Anda di halaman 1dari 111

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
TuntutanMasyarakatterhadapkwalitaspelayanankeperawatan
dirasakansebagaisuatufenomena yang harusdiresponolehperawat.Olehkarenaitu
pelayanankeperawataniniperlumendapatprioritasutamadalampengembangankemasadepan
. Salah satu pengembangan yang harus ditingkatkan yaitu mutu pelayanan kesehatan
atau keperawatan yang diselenggarakan, semakin sesuainya jenis dan keahlian tenaga
kesehatan atau keperawatan yang tersedia dengan tuntutan masyarakat, bertambahnya
kesempatan kerja bagi tenaga kesehatan.Oleh karena alasan-alasan di atas maka
pelayanan keperawatan harus dikelola secara profesional, karena itu perlu adanya
manajemen keperawatan.
Manajemen keperawatan mempunyai ruang lingkup manajemen operasional untuk
merencanakan, mengatur dan menggerakan karyawan dalam memberikan pelayanan
keperawatan sebaik-baiknya pada pasien melalui manajemen asuhan keperawatan.
Supaya dapat memberikan pelayanan keperawatan sebaik-baiknya pada pasien,
diperlukan suatu standar yang akan digunakan baik sebagai target maupun alat
pengontrol pelayanan tersebut. Kemajuan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan, telah
memperluas peran dan fungsi keperawatan.
Manajemen keperawatan merupakan proses pelaksanaan pelayanan keperawatan
melalui upaya staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan dan
rasa aman kepada pasien, keluarga dan masyarakat. (Gillies, 2008).Manajemen
merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu
kegiatan di organisasi. Di dalam manajemen tersebut mencakup kegiatan POAC
(planning, Organizing, Actuating, Controlling) terhadap staf, sarana, dan prasarana
dalam mencapai tujuan organisasi. (Nursalam, 2007)
Manajemendidefinisikansebagai proses menyelesaikanpekerjaanmelalui orang
lainuntukmencapaitujuanorganisasidalamsuatulingkungan yang berubah.
Manajemenjugamerupakan proses pengumpulandanmengorganisasisumber-
sumberdalammencapaitujuan (melaluikerja orang lain) yang
mencerminkandinamikasuatuorganisasi.
Tujuanditetapkanberdasarkanmisi,filosofidantujuanorganisasi. Proses
manajemenmeliputikegiatanmencapaitujuanorganisasimelaluiperencanaanorganisasi,pen

1
garahandanpengendaliansumberdayamanusia,fisik,danteknologi.Semuaperawat yang
terlibatdalammanajemenkeperawatandianggapperlumemahamimisi,
filosofidantujuanpelayanankeperawatansertakerangkakonsepkerjanya. (Anonim, 2011)
Pengelolaan manajemen keperawatan dilakukan oleh manajer keperawatan. Manajer
keperawatan memiliki tiga tingkatan yaitu manajemen puncak, manajemen menengah,
manajemen bawah. Kepala ruangan berada dalam tingkatan manajemen bawah untuk
mengelola pelayanan keperawatan. Kepala ruangan dituntut untuk dapat merencanakan,
mengorganisasi, memimpin, dan mengawasi pemberian asuhan keperawatan yang efektif
dan efisien di rumah sakit (Nursalam, 2015). Oleh karena itu, kepala ruangan harus
memiliki kemampuan dalam memimpin, agar dapat efektif dalam mengelola pelayanan
manajemen untuk mendukung pelayanan asuhan keperawatan.
Sebagaimana proses keperawatan,
dalammanajemenkeperawatanterdiridaripengumpulan data, identifikasimasalah,
perencanaan, pelaksanaan, danevaluasihasil.
Karenamanajemenkeperawatanmempunyaikekhususanterhadapmayoritastenagadaripadas
eorangpegawai, makasetiaptahapan didalam prosesmanajemenlebihrumitdibandingkan
proses keperawatan. Tugas pokok bidang keperawatannya adalah menyusun rencana
kegiatan kerja, melakukan penyusunan standar asuhan, melakukan pelayanan
keperawatan, melakukan etika profesi keperawatan dan peningkatan mutu keperawatan,
melakukan pengembangan sumber daya manusia keperawatan, serta melaksanakan
tugas-tugas lain yang diberikan oleh DirekturmelaluiKepalaBidangKeperawatan sesuai
dengan bidang tugasnya (Sianipar, 2011).
RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang merupakan salah satu unit pelayanan
kesehatan di wilayah kota Rembang yang berstatus milik pemerintah
KabupatenRembang. RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang memiliki visi sebagai
rumah sakit pilihan utama masyarakat wilayah bagian timur Jawa Tengah. RSUD dr. R.
Soetrasno Kabupaten Rembang memilki 2 (dua) pelayanan yaitu rawat inap dan rawat
jalan. Dari data Rekam Medik RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang jumlah
kunjungan pasien pada tahun 2017 pada rawat jalan sebanyak > 199 ribu orang dan pada
rawat inap sebanyak> 20 ribu orang. Keberhasilan suatu rumah sakit sangat ditentukan
oleh unit-unit yang ada di dalamnya, terutama pada ruangan rawat inap yang menjadi
tempat berlangsungnya perawatan pasien sebagai acuan kepuasan pasien. Upaya untuk
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat di RSUD dr. R. Soetrasno
Kabupaten Rembang perlu meningkatkan pengelolaan manajemen rumah sakit dan perlu

2
perbaikan pada kinerja pelayanan rumah sakit. Salah satu unit pelayanan rawat inap di
RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang adalah ruang Teratai yang merupakan
ruang kelas II. Maka seharusnya ruang Mawar mempunyai sistem manajemen yang baik
guna mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan di RSUD dr. R. Soetrasno
Kabupaten Rembang.
B. Tujuan
A. Tujuan umum
Mahasiswa mampu mengelola unit pelayanan keperawatan di Ruang Teratai sesuai
dengan konsep dan langkah manajemen keperawatan.
B. Tujuan khusus
Setelahmelaksanakanpraktekprofesimanajemenkeperawatan di ruangTeratai ,
mahasiswa :
1. Mampumelakukanpengkajian 5 M ( Man, Money, Material, Metode, Mutu)
terkaitmanajemenruangandanmencarisolusiterhadapkekurangantenagadanpenerap
an MAKP metode Tim.
2. Mampu mengidentifikasi masalah keperawatan yang terkait dengan pelayanan
keperawatan.
3. Mampu menyusun plan of action sesuaitemuanmasalah yang didapatkan.
4. Mampu melakukan evaluasi terhadap pelaksanakan kegiatan yang telahdilakukan.
5. Mampu melakukan role play tentang manajerial ruangan (Kepala Ruang, Kepala
Tim dan perawat pelaksana).
C. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Tempat praktekmahasiswa Program Pendidikan ProfesiNersStase Manajemen
Keperawatan dilaksanakan di Ruang TerataiRSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang
yang berlangsung mulai tanggal3- 29Desember2018.
D. Manfaat Pelaksanaan Praktik Keperawatan Manajemen
1. InstitusiRumahSakit
Sebagaimasukan terkait pengelolaan manajemenkeperawatan untuk
meningkatkanmutupelayananbagipasien di rumahsakitkhususnyaRuang
TerataiRSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang.
2. Perawatruangan
Sebagaimasukandalammenjalankanpraktikprofesionalisme di
lahanpraktikgunameningkatkanmutupelayanankeperawatan :

3
a. Tercapainyatingkatkepuasankerjadandisiplinkerja yang optimal
b. Terbinanyahubungan yang baikantaraperawatdenganperawat,
perawatdengantimkesehatan lain danperawatdenganklien.
3. Mahasiswa
a. Tercapainyapengalamandanpengelolaansuaturuangrawat di
rumahsakitsehinggadapatmemodifikasimetodepenugasan yang akandilaksanakan.
b. Mahasiswadapatmengidentifikasikekuatandankelemahanpenerapan MAKP di
Ruang Teratai
c. Mahasiswadapatmenganalisismasalah di RuangTerataidenganmetode analisa
SWOT danmenyusunrencanastrategi (planning of action)
gunamenyelesaikanmasalah.
d. Mahasiswadapatmemperolehpengalamandalammengolah manajemen di
RuangTeratai.
4. Bagipasiendankeluargapasien
a. Pasiendankeluargamendapatkanpelayanan yang memuaskan.
b. Tingkat kepuasanpasiendankeluargaterhadappelayanan di ruanganmeningkat.
E. Cara Pengumpulan data
Metodepengumpulan data (data gathering)dalampraktikmanajemenkeperawatan di
RuangTerataiRSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembangdilakukandengancara:
1. Observasi
Observasidilakukanuntukmemperoleh data umummengenaikondisifisikruangan,
proses pelayanan, inventarisruangandanasuhankeperawatanpadapasien.
2. Wawancara
Wawancaradilakukankepadakepalaruang, perawat primer,
danperawatpelaksanauntukmemperolehgambaransecaraumum proses
pelaksanaanoperasionalruangan,
sertawawancarakepadapasiendankeluargauntukmengumpulkan data tentang proses
pelayanankeperawatansertakepuasanpasiendankeluargaterhadappelayanan yang
diberikan.
3. Studidokumentasi
Kegiataninidilakukanuntukpengumpulan data mengenaikarakteristikpasien,
ketenagaan, dokumentasi proses keperawatan, manajemenruangan,
prosedurtetapruangandaninventarisruangan.

4
4. Angket
Digunakanuntukmengetahuikepuasanpasienterhadapasuhankeperawatan,
penerapanstandarasuhankeperawatan, pelaksanaanMetodeAsuhanKeperawatan
Professional (MAKP) dan mengetahui seberapa jauh perawat paham terhadap kinerja
sebagai perawat, struktur organisasi danjob description.

5
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Teori Manajemen
1. Pengertian Manajemen
Manajemen secara umum diartikan sebagai suatu ilmu atau seni tentang
bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien, efektif, dan rasional untuk
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya (Zulkifli, 2011).
Menurut Nursalam (2008), menyatakan bahwa manajemen keperawatan
adalah sebagai suatu proses dari perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan
pengawasan untuk mencapai tujuan. Sedangkan menurut (Marques, 2010) Proses
manajemen dibagi menjadi lima yaitu perencanaan, pengorganisasian, personaliaanm
pengarahan dan pengendalian.
Manajemen keperawatan adalah proses kerja setiap perawat untuk
memberikan pengobatan dan kenyamanan terhadap pasien. Tugas manager
keperawatan adalah merencanakan, mengatur, mengarahkan dan mengawasi
keuangan yang ada, peralatan dan sumber daya manusia untuk memberikan
pengobatan yang efektif dan ekonomis kepada pasien (Gillies, 2009).
2. Fungsi-Fungsi Dasar Manajemen Keperawatan
Fungsi manajemen sebagai proses manajemen yang terdiri dari perencanaan,
pengorganisasian, ketenagaan, pengarahan, pengawasan (Marquis dan Huston, 2010).
Fungsi manajemen menurut G.R. Terry adalah planning, organizing, actuating, dan
controlling, sedangkan menurut S.P. Siagian fungsi manajemen terdiri dari planning,
organizing, motivating, dan controlling (Suarli dan Bahtiar, 2009).
a. Perenacanaan (planning), perncanaan merupakan :
1) Gambaran apa yang akan dicapai.
2) Persiapan pencapaian tujuan.
3) Rumusan suatu persoalan untuk dicapai.
4) Persiapan tindakan – tindakan.
5) Rumusan tujuan tidak harus tertulis dapat hanya dalam benak saja.
6) Tiap – tiap organisasi perlu perencanaan.
b. Pengorganisasian (organizing), merupakan pengaturan setelah rencana, mengatur
dan menentukan apa tugas pekerjaannya, macam, jenis, unit kerja, alat – alat,
keuangan dan fasilitas.

6
c. Penggerak (actuating), menggerakkan orang – orang agar mau / suka bekerja.
Ciptakan suasana bekerja bukan hanya karena perintah, tetapi harus dengan
kesadaran sendiri, termotivasi secara interval.
d. Pengendalian / pengawasan (controling), merupakan fungsi pengawasan agar
tujuan dapat tercapai sesuai dengan rencana, apakah orang – orangnya, cara dan
waktunya tepat. Pengendalian juga berfungsi agar kesalahan dapat segera
diperbaiki.
e. Penilaian (evaluasi), merupakan proses pengukuran dan perbandingan hasil –
hasil pekerjaan yang seharusnya dicapai. Hakekat penilaian merupakan fase
tertentu setelah selesai kegiatan, sebelum, sebagai korektif dan pengobatan
ditujukan pada fungsi organik administrasi dan manajemen.
3. Unsur Managemen
Adapaun unsur yang dikelola sebagai sumber manajemen adalah man, money,
material, methode, machine, minute, dan market. Untuk merealisasikan dalam
manajemen keperawatan ada beberapa faktor yang menunjang dalam keberhasilan
sebagai menejer, faktor tersebut antara lain model kepemimpinan, delegasi, supervisi,
dan motivasi.
a. Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang
untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan
orang lain untuk berbuat sesuatu demi mencapai tujuan institusi. Sedangkan
managemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan
pengawasan dalam mencapai tujuan. Jadi hakekatnya manajemen dan
kepemimpinan dalam keperawatan dilakukan dengan cara bersamaan dan agar
tujuan keperawatan tercapai, diperlukan kegiatan dalam menerapkan ketrampilan
kepemimpinan.
1) Teori Kepemimpinan
a) Teori “ Trait “ (Bakat)
Teori ini menekankan bahwa setiap orang adalah pemimpin
(pimpinan dibawa sejak lahir bukan didapatkan) dan mereka mempunyai
karakteristik tertentu yang membuatmereka lebih baik dari orang lain,
teori ini disebut dengan “Great Man Theory”. Banyak peneliti tentang
riwayat kehidupan Great Man Theory. Tetapi menurut teori kontemporer,
kepemimpinan seseorang dapat dikembangkan bukan hanya pembawa

7
sejak lahir, dimana teori trait mengabaikan dampak atau pengaruh dari
siapa pengasuh. Situasi, dan lingkungan lainnya (Marqus dan Huston,1998
dalam Arwani 2006).
Swanburg (2008) menyatakan ciri – ciri pemimpin menurut teori
bakat adalah: a) inteligensi : Sifat yang berhubungan dengan inteligensi
termasuk pengetahuan, ketegasan, dan kelancaran berbicara. Menyadari
bahwa pengetahuan dan kompetensi dalam pekerjaan tertentu adalah salah
satu faktor terpenting dalam keefektifan pemimpin. b) Kepribadian : sifat
kepribadian seperti kemampuan beradaptasi, kepercayaan diri, kreativitas
dan integritas personal dihubungkan dengan kepemimpinan yang efektif.
Seorang pemimpin adalah orang yang efektif mengetahui bagaimana
memotivasi semangat kerja para pekerja untuk mencapai tujuan
organisasi. c) Kemampuan : Seorang pemimpin mempunyai cukup
kepopuleran, kemasyuran, dan keterampilan interpersonal untuk
memberikan symbol, memperluas, memperdalam kesatuan kolektif
diantara anggotanya dalam system tersebut.
b) Teori Perilaku
Nursalam (2007) menyatakan bahwa teori perilaku lebih
menekankan kepada apa yang dilakukan pemimpin dan bagaimana
seorang manajer menjalankan fungsinya. Perilaku sering dilihat sebagai
suatu rentang dari sebuah perilaku otoriter ke demokrat atau dari fokus
suatu produksi ke fokus pegawai. Tentang teori prilaku terdapat teori X
dan teori Y dari McGregor yang dihubungkan dengan motivasi dari
Moslow yang menyatakan bahwa setiap manusia merupakan kehidupan
individu secara keseluruhan yang mengadakan interaksi dengan dunia
individu lain (Swanburg, 2008).
2) Gaya Kepemimpinan
Nursalam (2007) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan dapat
diidentifikasikan berdasarkan perilaku pimpinan itu sendiri. Perilaku
seseorang dipengaruhi oleh adanya pengalaman bertahun – tahun dalam
kehidupannya. Oleh karena itu, kepribadian seseorang akan mempengaruhi
gaya kepemimpinan yang digunakan. Gaya kepemimpinan cenderung sangat
bervariasi dan berbeda – beda.

8
a) Gaya Kepemimpinan Autokratis
Merupakankepemimpinan yang berorientasi pada tugas atau
pekaryaan. Menggunakan kekuasaan posisi dan kekuatan dalam
memimpin dengan cara otoriter, mempertanggung jawab untuk semua
perencanaan tujuan dan pembuatan keputusan serta memotivasi
bawahannya dengan menggunakan sanjungan, kesalahan, dan
penghargaan. Pemimpin menetukan semua tujuan yang akan dicapai
dalam pengambilan keputusan. Seorang pemimpin yang menggunakan
gaya ini biasanya akan menentukan semua keputusan yang berkaitan
dengan seluruh kegiatannya dan memerintah seluruh anggotanya untuk
mematuhi dan melaksanakannya (DepKes, 2015).
b) Gaya Kepemimpinan Demokratis
merupakan kepemimpinan yang menghargai sifat dan kemampuan
setiap staf. Menggunakan kekuasaan posisi dan pribadinya untuk
mendorong ide–ide dari staf, memotivasi kelompok untuk menentukan
tujuan sendiri. Membuat perencanaan, mengontrol dalam penerapannya,
informasi diberikan seluas – luasnya dan terbuka (Nursalam, 2007).
Prinsipnya pemimpin melibatkan kelompok Utara dalam pengambilan
keputusan dan memberikan tanggung jawab pada karyawannya.
c) Gaya Kepemimpinan Partisipatif
Merupakangabungan bersama antara gaya kepemimpinan otoriter
dan demokratis. Dalam pemimpin partisipatif manajer menyajikan analisa
masalah dan mengusulkan tindakan kepada para anggota kelompok,
mengundang kritikan dan komentar mereka. Dengan menimbang jawaban
bawahan atas usulannya, manajer selanjutnya membuat keputusan final
bagi tindakan oleh kelompok tersebut.
d) Gaya Kepemimpinan Laisserz Faire
Disebutjuga bebas tindak atau membiarkan. Merupakan pimpinan
ofisial, karyawan menentukan sendiri kegiatan tanpa pangarah, supervisi,
dan koordinasi. Staf / bawahan mengevaluasi pekaryaan sesuai dengan
cara sendiri. Pimpinan hanya sebagai sumber informasi dan pengendali
secara minimal atau sebagai fasilitator (Nursalam. 2007).

9
3) Supervisi
Supervisi adalah kegiatan-kegiatan yang terencana seorang manajer
melalui aktifitas bimbingan, pengarahan, observasi, motivasi dan evaluasi
pada stafnya dalam melaksanakan kegiatan atau tugas sehari-hari (Arwani,
2006).
a) Manfaat dan Tujuan Supervisi
Manfaat tersebut diantaranya adalah sebagai berikut (Suarli & Bachtiar,
2009) :
(1) Supervisi dapat meningkatkan efektifitas kerja. Peningkatan
efektifitas kerja ini erat hubungannya dengan peningkatan
pengetahuan dan keterampilan bawahan, serta makin terbinanya
hubungan dan suasana kerja yang lebih harmonis antara atasan dan
bawahan.
(2) Supervisi dapat lebih meningkatkan efesiensi kerja. Peningkatan
efesiensi kerja ini erat kaitannya dengan makin berkurangnya
kesalahan yang dilakukan bawahan, sehingga pemakaian sumber daya
(tenaga, harta dan sarana) yang sia-sia akan dapat dicegah.
Apabila kedua peningkatan ini dapat diwujudkan, sama artinya
dengan telah tercapainya tujuan suatu organisasi. Tujuan pokok dari
supervisi ialah menjamin pelaksanaan berbagai kegiatan yang telah
direncanakan secara benar dan tepat, dalam arti lebih efektif dan
efesien, sehingga tujuan yang telah ditetapkan organisasi dapat
dicapai dengan memuaskan (Suarli & Bachtiar, 2008).
b) Model-model Supervisi
(1) Model konvensional
Model supervisi dilakukan melalui inspeksi langsung untuk
menemukan masalah dan kesalahan dalam pemberian asuahan
keperawatan. Supervisi dilakukan untuk mengoreksi kesalahan dan
memata-matai staf dalam mengerjakan tugas.
(2) Model ilmiah
Supervisi dilakukan dengan pendekatan yang sudah direncanakan
sehingga tidak hanya mencari kealahan atau masalah saja. Oleh
karena itu supervisi yang dilakukan dengan model ini memilki
karasteristik sebagai berikut yaitu, dilakukan secara

10
berkesinambungan, dilakukan dengan prosedur, instrument dan
standar supervisi yang baku, menggunakan data yang objektif
sehingga dapat diberikan umpan balik dan bimbingan.
(3) Model klinis
Supervisi model klinis bertujuan untuk membantu perawat pelaksana
dalam mengembangkan profesionalisme sehingga penampilan dan
kinerjanya dalam pemberian asuahn keperawatan meningkat.
Supervisi dilakukan secara sistematis melalui pengamatan pelayanan
keperawatan yang diberikan oleh seorang perawat selanjutnya
dibandingkan dengan standar keperawatan.
(4) Model artistic
Supervisi model artistic dilakukan dengan pendekatan personal untuk
menciptakan rasa aman sehingga supervisor dapat diterima oleh
perawat pelaksana yang disupervisi. Dengan demikian akan tercipta
hubungan saling percaya sehingga hubungna antara perawat dan
supervisor akan terbuka dam mempermudah proses supervisi.
4) Delegasi
Pendelegasian (pelimpahan wewenang) merupakan salah satu elemen
penting dalam fungsi pembinaan. Sebagai manajer perawat dan bidan
menerima prinsip-prinsip delegasi agar menjadi lebih produktif dalam
melakukan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Delegasi wewenang adalah
proses dimana manajer mengalokasikan wewenang kepada
bawahannya.Dibawah ini adalah prinsip – prinsip klasik yang dapat dijadikan
dasar untuk delegasi yang efektif :
a) Prinsip scalar.
Proses skalar adalah mengenai perkembangan rantai perintah yang
menghasilkan pertambahan tingkat-tingkat pada struktur organisasi. Proses
skalar dicapai melalui pendelegasian wewenang dan tanggung jawab.
b) Prinsip kesatuan perintah.
Dalam melakasanakan pekerjaan, karyawan harus memperhatikan prinsip
kesatuan perintah sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan baik.
Karyawan harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesuai
dengan wewenang yang diperolehnya. Perintah yang datang dari manajer

11
lain kepada serorang karyawan akan merusak jalannya wewenang dan
tanggung jawab serta pembagian kerja.
c) Tanggung jawab, wewenang, dan akuntabilitas.

5) Timbang Terima
Nursalam (2008), menyatakan timbang terima adalah suatu cara dalam
menyampaikan sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan klien.
Handover adalah waktu dimana terjadi perpindahan atau transfer
tanggungjawab tentang pasien dari perawat yang satu ke perawat yang lain.
Tujuan dari handover adalah menyediakan waktu, informasi yang akurat
tentang rencana perawatan pasien, terapi, kondisi terbaru, dan perubahan yang
akan terjadi dan antisipasinya.
a) Tujuan Timbang Terima
(1) Menyampaikan masalah, kondisi, dan keadaan klien (data fokus).
(2) Menyampaikan hal-hal yang sudah atau belum dilakukan dalam
asuhan keperawatan kepada klien.
(3) Menyampaikan hal-hal penting yang perlu segera ditindaklanjuti oleh
dinas berikutnya.
(4) Menyusun rencana kerja untuk dinas berikutnya.
Timbang terima (handover) memiliki tujuan untuk mengakurasi,
mereliabilisasi komunikasi tentang tugas perpindahan informasi yang
relevan yang digunakan untuk kesinambungan dalam keselamatan dan
keefektifan dalam bekerja.
b) Fungsi Timbag Terima
Timbang terima (handover) memiliki 2 fungsi utama yaitu:
(1) Sebagai forum diskusi untuk bertukar pendapat dan mengekspresikan
perasaan perawat.
(2) Sebagai sumber informasi yang akan menjadi dasar dalam penetapan
keputusan dan tindakan keperawatan.
c) Langkah – langkah Timbang Terima
(1) Kedua kelompok shift dalam keadaan sudah siap.
(2) Shift yang akan menyerahkan perlu menyiapkan hal-hal yang akan
disampaikan.

12
(3) Perawat primer menyampaikan kepada perawat penanggung jawab
shift selanjutnya meliputi:
(a) Kondisi atau keadaan pasien secara umum.
(b) Tindak lanjut untuk dinas yang menerima operan.
(c) Rencana kerja untuk dinas yang menerima laporan.
(d) Penyampaian timbang terima diatas harus dilakukan secara jelas
dan tidak terburu-buri.
(e) Perawat primer dan anggota kedua shift bersama-sama secara
langsung melihat keadaan pasien. (Nursalam, 2007).
d) Tahapan Timbang Terima
(1) Persiapan yang dilakukan oleh perawat yang akan melimpahkan
tanggungjawab. Meliputi faktor informasi yang akan disampaikan
oleh perawat jaga sebelumnya.
(2) Pertukaran shift jaga, dimana antara perawat yang akan pulang dan
datang melakukan pertukaran informasi. Waktu terjadinya operan itu
sendiri yang berupa pertukaran informasi yang memungkinkan
adanya komunikasi dua arah antara perawat yang shift sebelumnya
kepada perawat shift yang datang.
(3) Pengecekan ulang informasi oleh perawat yang datang tentang
tanggung jawab dan tugas yang dilimpahkan. Merupakan aktivitas
dari perawat yang menerima operan untuk melakukan pengecekan
data informasi pada medical record atau pada pasien langsung.

6) Discharge Planning
Menurut Rindhianto (2008) mendefinisikan discharge
planning sebagaiperencanaankepulanganpasiendanmemberikaninformasikepa
dakliendankeluarganyatentanghal-hal yang perludihindaridandilakukan
sehubungandengankondisipenyakitnya.Discharge planning (perencanaan
pulang) merupakan komponen sistem perawatan berkelanjutan, pelayanan
yang diperlukan klien secara berkelanjutan dan bantuan untuk perawatan
berlanjut pada klien dan membantu keluarga menemukan jalan pemecahan
masalah dengan baik, pada saat tepat dan sumber yang tepat dengan harga
yang terjangkau, manfaat Discharge Planning, antara lain :

13
a) Bagi Pasien :
(1) Dapat memenuhi kebutuhanpasien.
(2) Merasakanbahwadirinyaadalahbagiandari proses
perawatansebagaibagian yang aktifdanbukanobjek yang
tidakberdaya.
(3) Menyadarihaknyauntukdipenuhisegalakebutuhannya.
(4) Merasanyamanuntukkelanjutanperawatannyadanmemperoleh
support sebelumtimbulnyamasalah.
(5) Dapat memilih prosedur perawatannya.
(6) Mengerti apa yang terjadi pada dirinya dan mengetahui siapa yang
dapat dihubunginya.
(7) Menurunkan jumlah kekambuhan, penurunan kembali di rumah
sakit, dan kunjungan ke ruangan kedaruratan yang tidak perlu
kecuali untuk beberapa diagnosa.
(8) Membantu klien untuk memahami kebutuhan setelah perawatan dan
biaya pengobatan
b) Bagi Perawat :
(1) Merasakan bahwa keahliannya di terima dan dapat di gunakan.
(2) Menerima informasi kunci setiap waktu.
(3) Memahami perannya dalam sistem.
(4) Dapat mengembangkan ketrampilan dalam prosedur baru.
(5) Memiliki kesempatan untuk bekerja dalam setting yang berbeda dan
cara yang berbeda.
(6) Bekerja dalam suatu sistem dengan efektif.
(7) Sebagai bahan pendokumentasian dalam keperawatan
4. Prinsip– Prinsip Manajemen
1) Prinsip – prinsip manajemen menurut Fayol adalah :
a. Division of work (pembagian pekerjaan)
b. Authority dan responsibility (kewenangan dan tanggung jawab)
c. Dicipline (disiplin)
d. Unity of command (kesatuan komando)
e. Unity of direction (kesatuan arah)
f. Sub ordination of individual to generate interest (kepentingan individu tunduk
pada kepentingan umum)

14
g. Renumeration of personal (penghasilan pegawai)
h. Centralization (sentralisasi)
i. Scalar of hierarchy (jenjang hirarki)
j. Order (ketertiban)
k. Stability of tenure of personal (stabilitas jabatan pegawai)
l. Equity (keadilan)
m. Inisiative (prakarsa)
n. Esprit de Corps (kesetiakawanan korps)
2) Proses Manajemen Keperawatan
Proses manajemen keperawatan sesuai dengan pendekatan sistem terbuka
dimana masing – masing komponen saling berhubungan dan berinteraksi dan
dipengaruhi oleh lingkungan. Karena merupakan suatu sistem maka akan terdiri dari
lima elemen yaitu input, proses, output, kontrol dan mekanisme umpan balik.
Input dari proses manajemen keperawatan antara lain informasi, personel,
peralatan dan fasilitas. Proses dalam manajemen keperawatan adalah kelompok
manajer dari tingkat pengelola keperawatan tertinggi sampai ke perawat pelaksana
yang mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dalam pelaksanaan pelayanan
keperawatan. Output adalah asuhan keperawatan, pengembangan staf dan riset.
Kontrol yang digunakan dalam proses manajemen keperawatan termasuk budget
dari bagian keperawatan, evaluasi penampilan kerja perawat, prosedur yang standar
dan akreditasi. Mekanisme timbal balik berupa laporan finansial, audit keperawatan,
survey kendali mutu dan penampilan kerja perawat.
3) Prinsip-Prinsip yang Mendasari Manajemen Keperawatan
Prinsip – prinsip yang mendasari manajemen keperawatan adalah :
a. Manajemen keperawatan seyogyanya berlandaskan perencanaan karena melalui
fungsi perencanaan, pimpinan dapat menurunkan resiko pengambilan
keputusan, pemecahan masalah yang efektif dan terencana.
b. Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif.
Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun perencanaan
yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu
yang telah ditentukan sebelumnya.
c. Manajemen keperawatan akan melibatkan pengambilan keputusan. Berbagai
situasi maupun permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan kegiatan

15
keperawatan memerlukan pengambilan keputusan di berbergai tingkat
manajerial.
d. Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus perhatian
manajer perawat dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakini
dan ingini. Kepuasan pasien merupakan poin utama dari seluruh tujuan
keperawatan.
e. Manajemen keperawatan harus terorganisir. Pengorganisasian dilakukan sesuai
dengan kebutuhan organisasi untuk mencapai tujuan.
f. Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang
meliputi proses pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian
pelaksanaan rencana yang telah diorganisasikan.
g. Divisi keperawatan yang baik memotivasi karyawan untuk memperlihatkan
penampilan kerja yang baik.
h. Manajemen keperawatan menggunakan komunikasin yang efektif. Komunikasi
yang efektif akan mengurangi kesalahpahaman dan memberikan persamaan
pandangan, arah dan pengertian diantara pegawai.
i. Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan sebagai upaya persiapan
perawat – perawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau upaya
manajer untuk meningkatkan pengetahuan karyawan.
j. Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan yang meliputi
penilaian tentang pelaksanaan rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi
dan menetapkan prinsip – prinsip melalui penetapan standar, membandingkan
penampilan dengan standar dan memperbaiki kekurangan.
Berdasarkan prinsip – prinsip diatas maka para manajer dan administrator
seyogyanya bekerja bersama – sama dalamperenacanaan danpengorganisasian serta
fungsi – fungsi manajemen lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya.
5. Lingkup Manajemen Keperawatan
Keperawatan merupakan disiplin praktek klinis. Manajer keperawatan yang
efektif seyogyanya memahami hal ini dan memfasilitasi pekerjaan perawat
pelaksana. Kegiatan perawat pelaksana meliputi:
a. Menetapkan penggunakan proses keperawatan.
b. Melaksanakan intervensi keperawatan berdasarkan diagnose.
c. Menerima akuntabilitas kegiatan keperawatan yang dilaksanakan oleh perawat.

16
d. Menerima akuntabilitas untuk hasil – hasil keperawatan.
e. Mengendalikan lingkungan praktek keperawatan
Seluruh pelaksanaan kegiatan ini senantiasa di inisiasi oleh para manajer
keperawatan melalui partisipasi dalam proses manajemen keperawatan dengan
melibatkan para perawat pelaksana. Berdasarkan gambaran diatas maka lingkup
manajemen keperawatan terdiri dari:
a. Manajemen operasional
Pelayanan keperawatan di rumah sakit dikelola oleh bidang keperawatan
yang terdiri dari tiga tingkatan manajerial, yaitu:
1) Manajemen puncak
2) Manajemen menengah
3) Manajemen bawah
Tidak setiap orang memiliki kedudukan dalam manajemen berhasil dalam
kegiatannya. Ada beberapa faktor yang perlu dimiliki oleh orang - orang tersebut
agar penatalaksanaannya berhasil. Faktor – faktor tersebut adalah
4) Kemampuan menerapkan pengetahuan
5) Ketrampilan kepemimpinan
6) Kemampuan menjalankan peran sebagai pemimpin
7) Kemampuan melaksanakan fungsi manajemen
b. Manajemen asuhan keperawatan
Manajemen asuhan keperawatan merupakan suatu proses keperawatan
yang menggunakan konsep - konsep manajemen didalamnya seperti perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atau evaluasi.Syarat-syarat
ruangan menjalankan MPKP adalah sebagai berikut:

a) Memiliki fasilitas perawatan yang memadai.


b) Memiliki jumlah perawat minimal sejumlah tempat tidur yang ada.
c) Memiliki perawat pendidikan yang telah terspesialisasi.
d) Seluruh perawat telah memiliki kompetensi dalam perawatan primer.

B. Teori Manajemen Keperawatan


1) Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP)
Terdapat beberapa metode asuhan keperawatan, yaitu metode kasus (total),
metode fungsional, metode tim dan metode keperawatan primer. Akhir-akhir ini

17
terdapat metode pemberian asuhan diferrentiated practice dan manajemen kasus
(loverirdge and Cummings, 1996: Marquist and hutson, 2009).
a. Metode kasus
Merupakan metode pemberian asuhan yang pertama yang digunakan.
Pada metode ini satu perawat akan memberikan asuhan keperawatan kepada
seorang klien secara total pada satu periode dinas. Jumlah klien yang dirawat
oleh satu perawat tergantung pada kemampuan perawat itu dan kompleksnya
kebutuhan klien.
b. Metode fungsional
Pada meode fungsional, pemberian asuhan keperawatan di tekankan
pada penyelesaian tugas dan prosedur. Setiap perawat diberi satu atau
beberapa tugas untuk dilaksanakan kepada semua klien disuatu
ruangan.Seorang perawat dapat bertanggung jawab dalam pemberian obat,
mengganti balutan, memonitor infus, dan lain-lain.Prioritas utama yang
dikerjakan adalah kebutuhan fisik dan kurang menekankan kepada pemenuhan
kebutuhan secara holistik.Mutu asuhan sering terabaikan karena pemberian
asuhan terfragmentasi. Komunikasi antar perawat sangat terbatas sehingga
tidak ada satu perawat yang mengetahui satu klien secara komprehensif,
kecuali mungkin kepala ruang.
c. Metode tim
Metode tim merupakan metode pemberian asuhan keperawatan,
dimana seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga
keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan pada satu kelompok
klien melalui upaya kooperatif dan kolaboratif .
d. Metode primer
Perawatyang menggunakan metode keperawatan primer dalam
pemberian asuhan keperawatan disebut perawat primer (primary nurse). Pada
metode keperawatan primer terdapat kontinutas keperawatan dan bersifat
komprehensif serta dapat dipertanggung jawabkan, setiap perawat primer
biasanya mempunyai 4-6 klien dan bertanggung jawab selama 24 jam selama
klien dirawat dirumah sakit. Perawat primer bertanggung jawab untuk
mengadakan komunikasi dan koordinasi dalam merencanakan asuhan
keperawatan dan juga akan membuat rencana pulang klien jika diperlukan.

18
Jika perawat primer sedang tidak bertugas, kelanjutan asuhan akan
didelegasikan kepada perawat lain (associate nurse).
Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh
sampai keluar rumah sakit. Mendorong praktik kemandirian perawat, ada kejelasan
antara si pembuat rencana asuhan dan pelaksana. Metode primer ini ditandai
dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang
ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan koordinasi keperawatan selama
pasien dirawat.
1. Modifkasi keperawatan tim dan primer
Model MAKP Tim dan Primer digunakan secara kombinasi dari kedua
sistem. penetapan sistem model MAKP ini didasarkan pada beberapa alasan :
a) Keperawatan primer tidak digunakan secara murni, karena perawatan
primer harus mempunyai latar belakang pendidikan S1 keperawatan atau
setara.
b) Keperawatan tim tidak digunakan secara murni, karena tanggung jawab
asuhan keperawatan pasien terfragmentasi pada berbagai tim.

Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan komunitas asuhan


keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada primer,
karena saat ini perawat yang ada di RS sebagian besar adalah lulusan D3,
bimbingan tentang asuhan keperawatan diberikan oleh perawat primer/ ketua
tim. Disamping itu karena saat ini jenis pendidikan perawat yang ada di RS,
mayoritas lulusan D3, mereka akan mendapatkan bimbingan asuhan
keperawatan dari PP.
2) Peran dan Fungsi Perawat pada Metode Praktik Keperawatan Profesional
Pada metode modifikasi keperawatan primer tugas dan tanggung jawab di
dalam melaksanakan asuha keperawatan dibedakan atas tugas dan tanggung jawab
kepala ruang, clinical care manager (CCM), PP dan PA.Disamping itu terdapat
pembantu keperawatan yang membantu pelaksana pemberian asuhan
keperawatan.
1. Kepala ruang rawat
Pada ruang rawat dengan MPKP pemula, kepala ruang rawat adalah
perawat dengan kemampuan DIII keperawatan dengan pengalaman dan pada
MPKP tingkat I adalah perawat dengan kemampuan S. Kep/ Ners dengan

19
pengalaman. Kepala Ruang Rawat bertugas sesuai jam kerja yaitu dinas pagi.
Tugas dan tanggung jawab kepala ruang rawat adalah:
a) Mengatur pembagian tugas jaga perawat (jadwal dinas)
b) Mengatur dan mengendalikan kebersihan dan ketertiban ruangan
c) Mengadakan diskusi dengan staf untuk memecahkan masalah ruangan.
d) Mengorientasikan pegawai baru, residen, mahasiswa kedokteran atau
keperawatan yang akan melakukan praktek di ruangan, anjurkan membaca
format orientasi ruang MPKP.
e) Melakukan kegiatan administrasi dan surat menyurat.
f) Bekerjasama dengan CCM (pembimbing klinik) membimbing
siswa/mahasiswa dalam pemberian asuhan keperawatan dalam pemberian
asuhan keperawatan di ruangan dengan mengikuti sistem MPKP.
g) Menciptakan dan memelihara hubungan kerja yang harmonis dengan klien,
keluarga dan tim kesehatan lain, antara lain kartu bersama CCM dan PP
meningkatkan kembali klien dan keluarga tentang perawat/tim yang
bertanggung jawab terhadap mereka di ruang bersangkutan.
h) Mengecek kelengkapan persediaan mereka di ruangan yang bersangkutan.
i) Bersama CCM melaksanakan pembinaan terhadap PP dan PA dalam hal
penerapan MPKP termasuk sikap tingkah laku profesional.
j) Bila PP cuti, tugas dan tanggung jawab PP tersebut diambil alih oleh Karu/
CCM dan dapat di delegasikan kepada PA senior (wakil PP pemula yang
ditunjuk tetapi tetap dibawah pengawasan kepala ruang).
k) Merencanakan dan memfasilitasi ketersediaan fasilitas yang dibutukan
ruangan.
l) Bersama CCM memonitor dan mengevaluasi penampilan kerja semua
tenaga yang ada di ruangan dan membuat DP3 dan usulan kenaikan
pangkat.
m)Melakukan pertemuan rutin dengan semua perawat setiap bulan untuk
membahas kebutuhan di ruangan.
n) Bersama CCM merencanakan dan melaksanakan evaluasi mutu asuhan
keperawatan.
2. Clinical Care Manager (CCM)
Pada ruang rawat MPKP pemula CCM adalah S. Kep/ Ners dengan
pengalaman dan pada MPKP tingkat I adalah seorang Ners Spesialis.Pada

20
MPKP tingkat II, jumlah ners spesialisasi lebih dari I orang tetapi disesuaikan
dengan kekhususan sesuai kasus yang ada. CCM bertugas sesuai dengan jam
kerja yaitu dinas pagi. Tugas dan tanggung jawab CCM adalah:
a. Melakukan bimbingan dan evaluasi tentang implementasi MPKP. Pada
saat CCM melakukan bimbingan dan evaluasi, kegiatan yang dilakukan
meliputi:
1) Menetapkan secara acak minimal 2 (dua) status yang akan di evaluasi
untuk setiap tim.
2) Bersama dengan PP mengevaluasi status berdasarkan instrumen
evaluasi implementasi MPKP oleh CCM.
3) Apakah diagnosa yang di tetapkan sesuai dengan kondisi klien,
apakah diperlukan pengkajian lebih lanjut, melakukan pengkajian
lebih lanjut sesuai kebutuhan.
4) Apakah diagnosa yang telah ditetapkan masih menjadi masalah klien
atau sudah teratasi, bila sudah teratasi apakah sudah di
dokumentasikan.
5) Apakah semua tindakan keperawatan yang diidentifikasi pada renpra
sudah dilakukan dan didokumentasikan pada format implementasi
tindakan keperawatan.
6) Apakah masalah psikososial sudah di identifikasi. Masalah
psikososial diidentifikasi bila klien dirawat lebih dari 5 hari.
7) Apakah masalah kurang pengetahuan sudah diidentifikasi. Masalah
kurangnya pengetahuan diidentifikasi minimal 4 hari sebelum klien
pulang.
8) Apakah pengisisan hal-hal istimewa sudah dilakukan sesuai panduan.
9) Apakah laporan pergantian dinas diisi sesuai panduan.
10) Apakah laporan perkembangan klien diisi sesuai panduan.
11) Mengindentifikasi masalah yang dihadapi oleh PP dan tim.
12) Mendokumentasikan semua kegiatan tersebut pada buku komunikasi
CCM.

b. Identifikasi masalah klien secara umum untuk mendapat masukan dari


kelompok kerja MPKP.
c. Pada bagian akhir dituliskan nama CCM dan tanda tangan

21
d. Memberikan masukan pada diskusi kasus yang dilakukan PP dan PA
e. Mempresentasikan isu-isu baru terkait dengan asuhan keperawatan.
f. Mempresentasikan evidence yang memerlukan pembuktian
g. Mengidentifikasi masalah penelitian, merancang usulan dan melakukan
penelitian.
h. Menerapkan hasil-hasil penelitian, merancang usulan dan melakukan
penelitian.
i. Bekerja sama dengan kepala ruangan dalam hal : melakukan evaluasi
tentang mutu asuhan keperawatan, mengkordinir, mengarahkan dan
mengevaluasi tentang praktek MPKP.
j. Mengevaluasi pendidikan kesehatan yang dilakukan oleh PP dan memberi
masukan untuk evaluasi.
k. Merancang pertemuan ilmiah untuk membahas hasil evaluasi/penelitian
tentang asuhan keperawatan.
3. Perawat Primer
Pada ruang rawat MPKP pemula, PP pemula adalah perawat dengan
kemampuan DIII keperawatan dengan pengalaman dan pada MPKP tingkat I
adalah perawat dengan kemampuan S. Kep/Ners. PP dapat bertugas pada pagi
hari, sore at malam hari, namun sebaiknya PP hanya bertugas pada pagi atau
sore saja karena bila bertugas pada malam hari, PP akan libur beberapa hari
sehingga sulit menilai perkembangan klien. Bila PP bertugas pada sore hari,
PP harus didampingi minimal 1 orang PA dari timnya.Hal ini bertujuan agar
pada sore hari PP mempunyai waktu untuk menilai perkembangan semua
kliennya.Disamping itu bila PP bertugas sore hari, ia akan menjadi
penanggung jawab pada shift tersebut. Tugas dan tanggung jawab PP adalah
sebagai berikut:
a) Melakukan kontrak dengan klien dan keluarga pada awal masuk ruangan
berdasarkan format orientasi klien dan keluarga sehingga tercipta
hubungan yang terapeutik. Hubungan ini dibina secar terus meneruspada
sat melakukan pengkajian atau tindakan kepada klien atau keluarga.
b) Melakukan pengkajian terhadap klien baru atau melengkapi pengkajian
yang sudah dilakuakn PA score, malam atau hari libur.
c) Menetapkan rencana asuhan keperawatan berdasarkan analisis standar
renpra sesuai hasil pengkajian.

22
d) Menjelaskan renpra yang sudah ditetapkan PA dibawah tanggung
jawabnya sesuai klien yang dirawat (Pre Confrence).
e) Menetapkan PA yang bertanggung jawab pada setiap klien pada setiap
giliran jaga (shift), sesuai kondisi yang ada. Bila PP bertugas dengan 2
orang PA pada satu giliran jaga, maka PA akan merawat semua klien dan
PP akan melakukan tindakan keperawatan sesuai tanggung jawabnya.
Pengaturan ini dilakukan agar PP dapat melakukan semua tugasnya
dengan lebih optimal.
f) Melakukan bimbingan dan evaluasi (mengecek) pada PA dalam
implementasi tindakan keperawatan, apakah sesuai dengan SPO.
g) Monitor dokumentasi yang dilakukan oleh PA.
h) Membantu memfasilitasi terlaksananya kegiatan PA.
i) Melakukan tindakan keperawatan yang bersifat terapi keperawatan dan
tindakan keperawatan yang tidak boleh dilakukan PA
j) Mengatur pelaksanaan konsul dan pemeriksaan laboratorium.
k) Melakuakn kegiatan serah terima klien bersam PA
l) Mendampingi dokter visite klien dibawah tanggung jawabnnya. Bila PP
tidak ada visite di dampingi oleh PA sesuai timnya.
m) Melakukan evaluasi asuhan keperawatan dan membuat catatan
perkembangan klien tiap harinya.
n) Melakukan pertemuan dengan klien dan keluarga minimal tiap 3 hari
untuk mebahas kondisi keperawatan klien.
o) Bila PP cuti/libur, tugas-tugas PP didelegasikan kepada PA yang telah
ditunjuk(wakil PP) sebagai pendamping dengan arahan kepala ruang.
p) Memberikan pendidikan kesehatan kepada klien dan keluarga.
q) Membuat perencanaan pulang.
r) Bekerjasama dengan CCM
s) Mengidentifikasi isu yang memerlukan pembuktian sehingga tercipta
Evidence Based Practice.
4. Perawat asosiate
Kemampuan PA pada MPKP pemula atau MPKP tingkat I, sebaliknya
perawat dengan kemapuan DIII keperawatan. Namun pada beberapa kondisi
bila belum semua tenaga mendapat pendididikan tambahan pada beberapa
ruang MPKP yang dikembangkan,PA adalah perawat berpendidikan SPK

23
yang sudah cukup lama dirumah sakit tersebut. Tugas dan wewenang PA
adalah sebagai berikut :
a) Membaca renpra yang telah ditetapkan oleh PP
b) Mebina hubungan terapeutik dengan klien dan keluaraga, sebagai lanjutan
kontrak yang sudah dilakukan PP.
c) Menerima klien baru (kontrak) dan memberikan informasi berdasarkan
format orientasi klien dan keluarga jika PP tidak ada tempat.
d) Melakukan tindakan keperawatan kepada kliennya berdasarkan renpra.
e) Mengikuti visite dokter bila PP tidak ada ditempat.
f) Mengecek kerapihan dan kelengkapan status keperawatan.
g) Membuat laporan pergantian dinas dan setelah selesai diparaf
h) Mengkomunikasikan PP/ PJ dinas bila menemukan masalah yang perlu
diselesaikan.
i) Menyiapkan klien untuk pemeriksaan diagnostik, laboratorium,
pengobatan dan tindakan.
j) Berperan serta dalampenkes pada klien dan keluarga yang dilakukan PP
k) Melakukan inventaris fasilitas yang terkait dengan timnya.
l) Membantu tim lain yang membutuhkan.
m) Memberikan resep dan menerima obat dari keluarga klien yang menjadi
tanggung jawabnya dengan berkordinasi dengan PP.
5. Pembantu perawat
Tugas dan tanggung jawab pembantu perawat adalah sebagai berikut:
a) Membersihkan ruangan dan meja pasien.
b) Menyediakan alat-alat yang diperlukan untuk tindakan keperawatan atau
kedokteran.
c) Membantu perawat dalam melakukan asuhan keperawatan.
d) Membersihakan alat-alat yang telah digunakan.
e) Mengurus pemberangkatan dan pemulangan pasien konsul.
f) Mengatur urinal dan pispot ke dan dari klien.

C. Pengelolaan Ruangan
Kegiatan pelayanan keperawatan tergantung pada kuantitas dan kualitas
tenaga keperawatan yang memberikan asuhan kepada keluarga/pasien di ruang
perawatan. Untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan diperlukan dukungan

24
sumber daya manusia keperawatan yang mampu mengemban tugas untuk
mempertahankan kualitas pelayanan dan asuhan keperawatan selama 24 jam, serta
mampu mengadakan perubahan.
Untuk dapat melaksanakan pernyataan ini, perlu adanya klasifikasi pasien dan
perencanaan tenaga keperawatan, baik jumlah maupun klasifikasi tenaga keperawatan
sesuai dengan sistem pengelolaan tenaga keperawatan yang ada.
a) Perhitungan Tenaga Kerja
Menurut Departemen Kesehatan RI No. 262 /Men.Kes/Per/VII/2003,
tentang standar tenaga keperawatan di Rumah Sakit menyatakan bahwa kebutuhan
tenaga keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit dapat diperhitungkan
berdasarkan pendekatan sebagai berikut :
1. Berdasarkan Klasifikasi Pasien
Jumlah Jam Perawatan

Jam Kerja Efektif Per Shif

Untuk penghitungan jumlah tenga tersebut perlu ditambah untuk mengatasi


adanya tenaga lepas dinas dan jumlah tenaga keperawatan yang mengerjakan
tugas non keperawatan, yaitu :
2. Hari Libur/Cuti/Hari Besar (Loss Day)

Jumlah Hari Minggu Dalam 1 Tahun+Cuti+Hari Besar x Jumlah Perawat Tersedia

Jumlah Hari Kerja Efektif

Jumlah tenaga keperawatan yang mengerjakan tugas non keperawatan


3. Berdasarkan Tingkat Ketergantungan Pasien
Contoh Penghitungan tenaga perawat berdasarkan tingkat ketergantungan
pasien

Jumlah Tenaga Keperawatan + Loss Day x 25

100

Perbandingan Rumah Sakit kelas/tipe A,B,C adalah sebagai berikut :


Jumlah Tenaga Perawat : Jumlah Tempat Tidur
RS Kelas A = 4 perawat : 2 tempat tidur

25
RS Kelas B = 3 perawat : 2 tempat tidur
RS Kelas C = 1 perawat : 1 tempat tidur
Menurut Douglas (1984 dalam Swanburg 2012), tingkat ketergantungan
pasien dibagi menjadi 3 instrumen penilaian, yaitu:
1) Perawatan minimal (1-2 jam/24 jam)
a) Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri
b) Makan dan minum dilakukan sendiri
c) Ambulasi dengan pengawasan
d) Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap pergantian jaga
e) Pengobatan minimal, status psikologis stabil
f) Perawatan luka sederhana
2) Perawatan intermediate / partial (3-4 jam/24 jam)
a) Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu
b) Observasi TTV tiap 4 jam
c) Ambulasi dibantu
d) Pengobatan dengan injeksi
e) Terpasang kateter urine
f) Terpasang infus
g) Observasi dengan balance ketat
3) Perawatan maksimal / total (5-6 jam/24 jam)
a) Semua kebutuhan pasien dibantu
b) Perubahan posisi, observasi TTV tiap 2 jam
c) Makan melalui selang NGT
d) Pemakaian suction
e) Pasien gelisah atau disorientasi
f) Perawatan luka kompleks
Catatan:
- Dilakukan 1xsehari pada waktu yang sama dan sebaiknya dilakukan oleh
perawat yang sama selama 2 hari
- Setiap pasien minimal memenuhi 3 kriteria berdasarkan klasifikasi pasien
- Bila hanya memenuhi 1 kriteria maka pasien dikelompokkan pada klasifikasi
diatasnya.
b) Standar Tenaga Perawat Menurut Depkes RI (2008)
1. BOR (Bed Occupancy Ratio = Angka Penggunaan Tempat Tidur

26
Menurut Depkes RI (2008), BOR adalah prosentase pemakaian tempat
tidur pada satuan waktu tertentu. Indikator ini member gambaran tinggi
rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Nilai parameter
BOR yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI, 2008)
Rumus :

(Jumlah Hari Perawatan di Rumah Sakit) x 100%

(Jumlah Tempat Tidur x Jumlah Hari dalam Satu Periode)

2. ALOS (Average Length of Stay = Rata-Rata lamanya pasien di rawat)


Menurut Depkes RI (2008) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien.
Rata-rata LOS tiap 6-9 hari. Indikator ini disamping memberikan gambaran mutu
pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang
perlu pengamatan lebih lanjut.
Rumus :

(Jumlah Lama dirawat)

Jumlah Pasien Keluar (Hidup + Mati)

3. TOI (Turn Over Interval = Tenggang Perputaran)


TOI menurut Depkes RI (2008) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak
ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan
gambaran tingkat efisiensi penggunanaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur
kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.
Rumus :

(Jumlah tempat tidur x Periode) – Hari Perawatan

Jumlah Pasien Keluar (Hidup + Mati)

c) Pengendalian Infeksi Nosokomial


Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang
disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Infeksi yang muncul
selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu

27
gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi
nosokomial.
Infeksi nosokomial (Inos) adalah infeksi yang didapat atau timbul pada waktu
pasien dirawat di rumah sakit. Rumah sakit merupakan suatu tempat orang sakit
dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat. Ditempat ini pasien
mendapatkan terapi dan perawatan untuk agar mendapat kesembuhan. Akan
tetapi, rumah sakit dapat juga merupakan tempat bagi berbagai macam penyakit
yang berasal dari penderita maupun dari pengunjung yang berstatus pembawa
(carier). Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang dilingkungan rumah
sakit, seperti udara, air, lantai, makanan, dan benda-benda medis maupun non
medis. Mulai tahun 2001, Depkes RI telah memasukkan pengendalian infeksi
nosokomial sebagai salah satu tolak ukur kreditas rumah sakit (Nursalam, 2011).
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak tenaga kesehatan untuk mencegah
terjadinya infeksi nosokomial. Salah satu upayanya adalah penerapan universal
precaution (perlindungan diri). Akan tetapi peningkatan kejadian infeksi
nosokomial tetap terjadi.
1. Faktor Penyebab Terjadinya Infeksi Nosokomial
a) Ageninfeksi
Pasienakanterpaparberbagaimacammikroorganismselamadirawat di
rumahsakit.Kontakantarapasiendanberbagaimacammikroorganismeinitida
kselalumenimbulkangejalakliniskarenabanyaknya factor lain yang
dapatmenyebabkanterjadinyainfeksinosokomial.
Kemungkinanterjadinyainfeksitergantungpada:
(1) Karakteristikmikroorganisme.
(2) Resistensiterhadapzat-zatantibiotika.
(3) Tingkatvirulensi.
(4) Banyaknyamateriinfeksius
b) Respon dan toleransi tubuh pasien
Faktorterpenting yang mempengaruhitingkattoleransi dan
respontubuhpasiendalamhaliniadalah:
(1) Usia.
(2) Statusimunitaspenderita.
(3) penyakit yang diderita.
(4) Obesitasdanmalnutrisi.

28
(5) Orang yang menggunakanobat-obatan.
(6) Imunosupresandan steroid.
(7) Intervensi yang dilakukanpadatubuhuntukmelakukan diagnose
danterapi.
c) Infeksi melalui kontak langsung dan tidak langsung
Infeksi yang terjadi karena kontak secara langsung atau tidak langsung
dengan penyebab infeksi. Penularan infeksi ini dapat melalui tangan, kulit
dan baju,seperti golongan staphylococcus aureus. Dapat juga melalui
cairan yang diberikan intravena dan jarum suntik, hepatitis dan HIV.
Peralatan dan instrumen kedokteran. Makanan yang tidak steril, tidak
dimasak dan diambil menggunakan tangan yang menyebabkan terjadinya
infeksi silang
d) Patient Safety
Patient Safety atau keselamatan pasien adalah suatu system yang
membuat asuhan pasien di rumah sakit menjadi lebih aman. Sistem ini mencegah
terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu
tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.Tujuan “Patient
safety” antara lain:
1) Terciptanya budaya keselamatan pasien di RS.
2) Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit thdp pasien dan masyarakat.
3) Menurunnya KTD di RS.
4) Terlaksananya program-program pencegahan sehinga tidak terjadi
pengulangan KTD
Program keselamatan pasien adalah suatu usaha untuk menurunkan
angka kejadian tidak diharapkan (KTD) yang sering terjadi pada pasien selama di
rawat di rumah sakit sehingga sangat merugikan baik pasien itu sendiri maupun
pihak rumah sakit. KTD bisa disebabkan oleh berbagai faktor antara lain beban
kerja perawat yang tinggi, alur komunikasi yang kurang tepat, penggunaan sarana
kurang tepat dan lain sebagainya (Nursalam.2011).
Indikator keselamatan pasien (IPS) bermanfaat untuk mengidentifikasi
area-area pelayanan yang memerlukan pengamatan dan perbaikan lebih lanjut,
misalnya untuk menunjukkan:
1) Adanya penurunan mutu pelayanan dari waktu kewaktu.

29
2) Bahwa suatu area pelayanan ternyata tidak memenuhi standart klinik atau
terapi sebagaimana yang diharapakan.
3) Tingginya variasi antar rumah sakit dan antar pemberi pelayanan.
4) Ketidaksepadanan antar yunit pelayanan kesehatan (misalnya pemerintah
dengan swasta atau urban dengan rural).
Keselamatan pasien sangat utama bagi pelayanan kesehatan, yaitu meliputi :
a. Resiko Jatuh
Pasien dikatagorikan beresiko jatuh pasien apabila mempunyai satu
atau lebih faktor beresiko jatuh pada saat pengkajian :
1) Faktor resiko intrinsik, antara lain:
a) Karekteristik pasien dan fungsi fisik umum
b) Diagnosis/ perubahan fisik
c) Mediasi dan interaksi obat
2) Faktor ekstrinsik (lingkungan) antara lain:
a) Tingkat pencahayaan
b) Permukaan lantai
c) Furnitur
d) Ketinggian tempat tinggi, kunci tempat tidur
e) Call bell
f) Penggunaan alat bantu
g) Lama dirawat

30
BAB III

PENGKAJIAN RUANGAN

A. Profil dan Gambaran Umum


1. Profil RSUD dr. R. Soetrasno Rembang
Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan
rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat menurut undang-undang RI No.340 tahun
2010 tentang Rumah Sakit. RSUD dr. R. Soetrasno Rembang adalah sebuah rumah
sakit tipe C milik pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang berada di kota Rembang.
a. Visi RSUD dr. R. Soetrasno Rembang
“Menjadi rumah sakit unggulan di Jawa Tengah bagian timur”.
Penjelasan :
1) RSUD dr. R. Soetrasno Rembang ingin menjadi rumah sakit ungulan di
wilayah Jawa Tengah bagian Timur dalam memberikan pelayanan
kesehatan.
2) RSUD dr. R. Soetrasno Rembang unggul dalam pelayanan mencakup
sebagian aspek yaitu : transparansi, akuntable, pelayanan prima, bersih dan
professional.
b. Misi RSUD dr. R. Soetrasno Rembang
1) Menyelenggarakan pelayanan rumah sakit yang prima (cepat, tepat, ramah)
dan inovatif.
2) Mengupayakan peningkatan mutu pelayanan melalui pemenuhan SDM,
akreditasi, dan sertifikasi.
3) Mungupayakan kompetensi sumber daya manusia (SDM), sarana dan
prasarana rumah sakit.
4) Menjalin kerjasama dengan institusi yang terkait untuk meningkatkan
kinerja.
c. Kebijakan Mutu RSUD dr. R. Soetrasno Rembang
“Kami seluruh karyawan RSUD dr. R. Soetrasno Rembang Berkomitmen untuk
mencapi kepuasan pelangan dengan senantiasa”
1) Meningkatkan profesionalisme
2) Meningkatkan sarana prasarana sesuai kebutuhan pelanggan

31
3) Menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2018 dan akreditasi rumah
sakit secara efektif dan efisien
d. Motto RSUD dr. R Soetrasno Rembang
Rumah dan professional
e. Falsafah RSUD dr. R. Soetrasno Rembang
“Bekerja di rumah sakit merupakan ibadah dan wujud pengabdian kepada
kemanusiaan”
f. Nilai-Nilai Atau Budaya Rumah Sakit RSUD dr. R. Soetrasno Rembang
1) Bekerja dengan kapasitas optimal
2) Menghindari perilaku negative
3) Membuat komitmen demi keberhasilan organisasi
4) Royal pada atasan, organisasi, teman sejawat, dan mampu mengembangkan
potensi.
5) Menampilkan perilaku yang bersifat fungsional dan berdedikasi
g. Tujuan RSUD dr. R. Soetrasno Rembang
1) Terwuudnya RSUD dr. R. Soetrasno Rembang yang mempunyai fasilitas
yang memadai serta memiliki sumber daya manusia yang professional
2) Terwujudnya pelayanan kesehatan prima dengan biaya yang terjangkau oleh
masyarakat serta memberikan kepuasan bagi penggunan jasa rumah sakit
3) Terciptanya iklim kondusif yang menunjang daya saing rumah sakit.
2. Profil dan Gambaran Umum Ruang Teratai
a. Profil Ruangan
Ruang teratai berada di lantai dua di bawah paviliun kartini dekat dengan
parkiran bagian belakang. Ruang teratai merupakan tempat rawat inap yang
memberikan pelayanan di bidang penyakit dalam. Ruang ini merupakan ruang
kelas dua dan tiga dengan kapasitas total 22 bead.
3. Fasilitas Ruang Teratai
a. Fasilitas ruangan secara umum
Ruang teratai merupakan ruangan rawat inap yang memiliki 16 ruangan dengan
kapasitas 22 bead ( kelas 2 berisi 6 bed dan kelas 3 berisi 16 bead). Ners station
berada di luar ruangan. Ruang teratai merupakan ruangan yang minimalis,
dengan fasilitas 1 kamar mandi untuk pegawai, 2 kamar mandi pasien, ruang
pengoplosan obat, ruang kepala ruang dan loker obat pasien.

32
Fasilitas lain yang terdapat di ners station yang meliputi 1 meja perawat, 5 kursi,
2 wastafel, 1 buah computer, 4 almari (almari obat, almari dokumen, almari
perlengkapan medis dan almery linen), dan 1 buah troli, 1 buah apar, 2 buah
televisi, 3 buah kipas angina, 1 AC, dan tempat sampah (sampah medis
infeksius, sampah medis non infeksius, sampah non medis dan sampah benda
tajam). Fasilitas yang terdappat di ruang pengoplosan obat meliputi sebuah
kulkas, kipas angin, meja, kursi, dan sampah benda tajam.
b. Fasilitas kamar perawatan
1) Kelas 2
Fasilitas yang terdapat di ruang perawatan kelas 2 meliputi 1 bead, 1 kipas
angin, 1 televisi, 1 lampu, oksigen, kursi, almari, dan tempat sampah non
medis.
2) Kelas 3
Fasilitas yang terdapat di dalam ruang pelayanan kelas 3 meliputi 2-3 bead,
1 buah lampu, oksigen, kursi, almari, dan tempat sampah non medis.
4. Denah Ruang Teratai RSUD dr. R. Soetrasno Rembang
Skema 3.1
Denah Ruang Teratai

A B C D E F
G H

II

Sumber : Hasil observasi di Ruang Teratai RSUD dr. R. Soetrasno Rembang

33
Keterangan :

A = Ruang administrasi
B = kamar mandi pegawai
C = dapur
D = Ruang karu dan obat
E = lift
F = kamar mandi pasien
G = Ners Station
H = ruang EEG
I = Kamar pasien

5. Struktur Organisasi Ruang Teratai

KEPALA RUANGAN

MARNINGSIH, S.Kep

PENANGGUNG JAWAB
ADMINISTRASI/LOGISTIK

HESTI WAHYU W.

KATIM I KATIM II

ALI GHUFRON, S.Kep. Ns NAFIATUL CH, S. KEP, Ns

PENANGGUNG JAWAB SHIFT PENANGGUNG JAWAB SHIFT


(PJS) (PJS)

1. WAHYU PRONA L, A.Md. Kep 1. TRI PRAPININGRUM, A.Md.


2. WAHYU DHIKA F, A.Md. Kep Kep
3. APRIANI ARNAWATI, A.Md. 2. NAUFAL NABRIZ, S.Kep., Ns
Kep

PERAWAT ASSOCIATE PERAWAT ASSOCIATE

1. LESTARI KARIYANINGSIH, A.Md. 1. KHANIF KURNIAWAN, A.Md. Kep


Kep 2. ENDANG PUJI L, A.Md. Kep
2. RIZKI APRILLIA, S.Kep. NS 3. RATNA MUTHIUL IZZAH, A.Md. Kep
3. SHOLIHATUL IZMI, A.Md. Kep 4. ANITA KUSUMA NINGRUM, A.Md. Kep

Sumber: Data Kepegawaian Ruang Teratai RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang

34
6. Tata tertib RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang
a. Tata tertib pasien, penunggu dan pengunjung RSUD dr. R. Soetrasno Rembang
Pengunjung adalah bagian penting dari proses penyembuhan pasien. Karena
itu, kami menganjurkan keluarga dan teman pasien melakukan kunjungan ke
rumah sakit. Waktu berkunjung terbatas. Untuk menjaga ketenangan dan
kenyamanan pasien dan pasien lainnya, kunjungan hanya dapat dilakukan saat
jam berkunjung, dilakukan secara bergantian, tidak berbicara keras, dan segera
meninggalkan ruang perawatan bila jam kunjung usai.
Privasi pasien sangat penting bagi kami. Karena itu hubungi perawat, bila
pasien ingin membatasi kunjungan untuk sementara waktu pasien belum dapat
menerima kunjungan kerabat. Sebaiknya keluarga pasien/kerabat tidak
melakukan kunjungan terlebih dulu jika kondisi badan tidak fit, sedang flu,
demam, dsb. Anak-anak dibawah umur 14 th tidak diizinkan berkunjung karena
daya tahan tubuh yang masih rendah.
1) RSUD dr. R. Soetrasno Rembang merupakan kawasan tanpa rokok
2) Penderita penunggu dan pengunjung tidak diperkenankan :
a) Memakai perhiasan
b) Membawa uang dalam jumlah besar dan barang-barang berharga (barang
berharga yang hilang bukan menjadi tanggung jawab RSUD dr. R.
Soetrasno Rembang).
c) Merokok dilingkungan rumah sakit
d) Menggunakan air secara berlebihan dan mencuci pakaian
3) Anak dibawah usia 14 tahun tidak diperkenankan masuk ke dalam ruang
perawatan untuk mencegah infeksi
4) Penderita, penunggu dan pengunjung turut menjaga lingkungan yang bersih
aman dan nyaman
5) Untuk ketertiban dan keamanan di ruangan-ruangan RSUD dr. R. Soetrasno
Rembang maka :
a) Tidak diperkenankan duduk di tempat tidur kosong/tempat tidur
pasien/kursi roda maupun kereta dorong
b) Tidak diperkenankan membawa tikar, karpet, kasur, senjata tajam dan
senjata api
c) Tidak diperkenankan membuat keributan/berteriak di dalam ruangan
keperawatan

35
d) Gunakan bel sesuai dengan kebutuhan, 1 - 2 kali bel, tunggu 3-5 menit
e) Makanan dan minuman untuk pasien tanpa seijin Dokter yang merawat
6) Batas waktu pasien pulang pukul 14.00 WIB setiap harinya, bila pasien
pulang diatas 14.00WIB akan dikenakan biaya kamar.
7) Penunggu wajib mengetahui waktu berkunjung, waktu berkunjung rawat
inap :
Pagi pukul 10.00-12.00 WIB
Sore pukul 17.00-20.00 WIB
8) Waktu makan pasien :
Pagi : pukul 06.00
Siang : pukul 12.00
Sore : pukul 18.00
9) Untuk pasien diruang perawatan intensif pengunjung hanya diijinkan
melihat dari kaca (tidak boleh masuk ke ruang rawat)
10) Untuk penunggu pasien di ruang rawat inap 1 orang, di ruang rawat inap
anak 2 orang.
b. Biaya Perawatan di Rumah Sakit RSUD dr. R. Soetrasno Rembang
1) Untuk penyelesaian biaya perawatan di rumah sakit RSUD dr. R. Soetrasno
Rembang setelah menerima pemberitahuan dari petugas ruang perawatan
2) Pembayaran dilakukan dibagian kasir atau Bank Jateng setelah menerima slip
penyetoran dari kasir
3) Setelah dinyatakan lunas, maka pasien/keluarga pasien mendapatkan kuitansi
asli
4) Pasien/keluarga pasien kembali ke kantor ruang keperawatan dan
menunjukkan kuitansi asli kepada perawat untuk mengambil sisa obat dan
hasil pemeriksaan lainnya, selanjutnya pasien diperkenankan meninggalkan
ruang perawatan.
c. Pelayanan Administrasi di Rumah Sakit RSUD dr. R. Soetrasno Rembang
1) Yang perlu dilakukan dan dibawa ke RSUD dr. R. Soetrasno Rembang
adalah :
a) Mendaftarkan ke tempat pendaftaran pasien (TPP)
b) Bila pasien adalah peserta asuransi/tanggungan adalah :

36
(1) Sampaikan kepada petugas kami (TPPRI), jika pasien adalah peserta
asuransi/tanggungan (perusahaan, asuransi, BPJS kesehatan atau
BPJS ketenaga kerjaan) pelayanan kesehatan
(2) Membawa surat pengantar (rujukan) dari Puskesmas atau dokter
keluarga
(3) Menunjukkan kartu identitas diri (KTP) dan KK
(4) Menunjukkan kartu peserta asuransi asli
(5) Pelayanan di luar plafon/tanggungan ditanggung sendiri oleh pasein
2) Waktu pendaftaran rawat jalan
Senin -Kamis : pukul 07.30 – 12.00 WIB
Jumat : pukul 07.30 – 10.00 WIB
Sabtu : pukul 07.30 – 11.30 WIB
Pasien yang sudah terdaftar akan dilayani sampai selesai
Pasien di luar jam pendaftaran dalam kondisi gawat darurat dapat dilayani di
IGD
Minggu serta hari libur tutup
3) Instalasi Gawat Darurat (buka 24 jam)
4) Pelayanan Rawat Inap (buka 24 jam)
5) Pelayanan Penunjang Medik (farmasi, laboratorium dan radiologi) (melayani
24 jam)
6) Ambulance (24 jam)
7) Pelayanan Kasir (24 jam)

B. Analisa Situasi ruangan


1. Man (Manusia)
a. Pasien
1) Data Jumlah Pasien
Tabel 3.1
Jumlah Pasien di Ruang Teratai RSUD dr. R. Soetrasno Rembang Bulan
Periode September-November 2018
No Bulan Jumlah Pasien Masuk
1 September 116
2 Oktober 145
3 November 128
Jumlah 389
Rata-Rata 130

Sumber: Dokumentasi Instalasi Rawat Inap RSUD dr. R Soetrasno


rembang 37
Kapasitas ruang teratai adalah 22 bead. Hasil dokumentasi di temukan
jumlah pasien 3 bulan terakhir adalah 389 pasien dengan rata-rata 130
pasien perbulan. .

2) Demografi Pasien RSUD dr. R. Soetrasno Rembang


Tabel 3.2
Data Demografi Pasien di Ruang Teratai RSUD dr. R. Soetrasno Rembang

No Domisili Jumlah Persentase (%)


1 Rembang 50 91 %
2 Pati 3 5%
3 Blora 1 2%
4 Kudus 1 2%
Jumlah 55 100 %

Sumber: Dokumentasi Instalasi Rawat Inap Ruang Teratai

Hasil yang di dapatkan pengkajian pada tanggal 5 – 10 Desember 2018


bahwa domisili pasien rawat inap paling banyak adalah pasien dari daerah
rembang 50 orang (91 %). Sedangkan dari pati 3 orang (5 %), dan paling
sedikit asien berdomisili Blora dan kudus masing-masing sebanyak 1
orang (2 %).

3) 10 Besar Gangguan Sistem Penyakit di RSUD dr. R Soetrasno Rembang


periode September-November 2018
Tabel 3.3
Distribusi 10 Besar Penyakit di RSUD dr. R. Soetrasno Rembang Periode
September – November 2018

No Nama Penyakit Jumlah Kasus Jumlah Keluar Mati


1 Anemia 444 26
2 Hipertensi 264 11
3 GEA 177 1
4 Dispepsia 167 0
5 Pneumonia 161 28
6 DM 150 28
7 Gastristis 143 5
8 SNH 133 23

38
9 CHF 88 11
10 Aritmia 84 55
Jumlah 1811 188

Sumber: Data Kepegawaian Ruang Teratai RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang
Hasil yang didapatkan dari pengkajian pada bulan September – November
Hasil yang didapat pada pengkajian pada bulan September – November
2018 bahwa 10 besar penyakit yang terdapat di rumah sakit sebagian besar
adalah Anemia sebanyak 444 kasus dan paling sedikit adalah Aritmia
sebanyak 84 kasus. Hasil data di rumah sakit menyatakan bahwa 10 kasus
terbesar selalu berubah dan tidak dapat diprediksi setiap bulannya.

4) 10 Besar Gangguan Sistem Penyakit di Ruang Teratai RSUD dr. R


Soetrasno Rembang periode September-November 2018
Tabel 3.4
Distribusi 10 Besar Penyakt di Ruang Teratai RSUD dr. R. Soetrasno
Rembang Periode September – November 2018

No Nama Penyakit Jumlah Kasus


1 Anemia 106
2 Abdomen pain 78
3 Gastritis 66
4 DM 59
5 Febris 59
6 HT 51
7 CKD 46
8 Dypnea 40
9 TB 31
10 CHF 28
Jumlah 564

Hasil yang didapatkan dari pengkajian pada bulan September – November


2018 bahwa 10 besar penyakit yang terdapat di ruang teratai sebagian
besar adalah Anemia sebanyak 106 kasus dan paling sedikit adalah CHF
sebanyak 28 kasus. Hasil data di ruang teratai menyatakan bahwa 10 kasus
terbesar selalu berubah dan tidak dapat diprediksi setiap bulannya.

39
5) 5 Besar Diagnosa Keperawatan di Ruang Teratai
Tabel 3.5
Diagnosa Keperawatan di Ruang Teratai di Ruang Teratai RSUD dr. R.
Soetrasno Rembang

No. Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri akut
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3. Ketidakefektifan pola nafas
4. Gangguan pola tidur
5. Intoleransi aktifitas
Sumber : Hasil observasi dan wawancara perawat di Ruang Teratai RSUD
dr. R. Soetrasno

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan perawat diperoleh


hasil lima diagnosa terbesar itu muncul karena Ruang Teratai merupakan
bangsal penyakit dalam dimana banyak pasien dengan berbagai jenis
penyakit dari penyakit tidak menular, menular dan isolasi sehingga
diagnosa keperawatan yang muncul adalah diagnosa keperawatan yang
dilakukan setelah pengkajian yang di dukung oleh data penunjang.

b. Ketenagaan
1) Kualitas
a) Komponen Tenaga Keperawatan
Perawat adalah profesi yang sifat pekerjaannya selalu berada dalam situasi
yang menyangkut hubungan antar manusia, terjadi proses interaksi serta
saling mempengaruhi dan dapat memberikan dampak terhadap tiap-tiap
individu yang bersangkutan (Suhaemi, 2008).
Tabel 3.6
KlasifikasiPendidikan Formal Tenaga KeperawatanDi Ruang TerataiRSUD
dr. R. Soetrasno Rembang
No Kualifikasi Jumlah Masa Kerja Status
1 SI Ners 4 3 (>10 Th) PNS
1 (<10 Th) Magang
2 S1 Keperawatan 1 1 (>10 Th) PNS
3 D III Keperawatan 11 2 (<10 Th) PNS
4 (<10 Th) BLUD
5 (<10 Th) Magang
Total 16
Sumber : Data kepegawaian di ruang Teratai RSUD Dr. R. Soetrasno Rembang

40
Hasil Analisa :
Berdasarkan tabel komponen Tenaga Keperawatan diketahui bahwa
terdapat 4 orang tenaga keperawatan yang memiliki kualifikasi pendidikan
Ners dengan masa kerja >10 tahun dan berstatus PNS, 1 orang tenaga
keperawatan yang memiliki masa kerja <10 tahun dan status BLUD,
sedangkan dari tenaga keperawatan yang memiliki kualifikasi D III
Keperawatan dengan masa kerja <10 tahun dan berstatus PNS berjumlah 2
orang dan BLUD berjumlah 4 orang di ruang Teratai RSUD dr. R.
Soetrasno Rembang.
Tabel 3.7
Distribusi Karyawan Berdasarkan Pendidikan dan Pelatihan di Ruang Teratai
RSUD dr. R. Soetrasno Rembang

No Nama Pendidikan Pelatihan Yang Pernah Diikuti


1 Marningsih S1 Kep PPI
2 Naufal Nabris S1 Kep BTCLS, in house training
Ners (persiapan menghadapi bencana
dan efakuasi pelatihannhidup
besar), pelatian exalent untuk
rumah sakit, pelatihan internal
pencegahan dan pengendalian
infeksi (PPI) dan kesehatan
keselamatan kerja (K3RS).
3 Nafiatul Chilimah S1 Kep BTCLS, Pelatiha Bantuan Hidup
Ners Dasar, Pelatihan Heart Education
dan Pemberian Edukasi Pada
Pasien Dan Keluarga.
4 Ali Ghufron S1 Kep BTCLS, Perawatan Luka Modern
Ners
5 Apriani Arnawati Amd. Kep BTCLS
6 Wahyu Prona L Amd Kep BTCLS, Pelatihan Kesiapan
Menghadapi Bencana
7 Wahyu Dhika F Amd Kep BTCLS, Penanggulangan Gawat
Darurat (PPGD), Pelatihan
Internal Pencegahan Dan
Pengendalian Infeksi (PPI) dan
Kesehatan Keselamatan Kerja
Rumah Sakit (K3RS)
8 Erviana Linda Amd Kep BTCLS, Pelatihan Internal
Pencegahan Dan Pengendalian
Infeksi (PPI) dan Kesehatan
Keselamatan Kerja Rumah Sakit
(K3RS), Pelatihan Bantuan Hidup
Dasar.
9 Rizki Aprilia S1 Kep BTCLS

41
Ners
10 Lestari Amd Kep BTCLS
Karyaningsih
11 Sholikhatul Ismi Amd Kep BTCLS
12 Ratna Muthiul I Amd Kep BTCLS
13 Endang Puji Amd Kep BTCLS
14 Anita Kusuma N Amd Kep BTCLS
15 Khanif Kurniawan Amd Kep BTCLS, Pelatihan Unit Khusus
KGD
16 Tri Prapiningrum Amd Kep BTCLS, Bantuan Hidup Dasar
Bagi Karyawan, Pelatihan Internal
Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi (PPI) dan Kesehatan
Keselamatan Kerja Rumah Sakit
(K3RS)
17 Hesti Wahyu W S1 Administrasi

b) Komponen Tenaga Non-Keperawatan

Tabel 3.8
KlasifikasiPendidikan Formal Tenaga Non-KeperawatanDi Ruang
TerataiRSUD dr. R. Soetrasno Rembang

No Jabatan Jumlah Masa Kerja Status


1 Administrasi dan 1 1 (<10 Th) PNS
Investaris
Total 2
Sumber : Data kepegawaian Non-keperawatan di ruang Teratai RSUD dr. R.
Soetrasno Rembang

Hasil Analisa :
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa tenaga non-keperawatan didapatkan
1 orang tenaga administrasi dengan masa kerja <10 tahun dan berstatus PNS
di ruang Teratai RSUD dr. R. Soetrasno Rembang.

42
2) Kuantitas
Penentuan kebutuhan tenaga keperawatan harus memperhatikan beberapa
faktor terkait beban kerja perawat, diantaranya adalah jumlah klien yang
dirawat per hari, per bulan, per tahun dalam suatu unit, kondisi atau tingkat
ketergantungan klien, rata-rata hari perawatan klien, pengukuran perawat
langsung dan tidak langsung, frekuensi tindakan yang dibutuhkan, rata-rata
waktu perawatan langsung dan tidak langsung, pemberian cuti (Rakhmawati,
2008).
a) Jumlah kebutuhan tenaga perawat tiap shift di ruang Teratai menurut
Douglas, Sebagai berikut :

Tabel 3.9
KlasifikasiPendidikan Formal Tenaga Non-KeperawatanDi Ruang
TerataiRSUD dr. R. Soetrasno Rembang

Kualifikasi Pasien Jumlah Kebutuhan Tenaga


Tingkat Jumlah Pagi Sore Malam
Ketergantungan Pasien
Minimal 3 3 x 0,17 = 0,51 3 x 0,14 = 0,42 3 x 0,07 = 0,21
Pembulatan : 1 Pembulatan : 1 Pembulatan : 1
Parsial 14 14 x 0,27 = 3,78 14 x 0,15 = 2,10 14 x 0,10 = 1,40
Pembulatan : 4 Pembulatan : 2 Pembulatan : 1
Total 5 5x 0,36 = 1,80 5 x 0,30 = 1,50 5 x 0,20 = 1
Pembulatan : 2 Pembulatan : 2 Pembulatan : 1
Jumlah 22 7 5 3

Total tenaga perawat di ruang Teratai RSUD dr. R. Soetrasno Rembang yaitu :

Pagi : Berjumlah 7 perawat

Sore : Berjumlah 5 perawat

Malam : Berjumlah 3 perawat

43
b) BOR di ruang Teratai
Menurut Rumus DEPKES RI 2005
(𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑑𝑖 𝑅𝑆)𝑥 100%
( 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑡𝑖𝑑𝑢𝑟 𝑥 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 1 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒)
329 x 100%
22 x 31
329 x 100%
682
= 48,24 %

c) Perhitungan Kebutuhan Tenaga Keperawatan


(1) Menurut Gillies dengan perhitungan sebagai berikut :
A x B x 365
Tenaga Perawat :
(365−C) x jam kerja/hari

Keterangan :
A : jam perawatan/24 jam
B : (BOR x jumlah TT) jumlah pasien
C : jumlah hari libur
4x(48,24% x 22)x 365
Tenaga perawat :
(365−78) x 7
: 14,5 Orang 15 Orang

(2) Menurut Nursalam (2015) dengan perhitungan sebagai berikut :


Jam perawatan 24 jam x 7 hari ( ∑TT) x BOR
W= + Koreksi 25 %
Hari kerja efektif x 40 jam
4 x 7 x 22 x48,24
W = 41 minggu x 40jam + 25%

W =18,36 18 orang + 0, 25
Keterangan :
W = Jumlah kebutuhan perawat
TT = Tempat Tidur
BOR = Bed Occupancy Rate

44
2. Money (Sumber Daya)
Berdasarkan hasil wawancara dengan Marningsih, S.Kep. pada tanggal
5Desember 2018, sumber dana yang didapat di Ruang Teratai bersumber dari
Rumah Sakit, sehingga ruangan tidak memerlukan anggaran sendiri. Anggaran dana
diruang Teratai diperoleh dari:
1. BLUD (Badan Layanan Umum Daerah)
BLUD adalah satuan kerja perangkat daerah (SKPD) atau unit kerja pada
satuan kerja perangkat daerah di lingkungan pemerintah daerah di indonesia
yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa
penyedia barang/jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencapai keuntungan,
dan dalam melakukan kegiatan didasarkan pada prinsip efisien dan
produktifitas.
2. APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah)
Jenis pembayaran yang terdapat di ruang Teratai yaitu meliputi dari
pembayaran umum, BPJS, PBI/Non PBI. Semua pembayaran di ruang Teratai
di handle oleh pihak administrasi yang ada di ruangan, administrasi ini
mengelola semua pembayaran pasien dengan cara mengkoding pembayaran
yang meliputi dari pembayaran ruangan, visit dokter, tindakan yang dilakukan
perawat selama pasien dirawat seperti pemasangan infus, pemasangan kateter,
ganti balut dan lain sebagainya. Setela dikoding, pasien atau keluarga pasien
harus mengurus pembayaran biaya rawat inap dikasir sebelum meninggalkan
ruangan. Bagi pasien umum pembiayaan dipertanggung jawabkan penuh
kepada pasien tanpa ada bantuan dari pihak manapun, sedangkan pasien BPJS
mendapatkan bantuan dari pemerintah akan tetapi memiliki batas tertentu, jika
biaya pembayaran melebihi dari batas BPJS maka pasien atau keluarga
menambah pembayaran tersebut secara mandiri, persyaratan pasien BPJS
harus menyerahkan kartu keluarga, KTP, dan kartu BPJS untuk syarat sebagai
pengguna BPJS. Sebelum pasien pulang maka keluarga pasien mengurus
semua biaya terlebih dahulu di kasir, setelah pembayaran terselesaikan maka
pihak administrasi menyerahkan kembali kartu keluarga, KTP dan kartu BPJS
kepada pemiliknya. Apabila ruangan memerlukan peralatan yang dibutuhkan
maka sebelumnya mengajukan proposal kepada manajemen atau panitia
pengelolaan danatetapi pengajuan pembelian peralatannya membutuhkan
waktu yang cukup lama.

45
Hasil Analisa :
Kesimpulan dari wawancara dengan narasumber (Hesti Wahyu W.) didapatkan hasil
bahwapendanaan yang ada di Ruang teratai tidak ada masalah dan berjalan dengan
baik.Tetapi untuk pengajuan proposal mengenai pembelian peralatan membutuhkan
waktu yang cukup lama.
Prosespengajuan dana di Ruang Teratai adalah sebagai berikut:
1) Sumber: Proses pembayaran pengajuan uang persediaan/ganti uang BLUD
No. Dokumen: 445/1852/E/III/2016
Prosedur:
a) Bendahara Pengeluaran membuat SPP UP/GU dan akan diserahkan kepada
PPK RSUD (petugas penerima SPP/fungsi verifikasi). SPP dilengkapi surat
pernyataan pengajuan SPP UP/GU yang ditandatangani oleh kabag tata usaha
dan surat pernyataan pencairan SPM UP/GU.
b) Petugas penerima SPP/fungsi verifikasi akan memeriksa kelengkapan berkas
pengajuan SPP yang diterima dari bendahara pengeluaran dan mengisi check
lish kelengkapan berkas pengajuan SPP UP/GU.
c) Bendahara pengeluaran membuat SPP UP/GU dan akan diserahkan kepada
PPK RSUD (petugas penerima SPP/fungsi verifikasi).SPP dilengkapi surat
pernyataan pengajuan SPP UP/GU yang ditandatangani oleh Kabag Tata usaha
dan surat pernyataan pencairan SPM UP/GU.
d) Petugas penerima SPP/fungsi vertifikasi akan memeriksa kelengkapan berkas
pengajuaan SPP yang diterima dari bendahara prngrluaran dan mengisi check
list kelengkaan berkas pengajuan SPP UP/GU.
e) Untuk mengajukan SPP GU, bendaharan pengeluaran akan menyertakan
rekapitulasi pengeluaran dan bukti transaksi yang lengkap dan sah.
f) Petugas penerima SPP/ fungsi verifikasi dapat meminta bendahara
pengeluaran pembantu untuk melengkapi kekurangan dalam berkas
pengajuaan SPP sesuai dengan check list kelengkapan SPP.
g) Petugas penerima SPP/fungsi verifikasi dapat membuat catatan dan
memberikan paraf pada check list kelengkapan berkas pengajuan SPP.
h) Berkas SPP UP/GU yang telah diverifikasi akan diserahkan kembali kepada
bendaharan pengeluaran pembantu yang selanjutnya akan diserahkan kepada
bendaharan pengelaran.
i) Selanjutnya bendaraha pengeluaran akan mengajukan SPP tersebut ke PPK.

46
j) PPK melakukan pengeluaran atas berkas pengajuaan SPP meliputi:
a. Memeriksa secara rinci dokumen pendukung SPP.
b. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
c. Memeriksa pagu pengajuan uang persediaan sesuai dengan ketetapan
direktur rumahn sakit Demak ( khusus SPP UP/GU).
d. Memeriksa ketersediaan pagu anggaran untuk memperoleh keyakinan
bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran (SPP GU dan SPP
TU).
k) Dalam hal dokumen SPP telah sah, menyiapkan konsep SPM.
2) Proses penerbitan Nota Dinas Penyediaan Dana (NDPD) BLUD
No. Dokumen: 445/1852/E/III/2016
a) Penerbitan NDPD oleh kepala bagian tat usaha berdasarkan SPM yang
diterbitkan oleh pengguna anggaran dengan mempertimbangkan ketersediaan
dana. Dalam hal tidak tersedianya dana yang cukup atau pengeluaran
melampaui pagu anggaran, kepla bagian tata usaha dapat menolak
menerbitlkan NDPN dan menyerahkan dokumen pengajuan tersebut kepada
PPK dan bendahara pengeluaran.
b) Selanjutnya NDPD diserahkan kepada bendahara penerimaan ( dalam hal SPM
UP/GU) pengeluaran atau kepada pihak ketiga (dalam hal SPM-LS) untuk
diteruskan kepada Bank.
c) NDPD dibuat dalam 4 rangkap yaitu lembar pertama untuk pihak Bank,
lembar kedua untuk bendahara pengeluaran, lembar ketiga untuk pejabat
penatausahaan keuangan dan lembar keempat untuk bendahara penerimaan
(untuk NDPD-UP/GU) atau pihak ketiga (untk NDPD-LS).

3. Methode
a. Model Asuhan Keperawatan
Metode asuhan keperawatan yang digunakan di Ruang Teratai adalah
dengan menggunakan metode tim dimana ketua tim sebagai perawat profesional
bertanggung jawab atas anggotanya. Ketua tim bertanggung jawab mengelola
pasien yang telah menjadi tanggung jawabnya dibantu oleh anggota yang
tergabung di dalam timnya. Masing - masing tim terdiri dari 1 ketua tim yaitu
pada tim 1 terdiri dari 3 ka shift dan 3 perawat pelaksana, sedangkan tim 2 terdiri
dari 2 ka shift dan 4 perawat pelaksana. Perawat di ruang Teratai sudah

47
memahami mengenai model asuhan keperawatan tim, penerapannya sudah
berjalan dengan baik. Di ruang Teratai tim dibagi menjadi 2 yang sebelah selatan
tim 1 memegang kamar No 11-22 dan yang sebelah timur tim 2 memegang kamar
no 01 – 10. Komunikasi antara ketua tim dan tim atau dengan tim yang lain sudah
terlaksana dengan baik. Dari hasil observasi jika ada pasien baru maka ketua tim
akan menunjuk anggotanya untuk melakukan asuhan keperawatan dan kemudian
melaporkannya kepada ketua tim. Sedangkan kepala ruang mengawasi dan
mengarahkan setiap tim. Kepala ruang selalu memberikan informasi penting hasil
rapatyang berhubungan dengan pelayanan ke pasien. Perawat pelaksana dapat
mengembangkan kemampuannya karena dapat melakukan tindakan keperawatan
yang berbeda-beda pada setiap pasien tidak hanya terfokus pada tindakan
keperawatan satu saja. Pemberian asuhan keperawatan pada pasien dilakukan
berdasarkan pedoman Standar Prosedur Operasional (SPO) yang telah ditetapkan
oleh rumah sakit. Rencana keperawatan dapat dilaksanakan secara bertahap atau
kontinyu. PP/PA akan menerima bimbingan dari kepala ruang apabila dirasa
perlu.

Hasil Analisa:
Metode MAKP Tim sudah sesuai dengan Ruangan dan Ruang Terataisudah
menggunakan metode tersebut dengan baik. Menurut Nursalam (2002) Metode
ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-bedadalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan
dibagi menjadi 2-3 tim/group yang terdiri dari tenaga profesional, tekhnik dan
pembantu dalam satu group kecil yang saling membantu. Dalam penerapannya
ada kelebihan dan kelemahannya. Kelebihannya yakni memungkinkan pelayanan
keperawatan yang menyeluruh, mendukung pelaksanaan proses keperawatan,
memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi dan
memberi kepuasan kepada anggota tim. Sedangkan kelemahannya yakni
komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi tim,
yang biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk melaksanakan konferensi
tersebut pada waktu-waktu sibuk.

48
b. Dokumentasi Keperawatan
Tabel 3.10
Penilaian Dokumentasi Penerapan Standar Asuhan Keperawatan Di Ruang
Teratai RSUD dr. Soetrasno Kabupaten Rembang
Instrumen A

No Aspek Yang Dinilai Kode Bekas Rekam Medik Pasien Ket.


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
A Pengkajian
1 Mencatat data yang dikaji sesuai √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
dengan pedoman
2 Data yang dikelompokkan (bio, √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
psiko, sosial dan spiritual)
3 Data yang dikaji sejak pasien masuk √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
sampai pulang
4 Masalah dirumuskan berdasarkan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
kesenjangan antar status kesehatan
dengan norma dan pola fungsi
kehidupan
Sub Total 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
Total 40
Presentase 100 %

B Diagnosa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ket
1 Dx keperawatan berdasarkan masalah √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
yang telah di rumuskan
2 dx. keperawatan mencerminkan PE/PES √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
3 Merumuskan diagnose keperawatan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
aktual/potensial
Sub Total 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
Total 30
Presentase 100 %

49
C Perencanaan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ket
1 Berdasarkan Dx. Keperawatan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
2 Disusun menurut urutan prioritas √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
3 Rumusan dan tujuan mengandung √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
komponen pasien atau subjek, perubahan,
perilaku, kondisi pasien atau kriteria
waktu
4 Rencana tindakan mengacu pada tujuan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
dengan kalimat perintah, terinci dan jelas
5 Rencana tindakan mengambarkan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
keterlibatan pasien dan keluarga
6 Rencana tindakan menggambarkan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
kerjasama TIM kesehatan
Sub Total 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
Total 50
Presentase 83 %

D Tindakan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ket
1 Tindakan dilaksanakan mengacu pada √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
rencana keperawatan
2 Perawat mengobservasi respon pasien √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
terhadap tindakan berdasarkan hasil
evaluasi
3 Revisi tindakan berdasarkan hasil √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
evaluasi
4 Semua tindakan yang sudah √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
dilaksanakan di tulis dengan jelas
Sub Total 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
Total 40
Presentase 100%

E Evaluasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ket
1 Berdasarkan Dx. Keperawatan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

2 Disusun menurut urutan prioritas √ √ √ √ √ √ √ √ √ √


Sub Total 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

Total 20
Prosentase 100 %

50
F Catat Asuhan Keperawatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ket
1 Menulis format yang baku √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
2 Pencatatan dilakukan sesuai dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
tindakan yang dilakuakan
3 Pencatatan ditulis dengan jelas dan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
ringkas sesuai dengan istilah buku yang
benar
4 Setiap melakukan tindakan perawat √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
mencantumkan kegiatrtan yang
dilakuakan
5 Berkas catatan keperawatan disimpan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
sesuai dengan ketentuan yang berlaku
Sub Total 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
Total 50
Prosentase 100 %

Analisa :

No Aspek yg dinilai Hasil (%) Keterangan

1 Pengkajian 100 % Format pengkajian sudah di isi dengan lengkap dan sudah fokus
pada penyakit yang diderita pasien
2 Diagnosa 100 % Diagnosa keperawatan sudah sesuai dengan menghubungkan
etiologi yang terjadi, diagnosa aktual dan potensial tercantum.
3 Intervensi 83 % Intervensi yang dicantumkan sudah baik, tapi belum mengarah
mengajak ke keluarga pasien
4 Implementasi 100 % Tindakan yang dilakukan sudah sesuai dengan rencana tindakan dan
sudah sesuai dengan kebutuhan pasien
5 Evaluasi 100 % Evaluasi dicatat sesuai hasil respon pasien
6 Catatan asuhan 100 % Catatan asuhan keperawatan di catat sesuai format yang sudah ada
keperawatan di RS
Rata – rata 97 %

Keterangan :
Sangat baik : 90 – 100 %
Baik : 70 – 89 %
Cukup : 50 – 69 %
Kurang : <50%

51
Berdasarkan observasi yang dilakukan pada tanggal 05 sampai 29
Desember 2018 dengan sampel 8 lembar dokumentasi milik :

No Nama No Register

1 Tn. S 538611
2 Tn. L 600119

3 Tn. L 602958

4 Tn. G 603133
5 Tn. S 314860

6 Ny. C 603102

7 Ny. S 146838
8 Ny. K 603066

Hasil diatas rata-rata dari instrument dokumentasi asuhan keperawatan


dalam kategori sangat baik yaitu dengan presentase 97 %. Pendokumentasian di
ruang Teratai sudah tersusun dalam satu catatan rekam medis. Pada format
pengkajian rekam medis pasien berisi assessment awal keperawatan rawat inap
yang berisi anamnesa dan pemeriksaan head to toe.
Terkait dengan rencana keperawatan dalam lembar catatan terintregrasi
sudah ditetapkan form diagnosa keperawatan sehingga perawat cukup
memberikan checklist pada kotak yang sesuai rencana tindakan keperawatan yang
sesuai dengan kondisi pasien. Semua tindakan yang dilakukan perawat baik itu
tindakan mandiri keperawatan pemberian kompres, cara batuk efektif, cara
mencuci tangan maupun tindakan medis seperti terapi obat sesuai dengan advis
dokter, transfuse darah dan lain sebagainya. Kemudian dokumentasi
ditandatangani dan di berikan nama terang oleh perawat yang sedang dinas.
Sistem dokumentasi di ruang Teratai belum terkomputerisasi yang
menyebabkan waktu perawat untuk pasien berkurang karena harus menulis di
kertas, dan kadang apa yang ditulis kurang jelas untuk dipahami yang membuat
perawat yang jaga selanjutnya bingung dengan tindakan yang akan diberikan.
Perawat harus menulis setiap tindakan yang diberikan kepada pasien yang

52
menyebabkan perawat kurang bersemangat untuk melengkapi dokumentasi
asuhan keperawatan.

Hasil Analisa:
Tujuan pendokumentasian keperawatan antara lain sebagai berikut :
1. Sebagai media untuk mendefinisikan fokus keperawatan bagi klien dan
kelompok
2. Untuk membedakan tanggung gugat perawat dengan anggota tim kesehatan
lainnya
3. Sebagai sarana untuk melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah
diberikan kepada klien
4. Sebagai data yang dibutuhkan secara administratif dan legal formal
5. Memenuhi persyaratan hukum akreditasi dan profesional
6. Untuk memberikan data yang berguna dalam bidang keperawatan dan
penelitian
Sedangkan manfaat dokumentasi asuhan keperawatan menurut Nursalam (2008),
dokumentasi asuhan keperawatan terdapat beberapa aspek yaitu
1. Aspek Hukum : dokumentasi keperawatan yang dibuat merupakan aspek legal
di depan hukum. Dokumentasi merupakan bukti catatan dari tindakan yang
diberikan dan sebagai dasar untuk melindungi pasien perawat dan institusi.
2. Kualitas pelayanan, komunikasi : melalui audit keperawatan dokumentasi
keperawatan dijadikan alat untuk mengukur dalam membandingkan antara
tindakan yang diberikan dengan standar yang dijadikan rujukan. Dengan
demikian dapat diketahui apakah dalam bekerja telah sesuai dengan standar
yang ditetapkan.
3. Keuangan : dokumentasi yang baik dan teliti akan menjadi bukti bahwa
tindakan telah dilakukan oleh perawat. Dan dengan dokumentasi ini maka
besarnya jasa yang diberikan akan diberikan sesuai dengan aturan yang
ditetapkan ditempat masing-masing.
4. Pendidikan: dokumentasi keperawatan dapat dijadikan sebagai rujukan bagi
siswa-siswa perawat.
5. Penelitian : penelitian keperawatan dengan menggunakan data-data sekunder
akan sangat bergantung dengan kualitas dari dokumentasi keperawatan yang

53
dibuat. Kesalahan dalam membuat atau pengisian dokumentasi yang tidak
lengkap akan membuat informasi tentang riwayat pasien menjadi kabur.
d. Ronde Keperawatan
Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 06 Desember 2018 dengan ketua tim
1 dan 2 yaitu Bapak Ali Gufron dan Ibu Nafiatul CH, beliau mengatakan di ruang
Terataimasih dilakukan ronde keperawatan akan tetapi hanya dilakukan sebulan
satu kali. Di ruang Teratai penyakit tertinggi selama tahun 2016 adalah Diabetus
Melitus, ini bisa dijadikan perhatian khusus untuk dilakukannya ronde
keperawatan.

Hasil Analisa:
Ronde keperawatan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi
masalah keperawatan pasien yang dilakukan oleh perawat disamping melibatkan
pasien untuk membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan. Pada kasus
tertentu harus dilakukan oleh perawat primer dan atau konselor, kepala ruang,
perawat associate yang perlu juga seluruh anggota tim kesehatan ( Nursalam,
2009).
e. Sentralisasi Obat
Alur pengadaan obat di ruang Teratai yaitu :

Advis Dokter

Resep
Pasien/keluarga

Perawat Apotik rawat inap

 Lembar serah terima obat

 Buku serah terima obat

Dari hasil wawancara pada tanggal 06 Desember 2018 di ruang Teratai alur
pengadaan obat yaitu dari advis dokter kemudian perawat akan menuliskan resep
sesuai advis dokter selanjutnya resep akan diserahkan ke apotik rawat inap

54
dengan sistem ODD (one day dose) jadi satu pasien mendapat stok obat selama
satu hari, setelah itu obat dibawa ke ruang Teratai dan dimasukkan di tempat
dispensing kemudian di masukkan kedalam masing-masing loker pasien. Obat
injeksi ditempatkan menjadi satu dengan cairan infus di loker masing-masing
pasien sesuai dengan nomor kamar pasien sedangkan obat oral ditempatkan
sendiri di tempat penyimpanan obat oral.

Tabel 3.11
Pelaksanaan Pemberian obat kepada Pasien di Ruang Teratai

No Kegiatan Selalu Sering Kadang Tdk prnh


(4) (3) (2) (1)
Pra interaksi
1 Mengecek program terapi √
2 Menyiapkan alat √
3 Mencuci tangan √
Tahap orientasi
4 Mengucapkan salam √
5 Menanyakan nama pasien √
6 Mencocokkan identitas pasien dengan √
identitas yang ada di obat
7 Menjelaskan tujuan dan prosedur √
8 Menanyakan persetujuan pasien √
Tahap Kerja
9 Mendekatkan obat ke pasien √
10 Memberikan obat ke pasien atau memasukkan √
obat ke pasien
11 Menanyakan tentang reaksi obat kepada √
pasien
Terminasi
12 Membersihkan alat alat kembali √
13 Merapikan kembali tempat pasien √
14 Berpamitan √

55
15 Cuci tangan √
10 1 4
Jumlah 85 %

KATEGORI
Sangat baik = 90 – 100 %
Baik = 70 – 89 %
Cukup baik = 50 – 69 %
Kurang baik = < 50 %
Dari hasil observasi pada tanggan 05 sampai 29 Desember 2018
pelaksanaan pemberian obat dalam rentang baik dengan presentasi 85 % sudah
baik pelaksanaannya. Sebelum obat di berikan kepada pasien perawat melihat
buku resep pasien untuk menentukan obat dan dosis yang akan diberikan kepada
pasien. Kemudian pengoplosan dilakukan di ruang dispensing dengan
menggunakan APD berupa handscone dan masker. Obat yang sudah di oplos
kemudian diberikan etiket. Didalam etiket terdiri dari nama, nomer rekam medis,
tempat tanggal lahir, serta jenis obat dan dosis yang diresepkan oleh dokter untuk
menghindari kesalahan pemberian obat. Kemudian obat dimasukkan ke dalam
trolly injeksi yang didalamnya terdapat loker sesuai dengan identitas pasien.
sebelum obat diberikan kepada pasien perawat melakukan cuci tangan terlebih
dahulu kemudian perawat masuk kamar pasien dengan membawa trolly injeksi
setelah itu perawat mengambil loker sesuai dengan identitas pasien kemudian
perawat melakukan verifikasi identitas pasien dengan mencocokkan gelang
pasien dengan identitas yang ada di spuit yang berisi obat. Setelah itu perawat
menjelaskan nama obat dan fungsi obat kepada pasien.
Untuk obat oral perawat juga memverifikasi identitas pasien dengan cara
mencocokkan gelang pasien dengan identitas yang tertera di bungkus obat
kemudian perawat akan menjelaskan cara minum obat yang sesuai dengan aturan
pakai. Untuk catatan persediaan dan pemberian obat baik oral maupun injeksi
serta infus terdokumentasi dalam satu buku. Setiap selesai tindakan, perawat akan
melakukan dokumentasi dengan cara menyilang sebagai tanda obat sudah
diberikan kepada pasien.

56
Hasil Analisa:
Pada pemberian obat kepada pasien terkadang tanpa memberitahukan dulu
prosedur penyuntikan, jenis obat, fungsi obat dan tidak menanyakan reaksi obat
setelah disuntikkan kepada pasien. Pemberian informasi mengenai obat hanya
dilakukan saat pasien akan pulang atau saat ada beberapa obat mahal yang
membutuhkan persetujuan keluarga serta obat yang harus ditebus di luar apotek
rumah sakit.
f. Supervisi
Dari hasil wawancara dengan ketua tim 1 pak Ali Ghufron di ruang Teratai
mengatakan bahwa supervisi ruangan biasanya dilakukan oleh supervisor
ruangan, yang biasanya dilakukan oleh kepala ruang secara terjadwal dan tidak
terjadwal, supervisi dilakukan oleh kepala ruang secara tidak langsung kepada
ketua tim yaitu dengan mengumpulkan salah satu tim untuk mengevaluasi hasil
tindakan keperawatan yang sudah terstruktur dan di dokumentasikan, tetapi untuk
supervise yang dilakukan oleh kepala ruang kepada ketua tim masih belum
terstruktur.
Hasil dari supervisi yang dilakukan oleh tim supervisor sudah disampaikan
kepada perawat melalui kepala ruang (secara tidak langsung) dan selalu ada
umpan balik dari supervisor untuk setiap tindakan. Dan hasil dari supervisi oleh
kepala ruang kepada perawat ruangan disampaikan dalam bentuk peringatan
melalui lisan maupun tertulis dan dievaluasi setiap 1 bulan sekali. Setiap
dilakukan supervisi ada tindak lanjut untuk hasil supervisi. Untuk supervisi dari
ketua tim ke anggotanya sudah pernah dilakukan namun belum efektif atau belum
terstruktur di ruangan Teratai. Belum adanya format pelaporan yang khusus
untuk supervisi yang antara kepala ruang kepada ketua tim dan ketua tim kepada
perawat sehingga supervise yang dilakukan belum terstruktur dengan baik.
Sedangkan supervisi eksternal dilakukan setiap kepala ruangan dan wakil kepala
ruangan secara bergilir ke seluruh ruangan di RSUD dr. R Soetrasno Rembang
pada siang atau malam hari sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Hasil Analisa:
Supervisi ruangan biasanya dilakukan oleh supervisor ruangan, yang biasanya
dilakukan oleh kepala ruang secara terjadwal dan tidak terjadwal. Untuk supervisi
dari ketua tim ke anggotanya sudah pernah dilakukan di ruangan Teratai namun

57
belum efektif. Belum adanya format yang khusus untuk supervisi yang
menyebabkan supervisi kepala ruang kepada ketua tim dan ketua tim kepada
perawat pelaksana di ruangan belum terstruktur dengan baik.
g. Timbang Terima
Tabel 3.12
Pelaksanaan Timbang Terima di Ruang Teratai RSUD dr. Soetrasno Kabupaten
Rembang

No Kegiatan Selalu Sering Kadang Tdk


pernah
Pre conference
1 Timbang terima dilakukan setiap pergantian √
sift
2 Semua pasien di timbang terimakan √
3 Sarana dan prasarana timbang terima siap √
Conference
Nurse station
4 Kepala ruang atau perawat pelaksana √
membuka acara timbang terima
5 Perawat menyampaikan timbang terima yang √
berisi: identitas pasien, data subjektif dan
objektif, masalah keperawatan, intervensi
keperawatan, terapi, persiapan yang perlu
dilakukan (pemeriksaan penunjang,
persiapan operasi)
6 Perawat jaga selanjutnya memvalidasi atau √
bertanya tentang hal yang belum jelas
Bed pasien
7 KARU atau PJ menyampaikan salam √
8 PJ memperkenalkan diri dan menyampaikan √
tujuan
9 PJ memvalidasi ke pasien tentang keluhan √
pasien, terapi yang sudah diberikan, dan
perkembangan kondisi pasien

58
Post conference
10 Perawat mendiskusikan dan memvalidasi √
kondisi pasien dengan hasil timbang terima
11 KARU atau PP menyampaikan informasi √
atau sosialisasi tentang kebijakan RS
12 KARU atau PJ menutup kegiatan timbang √
terima
6 2 3 0
JUMLAH 83 %

KATEGORI
Sangat baik = 90 – 100 %
Baik = 70 – 89 %
Cukup baik = 50 – 69 %
Kurang baik = < 50 %

Dari hasil observasi pada tanggal 05 sampai 29 Desember 2018,


pelaksanaan timbang terima di ruang Teratai dalam kategori baik dengan
presentasi 83 % sudah dilakukan dengan baik. Timbang terima di ruang Teratai
dilakukan 3 kali sehari saat pergantian shift/operan jaga yaitu saat shift malam ke
shift pagi dan shift pagi ke shift siang dan kemudian shift siang ke shift malam.
Timbang terima diikuti oleh semua perawat yang saat itu sedang jaga. Timbang
terima saat shift pagi dipimpin oleh kepala ruang dan diikuti oleh ketua tim serta
perawat pelaksana kemudian saat shift pagi megoperkan ke shift siang juga
dipimpin kepala ruang dan diikuti ketua tim dan perawat pelaksana kemudian
saat operan shift siang ke shift malam dipimpin ka shift tim siang diikuti oleh ka
shift tim malam dan perawat pelaksana. Sudah adanya format khusus untuk
melakukan timbang terima, perawat tinggal mencatat perkembangan pasien
kemudian saat operan perawat menyampaikan secara lisan dengan membaca hasil
dokumentasi pada catatan timbang terima.
Dalam proses timbang terima pre-conference dan post-conference
dilakukan secara bersamaan di nurse station dan apabila ada diskusi dan
klarifikasi disampaikan saat itu juga. Hal-hal yang disampaikan meliputi identitas

59
pasien, diagnosa medis, keadaan umum pasien, kesadaran pasien, permasalahan/
keluhan pasien, dokter penanggung jawab, visit dokter, program terapi dan
anjuran dokter, hasil laboratorium/ pemeriksaan penunjang pasien jika ada. Lama
waktu operan ± 30 menit. Setelah itu perawat menuju ke masing-masing ruangan
pasien untuk memvalidasi tentang kondisi pasien dan menyampaikan pada pasien
kalau saat itu juga dilakukan pergantian perawat jaga. Lama waktu yang
digunakan untuk mengunjungi tiap pasien biasanya ±3 menit namun saat operan
perawat belum memperkenalkan diri yang akan bertugas pada shift itu dan belum
menyampaikan siapa ketua tim dan anggotanya yang saat shift itu bertugas.
Kemudian kembali ke nurse station untuk tanda tangan penyerahan timbang
terima.

Hasil Analisa:
Timbang terima dilakukan tiap pergantian shift tahap validasi dengan
mengunjungi ruangan pasien dilakukan saat pergantian shift malam ke shift pagi,
shift pagi ke siang dan pergantian shift siang ke malam. Namun sebelum
mengunjungi runagan pasien tidak dilakukan cuci tangan dahulu secara bersama-
sama di meja timbang terima. Dan pada tahap post conference di nurse station
setelah mengelilingi ruangan pasien tidak dilakukan, Sebagian besar perawat jaga
langsung keluar ruangan setelah timbang terima selesai.

60
h. Penerimaan PasienBaru
Alur penerimaan pasien baru di ruang Teratai

Pasien datang

Katim menunjuk salah satu


anggotanya untuk mendampingi

Serah terima

Orientasi ruangan

Assesment awal

Terminasi

Evaluasi

Dari hasil Observasi pada tanggal 05 sampai 29 Desember 2018 di Ruang


Teratai :Pada saat ada pasien baru, kepala ruang akan menentukan tim mana
yang akan bertanggung jawab terhadap pasien tersebut, kemudian ketua tim yang
dipilih langsung menunjuk salah satu anggota timnya untuk mendampingi serah
terima pasien. kemudian petugas yang mengirim akan menyerahkan lembar
internal kepada perawat tersebut. Didalam lembar internal tersebut berisi tentang
identitas pasien, kondisi pasien, dokter penanggung jawab pasien, terapi yang
sudah diberikan, hasil pemeriksaan penunjang jika ada. Setelah itu perawat akan
mengorientasikan keluarga pasien dan pasien tentang ruangan Teratai yang
berupa fasilitas ruangan, tata tertib rumah sakit, 6 cara mencuci tangan yang
benar dan dokter yang bertanggung jawab. Setelah itu perawat meminta tanda
tangan pasien atau keluarga pasien sebagai bukti telah dilakukan orientasi
pelayanan, fasilitas di ruang Teratai dan juga penerimaan kartu tunggu.
Selanjutnya perawat melakukan assestmen awal seperti TTV, keluhan
pasien, pemeriksaan fisik untuk mengetahui kondisi pasien dan kemudian

61
menentukan masalah keperawatan, rencana keperawatan dan implementasi
keperawatan.

Hasil Analisa :
Setelah orientasi ruangan berakhir perawat sudah memberikan edukasi tentang 6
langkah cuci tangan dengan benar, akan tetapi perawat tidak memberikan edukasi
tentang etika batuk.
i. Discharge Planning
Tabel 3.13
Penilaian Discharge Planning di Ruang Teratai

No Kegiatan Selalu Sering Kadang Tidak


pernah
Persiapan
1 Format discharge planning sudah siap √
2 Kolaborasi dengan tenaga medis lain dalam √
pemberian pendidikan kesehatan
3 Sarana dan prasarana tersedia (leaflet, poster √
atau brosur)
Pelaksanaan
4 Perawat memberitahukan kondisi terkini √
dari pasien
5 Perawat memberikan pendidikan kesehatan √
kepada pasien dan keluarga
6 Perawat memberitahukan jadwal kontrol √
7 Perawat memberitahukan cara administrasi √
pasien
Total 3 2 2
Jumlah 52 %

KATEGORI
Sangat baik = 90 – 100 % Cukup baik = 50 – 69 %
Baik = 70 – 89 % Kurang baik = < 50 %

62
Dari observasi pada tanggal 05 sampai 29 Desember 2018 di dapatkan
bahwa discharge planning di ruang Teratai dengan presentasi 52 %
cukup baik pelaksanaannya. Di ruang Teratai setiap pasien yang akan
pulang diberikan penjelasan dalam obat-obatan yang dilanjutkan
dikonsumsi dan perawatan saat di rumah, surat kontrol berupa resume
medis pasien pulang yang berisi waktu kontrol, diagnosa pasien,
pengkajian pasien secara ringkas, terapi atau obat yang didapatkan
setelah rawat inap, dan hasil pemeriksaan penunjang seperti foto
thorax, CT-Scan, pemeriksaan laboratorium, maupun USG.Perawat
juga menjelaskan aktivitas dan intensitas istirahat yang dianjurkan
untuk pasien selama di rumah.Apabila keluarga pasien atau pasien
menginginkan pulang dengan permintaan sendiri maka pasien atau
keluarga pasien harus mengisi lembar persetujuan APS (Atas
Permintaan Sendiri). Untuk pemberian pendidikan kesehatan di ruang
Teratai masih belum terlaksana dengan baik. Keterbatasan waktu dan
kurangnya sarana prasarana untuk memberikan pendidikan kesehatan
dan kurangnya kemauan perawat untuk memberikan pendidikan
kesehatan kepada pasien sebelum pulang.
Beberapa hal yang dipersiapkan pada Discharge Planning sudah
disiapkan sejak pasien datang di Ruangan Teratai, antara lain sebagai
berikut:
Ringkasan pasien pulang
1. Form 1
Meliputi:
a. Ringkasan riwayat penyakit
b. Pemeriksaan fisik
c. Hasil pemeriksaan penunjang
d. Terapi yang diberikan
e. Diagnosa:
- Utama
- Sekunder

70
f. Tindakan yang diberikan
g. Hasil konsultasi
h. Tanggungan
2. Form 2
a. Obat yang dibawa pulang
b. Hasil yang menunjang yang tertunda
c. Diet
d. Instruksi control
e. Kondisi pulang
f. Keadaan pulang
g. Alergi
h. Syarat – syarat:
- Fotocopy surat elegibilitas pasien
- Fotocoy BPJS
- Fotocoy KTP
- Fotocopy surat rujukan

Hasil Analisa:
Discharge planning yang dilakukan di Ruang Teratai sudah terlaksana
dengan baik, namun pada saat pasien pulang perawat jarang
memberikan pendidikan kesehatan mengenai perawatan lanjutan di
rumah. Leaflet dan brosur yang sesuai dengan penyakit pasien juga
tidak diberikan pada waktu akan pulang.
j. Rapat Ruangan
Dari hasil wawancara dengan kepala ruang Teratai tanggal 5Desember
2018, rapat ruangan dilakukan setiap 1 bulan sekali dipimpin oleh
kepala ruang yang dihadiri kepala bidang keperawatan dan diikuti
oleh seluruh perawat di ruang Teratai, adapun agenda yang dirapatkan
diantaranya adalah masalah yang dihadapi di ruangan, obat return, dan
sosialisasi tentang SPO (Standar Pelayanan Operasional). Di ruang
Teratai tidak terdapat ruang khusus untuk rapat. Rapat biasanya

71
dilakukan di ruang istirahat perawat dan tidak terdapat meja dan kursi.
Sedangkan untuk rapat eksidental di ruang Teratai biasanya dilakukan
di luar rapat bulanan, bisa diikuti oleh semua perawat atau hanya
ketua tim saja.

Hasil Analisa:
Rapat ruangan bertujuan untuk memberikan penjelasan kepada para
anggota, tentang kebijaksanaan yang diambil oleh pemimpin
organisasi tentang prosedur kerja dana tatacara kerja baru untuk
mendapatkan keseragaman kerja. Di ruang Teratai diadakan rapat
secara non formal, yang diadakan tidak didasarkan suatu perencanaan
formal, dapat terjadi setiap saat, kapan saja, dimana saja, dan dengan
siapa saja. Menurut jangka waktunya rapat di ruang Teratai
menggunakan metode rapat bulanan, yang dimana diadakannya rapat
pada 1 bulan sekali.
k. Delegasi
Delegasi di ruang Teratai sudah ada tetapi tidak testruktur. Delegasi
ini dilakukan oleh kepala ruang kepada ketua tim I dan ketua tim II.
Ketua tim lalu memberikan delegasi kepada perawat pelaksana untuk
mengerjakan beberapa tugas yang akan dilaksanakan pada hari
tersebut. Contoh pada saat shift pagi terdapat 4 perawat, kepala ruang
memberikan delegasi kepada ketua tim untuk mengikuti setiap ada
dokter visite pasien, kemudian ketua tim memberikan delegasi tugas
kepada III perawat pelakana seperti perawat pelaksana I bertugas
melakukan injeksi, perawat pelaksana II bertugas melakukan ganti
balut dan perawat pelaksana III bertugas mengantar ke radiologi.
Delegasi di ruang Teratai berjalan dengan baik, terbukti dengan
perawat melakukan sesuai tugasnya dan tidak ada tumpang tindih
pekerjaan antar perawat.

72
Hasil Analisa:
Menurut Marquis dan Huston 2012 delegasi yaitu penyelesaian suatu
pekaryaan melalui orang lain atau juga dapat diartikan sebagai
pelimpahan suatu tugas kepada seseorang atau kelompok dalam
menyelesaikan tujuan organisasi. Pendelegasian dalam ruang Teratai
menggunakan metode pelimpahan tugas dari kepala ruang ke perawat
ruangan dengan cara lisan, tujuannya adalah agar organisasi berjalan
lebih efisien.

4. Material (Sarana Prasarana)


Sarana dan prasarana yang ada di Ruang Teratai yaitu sebagai berikut:
a. Inventaris Alat Kesehatan dan Kedokteran
Tabel 3.14
Alat Kesehatan di Ruang Teratai RSUD Dr. R. Soetrasno Rembang
No Nama Barang Jumlah Analisa
1 Tensimeter 3 unit cukup
2 Tabung O2 22 unit lebih
3 Stetoskop 5 unit cukup
4 Tiang Infus 22 unit lebih
5 Timbangan BB 2 unit Cukup
6 Handsrup 24 buah Lebih
7 Ambubag 1 unit Kurang
8 Kapas alcohol 3 kom cukup
9 Jelly EKG 1 buah kurang
10 Kassa gulung 3 buah cukup
11 Plester coklat 1 buah Kurang
12 Thermometer 1 buah Kurang
13 Kursi Roda 4 buah Cukup
14 Kassa steril 1 box Cukup

73
15 Pinset anatomis 3 buah Cukup
16 Pinset cirugis 3 buah Cukup
17 Bak instrument 1 buah Kurang
18 Bengkok 1 buah Kurang
19 Pispot 15 buah Lebih
20 Urinal 4 buah Cukup
21 Gunting debridement 1 buah Kurang
22 Gunting plester 1 buah Kurang
23 Masker 1 box Cukup
24 Handscoon 1 box Cukup
25 Hepafix 1 box Cukup
Sumber: Hasil observasi di ruang Teratai RSUD Dr. R. Soetrasno Rembang

Peralatan kesehatan yang ada di ruang sebagian besar sudah memadai


untuk digunakan dalam pemberian asuhan keperawatan akan tetapi masih ada
beberapa yang kurang seperti Thermometer.

b. Inventaris Mebeler
Tabel 3.15
Inventaris Mebeler di Ruang Teratai RSUD Dr. R. Soetrasno Rembang
No Nama Barang Jumlah Analisa
1 Lemari obat 1 buah cukup
2 Lemari ATK 1 buah Cukup
3 Troli linen 2 buah Cukup
4 Lemari linen 1 buah Cukup
5 Troli suntik 1 buah Cukup
6 White board 1 buah Cukup
7 Lemari berkas 1 buah Cukup
8 Lemari B3 1 buah Cukup
9 Kursi pasien 25 buah Lebih

74
10 Rak sepatu perawat 1 buah cukup
11 Loker perawat 1 buah Cukup
12 Bed 22 unit Cukup
13 Tirai penutup 16 buah Cukup
Sumber: Hasil observasi di ruang Teratai RSUD Dr. R. Soetrasno Rembang

Peralatan mebeler yang ada di ruangan sebagian besar sudah memadai untuk
digunakan dalam pemberian asuhan keperawatan sesuai kebutuhan ruangan.

c. Inventaris Rumah Tangga


Tabel 3.16
Inventaris Rumah Tangga di Ruang Teratai RSUD Dr. R. Soetrasno Rembang
No Nama Barang Jumlah Analisa
1 Waskom plastic Cukup
2 Kulkas obat 1 unit Cukup
3 Tisu gulung 2 box Cukup
4 Tempat sampah tertutup 3 buah Cukup
5 Sprei 22 buah Cukup
6 Isi setaples kecil 2 buah Cukup
7 Isi setaples besar 2 buah Cukup
8 Clips 1 box Cukup
9 Tinta Hitam 2 buah Cukup
10 Baju pasien 3 buah Cukup
11 Setaples 3 buah Cukup
12 Plastik hitam 1 pack Cukup
13 Label 1 pack Cukup
14 Tempat sampah medis 3 buah Cukup
15 Safety boox 3 buah Cukup
16 Box darah 1 buah Cukup
17 Pembolong kertas 1 buah Cukup

75
18 Wastafel cuci tangan 2 buah Cukup
19 Kapas gulung 2 buah Cukup
20 Spidol 2 buah Cukup
21 Alcohol 3 buah Cukup
22 Plastic kuning 1 pack Cukup
23 Gelang elergi 10 buah Cukup
24 Matras 1 buah Cukup
25 dispenser 1 buah Cukup
26 DNR 8 buah Cukup
27 Fall risk 10 buah Cukup
28 Rak pireng 1 buah Cukup
29 Selimut 15 buah Cukup
30 perlak 15 buah Cukup
31 Kasur busa 2 buah Cukup
32 Korden jendela 8 buah Cukup
33 Sarung bantal 22 buah Cukup
Sumber: Hasil observasi di ruang Teratai RSUD Dr. R. Soetrasno Rembang

Peralatan rumah tangga yang ada di ruangan sebagian besar sudah memadai
untuk digunakan dalam pemberian asuhan keperawatan yang sesuai
kebutuhan ruangan.

d. Inventaris Alat Listrik/Elektrolit


Tabel 3.17
Inventaris Elektronik di Ruang Teratai RSUD Dr. R. Soetrasno Rembang
No Nama Barang Jumlah Analisa
1 Komputer 1 Unit
2 Kulkas obat 1 Unit
3 Kipas angin 15 Unit
4 AC 1 Unit

76
5 Pesawat telepon 1 Unit
6 Tv
7 Lampu penerangan

Peralatan elektronik yang tersedia di ruangan sudah memadai karena


disesuaikan dengan kebutuhan ruangan.

5. MUTU ( M5)

a. Kualitas Pelayanan Keperawatan


Pasien yang di rawat inap di Ruang Teratai kebanyakan
berasal dari daerah rembang sendiri dan beberapa dari daerah pati.
Rata-rata pasien yang di rawat memiliki pendidikan SMA, SMP, SD
dan ada juga yang tidak berpendidikan. Rata-rata pasien yang dirawat di
Ruang teratai merupakan pasien BPJS kelas 2 dan kelas 3. Pasien
mendapatkan pelayanan sesuai dengan standar dari RSUD Dr. R.
Soetrasno Rembang.Upaya yang dilakukan untuk melakukan pelayanan
dan meningkatkan mutu pelayanan pasien di ruang Teratai di berikan
pelayanan secara optimal seperti mendengarkan keluhan pasien disetiap
operan jaga pagi, memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan pasien dan bersikap empati, dan selalu menanggapi keluhan
pasien ketika pasien membutuhkan.

b. Keselamatan Pasien
Keselamatan Pasien (Patient Safety) merupakan suatu variabel
untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas pelayanan keperawatan
yang berdampak terhadap pelayanan kesehatan. sejak malpraktek
menggema diseluruh belahan bumi melaui berbagai media baik cetak
maupun elektronik hingga kejurnal-jurnal ilmiah ternama, dunia
kesehatan mulai menaruh kepedulian yang tinggi terhadap isue
keselamatan pasien (Nursalam.2015).

77
Sedangkan keselamatan Pasien (patient safety) rumah sakit adalah
suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman.
Sistem tersebut meliputi assessment resiko, identifikasi dan pengelolaan
hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisi
insiden, kemampuan belajar dan insiden dan tindak lanjutnya serta
implementasi solusi untuk memenimalkan timbulnya resiko
(Departemen Kesehatan RI, 2006).
Program keselamatan pasien adalah suatu usaha untuk menurunkan
angka kejadian tidak diharapkan (KTD) yang sering terjadi pada pasien
selama di rawat di rumah sakit sehingga sangat merugikan baik pasien
itu sendiri maupun pihak rumah sakit. KTD bisa disebabkan oleh
berbagai faktor antara lain beban kerja perawat yang tinggi, alur
komunikasi yang kurang tepat, penggunaan sarana kurang tepat dan lain
sebagainya.
Indikator keselamatan pasien (IPS) bermanfaat untuk
mengidentifikasi area-area pelayanan yang memerlukan pengamatan
dan perbaikan lebih lanjut, misalnya untuk menunjukkan adanya
penurunan mutu pelayanan dari waktu ke waktu, suatu area yang
ternyata tidak memenuhi standart klinik dan tidak sesuai yang di
harapkan, tingginya variasi antara rumah sakit dan antar pemberi
pelayanan serta ketidaksepadanan antara unit pelayanan kesehatan.
(Nursalam, 2015).
Keselamatan pasien (patient safety) di RSUD Dr. R. Soetrasnodi
ruang Terataimempunyai standart operasional pelayanan yaitu dengan 6
sasaran keselmatan pasien diantaranya:
1) Ketepatan identifikasi pasien
2) Peningkatan komunikasi yang efektif
3) Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
4) Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi
5) Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
6) Pengurangan resiko jatuh.

78
Hasil Analisa :
Hasil pengkajian yang dilakukan pada tanggal 5 Desember 2018-
8Desember 2018 di dapatkan bahwatingkat keselamatan pasien di
Ruang Terataisudah baik. Hasil pengkajian dilapangan didapatkan
bahwa semua pasien sudah memakai atau terpasang gelang identitas.
Perawat menjelaskan tujuan dipasang gelang identitas, perawat
menjelaskan tentang perbedaan warna gelang bagi laki-laki dan
perempuan, identitas tersebut berisi nama pasien, tanggal lahir dan
No.Rm pasien. perawat sudah menjelaskan kepada keluarga pasien cara
untuk menggunakan pengaman tempat tidur selama dirawat di ruang
Teratai, karena itu merupakan salah satu kunci keselamatan pasien. Dan
perawat selalu melakukan double check ketika akan melakukan suatu
tindakan keperawatan.
Selain gelang identitas pasien, didapatkan hasil pengkajian yang
dilakukan di ruang Teratai didapatkan bahwa perawat sudah memakai
APD (alat perlindungan diri) misalnya seperti menggunakan
handschoon, masker pada saat melakukan tindakan keperawatan dengan
pasien yang mengalami penyakit menular. Jika selesai melakukan
kontak langsung dengan pasien, perawat mencuci tangan dengan air
sabun, maupun cairan antiseptik. Selain itu juga di setiap ruang dan
kamar pasien disediakan handscrab yang tujuannya untuk mengurangi
tingkat virus nosokomial.

c. Kepuasan Pasien
Kepuasan adalah perasaan senang seseorang yang berasal dari
perbandingan antara kesenangan terhadap aktivitas dan suatu produk
dengan harapannya. Kepuasan pasien berhubungan dengan mutu
pelayanan rumah sakit (Nursalam, 2015). Kepuasan pasien merupakan
salah satu indikator untuk mengukur mutu pelayanan di sebuah

79
Rumah Sakit. Ada beberapa cara untuk mengukur kepuasan
pelanggan/pasien, (Nursalam, 2015) yaitu:
1) Survei kepuasan pelanggan
2) Sistem keluhan dan saran
3) Pembeli bayangan
4) Analisis kehilangan pelanggan
Berikut ini akan dijelaskan mengenai kepuasan pasien terhadap
pelayanan perawat di ruang Teratai. Pelaksanaan evaluasi
menggunakan kuesioner yang berisi 20 soal yang terbentuk pertanyaan
pilihan. Pertanyaan pilihan mencakupi pertanyaan kinerja pelayanan
rawat inap yang meliputi (Reliabity) kehandalan pelayanan,
(Assurance) jaminan, (Tangibles) kenyataan, (Emphaty) empati, dan
(Responsiveness) tanggung jawab. Penilian pertanyaan terdiri dari 4
skor, skor 1 sangat tidak puas, skor 2 tidak puas, skor 3 puas dan
skor 4 sangat puas.
Pada tanggal 5 - 8Desember2018 semua pasien diberikan angket
pernyatan-peryataan yang menjelaskan tentang tingkat kepuasan
pasien di ruang Teratai. Dari hasil kuesioner tersebut didapatkan
bahwa dari 8pasien, didapatkan hasil 3 sangat puas, 5 puas.

80
Tingkat Kepuasan

25%

sangat puas
puas
75%

d. Infeksi Nosokomial
Infeksi nosokomial (Inos) adalah infeksi yang didapat atau timbul
pada waktu pasien dirawat di rumah sakit. Ditempat ini pasien
mendapatkan terapi dan perawatan untuk agar mendapat kesembuhan.
Akan tetapi, rumah sakit dapat juga merupakan depot bagi berbagai
macam penyakit yang berasal dari penderita maupun dari pengunjung
yang berstatus pembawa (carier). Kuman penyakit ini dapat hidup dan
berkembang dilingkungan rumah sakit, seperti udara, air, lantai,
makanan, dan benda-benda medis maupun non medis. Infeksi rumah
sakit (nosokomial) merupakan masalah penting diseluruh dunia dan terus
meningakt setiap tahunnya. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak
tenaga kesehatan untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Salah
satu upayanya adalah penerapan universal precaution (perlindungan
diri). Akan tetapi peningkatan kejadian infeksi nosokomial tetap terjadi.
Penerapan universal precaution merupakan bagian pengendalian infeksi
yang tidak terlepas dari peran masing-masing pihak (Nursalam,2015).
Tenaga kesehatan bertanggung jawab dalam menggunakan sarana
yang disediakan dengan baik dan benar (Kemenkes, 2011). Perawat

81
adalah tenaga profesional yang peranya tidak dapat dikesampingkan, hal
tersebut disebabkan karena perawat merupakan petugas yang kontak
langsung dengan pasien selama 24 jam. (Nursalam,2015).
Tim PPI di RSUD Dr. R. Soetrasno Rembang tiap tahun selalu
melakukan survei mengenai kejadian INOS. Data dari PPI tahun 2017
menunjukkan bahwa di Ruang Teratai tidak ada kejadian INOS.
Pencegahan infeksi nosokomial dapat dapat dilakukan dengan
beberapa cara yaitu :
1) Dekontaminasi
Dekontaminasi adalah proses atau penanganan untuk membuat
perangkat, medis atau permukaan lingkungan medis menjadi aman
digunakan. Tranmisi penyakit infeksi dapat diminimalisir dengan
menjaga kebersihan tangan, tapi dalam kenyataan hal tersebut sulit
untuk di aplikasikan.Dari hasil observasi di ruang Mawar bahwa
perawat sudah melakukan cuci tangan dengan benar sesuai
prosedur, namun kadang ada perawat yang tidak cuci tangan ketika
akan melakukan tindakan ke pasien.
Analisa : Kontaminasi atau penyebaran infeksi dapat dicegah
dengan cara kebersihan tangan, perawat ruang mawar sebagian
besar sudah melakukan cuci tangan meskipun ada beberapa yang
tidak melakukan cuci tangan terutama saat mau melakukan
tindakan ke pasien.
2) Instrumen yang sering digunakan di rumah sakit/pemakaian APD
Penggunaan APD dengan baik dan tepat dapat mengurangi
terjadinya infeksi nosokomial. Data dari hasilobservasi
menujukkan bahwa perawat yang bekerja di ruang Mawar masih
ada yang tidak patuh dalam pemakaiaan APD misalnya dalam
melakukan injeksi,perawat hanya menggunakan satu sarung tangan
untuk semua pasien saat melakukan injeksi. Dan pada saat
menyiapkan obat (mengoplos) di ruang dispensing masih ada
perawat yang tidak menggunakan APD. Disetiap ruangan perawat

82
dan kamar pasien disediakan handscrub untuk mengurangi
terjadinya infeksi nosokomial.
Analisa: Penggunaan APD yang tepat dan benar akan mengurangi
INOS, di ruang Mawar pemakaiaan APD secara tepat dan benar
masih belum bisa terealisasi. Perawat masih menggunakan 1
handscon untuk injeksi semua pasien dan tidak memakai APD saat
menyiapkan (mengoplos obat).Hal tersebut tidak sesuai SOP,
dimana di dalam buku Nursalam menjelaskan bahwa 1 handscon 1
pasien. Hal tersebut disebabakan karena kurangnya efisiensi waktu.
3) Mencegah penularan di lingkungan Rumah Sakit
Mencegah penularan dari lingkuangan Rumah Sakit dengan cara:
pembersihan yang rutin sangat penting untuk memastikan rumah
sakit benar-benar bersih. Hal tersebut disebabkan karena 90%
kotoran mengandung kuman. Pembersihan di ruang Mawar
dilakukan oleh cleaning service, dimana jadwal bersih-bersih
ruangan adalah pada pagi dan siang.
Analisa: pembersihan rutin sudah dilakukan diruang Mawar,
semua ruangan di jaga kebersihanaya, termasuk kamar pasien.
e. Sistem Pengelolaan Linen
Penempatan linen diruang Mawar belum tertata rapi tetapi sudah sesuai
label nama linen, serta dalam penggunaan atau pengambilan linen tidak
sesuai dengan prinsip FIFO (First In First Out). Hal ini akan
mengakibatkan timbulnya infeksi nosokomi.
Analisa: sistem pengelolaan linen belum sesuai dengan prosedur.
f. Sistem Pengelolaan Sampah
Pembuangan sampah di ruang Mawar sudah baik, karena sudah
dibedakan antara sampah infeksius dan non infeksius. Sampah infeksius
ditempatkan di plastik warna kuning, sedangkan sampah non infeksius
ditempat di plastik warna hitam. Selain itu sudah ada tempat
pembuangan jarum suntik yaitu safety box. Pembuangan sampah di
Mawar dilakukan petugas kebersihan, dimana sampah akan di ambil

83
pada pagi dan siang hari. Sampah dikirim ke inselator. Sampah yang
infeksius dilakukan pengolahan, sedangkan sampah non infeksius di
ambil oleh mobil sampah kabupaten kudus.
Analisa: Sistem pengeloalan sampah di ruang Mawar sudah baik.

84
C. Rumusan Masalah
1. Prioritas Masalah Analisa SWOT

ANALISA SWOT MAN (M1)

NO ANALISIS SWOT BOBOT RATING BOBOT x


RATING
1. Sumber Daya Manusia (Man)
a. Internal Faktor (IFAS)
Strength
1. Adanya sistem pengembangan staf 0,3 4 1,2
berupa pelatihan-pelatihan yang
diberikan secara bergantian diruang
teratai. Masing-masing perawat
sudah mengikuti pelatihan seperti
pelatihan BTCLS, Apar, PPI, SKP,
serta pelatihan akreditasi.
2. Jenis ketenagaan : 0,3 3 0,9
a) Ners berjumlah 4 orang
b) S1 berjumlah 1 orang
c) D III berjumlah 11 orang S-W
d) Administrasi berjumlah 1 orang 3,3-3,0 =
3. Masa kerja perawat dengan 0,2 3 0,6 0,3
pendidikan Ners sebanyak 7 orang
dengan masa kerja < 10 tahun,
sedangkan masa kerja > 10 tahun
sebanyak4 orang.
4. Adanya pelatihan perawat 0,2 3 0,6
TOTAL 1 3,3

Weakness
1. Beban kerja perawat diruangan 0,4 3 1,2
cukup tinggi, karena ruang teratai
merupakan ruang kelas 2 dan 3 di
RSUD dr. R Soetrasno Rembang. 0,3 3 0,9
2. Sebagian perawat diruang teratai
belum mengikuti pelatihan MAKP
3. Belum tercapainya kesejahteraan 0,3 3 0,9
perawat.
TOTAL 1 3,0

85
b. Eksternal Faktor (EFAS) O-T
Opportunity 3-2,5=
1. Adanya program seminar ataupun 0,2 3 0,6 0,5
pelatihan mengenai manajemen
keperawatan dari diklat diruang
teratai.
2. Adanya kesempatan melanjutkan 0,2 4 0,8
pendidikan ke jenjang yang lebih
tinggi bagi perawat khususnya di
ruangteratai.
3. Adanya program akreditasi di RSUD 0,2 3 0,6
dr. R Soetrasno Rembang dari
pemerintah kabupaten setempat.
4. Adanya kebijakan pemerintah 0,2 3 0,6
maupun PPNI tentang
profesionalisasi perawat
5. Adanya kerja sama yang baik antara 0,2 2 0,4
perawat di ruang teratai dengan
mahasiswa yang sedang praktik di
RSUD dr. R Soetrasno Rembang.
TOTAL 1 3
Treathened
1. Makin tingginya kesadaran 0,3 1 0,3
masyarakat umum akan hukum
pemerintah.
2. Makin tingginya kesadaran 0,3 2 0,6
masyarakat dan pengetahuan
masyarakat akan pentingnya
kesehatan.
3. Adanya tuntutan tinggi dari 0,2 3 0,6
masyarakat untuk pelayanan yang
lebih profesional.
4. Terbatasnya peluang tenaga 0,2 3 0,6
keperawatan yang melanjutkan
pendidikan tiap tahunnya.
5. Adanya persaingan antar RS yang 0,2 2 0,4
semakin kuat dalam memberikan
pelayanan kesehatan.
TOTAL 1 2,5

86
ANALISA SWOT MONEY (M2)
NO ANALISIS SWOT BOBOT RATING BOBOT X
RATING
Keuangan (M2)
Strength
1. Sumber dana/ sistem keuangan yang 0,3 4 1,2
didapat di Ruang Teratai bersumber dari
Rumah Sakit
0,2 4 0,8
2. Adanya pendapatan dari jasa medik,
untuk pasien dengan biaya BPJS dan 0,2 3 0,6
Umum yang dapat diklaim setelah
perawatan.
3. Adanya petugas logistik di Ruang 0,3 4 1,2
Teratai yang mengurusi segala
kebutuhan peralatan di ruangan. 1 3,8 S-W
4. Jasa insentif untuk pelayanan dan jasa 3,8-3,7 =
medik yang diberikan untuk perawat 0,7 3 2,8 0,1
tidak sama tergantung dari pendidikan,
beban kerja, dan resiko infeksinya.
0,3 3 0,9
TOTAL
Weakness.
1. Jika ruangan membutuhkan 1 3,7
peralatan yang dibutuhkan, maka
untuk pengajuan pembelian
peralatannya membutuhkan waktu 0,4 4 1,6
yang cukup lama.
2. Anggaran ruangan semua 0,3 4 1,2
bersumber pada Rumah Sakit,
0,3 4 1,2
sehingga ruangan tidak
mengeluarkan dana sendiri.
1 4,0

TOTAL

Opportunity. O-T
0,3 3 0,9
1. Semua kebutuhan dana atau 4,0-3,7=
keuangan di ruangan di peroleh dari 0,3
rumah sakit 0,7 4 2,8
2. Pengeluaran sebagaian besar

87
dibiayai BLUD.
3. Adanya kesempatan untuk 1 3,7
menggunakan instrumen medis
dengan re-use sehingga menghemat
pengeluaran..
TOTAL

Threatened.
1. Anggaran Ruangan bersumber dari
Rumah Sakit sehingga ruangan
tidak memiliki kebijakan untuk
mengeluarkan dana sendiri
2. Adanya tuntutan yang lebih tinggi
dari masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan
yang lebih professional sehingga
butuh pendanaan yang lebih besar
untuk mendanai sarana dan
prasarana.

TOTAL

88
ANALISA SWOT METODE (M3)

BOBOT Hasil
NO ANALISIS SWOT BOBOT RATING X
RATING
1 MAKP
a. Internal Faktor (IFKS)
Strength
1. Rumah Sakit memiliki visi, misi 0,2 3 0,6
dan motto sebagai acuan
melaksanakan kegiatan
pelayanan.
2. Sudah ada modal MPKP yaitu 0,2 4 0,8
metode tim
3. Mempunyai SPO sebagai 0,2 4 0,8
standart tindakan asuhan
keperawatan
4. Terlakasananya komunikasi 0,2 3 0,6
yang efektif yaitu antara perawat
dengan tim kesehatan lain.
5. Perawat dapat mengembangkan 0,2 3 0,6
ketrampilan
1 3,4 S – W = 3,4
Total – 3 = 0,4
Weakness 1 3 3
1. Job yang kadang tidak sesuai
dengan tugas masing - masing 1 3
Total
b. Eksternal Faktor (EFAS)
Opportunity 0,4 4 1,6
1. Adanya kebijakan Rumah Sakit
tentang pelaksanaan MAKP
2. Adanya kebijakan pemerintah 0,6 3 1,8
tentang profesionalisasi perawat.
Total 1 3,4 O – T = 3,4
Threats – 2,4 = 1
1. Adanya persaingan antara rumah 0,1 3 0.3
sakit lain yang semakin ketat.

89
2. Adanya tuntutan masyarakat 0,3 2 0,6
yang semakin tinggi terhadap
peningkatan keperawatan yang
lebih profesional.
3. Semakin tingginya kesadaran 0,2 3 0,6
masyarakat akan hukum.
4. Smakin tingginya kesadaran 0,3 2 0,6
masyarakat akan pentingnya
kesehatan.
5. Cepatnya penyebaran informasi 0,1 3 0,3
melalui sosial media.
Total 1 2,4
2. Timbang Terima
a. Internal Faktor (IFAS)
Strenght.
1. Kepala ruangan memimpin 0,1 2 0,2
kegiatan timbang terima setiap
pagi.
2. Adanya format timbang terima. 0,3 4 1,2
3. Timbang terima sudah dilakukan 0,2 3 0,6
setiap pergantian shift.
4. Timbang terima dilakukan 0,2 2 0,4
sehari 3 kali.
5. Semua perawat mengikuti 0,2 3 0,6
kegiatan timbang terima.
Total 1 3 S–W=3–
Weaknes. 2,3 = 0,7
1. Dalam proses timbang terima 0,3 3 0,9
pre konferen dan post konferen
dilakukan secara bersamaan di
nurse station kemudian
memvalidasi ke pasien.
2. Saat memvalidasi ke pasien 0,7 2 1,4
perawat belum memperkenalkan
diri yang akan bertugas pada
shift itu dan belum
menyampaikan siapa ketua tim
yang bertanggung jawab
Total 1 2,3
b. Eksternal Faktor (EFAS)

90
Opportunity.
1. Adanya kebijakan rumah sakit 0,7 2 1,4
(bidang keperawatan) tentang O – T = 2,3
timbang terima. – 2,3 = 0
2. Mudahnya dalam mencari 0,3 3 0,9
informasi terbaru tentang
timbang terima.
Total 1 2,3
Threats
1. Persaingan antar RS yang 0,2 3 0,6
semakin ketat.
2. Adanya tuntutan yang lebih 0,4 2 0,8
tinggi dari masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan
keperawatan yang profesional.
3. Meningkatnya kesadaran 0,3 2 0,6
masyarakat tentang kesehatan.
4. Meningkatnya kesadaran 0,1 3 0,3
masyarakat tentang hukum
Total 1 2,3
3 Ronde Keperawatan
a. Internal Faktor (IFAS)
Strength
1. Adanya pasien yang 0,5 3 1,5
memerlukan perhatian khusus
2. Adanya perawat ruang yang 0,5 3 1,5
profesional dan berpengalaman.
Total 1 3
Weakness S–W=3–
1. Belum pernah diadakan ronde 0,4 2 0,8 2=1
keperawatan di ruang Teratai
2. Perawat belum memahami 0,6 2 1,2
tentang ronde keperawatan.
Total 1 2
b. Eksternal Faktor (EFAS)
Opportunity
1. Adanya pelatihan dan seminar 0,4 3 1,2
tentang manajemen
keperawatan.
2. Adanya bidang keperawatan 0,6 3 1,8

91
dan ruangan yang mendukung
untuk dilakukannya ronde
keperawatan.
Total 1 3
Threatened O–T=
1. Keluarga/pasien tidak 0,5 2 0,1 3 – 2,5 =
kooperatif 0,5
2. Tidak adanya solusi dari 0,5 3 1,5
masalah yang dihadapi pasien.
Total 1 2,5
4 Sentralisasi Obat
a. Internal Faktor (IFAS)
Strength
1. Adanya ruangan untuk 0,1 2 0,2
sentralisasi obat
2. Kepala ruangan mendukung 0,1 3 0,3
kegiatan sentralisasi obat
3. Adanya buku injeksi dan obat 0,3 4 1,2
oral
4. Adanya lembar dokumentasian 0,2 3 0,2
obat di setiap status pasien
5. Adanya label identitas di setiap 0,3 4 1,2
obat
Total 1 3,1 S – W = 3,1
Wekness – 3 = 0,1
1. Belum terpantaunya efek 1 3 3
samping obat
Total 1 3
b. Eksternal Faktor
Opportunity
1. Terdapat trolly injeksi yang di 0,3 3 0,9
dalamnya terdapat loker kecil
untuk menaruh obat injeksi
yang akan disuntikkan kepada
pasien.
2. Adanya kebijakan RS tentang 0,7 4 2,8 O–T= 3–
pengadaan obat ODD. 3,4 = 0,3
Total 1 3,7
Threats
1. Adanya tuntutan pasien untuk 0,3 3 0,9

92
mendapatkan pelayanan yang
lebih baik
2. Semaki tingginya kesadaran 0,3 3 0,9
pasien untuk sembuh
3. Penyalahgunaan obat yang 0,4 4 1,6
tidak sesuai 6 tepat.
Total 1 3,4

5 Discharge Planning
a. Internal Faktor (IFKS)
Strength
1. Discharge planning di ruang 0,3 4 1,2
Mawar sudah dilakukan dan
terdapat format yang baku.
2. Discharge planning dibuat 0,2 3 0,6
selama 1 x 24 jam
3. Terdapat form APS (Atas 0,1 3 0,3
Permintaan Sendiri) yang
digunakan apabila keluarga
pasien atau pasien
menginginkan pulang paksa.
4. Terdapat lembar kontrol untuk 0,1 3 0,3
pasien.
5. Perawat memberikan pendkes 0,3 4 1,2
kepada pasien atau keluarga
selama di rawat atau saat akan
pulang
Total 1 3,6
Weakness S – W = 3,6
1. Keterbatasan waktu dan tenaga 0,2 3 0,6 – 3,8 = - 0,2
perawat untuk memberikan
pendkes. 0,4 4 1,6
2. Kurangnya kemauan perawat
untuk memberikan pendkes
kpd pasien atau keluarga. 0,4 4 1,6
3. Belum tersedianya leaflet atau
brosur tentang pendkes untuk
pasien / keluarga.
Total 1 3,8

93
b. Eksternal Faktor (EFAS)
Opportunity
1. Terdapat tenaga medis 0,5 4 2
profesional dalam memberikan
pendkes.
2. Adanya kebijakan dari RS 0,3 3 0,9
tentang pendkes.
3. Adanya media sosial sebagai 0,2 3 0,6
pemberi informasi tentang
kesehatan
Total 1 3,5
Treathmend
1. Adanya persaingan antara 0,5 3 1,5
rumah sakit lain yang
semakin ketat. O – T = 3,5
2. Smakin tingginya kesadaran 0,5 3 1,5 – 3 = 0,5
masyarakat akan pentingnya
kesehatan.
Total 1 3
6 Supervisi
a. Internal Faktor (IFAS)
Strenght.
1. Supervisi telah dilakukan secara 0,3 3 0,9
rutin oleh supervisor RS yang
telah terjadwal.
2. Kepala ruang mendukung dan 0,2 3 0,6
melaksanakan supervisi.
3. Hasil dari supervisi disampaikan 0,2 3 0,6
kepada perawat
4. Terdapat feed back dari perawat 0,3 3 0,9
Total 1 3 S–W=3–
Weaknes. 3,6 =
1. Sudah pernah dilakukan 3 1,2 -0,6
supervisi ketua tim terhadap 0,4
anggotanya namun belum
terstruktur
2. Belum terdapat format penilaian 4 2,4
yang baku dalam pelaksanaan
supervisi.
Total 0,6 3,6

94
b. Eksternal Faktor (EFAS)
Opportunity
1. Adanya program pelatihan 3 0,9
supervisi 1
2. Adanya teguran dari kepala 3 0,9
ruangan bagi perawat yang tidak
melaksanakanakan tugas dengan
baik
3. Adanya reward bagi perawat 0,3 4 1,6
yang melaksanakan tugas
dengan baik.
Total 0,3 3,4 O – T = 3,4
Treathmend – 3 = 0,4
1. Adanya tuntutan dari pasien
sebagai konsumen untuk 3 3
mendapatkan pelayanan
profesional.
Total 0,4 3

7 Penerimaan Pasien Baru


a. IFAS
Strength
1. Sudah ada format baku serah 0,4 4 1,6
terima pasien baru
2. Adanya assestmen awal untuk 0,4 4 1,6
identifikasi kondisi pasien
3. Memperkenalkan ruangan dan 0,2 3 0,6
kebijakan yang ada di ruangan
dan rumah sakit
Total 1 3,8 S – W = 3,8
Weakness – 4 = - 0,2
1. Belum diberikan pendkes 1 4 4
tentang 6 langkah cuci tangan
dan etika batuk
Total 1 4
b. EFAS
Opportunity
1. Adanya sarana dan prasarana 0,2 3 0,6
yang memadai di ruangan.

95
2. Adanya leaflet tentang 6 langkah 0,4 3 1,2
cuci tangan
3. Adanya hand scrub dan hand 0,4 3 1,2
wash di setiap kamar pasien
Total 1 3 O–T=3–
Treathened 2,7 = 0,3
1. Adanya persaingan antara rumah 0,3 2 0,6
sakit lain yang semakin ketat.
2. Adanya tuntutan masyarakat 0,4 3 1,2
terhadap peningkatan
keperawatan yang lebih
profesional.
3. Tingginya kesadaran masyarakat 0,3 3 0,9
akan pentingnya kesehatan.
Total 1 2,7
8 Dokumentasi
Internal Faktor (IFAS)
Strenght.
1. Dokumentasi sudah tersusun
dengan lengkap 0,2 3 0,6
2. Pengisian dokumentasi sudah
baik 0,3 3 0,9
3. Format dokumentasi sudah ada
dan jelas 0,3 3 0,9
4. Tersedianya sarana dan
prasarana dokumentasi untuk 0,2 3 0,6
tenaga kesehatan S–W=3–
Total 1 3 2,8 = 0,2

Weaknes.
1. Sistem dokumentasi belum
terkomputerisasi 0,3 3 0,9
2. Kurang jelasnya tulisan yang
membuat bingung 0,2 3 0,6
3. kurangnya rasa semangat untuk
melengkapi dokumentasi. 0,2 2 0,4
4. Pengawasan terhadap
pendokumentasian belum 0,3 3 0,9
dilaksanakan secara optimal
Total 1 2,8

96
a. Eksternal Faktor (EFAS)
Opportunity
1. Adanya program pelatihan 0,3 1,2
manajemen 4
2. Adanya pengawasan terhadap 0,4 1,6
dokumentasi 4
3. Adanya teguran bagi yang 0,3 0,9
tidak lengkap dokumentasinya 3
dan reward bagi yang lengkap
dokumentasinya.
Total 1 3,7
Treathmend O – T = 3,7
1. Adanya tuntutan masyarakat – 3 = 0,7
yang semakin tinggi terhadap 0,5 1,5
peningkatan keperawatan yang 3
lebih profesional.
2. Persaingan antar RS dalam
memberikan pelayanan 0,5 1,5
keperawatan 3
Total 1 3

97
ANALISA SWOT M4 (MATERIAL)

ANALISIS SWOT BOBOT RATIN BOBOT X


G RATING

MATERIAL

IFAS

STRENGTH

1. Mempunyai sarana dan prasarana 0,2 3 0,6


untuk pasien dan tenaga
kesehatan.

2. Mampu menggunakan sarana dan 0,3 3 0,9


prasarana yang ada

3. Tersediannya nurse station. 0,2 3 0,6


4. Adanya petugas yang melakukan 0,3 3 0,9
kalibrasi alat setiap bulan sekali

S–W=3
Total 1 3 – 2,5 = 0,5

WEAKNESS

1. Bahan habis pakai seperti 0,5 3 1,5


handscon, masker kadang
kehabisan

2. Terdapat peralatan yang rusak


0,5 2 1
seperti TV, wastafel yang bocor
dan oksigen transfer yang kosong

Total 1 2,5

OPPORTUNITY

1. Adanya kesempatan untuk 0,5 4 2


menempatkan peralatan sesuai

98
dengan ruangan.

2. Adanya kesempatan untuk


memanfaatkan ruang atau tempat
yang masih kosong. 0,3 3 0,9

3. Adanya kesempatan bagi tenaga


logistic untuk mengatur penataan
ruangan supaya sarana dan
prasarana dapat digunakan dengan 0,2 2 0,4
baik.
O-T =

3,3-3 =
0,3

Total 1 3,3

THREATENED

1. Ketidakseimbangan antara jumlah 1 3 3


pasien dengan peralatan

Total 1 3

99
ANALISA SWOT M5 (MUTU)

NO ANALISIS SWOT BOBOT RATING BOBOT X


RATING

Mutu (M5)

Strength

1. Pasien di ruang teratai Puas dengan 0,3 3 0,9 S-W


pelayanan diruangan 3,7-3= 0,7
2. Rata-rata Bed Oportuniti Rate baik dan 0,25 4 1
selalu dibersihkan setiap hari serta
penggantian seprai setiap 2 hari sekali

3. Pasien menggunakan BPJS PBI dan Non 0,25 4 1


PBI

2. Meskipun ruang Teratai kelas 2 dan 3 0,2 4 0,8


tetapi dapat digunakan sebagai lahan
praktik management mahasiswa
keperawatan Ners STIKES Cendekia
Utama Kudus
TOTAL 1 3,7

Weakness.
1 3 3
1. Jika ada pasien baru dating petugas ada
yang memberikan dan ada yang tidak
memberikan edukasi cara mencuci tangan
yang benar 1 3
TOTAL

Opportunity. 0,5 2 1

1. Mahasiswa Ners STIKES Cendekia


Utama Kudus Praktik manajemen diruang
Mawar 0,5 3 1,5
O-T
2. Terjalin kerjasama yang baik antara
perawat dan mahasiswa. 2,5-3= -
TOTAL 1 2,5 0,5

100
Threatened.

1. Jika pasien dan keluarga tidak diberi 1 3 3


edukasi tentang cara mencuci tangan dengan
benar dapat tertular infeksi nosokomial.
1 3
TOTAL

101
2. Diagram Layang Analisa SWOT

DIAGRAM LAYANG ANALISA SWOT


Ruang Teratai RSUD dr. R SOETRASNO REMBANG
S

RK

0,9

M5 0,8
OV
0,7

0,6 MI M4

0,5 M3

0,4

0,3 DK

0,2 SO M2

0,1
T O
-1 -0,9 -0,8 -0,7 -0,6 -0,5 -0,4 -0,3 -0,2 -0,1 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1

-0,1 DP

-0,2

-0,3

-0,4

-0,5 SV

-0,6

-0,7

-0,8

-0,9

-1

W
102
Keterangan:
M1 : Man/ketenagaan
M2 : Material
M3 : Method
M5 : Mutu/market
SV : Supervisi
DK: Diagnosa Keperawatan
RK:Ronde Keperawatan
OV: Overan

103
IDENTIFIKASI MASALAH

a. Ketenagakerjaan/ Man (MI)


Tidak ada masalah
b. Money M2
Tidak ada Masalah
c. Metode (M3)
1. MAKP Tim
Tidak ada masalah
2. Timbang Terima
Tidak ada masalah
3. Ronde Keperawatan
Tidak ada masalah
4. Sentralisasi Obat
Tidak ada masalah
5. Discharge Planning
Pemberian edukasi tingkat pelaksanaan orientasi pasien baru belum
terlaksana dengan baik
6. Supervisi
a. Sudah pernah dilakukan supervisi ketua tim terhadap anggotanya
namun belum terstruktur
b. Belum terdapat format penilaian yang baku dalam pelaksanaan
supervisi.
7. Dokumentasi
Tidak ada masalah
d. Material (M4)
Tidak ada masalah
e. Mutu (M5)
Kurangnya edukasi tentang cara mecuci tangan yang benar kepada pasien baru
dan keluarga.

104
PRIORITAS MASALAH

1. Supervisi
Belum terdapatnya format baku supervisi
2. Discharge Planning
Pemberian edukasi tingkat pelaksanaan orientasi pasien baru belum terlaksana
dengan baik
3. Mutu (M5)
Kurangnya edukasi tentang cara mecuci tangan yang benar kepada pasien baru
dan keluarga.

105
BAB IV

PERENCANAAN (PLAN OF ACTION)

No Masalah Tujuan Program/kegiatan Indikator/ target Sasaran Penanggung Waktu


keberhasilan jawab
1. Discharge Discharge Memberikan masukan Perawat mau KARU dan
Planning planning kepada ruangan untuk memberikan anggotanya
Pemberian edukasi terlaksana memberikan edukasi edukasi kepada
untuk pasien baru secara optimal kepada semua pasien yang pasien yang baru
belum terlaksana baru masuk rungan masuk ruangan
dengan baik
2. Supervisi belum Mampu 1. Memberikan masukan Supervisi KARU dan
optimal dalam menerapkan kepada ketua tim untuk terdokumentasi anggotanya
pendokumentasian supervisi ikut serta dalam dengan baik
keperawatan melakukan supervisi
sesuai prosedur kepada anggotanya
2. Membuat format
penilaian supervisi
3. M5 – Mutu Mampu 1. Memberikan orientasi Perawat dapat Perawat
menerapkan pada pasien dan memberikan
edukasi keluarga pasien baru edukasi tentang
terhadap pasien 2. Memberikan informasi cuci tangan kepada

106
dan keluarga kepada perawat untuk pasien dan keluarga
tentang cuci memberikan edukasi
tangan yang kepada pasien dan
benar keluarga untuk
mencuci tangan yang
benar.

107
BAB V

PELAKSANAAN DAN EVALUASI

Berdasarkan Plan of Action yang telah disusun, berikut ini adalah laporan
manajemen pelaksanaan kegiatan di ruang Teratai RSUD dr. R. Soetrasno Rembang
laporan kegiatan pelaksanaan disusun berdasarkan urutan masalah yang muncul pada
pengkajian dan perencanaan sebagai berikut :

1. Pelaksanaan Orientasi Pasien Baru


Kegiatan ini di laksakan pada tanggal 22 Desember 2018
Tabel 4.1
Program Pelaksanaan Kegiatan Orientasi Pasien Baru Di Ruang Teratai RSUD
Dr.R Soetrasno Rembang.

Observasi
No Kegiatan Jumlah responden
Ya Tidak
1 Perawat memberikan informasi √
tentang ruang perawat
2 Perawat memberikan informasi hak- √
hak dan kewajiban pasien
3 Perawat memberikan informasi √
tentang kontrak waktu untuk pasien
4 Perawat memberikan informasi √
tentang fasilitas ruangan dan cara
penggunaan
5 Perawat memberikan informasi √
tentang orientasi dengan petugas yang
terkait

108
Analisa data :

Berdasarkan hasil evaluasi dari tanggal 22 – 27 Desember 2018 pelaksanaan


orientasi pasien baru di ruang teratai meningkat dengan presentase 80,00 %.
Perawat mampu mengimplementasikan orientasi pasien baru sesuai dengan SOP
yang ada, mereka menyampaikan poin-poin penting yang harus diketahui pasien
dan keluarga selama perawatan di rumah sakit.
Orientasi pasien baru merupakan kontrak antara perawat dan pasien atau
keluarga dimana dapat kesepakatan antara perawat dengan pasien atau keluarganya
dalam memberikan asuhan keperawatan ( Yahya, 2009 ). Pengertian diatas sesuai
dengan pemikiran perawat di ruang teratai, dimana orientasi pasien baru ada
intinya memberikan sejumlah informasi penting pada pasien dan keluarga.
Orientasi pasien baru dilakukan setelah perawat selesai melakukan hand over
dokumen asuhan keperawatan.
Tujuan dilakukan orientasi pasien baru di ruang teratai adalah sebagai salah
satu metode untuk meningkatkan kepuasan pelayanan pasien dan juga mengurangi
kesalahpahaman informasi antara perawat dan pasien.
a. Factor pendukung dan penghambat
1) Pendukung
- SOP orientasi pasien baru sudah tersedia
Di RSUD dr. R. Soetrasno Rembang terdapat standaryang ditetapkan
sebagai tolak ukur perawat, yang disebut sebagai standar operasional
prosedur (SOP). Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh
Nursalam 2015 yang menyebutkan standar praktik keperawatan
adalah norma atau penegasan tentang mutu pelayanan seorang
pegawai yang dianggapbaik, tepat dan benar yang dirumuskan sebagai
pedoman pemberian asuhan keperawatan serta sebagai tolak ukur
dalam penilaian penampilan kerja seorang perawat. Beberapa SOP
yang ada di ruangan adalah: kebersihan tangan ( hand higyne ) ,

109
menurunkan resiko cedera pasien akibat jatuh, orientasi pasien baru.
Adanya SOP tersebut menjadi pedoman dalam melaksanakan kegiatan
ini, selain itu adanya SOP menjadi salah satu indicator penting dalam
meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.
2) Factor penghambat
Perawat yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini pada saat dilakukan
implementasi berturut-turut selama 3 hari terdapat perbedaan partisipan,
sehinga pelaksanaannya tidak dapat dilakukan secara menyeluruh
b. Kesinambungan
Ruang teratai diharapkan dapat memberikan fasilitas leafleat dan diperbanyak
untuk pasien baru, yang berisi mengenai hak dan kewajiban serta tata tertib
yang ada di ruangan. Hal ini kan digunakan sebagai media untuk
mempermudah perawat dalam menyampaikan informasi.

2. Pelaksanaan pengkajian Supervisi


Kegiatan ini di laksakan pada tanggal 22 Desember 2018
Tabel 4.2
Pelaksanaan Pengkajian Supervisi di Ruang Teratai RSUD dr. R.
Soetrasno Rembang
Pernyataan
No Program Waktu Pelaksanaan
Ya Tidak
1 Mengatur kerja para perawat √
2 Bertanggung jawab atas hasil kerja
perawat √
3 Memecahkan masalah tim dan √
memberikan breafing
4 Membuat planning pekerjaan untuk
kedepannya √
5 Membuat jadwal untuk perawat dan √
memberian motivasi kepada perawat

110
Analisa Data:
Berdasarkan hasil evaluasi tanggal 22 – 27 Desember 2018 pelaksanaan pengkajian
supervsi di ruang teratai meningkat dengan presentase 60% katim mampu
menerapkan supervise sesuai dengan SOP yang ada. Katim menyampaikan poin-
poin penting yang harus diketahui oleh perawat selama melakukan supervise.
a. Factor pendukung dan penghambat
1) Factor pendukung
Supervise dilakukan dengan tujuan tercapainya pengembang layanan
keperawatan, pengembangan individu perawat, dan pengembangan
supervisor itu sendiri. Pengembangan tercapai melalui pemenuhan sumber-
sumber yang diperlukan staf untuk menyelesaiakan tugas-tugasnya sesuai
dengan salah satu tugas yang diemban supervisor. Supervise memiliki
pengaruh besar dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. Peran dari fungsi
pengarahan kepala ruang memiliki hubungan yang positif dalam kepatuhan
perawat pelaksana menggunakan alat pelindung diri. Supervise dari kepala
ruang mampu meningkatkan motivasi dan kinerja perawat pelaksana.
Supervise kepala ruang berhubungan poditif dengan penerapan pasien
safety.
2) Factor penghambat
Dari hasil observasi bahwa SPO supervise sudah ada dan seluruh kepala
ruang sebagai supervisor sudah mendapatkan pemahaman mengenai
supervise ketika pelatihan manajemen ruangan. Namun memang untuk
kegiatan supervise kepala ruang terhadap perawat pelaksana di ruangannya
belum sepenuhnya berjalan.
b. Kesinambungan
Kepala ruang teratai diharapkan dapat memberikan form penilaian yang
digunakan dalam pelaksanaan supervise, yang berisi tentang penilaian ketua
tim dan perawat pelaksana dalam melakukan tugas masing-masing saat

111
diruangan. Hai ini akan digunakan sebagai media untuk mempermudah kepala
ruang dalam menyampaikan informasi.

3. Pelaksanaan Pengkajian Cuci Tangan


Kegiatan ini di laksakan pada tanggal 22 Desember 2018
Tabel 4.3
Pelaksanaan Pengkajian Cuci tangan di Ruang Teratai RSUD dr. R.
Soetrasno Rembang
Pernyataan
No Program Waktu Pelaksanaan
Ya Tidak
1 Melakukan koordinasi dengan karu √
tentang program yang akan
dilaksanakan
2 Membuat instrument penilaian tentang
pelaksanaan cuci tangan √
3 Mengapliasikan cuci tangan 5 moment
kepada perawat √
4 Mengajarkan cuci tangan kepada
pasien dan penunggu pasien √
5 Mengevaluasi kepatuhan cuci tangan √
pada perawat sesuai 5 momen

Tabel 4.4
Pelaksanaan cuci tangan di Ruang Teratai RSUD dr. R Soetrasno Rembang
No Aspek yang dinilai Pelaksanaan
Ya Tidak
1 Petugas bisa mempraktekkan 6 langakh cuci tangan √
2 5 momen cuci tangan: sebelum kontak dengan √
pasien
3 Sebelum tindakan aseptic √
4 Setelah kontak dengan pasien √
5 Setelah terkena cairan pasien √
6 Setelah kontak dengan lingkungan pasien √

112
Analisa Data :
Pelaksanaan cuci tangan yang dilakukan perawat di Ruang Teratai RSUD dr. R.
Soetrasno Rembang sudah sesuai dengan SOP Rumah Sakit, diantaranya pelaksanaan
sesuai dengan 5 momen cuci tangan hal ini sesuai dengan WHO ( 2008, halaman 1 ),
yaitu sebelum kontak dengan pasien, sebelum melakukan tindakan aseptic, setelah
terkena darah, cairan tubuh, secret, eksresi kulit terluka, dan benda-benda
terkontaminasi, walaupun menggunakan sarung tangan, setelah kontak dengan pasien
baik mengunakan sarung tangan maupun tidak mengunakan sarung tangan, sesudah
kontak dengan lingkungan pasien.
Pelaksanaan 6 langkah cuci tangan yang dilakukan perawat di ruang teratai
RSUD dr. Soetrasno Rembang sudah sesuai dengan WHO , 2008, ¶2 diantaranya,
menuangkan cairan hands scrub pada telapak tangan kemudian mengusap dan
menggosok memutar pada telapak tangan, mengusap dan menggosok kedua punggung
tangan secara bergantian, menggosok sela-sela jari, bersihkan ujung jari secara
bergantian, dengan posisi tangan mengunci, gosok dan putar kedua ibu jari secara
bergantian, letakkan ujng jari pada telapak tangan kemudian gosok perlahan dan
memutar.

c. Factor pendukung dan penghambat


1) Factor pendukung
a) Tersedianya sarana dan prasarana
Dukungan sarana dan prasarana menurut Almashitoh
2011 menyatakan bahwa penyediaan sarana yang baik
dalam bentuk materi ataupun jasa dapat mempermudah
individu dalam pencapaian tujuan. Di ruang teratai
ketersediaan sarana dan prasarana cuci tangan seperti:
wastafel, hands scrub, sabun, tisu sekali pakai, sudah

113
memadai. Hal ini menjadi salah satu penunjang perawat
dalam melakukan cuci tangan.
2) Faktor penghambat
b) Perawat kurang memiliki kesadaran mengenai hand hygine
Factor-faktor yang mempengaruhi perilaku petugas kesehatan
terhadap kepatuhan cuci tangan salahg satunya yaitu factor
individu. Penerapan cuci tangan pada perawat juga harus
didukung oleh kesadaran perawat itu sendiri dalam melindungi
diri dan pasien dari bahaya infeksius serta kesadaran dalam
menjalankan SOP yang benar. Hasil observasi di ruang teratai
kesadaran perawat dalam melakukan cuci tangan sesuai dengan
6 langkah benar dan 5 moments masih perlu ditingkatkan,
sehingga diperlukan pengorganisasian kepala ruang untuk
selalu memberikan motivasi pentingnya kesadaran diri untuk
mencuci tangan.
c) Beban kerja perawat yang tinggi
Beban kerja perawat menurut Everly dalam Munandar 2011
merupakan keadaan dimana pekerja dihadapkan pada tugas
yang harus diselesaikan pada waktu tertentu baik secara
kualitatif maupun kuantitatif. Hasil observasi di ruang teratai
terdapat ketidaksesuaian antara jumlah perawat dengan jumlah
pasien yang seharusnya, serta program yang sering dijadwalkan
bersamaan. Hal ini membuat perawat tidak maksimal dalam
menerapkan cuci tangan sesuai prosedur.
d. Kesinambungan
1) Diharapkan perawat dapat terus meningkatkan kesadaran akan
pentingnya cuci tanga untuk meningkatkan budaya keselamatan.

114
Perawat juga diharapkan mampu mengajarkan dan mengevaluasi
cara mencuci tangan kepada pasien dan keluarga secara rutin.
2) Cuci tangan merupakan tindakan yang sederhana namun
terkadang sering dilupakan. Diharapkan kepala ruang dapat
memberikan strategi-strategi baru mengenai pelaksanaan cuci
tangan agar terciptanya penerapan yang konsisten di ruang teratai.
Strategi-strategi tersebut dapat dilakukan dengan cara memberikan
reward sebagai motivasi perawat.

115
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Manajemen adalah suatu tugas khusus yang harus dilaksanakan oleh pengelola
keperawatan untuk merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan serta mengawasi
sumber-sumber yang ada baik sumber daya manusia, alat maupun dana, sehingga
dapat memberikan pelayanan keperawatan yang efektif, baik kepada pasien,
keluarga dan masyarakat (Nursalam 2014). Pelayanan keperawatan yang baik akan
terlaksana apabila manajemen keperawatan telah berperan secara maksimnal sesuai
tugasnya. Kegiatan praktik manajemen telah berlangsung di ruang teratai RSUD dr.
Soetrasno Rembang selama 4 minggu mulai tanggal 3 Desember – 29 Desember
2018. Berdasarkan hasil POA yang sudah dilaksanakan maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Dari hasil pengkajian didapatkan masalah yaitu beberapa perawat tidak
melakukan orientasi cara cuci tangan yang benar pada pasien dan keluarga
pasien baru dan pelaksanaan cuci tangan oleh perawat sudah berjalan namn
perawat masih sering tidak sesuai dengan yang diharapkan.
2. Berdasarkan hasil aplikasi yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai
berikut:
a. pada hasil evaluasi setelah dilakukan edukasi dengan pasien baru
yang ada di ruangan menggunakan beberapa media, hasil
pelaksanaan orientasi pasien baru yang dilakukan perawat adalah
sedang dengan persentase 75,33%, terdapat beberapa pemberian
orientasi kurang lengkap, belum sesuai dengan SPO. Setelah
dilakukan edukasi dengan pasien baru pengetahuan pasien dan
keluarga menjadimeningkat 82,00%.

116
b. Pada hasil evaluasi pelaksanaan pengkajian supervsi di ruang teratai
meningkat dengan presentase 60% katim mampu menerapkan
supervise sesuai dengan SOP yang ada. Katim menyampaikan poin-
poin penting yang harus diketahui oleh perawat selama melakukan
supervise.
c. pada hasil evaluasi cuci tangan setelah dilakukan edukasi dengan
pasien dan keluarga pasien mengenai 5 momen dan 6 langkah yang
sebelumnya 70,33% menjadi 78,33%.
B. Saran
1. Bagi pelayanan keperawatan
a. Diharapkan pihak rumah sakit memiliki strategi untuk meningkatkan
kinerja keperawatan.
b. Diharapkan perawat dapat lebih meningkatkan motivasi diri dalam
melaksanakan tugas sesuai peran dan fungsinya.
c. Diharapkan perawat mampu mendemonstrasikan hand hygine saat operan
ke pasien untuk meningkatkan kesadaran pasien dan keluarga untuk cuci
tangan, sehingga meminimalkan infeksi nosocomial. Kemudian untuk
memaksimalkan kepatuhan perawat dalam melakukan kand hygine 5
momen dan 6 langkah.
2. Bagi rumah sakit
Laporan ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menyusun strategi
peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit yang meliputi
keselamatan pasien.
3. Bagi mahasiswa
a. Dengan adanya laporan manajemen ini mahasiswa dapat mengembangkan
dan mengumpulkan data yang lebih untuk diaplikasikan di ruang teratai
RSUD dr. Soetrasno Rembang.

117
b. Diharapkan mahasiswa lebih mampu mengelola masalah dan lebih kritis
dalam mengidentifikasi permasalahan keselamatan pasien terutama
pencegahan infeksi nosocomial pada pasien dan keluarga pasien dengan
cara mencuci tangan yang benar.

118