yang senantiasa
dikembangkannya dalam interaksinya dengan lingkungan. Iya memahami
dunia ini berdasarkan struktur mentalnya. Pada suatu saat dengan struktur
mentalnya itu Ia tidak mampu memahami aspek-aspek tertentu dari
lingkungannya. Maka perlulah ia mengubah atau mengakomodasi struktur
mentalnya itu sehingga mampu pula memahami hal-hal baru dari lingkungan
itu. Jadi struktur mental itu senantiasa dapat dikembangkan oleh individu
sesuai dengan perkembangan intelektualnya dari taraf sensoris, pra
operasional sampai taraf operasional formal.
Ada anggapan bahwa struktur mental itu dapat dibentuk oleh struktur
disiplin ilmu. Pada anak akan terbentuk misalnya kemampuan berpikir
matematis atas pengaruh struktur matematika yang dipelajarinya. Namun
kemudian diadakan revisi pandangan itu dengan menerima pendirian Piaget
bahwa pada hakekatnya individu itu sendiri lah yang membentuk struktur
mentalnya yang membentuk struktur mentalnya sendiri berdasarkan
kemampuan dan kreativitasnya sendiri sendiri. Dalam proses itu disiplin ilmu
dapat membantu namun individu itu juga mengembangkannya dalam
menghadapi masalah masalah personal sosial dalam hidupnya bersifat
interdisipliner atau multidisipliner. Maka disiplin ilmu bukanlah satu-satunya
jalan untuk mengembangkan struktur mental individu. Dengan demikian
disiplin ilmu tidak perlu diberikan kedudukan yang begitu berkuasa seperti
halnya pada tahun 60-an.
K. Seleksi bahan pelajaran
Memilih bahan yang sebaiknya diajarkan senantiasa merupakan
masalah yang berat. Kesulitannya ialah menentukan kriteria yang dapat
disetujui bersama. Ada kemungkinan bahan pelajaran tidak ditentukan secara
rasional akan tetapi oleh tokoh atau golongan yang berkuasa mempunyai
pertimbangan sendiri. Kesulitan lain ialah eksplosi pengetahuan yang
berlangsung dengan tempo yang kian hari kian cepat sehingga tidak ada
pengetahuan konvensional yang berlaku lama.
Perkembangan dunia yang dinamis menimbulkan hal-hal baru yang
dianggap perlu diajarkan kepada anak-anak seperti soal narkotika. Sex,
ekologi, Keluarga Berencana, bahaya lalu lintas dan sebagainya. Juga syarat-
syarat untuk mencari pekerjaan dan menghadapi situasi situasi baru dalam
dunia modern ini bertambah berat sehingga bahan pelajaran perlu diperluas
dan diperdalam. Akhirnya kemampuan anak untuk belajar walaupun terbatas
dapat ditingkatkan dengan kemajuan yang dicapai oleh teknologi pendidikan
modern.
Perlu pula dipertimbangkan agar bahan pelajaran yang disajikan dengan
merupakan gado-gado ini kumpulan pengetahuan yang lepas lepas akan tetapi
saling berhubungan dapat membantu anak menghadapi masalah-masalah
dalam hidupnya.
Untuk menentukan bahan pelajaran perlu adanya kriteria yang
didasarkan atas prioritas. Bagaimana menentukan prioritas ini tidak mudah.
Setiap ahli atau sarjana akan dapat menunjukkan pentingnya disiplin ilmunya
masing-masing. Jadi suka menentukan prioritas disiplin disiplin ilmu.
Prioritas itu juga bergantung pada keadaan masyarakat secara politik,
ekonomi, sosial. pada saat perlunya konsolidasi bangsa akan diberi prioritas
lain bila negara itu telah mantap dan berada pada tahap pengembangan
industri. Juga perlu dipertimbangkan apakah yang akan diutamakan proses
berpikir, atau bahan pelajaran, isi atau produk.
Hilda Taba memberikan kriteria yang berikut tentang bahan yang
diajarkan.
1. Bahan itu harus sahih (valid) dan berarti (significant)
2. Bahan harus relevan dengan kenyataan sosial dan kultural agar anak-anak
lebih mampu memahami dunia tempat hidup serta perubahan perubahan
yang terus-menerus terjadi.
3. Bahan pelajaran itu harus mengandung keseimbangan antara keluasan dan
kedalaman.
4. Bahan pelajaran harus mencakup berbagai ragam tujuan bila pelajaran
dapat sekaligus mencapai tujuan berupa pengetahuan, sikap, keterampilan
berpikir, dan kebiasaan.
5. Bahan pelajaran harus dapat disesuaikan dengan kemampuan murid untuk
mempelajarinya dan dapat dihubungkan dengan pengalamannya.
6. Bahan pelajaran dari sesuai dengan kebutuhan dan minat belajar.
Kurikulum yang semata-mata didasarkan atas kebutuhan dan minat
anak seperti terjadi dalam kurikulum yang Child center terbukti berat sebelah.
Di lain pihak faktor anak dapat diabaikan dalam pengembangan kurikulum.
Kriteria yang dikemukakan oleh Ronald cendol banyak miripnya
dengan apa yang dikemukakan oleh Hilda Taba. Sebagai kriteria
dikemukakannya:
1. Validitas dan signifikansi bahan
2. Balance atau keseimbangan antara bahan untuk survei dan untuk studi
pendalaman
3. Kesesuaian bahan dengan kebutuhan dan minat belajar
4. Pemantapan bahan yakni yang tidak segera Usang tidak segera Usang
yang tidak segera Usang tidak segera Usang
5. Hubungan antara bahan dengan ide pokok dan konsep-konsep
6. Kemampuan murid untuk mempelajari bahan
7. Kemungkinan menjelaskan bahan itu dengan data dan disiplin lain.

Mengenai bahan pelajaran Glen hass mengajukan kriteria berikut:


1. Apakah kurikulum yang direncanakan itu membantu murid untuk
memahami konsep pokok, prinsip-prinsip, dan struktur bahan yang
dipelajari.
2. Apakah kurikulum itu membantu kesempatan untuk menemukan atau
menggunakan Advance organizer
3. Apakah kurikulum itu memperhatikan bahwa setiap murid membentuk dan
mengembangkan struktur pengetahuan yang masing-masing dan bahwa
mereka itu memerlukan bantuan agar melihat Kesenjangan antara struktur
pengetahuannya dengan struktur disiplin ilmu yang dipelajari.
4. Apakah kurikulum itu mengandung pendidikan interdisipliner berdasarkan
kebutuhan pelajaran masalah masalah personal sosial
5. Apakah kurikulum itu mengutamakan proses untuk mengetahui termasuk
mengadakan analisis dan melihat keseluruhan serta hubungan antara
bagian-bagiannya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bahan pelajaran ditentukan berdasarkan analisis masyarakat dan
kebudayaan, kebutuhan anak, dan ilmu pengetahuan.
Tiap kurikulum berusaha menentukan bahan pelajaran sesuai dengan
kebutuhan masyarakat. Herbert Spencer telah mengajukan pertanyaan
mengenai pengetahuan manakah yang paling berharga dan menyimpulkan
bahwa pengetahuan itu harus berguna bagi kehidupan anak dalam
masyarakat.
Franklin bobbit mengemukakan metode ilmiah untuk menentukan bahan
pelajaran, Yakni dengan menganalisis kegiatan kegiatan orang dewasa di
dalam masyarakat.
Carter's menentukan bahan pelajaran untuk jabatan jabatan dengan
menganalisis keterampilan keterampilan orang yang telah mengasihi dengan
baik. Dalam pendidikan guru diberikan pelajaran berdasarkan kompetensi
guru
Relevansi bahan pelajaran dengan kebutuhan masyarakat dapat diusahakan
dengan menggunakan fungsi-fungsi sosial atau manajer areas of living dapat
juga diberikan pelajaran berdasarkan persistent Life situation.
Masyarakat dekat khususnya bagi anak-anak SD kelas rendah merupakan
sumber yang kaya tentang apa yang dapat dipelajari
Hasil penelitian ahli ilmu sosial kurang dapat dimanfaatkan bagi keperluan
kurikulum karena penelitian mereka hanya mengenai aspek tertentu dan
bukan pendidikan sekolah dalam keseluruhan nya. Selain itu masing-masing
disiplin menggunakan istilah-istilah tersendiri sehingga sukar bagi pendidik
untuk mempertemukan nya.a Selain itu masing-masing disiplin memberikan
pandangan yang berbeda mengenai aspek yang sama
DAFTAR PUSTAKA

Nasution. 2003. Pengembangan Kurikulum. Bandung : Citra


Aditya Bakti

Sutrisno. 2013. “Bahan Ajar dan Pengembangannya (Forum Diklat). Jurnal Vol 6
no. 3.