Anda di halaman 1dari 57

Pengembangan

Organisasi dengan
Teknologi Informasi
& Organisasi
Posted onMarch 18, 2017 by irfanfadhil313

Organisasi
Organisasi adalah suatu kelompok orang dalam suatu
wadah untuk tujuan bersama. Terdapat beberapa teori dan
perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok satu sama
lain, dan ada pula yang berbeda. Organisasi pada dasarnya
digunakan sebagai tempat atau wadah bagi orang-orang
untuk berkumpul, bekerja sama secara rasional dan
sistematis, terencana, terpimpin dan terkendali, dalam
memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin,
metode,lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain
sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk
mencapai tujuan organisasi.

TIK(Teknologi Informasi &


Komunikasi)
Teknologi informasi dan Komunikasi adalah payung besar
terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk
memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup
dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi
komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang
berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu,
manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan
teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan
dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan
mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Oleh
karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi
adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi
Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung
pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan
pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan
informasi antar media.Istilah TIK muncul setelah adanya
perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat keras
maupun perangkat lunak) dengan teknologi komunikasi
pada pertengahan abad ke-20. Perpaduan kedua teknologi
tersebut berkembang pesat melampaui bidang teknologi
lainnya. Hingga awal abad ke-21, TIK masih terus
mengalami berbagai perubahan dan belum terlihat titik
jenuhnya.

Apa hubungan Organisasi dan


TIK?
Teknologi informasi dan organisasi sering dikaitkan satu
sama lain. Hubungan antara teknologi dan organisasi telah
mulai dibicarakan p ada awal tahun 70-an, yang
menunjukkan bahwa teknologi adalah salah satu komponen
utama yang dapat mempengaruhi struktur dan
berfungsinya suatu organisasi (Pugh, 1969). Dari berbagai
perkembangan teknologi yang ada, saat ini yang
perkembangannya sangat pesat adalah teknologi informasi.
Hal ini terlihat pada beberapa dekade ini telah terjadi
revolusi dalam dunia usaha yang, mempercepat perubahan-
perubahan men-dasar dalam mengatur pengoperasian
sebuah organisasi. Hal ini dapat dilihat dari perubahan yang
ada disekitar kita, misalnya fasilitasATM, phone banking,
direct banking, smartcard, CD-ROM,Bar Code, Scanner, dan
lain-lain. Teknologi dalam organisasi memiliki peranan
utama dalam mempelajari sifat-sifat dari teknologi suatu
organisasi dan hubungan teknologi terhadap struktur
organisasi. Dalam teori organisasi yaitu dengan prinsip
ketergantungan (contingency), menyatakan bahwa
karakteristik organisasi mempunyai ketergantungan
terhadap faktor-faktor teknologi yang pada akhirnya
berkembang menjadi pendekatan modern dalam teori
organisasi.

Semua ini menunjukkan pada kita bahwa organisasi yang


akan mampu bertahan dan memiliki keunggulan bersaing
adalah organisasi yang dapat mengadopsi dan
mengadaptasikan penggunaan teknologi tersebut, dan yang
selanjutnya bentuk organisasi ini sering disebut sebagai
organisasi maya. Semua ini hanya dapat dipenuhi bila
melakukan investasi di bidang teknologi informasi. Investasi
ini dapat memberikan kontribusi yang besar bagi organisasi
untuk meng-hasilkan produk yang lebih bermutu, produk
yang lebih fleksibel sesuai dengan kebutuhan konsumen,
produk dengan biaya rendah, meningkatkan produktivitas
kerja, mening-katkan kreativitas dan inovasi, memperoleh
keunggulan kompetitif, meningkatkan layan-an langganan
dan pembuatan keputusan yang lebih baik (Turban et. al.,
1996).
TIK dan Organisasi
Teknologi informasi secara sernpit dapat didefinisikan
sebagai perpaduan antara teknologi komputer dan
telekomunikasi yang meliputi perangkat keras, perangkat
lunak, database, teknologi jaringan dan peralatan teknologi
lainnya (Antaraina SF, 1995). Teknologi informasi
merupakan salah satu penyebab adanya tekanan bisnis
pada setiap organisasi yang ada pada saat ini, sebaliknya
juga kebutuhan perusahaan dapat menyebab-kan
perkembangan teknologi informasi itu sendiri.
Perkernbangan teknologi ini tidak hanya terfokus pada
kebutuhan dalam sistem pemrosesan data saja, tetapi juga
mencakup semua aktivitas yang terdapat dalam sebuah
organisasi termasuk ir-rdustri manufaktur. Harus diyakini
bahwa setiap organisasi yang ada adalah merupakan salah
satu komunitas terbesar yang menikmati dan menerima
implikasi dari perkembangan teknologi informasi itu sendiri.
Pada tahap awal, pemanfaatan komputer hanya digunakan
pada sebatas aspek pengolahan data saja dan aplikasinya
lebih ditujukan untuk kegiatan akuntansi dan klerikal. Pada
saat itu, sistem pengolahan data yang masih dilakukan
secara manual mulai dimbah ke sistem elektronis dengan
melaiui pemanfaatan media komputer, dan yang sering
disebut sebagai EDP (Electronic Data Processing ).

Ketika suatu organisasi tumbuh semakin besar dan pola


serta tingkatan operasionalnya semakin tidak sederhana
dan kompleks, maka secara alamiah tuntutan pihak
manajemen akan kebutuhan dan fungsional dari setiap
sistem informasi yang adapun semakin besar, khususnya
pada fungsionalitas data, teknologi dan aplikasi. Mengelola
data dan informasi agar selaras dengan kebijakan dan
strategi perusahaan dalam rangka mencapai misinya,
merupakan hal yang tidak mudah. Kegagalan tersebut
diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Peluang bisnis yang ada tidak dapat di manfaatkan


bahkan sering terlewatkan begitu saja.
2. Kegagalan pada integrasi sistem serta pengelolaan
data dan informasi yang tidak efektif
3. Prioritas pengelolaan data dan informasi tidak berbasis
pada kebutuhan bisnis
4. Perbedaan pemahaman mengenai arah kebijakan
pengembangan sistem informasi dan teknologi
informasi diantara pengguna (user), manajemen dan
pengembang yang mengakibatkan kerugian pada
produktifitas bisnis organisasi
Arsitektur perusahaan dari suatu organisasi adalah sebuah
mekanisme untuk menjamin agar sistem informasi dan
teknologi informasi sebagai salah satu sumber daya
organisasi dapat dijalankan selaras dengan strategi
pencapaian misi bisnis organisasi tersebut.

Menurut G.R Terry , ada 5 peranan mendasar teknologi


informasi di sebuah organisasi, yaitu :

1. Fungsi Operasional, akan membuat struktur


organisasi menjadi lebih ramping telah diambil alih
fungsinya oleh teknologi informasi. Karena sifat
penggunaannya yang menyebar di seluruh fungsi
organisasi, unit terkait dengan manajemen teknologi
informasi akan menjalankan fungsinya sebagai
supporting agency dimana teknologi informasi
dianggap sebagai sebuah firm infrastructure.
2. Fungsi Monitoring and Control, mengandung arti
bahwa keberadaan teknologi informasi akan menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dengan aktivitas di
level manajerial embedded di dalam setiap fungsi
manajer, sehingga struktur organisasi unit terkait
dengannya harus dapat memiliki span of
control atau peer relationshipyang memungkinkan
terjadinya interaksi efektif dengan para manajer di
perusahaan terkait.
3. Fungsi Planning and Decision, mengangkat
teknologi informasi ke tataran peran yang lebih
strategis lagi karena keberadaannya
sebagai enabler dari rencana bisnis perusahaan dan
merupakan sebuah knowledge generator bagi para
pimpinan perusahaan yang dihadapkan pada realitas
untuk mengambil sejumlah keputusan penting sehari-
harinya. Tidak jarang perusahaan yang pada akhirnya
memilih menempatkan unit teknologi informasi
sebagai bagian dari fungsi perencanaan dan/atau
pengembangan korporat karena fungsi strategis
tersebut di atas.
4. Fungsi Communication, secara prinsip termasuk ke
dalam firm infrastructuredalam era organisasi
moderen dimana teknologi informasi ditempatkan
posisinya sebagai sarana atau media individu
perusahaan dalam berkomunikasi, berkolaborasi,
berkooperasi, dan berinteraksi.
5. Fungsi Interorganisational, merupakan sebuah
peranan yang cukup unik karena dipicu oleh semangat
globalisasi yang memaksa perusahaan untuk
melakukan kolaborasi atau menjalin kemitraan dengan
sejumlah perusahaan lain. Konsep kemitraan strategis
atau partnerships berbasis teknologi informasi seperti
pada implementasi Supply Chain Management atau
Enterprise Resource Planning membuat perusahaan
melakukan sejumlah terobosan penting dalam
mendesain struktur organisasi unit teknologi
informasinya. Bahkan tidak jarang ditemui perusahaan
yang cenderung melakukan kegiatan pengalihdayaan
atau outsourcingsejumlah proses bisnis terkait dengan
manajemen teknologi informasinya ke pihak lain demi
kelancaran bisnisnya
Menurut Monger (1988), perkem-bangan teknologi dan
khususnya teknologi informasi telah membawa tiga dampak
utama yang berpengaruh terhadap struktur orgatrisasi dan
struktur industri, yaitu :

 otomasi
 disintetmediasi, dan
 inte-grasi.
Otomasi dapat ditunjukkan dengan melalui penggunaan
mesin-mesin otomatis, yang selama revolusi industri secara
bertahap telah mengambil alih kekuatan, pengalaman dan
keterampilan manusia. Dewasa ini otomasi ditunjukkan
dengan penggunaan komputer untuk mengambil alih
pengetahuan manusia dan bahkan sedang dalam proses
pengambil alihan kecerdasan manusia. Disintermediasi
adalah peniadaan proses antara yang merupakan “non
value added activities”, sehingga “throughput time” dapat
dipercepat. Sedang integrasi adalah meliputi perpaduan
berbagai bidang antara lain mulai dari integrasi komputer,
input, proses, output sampai ke integrasi komunikasi. Ketiga
dampak tersebut adalah merupakan wujud nyata dari pada
perkembangan sistem pendukung pengambilan keputusan
berbasis jaringan terpadu (Networked Decision Support –
NDS).

Salah satu dampak negatif dengan adanya penggunaan


teknologi informasi adalah penciptaan “technostress”.
Menurut Mc Partlin (i990), istilah “technostress” digunakan
untuk menggambarkan s uatu k ondisi yang m ana rr arla p
ara p emakai b ekerja d engan m esin-mesin dan berpikir
maupun bertindak sebagaimana mesin sehingga
menciptakan stres dan merusak kreativitas maupun
emosional pekerja. Kondisi ini muncul sebagai akibat dari
penggunaan teknologi informasi yang mna semua
kegiatannya dilakukan secara “computerized”, hubungan
dan komunikasi antar pekerja dalam menyelesaikan suatu
pekerjaan sudah sangat jarang, sosialisasi sesama pekerja
sudah tidak nampak. Selain kondisi tersebut di atas,
penggunaan sistem yang “full computerized” juga dapat
mengakibatkan pekerja terisolasi dari perusahaan,
kehilangan kesempatan untuk bersosialisasi dengan
lingkungan pekerjaan, kehilangan komunikasi informal,
jenjang promosi menjadi kurang, kehilangan kesempatan
bekerja dalam tim, kehilangan kesempatan berpartisipasi
pada kegiatan organisasi perusahaan, dan kurang supewisi
dari atasan. Jadi secara tidak langsung penggunaan
teknologi informasi telah mereduksi kehidupan sosial kita
menjadi dangkal dan miskin.
“Technostress” terjadi sebagai akibat penggunaan dari
teknologi informasi yang “machine-oriented”. Kebutuhan
akan teknologi baru yang dapat mengganti peran manusia
memang sangat dibutuhkan oleh setiap organisasi yang ada
pada saat ini maupun pada masa mendatang, namun
seorang manajer juga harus menyadari bahwa tidak setiap
teknologi baru khususnya teknologi informasi akan dapat
memberikan manfaat maksimal pada bisnisnya. Investasi
teknologi yang berorientasi pada mesin (full computerized)
seharusnya hanya dilakukan pada tugas-tugas yang
terstruktur dan bersifat rutinitas. Selain itu cara lain yang
bisa dilakukan untuk mengurangi kondisi technostress ini
perlu dilakukan pengenalan terhadap teknologi yang akan
diterapkan melalui program pelatihan dan seminar untuk
menciptakan rasa “familiar”, membentuk “sosial
community” dalam organisasi perusahaan, melakukan rotasi
pekerjaan secara berkala, dan membuat sebuah acara
bersama antar pekerja yang dilaksanakan secara periodik.

Kesimpulan :
Dalam era yang semakin maju ini Teknologi Informasi &
Komunikasi sangat dibutuhkan atau berperan penting dalam
Organisasi, karena dapat mempermudah dan mempercepat
jalannya proses yang ada didalam Organisasi tersebut.
Hubungan antara Teknologi sudah tidak dapat dipisahkan
lagi , karena itu kita harus dapat munggunakannya
semaksimal mungkin dan sebaik mungkin agar tidak
terkena dampak negatifnya.

https://irfanfadhilblog.wordpress.com/2017/03/18/pengembangan-organisasi-dengan-
teknologi-informasi-organisasi/

HUBUNGAN TIMBAL BALIK TEKNOLOGI


INFORMASI DAN MANAJEMEN INFORMASI
(Oleh: M. Ali Nurhasan Islamy, S.Sos
December 23, 2015 pustakaInformasi
A. PENDAHULUAN

Saat ini kita sudah berada di tahun millenium ketiga. Dimana persaingan global semakin
terbuka. Apalagi dalam menghadapi era perdagangan bebas, maka informasi menjadi
kebutuhan yang sangat penting dan strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi
masyarakat serta digunakan dalam pengambilan keputusan. Salah satu bekal dalam
memasuki persaingan terbuka tersebut adalah penguasaan ilmu dan teknologi.

Diawali dengan kehidupan yang serba tradisional, manual kini berangsur-angsur


menjadi kehidupan yang canggih. Hanya berbekal sebuah komputer yang terkoneksi
dengan jaringan internet, setiap orang dapat mengetahui informasi apa yang ada di
dunia ini. Menurut Sugianto, komputer merupakan suatu sistem yang terdiri dari
perangkat software dan hardware yang mengalami perubahan yang pesat, bahkan
komputer disebut-sebut sebagai tonggak awal revolusi teknologi digital. Dengan
masuknya teknologi informasi khususnya komputer telah merubah tatanan dan peran di
masyarakat. Komputer yang semula sekedar untuk membantu memecahkan hitung-
hitungan rumit kini dapat dipakai untuk olah kata, olah data, olah gambar dan pangkalan
data berbagai bidang kehidupan. Apalagi dengan munculnya teknologi multimedia
interaktif yang sanggup menyajikan tulisan, suara, gambar, animasi dan video secara
bersamaan maupun bergantian.[1]

Teknologi informasi merupakan suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data,
termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam
berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang
relevan, akurat dan tepat waktu untuk keperluan pribadi, bisnis dan pemerintahan dan
merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi informasi
ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk
menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai kebutuhan, dan
teknologi komunikasi untuk penyebaran dan akses secara global.

Sedangkan manajemen informasi hampir sama dengan teknologi informasi, manajemen


informasi merupakan proses menangkap, menstransmisikan, menyimpan, mengambil,
memanipulasi dan menampilkan informasi. Namun manajemen informasi memiliki sifat
yang lebih tertutup dari teknologi informasi, dapat melindungi kerahasiaan, integritas
dan ketersediaan informasi.[2]

Teknologi informasi di perguruan tinggi dapat menjadi keunggulan kompetitif bagi


perguruan tinggi untuk tetap eksis. Pada era ini kemungkinan besar hanya perguruan
tinggi yang menerapkan teknologi informasi mutakhir yang lebih diminati oleh
masyarakat. Pada masa yang akan datang sangat dimungkinkan masyarakat hanya
akan berpaling pada pendidikan berteknologi yang dilengkapai dengan fasilitas e-
learning, wireless, internet, perpustakaan digital dan sebagainya.[3]

Perpustakaanlah yang paling tepat sebagai pusat ilmu pengetahuan dan atau
pendidikan. Untuk memenuhi tuntutan dari pengguna informasi, maka perpustakaan
sebagai pengelola dan sumber informasi harus mampu memberikan pelayanan yang
memadai dengan menyediakan informasi yang benar-benar relevan dengan permintaan
pengguna. Keberadaan perpustakaan merupakan penunjang lembaga induk, dan
pengelolaannya harus mengacu pada perkembangan teknologi informasi.

B. PEMBAHASAN

1. Informasi Perlu Ter-organisasi Dengan Baik


Informasi adalah data yang disusun sedemikian rupa sehingga bermakna dan
bermanfaat karena dapat dikomunikasikan kepada seseorang untuk membuat suatu
keputusan.[4] Sumber suatu informasi adalah data, tanpa data kita tidak mengetahui
kejadian yang terjadi pada suatu tempat dan waktu tertentu.

Terdapat ciri-ciri informasi, yaitu benar atau salah, baru, tambahan, korektif dan yang
terakhir penegas atau informasi dapat mempertegas informasi yang telah ada. Kualitas
informasi juga sangat penting, kesalahan cara pengukuran dan pengumpulan,
kegagalan dalam prosedur pemrosesan, hilang data dapat menurunkan kualitas
informasi bahkan menjadi kesalahan informasi. Kualitas informasi tergantung dari 6 hal,
yaitu informasi harus;

1. Akurat, harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan menyesatkan. Akurat juga


berarti informasi harus jelas mencerminkan maksudnya.
2. Tepat pada waktunya, berarti informasi yang datang tidak boleh terlambat.

3. Relevan, informasi tersebut mempunyai manfaat untuk pemakainya.

4. Mudah, mudah dipahami dan mudah diperoleh.

5. Murah, biaya murah

6. Handal, diperoleh dari sumber yang dapat diandalkan, tanpa dikurangi atau
ditambahi.

Dengan adanya ciri-ciri informasi dan kualitas informasi maka informasi itu sangat perlu
disatukan atau ter-organisasi dengan baik. Menurut Ernawati, pengorganisasian suatu
informasi itu sangat bermanfaat sekali karena informasi terdiri dari komponen-
komponen yang disebut blok bangunan (building blok) berupa komponen input,
komponen model komponen output, komponen teknologi, komponen hardware,
komponen software, komponen basis data dan komponen kontrol. Semua komponen
tersebut saling berinteraksi satu dengan yang lain membentuk suatu kesatuan untuk
mencapai sasaran.[5]

Untuk menjadikan informasi berdaya guna dan ter-organisasi dengan baik maka harus
ada elemen sistem, sistem ini terdiri dari:

1. Tujuan

Setiap sistem memiliki tujuan (goal), tujuan inilah yang menjadi pemotivasi yang
mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem menjadi tidak terarah dan tak terkendali.

1. Masukan

Masukan (input) sistem adalah segala sesuatu yang masuk ke dalam sistem dan
selanjutnya menjadi bahan yang diproses.

1. Proses

Proses merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari masukan
menjadi keluaran yang berguna dan lebih bernilai.

1. Keluaran
Keluaran (output) merupakan hasil dari pemrosesan. Pada sistem informasi keluaran
bisa berupa suatu informasi, saran, cetakan laporan dan sebagainya.

Informasi apabila tidak ter-organisasi dengan baik maka akan informasi yang
ditampilkan akan bias, tidak ter-struktur dengan baik dan bukan tidak mungkin tidak
menjadi informasi yang tepat, akurat dan kredible.

Perkembangan teknologi informasi juga sangat berpengaruh terhadap lembaga-


lembaga yang erat kaitannya dengan informasi seperti perpustakaan atau pusat
informasi. Informasi yang ter-organisasi dengan baik di perpustakaan dengan
pemanfaatan teknologi informasi, menurut Handerson dalam Sulistyo-Basuki manfaat
teknologi informasi bagi perpustakaan adalah [6]:

1. a) Menyediakan akses informasi yang cepat dan mudah


2. b) Menyediakan akses jarak jauh bagi pengguna

3. c) Menyediakan akses 24 jam, jika server-nya beroperasi 24 jam.

4. d) Menyediakan informasi mutakhir.

5. e) Menyediakan informasi yang dapat digunakan dengan luwes

bagi pengguna dengan kebutuhannya.

1. f) Meningkatkan keluwesan
2. g) Memudahkan format ulang dan kombinasi data dari berbagai

sumber.

Pada sisi lain teknologi informasi juga memberikan kemudahan bagi pengelola informasi
(pustakawan) untuk mengolah, menyimpan dan menyebarkannya, juga membebaskan
staf perpustakaan dari pekerjaan-pekerjaan yang bersifat rutin secara manual. Teknologi
informasi juga menjadi sarana temu kembali informasi yang cepat, tepat dan akurat
serta pemustaka dapat menelusuri dan menggunakan layanan perpustakaan dengan
mandiri tanpa mengantri seperti pada konsep perpustakaan konvensional.

2. Dampak Perkembangan Teknologi Informasi

Sebelum membahas dampak perkembangan teknologi informasi perlu diketahui ciri-ciri


teknologi informasi, yaitu:[7]

1. Era informasi lahir ditandai dengan meningkatnya masyarakat dalam


penguasaan informasi
2. Perdagangan menjadi lebih mengandalkan teknologi informasi (komputer dan
telekomunikasi)

3. Menyediakan dasar untuk berfikir lagi yaitu rekayasa lagi proses bisnis
tradisional.

4. Proses kerja diubah ditransformasikan untuk meningkatkan produktivitas.

5. Keberhasilan dalam teknologi informasi tergantung kepada keberkesanan


6. Teknologi informasi disadari atau tidak sudah banyak menyatu dalam kehidupan
umat manusia, produk dan pelayanan.

Secara umum terdapat dampak positif maupun negatif dengan adanya perkembangan
teknologi informasi. Dampak positifnya antara lain:

 Memudahkan dan mempercepat akses informasi, penyampaian atau


penyebaran informasi.
 Memudahkan masyarakat dalam berkomunikasi secara global kapan saja dan di
mana saja.

 Menguntungkan perusahaan, dan juga menambah lapangan kerja dengan


memanfaatkan jasa teknologi informasi yang ada.

 Memudahkan masyarakat dalam menyelesaikan pekerjaan sehari-hari dengan


cepat dengan perangkat software yang selalu berkembang dan mudah digunakan
oleh masyarakat banyak.

 Memudahkan masyarakat dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Dengan


adanya search engine yang beredar, kini masyarakat lebih mudah mengakses
informasi yang ada dalam dunia maya. Informasi dan berita yang ada, cenderung
lebih cepat dan lebih mudah didapatkan pada web browser dibandingkan dengan
media lain.

 Keuntungan internet banking bagi nasabah antara lain menghemat waktu,


menghemat biaya, dan juga lebih cepat.

 Pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang pemerintahan memiliki


keuntungan antara lain meningkatkan layanan kepada masyarakat, pelayanan yang
lebih cepat, meningkatkan hubungan pemerintah dengan dunia usaha dan
masyarakat karena informasi mudah diperoleh, dan juga tersedianya informasi yang
mudah diakses masyarakat.

Dampak negatif dari perkembangan teknologi informasi, antara lain:

 Isu SARA, kekerasan dan pornografi.


 Maraknya cyber crime atau kejahatan dalam dunia maya.

 Munculnya para penipu yang memanfaatkan internet.

 Berbagai peralatan TIK seperti TV, internet, banyak menayangkan tindakan


penipuan, dan tayangan kekerasan yang dengan cepat ditiru para penikmatnya.

 Penyebaran Virus Komputer. Virus komputer adalah sebuah program yang


berukuran relatif kecil dan bersifat sebagai parasit yang mampu hidup dan
menggandakan dirinya menyerupai file maupun folder dan sangat mengganggu
pengguna komputer yang terinfeksi

 Menimbulkan sifat yang cenderung malas. Seringkali pengguna internet


tenggelelam dalam dunianya sendiri dan tidak mempedulikan sekitarnya, banyak dari
mereka yang lebih sering berinteraksi dengan teman dunia mayanya dibandingkan
dengan teman dalam dunia nyata.
 Mentalitas teknologi, seolah-olah segala sesuatu dapat dipecahkan oleh
teknologi dan sesuatu akan lebih meyakinkan kalau dilakukan dengan peralatan dan
disertai angka-angka. Hal ini yang sudah biasa atau mudah diperhitungkan masih
memerlukan bantuan penelitian eksperimen.

 Munculnya budaya plagiarisme, pelanggaran hak cipta.[8]

3. Manajemen Informasi

Terdapat Ciri-ciri manajemen informasi, yaitu:

1. Manajemen informasi dapat melindungi kerahasiaan, integritas dan ketersediaan


informasi.
2. Manajemen informasi adalah perencanaan, pengadaan, pengolahan, distribusi
dan alokasi informasi sebagai sumber daya untuk mempersiapkan dan memfasilitasi
keputusan.

3. Menggunakan informasi dengan efektif dan efisien

4. Membuang informasi pada saat yang tepat.

Manajemen informasi sering kali disebut Sistem Informasi Manajemen yakni sebuah
sistem yang cukup kompleks. Sistem ini dapat berjalan dengan baik apabila semua
proses didukung dengan teknologi yang tinggi, sumber daya yang berkualitas, dan yang
paling penting komitmen perusahaan. Sistem Informasi Manajemen berguna untuk
mendukung fungsi operasi, manajemen, dan pengambilan keputusan dalam sebuah
organisasi. Sistem Informasi Manajemen bertujuan menghasilkan informasi yang
berguna untuk perusahaan.

Sistem Informasi Manajemen: jaringan prosedur pengolahan data yang dikembangkan


dalam suatu sistem (terintegrasi) dengan maksud memberikan informasi (yang
bersifat intern dan ekstern) kepada manajemen, sebagai dasar pengambilan keputusan.
[9]
Gambar 1: Marliana B. Winanti: Model Sistem Informasi, 2009

Manajemen informasi yang dilakukan oleh manajer dengan mengelola lima jenis sumber
daya : Berawal

dari mendapatkan data mentah lalu mengolahnya sehingga menghasilkan informasi


yang berguna, baru setelah itu memanfaatkan secara efektif untuk mengambil
keputusan dan jika perlu mengganti informasi yang usang. Seluruh kegiatan tersebut:
memperoleh informasi, menggunakan seefektif mungkin, dan membuangnya disaat
yang tepat, disebut Manajemen Informasi.

4. Perubahan Paradigma Kepustakawanan

Paradigma atau citra perpustakaan merupakan seperangkat kesan di dalam fikiran


pemakai terhadap suatu objek.[10]Perkembangan pengguna teknologi informasi dan
telekomunikasi yang begitu pesat di kalangan masyarakat menuntut pustakawan untuk
rela meninjau kembali dan merevisi paradigma maupun praktek-praktek
kepustakawanan yang dianut selama ini. Pustakawan mempunyai tantangan yang luar
biasa untuk meningkatkan kemampuannya dalam penguasaan teknologi informasi.
Dapat kita lihat kecenderungan pergerakan perubahan perilaku atau sikap pemustaka
lebih memilih sesuatu yang instan yakni menggunakan search engine di internet untuk
mencari sumber informasi, padahal informasi yang diperoleh belum tentu benar. Banjir
informasi tidak lepas dari pengaruh globalisasi sehingga menjadikan informasi dari
belahan dunia dalam hitungan detik dapat diakses dari belahan dunia lainnya. Kondisi
demikian membuat pustakawan sebagai pusat informasi seharusnya dapat
memanfaatkan peluang banjir informasi ini untuk lebih mengintensifkan peranannya
sebagai penyedia informasi bagi pemustaka.

Menurut falsafah Mangkunegara, sebenarnya pelayanan pustakawan identik dengan


pribadi penjual jasa. Bagaimana penjual dapat memberi kepuasan bagi kedua belah
pihak, baik pihak penjual maupun pembeli. Demikian halnya dengan pelayanan
pustakawan, diperlukan upaya pelayanan yang menimbulkan rasa puas bagi pemustaka
maupun pustakawan sendiri. Dengan demikian pustakawan dapat memperoleh dua
keuntungan yaitu perpustakaan menjadi terkenal dan citra pustakawan professional
lebih meningkat.[11]

5. Pergeseran Pelayanan di Perpustakaan

Saat ini pergeseran layanan informasi pada perpustakaan berakibat pada perubahan
perilaku pola kerja dan orientasi institusi yang bergerak dalam bidang ilmu
pengetahuan.

Gambar 2. Stuart, Robert: Library and Information Center Management, 2002

Bagan di atas menekankan pada tiga hal fundamental dalam sebuah institusi
perpustakaan, yakni:

1. Resaurce/ sumber daya

Terdapat perubahan dan pergeseran dalam memanfaatkan sumber daya. Apabila pada
awalnya sumber daya hanya memiliki dan dimanfaatkan sendiri dan media yang
digunakan sangat terbatas, maka pada saat ini sumber daya harus dipikirkan untuk
dapat di-sharing dalam wadah yang lebih luas dan berorientasi pada
pemanfaatan multiple media atau ragam media. Hal ini penting karena setiap
perpustakaan mempunyai keterbatasan dalam menyediakan sumber daya.
Perpustakaan juga harus dapat memanfaatkan teknologi informasi yang memudahkan
perpustakaan untuk melakukan sharing informasi melalui apa yang disebut virtual
library.

2. Service/layanan

Cara pelayanan dalam bidang informasi atau perpustakaan juga mengalami perubahan
sesuai tuntutan jaman. Pelayanan tidak lagi hanya berorientasi pada pelayanan di
dalam saja (internal) tetapi harus mempunyai pandangan yang lebih universal bagi
akses informasi, kolaborasi dan sharing sumber daya dan layanan. Konsep
pelayanannya pun harus seperti supermarket bahkan hypermarket, maka perpustakaan
atau pusat informasi diharapkan memberikan pelayanan yang bervariasi, murah dan
cepat akan memuaskan pengguna serta mendatangkan pengguna lebih banyak lagi.

3. User/pengguna

Perlakuan terhadap pengguna dan perilaku pustakawan hendaknya mengalami


perubahan. Staf perpustakaan tidak hanya sebagai penjaga buku dan menunggu
datangnya pemustaka, namun perpustakaan melakukan promosi dan memberikan
gambaran-gambaran kepada pemustaka bagaimana perpustakaan dapat menjawab
kebutuhan informasi. Pemustaka juga diberdayakan dan dididik demi perkembangan
perpustakaan.

1. Perpustakaan “Hybrid”

Ketika orang berbicara mengenai penerapan teknologi dalam


perpustakaan, orang akan berbicara transformasi perpustakaan tradisional menuju
perpustakaan digital, perpustakaan elektronik atau perpustakaan virtual. Namun dari
sekian banyak konsep yang berkembang tersebut, saat ini yang cukup pas dan mungkin
dalam beberapa dasawarsa ke depan masih relevan adalah dengan perpustakaan
hybrid.

Secara tidak sadar perpustakaan terutama perpustakaan perguruan tinggi telah


mengembangkan sebuah konsep perpustakaan hybrid. Hanya saja hal ini masih kurang
terasa karena terlihat berdiri sendiri-sendiri. Dalam perpustakaan ini, pengguna selain
menggunakan koleksi tercetak juga memanfaatkan koleksi yang dapat diakses secara
elektronik atau virtual, baik melalui jaringan lokal maupun internet. Ada sinergitas antara
koleksi tercetak dengan elektronik, artinya konsep tradisional dan elektronik
kedudukannya saling melengkapi.

2. Library 2.0

Dalam layanan informasi perpustakaan, semula pemakai hanya dapat menemukan


informasi yang ada di perpustakaan secara manual, kemudian berkembang dengan
memanfaatkan komputer dan intranet dapat ditelusuri melalui OPAC, dan berkembang
lagi dapat diakses melalui internet atau sekarang dikenal dengan istilah Web
1.0. Dengan ini para pengguna sudah banyak yang terpuaskan karena dapat dengan
cepat menemukan informasi yang mereka dapatkan.

Berbagai jenis program telah dikembangkan untuk penelusuran online ini. Tetapi cara
penelususran informasi masih bersifat satu arah atau one-way of information, yang
hanya kita baca tapi tidak bisa berkomentar. Konsep kolaborasi beberapa orang
akhirnya memberi inspirasi lahirnya konsep Library 2.0 untuk mewujudkan participatory
library service.

Konsep Library 2.0 adalah konsep baru yang berkaitan dengan mengadakan
perubahan di perpustakaan yang melibatkan pengguna. Perubahan ini dimaksudkan
untuk perubahan yang senantiasa terjadi, tidak bersifat merombak secara drastis, tapi
perubahan yang bertahap. Dengan demikian perubahan akan selalu terjadi di dalam
perpustakaan, baik layanannya, infrastrukturnya, fasilitasnya dan bahkan atmosfir di
perpustakaan.[12]

1. Perpustakaan “Mobile”

Pada saat ini, keberadaan teknologi informasi telah mengubah perilaku pemustaka
dalam mencari dan memilih informasi yang dibutuhkan. Pemustaka membutuhkan
kecepatan dan ketepatan akses informasi di mana dan kapan saja melalui perangkat
teknologi yang mereka miliki. Perpustakaan ditantang untuk mampu menyediakan
informasi yang mampu diakses pemustaka yang salah satunya
menggunakan handphone/ponsel.

Menurut Murphy, smartphone, ponsel dan teknologi mobile lainnya menjadi sesuatu
yang umum dan pertama-tama digunakan orang saat mencari informasi. Perpustakaan
perlu mengantisipasi kondisi demikian, dapat dengan menyediakan layanan mobile
web sehingga pengguna dapat mengakses informasi melalui ponsel[13]. Menurut
Kroski, fasilitas layanan yang dapat diberikan perpustakaan melalui mobile web antara
lain situs perpustakaan mobile (MOPACs), koleksi mobile, mobile audio tours, layanan
penyampaian pesan, layanan rujukan mobile, dan sirkulasi perpustakaan mobile.[14]

6. Hubungan Timbal balik Teknologi Informasi dan Manajemen Informasi

Pada dasarnya penerapan teknologi informasi baik di perusahaan-perusahaan,


peemrintahan atau di perpustakaan hampir sama. Untuk itu dalam menilai dan
menjelaskan hubungan timbal balik teknologi informasi dan manajemen informasi
penulis menganalisa dari hasil penjelasan di atas, penulis akan menjelaskan
berdasarkan:

1. Dari Pengertian

Sistem manajemen informasi merupakan sistem informasi yang menghasilkan


keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dari berbagai proses yang
diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen. Dapat
digambarkan sebagi sebuah bangunan piramida dimana lapisan dasarnya terdiri dari
informasi, penjelasan transaksi, penjelasan status dan sebagainya.

Teknologi informasi adalah teknologi apa saja yang dapat membantu manusia dalam
membuat, mengubah, menyimpan, mengkomunikasikan dan menyebarkan dan
menyebarkan informasi.

1. Dari Tujuan

Tujuan manajemen informasi adalah:


1). Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok,
produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.

2). Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian,


pengevaluasian dan perbaikan berkelanjutan.

3). Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.

Sedangkan tujuan teknologi informasi adalah:

1). Memecahkan masalah.

2). Membuka kreativitas, efektivitas dan efisiensi.

3).Memotivasi kemampuan kita agar bisa berdaptasi dan mengantisipasi


perkembangan teknologi informasi.

4). Mengembangkan kompetensi

1. Hubungan antara Teknologi Informasi dan Manajemen Informasi

Sistem informasi manajemen dengan teknologi sangat berhubungan, keduanya


bergerak dibidang informasi (pengolahan) dan teknologi merupakan bagian dari sistem
informasi. Karena sistem informasi dapat tersusun oleh beberapa teknologi informasi
sehingga apabila teknologi informasi mengalami kerusakan maka mempengaruhi sistem
informasi atau sistem informasi akan juga mengalami gangguan.

C. PENUTUP

Dengan perkembangan teknologi informasi pada saat ini memudahkan baik bagi
individu, perusahaan, perpustakaan ataupun pemerintah untuk mendapatkan informasi
yang mereka butuhkan dan menerapkan sistem informasi manajemen guna
mendapatkan informasi dalam pengambilan keputusan. Dampak teknologi informasi ini
merupakan salah satu tantangan bagi pengguna informasi adalah menyaring banyaknya
informasi yang beredar, yang harus tersampaikan secara tepat kepada penggunanya
sehingga nilai efisiensi dan efektif dapat tercapai.

Manajemen informasi merupakan proses menangkap, menstransmisikan, menyimpan,


mengambil, memanipulasi dan menampilkan informasi. Namun manajemen informasi
memiliki sifat yang lebih tertutup dari teknologi informasi, dapat melindungi kerahasiaan,
integritas dan ketersediaan informasi.

Sistem informasi manajemen dengan teknologi sangat berhubungan, keduanya


bergerak dibidang informasi (pengolahan) dan teknologi merupakan bagian dari sistem
informasi. Karena sistem informasi dapat tersusun oleh beberapa teknologi informasi
sehingga apabila teknologi informasi mengalami kerusakan maka mempengaruhi sistem
informasi atau sistem informasi akan juga mengalami gangguan.

https://digilib.isi-ska.ac.id/?p=555
Makalah SIM (Organisasi & Sistem
Informasi)
ORGANISASI DAN SISTEM INFORMASI

PENDAHULUAN

Pada dasarnya organisasi membutuhkan sistem informasi agar tujuan dan kepentingan
organisasi dapat tercapai. Agar sistem informasi dapat berhasil, maka kita harus mengenali
organisasi dan berupaya mencari bentuk sistem informasi yang paling sesuai. Bab ini
mempelajari organisasi dan sistem informasi.

PENTINGNYA MEMPELAJARI PERILAKU ORGANISASI

Organisasi seperti halnya manusia dapat diidentifikasi dari perilakunya. Perilaku tersebut
dapat positif ataupun negative. Banyak definisi tentang perilaku organisasi. Berikut ini
definisi perilaku organisasi menurut Gibson (1996) :
1. Cara berpikir, perilaku yang berada pada diri individu, kelompok dan tingkat organisasi.
2. Perilaku adalah multidisiplin, yang menggunakan prinsip, model, teori, dan metode-metode
disiplin lain. Perilaku organisasi adalah bidang yang terus tumbuh dan berkembang dalam
kedudukan dan pengaruhnya.
3. Adanya orientasi kemanusiaan yang jelas dalam perilaku organisasi. Manusia dan perilaku
mereka, persepsi, kapasitas pembelajaran, perasaan dan sasaran merupakan hal penting
bagi perusahaan.
4. Perilaku organisasi berorientasi pada kinerja, menyangkut sebab kinerja rendah atau tinggi
dan bagaimana cara menungkatkan kinerja.
5. Lingkungan eksternal memberikan dampak signifikan terhadap perilaku organisasi.
6. Karena bidang perilaku organisasi sangat tergantung dari disiplin yang dikenal, metode
ilmiah menjadi penting dalam mempelajari variable dan keterkaitan.

Perilaku Organisasi Mengikuti Prinsip Perilaku Manusia


Efektivitas setiap organisasi sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia. Manusia merupakan
sumber daya yang umum bagi semua organisasi. Restoran, toko dan kantor mempekerjakan
dan berinteraksi dengan manusia. Setiap manusia memiliki karakteristik yang berbeda. Hal
ini disebabkan karena manusia memiliki keunikan persepsi, kepribadian, dan pengalaman
hidup. Manusia berbeda latar belakang etnis, kemampuan belajar dan dalam menangani
stress, serta sikap, kepercayaan dan tingkat aspirasi.
Organisasi Merupakan Sistem Sosial
Hubungan antara individu dan kelompok dalam suatu organisasi menciptakan harapan bagi
perilaku individu. Harapan ini diwujudkan dalam peran-peran tertentu yang harus dihasilkan.
Orang harus memainkan peran pemimpin, sementara lainnya sebagai yang dipimpin.
Manajer menengah, karena mempunyai atasan dan bawahan, harus memainkan dua peran
diatas. Organisasi memiliki sistem kewenangan, status, dan kekuasaan; dan manusia dalam
organisasi mempunyai beragam kebutuhan dari masing-masing sistem. Kelompok di dalam
organisasi juga mempunyai pengaruh yang kuat atas perilaku individu dan kinerja
organisasi.
Struktur Dan Proses Mempengaruhi Perilaku Organisasi Dan Budaya
Struktur organisasi adalah pola formal pengelompokan orang dan pekerjaan. Struktur selalu
digambarkan melalui bagan organisasi. Proses adalah aktivitas yang memberikan kehidupan
bagi organisasi. Komunikasi, pengambilan keputusan dan pengembangan organisasi
merupakan contoh proses dalam organisasi.
Dalam istilah lain, budaya organisasi adalah kepribadian, atmosfir atau perasaan. Budaya
suatu organisasi dapat didefinisikan sebagai perilaku yang tepat dan ikatan yang memotivasi
individu serta cara suatu perusahaan memproses informasi, hubungan internal, dan nilai-
nilai.
Struktur dan Desain Organisasi
Untuk bekerja secara efektif, manajer harus secara jelas memahami struktur organisasi. Jika
melihat bagan organisasi pada selembar kertas atau figura di dinding kita hanya bisa melihat
konfigurasi posisi, penjabaran tugas, dan garis wewenang diantara bagian suatu organisasi.
Struktur organisasi adalah pola formal aktivitas dan hubungan antara berbagai subunit
organisasi.
Desain pekerjaan
Desain pekerjaan dihubungkan pada proses dimana manajer menspesifikasikan isi, metode
dan hubungan pekerjaan untuk memenuhi kepentingan organisasi dan individu, dan harus
bisa menjelaskan isi dan tugas serta posisi pimpinan unit serta hubungan posisi masing-
masing anggota timnya.
Desain organisasi
Desain organisasi berkaitan dengan struktur organisasi secara menyeluruh dan berencana
mengubah filosofi dan orientasi tim. Usaha ini akan memberikan suatu struktur baru dari
tugas, wewenang, dan hubungan antar personel yang dipercayainya akan menghubungkan
perilaku individu dan kelompok dalam meningkatkan kinerja mutu.
Proses organisasi
Proses organisasi ini memberikan kehidupan terhadap struktur organisasi. Jika proses ini
tidak berfungsi dengan baik, masalah yang tidak diinginkan akan berkembang.
Komunikasi
Kelangsungan organisasi tergantung dari kemampuan manajemen menerima, meneruskan
dan bertindak atas informasi.
Pengambilan keputusan
Mutu pengambilan keputusan di suatu organisasi tergantung atas pemilihan sasaran yang
tepat dan mengidentifikasi cara untuk mencapainya.

APA ITU ORGANISASI


Organisasi adalah suatu struktur formal, stabil yang membutuhkan sumber daya dari
lingkungan dan memprosesnya untuk menghasilkan output/keluaran.

Manajer tidak dapat merancang sistem yang baru tau memahami sistem yang ada tanpa
memahami organisasi. Terdapat beberapa karakteristik struktur dalam sebuah organisasi.
Karakteristik struktur organisasi tersebut adalah :
1. Pembagian tugas yang jelas
2. Hirarki
3. Aturan dan prosedur yang jelas
4. Pertimbangan yang tidak terpisah-pisah (impartial judgements)
5. Kualifikasi posisi teknis
6. Efisiensi organisasi yang maksimum

BAGAIMANA ORGANISASI MEMPENGARUHI SISTEM INFORMASI


Kita dapat melihat secara lebih dekat hubungan antara sistem informasi dengan organisasi.
Keputusan-Keputusan Tentang Peran Sistem Informasi
Organisasi mempunyai dampak langsung terhadap teknologi informasi melalui
keputusannya tentang bagaimana teknologi akan digunakan dan peran apa yang akan
dimainkan dalam organisasi. Dukungan terhadap perubahan peran telah merubah secara
teknikal serta sistem konfigurasi organisasi yang secara nyata telah memberikan “computing
power” dan data, sehingga menjadi lebih dekat dengan pemakai akhir.

Keputusan Tentang Siapa Yang Menyediakan Pelayanan Teknologi Informasi


Cara kedua dimana organisasi mempengaruhi teknologi informasi adalah melalui
keputusan tentang siapa yang akan mendesain, membangun, dan mengoperasikan
teknologi di dalam organisasi. Teknologi komputer mirip dengan teknologi yang lain,
termasuk didalamnya teknologi otomotif.
Keputusan Tentang Mengapa Membangun Sistem Informasi
Untuk membangun sistem informasi, manajer mempunyai beberapa alasan rasional
baik menyangkut umum ataupun khusus. Alasan yang paling pokok bagi manajer untuk
memilih menggunakan sistem adalah untuk mencapai alasan-alasan ekonomi, menyediakan
pelayanan yang lebih baik, atau menyediakan tempat kerja yang lebih baik. Dampak
komputer terhadap organisasi tergantung dari bagian dan bagaimana manajer membuat
keputusan.
Gambar 4.1. menggambarkan model dari proses pengembangan sistem yang
memasukan beberapa faktor lebih dari sekedar pertimbangan ekonomi. Model ini
menjelaskan tentang mengapa organisasi mengadopsi sistem dalam dua kelompok : faktor-
faktor lingkungan eksternal dan faktor-faktor internal organisasi.

Faktor-faktor Institusional :
. Values (tata nilai)
. Norma
. Interset

Faktor Lingkungan
. Ketidakpastian
. Kesempatan-kesempatan
External Internal

Pengembangan Sistem (system development) :


. Adopsi
. Utilization (pemanfaatan)
. Manajemen

Gambar 4.1. Model pengembangan sistem dengan mempertimbangkan faktor-


faktor lain

Mengapa Sistem Mempengaruhi Organisasi


Dalam bagian sebelumnya, kita jelaskan tentang satu sisi dari dua hubungan antara
teknologi informasi dan organisasi.
Teori Ekonomi
Ekonomi adalah studi tentang alokasi sumberdaya langka dalam pasar yang dihuni
oleh ribuan perusahaan yang saling berkompetisi. Ekonomi juga mempelajari tentang
ekonomi nasional dan global. Ekonomi mikro memfokuskan pada perusahaan dan
memberikan beberapa model untuk menggambarkan dampak teknologi informasi pada
organisasi.
Teori Ekonomi Mikro
Teori yang menjelaskan bagaimana teknologi informasi mempengaruhi ribuan
perusahaan adalah model ekonomi mikro.
Teori Biaya Transaksi (Transaction Cost Theory)
Teori biaya transaksi didasarkan pad aide bahwa perusahaan harus membayar
sejumlah biaya ketika perusahaan tersebut tidak dapat membuat sendiri.
Teori Agensi
Dalam teori agensi perusahaan dilihat sebagai “nexus of contract” (kontrak
berkelanjutan) diantara keinginan individu dari pada gabungan beberapa individu, dalam
rangka memaksimalkan profit.
Teori Perilaku
Teknologi informasi belumlah merubah semua organisasi besar menjadi manufaktur
yang mudah berubah (fleksibel), dan belum pula secara otomatis memberikan kekuatan
sepenuhnya kepada usaha bisnis kecil sebagaimana kepada usaha bisnis kecil
sebagaimana dalam perusahaan besar.
Teori Keputusan Dan Pengawasan
Menurut teori keputusan dan pengawasan fungsi organisasi adalah untuk membuat
keputusan dibawah kondisi yang tidak pasti dan beresiko dan tetap berada dibawah batasan
rasionalitas.
Gambaran tentang struktur organisasi dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Sebelum teknologi informasi, organisasi mempunyai bentuk segitiga dengan pengambilan
keputusan terpusat pada titik atas.
2. Setelah dikenal sistem komputer bagan organisasi mulai kelihatan seperti huruf “T” terbalik.
3. Seiring berjalannya waktu bentuk struktur organisasi tampak seperti segi empat permata.

Teori Sosiologi : Oligarchi Dan Rutin


Teori sosiologi memfokuskan pada pertumbuhan hirarkhi, struktur birokrasi dan
prosedur operasi standar sebagai alat utama bagi organisasi dalam rangka mengahadapi
lingkungan yang tidak stabil.
Teori Post-Industrial : Bentuk dan Struktur yang Bermuatan Pengetahuan (Knowledge-
Intensive Structure and Shape)
Menurut para teoritisi masyarakat paska industri, negara-negara industri memasuki
era baru, yaitu ekonomi paska industri pada tahun 1960-an. Dalam sebuah masyarakat
paska industri, sektor pelayanan mendominasi aktifitas perekonomian. Sektor pelayanan itu
sendiri sangat mengutamakan knowledge worker (ilmuan, ahli teknik, dan bahkan manajer)
dan data worker seperti sekretaris, akuntan atau sales people. Dalam masyarakat paska
ekonomi industri global, industri manufaktur dipindahkan ke negara-negara berupah rendah
dan high skill, sementara pekerjaan berbasisi pengetahuan (knowledge-based) tumbuh
dengan cepat di negara-negara maju dengan upah yang tinggi.
Teori Budaya : Teknologi Informasi Dan Asumsi Dasar
Teori budaya (dikemukakan ileh ahli antropology) berargumen bahwa teknologi
informasi harus cocok dengan budaya organisasi. Asumsi dasar yang dipakai dalam
perusahaan Mobil Ford adalah bahwa aktifitas pokok perusahaan adalah membuat mobil.
Asumsi dasar pada IBM adalah tujuan pokok organisasi yakni membuat mainframe
computer. Asumsi-asumsi ini jarang bertentangan bagi orang-orang yang terlibat di
dalamnya, jika karyawan menentang, karyawan cenderung untuk menghindar (Schein,
1985).
Teori Politik : Teknologi Informasi Sebagai Sumberdaya Politik
Organisasi dibagi ke dalam sub-sub kelompok fungsional seperti pemasaran,
akuntansi, dan produksi. Kelompok-kelompok ini mempunyai nilai (value) yang berbeda dan
mereka bersaing untuk mendapatkan resources, membuat kompetisi dan konflik. Teori politik
menggambarkan sistem informasi sebagai outcome dari persaingan politik antar sub-sub
kelompok untuk mempengaruhi kebijakan, prosedur, dan resources organisasi.
Resistensi Perubahan dalam Organisasi
Karena sistem informasi secara potensial merubah struktur organisasi, budaya, politik,
dan pekerjaan maka sistem informasi sering dipertimbangkan sebagai sauatu hal yang
membuat resisten ketika dikenalkan. Dalam teori ekonomi mikro tidak mempunyai
penjelasan resistensi organisasi terhadap perubahan. Secara umum teori perilaku adalah
teori yang paling pas untuk menjelaskan fenomena ini.
Ada beberapa cara untuk menggambarkan resistensi organisasi. Leavitt (1965)
menggunakan bentuk diamond untuk menggambarkan hubungan dan karakter saling
menyesuaikan dari teknologi dan organisasi.

Tugas

Teknologi Manusia

Struktur
Gambar 4.2. Hubungan antara teknologi, struktur, manusia dan tugas

Karena sulitnya mengenalkan sistem informasi baru, para pengamat sistem mendekati
melalui perubahan sosial terhadap sistem dengan sangat hati-hati. Secara ringkasnya
adalah sebagai berikut :
 Oganisasi tidak melakukan inovasi jika tidak ada tuntutan perubahan lingkungan yang
substansial. Organisasi mengadopsi inovasi ketika terdapat keharusan.
 Kekuatan penting yang menyebabkan resistensi terhadap perubahan berakar pada struktur
organisasi, nilai, dan kelompok kepentingan.
 Inovasi organisasi sulit dan kompleks untuk dicapai, dan bukan hanya sekedar pembelian
teknologi.
 Fungsi dari pemimpin adalah mengambil keunggulan dari lingkungan eksternal untuk
meningkatkan kekuatan.

Implikasi-implikasi untuk mendisain dan memahami sistem informasi


Apa pentingnya teori organisasi? Bagaimana seseorang dapat mempertimbangkan
faktor-faktor tersebut ketika membuat visi, desain, membangun atau mengelola system
informasi?
Tidak ada formula tentang faktor-faktor organisasi yang harus dipegang dan diyakini.
Kita dapat merinci faktor-faktor untuk mempertimbangkan rencana-rencana sistem. Faktor-
faktor tersebut adalah sebagai berikut :
 Lingkungan dimana organisasi harus melakukan fungsi.
 Struktur organisasi : hirarki, spesialisasi, standar prosedur operasi.
 Budaya dan politik organisasi.
 Tipe organisasi.
 Kemampuan mendukung dan memahami top manajement.
 Level organisasi dimana sistem diadakan.
 Kelompok kepentingan utama yang dipengaruhi sistem.
 Jenis tugas dan keputusan dalam mana sistem informasi didesain.
 Sentimen dan sikap karyawan dalam organisasi yang akan menggunakan sistem informasi.
 Riwayat organisasi : investasi dalam bidang teknologi informasi yang telah dilakukan, skill
yang dimiliki, program-program penting, dan sumberdaya manusia.

IMPLIKASI ETIS DARI TEKNOLOGI INFORMASI

Sebagai akibat dari perkembangan teknologi komputer dan informasi, maka masalah etika
dalam penggunaan komputer menjadi masalah ikutan. Disamping pengaruh positif, terdapat
pula pengaruh negatif. Disamping masalah pembajakan perangkat lunak yang
mengakibatkan penurunan penjualan, moral, hukum dan pengaruh negatif lainnya.

Etika komputer ini sangat diperlukan disebabkan oleh beberapa hal :


1. Kelenturan logika (logical malleability) yakni kemampuan memprogram komputer untuk
melakukan apapun yang kita inginkan. Kadang tanpa sadar kita mengalami situasi suatu
perusahaan membuat kekeliruan dalam mengirimkan tagihan. Saat mengajukan keluhan
tersebut, jawaban yang kita terima adalah “komputer yang membuatnya.” Jawaban seperti
ini tidak masuk akal. Komputer hanya melakukan apa yang disuruh. Masyarakat takut
terhadap orang-orang yang memberi perintah di belakang komputer.
2. Faktor transformasi. Komputer dapat mengubah secara drastis cara kita melakukan
sesuatu. Dulu untuk memesan barang, perusahaan harus mengisi formulir surat pesanan
pembelian setelah mencek secara fisik atau catatan manual persediaan barang. Dengan
adanya komputer, komputer akan memberi tahu pembeli bahwa sudah waktunya untuk
mengisi kembali persediaan untuk kemudian dibuat surat pesanan pembelian.
3. Faktor tak kasat mata (invisibility factors). Komputer dipandang sebagai suatu kotak hitam.
Semua operasi internal komputer tersembunyi dari penglihatan. Operasi internal yang tidak
nampak ini membuka peluang pada nilai-nilai pemrograman yang tidak terlihat, perhitungan
rumit yang tidak terlihat dan penyalahgunaan yang tidak terlihat. Saat komputer pertma kali
diterapkan pada bisnis pada pertengahan 1950-an, manajemen menetapkan bahwa
komputer hanya ditangani oleh para profesional komputer, yaitu programer, analis sistem
dan operator yang memiliki pengetahuan dan keahlian khusus komputer.

Hak atas komputer meliputi :


1. Hak atas mengakses komputer,
2. Hak atas keahlian komputer,
3. Hak atas spesialisasi komputer,
4. Hak atas pengambilan keputusan computer

Hak atas informasi meliputi :


1. Hak atas privacy. Hak ini dianggap sedang terancam karena meningkatnya kemampuan
komputer untuk digunakan sebagai alat pengintaian, dan meningkatnya nilai informasi dalam
pengambilan keputusan.
2. Hak atas akurasi. Komputer dipercaya mampu mencapai tingkat akurasi yang tidak dapat
dicapai oleh sistem non komputer. Potensi seperti ini memang ada, namun tidak selalu
tercapai.
3. Hak atas kepemilikan. Ini menyangkut tentang hak milik intelektual, yang umumnya dalam
bentuk program-program komputer.
4. Hak atas akses. Kini informasi yang dulunya tersedia bagi masyarakat umum telah diubah
menjadi database komersial yang menjadikannya kurang dapat diakses masyarakat.
PENUTUP

Dari penjelasan yang telah dijelaskan, maka diharapkan ringkasan ini dapat di
manfaatkan pembaca dalam memahami tentang Sistem Informasi Manajemen
khususnya tentang “Organisasi dan sistem informasi “. Selain itu penulis juga
menyarankan untuk menerapkan apa yang baik dari ringkasan ini dan juga
mengingatkan penulis apa yang dianggap pembaca kurang baik dari ringkasan ini.
Sebagai penyusun, saya akui tidak terlepas dari kesalahan dan keterbatasan. Karena
itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan
penulisan ringkasan selanjutnya. Semoga ringkasan ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca.

http://episopiani92.blogspot.com/2013/04/makalah-sim-organisasi-sistem-informasi.html

BAB 2
Sistem Informasi, Organisasi, dan Strategi
1. Organisasi dan Sistem Informasi
Sistem informasi dan organisasi memiliki hubungan yang saling terkait satu
sama lain. Sistem informasi harus selalu disesuaikan dengan organisasi.
Organisasi harus mampu mengoptimalkan sistem informasi sehingga
mendapatkan keuntungan dari teknologi-teknologi yang ada. Interaksi antara
teknologi informasi dan organisasi sanat dipengaruhi oleh faktor mediasi, yaitu
lingkungan, kultur, struktur, prosedur baku, proses bisnis, politik, keputusan
manajemen, dan peluang. Manajer harus mampu memahami sistem informasi,
karena sangat akan mempengaruhi kehidupan organisasi. Manajer perlu memilih
sistem apa dan bagaimana yang akan dibangun didalam organisasi.
Organisasi (definisi teknis) adalah struktur sosial formal yang stabil yang
memiliki sumber-sumber berasal dari lingkungan untuk diproses sehingga
menghasilkan output. Organisasi (definisi bhavioral) adalah sekumpulan hak,
hak khusus, kewajiban, dan tanggung jawab yang harus diseimbangkan selama
periode tertentu melalui konflik dan resolusi konflik. Organisasi (perusahaan)
menransformasi input-input ini menjadi produk dan jasa didalam fungsi
produksi. Produk dan jasa kemudian dikonsumsi oleh lingkungan dan
dikembalikan lagi sebagai input. Sebuah organisasi kelangsungan kegiatannya
akan lebih stabil dibandingkan sebuah kelompok.

Ciri-ciri Organisasi :
1. Rutinitas dan Proses Produksi
Semua organisasi tersusun dari rutinitas dan perilaku individu, kumpulan yang
membentuk proses bisnis. Sekumpulan proses bisnis membentuk perusahaan
untuk memproduksi barang dan untuk merubah guna mencapai tingkat kinerja
organisasi yang tinggi.

2. Politik Organisasi
Orang-orang yang memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai sumber
daya, penghargaan, dan hukuman yang diberikan kepada baik karyawan
maupun manajer di dalam setiap organisasi.

3. Budaya Organisasi
Adalah seperangkat asumsi proses bisnis dalam menciptakan nilai dengan
kekuatan pengikat yang kuat yang menghambat konflik politik dan mendorong
yang sama, perjanjian pada prosedur, dan praktik yang umum.
4. Lingkungan Organisasi
Organisasi dan lingkungan memiliki hubungan memberi dan menerima.
Lingkungan membentuk apa yang dapat dilakukan organisasi, tetapi organisasi
dapat mempengaruhi lingkungannya dan sekaligus memutuskan untuk
mengubah lingkungan.

5. Struktur Organisasi
Misal birokrasi professional, yaitu organisasi berbasis pengetahuan dimana
barang dan jasa bergantung pada keahlian dan pengetahuan professional.
Contohnya seperti firma hukum, sistem sekolah, rumah sakit.

Definisi teknis dan behavioral dari organisasi tidaklah saling kontradiksi.


Sebaliknya, masing-masing saling melengkapi. Definisi teknis menjelaskan
kepada kita bagaimana beribu-ribu perusahaan dalam pasar yang kompetitif
mengkombinasikan modal, tenaga kerja, dan teknologi informasi, sementara
model behavioral membawa kita masuk kedalam masing-masing perusahaan
untuk melihat bagaimana teknologi itu mempengaruhi kerja internal organisasi.

Stuktur Organisasi
Semua organisasi memiliki bentuk atau stuktur. Klasifikasi Mintzbegt(1979)
menunjukkan lima jenis struktur organisasi: struktur wirausaha, birokrasi mesin,
birokrasi dengan divisi, birokrasi professional, adhocracy. Pada perusahaan
wirausaha kecil anda akan sering menemukan sistem yang dirancang dengan
buruk yang dikembangkan terburu-buru yang sering melebihi kegunaannya
dengan cepat. Pada rerusahaan multidivisi yang besar yang beroperasi pada
rarusan lokasi anda akan sering menemukan bahwa tidak terdapat satu sistem
informasi tunggal yang terintegrasi, tatapi justru setiap divisi memilik perangkat
sistem informasinya sendiri.

Ciri-ciri lain Organisasi


Organisasi memiliki tujuan yang menggunakan sarana yang berbeda untuk
mencapainya. Beberapa organisasi memiliki tujuan yang koersif (misalnya
sebagai penjara) lainnya memiliki tujuan manfaat (missal untuk bisnis). Yang
lainnya lagi memiliki tujuannormatif (universal, kelompok religious). Organisasi
juga melayani kelompok yang berbeda atau memiliki anggota yang
berbeda,beberapa menguntungkan anggotanya, yang lainnya menguntungkan
klien, pemegang saham atau masyarakat.

1. Fitur-Fitur Umum Organisasi


Organisasi mengatur tenaga ahli dalam sebuah struktur hierarki otoritas dimana
setiap orang bertanggung jawab terhadap seseorang dan otoritas terbatas pada
tindakan-tindakan tertentu. Otoritas dan tindakan masih dibatasi lagi oleh
aturan-aturan atau prosedur-prosedur abstrak yang diinterpretasikan dan
diterapkan untuk kasus-kasus tertentu. Aturan-aturan ini menciptakan sistem
pengambilan keputusan bersifat netral dan universal, setiap orang diperlakukan
sama. Organisasi berusaha menyewa dan mempromosikan karyawan
berdasarkan kualifikasi teknis dan profesionalisme. Organisme menerapkan
prinsip efesiensi, menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya dengan
menggunakan usaha seminim mungkin.

Menurut Weber, birokrasi bersifat umum karena merupakan bentuk yang paling
efisien dari organisasi. Para ahli lainnya memberi tambahan atas pendapat
Weber, mengidentifikasi fitur-fitur tambahan dari organisasi. Semua organisasi
mengembangkan prosedur standar pengoperasian, politik, dan kultur.

1. Prosedur Standar Pengoperasian


Organisasi yang bertahan selama satu periode waktu tertentu menjadi sangat
efisien, menghasilkan jumlah produk dan jasa terbatas dengan mengikuti
aturan-aturan standar. Aturan-aturan rutinitas standar ini dikumpulkan menjadi
aturan-aturan, prosedur, dan praktik-praktik yang seksama dan rasional yang
disebut prosedur standar pengoperasian (PSP) yang akan dikembangkan untuk
dapat mencakup semua situasi yang mungkin dihadapi. Prosedur standar
pengoperasian sangat membantu mempertahankan efisiensi organisasi modern.
Perubahan apapun dalam PSP memerlukan usaha organisasi yang besar.
2. Politik Organisasi
Para anggota organisasi menduduki beragam posisi dengan beragam
spesialisasi, perhatian, dan prespektif. Akibatnya, mereka memiliki sudut
pandang berbeda mengenai bagaimana sumber-sumber, penghargaan, dan
hukuman dilaksanakan. Perbedaan-perbedaan ini menjadi persoalan bagi
manajer dan karyawan, dan hasilnya adalah pergolakan politik, persaingan, dan
konflik didalam organisasi. Hambatan politik adalah salah satu dari sekian
banyak kesulitan terbesar untuk membawa perubahan organisasi khususnya
perkembangan sistem informasi yang baru. Hampir semua sistem informasi yang
mebawa perubahan-perubahan signifikan mengenai tujuan yang hendak dicapai
perusahaan, prosedur, produktifitas, dan personil berpotensi menghaus oposisi
politis yang serius

3. Kultur Organisasi
Kultur organisasi merupakan kumpulan asumsi fundamental seperti mengenai
produk apa yang harus dihasilkan organisasi, bagaimana prosesnya, dimana,
dan untuk siapa. Umumnya asumsi-asumsi kultural ini seluruhnya diyakini begitu
saja dan arang diutarakan secara publik (Schein,1985). Kultur organisasi
merupakan kekuatan besar yang mempersatukan yang menghambat konflik
politik dan membawa pemahaman, persetujuan prosedur, dan praktik-praktik
lainnya. Jika kita semua berbagi asumsi kultural mendasar, maka persetujuan
dalam hal-hal lainnya dapat dimungkinkan. Namun, selain itu kultur organisasi
juga menjadi penghalang besar bagi perubahan khususnya perubahan teknologi.
Sebagian besar organisasi akan melakukan apapun untuk mencegah perubahan
asumsi dasar. Setiap perubahan teknologi apapun akan mengancam asumsi
kultural yang sudah umum diterima pada organisasi. Namun demikian, ada
kalanya satu-satunya cara yang bijaksana bagi bagi perusahaan agar selangkah
lebih maju adalah dengan menerapkan teknologi baru yang secara langsung
melawan kultur organisasi. Jika ini terjadi, maka teknologi sering bertahan
sementara kultur perlahan-lahan menyesuaikan.

1. Fitur-Fitur Khusus Organisasi


Walaupun semua organisasi memiliki karakteristik yang umum, namun tidak ada
dua organisasi yang sama persis. Semua organisasi memiliki struktur, sasaran,
konstituensi, gaya kepemimpinan, tugas-tugas, dan lingkungan sekitar yang
berbeda.
Tipe-tipe Organisasi
Satu hal penting yang membedakan tiap organisasi adalah struktur atau
bentuknya. Karakteristik perbedaan struktur itu ada beragam cara. Mintzberg
menggolongkan,lima bentuk dasar organisasi.

Tipe
Organisasi Keterangan Contoh :

Perusahaan kecil, baru mulai,


dalam lingkungan yang cepat
berubah. Ia memiliki struktur
sedehana dan dikelola usahawan
Struktur yang bertindak sebagai direktur Bisnis kecil yang baru
Usahawan pelaksana tunggal. mulai

Birokrasi besar yang ada


dilingkungan yang lambat berubah,
menghasilkan barang-barang
produksi standar. Didominasi oleh
Birokrasi tim dan pengambilan keputusan Perusahaan pabrikan
Mesin tersentralisasi. berskala menengah

Kombinasi dari beragam birokrasi


mesin, masing-masing General motor yang
menghasilkan produk dan layanan memiliki anak
Birokrasi yang berbeda, semua dikendalikan perusahaan sejumlah
Divisional dari kantor pusat. 500

Organisasi berbasis pengetahuan


dimana bentuk barang-barang
produksi dan jasa tergantng pada
keahlian dan pengetahuan para
profesional. Didominasi oleh kepala
Birokrasi departemen dengan otoritas Perusahaan Hukum,
Profesional sentralisasi yang lemah. Sistem sekolah

Organisasi “satan tugas” yang


harus merespons lingkungan yang
berubah dengan pesat. Terdiri dari
sejumlah besar kelompok spesialis
yang terorganisasi kedalam tim
multidispliner jangka pendek dan Perusahaan konsultan
memiliki kelemahan manajemen seperti Rand
Adhokrasi pusat. Coorporation

Organisasi dan Lingkungan


Organisasi terletak didalam lingkungan. Disana organisasi mengambil sumber-
sumber dan menyediakan barang-barang dan jasake lingkungan. Organisasi dan
lingkungan memiliki hubungan timbal balik. Pada satu sisi, organisasi terbuka
dan tergantung pada lingkungan sosial dan fisik disekitarnya. Tanpa sumber
daya keuangan dan manusia, tidak mungkin ada organisasi. Organisasi harus
merespons legislatif dan aturan-aturan main yang dikeuarkan oleh
pemerintahan, termasuk segala aksi yang dilakukan pelanggan dan pesaing.

Disisi lain, organisasi yang berasal dari aliansi bisa mempengaruhi proses politik
dan dan penerimaan konsumen terhadap produk-produk mereka. Lingkungan
biasanya berubah secara lebih cepat dari pada organisasi. Alasan utama atas
kegagalan organisasi adalah ketidakmampuan untuk mengadaptasi perubahan
lingkungan yang cepat dan kurangnya sumber daya .

Jadi secara garis besar .

Fitur umum organisasi terdiri dari :

 Struktur Formal
 Prosedur Standar Pengoperasian (PSP)
 Politik
 Kultur
 Konstituensi
 Fungsi
 Kepemimpinan
 Tugas-tugas
 Teknologi
 Proses bisnis
Fitur khusus organisasi terdiri dari :

 Tipe organisasi
 Lingkungan
 Tujuan
 Kekuasaan
1. Perubahan Ssitem Informasi dalam Organisasi
Sistem informasi mejadi alat integral, online, interaktif yang erat kaitannya
dengan tiap menit operasi dan pengambilan keputusan pada organisasi besar.

Infrastruktur Teknologi Informasi dan Layanan Teknologi Informasi


Satu cara agar organisasi bisa mempengaruhi bagaimana teknologi
informasi digunakan adalah melalui keputusan-keputusan mengenai konfigurasi
teknis dan organisasional dari sistem. Cara lain organisasi mempengaruhi
teknologi informasi adalah melalui keputusan-keputusan mengenai siap yang
akan mendesain, membangun, dan memelihara infrastruktur TI organisasi.
Keputusan-keputusan ini menentukan bagaimana layanan teknologi informasi di
kirim. Unit atau fungsi organisasi formal yang bertanggung jawab untuk layanan
tenologi disebut departemen sistem informasi. Departemen sistem informasi
bertanggung jawab untuk memelihara perangkat lunak, perangkat keras,
penyimpanan data, dan jaringan yang menyusun infrastruktuk perusahaan.
Departemen sistem informasi terdiri dari para ahli, seperti programer, analisis
sistem, pemimpin proyek, dan manajer sistem informasi. Programer adalah ahli
teknis terlatih yang membuat kode-kode instruksi perangkat lunak untuk
komputer. Analis sistem bertugas menyusun link-link utama antar kelompok
sistem informasi dan kelompok-kelompok lainnya dari organisasi. Merupakan
tugas analis sistem untuk menerjemahkan masalah-masalah bisnis dan
persyaratannya untuk meenjadi prasyarat informasi dan sistem.

Manajer sistem informasi adalah pemimpin tim yang terdiri dari programer dan
analis, manajer proyek, manajer fasilitas fisik, manajer telekomunikasi, dan
kepala kelompok sistem kantor. Ia juga bertindak sebagai manajer untuk
pengoperasian komputer dan staf pengetri data. Juga para ahli luar, seperti
penjual perangkat lunak dan konsultan sering berpartisipasi dalam operasi
harian dan perencanaan jangka panjang sistem informasi.

Dibanyak perusahaan, departemen sistem informasi dikepalai oleh seorang chief


information officer (CIO). Ia tergolong manajemen senior yang bertugas
memperluas pemanfaatan teknologi informas didalam perusahaan. End user
adalah perwakilan diluar kelompok sistem informasi sebagai objek sasaran
pengembangan aplikasi. End user atau pengguna akhir memainkan peran yang
semakin besar dalam perancangan dan pengembangan sistem informasi.
Bagaimana Sistem Informasi mempengaruhi Organisasi
1. Dampak Ekonomi
Ukuran perusahaan biasanya berkembang untuk mengurangi biaya transaksi.
Teknologi informasi secara potensial mengurangi biaya pada ukuran tertentu,
membuka kemungkinan pertumbuhan pendapatan tanpa menambah ukuran,
atau bahkan pertumbuhan pendapatan yang disertai ukuran yang menyusut.

2. Dampak Organisasi dan Perilaku


a) Teknologi Informasi atau TI meratakan organisasi, yaitu perataan hierarki
dengan memperluas distribusi informasi untuk memberikan kekuatan kepada
karyawan tingkat rendah dan meningkatkan efisiensi manajemen

b) Organisasi pascaindustri, yaitu wewenang semakin bergantung kepada


pengetahuan dan kompetensi, dan tidak hanya pada posisi formal.

c) Memahami penolakan organisasi terhadap perubahan. Terdapat beberapa


cara untuk memvisualisasikan penolakan organisasi yang saling berhubungan
untuk membawa perubahan dengan mengubah teknologi, tugas, struktur, dan
orang-orang secara bersamaan.

3. Internet dan Organisasi


Internet meningkatkan aksesibiltas, penyimpanan, dan distribusi informasi dan
pengetahuan untuk organisasi, dan untuk mengurangi biaya transaksi dan
keagenan yang dihadapi kebanyakan organisasi.

4. Implikasi Rancangan dan Pemahaman Sistem Informasi


Faktor organisasi utama yang harus dipertimbangkan saat merencanakan sistem
baru adalah sebagai berikut :

 Lingkungan dimana organisasi berfungsi


 Struktur organisasi : hierarki, spesialisasi, rutinitas, proses bisnis
 Budaya dan politik organisasi
 Jenis organisasi dan gaya kepemimpinan
 Kelompok kepentingan utama yang dipengaruhi oleh sistem dan sikap
dari karyawan yang akan menggunakan sistem
 Jenis tugas, keputusan dan proses bisnis dimana sistem info dirancang
untuk membantunya.
Internet dan Organisasi
Internet, secara khusus World Wide Web, memiliki dampak yang penting bagi
relasi antara perusahaan dan entitas-entitas eksternalnya, bahkan antara
perusahaan dengan proses bisnis internalnya. Internet meningkatkan
aksesibilitas, penyimpanan, dan distribusi informasi dan pengetahuan untuk
organisasi. Intinya, Internet mampu secara dramatis menekan biaya transaksi
dan agensi. Misalnya, perusahaan perantara dan bank di New York sekarang
mampu “mengirim” manual prsedur internalnya kepada karyawannya pada jarak
yang jauh dengan mempostingnya di website perusahaan, sehinggu menghemat
biaya distribusi. Para tenaga penjua bisa mengetaui informasi harga produk
dengan cepat melalui web atau menerima instruksi dari manajemen via e-mail.

Bisnis secara cepat membangun kembali sebagian proses bisnis intinya melalui
teknologi Internet dan menjadikan teknologi ini sebagai komponen pokok bagi
infrastruktur teknologi informasi (TI). Jika jaringan lebih dimanfaatkan secara
efisien, hasilnya adalah proses bisnis lebih mudah dilakukan, karyawan yang
dibutuhan lebih sedikit, dan organisasi menjadi lebih ramping daripada dimasa
lalu.

1. Manajer, Pengambilan Keputusan, dan Sistem Informasi


Peran Manajer Dalam Organisasi
Manajer memainkan pran didalam organisasi.Tanggung jawabnya meliputi
pengambilan keputusan, membuat laporan, menghadiri pertemuan, mengatur
perayaan-perayaan. Menuru Henri Fayol fungsi klasik dari manajer yaitu
perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, pengambilan keputusan, dan
kontrol. Penjelasan aktivitas manajemen ini mendominasi pemikiran mengenai
manajemen dalam jangka waktu yang lama, dan sampai sekarang pun masih
tetap populer. Model behavioral menyatakan bahwa perilaku aktual manajer
kurang sistematis, lebih informal, kurang reflektif, lebih reaktif, lain dengan yang
diindikasikan oleh model klasik. Para peneliti mengetaui bahwa perilaku
manajerial nyatanya memiliki 5 atribut yang sangat berbeda dari deskripsi
klasik: pertama, manajer menjalankan 600 aktivitas yang berbeda tiap hari
tanpa ada jeda. Kedua, aktivitas manajerial terfragmentasi, sebagian besar
aktivtas berlangsung selama kurang dari 9 menit, dan hanya 10 persen aktivitas
berlangsung selama 1 jam. Ketiga, manajer lebih suka menerima infomasi dari
spekulasi, anggapan orang lain, gosip yang beredar, dan tak terencana
sebelumnya. (informasi yang tercetak didalam kertas sering dianggap
ketinggalan zaman). Keempat, mereka lebih suka bentuk komunikaso secara
oral ketimbang tertulis karena lebih fleksibel, hanya memerlukan sedikit usaha.
Dan lebih cepat direspon. Kelima, manajer memberi prioritas utama untuk
memelihara sekumpulan daftar kontak personal yang beragam serta kompleks
yang bertindak sebagai sistem informasi informal dan membantu mereka untuk
menjalankan agenda-agendanya dan sasaran jangka pendek dan jangka
panjang.

Dengan menganalisis perilaku manajer dari hari ke hari, Mintzberg menemukan


bahwa ada 10 peran manajerial. Peran manajeria adalah akivitas yang harus
dijalankan manajer didalam sebuah organisasi. Mintzberg mengatakan peran-
peran manajerial ini terbagi ke dalam 3 kategori yaitu interpersonal,
informational, dan decisional.

Peran interpersonal. Manajer bertindak sebagai figur kepala untuk organisasi


sewaktu merepresentasi perusahaannya kedunia luar dan menjalankan tugas-
tugas simbolis seperti memberi penghargaan kepada karyawan. Manajer
bertindak sebagai pemimpin yang memotivasi, memberi saran, dan mendukung
bawahannya. Manajer juga bertindak sebagai penghubung antara beragam level
organisasi, didalam tiap level ini, mereka menjadi penghubung antara para
anggota tim manajemen.

Peran informational. Manajer bertindak sebagai pusat nadi organisasi, menerima


informasi yang paling up to date, konkrit dan mendistribusikannya kepada pihak-
pihak terkait. Manajer menjadi penyebar informasi dan pembicara untuk
organisasinya.

Peran decisional. Manajer membuat keputusan. Mereka bertindak sebagai


pengusaha dengan menginisiasi tiap bentuk aktivitas baru, mereka menangani
kesulitan-kesulitan yang muncul diorganisasi, mereka mengalokasikan sumber-
sumber kepada staf yang membutuhkan, menegosiasikan konlik dan menjadi
mediator antara kelompok-kelompok yang berkonflik didalam organisasi.
Peran Perilaku Sistem Pendukung

Peran Interpersonal

Figur kepala——————————- Tidak ada

Pemimpin—————interpersonal– Tidak ada

Sistem komunikasi
Perantara———————————– elektronik

Peran Informational

Sistem informasi
Pusat nadi———————————- manajemen, SPP

Penyebar—————–Pemrosesan– Sistem kantor, surat

Kantor dan sistem


Pembicara—————–imformasi— profesional,

work station

Peran decisional

Pemilik usaha————Pengambilan- Tidak ada

Pengendali kesulitan—-Keputusan— Tidak ada

Alokator sumber————————– Sistem SPK

Negosiator——————————— Tidak ada

1. Manajer dan Pengambilan Keputusan


Pengambilan keputusan sering menjadi peran manajer yang sangat menantang.
Sistem informasi telah membantu manajer untuk mengkomunikasikan dan
mendistribusikan informasi, namun hanya memberi bantuan terbatas untuk
pengambilan keputusan manajemen. Karena pengambilan keputusan merupakan
wilayah yang terutama dirancang untuk memperngaruhi keseluruhan proses
bisnis.

Proses Pengambilan Keputusan


Pengambilan keputusan strategis menentukan sasaran-sasaran jangka panjang,
smber-sumber, dan kebijakan organisasi. Pengambilan keputusan untuk kontrol
manajemen secara prinsip memberi perhatian pada bagaimana sumber-sumber
digunakan secara efektif dan efisien, dan bagaimana unit-unit operasional
menjalankan tugasnya. Pengambilan keputusan kontrol operasional menentukan
bagaimana melaksanakan tugas-tugas khusus yang berasal dari manajemen
madya. Pengambilan keputusan level-pengetahuan berhubungan dengan
pengevaluasian gagasan-gagasan baru untuk menciptakan produk dan layanan,
cara-cara untuk mengkomunikasikan pengetahuan baru, dan cara-cara untuk
mendistribusikan informasi keseluruh organisasi.

Didalam tiap level pengambilan keputusan ini, para peneliti menggolongkan


keputusan menjadi keputusan terstruktur dan keputusan tidak testruktur.
Keputusan tidak terstruktur adalah keputusan-keputusan yang memerlukan
evaluasi, pengertian, dan pertimbangan terhadap definisi masalah. Tiap
keputusan yang dihasilkan selalu baru, penting, dan besifat non-rutin, dan tidak
perlu kesepakatan prosedural dalam membuat (Corry dan Scott-Morton, 1971).
Keputusan terstruktur, kebalikannya, adalah keputusan-keputusan yang bersifat
rutin dan berulang-ulang, dan memerlukan prosedur baku untuk menanganinya
supaya lebih praktis. Ada juga keputusan yang bersifat semi terstruktur, yaitu
hanya bagian tertentu dari masalah yang memiliki jawaban yang jelas sesuai
dengan prosedur tertentu, sedangkan bagian lainnya masih belum jelas
penyelesaiannya.
Tingkatan Pengambilan Keputusan
Proses pengambilan keputusan mengandung beberapa aktivitas yang saling
berbeda. Simon (1960) menggambarkan 4 tingkat dalam pengambilan
keputusan yaitu kecerdasan, perancangan atau desain, pilihan, dan penerapan.
Kecerdasan terdiri dari pengidentifikasian dan pemahaman masalah-masalah
yang muncul didalam organisasi mengenai mengapa masalah itu muncul,
dimana, dan apa saja akibatnya. Sistem tradisional SIM yang menawarkan
variasi rincian informasi dapat membantu mengidentifikasikan masalah,
khususnya jika sistem yang bersangkutan memberi beberapa alternatif
pemecahan masalah sebagai outputnya.

Selama melakukan perancangan atau desain solusi atas masalah individu


merancang kemungkinan solusi atas masalah. Sistem SPK yang sederhana ideal
untuk tingkat pengambilan keputusan ini karena mampu menjalankan model-
model sederhana, bisa dikembangkan dengan cepat, dan bisa dioperasikan
dengan data yang terbatas.

Pilihan terdiri penentuan dari beraganm solusi alternatif. Di sisi para pengambil
keputusan memerlukan sistem SPK yang lebih kompleks untuk mengembangkan
data ekstensif yang lebi banyak pada beragam alternatif dan model-model
kompleks atau atau alat bantu analisis data untuk mengkakulasi semua eban,
konsekuensi, dan peluang.

Selama melakukan implementasi, ketika keputusan dijalankan, manajer dapat


menggunakan sistem pelaporan yang bisa mengerjakan laporan-laporan rutin
untuk kemajuan solusi tertentu.

Model-Model Pengambilan Keputusan


Ada beberapa model yang berusaha menggambarkan bagaimana orang-orang
membuat keputusan. Sebagian model ini fokus kepada pengambilan keputusan
individual, sebagian lagi fokus kepada pengambilan keputusan dalam kelompok.

Model-model pengambilan keputusan individual mengasumsikan bahwa manusia


adalah rasional. Model rasional dari perilaku manusia terbentuk berdasarkan
gagasan bahwa orang-orang menjalankan semacam kalkulasi pemaksimalan
nilai, kalkulasi rasio, kalkulasi konsisten. Menurut model ini, seorang individu
mengidentifikasi sasaran, tujuan dan semua prioritas tindakan alternatif
berdasarkan kontribusinya terhadap sasaran tersebut, kemudian memilih satu
yang paling memberi kontribusi atas sasaran tujuan itu.

Kritik untuk model ini menunjukan bahwa nyatanya orang tidak bisa
mengkhususkan semua alternatif, dan sebagian besar individu tidak memiliki
satu sasaran sehingga tidak mampu menyusun semua prioritas alternatif dan
konsekuensi. Sebagian besar keputusan bersifat kompleks sehingga
mengkalkulasi pilihan. (bahkan jika dilakukan dengan komputer) hampir tidak
dimungkinkan. Daripada mencari di semua alternatif, orang cenderung memilih
alternatif pertama yang tersedia yang membawanya kepada sasaran tersebut.
Dalam mengambil kebijakan, orang memili kebijakan yang hampir serupa
dengan kebijakan yang diambil sebelumnya (Lindbom, 1959). Akhirnya,
sebagian ahli menganggap bahwa pengambilan keputusan merupakan proses
berkesinambungan dimana keputusan final selalu dimodifikasi.

Penelitia lain menyimpulkan bahwa manusia berbeda dalam hal bagaimana


mereka memaksimalkan nilai dan dalam hal rujukan yang digunakan untuk
menginterpretasikan informasi dan membuat pilihan. Tversky dan kahneman
menunjukan bahwa manusia memiliki prasangka-prasangka yang bisa
mendistorsi pengambilan keputusan. Orang-orang bisa termanipulasi utnuk
memilih salah satu alternatif hanya dengan mengubah kerangka rujukannya.

Model kognitif menggambarkan disposisi kepribadian yang mendasar terhadap


perlakuan atas informasi, alternatif pilihan, dan evaluasi konsekuensi. Pembuat
keputusan sistematis mendekati permasalahan dengan cara menstrukturisasi
masalah berdasarkan beberapa metode formal. Mereka mengevaluasi dan
mengumpulkan informasi berdasarkan metode terstrukturnya. Para pembuat
keputusan intuitif mendekati permasalahan dengan beragam metode,
menggunaka cara trial and error untuk mencari solusi. Tidak ada satupun
metode yang lebih superior daripada yang lainnya dan masing-masing metode
bisa menguntungkan untuk situasi tertentu. Sementara masalah terstruktur
dengan pokok-pokok yang sudah jelas bisa ditangani dengan “berfikir dahulu”
berdasarkan langkah-langkah logis, masalah lainnya memerlukan solusi kreatif
yang baru melalui intuisi atau mencoba beberapa bentuk tindakan tersebut
sesuai sebagai solusi (Mintzberg dan Westley, 2001).

Acapkali pengambilan keputusan dilakukan oleh satu individu, tetapi oleh


kelompok atau organisasi keseluruhan. Pengambilan keputusan model
organisasional memperhitungkan karakteristik politik dan struktural dari
organisasi. Model-model birokratik, politis, dan bahkan model-model “keranjang
sampah” telah diajukan untuk menggambarkan bagaimana pengambilan
keputusan terjadi didalam organisasi.
Menurut pengambilan keputusan model birokratis tujuan terpenting organisasi
adalanh memelihara organisasi itu sendiri. Tujuan utama lainnya adalah
merduksihal-hal lain yang kurang diperlukan. Kebijakan cenderung meningkat
dan hanya sedikit berbeda dari masa lalu. Hal ini karena masuknya kebijakan
radikal melibatkan sekian banyak hal yang kurang diperlukan. Model ini
menunjukan organisasi secara umum bukan sebagai “pemilihan” atau
“keputusan” dalam arti rasional; tetapi menurut model-model birokratis, lebih
kepada apapun yang dilakukan organisasi merupakan hasil dari prosedur standar
pengoperasian yang dijalankan secara aktif.

Organisasi jagang mengubah prosedur standar karena memerlukan pula


perubahan personil dan menimbulkan risiko. Walaupun manajemen senior dan
pemimpin diberi tugas untuk memimpin organisasi, namun mereka secara eektif
terperangkap oleh solusi standar organisasi. Tentu saja sebagian organisasi
melakukan perubahan, mereka menemukan cara-cara baru dalam berperilaku,
dan bisa dipimpin.Namun, semua perubahan itu membutuhkan waktu yang
lama.
Dalam pengambilan keputusan model politis, yang dikerjakan oleh organisasi
merupakan hasil tawar-menawar politik antara para pemimpin dan kelompok-
kelompok yang terlibat. Organisasi tidak memiliki keputusan yang berasal dari
“pilihan” untuk memecahkan “permasalahan”. Keputusan berasal dari
kesepakatan atau kompromi yang menghasilkan konflik, munculnya pengendali-
pengendali utama, perbedaan minat, kekuatan yang berbeda, dan kebingungan
politik.

Teori pengambilan keputusan yang disebut model “keranjang sampah”,


menyatakan bahwa organisasi tidaklah rasional. Pengambilan keputusan bersifat
insidental dan merupakan produk dari aliran solusi, masalah, dan situasi yang
digabungkan secara acak. Model ini bisa menjelaskan mengapa organisasi
kadang kala menerapkan solusi yang tidak sesuai untuk masalah yang dihadapi.

1. Implikasi untuk Perancangan dan Pemahaman Sistem Informasi


Agar mampu memberikan manfaat, sistem informasi harus dibangun dengan
suatu pemahaman yang jelas atas organisasi tempat sistem itu diterapkan dan
bagaimana sistem informasi secara tepat memberi konstribusi untuk
pengambilan keputusan manajerial.
Dalam pengalaman kami, faktor-faktor sentral pada organisasi yang perlu
dipertimbangkan dalam merencanakan sistem adalah :

 Lingkungan dimana organisasi harus berfungsi


 Struktur organisasi : hierarki, spesialisasi, dan prosedur standar
pengoperasian
 Kultur dan politik organisasi
 Tipe organisasi dan gaya kepemimpinannya
 Kelompok-kelompok utama terkait yang mempengaruhi sistem dan
perilaku para pekerja yang akan menggunakan sistem itu
 Jenis tugas, keputusan, dan proses bisnis yang akan dibantu oleh sistem
informasi
Sistem harus dibangun untuk mendukung pengambilan keputusan kelompok dan
organisasi. Para perancang sistem informasi harus mendesain sistem yang
memiliki karakteristik berikut :

 Fleksibel dan memberi banyak pilihan untuk menangani data dan


mengevaluasi sistem
 Mampu mendukung beragam gaya, keterampilan, dan pengetahuan juga
mampu melacak banyak alternatif dan konsekuensi
 Sensitif atau birokrasi organisasi dan ketentuan-ketentuan politik
1. Sistem Informasi dan Strategi Bisnis
Tipe sistem informasi tertentu sangat penting bagi kesejahteraan dan
kelangsungan hidup jangka panjang suatu perusahaan. Sistem tersebut, yang
merupaka alat ampuh untuk tetap terdepan dalam persaingan, disebut sistem
informasi srategis.

Apa yang Dimaksudkan dengan Sistem Informasi Strategi?


Sistem informasi stategis mengubah sasaran, pengoperasian, produk, jasa atau
relasi lingkungan organisasi untuk memperkuat posisi dalam persaingan dagang.
Sistem yang mampu memberi efek seperti ini mampu mengubah bisnis
organisasi.

Sistem informasi strategis harus dibedakan dengan sistem level-strategis untuk


manajr senior yang fokus pada permasalahan pengambilan keputusan jangka
panjang. Sistem informasi strategis bisa digunakan disemua level pada satu
organisasi, dengan jangkauan yang lebih luas dan lebih dalam ketimbang sistem
lainnya sebagaimana sudah dijelaskan. Sistem informasi strategis secara intens
mengubah cara suatu perusahaan menjalankan bisnisnya. Organisasi perlu
mengubah proses pengoperasian internal dan relasinya dengan pelanggan serta
pemasok sehingga memperoleh keuntungan dari teknologi sistem informasi yang
baru.

Model-model tradisional sedang dimodifikasi untuk mengakomondasi dampak


dari perusahaan digital dan alur informasi yang baru. Sebelum lahirnya
perusahaan digital, strategi bisnis menekankan persaingan head to head
terhadap perusahaan lainnya pada pasar yang sama. Saat ini, penekanan
tersebut semakin meningkat dalam hal eksplorasi, identifikasi, dan penguasaan
wilayah pasar; juga dalam hal pemahaman rantai nilai pelanggan secara lebih
baik; dan belajar lebih cepat dan mendalam ketimbang pesaing lain.

Umumnya tidak ada sistem strategis tunggal, namun ada sejumlah sistem yang
beroperasi pada beragam level dari strategi bisnis, perusahaan, dan industri.
Untuk tiap level pada strategi bisnis, terdapat pemanfaatan strategis dari sistem.
Dan untuk tiap level strategi bisnis, terdapat model yang sesuai yang digunakan
untuk analisis.

Strategi Level-Bisnis dan Model Rantai Nilai


Pada level bisnis dari strategi, pertanyaan pokoknya adalah, “Bagaimana kita
berkompetisi dalam pasar tertentu ini?” Yang menjadi obyek untuk pasar
mungkin saja bolam lampu, televisi kabel, atau perkakas bangunan. Strategi
yang paling umum untuk level ini adalah : (1) menjadi penghasil produk dengan
biaya yang rendah, (2) mendiferensiasikan produk dan jasa, dan atau (3)
mengubah lingkup persaingan baik dengan cara memperluas pasar sampai ke
pasar global maupun dengan mempersempit pasar-yaitu fokus hanya pada
wilayah yang tidak terjangkau dengan baik oleh pesaing lain. Perusahaan digital
memberi kemampuan baru untuk mendukung level strategi dengan cara
mengelola rantai persediaan, membangun sistem “nikmati dan beri tanggapan”
bagi pelanggan., dan memanfaatkan fungsi web dalam melakukan distribusi
produk-produk baru dan jasa ke pasar.

Mendongkrak Teknologi dalam Rantai Nilai


Pada level bisnis, alat bantu analisis yang paling umum adalah analisis rantai
nilai. Model rantai nilai memberi pehatian pada aktivitas khusus dimanastrategi
kompetitif bisa diterapkan dengan paling baik (Porter, 1985) dan dimana sistem
informasi paling memiliki dampak strategis. Model rantai nilai mengidentifikasi
poin-poin pengaruh yang khusus dan penting dimaa perusahaan dapat
memanfaatkan teknoligi informasi secara paling efektif untuk memperluas posisi
kompetitifnya. Tepatnya, dimanakah keuntungan terbesa dari sistem informasi
strategis bisa diperoleh –aktivitas khusus apa yang bisa digunakan untuk
menciptakan produk dan jasa baru, memperluas penetrasi pasar, mengikat
pelanggan dan pemasok, dan menekan biaya oprasional? Model ini memandang
perusahaan sebagai rangkaian atau “rantai” dari aktivitas dasar yang menambah
nilai bagi produk dan jasa perusahaan. Aktivitas ini bisa dikategorikan baik
sebagai aktivitas primer maupun aktivitas pendukung.

Aktivitas primer adalah aktivitas yang paling berhubungan secara langsng


dengan produksi dan distribusi produk dan jasa perusahaan, yang menciptakan
nilai untuk pelanggan. Aktivitas primer mencakup logistik inboud,
pengoperasian, logistik outbound, penjualan dan pemasaran, dan jasa. Logistik
inbound meliputi penerimaan dan penyimpanan bahan-bahan material untk
produksi. Pengoperasian bertugas mentransformasi input-input menjadi produk
jadi. Logistik outbound meliputi penyimpanan dan pendistribusian produk jadi.
Penjualan dan pemasaran meliputi promosi dan penjualan produk-produk
perusahaan. Aktivitas jasa meliputi pemeliharaan dan perbaikan atas produk dan
jasa perusahaan. Aktivitas pendukung memungkinkan proses pengiriman barang
pada aktivitas primer dapat dijalankan. Aktivitas pendukung terdiri dari
infrastruktur organissi (administrasi dan manajemen), sumber daya manusia
(rekrutmen karyawan, kontrak karyawan, dan pelatihan), teknologi (perbaikan
dan proses produksi), dan pengadaan (pembelian barang-barang sebagai input
produksi).

Organisasi memiliki keunggulan kompetitif jika mampu menyediakan lebih


banyak nilai kepada pelanggannya, atau jika memberi nilai yang sama dengan
harga yang lebih rendah. Sistem informasi dapat memiliki dampak strategis jika
ia mampu membantu perusahaan untuk menyediakan produk dan jasa dengan
harga lebih murah daripada pesaingnya tetapi memiliki nilai yang lebih baik.
Aktivitas yang memberi nilai kepada produk dan jasa tergantung pada fitur dari
setiap perusahaan tertentu.

Rantai nilai perusahaan bisa dihubungkan ke rantai nilai mitraya yang lain,
termasuk pemasok, distributor dan pelanggan. Perusahaan bisa mencapai
keuntungan strategis dengan memberi nilai, tidak hanya melalui proses rantai
nilai internal, tetapi juga melalui hubungan erat yang efisien dengan mitra nilai
indurstrinya.

Jaringan yang beroperasi secara digitaldibanyak perusahaan independen bisa


dimanfaatkan tidak hanya untuk membeli barang-barang persediaan, tetapi juga
untuk berkoordinasi dengan erat mengenai produk. Teknologi internet
memungkinkan perluasan rantai nilai sehingga bisa mengikat semua pemasok,
mitra bisnis da pelanggan dalam satu value web. Value web merupakan
kumpulan perusahaan independen yang menggunakan teknologi internet untuk
mengkoordinasi rantai nilai untuk secara kolektif menghasilkan produk atau jasa
bagi pasar. Value web lebih bersifat dikendalikan oleh konsumen dan berjalan
secara kurang linier daripada rantai nilai tradisional. Value web berfungsi seperti
ekosistem bisnis yang dinamis, mensinkronisasi proses bisnis dari pelanggan,
pemasok, mitra dagang diantaara beragam perusahaan didalam suatu industri
atau bisnis terkait. Value web bersifat fleksibel dan adaptif terhadap perubahan
persediaan dan permintaan. Relasi bisa dibangun atau diputuskan sebagai
respons atau perubahan kondisi pasar. Perusahaan bisa memanfaatkan value
web untuk mempertahankan relasi dengan banyak pelanggan yang telah lama
terjalin, atau untuk merespon cepat transaksi pelanggan secara individual.
Perusahaan bisa mempercepat waktu peluncuran produk ke pasar dan ke
pelanggan dengan mengoptimasi relasi value web dalam hal pengambilan
keputusan mengenai siapa yang bisa mengantarkan produk atau jasa yang
diperlukan dengan harga dan lokasi yang tepat.

Bisnis harus mengusahakan perkembangan sistem informasi strategis baik untuk


aktivitas rantai nilai inteernal maupun eksternalyang paling memberi nilai lebih.
Rantai nilai dan value web tidaklah statis. Dari waktu ke waktu keduanya selalu
didesain kembali agar selalu mengikui perubahan dalam lapangan persaingan
(Fine dkk, 2002). Perusahaan perlu mengorganisasi dan membentuk kembali
sistemnya untuk membuka jalan bagi sumber-sumber nilai yang baru.
Produk dan Jasa Sistem Informasi
Perusahaan bisa memanfaatkan sistem informasi untuk umenciptakan produk
dan jasa baru yang unik yang bisa dengan mudah dibedakan dari produk
pesaingnya. Sistem informasi strategis untuk diferensiasi produk dapat
mencegah salah repons, yaitu seakan-akan perusahaan yang memiliki produk
dan jasa yang berbeda tidak perlu lagi dalam hal basis biaya.

Sebagian besar prouk dan jasa berbasis teknologi informasi ini diciptakan oleh
institusi finansial. City bank mengembangkan anjungan tunai mandiri (ATM) dan
kartu debit di tahun 1977. City Bank pada satu waktu menjadi bank terbesar di
Amerika Serikat. ATM City bank sangat berhasil sehingga para pesainnya ikut-
ikutan membuat juga sistem ATM mereka. City Bank, Wells Pargo Bank dan yang
lainnya terus berinovasi dalam memberi layanan online elektronic banking
sehingga pelanggan bisa melakukan sebagian besar transaksi perbankan melalui
komputernya dirumah yang terhubung jaringa internet.

Bank-bank tersebut, akhir-akhir ini telah meluncurkan kumpulan jasa rekening


yang memungkinkan pelanggan mengetahui semua rekeningnya, termasuk kartu
kredit, deposito, online travel reward,dan bahkan mengetahui semua rekening
miliknya dibank lainnya, dari satu sumber online. Sebagian perusahaan seperti
Net Bank memanfaatkan web untuk menciptakan virtual bank yang menawarkan
layanan perbankan kompleks tanpa perlu ada cabang-cabang bank secara fisik.

Sistem reservasi terkomputerisasi seperti perusahaan penerbangan Amerika


SABRE pada mulanya merupakan sistem tradisional yang melakukan diferensiasi
produk untuk urusan jasa penerbangan dan perjalanan. Kemudian, sistem
tradisionalnya dikembangkan sehingga pelanggan bisa memesan secara
langsung trayek penerbangan, hotel, sewa mobil melalui web- tidak perlu melalui
agen-agen perjalananatau intermediari yang lain.

Sistem yang Fokus pada Ceruk Pasar


Bisnis dapat menciptakan ceruk pasar baru dengan cara mengidentifikasi target
tertentu atas produk atau jasa yang mampu menanggapi secara paling baik
selera pelanggan. Melalui diferensiasi terfokus, perusahaan dapat menciptakan
produk dan jasa khusus bagi target pasar ceruk ini secara lebih baik ketimbang
pesaingnya.
Sistem informasi dapat memberi perusahaan keuntungan kompetitif dengan
menyediakan data untuk menyusun teknik pemasaran dan penjualan yang tepat.
Sistem seperti ini memperlakukan informasi yang ada sebagai sumber yang bisa
“ditambang” oleh perusahaan untuk meningkatkan perusahaan untuk
menganalisis dengan baik pola pembelian konsumen, seleranya, dan pilihannya
sehingga periklanan dan promosi pemasaran secara efisien mencapai puncak
pada target pasar yang lebih kecil.

Data berasal dari suatu sumber tertentu, misalnya transaksi kartu kredit, data
demografis, data pembelian dari menindaian barcode pada kounter di
supermarket atau toko-toko retail, dan data yang terkumpul sewaktu orang
berinteraksi pada website. Perangkat lunak yang canggih bisa menemukan pola
dalam kumpulan besar data sepeti ini, kemudian menarik kesimpulan
berdasarkan pola-pola itu yang bisa membantu serta menuntun pengambilan
keputusan. Analis data seperti ini menampilkan model pemasaran one to one
dimana pesan-pesan personal tercipta berdasarkan pilihan-pilihan individual.

Biaya yang diperlukan untuk mendapatkan pelanggan baru diperkirakan lima kali
dari biaya untuk mempertahankan pelanggan yang sudah ada. Melalui pengujian
secara teliti terhadap transaksi pembelian dan aktivitas pelanggan, perusahaan
dapat mengidentifikasi pelanggan mana yang paling menguntungkan dan
semakin banyak memenangkan bisnis mereka. Sejalan dengan itu, perusahaan
bisa menggunakan data-data tersebut untuk mengidentifikasi pelanggan yang
kurang menguntungkan. Perusahaan yang terampil memanfaatkan data
pelanggan akan fokus kepada identifikasi pelanggan mana yang paling berharga
dan akan mengguaan data dari beagam sumber untuk memahami kebutuan
mereka (Reinartz dan Kumar, 2002; Davenport, Harris, dan Kohli, 2001;
Clemons dan Weber, 1994).

Manajemen Rantai Persediaan dan Sistem Respons Pelanggan Efisien


Perusahaan digital memiliki kemampuan mencakup wilayah sampai diluar sistem
strategi tradisional untuk memperoleh keuntungan dari link secara digital ke
organisasi lainnya. Strategi level bisnis yang ampuh yang tersedia pada
perusahaan digital terdiri dari link-link rantai ilai vendor dan pemasok ke rantai
nilai perusahaan. Integrasi rantai nilai bisa dijalankan lebih jauh lagi dengan
menghubungkan rantai nilai pelanggan ke rantai nilai perusahaan melalui sebuah
“sistem respons pelanggan efisien.” Perusahaan yang memanfaatkan sistem
untuk berhubungan dengan pelanggan dan pemasoknya bisa mereduksi biaya
inventorinya sementara merepons dengan cepat permintaan pelanggan.

Dengan menjaga agar tetap rendah dan rak-rak persediaan tetap terisi dengan
menggunakan sistem pengisian kembali inventori, Sistem manajemen rantai
persediaan tidak hana menekanbiaya inventori, namun juga dapat
mengantarkan barang atau jasa dengan cepat kepada pelanggan. Manajemen
rantai persediaan dengan demikian bisa digunakan untuk menciptakan sistem
respons pelanggan yang efisien yang mampu menanggapi permintaan pelanggan
secara lebih efisien.Sistem respons pelanggan yang efisien secara langsung
menghubungkan kembali perilaku konsumen ke distribusi, produksi, dan rantai
persediaan.

Kenyamanan dan kemudahan menggunakan sistem informasi telah


meningkatkan biaya penggantian (beban biaya yang dikeluarkan untuk beralih
dari satu produk ke produk bersaing), yang menyebabkan pelanggan enggan
beralih ke pesaing. Membandingkan metode stockless inventory dengan metode
persediaan tepat waktu dan metode pengiriman tradisional. Pada metode
persediaan tepat waktu, pelanggan dimungkinkan untuk menekan inventorinya
dengan memesan hanya barang-barang yang diperlukan untuk beberapa hari,
sedangkan metode stockless inventory memungkinkan mereka untuk
mengeliminir inventori secara keseluruhan. Semua kewajiban inventori
diserahkan kepada distributor, yang mengelola alur persediaan. Metode stockless
inventory merupakan alat yang ampuh untuk “mengunci” paara pelanggan,
dengan demikian memberi keuntungan kompetitif kepada pemasok. Sistem
informasi juga bisa meningkatkan biaya penggantian dengan membuat layanan
dukungan produk dan interaksi lainnya dengan pelanggan secara lebih nyaman
dan terpercaya (Vandenbosh dan Dawar, 2002; Chen dan Hitt, 2002).

Manajemen rantai persediaan dan sistem respons pelanggan efisien merupakan


dua contoh bagaimana perusahaan digital bisa menjalankan strategi bisnis yang
tidak terdapat di perusahaan tradisional. Kedua model sistem itu memerlukan
investasi infrastruktur teknologi informasi berbasis jaringan dan perangkat lunak
yang sesuai agar data konsumen dan persediaan mengalir lancar antar beragam
organisasi. Kedua model strategi itu memperluas efisiensi dari perusahaan
perseorangan dan ekonomi secara keseluruhan dengan cara mengarahkan visi
ke depan, yaitu ke sistem produksi berdasarkan permintaan, dan semakin
melepaskan sistem ekonomi tradisional berdasarkan informasi cepat pembelian
pelanggan.

1. Strategi Level-Perusahaan dan Teknologi Informasi


Suatu perusahaan bisnis biasanya merupakan kumpulan bisnis. Perusahaan
terorganisasi secara finansial sebagai suat kumpulan unit bisnis strategis, dan
keuntungan perusahaan secara langsung terkait erat dengan kinerja unit bisnis
strategis. Sistem informasi bisa menjalankan kinerja keseluruhan dari unti bisnis
ini berdasarkan sinergi dan kompetensi intinya. Gagasan mengenai kendali
sinergis adalah jika beberapa unti bisa digunakan sebagai input bagi unit
lainnya, atau dua organisasi meraup pasar dan keahlian, maka relasi ini dapat
menekan biaya dan menghasilkan keuntungan.

Memperluas Kompetensi Inti


Konsep kedua untuk strategi level-perusahaan adalah gagasan mengenai
“kompetensi inti”, alasannya adalah bahwa kinerja semua unit bisnis dapat
meningkat sejauh unit bisnis tersebut mengembangkan, atau menciptakan inti
pusat kompetensi Kompetensi inti adalah aktivitas yang menyebabkan
perusahaan menjadi pemimpin kelas dunia. Kompetensi menyebabkan
perusahaan menjadi perancang komponen miniatur di dunia, atau layanan
pengiriman barang terbaik, atau pabrik membuat film terbaik. Singkatnya,
kompetemsi inti bersandar pada; pengetahuan yang dikembangkan bertahun-
tahun, dan organisasi penelitian terpercaya atau orang-orang yang mengikuti
literatur dan pengetahuan baru lainnya.

Sistem informasi apapun yang melakukan sharing pengetahuan lintas unit bisnis
bisa memperluas kompetensi. Sistem seperti ini memperluas kompetensi dan
membantu karyawan untuk sadar akan munculnya pengetahuan-pengetahuan
baru, juga membantu bisnis untuk mempengaruhi kompetensi yang sudah ada
kepada pasar terkait,

1. Strategi Level-Industri dan Sistem Informasi: Kekuatan-Kekuatan


Kompetitif dan Perekonomian Jaringan
Perusahaan terdiri dari industri, misalnya industi otomotif, telepon,
pemancar televisi, dan industri produk perhutanan, dan seterusnya. Pertanyaan
strategis yang utama untuk level analis ini adalah, “Bagaimana dan bilamana
kita harus berkompetisi dengan yang lainnya dalam industri?” Oleh karena
sebagian besar analis strategis menekankan persaingan, maka keuntungan besar
bila diperoleh dengan cara bekerja sama dengan perusahaan lain pada industri
terkait. Misalnya perusahaan bisa bekerja sama untuk mengembangkan standar
baku industri di sejumlah wilayah, mereka bisa bekerja sama membangun
costumer awareness, dan secara kolektif dengan pemasok untuk menekan
biaya-biaya (Shapiro dan Varian, 1999). Tiga konsep utama analisis strategi
pada level industri adalah kemitraan informasi, model kekuatan kompetitif, dan
perekonomian jaringan.
Kemitraan Informasi
Perusahaan dapat membentuk kemintraan informasi dan bahkan
menghubungkan satu sama lain sistem informasinya utuk mencapai sinergi yang
unik. Didalam kemitraan informasi, kedua perusahaan yang saling bermitra bisa
menggabungkan kekuatan dengan saling berbagi informasi tanpa secara
nyata/fisik bergabung (Konsynski dan MzFarlan, 1990).

Kemitraan seperti ini membantu perusahaan memperoleh akses untuk


mendapatkan pelanggan baru, menciptakan peluang-peluang baru untuk
penjualan dan penargetan produk. Perusahaan yang telah menjadi pesaing
tradisional akan menemukan bahwa aliasi seperti itu sangat menguntungkan
kedua belah pihak.
Model Kekuatan Kompetitif
Menurut model kekuatan kompetitif yang dikemukakan oleh Porter, Seperti
digambarkan diatas, Perusahaaan menghadapi sejumlah ancaman dan peluang
eksternal : ancaman dari pemain-pemain baru dipasar, tekanan dari produk atau
jasa subtitusi, kekuatan penalaran dari para pelanggan, kekuatan penawaran
dari para pemasok, dan posisi pesaing industri tradisional (Poter, 1985).

Keuntungan kompetitif bisa diperoleh dengan memperluaskemampuan


perusahaan untuk berhadapan dengan pelanggan, pemasok, produk atau jasa
subtitusi, dan pemain-pemain baru dipasar, yang berpotensi mengubah
keseimbangan kekuatan antara perusahaan dan pesaing lainnya dalam industri
terkait.

Suatu contoh kerja sama level-industri bisa ditemukan pada Covisint yang
menciptakan pasar elektronik dimana pabrik-pabrik besar pembuat komponen-
komponen kendaraan ikut ambil bagian didalamnya. Walaupun General Motor,
Vord, dan DaimelerChrysler secara agresif bersaing dalam hal desain , layanan,
kualitas, dan harga, mereka bisa meningkatan produktivitas industri dengan cara
bekerja bersama menciptakan rantai persediaan terpadu. Hadirnya sistem
Covisint memungkinkan semua pemanufaktur dan pemasok untuk berdagang
melalui satu situs internet, pemanufaktur tidak perlu membangun sendiri pasar
berbasis-web milik mereka.
Dalam era perusahaan digital, model kekuatan kompetitif perlu dimodifikasi.
Model tradisional Porter mengasumsikan lingkungan industri yang relatif statis,
batasan-batasan industri relatif terlihat secara jelas, dan kumpulan pemasok,
pesaing dan pelanggan relatif stabil. Namun dewasa ini perusahaan tidak lagi
berpartisipasi dalam satu jenis industri. Sekarang mereka lebih ambil bagian
pada suatu “Set Industry” atau kumpulan industri beragam yang saling
berhubungan sehingga dihadapkan pada beragam pilihan produk dan jasa (lihat
gambar dibawah ini).

Namun demikian, model kekuatan kompetitif tetap merupakan model yang sah
untuk penganalisisan strategi, bahkan jika memperhitungkan dampak teknologi
internet. Teknologi internet telah mempengaruhi struktur industri dengan
memberikan teknologi yang mempermudah para pesaing untuk berkompetisi
dalam hal harga dan para pemain baru pada pasar. Keuntungan juga makin
berkurang karena internet secara dramatis meningkatan informasi yang tersedia
bagi para pelanggan dalam hal perbandingan harga, dengan demikian
meningkatkan kekuatan penawaran mereka. Walaupun internet bisa
memberikan keuntungan, misalnya pengadaan saluran-sauran baru bagi
pelanggan konsumen dan efisiensi pengoperasian baru, namun perusahaan tidak
bisa mendapatkan keuntungan kompetitif kecuali mereka mengintegrasikan
fungsi-fungsi internet ke dalam strategi dan operasional mereka
secara keseluruhan.Dalam era internet, kekuatan-kekuatan kompetitif tradisional
masih tetap bekerja, namun persaingan menjadi lebih intens (Porter, 2001).
Perekonomian Jaringan
Konsep strategis ketiga yang juga bermanfaat pada level-industri adalah
perekonomian jaringan. Dalam ekonomi tradisional-perekonomian pabrik dan
pertanian-produksi mengalami penurunan laba. Semakin banyak sumber yang
digunakan untuk produksi, semakin rendah perolehan keuntungannya, sampai
tercapai satu titik dimana input-input tambahan tidak lagi menghasilkan output
tambahan. Ini adalah hukum penurunan laba, dan menjadi dasar bagi sebagian
besar perekonomian modern.

Dalam beberapa keadaan, hukum laba tidak berlaku . Misalnya, didalam suatu
jaringan, biaya yang dikeluarkan untuk menambah partisipan lainnya adalah nol,
sebaliknya keuntungan yang diperoleh bisa semakin besar. Semakin banyak
jumlah pelanggan pada sistem telepon, atau internet, semakin besar nilai bagi
semua partisipan. Mengoperasikan stasiun pemancar televisi dengan 1000
pelanggan ketimbang dengan 10 juta pelanggan, bukan lagi hal yang mahal
untuk dilakukan. Dan jumlah komunitas orang-orang yang tergabung semakin
bertambah, sebaliknya biaya penambahan anggota baru tidak diperlukan.

Dari perspektif perekonomian jaringan ini, teknologi informasi bisa berguna


secara strategis. Situs-situs internet dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk
membangun pelanggan berpola “komunitas pengguna” yang ingin berbagi
pengalaman. Hal ini bisa menciptakan loyalitas pelanggan dan kesenangan, da
membangun ikatan unik dengan pelanggan. Ebay, situs lelang online raksasa
dan iVillage, komunitas online untuk wanita adalah contoh hal tersebut. Kedua
bisnis itu didasarkan pada jaringan dari jutaan pengguna dan kedua perusahaan
memanfaatkan web dan alat komunikasi internet untuk membangun komunitas.

1. Memanfaatkan Sistem Demi Keuntungan Kompetitif: Pokok-Pokok


Manajemen
Sistem informasi strategis sering mengubah organisasi termasuk produk-produk,
jasa, prosedur pengoperasiannya, mengendalikan organisasi menuju ke pola-
pola perilaku yang baru. Pemanfaatan teknologi untuk mendapatkan keuntungan
strategis memerlukan perencanaan dan pengelolaan yang cermat. Manajer yang
berminat dalam hal pemanfaatan sistem informasi untuk mendapatkan
keuntungan kompetitif perlu menjalankan analisis sistem strategis. Bagian Alat
Bantu Manajer diuraikan sejumlah pokok analisis tersebut.
Mengelola Peralihan Strategis
Pengadaptasian dari beragam sistem strategis yang diuraikan pada bab ini
umumnya memerlukan perubahan sasaran bisnis, relasi dengan pelanggan dan
pemasok, operasi internal, dan arsitektur informasi. Perubahan-perubahan sosio-
teknis ini, yang mempengaruhi unsur-unsur sosial dan teknis dari organisasi,
bisa dianggap sebagai peralihan strategis-suatu perpindahan antar level sistem
sosio-teknis.

Perubahan-perubahan seperti ini sering mengaburkan batasan-batasan


organisasi, baik eksternal maupun internal. Pemasok dan pelanggan harus
terhubung erat dan bisa berbagi masing-masing kewajiban. Misalnya, dalam
sistem inventori stockless dari Baxter diasumsikan bahwa Baxter memiliki
kewajiban untuk mengelola inventori pelanggan (Jonhston dan Vitale, 1988).
Manajer perlu merencanakan proses bisnis baru untuk mengkoordinasi aktivitas
perusahaannya dengan pelanggan, pemasok, dan organisasi lainnya.

Teknologi informasi menyediakan alat bantu bagi para manajer untuk


menyelesaikan baik peran baru maupun peran tradisionalnya, memampukan
manajer untuk memonitor, merencanakan, dan memprediksi dengan lebih tepat
dan cepat untuk merespons dengan cepat perubahan lingkungan bisnis.
Menemukan cara dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk mencapai
keuntungan kompetitif pada bisnis, perusahaan, dan level-industri merupakan
tanggung jawab kunci bagi manajemen. Sebagai tambahan untuk identifikasi
proses bisnis, kompetensi inti, dan hubungan dengan yang lain didalam industri
yang dapat ditingkatkan dengan teknologi informasi, para manajer harus
mengawasi perubahan sosio –teknis yang dibutuhkan untuk menerapkan sistem
strategis.

Masing-masing organisasi mempunyai konstelasi untuk sistem informasi yang


berasla dari interaksinya dengan teknologi informasi. Teknologi informasi zaman
ini dapat mendorong ke arah efisiensi dan perubahan utama organisasi dengan
mengurangi iaya-biaya agensi dan biaya transaksi dan bisa juga menjadi sumber
keuntungan kompetitif. Pengembangan sistem strategis biasanya memerlukan
perubahan luas di dalam struktur organisasi, kultur, dan proses bisnis.
Perubahan-perubahan tersebut sering menghadapi perlawanan.
Teknologi informasi menawarkan cara-cara baru untuk mengorganisasi kerja dan
menggunakan informasi yang dapat meningkatkan kekayaan serta
mempertahankan kelangsungan organisasi. Teknologi dapat digunakan untuk
membedakan produk yang ada, menciptakan produk dan jasa yang baru,
memelihara kompetensi inti, dan mengurangi biaya operasional. Pemilihan
teknologi yang sesuai untuk strategi kompetitif perusahaan merupakan
keputusan kunci.

Bisnis bisa menggunakan sistem informasi strategis untuk memperkuat posisi di


antara para pesaing. Sistem seperti ini mengubah sasaran oranisasi , proses
bisnis, produk, jasa, atau relasi dengan lingkungan, sehingga membawa kepada
bentuk-bentuk perilaku baru. Sistem informasi bisa digunakan untuk mendukung
strategi pada level bisnis, perusahaan, dan industri. Pada strategi level bisnis,
sistem informasi bisa digunakan untuk membantu perusahaan menjadi produser
barang berharga murah, membedakan produk dan jasa, atau melayani. Sistem
infomasi juga bisa digunakan utntuk “mengunci” pelanggan dan pemasok
menggunakan aplikasi manajemen rantai persediaan. Analisis rantai nilai
berguna pada level bisnis untuk menggarisbawahi aktivitas tertentu dalam bisnis
dimana sistem informasi memperoleh dampak strategis.

Pada level perusahaan, sistem informasi bisa digunakan untuk memperoleh


efisiensi dengan cara mengikat semua pengoperasian unit bisnis sehingga bisa
berfungsi secara keseluruhan atau dengan cara menyediakan wadah untuk
berbagi informasi pengeahuan lintas bisnis. Pada level industri, sistem bisa
memberi keuntungan kompetitif dengan cara memfasilitasi kerja sama dengan
perusahaan lainnya didalam indusri, menciptakan konsorsium atau komunitas
untuk berbagi informasi, tukar-menukar transaksi, atau mengkoordinasi
aktivitas. Moel kekuatan kompetitif, kemitraan informasi, dan perekonomian
jaringan adalah konsep-konsep yang berguna untuk mengidentifikasi peluang-
peluan strategis bagi sistem pada level-industri.

https://datakata.wordpress.com/2014/03/30/sistem-informasi-manajemen-sistem-
informasi-organisasi-dan-strategi/

Keterkaitan antara sistem informasi dengan sebuah organisasi sangatlah


erat bahkan hampir tidak dapat dipisahkan karena didalam sebuah
organisasi pasti banyak sekali dibutuhkan informasi yang penting untuk
kinerja yang ada disebuah organisasi tersebut.Berikut penjabaran tentang
apa hubungan antara Sistem Informasi dengan Organisasi .

Kita dapat melihat secara dekat hubungan antara sistem informasi dengan
organisasi.Sebuah organisasi mempunyai dampak langsung terhadap
teknologi informasi melalui keputusannya tentang bagaimana teknologi akan
digunakan dan peran apa yang akan dimainkan dalam sebuah organisasi
itu.Sistem Informasi telah menjadi bagian integral,on-line,yang secara
mendalam berfungsi dalam operasi dari meni ke menit serta pengambilan
keputusan organisasi.Dengan demikian sebuah organisasi sangatlah
bergantung pada sistem informasi yang dijalani dan tidak akan bisa bertahan
jika sebuah sistem ini runtuh.Organisasi yang mempengaruhi teknologi
informasi adalah melalui keputusan tentang siapa yang akan
mendesain,membangun,dan mengoperasikan teknologi didalam
organisasi.Demikian pula sistem informasi mensyaratkan sub-unit organisasi
khusus,spesialis informasi,serta kelompok pendukung lain.

Faktor-faktor lingkungan eksternal


adalah faktor eksternal organisasi yang mempengaruhi adopsi dan desain
sistem.Beberapa faktor lingkungan eksternal dapat dianggap sebagai
batasan-batasan lingkungan.Namun pada saat yang sama,lingkungan
juga menyediakan beberapa kesempatan kepada organisasi seperti
teknologi baru,sumber modal baru,pengembangan proses produksi
baru,program-program baru pemerintah yang dapat meningkatkan produk
tertentu.Faktor internal organisasi yang mempengaruhi proses adopsi dan
desain sistem informasi mencakup tata nilai,norma dan hal-hal penting yang
dapat membentuk strategi atau membangun sebuah organisasi.Sistem
Informasi manajemen ada 2 dasar pemecahan masalah :
1. Sumber Daya Informasi Seorganisasi

Sistem Informasi Manajemen adalah suatu cara organisasi untuk


menyediakan informasi dalam rangka pemecahan masalah. Sistem tersebut
merupakan suatu komitmen format dari para eksekutif untuk menyediakan
komputer sebagai alat bantu bagi manajer untuk memecahkan masalah.

2. Identifikasi dan Pemahaman Masalah

Ide utama dibalik S.I.M adalah menjaga agar pasokan informasi mengalir
terus ke manajer.Sistem Informasi Manajemen suatu sistem berbasis
komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan
kebutuhan yang serupa.

https://rebelliongroup55.wordpress.com/2014/04/24/hubungan-sistem-informasi-dengan-
organisasi/