Anda di halaman 1dari 24

KEPANITERAAN KLINIK

STATUS ILMU PENYAKIT KANDUNGAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Hari / Tanggal Ujian / Presentasi Kasus :
SMF ILMU KEBIDANAN
RUMAH SAKIT : RSUD Cengkareng

Tanda Tangan
Nama : Raynhard Salindeho
NIM : 112017159
………………………

Dokter Pembimbing : dr. Johanes Benarto, Sp.OG


………………………

IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. SS
Umur : 24 Tahun
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
Suku Bangsa : Betawi
Alamat : Jakarta Barat, DKI Jakarta

Nama : Tn. N
Umur : 26 tahun
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
Suku Bangsa : Betawi
Alamat : Jakarta Barat, DKI Jakarta
I. ANAMNESIS
Di ambil dari: Autoanamnesis Tanggal: 11/02/2019 Jam: 11.30 WIB
Keluhan Utama:
Perempuan usia 24 tahun G3P1A1 hamil 37 - 38 minggu datang dengan kontrol rutin

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien perempuan 24 tahun G3P1A1 hamil 37-38 minggu datang ke RSUD Cengkareng
dengan kontrol rutin. Pasien sebelumnya kontrol di puskesmas dan saat setelah pemeriksaan
darah, pasien didiagnosis menderita HIV. Pasien rutih mengkonsumsi ARV sejak 15 hari
yang lalu. Saat setelah mengkonsumsi ARV pasien merasakan mual dan muntah. Pasien
mengeluhkan keputihan yang keluar dari vagina dan berbau dan lama kelaman berwarna
kuning. Janin masih bergerak aktif. Haid pertama hari terakhir 25 Mei 2018 dengan rencana
dilakukan section caesarea pada tanggal 24 february 2019.

Penyakit penyakit dahulu


Hipertensi (-). DM (-) Asma (-) Jantung (-)
Riwayat keluarga
-
Riwayat kehamilan
Hari pertama haid terakhir pada 25 Mei 2018. ANC rutin di Puskesmas sejak kehamilan 5
Minggu. Tafsiram persalinan pasien pada tanggal 04 Maret 2019 dan pasien akan dilakukan
section caesarea pada tanggal 24 february 2019. Pasien belum pernah menggunakan obat atau
alat KB sebelumnya.

Riwayat haid
Menarche : Usia 12 tahun
Siklus : 28 hari
(+) Teratur
(-) Nyeri
(+) Jumlah & lama (3-4x ganti pembalut, lamanya: 7 hari)
(-) Gangguan haid

2
Riwayat perkawinan
Sudah menikah
Menikah: 1 kali
Dengan suami yang pertama menikah sudah 4 tahun dan memiliki 1 anak

Riwayat obstetrik
Kehamilan ke: 3
Komplikasi kehamilan terdahulu: (-)
Abortus : pasien mengalami abortus saat kehamilan 18 minggu anak pertama
Lain-lain: (-)

Riwayat keluarga berencana


( - ) Pil KB ( - ) Suntikan ( - ) Susuk KB
( - ) Lain-lain: kondom ( - ) IUD

Riwayat persalinan
Tahun Tempat Usia Jenis Penolong Penyulit Jenis BB / Hidup/
persalinan persalinan kehamilan persalinan persalinan kelamin PB mati
lahir
2012 puskesmas 38 Normal Bidan - Perempuan 2700g Hidup
Hamil ini

Lain-lain
Kulit
( - ) Bisul ( - ) Rambut ( - )Keringat malam
( - ) Kuku ( - ) Kuning/ Ikterus ( - ) Sianosis
( - ) Lain-lain

Katamenia
( - ) Leukore ( - ) Perdarahan ( - ) Lain-lain

3
Saluran kemih/ alat kelamin
( - ) Disuria ( - ) Kencing nanah
( - ) Stranguria ( - ) Kolik
( - ) Poliuria ( - ) Oliguria
( - ) Polakisuria ( - ) Anuria
( - ) Hematuria ( - ) Retensi urin
( - ) Kencing batu ( - ) Kencing menetes
( - ) Ngompol

Ekstremitas
( + ) Bengkak pada kedua kaki ( - ) Deformitas
( - ) Nyeri sendi ( - ) Sianosis

Berat Badan
Berat badan rata-rata :57 kg
Berat tertinggi :70 kg, sebelum hamil BB tertinggi 59 kg
Berat badan sekarang :70 kg
Tetap ( ) Naik (+) Turun ( )

Pendidikan
( ) SD ( ) SMP (√) SMA
( ) Sekolah Kejuruan ( ) Akademi (D3) ( ) Universitas

Kesulitan
Keuangan : Tidak ada
Pekerjaan : Tidak ada
Keluarga : Tidak ada

4
II. PEMERIKSAAN FISIK

1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum: Baik
Kesadaran: Compos mentis
Suhu: 36,5°C
Tekanan darah: 130/80 mmHg
Nadi: 87 x/menit
Tinggi badan: 156cm
Berat badan: 70kg
Status gizi: Baik
Sianosis: tida kada
Edema: tidak ada
Habitus: athletikus
Cara berjalan: normal
Mobilisasi (aktif/pasif): aktif

Kulit
Warna : Sawo matang
Jaringanparut : Tidakada
Pertumbuhanrambut :Merata
Suhuraba : Hangat
Keringat : Umum
Lapisanlemak : Merata
Effloresensi : Tidak ada
Pigmentasi : Tidak ada
Pembuluhdarah : Tidak melebar
Lembab/kering : Lembab
Turgor : Baik
Ikterus : Tidak ada
Edema : Tidakada

5
Kelenjar getah bening
Submandibula : tidak teraba membesar
Supraklavikula : tidak teraba membesar
Lipat paha : tidak teraba membesar
Leher : tidak teraba membesar
Ketiak : tidak teraba membesar

Mata
Konjungtiva : normal
Sklera : putih

Sensorik
Penglihatan : Normal
Pendengaran : Normal
Penciuman : Normal
Kognitif : Orientasi penuh

Leher
Tekanan vena Jugularis (JVP) : tidak dilakukan karena bukan indikasi
Kelenjar tiroid : tidak teraba membesar
Kelenjar limfe : tidak teraba membesar

Thorax
Bentuk : normal
Pembuluh darah : tidak tampak pelebaran

Paru-Paru Depan Belakang


Kanan Simetris pada keadaan statis dan dinamis
Inspeksi
Kiri Simetris pada keadaan statis dan dinamis
Sela iga normal, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri
Kanan tekan, fremitus normal
Palpasi
Sela iga normal, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri
Kiri tekan, fremitus normal

6
Kanan Sonor di seluruh lapang paru
Perkusi
Kiri Sonor di seluruh lapang paru
Kanan Suara nafas vesikuler, Ronkhi dan Wheezing negatif
Auskultasi
Kiri Suara nafas vesikuler, Ronkhi dan Wheezing negatif

Jantung
Inspeksi Ictus cordis tidak tampak
Ictus cordis teraba di linea midclavicula sinistra sela
Palpasi iga IV
Batas Atas Linea parasternal sinistra sela iga II
1 cm sebelah medial linea midklavikula sinistra, sela
Perkusi
Batas Kiri iga IV
Batas Kanan linea sternalis dextra sela iga IV
Katup Aorta BJ I dan BJ II reguler, gallop negatif, murmur negatif
KatupPulmonal BJ I dan BJ II reguler, gallop negatif, murmur negatif
Auskultasi
Katup Mitral BJ I dan BJ II reguler, gallop negatif, murmur negatif
KatupTrikuspid BJ I dan BJ II reguler, gallop negatif, murmur negatif

Ekstremitas
Tungkai : simetris
Edema : (+)pada kedua tungkai bawah
Refleks patella : (+)

Aspek Kejiwaan
Tingkahlaku : tenang
Alam perasaan : biasa
Proses pikir : wajar

2. Pemeriksaan payudara
Bentuk dan ukuran : kanan dan kiri simetris
Puting susu : menonjol
Pengeluaran : tidak ada
Kebersihan : cukup

7
Kelainan : tidak ada

3. Pemeriksaan abdomen
Inspeksi : membuncit, (-) bekas luka operasi, linea nigra (+), dan striae
gravidarum (+)
Palpasi : Leopold I : tinggi fundus uteri setinggi proc xyphoideus,,
teraba bagian bulat, dan lunak seperti bokong.
Leopold II : teraba bagian keras dan memanjang di sebelah
kanan dan teraba bagian terkecil di sebelah kiri.
Leopold III : teraba bulat dan keras seperti kepala
Leopold IV : kepala belum masuk PAP
Auskultasi : Bising usus ada
Denyut jantung janin 145x/menit, reguler

IV. LABORATORIUM
Hematologi
Darah rutin
Haemoglobin 10,6 g/dl
Hematokrit 29 %
Leukosit 9.700 /mm3
Trombosit 390.000 /mm3
Hemostasis
Masa perdarahan/BT 2 menit
PT
Pasien 12,10 detik
Kontrol 14,6 detik
INR 0,86 detik
APTT
Pasien 27,3 detik
Kontrol 36,4 detik
Kimia klinik
Glukosa darah sewaktu 84 mg/dL

8
V. RESUME

Ny. M 23 tahun G3P1A1 hamil 37-38 minggu datang ke RSUD Cengkareng untuk kontrol
rutin. Pasien sebelumnya kontrol di puskesmas dan saat setelah pemeriksaan darah, pasien
didiagnosis menderita HIV. Pasien rutih mengkonsumsi ARV sejak 15 hari yang lalu. Saat
setelah mengkonsumsi ARV pasien merasakan mual dan muntah. Pasien mengeluhkan
keputihan yang keluar dari vagina dan berbau dan lama kelaman berwarna kuning. Janin
masih bergerak aktif. Haid pertama hari terakhir 25 Mei 2018 dengan rencana dilakukan
section caesarea pada tanggal 24 february 2019. Riwayat persalinan normal pada kehamilan
pertama. Hasil pemeriksaan fisik tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 87x/menit, suhu
36,5oC.Keadaan umum tampak tidak sakit, kesadaran compos mentis. Hasil pemeriksaan
laboratorium didapatkan Hb 10,6 g/dl, Ht 29 %.

VI. DAFTAR MASALAH

Diagnosa obstetri: G3P1A1 hamil 37-38 minggu, janin tunggal, hidup, intrauterin,
,presentasi kepala, punggung kiri, belum inpartu.
Diagnosis kerja: Kehamilan dengan SIDA

VII. PENATALAKSANAAN

1. Rencana diagnostik
 USG
 CTG
2. Rencana terapi
ARV seumur hidup
3. Rencana edukasi
 Member edukasi tentang persalinan section caesarea
 Memberi penyuluhan cara menyusui

9
VIII. PROGNOSIS

Ad vitam :dubia ad bonam


Ad functionam :dubia ad bonam
Ad sanationam :dubia ad bonam

10
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

HIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yang


menyerang system kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatif lama
dapat menyebabkan AIDS, sedangkan AIDS sendiri adalah suatu sindroma penyakit
yang muncul secara kompleks dalam waktu relatif lama karena penurunan sistem
kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV.
 AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan
tubuh manusia.1,2

Etiologi

Penyebab dari virus ini adalah dari retrovirus golongan retroviridae, genus lenti
virus. Terdiri dari HIV-1 dan HIV-2. Dimana HIV-1 memiliki 10 subtipe yang diberi dari
kode A sampai J dan subtipe yang paling ganas di seluruh dunia adalah grup HIV-1..3

Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada gejala.
2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness.
3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada.
4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam hari,
B menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut.
5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali
ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system
tubuh, dan manifestasi neurologist.

Macam infeksi HIV


Atas dasar interaksi HIV dengan respon imun pejamu, infeksi HIV dibagi menjadi
tiga Tahap :
1. Tahap dini, fase akut, ditandai oleh viremia transien, masuk ke dalam jaringan
limfoid, terjadi penurunan sementara dari CD4+ sel T diikuti serokonversi dan
pengaturan replikasi virus dengan dihasilkannya CD8+ sel T antivirus. Secara klinis
merupakan penyakit akut yang sembuh sendiri dengan nyeri tenggorok, mialgia

11
non-spesifik, dan meningitis aseptik. Keseimbangan klinis dan jumlah CD4+ sel T
menjadi normal terjadi dalam waktu 6-12 minggu.
2. Tahap menengah, fase kronik, berupa keadaan laten secara klinis dengan replikasi.
virus yang rendah khususnya di jaringan limfoid dan hitungan CD4+ secara
perlahan menurun. Penderita dapat mengalami pembesaran kelenjar limfe yang luas
tanpa gejala yang jelas. Tahap ini dapat mencapai beberapa tahun. Pada akhir tahap
ini terjadi demam, kemerahan kulit, kelelahan, dan viremia. Tahap kronik dapat
berakhir antara 7-10 tahun.
3. Tahap akhir, fase krisis, ditandai dengan menurunnya pertahanan tubuh penderita
secara cepat berupa rendahnya jumlah CD4+, penurunan berat badan, diare, infeksi
oportunistik, dan keganasan sekunder. Tahap ini umumnya dikenal sebagai AIDS.
Petunjuk dari CDC di Amerika Serikat menganggap semua orang dengan infeksi
HIV dan jumlah sel T CD4+ kurang dari 200 sel/µl sebagai AIDS, meskipun
gambaran klinis belum terlihat. 2

Cara Penularan4

Kita masih belum mengetahui secara persis bagaimana HIV menular dari ibu ke bayi.
Namun, kebanyakan penularan terjadi saat persalinan (waktu bayinya lahir). Selain itu, bayi
yang disusui oleh ibu terinfeksi HIV dapat juga tertular HIV. Hal ini ditunjukkan dalam
gambar berikut:

Ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan bayi terinfeksi HIV.
Yang paling mempengaruhi adalah viral load (jumlah virus yang ada di dalam darah) ibunya.

12
Oleh karena itu, salah satu tujuan utama terapi adalah mencapai viral load yang tidak dapat
terdeteksi seperti juga ART untuk siapa pun terinfeksi HIV. Viral load penting pada waktu
melahirkan. Penularan dapat terjadi dalam kandungan yang dapat disebabkan oleh kerusakan
pada plasenta, yang seharusnya melindungi janin dari infeksi HIV. Kerusakan tersebut dapat
memungkinkan darah ibu mengalir pada janin. Kerusakan pada plasenta dapat disebabkan
oleh penyakit lain pada ibu, terutama malaria dan TB.

Namun risiko penularan lebih tinggi pada saat persalinan, karena bayi tersentuh oleh
darah dan cairan vagina ibu waktu melalui saluran kelahiran. Jelas, jangka waktu antara saat
pecah ketuban dan bayi lahir juga merupakan salah satu faktor risiko untuk penularan. Juga
intervensi untuk membantu persalinan yang dapat melukai bayi, misalnya vakum, dapat
meningkatkan risiko. Karena air susu ibu (ASI) dari ibu terinfeksi HIV mengandung HIV,
juga ada risiko penularan HIV melalui menyusui.

Faktor risiko lain termasuk kelahiran prematur (bayi lahir terlalu dini) dan kekurangan
perawatan HIV sebelum melahirkan. Sebenarnya semua faktor risiko menunjukkan satu hal,
yaitu mengawasi kesehatan ibu. Beberapa pokok kunci yang penting adalah:

a. status HIV bayi dipengaruhi oleh kesehatan ibunya,


b. status HIV bayi tidak dipengaruhi sama sekali oleh status HIV ayahnya, dan
c. status HIV bayi tidak dipengaruhi oleh status HIV anak lain dari ibu.

Faktor Risiko

Ada dua faktor utama untuk menjelaskan faktor risiko penularan HIV dari ibu ke
bayi:

Faktor ibu dan bayi

a. Faktor ibu
Faktor yang paling utama mempengaruhi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi adalah
kadar HIV (viral load) di darah ibu pada menjelang ataupun saat persalinan dan kadar HIV
di air susu ibu ketika ibu menyusui bayinya. Umumnya, satu atau dua minggu setelah
seseorang terinfeksi HIV, kadar HIV akan cepat sekali bertambah di tubuh seseorang.
Risiko penularan akan lebih besar jika ibu memiliki kadar HIV yang tinggi pada
menjelang ataupun saat persalinan. Status kesehatan dan gizi ibu juga mempengaruhi risiko

13
penularan HIV dari ibu ke bayi. Ibu dengan sel CD4 yang rendah mempunyai risiko
penularan yang lebih besar, terlebih jika jumlah CD4 kurang dari 200.
Jika ibu memiliki berat badan yang rendah selama kehamilan serta kekurangan
vitamin dan mineral, maka risiko terkena berbagai penyakit infeksi juga meningkat.
Biasanya, jika ibu menderita infeksi menular seksual atau infeksi reproduksi lainnya maupun
malaria, maka kadar HIV akan meningkat.
Risiko penularan HIV melalui pemberian ASI akan bertambah jika terdapat kadar
CD4 yang kurang dari 200 serta adanya masalah pada ibu seperti mastitis, abses, luka di
puting payudara. Risiko penularan HIV pasca persalinan menjadi meningkat bila ibu
terinfeksi HIV ketika sedang masa menyusui bayinya.5,6

b. Faktor bayi antara lain:


1. bayi yang lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah,
2. melalui ASI yang diberikan pada usia enam bulan pertama bayi, dan
3. bayi yang meminum ASI dan memiliki luka di mulutnya.

Pada saat persalinan, bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir. Faktor obstetrik
yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke anak selama persalinan adalah:7,8,9
1. Jenis Persalinan
Risiko penularan persalinan per vaginam lebih besar dari pada persalinan melalui bedah
sesar (sectio caesaria).
2. Lama Persalinan
Semakin lama proses persalinan berlangsung, risiko penularan HIV dari ibu ke anak
semakin tinggi, karena semakin lama terjadinya kontak antara bayi dengan darah dan
lendir ibu.
3. Ketuban pecah lebih dari 4 jam sebelum persalinan meningkatkan risiko penularan hingga
dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari 4 jam.
4. Tindakan episiotomi, ekstraksi vakum dan forseps meningkatkan risiko penularan HIV
karena berpotensi melukai ibu atau bayi.

14
Berdasarkan tahapan waktu seorang ibu yang terinfeksi HIV dengan kehamilan
memiliki resiko untuk menularkan HIV ke bayinya, yaitu:5,9,10
1. Antepartum
a. Viral load dari ibu, apakah sudah mendapat terapi anti retroviral, jumlah CD4+,
defisiensi vitamin A, coreseptor mutasi dari HIV, malnutrisi, sedang dalam terapi
pelepasan ketergantungan obat, perokok, korionik villus sampling (CVS),
amniosintesis,berat badan ibu.
b. Beratnya keadaan infeksi pada ibu merupakan faktor resiko utama terjadinya
penularan perinatal. Berdasarkan hasil studi ternyata angka penularan vertikal lebih
tinggi pada ibu terinfeksi HIV dengan gejala yang sangat berat dibanding ibu
terinfeksi HIV tanpa gejala. Beratnya keadaan penyakit ibu ditentukan dengan
menggunakan kriteria klinis dan jumlah partikel virus yang terdapat dalam plasma,
serta keadaan imunitas ibu. Ibu dengan gejala klinis penyakit AIDS yang sangat jelas
(dengan gejala berbagai penyakit oportunistik), jumlah muatan virus di dalam tubuh
>1000/mL, dan jumlah limfosit <200-350/mL dianggap menderita penyakit AIDS
sangat berat dan harus mendapat pengobatan antiretrovirus.
c. Ibu yang menderita penyakit infeksi lain pada genitalia juga mempunyai risiko tinggi
untuk menularkan HIV-1 kepada bayinya. Misalnya, ibu yang menderita penyakit
sifilis atau penyakit genitalia ulseratif yang lain (seperti Herpes Simplex, infeksi
Cytomegalovirus (CMV), infeksi bakteri pada genitalia), juga mempunyai risiko
penularan vertikal lebih tinggi.
d. Ibu yang mempunyai kebiasaan yang tidak baik mempunyai risiko tinggi untuk
menularkan infeksi HIV-1 kepada bayinya. Berdasarkan hasil penelitian, para ibu
yang merokok mempunyai risiko untuk menularkan HIV-1. Penularan vertikal juga
sering terjadi pada ibu pengguna obat terlarang. Demikian juga, ibu yang melakukan
hubungan seksual tanpa alat pelindung, terutama dengan pasangan yang berganti-
ganti, juga mempunyai risiko tinggi dalam penularan vertikal.
2. Intrapartum
a. Kadar maternal HIV-1 cerviko vaginal,proses persalinan, pecah ketuban
kasep, persalinan prematur, penggunaan fetalscalp electrode, penyakit
ulkus genitalia aktif, laserasi vagina,korioamnionitis, dan episiotomi.
b. Proses persalinan bayi juga menentukan terjadinya risiko penularan
vertikal. Bayi yang lahir per vaginam dengan tindakan invasif seperti

15
tindakan forsep, vakum, penggunaan elektrode pada kepala janin dan
episiotomi, mempunyai risiko lebih tinggi untuk tertular HIV-1.

3. Post partum melalui menyusui


a. Telah diketahui air susu ibu dengan infeksi HIV mengandung proviral HIV dan virus
bebas lainnya, sebagai faktor pertahanan seperti antibody terhadap HIV dan
glikoprotein yang menghambat ikatan HIV dengan CD4+. Kebanyakan kasus
penularan terjadi pada wanita yang diketahui negatif terhadap HIV akan tetapi
penularan terjadi saat pemberian air susu ibu. Sebetulnya pada ibu dengan infeksi
HIV, pemberian air susu ibu beresiko kecil untuk terjadi penularan oleh karena
terdapatnya antibodi terhadap HIV, bagaimanapun juga di Negara berkembang,
makanan formula menjadikan bayi memiliki resiko tinggi terkena infeksi yang lain,
air susu ibu merupakan pilihan terbaik. Pemilihan pemberian makanan pada bayi
dengan 2 strategi sebagai pencegahan penularan dari ibu kebayinya postnatal, dengan
pemberian zidovudine sebagai profilaksis selama 38 minggu.
b. Bayi yang diberikan ASI mempunyai risiko lebih tinggi daripada bayi yang diberi
susu formula atau makanan campuran (mixed feeding). Risiko akan lebih tinggi lagi
bila payudara ibu terinfeksi atau lecet (mastitis yang tampak secara klinis ataupun
subklinis). Di negara berkembang penularan melalui air susu ibu (ASI) cukup
memegang peranan penting. Sebagian besar masalah payudara dapat dicegah dengan
teknik menyusui yang baik.

Manifestasi Klinis6

a. Gejala Konstitusi
Sering disebut sebagai AIDS related complex, dimana penderita mengalami paling
sedikit 2 gejala klinis yang menetap yaitu:
 Demam terus menerus >37,5°C.
 Kehilangan berat badan 10% atau lebih.
 Radang kelenjar getah bening yang meliputi 2 atau lebih kelenjar getah bening di luar
daerah inguinal.
 Diare yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
 Berkeringat banyak pada malam hari yang terus menerus.

16
b. Gejala Neurologis
Gejala neurologis yang beranekaragam seperti kelemahan otot, kesulitan berbicara,
gangguan keseimbangan, disorientasi, halusinasi, mudah lupa, psikosis, dan sampai
koma.

c. Gejala infeksi oportunistik


Gejala infeksi oportunistik merupakan kondisi dimana daya tahan tubuh penderita sudah
sangat lemah sehingga tidak mampu melawan infeksi bahkan terhadap patogen yang
normal pada tubuh manusia. Infeksi yang paling sering ditemukan, yaitu Pneumocystic
carinii pneumonia (PCP), Tuberkulosis, Toksoplasmosis, infeksi mukokutan (seperti
herpes simpleks, herpes zoster dan kandidiasis adalah yang paling sering ditemukan).

d. Gejala tumor, yang paling sering ditemukan adalah Sarcoma kaposis dan Limfoma
maligna non-Hodgkin.

Diagnosis infeksi HIV pada bayi

Tidak mudah menegakkan diagnosis infeksi HIV pada bayi yang lahir dari ibu HIV
positif. Tantangan untuk diagnosis adalah:7

a. Penularan HIV dapat terjadi selama kehamilan, terutama trimester ketiga, selama proses
persalinan dan selama masa menyusui. Meskipun diketahui selama kehamilan bayi
mungkin tertular HIV, belum ada penelitian yang memeriksa bayi di dalam kandungan
untuk deteksi infeksi HIV. Selain itu juga terdapat masa jendela setelah seseorang
terinfeksi HIV yang dapat berlangsung hingga enam bulan.
b. Antibodi terhadap HIV dari ibu ditransfer melalui plasenta selama kehamilan. Jadi, semua
bayi yang lahir dari ibu yang positif HIV akan positif pula bila diperiksa antibodi HIV
dalam tubuhnya. Dikenal berbagai teknik pemeriksaan antibodi yang terkenal dan
dilakukan di Indonesia, yaitu ELISA, aglutinasi, dan dot-blot immunobinding assay.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan antibodi HIV paling banyak menggunakan metode ELISA/EIA (enzyme
linked immunoadsorbent assay). ELISA pada mulanya digunakan untuk skrining darah donor
dan pemeriksan darah kelompok risiko tinggi. Pada bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi
HIV, tes ini efektif dilakukan pada bayi yang berusia 18 bulan keatas. Pemeriksaan ELISA
harus menunjukkan hasil positif 2 kali (reaktif) dari 3 tes yang dilakukan, kemudian

17
dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi yang biasanya dengan memakai metode Western
Blot. Penggabungan test ELISA yang sangat sensitif dan Western Blot yang sangat spesifik
mutlak dilakukan untuk menentukan apakah seseorang positif AIDS,8

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan lainnya yaitu: ,9

1. Foto toraks
2. Pemeriksaan fisik
• Penampilan umum tampak sakit sedang, berat.
• Tanda vital.
• Kulit: rush, Steven Jhonson.
• Mata: hiperemis, ikterik, gangguan penglihatan.
• Leher: pembesaran KGB.
• Telinga dan hidung: sinusitis, berdengung.
• Rongga mulut: candidiasis.
• Paru: sesak nafas, efusi pleura.
• Jantung: kardiomegali.
• Abdomen: asites, distensi abdomen, hepatomegali.
• Genetalia dan rektum: herpes.
• Neurologi: kejang, gangguan memori, neuropati.
3. Mantoux test
4. Pemeriksaan laboratorium darah (Kadar CD4, Hepatitis, Paps smear, Toxoplasma, Virus
load)

Penatalaksanaan
1. Penanganan antepartum
a. Konseling
Pada konseling, ibu hamil diajak berkomunikasi dua arah dengan memberikan
informasi mengenai HIV dan hubungannya dengan kehamilan, tanpa mengarahkan, dimana
kemudian ibu hamil ini dapat mengambil keputusan mengenai kehamilannya dan
persalinannya. Pada kehamilan trimester pertama, konseling perlu dilakukan dengan intensif
untuk memutuskan apakah kehamilan akan diteruskan atau tidak.10

18
b. Pemberian obat anti virus
Tujuan utama pemberian antiretrovirus pada kehamilan adalah menekan
perkembangan virus, memperbaiki fungsi imunologis, memperbaiki kualitas hidup,
mengurangi morbiditas dan mortalitas penyakit yang menyertai HIV. Pada kehamilan,
keuntungan pemberian antiretrovirus ini harus dibandingkan dengan potensi toksisitas,
teratogenesis dan efek samping jangka lama. Akan tetapi, efek penelitian mengenai toksisitas,
teratogenesis dan efek samping jangka lama antiretrovirus pada wanita hamil masih sedikit.10

2. Penanganan intra partum


Pemilihan persalinan yang aman diputuskan oleh ibu setelah mendapatkan konseling
lengkap tentang pilihan persalinan, risiko penularan dan berdasarkan penilaian dari tenaga
kesehatan. Pilihan persalinan meliputi persalinan per vaginam dan perabdominam (bedah
sesar atau seksio sesarea). Dalam konseling perlu disampaikan mengenai manfaat terapi ARV
sebagai cara terbaik mencegah penularan HIV dari ibu ke anak.

a. Persalinan pervaginam
Wanita hamil yang direncanakan persalinan pervaginam, diushakan selaput
amnionnya utuh selama mungkin. Pengambilan sampel darah janin harus dihindari. Jika
sebelumnya telah diberikan obat HAART, maka obat ini harus dilajutkan sampai partus. Jika
direncanakan pemberian infuse zidovudin, harus diberikan pada saat persalinan dan
dilanjutkan sampai tali pusat diklem. Dosis zidovudin adalah: dosis inisial 2 mg/kgBB dalam
1 jam dan dilanjutkan 1mg/kgBB/jam sampai partus. Tablet nevirapin dosis tunggal 200mg
harus diberikan di awal persalinan. Tali pusat harus diklem secepat mungkin dan bayi harus
dimandikan segera. Seksio sesaria emergensi biasanya dilakukan karena alasan obstetrik,
menghindari partus lama, dan ketuban pecah lama.1, 10
Kelahiran pervaginam dapat dipertimbangkan dengan syarat:
1. Selama kehamilan penderita menjalani perawatan prenatal
2. Viral load <1000 kopi/ml pada minggu ke-36 kehamilan
3. Penderita menjalani pengobatan HIV selama kehamilan.

b. Seksio Sesaria
Pada saat direncanakan seksio sesaria secara elektif, harus diberikan antibiotik
profilaksis. Infuse zidovudin harus dimulai 4 jam sebelum seksio sesaria dan dilanjutkan

19
sampai tali pusat diklem. Sampel darah ibu diambil saat itu dan diperiksa viral load-nya. Tali
pusat harus diklem secepatnya pada saat seksio sesaria dan bayi harus dimandikan segera.
Kelahiran secara seksio sesarea direkomendasikan dengan syarat:
1. Wanita hamil penderita HIV dengan viral load >1000 kopi/ml atau viral load tidak
diketahui pada minggu ke-36 kehamilan
2. Penderita yang tidak menjalani pengobatan HIV selama kehamilan
3. Penderita yang tidak menjalani perawatan prenatal sebelum usia kehamilan 36 minggu
4. Belum terjadi ruptur membran (pecah ketuban).
Diskusi mengenai pilihan seksio sesarea harus dimulai secepat mungkin pada wanita
hamil dengan infeksi HIV untuk memberikan kesempatan adekuat pada penderita untuk
mempertimbangkan pilihan dan rencana untuk prosedur.

3. Penanganan pasca persalinan


Terdapat 50-75% dari bayi yang terinfeksi HIV yang disusui ibu HIV/AIDS tertular
HIV pada 6 bulan pertama kehidupan. ASI eksklusif memiliki resiko transmisi HIV yang
rendah daripada ASI yang dikombinasikan dengan cairan atau makanan lainnya (ASI
campuran). 9, 10
Ibu yang menderita HIV/AIDS sangat dianjurkan untuk memberikan ASI Ekslusif
hingga 6 bulan dan dilanjutkan dengan pemberian ASI sekaligus makanan tambahan hingga
usia 12 bulan. Bila ibu yang menderita HIV/AIDS memutuskan untuk tidak memberikan ASI
ekslusif, dapat mengganti dengan makanan tambahan bila kriteria AFASS terpenuhi. Adapun
kriteria AFASS dari WHO yaitu: Acceptable = mudah diterima, Feasible = mudah dilakukan,
Affordable = harga terjangkau, Sustainable = berkelanjutan, Safe= aman penggunaannya.10,
11

Salah satu alternatif untuk menghindari penularan HIV yaitu dengan menghangatkan
ASI > 66 0C untuk membunuh virus HIV. Adapun bayi yang telah dinyatakan terinfeksi HIV
positif maka harus diberikan ASI ekslusif selama 6 bulan diteruskan dengan pemberian ASI
campuran hingga usia 24 bulan. Ibu pengidap HIV harus di sarankan mencegah kehamilan
berikutnya dengan alat kontrasepsi.10

20
4. ART pada kehamilan
Antiretrovirus direkomendasikan untuk semua wanita yang terinfeksi HIV-AIDS yang
sedang hamil untuk mengurangi resiko transmisi perinatal. Hal ini berdasarkan bahwa resiko
transmisi perinatal meningkat sesuai dengan kadar HIV ibu dan resiko transmisi dapat
diturunkan hingga 20% ( dari 25% menjadi 8%) dengan terapi antiretrovirus.11
Tujuan utama pemberian antiretrovirus pada kehamilan adalah menekan
perkembangan virus, memperbaiki fungsi imunologis, memperbaiki kualitas hidup,
mengurangi morbiditas dan mortalitas penyakit yang menyertai HIV.13 Pada kehamilan,
keuntungan pemberian antiretrovirus ini harus dibandingkan dengan potensi toksisitas,
teratogenesis dan efek samping jangka lama. Akan tetapi, efek penelitian mengenai toksisitas,
teratogenesis, dan efek samping jangka lama antiretrovirus pada wanita hamil masih sedikit.
Efek samping tersebut diduga akan meningkat pada pemberian kombinasi antiretrovirus,
seperti efek teratogenesis kombinasi antiretrovirus dan antagonis folat yang dilaporkan
Jungmann, dkk. Namun penelitian terakhir oleh Toumala, dkk menunjukkan bahwa
dibandingkan dengan monoterapi, terapi kombinasi antiretrovirus tidak meningkatkan resiko
prematuritas, berat badan lahir rendah atau kematian janin intrauterine.
Menurut WHO tahun 2012, pemberian ARV mencakup dua options, yang keduanya
harus mulai lebih awal pada kehamilan, pada usia kehamilan 14 minggu atau segera
mungkin setelah ibu hamil.11
a. Opsi A, yaitu dua kali sehari pemberian AZT (zidovudin) untuk ibu dan untuk bayi
dengan pemberian salah satu dari AZT atau NVP selama enam minggu setelah lahir jika
bayi tidak menyusui. Jika bayi sedang menyusui, NVP harian profilaksis bayi harus
dilanjutkan selama satu minggu setelah berakhirnya periode menyusui.
b. Opsi B, yaitu pemberian ketiga jenis obat profilaksis untuk ibu yang dipakai selama
kehamilan dan selama menyusui serta untuk bayi pemberian NVP sekali sehari atau AZT
dua kali sehari selama empat sampai enam minggu setelah lahir.

Pemberian Terapi Antiretrovirus (ARV) Berdasarkan WHO 201311

Kapan memulai pemberian ARV


Pemberian pengobatan secara dini dikaitkan dengan manfaat pencegahan klinis HIV,
keadaan ini dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan mengurangi kejadian infeksi HIV
pada tingkat masyarakat. Pada pedoman WHO 2013 merekomendasikan bahwa program HIV
nasional yaitu memberikan ART bagi semua orang dengan diagnosis HIV konfirmasi dengan

21
jumlah CD4 ≤ 500 sel/mm3, Pedoman ini memberikan prioritas untuk memulai ART bagi
mereka dengan penyakit HIV berat atau jumlah ≤ CD4 350 cells/mm 3. Hal ini juga
dianjurkan untuk memulai ART pada orang dengan penyakit TB aktif dan koinfeksi HBV
dengan penyakit hati yang berat, semua wanita hamil dan menyusui dengan HIV, semua anak
dengan usia lima tahun hidup dengan HIV dan semua orang dengan HIV dalam hubungan
serodiskordan, tanpa memandang jumlah CD4.11

5. Pemberian ARV Pada Ibu Hamil & Menyusui

Rekomendasi Terbaru

1. Dosis tetap kombinasi dari TDF + 3TC (atau FTC) + EFV yang direkomendasikan
sebagai lini pertama ART pada wanita hamil dan menyusui adalah diberikan sekali sehari,
termasuk wanita hamil pada trimester pertama kehamilan dan wanita usia reproduksi.
Rekomendasi ini berlaku untuk pengobatan seumur hidup dan pemberian ART untuk
PMTCT dan kemudian dihentikan.11
2. Bayi dari ibu yang mendapatkan ART dan sedang menyusui harus mendapatkan terapi
profilaksis dengan NVP harian selama enam minggu. Jika bayi menerima makanan
pengganti, mereka harus diberikan terapi profilaksis harian selama empat sampai enam
minggu dengan NVP harian (atau AZT dua kali sehari). Profilaksis pada bayi harus
dimulai pada saat lahir atau ketika didapatkan HIV saat postpartum.11

Kesimpulan
HIV/AIDS adalah suatu sindrom defisiensi imun yang ditandai oleh adanya infeksi
oportunistik dan atau keganasan yang tidak disebabkan oleh defisiensi imun primer atau
sekunder atau infeksi kongenital melainkan oleh human immunodeficiency virus. Penyebab
dari virus ini adalah dari retrovirus golongan retroviridae, genus lenti virus.Terdiri dari HIV-1
dan HIV-2. kebanyakan penularan terjadi saat persalinan (waktu bayinya lahir). Selain itu,
bayi yang disusui oleh ibu terinfeksi HIV dapat juga tertular HIV. Ada beberapa faktor risiko
yang meningkatkan kemungkinan bayi terinfeksi HIV. Yang paling mempengaruhi adalah
viral load kebanyakan penularan terjadi saat persalinan (waktu bayinya lahir). Selain itu, bayi
yang disusui oleh ibu terinfeksi HIV dapat juga tertular HIV. Ada beberapa faktor risiko yang
meningkatkan kemungkinan bayi terinfeksi HIV. Yang paling mempengaruhi adalah viral
load. Cara terbaik untuk memastikan bahwa bayi kita tidak terinfeksi dan kita tetap sehat
adalah dengan memakai terapi antiretroviral (ART). Perempuan terinfeksi HIV di seluruh

22
dunia sudah memakai obat antiretroviral (ARV) secara aman waktu hamil lebih dari sepuluh
tahun. ART sudah berdampak besar pada kesehatan perempuan terinfeksi HIV dan anaknya.
Oleh karena ini, banyak dari mereka yang diberi semangat untuk mempertimbangkan
mendapatkan anak.

23
Daftar Pustaka

1. Soedarmo S S, Garna H, Hadinegoro S R, Satari H I. Human Imunodeficiency Virus.


Dalam: Soedarmo S S, Garna H, Hadinegoro S R, Satari H I. Buku Ajar Infeksi &
Pediatri Tropis. Edisi ke-2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2008; 243-247.
2. Cunningham F G, Gant N F, Leveno K J, Gilstrap L C, Hauth J C, Wenstrom, K D.
Penyakit Menular Seksual. Dalam: Cunningham F G, Gant N F, Leveno K J, Gilstrap
L C, Hauth J C, Wenstrom, K D. Obstetri Williams. Jakarta: EGC. 2006; 1677-1678.
3. Anonim. Etiologi HIV/AIDS. Dalam Petunjuk penting AIDS. Cetakan I. Jakarta:
EGC. 1996.
4. Green WC. Latar belakang dan masalah umum. Dalam: Green WC (eds). HIV,
kehamilan, dan kesehatan perempuan. Yayasan spiritia, Jakarta; 2009:4-6.
5. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Faktor
risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Dalam: Pratomo H. et al. (eds). Pedoman
pencegahan penularan HIV dari ibu dan bayi. Jakarta: Departemen Kesehatan RI,
2006; 13-16.
6. Samsuridjal D. Gejala-gejala infeksi HIV/AIDS. Dalam kumpulan Artikel dan
Makalah untuk Pelatihan Penatalaksanaan HIV/AIDS di RS provinsi sumatera Utara.
Medan; 2002.
7. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Informasi
umum. Dalam: Pratomo H. et al. (eds). Pedoman pencegahan penularan HIV dari ibu
dan bayi. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2006; 10-12.
8. Lubis, Imran. Pemeriksaan Laboratorium untuk HIV, dalam AIDS pada Cermin
Dunia Kedokteran No.75, 1992. Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R.I., Jakarta.
9. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom, KD.
Penyakit menular seksual. Dalam: Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap
LC, Hauth JC, Wenstrom, KD. Obstetri Williams. EGC, Jakarta; 2006; 1680-1681.
10. Jaringan pencegahan HIV dari ibu ke anak. Kebijakan PMTCT Indonesia:
PMTCT.net; 2008. h.1.
11. World Health Organization. Consolidated guidelines on the use of antiretroviral
drugs for treating and preventing HIV infection. Departement of HIV/AIDS, WHO.
2013. Avalaible from: http://www.who.int/hiv/pub/guidelines/arv2013/download/en/

24