Anda di halaman 1dari 29

Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Distress Spiritual

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah


Keperawatan Jiwa 1

Dosen Pengampu : Ns.Duma Lumban Tobing, M. Kep, Sp. Kep. J

Disusun Oleh :
Fenny Andriani 1710711077
Refiana Gunawan 1710711083
Siti Luthfia Awanda 1710711084
Annisa Hilmy Nurarifah 1710711087
Dinda Triananda 1710711089
Sintya Marliani Putri 1710711092
Sherin Alinda Zulfa 1710711095

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2019
A. Konsep Spiritual
1. Definisi Spiritualitas
Kata spiritual berasal dari bahasa Latin yaitu spiritus yang berarti hembusan atau
bernafas, kata ini memberikan makna segala sesuatu yang penting bagi hidup
manusia. Seseorang dikatakan memiliki spirit yang baik jika orang tersebut memiliki
harapan penuh, optimis dan berfikir positif, sebaliknya jika seseorang kehilangan
spiritnya maka orang tersebut akan menunjukkan sikap putus asa, pesimis dan
berfikir negatif (Blais et al, 2002 ; Roper, 2002).
Spiritualitas diartikan sebagai keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha
Kuasa atau Yang Maha Pencipta (Hamid, 2009). Menurut Mickey, et al (1992 dalam
Hamid, 2009) menguraikan bahwa spiritualitas adalah suatu hal yang multidimensi
yaitu dimensi eksistensial dan dimensi agama. Dimensi eksistensial lebih berfokus
pada makna dan tujuan hidup sedangkan dimensi agama berfokus pada hubungan
seseorang dengan Yang Maha Pencipta atau Yang Maha Kuasa.
Selanjutnya, Stoll (1998 dalam Kozier et al, 1995) menjelaskan bahwa spiritualitas
adalah konsep dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan dimensi horizontal. Dimensi
vertikal adalah hubunganya dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dimensi horizontal
adalah hubungannya dengan diri sendiri, orang lain dan juga lingkungan. Sementara
itu menurut Dossey, et al (2000 dalam Young dan Koopsen, 2007) spiritualitas
merupakan hakikat dari siapa dan bagaimana manusia bisa hidup di dunia.
Spiritualitas dapat diartikan seperti nafas yang sangat berarti bagi kehidupan
manusia.
Spiritualitas juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang dipercaya oleh seseorang
dalam hubungannya dengan kekuatan yang lebih tinggi (Tuhan) yang menimbulkan
suatu kebutuhan, serta rasa cinta terhadap adanya Tuhan dan permohonan maaf atas
kesalahan yang pernah diperbuat (Hidayat, 2009).
2. Aspek Spiritualitas
Menurut Burkhardt (1993 dalam Hamid, 2009) spiritualitas terdiri dari berbagai
aspek, yaitu berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian
dalam hidup, menemukan arti dan tujuan hidup, menyadari kemampuan untuk
menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri dan yang terakhir mempunyai
perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan Yang Maha Tinggi.
3. Dimensi Spiritualitas
Stoll (1998 dalam Hamid, 2009) menguraikan bahwa spiritual terdiri dari dua
dimensi yaitu dimensi vertikal dan dimensi horizontal. Dimensi vertikal adalah
hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Tinggi yang menuntun kehidupan manusia
sedangkan dimensi horizontal adalah hubungannya dengan diri sendiri, orang lain
dan lingkungan atau alam.
4. Karakteristik Spiritualitas
Karakteristik spiritual menggambarkan bagaimana keadaan spiritual seseorang.
Terdapat beberapa karakteristik spiritualitas yaitu sebagai berikut (Hamid, 2009).
a. Hubungan dengan Diri Sendiri
Hubungan dengan diri sendiri meliputi tentang pengetahuan diri yaitu siapa
dirinya, apa yang dapat dilakukannya serta mengenai sikap yang menyangkut
percaya pada diri sendiri, percaya pada kehidupan masa depan, ketenangan
pikiran, harmoni atau keselarasan dengan diri sendiri.
b. Hubungan dengan Alam
Hubungan dengan alam harmonis dan selaras yaitu mengetahui tanaman, pohon,
margasatwa, dan iklim serta melindungi alam dan berkomunikasi dengan alam
contohnya bertanam dan berjalan kaki.
c. Hubungan dengan Orang Lain
Hubungan ini dibagi atas harmonis dan tidak harmonisnya hubungan dengan
orang lain. Hubungan yang harmonis meliputi berbagi waktu, pengetahuan, dan
sumber secara timbal balik, mengasuh anak, mengasuh orang tua dan orang sakit,
serta meyakini kehidupan dan kematian contohnya dengan mengunjungi,
melayat, dan lain-lain. Apabila hubungannya tidak harmonis maka akan terjadi
konflik dengan orang lain dan resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan
dan friksi.
d. Hubungan dengan Ketuhanan
Hubungan dengan ketuhanan dapat dilihat pada orang-orang agamis atapun tidak
agamis. Dalam hal ini meliputi tindakan individu dalam praktik ibadahnya seperti
sembayang, berdoa, meditasi.
5. Fungsi Spiritualitas
Spiritualitas menjadi sumber dukungan, pada saat individu mengalami stress maka
individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya.
Dukungan ini sangat diperlukan untuk dapat menerima sakit yang dialami, khususnya
jika penyakit tersebut memerlukan proses penyembuhan yang lama dengan hasil
yang belum pasti. Sembahyang atau berdoa, membaca kitab suci dan praktik
keagamaan lainnya sering membantu memenuhi kebutuhan spiritual yang juga
merupakan suatu perlindungan terhadap tubuh (Hamid, 2009).
Spiritualitas juga menjadi sumber kekuatan dan penyembuhan. Miller (1995 dalam
Young dan Koopsen, 2007) mengatakan bahwa spiritualitas merupakan daya
semangat, prinsip hidup atau hakikat eksistensi manusia.
Menurut Burkhardt dan Nagai-Jacobson (2002 dalam Young, 2007) spiritualitas dan
penyembuhan berkaitan sangat erat kaitannya. Penyembuhan merupakan proses
spiritual yang bertujuan agar seseorang sehat. Penyembuhan terjadi sepanjang waktu,
berlanjut sepanjang perjalanan hidup manusia dan menjadi cara hidup yang mengalir
dari mencerminkan dan memelihara jiwa. Penyembuhan bersifat spiritual, tak tampak
dan eksperiensial (dialami), yang mengintegrasikan tubuh, jiwa dan spirit.
6. Faktor yang Mempengaruhi Spiritualitas
Menurut Taylor (1997) dan Craven & Himle (1996) dalam Hamid (2009) faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi spiritualitas seseorang adalah sebagai berikut:
a. Tahap perkembangan, berdasarkan hasil penelitian terhadap anakanak dengan
empat agama yang berbeda, ditemukan bahwa mereka mempunyai persepsi
tentang Tuhan dan bentuk sembahyang yang berbeda menurut usia, seks, agama
dan kepribadian anak. Mereka mempersepsikan Tuhan dalam bentuk atau hal
yang berbeda-beda, contohnya gambaran tentang Tuhan yang bekerja melalui
kedekatan dengan manusia dan saling keterikatan dengan kehidupan. Ada yang
mempercayai bahwa Tuhan mempunyai kekuatan dan selanjutnya merasa takut
menghadapi kekuasaan Tuhan, dan ada juga anak-anak yang menggambarkan
Tuhan itu adalah gambaran cahaya atau sinar.
b. Keluarga, peran orang tua sangat berpengaruh dalam menentukan perkembangan
spiritualitas anak. Perlu diperhatikan, hal yang penting itu adalah bukan apa yang
diajarkan oleh orang tua terhadap anaknya mengenai Tuhan, tetapi apa yang anak
peajari mengenai Tuhan, kehidupan dan diri sendiri dari perilaku orang tua
mereka. Keluarga dan orang tua adalah lingkungan terdekat dan pengalaman
pertama bagi anak untuk mempersepsikan kehidupan di dunia.
c. Latar belakang etnik dan budaya, sikap, keyakinan, dan nilai yang dimiliki
seseorang dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan budaya. Pada umumnya,
seseorang akan mengikuti tradisi agama dan spiritual keluarga. Anak belajar
pentingnya menjalankan kegiatan agama termasuk nilai moral dari hubungan
keluarga dan peran serta dalam berbagai bentuk kegiatan keagamaan.
d. Pengalaman hidup sebelumnya, pengalaman hidup yang baik dan buruk dapat
mempengaruhi spiritualitas seseorang. Sebaliknya juga dapat dipengaruhi oleh
bagaimana seseorang mengartikan secara spiritual kejadian atau pengalaman
tersebut. Sebagai contoh, dua orang ibu yang percaya dengan adanya Tuhan dan
percaya bahwa Tuhan mencintai umatnya kehilangan anak yang mereka cintai
karena kecelakaan. Salah satu dari mereka bereaksi dengan mempertanyakan
keberadaan Tuhan dan tidak mau sembahyang lagi. Sebaliknya ibu yang satunya
lagi akan terus berdoa dan meminta Tuhan membantunya untuk bisa menerima
kehilangan anaknya.
e. Krisis dan perubahan, krisis dan perubahan dapat menguatkan kedalaman
spiritual seseorang. Krisis sering dialami ketika seseorang menghadapi penyakit,
penderitaan, proses penuaan, kehilangan, bahkan kematian khususnya pada
pasien dengan penyakit terminal. Perubahan dalam kehidupan dan krisis yang
dihadapi tersebut merupakan pengalaman spiritual selain juga pengalaman yang
bersifat fisik dan emosional. Krisis dapat berhubungan dengan perubahan
patofisiologi, terapi atau pengobatan dan situasi yang mempengaruhi seseorang.
Diagnosis penyakit pada umumnya akan menimbulakan pertanyaan tentang
sistem kepercayaan seseorang.
f. Terpisah dari ikatan spiritual, menderita sakit terutama yang bersifat akut,
seringkali membuat individu merasa terisolasi dan kehilangan sistem dukungan
sosial. Individu yang dirawat merasa terisolasi dalam ruangan yang asing baginya
dan merasa tidak nyaman. Dengan dirawatnya individu maka akan terjadi
perubahan pada kebiasaan hidup sehari-hari contohnya tidak dapat menghadiri
suatu acara, tidak dapat mengikuti kegiatan keagamaan, ataupun tidak dapat
berkumpul dengan keluarga atau teman dekat yang biasa memberi dukungan
setiap saat diinginkan. Terpisahnya klien dari kegiatan spiritual dan orang-orang
di sekitarnya dapat beresiko terjadinya perubahan spiritual pada klien.
g. Isu moral terkait dengan terapi, pada sebagian agama, proses penyembuhan
dianggap sebagai cara Tuhan menunjukkan kebesarannya walaupun ada juga
sebagian yang menolak proses pengobatan. Prosedur medik sering kali dapat
dipengaruhi oleh pengajaran agama misalnya transplantasi organ, pencegahan
kehamilan.
h. Asuhan keperawatan yang kurang sesuai, ketika memberikan asuhan
keperawatan kepada klien, perawat diharapkan peka terhadap kebutuhan spiritual
klien dan mampu memberikan asuhan spiritual kepada klien. Tetapi ada berbagai
alasan yang membuat perawat tidak mampu dan menghindar dalam memberikan
asuhan spiritual kepada klien. Alasan tersebut antara lain perawat kurang nyaman
dengan kehidupan spiritualnya, menganggap kurang pentingnya kebutuhan
spiritual, merasa pemenuhan spiritual hanya diberikan oleh pemuka agama atau
mungkin belum mendapatkan pendidikan tentang aspek spiritual dalam
keperawatan.
7. Kebutuhan Spiritualitas
Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahanakan atau mengembalikan
keyakinan dan memenuhi kewajiban agama, serta kebutuhan untuk mendapatkan maaf
atau pengampunan, mencintai dan menjalin hubungan penuh rasa percaya dengan
Tuhan. Kebutuhan juga dapat diartikan sebagai kebutuhan mencari arti dan tujuan
hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, serta kebutuhan untuk memberikan
maaf dan mendapat maaf (Carson, 1989 dalam Hamid, 2009).
Masalah yang sering terjadi pada pemenuhan kebutuhan spiritual adalah distress
spiritual, yang merupakan suatu keadaan ketika individu atau kelompok mengalami
atau beresiko mengalami gangguan dalam kepercayaan atau sistem nilai yang
memberikannya kekuatan, harapan dan arti kehidupan (Hidayat, 2009).

B. Distres Spiritual
1. Definisi Distress Spiritual
Menurut Bergren-Thomas dan Griggs (1995 dalam Young & Koopsen, 2007)
menjelaskan bahwa distress spiritual adalah suatu keadaan dimana seseorang
mengalami gangguan atau kekacauan nilai dan keyakinan yang biasanya memberikan
kekuatan, harapan dan makna hidup.
Menurut Herdman & Kamitsuru (2014) dijelaskan bahwa distress spiritual
merupakan suatu keadaan penderitaan yang terkait dengan gangguan kemampuan
untuk mengalami makna dalam hidup melalui hubungan dengan diri sendiri, orang
lain, dunia atau alam dan kekuatan yang lebih besar dari diri sendiri.
Distres spiritual adalah suatu keadaan menderita yang berhubungan dengan gangguan
kemampuan untuk mengalami makna hidup melalui hubungan dengan diri sendiri,
dunia atau kekuatan tertinggi (Nanda, 2015).
Distress spiritual atau krisis spiritual terjadi ketika seseorang tidak dapat menemukan
makna dan tujuan hidup, harapan, cinta, kedamaian atau kekeuatan dalam hidup
mereka. Krisis ini bisa terjadi saat seseorang mengalami ketiadaan hubungan dengan
hidup, sesama, alam dan ketika situasi hidup bertentangan dengan keyakinan yang
dimilikinya (Anandarajah dan Hight, 2001 dalam Young dan Koopsen, 2007).
Distress spiritual mengacu pada tantangan dari kesejahteraan spiritual atau sistem
kepercayaan yang memberikan kekuatan, harapan dan arti hidup (Carpenito 2002
dalam Kozier et al, 2004). Pendapat lain menjelaskan bahwa distress spiritual
merupakan masalah yang sering terjadi pada pemenuhan kebutuhan spiritual
(Hidayat, 2009). Kebutuhan spiritual yang dimaksud yaitu kebutuhan untuk mencari
makna dan tujuan hidup, kebutuhan mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk
memberi maaf dan dimaafkan (Hamid, 2009).
2. Ciri-ciri Khusus Distress Spiritual
Menurut Benedict dan Taylor (2002, dalam Young dan Koopsen, 2007) ciri-ciri
khusus dari distress spiritual meliputi hal berikut: pertanyaan tentang implikasi
moral/etis dari aturan terapeutik, perasaan tidak bernilai, kepahitan, penolakan, rasa
salah dan rasa takut, mimpi buruk, gangguan tidur, anorexia, keluhan somatis,
pengungkapan konflik dalam batin atas kepercayaan yang dihayati, ketidakmampuan
dalam berpartisipasi dalam praktik keagamaan yang biasa diikuti, mencari bantuan
spiritual, mempertanyakan makna penderitaan, mempertanyakan makna
keberadaan/eksistensi manusia, amarah pada Tuhan, kekacauan dalam perasaan atau
perilaku (marah, menangis, menarik diri, cemas, apatis dan sebagainya), dan untuk
yang terakhir menghindari humor.
3. Batasan Karakteristik Distress Spiritual
Batasan karakteristik menurut Nanda (2015) dari distress spiritual yaitu sebagai
berikut :
a. Hubungan dengan Diri Sendiri
Yang berhubungan dengan diri sendiri meliputi : kurang diterima, kurang
dorongan, kurang pasrah, marah, merasa hidup kurang bermakna, rasa bersalah,
strategi koping tidak efektif.
b. Hubungan dengan Orang Lain
Berhubungan dengan orang lain meliputi : menolak interaksi dengan orang
terdekat, menolak interaksi dengan pemimpin spiritual, merasa asing, perpisahan
dengan sistem pendukung.
c. Hubungan dengan Seni, Musik, Literatur, Alam
Berhubungan dengan seni, musik, literatur, alam meliputi : penurunan ekspresi
tentang pola kreativitas sebelumnya, tidak berminat membaca literatur spiritual,
tidak berminat pada alam,
d. Hubungan dengan Kekuatan yang Lebih Besar
Berhubungan dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya meliputi :
ketidakmampuan berdoa, ketidakmampuan berintrospeksi, ketidakmampuan
berpartisipasi dalam aktivitas keagamaan, ketidakmampuan mengalami
pengalaman religius,marah terhadap kekuatan yang lebih besar dari dirinya,
meminta menemui pemimpin keagamaan, mengungkapkan penderitaan, perasaan
diabaikan, perubahan yang tiba-tiba dalam praktek spiritual, tidak berdaya.
Menurut Carpenito (2013) batasan karakteristik distress spiritual dibagi berdasarkan
mayor dan minor. Karakteristik mayor adalah karakteristik yang harus ada pada
distress spiritual yaitu klien mengalami suatu gangguan dalam sistem keyakinan.
Batasan karakteristik minor yaitu karakteristik yang mungkin ada pada klien dengan
distress yaitu (Carpenito, 2013) meliputi:
a. Mempertanyakan makna kehidupan, kematian, dan penderitaan
b. Mempertanyakan kredibilitas terhadap sistem keyakinan
c. Mendemonstrasikan keputusan atau kekecewaan
d. Memilih untuk tidak melakukan ritual keagamaan yang biasa dilakukan
e. Mempunyai perasaan ambivalen (ragu) mengenai keyakinan
f. Mengungkapkan bahwa ia tidak mempunyai alasan untuk hidup
g. Merasakan perasaan kekosongan spiritual
h. Menunjukkan keterpisahan emosional dari diri sendiri dan orang lain
i. Menunjukkan kekhawatiran-marah, dendam, ketakutanmengenai arti kehidupan,
penderitaan, kematian
j. Meminta bantuan spiritual terhadap suatu gangguan dalam sistem keyakinan.
4. Faktor yang Berhubungan Distress Spiritual
Dalam NANDA (2015) faktor yang berhubungan dengan distress spiritual adalah
ancaman kematian, asing tentang diri sendiri, asing tentang sosial, gangguan
sosiokultural, kehilangan bagian tubuh, kehilangan fungsi bagian tubuh, kejadian
hidup tidak terduga, kelahiran bayi, kematian orang terdekat, kesepian, menerima
kabar buruk, mengalami kejadian kematian, menjelang ajal, nyeri, peningkatan
ketergantungan pada orang lain, persepsi tentang tugas yang tidak selesai, program
pengobatan, penuaan, sakit, dan transisi hidup.
Menurut Anandarajah dan Hight (2001, dalam Young dan Koopsen, 2007) distress
atau krisis spiritual dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental dan sering
diperburuk oleh penyakit medis atau takut mati. Faktor tambahan lain yang
berhubungan dengan distress spiritual meliputi (Taylor, 2002 dalam Young dan
Koopsen 2007) : kehilangan orang yang dicintai, rendahnya harga diri, penyakit
mental, penyakit alamiah, penyakit fisik, perasaan kehilangan sesaat, penyalahgunaan
benda terlarang, reaksi yang buruk dengan sesama, tekanan fisik atau psikologis,
ketidakmampuan untuk mengampuni, kekurangan mencintai diri sendiri dan yg
terakhir kecemasan ekstrem.
Menurut Herdman (2012) faktor yang berhubungan dengan distress spiritual yaitu
sebagai berikut: menjelang ajal, ansietas, sakit kronis, kematian, perubahan hidup,
kesepian, nyeri, keterasingan diri maupun sosial dan gangguan sosiokultural.
5. Etiologi
Kozier (2004) juga mengidentifikasi beberapa faktor yang berhubungan dengan
distres spiritual seseorang meliputi :
a. Masalah-masalah fisiologis antara lain diagnosis penyakit terminal, penyakit yang
menimbulkan kecacatan atau kelemahan, nyeri, kehilangan organ atau fungsi
tubuh atau kematian bayi saat lahir,
b. Masalah terapi atau pengobatan antara lain anjuran untuk transfusi darah, aborsi,
tindakan pembedahan, amputasi bagian tubuh dan isolasi,
c. Masalah situasional antara lain kematian atau penyakit pada orang-orang yang
dicintai, ketidakmampuan untuk melakukan praktek spiritual (Carpenitto, 2002
dalam Kozier et al, 2004).
Karakteristik pasien yang mengalami distres spiritual menurut Dover (2001) antara
lain:
a. Pasien putus asa
b. Tidak memiliki tujuan dalam hidupnya
c. Menganggap dirinya dijauhi Tuhan
d. Tidak melakukan kegiatan ibadah.
6. Rentang Respon
Menurut Nursalam respon spiritual yang ada pada manusia dapat dibagi menjadi dua,
yaitu respon spiritual adaptif, akan menunjukkan sikap yang positif terhadap diri
sendiri dan Tuhan dalam berbagai kondisi meskipun menderita dan sedih sekalipun.
a. Respon spiritual adaptif meliputi :
 Ketabahan Hati
 Pandai mengambil hikmah.
 Harapan yang realistis
b. Respon Spiritual maladaptif adalah seperti distress spiritual
Distress spiritual adalah kerusakan kemampuan dalam mengalami dan
mengintegrasikan arti dan tujuan hidup seseorang dengan diri, orang lain, seni,
musik, literature, alam dan kekuatan yang lebih besar dari dirinya

Respon adaptif Respon Maladaptif

Ketabahan hati Pandai mengambil hikmah Harapan yang realistis Distres Spiritual

C. Pengkajian Distres Spiritual


1. Pengkajian Model Stuart dan Sudeen
a. Faktor Predisposisi :
Menurut Stuart dan Sudeen (2005) faktor predisposisi adalah faktor resiko yang
dipengaruhi oleh jenis dan jumlah sumber resiko yang dapat menyebabkan
individu mengalami stres. Faktor ini meliputi biologis, psikologis dan sosial
budaya :
1) Gangguan pada dimensi biologis(genetic,status nutrisi, kepekaan biologis,
kesehatan secra umum, dan keterpaparan pada racun) akan mempengaruhi
fungsi kognitif seseorang sehingga akan mengganggu proses interaksi,
dimana dalam proses interaksi ini akan terjadi transfer pengalaman yang
penting bagi perkembangan spiritual seseorang.
2) Faktor frediposisi sosiokultural meliputi usia, gender, pendidikan,
pendapatan, okupasi, posisi sosial, latar belakang budaya, keyakinan, politik,
pengalaman sosial, tingkatan sosial.
3) Faktor Psikologis ; Status mental, mungkin adanya depresi, marah,
kecemasan,ketakutan, makna nyeri, kehilangan kontrol, harga diri rendah,
dan pemikiran yang bertentangan (Otis-Green, 2002).
4) Pengkajian Sosial Budaya ; meliputi usia, gender, pendidikan, pekerjaan,
keyakina religi , dukungan sosial dalam memahami keyakinan klien(Spencer,
1998)
b. Faktor Presipitasi :
1) Kejadian Stresful
Mempengaruhi perkembangan spiritual seseorang, dapat terjadi karena
perbedaan tujuan hidup, kehilangan hubungan dengan orang yang terdekat
karena kematian, kegagalan dalam menjalin hubungan baik dengan diri
sendiri, orang lain, lingkungan dan zat yang maha tinggi.
2) Ketegangan Hidup
Beberapa ketegangan hidup yang berkonstribusi terhadap terjadinya distres
spiritual adalah ketegangan dalam menjalankan ritual keagamaan, perbedaan
keyakinan dan ketidakmampuan menjalankan peran spiritual baik dalam
keluarga, kelompok maupun komunitas.
c. Penilaian Terhadap Stressor :
Penilaian terhadap stresor melibatkan penetapan makna dan pemahaman tentang
dampak dari situasi yang menimbulkan stres pada individu.
1) Respon Kognitif
Respon kognitif merupakan bagian penting dari model ini. Penilaian kognitif
meediasi secara fisiolgis antara manusia dan lingkungan tiap menghadapi
suatu stressor. Kondisi ini berarti bahwa kerusakan atau potensi kerusakan dari
situasi ditentukan berdasarkan pemahaman seseorang tentang situasi tersebut
serta ketersediaan sumber yang dimiliki seseorang untuk mentoleransi bahaya.
Contoh : Bicara lambat , Gangguan perhatian.
Sulit mengambil keputusan, tidak mempercayai keyakinannya.
2) Respon Afektif
Respon afektif adalah suatu perasaan yang muncul. Pada penilaian stressor ,
respon afektif yang utama adalah rasa gembira, senang, takut, marah,
menerima, tidak percaya , antisipasi, takjub, merasa tidak berdaya,
mengungkapkan pengasingan diri.
Yang bisa dikaji pada respon ini yaitu : Apakah klien menyebut Tuhan,
doa,dan rumah ibadah atau topic keagamaan lainnya (walaupun hanya
sepintas), Apakah klien mengekspresikan rasa ketakutannya terhadap
kematian, kepedulian dalam ari kehidupan, konfilik batin tentang keyakinan,
keperdulian tentang hubungan dengan Maha Penguasa, pertanyaan tetang arti
keberadaanya di dunia, arti penderitaan.
3) Respon Fisiologis
Respon fisiologis merefleksikan interaks dari beberapa akses neuroendokrin
yang melibatkan hormone-hormon dalam tubuh, seperti epineprin, serotonin
dll. Contoh : Wajah murung dan muka berkerut, Gangguan pola tidur (tidur
berlebihan), Nafsu makan menurun/ hilang sama sekali, hormon serotonin
meningkat dan epineprin menurun.
4) Respon Perilaku
Respon perilaku sebagai hasil dari respon fisiologis dan emosional, begitu juga
analisis kognitif dari situasi yang menimbulkan stress.contoh dari respon
perilaku : tidak tertarik dengan bacaan keagamaan, tiba-tiba berubah praktik
agama,ketidakmampuan untuk berdoa dll.
Yang bisa dikaji pada respon ini yaitu : Apakah klien tampak berdoa sebelum
makan, membaca kita suci atau buku keagamaan, Apakah klien pernah
meminta dikunjungi oleh pemuka agama.
5) Respon social
Respon sosial yang mungkin ditampilkan terhadap stress dan penyakit
 Mencari makna
 Individu mencari informasi tentang masalah mereka. Hal ini diperlukan
utuk menyiapkan strategi koping
 Atribusi social
 Dimana sesorang mencoba untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang
berkotribusi pada situasi.
 Perbandingan social, dimana orang membandingkan keterampilan dan
kapasitas denga orang lain yang mempunyai masalah yang sama.
Contoh : menolak berhubungan dengan tokoh agama, menolak interaksi
dengan orang terdekat (keluarga), strategi koping yang buruk.
Yang bisa dikaji pada respon ini yaitu : Siapa pengunjung klien , bagaimana
klien berespons terhadap pengunjung, apakah pemuka agama ada yang
mengunjung klien, Bagaimana klien berhubungan dengan klien yang lain dan
dengan tenaga keperawatan,
d. Sumber Koping :
Merupakan pilihan – pilihan atau strategi yang membantu menentukan apa yang
dapat dilakukan dan apa yang beresiko. Sumber koping adalah faktor pelindung.
Menurut Safarino (2002) terdapat lima tipe dasar dukungan sosial bagi distres
spiritual :
1) Dukungan emosi yang terdiri atas rasa empati, caring, memfokuskan pada
kepentingan orang lain.
2) Tipe yang kedua adalah dukungan esteem yang terdiri atas ekspresi positif
thingking, mendorong atau setuju dengan pendapat orang lain.
3) Dukungan yang ketiga adalah dukungan instrumental yaitu menyediakan
pelayanan langsung yang berkaitan dengan dimensi spiritual(contoh seperti
berdoa, sembahyang)
4) Tipe keempat adalah dukungan informasi yaitu memberikan nasehat,
petunjuk dan umpan balik bagaimana seseorang harus berperilaku
berdasarkan keyakinan spiritualnya.
5) Tipe terakhir atau kelima adalah dukungan network menyediakan dukungan
kelompok untuk berbagai tentang aktifitas spiritual. Taylor, dkk (2003)
menambahkan dukungan apprasial yang membantu seseorang untuk
meningkatkan pemahaman terhadap stresor spiritual dalam mencapai
keterampilan koping yang efektif.
e. Mekanisme koping
Mekanisme koping adalah semua upaya yang diarahkan untuk menglola suatu
masalah. Tiga jenis utama mekanisme koping adalah
1) Mekanisme koping berfokus pada masalah, yang melibatkan tugas dan upaya
langsug mengatasi ancaman. Contoh negosiasi, konfrontasi, dan mencari
saran
2) Mekanisme koping berfokus secara kognitif, dimana seseorang mencoba
untuk mengendalikan makna dari suatu masalah lalu menetralisirnya.
Contoh : perbandingan positif, ketidaktahuan selektif
3) Mekanisme koping berfokus pada emosi,dimana klien diorientasi untuk
mengurangi distress emosionalnya, contoh penggunaan mekanisme
pertahanan ego, seperti denial, supresi atau proyeksi.
Contoh mekanisme koping spiritual yaitu , nilai dari keyakinan agama yang
dimiliki oleh klien. Pengaruh keyakinan yang kuat dapat menahan distress fisik
maupun psikologis yang dialami oleh klien. Keluarga klien akan mengikuti
semua proses penyembuhan yang memerlukan keyakinan bahwa semua upaya
yang dilakukan akan berhasil.
2. Pengkajian Menurut Craven & Hirnle
Pengkajian dapat dilakukan untuk mendapat data subjekyif dan data objektif. Dalam
buku ajar keperawatan menurut Craven &Hirnle (1996).
Pada dasarnya informasi awal yang perlu digali secara umum sebagai berikut :
a. Afiliasi agama
1) Partisipasi klien dalam kegiatan agama
2) Jenis partisipasi dalam kegiatan agama
b. Keyakinan agama atau spiritual memengaruhi
1) Praktik kesehatan : diet, mencari dan menerima terapi
2) Persepsi penyakit hukuman,cobaan terhadap penyakit
3) Strategi koping
c. Nilai agama atau spiritual, memengaruhi :
1) Tujuan dan arti hidup
2) Tujuan dan arti kematian
3) Kesehatan atau pemeliharaannya
Pengkajian secara subjektif
Pedoman pengkajian spiritual yang disusun oleh Stoll dalam Craven &Himle (1996)
mencakup 4 area yaitu :
a. Konsep tentang Tuhan atau ketuhanan
b. Sumber harapan dan kekuatan
c. Praktik agama dan ritual
d. Hubungan antara keyakinan spiritual dan kondisi kesehatan. Peranyaan yang
dapat diajukan perawat unuk memperoleh informasi tentang pola fungsi spiritual
klien antara lain ,sebagai berikut :
 Apakah agama atau Tuhan merupakan hal penting dalam kehidupan anda?
 Kepada siapa anda biasanya meminta bantuan ?
 Apakah anda merasa kepercayaan(agama) membantu anda ? jika ya, jelaskan
bagaimana dapat membantu anda ?
 Apakah sakit (atau kejadian penting lainnya yang pernah anda alami)telah
mengubah perasaan anda terhadap tuhan atau praktik kepercayaan yang anda
anut ?
Pengkajian data objektif
Pengkajian data objektif dilakukan melalui pengkajian klinis, meliputi pengkajian
afekdan sikap,perilaku, verbalisasi, hubungan interpersonal dan lingkungan.
Pengkajian data objektif ini dilakukan melalui observasi.
a. Afek dan sikap
 Apakah klien tampak kesepian, depresi,marah,cemas, agitasi , apatis atau
preokupasi ?
b. Perilaku
 Apakah klien tampak berdoa sebelum makan, membaca kita suci atau buku
keagamaan ?
 Apakah kiln sering kali mengeluh tidak dapat tidur, bermimpi buruk dan
berbagai bentuk gangguan tidur lainnya, serta bercanda yang tidak sesuai
atau mengekspresikan kemarahannya terhadap agama ?
c. Verbalisasi
 Apakah klien menyebut Tuhan, doa,dan rumah ibadah atau topic keagamaan
lainnya (walaupun hanya sepintas)
 Apakah klien pernah meminta dikunjungi oleh pemuka agama ?
 Apakah klien mengekspresikan rasa ketakutannya terhadap kematian,
kepedulian dalam ari kehidupan, konfilik batin tentang keyakinan,
keperdulian tentag hubungan dengn Maha Penguasa, pertanyaan tetang arti
keberadaanya di dunia, arti penderitaan ?
d. Hubungan interpersonal
 Siapa pengunjung klien ?
 Bagaimana klien berespons terhadap pengunjung ?
 Apakah pemuka agama datang mengunjungi klien ?
 Bagaimana klien berhubungan dengan klien yang lain dan dengan tenaga
keperawatan ?
e. Lingkungan
 Apakah klien membawa kitab suci atau perlengkapan sembahyang lainnya ?
 Apakah klien menerima kiriman tanda simpati dari unsur keagamaan ?
3. Instrument Pengkajian Spiritual Yang Dapat Digunakan Adalah Puchalski’s FICA
Spritiual History Tool (Pulschalski, 1999) :
a. F : Faith atau keyakinan (apa keyakinan saudara?)
Apakah saudara memikirkan diri saudara menjadi sesorang yang spritual ata
religius? Apa yang saudara pikirkan tentang keyakinan saudara dalam pemberian
makna hidup?
b. I : Impotance dan influence. (apakah hal ini penting dalam kehidupan saudara).
Apa pengaruhnya terhadap bagaimana saudara melakukan perawatan terhadap
diri sendiri? Dapatkah keyakinan saudara mempengaruhi perilaku selama sakit)
c. C : Community (Apakah saudara bagian dari sebuah komunitas spiritual atau
religius?)
Apakah komunitas tersebut mendukung saudara dan bagaimana? Apakah ada
seseorang didalam kelompok tersebut yang benar-benar saudara cintai atua begini
penting bagi saudara?
d. A : Address
Bagaimana saudara ingin saya mengatasi masalah ini dalam perawatan kesehatan
saudara / untuk membantu dalam asuhan keperawatan saudara?
e. Pengkajian aktifitas sehari-hari pasian yang mengkarakteristikan distres spiritual,
mendengarkan berbagai pernyataan penting seperti :
 Perasaan ketika seseorang gagal
 Perasaan tidak stabil
 Perasaan ketidakmmapuan mengontrol diri
 Pertanyaan tentang makna hidup dan hal-hal penting dalam kehidupan
 Perasaan hampa

D. Diagnosis Keperawatan Distress Spiritual


Apabila dari hasil pengkajian data ternyata terdapat masalah spiritual yang dapat diatasi
dengan intervensi keperawatan secara mandiri, istilah yang biasa digunakan adalah
distres spiritual. Istilah ini selanjutnya dijabarkan dengan lebih spesifik, yaitu kepedihan
spiritual (spiritual pain), pengasingan diri (alienation), ansietas, rasa bersalah, marah,
kehilangan, atau putus asa.
Distres spiritual mungkin memengaruhi fungsi manusia lainnya. Berikut ini adalah
diagnosis keperawatan distres spiritual sebagai etiologi atau penyebab masalah lain.
1. Gangguan penyesuaian terhadap penyakit yang berhubungan dengan
ketidakmampuan untuk merekonsiliasi penyakit dengan keyakinan spiritual.
2. Ketidakefektifan koping individual yang berhubungan dengan kehilangan agama
sebagai dukungan utama (merasa ditinggalkan oleh Tuhan)
3. Takut yang berhubungan dengan belum siap menghadapi kematian dan pengalaman
kehidupan setelah kematian.
4. Berduka yang disfungsional: Keputusasaan yang berhubungan dengan keyakinan
bahwa agama tidak mempunyai arti.
5. Keputusasaan yang berhubungan dengan keyakinan bahwa tidak ada yang peduli,
termasuk Tuhan.
6. Ketidakberdayaan yang berhubungan dengan perasaan menjadi korban.
7. Gangguan harga diri yang berhubungan dengan kegagalan untuk hidup sesuai
dengan ajaran agama.
8. Disfungsi seksual yang berhubungan dengan konflik nilai.
9. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan distres spiritual.
10. Risiko perilaku kekerasan terhadao diri sendiri yang berhubungan dengan perasaan
bahwa hidup ini tidak berarti.

E. Perencanaan Distress Spiritual


Setelah diagnosis keperawatan dan faktor yang berhubungan teridentifikasi, selanjutnya
perawat dank lien menyusun kriteria hasil dan rencana intervensi. Tujuan asuhan
keperawatan pada klien yang mengalami distres spiritual harus difokuskan pada
menciptakan lingkungan praktik keagamaan dan keyakinan yang biasanya dilakukan.
Tujuan ditetapkan secara individual dengan dipertimbangkan riwayat klien, area berisiko,
dan tanda-tanda disfungsi, serta data objektif yang relevan.
Contoh tujuan untuk klien distres spiritual meliputi, klien akan:
1. Mengidentifikasi keyakinan spiritual yang memenuhi kebutuhan untuk memperoleh
arti dan tujuan, mencintai, keterikatan, dan pengampunan;
2. Menggunakan kekuatan keyakinan, harapan, dan rasa nyaman ketika menghadapi
tantangan berupa penyakit cedera, atau kerisis kehidupan lain;
3. Mengembangkan praktik spiritual yang memupuk komunikasi dengan diri sendiri,
dengan Tuhan, dan dengan dunia luar;
4. Mengekspresikan kepuasan dengan keharmonisan antara keyakinan spiritual dengan
kehidupan sehari-hari.
Hasil yang diperkirakan pada klien dengan distres spiritual harus bersifat individual dan
meliputi kriteria, klien akan:
1. Menggali akar keyakinan dan praktik spiritual;
2. Mengidentifikasi faktor dalam kehidupan yang menantang keyakinan spiritual;
3. Menggali alternatif: mengingkari, memodifikasi, atau menguatkan keyakinan
(mengembangkan keyakinan yang baru);
4. Mengidentifikasi dukungan spiritual (membaca kitab suci, kelompok pengajian,
dsb.);
5. Melaporkan atau mendemonstrasikan berkurangnya distres spiritual setelah
keberhasilan intervensi.
Pada dasarnya, perencanaan pada klien dengan distres spiritual dirancang untuk
memenuhi kebutuhan spiritual klien dengan:
1. Membantu klien memenuhi kewajiban agamanya;
2. Membantu klien menggunakan sumber dari dalam dirinya dengan cara lebih efektif
untuk mengatasi situasi yang sedang dialaminya:
3. Membantu klien mempertahankan atau membina hubungan personal yang dinamik
dengan Maha Pencipta ketika sedang menghadapi peristiwa yang kurang
menyenangkan;
4. Membantu klien mencari arti keberadaan dan situasi yang sedang dihadapinya;
5. Meningkatkan perasaan penuh harapan;
6. Memberi sumber spiritual atau cara yang relavan
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Distress Spiritual

Seorang laki-laki usia 31 tahun tengah dirawat di RS umum karena menderita HIV AIDS.
Perawat melakukan pengkajian, ditemukan data bahwa klien tampak murung dan
menunjukkan perilaku banyak diam, menolak melakukan aktivitas ibadah yang diadakan di
RS. Klien mengatakan bahwa penyakit yang ia derita karena Tuhan marah dan mengutuknya
akibat perilaku menyimpang yang ia lakukan selama ini. Klien merasa tidak ada yang
memahami dirinya saat ini bahkan keluarga tidak mau memaafkan klien, tidak pernah
membesuk dan merasa diasingkan. Klien marah pada diri sendiri mengapa ia melakukan
kesalahan besar. Klien merasa hidup sudah tidak lagi bermakna. Kepada perawat klien
mengaku kalau ia tidak mampu berdo’a dan bermaksud mempelajari agama lain yang bisa
memaafkan dosa-dosanya. Perawat menyusun intervensi keperawatan, salah satunya adalah
mengikutsertakan tokoh agama, namun klien menolak dan mengatakan tidak tertarik dengan
kegiatan keagamaan yang ia anut.

A. Pengkajian
1. Identitas klien
Nama : Tn. S
No. rekam medic : 27.11.92
Usia : 31 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Status marital : Belum menikah
Pekerjaan : Tidak bekerja
Suku : Sunda
Alamat : Jl. Mutiara RT.01/12 Beji, Depok
Tanggal masuk RS : 27 April 2019
Tanggal pengkajian : 1 Mei 2019
Diagnosa Medis : HIV/AIDS
2. Alasan masuk RS
Pasien masuk rumah sakit pada tanggal 27 April dengan diagnosa medis HIV/AIDS.
3. Faktor Predisposisi
a. Faktor Biologis
 Riwayat penyakit fisik : Pasien menderita Penyakit HIV/AIDS
 Riwayat penyakit keturunan di keluarga : tidak ada
 Terpapar zat kimia/radiasi : tidak ada
 Riwayat merokok : tidak ada
b. Faktor Psikologis
 Faktor yang mempengaruhi harga diri : klien marah pada diri sendiri
mengapa ia melakukan kesalahan besar. Klien merasa hidup sudah tidak
lagi bermakna
 Faktor yang mempengaruhi peran : Klien merasa tidak ada yang
memahami dirinya saat ini bahkan keluarga tidak mau memaafkan klien,
tidak pernah membesuk dan merasa di asingkan, pasien kehilangan peran
dalam keluarganya
 Faktor yang mempengaruh identitas : akibat penyakitnya pasien merasa
kehilangan identitasnya sebagai manusia yang beragama
c. Faktor sosial budaya
Pasien berasal dari kalangan ekonomi menengah kebawah, belum menikah,
pendidikan terakhir SMA, berasal dari suku sunda, klien menunjukkan
perilaku banyak diam, menolak melakukan aktivitas ibadah yang diadakan di
RS.
4. Faktor Presipitasi
a. Kejadian Stresful dan Ketegangan Hidup
 Klien menderita HIV AIDS yang menurutnya penyakit yang ia derita
karena Tuhan marah dan mengutuknya akibat perilaku menyimpang yang
ia lakukan selama ini.
 Klien merasa tidak ada yang memahami dirinya saat ini
 Klien kehilangan hubungan dengan orang yang terdekatnya, yaitu
keluarganya. Keluarga klien tidak mau memaafkan klien, tidak pernah
membesuk sehingga klien merasa diasingkan
5. Penilaian terhadap stressor
a. Respon Kognitif
 Klien tidak memercayai keyakinannya
 Klien mengatakan bahwa penyakit yang ia derita karena Tuhan marah dan
mengutuknya akibat perilaku menyimpang yang ia lakukan selama ini.
b. Respon Afektif
 Klien merasa diasingkan oleh keluarganya
 Klien marah pada diri sendiri mengapa ia melakukan kesalahan besar.
 Klien mengatakan tidak tertarik dengan kegiatan agama yang dianutnya.
 Klien merasa hidup sudah tidak lagi bermakna.
c. Respon Fisiologis
 Wajah klien tampak murung.
d. Respon Perilaku
 Klien banyak diam
 Klien menolak melukan aktivitas ibadah yang diadakan di RS
 Klien menolak mengikutsertakan tokoh agama
 Klien mengatakan tidak tertarik dengan kegiatan agama yang dianutnya.
 Klien mengaku kalau ia tidak mampu berdo’a dan bermaksud mempelajari
agama lain yang bisa memaafkan dosa-dosanya.
e. Respon social
 Klien merasa tidak ada yang memahami dirinya saat ini bahkan keluarga
tidak mau memaafkan klien, tidak pernah membesuk dan merasa
diasingkan.
6. Sumber Koping
Merupakan pilihan – pilihan atau strategi yang membantu menentukan apa yang
dapat dilakukan dan apa yang beresiko. Sumber koping adalah faktor pelindung.
Menurut Safarino (2002) terdapat lima tipe dasar dukungan sosial bagi distres
spiritual
a. Dukungan emosi yang terdiri atas rasa empati, caring, memfokuskan pada
kepentingan orang lain. : klien tidak mendapat dukungan dari keluarganya
b. Tipe yang kedua adalah dukungan esteem yang terdiri atas ekspresi positif
thingking, mendorong atau setuju dengan pendapat orang lain.: -
c. Dukungan yang ketiga adalah dukungan instrumental yaitu menyediakan
pelayanan langsung yang berkaitan dengan dimensi spiritual.: aktivitas ibadah
yang diadakan di RS dan Perawat menyusun intervensi keperawatan, salah
satunya adalah menginstruksikan tokoh agama
d. Tipe keempat adalah dukungan informasi yaitu memberikan nasehat, petunjuk
dan umpan balik bagaimana seseorang harus berperilaku berdasarkan
keyakinan spiritualnya. : kepada perawat klien mengaku kalau ia tidak mampu
berdoa dan bermaksud mempelajari agam lain yang bisa memaafkan dosa-
dosanya
e. Tipe terakhir atau kelima adalah dukungan network menyediakan dukungan
kelompok untuk berbagai tentang aktifitas spiritual. Taylor, dkk (2003)
menambahkan dukungan apprasial yang membantu seseorang untuk
meningkatkan pemahaman terhadap stresor spiritual dalam mencapai
keterampilan koping yang efektif. : Perawat menyusun intervensi keperawatan,
salah satunya adalah menginstruksikan tokoh agama , namun klien menolak
dan mengatakan tidak tertarik dengan kegiatan keagamaan yang ia anut

No Data fokus
.
1. DS:
1. Klien mengatakan bahwa penyakit yang ia derita karena Tuhan marah dan
mengutuknya akibat perilaku menyimpang yang ia lakukan selama ini.
2. Klien merasa tidak ada yang memahami dirinya bahkan keluarga tidak mau
memaafkan klien, tidak pernah membesuk dan merasa diasingkan.
3. Klien marah pada diri sendiri mengapa ia melakukan kesalahan.
4. Klien merasa hidup sudah tidak bermakna.
5. Klien mengaku kalau ia tidak mampu berdo’a dan bermaksud mempelajari
agama lain yang bisa memaafkan dosa-dosanya.
6. Klien mengatakan tidak tertarik dengan kegiatan keagamaan yang ia anut.
DO:
1. Klien menunjukkan perilaku banyak diam.
2. Klien menolak melakukan aktivitas ibadah di RS.
DT:
1. Klien tampak murung.

NO. ANALISA DATA MASALAH ETIOLOGI


1. DS : Distres Spiritual Sakit
1. Klien merasa tidak ada
yang memahami dirinya
bahkan keluarga tidak mau
memaafkan klien, tidak
pernah membesuk dan
merasa diasingkan.
2. Klien marah pada diri
sendiri mengapa ia
melakukan kesalahan.
3. Klien merasa hidup sudah
tidak bermakna.
4. Klien mengaku kalau ia
tidak mampu berdo’a dan
bermaksud mempelajari
agama lain yang bisa
memaafkan dosa-dosanya.
5. Klien mengatakan tidak
tertarik dengan kegiatan
keagamaan yang ia anut.
DO:
1. Klien menunjukkan
perilaku banyak diam.
2. Klien menolak
melakukan aktivitas
ibadah di RS.
DT:
1. Klien tampak murung.
2. DS: Keputusasaan Kehilangan
1. Klien mengatakan bahwa kepercayaan pada
penyakit yang ia derita kekuatan spiritual
karena Tuhan marah dan
mengutuknya akibat
perilaku menyimpang
yang ia lakukan selama
ini.
2. Klien mengaku kalau ia
tidak mampu berdo’a dan
bermaksud mempelajari
agama lain yang bisa
memaafkan dosa-dosanya.
3. Klien merasa hidup sudah
tidak bermakna.
4. Klien mengatakan tidak
tertarik dengan kegiatan
keagamaan yang ia anut.
DO:
1. Klien menolak melakukan
aktivitas ibadah di RS.
DT:
1. Klien tampak murung.
3. DS: Risiko perilaku Masalah kesehatan
1. Klien marah pada diri kekerasan terhadap diri fisik
sendiri mengapa ia sendiri
melakukan kesalahan.
2. Klien merasa hidup sudah
tidak bermakna.
3. Klien mengatakan tidak
tertarik dengan kegiatan
keagamaan yang ia anut.
DO:
1. Klien menunjukkan
perilaku banyak diam.
2. Klien menolak melakukan
aktivitas ibadah di RS.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Distres spiritual berhubungan dengan sakit.
2. Keputusasaan yang berhubungan dengan kehilangan kepercayaan pada kekuatan
spiritual.
3. Risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri yang dikaitkan dengan masalah
kesehatan fisik.
C. Intervensi Keperawatan
NO. DIAGNOSA NOC NIC
KEPERAWATAN
1. Distres spiritual Setelah dilakukan asuhan 1. Dukungan
berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 Spiritual
sakit jam diharapkan kesehatan Intervensi :
spiritual terpenuhi. a. Gunakan
1. Kesehatan komunikasi
Spiritual terapeutik dalam
Indikator: membangun
1) Kualitas keyakinan hubungan saling
(3→5). percaya dan caring.
2) Kemampuan b. Dorong
berdo’a (3→5). penggunaan
3) Kemampuan sumber sumber
beribadah (3→5). spiritual jika
4) Berpartisipasi diperlukan.
dalam perjalanan c. Berbagi mengenai
dan tata cara perspektif spiritual
spiritual (3→5). dengan baik.
d. Dorong partisipasi
terkait dengan
keterlibatan
keluarga.
e. Berdoa bersama
individu.
f. Berikan artikel
spiritual yang
disukai pasien.
2. Keputusasaan yang Setelah dilakukan asuhan 1. Inspirasi Harapan
berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 Intervensi :
kehilangan kepercayaan jam diharapkan pasien a. Bantu pasien
pada kekuatan spiritual memiliki harapan. mengembangkan
1. Harapan spiritual diri.
Indikator: b. Berikan
1) Mengungkapkan kesempatan bagi
makna hidup klien/keluarga
(4→5). untuk terlibat
2) Menunjukkan dalam kelompok
semangat hidup pendukung.
(4→5). c. Demonstrasikan
harapan dengan
menunjukkan
bahwa sesuatu
dalam diri pasien
adalah sesuatu
yang berharga.
3. Risiko perilaku Setelah dilakukan asuhan 1. Bantuan Kontrol
kekerasan terhadap diri keperawatan selama 3x24 Marah
sendiri yang dikaitkan jam diharapkan tingkat Intervensi:
dengan masalah depresi pasien berkurang. a. Bangun rasa
kesehatan fisik 1. Tingkat Depresi percaya dan
Indikator : hubungan yang
1) Kehilangan minat dekat dan harmonis
pada kegiatan dengan pasien.
(3→5). b. Gunakan
2) Rasa bersalah yang pendekatan yang
berlebihan (3→5). tenang.
3) Kemarahan (3→5). c. Tentukan harapan
mengenai tingkah
laku yang tepat
dalam
mengekspresikan
perasaan marah.
d. Tetapkan harapan
yang pasien dapat
mengontrol
perilakunya.
D. Evaluasi Implementasi
Penulis mendapatkan 7 pasien pria yang di rawat di RSCM lantai 7 sebagai partisipan
dalam penelitian ini. Pada awalnya penulis sulit untuk membina hubungan saling percaya
dengan pasien/partisipan, namunn setelah dua atau tiga kali pertemuan akhirnya
hubungan saling percaya antara penulis dengan partisipan dapat terjalin. Rentang usia
partisipan dari 25 sampai dengan 39 tahun. Pendidikan terakhir partisipan bervariasi dari
tidak tamat SMP sampai sarjana strata satu. Sebagian besar partisipan beragama Islam,
satu orang partisipan beragama Kristen. Pekerjaan partisipan sebelum sakit sangat
bervariasi, namun salah seorang partisipan keluar dari pekerjaannya setelah positif
dinyatakan menderita HIV.
Sebagian besar partisipan saat dikaji mengatakan setelah didiagnosis HIV mereka bisa
belajar banyak tentang agama, memiliki kesempatan untuk bertobat kepada Tuhan dan
menyadari kesalahan yang dilakukan. Sebagian besar mengatakan ingin lebih banyak
belajar tentang agama karena sebelumnya mereka jauh dari Tuhan dan tidak melakukan
secara benar ajaran agamanya. Selain itu, tujuan hidup dan nilai-nilai spiritual yang
diyakini oleh partisipan sebagian besar mengalami perubahan pasca diagnosis
HIV/AIDS. Beberapa partisipan mengatakan menjadi lebih menghargai makna hidup
yang sebenarnya karena selama ini telah menyia-nyiakan hidup yang diberikan oleh
Tuhan dengan cara menjalankan semua ajaran yang diajarkan oleh agamanya.
Sebagian besar partisipan megungkapkan pelayanan yang diberikan oleh perawat sudah
profesional dan teliti tetapi kegiatan yang dilakukan hanyalah melakukan kegiatan rutin
dan melakukan kegiatan sesuai prosedur. Sebagian besar partisipan menginginkan
perawat memberikan perhatian yang lebih kepada mereka, memberikan kenyamanan
terhadap klien dan cepat bertindak apabila partisipan membutuhkan bantuan untuk
mengatasi masalahnya misalnya infus macet. Mereka menginginkan perawat cepat
tanggap apabila diperlukan dan lebih perhatian walaupun hanya untuk menanyakan
kabarnya dan menjadi teman untuk berbicara. Tetapi sebagian besar partisipan
mengungkapkan mereka menerima saja pelayanan yang diberikan perawat karena tahu
perawat juga banyak mempunyai kesibukan lain dan takut apabila mereka macam-
macam nanti mereka tidak akan diurusi oleh perawat.
Hal tersebut menunjukkan bahhwa perawat tidak hanya melakukan kegiatan rutinnya
saja tetapi perawat juga perlu memberikan sedikit waktunya kepada pasien untuk
menanyakan keadaannya saat ini, mendengarkannya, dan memberikan semangat kepada
pasien.
Daftar Pustaka

Bulechek, Gloria M dkk.2013.Nursing Interventions Classification (NIC) Edisi


keenam.Singapore : Elsevier
Hamid, Achir. 2009. Bungan Rampai Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Herdman, T.Heather.2015.Diagnosis Keperawatan Definisi&Klasifikasi 2015-2017 Edisi
10.Jakarta : EGC
Moorhead, Sue dkk.2013.Nursing Outcome Classification (NOC) Edisi
kelima.Singapore:Elsevier
Stuart, Gail.W.2013.Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart Buku 1 Edisi
Indonesia. Singapore : Elsevier

Anda mungkin juga menyukai