Anda di halaman 1dari 16

Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (163 dari 24)

Jurnal Geografi
Media Infromasi Pengembangan Ilmu dan
Profesi Kegeografian

ANALISA HIDROLOGI PERMUKAAN DALAM HUBUNGANNYA DENGAN DEBIT


BANJIR DAS LUKULO HULU DENGAN MENGGUNAKAN
DATA PENGINDERAAN JAUH

Puguh D. Raharjo1, Sueno Winduhutomo2, Kristiawan Widayanto3, Eko Puswanto4


Peneliti di Balai Informai dan Konservasi Kebumian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia1,2,3,4
Email: puguh.dwi.raharjo@lipi.go.id
Sejarah Artikel
Diterima: April 2016
Disetujui: Juni 2016
Dipublikasikan: Juli 2016
Abstract
Lukulo upstream watershed represents a watershed in Karangsambung Geological Nature Preserve, this
basin is located administratively in Central Java Province with Area is ± 281,394 km2. In rainy season the
river discharge of upstream lukulo steep increase, while in the dry season is very small. The purpose of this
study was to analyze the surface hydrology in relation to the flood discharge in the Lukulo upstream
watershed using remote sensing data. Data of SRTM image was processed DEM hydro-processing in the
form of flow determination and network catchment extraction produced 16 units of sub-drainage. Results of
coeffitient runoff value estimates using Bransby and Williams method is 58% with flood discharge was
estimated using the rational method at 562, 098 m3/second which had difference with the actual flood
discharge at 1, 662 m3. Value of flood discharge in the Lukulo upstream watershed is relatively large and
can cause flooding /overflowing of rivers in the surrounding area.
Keyword: Lukulo upstream watershed, flood discharge, coefficient runoff, hydrologic modeling

Abstrak
DAS Lukulo Hulu merupakan suatu DAS yang berada di Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung,
secara administrasi DAS ini berada di Propinsi Jawa Tengah dengan luas ± 281,394 km2. Pada musim
penghujan debit sungai Lukulo Hulu meningkat tajam sedangkan pada musim kemarau sangat kecil. Tujuan
penelitian ini adalah untuk melakukan analisis hidrologi permukaan dalam hubungannya dengan debit banjir
pada DAS Lukulo hulu dengan menggunakan data penginderaan jauh. Data citra SRTM dilakukan
pengolahan DEM hydro-processing yang berupa flow determination dan network catchment extraction
dengan menghasilkan 16 satuan sub pengaliran. Hasil estimasi nilai koefien aliran permukaan (runoff)
dengan menggunakan metode Bransby dan Williams sebesar 58 % dengan debit banjir ter-estimasi
menggunakan metode rasional sebesar 562, 098 m3/detik yang memiliki selisih dengan debit banjir aktual
sebesar 1, 662 m3/detik. Nilai debit banjir pada DAS Lukulo Hulu ini relatif besar dan dapat mengakibatkan
penggenangan/luapan sungai pada kawasan di sekitarnya.
Kata Kunci: DAS Lukulo Hulu, debit banjir, Koefisien Aliran Permukaan, Hidrologi Modeling

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com
Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (164 dari 224)

1. PENDAHULUAN Informasi spasial dalam hubungannya


Gunawan (1992) interpretasi hidrologi dengan bidang hidrologi tidak hanya diekstrak
pada teknik penginderaan jauh diarahkan untuk dari intepretasi penginderaan jauh akan tetapi
menduga hubungan/interaksi kenampakan dapat juga dilakukan dengan suatu manipulasi
bentang lahan (landscape features) dengan ataupun memodelkan data-data permukaan
proses-proses hidrologi. Penggunaan citra dengan menggunakan Sistem Informasi
penginderaan jauh untuk pemetaan hidrologi Geografis (SIG).
permukaan cukup didekati dengan Distribusi runoff dari input berupa data
mendasarkan pada elemen-elemen lahan dan hujan dapat dilakukan dengan pemrosesan dan
karakteristik citra. Sedangkan untuk survey dan analisa menggunakan data DEM (Digital
pemetaan hidrologi dibawah permukaan Elevation Model). Pendekatan skematik DAS
diperlukan pendekatan-pendekatan yang sesuai dan sungai dari topologi konstruksi serta
dengan komponen-komponen atau faktor- ekstraksi jaringan sungai dengan menggunakan
faktor yang mempengaruhi. Penyadapan data variable drainasse outlet membantu dalam
mengenai karakteristik fisik lahan melalui foto pemodelan hidrologi yang efisien (Maathuis,
udara digunakan sebagai pendekatan dalam 2006).
perolehan data mengenai kondisi hidrologi. Asdak (1995) metode prakiraan air
Seyhan (1976) mendasarkan pada larian yang telah banyak dikenal umumnya
pendekatan hidromorfometri yang menjelaskan mengabaikan beberapa faktor tertentu dan
antara parameter-parameter morfologi dan menggantinya dengan asumsi yang bersifat
parameter-parameter hidrologi. Beberapa memudahkan proses perhitungan, salah satunya
pendekatan yang digunakan untuk sifat adalah metode rasional (U.S. Soil Conservation
komponen lahan yang dikaitkan dengan proses Service, 1973) yang memprakirakan besarnya
hidrologi (permukaan dan bawah permukaan) debit puncak.
antara lain: hidrometeorologi, hidrogeologi, Dalam permasalahan hidrologi daerah
dan geohidrologi. Pendekatan yang digunakan tangkapan air lebih ditekankan pada tinjauan
sebagai dasar dalam studi foto-hidrologi juga menyeluruh komponen-komponen hidrologi,
dapat didassarkan pada pendekatan pengaruhnya satu terhadap yang lain serta
hidrogeomorfologi yang menjelaskan kaitannya dengan komponen lain di luar jalur
hubungan antara bentuk-bentuk morfologi hidrologi perlu dilakukan. Daerah aliran sungai
permukaan meloloskan air (Meijerink, 1982). (DAS) merupakan daerah yang di batasi

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com
Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (165 dari 224)

punggung-punggung gunung dimana air hujan Karangsambung yang telah ditetapkan oleh
yang jatuh pada daerah tersebut akan Kepmen ESDM No: 2817 K/40/MEM/2006
ditampung oleh punggung gunung tersebut dan sebagai Cagar Alam Geologi (Kepmen ESDM,
dialirkan melalui sungai-sungai kecil ke sungai 2006).
utama. DAS dapatlah dianggap sebagai suatu Analisis untuk kekritisan DAS Lukulo
ekosistem. Pada suatu ekosistem terdapat Hulu, Sub DAS Lokidang mempunyai total
hubungan antara lingkungan biotik, lingkungan nilai indeks erosivitas tertimbang relative
abiotik, dan lingkungan budaya yang saling tinggi yaitu sekitar 1082,62 hal tersebut
berinteraksi dari berbagai fungsi komponen manandakan bahwa pada Sub DAS tersebut
untuk membentuk satu kesatuan yang teratur. telah mengalami ketidakseimbangan lahan
Ekosistem DAS terdiri dari tiga bagian, yaitu yang mengakibatkan kekritisan pada DAS.
DAS bagian hulu, DAS bagian tengah dan Tingkat kerusakan dari sudut pandang tutupan
DAS bagian hilir (Asdak, 1995). lahan vegetasi maka Sub DAS Gebang, Sub
Limpasan permukaan merupakan DAS Cacaban, dan Sub DAS Lukulo adalah
limpasan yang melintas di atas permukaan Sub DAS yang sangat mudah mengalami
tanah menuju saluran sungai. Faktor DAS kerusakan (erosi) karena banyak permukaan
merupakan faktor yang mempengaruhi volume lahan yang tidak tertutup dengan vegetasi
total dan agihan waktu limpasan yaitu berupa sebagai penahan laju erosi. Sedangkan untuk
ukuran, tinggi tempat rata-rata, bentuk, debit sedimen tinggi terdapat pada Sub DAS
kemiringan, dan vegetasi (Seyhan,1977). Gebang dan Sub DAS Cacaban merupakan Sub
Daerah Aliran Sungai Lukulo Hulu DAS yaitu 96,75 ton/ha/thn dan 65,65
merupakan salah DAS yang terletak di Propinsi ton/ha/thn, hal ini dikarenakan adanya
Jawa Tengah, secara administrasi kabupaten penambangan batuan yang mempengaruhi
meliputi 3 (tiga) kabupaten, yakni Kabupaten muatan sedimen (Puguh, 2010).
Kebumen, Kabupaten Banjarnegara, dan Erosi yang terdapat di DAS Lukulo hulu
Kabupaten Wonosobo, DAS Lukulo Hulu ini sangat bervariasi, kriteria erosi sangat
memiliki Sub DAS yaitu Sub DAS Cacaban, ringan memiliki luasan sekitar 51,77% ;
Sub DAS Gebang, Sub DAS Lokidang, Sub kriteria erosi ringan sekitar 22,82% ; kriteria
DAS Loning, Sub DAS Lukulo, Sub DAS erosi sedang sekitar 14,28% kriteria erosi berat
Maetan, dan Sub DAS Mondo. DAS Lukulo sekitar 5,87% ; dan kriteria erosi sangat berat
hulu berada pada kawasan Cagar Alam Geologi memiliki luasan sekitar 5,26%). Sungai Lukulo

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com
Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (166 dari 224)

mempunyai tipe sungai yang meander pada serta adanya aktivitas penambangan yang
sungai utamanya, bentukan-bentukan lahan semakin marak pada kawasan DAS Lukulo
tersebut akibat tenaga fluvial. Bentuklahan Hulu.
fluvial dipengaruhi oleh adanya tenaga air yang Pada penelitian ini bertujuan untuk
mengalir sehingga proses erosi, transportasi melakukan analisis kondisi hidrologi
dan sedimentasi dari material-material permukaan yaitu nilai koefisien aliran
permukaan di proses pada zona ini. Karena permukaan (runoff) yang digunakan untuk
adanya proses meandering maka pada sungai menghitung debit banjir pada DAS Lukulo
tersebut banyak ditemukan poin bar-poin bar Hulu dengan menggunakan informasi yang
yang merupakan material yang terendapkan diekstrak dari data-data penginderaan jauh.
oleh transportasi air. Proses hydrolic action Sehingga dengan mengetahui nilai
yang berupa menumbuk, menggerus dan koefisien aliran permukaan dan debit banjir
menggendapkan sangat intensif terjadi (Puguh, pada DAS Lukulo Hulu ini dapat digunakan
2009). dalam analisis mengenai hidrologi permukaan
Pertumbuhan penduduk yang semakin kaitannya dalam peruntukan lahan pada setiap
padat akan diiringi dengan peningkatan satuan pemetaan, dan juga dapat digunakan
kebutuhan lahan yang berdamapak pada sebagai salah satu parameter dalam
terganggunya kelestarian sumberdaya air, yaitu pendeteksian bencana banjir yang dapat untuk
dengan meningkatnya nilai limpasan aliran mitigasi bagi masyarakat setempat serta
permukaan (runoff) yang dapat menyebabkan sebagai rekomendasi bagi pemerintah daerah
banjir pada kawasan. Debit banjir yang terdapat dalam rangka pembangunan berkelanjutan.
di DAS Lukulo Hulu ini sangat tinggi hal ini
terlihat dengan sering terjadinya luapan banjir 2. METODOLOGI
dari sungai utama ketika terjadi hujan meski Penelitian ini dilakukan di DAS Lukulo
tidak berdurasi panjang, hal ini mungkin Hulu yang secara administrasi kabupaten
disebabkan karena adanya kemiringan yang meliputi Kabupaten Kebumen, Kabupaten
curam dengan bentuk DAS yang membulat dan Banjarnegara, dan Kabupaten Wonosobo
masih banyak terdapatnya singkapan batuan, Provinsi Jawa Tengah.

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com
Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (167 dari 224)

Gambar 1. Lokasi Daerah Penelitian DAS Lukulo Hulu Jawa Tengah


Bahan yang digunakan dalam penelitian Pada penelitian ini metode yang
ini meliputi bahan citra Landsat TM path/row : digunakan dalam menghitung debit banjir
120/065, citra Radar SRTM (Shuttle Radar terestimasi menggunakan metode rasional,
Topographic Mission) dari USGS, data curah dimana paramater-parameter yang
hujan pada 6 pos stasiun hujan, data debit dan menentukannya dapat diekstrak melalui data
TMA (tinggi muka air) di bendung penginderaan jauh. Metode rasional merupakan
Kaligending, peta geologi, peta tanah, serta rumus yang tertua dan yang terkenal di antara
peta dasar digital wilayah penelitian. Alat yang rumus-rumus empiris, metode ini dianggap
digunakan dalam penelitian ini antara lain alat baik dalam memprakirakan besarnya debit
ceking lapangan, seperangkat alat komputer puncak meskipun mengabaikan beberapa faktor
dengan ILWIS 3.4 sebagai perangkat lunak tertentu dan menggantinya dengan asumsi yang
yang digunakan, dan alat tulis. Gambar 1 bersifat memudahkan proses perhitungan.
merupakan lokasi daerah penelitian DAS Persamaan matematik dalam menentukan debit
Lukulo Hulu. maksumum pada metode rasional adalah
sebagai berikut (Sumber: Chow, V, T. 1964):

Qp : 0,278 CIA ........................................................................................... (1)

dimana :
Qp : Debit Puncak (m3/detik)
C : Koefisien Aliran Permukaan (tanpa dimensi)
I : Intensitas Hujan (mm/jam)
A : Luas DAS (km2)

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com
Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (168 dari 224)

Metode rasional digunakan pada daerah tersebut dapat diterapkan pada daerah
aliran sungai yang tidak begitu luas dan dengan penelitian. Gambar 2 merupakan diagram alir
asumsi bahwa hujan yang terjadi merata di penelitian. Perhitungan intensitas hujan
seluruh DAS serta intensitas hujan maksimum digunakan rumus mononobe dengan
sama dengan lama waktu konsentrasi, yaitu menghitung intensitas curah hujan setiap waktu
lamanya waktu yang diperlukan air untuk berdasarkan data curah hujan harian Ishiguro
mengalir dari titik terjauh di dalam DAS (1954, dalam Sosrodarsono, 1977).
sampai ke outlet DAS sehingga metode

..……………….....……………………............…………..….. (2)
dimana :
I : intensitas curah hujan (mm/jam)
R24 : curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm)
t : lamanya curah hujan = Tc, waktu konsentrasi (Jam)

Gambar 2. Diagram Alir Penelitian

Asumsi bahwa banjir maksimum akan Lama waktu konsentrasi bisa didapatkan
terjadi jika hujan berlangsung selama waktu melalui hasil pengamatan ataupun dengan
konsentrasi atau melebihi waktu konsentrasi. suatu pendekatan rumus, apabila tidak ada data
Waktu konsentrasi merupakan waktu yang maka digunakan rumus empiris, rumus yang
diperlukan oleh air permukaan untuk bergerak digunakan di distrik Bayern Jerman
dari titik terjauh sampai outlet pada DAS. (Sosrodarsono, 1977):

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com
Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (169 dari 224)

Tc : L/V …………………………………..………..........…..….. (3)


V : 72(H/L)0,6 .…………..……………………………...…............….. (4)

dimana :
Tc : waktu konsentrasi (jam)
L : panjang sungai utama diukur (km)
V : kecepatan penambatan banjir (km/Jam)
H : beda tinggi hulu sungai dengan hilir sungai/outlet (m)

Pada daerah penelitian stasiun hujan Peta penutup lahan diperoleh dari citra
yang tercakup di dalam dan diluar area DAS Landsat TM dengan klasifikasi terselia
meliputi 6 stasiun hujan, yaitu Alian, maximum likelihood dengan mendasarkan
Karangsambung, Karanggayam, Kaligending, hubungan klasifikasi penutup lahan Bransby
Waduk Sempor dan Sadang. Data curah hujan dan Williams terhadap klas penggunaan lahan
yang digunakan merupakan curah hujan J.P Malingreau. Intepretasi visual dengan
terpilih yaitu curah hujan yang terjadi merata komposit warna FCC (false color composite)
dalam DAS. digunakan dalam pembuatan peta bentuk lahan
Data DEM (digital elevation model) daerah penelitian.
diperoleh dari citra Radar SRTM, ekstraksi Pembuatan peta satuan lahan dalam
dari DEM tersebut digunakan sebagai suatu DAS dimaksudkan agar dalam
pembuatan peta kemiringan lereng, serta untuk mendapatkan nilai koefisien aliran permukaan
membantu dalam intepretasi bentuklahan. mendekati kenyataan di lapangan dan
Selain itu data DEM juga untuk analisis hidro- tertimbang, sehingga dilakukan tumpang-
modeling yang berupa flow determination dan tindih antara peta bentuklahan, kemiringan
network and catchment extraction. lereng, dan penggunaan lahan pada Gambar 3.

Sumber: Gunawan, 1992

Gambar 3. Pembuatan Peta Satuan Lahan

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com
Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (170 dari 224)

Untuk mengetahui timbunan aliran dengan mengkombinasikan dari beberapa


permukaan maka digunakan pendekatan yang parameter, seperti kemiringan lereng,
didasarkan pada tingkat prosesentase kerapatan vegetasi/penutup lahan dan bentuklahan.
aliran. Kerapatan aliran merupakan jumlah Identifikasi secara kualitatif seperti tinggi,
seluruh panjang alur sungai dalam luas suatu sedang, rendah, kategori ini didasarkan pada
daerah aliran sungai. Klasifikasi kerapatan kondisi karakteristik permukaan seperti
aliran terhadap timbunan air permukaan kemiringan lereng/relief, landuse/landcover
dilakukan penyesuaian antara klasifikasi dari serta bentuk lahan. Dalam menentukan tingkat
Linsley dengan klasifikasi dari Bransby- infiltrasi dapat digunakan data bantu berupa
Williams. peta tanah dengan mengetahui tekstrur dan
Penafsiran besarnya kapasitas infiltrasi struktur serta peta geologi untuk mengetahui
melalui citra penginderaan jauh dilakukan ketebalan lapisan batuan.
Dd : L/A ………………………………….……………….…….. (5)
dimana :
Dd = Kerapatan Aliran (km/km2)
L = Jumlah Panjang Alur (km)
A = Luas satuan pemetaan (km2)

C = C1A1 + C2A2 + … + CnAn ………………………………….…….. (6)

A
dimana :
C = koefisien aliran permukaan
A = luas daerah aliran sungai
Cn = koefisien aliran permukaan pada satuan lahan n
An = luas lahan pada satuan lahan n

Agar dalam pembuatan peta koefisien (Automatic Water Level Rocorder )di outlet
aliran permukan dapat memperoleh nilai DAS (Bendung Kaligending).
tertimbang dan dapat mudah pada analisisnya
maka dibantu dengan menggunakan 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
pengolahan melalui sistem informasi geografi. Pada DAS Lukulo Hulu mempunyai 7
Sebagai data pembanding digunakan data debit (tujuh) Sub DAS yaitu, DAS Lukulo, DAS
actual yang diperoleh dari data TMA pada saat Lokidang, DAS Maetan, DAS Gebang, DAS
hujan merata di seluruh DAS dengan AWLR Loning, DAS Mondo, dan DAS Cacaban.

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com
Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (171 dari 224)

Sebagai input yang utama dalam kajian intensitas curah hujan setiap waktu berdasarkan
hidrologi adalah hujan, pos stasiun hujan yang data curah hujan.
ada baik di dalam maupun diluar (dianggap Waktu konsentrasi (Tc) yang dihitung
mewakili) kawasan DAS Lukulo Hulu dengan berdasarkan morfometri diperoleh bahwa
luas 281,394 km2 berjumlah 6 (enam) pos perbedaan ketinggian antara outlet sungai
stasiun hujan, data curah hujan yang digunakan dengan hulu DAS cukup tinggi yaitu 400 meter
merupakan data curah hujan harian yang dengan panjang sungai utama sekitar 31, 20
terpilih dimana hujan yang terjadi merata di kilometer sehigga intensitas hujan yang ada
seluruh kawasan DAS. pada pos stasiun hujan di bendung keligending
Tabel. 1 merupakan tabel data curah (outlet) adalah 12,397 mm/jam, kelas intensitas
hujan harian DAS Lukulo Hulu. Intensitas ini berdasarkan Metode Bransby dan Williams
curah hujan merupakan jumlah curah hujan termasuk dalam kategori rendah. Dari
yang dinyatakan dalam tinggi hujan atau morfometri DAS lukulo hulu memiliki bentuk
volume hujan tiap satuan waktu, yang terjadi yang membulat sehinga kecepatan aliran runoff
pada satu kurun waktu air hujan terkonsentrasi, tinggi dan waktu konsentrasi (Tc) cepat.
pada penelitian ini perhitungan intensitas hujan Gambar 4 merupakan perbandingan bentuk
menggunakan rumus mononobe dimana DAS dengan hidrograf, Tc, yang dihasilkan
.Tabel 1. Data Curah Hujan Harian DAS Lukulo Hulu
No Wilayah No. Stats Y X CH (mm)
1 Alian K.13 -7.36,80 109.42,17 40
2 Kaligending K.11c -7.34,91 109.40,58 117
3 Karanggayam K.7a -7.35,27 109.34,79 100
4 Karangsambung K.8a -7,52216 109.66,45 84
5 Kedungsamak K.11b -7.37,99 109.39,17 77
6 Somagede K.2a - 7.54286 109.55,56 130
Sumber: PSDA Probolo

Sumber : Seyhan, 1977


Gambar 4. Hubungan antara Bentuk DAS dengan Hidrograf dan Waktu Konsentrasi

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com
Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (172 dari 224)

Pada pengolahan data DEM dari citra Radar outlet sungai, arah aliran juga banyak yang
SRTM dihasilkan berbagai parameter dalam mengalir ke sebelah barat hal ini menandakan
menganalisa hidrologi permukaan khusussnya bahwa lereng yang menghadap ke barat
debit banjir, sebagai tamabahan analisa memiliki jumlah lebih banyak karena intensitas
dilakukan pembuatan DEM hydro-processing pelapukan batuan relatif lebih sedikit
yang berupa flow determination (fill sinks, flow mengingat DAS Lukulo Hulu ini masih banyak
direction, flow accumulation) dan network terapat batuan induk (bed rock) yang
catchment extraction (drainage network tersingkap. Terdapat permukaan lahan pada
extraction, drainage network ordering, DAS yang tidak memiliki arah aliran (warna
catchment extraction). Gambar 5 merupakan putih gambar 5.B) hal ini mengidentifikasikan
peta hasil dari pemrosesan hidrologi bahwa lokasi ini terjadi penimbunan aliran
permukaan pada DEM. Ketinggian DAS yang dapat menyebabkan banjir.
Lukulo Hulu ini mempunyai perbedaan yang Nilai flow accumulation (gambar 5.C)
cukup besar, pada daerah outlet mempunyai menggambarkan adanya suatu pengumpulan/
ketinggian 37, 5 meter dpal sedangkan konsentrasi dari aliran permukaan, piksel-
ketinggian maksimum pada kawasan hulu piksel yang berwarna merah merupakan suatu
sekitar 1033, 28 meter dpal (gambar 5.A). cekungan dimana air mengalir melalui lokasi-
Perbedaan ketinggian ini menyebabkan aliran lokasi tersebut. Semakin rapat jaringan
permukaan memiliki kecepatan yang tinggi dan drainase maka lereng semakin curam dan aliran
secara fisiografi mudah terbentuknya riil-riil permukaan (runoff) semakin tinggi, serta nilai
alur sungai yang baru, apabila dilihat dari piksel (merah) semakin rapat dan tebal berarti
morfometri knsentrasi ketinggian rendah semakin banyak pula daya tampung air yang
berada pada kawasan suatu aluvial yang berada menjadi permukaan. Pada lokasi ini akumulasi
di Desa Karangsambung. aliran serta konsentrasi aliran banyak menuju
Perbedaan ketinggian tersebut juga dan terkumpul di Desa Karangsambung, Desa
mengakibatkan adanya variasi kemiringan Banioro sampai ke outlet pada DAS.
lereng yang beragam pada DAS Lukulo Hulu Dari nilai flow accumulation tersebut
ini sehinggi berdampak adanya keragaman arah maka diolah untuk mendapatkan peta drainage
aliran pada permukaan meskipun akan network (gambar 5.D) yang merupakan suatu
mengumpul pada satu sistem sungai yang ada. sub DAS-sub DAS pengaliran yang ada pada
Selain banyak yang mengalir ke selatan menuju DAS sehingga dapat diketahui zonasi input

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com
Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (173 dari 224)

aliran permukaan. Nilai ini didasarkan pada pembentukan sub DAS pengaliran tidak begitu
piksel dimana pada penelitian ini stream kecil. Gambar 6 merupakan peta parameter
threshold yang digunakan 2000, sehingga yang digunakan dalam penelusuran koefisien
jaringan sungai yang digunakan sebagai aliran permukaan (runoff).

A B

C D

Sumber : Pengolahan SIG, 2010

Gambar 5. Pengolahan Hidrologi Permukaan (A. Peta digital elevation model ekstraksi dari
data SRTM ; B. Peta flow direction ; C. Peta flow accumulation ; D. Peta catchment
extraction)
Koefisien aliran permukaan merupakan citra kecuali intensitas hujan didapatkan. Nilai
nilai angka pengaliran dari suatu permukan koefisien aliran tertimbang didapat dari
yang terjadi akibat adanya hujan yang berubah penilaian satuan lahan yang digunakan sebagai
menjadi aliran air permukaan. Pada metode satuan pemetaan. Secara umum bentuklahan
Bransby dan William parameter yang (gambar 6.A) yang ada pada DAS Lukulo Hulu
berpengaruh terjadinya koefisien aliran ini meliputi bentukan lahan asal fluvial,
permukaan antara lain: kemiringan lereng, struktural, dan denudasional, dimana pada
timbunan aliran permukaan, penutup lahan, bentukan lahan asal denudasional terdapat
infiltrasi tanah, dan intensitas hujan. Parameter- bentuklahan bukit sisa dan bentuklahan nyaris
parameter tersebut dapat diintepretasi melalui datar, pengkelasan bentuklahan ini didasarkan

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com
Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (174 dari 224)

pada klasifikasi Dibyosaputo, 1998. drainase jelek dan terbentuk meander, serta
Bentuklahan denudasional mempunyai timbunan permukaan besar. Sedangkan
penyebaran dengan luasan yang paling tinggi, kerapatan aliran > 5 km/km2 hanya
penyebarannya sebagian besar berada pada terkonsentrasi di bentuklahan struktural yaitu
zona mélange yang merupakan batuan berumur pada igir pada lembah antiklin, berada pada
pra-tersier yang tercampur aduk baik berupa kemiringan yang relatif terjal, sehingga pada
batuan beku, sedimen maupun metamorf tingkat kerapatan ini pengeringan cepat dan
dengan intensitas erosi yang relatif besar. aliran permukaan tipis.
Bentuklahan nyaris datar memiliki Sebagian besar kapasitas infiltrasi
penyebaran di sepanjang anak sungai lukulo (gambar 6.C) yang berada pada DAS Lukulo
dan berada pada lembah antiklin, pada zona Hulu ini merupakan termasuk dalam kelas
tersebut juga terdapat bukit sisa yang memiliki infiltrasi jelek, kelas ini banyak terdapat pada
jenis batuan konglomerat dengan kekerasannya satuan lahan dengan kemiringan yang agak
sungai tidak bisa menerobos dan menyebabkan terjal, bentuklahan denudasional dan
salah satu bentuk meander pada Sungai Lukulo penggunaan lahan vegetasi kerapatan jarang
ini. Bentuklahan struktural berupa lipatan sehingga sebagian besar air hujan menjadi
antiklin yang telah tererosi dan membentuk aliran permukaan dan hanya sedikit yang
suatu lembah antiklin dengan kemiringan yang teresap ke dalam tanah. Kelas infiltrasi sangat
terjal dan sebagian besar masih berupa batuan jelek banyak terdapat pada kemiringan yang
induk (bed rock), sedangkan bentuklahan sangat terjal dengan rata-rata penggunaan lahan
fluvial berupa dataran banjir dan dataran berupa lahan terbuka dan pad bentukan lahan
alluvial berada di sekitar Desa Karangsambung asal proses struktural dimana bentuklahan ini
dan Desa Banioro, dimana bentuklahan ini sebagian besar masih berupa batuan yang
merupakan daerah banjir sehingga banyak tersingkap dan hampir seluruhnya menjadi
sedimaentasi yang terbentuk tinggi, secara aliran permukaan. Kelas infiltrasi baik dan
peruntukan lahan wilayah ini digunakan sedang rata-rata tersebar di sekitar sungai
sebagai penambangan pasir. Pada kerapatan utama dengan bentuklahan dataran alluvial,
aliran permukaan atau timbunan aliran meskipun terdapat penggunaan lahan terbuka
permukaan (gambar 6.B) DAS Hulu ini dalam kelas ini akan tetapi tekstur pada
sebagian besar memiliki kerapatan < 1 km/km2 penggunaan lahan tersebut berupa pasir
yang mencirikan mengalami penggenangan, sehingga air akan mudah ter-infiltrasi.

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com
Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (175 dari 224)

A B

C D

Sumber: Pengolahan SIG, 2010

Gambar 6. Peta Parameter dalam Koefisien Aliran Permukaan (A. peta bentuklahan ; B. peta
kerapatan aliran ; C. peta infiltrasi tanah ; D. peta kemiringan lereng ; E. peta penutup lahan)

Kemiringan lereng pada DAS Lukulo tubuh air. Semakin terjal kemiringan lereng
hulu (gambar 6.D) ini sebagian besar lebih dari pada DAS maka aliran permukaan semakin
20% dengan persebaran pada bentuklahan cepat sehingga semakin besar pula air hujan
denudasional dan bentuklahan struktural, yang menjadi runoff dan nilai koefisien aliran
kemiringan lereng 0 – 5 % sangat sedikit permukaan semakin tinggi pula.
penyebarannya dan hanya terdapat di sekitar

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com
Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (176 dari 224)

Penutup lahan hasil klasifikasi citra dihubungkan dengan pengolahan hidro-DEM


dilakukan ceking lapangan guna mendapatkan maka pada flow accumulation banyak yang
jenis penggunaan lahan yang kemudian tersebar pada nilai dengan koefisien aliran yang
dikonversikan ke dalam kelas dari Bransby dan bernilai tinggi. Nilai-nilai koefisien aliran
Williams (gambar 6.E). Penggunaan lahan yang tinggi tersebut berada pada daerah dengan
ada di kawasan ini termasuk dalam lingkungan kemiringan yang terjal dengan lahan yang
pedesaan dimana dominan lahan pertanian masih berupa singkapan batuan.
masih sangat besar. Lahan pertanian berupa Secara keseluruhan nilai koefisien aliran
kebun yang bercampur dengan pemukiman, permukaan estimasi pada DAS Lukulo Hulu
tegalan dengan situs pada bukit-bukit dengan dengan menggunakan metode Bransby dan
lereng terjal, hutan yang merupakan hutan Williams sekitar 0, 580, hal berarti bahwa
produksi, serta sawah baik berupa sawah irigasi sekitar 58 % hujan menjadi aliran permukaan
maupun sawah tadah hujan. Pemukiman (runoff), nilai ini tidak memperhitungkan
bersistem cluster dengan penyebaran yang intersepsi, evapotranspirasi dan mengabaikan
beragam yang secara spasial cluster tersebut adanya hutan karena hutan pada penelitian
berdasarkan kemudahan terhadap sumber air, berupa hutan produksi dengan luasan yang
ada yang terpola sejajar dengan sungai dengan kecil. Dengan menggunakan rumus rasional
mengandalkan aliran antara di sekitar sungai maka nilai debit banjir terestimasi sebesar 562,
serta ada pola terkelompok pada suatu basin 098 m3/detik, sebagai kalibrasi pembanding
yang merupakan tempat berkumpulnya aliran maka digunakan data debit banjir aktual dari
antara. Gambar 7merupakan peta nilai stasiun pencatat AWLR yang berada pada
koefisiean aliran permukaan estimasi secara outlet bendung kaligending yaitu sebesar 563,
tertimbang DAS Lukulo Hulu. 76 m3/detik yang terjadi pada tanggal 6 April
Hasil dari penggabungan nilai-nilai dari 2007 pukul 17.00. Dari hasil tersebut maka
peta kerapatan aliran, peta infiltrasi, peta dapat diketahui bahwa nilai debit banjir pada
penutup lahan, peta kemiringan lereng, dan DAS Lukulo Hulu ini relatif besar dan dapat
tingkat intensitas hujan pada setiap satuan mengakibatkan penggenangan/luapan sungai
lahan pemetaan maka didapatkan nilai pada kawasan di sekitarnya.
koefisien aliran permukaan (runoff) estimasi
yang tertimbang. Nilai runoff terkecil sekitar
20% dan tertinggi sekitar 0,85%. Apabila

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com
Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (177 dari 224)

Sumber: Pengolahan SIG, 2010

Gambar 7. Peta Nilai Koefisiean Aliran Permukaan (Runoff) Estimasi Tertimbang DAS
Lukulo Hulu.

4. KESIMPULAN permukaan setiap sub-DAS sangatlah berbeda


Pengolahan data DEM dapat digunakan tingkatannya tergantung dari kondisi
sebagai analisis dalam mengetahui arah aliran singkapan batuan yang ada. Sebagai kontrol
serta akumulasi aliran permukaan yang terhadap nilai koefisien aliran permukaan agar
berlangsung, sehingga dapat diketahui sub- lebih rendah, debit banjir dapat lebih maka
sub pengaliran yang ada pada DAS. diperlukannya penataan penggunaan lahan
Nilai koefisien aliran permukaan ter- terutama vegetasi penutup sebagai
estimasi dengan menggunakan metode pada penghambat laju aliran permukaan
DAS Bransby dan Williams sebesar 58 %
dengan debit banjir ter-estimasi dengan 5. DAFTAR PUSTAKA
metode rasional sebesar 562, 098 m3/detik Asdak. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada
yang memiliki selisih dengan debit banjir
University Press, Yogyakarta.
aktual sebesar 1, 662 m3/detik. Keragaman Asikin S., Handoyo A., Busana H., Gafoer S.
1992. Geologic Map of Kebumen
geologi pada daerah ini sangat mempengaruhi
Quadrangle, Java. skala 1 : 100.000.
morfometri DAS Lukulo, sehingga aliran PPPG. Bandung.

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com
Jurnal Geografi Volume 13 No 2 (178 dari 224)

Chow, V, T. 1964. Handbook of Aplied Hidup UGM, ISSN 0854-5510, Vol. 17


Hidrology, A Compendium of Water No. 1, Maret 2010. Halaman 26-36.
Resources Technology. McGraw – Hill Puguh D Raharjo., Saifudin. 2009. Pemetaan
Book Company, New York. Erosi DAS Lukulo Hulu Dengan
Dibyosaputo, Suparpto. 1998. Geomorfologi Menggunakan Data Penginderaan Jauh
Dasar. Fakulta Geografi, Universitas Dan Sistem Informasi Geografi. Jurnal
Gadjah Mada. Yogyakarta. Tidak Ilmu Tanah dan Lingkungan. Fakultas
dipublikasikan. Pertanian UGM. ISSN 0853-6368, Vol.
Gunawan, T. 1991. Penerapan Teknik 8, No. 2, Desember 2008. Halaman 103
Penginderaan Jauh Untuk Menduga – 113.
Debit Puncak Menggunakan Sosrodarsono., Takeda. 1977. Hidrologi
Karakteristik Fisik DAS (Studi Kasus di Untuk Pengairan. Association For
DAS Bengawan Solo Hulu Jawa Internasional Technical Promotion,
Tengah). Disertasi. Fakultas Pasca Tokyo, japan.
Sarjan, IPB, Bogor. Sutanto. 1986, Penginderaan Jauh Dasar,
ILWIS 3.0 Academic. 2001, User’s Guide, Jilid I, Fakultas Geografi, Universitas
Unit Geo Software Development Sector Gadjah Mada, Yogyakarta.
Remote Sensing & GIS IT Department Suwarno. 2000. Hidrologi Operasional. Citra
International Institute for Aerospace Aditya Bakti. Bandung
Survey and Earth Sciences (ITC), Seyhan., Ersin. 1977. Fundamentals of
Enschede, The Netherlands. Hidrology. Instituut voor
Lillesand, T.M and R.W Kiefer. 1979. Remote Aardwetenschappen Vrije Universiteit,
Sensing And Image Interpretation. Amsterdam.
University Of Minesota – University Seyhan., Ersin. 1976. Calculation of Runoff
Of Wisconsin : Madison. from Bassin Physiography (CRBP).
Maathuis., B.H.P. 2006. Digital Elevation Geografisch Instituut der
Model Based Hydro-processing. Rijksuniversiteit Utrecht, Utrecht.
Geocarto International Vol06. Published Data Citra Landsat TM. path/row 120/065.
by Geocarto International Centre, Akses ftp://glcf.umiacs.umd.edu/.
G.P.O. Hong Kong. . 21, No. 1, March Data Citra Radar SRTM. Tile e100n40
20, Page 21 – 26. Resolusi 90m x 90m. Akses
Meijerink, A,M. 1970. Photo-Interpretation http://srtm.usgs.gov.
in Hidrology a Geomorphology Data Curah Hujan. Tahun 2009. PSDA
Approach. ITC. Enschede. Probolo.
Puguh D Raharjo. 2009. Perubahan Data Debit Banjir Aktual dan TMA. Tahun
Penggunaan Lahan DAS Kreo Terhadap 2007. PSDA Probolo.
Debit Puncak Dengan Aplikasi
Penginderaan Jauh, Jurnal Riset dan
Pertambangan, Puslit Geoteknologi
LIPI, Bandung, Jilid 19 No. 2 tahun
2009, Halaman 69 – 84.
-------. 2010. Penggunaan Data Penginderaan
Jauh dan SIG Untuk Pemantauan
Kekritisan di DAS Luk ulo Hulu Jawa
Tengah. Jurnal Manusia dan
Lingkungan Pusat Studi Lingkungan

© 2016 Universitas Negeri Semarang


 Alamat Korespondensi :
Gedung C1 Lantai 1FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail : geografiunnes@gmail.com