Anda di halaman 1dari 8

Atletik Cabang Lempar

Atletik berasal dari bahasa Yunani "athlon" yang berarti "kontes". Atletik adalah gabungan dari
beberapa jenis olahraga yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi lari, lempar, dan lompat.
Macam-macam atletik cabang lempar adalah :

1. Lempar Cakram

2. Lempar Lembing

3. Tolak Peluru

4. Lontar Martil

Lempar Cakram

Lempar cakram adalah salah satu cabang olahraga atletik. Cakram yang dilempar berukuran garis
tengah 220 mm dan berat 2 kg untuk laki-laki, 1 kg untuk perempuan. Lempar cakram diperlombakan
sejak Olimpiade I tahun 1896 di Athena, Yunani.

Latihan dasar menggunakan ring karet atau rotan

Diawali dengan sikap tegap

Langkahkan salah satu kaki sambil mengayunkan ring ke depan

Lanjutkan ayunan hingga mengelilingi tubuh, jaga agar lengan memegang ring tetap lurus dan berada di
bawah ketinggian bahu

Langkahkan kaki lurus ke depan (berlawanan dengan arah tangan). Ikuti gerakan pinggul dan dada ke
depan. Kemudian lepaskan ring, ayunkan tangan ke atas dan langkahkan kaki belakang ke depan.

Cara melempar cakram

Cara melempar cakram dengan awalan dua kali putaran badan caranya yaitu: memegang cakram ada 3
cara, berdiri membelakangi arah lemparan, lengan memegang cakram diayunkan ke belakang kanan
diikuti gerakan badan, kaki kanan agak ditekuk, berat badan sebagian besar ada dikanan, cakram
diayunkan ke kiri, kaki kanan kendor dan tumit diangkat, lemparan cakram 30 derajat lepas dari
pegangan, ayunan cakram jangan mendahului putaran badan, lepasnya cakram diikuti badan condong
ke depan.

Cara memegang cakram


Pegang dengan buku ujung jari-jari tangan, ibu jari memegang samping cakram, kemudian pergelangan
tangan ditekuk sedikit ke dalam

Mengayunkan cakram

Ayunkan cakram dengan ring ke depan dan ke belakang di samping tubuh. Pada saat mengayunkan
cakram, tangan yang memegang cakram direntangkan sampai lurus. Jangan sampai lepas.

Gerakan lempar cakram

Ada 3 tahap dalam melempar cakram

Persiapan

Berdiri dengan kedua kaki dibuka lebar.

Pegang cakram dengan tangan kanan. Ayunkan sampai di atas bahu sambil memutar badan ke kiri,
kemudian ke kanan secara berulang-ulang. Saat cakram diayun ke kiri, bantu tangan kiri dengan cara
menyangganya.

Pelaksanaan

Ayunkan cakram ke depan lalu ke belakang.

Pada saat cakram di belakang, putar badan dan ayunkan cakram ke samping-depan-atas (membentuk
sudut 40 derajat).

Lepaskan cakram pada saat berada di depan muka.

Penutup

Bantu lemparan dengan kaki kanan agar tercipta suatu tolakan kuat pada tanah sehingga badan
melonjak ke depan-atas.

Langkahkan kaki kanan ke depan untuk menumpu, sedangkan kaki kiri diangkat rileks untuk menjaga
keseimbangan badan.

Lapangan Lempar Cakram

Lempar Lembing

Dalam olah raga atletik dikenal olah raga lempar lembing. Olah raga lempar lembing merupakan olah
raga atletik berjenis lintasan dan lapangan. Pada olah raga ini, atlet lempar lembing harus berlari pada
lintasan untuk ancang-ancang. Kemudian, atlet melemparkan lembing pada wilayah atau lapangan yang
ukurannya sudah ditentukan.
Olah raga lempar lembing memiliki perbedaan dengan cabang olah raga atletik lempar lainnya. Pada
olah raga lempar lembing, gaya atau style yang digunakan saat melempar lembing sudah ditentukan.

Atlet tidak boleh menggunakan gaya lain. Dalam olah raga lempar lembing, dibutuhkan kecepatan
sedangkan pada olah laga lempar lainnya lebih mengutamakan kekuatan. Oleh karena itu, lempar
lembing memiliki hubungan yang cukup erat dengan olah raga sprint.

Lembing yang digunakan berukuran panjang 2,6 – 2,7 m untuk putra dan 2,2 -2,3 m untuk putri. Berat
lembing yang digunakan 800 gram untuk putra dan 600 gram untuk putri. Selain itu, lembing dilengkapi
dengan pegangan sepanjang 20 cm dan ujung tajam dari metal.

Pada olahraga lempar lembing, panjang dan berat lembing yang digunakan berbeda, untuk putra
panjangnya 2,6 sampai 2,7 meter dengan berat 800 gram. Sedangkan untuk putri panjang lembing
adalah 2,2 sampai 2,3 meter dan beratnya 600 gram.

Cara memegang lembing

Untuk memegang lembing ada terdapat aturan dan ketentuan khusus yang perlu diperhatikan. Ada dua
macam cara dalam memegang lembing, yaitu:

Cara Finlandia: antara kedua jari tengah dan ibu jari diletakkan pada bagian belakang balutan lembing,
sedangkan jari telunjuk diletakkan sewajarnya.

Cara Amerika: antara kedua jari telunjuk dan ibu jari diletakkan pada bagian belakang balutan lembing.

Cara membawa lembing

Dalam membawa lembing, ada tiga cara yang bisa digunakan, yaitu:

Tangan sebelah kanan ditekuk, kemudian lembing dipegang hingga sejajar dengan telinga. Sementara
mata lembing diarahkan ke depan agak serong ke arah bawah.

Tangan sebelah kanan ditekuk, kemudian lembing dipegang hingga sejajar dengan telinga, tetapi mata
lembing diarahkan ke depan dengan serong ke atas.

Lembing dibawa oleh tangan kanan yang diletakkan di belakang badan dengan mata lembing diarahkan
ke depan serong atas.

Gaya melempar

Dalam melempar lembing, terdapat dua gaya yang digunakan, antara lain:
Gaya silang atau dikenal dengan istilah cross step

Gaya berjingkat atau hop step

Sikap berdiri ketika melempar lembing

Sebelum lembing dilemparkan, posisi siku harus diletakkan sedekat mungkin dengan lembing. Kemudian
lembing dipegang lurus tepat di belakang kepala. Usahakan tangan lebih tinggi dari bahu dan lembing
diposisikan sejajar dengan lengan. Jarak kedua kakisekitar enam puluh centimeter dan ujung kaku
menghadap ke arah lemparan.

Sementara itu punggung berada agak ke belakang. Gerakan melempar didahului dengan memutar ke
depan dari panggul kanan, kemudian dilanjutkan dengan bahu mengikuti ke arah depan. Setelah itu,
diikuti gerakan melempar dengan menjaga posisi siku agar tetap dekat dengan lembing.

Lapangan Lempar Lembing

Tolak Peluru

Tolak peluru adalah salah satu cabang olahraga atletik. Atlet tolak peluru melemparkan bola besi yang
berat sejauh mungkin. Berat peluru:

Untuk senior putra = 7.257 kg

Untuk senior putri = 4 kg

Untuk yunior putra = 5 kg

Untuk yunior putri = 3 kg

Teknik dasar tolak peluru

Terdapat beberapa teknik dasar dalam tolak peluru, diantaranya : Teknik Memegang Peluru Ada 3
teknik memegang peluru : Jari-jari direnggangkan sementara jari kelingking agak ditekuk dan berada di
samping peluru, sedang ibu jari dalam sikap sewajarnya. Untuk orang yang berjari kuat dan panjang.
Jari-jari agaka rapat, ibu jari di samping, jari kelingking berada di samping belakang peluru. Biasa dipakai
oleh para juara. Seperti cara di atas, hanya saja sikap jari-jari lebih direnggangkan lagi, sedangkan letak
jari kelingking berada di belakang peluru. Cocok untuk orang yang tangannya pendek dan jari-jarinya
kecil.
Teknik Meletakkan Peluru Pada Bahu Peluru dipegang dengan salah satu cara di atas, letakkan peluru
pada bahu dan menempel pada leher bagian samping. Siku yang memegang peluru agak dibuka ke
samping dan tangan satunya rileks di samping kiri badan.

Teknik Menolak Peluru Pengenalan peluru Peluru dipegang dengan satu tangan dipindahkan ke tangan
yang lain Peluru dipegang dengan tangan kanan dan diletakkan di bahu dengan cara yang benar Peluru
dipegang dengan dua tangan dengan sikap berdiri akak membungkuk, kemudian kedua tangan yang
memegang peluru diayunkan ke arah belakang dan peluru digelindingkan ke depan

Sikap awal akan menolak peluru Mengatur posisi kaki, kaki kanan ditempatkan di muka batas belakang
lingkaran, kaki kiri diletakkan di samping kiri selebar badan segaris dengan arah lemparan. Bersamaan
dengan ayunan kaki kiri, kaki kanan menolak ke arah lemparan dan mendarat di tengah lingkaran.
Sewaktu kaki kaki kanan mendarat, badan dalam keadaan makin condong ke samping kanan. Bahu
kanan lebih rendah dari bahu kiri. Lengan kiri masih pada sikap semula.

Cara menolakkan peluru Dari sikap penolakan peluru, tanpa berhenti harus segera diikuti dengan
gerakan menolak peluru. Jalannya dorongan atau tolakan peda peluru harus lurus satu garis. Sudut
lemparan kurang dari 40o.

Sikap akhir setelah menolak peluru Sesudah menolak peluru, membuat gerak lompatan untuk menukar
kaki kanan ke depan. Bersamaan dengan mendaratnya kaki kanan, kaki kiri di tarik ke belakang
demikian pula dengan lengan kiri untuk memelihara keseimbangan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam teknik tolak peluru

Ketentuan diskualifikasi/kegagalan peserta tolak peluru :

- Menyentuh balok batas sebelah atas

- Menyentuh tanah di luar lingkaran

- Keluar masuk lingkaran dari muka garis tengah

- Dipanggil selama 3 menit belum menolak

- Peluru di taruh di belakang kepala

- Peluru jatuh di luar sektor lingkaran

- Menginjak garis lingkar lapangan

- Keluar lewat depan garis lingkar

- Keluar lingkaran tidak dengan berjalan tenang

- Peserta gagal melempar sudah 3 kali lemparan

Beberapa hal yang disarankan :


- Bawalah tungkai kiri merendah

- Dapatkan keseimbangan gerak dari kedia tungkai, dengan tungkai kiri memimpin di belekang

- Menjaga agar bagian atas badan tetap rileks ketika bagian bawah bergerak

- Hasilkan rangkaian gerak yang cepat dan jauh peda tungkai kanan

- Putar kaki kanan ke arah dalam sewaktu melakukan luncuran

- Pertahankan pinggul kiri dan bahu menghadap ke belakang selama mungkin

- Bawalah tangan kiri dalam sebuah posisi mendekati badan

- Tahanlah sekuat-kuatnya dengan tungkai kiri

Beberapa hal yang harus dihindari :

- Tidak memiliki keseimbanagn dalam sikap permaan

- Melakukan lompatan ketika meluncur dengan ka kanan

- Mengangkat badan tinggi ketika melakukan luncuran

- Tidak cukup jauh menarik kaki kanan di bawah badan

- Mendarat dengan kaki kanan menghadap ke belakang

- Menggerakkan tungkai kiri terlalu banyak ke samping

- Terlalu awal membuka badan

- Mendarat dengan badan menghadap ke samping atau ke depan

Peralatan

Alat yang digunakan :

- Rol meter

- Bendera kecil

- Kapur / tali rafia ,

- Peluru :

a. Untuk senior putra = 7.257 kg

b. Untuk senior putri = 4 kg


c. Untuk yunior putra = 5 kg

d. Untuk yunior putri = 3 kg

Lapangan Tolak Peluru

Konstruksi :

- Lingkaran tolak peluru harus dibuat dari besi, baja atau bahan lain yang cocok yang dilengkungkan,
bagian atasnya harus rata dengan permukaan tanah luarnya. Bagian dalam lingkaran tolak dibuat dari
semen , aspal atau bahan lain yang padat tetapi tidak licin. Permukaan dalam lingkaran tolak harus
datar anatara 20 mm sampai 6 mm lebih rendah dari bibir atas lingkaran besi.

- Garis lebar 5 cm harus dibuat di atas lingkaran besi menjulur sepanjang 0.75 m pada kanan kiri
lingkaran garis ini dibuat dari cat atau kayu.

- Diameter bagian dalam lingkaran tolak adalah 2,135 m. Tebal besi lingkaran tolak minimum 6 mm dan
harus di cat putih.

- Balok penahan dibuat dari kayu atau bahan lain yang sesuai dalam sebuah busur/lengkungan sehingga
tepi dalam berhimpit dengan tepi dalam lingkaran tolak, sehingga lebih kokoh.

- Lebar balok 11,2-30 cm, panjangnya 1,21-1,23 m di dalam, tebal 9,8-10,2 cm.

Lontar Martil

Lontar Martil merupakan salah satu cabang olahraga atletik yang sering diperlombakan pada even-even
olahraga baik ditingkat nasional maupun internasional. Ada beberapa Teknik Dasar Lontar Martil yang
harus dikuasai oleh seorang pelempar diantaranya Posisi awalan dan ayunan, putaran dan transisi, fase
akhir, dan lemparan. Untuk lebih jelasnya berikut ini akan dijelaskan teknik dasar lontar martil tersebut :

Awalan dan Ayunan

Teknik yang pertama adalah diawali memegang martil pada tuas dengan menggunakan tangan kiri
kemudian ditutup dengan tangan kanan. Posisi kedua ibu jari saling menyilang. Kepala martil boleh
ditempatkan di atas tanah sebelah kanan atau dibelakang si pelempar kemudian pelempar dapat
mengayunkan martil sebagi ayunan permulaan. Titik terendah dari ayunan permulaan adalah hanya
ketika martil melewati bagian kanan dari kaki kanan.

Putaran dan Transisi


Saat martil mencapai titik terendah, pelempar mulai berputar dengan tumit tungkai kiri menjadi poros
sampai mengahadap ke arah depan dari lingkaran dan kemudian dilanjutkan dengan memutarnya
kembali di atas telapak kaki bagian depan sampai kembali ke arah semula. Tubuh bagian bawah
membawa tubuh bagian atas bergerak ke depan, dengan tangan kiri menutup dada, dan selama tungkai
bergerak, martilpun terus bergerak. Kaki kanan meninggalkan tanah ketika kaki kiri selesai dengan
gerakan tumitny, berat badan dipindahkan ke tungkai kiri dan seterusnya.

Fase Akhir

Sebelum putaran berakhir atau sebelum martil mencapai titik terendah, pelempar mulai menarik
martilnya dan mempercepat putaran martil saat bergerak ke arah bawah dan mencoba untuk
mempercepat gerakan kedua tungkai dalam upaya mempercepat gerakan kedua tungkai dalam upaya
mempercepat putaran tubuh bagian bawah.

Lemparan

Lemparan dilakukan dengan meluruskan kedua tungkai dengan kuat, badan lebih dibusungkan lagi
dengan kepala direbahkan ke arah belakang atau dengan posisi tengadah. Ketika martil telah
ditempatkan pada dudut trayektorinya, pelempar harus melihat ke arah lemparan, kemudian
mengangkat kedua lengan di akhir gerakannya dan pandangan kedua matanya mengikuti jalannya
martil sebelum mengganti posisi kedua tungkainya.

Lapangan Lontar Martil