Anda di halaman 1dari 20

Makalah Sistem Informasi Akuntansi

”Financial Reporting System and Management Reporting System”

Disusun Oleh :

1. Mona Adila Pardede (1610531010)


2. Gheni Putri Rahayu (1610531024)
3. Almadani Adelia (1610531038)
4. Hafnati Rahmi (!610532001)
5. Berlinda Habibie (1610533019)

Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi
Universitas Andalas

2019
I. PENDAHULUAN
A. Kata Pengantar

Perkembangan kebutuhan informasi sejalan dengan perkembangan ilmu


pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, khususnya ilmu komputer. Dalam hal
ini, komputer memegang peranan yang sangat penting sebagai alat bantu dalam
pengolahan data. Penggunaan komputer yang dilengkapi dengan program aplikasi yang
menunjang akan menghemat waktu, biaya, dan tenaga serta memudahkan dalam
menghasilkan informasi berkualitas seperti yang dibutuhkan. Kebutuhan akan suatu
sistem informasi dewasa ini mencakup hampir di segala ruang lingkup kehidupan.
Setiap organisasi sangat membutuhkan informasi yang akurat, cepat, dan relevan.
Namun dalam kenyataanya hal tersebut terkadang tidak sesuai dengan keinginan dan
harapan yang hendak dicapai, dikarenakan kurang atau terbatasnya sistem informasi
yang digunakan.
Laporan keuangan dibuat untuk memberikan informasi keuangan kepada pihak
eksternal perusahaan, seperti kreditur, pemegang saham, dan pemerintah. Laporan
keuangan dapat mencerminkan kinerja suatu perusahaan, yang dapat dijadikan salah
satu penilaian oleh pihak eksternal kepada perusahaan. Laporan keuangan sangat harus
diperhatikan, karena akan memengaruhi bagaimana pihak eksternal memperlakukan
perusahaan. Laporan keuangan dibuat dengan asumsi bahwa audiens merupakan para
pemakai yang canggih dengan kebutuhan yang relatif sama yang memahami
prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan.
Pelaporan manajemen sering disebut pelaporan diskresioner karena tidak
dimandatkan seperti pelaporan keuangan. Orang bisa mengambil masalah dengan
kebijaksanaan panjang, bagaimanapun, dan berpendapat bahwa sistem pelaporan
manajemen yang efektif (MRS) yang diamanatkan oleh undang-undang SOX, yang
mensyaratkan bahwa semua perusahaan publik memantau dan melaporkan efektivitas
pengendalian internal atas pelaporan keuangan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud Sistem Pelaporan Keuangan ?
2. Apa yang dimaksud Sistem Pelaporan Manajemen ?
3. Apa perbedaan keputusan terstruktur dan tidak terstruktur ?
4. Apa itu XBRL?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui Sistem Pelaporan Keuangan
2. Untuk mengetahui Sistem Pelaporan Manajemen
3. Untuk mengetahui perbedaan keputusan terstruktur dan tidak terstruktur
4. Untuk lebih mengenal apa itu XBRL

II. PEMBAHASAN

A. Sistem Pelaporan Keuangan


Tanggung jawab untuk memberikan informasi ke pihak eksternal diterapkan oleh
standar hukum dan profesional. Informasi yang diperoleh merupakan laporan
keuangan. Kewajiban pelaporan ini dipenuhi melalui komponen FRS dari GL/FRS.

Penerima utama dari informasi laporan keuangan adalah para pengguna eksternal,
seperti pemegang saham, kreditor, dan pejabat pemerintah. Mereka semua
memerlukan informasi yang mungkin mereka mengamati tren kinerja selama
beberapa waktu dan melakukan perbandingan di antara perusahaan yang berbeda
melalui laporan keuangan tersebut. Dengan mengetahui hakikat kebutuhan ini,
informasi pelaporan keuangan harus disiapkan dan disajikan oleh semua perusahaan
dengan cara-cara yang diterima secara umum dan dipahami oleh pengguna eksternal.

1. Pengguna yang Caggih dengan Kebutuhan Informasi yang Homogen

Karena komunitas pengguna eksternal sangat besar dan kebutuhan


informasinya bervariasi, laporan keuangan diarahkan ke pembaca umum. Laporan
keuangan disiapkan dengan pemikiran bahwa pembacanya terdiri atas pengguna yang
canggih (sophisticated users) dengan kebutuhan informasi yang relatif homogen.
Dengan kata lain, bahwa pengguna laporan keuangan memahami berbagai konvensi
dan prinsip akuntansi yang diterapkan ,dan laporan tersebut memiliki informasi yang
berguna.
2. Aktifitas FRS

Sumber-sumber input untuk FRS teridiri atas file master buku besar umum
saat ini, file sejarah buku besar umum dan input langsung dari kelompok laporan
keuangan. Output dari FRS adalah laporan keuangan yang diberikan kepada pihak
eksternal perusahaan.

3. Proses akuntansi keuangan

Proses akuntansi keuangan dimulai dari status bersih di awal tahun fiskal yang
baru. Hanya akun-akun (permanen) neraca yang merupakan kelanjutan dari tahun
sebelumnya. Dari titik ini, prosesnya dilanjutkan langkah-langkah berikut ini :

a) Mencatat transaksi, dicatat sesuai dengan sumber dokumen.


b) Mencatat jurnal khusus, jurnal yang pencatatannya jarang.
c) Membukukan ke buku besar pembantu, merupakan perincian setiap transaksi.
d) Membukukan ke buku besar umum, .
e) Menyiapkan neraca percobaan yang belum disesuaikan, dievaluasi kesamaan total
debit-kreditnya.
f) Membuat jurnal penyesuaian, merupakan koreksi transaksi selama periode
tersebut.
g) Menjurnal dan membukukan ayat jurnal penyesuaian.
h) Menyiapkan neraca percobaan yang telah disesuaikan, neraca ini berisi semua
ayat jurnal yang ada pada laporan keuangan.
i) Menyiapkan laporan keuangan.
j) Menjurnal dan membukukan ayat jurnal penutup.
k) Menyiapkan neraca percobaan pasca penutup, menunjukan saldo untuk periode
berikutnya.

Proses akuntansi keuangan yang disebutkan di atas memiliki 3 tahap yang berbeda,
yang masing-masing melibatkan elemen-elemen dari satu atau lebih subsistem
informasi.

Tahap 1, merupakan prosedur harian

Tahap 2, merupakan prosedur akhir periode

Tahap 3, merupakan prosedur pelaporan keuangan


4. Mengendalikan GL/FRS

Aktivitas-aktivitas GL/FRS secara ekslusif merupakan pekerjaan akuntansi.


Tidak seperti pemrosesan transaksi, yang juga melibatkan arus sumber daya fisik,
kekhawatiran pengendalian terhadap GL/FRS berkenaan dengan akurasi dan
reliabilitas informasi akuntansi. Eksposour potensial dalam system ini terdiri atas :

a) Jejak audit yang tak sempurna.


b) Akses yang tidak diotorisasi ke buku besar umum.
c) Akun buku besar umum yang tidak seimbang dengan akun buku besar pembantu.
d) Saldo akun buku besar umum yang salah karena voucher jurnal yang salah atau
tidak diotorisasi.

Jika tidak dikendalikan, berbagai risiko ini dapat menyebabkan laporan keuangan
dan laporan-laporan lainnya salah dalam pernyataannya sehingga dapat menyesatkan
para pengguna. Konsekuensi potensialnya adalah tuntutan hukum, kerugian yang
signifikan bagi perusahaan, dan sanksi dari pihak yang berwenang.
5. Isu Pengendalian GL/FRS

Pengendalian GL/FRS akan mengikuti kerangka yang ditetapkan SAS 78

a) Otorisasi transaksi.

Jurnal voucher adalah dokumen yang mengotorisasi sebuah entri ke buku besar
umum. Vourcher jurnal diotorisasi dengan benar oleh manajer yang bertanggung
jawab di departemen sumber.

b) Pemisahan Tugas

Dalam memperbarui buku besar umum harus dipisahkan dari semua tanggung
jawab akuntasni dan pengawasan aktiva dalam. Petugas administrasi di Buku Besar
umum tidak seharusnya:

 Memiliki tanggung jawab untuk melakukan pembukuan untuk jurnal khusus


atau buku besar pembantu.
 Menyiapkan jurnal voucher.
 Bertanggung jawab dalam mengawasi aktiva fisik.

c) Pengendalian akses

Akses yang tidak diotorisasi ke akun-akun buku besar umum dapat menghasilkan
kesalahan, penipuan, dan salah penyajian dalam laporan keuangan.
Perundang-undangan secara tegas berbicara area risiko ini oleh kebutuhan organisasi
untuk mengimplementasikan pengendalian yang membatasi akses database untuk
diotorisasi hanya oleh individu-individu.

d) Catatan akuntansi

Jika didasarkan pada bagan akun yang memadai, catatan-catatan tersebut


sepenuhnya mendeskripsikan aktivitas perusahaan. Salah satu aspek penting dari
fungsi pencatatan ini adalah pemeliharaan jejak audit.

Jejak audit merupakan jalur yang diikuti oleh suatu transaksi melalui tahap input,
pemrosesan dan output dalam sistem pemrosesan transaksi. Ini meliputi jaringan
dokumen, jurnal, dan buku besar yang didesain untuk memastikan bahwa suatu
transaksi dapat secara akurat ditelusuri melalui sistem tersebut dari awal sampai di
posisi akhirnya.

Jejak audit diperlukan untuk beberapa alasan :

 Memberikan kemampuan untuk menjawab pertanyaan.


 Mampu merekontruksi file.
 Menyediakan data historis kepada auditor.
 Memenuhi peraturan pemerintah.
 Menyediakan sarana untuk mencegah kesalahan.

e) Verifikasi independen

FRS menghasilkan dua laporan operasional yang menjadi bukti akan keakuratan
proses ini yaitu daftar voucher jurnal dan laporan perubahan buku besar umum. Daftar
voucher jurnal menyediakan perincian yang relevan tentang setiap voucher jurnal
yang diterima oleh FRS sebagai input. Laporan perubahan buku besar umum
menyajikan pengaruh transaksi voucher jurnal pada akun buku besar umum.

GL/ FRS Berbasis Komputer

Perusahaan menggunakan buku besar umum hanya untuk pelaporan keuangan


akan menemukan bahwa sistem batch, yang menggunakan file yang berurutan,
memenuhi kebutuhannya dan menyediakan tingkat keamanan yang tinggi. Sistem ini
dioperasikan secara sederhana, dan pengendalian akses buku besar umum digunakan
untuk mendukung tugas yang lebih luas dalam organisasi, sistem yang menggunakan
pemrosesan real-time dan file akses langsung mungkin diperlukan. Pada bagian ini
akan dibahas suatu GL/FRS otomasi tradisional dan pendekatan rekayasa ulang yang
menggunakan GL/FRS berbasis komputer.

1. GL / FRS Warisan yang menggunakan Pemrosesan Batch dan File Datar

Kekuatan : Terletak pada pengendalian dan pelaporan.

Kelemahan : Yaitu tidak efisien dan rekonsiliasi yang tidak sering dilakukan.

2. Rekayasa Ulang GL/ FRS Menggunakan File Akses Langsung


Sistem rekayasa ulang mengatasi kelemahan-kelemahan sistem tradisional.
Karena sistem ini tidak menciptakan kembali seluruh buku besar setiap kali diperbarui.
Pendekatan ini sangat memfasilitasi identifikasi kesalahan dengan tepat waktu ketika
batch transaksi tidak seimbang nilainya. Penggunaan file akses langsung memberikan
manfaat tambahan bagi pelaporan manajemen. Para manajer internal memerlukan
informasi yang lebih sering dan tepat waktu dari pada pengguna eksternal dari laporan
keuangan tradisional. Karena sebagian informasi ini datang dari proses data buku
besar umum, pengguna pendekatan akses lansung memfasilitasi akses manajemen ke
data-data penting. Masalah pengendalian yang perlu diperhatikan, yaitu:

a) Pemisahan tugas
b) Catatan akuntansi dan pengendalian akses

B. Sistem Pelaporan Manajemen


Implikasi pengendaliaan MRS sekarang ini telah diakui secara resmi oleh dalam
SAS78, manajemen dituntut untuk menyediakan sarana formal untuk memantau
fungsi pengendalian internal. Hal ini dapat dicapai melalui pemisahan prosedur audit
atau dengan aktivitas pengawasan yang berkelanjutan.

Salah satu teknik untuk mencapai pengawasan berkelanjutan adalah penggunaan


laporan manajemen secara bijaksana. Laporan tepat waktu memungkinkan para
manager fungsional seperti penjualan, pembelian produksi, dan pengeluaran kas untuk
mengawasi dan mengendalikan operasi mereka. Ini akan memberikan bukti
mengenai berfungsinya atau tidak berfungsinya pengendalian internal.

Faktor Yang Mempengaruhi MRS


Merancang sistem pelaporan yang efektif memerlukan pemahaman akan apa yang
dilakukan oleh para manajer dan jenis-jenis masalah yang dihadapinya. Faktor-faktor
yang mempengaruhi kebutuhan informasi manajemen, antara lain

1. Proses Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan rasional bukan merupakan tindakan yang spontan. Tindakan


tersebut terdiri atas serangkaian langkah-langkah sistematis yang dilakukan
pengambilan keputusan. Langkah- langkah dalam proses pengambilan keputusan
(Decesion-making process):

a) Mengidentifikasi masalah

Pengambilan keputusan biasanya tidak bisa memecahkan suatu masalah sebelum


mengidentifikasi dengan baik. Oleh karena itu, langkah pertama ini merupakan proses
yang penting. Masalah-masalah itu sendiri sering kali tidak dapat diamati. Sebaliknya,
kita mengamati gejala-gejala masalah tersebut. Kita harus mengetahui perbedaan ini,
karena memperlakukan suatu gejala sebagai suatu masalah akan mengarah ke
keputusan yang salah.

b) Mengevaluasi solusi alternatif

Setelah mengidentifikasi masalah, pengambil keputusan menghadapi tindakan


alternatif. Paling tidak, ia menghadapi pilihan untuk melakukan tindakan atau tidak
melakukan tindakan. Jika tidak ada alternatif yang terbuka, maka tidak ada keputusan
yang dibuat.

Kriteria keputusan
Beberapa faktor atau kriteria keputusan (decision criteria) yang penting membentuk
dasar bagi pengambilan keputusan. Kriteria tersebut dapat beruwujud atau tidak
berwujud. Kriteria keputusan berwujud adalah kriteria-kriteria yang dapat diukur,
seperti informasi biaya, peningkatan kapasitas produksi dalam unit, dan kecepatan
operasi. Kriteria keputusan tidak berwujud biasanya tidak dapat diukur. Kriteria ini
merupakan isu-isu kualitas dan meliputi hal-hal seperti implikasi pelaku, konsekuensi
politik, dan perubahan gaya hidup.

 Mengidentifikasi kriteria keputusan dan menetapkan bobotnya


 Menilai setiap alternatif
 Menghitung nilai tertimbang (Weight score-WS)

Pengambilan keputusan (decision making) adalah tindakan manajemen di


dalam pemilihan alternatif untuk mencapai sasaran. Kegiatan dilaksanakan setelah
keputusan diambil. Keputusan yang dilakukan oleh manajer tingkat bawah sifatnya
adalah rutin dan berulang-ulang yang disebut dengan istilah terprogram (programmed)
atau keputusan terstruktur (structured decision). Terprogram bukan berarti keputusan
yang dibuat oleh komputer melalui suatu program komputer, tetapi berupa suatu
kumpulan prosedur yang dilakukan berulang-ulang. Keputusan pada tingkat yang
lebih tinggi sifatnya adalah lebih tidak terprogram atau lebih tidak terstruktur. Secara
ringkas, keputusan oleh manajemen dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tipe, yaitu
sebagai berikut ini.
1. Keputusan terprogram (programmed decision) atau keputusan terstruktur
(structured decision).
2. Keputusan setengah terprogram (semi-programmed decision) atau keputusan
setengah terstruktur (semi-structured decision).
3. Keputusan tidak terprogram (nonprogrammed decision) atau keputusan tidak
terstruktur (unstructured decision).

1. Keputusan Tidak Terstruktur


Keputusan tidak terstruktur (unstructured decision) adalah keputusan yang tidak
terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen
tingkat atas. Informasi untuk pengambilan keputusan tidak terstruktur tidak mudah
untuk didapatkan dan tidak mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar.
Pengalaman manajer merupakan hal yang sangat penting di dalam pengambilan
keputusan tidak terstruktur. Keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain
adalah contoh keputusan tidak terstruktur yang jarang terjadi.

2. Keputusan Setengah Terstruktur


Keputusan setengah terstruktur (semi-structured decision) adalah keputusan yang
sebagian dapat diprogram, sebagian berulang-ulang dan rutin dan sebagian tidak
terstruktur. Keputusan tipe ini seringnya bersifat rumit dan membutuhkan
perhitungan-perhitungan serta analisis yang terperinci. Contoh dari keputusan tipe ini
misalnya adalah keputusan membeli sistem komputer yang lebih canggih. Contoh
yang lainnya adalah keputusan alokasi dana promosi

3. Keputusan Terstruktur
Keputusan terstruktur (structured decision) adalah keputusan yang berulang-ulang
dan rutin sehingga dapat diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan
terutama pada manajemen tingkat bawah. Contoh dari keputusan tipe ini misalnya
adalah keputusan pemesanan barang, keputusan penagihan piutang.

c) Mengimplementasikan solusi yang terbaik

Tahap implementasi dari proses pengambilan keputusan melibatkkan sejumlah besar


perencanaan yang terperinci. Hal ini juga merupakan bagian dari proses pengambilan
keputusan yang paling panjang dan memakan banyak waktu. Pengambil keputusan
harus mempertimbangkan semua sumber daya yang perlu untuk
mengimplementasikan keputusan tersebut. Hal ini mungkin memerlukan
pengembangan rencana implementasi yang terperinci dengan batas waktu dan
poin-poin pengecekan untuk memastikan bahwa semua tahap implementasi berjalan
sesuai jadwal.

d) Melakukan pemeriksaan pasca Implementasi

Langkah terakhir dalam proses pengambilan keputusan adalah melakukan peninjauan


pasca implementasi untuk proyek yang baru diimplementasikan. Hal ini paling baik
dilakukan setelah periode pembiasaan dengan sistem baru sudah dilalui. Tujuan
pemeriksaan ini adalah untuk menentukan apakah keputusan dan proses pengambilan
keputusan sudah tepat.

2. Prinsip-prinsip Manajemen

Prinsip-prinsip manajemen memberikan wawasan pada kebutuhan informasi


manajemen yang teridiri dari :
A. Formalisasi pekerjaan
Prinsip formalisasi pekerjaan menunjukkan bahwa pihak manajemen harus
menstrukturkan perusahaan di sekitar pekerjaan yang dilakukannya, bukannya
di sekitar individu dengan keahlian yang unik. Di bawah prinsip ini, wilayah
organisasi dibagi ke pekerjaan-pekerjaan yang mewakili posisi pekerjaan
purna waktu. Setiap posisi harus dengan jelas mendefinisikan batasan
tanggung jawab. Tujuan formalisasi pekerjaan adalah untuk menghindari suatu
struktur organisasi di mana kinerja kemampuan dan eksistensi berkelanjutan
perusahaan bergantung pada individu tertentu.

B. Tanggung Jawab dan Wewenang


Prinsip tanggungjawab merujuk ke kewajiban individu untuk mencapai hasil
yang diinginkan. Tanggung jawab erat terkait dengan prinsip otoritas. Jika
seorang manajer mendelegasikan tanggung jawab ke bawahannya, ia harus
juga memberikan otoritas kepada bawahannya untuk mengambil keputusan
dalam batasan tanggung jawab itu.

C. Jangkauan Pengendalian

Jangkauan kontrol seorang manajer merujuk ke jumlah bawahan yang


langsung di bawah kontrolnya. Ukuran jangkauan berpengaruh pada struktur
fisik organisasi. Suatu perusahaan dengan jangkauan kontrol sempit memiliki
bawahan yang lebih sedikit, perusahaan ini cenderung memiliki struktur yang
tinggi, sempit dengan beberapa lapisan manajemen.

D. Manajemen dengan Pengecualian


Prinsip manajemen dengan pengecualian menunjukkan bahwa para manajer
harus membatasi perhatian mereka pada wiliayah-wilayah yang berpotensi
bermasalah dari pada terlibar dalam setiap aktivitas atau keputusan. Jadi, para
manajer mempertahankan pengendalian tanpa dibingungkan oleh berbagai
detail.
3. Fungsi, Tingkat, dan Jenis Keputusan Manajemen

Fungsi perencanaan dan pengendalian manajemen secara mendasar memengaruhi


sistem pelaporan manajemen. Fungsi perencanaan berkaitan dengan pengambilan
keputusan tentang aktivitas-aktivitas akan datang dari suatu perusahaan. Perencanaan
dapat dilakukan untuk jangka panjang atau jangka pendek. Keputusan perencanaan dan
pengendalian sering diklasifikasikan dalam empat kategori: perencanaan strategis,
perencanaan taktis, pengendalian manajerial, dan pengendalian operasional.

4. Struktur Masalah

Struktur suatu masalah mencerminkan seberapa baik pengambil keputusan


memahami masalah tersebut. Struktur masalah memiliki tiga elemen.

a) Data
Nilai yang digunakan untuk mewakili faktor-faktor yang relevan dengan
masalah tersebut.
b) Prosedur
Urutkan langkah-langkah atau peraturan keputusan yang digunakan untuk
memecahkan masalah.
c) Tujuan
Hasil yang ingin dicapai oleh pengambil keputusan dengan memecahkan
masalah tersebut.

Masalah terstruktur tidak mewakili situasi yang unik bagi pengambil keputusan dan
karena kebutuhan informasinya dapat diantisipasi, masalah ini cocok dengan
teknik-teknik pemrosesan data tradisional. Hasilnya, analisa yang merancang prosedur
dan program sistem tersebut dapat memecahkan masalah tersebut.

Masalah Tidak Terstruktur

Masalah tidak terstruktur adalah masalah yang tidak memiliki teknik solusi tertentu.
Kebutuhan data tidak pasti, prosedurnya tidak spesifik, atau tujuan solusi belum
sepenuhkan dikembangkan. Masalah seperti itu biasanya kompleks dan melibatkan
pengambil keputusan pada situasi yang unik. Dalam situasi ini, analis sistem tidak
dapat sepenuhnya mengantisipasi kebutuhan informasi dari pengguna, sehingga
teknik pemrosesan data tradisional menjadi tidak efektif.

5. Jenis Laporan Manajemen

Pada kenyataannya, laporan manajemen dapat berbentuk fisik sesuai dengan yang
diinginkan atau dibutuhkan oleh penggunanya. Laporan ini dapat berupa dokumen
kertas atau gambar elektronik yang disajikan di terminal lomputer. Laporan tersebut
dapat berisi informasi verbal, numerik, atau grafis atau kombinasinya.

a) Tujuan laporan : mengurangi tingkat ketidakpastian yang berkaitan dengan


suatu masalah yang dihadapi pengambil keputusan, dan mempengaruhi
perilaku pengambil keputusan dengan cara yang positif.
b) Pelaporan terprogram : memberikan informasi untuk memecahkan
masalah yang telah diantisipasi pengguna.
c) Atribut laporan : agar lebih efektif, suatu laporan harus memiliki atribut
antara lain relevan, ringkas, berorientasi pengecualian, akurat, lengkap,
tepat waktu, dan singkat.
d) Pelaporan khusus : sumber data untuk mendukung kebutuhan pelaporan
khusus melalui konsep yaitu penggalian data. Dan ada dua pendekatan
umum untuk pendekatan data, antara lain model verifikasi dan model
penemuan.

6. Akuntansi Pertanggungjawaban

Sebagian besar pelaporan manajemen melibatkan akuntansi


pertanggungjawaban. Konsep ini menyatakan bahwa setiap peristiwa ekonomi yang
mempengaruhi perusahaan adalah tanggung jawab manajer, dan dapat dilacak ke
masing-masing manajer. Arus informasi dalam system pertanggungjawaban mengalir
ke atas dan ke bawah melalui saluran informasi, hal ini mewakili dua tahap akuntansi
pertanggungjawaban:
a) Serangkaian tujuan kinerja keuangan (anggaran) yang berkaitan dengan
tanggung jawab manajer.
b) Melaporkan dan mengukur kinerja aktual ketika dibandingkan dengan
tujuan-tujuan tersebut.
Untuk mencapai akuntabilitas, aktivitas bisnis secara teratur
mengorganisasikan kegiatan operasi kedalam unit-unit yang disebut sebagai pusat
pertanggungjawaban, dengan bentuk yang paling umumya itu pusat biaya, pusat laba,
dan pusat investasi.

A. Penetapan Tujuan Keuangan : Proses Anggaran


Proses anggaran membantu pihak manajemen mencapai tujuan keuangannya dengan
membentuk tujuan yang dapat diukur untuk setiap segmen perusahaan. Mekanisme ini
menunjukkan standar-standar ke manajer segmen, yang akan digunakan oleh manajer
senior untuk mengukur kinerjanya. Arus informasi anggaran yang ke atas dan ke bawah
semakin terperinci ketika bergerak ke tingkat manajemen yang lebih rendah.

B. Pengukuran dan Pelaporan Kinerja


Pengukuran kinerja dan pelaporannya dilakukan di setiap segmen opersional dalam
perusahaan. Informasi mengalir ke atas sebagai laporan pertanggungjawaban ke tingkat
manajemen senior.

C. Pusat Pertanggungjawaban
Untuk mencapai akuntabilitas, aktivitas bisnis secara teratur mengorganisasikan
kegiatan operasi ke dalam unit-unit yang disebut sebagai pusat pertanggungjawaban.
Bentuk yang paling umum dari pusat pertanggungjawaban adalah :
1. Pusat Biaya
Merupakan suatu unit organisasional dengan tanggung jawab terhadap
manajemen biaya dalam batas-batas anggaran. Misalnya, departemen produksi
dapat bertanggung jawab untuk memenuhi kewajiban produksi dambil tetap
mempertahankan biaya produksi dalam jumlah anggaran.

2. Pusat Laba
Manajer pusat laba bertanggung jawab untuk mengendalikan biaya dan
menghasilkan pendapatan. Misalnya, seorang manajer lokal dari suatu
pertokoaan nasional dapat saja bertanggung jawab atas keputusan tentang
 barang mana yang disimpan di gudang
 berapa harganya
 jenis aktivitas promosi untuk produk
 tingkat iklannya
 jumlah staf dan perekrutan karyawan
 pemeliharaan bangunan dan peningkatan modal yang terbatas

3. Pusat Investasi
4. Manajer pusat investasi memiliki wewenang umum untuk mengambil
keputusan yang secara mendasar mempengaruhi perusahaan.

6. Pertimbangan Perilaku

A. Keserasian Tujuan

Telah dibahas sebelumnya tentang prinsip-prinsip manajemen, yaitu wewenang,


tanggung jawab, dan formalisasi pekerjaan. Jika diterapkan dengan benar dalam
perusahaan, prinsip-prinsip ini meningkatkan keserasian tujuan. Manajer tingkat lebih
rendah yang berusaha mencapai tujuannya berkontribusi secara positif terhadap tujuan
atasannya.

B. Informasi yang Berlebihan

Informasi yang berlebihan muncul ketika seorang manajer menerima informasi


berlebih dari yang dapat dicernanya. Hal ini dapat terjadi ketika seorang perancang
sistem pelaporan tidak mempretimbangkan tingkat organisasional dan jangkauan
pengendalian manajer dengan tepat. Informasi yang berlebihan akan membuat
manajer mengabaikan informasi formalnya dan bergantung pada petunjuk-petunjuk
informal dalam membuat keputusan.

C. Ukuran Kinerja yang Tidak Tepat

Salah satu tujuan laporan adalah untuk menstimulun perilaku yang konsisten
dengan tujuan perusahaan. Ketika ukuran kinerja yang tidak tepat digunakan, laporan
itu akan berpengaruh sebaliknya.
TIPE KEPUTUSAN MANAJEMEN
Pengambilan keputusan (decision making) adalah tindakan manajemen di
dalam pemilihan alternatif untuk mencapai sasaran. Kegiatan dilaksanakan setelah
keputusan diambil. Keputusan yang dilakukan oleh manajer tingkat bawah sifatnya
adalah rutin dan berulang-ulang yang disebut dengan istilah terprogram (programmed)
atau keputusan terstruktur (structured decision). Terprogram bukan berarti keputusan
yang dibuat oleh komputer melalui suatu program komputer, tetapi berupa suatu
kumpulan prosedur yang dilakukan berulang-ulang. Keputusan pada tingkat yang
lebih tinggi sifatnya adalah lebih tidak terprogram atau lebih tidak terstruktur. Secara
ringkas, keputusan oleh manajemen dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tipe, yaitu
sebagai berikut ini.
1. Keputusan terprogram (programmed decision) atau keputusan terstruktur (structured
decision).
2. Keputusan setengah terprogram (semi-programmed decision) atau keputusan
setengah terstruktur (semi-structured decision).
3. Keputusan tidak terprogram (nonprogrammed decision) atau keputusan tidak
terstruktur (unstructured decision).

1. Keputusan Tidak Terstruktur


Keputusan tidak terstruktur (unstructured decision) adalah keputusan yang tidak
terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen
tingkat atas. Informasi untuk pengambilan keputusan tidak terstruktur tidak mudah
untuk didapatkan dan tidak mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar.
Pengalaman manajer merupakan hal yang sangat penting di dalam pengambilan
keputusan tidak terstruktur. Keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain
adalah contoh keputusan tidak terstruktur yang jarang terjadi.

2. Keputusan Setengah Terstruktur


Keputusan setengah terstruktur (semi-structured decision) adalah keputusan yang
sebagian dapat diprogram, sebagian berulang-ulang dan rutin dan sebagian tidak
terstruktur. Keputusan tipe ini seringnya bersifat rumit dan membutuhkan
perhitungan-perhitungan serta analisis yang terperinci. Contoh dari keputusan tipe ini
misalnya adalah keputusan membeli sistem komputer yang lebih canggih. Contoh
yang lainnya adalah keputusan alokasi dana promosi
3.Keputusan Terstruktur
Keputusan terstruktur (structured decision) adalah keputusan yang berulang-ulang
dan rutin sehingga dapat diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan
terutama pada manajemen tingkat bawah. Contoh dari keputusan tipe ini misalnya
adalah keputusan pemesanan barang, keputusan penagihan piutang.

Tipe Keputusan Manajemen

4. Mengenal XBRL
eXtensible Business Reporting Language (XBRL) merupakan standar Internet
yang dirancang khusus untuk pelaporan bisnis dan pertukaran informasi. Tujuan dari
XBRL adalah untuk memfasilitasi publikasi, pertukaran, dan pemrosesan informasi
keuangan dan bisnis. XBRL adalah turunan dari standar Internet lain yang disebut
XML (eXtensible Markup Language).

Menyadari potensi manfaat XML, AICPA mendorong penelitian ke dalam


penciptaan bahasa markup khusus akuntansi. XBRL adalah bahasa berbasis XML
yang dirancang untuk menyediakan komunitas keuangan dengan metode standar
untuk mempersiapkan, menerbitkan, dan secara otomatis bertukar informasi
keuangan, termasuk laporan keuangan perusahaan publik. XBRL biasanya digunakan
untuk melaporkan data keuangan gabungan, tetapi juga dapat diterapkan untuk
mengkomunikasikan informasi yang berkaitan dengan transaksi individu. Gambar 8-7
menyajikan ikhtisar proses pelaporan XBRL, elemen-elemen utama yang dibahas
dalam bagian berikut.

Langkah pertama dalam proses ini adalah


1. memilih taksonomi XBRL.
Taksonomi adalah skema klasifikasi yang sesuai dengan spesifikasi XBRL
untuk mencapai pertukaran informasi tertentu atau tujuan pelaporan seperti
pengarsipan dengan SEC. Intinya, taksonomi XBRL menentukan data yang
akan dimasukkan dalam pertukaran atau laporan. Komite Standar XBRL telah
menciptakan beberapa taksonomi untuk penggunaan luas.
2. Melakukan referensi silang setiap akun dalam buku besar umum organisasi
pelapor ke elemen taksonomi XBRL yang sesuai (tag). Untuk membuat data
bermanfaat bagi orang luar dan dapat dibandingkan dengan perusahaan lain,
mereka perlu diatur, diberi label, dan dilaporkan dengan cara yang diterima
oleh semua pengguna XBRL.
3. Pemetaan data internal organisasi ke elemen taksonomi XBRL. Proses
pemetaan dilakukan dengan menggunakan alat sederhana seperti Taxonomy
Mapper.
4. Setelah proses pemetaan selesai, setiap catatan basis data akan berisi tag yang
disimpan. Pemetaan data perlu dilakukan hanya sekali, tetapi tag tertanam
digunakan setiap kali data ditempatkan dalam format XBRL untuk
disebarluaskan kepada orang luar. Ini memungkinkan entitas bisnis untuk
menyediakan perluasan informasi keuangan sering dan secara instan kepada
pihak yang berkepentingan.
5. Selanjutnya perusahaan menggunakan teknologi database asli-XBRL5 secara
internal sebagai platform penyimpanan informasi utama mereka dapat lebih
jauh mempercepat proses pelaporan. Pengguna data keuangan semacam itu
(misalnya, investor dan analis) dapat dengan mudah mengimpor dokumen
XBRL ke dalam basis data internal dan alat analisis untuk memudahkannya
proses pengambilan keputusan.
6. Dari struktur database baru ini, program komputer yang mengenali dan
menafsirkan tag terkait dengan atribut data dapat menghasilkan dokumen
instance XBRL (laporan keuangan aktual).
7. Dokumen instance XBRL sekarang dapat dipublikasikan dan disediakan untuk
pengguna. Dokumen itu bisa ditempatkan pada server intranet untuk
penggunaan internal; dapat ditempatkan pada ekstranet pribadi untuk
penyebaran terbatas kepada pelanggan atau mitra dagang; atau dapat
ditempatkan di Internet untuk disebarluaskan ke publik. Dalam nya keadaan
saat ini, dokumen instance dapat dibaca oleh komputer untuk analisis dan
pemrosesan. Untuk membuatnya lebih dapat dibaca oleh manusia, aturan tata
letak HTML dapat disediakan dalam lembar gaya terpisah yang digunakan
browser Web menyajikan informasi XBRL dengan cara yang menarik secara
visual.

DAFTAR PUSTAKA :
James A. Hall.2009.Sistem Informasi Akuntansi.Jakarta: Salemba Empat.