Anda di halaman 1dari 6

1.

Sudi Islam di Timur Tengah Studi Islam di Timur


sangat menekankan pendekatan normatif dan ideologis terhadap Islam.
Kajian Islam di Timur Tengah bertitik tolak dari penerimaan terhadap Islam
sebagai agama wahyu yang bersifat transenden. Islam tidaklah dijadikan
semata-mata sebagai obyek studi ilmiah yang secara leluasa ditundukkan
pada prinsip-prinsip yang berlaku di dunia keilmuwan, tetapi diletakkan
secara terhormat sesuai dengan kedudukannya sebagai doktrin yang
kebenarannya diyakini tanpa keraguan. Dengan demikian, sikap ilmiah yang
terbentuk adalah komitmen dan penghargaan. Usaha-usaha studi ilmiah
ditujukan untuk memperluas pemahaman, memperdalam keyakinan dan
menarik maslahatnya bagi kepentingan umat. Orentasi studi di Timur lebih
menekankan pada aspek doktrin disertai dengan pendekatan yang cenderung
normatif. Keterkaitan pada usaha untuk memelihara kesinambungan tradisi
dan menjamin stabilitas serta keseragaman bentuk pemahaman, sampai
batas-batas tertentu, menimbulkan kecenderungan untuk menekankan upaya
penghafalan daripada mengembangkan kritisisme. Meskipun kecenderungan
ini tidak dominan, namun pengaruh kebangkitan fundamentalisme di Timur
Tengah telah mempengaruhi orientasi pendidikannya yang lebih normatif
(Zada, 2009).
Meski pendidikan tinggi di Timur Tengah sangat menekankan
pendekatan normatif dan ideologis terhadap Islam, lingkungan berfi kir
mahasiswa tidaklah seragam sebagaimana dibayangkan banyak orang.
Memang arus pendekatan normatif terhadap Islam sangat kuat di kalangan
akademisi perguruan tinggi Timur Tengah. Tetapi ini bukanlah gambaran
selengkapnya, karena cukup kuat pula arus yang menekankan pendekatan
historis dan sosiologis yang di pandang liberal tadi. Bahkan, tidak kurang
terdapat contoh-contoh liberalisme pemikiran di lingkungan universitas dan
dunia pemikiran umumnya. Pemikiran liberal seperti ditampilkan Hasan
Hanafi , atau Zaki Najib Mahmud, atau Abdellahi Ahmed An-Na’im daalam
masa-masa akhir ini, merupakan diskursus yang absah dari pendekatan dan
pemikiran tentang Islam di Timur Tengah (Azra, 1999)
1. Perkembangan Studi Islam di Barat.
Kontak Islam dengan Barat (Eropa) dapat dikelompokkan menjadi dua fase, yakni: pada masa kejayaan
Islam (abad ke 8 M) kalau melihat Spanyol adalah abad 13 M, dan pada masa renaissance / runtuhnya muslim,
dimana bangsa Barat yang berjaya (selama abad ke 16 M) sampai sekarang.
a. Fase Kejayaan Muslim
kontak pertama antara dunia Barat dengan dunia muslim adalah lewat kontak perguruan tinggi,
sejumlah ilmuan dan tokoh-tokoh barat datang di perguruan tinggi muslim untuk memperdalam ilmu
pengetahuan dan teknologi. Di dunia Islam belahan timur, perguruan tinggi tersebut berkedudukan di Baghdad
dan di Kairo, sementara di belahan barat berada di Cordova.
Bentuk lain dari kontak dunia muslim dengan dunia barat pada fase pertama adalah penyalinan
manuskrip-manuskrip ke dalam bahasa latin sejak abad ke-13 M hingga bangkitnya zaman kebangunan
(renaissance) di Eropa pada abad ke-14, berkat penyalinan karya-karya ilmiah dari manuskrip-manuskrip Arab
itu, terbukalah jalan bagi perkembangan cabang-cabang ilmiah tersebut di Barat. Apalagi sesudah aliran
empirisme yang dikumandangkan oleh Francis Bacon menguasai alam pikiran di Barat dan berkembangnya
observasi dan eksperimen.

b. Fase Renaissance / Runtuhnya Muslim


Kedatangan muslim fase kedua ke dunia barat, khususnya eropa barat dilatar belakangi oleh dua
alasan pokok, yaitu alasan politik dan alasan ekonomi.
Alasan politik adalah kesepakatan kedua negara, yang satu sebagai bekas penjajah, sementara yang
satunya sebagai bekas jajahan. Misalnya Perancis mempunyai kesepakatan dengan negara bekas jajahannya,
bahwa penduduk bekas jajahannya boleh masuk ke Perancis tanpa pembatasan. Maka berdatanglah muslim
dari Afrika Barat dan Afrika Utara, khususnya dari Algeria ke Perancis.
Adapun alasan ekonomi adalah untuk mencukupi tenaga buruh yang dibutuhkan negara-negara Eropa
Barat. Untuk menutupi kebutuhan itu Belgia, Jerman, Belanda merekrut buruh dari Turki, Maroko, dan
beberapa negara Timur Tengah lainnya, sementara Inggris mendatangkan dari negara-negara bekas
jajahannya. Adapun kategori Muslim yang ada di Eropa Barat ada dua, yakni pendatang (migran) dan
penduduk asli.

2. Perkembangan Studi Islam di timur.


Studi Islam di timur sama dengan menyebut studi Islam di dunia muslim. Pada akhir periode Madinah
sampai dengan 4 H, fase pertama pendidikan Islam sekolah masih di masjid-masjid dan rumah-rumah dengan
ciri hafalan namun sudah dikenalkan logika. Selama abad ke 5 H, selama periode khalifah ‘Abbasiyah sekolah-
sekolah didirikan di kota-kota dan mulai menempati gedung-gedung besar dan mulai bergeser dari matakuliah
yang bersifat spiritual ke matakuliah yang bersifat intelektual, ilmu alam dan ilmu sosial.
Berdirinya sistem madrasah justru menjadi titik balik kejayaan. Sebab madrasah dibiayai dan diprakarsai
negara. Kemudian madrasah menjadi alat penguasa untuk mempertahankan doktrin-doktrin terutama oleh
kerajaan Fatimah di Kairo.

Pengaruh al-Ghazali (1085-1111 M) disebut


sebagai awal terjadi pemisahan ilmu agama dengan ilmu umum. Ada beberapa kota yang menjadi pusat kajian
Islam di zamannya, yakni Nisyapur, Baghdad, Kairo, Damaskus, dan Jerussalem. Ada empat perguruan tinggi
tertua di dunia Muslim yakni: (1) Nizhamiyah di Baghdad, (2) al-Azhar di Kairo Mesir, (3) Cordova, dan (4)
Kairwan Amir Nizam al-Muluk di Maroko. Sejarah singkat masing-masing pusat studi Islam ini digambarkan
sebagai berikut:
a. Nizhamiyah di Baghdad.
Perguruan Tinggi Nizhamiyah di Baghdad berdiri pada tahun 455 H / 1063 M. perguruan tinggi ini
dilengkapi dengan perpustakaan yang terpandang kaya raya di Baghdad, yakni Bait-al-Hikmat, yang dibangun
oleh al-Makmun (813-833 M). salah seorang ulama besar yang pernah mengajar disana, adalah ahli pikir Islam
terbesar Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111 M) yang kemudian terkenal dengan sebutan imam Ghazali.
Perguruan tinggi tertua di Baghdad ini hanya sempat hidup selama hampir dua abad. Yang pada
akhirnya hancur akibat penyerbuan bangsa Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun 1258 M.
b. Al-Azhar di Kairo Mesir.
Panglima Besar Juhari al-Siqili pada tahun 362 H/972 M membangun Perguruan Tinggi al-Azhar
dengan kurikulum berdasarkan ajaran sekte Syiah. Pada masa pemerintahan al-Hakim Biamrillah khalifah
keenam dari Daulat Fathimiah, ia pun membangun pepustakaan terbesar di al-Qahira untuk mendampingi
Perguruan tinggi al-Azhar, yang diberi nama Bait-al-hikmat (Balai Ilmu Pengetahuan), seperti nama
perpustakaan terbesar di Baghdad.
Pada tahun 567 H/1171 M daulat Fathimiah ditumbangkan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi yang
mendirikan Daulat al-Ayyubiah (1171-1269 M) dan menyatakan tunduk kembali kepada Daulat Abbasiyah di
Baghdad. Kurikulum pada Perguruan Tinggi al-Azhar lantas mengalami perombakan total, dari aliran Syiah
kepada aliran Sunni. Ternyata Perguruan Tinggi al-Azhar ini mampu hidup terus sampai sekarang, yakni sejak
abad ke-10 M sampai abad ke-20 dan tampaknya akan tetap selama hidupnya.
Universitas al-Azhar dapat dibedakan menjadi dua periode: pertama, periode sebelum tahun 1961
dan kedua, periode setelah tahun 1961. Pada periode pertama, fakultas-fakultas yang ada sama dengan
fakultas-fakultas di IAIN, sedangkan setelah tahun 1961, di universitas ini diselenggarakan fakultas-fakultas
umum disamping fakultas agama
c. Perguruan Tinggi Cordova.
Di tangan daulat Ummayah semenanjung Iberia yang sejak berabad-abad terpandang daerah minus,
berubah menjadi daerah yang makmur dan kaya raya. Pada masa berikutnya Cordova menjadi pusat ilmu dan
kebudayaan yang gilang gemilang dengan pembangunan bendungan - bendungan irigasi di sana sini menuruti
contoh lembah sungai Nil dan Lembah Ephrate.
Sejarah mencatat Aelhoud dari Bath (Inggris) belajar ke Cordova pada tahun 1120 M, dan pelajaran
yang dituntutnya ialah geometri, algebra (aljabar), matematik. Gerard dari Cremonia belajar ke Toledo seperti
halnya Adelhoud ke Cordova.

d. Kairwan Amir Nizam al-Muluk di Maroko.


Perguruan tinggi ini berada di kota Fez (Afrika Barat) yang dibangun pada tahun 859 M oleh puteri
seorang saudagar hartawan di kota Fez, yang berasal dari Kairwan (Tunisia). Pada tahun 305 H/918 M
perguruan tinggi ini diserahkan kepada pemerintah dan sejak itu menjadi perguruan tinggi resmi, yang
perluasan dan perkembangannya berada di bawah pengawasan dan pembiayaan negara. Seperti halnya
Perguruan tinggi al-Azhar, perguruan tinggi Kairwan masih tetap hidup sampai kini.

Penyebab utama kemunduran dunia muslim khususnya di bidang ilmu pengetahuan adalah terpecahnya
kekuatan politik yang digoyang oleh tentara bayaran Turki. Kemudian dalam kondisi demikian datang musuh
dengan membawa bendera perang salib. Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan ketika itu dihancurkan
Hulaghu Khan 1258 M. Pusat-pusat studi termasuk yang dihancurkan Hulaghu

3. Sejarah Perkembangan Studi Islam di Indonesia.


Perkembangan studi Islam di Indonesia dapat digambarkan demikian. Bahwa lembaga / sistem pendidikan
islam di Indonesia mulai dari sistem pendidikan langgar, kemudian sistem pesantren, kemudian berlanjut
dengan sistem pendidikan di kerajaan-kerajaan Islam, akhirnya muncul sistem kelas.
Maksud pendidikan dengan sistem langgar adalah pendidikan yang dijalankan di langgar, surau, masjid
atau di rumah guru. Kurikulumnya pun bersifat elementer, yakni mempelajari abjad huruf arab. Dengan sistem
ini dikelola oleh ‘alim, mudin, lebai. Mereka ini umumnya berfungsi sebagai guru agama atau sekaligus menjadi
tukang baca do’a. pengajaran dengan sistem langgar ini dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan sorogan,
yakni seorang murid berhadapan secara langsung dengan guru dan bersifat perorangan. Kedua, adalah dengan
cara halaqah, yakni guru dikelilingi oleh murid-murid.
Adapun sistem pendidikan di pesantren, dimana seorang kyai mengajari santri dengan sarana masjid
sebagai tempat pengajaran / pendidikan dan didukung oleh pondok sebagai tempat tinggal santri. Di
pesantren juga berjalan dua cara yakni sorogan dan halaqah. Hanya saja sorogan di pesantren biasanya
dengan cara si santri yang membaca kitab sementara kyai mendengar sekaligus mengoreksi jika ada kesalahan.
Sistem pengajaran berikutnya adalah pendidikan dikerajaan-kerajaan Islam, yang dimulai dari kerajaan
Samudera Pasai di Aceh. Adapun materi yang diajarkan di majlis ta’lim dan halaqah di kerajaan pasai adalah
fiqh mazhab al-Syafi’i.
Pada akhir abad ke 19 perkembangan pendidikan Islam di Indonesia mulai lahir sekolah model Belanda:
sekolah Eropa, sekolah Vernahuler. Sekolah khusus bagi ningrat Belanda, sekolah Vernahuler khusus bagi
warga negara Belanda. Di samping itu ada sekolah pribumi yang mempunyai sistem yang sama dengan
sekolah-sekolah Belanda tersebut, seperti sekolah Taman Siswa.
Kemudian dasawarsa kedua abad ke 20 muncul madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah model Belanda
oleh organisasi Islam seperti Muhammadiyah, NU, Jama’at al-Khair, dan lain-lain.
Pada level perguruan tinggi dapat digambarkan bahwa berdirinya perguruan tinggi Islam tidak dapat
dilepaskan dari adanya keinginan umat Islam Indonesia untuk memiliki lembaga pendidikan tinggi Islam sejak
zaman kolonial. Pada bulan April 1945 diadakan pertemuan antara berbagai tokoh organisasi Islam, ulama, dan
cendekiawan. Setelah persiapan cukup, pada tanggal 8 Juli 1945 atau tanggal 27 Rajab 1364 H bertepatan
dengan Isra’ dan Mi’raj diadakan acara pembukaan resmi Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta. Dari sinilah
sekarang kita mengenal UII, IAIN, UIN, STAIN dsb.

C. Perkembangan Studi Islam Di Negara Muslim


Study Islam di Negara-negara muslim telah lama ada. Ditandai dengan sebuah
perguruan tinggi (PT) Nizamiyah di Bahdad yang berdiri pada tahun 455 H/1063 M. PT ini di
lengkapi dengan perpustakaan, yang bernama Bait al-Hikmah, yang di bangun oleh kholifah
Al-makmun (813-833 M). salah seorang ulama’ besar yang pernah megajar disana, adalah
ahli pikir Islam tersebar Abu Hamid Al-Ghozali (1058-1111 M) yang terkenal dengan
sebutan Imam al-Ghozali. Akan tetpi Perguruan Tinggi ini hanya sempat hidup selama
hampir dua abad dikarenakan penyerbuan banggsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan
pada tahun 1258 M.
Selanjutnya berdiri pusat-pusat study Islam seperti Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.
Pada masa pemerintahan Al-Hakim Biamrillah Khalifah keenam dari Daulat Fathimiyah, ia
pun membangun perpustakaan terbesar di Al-Qahira yang di beri nama Bait AL-Hikmat
(Balai Ilmu Pengetahuan).
Pada tahun 567 H/1171 M Daulat Fathimiyah ditumbangkan oleh Sulthan Salahuddin
Al-Ayyuubi yang mendirikan Daulat Al-Ayyubiyah (1171-1269 M) dan menyatakan tunduk
kembali kepada Daulat Abbasiyyah di Bahdad sehingga kurikulum yang ada di PT al-Azhar
yang mengalami perombakan total, dari aliran Syiah kepada aliran Sunni. Akan tetapi PT Al-
Azhar ini dapat bertahan dari abad 10 M sampai abad 20 M.
Di Universitas Al Azhar itu proses pembelajaran di bedakan antara laki- laki dengan
perempuan, beda dengan Universitas-Universitas yang lain seperti Universitas Umul Qura di
Arab Saudi, Universita Taheran di Taheran
Pengaruh Al-Ghazali (1085-1111 M) disebut sebagai awal pemisahan ilmu agama dengan
ilmu umum. Ada beberapa kota yang menjadi pusat kajian islam di zamannya, yaitu
Nisyapur, Baghdad, Kairo, Damaskus dan Jerussalem. Ada empat perguruan tinggi tertua di
dunia muslim, yaitu (1) Nizhamiyah di Baghdad(2) Al-Azhar di Kairo Mesir (3) Cordova
(bagian barat) dan (4) Kairwan Amir Nizam Al-Muluk di Maroko. Sejarah singkat masing-
masing pusat studi islam di gambarkan sebagai berikut:
a. Nizhamiyah di Baghdad
Perguruan tinggi Nizhamiyah di Baghdad berdiri tahun 445 H/1063 M. Perguruan tinggi
ini dilengkapi perpustakaan yang terpandang kaya raya di Baghdad yaitu Bait Al-Hikmah
yang dibangun oleh Khalifah Al-Makmun (813-833 M). Seorang ulama besar yang
pernah mengajar di sana adalah ahli pikir islam terbesar yaitu Abu Hamid Al-Ghazali (1058-
1111 M), yang terkenal dengan sebutan Imam Ghazali.
Di lembaga ini ada empat unsur pokok, yakni seorang mudarris (guru besar) yang
bertanggung jawab terhadap pengajaran di lembaga pendidikan, muqri’ (ahli Al-Qur’an) yang
mengajar Al-Qur’an di masjid, muhaddis (ahli hadis) yang mengajar hadis lembaga
pendidikan, dan seorang pustakawan (Bait Al-Maktub) yang bertanggung jawab terhadap
perpustakaan, mengajar bahasa dan hal-hal yang terkait.
Perguruan tinggi tertua di Baghdad hanya hidup hampir dua abad yang kemudianhancur
akibat penyerbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulaghu Khan tahun 1258 M.
b. Al-Azhar di Kairo Mesir
Panglima besar Juhari Al-Siqili tahun 362 H/972 M membangun Perguruan Tinggi Al-
Azhar dengan kurikulum berdasarkan ajaran sekte Syiah. Pada masa pemerintahan Khalifah
Al-Hakim Biamrillah (966-1020) dibangun perpustakaan terbesar di Al-Qahirah untuk
mendampingi Perguruan Tinggi Al-Azhar yaitu Bait Al-Hikmah (Balai ilmu pengetahuan),
seperti nama perpustakaan terbesar di Baghdad.
Pada tahun 567 H/1171 M Daulat Fathimiyah di tumbangkan oleh Sultan Salahuddin Al-
Ayyubi yang mendirikan Daulat Ayyubiyah (1171-1269 M) dan menyatakan tunduk kembali
kepada Daulat Abbasyiah di Baghdad. Kurikulum pada perguruan tinggi Al-Azhar lantas
mengalami perombakan total, dari aliran Syi’ah kepada aliran Sunni. Ternyata perguruan
tinggi al-Azhar ini mampu hidup terus sampai sekarang, yakni sejak abad ke-10 M sampai
abad ke-20 M dan tampaknya akan tetap selama hidupnya.
Universitas al-Azhar dapat dibedakan menjadi dua periode : pertama, periode sebelum
tahun 1961 dan kedua, periode setelah 1961, dimana fakultas-fakultasnya sama seperti yang
ada di IAIN sekarang, dan periode setelah tahun 1961, dimana fakultas-fakultas dan ilmu-
ilmu yang dikaji telah meliputi seluruh cabang ilmu pengetahuan umum dan agama. Kalau
peride pertama kita sebut periode Qadim (lama), dan kedua sebagai periode Jadid (baru),
maka yang dicontoh IAIN selama ini ialah Al-Azhar periode Qadim.
c. Perguruan Tinggi Cordova
Adapun sejarah singkat Cordova dapat digambarkan demikian, bahwa di tangan Daulat
Ummayah, semenanjung Liberia yang berabad-abad sebelumnya terpandang daerah minus,
berubah bagaikan disulap menjadi daerah yang makmur dan kaya raya akan pembangunan
bendungan-bendungan irigasi di sana sini menuruti contoh lembah Nil dan lembah Ephrate.
Bahkan pada masa berikutnya, Cordova menjadi pusat ilmu dan kebudayaan yang gilang
gemilang sepanjang zaman tengah. The Historians’ History of the World menulis tentang peri
keadaan pada masa pemerintahan Amir Abdurrahman I (756-788 M) itu, sebagai berikut,
demikian tulis buku sejarah terbesar tersebut tentang perikeadaan Andalusia waktu itu, yang
merupakan pusat intelektual di eropa dan dikagumi kemakmurannya. Sejarah mencatat,
sebagai contoh, bahwa Aelhoud dari Bath (Inggris) belajar ke Cordova pada tahun 1120 M,
dan pelajaran yang dituntunnya adalah geometri, algebra (aljabar), matematik. Gerard dari
Cremona belajar di Toledo seperti halnya Aelhoud ke Cordova. Begitu pula tokoh-tokoh
lainnya.
d. Kairawan Nizam al-Muluk di Maroko
Perguruan tinggi Kairwan ini berada di kota Fez (Afrika Barat). Perguruan tinggi ini
bermula dibangun pada tahun 859 M oleh puteri seorang saudagar hartawan di kota Fez, yang
berasal dari Kairawan (Tunisia). Pada tahun 305 H/918 M perguruan tinggi ini diserahkan
kepada pemerintah dan sejak saat itu menjadi perguruan tinggi resmi, yang perluasan dan
perkembangannya berada di bawah pengawasan dan pembiayaan negara.
Seperti halnya perguruan tinggi Al-Azhar, perguruan tinggi Kairawan masih tetap hidup
sampai sekarang. Di antara sekian banyak alumninya adalah pejuang nasionalis muslim
terkenal, diantaranya adalah Allal Al-Fasi, dan Mahdi Ben Barka, yang berhasil mencapai
kemerdekaan Maroko dari penjajahan Perancis sehabis perang Dunia kedua, lalu pejabat PM
Maroko di bawah Sultan Muhammad V. Sedangkan ilmuan termasyhur yang pernah menjadi
maha gurunya antara lain Ibnu Thufail (1106-1185 M) dan Ibnu Rusyd (1126-1198 M), pada
masa Daulat Almuwahhidin dari Eropa, maka nama Avenbacer (Abu bakar Ibnu Thufail) dan
Averroes (Ibnu Rusyd) dan Avempas (Ibnu Bajah) dan Alhazem (Imnu Hazmi) dan lainnya,
amat populer dan harum di Eropa.
Sebagai catatan, perguruan tinggi Al-Azhar (972 M) di Mesir, dan perguruan tinggi
Kairwan (859 M) di Maroko, adalah lebih tua dibandingkan dengan perguruan tinggi Oxford
(1163 M) dan perguruan tinggi Cambridge (1209 M) di Inggris, dan perguruan tinggi
Sorbonne (1253 M) di Perancis, perguruan tinggi Tubingen (1477 M) di Jerman, dan
perguruan tinggi Edinburg (1582 M) di Skotlandia.
Penyebab utama kemunduruan dunia muslim, khususnya di bidang ilmu pengetahuan
adalah terpecahnya kekuatan politik yang digoyang oleh tentara bayaran Turki. Kemudian
dalam kondisi demikian datang musuh dengan membawa bendera perang salib. Akhirnya,
Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan ketika itu dihancurkan Hulaghu Khan tahun 1258
M. Pusat-pusat studi termasuk yang dihancurkan Hulaghu Khan.
Dapat di simpulkan dari berbagai perguruan tinggi yang telah muncul di dunia timur
tersebut itu membuktikan bahwasannya dunia islam pernah menguasai dunia ilmu
pengetahuan khususnya di dunia timur.dan ini juga membuktikan bahwa ajaran agama islam
merupakan ajaran yang sempurna baik dari segi ilmu ketuhanan maupun ilmu yang berkaitan
dengan dunia.