Anda di halaman 1dari 7

PANDANGAN AL-ASYARI TENTANG AKAL Dan

WAHYU
Uuntuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah ILMU KALAM dan TASAWUF
Dosen Pengampu: Moh Sain, S.Pd.I.,M.Pd.I

Disusun Oleh:

Beni Astuti : (1209.16.07771)


Semester/kelas : VI/B

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AULIAURRASYIDIN
TEMBILAHAN
2018/2019
AKAL DAN WAHYU

B. Latar Belakang
Nama lemgkap al-asyariah adalah abu al-hasan ali bin ismail bin ishaq bin salim
bin isma’il bin Abdullah bin musa bin nilal burdah bin abi musa al-asyari. Menurut
beberapa riwayat, Al-asyari lahir di bashrah pada tahun 260 H ? 875 M. ketika berusia
lebih dari 40 tahun ia hijrah kekota Baghdad dan wafat disana pada tahun 324 H?935
M.menurut abu asakir, aisyah al-asyari adalah seorang yang paham ahlisunnah dan ahli
hadits. Iaa wafat ketika Al-asyari masih kecil, sebelum wafat ia berwasiat kepada seorang
sahabatnya yang bernama zariyah bin yahya as-saji agar mendidik al-asyariyah . ibu al-
asyariyah sepeninggal ayahnya menikah lagi dengan tokoh mu’tazillah yang bernama abu
lai jubba’ (W.321 H?932 M). berkat didikan ayah tirinya itu, al –asyari kemudian
menjadi tokoh mu’tazillah . ia sering menggantikan ayahnya dalam perdebatan
menentang lawan-lawan mutazillah, selain itu ia juga banyak menulis buku yang
membela alirannya.
Al-asyari menganut faham mu’tazillah hanya sampai ia berusia40 tahun. Setelah
itu, secara tiba-tiba ia mengumumkann dihadapan jamaah dimesjid Basrah bahwa dirinya
telah meninggalkan faham mu’tazillahmenunjukan keburukan-keburukannya. Menurut
ibnu asakir, yang melatar bel;akangi Al-asyari meninggalkan faham mu’tazillah adalah
pengakuan Al-asyari bermimpi bertemu dengan Rasululllah Saw, sebanayak tiga kali,
yaitu pada malam ke-10, malam ke-20, dan malam ke-30 ramadhan. Dalam mimpinya
Rasulullah memperingatkannya agar meninggalkan faham mu’tazillah dan membela
faham yang diriwayatkan dari beliau.

A. Definisi Akal dan Wahyu


Secara bahasa akal merupakan kata yang berasal dari bahasa arab “Aqala” yang
berarti menngikat atau menahan , namun kata akal sebagai kata benda (masdar) dari
Aqala tidak terdapat dari Al-quran, akan tetapi kata akal sendiri terdapat dalam bentuk
lain yaitu kata kerja. Dalam kamus bahasa arab kata Aqala berarti mengikat atau
menahan, maka tali pengikat sorban, yang dipakai diarab Saudi yang memiliki warna
beragam yakni hitan dan terkadang emas disebut ‘iqala: dan menahan orang didalam
penjara.Adapun secara istilah akal merupakan daya berfikir yang ada dalam diir manusia
dan merupakan salah satu dari jiwa yang mengandung arti berfikir.
Adapun asal kata wahyu berasal dari bahasa arab yang berarti suara, api dan
kecepatan, serta dapat juga berarti biiskan, isyarat, tulisan dan kitab. Tetapi pengertian
wahyu yang dimaksudkan dalam penulisan ini adalah apa yang disampaikan Tuhan
kepada para utusan-Nya. Penamaan wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad
dengan Al-quran memiliki arti bahwa wahyu tersimpan dalam dada manusia, karena
nama Al-quran sendiri berasal dari kata qira’ah (bacaan) dan dalam arti kata qira’ah
terkandang makna agar selalu diingat.
Menurut Muhammad Abduh dalam Risalatut Tauhid berpenmdapat bahwa wahyu
adalah pengetahuan yang didapatkan oleh seseorang dalam dirinya sendiri disertai
keyakinan bahwa semua itu datang dari Allah SWT, baik menjelma seperti suara yang
masuk dalam telinga ataupun lainnya.dalam Islam wahyu atau sabda Tuhan yang
disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw terkumpul semuanya dalam Al-quran.

B. Kedudukan Akal dan Wahyu Dalam Teologi Islam


Teologi sebagai ilmu yang membahas tentang soal krtuhanan dan kewajiban-
kewajiban manusia terhadap Tuhan, memakai akal dan wahyu dalam memperoleh
pengetahuan tentang kedua hal tersebut. Akal sebagai daya berfikir yang ada dalam diri
manusia, berusaha keras untuk sampai kepada diri Tuhan, dan wahyu sebagai
pengkhabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan keterangan tentang
Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan.
Banyak terdapat dalam buku-buku klasik tentang ilmu kalam yang membahas
persoalan-persoalan akal dan wahyu, keduanya terkait dengan dua masalah pokok yang
masing-masing bercabang dua. Masalah pertama ialah soal ialah soal mengetahui Tuhan
dan masalah kedua soal baik dan jahat. Masalah pertama bercabang mejadi mengetahui
Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan yang dalam istilah Arab disebut “husnul
ma’rifah Allah dan wujud ma’rifah Allah”. Kedua, cabang dari masalah kedua adalah
mengetahui baik dan jahat, dan kewajiban mengerjakan perbuatan baik dan kewajiban
menjauhi perbuatan jahat atau “ma’rifah al-hasan wa ijtinab al-qabih”, yang disebut al-
tahsin wa al-taqbih.
Sederhananya seperti ini:
1. Dapatkah akal mengetahui adanya Tuhan?
2. Kalau iya, dapatkah akal berterima kasih kepada Tuhan?
3. Dapatkah akal mengetahui apa yang baim dan jahat ?
4. Kalau iya, dapatkah akal mengetahui bahwa wajib bagi nya menjauhi
perbuatan jahat?
Polemic yang terjadi diantara aliran-aliran teologi Islam yang bersangkutan ialah:
yang manakah diantara keempat masalah itu yang dapat diperoleh melalui wahyu?
Masing-masing aliran memberikan jawaban-jawaban yang berlainan.

C. Tokoh-Tokoh Al-asyariyah
Seelaj meninggalnya Abu Hasan al-asyari maka aliran al-asyari ini mengalami
kemunduran atau kesusutan.maka pada saat itu juga muncul pihak-pihak yang menentang
aliran al-asyariyah tersebut, seperti pengikutn mazhab hambali. Ketika itu muncullah
seorang menteri dan bani saljuk yang bernama Nidhomul Muluk (m. 485 H/1092 M)
mendirikan dua buah madrasah yang terkenal yaitu “Nidhomiyah di Naisabur dan di
Baghdad”. Kemudian tokoh-tokoh ulama yang berperan dalam kemajuan aliran al-
asyriyah tersebut adalah:
a. Abu bakar bin Tayyib al-Baqillany (M.403 H/1013 M), Lahir di kota bashrah.
Kitab karangannya yang terkenal adalah “at-tamhid, berisi antara lain tentang
atom dan sifat-sifat pembuktiannya.
b. Abu al-Ma’aly bin Abdullah al-Juwayni (419-478 H/1028-1085 M). lahir dikota
Naisabur, kemudian pindah kekota Mu’askar dan akhirnya sampai di Baghdad.
Dia mengikuti ajaran-ajaran al-baqilany dan al-asyari. Kitab karangannya
dibidang ilmu tauhid yang terkenal adalah:
- Qawalidu ‘Aqaidu yang menguraikan tentang prinsip-prinsip
- Al- Burhan Fie shuli Fiqhi menerangkan masalah tentang iman dan ilmu yang
digali berdasarkan sumber-sumber makrifat dan obyeknya.
- Al-irsyad Fie Qowathi’ I-llah Fie Ushuli I-aqaid menerangkan tentang pokok-
pokok kepercayaan dan kewajiban pertama seseorang muslim dewasa
terhadap agama
- Masailul Imam Abdul Haqqi ash Shaqati wa Ajwibatihi lil Iman Abil Ma’ati,
kitab ini berisi jawaban masalah-masalah yang dipertanyakan orang seperti
alam itu baru, isra’miraj, dll.
- Nihayatul Mathlub Fie Dirayati Mazhab, kitab ini adalah pandangan fiqihnya
menurut mazhab Syafi’i
c. Abu hamid bin Muhammad bin Muhammad al-qazali (450-505 H/1059-1111 M).
lahir di kota Thus, negeri Khurasan. Gurunya adalah imam Juwainy. Kitabnya
yang terkenal adalah “Bidayatul Hidayah” suatu kitab pengantar ilmu tasauf dan
ihya “ Ulumuddin” yang berisi tentang cara-cara menghidupkan kembali jiwa
beragama yang waktu itu mulai luntur.
d. Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf as Sanusi, lahir dikota Tilimsan Aljazair
(833-895 H/1427-1490 M) . Diantara kitab karangannya adalah “Aqidah Ahli
Tauhid” berisi pandangan-pandangan tauhid dan ummul Baharin berisi
pembagian sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah dan Rasulnya.
e. Imam Abu Abdullah Muhammad at-taimi al kubro ibnu Khatib Faharuddin ar
Razi. Lahir di Persia 543 H. Dia menulis kitab ilmu kaloam, fiqih, tafsir dan lain-
lain.
f. Abdul Fattah Muhammad Abdul Karim ibnu Abi Bakar Ahmad asy Syahrastani.
Lahir dikota Khurasan (479-574 H/1086-1153 M). Kitab karangannya yang
terkenal “Al-Milal Wan Nihal” menerangkan golongan-golongan dalam islam dan
berbagai paham keagamaan dan pilsafat, kitab ini terdiri dari 3 juz dalam 1 jilid.

D. Ajaran-Ajaran atau Poko-Pokok Pemikiran Asy-Ariyah


1. Sifat-sifat Tuhan menurut aliran ini, Tuhan mempunyai sifat-sifat sebagaimana
disebutkan didalam Alquran, Allah Swt mengeetahui dengan ilmu, berkuasa dengan
qudrah, hidup dengan hayah, berkehendak dengan iradah, berkata dengan kalam,
mendengar dengan sama’, melihat dengan bashar, dan seterusnya. Sifat-sifat tersebut
adalah Azaali, qadim, dan berdiri diatas zat Tuhan. Sifat itu bukan zat Tuhan, bukan
pula selain dari Zat Nya.
2. Alquran menurut mereka adalah qadim, bukan makhluk. Dasarnya adalah ayat an-
nahl ayat 40.
3. Melihat Tuhan bisa dengan mata kepala sendiri di akhirat
4. Perbuatan manusia diciptakan Tuhan bukan diciptakan oleh manusia
5. Tuhan bertahta di Arsy, mempunyai muka, tangan, dan sebagainya, tetapi tidak sama
dengan yang ada pada makhluk
6. Keadilan Tuhan, Tuhan tidak mempunyai kewajiban apapun. Tuhan tidak wajib
memasukkan orang jahat ke neraka dan juga sebaliknya, namun semua itu hanya
kehendak mutlak dari Tuhan karena Dia maha kuasa atas segala-galanya
7. Muslim berdosa besar menurut aliran ini apabila melakukan dosa besar dan
meninggal dunia sebelum bertobat, tetap menjadi m,ukmin, tidak kafir, tidak pula
berada antara keduanya sebagaimana pendapat Mu’tazillah.

E. Pandangan Al-asyari Mengenai Akal dan Wahyu


Aliran al-asyari yang termasuk dalam golongan ahlus sunnah wal jama’ah
memberikan peranan yang lebih besar kepada wahyu dalam mengetahui keempat
persoalan diatas. Menurut al-asyari segala kewajiban (yang harus dilakukan manusia)
hanya dapat diketahui wahyu. Akal tidak dapat membantu sesuatu menjadi wajib dan
tidak dapat mengetahui bahwa mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang buruk itu
adalah wajib bagi manusia. Memang betul bahwa akal dapat mengetahui Tuhan dan
perlunya berterima kasih kepada-Nya. Namun, melalui wahyu-Nya lah manusia dapat
mengetahui bahwa orang yang taat kepada Tuhan akan pahala (balasan), sedangkan orang
yang berbuat maksiat kepada-Nya akan mendapat hukuman (siksa). Akal menurut Al-
asyari tidak mampu mengetahui kewajiba manusia, untuk itulah wahyu diperlukan yakni
untuk menetapkan mana yang diperlukan dan mana yang tidak, mana perintah dan mana
larangan Tuhan.
PETA KONSEP

PEMIKIRAN KALAM AL-ASYARIYAH

Dasar Pemikiran Al-asyariyah


Tokoh-tokoh Al-asyariah

a. Akal dan wahyu


Abu bakar bin Tayyib al-
b. Perbuatan manusia
Baqillany
c. Kekuasaan dan
kehendak mutlak
Abu al-Ma’aly bin
Tuhan
Abdullah al-Juwayni
d. Sifat Tuhan
e. Melihat Tuhan
Abu hamid bin f. Kalam Tuhan
Muhammad g. Penggutusan Rasul
h. Pelaku dosa besar
Abu Abdullah
Muhammad

Imam Abu Abdullah

Abdul Fattah Muhammad