Anda di halaman 1dari 23

TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER

“K3 RS PKU MUHAMMADIYAH WONOGIRI”

Mata kuliah : manajemen pelayanan RS


Dosen Pengampun : Dr. Iwan Setyawan, Sp. THT

YF. INDAH PERMATASARI

P100170054

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2019

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Rumah sakit merupakan suatu organisasi yang melalui tenaga medis
professional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen
menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan yang
berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien.
Lingkungan rumah sakit terdapat beberapa bahaya-bahaya potensial yang dapat
mengakibatkan penyakit dan kecelakaan akibat kerja. Bahaya-bahaya potensial
tersebut, umumnya disebabkan oleh faktor biologi, faktor kimia, faktor ergonomi,
faktor fisik dan faktor psikologis. Faktor biologi dapat berupa virus, bakteri, jamur,
parasit. Faktor kimia berupa antiseptik, reagent, gas anestesi. Kemudian untuk faktor
ergonomi sering berhubungan dengan lingkungan kerja, cara kerja, posisi kerja yang
salah. Faktor fisik dapat berupa suhu, cahaya, bising, listrik, getaran, radiasi, sedangkan
faktor psikologi berupa kerja bergilir, beban kerja, hubungan sesama pekerja atau
atasan.
Kesehatan, Keselamatan, dan Keamanan Kerja, biasa disingkat K3 adalah suatu
upaya guna memperkembangkan kerja sama, saling pengertian dan partisipasi efektif
dari pengusaha atau pengurus dan tenaga kerja dalam tempat – tempat kerja untuk
melaksanakan tugas dan kewajiban bersama dibidang keselamatan, kesehatan, dan
keamanan kerja dalam rangka melancarkan usaha berproduksi.
Rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tetap harus mengedepankan
mutu pelayanan kepada masyarakat dengan tanpa mengabaikan upaya kesehatan dan
keselamatan kerja (K3) bagi seluruh pekerja rumah sakit. Kesehatan dan keselamatan
kerja di Rumah Sakit perlu mendapat perhatian serius dalam upaya melindungi upaya
melindungi dampak negatif yang ditimbulkan oleh proses pelayanan kesehatan maupun
keberadaan sarana, prasarana, obat – obatan, dan logistik lainnya yang ada di
lingkungan rumah sakit sehingga tidak menimbulkan kecelakaan kerja, penyakit akibat
kerja, dan kedaruratan termasuk kebakaran dan bencana yang berdampak pada pekerja
rumah sakit, pasien pengunjung, dan masyarakat sekitarnya. K3RS sebagai acuan yang
bersifat komprehensif karena di dalamnya terdapat standar kesehatan kerja dan standar
keselamatan kerja yang mencakup standar penanggulangan kebakaran dan
kewaspadaan terhadap bencana.
2
Aktivitas kerja tenaga kesehatan dirumah sakit khusunya dokter, perawat dan
bidan cukup berat dan mempunyai potensi menimbulkan penyakit dan kecelakaan
akibat kerja, salah satunya adalah faktor yang berhubungan dengan ergonomi antara
lain mengangkat, mendorong, menarik, menjangkau, membawa benda dalam hal
penanganan pasien. Gangguan muskuloskeletal merupakan salah satu masalah penting
dalam industri rumah sakit. Gangguan tersebut paling banyak di oleh tenaga kesehatan
di rumah sakit. Penyakit akibat kerja yang umum terjadi adalah low back pain (LBP).
Tingginya penyakit low back pain pada tenaga kesehata di Rumah sakit harus
dijadikan perhatian khusus pihak rumah sakit. Tenaga kesehatan yang mengalami low
back pain akan mengalami penurunan dalam hal produktivitasnya sehingga berdampak
pada kualitas pelayanan pasien. Oleh karena itu, Rumah Sakit dituntut untuk
melaksanakan upaya kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang dilaksanakan secara
integritas dan menyeluruh sehingga resiko terjadinya Penyakit Akibat Kerja dapat
dihindari.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Menjadi acuan dalam setiap program penyelenggaraan upaya-upaya Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3) di RSU PKU Muhammadiyah Wonogiri agar lebih
terencana, terarah, efektif dan efisien.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Terkendalinya risiko dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja sehingga
tercapai kecelakaan nihil (zero accident) serta tidak terjadi penyakit akibat kerja.
b. Memenuhi ketentuan tata tertib administrasi demi terciptanya manajemen RS
PKU Muhammadiyah Delanggu secara profesional dalam pemenuhan standart
mutu.
1.3 Manfaat
1.3.1 Manfaat Akademis
Mengetahui pengelolaan program K3RS di Rumah Sakit sesuai dengan standar
pelayanan yang ditetapkan.
1.3.2 Manfaat Praktis
Meningkatkan akses, keterjangkauan, dan kualitas pelayanan kesehatan yang
aman di Rumah Sakit.

3
BAB II
PENETAPAN PRIORITAS MASALAH

2.1 Struktur Organisasi Tim K3

DIREKTUR
POLISI

RS Ketua
RUJUKAN
Wakil Ketua
Dinas
Pemadam
Sekretaris
Kebakaran

Kanwil
Dep.Naker.
Wonogiri

Coordinator Coordinator Coordinator Coordinator


bidang bidang bidang penyehatan bidang kebakaran
Kesehatan Keselamatan Kerja lingkungan dan kewaspadaan

Anggota Anggota Anggota Anggota

2.2 Tugas TIM K3 RS PK Muhammadiyah


1. Ketua TIM K3 :
a. Mengkoordinasikan kegiatan K3 RS PKU Muhammadiyah Wonogiri
b. Memimpin rapat/pertemuan Tim K3
c. Menyusun rencana kerja/program kerja Tim K3
d. Mengevaluasi hasil kegiatan K3
e. Melaporkan hasil kegiatan K3 ke Direktur
f. Memantau pelaksanaan kegiatan K3 di RS PKU Muhammadiyah Wonogiri
g. Memberikan saran dan pertimbangan kepada direktur mengenai pelaksanaan K3
di RS PKU Muhammadiyah

4
2. Wakil Ketua TIM K3 :
a. Membantu ketua dalam melakukan koordinasi kegiatan K3 RS
b. Mewakili ketua bila berhalangan
c. Berperan serta dalam menyusun rencana erja/program keerja Tim K3
d. Bersama-sama mengevaluasi hasil kegiatan K3
e. Memantau pelaksanaan kegiatan K3
f. Memberikan saran dan pertimbangan kepada ketua mengenai pelaksanaan KK3 di
RS PKU Muhammadiyah

3. Sekretaris TIM K3 :
a. Melaksanakan kegiatan administrasi Tim K3
b. Mengumpulkan prosedur kerja dari tiap instansi/unit kerja yang terkait
c. Melaksanakan tugas lain dari ketua Tim K3
d. Membantu memantau pelaksanaan K3 di RS PKU Muhammadiyah
e. Mengkoordinator pelaksanaan kegiatan K3 bila ketua sedang berhalangan

4. Coordinator Tim K3 Bidang Kesehatan Kerja :


a. Mengikuti rapat Tim K3
b. Melakukan koordinasi dengan anggotanya untuk melaksanakan upaya kesehatan
kerja promotif, preventif, kuratif, rehabilitative di seluruh unit kerja Rumah Sakit
c. Melaksanakan penyuluhan K3 mengenai kesehatan kerja kepada karyawan Rumah
Sakit
d. Membimbinng dan mengarahkan karyawan di seluruh unit kerja agar bkrja sesuai
prosedur
e. Mengusulkan kelengkapan alat pelindung diri dan pengaman di seluruh unit kerja
f. Melaporkan hasil kegiatan K3 kepada Ketua Tim K3 secara berkala ataupun
incidental
g. Memantau pelaksanaan kegiatan K3 ddi seluruh Rumah Sakit
h. Memberikan saran dan pertimbangan mengenai pelaksanaan kesehatan kerja

5. Coordinator Tim K3 Bidang Keselamatan Kerja :


a. Mengikuti rapat Tim K3
b. Melaksanakan penyuluhan K3 mengenai keselataman kerja

5
c. Meembimbing dan mengarahkan staf di seluruh unit kerja agar bekerja sesuai
dengan prosedur
d. Mengusulkan kelengkapan alat pelindung diri
e. Pengaman di seluruh unit kerja Rumah Sakit secara berkala
f. Melaporkan hasil kegiatan K3 kepada ketua Tim K3 secara berkala maupun
incidental
g. Membuat analisa situasi saraa dan prasarana Rumah Sakit dan program keerja
bidang keselamatan kerja
h. Memantau pelaksanaan kegiatan K3 bidang keselamatan kerja
i. Memberikan saran dan pertimbangan mengenai pelaksanaan keselamatan kerja di
rumah sakit.

6. Coordinator Tim K3 Bidang Penyehatan Lingkungan RS :


a. Mengikuti rapat tim K3
b. Melaksanakan penyuluhan K3 mengani kesehatan lingkungan
c. Membimbing dan mengarahkan karyawan rumah sakit agar bekerja sesuai dengan
prosedur.
d. Mengusulkan kelengkapan alat pelindung diri dan pengaman
e. Menjain jadwal pemeriksaa kesehatan lingkungan secara berkala atupun incidental
f. Memantau pelaksanaan kegiatan K3 mengenai kesehatan lingkungan.
g. Memberikan saran dan pertimbangan mengenai pelaksanaan upaya penyehatan
lingkungan Rumah Sakit.

7. Coordinator Tim K3 Bidang Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana :


a. Mengikuti rapat tim K3
b. Melakukan penyuluhan K3 menganai kebakaran, Kewaspadaan dan Bencana
c. Membimbing da mengarahkan karyawan Rumah Sakit agar bekerja sesuai
prosedur
d. Mengusulkan kelengkapan alat peanggulangan kebakaran dan evaluasi di Rumah
Sakit
e. Membuat analisis situasi program kerja bidang kebakaran, kewaspadaan dan
bencana.
f. Melaporkan hasil kegiatan K3 kepada ketua K3

6
g. Memantau pelaksaaan kegiatan K3 mengenai kebakaran, kewaspadaan dan
bencana.

8. Anggota tim K3 Bidang Keselamatan Kerja :


a. Mengikuti rapat tim K3
b. Melaksanakan penyuluhan kerja mengenai Kesehatan keerja
c. Membimbing dan mengarahkan karyawan di Rumah Sakit agar bekerja sesuai
dengan prosedur, terutama menangani bahan kimia berbahaya.
d. Mengusulkan kelengkapan alat pelindung diri dan pengaman pada unit-unit yang
beresiko tinggi
e. Melaporkan hasil kegiatan K3 kepada Koordinator bidang Keselamatan Kerja
f. Memantau pelaksanaan kegiatan K3 mengenai Keselamatan Kerja
g. Membrikan sarana dan pertimbangan mengenai pelaksanaan keselamatan kerja
dan kesehatan kerja di unit kerja yang terkait degan bahan berbahaya.

9. Anggota Tim K3 Bidang Kesehatan Kerja :


a. Mengikuti rapat Tim K3
b. Melaksanakan penyuluhan K3 mengenai Kesehatan Kerja
c. Membimbing dan mengarahkan karyawan di Rumah Sakit agar bekerja sesuai
prosedur
d. Membimbing dan mengarahkan karyawan di Rumah Sakit agar bisa melakukan
pertolongan pertma pada kecelakaan dan pertolongan hidup dasar.
e. Membimbing dan mengarahkan karyawan di Rumah Sakit agar selalu
menggunakan alat pelindung diri sesuai dengan unit kejanya
f. Melaporkan hasil kegiatan K3 kepada Koordinator bidang Keselamatan Kerja
g. Melaporkan pelaksanaan kegiatan K3 mengenai kesehatan kerja.
h. Memberikan saran dan pertimbangan mengenai pelaksanaan keselamatan kerja
dan kesehatan kerja di unit kerja yyang terkait dengan bahan berbahaya.

10. Anggota Tim K3 Bidang Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana :


a. Mengikuti rapat tim K3
b. Melaksanakan penyuluhan K3 mengenai Kesehatan Kerja
c. Membimbing dan mengarahkan karyawan di Rumah Sakit agar bekerja sesuai
dengan prosedur
7
d. Mengusulkan kelengkapan dan pemeriksaan alat pemadam api
e. Melaporkan hasil kegiatan K3 kepada coordinator bidang ebakaran dan
Kewaspadaan Bencana
f. Memantau pelaksanaan kegiatan K3 mengeenai Keselamatan Kerja
g. Memberikan saran dan pertimbangan mengenai pelaksanaan keselamatan kerja
dan kesehatan kerja di unit kerja yang terkait dengan bahan berbahaya.

11. Anggotan Tim K3 bidang Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit :


a. Mengikuti rapat tim K3
b. Melaksanakan pnyuluhan K3 mengenai kesehatan kerja
c. Membimbing dan mengarahkan karyawan di Rumah Sakit agar bekerja sesuai
dengan prosedur
d. Mengusulkan kelengkapan alat pelindug diri dan pengaman di unit kerja
e. Membuat program dan memantau pelaksanaa upaya penyehatan makanan,
minuman , keshatan lingkungan
f. Melaporkan hasil kegiatan K3 kepada coordinator bidang keebakaran dan
kewaspadaan bencana.
g. Memantau pelaksanaan kegiatan K3 mengenai keselamatan kerja
h. Memberikan saran dan pertimbangan meengenai pelaksanaan keselamatan kerja
dan kesehatan keja di unit kerja terkait dengan bahan bahaya.

2.3 Program Kegiatan pokok


A. Kegiatan Pokok
a. Program Manajemen Fasilitas dan Keselamatan
1) Kepemimpinan dan perencanaan
- Rapat pertemuan anggota Tim K3
- Identifikasi bahaya dan pengendalian resiko
2) Keselamatan dan keamanan
- Monitoring terhadap manajemen resiko fasilitas/lingkungan fisik RS
- Keselamatan dan keamanan selama amsa pembanguan dan renovasi
- Monitoring kepatuhan unit independen
- Monitoring sertifikasi dan pemeliharaan alat
- Pengadaan rambu-rambu K3 dan maintenance
- Pemeriksaan kesehatan prakerja
8
- Pemeriksaan kesehatan berkala
- Pencatatan kesakitan karyawan
- Standarisasi cara kerja yang aman
- Monitoring daerah berisiko di RS
3) Bahan Berbahaya
- Monitoring dan inventaris baha dan limbah berbahaya untuk mengetahui
Matrial Safety Data Sheet (MSDS)
- Penanganan, penyimpanan dan penggunaan bahan berbahaya
- Pelaporan dan investigas dari tumpahan, paparan dan insiden lainnya
- Monitoring pembuangan limbah bahaya yang benar
- Peralatan dan prosedur perlindungan benar pada saat penggunaan ada
tumpahan atau paparan
- Pendokumentasian, meliputi setiap izin dan perizinan/lisensi atau
ketentuan persyaratan lainnya
4) Kesiapan menghadapi bencana
- Simulasi/ drill disasater plan
- Pelatihan evakuasi bencana
- Pelatihan water rescue
5) Pengamanan kebakaran
- Pencegahan kebakaran dengan penyimpanan dan penataan barag
berbahaya serta pembeerian rambu-rambu keselamatan
- Monitoring daerah rawan kebakaran dengan patrol deteksi dini kebakaran
- Pelatihan pemadam kebakaran (APAR)
- Pelatihan evakuasi saat kebakaran
- Audit larangan merokok
6) Peralatan medis
- Inventaris alat medis
- Pemeriksaan dan pemeliharaan alat medis
- Melakukan uji coba aalat medis baru sesuai dengan penggunaan dan
ketentuannya.
7) Sistem Utilitas (Sistem Pendukung)
- Identifikasi peralatan , system dan tempat yang potensial menimbulkan
risiko tertinggi terhadap pasien dan staf
- Assesmen dan meminimalisasi resiko dari kegagalan system pendukung
9
- Pemeliharaan sumber darurat listrik dan air bersih
- Melakukan uji coba ktersediaan dan keandallan sumber darurat listrik dan
air
- Mendokumentaikan hasil uji coba
- Melakukn pengujiaan alternative suber air dan listrik minimal sekai dalam
atu tahun.
8) Pendidikan staf
- Orientasi keselamatan dan kesehatan kerja
- Orientasi karyawan baru
- Pelatihan In House Training dan Ex House Training tentang manajemen
fasilitas dan keselamatan.
 Keselamatan dan keamanan
 Bahan berbahaya
 Kesiapan menghadapi bencana
 Pengamanan kebakaran
 Peralatan medis
 Sistem Utilitas

B. Jenis Kegiatan
Program kegiatan yang dilaksanakan oleh Tim K3 hanya bersifat mengkoordinasi
sedangkan untuk pelaksanaannya :
- Bidang kewaspadaan bencana oleh TIM MDMC
- Bidang keselamatan dan kesehatan kerrja oleh Sub Bagian K3, Sub bagian
IPRS dan Bagian Rumah Tangga
- Bidang Kesehatan Lingkungan oleh Sub Bagian Kesling dan Kebersihan
- Bidang Keamanan pasien oleh tim KKPRS

2.2 Permasalahan - Permasalahan Yang Ditemukan


Permasalahan – permasalahan K3RS yang sering ditemukan di RS PKU
Wonogiri antara lain meliputi :
1. Ruang Lingkup Fire Safety, sering terjadinya penurunan daya listrik karena
penggunaan yang berlebih sehingga harus dilakukan peningkatan daya serta tidak

10
adanya hydran di RS sebagai upaya penanggulangan kebakaran sehingg perlu
disediakan Hydran pada RS.
2. Ruang lingkup Worker’s Health :
- Prinsip ergonomi pekerja yang sering mengalami low back pain
- Tidak adanya pemeriksaan berkala pada pekerja
3. Pencatatan dan Pelaporan para pekerja yang mengalami low back pain sering tidak
melakukan pencatatan dan pelaporan karena menganggap hal tersebut sepele.

2.2 Penetapan Prioritas Penyebab Masalah


Dalam laporan kali ini, untuk mengetahui dan mengidentifikasi urutan prioritas
masalah di RS PKU Muhammadiyah Wonogiri dilakukan penilaian prioritas masalah
dari yang paling mendesak hingga tidak terlalu mendesak. Dalam menentukan prioritas
masalah di sini dilakukan USG (Urgency Seriousness Group). Metode USG merupakan
salah satu cara untuk menetapkan prioritas masalah dengan metode dengan tehnik
skoring 1 – 5 dan dengan mempertimbangkan 3 komponen dalam USG.
1. Urgency
Seberapa mendesak kasus tersebut harus dibahas yang dikaitkan dengan waktu
yang tersedia serta seberapa keras tekanan waktu tersebut untuk memecahkan masalah
yang menjadi penyebab masalah tersebut.
2. Seriousness
Seberapa serius kasus tersebut perlu dibahas yang dikaitkan dengan akibat yang
timbul dengan penundaan pemecahan masalah yang menimbulkan kasus tersebut atau
akibat yang menimbulkan masalah – masalah lain apabila masalah kasus penyebab
tidak dipecahkan.
3. Growth
Seberapa kemungkinan – kemungkinannya kasus tersebut menjadi berkembang
yang dikaitkan kemungkinan masalah penyebab kasus tersebut akan semakin
memburuk kalau tidak ditangani.
NO PRIORITAS MASALAH U S G TOTAL RANGKING
1 Ruang Lingkup Fire Safety 4 4 5 13 2
2 Ruang Lingkup Worker’s Health 5 5 5 15 1
3 Pencatatan dan pelaporan masalah 3 4 4 11 3
Tabel 1. Metode Penetapan Prioritas Masalah

11
Keterangan :
Skor 1 : Sangat kecil
Skor 2 : Kecil
Skor 3 : Sedang
Skor 4 : Besar
Skor 5 : Sangat besar
Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa masalah K3RS yang akan diambil
yaitu peringkat 1 dengan permasalahan K3RS pada Ruang Lingkup Worker’s Health.
Dari keempat kasus yang dipaparkan, hanya satu yang akan menjadi fokus utama
pembahasan yaitu K3RS dengan Ruang Lingkup Worker’s Health.

2.3 Penetapan Akar Penyebab Masalah


Setelah dilakukan analisis, untuk menentukan rencana intervensi pemecahan
masalah digunakan teknik pohon akar masalah. Tujuan pembuatan pohon akar masalah
yaitu untuk mengetahui penyebab masalah sampai dengan akar-akar penyebab masalah
sehingga dapat ditentukan rencana intervensi pemecahan masalah dari setiap akar
penyebab masalah tersebut. Adapun pohon akar masalah dapat dilihat sebagai berikut

Kurangnya Tenaga Kerja Peningkatan


keselamatan pasien menderita low back penyakit akibat
dan karyawan ketika pain kerja
terjadi kebakaran

Kesehatan dan Keselamatan kerja


Akibat

Sebab
Ruang lingkup fire Peningkatan jumlah Tenaga kerja tidak
safety kurang pasien di RS melaporkan penyakit
akibat kerja

Tidak adanya Hydran Tenaga kesehatan Tidak adanya


di RS salah posisi lkerja pencatatan dan
pelaporan masalah

Gambar 1. Diagram Pohon K3RS PKU Muhammadiyah Wonogiri

12
Berdasarkan hasil analisis pohon akar masalah dilakukan rencana intervensi pada
masing-masing akar penyebab masalah. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan intervensi
yang sesuai dan dapat dilakukan pemecahan masalah yang dihadapi.
Intervensi dapat diartikan sebagai cara atau strategi untuk memberi bantuan
kepada individu, masyarakat dan komunitas. Tujuan intervensi adalah untuk membawa
perubahan yang lebih baik sehingga tindakan yang sesuai dengan peran yang dimiliki.
Dari beberapa akar penyebab masalah yang telah diuraikan didapatkan perencanaan
intervensi pemecahan masalah, dipilih beberapa akar penyebab masalah yang
diprioritaskan untuk dilakukan pemecahan masalah. Pertimbangannya adalah intervensi
yang berupa tindakan nyata yang mampu dilakukan untuk memecahkan akar penyebab
masalah. Akar penyebab masalah yang didapat adalah :
1. Tidak adanya Hydran sebagai alat pemadam kebakaran di RS PKU Wonogiri
2. Tenaga kesehatan salah posisi kerja dalam menangani pasien.
3. Tidak adanya pencatatan dan pelaporan para pekerja yang mengalami low back pain
karena menganggap hal tersebut sepele.
2.4 Prioritas Penyebab Masalah
Tabel 1. Alternatif pemecahan masalah
Masalah Penyebab Alternatif dan jalan keluar

1. Kurangnya 1. Tidak adanya Hydran 1. Penyediaan hydran yang


keselamatan pasien sebagai alat terhubung di seluruh
dan karyawan ketika pemadam kebakaran ruangan RS PKU
terjadi kebakaran. di RS PKU Wonogiri Wonogiri
2. Tenaga Kerja 2. Kesalahan posisi 2. Diterapkannya prinsip
menderita low back kerja dalam ergonomis dalam
pain. menangani pasien. menangani pasien.
3. Peningkatan 3. Tidak adanya 3. Mengadakan
penyakit akibat pencatatan dan pemeriksaan secara
kerja. pelaporan para berkala kepada seluruh
pekerja yang tenaga kerja RS PKU
mengalami low back Wonogiri
pain karena
menganggap hal
tersebut sepele.

13
Untuk menjalankan alternatif pemecahan masalah, yang telah disusun maka perlu
menetapkan prioritas alternatif pemecahan masalah atau jalan keluar mengingat kemampuan
yang dimiliki oleh sebuah organisasi bersifat terbatas. Penentuan prioritas pemecahan
masalah menggunakan jangkauan 1-5 yang artinya nilai 1 (sangat tidak penting) sampai
dengan 5 (sangat penting).
Dalam menetapkan prioritas pemecahan masalah, dapat dilakukan dengan perhitungan yaitu
dengan cara membagi hasil perkalian nilai MxIxV dengan nilai C. Pemecahan masalah
dengan nilai P tertinggi adalah prioritas pemecahan masalah yang dipilih.
a. M : Magnitude, yaitu besarnya masalah yang dapat diatasi. Semakin besar
masalah yang dapat diatasi, makin tinggi prioritas jalan keluar.
b. I : Importancy yaitu pentingnya jalan keluar dalam mengatasi masalah yang
dihadapi dikaitkan dengan kelanggengan selesainya masalah, makin langgeng
selesainya masalah, makin penting jalan keluar.
c. V : Vulnerability yaitu sensitifitas jalan keluar dikaitkan dengan kecepatan jalan
keluar mengatasi masalah sensitif jalan keluar
d. C : Cost yaitu biaya yang diperlukan untuk jalan keluar, makin besar biaya,
makin tidak efisien jalan keluar.
Adapun perhitungan prioritas alternative pemecahan masalah yang dipilih adalah
sebagai berikut:
Tabel 2. Alternatif Pemecahan Masalah MIVC
Alternatif pemecahan masalah Efektifitas Efisiensi ∑
MxIxV
C
M I V C
Penyediaan Hydran yang terhubung di 4 5 3 4 15
seluruh ruangan

Mengupayakan penerapan prinsip 5 5 4 5 20


ergonomis dalam menangani pasien
Mengadakan pemeriksaan secara 4 4 4 4 16
berkala kepada seluruh tenaga kerja
RS PKU delanggu.

14
Keterangan :
M : Magnitude (besarnya masalah yang diatasi)
I : Importancy (pentingnya kelanggengan hasil)
V : Vulnerability (sensitifitas masalah/kemampuan menghilangkan masalah )
C : Cost (biaya)
Dari hasil perhitungan di atas, dapat disimpulkan bahwa alternatif pemecahan
masalah yang dapat diprioritaskan adalah mengupayakan prinsip ergonomis dalam
menangani pasien.

15
BAB III
TEORI PENDUKUNG

Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) adalah upaya pengendalian
bebrbagai faktor lingkungan fisik, kimia, biologi diRumah Sakit yang mungkin dapat
menimbulkan dampak atau gangguan kesehatan terhadap petugas, pasien, pengunjung yang
masuk di sekitar Rumah Sakit(Ramli, 2010).
1. Ruang Lingkup K3RS terdiri dari beberapa ruang lingkup, diantaranya yaitu : Emergency
Respone Plan (Rencana Tanggap Darurat) : pelatihan evakuasi dan tanggap darurat secara
periodik.
2. Fire Safety (Keamanan dari ancaman kebakaran) : pasif diinstal pada bangunan sebagai
insulator dan aktif seperti sprinkel, APAR, Hydran, alat komunikasi, perangkat security.
3. Workers Health (Kesehatan pekerja dengan menjamin lingkungan, peralatan, metode
perilaku kerja sehat dan aman).
4. Pengelolaan Bahan Berbahaya.
5. Sanitasi Lingkungan
6. Pengendalian dan Penanganan Limbah.
7. Pendidikan, Pelatihan dan Promosi
8. Pencatatan dan Pelaporan.

Bahaya – bahaya potensial di Rumah Sakit yang disebabkan oleh faktor biologi (virus,
bakteri, jamur, parasit), faktor kimia (antiseptik, reagen, gas anastesi), faktor ergonomi
(lingkungan kerja, cara kerja, dan posisi kerja yang salah), faktor fisik (suhu, cahaya, bising,
listrik, getaran, dan radiasi), faktor psikossial (kerja bergilir, beban kerja, hubungan sesama
pekerja atau atasan) dapat mengakibatkan penyakit atau kecelakaan akibat kerja (Somad,
2013).
PAK di Rumah Sakit umumnya berkaitan dengan Faktor Biologi (kuman patogen
umumnya berasal dari pasien), Faktor Kimia (pemaparan dalam dosis kecil yang terus –
menerus yang umumnya pada kulit, gas anastesi pada hati), Faktor Ergonomi (cara duduk
yang salah, cara mengangkat pasien yang salah), Faktor Fisik (panas pada kulit, tegangan
tinggi pada sistem reproduksi, radiasi pada sistem produksi sel darah), Faktor Psikologis
(ketegangan di kamar bedah, penerimaan pasien gawat darurat, bangsal penyakit jiwa, dll)
(Ridley, 2008).

16
Sumber bahaya yang ada di Rumah Sakit harus diidentifikasi dan dinilai untuk
menntukan tingkat resiko yang merupakan tolak ukur kemungkinan terjadinya kecelakaan
PAK. Bahaya – bahaya potensial di Rumah Sakit dapat dikelompokkan seperti dalam tabel
berikut :
Bahaya Fisik Diantaranya : radiasi pengion, radiasi non pengion, suhu panas, suhu
dingin, bising getaran, dan pencahayaan.
Bahaya Kimia Diantaranya : etilyn oxide, formaldehide, glutaraldehide, eter,
halotane, tetrane, merkuri, clorine.
Bahaya Biologi Diantaranya : virus (hepatitis B, hepatitis C, influenza, HIV), bakteri
(s.sapropyticus, bacillus sp, poryonybacterium sp, h. Influenzae, s.
Pnemunoiae, m. Mengitidis, b. Streptococcus, pseudomonas), jamur
(candida), dan parasit (s.scabei).
Bahaya Ergonomi Cara kerja yang salah diantaranya : posisi kerja statis, angkat angkut
pasien, membungkuk, menarik, mendorong.
Bahaya Psikososial Kerja shift, stress beban kerja, hubungan kerja, post traumatic.
Bahaya Mekanik Terjepit, terpotong, terpukul, tersayat, tergulung, tersayat benda
tajam
Bahya Listrik Sengatan listrik, hubungan arus pendek, petir, listrik statis
Kecelakaan Kecelakaan benda tajam
Limbah RS Limbah medis (vial obat, nanah, darah)
Limbah non medis Limbah cairan tubuh manusia (droplet, sputum, liur)
Tabel 2. Bahaya – Bahaya Potensial di Rumah Sakit

Standar pelayanan kesehatan kerja di rumah sakit (K3RS) yaitu bahwassannya setiap
rumah sakit wajib melaksanakan pelayanan kesehatan kerja seperti tercantum pada pasal 23
dalam UU Kesehatan No. 23 tahun 1992 dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi RI No. 03/men/1982 tentang pelayanan kesehatan kerja. Adapun bentuk
pelayanan kesehatan kerja yang perlu dilakukan, sebagai berikut :
1. Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum kerja bagi pekerja :
a) Pemeriksaan fisik
b) Pemeriksaan penunjang dasar (foto thorax, laboratorium rutin, EKG)
c) Pemeriksaan khusus sesuai dengan jenis pekerjaannya

17
2. Melaksanakan pendidikan dan penyuluhan / pelatihan tentang kesehatan kerja dan
memberikan bantuan kepada pekerja di Rumah Sakit dalam penyesuaian diri baik fisik
maupun mental terhadap pekerjanya, antara lain :
a) Informasi umum Rumah Sakit dan fasilitas atau sarana yang terkait dengan K3
b) Informasi tentang resiko dan ahaya khusus di tempat kerjanya
c) SOP kerja, SOP peralatan, SOP penggunaan alat pelindung diri dan kewajibannya
d) Orientasi K3 di tempat kerja
e) Melaksanakan pendidikan, pelatihan ataupun promosi / penyuluhan kesehatan kerja
secara berkala dan berkesinambunan sesuai kebutuhan dalam rangka menciptakan
budaya K3
3. Melakukan pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus sesuai dengan pejanan di
Rumah Sakit :
a) Setiap pekerja Rumah Sakit wajib mendapat pemeriksaan berkala minimal setahun
sekali
b) Sednagkan untuk pemeriksaan khusus disesuaikan dengan jenis dan besar pejanan
serta umur dari pekerja tersebut
c) Adapun jenis pemeriksaan khusus yang perlu dilakukan antara lain sebagai berikut :
4. Pemeriksaan audiometri untuk pekerja yang terpajan bising seperti pekerja
IPSR, operator telepon, dan lain – lain.
5. Pemeriksaan gambaran darah tepi untuk pekerja radiologi
6. Melakukan upaya preventif (vaksinasi Hepatitis B pada pekerja yang terpajan
produk tubuh manusia)
7. Pemeriksaan HbSAG dan HIV untuk pekerja yang berhubungan dengan darah
dan produk tubuh manusia (dokter, dokter gigi, perawat, laboratorium, petugas
kesling, dan lain – lain)
8. Pemeriksaan fungsi paru untuk pekerja yang terpajan debu seperti incenerator.
4. Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan kemampuan fisik pekerja :
a) Pemberian makanan tambahan dengan gizi yang mencukupi untuk pekerja dinas
malam, petugas radiologi, petugas lab, petugas kesling, dan lain – lain.
b) Olahraga, senam kesehatan, dan rekreasi
c) Pembinaan mental / rohani
5. Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi pekerja yang menderita
sakit :
a) Memberikan pengobatan dasar secara gratis kepada seluruh pekerja
18
b) Memberikan pengobatan dan menanggung biaya pengobatan untuk pekerja yang
terkena Penyakit Akibat Kerja (PAK)
c) Menindaklanjuti hasil pemeriksaan kesehatan berkala dan pemeriksaan kesehatan
khusus
d) Melakukan upaya rehabilitasi sesuai penyakit terkait
6. Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus pada pekerja Rumah Sakit yang akan
pensiun atau pindah kerja :
a) Pemeriksaan kesehatan fisik
b) Pemeriksaan laboratorium lengkap, EKG, Paru (foto thorax dan fungsi paru)
7. Melakukan koordinasi dengan tim anitia Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
mengenai penularan infeksi terhadao pekerja dan pasien :
a) Pertemuan koordinasi
b) Pembahasan kasus
c) Penanggulangan kejadian infeksi nosokomial
8. Melaksanakan kegiatan surveilans kesehatan kerja :
a) Melakukan mapping tempat kerja untuk mengidentifikasi jenis bahaya dan besarnya
resiko
b) Melakukan identifikasi ekerja berdasarkan jenis pekerjaannya, lama pajanan, dan
dosis pajanan
c) Melakukan analisa hasil pemeriksaan kesehatan berkala dan khusus
d) Melakukan tindak lanjut analisa pemeriksaan kesehatan berkala dan khusus (dirujuk
ke spesialis terkait, rotasi kerja, merekomendasikan pemberian istirahat kerja)
e) Melakukan pemantauan perkembangan kesehatan pekerja
9. Melaksanakan pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi yang berkaitan dengan
kesehatan kerja (pemantauan/pengukuran terhadap faktor fisik, kimia, biologi,
psikososial, dan ergonomi)
10. Membuat evaluasi, pencatatan, dan pelaporan kegiatan kesehatan kerja yang
disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit dan Unit Teknis terkait di wilayah kerja
Rumah Sakit :
a) Data seluruh pekerja rumah sakit
b) Data pekerja rumah sakit yang sakit yang dilayani
c) Data pekerja luar rumah sakit yang sakit yang dilayani
d) Cakupan MCU bagi pekerja di rumah sakit
e) Angka absensi pekerja rumah sakit karena sakit
19
f) Kasus penyakit umum di kalangan pekerja rumah sakit
g) Kasus penyakit umum di kalangan pekerja luar rumah sakit
h) Jenis penyakit yang terbanyak di kalangan pekerja rumah sakit
i) Jenis penyakit yang terbnayak di kalangan pekerja luar rumah sakit
j) Kasus penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan (pekerja Rumah Sakit)
k) Kasus penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan (pekerja luar rumah sakit)
l) Kasus kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjan (pekerja rumah sakit)
m) Kasus kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjan (pekerja luar rumah sakit)

20
BAB IV
PEMECAHAN PENYEBAB MASALAH

4.1 Analisa SWOT Terhadap Alternatif Penyebab Masalah


Analisa SWOT adalah analisis kondisi internal maupun external suatu organisasi
yang digunakan sebagai strategi dan dasar program kerja suatu organisasi. Analisis
tersebut meliputi Kekuatan (strength), Kelemahan (weakness), Kesempatan
(opportunity), Ancaman (threat).
1. Kekuatan (strength)
Merupakan kondisi kekuatan yang terdapat dalam organisasi, proyek atau konsep
bisnis yang ada. Kekuatan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat dalam
tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri.
2. Kelemahan (weakness)
Merupakan kondisi kelemahan yang terdapat dalam organisasi, proyek atau
konsep bisnis yang ada. Kelemahan yang dianalisis merupakan faktor yang
terdapat dalam tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri.
3. Kesempatan (opportunity)
Merupakan kondisi peluang berkembang di masa datang yang terjadi. Kondisi
yang terjadi merupakan peluang dari luar organisasi, proyek atau konsep bisnis
itu sendiri, misalnya : kompetitor, kebijakan pemerintah, kondisi lingkungan
sekitar.
4. Ancaman (threat)
Merupakan kondisi yang mengancam dari luar. Ancaman itu dapat menganggu
organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri.

Dari hasil pengamatan yang telah kami lakukan di RS PKU Muhammadiyah


Wonogiri memberikan informasi bahwa di RS tersebut sudah menerapkan program
K3RS, sehingga kami dapat melakukan analisa SWOT sebagai berikut :

Faktor Internal Strength (Kekuatan) Weakness (Kelemahan)


1. Memiliki sistem 1. Tidak adanya hydrant
keamanan dan sebagai alat deteksi dan
keselamatan di semua penanggulangan
gedung (code red and kebakaran
21
code blue) 2. Belum dapat
2. Pelatihan dan simulasi diidentifikasi mengenai
dilakukan untuk semua bahaya dan resiko
karyawan RS sesuai SOP K3RS
3. Memiliki APAR di 3. SDM dengan latar
setiap ruangan belzkang pendidikan
Faktor Internal yang sesuai belum ada
Opportunity (Kesempatan) SO Strategi WO Strategi
1. Kebijakan pemerintah Meningkatkan kinerja K3RS 1. Menambah jumlah
mengenai SOP K3RS untuk semua karyawan agar SDM yang sesuai
2. Mempunyai anggaran meningkatkan akreditas RS bidang K3RS
untuk pelatihan K3RS 2. Memberikan
pendidikan untuk
karyawan yang
berkompeten sesuai
dengan bidang K3RS
Threat (Ancaman) ST Strategi WT Strategi
Kurangnya kesadaran dalam Melakukan pencatatan , Memberikan punshiment
pencatat dan pelaporan pendataan, dan pelatihan apabila melanggar
terhadap kesalahan K3RS secara berkala serta peraturan
Tabel 3. Analisa SWOT K3RS di RS PKU Muhammadiyah Wonogiri

22
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Standar kesehatan dan keselamatan kerja di RS (K3RS) merupakan pedoman
yang dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan K3RS dan dapat
menggantikan peran serta K3RS terdahulu yang dikenal dengan Kebakaran,
Keselamatan Kerja, dan Kewaspadaan Bencana. Standar K3RS sebagai acuan lebih
komprehensif karena di dalamnya terdapat standar kesehatan kerja dan standar
keselamatan kerja yang mencaku standar penanggulangan kebakaran dan kewaspadaan
terhadap bencana.
Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan suatu program yang
perlu dipantau agar setiap pekerjaan dan aktivitas di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Wonogiri dapat berjalan dengan baik dan sehat tanpa menimbulkan
penyakit akibat kerja dan kecelakaan akibat kerja, pemantauan keselamatan dan
kesehatan kerja merupakan sekumpulan kegiatan yang menganalisa, menilai, dan
memberikan masukan dalam upaya menjamin terciptanya kondisi produktivitas yang
dapat ditingkatkan.

5.2 Saran
Program K3RS sebaiknya dilakukan di setiap Rumah Sakit termasuk RS PKU
Muhammadiyah Wonogiri yang menjadi salah satu RS Swasta sehingga setiap
pekerjaan yang diajalankan oleh karyawan atau petugas kesehatan rumah sakit dapat
berjalan dengan baik tanpa menimbulkan penyakit akibat kerja dan kecelakaan akibat
kerja. Selain itu, dengan penerapan program K3RS diharapkan RS PKU
Muhammadiyah Wonogiri dapat meningkatkan mutu pelayanan dan produktivitas
kerja.

23