Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bernapas merupakan proses vital bagi makhluk hidup. Seluruh

makhluk hidup bernapas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk

manusia. Manusia bernapas untuk memenuhi kebutuhan kadar oksigen yang

diperlukan oleh tubuhnya. Oksigen tersebut digunakan oleh setiap sel dalam

tubuh manusia untuk melakukan proses metabolisme, sehingga

karbondioksida dan air yang harus dikeluarkan. Pada proses bernapas

berlangsung secara bergantian, pertama manusia menghirup udara untuk

memperoleh oksigen disebut dengan proses inspirasi dan kedua

menghembuskan napas untuk mengeluarkan karbondioksida dan air disebut

dengan proses ekspirasi. Namun jika terjadi gangguan terhadap sistem

pernapasan manuasia yang dapat diakibatkan oleh berbagai faktor, maka

dapat mengakibatkan penyakit pernapasan (Utami, 2017).


Penyakit pernapasan diklasifikasikan berdasarkan etiologi, letak

anatomis, sifat kronik penyakit, dan perubahan struktur serta fungsi.

Penyakit pernapasan akan diklasifikasikan sesuai dengan disfungsi ventilasi

dan akan dibagi dalam dua kategori: penyakit-penyakit yang terutama

menyebabkan gangguan ventilasi obstruktif dan penyakit-penyakit yang

mengakibatkan gangguan ventilasi restriktif. Adapun beberapa contoh

penyakit pada sistem pernapasan tersebut diantaranya yaitu kanker paru,

TBC, dan PPOK (Haq et al., 2010).


1
2

Penyakit paru obstruksi kronik (PPOK) merupakan salah satu

penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan tingginya kejadian PPOK

diantarnya yaitu usia harapan hidup dan semakin tingginya pajanan terhadap

faktor risiko. Adapun faktor risiko tersebut yaitu kebiasaan hidup yang tidak

sehat, polusi udara terutama di Kota besar, industrialisasi, dan kebiasaan

merokok yang diduga berhubungan erat dengan kejadian PPOK

(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2011).


Data Word Health Organization (WHO) memperkirakan, 600 juta

orang menderita PPOK di seluruhdunia dengan 65 juta orang yang

menderita PPOK derajat sedang hingga berat.pada tahun 2020. PPOK

adalah penyebab utama kematian kelima di dunia dan diperkirakan menjadi

penyebab kematian diseluruh dunia 2030. Lebih dari 3 juta orang meninggal

karena PPOK pada tahun 2005, yang setara dengan 5% dari senua kematian

secara global (WHO, 2016). Menurut data penelitian dari Regional COPD

Working Group yang dilakukan di 12 negara di Asia Pasifik rata-rata

prevalensi PPOK sebesar 6,3%, dengan yang terendah 3,5% di Hongkong

dan Singapura, dan tertinggi di Vietnam sebanyak 6,7% (Fauzi, 2018).


Hasil dari Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) di Indonesia prevalensi

diperkirakan terdapat 4,8 juta pasien dengan PPOK dengan prevalensi 5,6%

angka ini bisa meningkat dengan makin banyaknya jumlah perokok.

Mortalitas PPOK lebih tinggi pada laki-laki dan akan meniungkat pada

kelompok umur >45 tahun. Hal ini bisa dihubungkan bahwa penurunan

fungsi pernapasan pada umur 30-40 tahun (Riskesdas, 2013).


3

Berdasarkan data kesehatan Provinsi Jawa Barat jumlah penyakit

obstruksi paru kronik sebesar 2,08% (Dinkes Jabar, 2012). Berdasarkan

catatan medical record RSUD Dr. Slamet Garut angka penyakit PPOK pada

bulan Januari-Desember 2018 adalah 583 kasus atau sebesar 15%.

Kemudian di Ruang Jamrung pasien dengan penyakit PPOK didapatkan

sebanyak 15 kasus atau sebesar 1,18% (Sumber: data medikal record RSUD

Dr Slamet Garut, 2019).


Penyakit paru obstuksi kronis adalah penyakit yang mempunyai

karakteristik keterbatasan jalan napas yang ireversibel atau reversible

parsial. Gangguan yang bersifat progresif akibat pajanan atau gas beracun

yang terjadi dalam waktu lama dengan gejala utama sesak napas batuk dan

produksi sputum. Hal ini didasari dari kapasitas fisik berupa onset,

munculnya sputum sesak napas dan eksaserbasi yang berulang banyak

sekali yang terjadi apabila berkaitan dengan PPOK (Kristinawati &

Supriyadi, 2014).
Klien PPOK dengan masalah bersihan jalan napas memerlukan

perawatan dan penanganan secara khusus untuk segera memulihkan kondisi

tubuhnya, dan mampu memenuhi dan melakukan aktivitas sehari-harinya

sehingga bisa melakukan kegiatan secara mandiri. Ketidakefektifan bersihan

jalan nafas menjadi masalah utama, karena dampak dari pengeluaran dahak

yang tidak lancar dapat menyebabkan penderita mengalami kesulitan

bernafas dan gangguan pertukaran gas didalam paru-paru sehingga

mengakibatkan timbulnya sianosis, kelelahan, apatis serta merasa lemah,


4

dalam tahap selanjutnya akan mengalami penyempitan jalan nafas yang

dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas (Nugroho, 2011).


Perawat profesional mampu memberikan asuhan keperawatan secara

komprehensif meliputi : bio, psiko, sosial, dan spiritual. Peran perawat

secara kuratif yaitu bertujuan untuk memberikan perawatan dan pengobatan

secara farmakologis maupun non farmakologis. Peran perawat sebagai

rehabilitatif yaitu dengan memberikan dukungan kepada keluarga untuk

merawat anggota keluarga dengan baik dan benar, sesuai dengan anjuran

dokter maupun petugas kesehatan lainya (Nursalam, 2009).


Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan asuhan

keperawatan pada klien PPOK melalui penuyusunan karya tulis ilmiah

(KTI) yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK (PPOK) DENGAN

BERSIHAN JALAN NAPAS TIDAK EFEKTIF JAMRUD RSUD DR.

SLAMET GARUT”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam

penelitian ini yaitu “Bagaimakah asuhan keperawatan pada klien Penyakit

Paru Obstruksi Kronik (PPOK) dengan bersihan jalan napas tidak efektif di

Ruang Jamrud RSUD dr. Slamet Garut?’’

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum


5

Melaksanakan asuhan keperawatan pada klien Penyakit Paru

Obstruksi Kronik (PPOK) dengan bersihan jalan napas tidak efektif di

Ruang Jamrud RSUD dr. Slamet.

1.3.2 Tujuan Khusus

.1 Melaksanakan pengkajian keperawatan pada klien Penyakit Paru

Obstruksi Kronik (PPOK) dengan bersihan jalan napas tidak efektif

di ruang Jamrud RSUD Dr. Slamet Garut.

.2 Menetapkan diagnosa keperawatan pada klien Penyakit Paru

Obstruksi Kronik (PPOK) dengan bersihan jalan napas tidak efektif

di ruang Jamrud RSUD Dr. Slamet Garut.

.3 Menyusun rencana tindakan keperawatan pada klien Penyakit Paru

Obstruksi Kronik (PPOK) dengan bersihan jalan napas tidak efektif

di ruang Jamrud RSUD Dr. Slamet Garut.

.4 Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien Penyakit Paru

Obstruksi Kronik (PPOK) dengan bersihan jalan napas tidak efektif

di ruang Jamrud RSUD Dr. Slamet Garut.

.5 Melakukan evaluasi tindakan keperawatan pada klien Penyakit

Paru Obstruksi Kronik (PPOK) dengan bersihan jalan napas tidak

efektif di ruang Jamrud RSUD Dr. Slamet Garut.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Teoritis


6

Meningkatkan pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada

klien Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) dengan masalah

bersihan jalan napas tidak efektif di ruang Jamrud RSUD Dr. Slamet

Garut.

1.4.2 Manfaat Praktis

.1 Bagi Perawat

Manfaat praktis penulisan karya tulis ilmiah ini bagi

perawat yaitu sebagai bahan masukan dan informasi untuk

menambah pengetahuan (kognitif) keterampilan (skill) dan sikap

(attitude) bagi intansi terkait kasusnya didalam meningkatkan

pelayanan perawatan pada klien PPOK.

.2 Bagi Rumah Sakit

Manfaat praktis penulisan karya tulis ilmiah ini bagi rumah

sakit yaitu dapat digunakan sebagai acuan untuk meningkatkan

mutu dan pelayanan bagi pasien khususnya pada klien Penyakit

Paru Obstruksi Kronik (PPOK) dengan bersihan jalan napas tidak

efektif.

.3 Bagi Institusi Pendidikan

Manfaat praktis bagi institusi Pendidikan yaitu dapat

digunakan sebagai referensi bagi institusi pendidikan untuk

mengembangkan ilmu tentang asuhan keperawatan pada klien

Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) dengan bersihan jalan

napas tidak efektif.


7

.4 Bagi Klien

Meningkatkan pengetahuan tentang Penyakit Paru

Obstruksi Kronik (PPOK) yang diderita klien, baik tentang

penanganan pertama saat terjadinya penyakit, penanganan mandiri

ketika berlangsungnya penyakit dan dapat jadi bahan informasi

bagi keluarga dan masyarakat lainya tentang cara penanganan

penyakit yang pernah dialaminya.