Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH GENETIKA PERTANIAN

“MEKANISME SEL MITOSIS - MEIOSIS DAN


DASAR-DASAR PEWARISAN SIFAT MENDEL”

OLEH:
MUH. RAHMATULLAH S.R (1802354211040)
ASRIANA ( )
YEYEN ( )

UNIVERSITAS ANDI DJEMMA PALOPO


FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
A. Mekanisme Sel Mitosis dan Meiosis
Setiap sel dapat mengembangkan atau memperbanyak diri
membentuk sel-sel yang baru dengan proses pembelahan. Pada makhluk
hidup bersel tunggal, pembelahan sel tersebut merupakan cara untuk
berkembang biak. Contohnya pada bakteri maupun pada protozoa, terjadi
proses pembelahan sel dari satu sel menjadi dua, empat, delapan, dan
seterusnya.
Sedangkan pada makhluk hidup bersel banyak, reproduksi sel
mengakibatkan bertambah banyaknya sel-sel pada tubuh, dengan demikian
terjadilah pertumbuhan makhluk hidup. Contoh, sel-sel pada tubuh anak
kambing yang terus menerus membelah diri yang mengakibatkan tubuh anak
kambing tersebut bertambah besar. Selain itu, reproduksi sel juga
menyebabkan dihasilkannya sel-sel gamet (sel kelamin); kambing jantan
menghasilkan sperma, dan kambing betina menghasilkan ovum.
Pembelahan sel dibagi menjadi 2, yaitu pembelahan sel secara
langsung dan pembelahan sel secara tidak langsung. Di dalam pembahasan
ini hanya akan menjelaskan tentang pembelahan sel secara tidak langsung.
Pembelahan sel secara tidak langsung adalah pembelahan yang melalui
tahapan-tahapan tertentu. Setiap tahapan pembelahan ditandai dengan
penampakan kromosom yang berbeda-beda. Ketika sel akan membelah,
benang-benang kromatin menebal dan memendek, yang kemudian disebut
kromosom. Kromosom dapat berikatan dengan warna tertentu, sehingga
dapat diamati dengan mikroskop. Hasil penelitian para ahli menunjukan
bahwa kromosom merupakan benang pembawa sifat. Dan di dalam
kromosom terdapat gen sebagai faktor pembawa sifat.
B. Dasar-dasar pewarisan Mendel
Gregor Jhoann Mendel, adalah seorang biologiawan berasal dari
Austria. Ia menggeluti di bidang Biologi, khususnya mengenai
hireditas yang dikenal oleh seluruh dunia dengan nama Hukum
Mendel.
Hukum Mendel merupakan hukum hireditas yang menjelaskan
prinsip-prinsip penurunan sifat pada suatu organisme. Sebelum
menjadi suatu hukum, banyak ahli yang belum mengakui pendapat
Mendel mengenai teori hireditas. Kemudian pada tahun 1900, teori
mendel dikemukakan terpisah oleh Von Tscermak, de Vries, dan
Corren. Kemudian para ahli Biologi mengakui kebenaran teori Mendel.
Bahwa terdapat factor penentu sifat-sifat organism yang diwariskan
dari satu generasi ke generasi lainnya.
Dari penjabaran di atas, maka kami akan membahas hukum mendel 1
dan hukum mendel 2 serta penyimpangan dari teori mendel di makalah
kami ini.

2. Rumusan Masalah
1. Apa itu pembelahan Meiosis?
2. Apa itu pembelahan Mitosis?
3. Bagaimanakah hukum mendel 1?
4. Bagaimanakah hukum mendel 2?
5. Bagaimana penyimpangan Teori Mendel?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Meiosis
Meiosis adalah bentuk pembelahan inti yang sangat penting diantara
reproduksi seksual organisme. Meiosis terjadi pada organisme eukariot, yang
selnya mengandung jumlah kromosom diploid. Dioploid berarti rangkap,
dalam artian bahwa informasi genetik pada salah satu kromosom dapat
dijumpai pada bentuk yang sama (termodifikasi) pada kromosom kedua di
dalam inti. Kedua kromosom membentuk pasangan sedemikian yang
dinamakan homolog. Sel diploid manusia mengandung 46 kromosom, atau 23
pasang homolog ke 46 kromosom dari zigote terbentuk dari fertilisasi, yang
berasal dari sel sperma dan sel telur yang masing-masing gamet memberikan
satu anggotanya dari setiap pasangan homolognya.

*Ciri pembelahan secara meiosis adalah:


Terjadi di sel kelamin. Jumlah sel anaknya 4, jumlah kromoson 1/2
induknya. Pembelahan terjadi 2 kali. Meiosis hanya terjadi pada fase
reproduksi seksual atau pada jaringan nuftah. Pada meiosis, terjadi
perpasangan dari kromosom homolog serta terjadi pengurangan jumlah
kromosom induk terhadap sel anak. Disamping itu, pada meiosis terjadi dua
kali periode pembelahan sel, yaitu pembelahan I (meiosis I) dan pembelahan
II (meiosis II).
Meiosis I, fase-fasenya meliputi:
1. Profase I
Profase I terbagi lagi menjadi fase-fase sebagai berikut:
a. Leptonema: Benang-benang kromatin menjadi kromosom.
b. Zigonema: Kromosom yang sama bentuknya atau kromosom
homolog berdekatan dan bergandengan. Setiap pasang
kromosom homolog disebut bivalen.
c. Pakinema: Tiap bagian kromosom homolog mengganda, tetapi
masih dalam satu ikatan sentromer, sehingga terbentuk tetrad.
d. Diplonema: kromatid dari tiap-tiap belahan kromosom
memendek dan membesar.
e. Diakinesis: Sentrosom membentuk dua sentriol yang masing-
masing membentuk benang gelendong pembelah (benang
spindel). Satu sentriol tetap, sedangkan sentriol yang lain
bergerak ke arah kutub yang berlawanan. Membran inti dan
nukleolus menghilang. Empat kromatid bivalen tadi disebut
tetrad dan terjerat oleh benang spindel yang dibentuk oleh
sentriol-sentriol.
2. Metafase I
Tetrad berkumpul di bidang ekuator,
3. Anafase I
Benang gelendong pembelah dari masing-masing kutub menarik
kromosom homolog, sehingga setiap pasangan kromosom
homolog berpisah bergerak ke arah kutub yang berlawanan.
Sentromer belum membelah, setiap kutub menerima campuran
acak kromosom dari ibu dan bapak.
4. Telofase I
Kromatid memadat, selubung inti terbentuk, dan nukleolus
muncul lagi, kemudian sitokinesis berlangsung. Pada manusia
terjadi duplikasi 2 kromosom dari jumlah 4 kromatid, sehingga
terbentuk 23 kromosom yang diduplikasi di setiap kutub. Benang
gelendong lenyap, kromatid muncul kembali; setriol berperan
sebagai sentrosom kembali.
Meiosis II, fase-fasenya meliputi:
1. Profase II
Sentrosom membentuk dua sentriol yang letaknya pada kutub
yang berlawanan dan digabungkan oleh benang gelendong.
Membran inti dan nukleolus lenyap, kromatid berubah menjadi
kromosom yang terjerat oleh benang gelendong.
2. Metafase II
Kromosom berada di bidang ekuator, kromatid berkelompok dua-
dua. Belum terjadi pembelahan sentromer.
3. Anafase II
Kromosom melekat pada kinetokor benang gelendon, lalu ditarik
oleh benang gelendong ke arah kutub yang berlawanan yang
menyebabkan sentromer terelah. Sebagai akibatnya, masing-
masing kromatidnya bergerak ke arah yang berlawanan.
4. Telofase II
Kromatid berkumpul pada kutub pembelahan, lalu berubah
menjadi kromatid kembali. Bersama dengan itu membran inti dan
anak inti terbentuk lagi, dan sekat pemisah semakin jelas, sehingga
akhirnya terjadilah dua sel anakan.

B. Mitosis
Mitosis adalah proses pembagian genom yang telah digandakan oleh
sel ke dua sel identik yang dihasilkan oleh pembelahan sel. Mitosis umumnya
diikuti sitokinesis yang membagi sitoplasma dan membran sel. Proses ini
menghasilkan dua sel anak yang identik, yang memiliki distribusi organel dan
komponen sel yang nyaris sama. Mitosis dan sitokenesis merupakan fasa
mitosis (fase M) pada siklus sel, dimana sel awal terbagi menjadi dua sel
anakan yang memiliki genetik yang sama dengan sel awal.
Mitosis terjadi hanya pada sel eukariot. Pada organisme multisel, sel
somatik mengalami mitosis, sedangkan sel kelamin (yang akan menjadi
sperma pada jantan atau sel telur pada betina) membelah diri melalui proses
yang berbeda yang disebut meiosis. Sel prokariot yang tidak memiliki
nukleus menjalani pembelahan yang disebut pembelahan biner.
Mitosis adalah cara reproduksi sel dimana sel membelah melalui
tahap-tahap yang teratur, yaitu Profase-Metafase-Anafase-Telofase. Antara
tahap telofase ke tahap profase berikutnya terdapat masa istirahat sel yang
dinarnakan Interfase (tahap ini tidak termasuk tahap pembelahan sel). Pada
tahap interfase inti sel melakukan sintesis bahan-bahan inti. Secara garis
besar ciri dari setiap tahap pembelahan pada mitosis adalah sebagai berikut:

1. Interfase
Tahap interfase merupakan tahap persiapan yang esensial untuk
pembelahan sel, karena pada tahap ini kromosom direplikasi. Saat
pembelahan sel, kromatin dikemas sangat padat/kompak sehingga
tampak sebagai kromosom. Selama interfase, kromatin tidak terlalu
terkondensasi untuk ekspresi informasi genetik.
2. Profase
 Nukleolus melebur dan kromatin (gabungan hasil replikasi DNA
dengan protein) terkondensasi menjadi kromosom
 Masing-masing kromosom hasil replikasi mengandung 2 kromatid
yang mengandung informasi genetik yang sama
 Mikrotubulus sitoskeleton berubah fungsi dari mempertahankan
bentuk sel menjadi fungsi membangun spindel mitotik dari bagian
sentrosom.
3. Metafase
 Dinding inti benar-benar melebur, benang gelendong meluas
 Terdapat bidang pembelahan (ekuator)
 Kromatid menuju bidang pembelahan berkumpul/berderet pada
bidang pembelahan
 Terbentuk benang antar kromatid / benang interkromosom
(interzonal)
 Tegangan serat spindel membuat kromosom berada satu bidang pada
pusat sel.
4. Anafase
 Dimulai dengan pemisahan kromatid pada sentromernya
 Sentromer dari masing-masing kromatid membelah menjadi dua
 Kromatid memisah dari bidang pembelahan kromoson
 Kromosom bergerak ke kutub yang berlawanan (pergerakan ini
dibantu oleh kontraksi benang kromosom dan dorongan benang
interkromosomal).
5. Telofase
 Kromosom yang telah sampai di kutubnya mulai memanjang kembali
kromatid
 Anak inti dibentuk kembali
 Dinding inti dibentuk kembali
 Benang-benang gelendong hilang.
C. DASAR-DASAR PEWARISAN MENDEL

1. Pengertian Gen
Pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Hunt Morgan, ahli Genetika
dan Embriologi
Amerika Serikat (1911), yang mengatakan bahwa substansi hereditas yang
dinamakan gen terdapat dalam lokus, di dalam kromosom.
Menurut W. Johansen, gen merupakan unit terkecil dari suatu makhluk hidup
yang
mengandung substansi hereditas, terdapat di dalam lokus gen. Gen terdiri
dari protein dan asam nukleat (DNA dan RNA), berukuran antara 4 – 8 m
(mikron).
2. Sifat-Sifat Gen
Gen mempunyai sifat-sifat sebagai berikut.
 Mengandung informasi
 Tiap gen mempunyai tugas dan fungsi berbeda.
 Pada waktu pembelahan mitosis dan meiosis dapat mengadakan
duplikasi.
 Ditentukan oleh susunan kombinasi basa nitrogen.
 Sebagai zarah yang terdapat dalam kromosom.
3. Fungsi Gen
Fungsi gen antara lain:
 Menyampaikan informasi kepada generasi berikutnya.
 Sebagai penentu sifat yang diturunkan.
 Mengatur perkembangan dan metabolisme.

4. Simbol-Simbol Gen

- Gen dominan, yaitu gen yang menutupi ekspresi gen lain, sehingga
sifat yang dibawanya terekspresikan pada turunannya (suatu
individu) dan biasanya dinyatakan dalam huruf besar, misalnya A.
- Gen resesif, yaitu gen yang terkalahkan (tertutupi) oleh gen lain (gen
dominan) sehingga sifat yang dibawanya tidak terekspresikan pada
keturunannya.
- Gen heterozigot , yaitu dua gen yang merupakan perpaduan dari sel
sperma (A) dan sel telur (a).
- Gen homozigot, dominan, yaitu dua gen dominan yang merupakan
perpaduan dari sel kelamin jantan dan sel kelamin betina, misalnya
genotipe AA.
- Gen homozigot resesif, yaitu dua gen resesif yang merupakan hasil
perpaduan dua sel kelamin. Misalnya aa.
- Kromosom homolog, yaitu kromosom yang berasal dari induk betina
berbentuk serupa dengan kromosom yang berasal dari induk jantan.
- Fenotipe, yaitu sifat-sifat keturunan pada F1, F2, dan F3 yang dapat
dilihat, seperti tinggi, rendah, warna, dan bentuk.
- Genotipe, yaitu sifat-sifat keturunan yang tidak dapat dilihat, misalnya
AA, Aa, dan aa.

Hukum Mendel I

2.1.1. Penelitian Mendel

Dalam penelitiannya selama 8 tahun (1856-1863) Mendel menggunakan


tanaman kapri atau ercis (pisum sativum). Ia memilih menggunakan tanaman ini
karena terdapat berbagai sifat yang menguntungkan, yaitu:

1. Tanaman kapri dapat mengadakan penyerbukan sendiri dan dapat disilangkan.


2. Memiliki beberapa bagian yang dapat memperlihatkan sifat yang kontras,
yaitu:
a. Ukuran tanaman (tinggi lawan rendah)
b. Batang tanaman (bunga sepanjang batang lawan bunga di ujung batang)
c. Buah polong yang ;
- Penuh lawan berlekuk
- Kuning lawan hijau
d. Biji yang :
- Bulat lawan berlekuk
- Kuning lawan hijau
- Kulit biji putih (berasal dari bunga putih) lawan kulit biji abu-abu
(berasal dari bunga ungu)

Semua sifat yang disebut di depan adalah dominan (mengalahkan)


terhadap sifat di belakang disebut sifat resesif (dikalahkan). Mendel dapat member
beberapa kesimpulan yang penting dari hasil penelitiannya, yaitu:

 Hibrid ialah hasil persilangan dua individu dengan tanda beda. Memiliki
sifat yang mirip dengan induknya dan setiap hibrid mempunyai sifat yang
sama dengan hibrid yang lain dari spesies yang sama.
 Karakter (sifat) dari keturunan suatu hibrit selalu timbul kembali secara
teratur dan inilah yang memberi petunjuk kepada Mendel bahwa tentu ada
faktor-faktor tertentu yang mengambil peranan dalam pemindahan sifat
dari satu generasi ke generasi berikutnya.
 Mendel merasa bahwa apabila “faktor-faktor keturunan” itu mengikuti
distribusi yang logis, maka suatu hukum atau pola akan dapat diketahui
dengan cara mengadakan banyak persilangan dan menghitung bentuk-
bentuk yang berbeda seperti yang tampak dalam keturunan.

1.1.2. Terminologi

Untuk mengerti jalannya penelitian Mendel perlu dikenal beberapa


istilah, seperti:

1. P = singkatan dari kata parental, yang berarti induk


2. F = singkatan dari kata filial, yang berarti keturunan Ada F1 (keturunan
pertama), F2, F3, F4, dan seterusnya.
3. Fenotip = karakter (sifat) yang dapat kita amati (bentuk, ukuran, warna,
golongan darah dan sebagainya)
4. Genotif = susunan genetic suatu individu (jadi sesuatu yang tidak dapat
diamati)
5. Simbol untuk suatu gen (istilah pengganti untuk “factor keturunan”)
dikemukakan dengan sebuah huruf yang biasanya merupakan huruf pertama
dari suatu sifat. Misalnya:
R = gen yang menyebabkan warna merah (“Rubra”)
r = gen yang menyebabkan warna putih (“alba”)
merah adalah dominan terhadap putih, karena itu diberi symbol
dengan huruf besar. Yang resesif diberi symbol dengan huruf
kecil.
6. Genotif suatu individu diberi symbol dengan huruf dobel, karena individu itu
umumnya diploid. Misalnya:
- RR = genotip untuk tanaman berwarna merah
- rr = genotip untuk tanaman berwarna putih
7. Homozigotik = sifat suatu individu yang genotipnya terdiri dari gen-gen yang
sama dari tiap jenis gen (misalnya RR, rr, AA, AABB, aabb, dan sebagainya)
8. Alel = anggota dari sepasang gen, misalnya:
R = gen untuk warna bunga merah
r = gen untuk warna bunga putih
T = gen untuk tanaman tinggi
t = gen untuk tanamaan rendah
R dan r satu sama lain merupakan alel, tetapi R dan t bukan alel.

9. ♂= symbol untuk jenis kelamin jantan/ pria


♀= symbol untuk jenis kelamin betina/ wanita.

1.1.3. Bunyi Hukum Mendel I

Hukum Mendel I : Pemisahan gen sealel. Dalam bahasa Inggris disebut


“Segregation of alLelic genes”. Peristiwa pemisahan alel ini terlihat ketika
pembuatan gamet individu yang memilki genotip heterozigot, sehingga tiap gamet
mengandung salah satu alel itu. Hokum ini disebut juga hokum segregasi.
Berdasarkan percobaan menyilang dua individu yang memiliki satu karakter
berbeda: monohybrid.

Persilangan Monohibrid

Mendel mengambil serbuk sari dari bunga tanaman yang bijinya berlekuk
dan diserbukkan pada putik dari bunga tanaman yang bijinya bulat. Semua
keturunan F1 yang berupa suatu hybrid berbentuk tanaman yang bijinya bulat.
Ketika menyilangkan tanam-tanaman F1 didapatkan keturunan F2 yang
memperlihatkan perbandingan fenotip kira-kira 3 biji bulat : 1 biji berlekuk.

P ♀ Genotip: BB >< ♂ Genotip: Bb


Fenotip: Bulat Fenotip: Berkerut
(homozigotik) (homozigotik)

F1 Genotip: Bb
Fenotip: Semua bulat
(heterozigotik)

F1 >< F1 : ♀ Genotip: Bb >< ♂ Genotip: Bb


Fenotip: Bulat Fenotip: Bulat
(heterozigotik) (heterozigotik)

♀ ♂ B B F2
B BB Bb
1 bulat 2 bulat
B Bb Bb
3 bulat 4 berkerut

Gambar 1. Diagram persilangan monohobrid (Bb >< Bb). Cara mencari


keturunan F2 dengan menggunakan kotak-kotak yang disebut metode
punnett, yaitu nama seorang biologiwan reginald punnett yang
menemukannya. Karena gen dominan B memperlihatkan dominansi
sepenuhnya, maka persilangan monohybrid menghasilkan keturunan F 2
dengan perbandingan fenotip 3:1.

Berhubung dengan itu prinsip ini dirumuskan sebagai hukum 1 dari


mendel yang dikenal dengan nama “The Law of Segregation of Allelic Genes”
(Hukum pemisahan gen yang sealel).

Persilangan Resiprok

Persilangan resiprok (persilangan kebalikan) ialah persilangan yang


merupakan kebalikan dari persilangan yang semula dilakukan. Sebagai contoh
dapat digunakan percobaan Mendel lainnnya.

H = gen yang menentukan buah polong berwarna hijau

h = gen yang menentukan buah polong berwarna kuning


Mula-mula serbuk sari dari bunga pada tanaman berbuah polong hijau
diserbukkan pada putik bunga pada tanaman berbuah polong kuning. Pada
persilangan berikutnya cara tersebut di atas dibalik. Dari kedua macam
persilangan tersebut ternyata didapatkan keturunan F1 maupun F2 yang sama.

P ♀ Hh >< ♂ HH
Kuning Hijau
F1 Hh
Hijau
F2 HH = Polong hijau
Hh= Polong hijau
Hh= Polong hijau
hh= Polong kuning

Gambar 2. Persilangan resiprok menghasilkan keturunan yang


sama baik F1 maupun F2

Persilangan Kembali (“Backcross”)

Persilangan kembali ialah persilangan antara hybrid F1 dengan induknya


jantan atau betina. Ambillah sebagai contoh marmot.

B = gen untuk warna hitam


b = gen untuk warna putih

Marmot jantan hitam homozigotik BB dikawinkan dengan marmot betina


putih homozigotik bb menghasilkan keturunan F1 seragam, yaitu Bb berwarna
hitam. Jka marmot F1 disilangkan kembali dengan induk jantan (hitam
homozigotik), maka semua marmot F2 berwarna hitam, meskipun genotipnya
berbeda.

P ♂ BB >< ♀ Bb
Hitam putih
F1 Bb
Hitam
“Backcross” ♂ Bb >< ♀ Bb
Hitam Hitam

♀ ♂ B
B BB
Hitam
B Bb
Hitam

Gambar 3. Persilangan kembali antara hybrid F1 dengan induk jantan


yang homozigotik yang dominan
Uji silang (“Testcross”)

Uji silang ialah persilangan antara hybrid F1 dengan individu yang


homozigotik resesif. Jika digunakan induk seperti pada contoh di bawah, hybrid
F1 disilangkan dengan induk betina (homozigotik resesif).

Uji silang pada monohybrid ini menghasilkan keturunan dengan


perbandingan fenotip maupun genotip sebagai 1:1. Jadi ujisilang itu dapat
merupakan suatu “backcross”, akan tetapi “backcross” belum tentu ujisilang.

P ♂ BB >< ♀ Bb
Hitam Putih
F1 Bb
hitam
Ujisilang: ♂ Bb >< ♀ Bb
Hitam putih

♀ ♂ B b
Bb bb
B hitam putih
50% 50%

Gambar 4. Ujisilang monohybrid menghasilkan keturunan dengan


perbandingan fenotip 1:1

Persilangan ini diberi nama ujisilang karena cara ini biasanya dilakukan
untuk menguji, apakah suatu individu itu homozigotik ataukah heterozigotik.
Sebab jika suatu individu itu homozigotik hitam (BB), maka persilangan dengan
dobel resesfi putih (bb) akan dihasilkan keturunan yang semuanya hitam. Tetapi
jika keturunannya memisah dengan perbandingan 50% hitam : 50% putih, maka
dapat diambil kesimpulan bahwa individu yang hitam itu adalah heterozogotik.
2.2 Hukum Mendel 2

Hukum kedua Mendel menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua
pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak
bergantung pada pasangan sifat yang lain. Dengan kata lain, alel dengan gen sifat
yang berbeda tidak saling mempengaruhi. Hal ini menjelaskan bahwa gen yang
menentukan misalnya tinggi tanaman dengan warna bunga suatu tanaman, tidak
saling mempengaruhi.

Seperti nampak pada gambar 1, induk jantan (tingkat 1) mempunyai genotipe


ww (secara fenotipe berwarna putih), dan induk betina mempunyai genotipe RR
(secara fenotipe berwarna merah).

Gambar 2

Keturunan pertama (tingkat 2 pada gambar) merupakan persilangan dari


genotipe induk jantan dan induk betinanya, sehingga membentuk 4 individu baru
(semuanya bergenotipe wR). Selanjutnya, persilangan/perkawinan dari keturuan
pertama ini akan membentuk indidividu pada keturunan berikutnya (tingkat 3
pada gambar) dengan gamet R dan w pada sisi kiri (induk jantan tingkat 2) dan
gamet R dan w pada baris atas (induk betina tingkat 2). Kombinasi gamet-gamet
ini akan membentuk 4 kemungkinan individu seperti nampak pada papan catur
pada tingkat 3 dengan genotipe: RR, Rw, Rw, dan ww. Jadi pada tingkat 3 ini
perbandingan genotipe RR , (berwarna merah) Rw (juga berwarna merah) dan ww
(berwarna putih) adalah 1:2:1. Secara fenotipe perbandingan individu merah dan
individu putih adalah 3:1.

Kalau contoh pada gambar 1 merupakan kombinasi dari induk dengan satu
sifat dominan (berupa warna), maka contoh ke-2 menggambarkan induk-induk
dengan 2 macam sifat dominan: bentuk buntut dan warna kulit. Persilangan dari
induk dengan satu sifat dominan disebut monohibrid, sedang persilangan dari
induk-induk dengan dua sifat dominan dikenal sebagai dihibrid, dan seterusnya.

Pada gambar 2, sifat dominannya adalah bentuk buntut (pendek dengan


genotipe SS dan panjang dengan genotipe ss) serta warna kulit (putih dengan
genotipe bb dan coklat dengan genotipe BB). Gamet induk jantan yang terbentuk
adalah Sb dan Sb, sementara gamet induk betinanya adalah sB dan sB (nampak
pada huruf di bawah kotak). Lihat ganbar dibawah:

Kombinasi gamet ini akan membentuk 4 individu pada tingkat F1


dengan genotipe SsBb (semua sama). Jika keturunan F1 ini kemudian dikawinkan
lagi, maka akan membentuk individu keturunan F2. Gamet F1nya nampak pada
sisi kiri dan baris atas pada papan catur. Hasil individu yang terbentuk pada
tingkat F2 mempunyai 16 macam kemungkinan dengan 2 bentuk buntut: pendek
(jika genotipenya SS atau Ss) dan panjang (jika genotipenya ss); dan 2 macam
warna kulit: coklat (jika genotipenya BB atau Bb) dan putih (jika genotipenya bb).
Perbandingan hasil warna coklat:putih adalah 12:4, sedang perbandingan hasil
bentuk buntut pendek:panjang adalah 12:4. Perbandingan detail mengenai
genotipe SSBB:SSBb:SsBB:SsBb: SSbb:Ssbb:ssBB:ssBb: ssbb adalah 1:2:2:4:
1:2:1:2: 1.

2.3 Penyimpangan Pada Hukum Mendel

Penyimpangan semu hukum Mendell merupakan bentuk persilangan


yang menghasilkan rasio fenotif yang berbeda dengan dasar dihibrid menurut
hukum Mendell. Meskipun tampak berbeda sebenarnya rasio fenotif yang
diperoleh merupakan modifikasi dari penjumlahan rasio fenotif hukum Mendel
semula.

Macam penyimpangan hukum Mendell adalah sebagai berikut:

1. Polimeri

Polimeri adalah suatu gejala dimana terdapat banyak gen bukan alel tetapi
mempengaruhi karakter/sifat yang sama. Polimeri memiliki ciri: makin banyak
gen dominan, maka sifat karakternya makin kuat.
Contoh: persilangan antara gandum berkulit merah dengan gandum
berkulit putih

P : gandum berkulit merah x gandum berkulit putih

M1M1M2M2 m1m1m2m2

F1 : M1m1M2m2

merah muda

P2 : M1m1M2m2 x M1m1M2m2

F2 : 9 M1- M2 - : merah – merah tua sekali

3 M1- m2m2 : merah muda – merah tua

3 m1m1M2 - : merah muda – merah tua

1 m1m1m2m2 : putih

 Dari contoh di atas diketahui bahwa gen M1 dan M2 bukan alel, tetapi
sama-sama berpengaruh terhadap warna merah gandum.

 Semakin banyak gen dominan, maka semakin merah warna gandum.

o 4M = merah tua sekali


o 3M = merah tua

o 2M = merah

o M = merah muda

o m = putih

Bila disamaratakan antara yang berwarna merah dengan yang berwarna putih,
diperoleh:

Rasio fenotif F2 merah : putih = 15 : 1

2. Kriptomeri

Kriptomeri merupakan suatu peristiwa dimana suatu faktor tidak tampak


pengaruhnya bila berdiri sendiri, tetapi baru tampak pengaruhnya bila ada faktor
lain yang menyertainya. Kriptomeri memiliki ciri khas: ada karakter baru muncul
bila ada 2 gen dominan bukan alel berada bersama.

Contoh: persilangan Linaria maroccana

A : ada anthosianin B : protoplasma basa


a : tak ada anthosianin b : protoplasma tidak basa

P : merah x putih

AAbb aaBB

F1 : AaBb = ungu - warna ungu muncul karena A dan B berada


bersama

P2 : AaBb x AaBb

F2 : 9 A-B- : ungu

3 A-bb : merah

3 aaB- : putih

1 aabb : putih

Rasio fenotif F2 ungu : merah : putih = 9 : 3 : 4

3. Epistasis-Hipostasis

Epistasis-hipostasis merupakan suatu peristiwa dimana suatu gen dominan


menutupi pengaruh gen dominan lain yang bukan alelnya. Gen yang menutupi
disebut epistasis, dan yang ditutupi disebut hipostasis.
Contoh: persilangan antara jagung berkulit hitam dengan jagung berkulit
kuning.

P : hitam x kuning

HHkk hhKK

F1 : HhKh = hitam

Perhatikan bahwa H dan K berada bersama dan keduanya dominan. Tetapi


karakter yang muncul adalah hitam. Ini berarti hitam epistasis (menutupi)
terhadap kuning/kuning hipostasis (ditutupi) terhadap hitam.

P2 : HhKk x HhKk

F2 : 9 H-K- : hitam

3 H-kk : hitam

3 hhK- : kuning

1 hhkk : putih

Rasio fenotif F2 hitam : kuning : putih = 12 : 3 : 1


4. Komplementer

Komplementer merupakan bentuk kerjasama dua gen dominan yang saling


melengkapi untuk memunculkan suatu karakter.

Contoh: perkawinan antara dua orang yang sama-sama bisu tuli

P : bisu tuli x bisu tuli

DDee ddEE

F1 : DdEe = normal

D dan E berada bersama bekerjasama memunculkan karakter normal. Bila hanya


memiliki salah satu gen dominan D atau E saja, karakter yang muncul adalah bisu
tuli.

P2 : DdEe X DdEe

F2 : 9 D-E- : normal

3 D-uu : bisu tuli

3 ppE- : bisu tuli

1 ppuu : bisu tuli

Rasio fenotif F2 normal : bisu tuli = 9 : 7

5. Interaksi alel

Interaksi alel merupakan suatu peristiwa dimana muncul suatu karakter


akibat interaksi antar gen dominan maupun antar gen resesif.
Contoh: mengenai pial/jengger pada ayam

R-pp : pial Ros/Gerigi rrP- : pial Pea/Biji

R-P- : pial Walnut/Sumpel rrpp : pial Single/Bilah

P : Ros x Pea

R-pp rrP-

F1 : RrPp Walnut

P2 : RrPp X RrPp

F2 : 9 R-P- : Walnut

3 R-pp : Ros
3 rrP- : Pea

1 rrpp : Single

Pada contoh di atas ada 2 karakter baru muncul:

 Walnut : muncul karena interaksi 2 gen dominan

 Singel : muncul karena interaksi 2 gen resesif

Rasio fenotif F2 Walnut : Ros : Pea : Single = 9 : 3 : 3 : 1

BAB III

A. KESIMPULAN MITOSIS DAN MEIOSIS

Pada pembelahan sel secara tidak langsung mitosis, pembelahan


terjadi di sel-sel somatis (sel tubuh). Sebagai contoh pembelahan mitosis
yaitu pada saat penyalinan DNA sebelum pembelahan sel terjadi. Penyalinan
DNA ini diharuskan agar setiap sel anak memiliki ganom yang lengkap.
Replikasi dan distribusi DNA dalam jumlah banyak itu terkelola dengan baik,
karena molekul-molekul DNA dikemas menjadi kromosom. Setiap spesies sel
eukariotik memiliki jumlah kromosom yang khas di dalam setiap nukleus sel.
Misalnya sel somatik pada manusia (semua sel tubuh kecuali sel reproduktif
atau gamet) mengandung 46 kromosom. Sel sperma dan sel telur manusia
memiliki jumlah kromosom setengah kromosom sel somatik, yaitu 23
kromosom.
Sedangkan pada pembelahan sel secara meiosis, pembelahan terjadi
pada alat kelamin. Oogenesis dan Spermatogenesis merupakan contoh dari
pembelahan meiosis, dimana jumlah kromosom yang dihasilkan yaitu
setengah jumlah kromosom sel induknya (haplaoid).
B. KESIMPULAN PEWARISAN MENDEL
Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada
organisme, yang kita kenal dengan hukum segregasi dan hukum asortasi bebas,
yang telah di jabarkan oleh Gregor Johann Mendel . Mendel mengatakan bahwa
pada pembentukan gamet (sel kelamin), kedua gen induk (Parent) yang
merupakan pasangan alel akan memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu
gen dari induknya sebagaimana bunyi hukum mendel I, Secara garis besar, hukum
ini mencakup tiga pokok:
a. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter
turunannya.
b. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan dan satu dari
tetua betina.
c. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda, alel akan selalu
terekspresikan. Alel resesif yang tidak selalu terekspresikan, tetap akan
diwariskan pada gamet yang dibentuk pada turunannya.
Dan bunyi hukum mendel II, menyatakan bahwa bila dua individu
mempunyai dua pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara
bebas, tidak bergantung pada pasangan sifat yang lain.
Hukum keturunan merupakan penambah penting buat pengetahuan manusia,
dan pengetahuan kita tentang genetika mungkin akan lebih dapat dipraktekkan di
masa depan daripada sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Bandiati, Sri. 2007. Buku Ajar Genetika Ternak. Sri Lestari Network. Bandung.

http://ilmubiologiqu.blogspot.com/2012/09/pembelahan-mitosis-dan
meiosis.html diakses pada 26 Agustus 2014.

http://marwanard.blogspot.com/2011/10/paper-mitosis-dan-meiosis.html
diakses pada 26 Agustus 2014.

Pratiwi, D.A, dkk. 2006. Biologi. Erlangga. Jakarta.