Anda di halaman 1dari 10

D.

Komponen
1. Retainer
Retainer merupakan bagian GTSL yang berfungsi memberikan retensi dan menahan
protesa tetap pada tempatnya. Retainer dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu direct retainer
dan indirect retainer.
a. Direct retainer
Direct retainer merupakan bagian yang berkontak langsung dengan gigi penyangga dan
dapat berupa clasp atau cengkeram. Cengkeram dapat digolongkan menjadi beberapa jenis,
diantaranya.
1) Menurut konstruksinya
a) Cengkeram tuang atau cor (cast clasp)
Cengkeram tuang dibuat dengan melakukan pengecoran logam ke dalam cetakan (mould space)
yang diperoleh setelah penguapan pola malam (wax pattern). Cengkeram tuang dapat dibedakan
menjadi cengkeram oklusal dan cengkeram gingiva.
i) Cengkeram tuang oklusal
(i) Cengkeram akers
(ii) Cengkeram kail ikan (fish hook/reverse loop/hairpin clasp)
(iii) Cengkeram mengarah belakang (back action circumferential clasp)
(iv) Cengkeram mengarah belakang membalik (reverse back action)
(v) Cengkeram setengah setengah (half and half clasp)
(vi) Cengkeram kaninus (cuspid universal clasp)
(vii) Cengkeram akers ganda (double akers clasp)
(viii) Cengkeram embrasure (embrasure clasp)
(ix) Cengkeram multipel
(x) Cengkeram cincin (ring clasp)
(xi) Cengkeram cincin membalik (reverse ring clasp)
(xii) Cengkeram lengan panjang (long arm clasp)
(xiii) Cengkeram kombinasi (combination clasp)
Cengkeram tuang oklusal memiliki beberapa kekurangan, diantaranya, banyak menutupi gigi
penyangga, menambah dimensi oklusal gigi penyangga dan beban oklusal, serta retensi yang
tidak dapat ditambah atau dikurangi (Gunadi dkk., 2012).
ii) Cengkeram tuang gingiva
Cengkeram tuang gingiva dapat digunakan pada pasien dengan frekuensi karies tinggi, kasus
dengan prioritas estetik, gigi tiruan dukungan gigi, serta pada kasus dengan letak gigi penyangga
yang abnormal dalam lengkung gigi. Beberapa jenis cengkeram tuang gingiva diantaranya.
(i) Cengkeram proksimal de Van
(ii) Cengkeram batang roach, meliputi cengkeram batang T, T, U, batang I, batang L, batang S,
batang R.
(iii) Cengkeram mesio distal (Gunadi dkk., 2012).
b) Cengkeram kawat (wire clasp)
Cengkeram atau klamer kawat dapat terbuat dari bahan aloi nikel kromium atau stainless steel.
Jenis kawat yang dipakai untuk cengkeram anterior memiliki diameter 0,7 mm, sedangkan untuk
cengkeram posterior diameter 0,8 mm. Terdapat beberapa syarat cengkeram kawat, sebagai
berikut.
i) Kontak cengkeram dengan gigi penyangga secara kontinu,
ii) Lengan cengkeram harus melewati garis survei (1-2 mm di atas tepi gingiva),
iii) Badan cengkeram sirkumferensial harus terletak di atas titik kontak gigi penyangga,
iv) Sandaran dan badan tidak mengganggu oklusi dan artikulasi,
v) Ujung lengan cengkeram harus dibulatkan dan tidak boleh melukai jaringan lunak,
vi) Tidak ada tanda bekas tang pada permukaan cengkeram (Gunadi dkk., 2012).
Penggunaan cengkeram kawat memiliki beberapa keuntungan, diantaranya, lentur, retensinya
sesuai kebutuhan, diameter dapat kecil sehingga estetis baik, penutupan permukaan gigi lebih
minim dibandingkan klamer tuang, indiasi luas dan teknik pembuatan mudah. Kerugian
penggunaan cengkeram kawat diantaranya, mudah mengalami distorsi, mudah patah, dukungan
kurang memuaskan, dan tidak mampu menahan gaya horizontal. Cengkeram kawat dibedakan
menjadi cengkeram oklusal dan gingiva (Gunadi dkk., 2012).
i) Cengkeram kawat oklusal
(i) Cengkeram tiga jari
(ii) Cengkeram dua jari
(iii) Cengkeram Jackson
(iv) Cengkeram setengah Jackson
(v) Cengkeram S
(vi) Cengkeram panah
(vii) Cengkeram Adam
(viii) Cengkeram rush anker
ii) Cengkeram kawat gingiva
(i) Cengkeram Meacock
(ii) Cengkeram panah Anker
(iii) Cengkeram penahan bola
(iv) Cengkeram C

c) Cengkeram kombinasi (combination clasp)


Cengkeram kombinasi merupakan cengkeram dengan lengan retentif berasal dari cengkeram
kawat dan lengan pengimbangnya berasal dari cengkeram tuang. Sebagian besar cengkeram
kombinasi berjenis sirkumferensial. Kelebihan utama dari cengkeram kombinasi dapat mencegah
terjadinya rotasi gigi penyangga, karena adanya lengan pengimbang yang kuat, sehingga dapat
mengimbangi gaya lengan retentif, selain itu lengan pengimbang dapat melawan gaya horizontal
lebih baik dibandingkan dengan cengkeram kawat. Kekurangan cengkeram kawat adalah proses
pembuatan yang terlalu sulit arena adanya proses penyoldiran, dapat menyebabkan kawat
menjadi rapuh apabila pemanasan terlalu lama pada temperatur terlalu tinggi (Gunadi dkk.,
2012).
2) Menurut desainnya
a) Cengkeram sirkumferensial (circumferential clasp)
b) Cengkeram batang (bar type clasp)
3) Menurut arah datang lengan
a) Cengkeram oklusal
b) Cengkeram gingiva
Pembuatan cengkeram dilakukan berdasarkan beberapa prinsip tertentu, diantaranya.
1) Pemelukan (encirlement), cengkeram harus memeluk permukaan gigi lebih dari 180o dan kurang
dari 360o.
2) Pengimbangan (reciprocation), cengkeram harus mampu untuk mengimbangi atau melawan gaya
yang timbul karena bagian lain, contohnya gaya yang timbul karena lengan retentif harus
diimbangi dengan lengan pengimbang.
3) Retensi, kemampuan GTSL melawan gaya pemindah ke arah oklusal, seperti ketika berbicara,
mengunyah, tertawa, batuk, atau bersin.
4) Stabilisasi, merupakan gaya untuk melawan pergerakan GTSL dalam arah horizontal, semua
bagian klamer berperan kecuali ujung lengan retentif.
5) Dukungan, cengkeram harus dapat melawan gaya oklusal atau vertikal yang terjadi pada waktu
berfungsi atau mastikasi.
6) Pasifitas, bagian lengan retentif cengkeram tidak menekan gigi penyangga.
Cengkeram secara struktural terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut.
1) Badan cengkeram (body), terletak antara lengan dan sandaran oklusal.
2) Lengan cengkeram (arm), terdiri dari bahu dan ujung lengan.
3) Bahu cengkeram (shoulder), bagian lengan yang berada di atas garis survei. Bahu cengkeram
disebut dengan lengan pengimbang yang dapat berfungsi untuk menahan pergerakan horizontal.
4) Ujung lengan (terminal), bagian ujung lengan cengkeram atau disebut juga dengan lengan
retentif. Lengan retentif memiliki fungsi untuk mencegah pergerakan vertikal dan melawan
pergerakan gigi tiruan ke arah oklusal.
5) Sandaran (rests), bagian yang bersandar pada permukaan oklusal atau insisal gigi penyangga.
6) Konektor minor (minor connector), bagian yang menyatukan cengkeram dengan kerangka logam
gigi tiruan (Carr dan Brown, 2016; Gunadi dkk., 2012).

Gambar 1. Bagian cengkeram.


Sandaran (a), badan (b), bahu (c),
terminal (d,h), lengan (e), konektor minor (f,g).
Sumber: Gunadi dkk., 2012
b. Indirect retainer, merupakan bagian yang berfungsi untuk mengimbangi gerakan rotasi dan
pemindahan gigi tiruan. Gerakan rotasi apabila basis berotasi pada sandaran yang tetap pada
tempatnya, sedangkan gerakan pemindahan apabila sandaran oklusal bergerak dan terangkat
sehingga protesa terlepas. Penggunaan indirect retainer berfungsi untuk mencegah pergerakan
basis berujung bebas menjauhi lingir sisa, mengurangi gaya torsional dalam arah antero-posterior
pada gigi penyangga, menambah stabilisasi, membantu splinting gigi anterior, dan mencegah
konektor utama tertekan pada jaringan. Berikut macam bentuk indirect retainer.
1) Anterior
a) Gigi
i) Sandaran oklusal, merupakan sandaran oklusal yang tidak terletak pada penyangga utama.
ii) Daerah modifikasi
iii) Batang lingual sekunder (Kennedy bar/continuous clasp/lingual apron), berfungsi untuk
memberi tahanan tidak langsung, membantu menyalurkan tekanan kunyah, memberi dukungan
protesa, dan menambah kekuatan konektor mayor.
iv) Cummer arm
b) Palatum
i) Dukungan rugae, dengan melakukan penutupan rugae apabila kedudukan mukosa rugae padat.
ii) Batang anterior-posterior
iii) Batang horse shoe
2) Posterior
a) Gigi, meliputi sandaran oklusal sekunder
b) Palatum
i) Batang palatal posterior, digunakan pada kasus kehilangan gigi Kennedy kelas IV rahang atas,
ii) Perluasan basis
c) Lingir sisa, meliputi retensi direct-indirect (Gunadi dkk., 2012).
2. Rests
Rests atau sandaran merupakan bagian GTSL yang bersandar pada permukaan gigi
penyangga, memiliki fungsi untuk memberikan dukungan vertikal. Sandaran ditempatkan
permukaan gigi yang dipreparasi sebagai kedudukan sandaran (rest seat or recess). Sandaran
dapat dibedakan menjadi sandaran posterior dan anterior.
a. Sandaran posterior
Sandaran gigi posterior memiliki fungsi untuk menyalurkan dan membagi gaya atau tekanan
oklusal, menahan lengan cengkeram tetap pada tempat, mencegah ekstruksi gigi, dan mencegah
terjebaknya sisa makanan antara cengkeram atau basis. Berikut jenis sandaran posterior,
diantaranya.
1) Oklusal
Sandaran oklusal ditempatkan pada gigi premuloar dan molar yang telah dipreparasi. Sandaran
oklusal berbentuk spoon shaped dengan sudut antara sandaran oklusal dengan konektor minor
<90o untuk menghindari timbulnya gaya ortodontik. Kedudukan sandaran oklusal berukuran
mesiodistal 2,5-3 mm, bukolingual 3-3,5 mm, dan tebal 1-1,5 mm.

2) Internal
Sandaran oklusal internal digunakan hanya pada GTSL yang seluruhnya didukung gigi. Sandaran
internal berfungsi sebagai dukungan oklusal dan stabilisasi horizontal. Sandaran internal harus
terletak sejajar dengan arah pemasangan protesa.
3) Onlay
Sandaran onlay merupakan sandaran oklusal yang diperluas hingga menutupi sebagian besar
permukaan oklusal gigi penyangga. Sandaran onlay dapat dibuat dari logam tuang atau dengan
kombinasi resin akrilik, hasilnya memiliki estetik yang baik namun mudah aus, selain itu karies
pada sandaran onlay mudah berkembang. Sandaran onlay dapat memperbaiki dimensi vertikal
dan mengurangi gaya lateral.
4) Kail embrasur
Sandaran kail embrasur dibuat dengan melewati dua embrasur gigi asli dan menutupi permukaan
oklusal.
b. Sandaran anterior
1) Singulum
Sandaran singulum dari segi mekanik lebih baik dibandingkan dengan sandaran insisal karena
letaknya lebih dekat pada pusat rotasi gigi. Sandaran singulum ditempatkan di atas singulum
gigi, tidak terlihat dan tidak mengganggu lidah. Sandaran singulum berukuran bukolingual 2,5
mm dan tebal 2 mm.
2) Insisal
Sandaran insisal disebut juga dengan embrasure hook ditempatkan pada sudut insisal gigi
anterior dengan preparasi mencapai enamel. Sandaran insisal berukuran mesiodistal 3 mm dan
vertikal 2 mm.
3) Restorasi
4) Lingual sirkumferensial (Gunadi dkk., 2012).

3. Konektor
a. Konektor mayor
Konektor mayor atau konektor utama merupakan komponen GTSL yang
menghubungkan bagian protesa yang terletak pada satu sisi rahang dengan satu sisi lainnya.
Terdapat empat syarat konektor mayor, yaitu rigid, sehingga gaya yang bekerja pada protesa
dapat disalurkan ke seluruh bagian, lokasi konektor tidak mengganggu jaringan, serta tepi
konektor tidak menekan dan harus membulat tidak tajam. Konektor mayor dapat dibedakan
menjadi konektor mayor maksila dan mandibula.
1) Konektor mayor maksila
a) Batang palatal tunggal (single palatal bar), terletak pada bagian tengah palatum, indikasi pada
kasus kehilangan satu atau dua gigi pada setiap sisi rahang, daerah tak bergigi berujung tertutup,
dan kebutuhan dukungan palatum minimal.
b) Plat palatal bentuk U, disebut juga dengan konektor palatum tapal kuda. Indikasi pemakaian pada
kasus kehilangan satu atau lebih gigi anterior atau posterior atas, adanya torus palatinus luas, dan
perlunya splint gigi anterior.
c) Batang palatal ganda (double palatal bar), indikasi pemakaian pada semua kelas Kennedy,
terutama kelas II dan IV, pada gigi penyangga anterior dan posterior yang terpisah jauh.
d) Plat palatal penuh (full palatal coverage), memiliki fungsi memberikan dukungan maksimal bagi
gigi tiruan. Indikasi pemakaian pada kasus kelas I dan II Kennedy dan pada kasus tanpa adanya
torus palatinus.
2) Konektor mayor mandibula
a) Batang lingual, konektor mandibula paling sederhana. Tepi inferior batang lingual tidak boleh
mengganggu jaringan sekitar.
b) Batang lingual ganda, indikasi pemakaian pada kasus gigi depan bebas perawatan periodontal
dan pada kasus dengan celah interproksimal besar.
c) Plat lingual, memiliki kekurangan dapat menghalangi stimulasi fisiologik jaringan gingiva
bagian lingual dan self cleansing menjadi terganggu. Indikasi pemakaian pada kasus dengan
frenulum lingualis tinggi, torus mandibular besar, pasien dengan indirect retainer, pasien perlu
stabilisasi gigi anterior.
d) Batang labial, indikasi pemakaian apabila terdapat gigi yang terlalu miring ke lingual, torus
mandibula tidak dapat dikoreksi dan pada kasus dengan banyak undercut jaringan lunak sisi
lingual (Gunadi dkk., 2012).
b. Konektor minor
Konektor minor merupakan komponen GTSL yang menghubungkan antara konektor
mayor dengan basis atau klamer atau indirect retainer atau sandaran oklusal. Konektor minor
dapat berfungsi untuk menyalurkan tekanan fungsional ke gigi penyangga. Syarat konektor
minor harus rigid, biasanya diletakkan pada daerah embrasur gigi dan berbentuk lancip ke arah
gigi penyangga (Gunadi dkk., 2012).
4. Anasir gigi
Anasir gigi merupakan bagian GTSL yang berfungsi untuk menggantikan gigi asli yang
hilang. Pemilihan anasir gigi perlu memperhatikan beberapa faktor tertentu, diantaranya.
a. Ukuran, meliputi panjang gigi dan lebar gigi. Panjang gigi dapat diketahui dari bertambahnya
usia yang menyebabkan permukaan insisal aus sehingga mahkota klinis menjadi lebih pendek,
panjang bibir atas yang pendek sehingga gigi depan terlihat sampai setengahnya, kedalaman
overbite yang dalam cenderung menyebabkan gigi anterior terlihat, dan garis tertawa yang dapat
memperlihatkan 2/3 panjang gigi. Lebar gigi menurut John H. Lee bahwa jarak antara kedua
ujung tonjol kaninus atas sesuai dengan lebar hidung, menurut Sears, ukuran enam gigi anterior
atas sama dengan 1/3 jarak bi-zigomatikus, sedangkan lebar gigi insisif sentral seperdelapan
belasnya.
b. Bentuk, meliputi bentuk permukaan labial gigi depan, garis luar distal gigi, dan garis luar mesial
gigi. Permukaan labial yang konveks gigi akan tampak lebih kecil, gigi dengan sudut distal besar
akan tampak lebih kecil, dan garis mesial konkaf akan membuat gigi lebih kecil. Selain itu,
bentuk gigi perlu memperhatikan bentuk muka agar harmonis
c. Jenis kelamin, pria memiliki garis luar gigi depan atas bersudut lebih tajam disebut kuboidal,
sedangkan wanita garis luar gigi berbentuk kurve disebut spheroidal.
d. Tekstur permukaan, memperhatikan estetik, meliputi garis retak, daerah hipoplasia, groove, dan
sebagainya.
e. Warna, dapat mempengaruhi posisi, bentuk, dan kesan hidupnya gigi. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pemilihan warna anasir gigi diantaranya, lingkungan kamar praktek meliputi
sifat sinar, sumber cahaya, pakaian dan warna kamar, serta perhatian kondisi pasien.
f. Bahan elemen, biasanya terbuat dari bahan porselen atau plastik (Gunadi dkk., 2012;
Nallaswamy dkk., 2003).
5. Basis
Basis merupakan bagian GTSL yang mendukung elemen gigi tiruan dan berfungsi untuk
menggantikan tulang alveolar yang hilang. Selain itu, basis berfungsi untuk meneruskan tekanan
oklusal ke jaringan periodontal dan gigi penyangga, faktor kosmetik, menstimulasi jaringan di
bawah dasar gigi tiruan atau jaringan sub basal, serta sebagai retensi dan stabilisasi gigi tiruan.
Basis gigi tiruan dapat berupa basis dukungan gigi (bounded saddle) dan basis dukungan
jaringan atau kombinasi ujung bebas (free end). Berdasarkan bahannya, basis dapat dibedakan
menjadi basis metal dan non metal.

a. Metal
Basis berbahan metal memiliki beberapa keuntungan diantaranya, dapat menghantarkan termis,
ketepatan dimensional, kekuatan maksimal dengan ketebalan minimum, sedangkan
kekurangannya basis metal tidak dapat direkatkan kembali, warna basis tidak harmonis, relatif
lebih berat,serta teknik pembuatan yang lebih rumit dan mahal. Indikasi pemakaian basis metal
pada pasien dengan hipersensitivitas terhadap resin akrilik, gaya kunyah abnormal, ruang
intermaksiler kecil, kasus basis dukungan gigi dengan desain unilateral.
b. Non metal
Basis berbahan non metal salah satunya yaitu resin akrilik. Resin akrilik memiliki beberapa
keuntungan diantaranya, ringan, murah, mudah, dapat dicekatkan kembali, dan warnanya
harmonis dengan jaringan sekitar. Kekurangan resin akrilik sebagai bahan basis diantaranya,
merupakan penghantar termis yang buruk, dimensi tidak stabil, mudah mengalami abrasi,
kalkulus mudah melekat, serta stabilitas warna yang kurang (Gunadi dkk., 2012).

E. Tahapan Pembuatan
Pembuatan GTSL dapat dilakukan setelah pemeriksaan dan penegakan diagnosa pada
pasien. Pemeriksaan diagnostik mulut pada sebagian gigi yang hilang perlu dilakukan untuk
mempertahankan gigi-gigi yang ada, memelihara jaringan pendukung, serta menciptakan efek
estetik yang harmonis. Pada pembuatan gigi tiruan pasien perlu untuk mengetahui tujuan
perawatan, sehingga konstruksi gigi tiruan disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Pembuatan
GTSL dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut.
1. Pencetakan pendahuluan
Pencetakan pendahuluan merupakan pencetakan rahang untuk menghasilkan model
diagnostik. Pencetakan pendahuluan dilakukan untuk merencanakan preparasi mulut yang harus
dilakukan sebelum nantinya menggunakan protesa. Pencetakan dilakukan dengan menggunakan
sendok cetak perforasi dengan nomor sesuai ukuran rahang pasien. Posisi pasien duduk tegak
dengan bidang oklusal sejajar lantai. Pencetakan pendahuluan dilakukan dengan menggunakan
bahan cetak alginat untuk membuat cetakan negatif. Cetakan yang baik meliputi beberapa bagian
berikut.
a. Semua detail gigi terlihat, batas gingiva dengan gigi, serta preparasi sandaran.
b. Daerah lingir, semua bagian lingir dan jaringan lunak tercetak.
c. Perlekatan otot, hingga mukosa bergerak dan tidak bergerak.
d. Batas cetakan untuk rahang atas bagian posterior meliputi fovea palatini dan Ah line, pada
bagian lateral meliputi hamular notch, sedangkan pada rahang bawah bagian posterior meliputi
retromolar pad, lateral berupa ridge oblique externa dan frenulum bukalis, lingual meliputi
seluruh lingir sampai dasar mulut.
e. Detail lain, cetakan tidak terdapat gelembung udara, lipatan, atau robekan, serta tidak boleh lepas
dari sendok cetak (Gunadi dkk., 2012).