Anda di halaman 1dari 111

Rangga Sudarma

SKRIPSI
PENINGKATAN PROSES PEMBELAJARAN KOSAKATA DENGAN
PERMAINAN TEKA-TEKI BERGAMBAR SISWA KELAS I
SDN 01 ULAK KARANG SELATAN PADANG

OLEH:

RANGGA SUDARMA

NPM. 0710013411020

Ditulis untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan


Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BUNG HATTA
PADANG
2011

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

PENGESAHAN PEMBIMBING

Nama : RANGGA SUDARMA


NPM : 0710013411020
Program Studi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Judul : Peningkatan Proses Pembelajaran Kosakata dengan
Permainan Teka-teki Bergambar Siswa Kelas I SDN
01 Ulak Karang Selatan Padang

Padang, Agustus 2011

Disetujui untuk Diuji

Pembimbing I Pembimbing II

Dra. Syofiani, M.Pd Dra. Niniwati, M.Pd

Mengetahui
Dekan Ketua Program Studi

Dr. Marsis, M.Pd Dra. Zulfa Amrina, M.Pd

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

HALAMAN PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI

Nama : RANGGA SUDARMA


NPM : 0710013411020
Program Studi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Judul : Peningkatan Proses Pembelajaran Kosakata dengan
Permainan Teka-teki Bergambar Siswa Kelas I SDN
01 Ulak Karang Selatan Padang

Padang, Agustus 2011

Disetujui untuk Diuji

Pembimbing I Pembimbing II

Dra. Syofiani, M.Pd. Dra. Niniwati, M.Pd.

Mengetahui
Dekan Ketua Program Studi

Dr. Marsis, M.Pd Dra. Zulfa Amrina, M.Pd

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

ABSTRAK
Rangga Sudarma. Skripsi. 2011, “Peningkatan Proses Pembelajaran Kosakata
dengan Permainan Teka-Teki Bergambar Siswa Kelas I
SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang”. Program Studi
Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Bung Hatta.

Kurangnya kesempatan siswa untuk mengalami proses pembelajaran bahasa


sesuai dengan perkembangan daya pikirnya membuat situasi pembelajaran bahasa
Indonesia di sekolah kaku. Kondisi seperti itu melatarbelakangi penelitian ini, di
samping keluhan yang disampaikan guru kelas I SDN 01 Ulak Karang Selatan
Padang bahwa sebagian siswa di kelasnya kurang mengikuti pembelajaran bahasa
Indonesia dengan baik. Indikatornya terlihat dari beberapa siswa melakukan
aktivitas lain pada saat guru menjelaskan materi pelajaran yang berdampak pada
hasil belajar siswa yang kurang maksimal. Nilai siswa pada semester I tahun
pelajaran 2010-2011 dengan rata-rata 6,8, dan masih terdapat 34% siswa yang
memperoleh nilai di bawah KKM sekolah 6,5.
Penelitian ini bertujuan untuk menawarkan alternatif strategi pembelajaran
yang dapat menciptakan kreativitas siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia,
khususnya bidang kosakata, dengan memanfaatkan permainan teka-teki
bergambar. Berdasarkan kajian teori perkembangan dan membelajaran bahasa
siswa yang dikemukakan beberapa pakar disajikan sebuah pembelajaran bahasa
Indonesia yang memprioritaskan pengembangan kosakata melalui penerapan
permainan teka-teki bergambar. Konsep teka-teki yang dipaparkan oleh
Danandjaja adalah sebuah permainan kata untuk menebak jawaban kata,
dipaparkan dalam bentuk aturan tertentu (kalimat lisan, tulisan dan gambar) yang
mendeskripsikan tentang ciri, bentuk dan kegunaan sebuah kata. Berpadukan
materi ajar dengan pola kompetisi permainan edukasi yang dilakukan secara
bersama-sama dapat meningkatkan kegairahan belajar siswa karena proses belajar
sambil bermain cocok diterapkan pada siswa kelas rendah, dan diharapkan dapat
meningkatkan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia
sesuai dengan proses pemerolehan bahasa yang dialaminya.
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan
secara kolaboratif dan partisipan. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, setiap
siklus terdiri atas dua kali pertemuan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I
SDN 01 Ulak Karang Selatan, Padang yang berjumlah 38 orang. Instrumen
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi aktivitas
siswa, lembar pengamatan guru dan tes hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa rata-rata nilai siswa
pada siklus I adalah 70,62 dengan persentase ketuntasan belajar 60% dan rata-rata
nilai siswa siklus II adalah 83,91 dengan persentase ketuntasan belajar 86%. Dari
hasil analisis lembar observasi aktivitas siswa diperoleh rata-rata persentase dari
observer pada siklus I sebesar 64,5% sedangkan pada siklus II rata-rata persentase
yang diperoleh dari observer adalah 80%. Dengan demikian pelaksanaan
pembelajaran kosakata bahasa Indonesia melalui permainan teka-teki bergambar
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita haturkan ke hadirat Allah SWT berkat rahmat dan

karuniaNya dan atas usaha penulis skripsi dengan judul “Peningkatan Proses

Pembelajaran Kosakata dengan Permainan Teka-Teki Bergambar Siswa Kelas I

SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang” dapat diselesaikan dengan baik.

Skripsi ini ditulis sebagai salah satu prasyarat untuk mendapati gelar Sarjana

Pendidikan, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Bung Hatta Padang.

Skripsi ini dapat terwujud berkat bantuan, dorongan dan petunjuk dari

berbagai pihak. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima

kasih kepada:

1. Ibu Dra. Hj. Syofiani, M.Pd. sebagai pembimbing I.

2. Ibu Dra. Niniwati, M.Pd. sebagai Pembimbing II sekaligus Penasehat

Akademik.

3. Ibu Dra. Zulfa Amrina, M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Bung Hatta.

4. Bapak Dr. Marsis, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Bung Hatta.

5. Ibu Dra. Henny Del Roza selaku Kepala Sekolah SDN 01 Ulak Karang

Selatan Padang.

6. Ibu Listina, A. Md, Guru Kelas I SDN 01 Ulak Karang Selatan

Padang.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

7. Rekan-rekan seperjuangan serta adik-adik angkatan, atas segala bentuk

dukungan, doa, dan dorongan yang membuat semangat tak pernah

padam.

8. Semua pihak yang telah membantu, baik moril maupun materil yang

tak bisa penulis sebutkan satu-persatu.

Semoga apa yang telah mereka berikan mendapat balasan dari Allah SWT.

Amin. Skripsi ini adalah usaha maksimal penulis. Namun, jika masih ditemukan

kekurangan penulis berharap kritik dan saran yang kontruktif dari pembaca demi

kesempurnaan isi skripsi ini.

Terakhir, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua

pihak.

Padang, Agustus 2011

Penulis

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

DAFTAR ISI

Pengesahan Pembimbing…………………………………………………………... Nomor

Pengesahan Ujian………………………………………………………………….. Halaman

Abstrak………………………………………………………………………….......

Kata Pengantar……………………………………………………………………...

Daftar Isi……………………………………………………………………………

Daftar Tabel………………………………………………………………………...

Daftar Lampiran……………………………………………………………………

BAB 1 PENDAHULUAN…………………………………………………………

A. Latar Belakang Masalah……………………………………………………

B. Batasan Masalah……………………………………………………………

C. Perumusan Masalah……………………………...…………………………

D. Tujuan Penelitian…………………………………………………………...

E. Manfaat Penelitian………………………………………………………….

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN………………………………………………

A. Kajian Teori………………………………………………………………...

1. Perkembangan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa....................

2. Kosakata dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Anak di SD................

3. Teka-Teki……………………………………………………………….

4. Gambar……….……………………………………………………...…

5. Permainan Teka-Teki Bergambar……….............................................

6. Tinjauan Aktivitas Guru………………………………………………..

7. Tinjauan Aktivitas Siswa………. ….…………………………………..

B. Kerangka Konseptual………………………………………………………

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

C. Hipotesis Tindakan…………………………………………………………

BAB III METODOLOGI PENELITIAN………………………………………….

A. Jenis Penelitian……………………………………………………………..

B. Lokasi dan Subjek Penelitian………………………………………………

C. Prosedur Penelitian…………………………………………………………

D. Indikator Keberhasilan……………………………………………………..

E. Instrumen Penelitian………………………………………………………..

F. Teknik Analisis Data……………………………………………………….

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………………….

A. Deskripsi Data……………………………………………………………..

1. Proses Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I……………………………

2. Proses Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II ………………...………….

B. Pembahasan………………………………………………………………...

1. Aktivitas Belajar Siswa………………………………………………...

2. Hasil Belajar Siswa……………………………………………………..

3. Pelaksanaan Pembelajaran Dengan Menggunakan Permainan Teka-

teki Bergambar…………………………………………………………

BAB V PENUTUP…………………………………………………………………

A. Kesimpulan…………………………………………………………………

B. Saran………………………………………………………………………..

Daftar Pustaka……………………………………………………………………...

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Tahap perkembangan Bahasa Anak ………………………… Nomor

Tabel 2 : Aktivitas Siswa Yang Akan Diamati ………………....……… Halaman

Tabel 3 : Persentase Aktivitas Guru pada Siklus I………………………

Tabel 4 : Persentase Aktivitas Belajar Siswa pada Siklus I……………

Tabel 5 : Hasil Belajar Siswa pada Siklus I……………………………

Tabel 6 : Persentase Aktivitas Guru pada Siklus II……………………

Tabel 7 : Persentase Aktivitas Belajar Siswa pada Siklus II……………

Tabel 8 : Hasil Belajar Siswa pada Siklus II……………………………

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I ……...........................

Lampiran 2 : Lembar Teka-teki Bergambar…............…………………………...

Lampiran 3 : Petunjuk Lisan Teka-teki Bergambar..............................................

Lampiran 4 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II…............................

Lampiran 5 : Lembar Teka-teki Bergambar...........................................................

Lampiran 6 : Petunjuk Lisan Teka-teki Bergambar...............................................

Lampiran 7 : Hasil Ujian bahasa Indonesia siswa Semester I Tahun 2010-2011..

Lampiran 8 : Pembagian Kelompok Siswa dalam Permainan Teka-teki Bergam-

bar......................................................................................................

Lampiran 9 : Cerita keluarga Tiara.........................................................................

Lampiran 10 : Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus I pertemuan 1.................

Lampiran 11 : Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus I pertemuan 2.................

Lampiran 12 : Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus II pertemuan 1...............

Lampiran 13 : Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus II pertemuan 2...............

Lampiran 14 : Lembar Observasi Aktivitas Guru Siklus I pertemuan 1..................

Lampiran 15 : Lembar Observasi Aktivitas Guru Siklus I pertemuan 2..................

Lampiran 16 : Lembar Observasi Aktivitas Guru Siklus II pertemuan 1.................

Lampiran 17 : Lembar Observasi Aktivitas Guru Siklus II pertemuan 2.................

Lampiran 18 : Kisi-kisi Instrumen Hasil belajar I…………………………………

Lampiran 19 : Insrumen Hasil belajar I……………………...…………………….

Lampiran 20 : Pedoman Jawaban Tes I…………………………………………

Lampiran 21 : Kisi-kisi Instrumen Hasil belajar II…...……………………………

Lampiran 22 : Insrumen Hasil belajar II…….………………..…………………...

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Lampiran 23 : Pedoman Jawaban Tes II………..…………………………………

Lampiran 24 : Hasil Ujian Siswa…………………………………………………

Lampiran 25 : Surat Izin Penelitian………………………………………………..

Lampiran 26 : Surat Keterangan Selesai Penelitian……………………………….

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa merupakan alat komunikasi yang efektif bagi kehidupan manusia.

Dalam berbagai macam situasi, bahasa dimanfaatkan untuk menyampaikan

sebuah gagasan berbagai hal baik yang dirasakan, difikirkan, dialami, maupun

diangankan oleh seseorang yang dituangkan secara lisan ataupun tulis.

Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial membuat kedudukan bahasa menjadi

hal yang sangat penting dalam interaksi antarsesama manusia. Dengan bahasa,

akan mempermudah kelangsungan hidupnya.

Masyarakat Indonesia terdiri atas berbagai suku yang menetap di beberapa

pulau sehingga menimbulkan keragaman dalam berkomunikasi, khususnya bahasa

lisan. Setidaknya terdapat tiga jenis bahasa yang sama-sama digunakan oleh

masyarakat meskipun situasi pemakaiaan dan jumlah penuturnya berbeda-beda.

Ketiga jenis bahasa itu adalah bahasa ibu biasanya bahasa daerah, bahasa nasional

yaitu bahasa Indonesia dan bahasa asing. Penggunaan bahasa daerah biasanya

digunakan hanya sebagai sarana komunikasi antar warga dalam lingkup daerah

tertentu saja, sehingga timbullah kendala dalam berkomunikasi apabila di suatu

daerah terdapat kumpulan warga yang menguasai bahasa daerah yang berbeda.

Untuk itulah dibutuhkan bahasa yang dapat menjembatani kesulitan

berkomunikasi antar daerah dan sekaligus mempersatukan masyarakat yaitu

bahasa Indonesia.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Pernyataan tekad kebahasaan dalam kesatuan nasional diikrarkan pada

tanggal 28 Oktober 1928 pada salah satu butir Sumpah Pemuda yang berbunyi,

“kami putra dan purti Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa

Indonesia” (Mustakim, 1994:9). Dengan adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa

persatuan, hambatan komunikasi yang disebabkan berbeda latar belakang sosial,

budaya, dan bahasa daerah dapat teratasi dengan bahasa pemersatu yaitu bahasa

Indonesia.

Pada pasal 36 dalam UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara adalah bahasa

Indonesia” (Sekretariat Jenderal MPR RI, 2008:10). Kalimat itu, juga mene-

gaskan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memiliki kedudukan

yang sangat kuat yang digunakan dalam urusan kenegaraan dan urusan tata

pemerintahan. Sebagai bahasa nasional maupun bahasa negara, usaha pelestarian,

pembinaan, dan mengembangan bahasa Indonesia menjadi tanggung jawab setiap

warga negara Indonesia. Oleh karena itu, pengembangan bahasa Indonesia yang

baik dan benar seyogianya mendapat perhatian dan penanganan sungguh-

sungguh.

Dalam Ketetapan MPR 1978 dan 1983 dinyatakan bahwa pembinaan dan

pengembangan bahasa Indonesia dilaksanakan dengan penggunaan bahasa

Indonesia secara baik dan benar. Disamping itu, pengajaran bahasa Indonesia

perlu ditingkatkan dan diperluas sehingga mencakupi semua lembaga pendidikan

dan menjangkau masyarakat luas (Mustakim, 1994:13). Dalam Garis-Garis Besar

Haluan Negara (GBHN) tahun 1988 juga ditegaskan bahwa sekolah sebagai

lembaga pendidikan formal, dipandang sebagai salah satu tempat yang

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

mempunyai peranan penting untuk melaksanakan tugas tersebut (Mustakim,

1994:13).

Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah pada hakikatnya merupakan salah

satu sarana dalam rangka mengupayakan pembinaan dan pengembangan bahasa

Indonesia yang terarah dan terprogram. Oleh karena itu, melalui proses

pengajaran bahasa Indonesia, diharapkan peserta didik/siswa memiliki

kemampuan yang memadai untuk dapat menggunakan bahasa Indonesia secara

baik dan benar sesuai dengan tujuan atau keperluan berkomunikasi dan konteks

pemakaiannya sehingga pada gilirannya siswa benar-benar dapat menguasai dan

mampu berbahasa secara aktif (berbicara dan menulis) maupun reseptif

(menyimak dan membaca).

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, kualitas keterampilan berbahasa

siswa baik secara aktif maupun reseptif sangat tergantung dengan kualitas dan

kuantitas kosakata bahasa Indonesia yang dimilikinya. Semakin kaya kosakata

yang dimiliki, maka semakin terampillah siswa dalam berbahasanya (Tarigan,

1986:3).

Penguasaan kosakata pada usia sekolah sangatlah penting dan

merupakan dasar untuk penguasaan kosakata pada usia selanjutnya. Hastuti

dalam Chasanah (2008:14) menyatakan bahwa pentingnya penguasaan

kosakata adalah “Agar siswa mampu memahami kata atau istilah dan mampu

menggunakannya dalam tindak berbahasa baik itu menyimak, berbicara,

membaca maupun menulis”.

Untuk itulah, pengembangan kosakata siswa perlu diperhatikan dalam

pembelajaran bahasa Indonesia. Guru seyogianya merancang pembelajaran yang

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

dapat mengembangan kosakata bahasa Indonesia siswa dalam pembelajaran.

Kurangnya perhatian guru akan hal itu akan berdampak buruk terhadap

kemampuan berbahasa siswa.

Pada saat penulis melakukan Praktek Lapangan Kependidikan (PLK) di

SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang pada tanggal 19 Juli 2010, penulis langsung

mengidentifikasi problematika pengembangan kosakata bahasa Indonesia di

sekolah tersebut. Hal yang menjadi pertimbangan penulis untuk langsung

melakukan observasi saat PLK, karena SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang

merupakan salah satu sekolah unggul yang berada di kota Padang. Posisi sekolah

yang berlokasi di tepi jalan utama kota Padang membuat sekolah ini menjadi

akses yang terjangkau bagi masyarakat, sehingga sekolah ini menjadi pilihan

utama untuk bersekolah. Karena sekolah ini hanya menerima satu kelas untuk

setiap angkatannya maka untuk bersekolah di SDN 01 Ulak Karang Padang

diadakan seleksi yang ketat.

Sekolah yang dipandang unggul tidak menjadi jaminan terjadinya proses

pembelajaran bahasa Indonesia yang opitimal. Hal itu ditemukan penulis saat

melakukan PLK. Dari hasil wawancara dan keluhan yang disampaikan guru kelas

I SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang bahwa sebagian siswa di kelasnya kurang

mengikuti pembelajaran dengan baik pada jam pelajaran bahasa Indonesia. Hal itu

terlihat dari beberapa siswa yang melakukan aktivitas lain saat guru menjelaskan

materi pelajaran, seperti berbicara dengan teman sebangku dan mengganggu

konsentrasi temannya yang ingin belajar sehingga kelas cenderung gaduh dan

tidak kondusif. Hasil belajar siswa pun kurang baik. Rendahnya hasil belajar

siswa dilihat dari nilai rata-rata ulangan semester I siswa kelas I SDN 01 Ulak

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Karang Selatan Padang tahun pelajaran 2010-2011 yang memperoleh nilai rata-

rata 6,8 dan masih terdapat 34% siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM

sekolah 6,5.

Rendahnya hasil belajar siswa kelas I SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang

dimungkinkan karena kurangnya perhatian guru terhadap pengembangan kosakata

dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Penguasaan kosakata yang tidak memadai,

membuat situasi siswa kurang terampil dalam berbahasa reseptif (menyimak dan

membaca) sehingga berdampak terhadap hasil belajar siswa. Disamping itu,

keterbatasan kosakata juga membuat siswa kurang terampil dalam berbahasa aktif

(berbicara dan menulis) sehingga membuat aktivitas belajar siswa menjadi tidak

optimal.

Dengan adanya permasalahan tersebut, maka dalam pembelajaran bahasa

saat ini diperlukan suatu metode pembelajaran yang tepat sebagai upaya kongkrit

dalam aplikasi pembelajaran di kelas.

Anak di kelas permulaan (usia 6 - 8 tahun) berada pada fase bermain,

dengan bermain anak akan senang belajar, semakin anak senang maka semakin

banyak yang diperolehnya. Permainan belajar dapat menciptakan atmosfir

menggembirakan dan membebaskan kecerdasan penuh dan tak terhalang

dalam memberikan banyak sumbangan. Permainan memiliki peranan penting

dalam perkembangan kognitif dan sosial anak, karena bermain dapat mendorong

imajinasi anak, menambah daya ingat, dan kesempatan menalar. Permainan

dapat diterapkan dalam semua bidang studi, seperti matematika, ilmu sosial,

IPA, bahasa dan lain sebagainya.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Berdasarkan uraian di atas maka penulis bermaksud untuk melakukan

penelitian tindakan kelas di SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang. Penulis

mencoba mengembangkan suatu alternatif agar terciptanya proses pembelajaran

bahasa Indonesia yang sesuai dengan proses perkembangan kebahasaan anak.

Dengan memprioritaskan pembelajaran kosakata bahasa Indonesia, penulis

mencoba mengembangkan pembelajaran melalui penerapan permainan teka-teki

bergambar.

Teka-teki adalah sebuah permainan kata untuk menebak sebuah kosakata

yang dipaparkan dalam bentuk aturan kalimat lisan atau tulisan tertentu, seperti

deskripsi tentang ciri, bentuk dan kegunaan sebuah kata. Selain itu dengan

memadukan dengan media gambar dapat menimbulkan kreativitas siswa yang

beragam dalam menjawab dan mendeskripsikan sebuah kata. Bermain teka-teki

kata menggunakan media bantu gambar secara bersama-sama dapat meningkatkan

kegairahan dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia.

Penulis memilih judul “Peningkatan Proses Pembelajaran Kosakata Bahasa

Indonesia dengan Menggunakan Teka-Teki Bergambar Pada Siswa Kelas I SDN

01 Ulak Karang Padang”, karena di dalam proses belajar-mengajar di kelas

tersebut masih belum menggunakan permainan ini dalam pembelajarannya.

B. Pembatasan Masalah

Mengingat luasnya ruang lingkup yang akan diteliti dan keterbatasan waktu,

tenaga serta kemampuan penulis, serta agar penelitian ini lebih terarah dan

mencapai tujuan, maka penelitian ini dibatasi:

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

1. Aktivitas siswa dilihat dari aspek oral activities, writing activities, visual

activities dan emosional activities.

2. Aktivitas guru dilihat dari aspek keterampilan membuka dan menutup

pembelajaran, keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya (dasar,

lanjut dan penguatan), dan keterampilan mengelola kelas.

3. Hasil belajar yang dilihat dari aspek kognitif.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, permasalahan dapat dirumuskan

adalah sebagai berikut:

1. Apakah permainan teka-teki bergambar dapat meningkatkan proses pembe-

lajaran kosakata bahasa Indonesia siswa kelas I Sekolah Dasar Negeri 01

Ulak Karang Selatan Padang?

2. Apakah permainan teka-teki bergambar dapat meningkatkan keaktifan

belajar siswa dalam proses pembelajaran kosakata bahasa Indonesia siswa

kelas I Sekolah Dasar Negeri 01 Ulak Karang Selatan Padang?

3. Apakah permainan teka-teki bergambar dapat meningkatkan hasil belajar

siswa dalam proses pembelajaran kosakata bahasa Indonesia siswa kelas I

Sekolah Dasar Negeri 01 Ulak Karang Selatan Padang?

D. Tujuan Penulisan

Dari latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini

adalah :

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

1. Meningkatkan proses pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas I Sekolah

Dasar Negeri 01 Ulak Karang Selatan Padang.

2. Meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas I Sekolah Dasar

Negeri 01 Ulak Karang Selatan Padang.

3. Meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas I Sekolah Dasar Negeri 01 Ulak

Karang Selatan Padang.

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:

1. Guru

a. Sebagai masukan dalam melaksanakan pembelajaran secara variatif

guna memaksimalkan kemampuan peserta didik.

b. Meningkatkan suasana aktif, kreatif dan menyenangkan dalam proses

pembelajaran di kelas.

2. Siswa

a. Dapat meningkatkan penguasaan kosakatanya.

b. Dapat meningkatkan keaktifan dalam belajar, sehingga lebih kreatif

dan lebih menguasai kosakata bahasa Indonesia dalam pembelajaran.

3. Penulis

a. Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman sebagai acuan untuk

melaksanakan pembelajaran di masa yang akan datang.

b. Sebagai upaya dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama

pendidikan.

4. Sekolah

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

a. Memberikan masukan kepada sekolah tentang perlunya meningkatkan

kemampuan guru dalam menggunakan permaianan teka-teki

bergambar dalam pembelajaran di kelas rendah.

b. Untuk menjawab permasalahan yang dihadapi di sekolah khususnya

peningkatan proses pembelajaran bahasa Indonesia yang dapat

dikembangkan dengan permaianan teka-teki bergambar sebagai upaya

menunjang peningkatan hasil belajar.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

A. Kajian Teori

1. Perkembangan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa

Ken Goodman dalam Gusnetti (2009:1) menyatakan bahwa suatu teka-teki

yang sulit dijawab berkenaan dengan belajar anak. Suatu ketika, anak-anak

tampak sudah belajar bahasa, tetapi juga kadang-kadang kelihatan sukar.

Dalam kesehariannya, ketika siswa berada di luar sekolah, siswa mampu dan

dapat belajar bahasa dengan baik seperti memahami ujaran yang disampaikan

orang lain ataupun melontarkan ujaran bermakna kepada orang lain dalam waktu

relatif singkat tanpa ada tekanan dan paksaan. Berbeda dengan belajar bahasa di

sekolah, siswa selalu menemukan kesulitan yang kadang-kadang dapat

menghasilkan keadaan yang membosankan dalam belajar bahasa siswa.

a. Perkembangan Bahasa Anak

Bila kita mengamati perkembangan kemampuan berbahasa anak, kita akan

terkesan dengan pemerolehan bahasa anak yang berjenjang dan teratur. Grasia

dalam Krisanjaya (1998) dalam Hartati (2006:47) menyatakan bahwa

pemerolehan bahasa anak dapat dikatakan mempunyai ciri-ciri kesinambungan,

memiliki suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana

menuju gabungan kata yang lebih rumit (sintaksis). Kalau kita beranggapan

bahwa fungsi tangisan sebagai awal dari kompetensi komunikasi, maka ucapan

kata tunggal yang biasanya sangat individual dan kadang aneh seperti: “mamam”

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

atau “maem” untuk makan, hal itu menandai tahap pertama perkembangan bahasa

formal.

Perkembangan bahasa anak dimulai sejak bayi, perkembangan ini disebut

fase bunyi dan makna yang kisaran usianya antara 9-16 bulan. Bayi yang berumur

satu tahun sudah mulai menggunakan bahasa, walaupun satu kata. Kata-katanya

sederhana yang mudah dimengerti secara kongkrit. Anak sudah biasa

mengucapkan kata benda seperti mama, papa, meong, maam, dan lain-lain.

Tarigan (1986:12) juga menambahkan bahwa:

Pada umumnya, mitra komunikasi anak menafsirkan maksud


tuturannya dengan sesuatu yang menyertai aktivitas anak itu dan
unsur-unsur non-linguistik lainya seperti gerak isyarat, ekspresi, dan
benda yang ditunjuk anak.

Setelah fase bunyi dan makna, kisaran umur 16-24 bulan, anak sudah

memasuki fase tata bahasa dan dialog. Anak sudah mampu menggunakan bunyi

makna untuk menyampaikan maksud dan tujuannya, seperti: “itu binatang”; “itu

bonekaku”. Kalau kita perhatikan tuturan anak di fase ini, hanya kata-kata penting

yang sering muncul. Tidak ada dalam tuturan kata tugas (kata depan, kata

sambung, kata penghubung), dan imbuhan. Sementara itu, untuk mengacu kepada

diri dan orang lain biasanya anak menggunakan nama diri dan gelar seperti:

Bapak, Ibu, Aku, dan sebagainya (Tarigan, 1986:13).

Selanjutnya fase usia 24 bulan dan seterusnya yaitu teks, yaitu ketika anak

sudah mampu memilih-milih kata untuk dijadikan sebuah naskah utuh serta sudah

bisa membedakan informasi baru dengan informasi yang sudah usang. Seperti:

“Itu matahari-itu api”; “Masih main boneka, saya segera datang, Bu” (Tarigan,

1986:13).

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Hal yang sama disampaikan Piaget (dalam Gusnetti, 2009:6) menyatakan

bahwa perkembangan bahasa anak terdiri atas beberapa tahapan pokok, yaitu: (1)

sensorimotori, (2) Praoperasional, (3) operasional. Untuk lebih jelas, dapat dilihat

pada tabel di bawah.

Tabel 1: Tahap perkembangan Bahasa Anak


Fase-fase
Perkembangan Fase-fase
perkembangan
umur perkembangan kognitif
kebahasaan
Periode sensorimotori. Fase fonologi. Anak
Anak memanipulasi bermain dengan bunyi-
objek di lingkungannya bunyi bahasa mulai
Lahir-umur 2 tahun
dan mulai membentuk mengoceh, sampai
konsep. menyebutkan kata-kata
sederhana.
Periode praoperasinal. Fase sintaksis. Anak
Anak memahami pikiran menunjukkan
Usia 2 sampai 7
simbolik, tetapi belum kesadaran gramatis,
tahun
dapat berfikir logis. berbicara menggunakan
kalimat.
Periode operasional. Fase semantik. Anak
Anak dapat berfikir logis dapat membedakan
Usia 7 sampai 11
mengenai benda-benda kata sebagai simbol dan
tahun
kongrit. kosep yang terkandung
dalam kata.

Dengan demikian, tahap perkembangan bahasa anak dapat dibagi atas tiga

tahapan berbahasa yaitu: (1) tahap satu kata yang berupa bunyi dan makna suatu

bahasa, (2) tahap dua kata yang agak kompleks berupa dialog singkat bersifat

telegrafik, ujaran yang dituturkan anak hanyalah kata-kata yang penting saja, dan

(3) tahap banyak kata ketika anak sudah biasa membuat tuturan panjang yang tata

bahasanya lebih teratur.

Pada tahap-tahap perkembangan bahasa, berkembang pula penguasaan

sistem bahasa yang dipelajarinya berupa: (1) Fonologi, yaitu pengetahuan tentang

pelafalan dan penggabungan bunyi-bunyi tersebut sebagai sesuatu yang

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

bermakna. (2) Gramatikal, yaitu pengetahuan tentang aturan pembentukan unsur

tuturan. (3) Semantik leksikal, yaitu pengetahuan tentang kata untuk mengacu

pada suatu hal. (4) Pragmatik, yaitu pengetahuan tentang penggunaan bahasa

dalam berbagai cara untuk berbagai keperluan.

b. Pembelajaran Bahasa Indonesia Bahasa Anak SD

Gusnetti (2009:1) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa anak melibatkan

dua keterampilan, yaitu keterampilan untuk menghasilkan tuturan secara spontan

dan kemampuan memahami tuturan orang lain. Artinya, dalam konteks ini, yang

dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan

berbahasa anak.

Setiap anak yang lahir normal secara fitrah sudah dilengkapi oleh perangkat

pemerolehan bahasa; oleh Chomsky dalam Resmini (2006:48) alat itu dinamakan

Language Acquisition Device (LAD). LAD berpotensi untuk mengolah data

secara alamiah (bekal kodrati) sehingga anak berpotensi untuk menguasai bahasa.

Dengan kata lain, pemerolehan bahasa seseorang tidak tergantung menurut

intelegensinya. Betapa pun rendahnya intelegensi manusia (kecuali bila ada cacat

tertentu), dia tetap saja akan dapat berbahasa (Soejono, 2000:14).

Krashen dan Terrell dalam Tola (1990) dalam Resmini (2006:47)

menyatakan bahwa pemerolehan bahasa yang dialami oleh anak terjadi melalui

dua cara yaitu melalui pemerolehan dan melalui pembelajaran.

Melalui pemerolehan bahasa, ditandai oleh beberapa hal yaitu:

1) Berlangsung dalam situasi informal, tanpa beban dan di luar sekolah.

2) Dilakukan tanpa sadar.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

3) Dialami langsung oleh anak dan terjadi dalam konteks berbahasa yang

bermakna.

Artinya, yang terpenting dalam proses ini adalah kesediaan lingkungan

bahasa. Dengan cara ini, pemerolehan bahasa terjadi secara tidak disadari atau di

bawah sadar, yakni seseorang telah terlibat di dalam situasi proses pemerolehan

bahasa, yang biasanya disebut sebagai pemerolehan bahasa pertama (Gusnetti,

2009:2).

Sedangkan melalui pembelajaran, biasa disebut sebagai pemerolehan

bahasa kedua (B2) dan bahasa asing yaitu pemerolehan bahasa yang dilakukan

seseorang secara sadar dan direncanakan untuk suatu tujuan.

Resmini dalam bukunya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas

Tinggi menyatakan bahwa di sekolah, kompetensi dasar yang harus dikuasai

siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia mencakup empat aspek kemampuan

berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemampuan

menyimak dan berbicara merupakan kemampuan berbahasa yang tercakup dalam

kemampuan orasi (oracy). Sedangkan dua kemampuan lainnya merupakan

kemampuan yang tercakup dalam kemampuan literasi (literacy). Kemampuan

orasi merupakan kemampuan yang berkaitan dengan bahasa lisan, sedangkan

kemampuan literasi berkaitan dengan bahasa tulis.

Kemampuan menyimak (orasi) dan kemampuan membaca (literasi)

merupakan dua kemampuan berbahasa yang termasuk ke dalam kemampuan

reseptif, yaitu kemampuan anak untuk memahami setiap maksud yang

disampaikan oleh menutur baik dalam bentuk lisan dan tulisan. Sedangkan

kemampuan berbicara (orasi) dan kemampuan menulis (literasi) merupakan dua

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

kemampuan yang termasuk ke dalam kemampuan berbahasa ekspresif yang secara

produktif dapat menghasilkan tuturan bermakna dalam bentuk lisan dan tulisan.

Keempat kemampuan di atas harus merupakan kompetensi berbahasa yang harus

dikuasai siswa. Dengan demikian, perlu diupayakan pembelajarannya secara tepat

dengan strategi pembelajaran yang tepat pula.

Bagi kebanyakan anak di Indonesia, bahasa Indonesia merupakan bahasa

kedua setelah bahasa ibu. Menurut beberapa ahli, pemerolehan bahasa anak di

sekolah tidak berbeda secara signifikan dengan yang diperoleh anak secara alami,

jika penerapan poses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah disajikan dengan

suasana non-formal. Sekolah sedapat mungkin menyediakan lingkungan bahasa

yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Perlunya pengupayaan

pengalaman berbahasa dalam proses pemerolehan harus benar-benar sesuai

dengan konteks berbahasa yang sesungguhnya yang dekat dengan kehidupan

anak.

Robin dalam Stern (1983) dalam Hartati (2006:51) menyebutkan ciri-ciri

pelajar yang baik ketika melakukan proses belajar bahasa yaitu:

1) Ia mau dan menjadi seorang penerka yang baik (dapat menerka


bentuk yang gramatikal dan tidak gramatikal).
2) Suka berkomunikasi.
3) Kadang-kadang tidak malu terhadap kesalahan dan siap
memperbaikinya; belajar setelah berbuat kesalahan
4) Suka mengikuti perkembangan bahasa.
5) Praktis, tidak terlalu teorotis.
6) Mengikuti ujarannya dan membandingkannya dengan ujaran
yang baku, ini baik untuk hafalan.
7) Mengikuti perubahan makna sesuai konteks sosial.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Untuk mengoptimalkan keberhasilan pembelajaran pemerolehan bahasa

anak, Tarigan dalam Hartati (2006:28) menyebutkan bahwa setidaknya ada lima

kemampuan yang hendaknya siswa miliki:

1) Kemampuan memusatkan perhatian agar dapat memahami


bahan simakan secara utuh.
2) Kemampuan menangkap bunyi (kemampuan mendengar).
3) Kemampuan mengingat hal-hal yang dianggap penting dari
bahan simakan.
4) Kemampuan linguistik atau bahasa untuk menafsirkan dan
memahami makna yang terkandung dalam bunyi bahasa.
5) Kemampuan non linguistik seperti pengetahuan atau penga-
laman mengenai materi yang disampaikan.

2. Kosakata dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Anak di SD

Kosakata adalah semua kata yang terdapat dalam suatu bahasa, kekayaan

kata yang dimiliki oleh seorang pembicara atau penulis, kata yang dipakai dalam

suatu bidang ilmu pengetahuan. Daftar kata yang disusun seperti kamus disertai

penjelasan secara singkat dan praktis (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa,

1995:527).

Soedjito (1988:1) juga mendefinisikan arti kosakata yaitu:

a. Semua kata yang terdapat dalam satu bahasa.


b. Kekayaan kata yang dimiliki oleh seorang pembicara atau
penulis;
c. Kata yang dipakai dalam suatu bidang ilmu pengetahuan; dan
d. Daftar kata yang disusun seperti kamus disertai penjelasan
secara singkat dan praktis.

Sesuai dengan definisi di atas, jelaslah bahwa pengusaaan kosakata

merupakan hal yang utama dalam proses pemerolehan suatu bahasa, khususnya

bahasa Indonesia. Kebutuhan akan penguasaan kosakata yang cukup merupakan

hal yang utama bagi siswa dalam meningkatkan keterampilannya dalam

berbahasa.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Catatan Edgar Dale bersama rekan-rekannya dalam Tarigan (1986:5)

terhadap kosakata anak-anak kota ternyata bahwa tiga perempat dari mereka telah

memiliki sekitar seribu lima ratus kata pada bulan Januari dan Februari tahun

pertama mereka masuk sekolah. Mereka mencatat bahwa kebanyakan dari kata-

kata tersebut:

a. Dapat dirasa.
b. Merupakan kosakata setiap hari kebanyakan orang.
c. Perlu pembicaraan hampir setiap kalimat.
d. Telah dialami dan dihayati tidakkan pernah dilupakan.

Dalam perkembangannya, kosakata yang berkembang sangat pesat adalah

kosakata dasar, yang sangat dekat di sekitar anak dan merupakan kata-kata yang

kongkrit (Soenjono, 2000:36).

Kosakata dasar atau basic vocabulary adalah kata-kata yang tidak mudah

berubah atau sedikit sekali memungkinkannya dipungut dari bahasa lain. Yang

termasuk ke dalam kosakata dasar ini telah termasuk:

a. Istilah kekerabatan; misalnya: ayah, ibu, anak, adik, kakak, nenek, kakek,

paman, bibi, menantu, mertua.

b. Nama-nama bagian tubuh; misalnya: kepala, mata, rambut, telinga, hidung,

mulut, bibir, gigi, lidah, pipi, leher, dagu, bahu, tangan, jari, dada, perut,

pinggang, paha, kaki, betis, telapak, punggung, darah nafas.

c. Kata ganti; misalnya: saya, kamu, dia, kami, kita, mereka, itu, sini, situ,

sana.

d. Kata bilangan pokok; misalnnya: satu, dua, tiga, empat, lima.

e. Kata kerja pokok; misalnya: makan, minum, tidur, bangun, berbicara,

melihat, mendengar, menggigit, berjalan, bekerja, menangkap, berlari.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

f. Kata keadaan pokok; misalnya: suka, duka, senang, susah, lapar, kenyang,

haus, sakit, sehat, bersih, kotor, jauh, dekat, cepat, lambat, besar, kecil,

banyak, sedikit,terang, gelap, siang, malam, rajin, malas, kaya, mikin, tua,

muda, hidup, mati.

g. Benda-benda universal; misalnya: tanah, air, api, udara, langit, bumi,

bintang, bulan, matahari, binatang, tumbuh-tumbuhan.

Dan selanjutnya menurut Gentner dalam Soenjono (2000:36) menyatakan

bahwa kosakata dasar yang paling utama dikuasai anak adalah nomina. Pada anak,

nomina secara tipikal merujuk pada benda kongkrit dalam kehidupannya.

Dalam pembelajaran di sekolah, telaah kosakata yang efektif haruslah

beranjak dengan arah yang sama yaitu membimbing siswa dari yang telah

diketahui menuju ke arah yang belum atau tidak diketahui siswa (Tarigan, 1986:2-

3).

Di dalam praktiknya, pengembangan kosakata mengandung pengertian lebih

daripada penambahan kata-kata baru ke dalam perbendaharaan siswa.

Pengembangan kosakata siswa berarti menempatkan konsep-konsep baru dalam

tatanan yang lebih baik atau ke dalam urutan yang sebenarnya (Tarigan, 1986:22).

Guru menolong para siswa untuk melihat persamaan-persamaan dan

perbedaan-perbedaan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Sebagai

contoh, mereka dengan mudah dapat melihat dan mempelajari bahwa penatar dan

petatar berhubungan erat, keduanya nomina; tetapi berbeda dalam makna, karena

dalam pemakaianya, penatar berarti “orang yang menatar”, sedangkan petatar

berarti “orang yang ditatar”. Begitu juga walaupun ada hubungan erat antara

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

petinju dengan meninju, namun jenis katanya berbeda; petinju adalah nomina,

sedangkan meninju adalah verba (Tarigan, 1986:22).

Sesuai hakikatnya pembelajaran bahasa, pembelajaran kosakata tidak diajar

kata-kata lepas atau kalimat-kalimat lepas, tetapi terlibat dalam konteks wacana,

berkaitan dengan mata pelajaran dan berkaitan pula dengan bidang-bidang

tertentu. Sebagai contoh wacana dengan tema laut, maka siswa akan menemukan

beberapa kosakata terkait yaitu: air laut, ikan, nelayan, pohon kelapa dan

sebagainya.

Pelajaran bahasa Indonesia untuk kelas I SD berdasar kurikulum 2004

sekarang ini, kosakata yang harus dikuasai menyangkut wacana tentang

kebersihan, budi pekerti, kegemaran, lingkungan, permainan, dan kesehatan.

Sudah jelas bahwa uraian di atas mencerminkan hakikat pembelajaran

bahasa, yaitu siswa mampu berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis.

Untuk mencapai hal itu siswa perlu di bekali kemampuan penguasaan kosakata

yang memadai. Sebab kalau tidak demikian maka siswa tidak dapat

berkomunikasi secara optimal.

Dengan kata lain, penguasaan kosakata yang memadai akan dapat

meningkatkan kualitas orang seorang dalam menyikapi bahasa. Hal itu selaras

dengan pandangan Dale dalam Tarigan (1986:3) yang memberikan pandangan

tentang pentingnya memahami kosakata sebagai berikut:

a. Kuantitas dan kualitas penguasaan kosakata seseorang


merupakan indeks pribadi yang terbaik bagi perkembangan
mentalnya,
b. Perkembangan kosakata merupakan perkembangan konseptual,
c. Semua pendidikan pada prinsipnya merupakan pengembangan
kosakata,

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

d. Program yang sistematis bagi pengembangan kosakata akan


dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, kemampuan, dan status
sosial,
e. Faktor geografis mempengaruhi perkembangan kosakata, dan
f. Penelaahan kosakata yang efektif hendaknya beranjak dari
kata-kata yang sudah diketahui menuju kata-kata yang belum
atau tidak diketahui.

3. Teka-Teki

Pertanyaan tradisional, di Indonesia lebih dikenal dengan teka-teki, adalah

pertanyaan yang bersifat tradisional dan mempunyai jawaban yang tradisional

pula. Pertanyaan dibuat sedemikian rupa, sehingga jawabannya sukar, bahkan

seringkali juga baru dapat dijawab setelah mengetahui lebih dahulu jawabannya

(Danandjaja, 1984:33).

Sedangan menurut Robert A. Georges dan Alan Dundes dalam Danandjaja

(1984:33) menyatakan bahwa teka-teki adalah “Ungkapan lisan tradisional yang

mengandung satu atau lebih unsur pelukisan (descriptive), sepasang dari padanya

dapat saling bertentangan dan jawabannya (refent) harus diterka”.

Selanjutnya menurut mereka teka-teki dapat digolongkan ke dalam dua

kategori umum, yakni: (1) teka-teki yang tidak bertentangan (non-opposition

riddle), dan (2) teka-teki yang bertentangan (opposition ridle). Pembagian itu

didasarkan ada atau tidaknya pertentangan di antara unsur-unsur pelukisan. Teka-

teki yang tidak pertentangan unsur pelukisnya bersifat harfiah, yakni seperti apa

yang tertulis (literal), atau kiasan (metephorical).

Pada teka-teki yang tidak pertentangan yang bersifat harfiah, jawaban dan

pertanyaannya adalah identik. Sebagai contoh adalah: “Apa yang hidup di

sungai?” yang merupakan topik atau pertanyaan suatu teka-teki; dan referen atau

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

jawabanya adalah “ikan”. Dalam jenis teka-teki ini, baik topik maupun refennya

secara harfiah adalah sama, yaitu ikan.

Keadaan akan menjadi lain pada teka-teki yang tidak bertentangan yang

bersifat kiasan; karena refen dan topik unsur pelukisnya berbeda. Contoh: “ Apa

itu dua baris kuda putih berbaris di atas bukit merah?”adalah topik teka-teki

semacam ini, dengan “sederet gigi di atas gusi” sebagai refennya. Dalam teka-teki

macam ini, topik (kuda) dan refen (gigi) secara harfiah adalah beda. Jika mau juga

dianggap sama, hanya boleh dalam arti metafora saja, karena kedua-duanya

berwarna putih, dan berada di atas benda yang berwarna merah (bukit merah dan

gusi).

Selain itu, masih ada teka-teki golongan lain yang dapat ditambah walaupun

sifatnya agak berlainan, sehingga sebenarnya tidak tidak dapat dimasukkan ke

dalam golongan folklor lisan. Teka-teki ini oleh Brunvand dalam Danandjaja

(1984:42) disebut non-oral riddle atau teka-teki bukan lisan. Jenis teka-teki

semacam ini berbentuk bukan dari kata-kata, melainkan dari gerak isyarat atau

lukisan, yang sedikitnya ada dua macam, yaitu yang disebut rebus dan droodle.

Rebus adalah teka-teki bukan lisan, melainkan berupa sederetan gambar-

gambar. Contohnya dari A.S adalah: “My 4 U”. Jawabannya: My heart

pants for you (hatiku berdetak-detak karena kamu).

Rodoodle adalah teka-teki yang berupa gambar, yang harus diterka isinya.

Sebagai contoh adalah gambar di bawah ini, “Gambar apa ini?”

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Jawabannya “Penjual krupuk dari Jawa.” Jawabanya demikian karena

tukang krupuk dari Jawa menempatkan krupuk-krupuknya di dalam dua buah

drum besar, terbuat dari seng, yang digotong dengan pikulan yang terbuat dari

bambu (Danandjaja, 1984:42-43).

4. Gambar

Di antara media pendidikan, gambar/foto adalah media yang paling umum

dipakai. Dia merupakan bahasa yang umum, yang dapat dimengerti dan dinikmati

dimana-mana. Oleh karena itu, pepatah Cina yang mengatakan bahwa sebuah

gambar berbicara lebih banyak daripada seribu kata (Sadiman, 2006:29).

Beberapa kelebihan media gambar/foto yang lain dijelaskan di bawah ini:

a. Sifatnya konkrit; gambar/foto lebih realistis menunjukan pokok


masalah dibandingkan dengan media verbal semata.
b. Gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu. Tidak
semua benda, objek atau peristiwa dapat dibawa ke kelas, dan
tidak selalu bisa anak-anak dibawa ke objek/peristiwa tersebut.
Air terjun Niagara atau Danau Toba dapat disajikan ke kelas
lewat gambar atau foto. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di
masa lampau, kemarin, atau bahkan semenit yang lalu kadang-
kadang tak dapat ita lihat seperti apa adanya. Gambar atau foto
amat bermanfaat dalam ini.
c. Media/foto dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita. Sel
atau penampang daun yang tak mungkin kita lihat dengan mata
telanjang dapat disajikan dengan jelas dalam bentuk gambar
atau foto.
d. Foto dapat menjelaskan suatu masalah, dalam bidang apa saja
dan untuk usia berapa saja, sehingga dapat mencegah atau
membetulkan kesalahfahaman.
e. Foto harganya murah dan gampang didapat serta digunakan,
tanpa memerlukan peralatan khusus.

Selain kelebihan-kelebihan tersebut, gambar dan foto mempunyai beberapa

kelemahan yaitu:

a. Gambar/foto hanya menekankan persepsi indera mata;

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

b. Gambar/foto benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk


kegiatan pembelajaran;
c. Ukuran sangat terbatas untuk kelompok besar.

Ada enam syarat yang perlu dipenuhi oleh gambar/foto yang baik sehingga

dapat dijadikan sebagai media pendidikan, yaitu:

a. Autentik yaitu secara jujur melukisakan situasi seperti kalau


orang melihat benda sebenarnya.
b. Sederhana yaitu komposisi gambar hendaknya cukup jelas
menunjukkan poin-poin pokok dalam gambar.
c. Ukuran relatif yaitu dapat memperbesar atau memperkecil
objek/benda sebenarnya. Apabila gambar/foto tersebut tentang
benda/objek yang belum dikenal atau pernah dilihat anak maka
sulitlah membayangkan berapa besar benda atau objek tersebut.
Untuk menghindari itu, hendaknya dalam foto tersebut terdapat
sesuatu yang telah dikenal anak-anak sehingga dapat
membantunya membayangkan gambar. Apabila anak belum
pernah melihat ikan paus tentulah sulit membayangkan berapa
besarkah ikan paus tersebut. Dengan pertolongan gambar
manusia disamping gambar ikan tadi, maka siswa dapat
membedakan ukuran ikan dengan manusia.
d. Gambar/foto sebaiknya mengandung gerak atau perbuatan.
Gambar yang baik tidaklah menunjukkan objek dalam keadaan
diam tetapi memperlihatkan Aktivitas tertentu.
e. Gambar yang bagus belum tentu baik untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Walaupun dari segi mutu kurang, gambar karya
siswa sendiri seringkali lebih baik.
f. Tidak setiap gambar yang bagus merupakan media yang bagus.
Sebagai media yang baik, gambar hendaklah bagus dari dari
sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai.

5. Permainan Teka-Teki Bergambar

Dunia anak adalah dunia bermain, melalui bermain anak memperoleh

pelajaran yang mengandung aspek perkembangan kognitif, sosial, emosi dan

perkembangan fisik. Melalui kegiatan bermain dengan berbagai permainan anak

dirangsang untuk berkembang secara umum baik perkembangan berpikir, emosi

maupun sosial. Melalui alat permainan eduatif (APE) anak akan menemui semua

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

unsur pendidikan yang dibutuhkannya, sehingga dapat mengembangkan totalitas

potensi yang dimilikinya (Ismail, 2006:1).

Permainan edukatif diartikan oleh Ismail (2006:1) yaitu:


Suatu kegiatan yang sangat menyenangkan dan dapat merupakan
cara atau alat pendidikan yang bersifat mendidik dan bermanfaat
untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, berpikir serta bergaul
dengan lingkungan atau untuk menguatkan dan menterampilkan
anggota badan si anak, mengembangkan kepribadian, mendekatkan
hubungan antara pengasuh dengan pendidik (anak didik), kemudian
menyalurkan kegiatan anak didik dan sebagainya.

Permainan edukatif juga dapat berarti sebuah bentuk kegiatan yang

dilakukan untuk memperoleh kesenangan atau kepuasan dari cara atau alat

pendidikan yang digunakan dalam kegiatan bermain, yang disadari atau tidak

memiliki muatan pendidikan yang dapat bermanfaat dalam mengembangkan diri

secara seutuhnya. Artinya, permainan edukatif merupakan sebuah bentuk kegiatan

mendidik yang dilakukan dengan menggunakan cara atau alat permainan yang

bersifat mendidik (Ismail, 2006:1-2)

Pada dasarnya bermain pada anak-anak ditujukan untuk mengembangkan

tiga kemampuan pokok, yaitu:

a. Kemampuan fisik-motorik (psikomotor)

Dengan bergerak, seperti berlari, atau melompat, seorang anak akan terlatih

motorik kasarnya, sehingga memiliki sisitem perototan yang terbentuk

secara baik dan sehat. Kemampuan motorik halusnya akan terlatih dengan

permainan puzzle, membedakan bentuk besar dan kecil, dan sebagainya.

b. Kemampuan sosial-emosional (afektif)

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Anak melakukan aktivitas bermain karena ia merasa senang untuk

melakukannya. Pada tahap-tahap awal perkembangannya, orang tua

merupakan kawan utama dalam bermain. Pergeseran akan terjadi seiring

dengan bertambahnya umur anak, terutama setelah memasuki usia sekolah.

Di sekolah, anak akan mengalami proses sosialisasi, bergaul dengan kawan

sebaya dan dengan gurunya.

c. Kemampuan kecerdasan (kognisi)

Dalam proses bermain, anak juga bisa diperkenalkan dengan perbenda-

haraan huruf, angka, kata, bahasa, komunikasi timbal-balik, maupun

mengenal objek-objek tertentu, misalnya bentuk (besar atau kecil) dan rasa

(manis, asin, pahit, atau asam).

Ismail (2006:3) menyatakan bahwa APE ternyata tidak hanya dapat

ditujukan untuk memperoleh kemampuan di atas saja, tetapi berkembang lebih

luas lagi, yaitu:

a. Untuk melatih moral dan rasa keagamaan (ethics-religious)


b. Untuk mengembangkan kemampuan berbahasa (language)
c. Untuk mengembangkan kemampuan berpikir (cognition)
d. Untuk melatih kemampuan mengelola emosi (emotional)
e. Untuk mengembangkan kemampuan fisik (motorics)
f. Untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi
(intrapersonal)
g. Untuk mengembangkan self concept dan kemandirian
(interpersonal)
h. Untuk mengembangkan kreativitas (creativity)
i. Untuk mengembangkan kemampuan alamiah (natural)
j. Untuk mengembangkan kemampuan berkesenian (art)

Permainan edukasi jika ditinjau sebagai sebuah aktivitas, dapat dibagi atas

dua pengertian, yaitu permainan sebagai sebuah aktivitas bermain yang murni

mencari kesenangan tanpa mencari menang atau kalah. Dan permainan diartikan

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

sebagai aktivitas bermain yang dilakukan dalam rangka mencari kesenangan dan

kepuasan, namun ditandai pencarian menang-kalah dalam kata lainnya kompetisi

(Ismail, 2006:26).

Banyak pengajar memakai sistem permainan kompetisi dalam pengajaran

dan penilaian peserta didik. Dalam model pembelajaran kompetisi, siswa belajar

dalam suasana persaingan. Tidak jarang pula, guru memakai imbalan dan ganjaran

sebagai sarana untuk memotivasi siswa dalam memenangkan kompetisi dengan

sesama pembelajar (Lie, 2004:23). Teknik imbalan dan ganjaran yang didasari

oleh teori behaviorisme atau stimulus dan respon ini banyak mewarnai sistem

penilaian hasil belajar. Tujuan utama evaluasi dalam model pembelajaran

kompetisi adalah menempatkan anak didik dalam urutan mulai dari yang paling

baik sampai dengan yang paling jelek. Pola penilaian biasanya menempatkan

sebagian besar anak didik dalam kategori rata-rata atau biasa-biasa saja. Mereka

tidak pernah merasakan kebanggan sebagai anak berprestasi.

Lie (2004:24) juga menambahkan bahwa secara positif, model kompetisi

dalam permainan dapat menimbulkan rasa cemas yang bisa memicu siswa untuk

meningkatkan kegiatan belajar mereka. Namun demikian, rasa cemas yang

berlebihan justru bias merusak motivasi. Selain itu, model kompetisi juga

mempunyai dampak negatif yang perlu diwaspadai. Model pembelajaran

kompetisi menciptakan suasana permusuhan di kelas. Untuk bias berhasil dalam

sistem ini, seorang anak harus mengalahkan teman-teman sekelasnya

Permainan teka-teki bergambar yang dirancang penulis yaitu

mengembangkan pola permainan kompetisi yang dilakukan dalam evaluasi pada

pendekatan kooperatif tipe Team Game Turnamen (TGT) rancang Slavin.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Menurut Slavin (2009:166) pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari 5

komponen utama, yaitu: presentasi di kelas, tim (kelompok), game (permainan),

turnamen (pertandingan), dan rekognisi tim (perhargaan kelompok). Prosedur

pelaksanaan TGT dimulai dari aktivitas guru dalam menyampaikan pelajaran,

kemudian siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua

anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya diadakan turnamen, di mana

siswa memainkan Game akademik dengan anggota tim lain untuk

menyumbangkan poin bagi skor timnya.

Namun, dalam rancangan permainan teka-teki bergambar, ada beberapa poin

dari komponen TGT yang tidak digunakan. Lebih lanjut, dijelaskan mengenai

langkah-langkah permainan teka-teki bergambar modifikasi TGT dari Slavin,

sebagai berikut:

a. Presentasi kelas

Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas,

biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, dan

diskusi yang dipimpin guru. Disamping itu, guru juga menyampaikan

tujuan, tugas, atau kegiatan yang harus dilakukan siswa, dan memberikan

motivasi. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar

memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan

membantu siswa pada saat permainan berlangsung karena skor permainan

akan menentukan skor kelompok.

b. Persiapan permainan

Guru mempersiapkan peraturan permainan dan lembar teka-teki bergambar

yang berhubungan dengan materi. Kemudian guru mempersiapkan alat-alat

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

untuk permainan, yaitu: kartu permainan yang berupa kartu bernomor yang

setiap kartu mempunyai tiga petunjuk lisan sebagai pertanyaan dari teka-teki

bergambar, skor, dan jawaban. Siswa bermain secara kelompok dengan

pembagian anggota kolompok diperoleh berdasarkan hasil ujian semester I

yang lalu.

c. Permainan teka-teki bergambar

Permainan terdiri dari teka-teki bergambar yang tidak bertentangan,

dirancang untuk menguji pengetahuan siswa terhadap kosakata dalam satu

tema tertentu. Setiap siswa dalam tiap kelompok mendapat kesempatan yang

sama untuk mengemukakan pendapat dari jawaban teka-teki. Apabila tiap

anggota dalam satu kelompok tidak bisa menjawab pertanyaannya, maka

teka-teki tersebut dilempar kepada kelompok lain searah jarum jam.

Kelompok yang menjawab benar teka-teki tersebut akan mendapat skor

yang telah tertera dibalik kartu bernomor. Skor ini nantinya dikumpulkan

kelompok untuk menentukan skor akhir kelompoknya. Pemilihan kartu

bernomor akan digilir pada tiap-tiap kelompok secara bergantian searah

jarum jam, sampai habis jatah nomornya.

d. Penghargaan tim

Penghargaan diberikan kepada tim yang menang atau mendapat skor

tertinggi, skor tersebut pada akhirnya akan dijadikan sebagai tambahan nilai

tugas siswa. Selain itu diberikan pula hadiah (reward) sebagai motivasi

belajar.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

6. Tinjauan Aktivitas Guru

Proses belajar-mengajar merupakan suatu proses yang mengandung

serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang

berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.

Usman (2007:4) menyatakan bahwa:

Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu
merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar-
mengajar. Proses dalam pengertiannya di sini merupakan interaksi
semua komponen atau unsur yang terdapat dalam interaksi edukatif.

Sadiman (2011:13) juga menambahkan bahwa proses edukatif paling tidak

memiliki beberapa unsur yaitu:

a. Tujuan yang ingin dicapai;


b. Ada bahan/pesan yang menjadi isi interaksi;
c. Ada pelajar yang aktif mengalami;
d. Ada guru yang melaksanakan;
e. Ada metode untuk mencapai tujuan;
f. Ada situasi yang memungkinkan proses belajar-mengajar
berjalan dengan baik;
g. Ada penilaian terhadap hasil interaksi.

Dari pendapat di atas jelaslah bahwa dalam situasi edukatif, tugas dan

tanggung jawab guru sangat luas. Semua unsur di atas harus difikirkan,

direncanakan, dilaksanakan dan dievalusi oleh guru. Tetapi dari sekian banyak

tugas yang diembannya, tugas mengajar di depan kelaslah yang merupakan tugas

yang sangat penting. Demikian pentingnya sehingga berhasil/tidaknya seorang

guru sering diukur hanya dari aspek ini saja. Guru akan dikatakan pandai kalau

dapat mengajar di muka kelas dengan baik (Sadiman, 2011:13)

Dalam melaksanakan tugasnya di depan kelas, menurut Usman (2007:74)

setidaknya ada beberapa keterampilan dasar mengajar yang harus guru miliki

dalam proses belajar-mengajar berupa keterampilan menjelaskan, bertanya,

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

menggunakan variasi, memberi penguatan, membuka dan menutup pelajaran,

mengajar kelompok kecil dan perseorangan, mengelola kelas, membimbing

diskusi kelompok kecil.

Penjabaran dari keterampilan tersebut sebagai berikut:

a. Keterampilan Membuka Pelajaran

Deskriptor:

1) Menarik perhatian siswa untuk menertibkan suasana kelas.

2) Menimbulkan motivasi belajar untuk menarik minat siswa untuk

belajar.

3) Memeriksa kebersihan kelas.

4) Memberikan acuan pembelajaran.

5) Membuat kaitan antara materi-materi yang akan dipelajari dengan

pengalaman dan pengetahuan yang telah diketahuai siswa.

b. Kemampuan bertanya

Deskriptor:

1) Menggunakan pertanyaan secara jelas, singkat dan suara yang jelas.

2) Memberikan acuan

3) Pemindahan giliran.

4) Penyebaran.

5) Memberikan waktu berfikir.

6) Pemberian tuntunan.

c. Keterampilan Memberi Penguatan

Deskriptor:

1) Penguatan verbal kepada individu atau kelomok.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

2) Penguatan nonverbal berupa: gerak inyarat, pendekatan, sentuhan dan

simbol/benda.

d. Keterampilan Mengadakan Variasi

Deskriptor:

1) Variasi dalam cara mengajar berupa: variasi suara, pemusatan

perhatian, gerak badan mimik, pergantian posisi di dalam kelas.

2) Variasi dalam menggunakan media dan alat peraga.

3) Pola interaksi dan kegiatan siswa.

e. Keterampilan Menjelaskan

Deskriptor:

1) Kejelasan.

2) Penggunaan contoh, ilustrasi dan media.

3) Pemberian tekanan.

4) Penggunaan balikan.

f. Keterampilan Mengelola Kelas

Deskriptor:

1) Menciptaakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dengan

cara: memberikan sikap tanggap, memberikan perhatian, memusatkan

perhatian kelompok, memberikan petunjuk yang jelas, menegur dan

memberi penguatan.

2) Mengembalikan kondisi belajar uang optimal seperti memodifikasi

tingkah laku dan menemukan serta memecahkan tingkah laku yang

menimbulkan masalah.

g. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Deskriptor:

1) Mengadakan pendekatan secara pribadi.

2) Keterampilan mengorganisasi.

h. Menutup pelajaran

Deskriptor:

1) Guru membuat rangkuman materi pembelajaran.

2) Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya setelah materi

disampaikan.

3) Memberi penugasan agar siswa memberi kesimpulan materi yang telah

disampaikan.

4) Memberikan tindak lanjut berdasarkan hasil evaluasi.

5) Memberikan penugasan kepada siswa berupa pekerjaan rumah.

7. Tinjauan Aktivitas Siswa

Hakekat belajar bahasa adalah siswa dituntut aktif dalam belajar

berkomunikasi. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan siswa dalam

berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan baik secara lisan maupun

tulisan dapat meningkat jika aktivitas siswa dapat ditingkatkan.

Sadiman (2011:100) menjelaskan maksud aktivitas itu berupa kegiatan fisik

dan mental. Dalam kegiatan belajar bahasa Indonesia, kedua kegiatan itu harus

selalu berkait. Sebagai contoh seorang ibu sedang belajar dengan membaca.

Secara fisik kelihatan bahwa orang tadi membaca menghadapi suatu buku, tetapi

mungkin pikiran dan sikap mentalnya tidak menuju ke buku yang dibaca. Itu

menunjukkan tidak ada keserasian antara aktivitas fisik dengan aktivitas mental.

Kalau sudah demikian maka pembelajaran tidak akan optimal. Begitu juga

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

sebaliknya kalau yang aktif itu hanya mentalnya juga kurang bemanfaat. Misalnya

ada seseorang yang berfikir tentang sesuatu, tentang ini, tentang itu atau renungan

ide-ide yang perlu diketahui oleh masyarakat, tetapi kalau tidak disertai dengan

perbuatan/aktivitas fisik misalnya dituangkan dalam bentuk retorika kata ataupun

dituangkan dalam bentuk tulisan yang dilihatkan kepada orang lain maka juga

tidak ada gunanya.

Banyak macam aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa baik yang

terprogram maupun tidak. Maksudnya aktivitas yang disusun dengan perencanaan

yang baik ataupun yang sudah dilakukan oleh siswa itu sendiri, contohnya

aktivitas berjalan-jalan di kelas, membaca buku dan lainnya.

Diedirch dalam Sadiman (2011:100) membuat suatu daftar mengenai

aktivitas yang berisi 177 macam kegiatan yang dapat di golongkan dalam

kelompok-kelompok sebagai berikut:

a. Visual Activities (aktivitas melihat) yang termasuk didalamnya


membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan.
b. Oral Activities (aktivitas membaca) seperti menyatakan,
merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan
pendapat, mengadakan wawancara, diskusi dan interupsi.
c. Listening Activities (aktivitas mendengar), seperti
mendengarkan uraian, percakapan diskusi musik dan pidato.
d. Writing Activities (aktivitas menulis), seperti menulis cerita,
karangan, laporan, angket, menyalin.
e. Drawing Activities (aktivitas menggambar), seperti
menggambar membuat grafik, peta dan diagram.
f. Motorik Activities (aktivitas yang melibatkan mental), yang
termasuk didalamnya antara lain melakukan percobaan,
membuat kontruksi model, mereparasi, bermain, berkebun dan
berternak.
g. Mental Activities (aktivitas mental), yaitu menanggapi,
mengingat, memecahkan soal, menganalisa, membuat
hubungan, mengambil keputusan.
h. Emosional Activities (aktivitas emosional), seperti menaruh
minat, merasa bosan, gembira, bergairah, berani, gugup dan
tenang.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Dari kutipan di atas, terlihat bahwa aktivitas yang dapat dilakukan siswa di

sekolah cukup banyak dan kompleks serta bervariasi. Jika semua aktivitas tersebut

dapat diciptakan di kelas tentu suasana akan terasa lebih menyenangkan dan tidak

membosankan. Tetapi karena waktu yang tersedia pada peneliti ini sangat

terbatas, maka aktivitas yang akan diamati hanya bebepara aktivitas yang ada di

atas, antara lain oral, writing, emosional dan visual yang terdapat pada tabel di

bawah ini. Dengan komponen aktivitas ini, akan memudahkan observer untuk

mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

Tabel 2: Aktivitas Siswa Yang Akan Diamati


Jenis aktivitas Aktivitas yang diamati
Aktivitas visual 1) Siswa memperhatikan penjelasan dan gambar
dari guru.
Aktivitas oral 2) Menyatakan dan mengeluarkan pendapat dari
apa yang didengar dan dilihat
Aktivitas Listening 3) Adanya komunikasi timbal balik antara guru
dengan siswa.
Ativitas writing 4) Menyalin dan menulis materi pelajaran.

Ativitas emosional 5) Bersemangat, gembira dan bergairah dalam


melaksanakan aktivitas.

B. Kerangka Konseptual

Berdasarkan deskripsi teoritis yang dikemukakan di atas, lebih lanjut akan

diajukan kerangka berpikir dan model hubungan antara masing-masing variabel

yang dilibatkan dalam penelitian ini. Dalam proses belajar-mengajar kosakata

bahasa Indonesia diperlukan usaha atau metode untuk mendapatkan hasil belajar

yang baik, sehingga menimbulkan motivasi siswa untuk belajar.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan permainan teka-teki

bergambar kepada siswa sehingga dapat menimbulkan keaktifan bagi peserta

didik dalam belajar. Materi ajar dengan pola kompetisi permainan edukasi yang

dilakukan secara bersama-sama dapat meningkatkan kegairahan belajar karena

proses belajar sambil bermain cocok diterapkan pada siswa.

Aktivitas dan hasil belajar yang diperoleh siswa akan lebih baik apabila

didukung oleh suatu pendekatan yang sangat baik. Hal ini didasarkan pada

pemikiran bahwa apabila kreativitas belajar siswa tinggi dan sesuai dengan

perkembangan kebahasaanya, maka belajar bukan suatu kegiatan yang

membosankan bagi mereka. Dengan bekal rasa senang dalam belajar, diharapkan

dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan latar belakang masalah, kajian pustaka, dan kerangka berfikir di

atas, maka dapat dibuat hipotesis tindakan sebagai berikut:

1. Melalui permainan teka-teki bergambar dapat meningkatkan aktivitas belajar

kosakata bahasa Indonesia siswa kelas I SDN 01 Ulak Selatan Karang

Padang.

2. Melalui permainan teka-teki bergambar dapat meningkatkan hasil belajar

kosakata bahasa Indonesia siswa kelas I SDN 01 Ulak Selatan Karang

Padang.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Pada umumnya penelitian diartikan sebagai upaya menemukan pengetahuan.

Dalam pengembangnya penelitian didefinisikan sebagai sebuah upaya

menemukan jawaban secara ilmiah dari sebuah masalah yang sedang dihadapi

oleh manusia, namun pengertian penelitian bagi setiap orang akan berbeda.

Perbedaan itu tergantung dengan beberapa faktor seperti: latar belakang

pengetahuan seseorang, kehidupan seseorang, dan pengalaman yang dimiliki oleh

seseorang tersebut.

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu jenis

penelitian yang mengacu kepada tindakan-tindakan apa-saja yang dilakukan guru

secara langsung untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas.

Wardani (2003:1.4) menyatakan bahwa:

Penelitian tindakan kelas adalah penelitian dalam bidang sosial, yang


merupakan refleksi diri sebagai metode utama, dilakukan oleh orang
yang terlibat di dalamnya, serta bertujuan untuk melakukan
perbaikan dalam berbagai aspek

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dan penelitian

kuantitatif. Penelitian kualitatif ini bersifat deskriptif dan data yang disajikan

berupa informasi berbentuk kalimat yang dapat memberikan gambaran tentang

aktivitas siswa yang mengikuti pembelajaran. Sedangkan penelitian kuantitatif

pada dasarnya diperoleh melalui nilai hasil belajar siswa yang dapat dianalisis

secara deskriptif menggunakan statistik deskriptif untuk mengolah karateristik

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

data yang berkaitan dengan menjumlah, mencari rata-rata dan mencari persentase

yang diikuti dengan alur berpikirnya.

Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilaksanakan pada siswa kelas I SDN 01

Ulak Karang Selatan Padang pada mata pelajaran bahasa Indonesia melalui

permainan teka-teki bergambar. Penelitian ini dilakukan secara kolaboratif dan

partisipan karena pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini (khususnya dalam

pengamatannya) melibatkan guru kelas I SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang

dan penulis bertindak langsung sebagai guru atau lebih dikenal dengan guru

peneliti yang melaksanakan tindakan. Kemudian hasilnya dianalisis secara

kualitatif dan kuantitatif.

B. Lokasi dan Sabjek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang pada

semester II tahun ajaran 2010/2011. Sebagai subjek penelitian siswa kelas 1 SDN

01 Ulak Karang Selatan Padang tahun pelajaran 2010/2011, dengan jumlah siswa

35 orang, 16 orang laki-laki dan 19 orang perempuan.

C. Prosedur Penelitian

Penelitian dilakukan dengan mengacu pada disain Wardani, dkk (2003:2.4)

yang terdiri dari empat komponen yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan,

observasi/pengamatan dan refleksi.

Penelitian ini direncanakan akan dilakukan dalam beberapa siklus, yaitu satu

siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Seandainya indikator keberhasilan pada siklus

I belum mencapai sasaran dan tujuan, maka penelitian dilanjutkan pada siklus II.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Pada siklus II fokus dan tindakan adalah memperbaiki permasalahan yang muncul

pada siklus I. Apabila kriteria keberhasilan pada siklus I mencapai sasaran,

penelitian tetap dilanjutkan pada siklus II dengan materi yang baru untuk melihat

apakah kriteria keberhasilan yang dicapai lebih baik pada siklus I.

Adapun rincian kegiatan dalam tiap siklus adalah sebagai berikut:

1. Perencanaan

Sesuai dengan rumusan masalah studi pendahuluan, peneliti membuat

rencana tindakan yang akan dilakukan. Adapun rumusan perencanaannya sebagai

berikut:

a. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tematik.

b. Menyusun lembar teka-teki bergambar

c. Membuat kartu bernomor.

d. Menyusun soal lisan yang berjenjang sesuai dengan lembar teka-teki yang

sudah disusun.

e. Membuat peraturan permainan.

f. Menyiapkan pedoman observasi pengamatan terhadap aktivitas guru.

g. Menyiapkan pedoman observasi pengamatan terhadap aktivitas guru.

h. Membentuk kelompok siswa dengan mengidentifikasi tingkat kemam-

puannya sesuai dengan hasil ujian semester sebelumnya.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

2. Tindakan

Sesuai dengan perancanaan di atas, proses pembelajaran berlangsung sesuai

dengan tema yang terdapat dalam SK yang ada. Dengan menggabungkan

beberapa mata pelajaran dalam satu kali pertemuan, guru menggunakan teka-teki

bergambar sebagai permainan kata. Siswa sebagai subjek permainan berperan

aktif dalam pembelajaran. Kegiatan pembelajarannya dilakukan seperti kegiatan

berikut:

a. Presentasi kelas

Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi pelajaran yang

dilakukan dengan ceramah dan diskusi. Dengan menggabungkan beberapa mata

pelajaran ke dalam satu tema, guru menjelaskan materi secara termatik tanpa

memisah-misahkan materi setiap mata pelajaran.

b. Persiapan permainan

Siswa dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan kemampuannya (hasil

ujian siswa pada ujian semester I mata pelajaran bahasa Indonesia). Keempat

kelompok tersebut diberi nama kelompok yang akan melaksanakan permainan

teka-teki bergambar seputar kosakata dalam tema tertentu (tema lingkungan).

Semua siswa diberikan lembar teka-teki bergambar yang akan mereka isi.

Permainan disajikan dengan menggunakan kartu bernomor sebagai pengatur alur

kegiatan. Setiap satu kartu bernomor terdapat petunjuk lisan yang memiliki tiga

jenjang kesukaran yang digunakan sebagai petunjuk siswa untuk menjawab teka-

teki bergambar. Soal disampaikan guru secara lisan dengan jenjang kesukaran

soal yang berbeda.

Selanjutnya guru menyampaikan peraturan permainan berupa:

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

1) Permainan dibagi atas dua tahapan yaitu teka-teki wajib dan teka-teki

rebutan.

2) Pada teka-teki wajib, setiap kelompok diberikan kesempatan untuk

menjawab satu teka-teki. Jadi teknisnya, pada saat kelompok satu diberikan

teka-teki wajib, maka siswa di kelompok lain tidak boleh bersuara dan ikut

menjawab teka-teki tersebut. Aturan tersebut juga berlaku untuk kelompok

berikutnya.

3) Pada teka-teki rebutan, siswa yang pertama mengancungkan tanganya dan

menjawab benar teka-teki tersebut berhak mendapatkan poin untuk

kelompoknya.

4) Guru hanya memberikan tiga buah petunjuk mengenai teka-teki bergambar

yang akan siswa jawab.

c. Permainan teka-teki bergambar

Siswa duduk berdasarkan kelompok yang sudah ditentukan. Diawali dengan

teka-teki wajib. Perwakilan siswa dari kelompok pertama mengambil satu kartu

bernomor ke depan kelas. Kelompok pertama diberikan tiga buah petunjuk lisan

yang memudahkannya menjawab teka-teki bergambar (sesuai dengan nomor

kartu). Semua siswa dalam kelompok tersebut memiliki kesempatan yang sama

untuk mengemukakan pendapatnya. Kelompok pertama memperoleh poin jika

dapat menjawab teka-teki tersebut. Apabila semua petunjuk sudah dibacakan

tetapi semua siswa yang berada di kelompok pertama tidak bisa menjawab maka

teka-teki tersebut diberikan kepada kelompok di sebelahnya searah jarum jam dan

seterusnya. Selanjutnya kesempatan diberikan kepada kelompok dua, tiga dan

empat.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Sedangkan teka-teki rebutan, semua siswa dari setiapkelompok harus

bersiap-siap untuk mengancungkan tangannya mencoba menjawab beberapa teka-

teki rebutan yang dibacakan guru. Siswa yang paling pertama dan benar

menjawab teka-teki tersebut berhak mendapatkan poin yang tertera pada kartu

bernomor.

d. Penghargaan tim

Tim yang menjawab benar teka-teki yang disampaikan guru, maka

mendapat skor yang telah tertera dibalik kartu bernomor. Skor ini nantinya

dikumpulkan tim untuk menentukan skor akhir tim.

Penghargaan diberikan kepada tim yang menang atau mendapat skor

tertinggi, skor tersebut pada akhirnya akan dijadikan sebagai tambahan nilai tugas

siswa. Selain itu diberikan pula hadiah (reward) sebagai motivasi belajar. Siswa

yang sedikit mengumpulkan nilai diberi hukuman bernyanyi ke depan kelas.

3. Pengamatan

Kegiatan pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan

tindakan. Data yang dikumpulkan pada tahap ini adalah tindakan perilaku yang

dimunculkan siswa pada setiap pembelajaran dan pengaruhnya dalam proses

pembelajaran tersebut.

Dalam melakukan pengamatan/observasi dan evaluasi, penulis bekerjasama

dengan guru kelas I SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang untuk mengamati

semua aktivitas penulis (pengajar) dan siswa selama proses belajar mengajar. Hal

yang menjadi fokus pengamatan adalah kesesuaian tindakan dengan perencanaan

yang telah dibuat.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

4. Refleksi

Dengan mengevaluasi kesesuaian tindakan dengan perencanaan yang telah

dibuat, guru dan penulis melakukan diskusi hasil pengamatan pada siklus I untuk

menetapkan berhasil atau tidaknya tindakan pada sisklus I. Hasil evaluasi pada

siklus I dijadikan sebagai pedoman untuk pembenahan dan perbaikan pada

tindakan yang dilakukan pada siklus selanjutnya jika terdapat kekurangan di

sisklus sebelumnya.

D. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan pada penelitian ini adalah apabila persentase aktivitas

siswa dalam pembelajaran sudah masuk dalam kategori baik dan sangat baik

(>60%). Siswa dikatakan tuntas belajar apabila telah mencapai acuan standar

kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah tempat

penelitian yaitu 65. Ketuntasan belajar secara klasikal apabila sudah mencapai

≥80% dan rata-rata hasil belajar >75.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen data pada penelitian ini adalah:

1. Lembar Observasi

Pengamatan yang dilakukan observer yaitu untuk mengetahui

perkembangan aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

Kesesuaian tindakan dengan perencanaan yang telah dibuat, dicatat pada lembar

observasi oleh observer. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

lembar aktivitas guru dan lembar aktivitas siswa. Untuk masing-masing diuraikan

sebagai berikut:

a. Lembar aktivitas guru berisi gambaran tentang tindakan yang dilakukan

guru yang terdiri dari tiga aspek yng dimati yaitu:

1) Kegiatan pendahuluan terdiri atas kegiatan: berdo’a dan mengambil absen,

mengkondisikan siswa untuk belajar, apersepsi dan menyampaikan tujuan

pembelajaran.

2) Kegiatan inti terdiri atas kegiatan: tahap Presentasi kelas, persiapan

permainan, pembelajaran dalam pertandingan dan penghargaan tim.

3) Kegiatan penutup terdiri atas kegiatan memberikan tugas rumah dan

berdo’a.

b. Lembar aktivitas siswa berupa seluruh bentuk interaksi yang diperlihatkan

siswa dalam satuan siklus sehingga menghasilkan pembelajran yang aktif

dan kreatif.

2. Tes Hasil Belajar

Tes hasil belajar digunakan untuk mengetahui capaian indikator yang sudah

ditetapkan dalam RPP pada setiap siklus tindakan. Dengan pemberian tes, kita

dapat melihat peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan permainan

teka-teki bergambar. Adapun langkah-langkah dalam penyusunan tes hasil belajar

adalah sebagai berikut:

a. Membuat kisi-kisi soal (Kisi-kisi soal terlampir)

b. Menyusun soal sesuai dengan kisi-kisi yang telah dibuat. (soal tes terlampir)

c. Menvalidasi tes. Soal tes hasil belajar divalidasi oleh guru kelas I SDN 01

Ulak Karang Selatan Padang.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

d. Diujikan pada kelas yang diteliti.

F. Teknik analisis Data

Pada dasarnya ada dua data pokok yang dianalisis dalam penelitian ini, yaitu

data proses dan data hasil. Data proses berhubungan dengan aktivitas siswa dan

aktivitas guru dalam pembelajaran dan data hasil berhubungan dengan hasil

belajar siswa.

1. Analisis Lembar Observasi Aktivitas Guru

Analisis data pengelolaan pembelajaran oleh guru adalah data hasil

observasi aktivitas guru yang digunakan untuk melihat proses dan perkembangan

guru dalam mengelola pembelajaran yang terjadi selama pembelajaran ber-

langsung.

Hasil observasi dianalisis dengan metode deskriptif. Tiap item dinilai

dengan salah satu kategori Baik, Cukup atau Kurang. Setiap kategori diberi poin

yang berbeda, kategori Baik diberi poin 3, Cukup diberi poin, 2 dan Kurang diberi

poin 1. Selanjutnya jumlah poin dihitung dan dikalkulasikan untuk mendapatkan

persentase aktifitas guru.

Jumlah skor guru


P= x100% (Desfitri, 2008:40)
Skor Maksimal

Skor maksimal tiap-tiap variabel tahap pembelajaran = 3

Total skor maksimal = 42

Kriteria taraf keberhasilan:

80% - 100% = Sangat baik

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

70% - 79% = Baik

60% - 69% = Cukup

< 59% = Kurang

2. Analisis Lembar Observasi Aktivitas Siswa

Data yang diperoleh dalam pengamatan akan dianalisis dengan

menggunakan data kualitatif dan kuantitatif yang mengacu kepada teknik

pengumpulan dan analisis data penelitian kualitatif yang dirancang oleh Sanafiah

(dalam Burhan, 2003:70). Tahapan analisis data tersebut dapat diuraikan sebagai

berikut:

a. Menelaah data yang telah terkumpul baik melalui observasi dan pencatatan

dengan menggunakan proses transkrip hasil pengamatan, penyeleksian, dan

pemilihan data. Hal ini misalnya mengelompokkan data pada siklus I, dan

siklus II. Kegiatan menelaah data dilaksanakan sejak awal.

b. Reduksi data, meliputi pengkategorian dan pengklasifikasian data. Semua

data yang terkumpul diseleksi dan dikelompokkan sesuai dengan pusatnya.

c. Menyajikan data dilakukan dengan cara mengorganisir informasi yang telah

direduksi. data tersebut mula-mula disajikan terpisah, tetapi setelah tindakan

terakhir akan dilakukan reduksi data. keseluruhan data tindakan akan

dirangkum dan disajikan secara terpadu sehingga diperoleh sajian tunggal

berdasarkan fokus pembelajaran kosakata bahasa Indonesia melalui

permainan teka-teki bergambar.

d. Kesimpulan, bisa berbentuk sketsa, sinopsis, tabel, atau bentuk-bentuk lain.

Hal itu sangat diperlukan untuk memudahkan upaya pemaparan dan

penegasan kesimpulan.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Analisis data dilakukan terhadap data yang telah direduksi baik

perencanaan, pelaksanaan, dan data evaluasi secara terpisah-pisah dengan tujuan

menemukan informasi yang spesifik dan terfokus pada proses pembelajaran dan

penghambat pembelajaran.

Hasil analisis dalam peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran bahasa

Indonesia melalui permainan teka-teki bergambar pada kelas I SDN 01 Ulak

Karang Selatan Padang dapat dikatakan berhasil apabila waktu pembelajaran

berlangsung siswa melaksanakan aktivitas dalam pembelajaran bahasa Indonesia,

yaitu: 1) memperhatikan penjelasan dan gambar yang disajikan guru, 2)

menyatakan dan mengeluarkan pendapat dari apa yang dilihatnya dan didengar, 3)

adanya komunikasi timbal balik antara guru dengan siswa, 4) siswa menyalin dan

menulis materi pelajaran, 5) bersemangat, gembira dan bergairah dalam

melaksanakan aktivitas. Semuanya ditetapkan persentase indikator keberhasilan

yaitu mencapai 75%.

Sedangkan model analisis data kuantitatif terhadap aktivitas siswa dengan

menggunakan persentase yang didapat melalui lembar observasi siswa, untuk

melihat proses dan perkembangan aktivitas yang terjadi selama pembelajaran

berlangsung.

P% = Jumlah siswa yang melakukan indikator x100%


Jumlah siswa seluruhnya
Keterangan:

P% = persentase siswa yang aktif dalam indikator

Penilaian aktivitas siswa menurut Dimyati dan Mudjono (2006:125)

menggunakan pedoman sebagai berikut:

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

1% - 25% = sedikit sekali

26% - 50% = sedikit

51% - 75% = banyak

76% - 100% = banyak sekali

Rata-rata persentase aktivitas siswa dari satu siklus yang terdiri dari dua

pertemuan dibanjhkjuyudingkan dengan rata-rata persentase pada siklus

berikutnya. Jika rata-rata persentase tersebut telah meningkat 25%, maka baru

dikatakan aktivitas siswa meningkat.

3. Tes hasil belajar

a. Rata-rata Hasil Belajar

Pada akhir pembelajaran, diharapkan siswa memperoleh tes hasil belajar

atau ulangan harian (UH) mendapatkan nilai rata-rata melebihi KKM yang telah

ditetapkan di sekolah tersebut yaitu 65.

Analisis tes hasil belajar dengan statistik deskriptif dapat dihitung dengan

rumus oleh Desfitri, dkk (2008:43):

Keterangan:

= nilai rata-rata

= jumlah nilai seluruh siswa

N = jumlah siswa

b. Ketuntasan Belajar

TB = S x 100% (Desfitri, 2008:43)


N
Keterangan :

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

TB = Tuntas Belajar

S = Jumlah siswa yang mencapai tuntas

N = Jumlah seluruh siswa

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Penelitian ini dilaksanakan di SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang dengan

subjek penelitian siswa kelas I terdiri dari 36 orang. Pengumpulan data penelitian

dilakukan dengan pelaksanaan permainan teka-teki bergambar yang dilaksanakan

sebanyak dua siklus, Siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan dengan alokasi

waktu 4 x 35 menit. Pertemuan pertama siklus I dilaksanakan pada tanggal 30

April 2011 dan pertemuan kedua dan tes dilaksanakan pada tanggal 03 Mei 2011.

Siklus II juga dilaksanakan dua kali pertemuan dengan alokasi waktu 4 x 35

menit. Pertemuan pertama siklus II dilaksanakan pada 07 Mei 2011 dan

pertemuan kedua sekaligus pemberian tes pada 10 Mei 2011.

Fokus penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di SDN 01 Ulak Karang

Selatan Padang yaitu mengamati proses pembelajaran kosakata bahasa Indonesia

pada siswa kelas I SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang yang kurang optimal.

Indikatornya terlihat dari beberapa siswa melakukan aktivitas lain saat guru

menjelaskan materi pelajaran. Hal itu berdampak pada hasil belajar siswa yang

kurang baik. Nilai siswa pada semester I tahun pelajaran 2010-2011 dengan rata-

rata 6,8 dan masih terdapat 34% siswa memperoleh nilai di bawah KKM sekolah

6,5.

Pengumpulan data penelitian ini diperoleh dari tinjauan aktivitas siswa

dalam belajar, aktivitas guru dalam mengajar dan hasil belajar siswa. Pelaksanaan

pengamatan dilakukan observer bertujuan untuk mengumpulkan data-data

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

aktivitas yang terjadi di dalam kelas selama proses belajar berlangsung berupa

aktivitas siswa dan aktivitas guru. Sedangkan hasil tes bertujuan untuk

mengetahui hasil belajar siswa dan mengetahui sejauh mana keberhasilan guru

dalam mengajar.

1. Proses Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I

a) Perencanaan

Sesuai dengan permasalahan di atas, penulis berkolaborasi dengan guru

untuk menetapkan dan melakukan tindakan agar dapat meningkatkan kegairahan

siswa dalam belajar. Dengan permainan teka-teki bergambar diharapkan dapat

menghasilkan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan siswa. Dalam

penelitian ini penulis bertindak selaku guru yang mengajar (melakukan tindakan

penerapan permainan teka-teki bergambar). Sedangkan guru kelas I SDN 01 Ulak

Karang Selatan Padang menjadi observer yang akan melihat dan merekam seluruh

data dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. Hasil pengamatan observer

menjadi masukan dalam mengajar agar dijadikan refleksi pada pelaksanaan setiap

pertemuan dan menjadi acuan untuk perencanaan tindakan selanjutnya.

Pelaksanaan permainan teka-teki bergambar dalam perencanaan pembe-

lajaran kosakata bahasa Indonesia disusun dan diwujudkan dalam bentuk

rancangan pembelajaran dengan model Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(RPP). Perencanaan ini disusun dan dikembangkan berdasarkan program semester

II. RPP disajikan dalam waktu 2 x pertemuan (4 x 35 menit) dengan model

pembelajaran tematik. Dari satu tema yaitu lingkungan, dapat dipadukan beberapa

mata pelajaran yaitu bahasa Indonesia, IPA dan IPS. Dengan fokus memahami

beberapa kosakata yang ada di lingkungan sekitar, siswa dapat membaca lancar

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

beberapa kalimat sederhana yang terdiri atas 3-5 kata dengan intonasi yang tepat.

Siswa juga belajar tentang cara menjaga kerapian dan kebersihan rumah dan

mengetahui benda langit yang terlihat pada siang hari. Materi tersebut dipandang

cocok berdasarkan pertimbangan sebagai berikut : (a) materi pembelajarannya

sesuai dengan mata pelajaran yang ada pada semester II, (b) materi pembelajaran

cocok untuk ditematikkan dalam tema lingkungan, (c) materi pembelajaran

tersebut belum pernah diajarkan kepada siswa.

Indikator dikembangkan dari Kompetensi Dasar (KD) yaitu: (1) bahasa

Indonesia : Membaca lancar beberapa kalimat sederhana yang terdiri atas 3-5 kata

dengan intonasi yang tepat. (2) IPA : Mengenal berbagai benda langit melalui

pengamatan. (3) IPS : Menceritakan kembali peristiwa penting yang dialami

sendiri di lingkungan keluarga. Berdasarkan KD tersebut ditentukan indikator

yang hendak dicapai pada pembelajaran. Dengan menggunakan tiga ranah yaitu

kognitif, afektif dan psikomotor, Indikator yang ingin dicapai pada siklus I yaitu:

(a) Siswa menyebutkan beberapa kosakata dalam tema Lingkungan.


(kognitif), (b) Siswa mengikuti bacaan dan intonasi yang di-
contohkan guru. (afektif), (c) Siswa menjawab pertanyaan dan
mencari lawan kata sesuai bacaan. (psikomotor), (d) siswa
Menyebutkan beberapa benda langit yang terlihat pada siang hari.
(kognitif), (e) Siswa memilih sikap terhadap dampak positif dan
negatif yang ditimbulkan energi matahari. (afektif), (f) Siswa
menggunakan energi yang dihasilkan matahari dalam kehidupan
sehari-hari. (psikomotor), (g) Siswa menyebutkan cara menjaga
kerapian dan kebersihan rumah. (kognitif), (h) Siswa mengikuti
pelajaran dengan semangat. (afektif), (i) Siswa melaksakan piket
pagi hari di rumahnya masing-masing. (psikomotor).

Untuk mencapai indikator tersebut, teknis RPP dibagi dalam tiga tahapan

yaitu menjelaskan materi pelajaran, permainan teka-teki bergambar dalam

kelompok dan pemberian penghargaan. Dalam pelaksanaan permainan, guru

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

membagi siswa ke dalam kelompok bermain berdasarkan nilai siswa pada

semester I mata pelajaran bahasa Indonesia. Selanjutnya guru membuat lembar

teka-teki bergambar yang di dalamnya terdapat teka-teki yang akan siswa jawab.

Satu teka-teki diberikan tiga petunjuk lisan yang memudahkan siswa untuk

menebaknya sehingga guru harus mempersiapkan soal lisan terkait dengan teka-

teki bergambar yang akan menjadi petunjuk. Untuk mengatur alur permainan,

guru membuat kartu bernomor dengan menggunakan kertas manila berwarna

merah berukuran kecil.

b) Tindakan

Tindakan adalah upaya yang dilakukan guru selama proses pembelajaran

berlangsung baik berupa perbaikan, peningkatan mutu atau pembahasan yang

dilakukan sesuai dengan pelaksanaan pembelajaran dengan permainan teka-teki

bergambar. Adapun tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Pertemuan ke-1

Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 30 April 2011.

Penulis melaksanakan kegiatan pembelajaran selama 2 x 35 menit dengan

menggunakan permainan teka-teki bergambar sesuai dengan RPP yang dibuat

dengan langkah-langkah sebagai berikut :

Pelaksanaan kegiatan tahap awal pembelajaran berlangsung 10 menit.

Pembelajaran diawali perkenalan singkat antara penulis (guru) dengan siswa kelas

I SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang supaya terciptanya suasana keakraban

yang lebih baik. Untuk dapat menggali dan menghubungkan pengalaman, sikap

dan kebiasaan siswa terhadap konsep yang akan guru ajarkan maka perlu

dilakukan apersepsi agar dapat menyatupadukan dan mengasimilasikan

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

pengamatan dengan pengalaman yang dimiliki siswa dengan mata pelajaran yang

akan dipelajari. Cerita tentang burung gagak dan buaya merupakan materi

pelajaran pada pertemuan sebelumnya. Guru memberikan beberapa pertanyaan

tentang cerita tersebut. Setelah itu guru menginformasikan tujuan pembelajaran

kepada siswa bahwa materi pelajaran pada hari ini yaitu tentang membaca dan

menulis kalimat sederhana yang berkaitan dengan tema lingkungan.

Guru menjelaskan materi diawali dengan menyanyikan lagu kukukukuruyuk

secara bersama-sama. Selain menimbulkan rasa tertentu seperti rasa senang, lucu,

haru dan kagum, dengan lagu tersebut guru lebih mudah memetakan materi pada

masing-masing mata pelajaran ke dalam satu tema lingkungan.

Kukukukuruyuk begitulah bunyinya

Kakinya bertanduk hewan apa namanya?

Kukukukuruyuk begitulah bunyinya

Kakinya bertanduk ayam jantan namanya

Potong potong roti rotinya pakai mentega

Anak yang baik hati Pasti disayang mama

Potong potong roti rotinya pakai mentega

Anak yang baik hati pasti disayang mama

Setelah bernyayi bersama, guru menanyakan kepada siswa siapa yang

pernah mendengar kokokan ayam, sebagian siswa menjawab pernah. Lalu guru

menanyakan lagi kapan mereka mendengar kokokan ayam, sebagian siswa

menjawab pagi dan sebagian lagi menjawab siang dan ada yang menjawab

malam. Sesuai dengan jawaban siswa, guru mengkaitkannya dengan materi IPA

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

tentang benda langit yang tampak di siang hari. Kokokan ayam biasanya terdengar

di saat matahari terbit. Guru meminta siswa untuk memikirkan benda-benda langit

yang tampak pada saat siang hari. Setelah itu guru menuliskan jawaban siswa di

papan tulis dan mengelompokkan jawaban yang benar tentang benda-benda langit

yang tampak pada siang hari.

Selanjutnya guru menyampaikan kepada siswa bahwa mereka akan

melaksanakan permainan teka-teki bergambar secara berkelompok. Sebagian

siswa tampak antusias dan bersemangat setelah mendengar penyampaian guru.

Setelah seluruh kelompok selesai dibacakan, siswa duduk berkelompok. Siswa

dibagi menjadi empat kelompok dan diberi identitasnya. Kelompok pertama

dengan nama kelompok Ranjer, kelompok dua Puteri Duyung, kelompok tiga

Naruto dan kelompok empat Bunga. Pembagian anggota kelompok dapat di lihat

pada lampiran.

Masing-masing siswa diberikan lembar teka-teki bergambar. Sebelum

melaksanakan permainan, guru menyampaikan aturan permainan teka-teki

bergambar. Permainan dibagi atas dua tahapan yaitu sesi teka-teki wajib dan sesi

teka-teki rebutan. Pada sesi teka-teki wajib, guru meminta perwakilan siswa dari

kelompok Ranjer untuk mengambil kartu bernomor ke depan kelas. Kelompok

Renjer mendapatkan kartu bernomor untuk teka-teki 2 menurun. Petunjuk lisan

teka-teki dapat dilihat pada lampiran.

Pada saat guru membacakan petunjuk pertama, semua siswa dalam

kelompok Ranjer belum bisa menerka teka-teki tersebut. Tidak ada siswa yang

mengacungkan tangan untuk mencoba menebak teka-teki tersebut. Siswa yang

berada di kelompok lain juga tidak bersuara atau ikut menjawab pertanyaan yang

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

diberikan. Mereka sudah bersiap untuk menjawab teka-teki tersebut apabila siswa

dalam kelompok Ranjer tidak dapat menjawab benar. Selanjutnya guru

membacakan petunjuk keduanya, ada beberapa siswa yang mengacungkan tangan

untuk mencoba mengemukakan jawaban dari teka-teki 2 menurun. Kelompok

Renjer menjawab benar teka-teki tesebut dan berhak mendapatkan poin yang

tertera pada kartu bernomor karena ada siswa yang mengacungkan tangan dan

menjawab benar teka-teki tersebut.

Setelah itu terjadi tanya jawab seputar teka-teki tersebut dan dialognya sebagai

berikut:

Guru : Pisang itu buah-buahan yang baik untuk kesehatan. Siapa diantara kalian

yang suka pisang?

Naufal : Saya suka pisang pak.

Guru : Siapa yang sering membelikan Naufal pisang?

Naufal : Kakek pernah membelikan saya pisang pak. Belinya di Pasar Raya.

Guru : Bagus Naufal, siapa lagi? Guru menunjuk Flora yang duduk di belakang.

Flora suka pisang?

Flora : Saya tidak suka pisang pak.

Guru : Keinginan dan kesukaan orang berbeda-beda. Ada yang suka pisang dan

ada yang tidak suka dengan pisang.

Selanjutnya semua siswa menuliskan teka-teki 2 menurun pada lembar teka-teki

bergambar.

Kesempatan selanjutnya diberikan kepada kelompok Puteri Duyung untuk

mengambil kartu bernomor. Kelompok Puteri Duyung mendapat kartu bernomor

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

untuk teka-teki 6 mendatar. Petunjuk lisan untuk teka-teki tersebut dapat dilihat

pada lampiran.

Pada saat guru membacakan petunjuk pertama tersebut, siswa di kelompok

Puteri Duyung langsung menebak benar teka-teki teka-teki 6 mendatar. Dari tiga

siswa yang mengacungkan tangan, dua siswa menjawab benar teka-teki tersebut.

Setelah itu semua siswa menuliskan teka-teki tersebut pada lembar teka-teki

bergambarnya.

Selanjutnya kelompok Naruto diberikan kesempatan untuk mengambil kartu

bernomor. Semua siswa dalam kelompok Naruto sudah bersiap untuk

mengemukakan jawabannya teka-teki yang akan dibacakan guru. Perwakilan

kelompok Naruto mengambil kartu bernomor ke depan kelas dan menyebutkan

bahwa kelompok Naruto mendapat teka-teki 1 mendatar dengan petunjuk yang

dibacakan guru. Petunjuk lisan teka-teki tersebut dapat dilihat pada lampiran.

Pada saat guru memberikan petunjuk pertama, siswa dalam kelompok

Naruto tidak ada yang bisa berpendapat. Selanjutnya guru membacakan petunjuk

keduanya, setelah itu ada beberapa siswa yang mengacungkan tangan untuk

mencoba mengemukakan jawaban. Kelompok Naruto menjawab benar teka-teki

teka-teki 1 mendatar dan berhak mendapatkan poin yang tertera pada kartu

bernomor setelah beberapa siswa yang mengacungkan tangan menjawab benar

teka-teki tersebut. Semua siswa menuliskan teka-teki tersebut pada lembar teka-

teki bergambar.

Kesempatan terakhir pada sesi teka-teki wajib diberikan kepada kelompok

Bunga untuk mengambil kartu bernomor. Semua siswa dalam kelompok Bunga

sudah bersiap untuk mengemukakan jawabannya teka-teki yang akan dibacakan

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

guru. Perwakilan kelompok Bunga mengambil kartu bernomor ke depan kelas dan

mendapat teka-teki 5 mendatar dengan petunjuk yang dibacakan guru. Petunjuk

lisan teka-teki bergambar dapat dilihat pada lampiran.

Pada saat guru memberikan petunjuk pertama, siswa dalam kelompok

Bunga tidak ada yang berpendapat. Siswa yang berada di kelompok lain tidak

bersuara atau ikut menjawab pertanyaan yang diberikan. Mereka sudah bersiap

menjawab dari teka-teki tersebut apabila siswa dalam kelompok Bunga tidak

dapat menjawab dengan benar. Selanjutnya guru membacakan petunjuk keduanya,

ada beberapa siswa yang mengacungkan tangan untuk mencoba mengemukakan

jawaban dari teka-teki 5 mendatar. Kelompok Bunga belum berhak mendapatkan

poin yang tertera pada kartu bernomor karena jawaban dari siswa yang

mengacungkan tangan belum tepat. Selanjutnya guru membacakan petunjuk

terakhir untuk teka-teki tersebut dan siswa di kelompok bunga akhirnya mendapat

poin yang tertera pada kartu bernomor karena ada siswa yang menjawab benar

teka-teki bergambar tersebut. Selanjutnya semua siswa menulis jawaban teka-teki

pada lembarnya masing-masing.

1. Pertemuan ke-2

Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 03 Mei 2011. Guru

melaksanakan kegiatan pembelajaran selama 2 X 35 menit menggunakan

permainan teka-teki bergambar sesuai dengan RPP yang dibuat dengan langkah-

langakah sebagai berikut :

Pertemuan kedua diawali guru dengan membangkitkan skemata siswa.

Pembangkitan skemata siswa dilakukan dengan menanyakan pelajaran yang sudah

dipelajari pada pertemuan sebelumnya. Untuk membangkitkan keinginan belajar

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

siswa maka guru memberikan beberapa pertanyaan tentang benda-benda langit

yang sudah mereka lihat pada siang hari.

Guru mengulang menyanyikan lagu kukukuruyuk dan mengulang dua kali

bait keduanya. Selain menimbulkan rasa tertentu seperti rasa senang, lucu, haru

dan kagum, dengan lagu tersebut guru lebih mudah memetakan materi pada

masing-masing mata pelajaran ke dalam satu tema lingkungan.

Setelah bernyanyi bersama, guru menanyakan kepada siswa siapa yang suka

bangun pagi, beberapa siswa mengacungkan tangan. Lalu guru menanyakan lagi,

siapa yang merapikan tempat tidurnya di pagi hari, siswa menjawab Ibu dan ada

yang menjawab mereka sendiri yang merapikan. Berdasarkan jawaban siswa

tersebut, guru menjelaskan bahwa merapikan tempat tidur merupakan cerminan

sikap menjaga kebersihan dan kerapian rumah. Anak yang baik hati biasanya

merapikan sendiri tempat tidurnya. Guru meminta siswa untuk memikirkan

kegiatan di pagi hari yang mencerminkan sikap menjaga kebersihan dan kerapian

rumah. Setelah itu guru menuliskan jawaban siswa di papan tulis dan

mengelompokkan jawaban yang benar tentang sikap menjaga kebersihan dan

kerapian rumah.

Permainan teka-teki bergambar yang berlangsung pada pertemuan pertama

dilanjutkan lagi di pertemuan kedua pada sesi teka-teki rebutan. Diawali dengan

mempersiapkan siswa untuk duduk sesuai kelompok yang sudah ditentukan pada

pertemuan pertama, dilanjutkan dengan membacakan poin yang sudah diperoleh

masing-masing kelompok pada pertemuan sebelumnya.

Pada sesi rebutan, tersisa tiga soal teka-teki yang akan menambah poin

masing-masing kelompok. Semua siswa bersiap untuk mengacungkan tangan

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

mencoba menjawab tiga teka-teki tersebut. Siswa terlihat bersemangat untuk

menjawab teka-teki rebutan ke-1. teka-teki ke-1 pada sesi rebutan yaitu teka-teki 2

menurun. Petunjuk lisan teka-teki tersebut dapat dilihat pada lampiran.

Siswa dari kelompok Ranjer langsung mengacungkan tangannya untuk

menjawab setelah guru selesai membacakan petunjuk lisan pertama. Siswa dari

kelompok Ranjer menjawab benar dan berhak menambahkan poin untuk

kelompoknya sesuai dengan poin yang tertera pada kartu bernomor. Selanjutnya

semua siswa menuliskan jawaban teka-teki 2 mendatar pada lembarannya masing-

masing. Siswa yang di kelompok lain terlihat semakin antusias dan ingin

mendahului untuk mengacungkan tangan menjawab teka-teki selanjutnya.

Siswa bersiap mengacungkan tangan untuk menjawab teka-teki rebutan

yang ke-2 yaitu teka-teki 3 mendatar. Setelah guru memberikan petunjuk pertama,

siswa dari kelompok Naruto langsung mengacungkan tangan dan mencoba

menjawab teka-teki tersebut. Kelompok Naruto belum berhak meperoleh poin

karena jawabannya salah, selanjutnya guru menanyakan kepada siswa lain jika

ada yang bisa menjawab. Siswa dari kelompok Puteri Duyung mendahului

temannya yang lain untuk mengacungkan tangan dan menjawab benar teka-teki

tersebut. Selanjutnya semua siswa menuliskan jawaban teka-teki 4 menurun pada

lembarannya masing-masing.

Teka-teki terakhir di sesi rebutan yaitu teka-teki 4 menurun. Setelah guru

membacakan petunjuknya, siswa dari kelompok Ranjer mengacungkan tangan

untuk menjawab teka-teki tersebut. Kelompok Ranjer menjawab benar dan berhak

memperoleh poin yang tertera pada kartu bernomor. Kelompok yang paling

sedikit mengumpulkan kartu bernomor diberi hukuman bernyanyi bersama

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

kelompoknya ke depan kelas dan kelompok yang paling banyak mengumpulkan

kartu bernomor diberi tambahan nilai kelompok.

2. Pelaksanaan Tes

Sebagaimana kesepakatan dengan guru kelas, tes dilaksanakan pada

pertemuan kedua. Setelah semua kelompok selesai bermain, guru meminta semua

pekerjaan siswa untuk dikumpul. Selanjutnya siswa diminta kembali ke tempat

duduknya masing-masing dan diberikan kuis. Siswa diberikan waktu untuk

mengisi soal selama 10 menit. Soal-soal tes terlampir. Siswa yang sudah selesai

mengerjakan kuis boleh keluar kelas untuk istirahat.

c) Pengamatan

1. Analisis pelaksanaan pembelajaran oleh guru

Dari pelaksanaan pembelajaran pada siklus I ada beberapa hal yang menjadi

kakurangan antara lain :

(a) Guru belum melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu

yang telah direncanakan.

(b) Pengelolaan kelas masih kurang. Kelas sering gaduh dan guru kurang

tegas menyikapi siswa-siswa yang berperilaku menyimpang

Berikut adalah persentase aktivitas guru pada Siklus I :

Tabel 3 : Persentase Aktivitas guru pada Siklus I


Jumlah Persentase
Pertemuan
Skor (%)
1 26 61,9
2 28 69
Rata-rata 65

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Dari tabel di atas terlihat bahwa persentase rata-rata aktivitas guru

mengelola kelas adalah sebesar 65%. Ini bisa dikatakan cukup baik, akan tetapi

masih perlu ditingkatkan agar efektifitas pembelajaran sesuai dengan apa yang

diinginkan. Namun demikian jika diperhatikan persentase aktivitas ini mengalami

peningkatan pada tiap pertemuan. Jadi bisa dikatakan bahwa kemampuan guru

mengelola kelas yang menggunakan permainan teka-teki bergambar dari waktu ke

waktu semakin membaik.

2. Analisis Aktivitas Belajar Siswa

Persentase aktivitas belajar siswa dihitung pada akhir siklus I. Berikut

adalah tabel yang menunjukkan persentase aktivitas belajar siswa.

Tabel 4 : Persentase Aktivitas Belajar Siswa pada Siklus I


Pertemuan
Indikator Rata-rata
dalam (%)
(%)
I II
Siswa memperhatikan penjelasan atau gambar 64 67 65
dari guru
Bersemangat, gembira dan bergairah dalam 78 81 79
melaksanakan aktivitas
Menyatakan dan mengeluarkan pendapat dari apa 50 53 51
yang dilihat
Adanya komunikasi timbal balik antara guru 56 56 51
dengan siswa
Menyalin dan menulis materi pelajaran. 67 67 67
Rata-rata persentase aktivitas siswa siklus I 64,5

Berdasarkan Tabel 4 di atas terlihat rata-rata persentase aktivitas belajar

siswa dengan permainan teka-teki bergambar adalah 64,5% atau berada pada

kategori aktivitas yang tinggi. Terlihat juga bahwa indikator yang persentasenya

tertinggi adalah semangat, gembira dan kegairahan siswa dalam melaksanakan

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

aktivitas belajar yaitu 81%. Ini artinya aktivitas siswa bisa dikatakan baik pada

pembelajaran dengan menggunakan permainan teka-teki bergambar.

Hasil ini sebenarnya sudah baik dan indikator keberhasilan yang ditetapkan

pun sudah tercapai. Namun begitu, guru menganggap masih perlu mengadakan

tindakan serupa pada siklus selanjutnya sebagai perbandingan.

3. Analisis Hasil Belajar Siswa

Setelah diadakan tes di akhir siklus I, guru menghitung nilai siswa seperti

pada lampiran. Berikut ini adalah hasil belajar siswa pada siklus I.

Tabel 5 : Hasil Belajar Siswa pada Siklus I


Jumlah siswa yang mengikuti tes 35 Orang
Jumlah siswa yang tidak mengikuti tes 1 Orang
Rata-rata nilai hasil belajar 70,62
Jumlah siswa yang tuntas 21 Orang
Persentase ketuntasan 60%

Mencermati tabel di atas, terlihat persentase ketuntasan secara klasikal

tergolong rendah atau berada di bawah target ketuntasan 75%. Dari 35 siswa yang

mengikuti tes hanya 21 siswa yang memperoleh ketuntasan belajar di atas KKM

65, atau dengan persentase hanya sebesar 60%. Namun, nilai rata-rata hasil belajar

siswa sudah berada di atas KKM yaitu 70,62. Dengan demikian dapat dikatakan

bahwa pada siklus I indikator keberhasilan untuk hasil belajar siswa belum

optimal.

d) Refleksi

Berdasarkan tindakan yang dilakukan pada siklus I guru mengi-

dentifikasikan masalah-masalah yang masih menjadi kekurangan. Paling utama

adalah guru masih belum melaksanakan pembelajaran sesuai alokasi waktu yang

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

telah direncanakan. Kurangnya improvisasi dalam belajar membuat pelaksanaan

pembelajaran menjadi lebih cepat. Misalnya pada pertemuan pertama, banyak

waktu yang tersisa yang tidak dimanfaatkan guru untuk mengembangkan

beberapa materi yang harus ketahui siswa. Kurangnya pemanfaatan waktu juga

terlihat dari kurangnya aktivitas menulis siswa dalam permainan. Beberapa siswa

tidak terlayani dalam belajar sehingga aktivitas menulis siswa menjadi kurang.

Hal itu terlihat dari lembar teka-teki bergambar siswa yang siswa kumpulkan.

Terdapat beberapa teka-teki yang masih kosong. Akan tetapi guru terpaksa

melakukan itu karena menganggap waktu tersebut menjadi kurang pada saat guru

melakukan pembagian kelompok siswa. Jika dibiarkan demikian maka waktu

yang sudah direncanakan tidak akan cukup untuk melaksanakan permainan teka-

teki bergambar.

Penggunaan teka-teki bergambar yang dipakai guru juga masih telalu mudah

sehingga siswa menjadi gaduh dan ribut. Guru kurang bisa untuk mengelola kelas

untuk lebih tenang. Hal itu sangat terlihat pada pertemuan kedua. Misalnya,

banyak siswa yang bersuara untuk menjawab teka-teki yang sudah mereka ketahui

dan ada beberapa siswa yang langsung menjawab dengan benar teka-teki yang

dibacakan guru.

Permainan teka-teki bergambar yang diberikan memang dapat meningkatkan

proses pembelajaran di dalam kelas akan tetapi dapat disimpulkan bahwa pada

siklus I permainan teka-teki bergambar tidak terlaksana dengan baik. Karena itu,

guru mengupayakan perbaikan berdasarkan kekurangan kekurangan tersebut

dalam perencanaan untuk siklus II.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

2. Proses Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II

a) Perencanaan

Berdasarkan hasil refleksi terhadap siklus I dapat disimpulkan bahwa

pelaksanaan pembelajaran belum efektif. Masih banyak permasalahan yang terjadi

selama pembelajaran. Karena itu, guru melakukan perencanaan dengan beberapa

perbaikan untuk siklus II, yaitu :

1) Saat membuat RPP guru lebih merumuskan alokasi waktu dengan

memperhitungkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk masing-

masing kegiatan. Ini bertujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak terlalu

penting sehingga langkah-langkah permainan teka-teki bergambar mulai dari

penyajian kelas hingga pemberian penghargaan dapat dilaksanakan dengan

baik.

2) Lembar teka-teki bergambar yang diberikan siswa sebaiknya tidak

menuliskan kata-kata sesuai dengan gambar yang ada, misalnya gambar apel

tidak disertai dengan kata “apel”. Dengan demikian perhatian siswa terhadap

petunjuk teka-teki yang dibacakan guru menjadi lebih meningkat.

3) Merencanakan untuk memberikan motivasi di awal pembelajaran. Salah satu

hal yang dilakukan untuk memotivasi siswa adalah dengan menjelaskan

tentang bagaimana cara masing-masing kelompok dapat memperoleh skor

yang tinggi. Guru akan menjelaskan bahwa nilai kelompok akan tinggi jika

nilai kuis yang didapat oleh setiap anggota kelompok lebih tinggi dari nilai

kuis yang didapat sebelumnya.

4) RPP, lembar teka-teki bergambar, lembar observasi guru, dan soal-soal kuis

terlampir.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

b) Tindakan

Tindakan yang dilakukan pada siklus kedua dilaksanakan seperti proses

pembelajaran yang berlangsung pada siklus pertama baik berupa tahapan

pesentasi, persiapan permainan, permainan teka-teki bergambar dan penghargaan

tim.

1. Pertemuan ke-1

Pertemuan pertama dilaksanakan hari Selasa tanggal 07 Mei 2011. Penulis

melaksanakan kegiatan pembelajaran selama 2 x 35 menit menggunakan

permainan teka-teki bergambar sesuai dengan RPP yang dibuat dengan langkah-

langkah sebagai berikut :

Pelaksanaan kegiatan tahap awal pembelajaran berlangsung 10 menit.

Pembelajaran diawali dengan memotivasi siswa agar siswa lebih semangat

melaksanakan permainan. Guru menyampaikan kembali aturan-aturan dalam

permainan. Guru juga menyampaikan bahwa beberapa siswa memperoleh nilai

yang buruk saat ujian pada pertemuan sebelumnya. Salah satu penyebabnya yaitu

kurang seriusnya siswa dalam belajar.

Guru mulai menjelaskan materi pelajaran dengan menyanyikan lagu bangun

tidur secara bersama-sama. Selain menimbulkan rasa tertentu seperti rasa senang,

lucu, haru dan kagum, dengan lagu tersebut, guru lebih mudah memetakan materi

pada masing-maing mata pelajaran ke dalam satu tema yaitu lingkungan.

Bangun tudur ku terus mandi

Tidak lupa menggosok gigi

Habis mandi ku tolong ibu

Membersihkan tempat tidur ku

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Selanjutnya guru menceritakan kisah keluarga damai yang tinggal di sebuah

desa. Guru mengawali cerita dengan menggambar pemandangan desa di papan

tulis. Lalu guru mulai bercerita sambil melanjutkan gambar yang ada di papan

tulis. Kisah keluarga damai yang tinggal di sebuah desa terlampir. Setelah

bercerita, guru menanyakan kepada siswa tugas masing-masing anggota keluarga.

Beberapa siswa berpendapat dan guru menuliskan semua pendapat siswa di papan

tulis. Berdasarkan jawaban siswa tersebut, guru mengelompokkan dan

menjelaskan jawaban siswa yang benar tentang tugas masing-masing anggota

keluarga.

Setelah itu guru menyampaikan kepada siswa bahwa mereka akan

melaksanakan permainan teka-teki bergambar seperti pertemuan yang lalu. Guru

membaca ulang pembagian kelompok siswa berdasarkan identitas kelompoknya.

Setelah masing-masing siswa duduk dalam kelompoknya, guru memberikan

lembaran teka-teki bergambar yang akan mereka isi dalam permainan. Permainan

diawali dengan sesi teka-teki wajib. Kesempatan pertama diberikan kepada

kelompok Renjer untuk mengambil kartu bernomor ke depan kelas. Kelompok

Renjer mendapatkan kartu bernomor untuk teka-teki 2 mendatar. Petunjuk lisan

teka-teki tersebut dapat dilihat pada lampiran.

Pada saat guru membacakan petunjuk pertama, dua siswa di kelompok

Ranjer mengacungkan tangan dan mengemukakan jawaban dari teka-teki

bergambar. Siswa yang berada di kelompok lain terlihat diam atau tidak ikut

menjawab pertanyaan yang diberikan. Selanjutnya guru membacakan petunjuk

keduanya karena jawaban kedua siswa yang mewakili kelompok Ranjer masih

salah. Setelah petunjuk kedua dibacakan, ada beberapa siswa yang mengacungkan

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

tangan untuk mencoba mengemukakan jawaban. Kelompok Renjer menjawab

benar teka-teki 2 mendatar dan berhak mendapatkan poin yang tertera pada kartu

bernomor karena siswa yang mengancngkan tangan, menjawab benar teka-teki

tersebut.

Setelah itu terjadi tanya jawab seputar teka-teki tersebut dan dialognya

sebagai berikut:

Guru : Kura-kura hewan yang juga dapat hidup di air. Jalannya sangat lambat.

Kura-kura memiliki rumah yang terus mereka bawa kemana saja. Di

sebut cangkang. Siapa yang pernah melihat kura-kura?

Rabiul : Saya pernah menonton acara di tv tentang kura-kura Pak. Kura-kura

yang berada di tepi pantai.

Guru : Kalau Rabiul pernah menonton tentang kura-kura, siapa diantara kalian

yang pernah melihat kura-kura secara langsung?

Bintang: Ibu saya pernah membelikan kura-kura dari pasar pak. Anak kura-kura.

Cangkangnya seperti rumah Pak. Keras dan kuat.

Setelah itu semua siswa menuliskan teka-teki tersebut pada lembar teka-teki

bergambar dan guru memantau kegiatan aktivitas menulis siswa.

Kesempatan selanjutnya diberikan kepada kelompok Puteri Duyung

mengambil kartu bernomor. Kelompok Puteri Duyung mendapat kartu bernomor

untuk teka-teki 3 menurun. Petunjuk lisan teka-teki dapat dilihat pada lampiran

Pada saat guru membacakan petunjuk pertama, tiga siswa mengacungkan

tangannya. Siswa di kelompok Puteri Duyung dapat menebak teka-teki tersebut

karena dari tiga siswa, dua diantaranya menjawab benar teka-teki tersebut.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Selanjutnya semua siswa menuliskan teka-teki tersebut pada lembar teka-teki

bergambarnya dan guru memantau kegiatan aktivitas menulis siswa.

Kelompok Naruto diberikan sempatan untuk mengambil kartu bernomor.

Semua siswa dalam kelompok Naruto sudah bersiap mengemukakan jawaban dari

teka-teki yang akan dibacakan guru. Siswa di kelompok lain juga diam dan tidak

bersuara. Perwakilan kelompok Naruto mengambil kartu bernomor ke depan kelas

dan menyebutkan bahwa kelompok Naruto mendapat teka-teki 5 mendatar.

Petunjuk lisan teka-teki tersebut dapat dilihat pada lampiran

Pada saat guru memberikan petunjuk pertama, tidak ada siswa yang

berpendapat dan menjawab. Selanjutnya guru membacakan petunjuk keduanya,

ada beberapa siswa yang mengacungkan tangan untuk mencoba mengemukakan

jawaban dari teka-teki tersebut. Kelompok Naruto menjawab benar teka-teki

tersebut dan berhak mendapatkan poin yang tertera pada kartu bernomor setelah

beberapa siswa yang mengacungkan tangan, menjawab benar teka-teki 5

mendatar. Setelah itu semua siswa menuliskan teka-teki tersebut pada lembar

teka-teki bergambarnya dan guru memantau kegiatan aktivitas menulis siswa.

Kesempatan terakhir pada sesi teka-teki wajib diberikan kepada kelompok

Bunga untuk mengambil kartu bernomor. Kelompok Bunga mendapat teka-teki 6

menurun. Petunjuk lisan teka-teki tersebut dapat dilihat pada lampiran.

Pada saat guru memberikan petunjuk pertama, tidak ada siswa yang

berpendapat. Selanjutnya guru membacakan petunjuk keduanya, ada beberapa

siswa yang mengacungkan tangan untuk mencoba mengemukakan jawaban.

Kelompok Bunga belum berhak mendapatkan poin yang tertera pada kartu

bernomor karena jawaban dari beberapa siswa belum tepat. Selanjutnya guru

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

membacakan petunjuk terakhir teka-teki tersebut dan siswa di kelompok bunga

akhirnya mendapat poin yang tertera pada kartu bernomor karena ada siswa yang

menjawab benar teka-teki bergambar tersebut. Setelah itu semua siswa

menuliskan teka-teki tersebut pada lembar teka-teki bergambarnya dan guru

memantau kegiatan aktivitas menulis siswa.

2. Pertemuan ke-2

Pertemuan kedua dilaksanakan hari Sabtu tanggal 10 Mei 2011. Guru

melaksanakan kegiatan pembelajaran selama 2 x 35 menit dengan menggunakan

permainan teka-teki bergambar sesuai dengan RPP yang dibuat dengan langkah-

langakah sebagai berikut :

Pertemuan kedua diawali guru dengan membangkitkan skemata siswa

dengan menanyakan pelajaran yang sudah dipelajari pada pertemuan sebelumnya.

Guru menanyakan seputar kisah keluarga damai yang tinggal di desa. Dialog

ceritanya sebagai berikut:

Guru : Siapa yang bisa menyebutkan, dimana keluarga yang damai pada cerita

yang lalu itu tinggal?

Naufal : Saya bisa jawab Pak, mereka tinggal di sebuah desa.

Guru : Siapa yang bisa menyebutkan, kegiatan apa yang sering ibu lakukan di

pagi hari pada cerita yang lalu?

Haikal : Memasak, Pak

Guru : (Lalu guru menanyakan lagi). Apa yang di masak Ibu?

Haikal : Masak nasi goreng.

Setelah melakukan apersepsi, guru melanjutkan materi pelajaran sesuai

kelanjutan cerita sebelumnya. Guru memberikan sebuah kondisi di lingkungan

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

keluarga. Siswa diminta memikirkan jawaban dan menjelaskan alasan dari

pendapat yang sudah dikemukakan. Dialognya sebagai berikut:

Guru : Sekarang, siapa yang bisa menjawab jika hari Senin Ayah pergi ke kantor,

Ibu pergi ke pasar dan kakak pergi sekolah. Di rumah hanya ada Tiara dan

Kakeknya, siapa yang akan menyapu halaman rumah yang kotor?

Zaky : Kakek

Guru : Siapa yang akan menyapu halaman yang kotor? (guru menunjuk Jihan)

Jihan : Tiara

Guru : Siapa yang akan menyapu halaman yang kotor?

Nola : Tiara (setelah Nola mengacungkan tangannya)

Guru : Ada yang menjawab tiara dan ada menjawab kakek, sekarang coba beri

alasannya mengapa kakek yang harus menyapu?

Zaky : Karena kakek sudah besar pak.

Guru : Sekarang coba beri alasannya mengapa Tiara yang harus menyapu?

Nola : Karena Kakeknya sudah tua Pak

Guru menyimpulkan beberapa jawaban dan pendapat siswa bahwa

seharusnya membantu adalah siapa diantara keduanya yang lebih mampu. Kakek

yang sudah tua tidak mungkin kita biarkan untuk menyapu halaman karena kakek

sudah tua. Seharusnyan, kakek istirahat dan Tiara yang menyapu. Walaupun

menyapu biasanya dikerjakan oleh ibu, tapi kita juga harus membantu dan saling

tolong menolong di dalam keluarga.

Permainan teka-teki bergambar pada pertemuan sebelumnya dilanjutkan lagi

pada pertemuan kedua pada sesi rebutan. Guru meminta siswa duduk sesuai

kelompok yang sudah ditentukan pada pertemuan sebelumnya. Siswa terlihat

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

bersemangat untuk malaksanakan permainan setelah guru membacakan skor

sementara masing-masing kelompok.

Tersisa dua buah teka-teki yang akan siswa perebutkan. Siswa terlihat

bersemangat untuk menjawab teka-teki rebutan ke-1. Teka-teki ke-1 pada sesi

rebutan yaitu teka-teki 4 mendatar. Semua siswa bersiap mengacungkan tangan

mencoba menjawab tiga teka-teki rebutan Petunjuk lisan teka-teki tersebut dapat

dilihat pada lampiran

Siswa dari kelompok Ranjer langsung mengacungkan tangannya untuk

menjawab teka-teki yang telah guru bacakan. Siswa dari kelompok Ranjer

menjawab benar dan berhak menambahkan poin untuk kelompoknya sesuai

dengan poin yang tertera pada kartu bernomor. Semua siswa menuliskan teka-teki

tersebut pada lembar teka-teki bergambarnya dan guru memantau kegiatan

aktivitas menulis siswa.

Siswa bersiap mengacungkan tangan menjawab teka-teki rebutan yang ke-2.

Guru memberikan petunjuk pertama untuk teka-teki 1 menurun, siswa dari

kelompok Puteri Duyung mengacungkan tangan dan mencoba menjawab teka-teki

yang sudah diberikan petunjuknya. Kelompok Puteri Duyung menjawab benar

dan berhak memperoleh poin yang tertera pada kartu bernomor. Semua siswa

menuliskan teka-teki tersebut pada lembar teka-teki bergambarnya dan guru

memantau kegiatan aktivitas menulis siswa. Kelompok yang paling sedikit

mengumpulkan kartu bernomor diberi hukuman bernyanyi bersama kelompoknya

ke depan kelas dan kelompok yang paling banyak mengumpulkan kartu bernomor

diberi tambahan nilai kelompok.

3. Pelaksanaan Tes

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Sebagaimana kesepakatan dengan guru kelas, tes dilaksanakan pada

pertemuan kedua. Setelah semua kelompok selesai bermain, guru meminta semua

pekerjaan siswa untuk dikumpul. Selanjutnya siswa diminta kembali ke tempat

duduk masing-masing dan diberikan kuis. Siswa diberikan waktu untuk mengisi

soal selama 15 menit. Soal-soal tes terlampir. Siswa yang sudah selesai

mengerjakan kuis boleh keluar kelas untuk istirahat.

c. Pengamatan

1. Analisis pelaksanaan pembelajaran oleh guru

Dari deskripsi tindakan di atas terlihat bahwa pada siklus II ini pelaksanaan

pembelajaran sudah cukup baik dibandingkan dengan siklus I. masalah-masalah

yang terjadi pada siklus I sudah dapat diatasi pada siklus II meskipun belum

sempurna.

Hasil analisis pengamatan terhadap aktivitas dan penampilan guru selama

mengajar dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 6 : Persentase Aktivitas guru pada Siklus II


Jumlah Persentase
Pertemuan
Skor (%)
1 32 76,2
2 35 83,3
Rata-rata 80

Berdasarkan Tabel 6, terlihat bahwa presentase aktivitas guru dalam

mengelola kelas dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua sudah mengalami

peningkatan. Persentase rata-rata aktivitas guru pada siklus II sudah optimal yaitu

80%. Dengan demikian, efektivitas pembelajaraan pun dapat ditingkatkan.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

2. Analisis Aktivitas Belajar Siswa

Data hasil observasi diperoleh dari lembar observasi aktivitas siswa yang

dikumpulkan observer selama pebelajaran berlangsung.. Berikut adalah tabel yang

menunjukkan persentase aktivitas belajar siswa.

Tabel 7 : Persentase Aktivitas Belajar Siswa pada Siklus II


Pertemuan
Indikator Dalam (%) Rata-rata
(%)
I II
Siswa memperhatikan penjelasan atau gambar 75% 78% 76,5
dari guru
Bersemangat, gembira dan bergairah dalam 78% 86% 89
melaksanakan aktivitas
Menyatakan dan mengeluarkan pendapat dari 69% 72% 70,5
apa yang dilihat
Adanya komunikasi timbal balik antara guru 69% 72% 78,5
dengan siswa
Menyalin dan menulis materi pelajaran. 75% 78% 83,5
Rata-rata 80

Dibandingkan dengan siklus I, terjadi peningkatan signifikan dalam aktivitas

belajar siswa. Berdasarkan tabel 7, terlihat bahwa rata-rata persentase aktivitas

siswa, secara keseluruhan berada pada kategori aktivitas tinggi dengan persentase

aktivitas belajar siswa secara klasikal yaitu 80%. Maka dapat disimpulkan bahwa

akivitas belajar siswa mengalami peningkatan selama menggunakan permainan

teka-teki bergambar dalampembelajaran.

3. Analisis Hasil Belajar Siswa

Berdasarkan hasil tes siklus II terkait dengan hasil belajar siswa, persentase

ketuntasan belajar siswa dan rata-rata skor tesnya dapat dilihat pada Tabel 8

berikut.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Tabel 8 : Hasil Belajar Siswa pada Siklus II


Jumlah siswa yang mengikuti tes 35 Orang
Jumlah siswa yang tidak mengikuti tes 1 Orang
Rata-rata nilai hasil belajar 83,91
Jumlah siswa yang tuntas 30 Orang
Persentase ketuntasan 86%

Mencermati tabel di atas, hasil tes siklus II menunjukkan hasil belajar siswa

yang lebih baik dibandingkan dengan siklus I. Hal ini terlihat pada persentase

ketuntasan belajar secara klasikal. Pada siklus I terdapat 60% siswa yang tuntas

belajar dengan rata-rata skor tes 70,62. sedangkan pada siklus II terdapat 86%

siswa yang tuntas belajar dengan rata-rata skor tes 83,91. Dengan demikian,

persentase ketuntasan klasikal dan rata-rata hasil belajar siswa mengalami

peningkatan yangsignifikan.

d. Refleksi

Refleksi dilakukan untuk mengetahui apakah tindakan pada siklus II sudah

berhasil atau belum. Jika belum maka penelitian dilanjutkan pada siklus

berikutnya. Berdasarkan hasil pengamatan, pembelajaran sudah terlaksana dengan

baik. Siswa sudah dapat belajar dengan baik dengan permainan teka-teki

bergambar.

Dilihat dari data persentase aktivitas dan hasil tes siklus II siswa sudah

mencapai tingkat aktivitas belajar yang tinggi dan keberhasilan belajar juga baik,

sedangkan data pengamatan aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran sudah

mengalami peningkatan dibandingkan pada siklus I, dan dapat dikatakan sudah

baik.

Berdasarkan analisis data yang telah diuraikan di atas, maka disimpulkan

bahwa aktivitas guru dan siswa serta hasil belajar pada siklus II sudah meningkat,

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

karena itu diputuskan untuk tidak melanjutkan penelitian pada siklus berikutnya.

Dengan demikian penelitian ini telah selesai.

B. Pembahasan

Berdasarkan tindakan, pengamatan dan analisis data selama penelitian, dapat

disimpulkan bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan permainan teka-

teki bergambar memberikan dampak adanya peningkatan proses pembelajaran

bahasa Indonesia siswa kelas I SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang. Dengan

diterapkannya permainan teka-teki bergambar dalam pembelajaran, terlihat

peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada setiap pertemuan. Walaupun

pada kenyataanya terdapat kendala yang dihadapi saat melakukan penelitian.

Pembelajaran dengan menggunakan teka-teki bergambar merupakan hal

baru bagi siswa. Siswa masih bingung dengan langkah pembelajaran

menggunakan teka-teki bergambar yang diterapkan sehingga dalam

pelaksanaannya penulis menemui berbagai masalah yang disebabkan oleh siswa

yang melakukan aktivitas negatif selama pembelajaran seperti: membuat suasana

ribut, mengganggu teman yang sedang belajar dan keluar masuk kelas tanpa

permisi. Disisi lain, guru juga memiliki keterbatasan kemampuan untuk

memberikan bimbingan pembelajaran yang lebih merata kepada semua siswa

sehingga tidak semua siswa terlayani dengan baik. Namun, berkat komunikasi

serta kerjasama yang baik antara penulis dengan guru kelas dan penulis dengan

siswa, kendala-kendala tersebut dapat teratasi sehingga menggunaan permainan

teka-teki bergambar dapat berjalan dengan lancar dan terjadinya peningkatan

aktivitas dan hasil belajar siswa pada setiap pertemuan.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

1. Aktivitas Belajar Siswa

Dari penghitungan skor lembar observasi aktivitas belajar siswa pada kedua

siklus terlihat persentase aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran bahasa

Indonesia dengan menggunakan permainan teka-teki bergambar. Pada siklus I

persentase aktivitas siswa adalah 64,5%, sedangkan pada siklus II adalah 80%.

Dengan demikian dapat dilihat peningkatan aktivitas belajar bahasa Indonesia dari

siklus I ke siklus II. Dapat kita simpulkan bahwa penerapan permainan teka-teki

bergambar dapat meningkatkan aktivitas belajar bahasa Indonesia siswa kelas I

SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang.

2. Hasil Belajar Siswa

Dari hasil tes tiap siklus, terlihat hasil belajar bahasa Indonesia siswa siklus I

dengan siklus II. Pada siklus I terdapat 21 orang (60%) siswa yang tuntas dengan

dengan rata-rata skor tes siswa adalah 70,62 sedangkan pada siklus II terjadi

peningkatan yaitu terdapat 30 orang (86%) siswa yang tuntas dengan skor rata-

rata tes siswa 83,91. Dengan demikian dapat simpulkan bahwa penerapan

permainan teka-teki bergambar dapat meningkatkan hasil belajar bahasa

Indonesoa siswa kelas I SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang.

3. Pelaksanaan Pembelajaran Dengan Menggunakan Permainan Teka-

Teki

Permainan teka-teki bergambar merupakan hal yang baru bagi siswa,

sehingga dalam pelaksanaannya siswa mengalami banyak perubahan cara belajar.

Biasanya siswa mendapatkan materi hanya dari apa yang diterangkan guru,

kemudian siswa mengerjakan soal-soal secara individu, sehingga siswa pasif

dalam belajar dan sedikit sekali terjadi interaksi. Selain itu pembelajaran model

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

klasikal ini cepat atau lambatnya penyampaian materi oleh guru berpatokan pada

kemampuan rata-rata siswa dalam belajar. Dengan demikian siswa yang

berkemampuan tinggi dalam belajar akan merasa jenuh, sebaliknnya siswa yang

berkemampuan rendah dalam belajar akan tertinggal. Akan tetapi permainan teka-

teki bergambar dapat mengatasi masalah ini. model belajar sambil bermain akan

meningkatkan proses pembelajaran bahasa Indonesia karena cocok dengan

perkembangan usia siswa.

Dari hasil penelitian terlihat pelaksanaan pembelajaran menggunakan

permainan teka-teki bergambar dikategorikan baik. Terlihat peningkatan jumlah

skor dan rata-rata persentase yang diperoleh guru dalam mengelola pembelajaran

dengan menggunakan permainan teka-teki bergambar pada siklus II. Pada siklus I

rata-rata jumlah skor observasi aktivitas guru dengan rata-rata dengan persentase

61%, kemudian pada siklus II rata-rata dengan persentase 80%. Hal ini

menunjukkan bahwa pada siklus II pengelolaan pembelajaran sudah dapat

dikatakan baik.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis penelitian yang diperoleh maka dapat

disimpulkan sebagai berikut :

1. Pembelajaran dengan menggunakan permainan teka-teki bergambar telah

terlaksana dengan baik di kelas I SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang.

Meskipun pada awalnya guru belum bisa mengelola pembelajaran dengan

baik, akan tetapi setelah beberapa pertemuan guru mengupayakan perbaikan

penampilan sehingga pada akhirnya proses pembelajaran berlangsung

efektif.

2. Pembelajaran dengan menggunakan permainan teka-teki bergambar dapat

meningkatkan aktivitas belajar bahasa Indonesia siswa kelas I SDN 01 Ulak

Karang Selatan Padang. Hal ini terlihat dengan adanya peningkatan

persentase aktivitas belajar dari siklus I ke siklus II.

3. Pembelajaran dengan menggunakan permainan teka-teki bergambar dapat

meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas I SDN 01 Ulak

Karang Selatan Padang. Hal ini dapat dilihat dengan adanya peningkatan

jumlah siswa yang tuntas dan peningkatan rata-rata nilai tes di atas KKM.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

B. SARAN

Sehubungan dengan hasil penelitian yang diperoleh, maka penulis

memberikan saran sebagai berikut :

1. Pembelajaran dengan menggunakan permainan teka-teki bergambar bisa

dijadikan salah satu alternatif diantara metode-metode pembelajaran yang

ada.

2. Guru harus membiasakan diri melaksanakan metode-metode pembelajaran

selain metode klasikal agar pembelajaran menjadi lebih efektif.

3. Dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan permainan teka-teki

bergambar di kelas I SDN 01 Ulak Karang Selatan Padang diharapkan guru

dapat membuat dan meranang lembar teka-teki bergambar yang lebih

bervariatif agar siswa lebih senang dalam belajar.

4. Pembelajaran dengan menggunakan permainan teka-teki bergambar

merupakan salah satu cara agar terciptanya sebuah pembelajaran yang sesuai

dengan perkembangan kebahasaan anak. Kita masih bisa menciptakan jenis

permainan yang lain yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan pembelajaran

untuk mengupayakan terjadinya pembelajaran yang efektif.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

DAFTAR PUSTAKA

Bungin, Burhan. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif, Jakarta : PT. Raja.
Grafindo Persada.

Chasanah, Nurul. 2008. Peningkatan Perolehan Perbendaharaan Kata melalui


Percakapan Dari Hati Ke Hati Pada Siswa Tunarungu Wicara Kelas I
Di Sekolah Dasar Luar Biasa Negeri Boyolali Tahun 2008/2009. Skripsi
Surakarta : FKIP Universitas Sebelas Maret.

Danandjaja, James. 1984. Folklor Indonesia: Ilmu Gossip, Dongeng dan Lain-
lain. Jakarta: Grafiti Pers.

Dardjowidjojo, S. 2000. Echa : Kisah Pemerolehan Bahasa Anak. Jakarta :


Grasindo.

Desfitri, Rita dkk. 2008. Peningkatan Aktifitas, Motivasi dan Hasil Belajar
Matematika Siswa Kelas VIII2 MTSN Model Padang melalui
Pendekatan Kontekstual. Laporan PIPS. Padang: Universitas Bung Hatta

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Dhardjowidjojo, Soejono. 2000. ECHA Kisah Pemerolehan Bahasa Anak


Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Gusnetti. 2009. Bahan Ajar Ketermpilan Berbahasa Indonesia Kelas Awal.


Padang: Hibah PGSD-B FKIP Universitas Bung Hatta.

Hartati, Tatat. 2006. Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Rendah. Bandung:


UPI Press.

Ismail, Andang. 2006. Education Games. Yogyakarta: Pilar Media.

Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di


Ruang-ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.

Mustakim. 1994. Membina Kemampuan berbahasa: Panduan ke Arah Kemahiran


Berbahasa. Jakarta: Gramedia pustaka Prima.

Resmini, Novi. 2006. Pembinaan dan Pengembangan Pembelajaran bahasa dan


Sastra Indonesia. Bandung : UPI Press.
Sadiman, AM. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Sadiman, Arief S, dkk. 2006. Media Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo persada.

Slavin. 2009. Cooperative Laerning. Bandung: Nusa Media.

Soedjito. 1988. Kosa Kata Bahasa Indonesia. Jakarta : PT. Gramedia

Tarigan, H.G. 1986. Pengajaran Kosakata. Badung: Angkasa.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1995.

Usman, Moh. Uzer. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda
Karya.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Wardani, dkk. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Pusat Penerbitan


Universitas Terbuka.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

LAMPIRAN 01

RPP Siklus I

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Satuan Pendidikan : SDN 01 Ulak Karang


Selatan Padang
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Tema : Lingkungan
Kelas/Semester : I/II
Alokasi Waktu : 4 x 35 menit

A. Standar Kompetensi :

Bahasa Indonesia
Memahami teks pendek dengan membaca lancar
dan membaca puisi anak
IPA
Mengenal berbagai benda langit dan peristiwa
alam (cuaca dan musim ) serta pengaruhnya
kegiatan manusia.
IPS
Menceritakan kembali peristiwa penting yang
dialami sendiri di lingkungan keluarga
B. Kompetensi Dasar :

Bahasa Indonesia
Membaca lancar beberapa kalimat sederhana yang
terdiri atas 3-5 kata dengan intonasi yang tepat
IPA
Mengenal berbagai benda langit melalui
pengamatan.
IPS
Menceritakan kembali peristiwa penting yang
dialami sendiri di lingkungan keluarga,
C. Indikator :

a. Siswa menyebutkan beberapa kosakata dalam


tema Lingkungan. (Kognitif)
b. Siswa mengikuti bacaan dan intonasi yang
dicontohkan guru. (Afektif)

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

c. Siswa menjawab pertanyaan dan mencari


lawan kata sesuai bacaan. (Psikomotor)
d. Siswa Menyebutkan beberapa benda langit
yang terlihat pada siang hari. (kognitif)
e. Siswa memilih sikap terhadap dampak positif
dan negatif yang ditimbulkan energi matahari.
(Afektif)
f. Siswa menggunakan energi yang dihasilkan
matahari dalam kehidupan sehari-hari.
(Psikomotor)
g. Siswa menyebutkan cara menjaga kerapian
dan kebersihan rumah. (Kognitif)
h. Siswa mengikuti pelajaran dengan semangat.
(Afektif)
i. Siswa melaksakan piket pagi hari di rumahnya
masing-masing. (Psikomotor)
I. Tujuan Pembelajaran :

a. Melalui permaian, siswa dapat menyebutkan


beberapa kosakata dalam tema Lingkungan

b. Melalui Tanya jawab, siswa dapat


menyebutkan benda langit yang terlihat pada
siang hari
c. Melalui tanya jawab, siswa dapat menerapkan
sikap dalam menjaga kebersihan dan kerapian
rumah
II. Metode Pembelajaran :
a. Ceramah

b. Permainan

c. Penugasan

d. Tanya jawab

e. Berdiskusi

f. Model permainan teka-teki bergambar

modifikasi TGT dari Slavin.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

III. Materi pokok : Deskripsi benda-benda, Gambar


IV. Langkah Pembelajaran : Pertemuan ke 1, tanggal 30 April 2011

Tahapan/Sintaks
Kegiatan Guru-Siswa
pembelajaran

Pendahuluan:  Guru mengkondisikan siswa untuk siap belajar.


 Apersepsi.
Orientasi  Guru menginformasikan tujuan pelajaran,
misalnya:
 Anak-anak hari ini kalian akan belajar dan
berlatih membaca dan menulis kalimat yang ada di
lingkungan sekitar rumah.

Kegiatan inti:  Pada awal pembelajaran, guru dan siswa


menyayikan lagu : “Kukukukuruyuk” secara
bersama.
1. Presentasi  Dengan metode ceramah dan Tanya jawab, guru
menceritakan kegiatan yang biasa terjadi pada pagi
hari.
 Guru meminta siswa untuk menyebutkan benda
langit yang tampak di pagi hari
 Guru menyimpulkan pendapat siswa
 Guru menyampaikan langkah kegiatan permainan
teka-teki bergambar yang akan siswa lakukan.
2. Persiapan  Siswa dibagi atas kelompok yang sudah
permainan ditentukan. (sesuai hasil perengkingan dari hasil
ujian siswa pada semester I)
 Setelah kelompok terbentuk, kemudian diberi
nama kelompok.
 Setiap siswa diberikan soal yang sama berupa teka-
teki bergambar.

3. Pembelajaran  Pemainan dibagi atas dua sesi waktu.


dalam  Sesi pertama, masing-masing kelompok diberikan
pertandingan kesempatan untuk mengambil satu kartu bernomor
secara bergiliran
 Kelompok pertama diberi kesempatan untuk
menjawab taka-teki yang diberikan guru.
 Apabila kelompok satu dapat menjawab taka-teki
yang diberikan maka memperoleh poin yang
tertera di belakang kartu bernomor
 Apabila tidak bisa menjawab maka teka-teki
tersebut dilemparkan ke kelompok sebelah searah

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

jarum jam.
 Selanjutnya semua siswa menuliskan jawaban
teka-teki tersebut di kertas teka-teki bergambar.

 Setelah itu, kelompok dua diberi kesempatan untuk


mengambil kartu bernomor
 Apabila kelompok dua dapat menjawab taka-teki
yang diberikan maka memperoleh poin yang
tertera di belakang kartu bernomor
 Apabila tidak bisa menjawab maka teka-teki
tersebut dilemparkan ke kelompok sebelah searah
jarum jam.
 Selanjutnya semua siswa menuliskan jawaban
teka-teki tersebut di kertas teka-teki bergambar.

 Setelah itu, kelompok tiga diberi kesempatan untuk


mengambil kartu bernomor
 Apabila kelompok tiga dapat menjawab taka-teki
yang diberikan maka memperoleh poin yang
tertera di belakang kartu bernomor
 Apabila tidak bisa menjawab maka teka-teki
tersebut dilemparkan ke kelompok sebelah searah
jarum jam.
 selanjutnya semua siswa menuliskan jawaban teka-
teki tersebut di kertas teka-teki bergambar

 Setelah itu, kelompok empat diberi kesempatan


untuk mengambil kartu bernomor
 Apabila kelompok empat dapat menjawab taka-teki
yang diberikan maka memperoleh poin yang
tertera di belakang kartu bernomor
 Apabila tidak bisa menjawab maka teka-teki
tersebut dilemparkan ke kelompok sebelah searah
jarum jam.
 Selanjutnya semua siswa menuliskan jawaban
teka-teki tersebut di kertas teka-teki bergambar.
4. Penghargaan  Tim yang menjawab benar teka-teki yang
tim disampaikan guru, maka mendapat skor yang telah
tertera dibalik kartu bernomor.
 Skor ini nantinya dikumpulkan tim untuk
menentukan skor akhir tim.
 Penghargaan diberikan kepada tim. Tim yang
paling banyak mengumpulkan poin diberikan
hadiah (reward) sebagai motivasi belajar.
 Siswa yang sedikit mengumpulkan nilai diberi
hukuman bernyanyi ke depan kelas.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Penutup:  Guru menyimpulkan pelajaran.

V. Langkah Pembelajaran : Pertemuan ke 2, tanggal 03 Mei 2011

Tahapan/Sintaks
Kegiatan Guru-Siswa
pembelajaran

Pendahuluan:  Guru mengkondisikan siswa untuk siap belajar.


 Apersepsi
Orientasi

Kegiatan inti:  Pada awal pembelajaran, guru dan siswa


menyayikan lagu : “Kukukukuruyuk” secara
bersama.
1. Presentasi  Dengan metode ceramah dan Tanya jawab, guru
menceritakan kegiatan yang biasa terjadi pada pagi
hari.
 Guru meminta siswa untuk menyebutkan kegiatan
di pagi hari yang mencerminkan sikap sikap
menjaga kebersihan dan kerapian rumah
 Guru menyimpulkan semua pendapat siswa
 Guru menyampaikan langkah kegiatan permainan
teka-teki bergambar disesi rebutan.
2. Persiapan  Siswa duduk berdasarkan pembagian kelompok
permainan pada pertemuan sebelumnya
 Setiap siswa diberikan soal yang sama berupa teka-
teki bergambar.

3. Pembelajaran  Pada sesi rebutan, masing-masing siswa dalam


dalam kelompok diberikan kesempatan sama untuk
pertandingan mendahului menjawab teka-teki yang dibacakan
guru
 Apabila tidak bisa menjawab maka teka-teki
tersebut dilemparkan ke kelompok lain
 Selanjutnya semua siswa menuliskan jawaban
teka-teki tersebut di kertas teka-teki bergambar.
4. Penghargaan  Tim yang menjawab benar teka-teki yang
tim disampaikan guru, maka mendapat skor yang telah
tertera dibalik kartu bernomor.
 Skor ini nantinya dikumpulkan tim untuk
tambahan nilai kelompok.
 Penghargaan diberikan kepada tim. Tim yang
paling banyak mengumpulkan poin diberikan
hadiah (reward) sebagai motivasi belajar.
 Siswa yang sedikit mengumpulkan nilai diberi

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

hukuman bernyanyi ke depan kelas.


Penutup:  Siswa mengerjakan latihan yang diberikan guru
 Guru menyimpulkan pelajaran.
VI. Sumber dan media :
1. Sumber
a. RPP bina 1B dalam
http://fitursekolah.wordpress.com/

b. Bahasa Kita Bahasa Indonesia 1 SD dan MA


Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan
Nasional

c. Teka-teki Bergambar dalam


http//bermaindanbelajar.com/
2. Media
a. Teka-teki bergambar
b. Kartu bernomor

VII. Penilaian :
1. teknik penilaian
1. Instrumen Instrumen penilaian adalah kuis yang dikerjakan
siswa secara individu.
Jumlah soal sekurang-kurangnya 5 dan seba-
nyak-banyaknya 20 soal.

2. Cara penghitungan Nilai akhir dihitung dengan cara :


nilai individu
N = Jumlah perolehan skor x 100
Jumlah skor maksimal

2. Bentuk Instrumen

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

LAMPIRAN 02

Teka-teki Bergambar

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma
Namaku:

TEKA-TEKI SILANG BUAH-BUAHAN

Petunjuk: Dengarkan petunjuk gurumu untuk mengisi teka-teki silang. Tentu saja,
gambar buah-buahan di bawah juga petunjuknya, lho.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

LAMPIRAN 03

RPP Siklus II

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Satuan Pendidikan : SDN 01 Ulak Karang


Selatan Padang
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Tema : Lingkungan
Kelas/Semester : I/II
Alokasi Waktu : 4x35 menit

A. Standar Kompetensi : Bahasa Indonesia

Menulis permulaan dengan huruf tegak


bersambung melalui kegiatan dikte dan menyalin
PKn
Menerapkan kewajiban anak di rumah dan di
sekolah
IPS
Mendeskripsikan lingkungan rumah.
B. Kompetensi Dasar : Bahasa Indonesia

Menulis kalimat sederhana yang didiktekan guru


dengan huruf tegak bersambung
PKn
Mengikuti tata tertib di rumah dan di sekolah
IPS
Menggambar denah rumah sendiri
C. Indikator :

Siswa menulis dan melengkapi kalimat dengan


huruf tegak bersambung yang rapi. (kogniif)
Siswa mengikuti dan menyalin kalimat sesuai
contoh dari guru. (afektif)
Menulis kalimat sesuai yang didiktekan guru.
(psikomotor)

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

Menyebutkan beberapa kewajiban dan tata tertib di


rumah. (kognitif)
Siswa dapat memilih dan membandingkan tugas
dan kewajiban pribadi dengan anggota keluarga
yang lain. (afektif)
Siswa melaksanakan piket sesuai dengan jadwal.
(psikomotor)
Menyebutkan posisi rumah sendiri. (kognitif)
Menggambar denah rumah sendiri. (Psikomoor)

I. Tujuan Pembelajaran :

a. Melalui permaian, siswa dapat menulis


kalimat yang dibacakan guru dengan huruf
tegak bersambung yang rapi

b. Melalui Tanya jawab, siswa dapat menentukan


tugas dan tanggung jawabnya di rumah

c. Melalui permainan, siswa dapat menggambar


denah rumahnya.

II. Metode Pembelajaran :


a. Ceramah

b. Permainan

c. Penugasan

d. Tanya jawab

e. Berdiskusi

f. Model permainan teka-teki bergambar

modifikasi TGT dari Slavin.

III. Materi pokok : Deskripsi benda-benda, Gambar

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

IV. Langkah Pembelajaran : Pertemuan ke 1, tanggal 07 Mei 2011

Tahapan/Sintaks
Kegiatan Guru-Siswa
pembelajaran

Pendahuluan:  Guru mengkondisikan siswa untuk siap belajar.


 Apersepsi.
Orientasi
 Guru menginformasikan tujuan pelajaran, misalnya:
 Anak-anak hari ini kalian akan belajar dan berlatih
membaca dan menulis kalimat yang ada di
lingkungan sekitar rumah dengan huruf tegak
bersambung.

Kegiatan inti:  Pada awal pembelajaran, siswa dan guru


menyanyikan lagu: lihat kebunku.
 Dengan metode mendongeng dan menggambar,
5. Presentasi guru menceritakan posisi rumah dan tugas masing-
masing anggota keluarga dalam lingkungan rumah.
 Guru menyampaikan langkah kegiatan permainan
teka-teki bergambar yang akan siswa lakukan.
6. Persiapan  Siswa duduk berdasarkan pembagian kelompok
permainan pada pertemuan sebelumnya
 Setiap siswa diberikan soal yang sama berupa teka-
teki bergambar.

7. Pembelajaran  Sesi pertama, masing-masing kelompok diberikan


dalam kesempatan untuk mengambil satu kartu bernomor
pertandingan secara bergiliran
 Kelompok pertama diberi kesempatan untuk
menjawab taka-teki yang diberikan guru.
 Apabila kelompok satu dapat menjawab taka-teki
yang diberikan maka memperoleh poin yang tertera
di belakang kartu bernomor
 Apabila tidak bisa menjawab maka teka-teki
tersebut dilemparkan ke kelompok sebelah searah
jarum jam.
 Selanjutnya semua siswa menuliskan jawaban teka-
teki tersebut di kertas teka-teki bergambar.

 Setelah itu, kelompok dua diberi kesempatan untuk


mengambil kartu bernomor
 Apabila kelompok dua dapat menjawab taka-teki
yang diberikan maka memperoleh poin yang tertera
di belakang kartu bernomor
 Apabila tidak bisa menjawab maka teka-teki
tersebut dilemparkan ke kelompok sebelah searah

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

jarum jam.
 Selanjutnya semua siswa menuliskan jawaban teka-
teki tersebut di kertas teka-teki bergambar.

 Setelah itu, kelompok tiga diberi kesempatan untuk


mengambil kartu bernomor
 Apabila kelompok tiga dapat menjawab taka-teki
yang diberikan maka memperoleh poin yang tertera
di belakang kartu bernomor
 Apabila tidak bisa menjawab maka teka-teki
tersebut dilemparkan ke kelompok sebelah searah
jarum jam.
 selanjutnya semua siswa menuliskan jawaban teka-
teki tersebut di kertas teka-teki bergambar

 Setelah itu, kelompok empat diberi kesempatan


untuk mengambil kartu bernomor
 Apabila kelompok empat dapat menjawab taka-teki
yang diberikan maka memperoleh poin yang tertera
di belakang kartu bernomor
 Apabila tidak bisa menjawab maka teka-teki
tersebut dilemparkan ke kelompok sebelah searah
jarum jam.
 Selanjutnya semua siswa menuliskan jawaban teka-
teki tersebut di kertas teka-teki bergambar.
8. Penghargaan  Tim yang menjawab benar teka-teki yang
tim disampaikan guru, maka mendapat skor yang telah
tertera dibalik kartu bernomor.
 Skor ini nantinya dikumpulkan tim untuk
menentukan skor akhir tim.
 Penghargaan diberikan kepada tim. Tim yang paling
banyak mengumpulkan poin diberikan hadiah
(reward) sebagai motivasi belajar.
 Siswa yang sedikit mengumpulkan nilai diberi
hukuman bernyanyi ke depan kelas.
Penutup:  Guru menyimpulkan pelajaran.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

VII. Langkah Pembelajaran : Pertemuan ke 2, tanggal 10 Mei 2011

Tahapan/Sintaks
Kegiatan Guru-Siswa
pembelajaran

Pendahuluan:  Guru mengkondisikan siswa untuk siap belajar.


 Apersepsi
Orientasi

Kegiatan inti:  Pada awal pembelajaran, siswa dan guru


menyanyikan lagu: lihat kebunku.
 Dengan metode Tanya jawab, guru
5. Presentasi mendiskuskikan tugas masing-masing anggota
keluarga dalam lingkungan rumah.
 Guru menyimpulkan perndapat siswa
 Guru menyampaikan langkah kegiatan permainan
teka-teki bergambar disesi rebutan
6. Persiapan  Siswa duduk berdasarkan pembagian kelompok
permainan pada pertemuan sebelumnya
 Setiap siswa diberikan soal yang sama berupa teka-
teki bergambar.

7. Pembelajaran  Pada sesi rebutan, masing-masing siswa dalam


dalam kelompok diberikan kesempatan sama untuk
pertandingan mendahului menjawab teka-teki yang dibacakan
guru
 Apabila tidak bisa menjawab maka teka-teki
tersebut dilemparkan ke kelompok lain
 Selanjutnya semua siswa menuliskan jawaban
teka-teki tersebut di kertas teka-teki bergambar.
8. Penghargaan  Tim yang menjawab benar teka-teki yang
tim disampaikan guru mendapat skor yang telah tertera
dibalik kartu bernomor.
 Skor ini dikumpulkan tim untuk tambahan nilai
kelompok.
 Penghargaan diberikan kepada tim. Tim yang
paling banyak mengumpulkan poin diberikan
hadiah (reward) sebagai motivasi belajar.
 Siswa yang sedikit mengumpulkan nilai diberi
hukuman bernyanyi ke depan kelas.
Penutup:  Siswa mengerjakan latihan yang diberikan guru
 Guru menyimpulkan pelajaran.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

VIII. Sumber dan media :


1. Sumber
a. RPP bina 1B dalam
http://fitursekolah.wordpress.com/

b. Bahasa Kita Bahasa Indonesia 1 SD dan MA


Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan
Nasional

c. Teka-teki Bergambar dalam


http//bermaindanbelajar.com/
2. Media
c. Teka-teki bergambar
d. Kartu bernomor

VII. Penilaian :

1. teknik penilaian :
1. Instrumen Instrumen penilaian adalah kuis yang dikerjakan
siswa secara individu.
Jumlah soal sekurang-kurangnya 5 dan seba-
nyak-banyaknya 20 soal.

2. Cara penghitungan Nilai akhir dihitung dengan cara :


nilai individu
N = Jumlah perolehan skor x 100
Jumlah skor maksimal

2. Bentuk Instrumen :

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

LAMPIRAN 04

Teka-teki Bergambar

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma
Namaku:

TEKA-TEKI SILANG ANEKA HEWAN

Petunjuk: Dengarkan petunjuk gurumu untuk mengisi teka-teki silang. Tentu saja,
gambar hewan di bawah juga petunjuknya, lho.

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Rangga Sudarma

SRIPSINYA BUKAN DIJADIKAN CONTOH,

TAPI DIJADIKAN PEDOMAN

Pedoman Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan