Anda di halaman 1dari 11

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.2 Konsep Pengaturan Posisi


2.2.1 Pengertian Pemgaturan Posisi
Posturing / mengatur dan merubah posisi adalah mengatur pasien dalam posisi yang
baik dan mengubah secara teratur dan sistematik. Hal ini merupakan salah satu aspek
keperawatan yang penting. Posisi tubuh apapun baik atau tidak akan mengganggu apabila
dilakukan dalam waktu yang lama. (Potter, et al., 2013)
Tujuan merubah posisi :
1. Mencegah nyeri otot
2. Mengurangi tekanan
3. Mencegah kerusakan syaraf dan pembuluh darah superficial
4. Mencegah kontraktur otot
5. Mempertahankan tonus otot dan reflek
6. Memudahkan suatu tindakan baik medik maupun keperawatan

2.2.2 Macam-macam posisi


Darliana, et al., (2014) menyebutkan ada beberapa pengaturan posisi yang biasa
digunakan dalam intervensi keperawatan maupun kondisi medis. Yang dalam
pelaksanaannya akan berbeda antara satuposisi dengan posisi yang lain. Posisi tersebut
antara lain adalah:
1. Posisi Fowler
Pengertian
Posisi fowler adalah posisi setengah duduk atau duduk, dimana bagian kepala tempat
tidur lebih tinggi atau dinaikkan. Posisi ini dilakukan untuk mempertahankan kenyamanan
dan memfasilitasi fungsi pernapasan pasien.

Posisi Fowler
Tujuan
a. Mengurangi komplikasi akibat immobilisasi.
b. Meningkatkan rasa nyaman
c. Meningkatkan dorongan pada diafragma sehingga meningkatnya ekspansi dada
dan ventilasi paru
d. Mengurangi kemungkinan tekanan pada tubuh akibat posisi yang menetap
Indikasi
a. Pada pasien yang mengalami gangguan pernapasan
b. Pada pasien yang mengalami imobilisasi
Alatdan bahan :
a. Tempat tidur khusus
b. Selimut
Cara kerja :
a. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
b. Dudukkan pasien
c. Berikan sandaran atau bantal pada tempat tidur pasien atau atur tempat tidur.
d. Untuk posisi semi fowler (30-45˚) dan untuk fowler (90˚).
e. Anjurkan pasien untuk tetap berbaring setengah duduk.

2. Posisi semi fowler


Pengertian
Semi fowler adalah sikap dalam posisi setengah duduk 15-60 derajat

Tujuan
a. Mobilisasi
b. Memerikan perasaan lega pada klien sesak nafas
c. Memudahkan perawatan misalnya memberikan makan
Cara / prosedur
a. Mengangkat kepala dari tempat tidur kepermukaan yang tepat ( 45-90 derajat)
b. Gunakan bantal untuk menyokong lengan dan kepala klien jika tubuh bagian atas
klien lumpuh
c. Letakan bantal di bawah kepala klien sesuai dengan keinginan klien, menaikan lutut
dari tempat tidur yang rendah menghindari adanya tekanan di bawah jarak poplital (
di bawah lutut )

3. Posisi sim
Definisi :
Posisi sim adalah posisi miring kekanan atau kekiri, posisi ini dilakukan untuk memberi
kenyamanan dan memberikan obat melalui anus (supositoria).

Posisi Sim
Tujuan :
a. Mengurangi penekanan pada tulang secrum dan trochanter mayor otot pinggang
b. Meningkatkan drainage dari mulut pasien dan mencegah aspirasi
c. Memasukkan obat supositoria
d. Mencegah dekubitus
Indikasi :
a. Untuk pasien yang akan di huknah
b. Untuk pasien yang akan diberikan obat melalui anus
Alat dan bahan :
a. Tempat tidur khusus
b. Selimut
Cara kerja :
1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2. Pasien dalam keadaan berbaring, kemudian miringkan kekiri dengan posisi badan
setengan telungkup dan kaki kiri lurus lutut. Paha kanan ditekuk diarahkan ke dada.
3. Tangan kiri diatas kepala atau dibelakang punggung dan tangan kanan diatas tempat
tidur.
4. Bila pasien miring kekanan dengan posisi badan setengan telungkup dan kaki kanan
lurus, lutut dan paha kiri ditekuk diarahakan ke dada.
5. Tangan kanan diatas kepala atau dibelakang punggung dan tangan kiri diatas tempat
tidur.

4. Posisi trendelenburg
Definisi :
Pada posisi ini pasien berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah dari
pada bagian kaki. Posisi ini dilakukan untuk melancarkan peredaran darah keotak.

Posisi trendelenburg
Alat dan bahan :
a. Tempat tidur khusus
b. Selimut
Indikasi :
a. Pasien dengan pembedahan pada daerah perut
b. Pasien shock
c. Pasien hipotensi.
Alat dan bahan :
a. Tempat tidur khusus
b. Selimut
Cara kerja :
1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2. Pasien dalam keadaan berbaring, kemudian miringkan kekiri dengan posisi badan
setengan telungkup dan kaki kiri lurus lutut. Paha kanan ditekuk diarahkan ke dada.
3. Tangan kiri diatas kepala atau dibelakang punggung dan tangan kanan diatas tempat
tidur.
4. Bila pasien miring kekanan dengan posisi badan setengan telungkup dan kaki kanan
lurus, lutut dan paha kiri ditekuk diarahakanke dada.
5. Tangan kanan diatas kepala atau dibelakang punggung dan tangan kiri diatas tempat
tidur

5. Posisi dorsal recumbent


Definisi :
Pada posisi ini pasien berbaring terlentang dengan kedua lutut flexi (ditarik atau
direnggangkan) diatas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk merawat dan memeriksa
genetalia serta pada proses persalinan.

Posisi dorsal recumbent


Tujuan :
Meningkatkan kenyamanan pasien, terutama dengan ketegangan punggung belakang.
Indikasi :
a. Pasien yang akan melakukan perawatan dan pemeriksaan genetalia
b. Untuk persalinan

Alat dan bahan :


a. Tempat tidur
b. Selimut
Cara kerja :
1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2. Pasien dalam keadaan berbaring terlentang, letakkan bantal diantara kepala dan
ujung tempat tidur pasien dan berikan bantal dibawah lipatan lutut
3. Berikan balok penopang pada bagian kaki tempat tidur atau atur tempat tidur khusus
dengan meninggikan bagian kaki pasien.

6. Posisi Litotomi
Definisi :
Posisi berbaring telentang dengan mengangkat kedua kaki dan menariknya keatas
bagian perut. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa genitalia pada proses persalinan, dan
memasang alat kontrasepsi.
Indikasi :
1. Untuk ibu hamil
2. Untuk persalinan
3. Untuk wanita yang ingin memasang alat kontrasepsi
Alat dan bahan :
1. Tempat tidur khusus
2. Selimut
Cara kerja:
1. Pasien dalam keadaan berbaring telentang, kemudian angkat kedua paha dan tarik
kearah perut
2. Tungkai bawah membentuk sudut 90 derajat terhadap paha
3. Letakkan bagian lutut/kaki pada tempat tidur khusus untuk posisi lithotomic
4. Pasang selimut

7. Posisi Genu pectrocal/ Knee chest


Definisi :
Pada posisi ini pasien menungging dengan kedua kaki di tekuk dan dada menempel pada
bagian alas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa daerah rectum dan
sigmoid.
Posisi Genu pectrocal/ Knee chest

Tujuan :
Memudahkan pemeriksaan daerah rektum, sigmoid, dan vagina.

Indikasi :
1. Pasien hemorrhoid
2. Pemeriksaan dan pengobatan daerah rectum, sigmoid dan vagina.

Cara kerja :
1. Anjurkan pasien untuk posisi menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada
menempel pada kasur tempat tidur.
2. Pasang selimut pada pasien.

8. Posisi orthopeneic
Pengertian
Posisi pasien duduk dengan menyandarkan kepala pada penampang yang sejajar dada,
seperti pada meja.
Tujuan
Memudahkan ekspansi paru untuk pasien dengan kesulitan bernafas yang ekstrim dan
tidak bias tidur terlentang atau posisi kepala hanya bias pada elevasi sedang.
Indikasi
Pasien dengan sesak berat dan tidak bias tidur terlentang.

9. Posisi Supinasi
Pengertian
Posisi telentang dengan pasien menyandarkan punggungnya agar dasar tubuh sama
dengan kesejajaran berdiri yang baik.

Posisi Supinasi
Tujuan
Meningkatkan kenyamanan pasien dan memfasilitasi penyembuhan terutama pada
pasien pembedahan atau dalam proses anestesi tertentu.
Indikasi
1. Pasien dengan tindakan post anestesi atau penbedahan tertentu
2. Pasien dengan kondisi sangat lemah atau koma.

10. Posisi pronasi


Pengertian
Pasien tidur dalam posisi telungkup Berbaring dengan wajah menghadap kebantal.

pronasi
Tujuan
1. Memberikan ekstensi maksimal pada sendi lutut dan pinggang
2. Mencegah fleksi dan kontraktur pada pinggang dan lutut.
Indikasi
1. Pasien yang menjalani bedah mulut dan kerongkongan
2. Pasien dengan pemeriksaan pada daerah bokong atau punggung.

11. Posisi lateral

lateral
Pengertian
Posisi miring dimana pasien bersandar kesamping dengan sebagian besar berat tubuh
berada pada pinggul dan bahu.
Tujuan
1. Mempertahankan body aligement
2. Mengurangi komplikasi akibat immobilisasi
3. Meningkankan rasa nyaman
4. Mengurangi kemungkinan tekanan yang menetap pada tubuh akibat posisi yang
menetap.
Indikasi
1. Pasien yang ingin beristirahat
2. Pasien yang ingin tidur
3. Pasien yang posisi fowler atau dorsal recumbent dalam posisi lama
4. Penderita yang mengalami kelemahan dan pasca operasi.

2.2.3 Pengaturan Posisi Untuk Pasien CVA


Pengaturan posisi pada pasien stroke merupakan salah satu tindakan mandiri
keperawatan, banyak studi yang menyebutkan posisi supinasi dengan modifikasi head up 300
merupakan posisi yang terbaik untuk pasien dengan stroke. Banyak manfaat yang bisa
diperoleh apabila dilakukan secara benar. Pengaturan posisi pada pasien stroke pada fase
akut memiliki beberapa tujuan antara lain untuk meningkatkan sirkulasi dan mencegah
peningkatan TIK.
Aliran darah yang tidak lancar pada pasien stroke mengakibatkan gangguan
hemodinamik termasuk saturasi oksigen. Oleh karena itu diperlukan pemantauan dan
penanganan yang tepat karena kondisi hemodinamik sangat mempengaruhi fungsi
pengantaran oksigen dalam tubuh yang pada akhirnya akan mempengaruhi fungsi jantung.
Pemberian posisi head up 300 pada pasien stroke mempunyai manfaat yang besar yaitu
dapat memperbaiki kondisi hemodinamik dengan memfasilitasi peningkatan aliran darah ke
serebral dan memaksimalkan oksigenasi jaringan serebral (Sunarto, 2015). Ollavaria, et al.,
(2014) menyatakan kecepatan rata-rata aliran darah ke serebral tidak meningkat pada posisi
supine tanpa modifikasi head up, tetapi terlihat meningkat pada posisi kepala 300. Walaupun
menurut Anderson, et, al., (2017) perbedaan pengaturan posisi head up atau tidur datar dalam
24 jam pertama serangan tidak berpengaruh pada besarnya kecacatan pada pasien post
stroke.
Posisi head up 300 juga dimaksudkan untuk mengontrol tekanan intra kranial (TIK). jika
elevasi lebih tinggi dari 30 derajat maka tekanan perfusi otak akan menurun. Dengan
menggunakan elevasi kepala untuk memaksimalkan oksigenasi jaringan otak, posisi kepala
yang lebih tinggi dapat memfasilitasi peningkatan aliran darah ke serebral dan
memaksimalkan oksigenasi jaringan serebral (Summers, et al.,2009). Peningkatan TIK adalah
komplikasi serius karena penekanan pada pusat-pusat vital di dalam otak (herniasi) dan dapat
mengakibatkan kematian sel otak (Rosjidi, 2014). Elevasi kepala tidak boleh lebih dari 300,
dengan rasional pencegah peningkatan resiko penurunan tekanan perfusi serebral dan
selanjutnya dapat memperburuk iskemia serebral jika terdapat vasopasme (Junaidi, 2011).
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, C. S., Arima, H., Lavados, P., Billot, L., Hackett, M. L., Olavarría, V. V., ... & Song,
L. (2017). Cluster-randomized, crossover trial of head positioning in acute stroke. New
England Journal of Medicine, 376(25), 2437-2447.

Darliana, D.(2014). Kebutuhan Aktivitas dan Mobilisasi. Fakultas Keperawatan Universitas


Syiah Kuala. Banda Aceh.

Junaidi, I.(2011). Stroke Waspadai Ancamannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI

Perry, A. G., Potter, P. A., & Ostendorf, W.(2013). Clinical nursing skills and techniques.
Elsevier Health Sciences.

Olavarría, V. V., Arima, H., Anderson, C. S., Brunser, A. M., Muñoz-Venturelli, P., Heritier, S.,
& Lavados, P. M. (2014). Head position and cerebral blood flow velocity in acute
ischemic stroke: a systematic review and meta-analysis. Cerebrovascular
Diseases, 37(6), 401-408.

Rosjidi, C. H., & Nurhidayat, S.(2014). Buku Ajar Peningkatan Tekanan Intrakranial &
Gangguan Peredaran Darah Otak. Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Summurs, D., Leonard, A., Wentworth, D., Saver, J.L., Simpson, J., Spilker, J.A., Hock, N.,
Miller, E., & Mitchell, P.H.(2009). Comprehensive overview of Nursing and
Interdisciplinary Care of the Acute Ischemic Stroke Patient. A. Scientific Statement
From the American Heart Association.

Sunarto.(2015). Peningkatan Nilai Saturasi Oksigen Pada Pasien Stroke Menggunakan Model
Elevasi Kepala.Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan, Volume 4, Nomor 1. Kementrian
Kesehatan Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Keperawatan