Anda di halaman 1dari 68

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Sistem Kesehatan Nasional adalah suatu tatanan yang mencerminkan upaya
bangsa Indonesia untuk meningkatkan kemampuannya mencapai derajat
kesehatan yang optimal sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti yang
dimaksud Undang-Undang Dasar 1945.
Arah kebijakan pembangunan di Indonesia telah mengalami pergeseran
menuju paradigma sehat. Paradigma sehat merupakan upaya kesehatan yang lebih
mengutamakan tindakan promotif, preventif dan tidak mengesampingkan upaya
kuratif dan rehabilitatif. Paradigma sehat adalah suatu kebijakan pembangunan
kesehatan dalam rangka mencapai visi Indonesia sehat dimana diproyeksikan
tentang keadaan masyarakat mayoritas hidup dalam lingkungan yang sehat,
berperilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan
yang bermutu, adil dan merata serta berada pada derajat kesehatan yang optimal.
Keperawatan adalah salah satu bagian integral dari pelayanan kesehatan di
Indonesia, memiliki konstribusi yang nyata dalam pembangunan kesehatan
terutama dalam mendukung kebijakan pemerintah melalui paradigma sehat
menuju visi Indonesia sehat. Perawatan kesehatan masyarakat/komunitas
merupakan perpaduan antara praktek keperawatan dan praktek kesehatan
masyarakat yang dilakukan untuk menunjang dan memulihkan kesehatan
populasi. Kegiatan praktek ini dilakukan secara menyeluruh dan tidak terbatas
pada sekelompok umur dan diagnosa tertentu serta dilaksankan secara
berkelanjutan.
Dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat, berbagai upaya
kesehatan telah diselengarakan. Salah satu bentuk upaya kesehatan tersebut
adalah pelayanan kesehatan melalui Puskesmas dan Rumah sakit sebagai
tempat rujukan.
Peningkatan peran serta masyarakat bertujuan untuk meningkatkan
dukungan masyarakat secara aktif dan dinamis dalam berbagai upaya kesehatan
mayarakat dan mendorong kearah kemaandirian dalam memecahkan kesehatan
dengan penuh tanggung jawab.
Dalam rangka turut serta mendukung kebijakan pemerintah tentang
kesehatan tersebut maka Program Profesi Ners Universitas Muhammadiyah
Gorontalo sebagai salah satu institusi pendidikan kesehatan memiliki tanggung
jawab dalam rangka mempersiapkan tenaga kesehatan/keperawatan yang
berkualitas dimasa depan melalui praktik keperawatan komunitas. Kegiatan
merupakan Tri darma Perguruan Tinggi yaitu bidang pengabdian masyarakat.
Praktik keperawatan komunitas juga merupakan suatu bentuk
pengembangan dari praktik klinik keperawatan bagi mahaiswa yang diarahkan
pada pengalaman nyata penerapan Primary Health Care.
Dipilihnya Desa Mulyonegoro sebagai tempat keperawatan komunitas
karena merupakan salah satu bentuk aplikatif mata ajaran Asuhan Keperawatan
Komunitas pada Program Profesi Ners Universitas Muhammadiyah Gorontalo
disamping itu pula untuk melihat secara nyata pola perilaku kebiasaan hidup sehat
pada masyarakat, dengan tujuan untuk merubah perilaku dan meningkatkan
pengetahuan tentang pola hidup sehat dari tidak tahu menjadi tahu, dan juga
memberikan pengetahuan kepada masyarakat dalam bentuk penyuluhan-
penyuluhan atau mempraktikkan secara langsung bagaimana cara mengatasi
penyakit yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan yang tidak sehat,
penyakit infeksi yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat sendiri.

1.2 TUJUAN
1.2.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan penulisan laporan ini agar mahasiswa mampu memberikan
asuhan keperawatan komunitas dan keluarga sesuai konsep dan teori keperawatan
komunitas.
1.2.2 Tujuan Khusus
Dalam program Profesi Ners Stase komunitas diharapkan mahasiswa
mampu :
1. Mengidentifikasi data yang diperlukan
2. Mengumpulkan data dengan menggunkan metode/ strategi yang sesuai
3. Menganalisa data yang diperlukan
4. Menentukan masalah kesehatan dan masalah keperawatan
5. Menetapkan prioritas kebutuhan kesehatan dan masalah keperawatan
berdasarkan kriteria tertentu
6. Melaksanakn rencana keperawatan
7. Melakukan evaluasi keperawatan.

1.3 SISTEMATIKA PENULISAN


Sistematika penulisan dalam penyusunan laporan praktek keperawatan
komunitas ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN TEORI
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 KONSEP KEPERAWATAN KOMUNITAS


2.1.1 Definisi Keperawatan Komunitas
Komunitas (community) adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai
persamaan nilai (values), perhatian (interest) yang merupakan kelompok khusus
dengan batas-batas geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah
melembaga (Sumijatun dkk, 2010). Misalnya di dalam kesehatan di kenal
kelompok ibu hamil, kelompok ibu menyusui, kelompok anak balita, kelompok
lansia, kelompok masyarakat dalam suatu wilayah desa binaan dan lain
sebagainya. Sedangkan dalam kelompok masyarakat ada masyarakat petani,
masyarakat pedagang, masyarakat pekerja, masyarakat terasing dan sebagainya.
(Mubarak, 2011)
Keperawatan komunitas sebagai suatu bidang keperawatan yang merupakan
perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat (public health) dengan
dukungan peran serta masyarakat secara aktif serta mengutamakan pelayanan
promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan perawatan
kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada
individu, keluarga, kelompok serta masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui
proses keperawatan (nursing process) untuk meningkatkan fungsi kehidupan
manusia secara optimal, sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan.
(Mubarak, 2011)
Proses keperawatan komunitas merupakan metode asuhan keperawatan
yang bersifat alamiah, sistematis, dinamis, kontiniu, dan berkesinambungan dalam
rangka memecahkan masalah kesehatan klien, keluarga, kelompok serta
masyarakat melalui langkah-langkah seperti pengkajian, perencanaan,
implementasi, dan evaluasi keperawatan. (Wahyudi, 2010)
2.1.2 Tujuan dan Fungsi Keperawatan Komunitas
Tujuan dan fungsi keperawatan komunitas adalah sebagai berikut :
1. Tujuan keperawatan komunitas
Tujuan proses keperawatan dalam komunitas adalah untuk pencegahan
dan peningkatan kesehatan masyarakat melalui upaya-upaya sebagai berikut :
1) Pelayanan keperawatan secara langsung (direct care) terhadap individu,
keluarga, dan keluarga dan kelompok dalam konteks komunitas.
2) Perhatian langsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat (health
general community) dengan mempertimbangkan permasalahan atau isu
kesehatan masyarakat yang dapat memengaruhi keluarga, individu, dan
kelompok.
Selanjutnya, secara spesifik diharapkan individu, keluarga, kelompok,
dan masyarakat mempunyai kemampuan untuk:
1) Mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialami
2) Menetapkan masalah kesehatan dan memprioritaskan masalah tersebut
3) Merumuskan serta memecahkan masalah kesehatan
4) Menanggulangi masalah kesehatan yang mereka hadapi
5) Mengevaluasi sejauh mana pemecahan masalah yang mereka hadapi,
yang akhirnya dapat meningkatkan kemampuan dalam memelihara
kesehatan secara mandiri (self care).
2. Fungsi Keperawatan Komunitas
1) Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah bagi
kesehatan masyarakat dan keperawatan dalam memecahkan masalah
klien.
2) Agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai dengan
kebutuhannya dibidang kesehatan.
3) Memberikan asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan
masalah, komunikasi yang efektif dan efisien serta melibatkan peran
serta masyarakat.
4) Agar masyarakat bebas mengemukakan pendapat berkaitan dengan
permasalahan atau kebutuhannya sehingga mendapatkan penanganan
dan pelayanan yang cepat dan pada akhirnya dapat mempercepat proses
penyembuhan. (Mubarak, 2011)
2.1.3 Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas
Strategi intervensi keperawatan komunitas adalah sebagai berikut:
1. Proses kelompok (group process)
Seseorang dapat mengenal dan mencegah penyakit, tentunya setelah
belajar dari pengalaman sebelumnya, selain faktor pendidikan/pengetahuan
individu, media masa, Televisi, penyuluhan yang dilakukan petugas
kesehatan dan sebagainya. Begitu juga dengan masalah kesehatan di
lingkungan sekitar masyarakat, tentunya gambaran penyakit yang paling
sering mereka temukan sebelumnya sangat mempengaruhi upaya penangan
atau pencegahan penyakit yang mereka lakukan. Jika masyarakat sadar bahwa
penangan yang bersifat individual tidak akan mampu mencegah, apalagi
memberantas penyakit tertentu, maka mereka telah melakukan pemecahan-
pemecahan masalah kesehatan melalui proses kelompok.
2. Pendidikan Kesehatan (Health Promotion)
Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang dinamis,
dimana perubahan tersebut bukan hanya sekedar proses transfer materi/teori
dari seseorang ke orang lain dan bukan pula seperangkat prosedur. Akan
tetapi, perubahan tersebut terjadi adanya kesadaran dari dalam diri individu,
kelompok atau masyarakat sendiri. Sedangkan tujuan dari pendidikan
kesehatan menurut Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 maupun
WHO yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan; baik fisik, mental dan sosialnya, sehingga
produktif secara ekonomi maupun secara sosial.
3. Kerjasama (Partnership)
Berbagai persoalan kesehatan yang terjadi dalam lingkungan
masyarakat jika tidak ditangani dengan baik akan menjadi ancaman bagi
lingkungan masyarakat luas. Oleh karena itu, kerja sama sangat dibutuhkan
dalam upaya mencapai tujuan asuhan keperawatan komunitas melalui upaya
ini berbagai persoalan di dalam lingkungan masyarakat akan dapat diatasi
dengan lebih cepat.

2.1.4 Pusat Kesehatan Komunitas


Penyelenggaraan pelayanan kesehatan komunitas dapat dilakukan sebagai
berikut :
1. Sekolah atau Kampus
Pelayanan keperawatan yang diselenggarakan meliputi pendidikan
pencegahan penyakit, peningkatan derajat kesehatan dan pendidikan seks.
Selain itu perawata yang bekerja di sekolah dapat memberikan perawatan
untuk peserta didik pada kasus penyakit akut yang bukan kasus kedaruratan
misalnya penyakit influensa, batu dll. Perawat juga dapat memberikan
rujukan pada peserta didik dan keluarganya bila dibutuhkan perawatan
kesehatan yang lebih spesifik.
2. Lingkungan kesehatan kerja
Beberapa perusahaan besar memberikan pelayanan kesehatan bagi
pekerjanya yang berlokasi di gedung perusahaan tersebut. Asuhan
keperawatan di tempat ini meliputi lima bidang. Perawata menjalankan
program yang bertujuan untuk:
1) Meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja dengan mengurangi
jumlah kejadian kecelakaan kerja
2) Menurunkan resiko penyakit akibat kerja
3) Mengurangi transmisi penyakit menular anatar pekerja
4) Memberikan program peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, dan
pendidikan kesehatan.
5) Mengintervensi kasus-kasus lanjutan non kedaruratan dan memberikan
pertolongan pertama pada kecelakaan. (Mubarak, 2011)
3. Lembaga perawatan kesehatan di rumah
Klien sering kali membutuhkan asuhan keperawatan khusus yang dapat
diberikan secara efisien di rumah. Perawat di bidang komunitas juga dapat
memberikan perawatan kesehatan di rumah misalnya: perawata melakukan
kunjungan rumah, hospice care, home care dll. Perawat yang bekerja di
rumah harus memiliki kemampuan mendidik, fleksibel, berkemampuan,
kreatif dan percaya diri, sekaligus memiliki kemampuan klinik yang
kompeten.
4. Lingkungan kesehatan kerja lain
Terdapat sejumlah tempat lain dimana perawat juga dapat bekerja dan
memiliki peran serta tanggungjawab yang bervariasi. Seorang perawat dapat
mendirikan praktek sendiri, bekerja sama dengan perawata lain, bekerja di
bidang pendididkan, penelitian, di wilayah binaan, puskesmas dan lain
sebagainya. Selain itu, dimanapun lingkungan tempat kerjanya, perawat
ditantang untuk memberikan perawatan yang berkualitas. (Mubarak, 2011)

2.1.5 Bentuk-Bentuk Pendekatan dan Partisipasi Masyarakat


Bentuk-bentuk pendekatan dan partisipasi masyarakat yaitu sebagai berikut :
1. Posyandu
Pos pelayanan terpadu atau yang lebih dikenal dengan posyandu. Secara
sederhana dapat diartikan sebagai pusat kegiatan dimana masyarakat dapat
sekaligus memperoleh pelayanan KB dan Kesehatan. Selain itu posyandu
juga dapat diartikan sebagai wahana kegiatan keterpaduan KB dan kesehatan
ditingkat kelurahan atau desa, yang melakukan kegiatan-kegiatan seperti:
a. Kesehatan ibu dan anak
b. KB
c. Imunisasi
d. Peningkatan gizi
e. Penanggulangan diare
f. Sanitasi dasar
g. Penyediaan obat esensial, (Zulkifli, 2013).
Pelayanan yang diberikan di posyandu bersifat terpadu, hal ini
bertujuan untuk memberikan kemudahan dan keuntungan bagi masyarakat
karena di posyandu tersebut masyarakat dapat memperolah pelayanan
lengkap pada waktu dan tempat yang sama. Posyandu dipandang sangat
bermanfaat bagi masyarakat namun keberadaannya di masyarakat kurang
berjalan dengan baik, oleh karena itu pemerintah mengadakan revitalisasi
posyandu. Revitalisasi posyandu merupakan upaya pemberdayaan
posyandu untuk mengurangi dampak dari krisis ekonomi terhadap
penurunan status gizi dan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan ini juga
bertujuan untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam
menunjang upaya mempertahankan dan meningkatkan status gizi serta
kesehatan ibu dan anak melalui peningkatan kemampuan kader,
manajemen dan fungsi posyandu. (Zulkifli, 2013)
Tujuan pokok penyelenggaraan Posyandu adalah untuk :
a. Mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak
b. Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu untuk menurunkan IMR
c. Mempercepat penerimaan NKKBS
d. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan
kegiatan kesehatan dan kegiatan lain yang menunjang peningkatan
kemampuan hidup sehat
e. Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan pada penduduk
berdasarkan letak geografi
f. Meningkatkan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka
alih teknologi untuk swakelola usaha kesehatan masyarakat.
Menurut Nasru effendi (2010, untuk menjalankan kegiatan
Posyandu dilakukan dengan system 5 meja, yaitu:
1) Meja I
a. Pendaftaran
b. Pencacatan bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan PUS
(Pasangan Usia Subur)
2) Meja II
Penimbangan Balita dan ibu hamil
3) Meja III
Pengisian KMS
4) Meja IV
a. Diketahui BB anak yang naik/tidak naik, ibu hamil dengan resiko
tinggi, PUS yang belum mengikuti KB
b. Penyuluhan kesehatan
c. Pelayanan PMT, oralit, Vit. A, Tablet zat besi, Pil ulangan,
Kondom
5) Meja V
a. Pemberian iminisasi
b. Pemeriksaan Kehamilan
c. Pemeriksaan kesehatan dan pengobatan
d. Pelayanan kontrasepsi IUD, suntikan.
Peserta Posyandu mendapat pelayanan meliputi :
1) Kesehatan ibu dan anak :
a. Pemberian pil tambah darah (ibu hamil)
b. Pemberian vitamin A dosis tinggi ( bulan vitamin A pada bulan
Februarii dan Agustus)
c. PMT
d. Imunisasi.
e. Penimbangan balita rutin perbulan sebagai pemantau kesehatan
balita melalui pertambahan berat badan setiap bulan. Keberhasilan
program terlihat melalui grafik pada kartu KMS setiap bulan.
2) Keluarga berencana, pembagian Pil KB dan Kondom.
3) Pemberian Oralit dan pengobatan.
4) Penyuluhan kesehatan lingkungan dan penyuluhan pribadi sesuai
permasalahan dilaksanakan oleh kader PKK melalui meja IV dengan
materi dasar dari KMS baita dan ibu hamil. Keberhasilan Posyandu
tergambar melalui cakupan SKDN.
Menurut Nasrul effendi (2010), untuk meja I sampai meja IV
dilaksanakan oleh kader kesehatan dan untuk meja V dilaksanakan oleh
petugas kesehatan seperti dokter, bidan, perawat, juru imunisasi. Tetapi
dilapangan yang kita temukan dari meja 1 sampai meja 5 dilakukan oleh
semua perawat puskesmas, hanya di beberapa posyandu yang kader
kesehatannya berperan aktif. Pendidikan dan pelatihan kader selama ini
hanya sebatas wacana saja di masyarakat. Kader seharusnya lebih aktif
berpatisipasi dalam kegiatan Posyandu. Keadaan seperti ini masih perlu
perhatian khusus untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

2.1.6 Model Konseptual Dalam Keperawatan Komunitas


Model adalah sebuah gambaran deskriptif dari sebuah praktik yang bermutu
yang mewakili sesuatu yang nyata atau gambaran yang mendekati kenyataan dari
konsep. Model praktik keperawatan didasarkan pada isi dari sebuah teori dan
konsep praktik. (Riehl & Roy, 1980 dalam Sumijatun, 2011)
Salah satu model keperawatan kesehatan komunitas yaitu Model Health
Care System (Betty Neuman, 1972). Model konsep ini merupakan model konsep
yang menggambarkan aktivitas keperawatan, yang ditujukan kepada penekanan
penurunan stress dengan cara memperkuat garis pertahanan diri, baik yang
bersifat fleksibel, normal, maupun resisten dengan sasaran pelayanan adalah
komunitas. (Mubarak & Chayatin, 2011)
Menurut Sumijatun (2011), teori Neuman berpijak pada metaparadigma
keperawatan yang terdiri dari yang terdiri dari klien, lingkungan, kesehatan dan
keperawatan. Asumsi Betty Neuman tentang empat konsep utama yang terkait
dengan keperawatan komunitas adalah:
1. Manusia, merupakan suatu sistem terbuka yang selalu mencari keseimbangan
dari harmoni dan merupakan suatu kesatuan dari variabel yang utuh, yaitu:
fisiologi, psikologi, sosiokultural, perkembangan dan spiritual
2. Lingkungan, meliputi semua faktor internal dan eksternal atau pengaruh-
pengaruh dari sekitar atau sistem klien
3. Sehat, merupakan kondisi terbebas dari gangguan pemenuhan kebutuhan.
Sehat merupakan keseimbangan yang dinamis sebagai dampak dari
keberhasilan menghindari atau mengatasi stresor.
Model ini menganalisi interaksi anatara empat variabel yang menunjang
keperawatan komunitas, yaitu aspek fisik atau fisiologis, aspek psikologis, aspek
sosial dan kultural, serta aspek spiritual.
Sehat menurut Neuman adalah suatu keseimbangan bio, psiko, cultural dan
spiritual pada tiga garis pertahanan klien, yaitu garis pertahanan fleksibel, normal
dan resisten. Sehat dapat diklasifikasikan dalam delapan tahapan, yaitu:
1. Normally well, yaitu sehat secara psikologis, medis dan social
2. Pessimistic, yaitu bersikap atau berpandangan tidak mengandung harapan
baik (misalnya khawatir sakit, ragu akan kesehatannya, dan lain-lain)
3. Socially ill, yaitu secara psikologis dan medis baik, tetapi kurang mampu
secara social, baik ekonomi maupun interaksi social dengan masyarakat
4. Hypochondriacal, yaitu penyakit bersedih hati dan kesedihan tanpa alasan
5. Medically ill, yaitu sakit secara medis yang dapat diperiksa dan diukur
6. Martyr, yaitu orang yang rela menderita atau meninggal dari pada menyerah
karena mempertahankan agama/kepercayaan. Dalam kesehatan, seseorang
yang tidak memperdulikan kesehatannya, dia tetap berjuang untuk
kesehatan/keselamatan orang lain
7. Optimistic, yaitu meskipun secara medis dan social sakit, tetapi mempunyai
harapan baik. Keadaan ini sering kali sangat membantu dalam penyembuhan
sakit medisnya
8. Seriously ill, yaitu benar-benar sakit, baik secara psikologis, medis dan sosial.

2.1.7 Hubungan Konsep Keperawatan Komunitas Dengan Pelayanan


Kesehatan Utama
Keperawatan komunitas adalah suatu dalam keperawatan yang merupakan
perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran
serta aktif masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara
kesehatan masyarakat dengan menekankan kepada peningkatan peran serta
masyarakat dalam melakukan upaya promotif dan perventif dengan tidak
melupakan tindakan kuratif dan rehabilitatif sehinggadiharapkan masyarakat
mampu mengenal, mengambil keputusan dalam memelihara kesehatannya.
(Mubarak, 2009)
Selain menjadi subjek, masyarakat juga menjadi objek yaitu sebagai klien
yang menjadi sasaran dari keperawatan kesehatan komunitas terdiri dari individu
dan masyarakat. Berdasarkan pada model pendekatan totalitas individu dari
Neuman (1972 dalam Anderson, 2012) untuk melihat masalah pasien, model
komunitas sebagai klien dikembangkan untuk menggambarkan batasan
keperawatan kesehatan masyarakat sebagai sintesis kesehatan masyarakat dan
keperawatan. Model tersebut telah diganti namanya menjadi model komunitas
sebagai mitra, untuk menekankan filosofi pelayanan kesehatan primer yang
menjadi landasannya.
Secara lebih rinci dijabarkan sebagai berikut :
1. Tingkat individu
Individu adalah bagian dari anggota keluarga. Apabila individu tersebut
mempunyai masalah kesehatan maka perawat akan memberikan asuhan
keperawatan pada individu tersebut. Pelayanan pada tingkat individu dapat
dilaksanakan pada rumah atau puskesmas, meliputi penderita yang
memerlukan pelayanan tindak lanjut yang tidak mungkin dilakukan asuhan
keperawatan di rumah dan perlu kepuskesmas, penderita resiko tinggi seperti
penderita penyakit demam darah dan diare. Kemudian individu yang
memerlukan pengawasan dan perawatan berkelanjutan seperti ibu hamil, ibu
menyusui, bayi dan balita.
2. Tingkat keluarga
Keperawatan kesehatan komunitas melalui pendekatan keperawatan
keluarga memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga yang mempunyai
masalah kesehatan terutama keluarga dengan resiko tinggi diantaranya
keluarga dengan sosial ekonomi rendah dan keluarga yang anggota
keluarganya menderita penyakit menular dan kronis. Hal ini dikarenakan
keluarga merupakan unit utama masyarakat dan lembaga yang menyakut
kehidupan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, keluarga tetap juaga berperan
sebagai pengambil keputusan dalam memelihara kesehatan anggotanya.
3. Tingkat komunitas
Keperawatan kesehatan komunitas di tingkat masyarakat dilakukan
dalam lingkup kecil sampai dengan lingkup yang luas didalam suatu wilayah
kerjapuskesmas. Pelayanan ditingkat masyarakat dibatasi oleh wilayah atau
masyarakat yang mempunyai ciri-ciri tertentu misalnya kebudayaan, pekerjaan,
pendidikan dan sebagainya.
Asuhan keperawatan komunitas diberikan dengan memandang komunitas
sebagai klien dengan strategi intervensi keperawatan komunitas yang mencakup
tiga aspek yaitu primer, sekunder dan tertier melalui proses individu dan
kelompok dengan kerja sama lintas sektoral dan lintas program. Pelayanan yang
diberikan oleh keperawatan komunitas mencakup kesehatan komunitas yang luas
dan berfokus pada pencegahan yang terdiri dari tiga tingkat yaitu:
1. Pencegahan primer
Pelayanan pencegahan primer ditunjukkan kepada penghentian penyakit
sebelum terjadi karena itu pencegahan primer mencakup peningkatan derajat
kesehatan secara umum dan perlindungan spesifik. Promosi kesehatan secara
umum mencakup pendidikan kesehatan baik pada individu maupun kelompok.
Pencegahan primer juga mencakup tindakan spesifik yang melindungi individu
melawan agen-agen spesifik misalnya tindakan perlindungan yang paling
umum yaitu memberikan imunisasi pada bayi, anak balita dan ibu hamil,
penyuluhan gizi bayi dan balita.
2. Pencegahan sekunder
Pelayanan pencegahan sekunder dibuat untuk menditeksi penyakit lebih
awal dengan mengobati secara tepat. Kegiatan-kegiatan yang mengurangi
faktor resiko diklasifikasikansebagai pencegahan sekunder misalnya
memotivasi keluarga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala
melalui posyandu dan puskesmas.
3. Pencegahan tertier
Yang mencakup pembatasan kecacatan kelemahan pada seseorang
dengan stadium dini dan rehabilitasi pada orang yang mengalami kecacatan
agar dapat secara optimal berfungsi sesuai dengan kemampuannya, misalnya
mengajarkan latihan fisik pada penderita patah tulang.
Selanjutnya agar dapat memberikan arahan pelaksanaan kegiatan, berikut ini
diuraikan falsafah keperawatan komunitas dan pengorganisasian masyarakat
(Mubarak, 2011):
1. Falsafah Keperawatan Kesehatan Komunitas
Keperawatan kesehatan komunitas merupakan pelayanan yang
memberikan perhatian terhadap pengaruh lingkungan (bio-psiko-sosio-
kultural-spiritual) terhadap kesehatan masyarakat dan memberikan prioritas
pada strategi pada pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan. Falsafah
yang melandasi yang mengacu pada paradigma keperawatan secar umum
dengan empat komponen dasar yaitu manusia, kesehatan, lingkungan dan
keperawatan.
2. Pengorganisasian masyarakat
Tiga model pengorganisasian masyarakat menurut Rothman (1998)
meliputi peran serta masyarakat (localiti developmen), perencanaan sosial
melalui birokrasi pemerintah (social developmant) dan aksi sosial berdasarkan
kejadian saat itu (social action). (Mubarak, 2011)

Pelaksanaan pengorganisasian masyarakat dilakukan melalui tahapan


berikut:
1. Tahap persiapan
Dilakukan dengan memilih area atau daerah yang menjadi prioritas,
menentukan cara untuk berhubungan dengan masyarakat, mempelajari dan
bekerjasama dengan masyarakat.
2. Tahap pengorganisasian
Dengan persiapan pembentukan kelompok dan penyesuaian dengan pola
yang ada dimasyarakat dengan pembentukan kelompok kerja kesehatan.
3. Tahap pendidikan dan pelatihan
Melalui kegiatanpertemuan teratur dengan kelompok masyarakat melalui
pengkajian, membuat pelayanan keperawatan langsung pada individu, keluarga
dan masyarakat.
4. Tahap formasi kepemimpinan
Memberikan dukungan latihan dan mengembangkan keterampialan yang
mengikuti perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan pengawasan
kegiatan pendidikan kesehatan.
5. Tahap koordinasi
Kerjasama dengan sektor terkait dalam upaya memandirikan masyarakat.
6. Tahap akhir
Suverpisi bertahap dan diakhiri dengan evaluasi dan pemberian umpan
balik dan masing-masing evaluasi untuk perbaikan untuk kegiatan kelompok
kesehatan kerja selanjutnya.

2.2 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS


Keperawatan komunitas merupakan suatu bidang khusus keperawatan yang
merupakan gabungan dari ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan ilmu
sosial yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang diberikan
kepada individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat baik yang sehat
maupun yang sakit (mempunyai masalah kesehatan/keperawatan), secara
komprehensif melalui upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif dan
resosialitatif dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat secara terorganisir
bersama tim kesehatan lainnya untuk dapat mengenal masalah kesehatan dan
keperawatan yang dihadapi serta memecahkan masalah-masalah yang mereka
miliki dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan sesuai dengan hidup
sehat sehingga dapat meningkatkan fungsi kehidupan dan derajat kesehatan
seoptimal mungkin dan dapat diharapkan dapat mandiri dalam memelihara
kesehatannya (Chayatin, 2012). Menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan
yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra kerja dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan kesehatan. Pelayanan keperawatan
profesional yang merupakan perpaduan antara konsep kesehatan masyarakat dan
konsep keperawatan yang ditujukan pada seluruh masyarakat dengan penekanan
pada kelompok resiko tinggi.
Perawatan komunitas merupakan Pelaksanaan keperawatan komunitas
dilakukan melalui beberapa fase yang tercakup dalam proses keperawatan
komunitas dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah yang dinamis.
Fase-fase pada proses keperawatan komunitas secara langsung melibatkan
komunitas sebagai klien yang dimulai dengan pembuatan kontrak/partner ship
dan meliputi pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi.
(Effendi, 2010)
Asuhan keperawatan yang diberikan kepada komunitas atau kelompok
adalah (Mubarak, 2011):
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan
sistematis terhadap mesyarakat untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah
kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga atau
kelompok yang menyangkut permasalah pada fisiologis, psikologis, sosial
ekonomi, maupun spiritual dapat ditentukan.
1) Pengumpulan data
Hal yang perlu dikaji pada komunitas atau kelompok antara lain :
a. Inti (Core) meliputi : Data demografi kelompok atau komunitas yang
terdiri atas usia yang beresiko, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan,
agama, nilai-nilai, keyakinan, serta riwayat timbulnya kelompok atau
komunitas.
b. Mengkaji 8 subsistem yang mempengaruhi komunitas, antara lain:
a) Perumahan, bagaimana penerangannya, sirkulasi, bagaimana
kepadatannya karena dapat menjadi stresor bagi penduduk
b) Pendidikan komunitas, apakah ada sarana pendidikan yang dapat
digunakan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat
c) Keamanan dan keselamatan, bagaimana keselamatan dan keamanan
tempat tinggal, apakah masyarakat merasa nyaman atau tidak, apakag
sering mengalami stres akibat keamanan dan keselamatan yang tidak
terjamin
d) Kualiti dan kebijakan pemerintah terkait kesehatan, apakah cukup
menunjang, sehingga memudahkan masyarakat mendapatkan
pelayanan di berbagai bidang termasuk kesehatan
e) Pelayanan kesehatan yang tesedia, untuk diteksi dini atau memantau
gangguan yang terjadi
f) Pelayanan kesehatan yang tersedia, untuk melakukan deteksi dini dan
merawat atau memantau gangguan yang terjadi
g) Sistem komunikasi, serta komunikasi apa saja yang dapat
dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan yang
terkait dengan gangguan penyakit
h) Sistem ekonomi, tingkat sosial ekonomi masyarakat secara
keseluruhan, apakah pendapatan yang terima sesuai dengan Upah
Minimum Registrasi (UMR) atau sebaliknya
i) Rekreasi, apakah tersedia sarana rekreasi, kapan saja dibuka, apakah
biayanya dapat dijangkau masyarakat
2) Jenis data
Jenis data secara umum dapat diperoleh dari data subjektif dan data
objektif (Mubarak, 2011):
a. Data subjektif
Yaitu data yang diperoleh dari keluhan atau masalah yang dirasakan oleh
individu, keluarga, kelompok, dan komunitas, yang diungkapkan secara
langsung melalui lisan.
b. Data objektif
Data yang diperoleh melalui suatu pemeriksaan, pengamatan dan
pengukuran.
c. Sumber data
a) Data primer
b) Data yang dikumpulkan oleh pengkaji dari individu,keluarga,
kelompok, masyarakat berdasarkan hasil pemeriksaan atau
pengkajian.
c) Data sekunder
d) Data yang diperoleh dari sumber lain yang dapat dipercaya, misalnya:
kelurahan, catatan riwayat kesehatan pasien atau medical record.
3) Cara pengumpulan data
a. Wawancara yaitu: kegiatan timbale balik berupa Tanya jawab
b. Pengamatan yaitu: melakukan observasi dengan panca indra
c. Pemeriksaan fisik: melakukan pemeriksaan pada tubuh individu
4) Pengelolaan data
a. Klasifikasi data atau kategorisasi data
b. Perhitungan presentase cakupan dengan menggunakan telly
c. Tabulasi data
d. Interpretasi data
5) Analisa data
Kemampuan untuk mengkaitkan data dan menghubungkan data
dengan kemampuan kognitif yang dimiliki sehingga dapat diketahui
tentang kesenjangan atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat apakah
itu masalah kesehatan atau masalah keperawatan.
6) Penentuan masalah atau perumusan masalah kesehatan
Berdasarkan analisa data dapat diketahui masalah kesehatan dan
masalah keperawatan yang dihadapi oleh masyarakat sehingga dapat
dirumuskan masalah kesehatan.
7) Prioritas Masalah
Prioritas masalah dapat ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan
Abraham H Maslow:
a. Keadaan yang mengancam kehidupan
b. Keadaan yang mengancam kesehatan
c. Persepsi tentang kesehatan dan keperawatan
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosis keperawatan ialah respon individu pada masalah kesehatan baik
yang actual maupun potensial. Diagnose keperawatan komunitas akan
memeberikan gambaran tentang masalah dan status kesehatan masyarakat baik
yang nyata dan yang mungkin terjadi. Diagnosa ditegakkan berdasarkan tingkat
rekreasi komunitas terhadap stresor yang ada. Selanjutnya dirumuskan dalam
tiga komponen, yaitu problem/masalah (P), etiology atau penyebab (E), dan
symptom atau manifestasi/data penunjang (S). (Mubarak, 2011)
1) Problem : merupakan kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan
normal yang seharusnya terjadi.
2) Etiologi : penyebab masalah kesehatan atau keperawatan yang dapat
memeberikan arah terhadap intervensi keperawatan.
3) Symptom : tanda atau gejala yang tampak menunjang masalah yang
terjadi.
3. Perencanaan/ Intervensi
Perencanaan keperawatan merupakan penyusunan rencana tindakan
keperawatan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai dengan
diagnosis keprawatan yang sudahditentukan dengan tujuan terpenuhinya
kebutuhan pasien. Perencanaan intervensi yang dapat dilakukan berkaitan
dengan diagnosa keperawatan komunitas yang muncul diatas adalah (Mubarak,
2005):
a. Lakukan pendidikan kesehatan tentang penyakit
b. Lakukan demonstrasi ketrampilan cara menangani penyakit
c. Lakukan deteksi dini tanda-tanda gangguan penyakit
d. Lakukan kerja sama dengan ahli gizi dalam mennetukan diet yang tepat
e. Lakukan olahraga secara rutin
f. Lakukan kerja sama dengan pemerintah atau aparat setempat untuk
memperbaiki lingkungan komunitas
g. Lakukan rujukan ke rumah sakit bila diperlukan
4. Pelaksanaan/Implementasi
Pelaksanaan merupakan tahap realisasi dari rencana asuhan keperawatan
yang telah disusun. Dalam pelaksanaannya tindakan asuhen keperawatan harus
bekerjasama dengan angoota tim kesehatan lain dalam hal melibatkan pihak
puskesmas, bidan desa, dan anggota masyarakat (Mubarak, 2011). Perawat
bertanggung jawab dalam melaksanakan tindakan yang telah direncanakan
yang bersifat (Efendi, 2010), yaitu:
a. Bantuan untuk mengatasi masalah gangguan penyakit
b. Mempertahankan kondisi yang seimbang dalam hal ini perilaku hidup
sehat dan melaksanakan upaya peningkatan kesehatan
c. Mendidik komunitas tentang perilaku sehat untuk mencegah gangguan
penyakit
d. Advocat komunitas yang sekaligus memfasilitasi terpenuhinya kebutuhan
komunitas
5. Penilaian/Evaluasi
Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan
keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan antara
proses dengan dengan pedoman atau rencana proses tersebut. Sedangkan
keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan tingkat
kemandirian masyarakat dalam perilaku kehidupan sehari-hari dan tingkat
kemajuan masyarakat komunitas dengan tujuan yang sudah ditentukan atau
dirumuskan sebelumnya (Mubarak, 2011). Adapun tindakan dalam melakukan
evaluasi adalah sebagai berikut :
a. Menilai respon verbal dan nonverbal komunitas setelah dilakukan
intervens
b. Menilai kemajuan oleh komunitas setelah dilakukan intervensi keperawata
c. Mencatat adanya kasus baru yang dirujuk ke rumah sakit
BAB III
APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DUSUN AMPERA
DESA MULYONEGORO KECAMATAN PULUBALA
KABUPATEN GORONTALO

Kegiatan praktek keperawatan komunitas yang dilaksanakan di Dusun


Ampera Desa Mulyonegoro Kec. Pulubala Kab. Gorontalo terdiri dari beberapa
tahap kegiatan meliputi, survei wilayah binaan, pengkajian awal (pengumpulan
data dan pengolahan data), yang bekerja sama dengan tokoh masyarakat, aparat
desa, dan pemuda yang nantinya akan bersama-sama dengan mahasiswa
melaksanakan kegiatan keperawatan komunitas.
Kegiatan kuliah kerja profesi keperawatan komunitas yang akan
dilaporkan adalah tahap persiapan dan pelaksanaan. Tahap persiapan meliputi,
persiapan kemasyarakatan dan persiapan tekhnis, sedangkan tahap pelaksanaan
terdiri dari pengkajian, perencanaan, implementasi, evaluasi dan rencana tindak
lanjut.
1. Persiapan
 Persiapan Kemasyrakatan
Pada tahap awal, mahasiswa mengidentifikasi tokoh masyarakat,
tokoh agama, kader kesehatan, aparat desa dan karang taruna. Setelah
teridentifikasi, kelompok mahasiswa melakukan pendekatan dan
membina hubungan saling percaya dengan memperkenalkan diri dan
menjelaskan tentang tujuan Kuliah Kerja Praktek Komunitas Program
Studi Profesi Ners Universitas Muhammadiyah Gorontalo.
Pada hari Kamis 11 April 2019, mahasiswa mengadakan
pertemuan MMD 1 (Musyawarah Masyarakat Desa) dengan tokoh
agama, tokoh masyarakat, aparat desa, dan karang taruna gunu
bersosialisasi dengan masyarakat di rumah warga, Dusun Ampera, Desa
Mulyonegoro.
2. Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan terdiri dari pengkajian, perencanaan, implementasi dan
evaluasi.
1) Pengkajian
 Pengumpulan data
Tahap pengumpulan data yang dilakukan meliputi :
a) Melakukan pengumpulan data dengan cara mengunjungi
masing-masing rumah penduduk, wawancara langsung kepada
pihak keluarga, serta observasi kondisi rumah dan lingkungan
sekitarnya. Kegiatan dimulai 12 – 14 April 2019.
b) Melakukan tabulasi data dari hasil pengumpulan data yang
telah dilakukan, yaitu tanggal 15 – 16 April 2019.
 Hasil tabulasi data
Setelah pengumpulan data dilakukan, maka data tersebut akan di
tabulasi dalam bentuk tabel.
Adapun hasil tabulasi disajikan dalam bentuk tabel dan persentasenya
sebagai berikut :

A. Data Demografi
1. Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi Presentasi (%)


Laki-laki 245 48.8
Perempuan 257 51.2
Total 502 100

Jenis Kelamin

49% Laki-laki
51% Perempuan

Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas didapatkan penduduk


berjenis kelamin perempuan berjumlah 257 jiwa (48.8%) dan penduduk
berjenis kelamin laki-laki berjumlah 245 jiwa (51.2%) .
2. Distribusi Penduduk Berdasarkan Usia
Usia Frekuensi Presentase (%)
Balita (0-5) tahun 44 8.8
Anak-anak (5-11) tahun 52 10.4
Remaja Awal (12-16) tahun 46 9.2
Remaja Akhir (17-25)tahun 101 20.1
Dewasa Awal (26-35) tahun 84 16.7
Dewasa Akhir (36-45) tahun 62 12.4
Lansia Awal (46-55) tahun 60 12.0
Lansia Akhir (56-65) tahun 23 4.6
Manula (>65) tahun 30 6.0
Total 502 100
Usia Balita (0-5) thn
Anak-anak (5-11) thn
5% 6% 9% RemajaAwal (12-16) thn
12% 10% RemajaAkhir (17-25)thn
9% DewasaAwal (26-35) thn
12%
DewasaAkhir (36-45) thn
17% 20% LansiaAwal (46-55) thn
LansiaAkhir (56-65) thn
Manula (>65) thn

Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas didapatkan (balita usia 0-5
tahun) berjumlah 44 jiwa (9 %), anak-anak (usia 5-11 tahun) berjumlah 52
jiwa (10 %), remaja awal (usia 12-16) berjumlah 46 jiwa (9 %), remaja
akhir (usia 17-25 tahun) berjumlah 101 jiwa (20 %), dewasa awal (usia 26-
35 tahun) berjumlah 84 jiwa (17 %), dewasa akhir (usia 36-45 tahun)
berjumlah 62 jiwa (12 %), lansia awal (usia 46-55 tahun) berjumlah 60
jiwa (12 %), lansia akhir (usia 56-65 tahun) berjumlah 23 jiwa (5 %) dan
manula (usia ≥ 65 tahun) berjumlah 30 jiwa (6 %).
3. Distribusi Penduduk Berdasarkan Pendidikan

Pendidikan Frekuensi Presentasi (%)


Belum Sekolah 43 8.6
Tidak Sekolah 11 2.2
TK 12 2.4
SD 230 45.8
SMP 72 14.3
SMA 107 21.3
PTN 27 5.4
Total 502 100

Pendidikan
9%
5%
2%3% Belum Sekolah
21% Tdk Sekolah
TK
14% SD
46%
SMP
SMA
PTN
Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas didapatkan yang belum
sekolah berjumlah 43 jiwa (9 %), tidak sekolah berjumlah 11 jiwa (2 %) ,
TK berjumlah 12 jiwa (3 %), berpendidikan SD berjumlah 230 jiwa (46
%), SMP berjumlah 72 jiwa (14 %), SMA berjumlah 107 jiwa (21 %)
perguruan tinggi berjumlah 27 jiwa (5 %).
4. Distribusi Pekerjaan
Pekerjaan Frekuensi Presentasi (%)
Tidak Bekerja 49 9.8
Pelajar/ Belum Sekolah 153 30.5
Petani 113 22.5
PNS 11 2.2
Wiraswasta 56 11.2
IRT 110 21.9
Pensiunan 2 .4
TNI/ POLRI 2 .4
Sopir 6 1.2
Total 502 100

Pekerjaan TdkBekerja
Pelajar/ BlmSekolah
0%1% 10% Petani
22% 0%
PNS
31% Wiraswasta
11% IRT
2% Pensiunan
23%
TNI/ POLRI
Sopir

Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas didapatkan pelajar


berjumlah 153 jiwa (30.5 %), yang tidak bekerja berjumlah 49 jiwa (9.8
%), Petani berjumlah 113 jiwa (22.5 %), PNS berjumlah 11 jiwa (2.2 %),
wiraswasta berjumlah 56 jiwa (11 %), IRT berjumlah 110 jiwa (21.9 %),
Pensiunan berjumlah 2 jiwa (0.4 %) , TNI/POLRI berjumlah 2 jiwa (0.4
%), sopir berjumlah 6 jiwa (1.4 %).
5. Nilai – Nilai, Keyakinan Dan Agama

Agama

Islam
100%

Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas didapatkan dari 147 KK


dengan total 502 jiwa semua beragama islam.

6. Distribusi Suku
Suku Frekuensi Presentasi (%)
Gorontalo 478 95.2
Jaton 24 4.8
Total 502 100

Suku
4,8%
Gorontalo
Jaton
95.2%

Berdasarkan tabel dan diagram di atas didapatkan yang bersuku Gorontalo


berjumlah 478 jiwa (95.2 %), dan yang besuku Jaton berjumlah 24 jiwa
(4.8 %).
B. Data Ekonomi
1. Lingkungan Fisik
a. Penghasilan Perbulan
Penghasilan Frekuensi Presentasi (%)
<1.000.000 118 80.3
1.000.000-3.000.000 25 17.0
>3.000.000 4 2.7
Total 147 100

Penghasilan Rata-rata/Bulan

3%
17% <1.000.000
1.000.000-3.000.000
<3.000.000
80%

Berdasarkan tabel dan diagram di atas didapatkan dari 147 KK yang


berpenghasilan <1.000.000 perbulan berjumlah 118 KK (80.3%),
penghasilan 1.000.000-3.000.000 berjumlah 25 KK (17 %), dan yang
berpenghasilan >3.000.000 berjumlah 4 KK (2.7 %).
b. Tabungan Keluarga
Tabungan Frekuensi Presentasi (%)
Menabung 23 15.6
Tidak Menabung 124 84.4
Total 147 100

Tabungan Keluarga

Menabung
15.6%
Tidak Menabung
84.4%
Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas didapatkan dari 147 KK
yang memiliki tabungan berjumlah 23 KK (15.6 %), dan yang tidak
memiliki tabungan berjumlah 124 KK (84.4 %).
C. Perumahan
1. Kepemilikan Rumah
Status Kepemilikan Frekuensi Presentasi (%)
Milik Sendiri 99 67.3
Menumpang 48 32.7
Total 147 100

Kepemilikan Rumah
Milik Sendiri
40%
60% Menumpang

Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas didapatkan status


kepemilikan rumah dari 147 KK yang milik sendiri berjumlah 99 KK
(67.3%), dan yang menumpang berjumlah 48 KK (32.7%).
2. Tipe Perumahan
Tipe Rumah Frekuensi Presentasi (%)
Permanen 65 44.2
Semi Permanen 42 28.6
Tidak Permanen 40 27.2
Total 147 100

Tipe Rumah
27% 44%
Permanen
Semi Permanen
29% TdkPermanen
Berdasarkan distribusi tabel dan digram di atas didapatkan dari 147 KK
yang dilakukan pengkajian memiliki rumah tipe permanen berjumlah 65
KK (44.2 %), tipe semi permanen berjumlah 42 KK (28.6 %), dan rumah
yang tidak permanen berjumlah 40 KK (27.2 %).
3. Jenis lantai
Jenis Lantai Frekuensi Presentasi (%)
Tanah 3 2.0
Papan 12 8.2
Tegel 29 19.7
Semen 103 70.1
Total 147 100

Jenis Lantai

2% 8% Tanah
20% Papan
Tegel
70%
Semen

Berdasarkan distribusi tabel dan digram di atas didapatkan dari 147 KK


yang dilakukan pengkajian dengan jenis lantai rumah warga di dusun
Ampera rata-rata adalah semen/cor berjumlah 103 KK (70.1 %), jenis
lantai tegel berjumlah 29 KK (19.7 %), jenis lantai papan berjumlah 12
KK (8.2 %), dan jenis lantai tanah berjumlah 3 KK (2.0 %).
4. Ventilasi Rumah
Ventilasi Rumah Frekuensi Presentasi (%)
Ada 135 91.8
Tidak Ada 12 8.2
Total 147 100

Ventilasi Rumah
40%
Ada
60%
Tidak Ada
Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas didapatkan dari 147 KK
yang rumah dengan ventilasi berjumlah 135 KK (91.8 %), dan rumah yang
tidak memiliki ventilasi berjumlah 12 KK (8.2 %).
5. Sistem pencahayaan rumah pada siang hari.
Pencahayaan Frekuensi Presentasi (%)
Terang 127 86.4
Remang-remang 20 13.6
Total 147 100

Pencahayaan

40% Terang
60% Remang-remang

Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas didapatkan dari 147 KK


yang memiliki pencahayaan terang berjumlah 127 KK (86.4 %), dan yang
memiliki pencahayaan remang-remang berjumlah 20 KK (13.6 %). Dari
hasil pengkajian juga didapatkan dari 147 KK sistem pencahayaan di
rumah warga pada siang hari cukup terang karena terpantul langsung
dengan sinar matahari. Pada siang hari masyarakat tidak pernah
menggunakan lampu.
6. Jarak rumah dengan tetangga.
Jarak Rumah Frekuensi Presentasi (%)
Bersatu 4 2.7
Dekat 122 83.0
Terpisah 21 14.3
Total 147 100

Jarak Rumah Dengan Tetangga


14% 3% Bersatu
Dekat
83% Terpisah
Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas didapatkan dari 147 KK
jarak rumah dengan tetangga, bersatu berjumlah 4 KK (2.7 %), dekat
berjumlah 122 KK (83 %) dan jarak terpisah berjumlah 21 KK (14.3 %).

7. Halaman disekitar rumah


Halaman Sekitar Rumah Frekuensi Presentasi (%)
Ada 136 92.5
Tdk Ada 11 7.5
Total 147 100.0

Halaman Sekitar Rumah

40%
Ada
60%
Tidak Ada

Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas didapatkan dari 147 KK


yang memiliki halaman sekitar rumah berjumlah 136 KK (92.5 %), dan
yang tidak memiliki halaman sekitar rumah berjumlah 11 KK (7.5 %).
8. Pemanfaatan pekarangan rumah
Pemanfaatan Pekarangan Frekuensi Presentasi (%)
Kebun 77 52.4
Kandang 4 2.7
Tidak Dimanfaaatkan 65 44.2
Total 147 100

Pemanfaatan Halaman Sekitar

44% Kebun
53%
Kandang
3% TdkDimanfaaatkan
Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas didapatkan dari 147 KK,
yang memanfaatkan pekarangan rumah untuk dijadikan tempat berkebun
berjumlah 77 KK (52.4 %), dimanfaatkan untuk kandang berjumlah 4 KK
(2.7 %), dan yang tidak dimanfaatkan pekarangan rumahnya berjumlah 65
KK (44.2 %).
D. Sumber Air
a) Distribusi berdasarkan sumber air untuk makan dan minum
Sumber Air untuk makan
Frekuensi Presentasi (%)
dan minum
Sumur 106 72.1
PAM 32 21.8
Air Mineral 9 6.1
Total 147 100

Sumber Air Untuk Makan & Minum


6%
22%
Sumur
72% PAM
Air Mineral

Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas didapatkan dari 147 KK


sebagian besar memanfaatkan sumber air untuk makan dan minum dari
sumur berjumlah 106 KK (72.1 %), menggunakan PAM berjumlah 32 KK
(21.8 %), dan yang menggunakan air mineral berjumlah 9 KK (6.1 %).
b) Distribusi berdasarkan pengolahan air

Pengolahan Air Frekuensi Presentasi %


Dimasak 140 95.2
Tidak dimasak 7 4.8
Total 147 100

Pengolahan Air

50% 48% Dimasak


Tdkdimasak
2% Total
Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas didapatkan, dari 147 KK
yang pengolahan air dimasak berjumlah 140 KK (95.2%), dan yang tidak
dimasak berjumlah 7 KK (4.8%), KK yang pengolahan airnya tidak
dimasak itu sudah menggunakan air mineral untuk masak dan minum.
c) Distribusi berdasarkan sumber air untuk mandi dan mencuci
Sumber Air Untuk Mandi
Frekuensi Presentasi (%)
dan Mencuci
PAM 31 21.1
Sumur 116 78.9
Total 147 100

Sumber Air Untuk Mandi & Mencuci

40%
60% PAM
Sumur

Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas dari 147 KK didapatkan


yang menggunakan air untuk mandi dan mencuci berasal dari PAM
berjumlah 31 KK (21.1%), dan yang menggunakan sumur berjumlah 116
KK (78.9%).

d) Distribusi berdasarkan jarak sumber air dengan sepitank


Jarak Sumber Air Dengan
Frekuensi Presentasi (%)
Sepitank
<10 Meter 34 23.1
>10 Meter 113 76.9
Total 147 100

Jarak Rumah dengan Sepitank

40%
<10 Meter
60% >10 Meter
Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas dari 147 KK yang ada di
dusun Ampera sesuai hasil pengkajian didapatkan jarak sumber air dengan
sepitank berjumlah 34 KK (23.1%) yang jaraknya <10 meter, dan jaraknya
yang >10 meter berjumlah 113 KK (76.9%).

e) Distribusi berdasarkan penampungan air sementara


Penampungan Air Sementara Frekuensi Presentasi (%)
Bak 7 4.8
Gentong 44 29.9
Ember 96 65.3
Total 147 100

Tempat Penampungan Air Sementara

5% Bak
30%
Gentong
65%
Ember

Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas dari 147 KK didapatkan


yang menampung air di Bak berjumlah 7 KK (4.8%), yang menampung air
di Gentong berjumlah 44 KK (29.9%),dan yang menampung air di Ember
berjumlah 96 KK (65.3%).
f) Distribusi berdasarkan kondisi tempat penampungan air
Kondisi Tempat Penampungan Air Frekuensi Presentasi (%)
Terbuka 36 24.5
Tertutup 111 75.5
Total 147 100

Kondisi Tempat Penampungan Air

40%
60% Terbuka
Tertutup
Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas dari 147 KK didapatkan
yang kondisi tempat penampungan airnya terbuka berjumlah 36 KK
(24.5%), dan yang kondisi tertutup berjumlah 111 KK (75.5%).
g) Distribusi berdasarkan kondisi air dalam penampungan
Kondisi Air Dalam Penampungan Frekuensi Presentasi (%)
Berwarna/Berbau 12 8.2
Tidak Berwarna/Tidak Berbau 135 91.8
Total 147 100

Kondisi Air dalam Penampungan


Berwarna/Berbau
41%
Tidak Berwarna/Tidak
59% Berbau

Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas dari 147 KK didapatkan


kondisi air dalam penampungan yang berwarna dan berbau berjumlah 12
KK (8.2%), sedangkan yang tidak berwarna dan berbau berjumlah 135 KK
(91.8%).
E. Pembuangan Sampah
a) Distirbusi Berdasarkan Pembuangan Sampah
Pembuangan Frekuensi Presentasi (%)
Ditimbun 3 2.0
Dibakar 120 81.6
Sembarangan 21 14.3
Lain-lain 3 2.0
Total 147 100

Pembuangan Sampah
2%
14% 2% Ditimbun
Dibakar
82%
Sembarangan
Lain-lain
Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas dari 147 KK didapatkan
yang sampahnya dibakar berjumlah 120 KK (81.6%), yang sampahnya
sembarangan dibuang berjumlah 21 KK (14.3%), sedangkan yang lain-lain
berjumlah 3 KK (2.0%).
b) Distribusi Berdasarkan Tempat Penampungan Sampah Sementara
Penampungan Sementara Frekuensi Presentasi (%)
Ada 80 54.4
Tidak Ada 67 45.6
Total 147 100

Penampungan Sampah

40% Ada
60% Tidak Ada

Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas dari 147 KK didapatkan


yang memiliki penampungan sampah sementara berjumlah 80 KK
(54.4%), dan yang tidak memiliki penampungan sampah sementara
berjumlah 67 KK (45.6%).
c) Distribusi berdasarkan kondisi penampungan Sampah
Kondisi Tempat Penampungan
Frekuensi Presentasi (%)
Sampah
Terbuka 136 92.5
Tertutup 11 7.5
Total 147 100

Kondisi Tempat Penampungan Sampah

Terbuka
40%
60% Tertutup
Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas dari 147 KK sesuai hasil
observasi didapatkan kondisi tempat penampungan sampah yang terbuka
berjumlah 136 KK (92.5%), sedangkan yang kondisinya tertutup
berjumlah 11 KK (7.5%).

d) Distribusi berdasarkan jarak sampah dengan rumah


Jarak Sampah dengan Rumah Frekuensi Presentasi (%)
Dekat <5 Meter 86 58.5
Jauh >5 Meter 61 41.5
Total 147 100

Jarak Sampah Dari Rumah

40%
Dekat <5 Meter
60%
Jauh >5 Meter

Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas dari 147 KK sesuai


dengan hasil observasi didapatkan jarak sampah dengan rumah yang dekat
<5 meter berjumlah 86 KK (58.5%), sedangkan yang jaraknya jauh >5
meter berjumlah 61 KK (41.5%).

F. Pembuangan Limbah
1. Distribusi kebiasaan BAB/BAK
Kebiasaan BAB/ BAK Frekuensi Presentasi (%)
Jamban/ WC 129 87.8
Sembarang 18 12.2
Total 147 100

Kebiasaan BAB/BAK

40%
Jamban/WC
60%
Sembarang
Berdasarkan distribusi tabel dan diagram di atas dari 147 KK di dusun
Ampera sesuai hasil pengkajian didapatkan kebiasaan BAB/BAK di
jamban berjumlah 129 KK (87.8%), sedangkan yang sembarang buang
BAB/BAK berjumlah 18 KK (12.2%).
2. Distribusi berdasarkan jenis jamban
Jenis Jamban Frekuensi Presentasi (%)
TdkadaJamban 88 59.9
Cemplung 49 33.3
Leher Angsa 10 6.8
Total 147 100

Jenis Jamban
7%
33% Tidak Ada Jamban
60% Cemplung
Leher Angsa

Dari hasil pengkajian semua masyarakat Diata memiliki kamar mandi dan
melakukan kebiasaan BAK maupun BAB di wc, dan menggunakan wc
jongkok/leher angsa dengan presentasi sebanyak 100 %.

3. Distribusi berdasarkan pembuangan air limbah


Pembuangan Air Limbah Frekuensi Presentasi (%)
Resapan 78 53.1
Got 18 12.2
Sembarang 51 34.7
Total 147 100

Pembuangan Air Limbah

35% Resapan
53% Got
12% Sembarang
G. Kandang Ternak
1. Distribusi berdasarkan kepemilikan kandang

Kepemilikan Kandang Frekuensi Presentasi (%)


Ada 26 18.4
Tidak Ada 120 81.6
Total 147 100.0

Kepemilikan Kandang Ternak

41%

59% Ada
Tidak Ada

Dari hasil pengkajian didapatkan total 140 KK memanfaatkan sumber air


minum yang berasal dari sumur.

2. Distribusi berdasarkan letak kandang

Letak Kandang Frekuensi Presentasi


Tidak Ada 117 79.6
Diluar Rumah 30 20.4
Total 147 100.0

Letak Kandang

20%

Tidak Ada
80% Diluar Rumah
Dari hasil pengkajian setelah diobservasi jarak antara septic tank berjumlah
75 orang dengan prsentase 54 %, dan jumlah KK 65 dengan presentase 46
%.
3. Distribusi berdasarkan kondisi kandang

Kondisi Kandang Frekuensi Presentasi (%)


Terawat 18 12.2
Tidak Terawat 129 87.8
Total 147 100.0

Kondisi Kandang

12%

Terawat
88% Tidak Terawat

Dari hasil pengkajian setelah diobservasi 5 KK menampung air di BAK


mandi dengan jumlah prsentase 3,6 %, 10 KK menampung air
digentonng7,1 %, menam

H. Kondisi Kesehatan Umum


a. Distribusi berdasarkan sarana kesehatan terdekat

Sarana Kesehatan Terdekat Frekuensi Presentasi (%)

Puskesmas 100 74.3


dr/Perawat/Bidan 47 25.7
Total 147 100.0

Sarana Kesehatan Terdekat

26% Puskesmas
74% dr/Perawat/Bidan
Dari hasil pengkajian masyarakat dusun Diata didapatkan 140 KK
memanfaatkan televisi sebagai komunikasi formal untuk mendapatkan
berita.
b. Distribusi berdasarkan kebiasaan keluarga minta tolong bil sakit
Kebiasaan Keluarga MintaTolongbila Sakit Frekuensi Presentasi (%)
Puskesmas 95 64.6
Dokter 1 .7
Perawat/Bidan 47 32.0
Lain-lain 4 2.7
Total 147 100.0

Kebiasaan Keluarga Minta Tolong Bila Sakit


3%

32% Puskesmas
Dokter
64%
Perawat/Bidan
Lain-lain
1%

Dari hasil pengkajian masyarakat dusun Diata didapatkan 140 KK


memanfaatkan papan pengumuman sebagai komunikasi informal untuk
mendapatkan berita.
c. Distribusi berdasarkan kebiasaan keluarga sebelum ke pelayanan
kesehatan
Kebiasaan Keluarga Sebelum Ke pelayanann Presentasi
Frekuensi
Kesehatan (%)
Beli Obat Bebas 131 89.1
Jamu 2 1.4
Tdk Ada 14 9.5
Total 147 100.0
Kebiasaan Keluarga Sebelum
Ke Pelayanan Kesehatan

Beli Obat Bebas


50% 44%
Jamu
Tdk Ada
Total
5% 1%

d. Distribusi berdasarkan sumber pendanaan kesehatan keluarga


Sumber Pendanaan Kesehatan Keluarga Frekuensi Presentasi (%)
Askes 27 18.4
BPJS/KIS/ASKIN 71 48.3
Tdk Ada 49 33.3
Total 147 100.0

Sumber Pendanaan Kesehatan Keluarga

33% 19%
Askes
BPJS/KIS/ASKIN
48%
Tdk Ada

e. Distribusi berdasarkan transportasi ke pelayanan kesehatan


Sarana Transportasi Ke Pelayanan
Frekuensi Presentasi (%)
Kesehatan
Angkot 95 64.6
Kenderaan Pribadi 52 35.4
Total 147 100.0
Sarana Transportasi
Ke Pelayanan Kesehatan

35%

65% Angkot
Kenderaan Pribadi

I. Masalah Kesehatan Khusus


a. Distribusi berdasarkan penyakit yang paling sering diderita keluarga
Penyakit Yang Paling Sering Diderita
Frekuensi Presentasi (%)
Keluarga
Demam Berdarah 3 2.0
BatukPilek 10 6.8
Asma 4 2.7
Tb Paru 1 .7
Demam Typoid 2 1.4
Hipertensi 30 20.4
Gout Arhtritis/ Rheumatoid Arhtritis 8 5.4
Kolestrol 2 1.4
Lain-lain 24 16.3
Tdk Ada 63 42.9
Total 147 100.0

Demam Berdarah
Penyakit Yang Paling Sering
BatukPilek
Diderita Keluarga
Asma
2% 1%
3% Tb Paru
1%
7%
Demam Typoid
43%
20% Hipertensi

Gout Arhtritis/ Rheumatoid


Arhtritis
Kolestrol
16%
Lain-lain
6% Tdk Ada
1%

Berdasarkan tabel diatas, jumlah perempuan 74 orang dengan jumlah 140


KK penduduk di Wilayah Dusun Diata Desa Pulubala Kec Pulubala Kab
Gorontalo. didapatkan 10 orang merupakan pasangan usia subur, dan 64
bukan merupakan pasangan usia subur.

J. Balita
a. Jumlah balita
Jumlah Balita Frekuensi Presentasi (%)
Ya, Tergolong 45 30.6
TidakT ergolong 102 69.4
Total 147 100.0

Jumlah Balita

31%
Ya, Tergolong
69%
TidakT ergolong

Dari hasil pengka Berdasarkan tabel diatas, jumlah 200 jiwa dengan jumla
140 KK penduduk di Wilayah Dusun Diata Desa Pulubala Kec Pulubala
Kab Gorontalo Menunjukan yang tergolong balita sebanyak 6 orang (3%),
dan yang tidak tergolong balita sebanya 194 (97%).

b. Balita Ke Posyandu
Balita Ke Posyandu Frekuensi Presentasi (%)
Ke Posyandu 37 25.2
Tidak ke Posyandu 110 74.8
Total 147 100.0

Balita Ke Posyandu

25%

Ke Posyandu
75% Tidak ke Posyandu
Berdasarkan tabel dari 200 Jiwa dengan 140 KK penduduk di Wilayah
Dusun Diata Desa Pulubala Kec Pulubala Kab Gorontalo. Menunjukan
balita yang dibawa ke posyandu sebanyak 6 orang (3%), dan yang tidak
tergolong balita sebanya 194 (97%).
K. Anak dan Remaja
a. Distribusi berdasarkan dalam keluarga tergolong remaja
Dalam Keluarga Tergolong Remaja Frekuensi Presentasi (%)
Ya, Tergolong 86 58.5
TdkTergolong 61 41.5
Total 147 100.0

Jumlah Remaja

42%

58% Ya, Tergolong


TdkTergolong

Berdasarkan tabel dan diagram diatas, dari 200 Jiwa dengan 140 KK
penduduk di Wilayah Dusun Diata Desa Pulubala Kec Pulubala Kab
Gorontalo. Menunjukan kebiasaan remaja diluar sekolah yaitu tidak ada
kebiasaan sebanyak 68 KK (48,57%).

b. Distribusi berdasarkan kegiatan remaja di luar sekolah


Kegiatan Remaja di Luar Sekolah Frekuensi Presentasi (%)
Olahraga 27 18.4
Keagamaan 6 4.1
Karangn Taruna 19 12.9
Tidak Ada 95 64.6
Total 147 100.0
Kegiatan Remaja di Luar Sekolah

18%
4% Olahraga
13% Keagamaan
65%
Karangn Taruna
Tidak Ada

Berdasarkan tabel diatas, dari 200 Jiwa dengan 140 KK penduduk di


Wilayah Dusun Diata Desa Pulubala Kec Pulubala Kab Gorontalo.
Menunjukan tidak ada kebiasaan remaja dalam menggunakan waktu luang
sebanyak 72 (51,42%).
c. Distribusi berdasarkan penggunaan waktu remaja
PenggunaanWaktu Remaja Frekuensi Presentasi (%)
Musik/TV 56 38.1
Olahraga 6 4.1
Bekerja 20 13.6
Tidak Ada 65 44.2
Total 147 100.0

Penggunaan Waktu Remaja

44% 38%
Musik/TV
Olahraga
14% Bekerja
Tidak Ada
4%

Berdasarkan tabel diatas, dari 200 Jiwa dengan 140 KK penduduk di


Wilayah Dusun Diata Desa Pulubala Kec Pulubala Kab Gorontalo.
Menunjukan kebiasaan remaja merokok sebanyak 20 (14,30%), dan tidak
memiliki kebiasaan sebanyak 87 (62,14%)
d. Distribusi berdasarkan kebiasaan remaja
Kebiasaan Remaja Frekuensi Presentasi (%)
Merokok 67 45.6
Alkohol 11 7.5
Tdk Ada/ Lainnya 69 46.9
Total 147 100.0

Kebiasaan Remaja

47% 46%
Merokok
Alkohol
7% Tdk Ada/ Lainnya

L. Usia Lanjut
a) Distirbusi Berdasarkan anggota keluarga yang lanjut usia
Anggota Keluarga Yang Lanjut
Frekuensi Presentasi (%)
Usia
Ya, Tergolong 30 20.4
Tidak Tergolong 117 79.6
Total 147 100.0

Anggota Keluarga Yg Tergolong Lansia

20%

Ya, Tergolong
80% Tidak Tergolong

Berdasarkan tabel diatas, dari 200 Jiwa dengan 140 KK penduduk di


Wilayah Dusun Diata Desa Pulubala Kec Pulubala Kab Gorontalo.
Menunjukan penyakit yang diderita lansia yaitu hipertensi 16 kk (11,42% )
dan lain-lain sebanyak 110 KK (78,60%).

b) Distirbusi Berdasarkan penyakit yang diderita lansia


Penyakit yang diderita Lansia Frekuensi Presentasi (%)
Hipertensi 16 10.9
Gout Arhtritis/ Rheumatoid
10 6.8
Arhtritis
Lain-lain 1 .7
Tdk Ada 3 2.0
Total 30 20.4
Missing System 117 79.6
Total 147 100.0

Penyakit Yang Diderita Lansia


Hipertensi
7%
11% 1%
Gout Arhtritis/
2%
Rheumatoid Arhtritis
Lain-lain
79%

Tdk Ada

Missing System

Berdasarkan tabel diatas, dari 200 Jiwa dengan 140 KK penduduk di


Wilayah Dusun Diata Desa Pulubala Kec Pulubala Kab Gorontalo. .
Menunjukan penanganan penyakit lansia memilih sarana kesehatan
sebanyak ( 58%).

c) Distirbusi Berdasarkan penyakit yang diderita lansia


Penanganan Penyakit Lansia Frekuensi Presentasi (%)
Sarana Kesehatan 14 9.5
Non Medis 9 6.1
Diobati Sendiri 7 4.8
Total 30 20.4
Missing System 117 79.6
Total 147 100.0

Penanganan Penyakit Lansia

5%
8% 4%
Sarana Kesehatan
Non Medis
17%
66% Diobati Sendiri
Total
Missing System

Berdasarkan tabel diatas, dari 200 Jiwa dengan 140 KK penduduk di


Wilayah Dusun Diata Desa Pulubala Kec Pulubala Kab Gorontalo.
Menunjukan penggunaan waktu senggang lansia yaitu berkebun.

d) Distirbusi Berdasarkan penggunaan waktu senggang


Penggunaan Waktu Senggang Frekuensi Presentasi (%)
Berkebun 26 17.7
Tidak Ada 4 2.7
Total 30 20.4
Missing System 117 79.6
Total 147 100.0

Penggunaan Waktu Senggang Lansia

18% 3%

Berkebun
Tidak Ada
79%
Missing System
b. Penyampaian Hasil Tabulasi Data
Tanggal 03 Januari 2019 akan dilakukan pertemuan MMD 2 di Kantor
Kecamatan Pulubala pada Pukul 13.00 WITA guna penyampaian hasil
tabulasi dari hasil pengkajian atau pendataan keluarga.
Acara pertemuan MMD 2 meliputi :
1) Pembukaan oleh MC Rosida Bahsoan, S.Kep
2) Sambutan-sambutan
a. Sambutan dari Koordinator Stase atau yang mewakili
3) Penyajian hasil tabulasi data masyarakat Dusun Diata, Desa Pulubala, Kec.
Pulubalan (Sitti Nur’ain Jassin, S.Kep)
4) Tanya jawab/diskusi dan curah pendapat tentang penentuan prioritas
masalah dan alternatif pemecahan masalah serta menentukan waktu
pelaksanaan alternatif pemecahan masalah berupa pembahasan program
kerja sesuai dengan prioritas masalah.
5) Penutup oleh protocoler
Adapun menjadi prioritas masalah yang akan diselesaikan yaitu :
a) Kurangnya kesadaran masyarakat dalam pembersihan lingkungan Di dusun
Diata.
b) Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit DBD (Demam
Berdarah)
c) Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang manfaat makanan sehat
d) Kurangnya kesadaran anak-anak dalam mencuci tangan sebelum dan
sesudah melakukan aktivitas.
e) Kurangnya pemanfaat UKS dengan maksimal
c. Hasil Analisa Data
Berdasarkan tabel tabulasi data diatas, maka analisa data disusun sebagai
berikut :
Masalah Diagnose keperawatan
Data
kesehatan komunitas
 Tingkat pendidikan Lingkungan Defisit Kesehatan
terakhir warga yakni S yang kurang Komunitas
tamat SD sebanyak sehat
44,5 % (89 orang),  Kurangnya pengetahuan
SMP sebanyak 25,5 % masyarakat tentang
(51 orang), dan SMA pentingya kesehatan
20 % sebanyak 20 lingkungan
orang.  Kurang kesadaran untuk
 Dari hasil pengkajian berperilaku sehat
didapatkan 20 KK  Kurangnya kemampuan
membuang sampah secara ekonomi.
disungai dengan
prsentase 14,3 % ,dan
100 KK membakar
sampahnya dengan
prsentase 71,4 %, dan
20 KK membuang
sampah disembarang
tempat (14,3 %)
 Di dusun Diata tidak
memili tempat
penampungan sampah
sementara
 Penyakit yang diderita
3 bulan terakhir adalah
DBD
 kesadaran anak-anak Kurangnya Pemeliharaan kesehatan
dalam mencuci tangan pemahaman tidak efektif
sebelum dan sesudah anak-anak  Terjadinya penyakit
melakukan aktivitas dalam DBD di dusun Diata
masih sangat kurang. melakukan  Kurangnya berperilaku
 Kurangnya pemanfaat PHBS hidup sehat .
UKS dengan maksimal
 Penyakit yang diderita Kurangnya Manejemen kesehatan tidak
keluarga 6 bulan pemahahaman efektif.
terakhir hipertensi masyarakat
sebanyak 22,4%, tentang
demam 18,24%. kesehatan dan  Kurangnya pengetahuan
 Kurangnya kesadaran pengolahan masyarakat tentang
masyarakat untuk makanan sehat penyakit
melakukan  Kurangnya kesadaran
pemeriksaan kesehatan masyarakat tentang
makanan sehat untuk
mencegah penyakit.

Prioritas masalah keperawatan adalah sebagai berikut :


a) Kurangnya kesadaran masyarakat dalam pembersihan lingkungan Di dusun
Diata.
b) Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit DBD (Demam
Berdarah)
c) Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang manfaat makanan sehat
d) Kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan
kesehatan.
e) Kurangnya kesadaran anak-anak dalam mencuci tangan sebelum dan
sesudah melakukan aktivitas.
f) Kurangnya pemanfaat UKS dengan maksimal
d. Penentuan Prioritas Masalah
a) Defisit Kesehatan Komunitas Tidak Efektif
N
Kriteria Skala Bobot Scoring Pembenaran
o
1. Sifat masalah 2 1 2/3 x 1Bila masalah tersebut
=2/3 tidak dapat diatasi
Masalah akan membahayakan
kesehatan penderita dan juga
membahayakan
masyarakat yang
tinggal di Dusun Diata
karena vector
penyebaran penyakit.
2. Kemungkinan 1 2 ½ x 2 = Ketidaksadaran
masalah dapat 1 masyarakat tentang
diubah pentingya lingkungan
yang memenuhi syarat
Sebagian masyarakat.
3. Potensial masalah 2 1 2/3 x 1 Masyarakat dusun
= 2/3 Diata sangat
Cukup diharapkan
mengetahui dan
menyadari pentingnya
kebersihan lingkungan
dan mau
mempertahankan
kebersihan
lingkungannya.
4 Menonjolnya 1 1 ½ x 1 - Apabila kebersian
masalah =½ lingkungan tidak
segera ditangani dan
Tidak segera tetap tidak adanya
kesadaran dari
masyarakat maka akan
menimbulkan suatu
masalah yang lebih
besar.
b) Manajemen Kesehatan Tidak Efektif
N
Kriteria Skala Bobot Scoring Pembenaran
o
1. Sifat masalah 1 1 1/3 x 1 Pengetahuan
=1 masyarakat tentang
Risiko penyakit yang diderita.
2. Kemungkinan 1 2 ½ x 2 = Respon masyarakat
masalah dapat 1 mampu menerima
diubah pendidikan kesehatan
sehingga masyarakat
Sebagian memperbaiki dan
menjaga kesehatannya.
3. Potensial masalah 2 1 2/3 x 1 Masalah kesehatan
= 2/3 dapat diatasi dengan
Cukup mengatrur pola makan
yang cukup gizi,
aktifitas yang teratur
dan olahraga yang
cukup
4 Menonjolnya 1 1 ½ x 1 - Jika tidak segera
masalah =½ ditangani berupa
pemberian pendidikan
Tidak segera kesehatan dan
pengobatan lebih
lanjut akan terjadi
komplikasi.

e. Perencanaan
a. Diagnosa Keperawatan 1
Defisit Kesehatan Komunitas berhubungan dengan :
1) Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kebersihan lingkungan
2) Kurangnya kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup sehat.

Tujuan Jangka Panjang :


Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 minggu, diharapkan
berkurangnya keluhan penyakit.
Tujuan Jangka Pendek :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 minggu, masyarakat
diharapkan :
1. Mengerti tentang penyakit
2. Dapat mengambil keputusan tentang masalah penyakit yang diderita
keluarga mengenai penyakit yang diderita
3. Dapat menjaga kebersihan lingkungannya masing-masing, dengan
cara membuang sampah ditempat sampah, membuang air limbah
secara benar
4. Mengantisipasi timbulnya penyakit akibat factor membahayakan
kesehatan.
Intervensi :
1. Melakukan PSN pemberantasan sarang nyamuk, dan melakukan
penyuluhan kesehatan tentang penyakit DBD.

b. Diagnosa Keperawatan II
Pemeliharaan kesehatan tidak efektif b.d :
1. kurangnya kesdaran anak-anak dalam melakukan PHBS
2. kurang maksimalnya pemanfaatan UKS yang ada disekolah
Tujuan jangka Panjang
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 minggu, diharapkan
terjadi peningkatan kesehatan disekolah.
Tujuan Jangka Pendek
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 minggu, masyarakat
diharapkan :
1) Adanya kemauna anak-anak dalam melakukan PHBS.
2) Guru dan siswa dapat memanfaatkan UKS secara maksimal.
Intervensi
1. Melakukan penyuluhan PHBS mencuci tangann 06 langkah dengan
baik dan benar
2. Melakukan sosialisasi penyegeran kembali tentang penitngnya
pemanfaat UKS disekolah.
c. Diagnosa Keperawatan III
Manajemen Kesehatan Tidak Efektif b.d
1) Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit
2) Kurangnya kesadaran masyarakat tentang makanan sehat untuk
mencegah penyakit.
3) Tingkat pendidikan warga tidak sekolah dan tamatan pendidikan
dasar (SD) cukup tinggi

Tujuan Jangka Panjang :


Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 minggu, diharapkan
masyarakat akan paham dan terhindar dari penyakit tropis disebabkan
oleh lingkungan yang kurang sehat,dan makanan yang kurang sehat.
Tujuan Jangka Pendek :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 minggu, masyarakat
diharapkan :
3) Masyarakat mengetahui pentingnya manfaat makan-makanan yang
sehat
Intervensi
Melakukan penyuluhan gerakana masyarakat hidup sehat(GERMAS)
Melakukan pemeriksaan penyakit tidak menular.

f. Implementasi
1. Diagnose Keperawatan I
Defisit Kesehatan Komunitas berhubungan dengan : Kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang kebersihan lingkungan, dan
Kurangnya kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup sehat.
Implementasi :
1. Rabu– Kamis 9/10 Januari 2019 mendatangi mendatangi warga
masyarakat secara door to door yang mengalami penyakit DBD
2. Jumat 11 Januari 2019 melakukan pembersihan lingkungan
(pemberantasan sarang nyamuk bersama warga masyarakat dusun
Diata, dan kepala dusun Diata)
3. Jumat 11 Januari 2019 memberikan penyuluhan tentang penyakit
DBD.
2. Diagnose Keperawatan II
Pemeliharaan kesehatan tidak efektif berhubungan dengan
kurangnya kesdaran anak-anak dalam melakukan PHBS, kurang
maksimalnya pemanfaatan UKS yang ada disekolah
Implementasi :
1. Kamis 09 Januari 2019 Penyuluhan kesehatan tentang PHBS, dan
sosialisasi tentang penyegaran kembali pemanfaatan UKS.
3. Diagnose Keperawatan III
Manajemen Kesehatan Tidak Efektif berhubungan dengan Kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang penyakit, Kurangnya kesadaran
masyarakat tentang makanan sehat untuk mencegah penyakit dant
tingkat pendidikan warga tidak sekolah dan tamatan pendidikan dasar
(SD) cukup tinggi
Implementasi :
1. Sabtu 12 Januari 2019 melakukan penyuluhan tentang gerakan
masyarakat hidup sehat (GERMAS)
2. Sabtu 12 januari 2019 melakukan pemeriksaan penyakit tidak
menular.
g. Evaluasi
1. Diagnose keperawatan 1
1) Evaluasi struktur
Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kebersihan
lingkungah. Dari hasil data diperoleh dilakukan
tidakan/implementasi kegiatan berupa pembersihan lingkungan
guna pemberantasan sarang nyamuk, dan melakukan penyuluhan
tentang penyakit DBD.
Untuk kegiatan kerja bakti dan penyuluhan telah
dikoordinasi dengan aparat desa dan masyarakat dusun Diata.
Bentuk rencana kegiatan yang dilaksanakan telah sampaikan pada
saat kunjungan awal. Kegiatan tersebut mendapat respon positif
dari aparat desa dan masyarakat dusun Diata. Waktu pelaksanaan
sesuai dengan waktu yang direncanakan.. Sebelum melakukan
kegiatan, mahasiswa mempersiapkan bahan dan media yang akan
digunakan serta menentukan mahasiswa yang akan membawakan
materi. Segala perencanaan dibicarakan secara bersama-sama.
2) Evaluasi Proses
Pembersihan lingkungan dan penyuluhan berjalan sesuai yang
direncanakan. Pada penyuluhan penyakit DBD, dan penyuluhan
tentang gerakan masyarakt hidup sehat. Mahasiswa menghubungi
kepala desa dan aparat desa untuk mengatur waktu yang tepat bagi
mahasiswa untuk dapat menyampaikan penyuluhan kesehatan.
Penyuluhan kesehatan ini dilakukan oleh masing masing
mahasiswa yang bertanggung jawab.
3) Evaluasi hasil
Setelah dilakukan pembersihan lingkungan dan penyuluhan
kesehatan. Masyarakat sadar betapa penting pembersihan
lingkungan dan termotivasi untuk lebih meningkatkan kesadaran
dalam melakukan pembersihan lingkungan. Untuk penyuluhan
kesehatan tentang penyakit DBD masyarakat sudah lebih paham
dan mengerti pengertian, penyebab, tanda dan gejala dari penyakit
tersebut serta pencegahan dari penyakit DBD.
2. Diagnose Keperawatan II
1) Evaluasi Struktur
Dari hasil data yang diperoleh dilakukan tindakan/implementasi
berupa penyuluhan kesahatan PHBS dan penyegaran kembali
tentang pemanfaat UKS. Semua persiapan telah dipersiapkan
sehari sebelum pelaksanaan kegiatan seperti membagikan
undangan, berkoordinasi dengan pemerintah desa dan dusun
setempat.
2) Evaluasi Proses
(1) Kegiatan berlangsung sesuai waktu yang ditentukan pada hari
kamis 10 januari 2019 pada pukul 10.00 WITA
(2) Kegiatan dilaksanakan disekolah
(3) Mahasiswa memfasilitasi keperluan kegiatan
(4) Warga begitu kooperatif
(5) Fakor penghambat tidak ada
(6) Factor pendukung kegiatan ini yaitu antusias anak-anak dalam
mendengar dan memperhatikan materi dengan baik.
3) Evaluasi Hasil
Kegiatan ini dilaksanakan dengan jumlah peserta sebanyak
20 orang dan dihadiri langsung oleh Kepala dusun, aparat desa,
kader kesehatan. Secara kognitif anak-anak mampu memahami
penyuluhan kesehatan tentang mencuci tangan dengan baik dan
benar.
3. Diagnose Keperawatan III
1) Evaluasi struktur
Rencana sudah dipersiapkan 1 hari sebelum penyuluhan dan sudah
dikoordinasikan dengan aparat desa dan kepala dusun untuk
persiapan pelaksanaan pemeriksaan penyakit tidak menular.
2) Evaluasi Proses
(1) Kegaiatan berlangsung pada hari sabtu , 12 Januari 2019 pukul
11.00 WITA
(2) Kegiatan dilaksanakan di sekolah SDN 06 Pulubala.
(3) Mahasiswa memfasilitasi keperluan kegiatan
(4) Masyrakat sangat kooperatif
(5) Factor penghambat tidak ada
(6) Factor pendukung kgiatan ini yaotu antusias warga dalam
melaksanakan kegiatan ini.
3) Evaluasi hasil
Kegiatan ini dilaksanakan dan dihadiri langsung oleh
Kepala Desa, Kepala Dusun, kader kesehatan. Secara kognitif
warga antusius untuk melakukan pemeriksaan penyakit tidak
menular.
4. Saran/ Rencana Tindak Lanjut
Untuk pihak-pihak terkait atau aparat desa setempat unuk
menindak lanjuti kembali pelaksanaan pembersihan lingkungan
untuk lingkungan dusun Diata. Dan pengadaan pembuangan
sampah sementara. Sehingga warga lebih terarah untuk
pembuangan sampah, serta dibutuhkan kesadaran dari masyarakat
setempat unutk membuat inisiatif mengenai sampah.
BAB IV
PEMBAHASAN

Konsep keperawatan komunitas yang professional mengacu pada ilmu dan


kiat keperawatan yang diajukan pada masyarakat terutama kelompok resiko
tinggi. Peran serta aktif masyarakat sngat mempengaruhi proses asuhan
keperawatan dimasyarakat itu sendiri. Pengkajian yang dilakukan sangat
tergantung pada respon positif dari masyarakat terutama dalam memberikan yang
valid dan akurat.
Melalui kelompok kader kesehatan serta melibatkan pihak terkait baik
pemerintah setempat, tokoh masyarakat, agama dapat diperoleh data yang sangat
mendukung proses pemberian ashuan keperawatan langsung pada masyarakat.
Tahapan proses keperawatan komunitas pada dasarnya sama dengan tahapan
pada proses keperawatan diklinik keperawatan yang meliputi : pengkajian,
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pembahasan ini pun mengacu pada
analisis SWOT ( Stregth, Weaknes,, Oportunity,dan Threat).
A. Dalam pembahasan ini akan dijelaskan secara analisis SWOT berdasarkan
pada jenis masalah keperawatan yang ada.
a. Defisit kesehatan komunitas :
Analisis SWOT :
1. Kekuatan
Kekuatan dalam masalah ini adalah ada minat masyarakat untuk
ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa mulai
dari pembersihan lingkungan(pemberantasan sarang nyamuk),
penyuluhan tentang penyakit DBD, sosialisasi gerakan masyarakat
hidup sehat, dan pemeriksaan penyakit tidak menular. Adanya
dukungan dari pemerintah setempat untuk melaksanakan berbagai
kegaiatan yang berhubungan dengan masalah ini.
2. Kelemahan
Kelemahan dalam masalah ini adalah kurangnya motivasi
masyarakat untuk melakukan kebiasaan hidup bersih seperti
pembersihan lingkungan untuk mencegah adanya penyakit,
kurangnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan
mereka di sarana pelayanan kesehatan, dengan berbagai alasan.
3. Kesempatan
Kesempatan adalah sejalannya beberapa kegiatan dengan program
pemerintah dan puskesmas untuk menambah dan membentuk
caloon-calon kader.
4. Ancaman :
Ancaman yang ada dalam masalah ini adalah dibutuhkannya
dukungan yang sangat besar dari aparat pemerintahan setempat
serta petugas kesehatan dalam tindak lanjut program serta
dibutuhkannya kesadaran yang tinggi dari masyarakat untuk
memanfaatkan faslitas kesehatan ada serta kegiaatan yang telah
ada.
b. Pemeliharaan kesehatan tidak efektif
Kekuatan dalam masalah ini adalah ada minat anak-anak untuk ikut
serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa sehingga
termotivasi untuk melakuka pola hidup sehat dan bersih. Kegiatan ini
mendapat dukungan dari staf dewan guru SDN 06 Pulubala.
Analisis SWOT
1. Kekuatan
Antusias anak- anak dalam mendengar dan mempraktikan
penyuluhan PHBS.
2. Kelemahan :
Masih kurangnya kesadaran mengenai pola hidup sehat, seperti
mencuci tangan dengan baik dan benar sebelum dan sesudah
melakukan aktivitas sehari-har
3. Ancaman
Ancaman yang ada dalam masalah ini adalah dibutuhkannya
dukungan besar dari guru-guru dan orang tua untuk bisa ikut serta
dalam membimbing anak-anak untuk melakukan kebiasaan pola
hidup sehat.
c. Manajemen kesehatan tidak efektif
Analisis SWOT :
1. Kekuatan
Kekuatan dalam kegiatan ini untuk mengatasi masalah kesehatan
ini adalah dukungan masyarakat, kader kesehatan, pemerintah
setempat, tokoh masyarakat, dakam memotivasi masyarakat untuk
berperan aktif dalam kegiatan yang diklaksanakan.
2. Kelemahan
Kelehamhannya adalah kurangnya kesadaran masyarakat dalam
pemeliharaan lingkungan yang sehat
3. Ancaman
Ancamannnya adalah tidak adanya tindak lanjut dari masyrakat
karena beberapa kegiatan membutuhkan kerja sama dan koordinir
dari pemerintah setempat.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Asuhan keperawatan komunitas sebagai salah satu penerapan dari praktik
keperawatan dan praktik kesehatan kotmunitas bertujuan untuk meningkatkan
dan memelihara kesehatan masyarakat. Sifat asuhan yang diberikan adalah
umum dan menyeluruh melalui kerja sama dan peran serta masyarakat,
sedangkan focus keperawatan individu, kelompok, keluarga menekankan
pada pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan dengan tidak
mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitative.
Praktik lapangan asuhan keperawatan komunitas yang dilakukan oleh
Mahasiswa Program Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Gorontalo di Dusun Diata Desa Pulubala Kecamatan
Pulubala Kabupaten Gorontalo, menggunakan peran serta masyarakat melalui
strategi pembinaan wilayah dan keluarga binaan berdasarkan keluarga yang
berisiko tinggi dan rawan dalam kesehatan. Pemilihan dilakukan mahasiswa
pada saat pengkajian.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa bekerja sama dengan masyarakat
melakukan pengkajian, menetapkan masalah, menentukan prioritas, membuat
perencanaan, melaksanakan kegiatan dan evaluasi. Adapun masalah
kesehatan yang ditemukan di Dusun Diata : kurangnya pemahaman
masyarakat tentang penyakit
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan bersama masyarakat untuk mengatasi
tersebut antara lain : melakukan penyuluhan secara langsung, melaksanakan
kegiatan dalam hal bentuk fisik (kerja bakti dan pembakaran sampah) serta
tindakan langsung pemeriksaan kesehatan pada lansia,
Dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan tersebut diatas didapatkan
hasil antara lain : meningkatnya pengetahuan masyarakat, tokoh masyarakat,
dan kader kesehatan tentang masalah-masalah kesehatan melalui kegiatan
penyuluhan (pada masyarakat umum, ibu-ibu, anak-anak dan lansia).
Perencanaan kegiatan semua terlaksana sesuai dengan waktu yang
direncanakan.
Keberhasilan yang dicapai merupakan tanda adanya peningkatan pera
serta masyarakat melalui kelompok kerja kesehatan, tokoh agama, tokoh
masyarakat, dan pemerintah setempat. Dan secara umum adalah karena
adanya dukungan penuh dari masyarakat di Dusun Diata Kec. Pulubala Kab.
Gorontalo.

B. Saran
Setelah seluruh kegiatan asuhan keperawatan komunitas telah dilaksanakan,
maka dengan ini kami mengajukan beberapa saran sebagai berikut :
1. Kerja sama yang baik dari pihak pendidikan dengan aparat pemerintah
dan dinas kesehatan dilahan praktek perlu dipertahankan
2. Kerja sama antar kader kesehatan dan instansi terkait agar tetap
dipertahankan dan dikembangkan sehingga program yang telah ditetapkan
dapat dilaksanakan dengan baik.
3. Puskesmas dan pemerintah setempat sebaiknya memberikan pembinaan
yang berkesinambungan kepada kader kesehatan agar termotivasi untuk
melaksanakan program-program kesehataan.
4. Membentuk calon-calon kader kesehatan.
5. Mengaktifkan kembali program posyandu lansia.
6. Kerja sama antara pihak pendidikan, puskesmas, dan pemerintah setempat
untuk menindak lanjuti hasil dari berbagai kegiatan praktik mahasiswa.