Anda di halaman 1dari 25

KESEHATAN MATRA

KESEHATAN PELAYARAN DAN LEPAS PANTAI

Dosen Pengampu :
Desak Nyoman Sithi, S.Kp, MARS

Disusun Oleh :
Chandra Ningtyas Prabandari 1610713066
Syafira Annisa Ferdiani 1610713067
Riantatua Resima 1610713070
Annisa Lifiyana 1610713077
Betari Noverika 1610713081

Kelas 6B Epidemiologi-Biostatistika

S1 KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA
TAHUN AJARAN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang ”Kesehatan Pelayaran dan Lepas Pantai” ini dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada
Ibu Desak Nyoman Sithi, SKp, MARS selaku dosen mata kuliah Kesehatan Matra
UPN “Veteran” Jakarta yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai kesehatan matra terkait dengan
kesehatan pelayaran dan lepas pantai. Semoga makalah sederhana ini dapat
dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun
ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya.
Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Depok, April 2019

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 1

DAFTAR ISI ........................................................................................................... 2

BAB I ...................................................................................................................... 3

PENDAHULUAN .................................................................................................. 3

1.1. Latar Belakang ............................................................................................. 3

1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................ 3

1.3. Tujuan .......................................................................................................... 3

BAB II ..................................................................................................................... 4

PEMBAHASAN ..................................................................................................... 4

2.1 Kesehatan Pelayaran dan Lepas Pantai ......................................................... 4

2.1.1. Manifestasi Pengaruh Lingkungan Pelayaran bagi Kesehatan ............. 5

2.1.2. Aspek Mental (Pengaruh Neuropsikologis) .......................................... 5

2.1.3. Masalah Kesehatan................................................................................ 6

2.2. Kesehatan pada Kegiatan Pelayaran ............................................................ 7

2.2.1 Kegiatan Persiapan Sebelum Kegiatan Pelayaran.................................. 7

2.2.2 Kegiatan Selama Kegiatan Pelayaran Dilaksanakan............................ 15

2.2.3 Kegiatan Kedaruratan Medik dan/atau Kejiwaan ................................ 17

2.3. Kesehatan pada Kegiatan di Lokasi Lepas Pantai...................................... 18

2.3.1. Persiapan Sebelum Kegiatan ............................................................... 18

2.3.2. Selama Kegiatan Operasional di Lepas Pantai.................................... 22

2.3.3. Kedaruratan Medik dan/atau Kejiwaan ............................................... 22

BAB III ................................................................................................................. 23

KESIMPULAN ..................................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 24

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Matra adalah dimensi lingkungan/wahana/media tempat seseorang atau
sekelompok orang melangsungkan hidup serta melaksanakan kegiatan. Kondisi
Matra adalah keadaan dari seluruh aspek pada matra yang serba berubah dan
berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan pelaksanaan kegiatan manusia
yang hidup dalam lingkungan tersebut. Kesehatan Matra adalah upaya kesehatan
dalam bentuk khusus yan diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan fisik
dan mental guna menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang serba berubah
secara bermakna, baik di lingkungan darat, laut, maupun udara.
Salah satu dimensi dari kesehatan matra adalah kesehatan kelautan dan
bawah air. Kesehatan Kelautan dan Bawah Air adalah kesehatan matra yang
berhubungan dengan pekerjaan atau kegiatan di laut dan berhubungan dengan
keadaan lingkungan yang bertekanan tinggi (hiperbarik). Kesehatan Kelautan dan
Bawah Air memiliki beberapa sub bagian yang salah satunya akan dibahas dalam
makalah ini yaitu Kesehatan Pelayaran dan Lepas Pantai.
Kesehatan Pelayaran dan Lepas Pantai terdiri dari dua bagian yaitu
kesehatan pada kegiatan pelayaran dan kesehatan pada kegiatan di lokasi lepas
pantai. Masing-masing bagian memiliki penjelasan yang akan menambah
wawasan dalam kesehatan matra terutama Kesehatan Kelautan dan Bawah Air.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud kesehatan pelayaran dan lepas pantai?
2. Apa yang dimaksud kesehatan pada kegiatan pelayaran?
3. Apa yang dimaksud kesehatan pada kegiatan di lokasi lepas pantai?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang kesehatan pelayaran dan lepas pantai.
2. Untuk mengetahui tentang kesehatan pada kegiatan pelayaran.
3. Untuk mengetahui tentang kesehatan pada kegiatan di lokasi lepas pantai.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kesehatan Pelayaran dan Lepas Pantai


Kesehatan Matra adalah upaya kesehatan dalam bentuk khusus yang
diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan fisik dan mental guna
menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang serba berubah secara bermakna,
baik di lingkungan darat, laut, maupun udara (PMK Nomor 61 Tahun 2013).

Pada dasarnya istilah matra memiliki makna yang sangat konstruktif serta
dapat mempengaruhi tingkat kesehatan seseorang atau kelompok. Ancaman
lingkungan yang ada bisa berasal dari darat, laut, serta udara. Beberapa
penyelenggaraan matra yang berhubungan dengan kelautan. Misalnya saja
saat melakukan penyelaman, pelayaran, perjalanan wisata, kegiatan bawah air
dan masih banyak lagi.

Kesehatan kelautan dan bawah air adalah kesehatan matra yang


berhubungan dengan pekerjaan atau kegiatan di laut dan berhubungan dengan
keadaan lingkungan yang bertekanan tinggi (hiperbarik). Kesehatan pelayaran
dan lepas pantai adalah upaya kesehatan yang dilakukan untuk meningkatkan
kemampuan fisik dan mental bagi penumpang, awak kapal dan atau pekerja
lepas pantai. Pelayaran adalah semua kegiatan perjalanan laut yang
menggunakan alat angkut laut (kapal dan sejenisnya), sedangkan kegiatan
lepas pantai adalah pelaksanaan kegiatan pekerjaan yang berada di zona
ekonomi eksklusif (ZEE).

Kesehatan kelautan dan bawah air meliputi Kesehatan pelayaran dan lepas
pantai yang merupakan suatu bentuk Kesehatan Matra yang dilakukan
terhadap penumpang, awak kapal, dan/atau pekerja lepas pantai yang
meliputi:

a. Kesehatan pada kegiatan pelayaran; dan

b. Kesehatan pada kegiatan di lokasi lepas pantai.

Tujuan dari upaya kesehatan pelayaran dan lepas pantai adalah untuk
mewujudkan kesehatan yang optimal bagi para penumpang, awak kapal, dan

4
pekerja lepas pantai sebagai sasaran. Adapun maksud pelaksanaan kesehatan
matra disebabkan karena beberapa risiko serta ancaman lingkungan yang
dapat memengaruhi kesehatan seperti manifestasi pengaruh lingkungan
pelayaran, aspek mental atau pengaruh neuropsikologis, serta masalah
kesehatan lainnya yang dapat terjadi saat pelayaran dan di lokasi lepas pantai.

2.1.1. Manifestasi Pengaruh Lingkungan Pelayaran bagi Kesehatan


 Semakin dalam laut; Suhu Udara dalam laut makin rendah dan
kelembaban yang tinggi sehingga tekanan udara semakin besar;
sehingga goncangan kapal makin kuat dan penumpang lebih banyak
mengalami mabuk yang disebabkan antara lain oleh peningkatan
produksi urin, pembesaran prostat, perut kembung.

 Dehidrasi karena pengeluaran urin yang berlebihan, apabila jika tidak


diimbangi dengan minum secukupnya maka akan terjadi dehidrasi
dimana keadaan tubuh manusia kehilangan dan kekurangan cairan
yang diikuti pula dengan kehilangan dan berkurangnya garam dalam
tubuh.

 Hipoksia adalah suatu keadaan dimana darah berkurang kadar zat asam
atau oksigennya sehingga berakibat sel-sel dalam tubuh juga
kekurangan oksigen sehingga fungsinya terganggu dan menurun.

2.1.2. Aspek Mental (Pengaruh Neuropsikologis)


 Mabuk Laut
Kapal beserta isinya dapat mengalami dorongan atau goncangan ke
segala arah, apabila menghadapi cuaca buruk dengan hujan berat dan
angin kencang. Kondisi tersebut akan menyebabkan kapal dapat
terombang ambing dan menyebabkan terjadinya gangguan terhadap
aliran cairan didalam alat vestibular, sehingga menimbulkan mabuk
laut.
 Jam Biologis

5
Kecepatan kapal berlayar dapat mengubah dan mengganggu jam
biologis seseorang sehingga perlu diperhatikan berbagai akibat yang
ditimbulkannya. Terutama yang berkaitan dengan berkurangnya
efisiensi kerja dan penurunan daya tahan tubuh karena kelelahan atau
kurang tidur.
 Adanya goncangan dan bising dalam kapal
Menyebabkan penumpang mengalami kurangnya nafsu makan
sehingga terjadi dehidrasi dan perut mual/kembung. Hal ini
menyebabkan ketidaknyamanan penumpang dan secara psikologis
akan terganggu seperti penumpang akan sulit untuk berpikir, mudah
tersinggung, gelisah, sulit untuk beristirahat, dll.
 Kelelahan
Hal ini mengakibatkan efisiensi kerja menurun secara progresif disertai
perasaan tidak enak badan, penurunan daya tahan tubuh, dan efisiensi
jasmani dan daya pikir. Kelelahan muncul antara lain karena perjalan
yang panjang, menunggu, persiapan yang kurang,dll.
 Penurunan daya tahan tubuh dan sakit berat
Dapat berdampak pada timbulnya banyak penyakit yang dialami oleh
penumpangseperti ISPA, gejala dari bronkopnemonia (batuk pilek
berat, sakit kepala, demam tinggi, tidak nafsu makan dan minum,lemah
serta mudah diare).

2.1.3. Masalah Kesehatan


 Wanita yang sedang hamil
Akan mengalami stress fisik dan psikologis yang akan dihadapi karena
kelompok ini biasanya rawan terhadap akibat yang tidak diinginkan.
Tidak tertutup kemungkinan terjadinya abortus atau kelahiran
premature.
 Menunda Haid.
Sarana dan prasarana yang kurang mendukung seperti tidak ada tempat
khusus untuk membuang pembalut, kurangnya ketersediaan air yang
steril,dll.

6
 Terjadinya penularan penyakit
Perjalanan yang cukup jauh, area yang terbatas, sanitasi lingkungan
yang buruk/ kotor mendukung terjadinya penularan penyakit dari orang
ke orang/ hewan ke orang. Seperti penyakit Influensa, kolera, dll.
 Rasa Takut dan Cemas
Banyak orang mempunyai rasa takut atau cemas dengan perjalanan
laut karena berbagai alas an terutama waktu perjalan yang akan
ditempuh dengan cukup lama. Hal ini menyebabkan penumpang
mudah untuk mengalami stress dan tidak menikmati perjalanan.

2.2. Kesehatan pada Kegiatan Pelayaran

Aspek kesehatan matra pada kegiatan pelayaran ini meliputi:


a) Persiapan sebelum kegiatan pelayaran; dan
b) Selama kegiatan pelayaran dilaksanakan.

2.2.1 Kegiatan Persiapan Sebelum Kegiatan Pelayaran


a) Kesiapan pelaku yang akan berlayar;
Kesiapan bagi pelaku yang akan berlayar paling sedikit terdiri atas:
 Kesehatan fisik dan mental
Aspek kesehatan bagi pelaku yang akan berlayar baik pelaut
ataupun penumpang sangatlah penting untuk diperhatikan sebelum
melakukan kegiatan berlayar. Aspek kesehatan fisik antara lain
berupa status kesehatan penyakit menular, ketajaman pendengaran,
penglihatan dan kemampuan fisik. Selain itu kesehatan mental juga
sangat penting karena bekerja di kapal bukanlah hal yang mudah
dan akan memiliki tekanan berat yang dapat mengganggu
kesehatan mental apabila tidak disiapkan dengan baik.
 Kesiapan surat keterangan kesehatan bagi yang melakukan
pelayaran antar negara
Surat keterangan kesehatan didapatkan setelah dilakukan
pemeriksaan kesehatan. Surat keterangan ini juga dapat berupa

7
Buku Kesehatan Pelaut yaitu buku yang berisi catatan mengenai
status kesehatan Pelaut serta Sertifikat Kesehatan Pelaut yaitu bukti
tertulis yang berisi keterangan kelaikan untuk kerja yang
dikeluarkan oleh Fasilitas Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan
Pelaut.
 Kesiapan surat keterangan kesehatan bagi penumpang berisiko
tinggi yang melakukan pelayaran
Sama halnya dengan surat keterangan kesehatan bagi yang
melakukan pelarayan, surat keteranan didapatkan dari hasil
pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan yang membuktikan
bahwa penumpang dapat melakukan pelayaran dan tidak memiliki
risiko tinggi untuk menimbulkan masalah-masalah yang dapat
mengganggu kesehatan dan membahayakan keselamatan
penumpang.
 Pemahaman situasi dan kondisi pelayaran
Pemahaman situasi dan kondisi pelayaran sangat penting bagi yang
melakukan pelayaran. Suatu keadaan darurat biasanya terjadi
sebagai akibat tidak bekerja normalnya suatu sistem secara
prosedural ataupun karena gangguan alam. Gangguan pelayaran
pada dasarnya dapat berupa gangguan yang dapat langsung diatasi,
bahkan perlu mendapat bantuan langsung dari pihak tertentu, atau
gangguan yang mengakibatkan Nakhoda dan seluruh anak buah
kapal harus terlibat baik untuk mengatasi gangguan tersebut atau
untuk hares meninggalkan kapal. Tanda untuk mengingatkan anak
buah kapal tentang adanya suatu keadaan darurat atau bahaya
adalah dengan kode bahaya.
 Keterampilan dan kemampuan teknis keselamatan.
Pengembangan sumber daya manusia dalam bidang pelayaran
dilaksanakan dengan tujuan agar tercipta tenaga kerja yang
profesional. Sehingga dapat memiliki keterampilan dan
kemampuan teknis kesalamatan khususnya. Pekerja yang berada di
dunia maritim wajib memiliki kemampuan Basic Safety Training.

8
Basic Safety Training (BST) adalah sebuah pelatihan paling
basic tentang dasar dasar keamanan di laut, sebagai contoh
bagaimana mengenal beberapa macam alat pemadam kebakaran,
cara penggunaannnya, teknik penggunaan pemadam tersebut,
mendeteksi jenis kebakaran, cara membuka life raft,
menggunakan life raft, dan sebagainya. BST juga dilengkapi
dengan beberapa keterampilan dan kemampuan lain seperti
Elementary First Aids (EFA), materi Personal Survival Technic
(PST), materi Personal Safety Social Responsibility (PSSR) dan
materi Fire Fighting (FF).

b) Kesiapan penyelenggara kegiatan pelayaran;


 Penyuluhan kesehatan dan keselamatan
Dalam upaya peningkatan keselamatan dalam pelayaran maka
perlu diberikan penyuluhan kesehatan dan keselamatan bagi pelaku
pelayaran maupun penumpang. Hal ini dikarenakan pentingnya
pengetahuan mengenai Keselamatan kapal, keselamatan beralayar,
keselamatan jiwa di laut dan keselamatan lingkungan maritim yang
merupakan salah satu komponen penting dalam mendukung
keselamatan pelayaran sehingga dapat meminimalisasi terjadinya
kecelakan, korban jiwa dan harta benda di laut.
 Penyediaan peralatan keselamatan penumpang
Untuk mengantisipasi terjadinya malapetaka atau bahaya maka
perlu disiapkan barang barang keselamatan yang perlu dan dapat
digunakan secepatmungkin agar ancaman jiwa seseorang dapat di
selamatkan. Adapun jenis alat keselamatan di kapal antara lain:
1. Sekoci penyelamat (life boat)
Gunanya terkecuali difungsikan buat menyelamatkan sekian
banyak orang dalam keadaan bahaya serta diperlukan buat
memimpin pesawat luput maut. Sekoci berupa perahu mungil
yg berapa di kanan & kiri kapal bidang atas atau tepatnya di
deck sekoci.

9
2. Pelampung Penolong Wujud Cincin (Ring Life Buoys)
Gunanya untuk mengapungkan orang yang menggunakannya
diatas air. Life buoys ini berbentuk seperti ban mobil.
Pelampung ini bakal dilempar ke laut apabila ada satu orang
penumpang yg jatuh ke laut
3. Life jacket (Jaket penolong)
Jaket penolong ini dimanfaatkan penumpang biar gampang
terapung di laut diwaktu berlangsung kondisi darurat. Jaket ini
mesti di lengkapi bersama peluit yg dikaitkan bersama tali utk
menarik perhatian penolong.
4. Rakit Penolong Kembung (Inflatable Liferaft)
Sampel rakit penolong kembung, Rakit penolong terdiri dari 2
type, adalah rakit kaku & rakit yg dikembangkan. Ke-2 rakit ini
dipakai jikalau tidak berhasil menurunkan sekoci. Sementara
rakit yg dikembangkan berbentuk seperti kapsul dengan
kapasitas besar & di lengkapi bersama tali pembuka yg
panjang. Penggunaannya tinggal dilemparkan ke laut & ditarik
talinya
5. Pelempar Tali Penolong (Line Throwing Apparatus)
Gunanya yg adalah alat penghubung perdana antara kapal yang
ditolong dgn yang mempermudah yang seterusnya dipakai utk
kepentingan lainnya.
6. Survival suit dan Immersion suit
Gunanya juga sebagai pelindung/pencegah suhu tubuh yang
hilang akibat dinginnya air laut
7. Media pelindung panas (Thermal Protective Aid)
Gunanya serta yang merupakan pelindung tubuh, mengurangi
hilangnya panas badan
8. Isyarat visual (Pyrotechnis)
Gunanya juga sebagai isyarat tanda bahaya bilamana
penyelamat menyaksikan ada kapal penolong, isyarat ini hanya
dapat diliihat oleh mata pada siang hari dipakai isyarat asap

10
apung (bouyant smoke signal). Kepada tengah tengah malam
hari dapat digunakan obor tangan (red hand flare) atau obor
parasut (parachute signal).
9. Pesawat luput (survival craft)
Gunanya buat menolong/mempertahankan jiwa orang-orang
yang berada dalam bahaya dari sejak orang tersebut
meninggalkan kapal.
 Petugas pengawas dan pendamping
Sesuai dengan Pasal 219 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2008,
untuk melakukan kegiatan pelayaran setiap angkutan laut (kapal)
memerlukan Surat Persetujuan Berlayar/Berlabuh (SPB) yang di
keluarkan oleh syahbandar agar dapat berlayar ataupun berlabuh.
Syahbandar, panglima pangkalan atau kepala pelabuhan adalah
seorang petugas yang bertanggung jawab sebagai penadbir atau
memiliki kantor dan tata usahanya yang kegunaannya yakni
menjadi tempat untuk memberlakukan peraturan di
suatu pelabuhan atau pangkalan laut guna dapat memberikan rasa
aman akan adanya keselamatan pelayaran, keamanan suasana di
sekitar pelabuhan dan cara kinerja/pengayaan sarana-sarana
berkemudahan yang dijalankan secara baik dan tepat. tanggung
jawab syahbandar dalam keamanan dan keselamatan pelayaran
berdasarkan hukum Indonesia adalah, memastikan sebuah kapal
layak untuk berlayar dan meminimalisir kemungkinan terjadinya
kecelakaan kapal akibat tidak laiklautnya kapal, menanggulangi
pencemaran laut dan melakukan upaya untuk mencegah
pencemaran laut terjadi, dan ikut serta dalam pencarian dan
penyelamatan korban apabila terjadi kecelakaan kapal ataupun saat
ada gangguan dalam pelayaran.
 Sistem rujukan kesehatan
Rujukan adalah tindakan pemindahan penderita atau beberapa
penderita atas dasar indikasi medik dari instalasi poliklinik dan
instalasi isolasi, maupun di lapangan serta yang berasal dari

11
kejadian kecelakaan, keracunan, atau kedaruratan di lingkungan
pelabuhan, bandara, dan lintas batas darat negara ke fasilitas
pelayanan kesehatan terdekat, baik pada saat rutin maupun pada
kondisi matra.
 Sistem komunikasi dan informasi kesehatan
Sistem komunikasi yang ada harus dapat diterima dengan baik oleh
setiap orang yang terlibat dalam pelayaran. Sistem komunikasi dan
informasi kesehatan diperlukan untuk menunjang pengetahuan
mengenai kesehatan dan juga keselamatan di dalam suatu
pelayaran.
 Perlengkapan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).
Kotak P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) adalah sarana
yang harus disediakan di tiap rumah dan mobil. Sesuai namanya,
tujuan dari pengadaan kotak P3K adalah sebagai langkah
mengantisipasi dan penanganan dini cedera atau luka. Cedera
atau luka bisa terjadi secara tiba-tiba dan penanganannya pun harus
cepat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

c) Kesiapan pelayanan kesehatan.


 Penyuluhan kesehatan di pelabuhan embarkasi dan debarkasi
Penyuluhan kesehatan dilakukan di pelabuhan baik ketika
embarkasi (pemberangkatan penumpang) maupun saat debarkaasi
(penurunan penumpang/muatan. Hal ini bertujuan untuk
meningkatkan kesehatan dan keselamatan selama dan atau sesudah
kegiatan pelayaran
 Pendataan demografis awak angkutan pelayaran
Pendataan ini bertujuan untuk memiliki informasi mengenai
demografi dari awak angkutan yang akan melakukan pelayaran.
Data demografis ini akan berguna untuk kelengkapan data untuk
surveilens.
 Pemeriksaan kesehatan dan vaksinasi

12
Salah satu pemeriksaan kesehatan yang dapat dilakukan oleh
pelayanan kesehatan berupa pemeriksaan kesehatan pelaut.
Kegiatan pemeriksaan kesehatan pelaut adalah pemeriksaan dan
penilaian terhadap kesehatan siswa Pelaut, calon Pelaut, atau
Pelaut, yang akan bekerja sebagai awak Kapal berupa pemeriksaan
fisik, jiwa, laboratorium, radiologi, dan pemeriksaan penunjang
lainnya (PMK Nomor 1 Tahun 2018). Pemeriksaan Kesehatan
Pelaut terdiri atas:
- Pemeriksaan prakerja yang dilakukan pada saat akan bekerja
pertama kali di Kapal.
- Pemeriksaan kesehatan rutin/berkala yaitu pemeriksaan yang
dilakukan paling lama 2 (dua) tahun sekali untuk perpanjangan
Sertifikat Kesehatan Pelaut.
- Pemeriksaan kesehatan untuk kepentingan pendidikan,
pelatihan, penugasan khusus, atau peningkatan jabatan yang
lebih tinggi
- Pemeriksaan kesehatan banding yaitu pemeriksaan yang
dilakukan berdasarkan keberatan atas hasil pemeriksaan
kesehatan tidak laik kerja yang dikeluarkan Fasilitas Pelayanan
Pemeriksaan Kesehatan Pelaut.
- Pemeriksaan kesehatan untuk kembali kerja. Dilaksanakan
setelah Pelaut selesai menjalani pengobatan dan dinyatakan
sembuh oleh tenaga kesehatan yang berwenang.
 Penyediaan peralatan dan perbekalan kesehatan
Peralatan dan perbekalan kesehatan diperlukan di dalam kapal
antara lain seperti obat-obatan ataupun alat kesehatan lainnya.
Perbekalan kesehatan biasanya tersedia di dalam ruang kesehatan
di kapal.
 Pelayanan kesehatan di pelabuhan embarkasi dan debarkasi
Pelayanan kesehatan di pelabuhan di laksanakan oleh KKP (Kantor
Kesehatan Pelabuhan) yang ada di masing-masing pelabuhan.
 Sistem rujukan kesehatan

13
Sistem rujukan kesehatan diperlukan untuk memindahkan korban
ataupun orang yang sakit ke tempat pelayanan kesehatan yang
lebih mumpuni.
 Inspeksi sanitasi dan perbaikan kualitas air bersih dan sanitasi di
sarana pelayaran
Kegiatan inspeksi sarana air bersih merupakan kegiatan
pengamatan keadaan fisik sarana, lingkungan dan perilaku
masyarakat pelayaran yang diperkirakan dapat mempengaruhi
kualitas air dari sarana yang diinspeksi dengan menggunakan
formulir yang telah ditetapkan. Berdasarkan inspeksi sanitasi
tersebut, ditetapkan risiko pencemaran dari sarana ke dalam 4
kategori, yaitu rendah, sedang, tingggi dan amat tinggi.
Berbeda dengan pemeriksaan laboratorium yang akurasinya tinggi,
ispeksi sanitasi hanya dapat memperkirakan kualitas air dari sarana
yang ada. Perkiraan kualitas air (terutama mikrobiologi)
berdasarkan inspeksi sanitasi bertolak dari asumsi bahwa tingkat
risiko pencemaran suatu sarana berpengaruh pada kualitas airnya.
 Perencanaan kontinjensi kedaruratan kesehatan pelayaran
Rencana kontinjensi adalah dokumen dinamis yang membutuhkan
penyesuaian dan adaptasi yang berlanjut, para perencana
diwajibkan untuk mendorong semua lembaga yang terkait dan para
wakil mereka, yang harus menyetujui dan/atau menerapkan
komponen rencana, untuk menyumbangkan masukan, memberikan
kritik, diskusi, dan saran. Semua hasil dan putusan mereka yang
relevan perlu disebarkan dan disampaikan kepada publik
(Vidiarina, 2010).
Perencanaan kontinjensi harus mencakup proses pengaturan awal
sehingga bisa membuat perencanaan atau menyusun strategi dan
prosedur dalam menanggapi potensi krisis atau kedaruratan yang
akan terjadi. Ini termasuk mengembangkan skenario (untuk
mengantisipasi krisis), menentukan tanggung jawab semua pelaku
yang akan terlibat mengidentifikasikan peran dan sumber daya,

14
proses pendataan dan penyebaran informasi, dan pengaturan setiap
pelaku sehingga siap pada saat dibutuhkan, dan menentukan
kebutuhan agar tujuan tercapai (Vidiarina, 2010).
 Simulasi kedaruratan kesehatan pelayaran.
Simulasi adalah suatu proses peniruan dari sesuatu yang nyata
beserta keadaan sekelilingnya (state of affairs). Aksi melakukan
simulasi ini secara umum menggambarkan sifat-sifat karakteristik
kunci dari kelakuan sistem fisik kedaruratan kesehatan pelayaran
atau sistem kedaruratan kesehatan pelayaran.

2.2.2 Kegiatan Selama Kegiatan Pelayaran Dilaksanakan


Kegiatan selama kegiatan pelayaran dilaksanakan terdiri atas :
a. Penyuluhan kesehatan
Penyuluhan kesehatan adalah segala upaya yang direncanakan
untuk mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok, atau
masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku
penyukuhan atau promosi kesehatan. Dan batasan ini tersirat unsure-unsur
input (sasaran dan pendidik dari pendidikan), proses (upaya yang
direncanakan untuk mempengaruhi orang lain) dan output (melakukan apa
yang diharapkan) (Notoadmojo, 2012). Hasil yang diharapkan dari suatu
promosi atau pendidikan kesehatan adalah perilaku kesehatan, atau
perilaku untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang kondusif
oleh sasaran dari promosi kesehatan yaitu dalam bidang kesehatan
pelayaran.
b. Pemeriksaan kesehatan
Pemeriksaan Kesehatan sebelum bekerja ditujukan agar tenaga
kerja yang diterima berada dalam kondisi kesehatan yang setinggi-
tingginya, tidak mempunyai penyakit menular yang akan mengenai tenaga
kerja lainnya, dan cocok untuk pekerjaan yang akan dilakukan sehingga
keselamatan dan kesehatan tenaga kerja yang bersangkutan dan tenaga
kerja yang lain-lainnya dapat dijamin (Permen, 1980).

15
Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Kerja meliputi pemeriksaan
fisik lengkap, kesegaran jasmani, rontgen paru-paru (bilamana mungkin)
dan laboratorium rutin, serta pemeriksaan lain yang dianggap perlu
(Permen, 1980).
c. Penemuan kasus
Penemuan khasus biasanya digunakan untuk mengatasi wabah.
Tujuan case finding adalah menemukan sumber penularan dan atau
mencari ada atau tidak ada penderita baru di masyarakat pelayaran. Proses
penemuan penderita (case finding) tidaklah sesederhana sebagaimana
kelihatannya. Melalui berbagai tahapan harus dijalani sampai
ditemukannya satu orang penderita, mulai dari jenis gejala yang timbul
sampai ke mana penderita pergi berobat untuk mengatasi gejala tersebut.
d. Pelayanan kesehatan jiwa
Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat
berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu
tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat
bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk
komunitasnya. Orang Dengan Masalah Kejiwaan yang selanjutnya
disingkat ODMK adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental,
sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga
memiliki risiko mengalami gangguan jiwa (UU no. 18/2014).
Upaya kesehatan jiwa bertujuan menjamin setiap orang dapat
mencapai kualitas hidup yang baik, menikrnati kehidupan kejiwaan yang
sehat, bebas dari ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang dapat
mengganggu Kesehatan Jiwa. Upaya kesehatan jiwa dilakukan melalui
kegiatan promotif, prefentif, kuratif dan rehabilitatif (UU no. 18/2014).
e. Pelayanan kesehatan primer
Pelayanan kesehatan primer merupakan pelayanan kesehatan
essensial yang dibuat dan bisa terjangkau secara universal oleh individu
dan keluarga didalam masyarakat.
f. Surveilans Kesehatan

16
Surveilans Kesehatan yaitu pengumpulan, analisis, dan analisis
data secara terus- menerus dan sistematis yang kemudian didiseminasikan
(disebarluaskan) kepada pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam
pencegahan penyakit dan masalah kesehatan lainnya yang dalam hal ini
mengenai bidang kesehatan pelayaran.

2.2.3 Kegiatan Kedaruratan Medik dan/atau Kejiwaan


a. Pelayanan kegawatdaruratan dan rujukan
Pada PMK no. 47 tahun 2008, Pelayanan Kegawatdaruratan
adalah tindakan medis yang dibutuhkan oleh pasien gawat darurat dalam
waktu segera untuk menyelamatkan nyawa dan pencegahan kecacatan.
Gawat Darurat adalah keadaan klinis yang membutuhkan tindakan medis
segera untuk penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan.
Rujukan dilaksanakan jika tindak lanjut penanganan terhadap
pasien tidak memungkinkan untuk dilakukan di Puskesmas/Klinik/tempat
praktik mandiri Dokter dan Dokter Gigi/tenaga kesehatan karena
keterbatasan sumber daya. Sebelum Pasien dirujuk, terlebih dahulu
dilakukan koordinasi dengan Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang dituju
mengenai kondisi Pasien, serta tindakan medis yang diperlukan oleh Pasien
(PMK no. 47 thn 2008).
b. Tindakan karantina dan/atau isolasi
Pada UU no 6 tahun 2018, Kekarantinaan Kesehatan adalah upaya
mencegah dan menangkal keluar atau masuknya penyakit dan/atau faktor
risiko kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan kedaruratan
kesehatan masyarakat. Sedangkan, isolasi adalah pemisahan orang sakit
dari orang sehat yang dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan untuk
mendapatkan pengobatan dan perawatan.
Kekarantinaan Kesehatan berasaskan:
a. perikemanusiaan;
b. manfaat;
c. pelindungan;
d. keadilan;

17
e. nondiskriminatif;
f. kepentingan umum;
g. keterpaduan;kesadaran hukum; dan
h. kedaulatan negara.
c. Pelayanan kesehatan jiwa.
Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat
berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu
tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat
bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk
komunitasnya (UU no. 18/2014).
Upaya Kesehatan Jiwa adalah setiap kegiatan untuk
mewujudkan derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi setiap individu,
keluarga, dan masyarakat dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif,
dan rehabilitatif yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu, dan
berkesinambungan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/ atau
masyarakat yang dalam hal ini berkaitan dengan kesehatan pelayaran (UU
no. 18/2014).

2.3. Kesehatan pada Kegiatan di Lokasi Lepas Pantai

Aspek kesehatan matra pada kegiatan di lokasi lepas pantai ini meliputi:
a. Persiapan sebelum kegiatan; dan
b. Selama kegiatan operasional di lepas pantai.

2.3.1. Persiapan Sebelum Kegiatan


Persiapan sebelum kegiatan terdiri dari :
a. kesiapan bagi masyarakat yang bekerja di lepas pantai,
b. kesiapan pemberi kerja dan/atau penyelenggara kegiatan lepas pantai,
c. kesiapan pelayanan kesehatan.

a) Kesiapan bagi Masyarakat yang Bekerja di Lepas Pantai


a. kesehatan fisik dan mental; dan

18
Aspek kesehatan bagi masyarakat yang bekerja di lepas pantai
sangatlah penting. Aspek kesehatan fisik antara lain berupa status
kesehatan penyakit menular, ketajaman pendengaran, penglihatan dan
kemampuan fisik. Selain itu kesehatan mental juga sangat penting
karena bekerja di kapal bukanlah hal yang mudah dan akan memiliki
tekanan berat yang dapat mengganggu kesehatan mental apabila tidak
disiapkan dengan baik.

b. pemahaman prosedur kesehatan dan keselamatan kerja.


Pemahaman prosedur keselamatan dan kesehatan kerja sangatlah
penting bagi masyarakat pekerja lepas pantai. Dalam pelaksanaan
kegiatan lepas pantai dapat terjadi bahaya dan situasi yang tidak
diharapkan terjadi. Oleh karenanya, aspek-aspek keselamatan dan
kesehatan kerja di kegiatan lepas pantai harus benar-benar dipahami
bagi para pekerjanya.

b) Kesiapan Pemberi Kerja dan/atau Penyelenggara Kegiatan Lepas Pantai


a. penyuluhan kesehatan dan keselamatan;
Penyuluhan kesehatan dan keselamatan pada kegiatan lepas pantai
sangat penting dilakukan mengingat bahaya yang bisa terjadi pada
pekerja. Penyuluhan kesehatan dan keselamatan pada kegiatan lepas
pantai adalah penyuluhan yang berhubungan dengan sarana dan
prasarana baik fisik maupun non fisik yang dibutuhkan untuk
melindungi pekerja dari berbagai resiko pekerjaan dan meminimalisir
terjadinya kecelakaan pada kegiatan lepas pantai.

b. penyediaan peralatan keselamatan;


Dalam upaya penyuluhan kesehatan dan keselamatan pada kegiatan
lepas pantai, upaya yang dilakukan secara fisik berarti menggunakan
alat-alat perlindungan diri, simbol atau logo di tempat yang
membutuhkan perhatian khusus, serta lampu atau bunyi tertentu saat

19
terjadi keadaan bahaya. Sedangkan penyuluhan dan pelatihan K3
adalah termasuk materi kesehatan dan keselamatan kerja non fisik.

c. petugas pengawas keselamatan;


Ada tiga faktor yang berhubungan erat dengan kecelakaan kerja,
diantaranya faktor manusia, faktor lingkungan dan alat. Ketiga hal itu
merupakan lingkungan terdekat pekerja sehingga untuk materi
kesehatan dan keselamatan kerja, pendekatan yang digunakan harus
mengacu pada ketiga hal tersebut agar tidak terjadi kecelakaan pada
kegiatan lepas pantai.

d. perlengkapan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K);


Dalam penyelenggaraan pertolongan pertama pada kecelakaan,
tersedianya perlengkapan P3K merupakan suatu keharusan.
Perlengkapan P3K dasar yang wajib disiapkan adalah
 Perban.
 Kain kasa gulung dan steril.
 Peniti.
 Sarung tangan lateks.
 Pinset.
 Gunting.
 Larutan povidone-iodine untuk disinfektan luka.
 Tisu pembersih bebas alkohol.

e. sistem rujukan kesehatan;


Sistem rujukan merupakan pelimpahan tanggung jawab timbal
balik atas kasus atau masalah penyakit kandungan yang timbul
baik secara vertikal maupun horizontal (Mochtar, 1998). Dalam
kegiatan lepas pantai, sisem rujukan kesehatan sangat penting
apabila terjadi keadaan darurat kesehatan pada orang-orang yang
bekerja atau berada di lepas pantai.

20
f. jejaring keselamatan dan kesehatan;
Jejaring keselamatan dan kesehatan di kegiatan lepas pantai
merupakan media yang digunakan untuk mengumpulkan dan
menyebarkan informasi, penelitian dan pelatihan untuk
meningkatkan lingkungan dan kondisi kerja dalam kegiatan lepas
pantai.

g. sistem komunikasi dan informasi;


Sistem komunikasi merupakan hal krusial dalam kegiatan lepas
pantai. Sistem komunikasi dan informasi yang ada harus dapat
diterima dengan baik oleh setiap orang yang terlibat dalam
pelaksanaan kegiatan lepas pantai. Sistem komunikasi dan
informasi kesehatan diperlukan untuk menunjang pengetahuan
mengenai kesehatan dan juga keselamatan di dalam kegiatan lepas
pantai.

h. perencanaan kontinjensi kedaruratan kesehatan lepas pantai; dan


i. simulasi kedaruratan kesehatan.

c) Kesiapan Pelayanan Kesehatan


a. penyuluhan kesehatan dan keselamatan;
b. pemetaan lokasi dan persebaran kegiatan di lepas pantai;
c. pendataan demografis masyarakat yang bekerja di lepas pantai;
d. pemeriksaan kesehatan;
e. penyediaan peralatan dan perbekalan kesehatan;
f. pelatihan kesehatan menghadapi situasi kerja di lepas pantai;
g. kesiapan mobilisasi bantuan pelayanan kesehatan;
h. sistem rujukan kesehatan;
i. perencanaan kontinjensi kesehatan lepas pantai; dan
j. simulasi kedaruratan kesehatan lepas pantai.

21
2.3.2. Selama Kegiatan Operasional di Lepas Pantai
a) pemberian informasi keselamatan dan kesehatan bagi pekerja;
b) penemuan kasus;
c) pelayanan kesehatan bagi pekerja; dan
d) surveilans kesehatan.

2.3.3. Kedaruratan Medik dan/atau Kejiwaan


a) pelayanan kegawatdaruratan dan rujukan; dan/atau
b) pelayanan kesehatan jiwa.

22
BAB III
KESIMPULAN

23
DAFTAR PUSTAKA

http://www.dishubinkom.baliprov.go.id/id/Penyuluhan-Keselamatan--Pelayaran-
bagi--Masyarakat-Maritim

http://www.seputarkapal.com/2016/05/alat-keselamatan-diatas-kapal.html

https://media.neliti.com/media/publications/59543-ID-tugas-dan-tanggung-jawab-
syahbandar-dala.pdf

http://bkkp.dephub.go.id/index.php/news/read/pertanyaan-pertanyaan-yang-
sering-muncul-ketika-harus-periksa-kesehatan-pelaut

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 2 tahun 2014

Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2013) ‘Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2013’. Indonesia.
BPJS Kesehatan. 2014. Panduan Praktis: Sistem Rujukan Kesehatan. Indonesia
Vidarina, Hennny Dwi. 2010. Perencanaan Kontijensi: Tinjauan tentang Beberapa
Pedoman Perencanaaan dan Rencana Kontijensi. Jakarta: Gitews
Peraturan Menteri. 2018. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 47
tahun 2018: Pelayanan Kegawatdaruratan. Lembaran RI Tahun 2018 No.
47. Jakarta : Sekretariat Negara.
Peraturan Menteri. 2018. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 61
tahun 2013: Kesehatan Matra. Lembaran RI Tahun 2013 No. 61. Jakarta :
Sekretariat Negara.
Pemerintah Indonesia. 2014. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18
Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa. Lembaran RI Tahun 2014 No. 18.
Jakarta : Sekretariat Negara.
Pemerintah Indonesia. 2018. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun
2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan. Lembaran RI Tahun 2018 No. 6.
Jakarta : Sekretariat Negara.

24