Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN

KELUARGA BERENCANA DENGAN METODE OPERATIF WANITA


(MOW)

A. Teori Medis
1. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi
a. Pengertian
Keluarga berencana adalah usaha untuk mengatur
banyaknya jumlah kelahiran sehingga ibu maupun bayinya dan
ayah serta keluarga yang bersangkutan tidak akan menimbulkan
kerugian sebagai akibat langsung dari kelahiran tersebut.
Keluarga berencana merupakan program pemerintah yang
bertujuan menyeimbangkan antara kebutuhan dan jumlah
penduduk. Keluarga sebagai unit terkecil kehidupan bangsa
diharapkan menerima Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera
(NKKBS) yang berorientasi pada pertumbuhan yang seimbang
(Irianto, 2014).
Sedangkan kontrasepsi ialah cara, alat, atau obat-obatan
untuk mencegah terjadinya pertemuan antara sel telur (ovum)
dengan sel mani (spermatozoa) pada saluran telur. Kontrasepsi
dibagi menjadi dua, yaitu cara temporer (spacing) dan cara
permanen (kontrasepsi mantap). Cara permanen dilakukan
dengan mengakhiri kesuburan untuk mencegah kehamilan secara
permanen, pada wanita disebut sterilisasi dan pada pria disebut
vasektomi (Sofian, 2013).

b. Tujuan Keluarga Berencana


1) Tujuan Umum
Meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dalam rangka
mewujudkan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera
(NKKBS) yang menjadi dasar terwujudnya masyarakat yang
sejahtera dengan mengendalikan kelahiran sekaligus
menjamin terkendalinya pertambahan penduduk (Irianto,
2014).
2) Tujuan Khusus
a) Meningkatkan jumlah akseptor alat kontrasepsi
b) Menurunkan jumlah angka kelahiran bayi
c) Meningkatkan kesehatan keluarga berencana
dengan cara penjarangan kelahiran (Irianto, 2014).
c. Metode Keluarga Berencana
Ada beberapa macam metode kontrasepsi menurut Saifuddin
(2010) yaitu:
1) Mekanis
a) Kondom
b) Diafragma
c) Spermisida : aerosol, tablet vaginal atau supositoria, krim
d) Pil
e) Implan
f) Tubektomi atau MOW
g) Vasektomi

h) AKDR atau IUD


2) Non Mekanis
a) Keluarga Berencana Alamiah (KBA)
(1) Metode lendir servik billing atau metode ovulasi billing
(2) Metode suhu badan basal
(3) Metode sympto-termal atau metode suhu tubuh
(4) Metode kalender
b) Metode amenore laktasi (MAL)
c) Senggama terputus
d) Pantang berkala.
2. Medis Operasi Wanita (MOW)
a. Pengertian
Kontrasepsi mantap atau tubektomi adalah setiap tindakan pada
kedua saluran telur wanita yang mengakibatkan orang/pasangan yang
bersangkutan tidak akan mendapat keturunan lagi. Metode ini hanya
digunakan untuk jangka panjang, meskipun terkadang dapat
dipulihkan kembali kesuburannya (Wiknjosastro, 2005).
Kontrasepsi mantap atau sterilisasi pada wanita adalah suatu
kontrasepsi permanen yang dilakukan dengan cara melakukan suatu
tindakan pada kedua saluran telur sehingga menghalangi pertemuan sel
telur (ovum) dengan sel mani (sperma) (Sofian, 2013).

b. Jenis
Menurut Sofian (2013), terdapat empat jenis sterilisasi berdasarkan
tujuannya, yaitu:
1) Sterilisasi hukuman (compulsary sterilization);
2) Sterilisasi eugenik, untuk mencegah berkembangnya kelainan
mental secara turun menurun;
3) Sterilisasi medis, dilakukan berdasarkan indikasi medis demi
keselamatan wanita tersebut karena kehamilan berikutnya dapat
membahayakan jiwanya;
4) Sterilisasi sukarela (coluntary sterilization), yang bertujuan ganda
dari sudut kesehatan, sosial ekonomi dan kependudukan.
c. Efektivitas
Tubektomi merupakan metode kontrasepsi yang sangat efektif dan
tidak menimbulkan efek samping jangka panjang. Efektivitasnya yaitu
0,5 kehamilan per 100 perempuan (0,5%) selama tahun pertama
penggunaan (Saifuddin, 2010).
d. Waktu
Pelaksanaan tindakan sterilisasi dilakukan pada saat:
1) Setiap waktu selama siklus menstruasi apabila diyakini tidak hamil
2) Hari ke-6 hingga ke-13 dari siklus menstruasi (Saifuddin, 2010)
3) Pasca persalinan (post partum)
Sebaiknya dilakukan dalam 24 jam atau selambat-lambatnya 48
jam pasca persalinan. Setelah lebih dari 48 jam, operasi akan lebih

sulit dengan adanya edema tuba dan infeksi yang akan


menyebabkan kegagalan sterilisasi. Jika dilakukan setelah hari ke-
7 sampai hari ke-10 pasca persalinan, uterus dan alat genital
lainnya telah mengecil dan menciut yang menyebabkan mudah
terjadinya perdarahan dan infeksi
4) Pasca keguguran (post abortus)
Sterilisasi dapat dilakukan sesaat setelah terjadinya abortus
5) Saat tindakan operasi pembedahan abdominal
Hendaknya saat operasi pembedahan abdominal telah
dipertimbangkan untuk tindakan sterilisasi karena pada tindakan
ini dapan sekaligus dilakukannya kontrasepsi mantap (Sofian,
2013).
e. Keuntungan
Terdapat beberapa keuntungan dan manfaat sterilisasi wanita yaitu:
1) Sangat efektif (0,5 kehamilan per 100 perempuan selama tahun
pertama penggunaan)
2) Tidak mempengaruhi proses menyusui (breastfeeding)
3) Tidak bergantung pada faktor senggama
4) Baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi resiko kesehatan
yang serius
5) Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal
6) Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
7) Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek pada
produksi hormon ovarium)

8) Berkurangnya resiko kanker ovarium (Saifuddin, 2010)


9) Motivasi hanya dilakukan satu kali, sehingga tidak diperlukan
motivasi yang berulang
10) Tidak adanya kegagalan dari pihak pasien (patient’s failure)
11) Tidak mempengaruhi libido seksualis (Anwar, 2011).
f. Keterbatasan
Meskipun banyak keuntungan yang didapat pada metode sterilisasi ini,
tetap saja terdapat keterbatasan diantaranya:
1) Tidak dapat melindungi dari Infeksi Menular Seksual (IMS),
termasuk HBV dan HIV/AIDS
2) Harus dipertimbangkan kembali sifat permanen kontrasepsi ini
karena tidak dapat dipulihkan kecuali dengan operasi rekanalisasi
3) Klien dapat menyesal dikemudian hari
4) Rasa sakit/ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan
5) Hanya dilakukan oleh dokter yang terlatih (Saifuddin, 2010).
g. Syarat
Terdapat beberapa syarat untuk menjadi akseptor kontrasepsi mantap
MOW yaitu:
1) Syarat sukarela
Meliputi pengetahuan pasangan mengenai cara kontrasepsi lain,
risiko dan keuntungan kontrasepsi mantap, serta sifat permanen
metode ini.

2) Syarat bahagia
Syarat ini dilihat berdasarkan ikatan perkawinan yang sah dan
harmonis. Umur istri sekurang-kurangnya 25 tahun dengan
sekurang-kurangnya 2 orang anak hidup dan anak terkecil berumur
lebih dari 2 tahun.
3) Syarat medik (Saifuddin, 2009).
h. Indikasi
Menurut Amru Sofian (2013), sterilisasi dilakukan atas indikasi:
1) Indikasi medis umum
Adanya gangguan fisik atau psikis yang akan menjadi lebih berat
jika wanita tersebut hamil lagi, seperti tuberkulosis paru, penyakit
jantung, penyakit ginjal maupun skizofrenia.
2) Indikasi medis obstetrik
Adanya riwayat toksemia gravidarum yang berulang, seksio
sesarea berulang dan histerektomi obstetrik.
3) Indikasi medis ginekologik
Pada waktu melakukan operasi ginekologik, dapat
dipertimbangkan untuk dilakukannya sterilisasi.
4) Indikasi sosial ekonomi
a) Rumus 120; yaitu perkalian jumlah anak hidup dan umur ibu,
kemudian dapat dilakukan sterilisasi atas persetujuan suami istri
b) Rumus 100; yaitu perkalian jumlah anak hidup dan umur ibu,
kemudian dapat dilakukan sterilisasi atas persetujuan suami
istri.

i. Kontraindikasi
1) Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai)
2) Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga
harus dievaluasi)
3) Infeksi sistemik atau pelvik yang akut (hingga masalah tersebut
sembuh)
4) Tidak boleh menjalani proses pembedahan
5) Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas di masa depan
6) Belum memberikan persetujuan tertulis (Saifuddin, 2010).
j. Konseling
Konseling adalah proses pemberian informasi yang objektif dan
lengkap berdasarkan pengetahuan untuk membantu memecahkan
masalah kesehatan reproduksi yang sedang dihadapi klien, salah
satunya yaitu membantu untuk menentukan pilihan metode KB
(Manuaba, 2007).
Konseling dilakukan oleh tenaga terlatih, misalnya paramedik
yang telah mendapat pelatihan sebagai konselor kontrasepsi mantap.
Tujuan konseling yaitu agar keputusan untuk menjalani tubektomi
diambil sendiri oleh pasangan setelah mendapat penjelasan yang tepat
dan benar mengenai kontrasepsi ini. Konseling dilakukan sebelum,
selama, dan sesudah tindakan (Wiknjosastro, 2005).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ulfah (2018)
disimpulkan bahwa sikap ibu dalam memilih MOW sangat
dipengaruhi oleh pengalaman yang dialami responden dan dipengaruhi
juga oleh seseorang yang dianggap penting yaitu bidan atau dokter.
Sebagian responden melakukan MOW karena pengaruh tenaga
kesehatan yaitu dokter kandungan dan bidan. Pada umumnya individu
cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan
sikap seseorang yang dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain
dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk
menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.

k. Teknik
1) Cara Pencapaian Tuba
a) Kuldoskopi
Suatu teknik operasi untuk mencapai tuba melalui insisi pada
forniks posterior atau pungsi pada cul de sac dengan visualisasi
kuldoskop. Akseptor dalam posisi genupektoral atau
menungging dan setelah vagina disucihamakan dengan
betadin, daerah operasi diperjelas dengan memasukkan
spekulum. Sayatan kecil dibuat pada forniks posterior dan
kuldoskop dimasukkan hingga terlihat rongga pelvis. Segera
mengidentifikasi tuba dan masukkan cunam penangkap
(grasping forceps) melalui luka sayatan untuk mengeluarkan
tuba. Mengikat tuba dan potong atau tutup dengan cara
sterilisasi saluran telur (cara Pomeroy, cara Kroener,
kauterisasi atau pemasangan cincin Falope). Mengembalikan
tuba tersebut dan mencari tuba sisi lain untuk dilakukan
tindakan yang sama (Sofian, 2013).
b) Laparoskopi
Akseptor dibaringkan dalam posisi litotomi. Kanula Rubin
dipasang pada serviks dan bibir depan serviks dijepit dengan
tenakulum. Kemudian dibuat sayatan 1,5 cm di bawah pusat,
menusukkan jarum Verres ke dalam rongga peritoneum dan
melalui jarum itu dibuat pneumoperitoneum dengan mengaliri
gas CO2 sebanyak 1-1,5 liter dengan kecepatan 1 liter/menit.
Setelah dirasa cukup, jarum Verres dikeluarkan dan sebagai
gantinya dimasukkan trokar serta selubungnya yang berisi
laparoskop. Melalui kanula Rubin mencari tuba dan dilakukan
sterilisasi menggunakan cincin Folope (Wiknjosastro, 2005).
c) Mini Laparotomi
Suatu operasi kecil untuk mencapai saluran telur melalui
sayatan kecil pada dinding perut. Mula-mula kulit disayat
secara melintang sampai ke jaringan subkutis dan membuka
fascia m.rectun serta m.pyramidalis dibuka secara tumpul
sepanjang 2,5 cm. Peritoneum dibuka sekitar 2 cm dan
memasukkan elevator untuk mengatur posisi rahim dan tuba ke
daerah operasi. Tuba ditangkap, dilakukan tubektomi dan
terakhir menutup luka operasi (Sofian, 2013).
d) Histeroskopi
Untuk melihat rongga rahim dan sudut tuba dengan jelas,
digunakana alat histeroskop sehingga obat-obatan yang bersifat
kausatif dan adhesif untuk menyumbat tuba dapat dimasukkan
langsung ke dalam saluran telur (Sofian, 2013).
e) Kolpotomi

Cara ini mengendaki pasien dalam posisi sikap litotomi.


Dinding belakang vagina dijepit pada jarak 1 cm dan 3 cm dari
serviks dengan 2 buah cunam kemudian digunting hingga
menembus peritoneum. Area pandang diperluas menggunakan
spekulum Soonawalla, sehingga dengan mudah tuba terlihat
dan ditarik keluar. Tubektomi dilakukan dengan cara
penutupan tuba (Wiknjosastro, 2005).
2) Cara Penutupan Tuba
a) Cara Pomeroy
Mula-mula mengangkat pertengahan tuba hingga membentuk
lengkungan, kemudian bagian dasarnya diklem dan diikat
dengan benang yang mudah diserap, memotong tuba bagian
atas ikatan. Setelah luka sembuh dan benang ikatan diserap,
kedua ujung potongan akan terpisah. Cara ini paling banyak
digunakan dibanding cara lain karena angka kegagalan hanya
0-0,4% (Sofian, 2013).
b) Cara Kroener

Cara ini dilakukan dengan mengangkat fimbria dan mengikat


dengan benang sutera pada bagian avaskular mesosalping di
bawah fimbria dengan dua kali lilitan serta pada bagian
proksimal dari ikatan sebelumnya. Seluruh fimbria dipotong
(fimbriektomi) dan dikembalikan ke dalam rongga perut
setelah perdarahan berhenti. Meskipun angka kegagalannya
sangat kecil bahkan tidak akan terjadi kegagalan, namun cara
ini kurang disukai karena kesuburan tidak dapat dipulihkan
kembali dan kemungkinan terjadinya perdarahan disfungsional
di kemudian hari lebih besar (Sofian, 2013).
c) Cara Madlener
Bagian tengah tuba diangkat dan diklem, kemudian bagian
bawah klem diikat dengan benang yang tidak mudah diserap
dan klem dilepas. Pada cara ini tidak dilakukan pemotongan
tuba. Teknik ini sudah jarang silakukan karena angka
kegagalannya relatif tinggi, yaitu 1,2 % (Sofian, 2013).
d) Cara Aldridge
Peritoneum ligamentum latum dibuka, kemudian fimbria
ditanamkan ke dalam atau ke bawah ligamentum latum dan
luka dijahit. Angka kegagalan cara ini kecil sekali dan fimbria
dapat dibuka kembali jika ibu menginginkan kesuburannya
kembali (Sofian, 2013).
e) Cara Uchida
Bagian tuba ditarik keluar dan pada sekitar ampula tuba
disuntikkan larutan salin adrenalin pada lapisan subserosa
sebagai vasokonstriktor agar mesosalping membesar. Pada
bagian tersebut dilakukan insisi kecil dan bebaskan serosa
sepanjang 4-6 cm hingga tuba terlihat dan klem. Tuba diikat
dan dipotong, kemudian luka pada serosa dijahit dengan putung
tuba menonjol ke arah rongga perut. Menurut penemunya, cara
ini tidak pernah gagal (Sofian, 2013).

f) Cara Irving
Pada cara ini tuba diikat pada dua tempat dengan benang yang
dapat diserap. Ujung bagian proksimal ditanamkan ke dalam
miometrium, sedangkan ujung bagian distal ditanamkan ke
ligamentum latum (Sofian, 2013).
g) Pemasangan cincin Falope (Yoon ring)
Menggunakan aplikator (laparotomi mini, laparoskopi atau
laprokator) bagian istmus tuba ditarik dan cincin dipasang.
Tuba akan tampak keputih-putihan dan menjadi jibrotik akibat
tidak mendapatkan aliran darah (Wiknjosastro, 2005).
h) Pemasangan klip
Penggunaan klip pada kontrasepsi tidak memperpendek
panjang tuba hanya menjepit tuba, sehingga rekanalisasi lebih
mungkin dilakukan bila diperlukan (Wiknjosastro, 2005).
i) Elektro-koagulasi dan pemutusan tuba
Cara ini dilakukan dengan memasukkan grasping forceps
melalui laparoskopi. Kemudian tuba dijepit sekitar 2 cm,
diangkat dan dilakukan kauterisasi hingga tampak putih,
menggembung dan putus. Tuba terbakar kurang lebih 1 cm ke
proksimal dan distal serta mesosalping terbakar sejauh 2 cm
(Wiknjosastro, 2005).

l. Komplikasi dan Penanganannya


Komplikasi yang mungkin terjadi diperlukan penanganan yang efisien
dan tepat. Tentunya penanganan yang diberikan merupakan instruksi
dari tenaga medis ahli.
Tabel 2.1. Komplikasi MOW dan penanganannya
Komplikasi Penanganan
Apabila terlihat infeksi luka, obati dengan
Infeksi luka antibiotik. Bila terdapat abses, lakukan
drainase dan obati seperti yang terindikasi.

Demam pasca Obati infeksi berdasarkan apa yang


operasi (> 380C) ditemukan.

Mengacu ke tingkat asuhan yang tepat.


Apabila kandung kemih atau usus luka dan
Luka pada kandung
diketahui sewaktu operasi, lakukan reparasi
kemih, intestinal
primer. Apabila ditemukan pasca operasi,
(jarang terjadi)
rujuk ke rumah sakit yang tepat bila perlu.

Gunakan packs yang hangat dan lembab di


Hematoma
tempat tersebut. Amati. Hal ini biasanya akan
(subkutan)
berhenti dengan berjalannya waktu tetapi
dapat membutuhkan drainase bila ekstensif.
Emboli gas yang
Ajukan ke tingkat asuhan yang tepat dan
diakibatkan oleh
mulailah resusitasi intensit, termasuk: cairan
laparoskopi (sangat
intravena, resusitasi kardio pulmonar, dan
jarang terjadi)
tindakan penunjang kehidupan lainnya.

Rasa sakit pada Pastikan adanya infeksi atau abses dan obati
lokasi pembedahan berdasarkan apa yang ditemukan.

Perdarahan
Mengontrol perdarahan dan obati berdasarkan
superfisial (tepi
apa yang ditemukan
kulit atau subkutan)

Sumber: Saifuddin (2010)


m. Penatalaksanaan Klinis
Menurut Saifuddin (2010), prosedur pelaksanaan tubektomi terdiri
atas:
1. Persetujuan tindakan medik
Setiap tindakan medis yang mengandung risiko harus dengan
persetujuan tertulis berupa informed consent, yang ditandatangani
oleh yang berhak memberikan persetujuan, yaitu akseptor yang
bersangkutan harus dalam keadaan sadar dan sehat mental
(Saifuddin, 2010).
Informed consent merupakan surat pernyataan persetujuan
untuk memberikan izin kepada seorang yang dipercaya untuk
melakukan tindakan medis, yang umumnya berupa tindakan
operasi. Klien juga berhak untuk menolak tindakan medis, yang
dinyatakan dalam bentuk pernyataan tertulis (Manuaba, 2007).
Calon akseptor harus memahami bahwa operasi yang akan
dilakukan merupakan tindakan permanen dan meskipun patensi
dapat dikembalikan, pembedahan rekanalisasi tuba tidak menjamin
adanya fungsi normal yang dapat mengarah ke pembuahan
(Hanretty, 2014).
2. Persiapan atau tahap pra operasi
a) Persiapan ruang operasi
(1) penerangan yang cukup
(2) lantai semen atau keramik yang mudah dibersihkan

(3) bebas debu dan serangga


(4) tersedia air bersih yang mengalir, tempat cuci tangan, ruang
ganti pakaian, tempat sampah yang dapat ditutup rapat dan
bebas dari kebocoran
(5) sedapat mungkin tersedia alat pengatur suhu ruangan
b) Suasana ruang operasi
(1) Meminimalkan jumlah petugas dan kegiatan selama
tindakan operasi berlangsung
(2) Kunci ruang operasi agar petugas yang tidak
berkepentingan tidak keluar masuk ruangan dan suhu
ruangan tetap terjaga
(3) memisahkan peralatan yang masih steril dengan yang sudah
terkontaminasi
(4) klien diatur agar tidak menyentuh instrumen steril yang
tersedia atau tersimpan pada saat masuk dan keluar ruang
operasi
c) Persiapan klien
(1) Klien dianjurkan mandi sebelum mengunjungi tempat
pelayanan. Bila tidak sempat, minta klien untuk
membersihkan bagian abdomen/ perut bawah, pubis dan
vagina dengan sabun dan air.
(2) Bila menutupi daerah operasi, rambut pubis cukup
digunting. Pencukuran hanya dilakukan apabila sangat
menutupi daerah operasi dan waktu pencukuran adalah
sesaat sebelum operasi dilakukan
(3) Bila menggunakan elevator atau manipulator rahim,
sebaiknya dilakukan pengusapan larutan antiseptik
(misalnya povidon iodien) pada serviks dan vagina
(4) Setelah pengolesan povidon iodine pada kulit, tunggu 1-2
menit agar yodium bebas yang dilepaskan dapat membunuh
mikroorganisme dengan baik
d) Kelengkapan klien dan petugas ruang operasi
(1) Klien menggunakan pakaian operasi. Bila tidak tersedia,
dapat menggunakan kain penutup yang bersih
(2) Operator dan petugas kamar operasi harus dalam keadaan
siap (mencuci tangan, berpakaian operasi, memakai sarung
tangan, topi dan masker) saat berada di ruang operasi
(3) Masker harus menutupi mulut dan hidung, bila basah/
lembab harus diganti
(4) Topi harus menutupi rambut
(5) Sepatu luar harus dilepas, ganti dengan sepatu atau sandal
yang tertutup khusus digunakan untuk ruang operasi.

e) Pencegahan infeksi
(1) Sebelum pembedahan
(a) Operator dan petugas mencuci tangan menggunakan
larutan antiseptik serta mengenakan pakaian operasi
dan sarung tangan steril
(b) Menggunakan larutan antiseptik untuk membersihkan
vagina dan serviks
(c) Mengusapkan larutan antiseptik pada daerah operasi,
mulai dari tengah kemudian meluas ke daerah luar
dengan gerakan memutar hingga bagian tepi dinding
perut. Untuk klien pasca persalinan, membersihkan
daerah umbilikus dengan baik
(d) Menunggu 1-2 menit agar yodium bebas yang
dilepaskan dapat membunuh mikroorganisme dengan
baik.
(2) Selama pembedahan
(a) Membatasi jumlah kegiatan dan petugas di dalam ruang
operasi
(b) Menggunakan instrumen, sarung tangan dan kain
penutup yang steril
(c) Melakukan prosedur dengan keterampilan dan teknik
yang tinggi untuk menghindari trauma dan komplikasi
(perdarahan)

(d) Menggunakan teknik “pass” yang aman untuk


menghindari luka tusuk instrumen.
(3) Setelah pembedahan
(a) Operator atau petugas ruang operasi membuang limbah
ke dalam wadah atau kantong yang tertutup rapat dan
bebas dari kebocoran
(b) Melakukan tindakan dekontaminasi dengan larutan
klorin 0,5% pada instrumen atau peralatan yang akan
digunakan sebelum dicuci
(c) Melakukan dekontaminasi pada meja operasi, lampu,
meja instrumen atau benda lain yang mungkin
tekontaminasi/tercemar selama operasi dengan
mengusap larutan klorin 0,5%
(d) Melakukan pencucian dan penatalaksanaan instrumen/
peralatan seperti biasa
(e) Mencuci tangan setelah melepas sarung tangan.
3. Tindakan dan pelaksanaan tubektomi
a) Persiapan prabedah
(1) Memasang tensimeter. Periksa dan catat tekanan darah dan
pernafasan setiap 15 menit
(2) Memasang wing needle
(3) Jika klien memerlukan tambahan sedasi, berikan pethidin 1
mg/kg BB secara IM

(4) Mengusap genitalia eksterna dan perineum dengan kassa


berantiseptik dan melakukan kateterisasi
(5) Melakukan pemeriksaan bimanual untuk menilai posisi,
besar uterus dan kelainan dalam pelvik
(6) Memasang spekulum, menilai serviks dan vagina, kemudian
melakukan tindakan asepsis pada portio dan vagina
(7) Memasang tenakulum dan melakukan sonde
(8) Memasang elevator uterus untuk mengubah posisi uterus
menjadi antefleksi
(9) Mengikat gagang elevator pada gagang tenakulum untuk
mempertahankan posisi uterus
b) Membuka dinding abdomen
(1) Menyuntikkan diazepam 0,1 mg/kg BB IV dan tunggu 3
menit. Kemudian menyuntikkan ketalar 0,5 mg/kg BB IV
dan tunggu 3 menit
(2) Menentukan daerah insisi pada dinding abdomen dengan
menggerakkan elevator uterus ke bawah, sehingga fundus
uteri menyentuh dinding abdomen ± 2-3 cm di atas simpisis
pubis
(3) Melakukan tindakan asepsis menggunakan betadin atau
yodium alkohol pada tempat insisi dengan gerakan
melingkar dari tengah ke luar dan menutup dengan kain
steril berlubang tengah

(4) Menyuntikkan secara infiltrasi 3-4 cc anestesi local


(lignokain 2%) dibawah kulit pada tempat insisi dengan
mengaspirasi terlebih dahulu. Menunggu 2 menit dan
menilai efek anestesi dengan menjepit kulit menggunakan
pinset sirurgis
(5) Melakukan insisi melintang pada kulit dan jaringan
subkutan sepanjang 3 cm pada tempat yang telah ditentukan
(6) Memisahkan jaringan subkutan secara tumpul
menggunakan retraktor sampai terlihat fasia
(7) Menyuntikkan jarum ke fasia dan melakukan infiltrasi
anestesi lokal 3 cc sambil menarik jarum
(8) Menjepit fasia menggunakan kocher pada 2 tempat dalam
arah vertikal dengan 2 cm. Melakukan insisi dalam arah
horizontal, perlebar ke kiri dan ke kanan
(9) Memisahkan jaringan otot secara tumpul pada garis tengah
dengan jari telunjuk atau klem arteri sehingga tampak
peritoneum dan melakukan infiltrasi anestesi lokal 3 cc
sambil menarik jarum
(10) Menjepit peritoneum dengan 2 klem, transiluminasi untuk
identifikasi. Menyisihkan omentum dan usus dari
peritoneum dengan menggunakan sisi luar gunting (bagian
yang tumpul).

(11) Menggunting peritoneum arah vertikal 2 cm ke atas dan 1


cm ke bawah (hingga mencapai batas peritoneum – vesika
urinaria)
(12) Memasukkan 2 buah bak retractor pada tempat insisi
peritoneum dan merenggangkan untuk menampakkan
uterus pada lapangan operasi
(13) Bila omentum atau usus menghalangi lapang pandang,
menggunakan kassa gulung dan menjepitnya menggunakan
klem
c) Mencapai tuba
(1) Menggerakkan elevator uterus sampai fundus uteri tampak
pada lapangan operasi (jika perlu mengubah posisi klien ke
posisi Trendelenberg)
(2) Menampakkan salah satu kornu uteri dan ligamentum
rotundum pada lapangan operasi dengan menggerakkan
elevator. Mengidentifikasi tuba
(3) Menjepit tuba menggunakan pinset atau klem Babcock dan
menariknya pelan-pelan keluar melalui lubang insisi hingga
terlihat fimbria
d) Oklusi atau memotong tuba
e) Melakukan oklusi tuba sesuai metode yang dipilih

f) Menutup dinding abdomen


(1) Memeriksa rongga abdomen ada tidaknya perdarahan atau
laserasi usus dan mengeluarkan kassa gulung
(2) Menjahit fasia dengan jahitan simpul atau angka
8 menggunakan benang chromic catgut nomor 1
(3) Menjahit subkutis dengan jahitan simpul menggunakan
benang plain catgut nomor 0
(4) Menjahit kulit dengan jahitan simpul menggunakan benang
sutera nomor 0
(5) Menutup luka dengan kain steril dan plester
4. Perawatan pasca tindakan
a) Memeriksa tekanan darah dan nadi setiap 15 menit
b) Menganjurkan melakukan mobilisasi dini.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yanti
(2016) bahwa faktor yang paling dominan berhubungan dengan
pelaksanaan mobilisasi dini adalah motivasi. Ibu merasa nyeri
pada luka bekas operasi sehingga ibu takut bergerak.
c) Menganjurkan pemberian cairan yang mengandung gula (jika
sudah diperbolehkan) seperti sari buah atau gula-gula untuk
meningkatkan kadar glukosa darah
d) Melakukan Romberg sign, yaitu klien berdiri dengan menutup
mata. Jika terlihat stabil, klien dianjurkan untuk mengenakan
pakaian dan menentukan pemulihan kesadaran
e) Memulangkan klen jika keadaan stabil setelah 4-6 jam
f) Nasihat yang diberikan kepada klien:
(1) Istirahat cukup dan menjaga tempat sayatan operasi agar tidak
basah minimal selama 2 hari.
(2) Melakukan kegiatan secara bertahap sesuai dengan
perkembangan pemulihan. Umumnya klien akan merasa baik
selama 7 hari
(3) Tidak melakukan aktivitas seksual selama 1 minggu atau
tunggu hingga sudah merasa nyaman
(4) Jangan mengangkat benda berat atau yang menekan daerah
operasi sekurang-kurangnya selama 1 minggu
(5) Jika terdapat gejala-gejala seperti di bawah ini, segera
memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan:
(a) panas/demam di atas 380c
(b) pusing dan rasa terputar/ bergoyang
(c) nyeri perut menetap atau meningkat
(d) keluar cairan atau darah dari luka sayatan
(e) Mengonsumsi analgesik (ibuprofen) setiap 4-6 jam untuk
mengurangi nyeri. Jangan menggunakan aspirin karena
dapat meningkatkan perdarahan
n. Kunjungan ulang
Jadwal kunjungan ulang tubektomi dilakukan minimal 2 kali yaitu
seminggu pasca tubektomi dan dua minggu pasca tubektomi.
Pemeriksaan meliputi daerah operasi, tanda-tanda komplikasi atau hal
lain yang dikeluhkan klien. Jika menggunakan benang sutera, maka
pada saat kontrol pertama benang tersebut dicabut (Saifuddin, 2010).

B. Teori Manajemen Asuhan Kebidanan


1. Pengertian Asuhan Kebidanan
Asuhan kebidanan adalah penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi
tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada klien yang
mempunyai kebutuhan/masalah dalam bidang kesehatan ibu masa hamil,
masa persalinan, nifas, bayi setelah lahir serta keluarga berencana (IBI,
2006).
2. Pengertian Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh
bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis
mulai dari pengkajian analisis data, diagnosa kebidanan, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi (IBI, 2006).
Pada kasus ini, penulis menggunakan pengelolaan manajemen
kebidanan menurut Varney, yang terdiri dari 7 langkah berurutan dimana
setiap langkah disempurnakan secara periodik. Penerapan manajemen
kebidanan menurut 7 langkah Varney pada kasus Medis Operasi Wanita
adalah sebagai berikut :
Langkah I. Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah ini diperlukan 2 data yaitu data subjektif dan data objektif.
a. Data subjektif terdiri atas:
1) Biodata; yaitu data diri pasien yang dikaji, meliputi nama, umur,
agama, suku dan bangsa, pendidikan, pekerjaan dan alamat Umur,
akseptor kontrasepsi mantap dianjurkan berumur sekurang-
kurangnya 25 tahun jika telah memiliki 4 anak hidup atau dianjurkan
berumur di atas 35 tahun jika telah memiliki 2 anak hidup
(Wiknjosastro, 2009).
2) Keluhan utama; alasan klien mendatangi fasilitas kesehatan yang
diungkapkan dengan kata-katanya sendiri. Calon akseptor MOW
hendaknya yakin telah memiliki keluarga yang sesuai dengan
keinginannya dan telah mempertimbangkan dengan suaminya
(Saifuddin, 2010).
3) Riwayat kebidanan, terdiri atas:
a) Riwayat menstruasi; yang dikaji yaitu usia saat menarche,
frekuensi, lama, siklus, jumlah darah yang keluar, karakteristik
darah yang keluar (misalnya terdapat bekuan darah), periode
menstruasi terakhir dan keluhan berkaitan dengan pola
menstruasi (Varney, 2007).
Melalui riwayat menstruasi ini, dapat digunakan sebagai
identifikasi apakah ibu mengalami gangguan organ reproduksi
atau tidak. Perdarahan pervagina yang belum terjelaskan
sebabnya merupakan keadaan yang memerlukan penundaan
dilakukannya MOW (Saifuddin, 2010).
b) Riwayat obstetri; yang perlu diperhatikan sehubungan dengan
MOW adalah ibu mempunyai sekurang-kurangnya 2 orang
anak hidup dan anak terkecil berumur lebih dari 2 tahun
(Saifuddin, 2009).
c) Riwayat perkawinan; mencakup berapa kali menikah, lama
menikah dan usia pertama kali menikah. Calon akseptor
kontrasepsi mantap hendaknya memenuhi syarat bahagia yaitu
ibu masih teikat perkawinan yang sah dan harmonis (Saifuddin,
2009).
4) Riwayat kontrasepsi; meliputi pengetahuan dan pengalaman
mengenai cara-cara kontrasepsi, risiko dan keuntungan, serta sifat
kepermanenan masing-masing kontrasepsi, sehingga ibu
menetapkan pilihan pada kontrasepsi mantap sebagai metode
kontrasepsinya. Hal ini menunjukkan bahwa ibu telah memenuhi
syarat sukarela sebagai calon akseptor MOW (Wiknjosastro, 2005).
5) Riwayat kesehatan; meliputi:
a) Riwayat kesehatan sekarang

Deteksi dini terhadap penyakit yang dapat mempengaruhi


proses asuhan yang akan diberikan sangat diperlukan. Sebelum
dilakukan MOW, perlu dilakukan anamnesis kesehatan yang
meliputi: anemia defisiensi zat besi (Hb < 8 g%), hipertensi,
diabetes, hipertiroid, penyakit vaskuler, trombosis vena dalam
(TVD), penyakit jantung iskemik, penyakit jantung ventrikular
dengan komplikasi, perdarahan yang belum jelas sebabnya,
endometriosis, penyakit trofoblas ganas (PTG), kanker serviks,
kanker endometrium, kanker ovarium, penyakit radang panggul
(PRP), penyakit menular seksual (AIDS), TBC pelvis, serta
hamil ektopik (Saifuddin, 2010).

b) Riwayat medis terdahulu atau riwayat kesehatan yang lalu, yang


perlu diperhatikan yaitu bedah mayor dengan imobilisasi lama,
penyakit radang panggul, penyakit jantung iskemik, perlekatan
uterus oleh pembedahan/infeksi yang lalu (Saifuddin, 2010),
serta stroke (Irianto, 2014).

c) Riwayat kesehatan keluarga; yaitu riwayat penyakit yang


berhubungan dengan ibu, ayah, saudara kandung, kakek, nenek,
paman dan bibi (Varney, 2007).
6) Data psikologi dan sosial
a) Data psikologi dibutuhkan untuk mengetahui sikap dan
kesiapan ibu terhadap dirinya dan asuhan yang akan diberikan.
Kontrasepsi mantap merupakan tindakan pembedahan yang
bersifat permanen, tidak dapat dipulihkan kembali. Ibu yakin
telah memiliki besar keluarga yang sesuai dengan keinginannya
(Saifuddin, 2010).
b) Data sosial untuk mengetahui hubungan ibu dan suami, keluarga
dan masyarakat. Calon akseptor hendaknya memilihi hubungan
yang harmonis, terutama dengan suami (Wiknjosastro, 2005).

b. Data objektif diperoleh dari:


1) Pemeriksaan umum
Pemeriksaan umum dilakukan dengan memeriksa tanda-tanda vital
yang meliputi suhu, denyut nadi, pernafasan, tekanan darah, tinggi
badan dan berat badan (Varney, 2007). Ibu dengan tekanan darah
tinggi (sistolik > 160 mmHg dan diastolik > 100 mmHg) merupakan
kontraindikasi dilakukannya MOW (Saifuddin, 2010).
2) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik secara head to toe, meliputi pemeriksaan rambut,
kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dada, payudara,
abdomen serta ekstremitas atas dan bawah (Varney, 2007). Ibu
dengan perdarahan pervagina yang belum diketahui sebabnya
sebaiknya ditunda untuk pelaksanaan MOW hingga tertangani.
Infeksi sistemik atau pelvik yang akut harus disembuhkan atau
dikontrol terlebih dahulu (Saifuddin, 2010).
3) Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorik dan pemeriksaan terkait merupakan


komponen penting dalam pengkajian fisik. Semua uji dan
pemeriksaan dilakukan sebagai bagian skrining rutin yang
bervariasi berdasarkan usia klien, status risikonya dan apakah ia
sedang hamil (Varney, 2007). Pemeriksaan yang perlu dilakukan
sebelum dilakukan MOW yaitu pemeriksaan darah (kadar Hb) dan
pemeriksaan a kehamilan (PP test). Ibu yang diduga atau
diketahui hamil tidak diizinkan untuk dilakukan MOW. Begitu pula
ibu yang mengalami anemia defisiensi besi dengan kadar Hb < 7
gr% (Saifuddin, 2010).
Langkah II. Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah
dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data
yang telah dikumpulkan (Soepardan, 2008).
a. Diagnosis kebidanan
Diagnosis yang dapat ditegakkan pada kasus ini adalah Ny. T usia 40
tahun P3A0 post SCTP+MOW hari kedua, Akseptor KB MOW
b. Masalah
Masalah yang dapat ditemukan pada akseptor baru MOW adalah
cemas, yang ditandai dengan ketakutan terhadap tindakan yang akan
dilakukan pada dirinya (Trismiati, 2009).
c. Kebutuhan
Kecemasan yang dihadapi klien dapat dikurangi dengan pemberian konseling
dengan benar mengenai asuhan yang akan diberikan dan segala kenyamanan
yang mungkin terjadi (Trismiati, 2009). Kebutuhan yang ditetapkan pada Ny.
T usia 40 tahun P3A0 adalah konseling yang diberikan pratindakan, selama
tindakan dan pasca tindakan MOW (Wiknjosastro, 2005).

Langkah III. Identifikasi Diagnosis atau Masalah Potensial dan


Antisipasi Penanganannya
Mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis potensial
berdasarkan diagnosis/masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini
membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan.
Bidan diharapkan waspada dan bersiap diri bila diagnosis potensial ini
terjadi. Langkah ini sangat penting dalam melakukan asuhan yang aman
(Soepardan, 2008).
Pada asuhan kebidanan akseptor MOW, seharusnya tidak ditemukan
diagnosis potensial. Jika terdapat tanda-tanda yang mengarah pada
komplikasi, lebih baik dilakukan penundaan proses bedah hingga temuan
tersebut dapat dievaluasi dan keadaan klien membaik (Saifuddin, 2010).
Meskipun demikian, komplikasi mungkin dapat terjadi setelah
dilakukan tindakan MOW. Komplikasi tersebut antara lain infeksi luka,
demam pasca operasi, luka pada kandung kemih, luka intestinal,
hematoma, emboli gas yang diakibatkan oleh laparoskopi, rasa sakit pada
lokasi pembedahan serta perdarahan superfisial. Antisipasi dan
penanganan diberikan sesuai dengan komplikasi yang timbul (Saifuddin,
2010).
Langkah IV. Kebutuhan Terhadap Tindakan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera yang dilakukan oleh bidan
atau dokter untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama anggota tim
kesehatan lain sesuai dengan kondisi klien (Soepardan, 2008).
Telah disebutkan bahwa pada asuhan kebidanan akseptor MOW
seharusnya tidak ditemukan diagnosis potensial. Namun, jika terjadi
komplikasi pasca operasi, maka dilakukan penanganan yang sesuai
(Saifuddin, 2010).
Langkah V. Perencanaan Asuhan Menyeluruh
Pada langkah ini, direncanakan asuhan menyeluruh yang ditentukan
berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Tidak hanya meliputi semua
hal yang sudah teridentifikasi, asuhan yang menyeluruh juga berdasarkan
kerangka pedoman antisipasi terhadap klien (Soepardan, 2008).
Langkah VI. Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan
Aman
Asuhan menyeluruh seperti yang telah direncanakan dilaksanakan
secara efisien dan aman. Pelaksanaan ini dapat dilakukan seluruhnya oleh
bidan atau sebagian oleh anggota tim kesehatan lainnya. Jika bidan
berkolaborasi dengan dokter dalam penanganan klien yang mengalami
komplikasi, bidan tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana
asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Penatalaksanaan yang efisien
dan berkualitas dapat menyingkat waktu dan menghemat biaya (Soepardan,
2008).

Langkah VII. Evaluasi


Pada langkah terakhir ini, dilakukan evaluasi keefektifan asuhan
yang sudah diberikan, meliputi pemenuhan kebutuhan masalah yang telah
teridentifikasi (Soepardan, 2008).
Evaluasi yang diharapkan dari klien setelah dilakukan asuhan pasca
MOW dan tidak ditemukan masalah, maka klien dapat dipulangkan setelah
4-6 jam (Saifuddin, 2010).
C. Follow Up Data Perkembangan Kondisi Pasien
Tujuh langkah Varney disarikan menjadi empat langkah yaitu SOAP
(Subjective, Objective, Assesment dan Planning). SOAP disarikan dari proses
pemikiran penatalaksanaan kebidanan sebagai perkembangan catatan
kemajuan keadaan klien (Kepmenkes RI Nomor:
938/Menkes/SK/VIII/2007).
1. S : Subjective (Data Subjektif)
Data subjektif adalah catatan kualitatif dan kuantitatif dari pasien
yang mencakup perasaan, reaksi atau pengamatan terhadap masalah. Data
ini menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien
melalui anamnesis sebagai langkah I Varney.
2. O : Objective (Data Objektif)
Data objektif menggambarkan hasil pemeriksaan fisik, hasil
laboratorium dan hasil tes diagnostik lain klien yang dirumuskan dalam
data fokus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I Varney.
Setiap 15 menit dilakukan pemeriksaan tekanan darah dan nadi. Jika
telah diperbolehkan minum, hendaknya klien diberi cairan yang
mengandung gula untuk membantu meningkatkan kadar glukosa darah
(Saifuddin, 2010).
3. A : Assesment (Analisis)
Analisis menggambarkan pendokumentasian hasil analisis dan
interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi diagnosa
dan masalah kebidanan serta kebutuhan sebagai langkah II Varney.
Analisis pada kasus ini adalah ibu akseptor medis operasi wanita
(MOW) pasca tindakan.
4. P : Planning (Penatalaksanaan)
Penatalaksanaan mencakup seluruh perencanaan dan
penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif,
tindakan segera, tindakan secara komprehensif (seperti penyuluhan,
dukungan, kolaborasi, evaluasi atau follow up dari rujukan) sebagai
langkah III, IV, V, VI dan VII Varney.
Asuhan perawatan setelah tindakan MOW menurut Saifuddin
(2010), yaitu:
a. Mengobservasi keadaan umum, tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi,
pernafasan dan suhu) serta perdarahan pada luka operasi dan vagina
b. Menganjurkan ibu untuk istirahat dan menjaga tempat sayatan operasi
agar tidak basah minimal selama 2 hari
c. Menganjurkan ibu untuk melapor ke petugas kesehatan jika menemui
keluhan panas/demam di atas 380C, pusing dan terasa terputar /
bergoyang, nyeri perut menetap atau meningkat serta keluar cairan atau
darah dari/melalui luka sayatan
d. Melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi
untuk pemberian terapi dan anjuran pulang
e. Menganjurkan kunjungan ulang seminggu setelah tindakan dan kontrol
lanjutan pada minggu kedua