Anda di halaman 1dari 12

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI)

KOMISARIAT DAKWAH WALISONGO

CABANG SEMARANG

2017

KATA PENGANTAR

Puji beserta syukur kita panjatkan kepada Allah SWT. yang telah memberikan banyak kenikmatan
kepada kita, baik berupa nikmat iman, nikmat Islam maupun nikmat kesehatan, sehingga pada hari
ini kita masih bisa merasakan nikmat dunia yang tidak terhitung nilainya (QS: Ibrahim: 34).

Shalawat teriring salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda alam, sang revolusioner sejati
yang telah membawa warna baru pada tatanan dunia yang beberapa abad lalu diselimuti dengan
krisis moral yang telah menjangkit bagian terkecil pojok dunia ini, yakni Nabi Muhamad SAW, kepada
keluarganya, sahabatnya, dan tak lupa kepada kita selaku umatnya yang senantiasa taat pada
ajarannya, semoga di hari akhir nanti kita mendapat syafaat dari beliau. Amin

Akhirnya dengan kerja keras dan tetap bertawakal kepada Allah SWT makalah yang
berjudul “Himpunan Mahasiswa Islam (HMI): Gerakan Membangun Umat dan Bangsa dengan
Nilai-nilai Islam dalam Bingkai Kemoderenan” dapat selesai tepat waktu.

Saya sadar dalam makalah ini tentu sedikit banyaknya terdapat kesalahan baik dari segi teknis
maupun substansinya. Namun harapanya, dengan tetap berserah diri kepada Allah semoga makalah
ini dapat bermanfaat dan menjadi bahan diskusi lebih lanjut.

Semarang, 10 Maret 2017

Lintang Mustika

DAFTAR ISI

Halaman Judul…………………………………………………............

Kata Pengantar……………………………………………………...…1

Daftar Isi…………………………………………………………….....2
BAB I Pendahuluan…………………………………………………...3

A. Latar Belakang……………………………………………….....3

B. Rumusan Masalah……………………………………………....4

BAB II Pembahasan…………………………………………………..5

A. Peran HMI: dari periode Revolusi hingga Reformasi………....5

B. Pemikiran HMI tentang Keislaman dan Keindonesian ……….10

C. Gerakan HMI dalam menjawab Tantangan Zaman…………....12

BAB III Penutup……………………………………………………….15

A. Kesimpulan………………………………………………………15

B. Kritik dan Saran…………………………………………………15

Daftar Pustaka………………………………………………………….19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Modernisme di Indonesia memang benar adanya. Modernisme telah masuk ke Indonesia seiring
dengan majunya zaman dan masuk dalam berbagai hal termasuk dalam agama Islam. Sejarah
modernisme Islam di Indonesia sama halnya seperti yang terjadi di dunia Islam lainnya. Awal mula
munculnya modernisme dimulai sejak pertemuan masyarakat Islam Indonesia dengan barat lewat
kolonialisme[1]. Seperti kita ketahui bersama bahwa Indonesia telah dijajah oleh beberapa bangsa
Barat diantaranya Portugis, Belanda, dan Inggris. Oleh sebab itu, bukan mustahil jika modernisme
dengan mudah masuk ke Indonesia.

Gerakan modernisme Islam ditandai dengan diadopsinya system kelas oleh lembaga pendidikan
Islam, semisal Sekolah Adabiyah dan Sumatera Thawalib, munculnya Sarekat Islam (SI) 1911,
Muhammadiyah 1912, al-Irsyad dan Persis. Gerakan-gerakan ini menunjukkan satu hal yang
menonol yaitu konsep kembali pada al-Qur’an dan Hadist yang menunjukkan semangat ijtihad.
Namun di sisi lain menekankan relevansi Islam dalam konteks kemodernan dan bisa menerima
modernitas sebagai produk barat. Misalnya, system pendidikan modern, pola organisasi modern,
demokrasi, dan pakaian ala barat.

Masyarakat Indonesia selama ini menganggap modernisme sebagai suatu hal yang negatif.
Modernisme yang berasal dari kata Modern dan Isme menjadi sebuah paham yang mengarah
kepada segala sesuatu yang modern dan kebaratbaratan. Modernitas yang notabene dibawa oleh
bangsa Barat dianggap telah merusak moral dan etika bangsa Indonesia. Contoh saja modernitas
dalam tingkat alat, yaitu munculnya alat-alat teknologi canggih seperti televisi, gadget, dan alatalat
lainnya. televisi sebagai hasil modernitas dalam tingkat alat sedikit banyak telah menggerogoti moral
bangsa Indonesia. Televisi yang awalnya muncul sebagai media informasi audio-visual seolah
berganti fungsi menjadi media hiburan semata. Jika dibandingkan, tayangan-tayangan yang disajikan
oleh stasiun televisi lebih banyak memberikan porsi hiburan daripada informasi yang dibutuhkan
oleh masyarakat.

Hal inilah yang menjadikan masyarakat Indonesia menjadi apatis terhadap modernitas. Padahal
Nurcholis Madjid meyatakan bahwa yang dinamakan modernitas tidaklah selalu berkonotasi
negative. Cak Nur menyebutkan bahwa modernisasi adalah rasionalisasi bukan westernisasi[2], umat
Islam khususnya di Indonesia tampak gugup menyikapi adanya modernisasi yang memang kebetulan
datangnya dari Barat. Menurut Cak Nur, seharusnya umat Muslim dapat bersyukur dengan adanya
modernisasi, karena modernisasi sendiri merupakan konsekuensi logis dari ajaran tauhid.

Sudah semestinya umat Muslim melakukan pembaruan. Melalui pembaruan itulah umat muslim
akan terus eksis dan dapat mengisi proses demokrasi yang sedang berjalan. Kesadaran membangun
pembaruan ini sudah semestinya dimiliki oleh setiap umat Islam, lebih khusus lagi oleh mahasiswa
Islam di seluruh tanah air atau bahkan dunia. Mahasiswa yang memiliki peran sebagai agent of
change dan agent of social control bagi masyarakat harus mampu menciptakan sebuah gerakan
pembaruan demi terwujudnya cita-cita luhur bangsa dan kaffah dalam berislam.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang penulis sampaikan, ada beberap hal yang ingin penulis lebih dalami lagi,
yaitu:

1. Bagaimanakah peran HMI dalam Pembangunan Indonesia?

2. Bagaimanakah pemikiran HMI tentang Keislaman dan Keindonesian dalam persektif


kemoderenan?

3. Bagaimanakah sikap HMI dalam menjawab tantangan zaman?


41

BAB II

PEMBAHASAN

A. Peran HMI: dari periode Revolusi hingga Reformasi

HMI didirikan di Yogyakarta dua tahun setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tanggal 5 februari
1947 M atau 14 rabiul awal 1366 H. Menurut pendirinya, antara lain Lafran Pane dan Dahlan
Ranuwiharjdo, HMI didirikan karena dilatari oleh 4 hal: Pertama, karena Perserikatan Mahasiswa
Yogyakarta (PMY), satu-satunya organisasi ekstra universitas saat itu. PMY tidak memperhatika
kepentingan para mahasiswa yang beragama Islam. Ceramacerama keagamaan tidak pernah
diberikan. Tidak memberikan kebutuhan para mahasiswa untuk shalat maghrib karena kuliah
berlangsung dari jam 16.30 sampai 20.30. Kedua, karena adanya dominasi Partai Sosialis terhadap
PMY sebagai satu-satunya wadah mahsiswa pada waktu itu, sebagai satu strategi menguasai
mahasiswa untuk tujuan kepentingan-kepentingan Politik Partai Sosialis.

Ketiga, karena adanya polarisasi poltik tanah air. PS di satu pihak dan Masyumi, PNI, Persatuan
Perjuangan di pihak lain. polarisasi politik itu, membawa masyarakat mahasiswa, karena sebagian
banyak di anatara mahasiswa yang tergabung dalam PMY tidak mau berorientasi kepada Partai
Sosialis. Mereka Independen. Keempat, perlunya persatuan di kalangan mahasiswa menghadapi
agresi militer belanda dalam rangka mempertahankan kemerdekaan

Republik Indonesia dalam bentuk Proklamasi 17 Agustus 1945.[3]

Karena itu, tujuan pembentukan Hmi adalah untuk menyiapkan kaderkader bangsa yang memeiliki
wawasan dan komitmen keislaman yang tinggi, memiliki keseimbangan dunia dan akhirat, akal dan
kalbu, serta iman, ilmu dan amal. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Pasal 4 Anggaran Dasar hasil
Kongres 1 di yogyakarta tanggal 30 November 1947. Dalam AD tersebut dinyatakan bahwa tujuan
pembentukan Hmi adalah menegakan dan mengembangkan agama Islam serta mempertinggi
derajat dan negara Repbulik Indonesia.[4]

Perumusan tujuan itu berarti bahwa keseimbangan adalah kunci dalam HMI. HMI tidak ingin
membawa anggotanya pada pola keislaman tradisonal yang menekankan aspek mistik yang
mementingkan akhirat, yang karennya Islam dalam berhadapan dengan modernitas terkesan kolot.
Bahkan, sejak tahun 1970an, HMI tidak ingin membawa anggotanya pada pola keislaman yang lebih
menekankan aspek fikih secara berlebihan. Sebagai krtik terhadap dua pola keislaman tersebut,
HMI, sejak 1970-an khususnya, ingin membawa anggotanya pada kesimbangan fikih, teologi dan
tasawuf. Kecuali itu, sebagai kritik terhadap pola PMY yang sekuler dan sosialis. HMI juga tidak ingin
membawa anggotanya pada pola modernitas sekuler yng acuh terhadap Islam dan ajaranya.

Dalam hal ini HMI merupakan kelanjutan dari Jong Islaminten Bond didirikan pada 1925 yng ingin
membentuk intelektual ulama dan ulama intelektual. Dalam HMI keislaman dan keindonesian adalah
dual hal yang mesti seiring. Keduanya tidaklah dipertentangkan. Bahkan dalam pandangan Lafran
Pane sang pendiri, HMI adalah nasionali dahulu baru Islam. Kader HMI adalah anak umat sekaligus
anak bangsa. Meskipun karena faktor ini dan juga tujuan menjaga keberlangsungan fungsi dan
pengaruhnya, pernayataan politik HMI sering kritis, tetapi akomodatif terhadap kekuasaan.[5]

Dan perlu diperhatikan pula, Karakteristik khas pola gerakan HMI sejak awal berdirinya adalah tidak
memisahkan gerakan politik dengan gerakan keagamaan. Berpolitik bagi HMI adalah suatu
keharusan, sebab untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan HMI haruslah dilakukan secara politis. Hal
ini dikuatkan pula oleh pendiri HMI Lafran Pane, bahwa bidang politik tidak akan mungkin dipisahkan
dari HMI, sebab itu merupakan watak asli HMI semenjak lahir.

Namun hal itu bukan berarti HMI menjadi organisasi politik, sebab HMI lahir sebagai organisasi
kemahasiswaan dan kepemudaan, yang menjadikan nilanilai Islam sebagai landasan teologisnya,
kampus sebagai wahana aktivitasnya, mahasiswa Islam sebagai anggotanya. Background kampus
dan idealisme mahasiswa merupakan faktor penyebab HMI senantiasa berpartisipasi aktif dalam
merespon problematika yang dihadapai umat dan bangsa, jadi wajar jika HMI tetap memainkan
peran politiknya dalam kancah bangsa ini. Selain itu, argumentasi lain dikemukakan oleh Rusli karim
dalam tulisannya;

“Walaupun HMI bukan organisasi politik, tetapi ia peka dengan permasalahan politik. Bahkan
kadang-kadang karena keterlibatannya yang sangat tinggi dalam aktivitas politik ia dituduh sebagai
kelompok penekan

(pressure group)”.

Watak khas pola gerakan politik HMI ini yang terinternalisasi sejak kelahirannya ini menjadikan HMI
senantiasa bersikap lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas organisasinya, sehingga kehati-
hatian inilah yang melahirkan sikap moderat dalam aktivitas politik HMI. Lahirnya sikap moderat ini
sebagai konsekuensi logis dari kebijakan HMI memposisikan dirinya harus senantiasa berada
diantara berbagai kekuatan kepentingan agar HMI bisa lebih leluasa untuk melakukan respon serta
kritisismenya dalam mencari alternatif dan solusi dari problematika yang terjadi disekitarnya. Namun
sebagai konsekuensi logis pula bagi HMI, dengan sikap moderat dalam aktivitas politiknya ini,
munculnya kecenderungan sikap akomodatif dan kompromis dengan kekuatan kepentingan
tertentu, dalam hal ini penguasa. Sikap politik HMI dalam proses kesejarahannya memperlihatkan
dinamika yang cukup menarik untuk dikaji lebih dalam, terutama kaitannya antara sikap politik HMI
dengan konsisi sosial politik yang terjadi pada masa tertentu.

Sampai pada usianya yang sekarang, HMI telah melewati fase-fase sukaduka dan manis pahit dalam
melakukan pergerakannya. Fase pertama yaitu fase merintis jalan menuju konsolidasi spiritual. Fase
ini merupakan fase awal berdirinya HMI serta kondisi obyektif yang mendorong berdirinya HMI.
Dimana kondisi Islam pada saat itu mengalamai stagnasi sehingga menyebabkan kemunduran Islam.
Para tokoh yang melarang umat Islam untuk berfilsafat (berpikir secara mendalam) pada akhirnya
membuat umat Islam mengalami kejumudan dalam berfikir. Pada masa inilah terjadi kemunduran
dalam dunia intelektual Islam.

Kejumudan ini adalah kenyataan yang harus segera ditanggulangi, dijawab secara konkrit, dan
menunjukkan arti Islam yang sesungguhnya. oleh karena itu banyak para ilmuwan muslim yang
melakukan pembaharuan (modernisasi) yaitu ingin mengembalikan ajaran Islam pada proporsi yang
sesungguhnya, yaitu turut al-Qur’an dan al-Hadist.

Begitupun dengan HMI, sisi keislamannya dapat dikategorikan sebagai gerakan neo-modernisme.
Alasannya yaitu pertama, karena dalam HMI terdapat pelembagaan pemikiran Nurcholis Madjid
dalam NIK (Nilai Identitas Kader) yang saat ini disebut NDP (Nilai Dasar Perjuangan) yang ditulisnya
sendiri. NDP menempati posisi ketiga setelh al-Qur’an dan al-Hadist sebagai pedoman dalam
berorganissi. NDP merupakan ruh spiritual HMI karena di dalamnya termaktub nilai-nilai yang
menjadi dasar kader dalam berorganisasi.

Alasan kedua yaitu di dalam HMI terdapat kontinuitas gerakan modernisme seperti yang dilakukan
oleh Muhammadiyah.[6] HMI mencoba mengakomodasi hal-hal dinamis yang menyangkut tentang
alam, sosial budaya dan poliik, ekonomi, manusia, dan Tuhan. alasan keempat, HMI telah berperan
dalam memunculkan gagasan-gagsan keislaman dalam kongresnya dengan tema Islam, negara, dan
lainnya. Inilah yang menjadi gerakan spiritual dalam HMI.

Fase kedua, yaitu fase pengokohan. Pada saat awal kelahiran HMI, banyak ujian yang harus dihadapi
oleh organisasi baru ini. Timbulnya berbagai macam kecaman dan ketidaksetujuan akan berdirinya
HMI terus terdengar terutama dari kalangan PMY yang berhaluan komunis. sementara itu, karena
kurangnya pemahaman tentang berdirinya HMI, reaksi dari umat islam pun bermunculan yang
diwakili oleh Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan Pelajar Islam Indonesia. kelahiran HMI
dianggap aneh dan patut dicurigai.

Menjawab tantangan itu, HMI bersikap tabah dan berjiwa besar. HMI semakin mengobarkan
semangatnya untuk terus menjalankan roda organisasi dan mempertahankan eksistensinya. HMI
terus mengadakan kegiatan-kegiatan kegamaan untuk memperkenalkan dirinya kepada mahasiswa
dan masyarakat luas. Ceramah-ceramah keagamaan dengan tema-tema aktual dilaksanakan. Lagu Io
Vivat yang biasa didengarkan oleh mahasiswa diganti dengan bacaan Kalam Ilahi sehingga suasana
sekuler di kalangan mahasiswa berubah menjadi suasana religius.

Kebutuhan spiritual mahasiswa yang selama itu diabaikan oleh PMY kemudian dipenuhi oleh HMI.
Ceramah-ceramah keagamaan kemudian dicetak dan disebarluaskan di masyarakat sehingga
masyarakat pun turut simpati dengan HMI. Tidak hanya ceramah keagamaan saja, tetapi juga
motivasi, dan kegiatankegiatan yang mengrah pada pemenuhan kebutuhan spiritual mahasiswa dan
masyarakat pada saat itu. kemudian pada kongres mahasiswa di Malang pada tanggal 8 Maret 1947
HMI mengutus Lafran Pane dan Asmin Nasutlang untuk mendeklarasikan HMI dengan 50 anggota
yang berarti sudah memenuhi syarat.

Dalam setiap kongres mahasiswa seluruh Indonesia, HMI selalu memperkenalkan dirinya kepada
semua mahasiswa di seluruh Indonesia. kemudian berdirilah cabang-cabang HMI di Klaten, Solo, dan
Malang. Di kongres-kongres tersebut HMI menjelaskan tentang latar belakang berdrinya serta tujuan
HMI. Sebagai pengokohan, dilangsungkanlah kongres HMI I di Yogyakarta pada tanggal 30 November
1947.[7]

Fase ketiga yaitu fase perjuangan bersenjata menghadapi penjajahan Belanda dan pengkhianatan
PKI. Disusul oleh fase keempat yaitu fase pembinaan HMI sebagai organisasi kader dan alat
perjuangan bangsa. Fase kelima yaitu fase tantangan HMI mengadapi pengkhinatan PKI II. Fase
keenam, yaitu HMI sebagai penggerak angkatan 66, pelopor dan pejuang Orde Baru, tahun 1966-
1968. Diikuti fase ketujuh, yaitu fase partsipasi HMI dalam pembangunan tahun 1969-
sekarang. Fase-fase dalam HMI dari mulai lahir terus mengalami perkembangan.

Hingga sampai pada fase kedelapan yaitu fase pergolakan pemikiran pada tahun 1970 hingga
sekarang. Inilah yang menjadi tonggak pergerakan intelektual anggota HMI.

Meski semua pengamat atau peneliti HMI seperti M Rusli Karim sepakat dengan periodisasi
Agussalim Sitompul itu, tetapi untuk fase terakhir ia membaginya pada dua bagian yaitu pase
dinamika pemikiran atau intelektual dan fase konflik intern (1985 – sekarang). Yang ditandai dengan
terpecahnya HMI menjadi dua: HMI MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) yang tidak menerima
Pancasila sebaga asas organisasinya dan HMI Diponegoro yang menerimanya[8]

B. Pemikiran HMI tentang Keislaman dan Keindonesian

Pola pemikiran HMI tentang keislaman dan keindonesiaan telah tercermin di dalam tujuan awal
pembentukan organisasi HMI. Tujuan tersebut yakni mempertahankan NKRI dan mempertinggi
derajat Rakyat Indonesia serta menegakkan ajaran Islam.[9] Seperti telah disebutkan di bab awal,
HMI telah berkomitemen dengan ajaran Islam dan kesatuan NKRI. HMI mencoba memadukan
pemikiran keislaman dan keindonesiaan untuk menciptakan integrasi antara keduanya di atas titik
temu Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Halini dilakukan agar tidak terjadi
kesenjangan antara keislaman dan keindonesiaan, Islam dan Pancasila, serta Islam dengan
masyarakat Indonesia.

Selain dari tujuan awal HMI, bentuk integrasi keislaman dan keindonesiaan HMI pun tercermin
dalam mukaddimah anggaran dasar, identitas, asas, tujuan, usaha, dan sifat organisasi seperti
tertulis dalam Anggaran Dasar HMI. Dari semua itu, yang tampak adalah bahwa bagi HMI, Islam yang
ideal adalah Islam yang memadukan secara utuh aspek duniawi dan ukhrowi, aspek individu dan
sosial, serta aspek iman, ilmu, dan amal.

Integrasi yang antara aspek-aspek di atas tampak dalam Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang sempat
diubah namanya menjadi Nilai Identitas kader (NIK) untuk menghindari kesan radikal. Nilai Dasar
Perjuangan (Selanjutnya ditulis NDP) ditulis sendiri oleh Nurcholis Madjid pada tahun 1969 di tengah
situasi ideologis saat itu. Tulisan tersebut ditulis tidak lama setelah kepulangannya dari Amerika
Serikat dan Negara-negara Timur Tengah dan dilatarbelakangi oleh tiga kenyataan. Pertama, yaitu
tidak adanya bahan bacaan yang komprehensif mengenai ideology Islam. Walaupun saat itu sudah
ada buku Islam dan Sosialismenya Cokroaminoto, akan tetapi buku itu dirasa belum memadahi.

Kenyataan kedua yaitu anak-anak muda komunis yang oleh partainya disediakan buku kecil sebagai
pedoman yang berjudul Pustaka Kecil Marxis. Dengan adanya kenyataan ini, Nurcholis Madjid
merasa cemburu dan ingin membuat sebuah buku pedoman untuk kader HMI khususnya. Kenyataan
ketiga yaitu Nurcholis Madjid merasa terpesona dengan buku kecil yang ditulis oleh Wili Eichler yang
berjudul Fundamental Values and Basic Demands of Democratic Socialisme. Sebuah buku tentang
reformulasi ideology bagi Partai Sosial Demokrat di Jerman. Namun, seperti yang sudah diakuinya
yang paling memberikan inspirasi terhadap sikap dan gagasannya pada NDP adalah kunjungannya ke
Timur Tengah setelah perjalannya dari Amerika Serikat. [10]
Sebagai pemikiran besar tentang keislaman HMI, secara garis besar, NDP berisi tentang ketuhanan,
alam, kemanusiaan, demokrasi, keadilan ekonomi dan ilmu pengetahuan. Tentang ketuhanan,
pertama-tama dijelaskan bahwa kepercayaan melahirkan nilai-nilai yang kemduian melembaga
dalam tradisitardisi. Karena kecenderungan mempertahankan tradisi, manusia seringkali mengalami
hambatan dalam perkembangan peradaban dan kemajuan manusai (modernitas). Oleh sebab itu,
manusia harus selalu bersedia meninggalkan setiap bentuk kepercayaan dan tata nilai tradisional
dan menganut kebenaran mutlak yaitu kebenaran yang berasal dari Tuhan (Allah) (2:147). [11]

Mengingat Tuhan yang menciptakan segala yang ada di langit dan di bumi dengan sebenarnya dan
menganutnya dengan pasti, maka alam adalah eksistensi riil dari ciptaanNya. Alam diciptakan tidak
menyerupai Tuhan, dan Tuhan pun untuk keseluruhan yang lain tidak sama dengan yang lain. Untuk
mengisi alam semseta ini, Allah pun menciptakan manusia yang berkedudukan
sebagai khalifah (2:30). Manusia ditugaskan untuk mengatur dan mengelola alam ini sebaikbaiknya
sesuai fitrahnya. Fitrah manusai adalah suci dan berkecenderungan pada kebenaran dan kebaikan
(hanif).

Sebagai khalifah di bumi, manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas segala perbuatannya di
dunia dan pertanggung jawaban yang terakhir adalah akhirat sebagai hari agama. Di muka bumi,
manusia berperan sebagai makhluk individual dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individu,
manusia memiliki kebebasan individu untuk mengembangkan potensi yang dianugerahkan Tuhan
dalam dirinya. Potensi tersebut dapat dikembangkan dan diimplementasikan dalam bentuk kerja
dan pengabdian untuk keadilan.[12]

Kemudian untuk mewujudkan keadilan itu, manusia sebagai makhluk sosial wajib untuk
menegakkannya. Keadilan perlu ditegakkan dalam berbagai hal, diantaranya dalam hal sosial dan
ekonomi. Keadailan sosial perlu ditegakkan dalam masyarakat Indonesia, melihat kenyataan
masyarakat Indonesia yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat. Adanya beberapa lapisan
dalam masyarakat menciptakan adanya kesenjangan dalam hal ekonomi. Oleh karena itu, keadilan
ekonomi pun perlu ditegakkan agar tidak ada ketimpangan yang dilakukan oleh orang kaya kepada
orang miskin.

Selanjutnya dan yang terakhir adalah tentang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan menurut
perspektif NDP yaitu sebagai prasyarat bagi manusia untuk beramal shaleh. Ilmu pengetahuan
berarti pengertian yang dimiliki manusia secara benar tentang dunia dan sekitar dirinya. Ilmu
pengetahuan adalah hokum alam dan hokum sejarah, suatu hokum yang mengharuskan manusia
setia pada fitrahnya. [13]

C. Gerakan HMI dalam menjawab Tantang Zaman

Mahasiswa sebagai kelompok kaum muda sebagai calon intelektual menempati posisi strategis di
setiap petala sosial kemasyarakatan keistimewaan yang disandang karena mereka memperoleh
kesempatan mengenyam pendidikan di jenjang perguruan tinggi, telah memberikan peranan
tersendiri yakni sebagai pemimpin di masa yang akan datang. Dalam mengembang tugas dan
tanggungjawabnya sebagai pemimpin, mahasiswa dituntut keampuhan paripurna. Sebagai
intelektual yang tidak hanya bertumpu pada aspek formal aspek penguasaan materi keilmuan, tetapi
hendaknya didukung oleh potensi kepemimpinan dan keterampilan dalam upaya mengembangkan
ide dan gagasangagasan dalam konteks peningkatan kemajuan taraf hidup masyarakat serta cita
bersama yaitu membangun umat dan bangsa.

Untuk itulah HMI sebagai organisasi kader memerikan konsumsi kepada anggotanya yang dijadikan
bekal untuk mengembangkan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pemimpin di masa yang akan
datang. Di organisasi HMI mereka digodok agar mereka menjadi orang dan selanjutnya diharapkan
mampu memainkan perannya di tengah-tengah masyarakat. HMI dalam ragam aktivitasnya
membuka berbagai kemungkinan bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi
kepemimpinannya. Institusi tersebut memberikan saham untuk membentuk sikap dan kepribadian
mahasiswa yang menyangkut kreatifitas, sikap kritis, obyektif, dan penuh tanggungjawab.[14]

Tidak diragukan lagi bahwa kehadiran HMI sebagai organisasi kader menjadi saran yang efektif untuk
melatih diri dan menempa kemampuan pribadi yang dapat dijadikan bekal untuk menyambut gejala
tantangan dan problematika masyarakat.

Namun tidak dibisa dinafikan, dengan mengarakahkan pandangan pada kondisi obyektif perguruan
tinggi dewasa ini, akan terbuka mata kita untuk membuka tabir melempemnya motivasi mahasiswa
untuk berkiprah dalam organisasi. Seiring dengan diterpkannya konsep BKK/NKK dan yang
merupakan policy pemerintah untuk menempatkan perguruan tinggi pada posisi yang ideal, yaitu
lembaga ilmu pengetahuan yang ide dasarnya ditekankan pada spek penalaran yang merupakan
komponen pendukung perguruan tinggi, secara efektif telah membentuk paradigma baru di
kalangan mahasiswa. Bagi mereka prioritas utama adalah sukses studi, baru kemudian memikirkan
yang lainnya, seperti keharusan berorganisasi. Walaupun kadang kala pemikiran mereka kontras
dengan jiwanya.

Berangkat dari tititan problematika di atas kita diajak mencari jalan keluar guna meminimalisir
hambatan-hambatan yang terbentang luas dan lebar dalam rangka merangsang mahasiswa
berkiprah dalam HMI.

HMI sebagai organisasi kader harus selalu mencangkan programprogramnya secara realistis yang
dapat menyentuh kebutuhan para anggotanya. Menurut teori prilaku organisasi, intensitas
hubungan stimulant dan respon akan meningkat jika dibarengi dengan kondisi yang menyenangkan.
Jika organisasi mampu merumuskan program-programnya yang dapat menyentuh kebutuhan yang
asasi para anggotanya, tentu organisasi tersebut akan dapat menarik masa yang pada akhirnya
terpanggil gairahnya untuk berkiprah dalam organisasi.

Pada sisi lain, mahasiswa sebagai pendukung organisasi hendaknya berupaya menanamkan
keasadaran dalam dirinya akan perlunya efektifitas peran yang tidak saja lahir dari belajar, tetapi
juga organisasi seperti HMI. Dalam konteks inilah mahasiswa bisa berakaomodasi dengan kondisi
sekitar yang mengitari ruang lingkup garakanya. Selain itu, juga dituntut kearifan dan kepandainya
untuk memanfaatkan secuil saran dan arena kegiatan yang ada.[15] BAB III

PENUTUP

A. Kesmipulan

Dari makalah ini dapat ditarik simpulan. Pertama, HMI adalah organisasi mahasiswa terbesar dan
tertua yang telah berperan dalam proses pembangunan berbagai aspek di Indonesia. Ia adalah
organisasi Islam yang tidak mempersoalkan kebangsaan. Sejak didirikan, HMI juga telah memiliki
komitmen pada Islam modern. Karena itu, ia merupakan kalnjutan dari gerakan modernisme
Islam. Kedua, sebagai organisasi yang menjadikan kebangsaan dan keislaman modern, HMI mampu
tetap survive dalam situasi maupun kondisi apapun hingga saat ini. bahkan HMI telah berperan
cukup penting dalam setiap massanya, entah awal kemerdekaan hingga zaman reformasi kali ini.

Ketiga, sebagai organisasi Islam yang lahir kemudian setelah organisasi modernis lainnya lahir, HMI
telah memiliki pemikiran keislaman yang cukup mapan, yang memandang bahwa islam ideal adalah
yang dapat memadukan aspek duniawi dan ukhrowi, aspek iman, ilmu dan amal, individu dan sosial
sebagaimana tersirat jelas dalam mukodimah AD/ARTnya.

Keempat, pola gerakan dan pemikiran Keislaman HMI berbeda dengan pola gerakan keislaman
modernis lainnya. Ia tidak lagi memntingkan aspek fikih ibadah dan tidak melihat politik Islam
sebagai suatu yang sakral. Concern ijtihad

HMI lebih pada persoalan mu’amalah atau, sosial, budaya, ekonomi dan politik dengan NDP sebagai
pedomannya.

HMI sebagai organisasi kader harus selalu mencangkan programprogramnya secara realistis yang
dapat menyentuh kebutuhan para anggotanya. Dengan terus mengawasi dan berperan aktif dalam
issu-issu zaman yang terus berkembang. Ini pun merupakan sebuah langka demi mewujudkan cita-
cita HMI yaitu terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

B. Kritik dan Saran

Tidak ada gading yang retak. Begitulan adagium yang pas untuk makalah yan penulis buat ini. Penulis
menyadari pasti masih terdapat banyak kesalahan, baik dalam hal teknis penulisan maupun
substansi secara kesluruhan. Namun, penulis dengan tetap mengaharap ridha Allah SWT tetap
berharap apa yang penulis buat ini dapat bermanfaat bagi pihak intern, yaitu Organisasi HMI,
sebagai objek dari makalah ini sehingga dapat terus merenungkan gerak langkan organisasi ke
depannya maupun juga dari pihak ekstern, siapapun itu, yang dapat mengambil ibrah dan nilai
positif dari makalah ini. Akhirnya, sekali lagi kritik dan saran dari berbagai pihak sangat penulis
tunggu demi perbaikan dan penyempurnaan makalh ini. wallahu ‘alam bi al-showab
DAFTAR PUSTAKA

Bustama, Abu Yazid, 2014, HMI Masih Ada, (Depok: Layar Terkembang)

Kaml, Sukron , 2013 Islam dan Politik Indonesia Terkini (Jakarta: Pusat Studi Indonesia dan Arab)

Madjid, Nurcholis, 2013, Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan ( Bandung :

Mizan)

Panduan Basic Training Cabang Ciputat

Sitompul, Agussalim, 1986, Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejarah Perjuangan Bangsa
Indonesia. (Jakarta: Integrita Dinamika Press)

Solichin, HMI Candradimuka Mahasiswa (Jakarta: Sinergi Persadatama

Foundation)

Tanja, Victor ,1982, HMI Sejarah dan Kedudukannya (Jakarta: Sinar Harapan)

[1] Sukron Kaml, Islam dan Politik Indonesia Terkini (Jakarta: Pusat Studi Indonesia dan Arab, 2013)
h. 55

[2] Nurcholis Madjid, Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan. (Bandung: Mizan, 2013) h.

[3] Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejarah Perjuangan Bangsa
Indonesia. (Jakarta: Integrita Dinamika Press, 1986) h. 17

[4] Sukron Kaml, Islam dan Politik Indonesia Terkini (Jakarta: Pusat Studi Indonesia dan

Arab, 2013) h. 57

[5] Victo Tanja, HMI Sejarah dan Kedudukannya, h. 52

[6] Sukron Kamil, Islam dan Politik Indonesia Terkini (Jakarta: Pusat Studi Indonesia dan Arab, 2013)
h. 57
[7] Agussalim Sitompul, Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejarah Perjuangan Bangsa
Indonesia. (Jakarta: Integrita Dinamika Press, 1986) h. 39-40

[8] Sukron Kaml, Islam dan Politik Indonesia Terkini (Jakarta: Pusat Studi Indonesia dan

Arab, 2013) h. 60

[9] Ibid. h 70

[10] Ibid. h 71

[11] Ibid. h 72

[12] Ibid. h 74

[13] Ibid. h 75

[14] Abu Yazid Bustama, HMI Masih Ada , (Depok: Layar Terkembang, 2014) h. 2

[15] Abu Yazid Bustama, HMI Masih Ada , (Depok: Layar Terkembang, 2014) h. 4