Anda di halaman 1dari 10

KESETIMBANGAN KIMIA DALAM INDUSTRI

Reaksi kimia adalah perubahan spontan pereaksi menjadi hasil reaksi menuju
kesetimbangan (Syukri, 316). Kesetimbangan kimia merupakan reaksi bolak-balik (reversible)
yang menunjukkan reaktan bereaksi membentuk produk dapat bereaksi balik membentuk reaktan.
Suatu kesetimbangan kimia mempunyai konstanta kesetimbangan yang dinilai bergantung
pada suhu dan jenis kesetimbangan. Ciri-ciri kesetimbangan kimia sebagai berikut.
 Hanya terjadi dalam wadah tertutup, pada suhu dan tekanan tetap
 Reaksinya berlangsung terus-menerus (dinamis) dalam dua arah yang berlawanan
 Laju reaksi maju (ke kanan) sama dengan laju reaksi balik (ke kiri)
 Semua komponen yang terlibat dalam reaksi tetap ada
 Tidak terjadi perubahan yang sifatnya dapat diukur maupun diamati.
Dalam dunia industri, kesetimbangan kimia juga banyak dipergunakan khususnya dalam
pembuatan gas maupun produk-produk industri lainnya. Berikut ini contoh kesetimbangan kimia
dalam dunia industri.
1. Pembuatan Asam Sulfat dalam Industri dengan Proses Kontak
Asam sulfat merupakan bahan kimia yang banyak digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Misalnya, sebagai bahan campuran dalam detergen, cat, zat warna, fiber,
plastik, industri logam dll. Dalam industri, pembuatan asam sulfat dikenal dengan proses
kontak.

Proses kontak pembuatan Asam Sulfat


Proses kontak adalah salah satu metode untuk memproduksi asam sulfat (H2SO4).
Pada proses ini ada tiga tahapan penting, yaitu: membuat sulfur dioksida (SO2),
mengkoversinya menjadi SO3, dan konversi SO3 menjadi H2SO4.
a. Pembuatan SO2
Ada dua cara untuk membuat sulfur dioksida, membakar sulfur (S) dengan
oksigen berlebih atau memanaskan sulfida ores seperti FeS2 dalam udara berlebih.
Keduanya dilakukan dengan oksigen berlebih untuk memastikan semua sulfur
terkoversi menjadi SO2. Oksigen sisa akan digunakan pada proses berikutnya. Pada
proses pembakaran sulfur, konsentrasi SO2 yang diperoleh sekitar 9 – 10 %.
b. Konversi menjadi SO3
Konversi SO2 menjadi SO3 dilakukan dalam reaktor berkatalis. Reaksi
konversi ini merupakan reaksi eksoterm (menghasilkan panas). Pada reaksi
eksoterm, temperatur adalah parameter yang sangat penting. Pada temperatur
tinggi, laju reaksi cepat namun konversi rendah. Untuk memperoleh SO3 sebanyak
mungkin diperlukan temperatur reaksi yang rendah. Namun pada temperatur ini
laju reaksi kecil, untuk itu diperlukan katalis. Katalis yang biasa digunakan adalah
V2O5 dan temperatur reaksi 400-450oC.
c. Konversi SO3 menjadi H2SO4
Secara teori SO3 dapat dikonversi menjadi H2SO4 jika direaksikan dengan
air, namun hal ini tidak dapat dilakukan karena reaksi SO3 + H2O sulit dikontrol
dan menimbulkan kabut asam sulfat. SO3 direaksikan terlebih dahulu dengan
H2SO4 membentuk H2S2O7 (oleum). Reaksi ini dilakukan dalam kolom absorber.
Oleum dapat direaksikan dengan air membentuk asam sulfat.
Reaksi yang terjadi dalam pembuatan Asam Sulfat;
a. Belerang dibakar dengan udara membentuk belerang oksida
S(S) + O2 (g)  SO2 (g)
b. Belerang dioksida lebih lanjut menjadi belerang trioksida
2SO2(S) + O2 (g) ↔ 2SO3 (g)
c. Belerang trioksida dilarutkan dalam asam sulfat pekat membentuk asam pirosulfat
H2SO4 (aq) + SO3 (g)  H2S2O7 (l)
d. Asam pirosulfat direaksikan dengan air membentuk asam sulfat pekat
Reaksi ini merupakan reaksi kesetimbangan dan eksoterm. Sama seperti pada
sintesis amonia, reaksi ini hanya berlangsung baik pada suhu tinggi. Akan tetapi pada suhu
tinggi justru kesetimbangan bergeser ke kiri. Dalam industri kimia, jika campuran reaksi
kesetimbangan mencapai kesetimbangan maka produk reaksi tidak bertambah lagi. Akan
tetapi produk reaksinya diambil atau disisihkan, maka akan menghasilkan lagi produk
reaksi.
N2 (g) + 3H2 (g) ↔ 2NH3 (g)
Amonia yang terbentuk dipisahkan dari campuran kesetimbangan dengan cara
pencarian dari gas nitrogen di daur ulang ke wadah reaksi untuk menghasilkan produk
reaksi.
Asam sulfat digunakan dalam jumlah yang besar oleh industri besi dan baja untuk
menghilangkan oksidasi, karat, dan kerak air sebelum dijual ke industri otomobil. Asam
yang telah digunakan sering kali didaur ulang dalam kilang regenerasi asam bekas (Spent
Acid Regeneration (SAR) plant). Kilang ini membakar asam bekas dengan gas alam, gas
kilang, bahan bakar minyak, ataupun sumber bahan bakar lainnya. Proses pembakaran ini
akan menghasilkan gas sulfur dioksida (SO2) dan sulfur trioksida (SO3) yang kemudian
digunakan untuk membuat asam sulfat yang "baru". Kegunaan asam sulfat lainnya yang
penting adalah untuk pembuatan aluminium sulfat. Alumunium sulfat dapat bereaksi
dengan sejumlah kecil sabun pada serat pulp kertas untuk menghasilkan aluminium
karboksilat yang membantu mengentalkan serat pulp menjadi permukaan kertas yang
keras. Aluminium sulfat juga digunakan untuk membuat aluminium hidroksida.
Aluminium sulfat dibuat dengan mereaksikan bauksit dengan asam sulfat:
Al2O3 + 3H2SO4 → Al2(SO4)3 + 3H2O
Asam sulfat juga memiliki berbagai kegunaan di industri kimia. Sebagai contoh,
asam sulfat merupakan katalis asam yang umumnya digunakan untuk mengubah
sikloheksanonoksim menjadi kaprolaktam, yang digunakan untuk membuat nilon. Ia juga
digunakan untuk membuat asam klorida dari garam melalui proses Mannheim. Banyak
H2SO4 digunakan dalam pengilangan minyak bumi, contohnya sebagai katalis untuk reaksi
isobutana dengan isobutilena yang menghasilkan isooktana.
2. Pembuatan Amonia menurut proses Haber-Bosch,
Nitrogen terdapat melimpah di udara, yaitu sekitar 78% volume. Walaupun
demikian, senyawa nitrogen tidak terdapat banyak di alam. Satu-satunya sumber alam yang
penting ialah NaNO3 yang disebut Sendawa Chili. Sementara itu, kebutuhan senyawa
nitrogen semakin banyak, misalnya untuk industri pupuk, dan bahan peledak. Oleh karena
itu, proses sintesis senyawa nitrogen, fiksasi nitrogen buatan, merupakan proses industri
yang sangat penting. Metode yang utama adalah mereaksikan nitrogen dengan hidrogen
membentuk amonia. Selanjutnya amonia dapat diubah menjadi senyawa nitrogen lain
seperti asam nitrat dan garam nitrat. Dasar teori pembuatan amonia dari nitrogen dan
hidrogen ditemukan oleh Fritz Haber (1908), seorang ahli kimia dari Jerman. Sedangkan
proses industri pembuatan amonia untuk produksi secara besar-besaran ditemukan oleh
Carl Bosch, seorang insinyur kimia juga dari Jerman.

Fritz Haber (1908) Carl Bosch


Amonia, (NH3), adalah gas beracun dan tak bewarna dengan bau mengiritasi yang
khas. Walaupun gas ini digunakan dalam banyak kasus sebagai larutan amonia dalam air,
yakni dengan dilarutkan dalam air, amonia cair juga digunakan sebagai pelarut non-air
untuk reaksi khusus. Sejak dikembangkannya proses Harber-Bosch untuk sintesis amonia
di tahun 1913, amonia telah menjadi senyawa yang paling penting dalam industri kimia.
Amonia sering merupakan senyawa pertama untuk banyak senyawa nitrogen. Persamaan
termokimia reaksi sintesis amonia adalah :
N2(g) + 3H2(g) ⇄ 2NH3(g) ∆H = -92,22 Kj Pada 25oC : Kp = 6,2×105
Berdasarkan prinsip kesetimbangan kondisi yang menguntungkan untuk ketuntasan
reaksi ke kanan (pembentukan NH3) adalah suhu rendah dan tekanan tinggi. Akan tetapi,
reaksi tersebut berlangsung sangat lambat pada suhu rendah, bahkan pada suhu 500oC
sekalipun. Dipihak lain, karena reaksi ke kanan eksoterm, penambahan suhu akan
mengurangi rendemen. Dewasa ini, seiring dengan kemajuan teknologi, digunakan tekanan
yang jauh lebih besar, bahkan mencapai 700 atm. Untuk mengurangi reaksi balik, maka
amonia yang terbentuk segera dipisahkan. Mula-mula campuran gas nitrogen dan hidrogen
dikompresi (dimampatkan) hingga mencapai tekanan yang diinginkan. Kemudian
campuran gas dipanaskan dalam suatu ruangan yang bersama katalisator sehingga
terbentuk amonia.

Diagram alur dari proses Haber-bosch untuk sintesis ammonia


Kegunaan Amonia Larutan amonia bisa digunakan untuk membersihkan, pemutih
dan mengurangi bau tidak sedap. Larutan pembersih yang dijual kepada konsumen
menggunakan larutan amonia hidroksida cair sebagai bahan pembersih utama. Tetapi,
pengguna harus berhati-hati karena penggunaan dalam waktu lama mungkin bisa
merangsang. Amonia sangat cocok digunakan sebagai bahan pendingin udara, karena
amonia mudah mengganti bentuk menjadi cairan dalam tekanan. Jadi, amonia digunakan
dalam hampir semua pendingin udara sebelum penciptaan pendingin udara yang
menggunakan freon. Freon tidak merangsang dan tidak beracun, tetapi ia bisa
menyebabkan erosi lapisan ozon. Sekarang, penggunaan amonia sebagai bahan pendingin
udara meningkat kembali. Amonia membentuk baja alami ketika dicampur dengan air, dan
bisa digunakan begitu saja tanpa mencampur bahan kimia. Baja ini sesuai untuk
penanaman tumbuhan yang tergantung pada nitrogen, seperti jagung, tetapi memperburuk
kondisi tanah. Amonia juga digunakan dalam pembuatan polimer dan bahan peledak.
3. Pembuatan Asam nitrat dengan proses Ostwald
Asam Nitrat digunakan dalam pembuatan pupuk amonium nitrat, bahan
peledak seperti nitrogliserin dantrinitrotoluene (TNT), Industri zat warna, dan metalurgi.
Asam Nitrat dapat di buat dengan cara mereaksikan NO2 dan air. Metode yang biasa di
gunakan adalah proses Ostwald yang terdiri atas tiga tahap reaksi. Tahap-tahap reaksi
ersebut merupakan reaksi kesetimbangan.
Tahap 1: oksidasi ammonia
Biasanya, proses pembuatan asam nitrat satu paket dengan pembuatan ammonia
karena sebagian ammonia yang di hasilkan di oksidasi untuk menghasilkan gas nitrogen
monoksida. Pada reaski ini, suhu reaksi sekitar 900oC dan di gunakan katalis
platina dan rhenium.
4NH3 (g) + 5O2 (g) ↔ 4NO (g) + 6H2O (l) ΔH = -907 kJ
Untuk menghasilkan hasil optimum, suhu reaksi di turunkan dan tekanan di perbesar.
Tahap 2: oksidasi gas NO
Gas NO yang terbentuk selanjutnya di campukan dengan udara agar dapat bereaksi
dengan oksigen.
2NO (g) + O2 (g) ↔ 2NO2 (g) ΔH = -114 kJ
Untuk menghasilkan gas NO optimum, duhu reaksi di tutunkan dan tekanan di perbesar.
Tahap 3: pembentukan HNO3
Pada tahap akhir ini, gas NO2 di reaksikan dengan air menghasilkan asam nitrat dan gas
NO.
3NO2 (g) + H2O (l) ↔ 2HNO3 (aq) + NO (g)
4. Tangki penyimpan hidrogen cair
Hidrogen cair merupakan bahan bakar alternatif yang kini mulai di gunakan.
Salah satu masalah dalam penyimpanan bahan bakar hidrogen untuk kendaraan bermotor
dapat di atasi dengan pembentukan hidrida. Beberapa logam dapat menyimpan hidrogen
cair 50% lebih banyak dari wadah yang biasa di gunakan untuk menyimpan hidrogen cair.
Dengan memberikan tekanan, hidrogen membentuk hidrida dengan serbuk logam.
Ti (s) + nH2 (s) ↔ TiH2n (g)
Jika hidrogen di gunakan, tekanan akan berkurang sehingga reaksi akan bergeser
ke kiri (menghasilkan Hidrogen).

5. Kolam renang dan bak penampungan air


Untuk mencegah pertumbuhan alga dan bakteri dalam kolam renang atau bak
penampungan air, ke dalam kolam atau bak biasanya di tambahkan asam
hipoklorit (HClO). Sinar matahari dapat mempercepat penguraian HClO. Untuk
memeperlambat penguraian HClO, kedalam kolam renang di tambahkan asam
sianura karena asam triklorosianurat tidak terurai oleh sinar matahari.
H3C3N3O3 (aq) + 3HClO (aq) ↔ Cl3C3N3O3 (aq) + 3H2O (l)
Asam sianurat Triklorosianurat
Jika asam hipoklorit terurai atau mengoksidasi alga atau bakteri, reaksi akan
bergeser kea rah kiri (pembentukan asam hipoklorit). Sehingga, penggunaan asam
Hipoklorit dapat di hemat sekaligus mengurangi biaya produksi.
6. Pembuatan Gas Klor (Cl2)
Pembuatan gas klor dilakukan dengan proses Deacon. Caranya dengan
mengoksidasi gas asam klorida dengan oksigen di udara. Reaksinya berlangsung dengan
persamaan sebagai berikut.
2HCI(g) + ⅟2O2(g) ↔ H2O(g) + Cl2(g) ∆H = -x Kj
Reaksi tersebut dapat dipercepat dengan katalis CuCI2. Selain dengan katalis,
reaksi dapat dipercepat dengan mengatur suhu optimal reaksi, yaitu sekitar 430°C dan
tekanan 200 atm. Hal ini karena reaksi kesetimbangan tersebut berlangsung secara
eksoterm.
Hubungan ∆Go dan Kp
Konstanta kesetimbangan dapat diketahui dari hasil pengukuran atau perhitungan. Dengan
mengukur tekanan parsial atau konsentrasi komponen kesetimbangan, baik pereaksi maupun hasil
reaksi, dapatlah dicari nilai Kp atau Kc. Selain itu nilai Kp atau Kc dapat pula dihitung dari nilai
∆Go reaksi.
Cara menghitung ∆Go reaksi dengan menganggap semua zat yang terlibat dalam reaksi
(pereaksi dan hasil reaksi) sebanyak satu mol. ∆Go dapat dihitung dari energi bebas masing-masing
komponen pada keadaan yang setimbang. Caranya adalah dengan menggunakan persamaan “∆G=
∆Go + RT ln Kp” yang diturunkan sebagai berikut.
Menurut hukum I termodinamika ∆U = q - p∆V, dan bentuk diferensialnya adalah,
dU = dq – pdV (8.4)
Nilai entalpi (H) dan energi bebas (G) sistem adalah,
H = U + PV
G = U + PV - TS
G = H - TS
Jika dideferensialkan,
dG = dU + PdV + VdP – TdS – SdT (8.5)
Bila persamaan 8.4 dimasukkan ke dalam persamaan 8.5 akan didapat,
dG = dq – PdV + PdV – VdP – TdS – SdT
dG = dq + VdP – TdS – SdT
Dalam proses reversible,
𝑑𝑞
𝑑𝑆 = atau dq + TdS
𝑇

Maka,
dG = VdP – SdT (8.6)
Reaksi kimia terjadi pada suhu tetap (isotermal), maka dT = 0. Akibatnya, persamaan 8.6 menjadi
dG = VdP (8.7)
𝑅𝑇
Jika jumlah gas 1 mol dan bersifat ideal, maka 𝑉 = sehingga persamaan 8.7 menjadi,
𝑃
𝑑𝑝
𝑑𝐺 = (8.8)
𝑝

Bila persamaan 8.8 diintegralkan


𝐺2 𝑃2

∫ 𝑑𝐺 = 𝑅𝑇 ∫ 𝑑𝑃/𝑃
𝐺1 𝑃1
𝑃2
G2- G1 = RT In 𝑃1
𝑃2
G2 = G1 + RT In 𝑃1 (8.9)

Persamaan 8.9 menunjukkan hubungan G dan P pada dua keadaan secara umum. Bila keadaan
awal dianggap sebagai keadaan standar (P= 1 atm), maka hubungannya dengan keadaan lain (tidak
seimbang) adalah
G= G0 + RT In P (8.10)
Persamaan 8.10 menunjukkan bahwa energi bebas suatu zat bergantung pada tekanan (P) dan suhu
(T). Jika zat dalam keadaan standar (P= 1 atm), maka In P = In 1= 0, dan akibatnya G= G0.
Kita lihat kembali reaksi diatas. Menurut persamaan 8.10 potensial kimia (energi bebas tiap mol)
zat dalam keadaan setimbang adalah
µAB = µ0AB + RT In PAB
µCD = µ0CD + RT In PCD
µAC = µ0AC+ RT In PAC
µBD = µ0BD + RT In PBD
dengan PAB, PCD, dan PBD adalah tekanan parsial gas AB, CD, AC, dan BD masing-masing.
Dengan demikian :
∆G = (cµAC + dµBD) – (aµAB + bµCD)
= (cµ0AC + cRT ln PAC 0 0
+ dµ BD + dRT ln PBD) - (aµ AB + aRT ln PAB 0
+ bµ CD + bRT ln PCD)

= (cµ0AC + dµ0BD - aµ0AB - bµ0CD) +RT (ln PcAC + ln PdBD- ln PaAB – ln PbCD)
𝐶 𝑑
𝑃𝐴𝐶 𝑃𝐵𝐷
∆G = ∆𝐺 0 + RT In 𝑎 𝑋 𝑏 (8.11)
𝑃𝐴𝐵 𝑃𝐶𝐷

Substitusi persamaan 8.2 dan 8.11 menghasilakan


∆G = ∆𝐺 0 + RT In 𝐾𝑝 (8.12)
Persamaan 8.12 merupakan hubungan antara perubahan energy bebas reaksi pada keadaan
setimbang (∆G) dan standar (∆𝐺 0 ) dengan konstanta kesetimbangan tekanan (Kp). Perlu diingat,
persamaan ini hanya berlaku bila semua gas bersifat ideal.Menurut persamaan 8.13 pada keadaan
setimbang ∆G = 0, maka persamaan 8.12 menjadi
∆𝐺 0 = −RT In 𝐾𝑝
Atau
Kp = e -∆G0RT (8.13)
Persamaan 8.13 dapat dipakai untuk menentukan Kp dan ∆𝐺 0 , atau sebaliknya, bila salah satu
diketahui.