Anda di halaman 1dari 23

Referat

GANGGUAN MENSTRUASI

Oleh :

Rezky Wulandari Putri

Nim : 2013730092

Pembimbing :

Dr. Aranda Tri S, Sp.OG

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2017
DAFTAR ISI

Halaman Judul …………………………………………………………. i

Kata pengantar……………………………………………….................. ii

Daftar isi ………………………………………………………………. iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................ 1

B. Tujuan Penulisan ........................................................ 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi gangguan menstruasi .......................................... 3

B. Insidensi dan prevalensi .............................................. 3

C. Macam-macam gangguan menstruasi............................. 4

BAB III KESIMPULAN ................................................................ 20

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………… 21

BAB I
PENDAHULUAN

Menstruasi merupakan gejala fisiologis yang secara periodik dialami oleh setiap wanita

usia reproduksi. Proses menstruasi dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya faktor

hormonal, anatomi dan psikis. Apabila terjadi gangguan pada salah satu atau lebih faktor-faktor

tersebut dapat mengakibatkan gangguan dalam siklus menstruasi.

Kelainan haid merupakan masalah fisik atau mental yang mempengaruhi siklus

menstruasi, menyebabkan nyeri, perdarahan yang tidak biasa yang lebih banyak atau sedikit,

terlambatnya menarche atau hilangnya siklus menstruasi tertentu. Gangguan menstruasi yang

terjadi dapat berupa gangguan lama siklus menstruasi seperti polimenorrhea dan

oligomenorrhea, volume darah yang dikeluarkan sewaktu menstruasi seperti hipermenorea,

hipomenorrhea dan perdarahan bercak (spotting), beserta gejala-gejala yang menyertai

menstruasi seperti dismenorrea dan Premenstrual syndrome itu sendiri yang mengganggu

aktifitas sehari-hari.

Untuk negara Indonesia, rata-rata wanita mengalami menstruasi di usia 12-14 tahun.

Insidensi amenorrhoea primer di negara Indonesia (dimana wanita gagal mencapai menstruasi

pertama pada usia 16 tahun atau lebih atau tidak adanya tanda seksual sekunder sampai usia 14

tahun atau lebih) mencapai 2,5%. Sementara insidensi terjadinya amenorrhoea sekunder

mencapai 1-5%.

Amenorrhea mempengaruhi sekitar 5% sampai 7% wanita menstruasi setiap

tahunnya. Prevalensinya tidak bervariasi pada perbedaan ras dan berkorespondensi dengan

prevalensi penyakit kausatifnya. Dysmenorrhea primer, atau kramp menstruasi dan nyeri tanpa

penyakit panggul, bisa mepengaruhi wanita menstruasi sebanyak 50% dan biasanya

bermanifestasi dalam beberapa tahun pertama dari onset.


Dysmenorrhea sekunder, nyeri menstruasi disebabkan oleh penyakit atau patologi yang

mendasarinya, ditemukan pada 5% sampai 7% wanita menstruasi dan paling sering rekuren

pada wanita usia 30 dan 45 tahun. Sepuluh sampai dua puluh persen dari seluruh wanita yang

menstruasi mengalami menorrhagia; kebanyakan adalah usia lebih dari 30 tahun.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Gangguan Menstruasi

Gangguan menstruasi adalah masalah fisik atau mental yang mempengaruhi siklus

menstruasi, menyebabkan nyeri, perdarahan yang tidak biasa yang lebih banyak atau sedikit,

terlambatnya menarche atau hilangnya siklus menstruasi tertentu.

Insidensi dan Prevalensi

Amenorrhea sekunder mempengaruhi sekitar 5% sampai 7% wanita menstruasi setiap

tahunnya (Popat). Prevalensinya tidak bervariasi pada perbedaan ras dan berkorespondensi

dengan prevalensi penyakit kausatifnya. Dysmenorrhea primer, atau kramp menstruasi dan

nyeri tanpa penyakit panggul, bisa mepengaruhi wanita menstruasi sebanyak 50% dan biasanya

bermanifestasi dalam beberapa tahun pertama dari onset Dysmenorrhea sekunder, nyeri

menstruasi disebabkan oleh penyakit atau patologi yang mendasarinya, ditemukan pada 5%

sampai 7% wanita menstruasi(Popat) dan paling sering rekuren pada wanita usia 30 dan 45

tahun(Cails). Sepuluh sampai dua puluh persen dari seluruh wanita yang menstruasi mengalami

menorrhagia; kebanyakan adalah usia lebih dari 30 tahun.

Macam-Macam Gangguan Menstruasi

Gangguan menstruasi dan siklusnya khusus dalam masa reproduksi dapat digolongkan dalam:

1. Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada menstruasi:

a. Hipermenorea

b. Hipomenorea

c. Perdarahan bercak (spotting)


2. Kelainan siklus:

a. Polimenorea

b. Oligomenorea

c. Amenorea

3. Gangguan perdarahan di lainnya:

a. Metroragia

b. menorrhagia

4. Gangguan lain dalam hubungan dengan haid

a. Premenstrual tension (ketegangan prahaid)

b. Mastodinia

c. Mittelschmerz (rasa nyeri pada ovulasi)

d. Dismenorea

Hipermenorea

Ialah perdarahan haid yang lebih banyak dari normal, atau lebih lama dari normal (lebih

dari 8 hari). Sebab kelainan ini terletak pada kondisi dalam uterus, misalnya adanya mioma

uteri dengan permukaan endometrium lebih luas dari biasa dan dengan kontraktiltas yang

terganggu, polip endometrium, gangguan pelepasan endometrium pada waktu haid (irregular

endometrial shedding), dan sebagainya.

Penanganan pada hipermenorrhea

Bila dijumpai kelainan organik, maka pengobatan ditujukan kepada kelainan organik

tersebut. Penyebab yang bukan kelainan organik diberikan progesteron seperti MPA 10

mg/hari, atau didrogesteron 10mg/hari, atau juga noretisteron asetat 5mg/hari, yang diberikan

dari hari ke-16 sampai ke-25 siklus haid. Dapat juga di berikan tablet kombinasi estrogen-

progesteron dari hari ke-16 sampai hari ke-25 siklus haid.


Hipomenorea

Hipomenorrhea adalah suatu keadan dimana jumlah darah haid sangat sedikit (<30cc),

kadang-kadang hanya berupa spotting. Dapat disebabkan oleh stenosis pada himen, servik atau

uterus. Pasien dengan obat kontrasepsi kadang memberikan keluhan ini. Sebab-sebabnya dapat

terletak pada konstitusi penderita, pada uterus (misalnya sesudah miomektomi), pada gangguan

endokrin, dan lain-lain. Adanya hipermenorea tidak mengganggu fertilitas.

Penanganan pada hipomenorrhea

Bila siklus menstruasi berovulasi tidak perlu dilakukan pengobatan apapun. Bila

ternyata tetap ingin diberikan pengobatan, maka dapat diberikan kombinasi estrogen-

progesteron yang dimulai hari ke-16 sampai hari ke-25 siklus menstruasi.

Polimenorrhea

Haid yang terlalu sering, dimana siklusnya < 21 hari.

Bila siklus pendek namun teratur ada kemungkinan stadium proliferasi pendek atau

stadium sekresi pendek atau kedua stadium memendek. Yang paling sering dijumpai adalah

pemendekan stadium proliferasi. Bila siklus lebih pendek dari 21 hari kemungkinan melibatkan

stadium sekresi juga dan hal ini menyebabkan infertilitas.

Siklus yang tadinya normal menjadi pendek biasanya disebabkan pemendekan stadium

sekresi karena korpus luteum lekas mati. Hal ini sering terjadi pada disfungsi ovarium saat

klimakterium, pubertas atau penyakit kronik seperti TBC.

Oligomenorrhea

Haid yang terlalu jarang, dimana siklus >31 hari.


Oligomenorrhea biasanya berhubungan dengan anovulasi atau dapat juga disebabkan

kelainan endokrin seperti kehamilan, gangguan hipofise-hipotalamus, dan menopouse atau

sebab sistemik seperti kehilangan berat badan berlebih.

Oligomenorrhea sering terdapat pada wanita astenis. Dapat juga terjadi pada wanita

dengan sindrom ovarium polikistik dimana pada keadaan ini dihasilkan androgen yang lebih

tinggi dari kadara pada wanita normal. Oligomenorrhea dapat juga terjadi pada stress fisik dan

emosional, penyakit kronis, tumor yang mensekresikan estrogen dan nutrisi buruk.

Oligomenorrhe dapat juga disebabkan ketidakseimbangan hormonal seperti pada awal

pubertas.

Oligomenorrhea yang menetap dapat terjadi akibat perpanjangan stadium folikular,

perpanjangan stadium luteal, ataupun perpanjang kedua stadium tersebut. Bila siklus tiba-tiba

memanjang maka dapat disebabkan oleh pengaruh psikis atau pengaruh penyakit.

Penanganan Oligomenorrhea

Penanganan oligomenorrhea tergantung dengan penyebab. Pada oligomenorrhea

dengan anovulatoir serta pada remaja dan wanita yang mendekati menopouse tidak

memerlukan terapi.

Perbaikan status gizi pada penderita dengan gangguan nutrisi dapat memperbaiki

keadaan oligomenorrhea. Oligomenorrhea sering diobati dengan pil KB untuk memperbaiki

ketidakseimbangan hormonal. Pasien dengan sindrom ovarium polikistik juga sering diterapi

dengan hormonal.

Bila gejala terjadi akibat adanya keganasan, operasi mungkin diperlukan.


Amenorrhea

Setiap pasien yang memenuhi kriteria berikut sebaiknya di evaluasi memeliki masalah

medis amenorrhea

 Tidak ada periode menstruasi pada usia 14 dan tidak ada perkembangan dari organ

seksual sekunder.

 Tidak ada siklus menstruasi pada usia 16 meskipun terdapat pertumbuhan dan

perkembangan organ seksual sekunder.

 Pada wanita yang telah menstruasi, ketidakadaan menstruasi setidaknya selama 3

periode mentruasi yang sebelumnya atau 6 bulan amenorrhea.

Amenorrhea di bagi menjadi menjadi dua:

1. Amenorreha Primer

yaitu keadaan di mana siklus menstruasi tidak pernah dimulai. Hal ini dapat

disebabkan adanya kelainan kongenital seperti tidak terbentuknya uterus sejak lahir,

atau kegagalan ovarium memproduksi ovum. Terlambatnya pertumbuhan pada

masa pubertas juga bisa menyebabkan amenorrhoea primer.

Etiologi amenorrhea primer:

1. Hypergonadotropic hypogonadism

2. Eugonadism

 androgen insensitivity syndrome;

 congenital adrenal hyperplasia;

 polycystic ovarian syndrome.

3. FSH rendah.

4. Aplasia uterus dan vagina (sindrom Mayer-Kustner-V Rokitansky)


Gambar 2.13. Defek anatomi pada amenorrhea

2. Amenorrhea Sekunder

amenorrhea sekunder adalah wanita usia reproduksi yang pernah mengalami haid,

namun haidnya berhenti untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut.

Klasifikasi Amenorrhea sekunder berdasarkan kompartemen

1. Kompartemen I :

Gangguan pada traktus atau uterus

2. Kompartemen II

Gangguan pada Ovarium

3. Kompartemen III

Gangguan pada sistem pituitari anterior

4. Kompartmen IV

Gangguan pada sistem saraf pusat


Tabel 2.1 Klasifikasi Amenorrhea Sekunder

Penangan Pada Amennorrhea sekunder

1. Amenorrhea hipotalamik

 Penyebab organik ditangani sesuai dengan penyebab organik tersebut.

 Penyebab fungsional. Konsultasi, atau konseling.


 Psikoterapi, ataupun penggunaan obat-obat psikofarmaka hanya pada

keadaan yang berat saja, seperti pada anoreksia nervosa dan bolemia.

Penting diketahui, bahwa obat-obat psikofarmaka dapat meningkatkan

prolaktin. Agar merasa tetap sebegai seorang wanita, dapat di berikan

estrogen dan progesteron siklik.

 Kekurangan Gn-RH. Diberikan Gn-RH pulsatif (bila mungkin), atau

pemberian FSH-LH dari luar.

2. Amenorrhea hipofisis

 Substitusi hormon yang kurang (FSH:LH), atau pemberian steroid seks

secara siklik

3. Amenorrhea Uteriner

 Stimulasi steroid seks. Apabila gagal perlu dipertimbangkan adanya aplasia

uteri, asherman syndrome.

4. Amenorrhea Ovarium

 Untuk menekan sekresi FSH dan dapat diberikan estrogen dan

perprogesteron, atau estrogen saja secara siklik.

 Selain itu untuk menekan sekresi FSH dan LH yang berlebihan dapat juga

diberikan Gn-RH analog selama 6 bulan. Pada menopause prekok maupun

sindroma ovarium resisten gonadotropin, steroid seks diberikan sampai

terjadi haid. Kemungkinan menjadi hamil sangat kecil.


Tabel 2.2 Pemeriksaan Pada Amenorhea

Metrorrhagia

Adalah perdarahan tidak teratur, kadang tejadi di pertengahan siklus haid.

Etiologi:

1. Organik

karsinoma korpus uteri, mioma submukosum, polip, dan karsinoma serviks

2. Endokrin

Seperti pada usia perimenarche dan menoupause

Penanganan Metrorrhagia

1. Sesuai dengan diagnosis dan komplikasi

2. Sesuai hasil PA
Perdarahan Bukan Haid

Perdarahan bukan haid adalah perdarahan yang terjadi dalam masa antara 2 periode

haid.

Etiologi:

1. Organik

a. Serviks uteri : polipus servisis uteri, erosio porsionis uteri, ulkus pada porsio

uteri, karsinoma servisis uteri.

b. Korpus uteri : polip endometrium, abortus imminens, abortus insipiens, abortus

inkompletus, mola hidatidosa, koriokarsinoma, subinvolusio uteri, karsinoma

korporis uteri, sarkoma uteri, mioma uteri.

c. Tuba falopii : seperti kehamilan ektopik terganggu, radang tuba, tumor tuba.

d. Ovarium : radang ovarium, tumor ovarium.

2. Fungsional

a. Ovulatoar

b. Anovulatoar
Dismenorea

Adalah nyeri pada perut bagian bawah sebelum dan sesudah haid dapat bersifat kolik

terus.

Dismenorea dibagi atas:

1. Dismenorea primer

2. Dismenorea sekunder

Dismenorea primer

Adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan pada alat-alat genital yang nyata.

Dismenorea primer terjadi beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan atau

lebih, oleh karena siklus-siklus haid pada bulan-bulan pertama setelah menarche umumnya

berjenis anovulatoar yang tidak disertai dengan rasa nyeri.

Wanita dengan dismenorea primer mempunyai produksi prostaglandins endomterial

lebih tinggi dibandingkan wanita yang asimptomatik. Sebagian besar dari pelepasan

prostaglandin selama menstruasi terjadi pada 48 jam pertama, yang mana bertepatan dengan

intensitas terbesar dari gejala.5 Selama kontraksi aliran darah endometrium berkurang dan

merupakan korelasi yang baik dengan aliran darah yang minimal dan nyeri kolik yang

maksimal. Kadar prostaglandin dan leukotrien meningkat pada meningkat pada darah

menstruasi dan jaringan uterus wanita dengan dismenorrhea sebanding dengan kadar sistemik

vasopressin.

Prostaglandin F2i (PGF2i) merupakan agen yang bertanggung jawab pada dismenorea.

Prostaglandin selalu menstimulasi kontraksi uterus, dimana prostaglandin E menghambat

kontraksi pada uterus yang tidak hamil. Otot uterus pada baik yang wanita normal dan
dismenorea sensitif terhadap PGF2i, tetapi jumlah PGF2i yang diproduksi adalah faktor utama

yang membedakan.

Penanganan pada dismenorrea primer

Pemberian Analgetik: NSAIDs diberikan 1-2 hari menjelang haid dan diteruskan

sampai hari kedua atau ketiga siklus haid. Terapi hormonal juga telah banyak digunakan.

Tujuannya untuk menghasilkan siklus haid yang anovulatorik, sehingga nyeri haid dapat

dikurangi. Biasanya diberikan Progesteron (Didrogesteron 10mg, 2 kali 1,

Medroksiprogesteron asetat 5mg/hari) diberikan mulai dari hari ke-5 sampai ke-25 siklus haid.

Dismenorea Sekunder

Adalah nyeri haid yang terjadi kemudian, biasanya terdapat kelainan dari alat

kandungan.

Etiologi : Adenomyosis, myomas, infection, cervical stenosis.

Penanganan pada dismenorrhea sekunder

Bila ada kelainan organik ditangani secara kausal. Pada kasus-kasus yang menolak

tindakan operatif, maka untuk sementara dapat dicoba pengobatan medikamentosa seperti pada

dismenorrea primer. Pemberian analog GnRH selama 6 bulan sangat efektif menghilangkan

nyeri haid yang disebabkan endometriosis.

The Premenstrual Syndrome

Merupakan keluhan-keluhan yang biasanya mulai satu minggu sampai beberapa hari

sebelum datangnya haid, dan menghilang sesudah haid datang, walaupun kadang-kadang

berlangsung terus sanpai haid berhenti. Keluhan-keluhan terdiri atas gangguan emosional

berupa iritabilitas, gelisah, insomnia, nyeri kepala, perut kembung, mual, pembesaran dan rasa
nyeri pada mamma dan sebagainya; sedang pada kasus-kasus yang berat terdapat depresi, rasa

ketakutan, gangguan konsentrasi, dan peningkatan gejala-gejala fisik tersebut di atas.

Faktor yang memegang peranan sebagai etiologi premenstrual tension ialah:

ketidakseimbangan antara estrogen dan progesteron dengan akibat retensi cairan dan natrium,

penambahan berat badan, dan kadang-kadang edema.

Ada paduan utama untuk mendiagnosis PreMenstrual Syndrome. Yang pertama dari

American Psychiatric Association (APA) dan yang kedua dari National Institute of Mental

Health (NIHM).

Kriteria untuk diagnosis menurut APA sebagai berikut:

A. Gejala-gejala yang yang berhubungan dengan siklus menstruasi secara temporal, mulai

dari permulaan selama minggu terakhir fase luteal dan berkurang setelah onset

mestruasi.

B. Diagnosis membutuhkan setidaknya lima dari salah satu gejala di bawah, dan salah satu

nya harus salah satu dari empat gejala yang pertama:

1. Depresi, perasaan putus asa

2. Kecemasan atau ketegangan

3. Afeksi yang labil, contoh: perasaan tiba-tiba sedih, menangis, marah, atau

mudah tersinggung.

4. Marah atau perasaan tersinggun yang menetap, atau meningkatnya konflik

interpersonal.

5. Penurunan ketertarikan terhadapa aktifitas sehari-hari

6. Mudah lelah

7. Sulit berkonsentrasi

8. Gangguan nafsu makan, makan berlebih atau nafsu makan tinggi


9. Hypersmonia atau insmonia

10. Perasaan “overprotected” atau tidak terkendali

11. Gejala fisik, seperti payudara kencang, sakit kepala, edema, nyeri sendi,

penambahan berat badan.

C. Gejala-gejala mempengaruhi pekerjaan atau aktivitas sehari-hari atau hubungan sosial.

D. Gejala-gejala tersebut bukan merupakan sebuah eksarsebasi gangguan psikiatrik yang

lain.

Pedoman diagnosis dari National Institute of Mental Health (NIHM) menyebutkan bahwa

diagnosis PMS membutuhkan dokumentasi dari setidaknya peningkatan 30% keparahan

gejala dalam 5 hari pada waktu menstruasi dibandingkan dengan 5 hari setelah menstruasi.

Dengan menggunakan kriteria APA dan NIHM, di dapatkan sekitar 5% dari wanita usia

reproduktif bisa di diagnosa mengalami PMS.

Penanganan PMS

1. Medikamentosa

- Prostaglandin sintetase inhibitor

- Pil KB : medroxyprogesterone acetate 10-30mg/hari

- GnRH agonis dikombinasi dengan estrogen-progesteron :Nafareline, goserelide

- Selective Serotonin Reuptake Iinhibitors: Fluoxetine, Setraline, Paraxetine

- Plasebo

- Spironolactone

2. Operatif

Oovorektomi
Mittelschmerz dan Perdarahan Ovulasi

Mittelschmerz atau nyeri antara haid terjadi kira-kira sekitar pertengahan siklus haid,

pada saat ovulasi. Rasa nyeri yang tejadi mungkin ringan, tetapi mungkin juga berat. Lamanya

mungkin hanya beberapa jam, tetapi pada beberapa kasus sampai 2 – 3 hari.

Diagnosis dibuat berdasarkan saat terjadinya peristiwa dan bahwa nyerinya tidak

mengejang, tidak menjalar, dan tidak disertai mual atau muntah.

Menorrhagia

Menorrhagia adalah pengeluaran darah haid yang terlalu banyak dan biasanya disertai

dengan pada siklus yang teratur.

Etiologi :

1. Uterus

a. Fibroid

b. Polip endometrium

c. Endometriosis

d. Pelvic inflammatory disease

2. Sistemik

a. Gangguan koagulasi

b. Penyakit Von Willebrand’s

c. Idiopathic thrombocytopaenia purpura

d. Defisiensi faktor V, VII, X dan IX

e. Hypothyroidism
3. Iatrogenik

a. Kontrasepsi Progesteron Only

b. IUD

c. Antikoagulan

Penanganan pada Menorrhagia

1. Terapi non-hormonal

a. NSAID

Asam mefenamat, asam meklofenat, naproxen, ibuprofen, diclofenac.

b. Anti-fibrinolitik

Asam tranexamid, asam Epsilon-amino caproic

c. Etamsylate

Fungsi : mereduksi kerapuhan kapiler

2. Terapi Hormonal

a. Progesterone

Norehisterone, medroxyprogesterone acetate, dygrogesterone

b. Intrauterine progesterone

Levonorgestrel

c. Kombinasi Estrogen/progesterone

Kontrasepsi oral, terapi hormone pengganti

d. Lain-lain

Danazol, gestrinone, analog GnRH

3. Pembedahan

1. Hysterectomy
a. Transabdominal Histerectomy (TAH)

b. Transvaginal Histerectomy (VH)

c. Laparoscopi (LAVH)

2. Ablasi Endometrial

a. Generasi pertama

Trans Cervical Resection of the Endometrium (TCRE)

Endometrial Laser Resection (ELA)

Roller Ball Endometrial Ablation (REA)

b. Generasi kedua

Thermal Balloons (Thermachoice, Cavatherm)

Microwave Endometrial Abaltion (MEA)

Circulating Hot Saline (Hydro therm Ablator)

Cryotherapy
BAB III

KESIMPULAN

Menstruasi merupakan bagian dari proses regular yang mempersiapkan tubuh wanita

setiap bulannya untuk kehamilan. Daur ini melibatkan beberapa tahap yang dikendalikan oleh

interaksi hormon yang dikeluarkan oleh hipotalamus, hipofise dan ovarium. Fungsi reproduksi

wanita dibagi menjadi dua tahapan utama: pertama, persiapan tubuh wanita untuk menerima

pembuahan, dan kedua, masa kehamilan itu sendiri.

Kelainan haid merupakan masalah fisik atau mental yang mempengaruhi siklus

menstruasi, menyebabkan nyeri, perdarahan yang tidak biasa yang lebih banyak atau sedikit,

terlambatnya menarche atau hilangnya siklus menstruasi tertentu. Gangguan menstruasi yang

terjadi dapat berupa gangguan lama siklus menstruasi seperti polimenorrhea dan

oligomenorrhea, volume darah yang dikeluarkan sewaktu menstruasi seperti hipermenorea,

hipomenorrhea dan perdarahan bercak (spotting), beserta gejala-gejala yang menyertai

menstruasi seperti dismenorrea dan Premenstrual syndrome itu sendiri yang mengganggu

aktifitas sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA

1. Varney, Hellen. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC


2. Sastrawinata, Sulaiman. 1980. Ginekologi. Bandung: ELSTAR OFFSET
3. Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu Kebidanan,Penyakit Kandungan dan
Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta:EGC
4. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T. Ilmu Kandungan. Edisi kedua.

Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. 2008.

5. Baziad A. Disminorea. Dalam: Endokrinologi Ginekologi, edisi ke -3, Jakarta:

Media Aesculapius; 2008: 95-100