Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Asma merupakan masalah kesehatan dunia yang tidak hanya terjangkit di
negara maju tetapi juga di negara berkembang. Menurut data laporan dari Global
Initiatif for Asthma (GINA) pada tahun 2012 dinyatakan bahwa perkiraan jumlah
penderita asma seluruh dunia adalah tiga ratus juta orang, dengan jumlah
kematian yang terus meningkat hingga 180.000 orang per tahun (GINA,2012).
Data WHO juga menunjukkan data yang serupa bahwa prevalensi asma
terus meningkat dalam tiga puluh tahun terakhir terutama di negara maju.
Hampir separuh dari seluruh pasien asma pernah dirawat di rumah sakit dan
melakukan kunjungan ke bagian gawat darurat setiap tahunnya (Rengganis,
2013)
Penyakit asma masuk dalam sepuluh besar penyebab kesakitan dan
kematian di Indonesia. Pada tahun 2005 Survei Kesehatan Rumah Tangga
mencatat 225.000 orang meninggal karena asma (Dinkes Jogja, 2011). Menurut
hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) nasional tahun 2007, penyakit asma
ditemukan sebesar 4% dari 222.000.000 total populasi nasional, sedangkan di
Sumatera Barat Departemen Kesehatan menyatakan bahwa pada tahun 2012
jumlah penderita asma yang ditemukan sebesar 3,58% (Zara, 2011). Jumlah
kunjungan penderita asma di seluruh rumah sakit dan puskesmas di Kota Padang
sebanyak 12.456 kali di tahun 2013 (DKK Padang, 2013)
Asma adalah penyakit inflamasi kronis saluran napas yang bersifat
reversible dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap
berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang
luas dan derajatnya dapat berubah-ubah secara spontan yang ditandai dengan
mengi episodik, batuk, dan sesak di dada akibat penyumbatan saluran napas
(Henneberger dkk., 2011).
Pada umumnya penderita asma akan mengeluhkan gejala batuk, sesak
napas, rasa tertekan di dada dan mengi. Pada beberapa keadaan batuk mungkin
merupakan satu-satunya gejala. Gejala asma sering terjadi pada malam hari dan
saat udara dingin, biasanya bermula mendadak dengan batuk dan rasa tertekan di
dada, disertai dengan sesak napas (dyspnea) dan mengi. Batuk yang dialami pada
awalnya susah, tetapi segera menjadi kuat. Karakteristik batuk pada penderita
asma adalah berupa batuk kering, paroksismal, iritatif, dan non produktif,
kemudian menghasilkan sputum yang berbusa, jernih dan kental. Jalan napas
yang tersumbat menyebabkan sesak napas, sehingga ekspirasi selalu lebih sulit
dan panjang dibanding inspirasi, yang mendorong pasien untuk duduk tegak dan
menggunakan setiap otot aksesori pernapasan. Penggunaan otot aksesori
pernapasan yang tidak terlatih dalam jangka panjang dapat menyebabkan
penderita asma kelelahan saat bernapas ketika serangan atau ketika beraktivitas
(Brunner & Suddard, 2002).
Tingkat gejala asma yang dialami oleh penderita asma telah
diklasifikasikan menjadi empat jenis yaitu: 1) intermiten merupakan jenis asma
yang terjadi bulanan dengan gejala kurang dari satu kali seminggu, tidak
menimbulkan gejala di luar serangan dan biasanya terjadi dalam waktu singkat.
2) Persisten ringan yang serangannya terjadi mingguan dengan gejala lebih dari
satu kali seminggu tetapi kurang dari satu kali sehari, yang dapat mengganggu
aktivitas dan tidur. 3) Persisten sedang dengan gejala yang muncul setiap hari
dan membutuhkan bronkodilator setiap hari. 4) Persisten berat yang terjadi
secara kontinyu, gejala terus menerus, sering kambuh dan aktivitas fisik terbatas
(GINA, 2012).
Asma mempunyai dampak yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Gejala asma dapat mengalami komplikasi sehingga menurunkan produktifitas
kerja dan kualitas hidup (GINA, 2012).
Tujuan perawatan asma adalah untuk menjaga agar asma tetap terkontrol
yang ditandai dengan penurunan gejala asma yang dirasakan atau bahkan tidak
sama sekali, sehingga penderita dapat melakukan aktivitas tanpa terganggu oleh
asmanya. Pengontrolan terhadap gejala asma dapat dilakukan dengan cara
menghindari alergen pencetus asma, konsultasi asma dengan tim medis secara
teratur, hidup sehat dengan asupan nutrisi yang memadai, dan menghindari stres.
Gejala asma dapat dikendalikan dengan pengelolaan yang dilakukan secara
lengkap, tidak hanya dengan pemberian terapi farmakologis tetapi juga
menggunakan terapi nonfarmakologis yaitu dengan cara mengontrol gejala yang
timbul serta mengurangi keparahan gejala asma yang dialami ketika terjadi
serangan. (Wong, 2010).
Terapi non farmakologis yang umumnya digunakan untuk pengelolaan
asma adalah dengan melakukan terapi pernapasan. Terapi pernapasan bertujuan
untuk melatih cara bernapas yang benar, melenturkan dan memperkuat otot
pernapasan, melatih ekspektorasi yang efektif, meningkatkan sirkulasi,
mempercepat dan mempertahankan pengontrolan asma yang ditandai dengan
penurunan gejala dan meningkatkan kualitas hidup bagi penderitanya. Pada
penderita asma terapi pernapasan selain ditujukan untuk memperbaiki fungsi alat
pernapasan, juga bertujuan melatih penderita untuk dapat mengatur pernapasan
pada saat terasa akan datang serangan, ataupun sewaktu serangan asma
(Nugroho, 2016).

1.2 Tujuan
1.3 Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:
1. Bagi Puskesmas Pauh
Laporan ini dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan intevensi
kepada pasien asma untuk menurunkan tingkat gejala asma, meningkatkan kontrol
asma pada pasien, sehingga pasien dapat ditangani dengan baik tanpa perlu di
rujuk ke rumah sakit.
2. Bagi Pasien
Laporan ini dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan kepada pasien
dengan asma, sehingga dapat mengurangi jumlah kunjungan pasien asma dan
menurunkan biaya perawatan.
3. Bagi Institusi Keperawatan
Laporan ini dapat menambah referensi dalam tindakan asuhan keperawatan
pada pasien dengan asma bronkial untuk menurunkan gejala asma serta dapat
digunakan sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Medis


1. Definisi
Asma merupakan gangguan radang kronik saluran napas. Saluran napas
yang mengalami radang kronik bersifat hiperresponsif sehingga apabila
terangsang oleh factor risiko tertentu, jalan napas menjadi tersumbat dan aliran
udara terhambat karena konstriksi bronkus, sumbatan mukus, dan meningkatnya
proses radang (Almazini, 2012).
Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan
karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan
peradangan, penyempitan ini bersifat sementara. Asma dapat terjadi pada siapa
saja dan dapat timbul disegala usia, tetapi umumnya asma lebih sering terjadi
pada anak-anak usia di bawah 5 tahun dan orang dewasa pada usia sekitar 30
tahunan (Saheb, 2011).

2. Etiologi
1) Faktor Predisposisi
Genetik merupakan faktor predisposisi dari asma bronkhial.
2) Faktor Presipitasi
1. Alergen
Alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
a) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan. Contohnya: debu,
bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri, dan polusi.
b) Ingestan, yang masuk melalui mulut. Contohnya: makanan dan
obat-obatan.
c) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit. Contohnya:
perhiasan, logam, dan jam tangan.
b) Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi asma.
c) Stress
Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma.
Stress juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada
d) Lingkungan kerja
Lingkungan kerja mempunyai hubungan langsung dengan sebab
terjadinya serangan asma.Misalnya orang yang bekerja di
laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas.
e) Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika
melakukan aktifitas jasmani atau olah raga yang berat.

3. Klasifikasi
Berdasarkan etiologinya Asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3
tipe, yaitu
1) Ekstrinsik (alergik) : Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh
faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu
binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma
ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik
terhadap alergi.
2) Intrinsik (non alergik) : Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang
bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti
udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran
pernafasan dan emosi.
3) Asma gabungan : Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai
karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergi.
Berdasarkan Keparahan Penyakit :
1) Asma intermiten : Gejala muncul < 1 kali dalam 1 minggu.
2) Asma persisten ringan : Gejala muncul > 1 kali dalam 1 minggu tetapi < 1
kali dalam 1 hari.
3) Asma persisten sedang (moderate): Gejala muncul tiap hari, eksaserbasi
mengganggu aktifitas atau tidur, gejala asma malam hari terjadi >1 kali
dalam 1 minggu.
4) Asma persisten berat (severe) : Gejala terus menerus terjadi, eksaserbasi
sering terjadi, gejala asma malam hari sering terjadi, aktifitas fisik
terganggu oleh gejala asma, PEF dan PEV1 < 60%.

4. Patofisiologi
Asma ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkus yang
menyebabkan sukar bernafas.Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas
bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma
tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi
mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody IgE abnormal
dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan
antigen spesifikasinya.
Pada respon alergi di saluran nafas, antibodi IgE berikatan dengan alergen
menyebabkan degranulasi sel mast. Akibat degranulasi tersebut, histamin
dilepaskan. Histamin menyebabkan konstriksi otot polos bronkiolus. Apabila
respon histamin berlebihan, maka dapat timbul spasme asmatik. Karena histamin
juga merangsang pembentukan mukkus dan meningkatkan permiabilitas kapiler,
maka juga akan terjadi kongesti dan pembengkakan ruang iterstisium paru.
Individu yang mengalami asma mungkin memiliki respon IgE yang sensitif
berlebihan terhadap sesuatu alergen atau sel-sel mast-nya terlalu mudah
mengalami degranulasi. Di manapun letak hipersensitivitas respon peradangan
tersebut, hasil akhirnya adalah bronkospasme, pembentukan mukus, edema dan
obstruksi aliran udara.

5. Manifestasi Klinis
1) Gejala awal :
a. Batuk
b. Dispnea
c. Mengi (whezzing)
d. Gangguan kesadaran, hyperinflasi dada
e. Tachicardi
f. Pernafasan cepat dangkal
2) Gejala lain :
a. Takipnea
b. Gelisah
c. Diaphorosis
d. Nyeri di abdomen karena terlihat otot abdomen dalam pernafasan
e. Fatigue (kelelahan)
f. Tidak toleran terhadap aktivitas: makan, berjalan, bahkan
berbicara.
g. Serangan biasanya bermula dengan batuk dan rasa sesak dalam
dada disertai pernafasan lambat.
h. Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang disbanding inspirasi
i. Sianosis sekunder
j. Gerak-gerak retensi karbondioksida seperti : berkeringat,
takikardia, dan pelebaran tekanan nadi.

6. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan sputum
2) Pemeriksaan darah
3) Foto rontgen
4) Pemeriksaan faal paru
5) Elektrokardiografi

7. Komplikasi
1) Pneumo thoraks
2) Pneumomediastinum
3) Emfisema subkutis
4) Ateleltaksis
5) Aspergilosis
6) Gagal nafas
7) Bronchitis

8. Penatalaksanaan
1) Pengobatan non farmakologik
a. Penyuluhan
Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan pengetahuan klien
tentang penyakit asma
b. Menghindari faktor pencetus
c. Fisioterapi
2) Pengobatan farmakologik
a. Agonis beta.Contohnya : Alupent, metrapel
b. Metil Xantin.Contohnya : Aminophilin dan Teopilin
c. Kortikosteroid.Contohnya : Beclometason Dipropinate dengandosis
800 empat kali semprot tiap hari.
d. Kromolin. Kromolin merupakan obat pencegah asthma, khususnya
anak-anak . Dosisnya berkisar 1-2 kapsul empat kali sehari.
e. Ketotifen. Efek kerja sama dengan kromolin dengan dosis 2 x 1 mg
perhari. Keuntunganya dapat diberikan secara oral.
f. Iprutropioum bromide (Atroven). Atroven adalah antikolenergik,
diberikan dalam bentuk aerosol dan bersifat bronkodilator.
3) Pengobatan selama serangan status asthmatikus
a. Infus RL : D5 = 3 : 1 tiap 24 jam
b. Pemberian oksigen 4 liter/menit melalui nasal kanul
c. Aminophilin bolus 5 mg / kg bb diberikan pelan-pelan selama 20
menit dilanjutka drip Rlatau D5 mentenence (20 tetes/menit)
dengan dosis 20 mg/kg bb/24 jam.
d. Terbutalin 0,25 mg/6 jam secara sub kutan.
e. Dexamatason 10-20 mg/6jam secara intra vena.
f. Antibiotik spektrum luas
2.2 Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
1) Riwayat kesehatan sekarang
a. Waktu terjadinya sakit : Berapa lama sudah terjadinya sakit
b. Proses terjadinya sakit : Kapan mulai terjadinya sakit, Bagaimana
sakit itu mulai terjadi
c. Upaya yang telah dilakukan : Selama sakit sudah berobat kemana,
Obat-obatan yang pernah dikonsumsi.
d. Hasil pemeriksaan sementara / sekarang : TTV meliputi tekanan
darah, suhu, respiratorik rate, dan nadi. Adanya patofisiologi lain
seperti saat diauskultasi adanya ronky,wheezing.
2) Riwayat kesehatan terdahulu
a. Riwayat merokok, yaitu sebagi penyebab utama kanker paru-
paru,emfisema, dan bronchitis kronis. Anamnesa harus mencakup :
Usia mulai merokok secara rutin. Rata-rata jumlah rokok yang
dihisap setiap hari. Usai menghentikan kebiasaan merokok.
b. Pengobatan saat ini dan masa lalu
c. Alergi
d. Tempat tinggal
3) Riwayat kesehatan keluarga
Tujuan pengkajian ini : Penyakit infeksi tertentu seperti TBC ditularkan
melalui orang ke orang. Kelainan alergi seperti asma bronchial,
menujukkan suatu predisposisi keturunan tertentu.Asma bisa juga terjadi
akibat konflik keluarga. Pasien bronchitis kronis mungkin bermukim di
daerah yang tingkatpolusi udaranya tinggi.Polusi ini bukan sebagai
penyebab timbulnyapenyakit tapi bisa memperberat.
4) Riwayat kesehatan lingkungan.
5) Pola Keseharia
a. Pola aktivitas dan latihan: Menggunakan tabel aktifitas meliputi
makan, mandi berpakaian, eliminasi,mobilisaasi di tempat tidur,
berpindah, ambulansi, naik tangga.
a) Airway
Batuk kering/tidak produktif, wheezing yang nyaring,
penggunaan otot–otot aksesoris pernapasan ( retraksi otot
interkosta)
b) Breathing
Perpanjangan ekspirasi dan perpendekan periode inspirasi,
dypsnea,takypnea, taktil fremitus menurun pada palpasi, suara
tambahanronkhi, hiperresonan pada perkusi
c) Circulation
Hipotensi, diaforesis, sianosis, gelisah, fatique, perubahan
tingkatkesadaran, pulsus paradoxus > 10 mm
b. Pola istirahat tidur
Jam berapa biasa mulai tidur dan bangun tidur
Kualitas dan kuantitas jam tidur
c. Pola nutrisi – metabolic
Berapa kali makan sehari
Makanan kesukaan
Berat badan sebelum dan sesudah sakit
Frekuensi dan kuantitas minum sehari
d. Pola eliminasi
Frekuensi dan kuantitas BAK dan BAB sehari
Nyeri
Kuantitas
e. Pola kognitif perceptual
Adakah gangguan penglihatan, pendengaran (Panca Indra)
f. Pola konsep diri
Gambaran diri
Identitas diri
Peran diri
Ideal diri
Harga diri
Cara pemecahan dan penyelesaian masalah
g. Pola seksual – reproduksi
Adakah gangguan pada alat kelaminya.
h. Pola peran hubungan
Hubungan dengan anggota keluarga
Dukungan keluarga
Hubungan dengan tetangga dan masyarakat.
i. Pola nilai dan kepercayaan
Persepsi keyakinan
Tindakan berdasarkan keyakinan
6) Pemeriksaan Fisik
Data klinik, meliputi:
a. TTV
b. Keluhan Utama
Data hasil pemeriksaan yang mungkin ditemukan:
a. Kulit: Warna kulit sawo matang, turgor cukup.
b. Kepala: Mesochepal, rambut hitam, distribusi merata, tidak mudah
dicabut.
c. Mata: Conjungtiva merah mudah, sclera putih, pupil bulat, isokor,
diameter 3 mm, reflek cahaya (+/+).
d. Telinga: Simetris, serumen (+/+) dalam batas normal.
e. Hidung: simetris, septum di tengah, selaput mucosa basah.
f. Mulut: gigi lengkap, bibir tidak pucat, tidak kering
g. Leher: trachea di tengah, kelenjar lymphoid tidak membesar, kelenjar
tiroid tidak membesar, tekanan vena jugularis tidak meningkat.
h. Thorax :
Jantung: Ictus cordis tidak tampak dan tidak kuat angkat, batas
jantung dalam batas normal, S1>S2, regular, tidak ada suara
tambahan.
Paru-paru: Tidak ada ketinggalan gerak, vokal fremitus kanan-kiri,
nyeri tekan tidak ada, sonor seluruh lapangan paru, suara dasar
vesikuler seluruh lapang paru, tidak ada suara tambahan.
i. Abdomen
Inspeksi: Perut datar, tidak ada benjolan.
Auskultasi: Bising usus biasanya dalam batas normal.
Perkusi: Timpani seluruh lapang abdomen.
Palpasi: ada nyeri tekan, hepar dan lien tidak teraba, tidak teraba
massa.
j. Ekstremitas
Superior: tidak ada deformitas, tidak ada oedema, tonus otot cukup.
Inferior : deformitas (-), jari tabuh (-), pucat (-), sianois (-), oedema (-
), tonus otot cukup

2. Diagnosa Keperawatan
1) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan Respon Alergi
2) Gangguan Rasa Nyaman Berhubungan dengan Gejala Penyakit
3) Intoleran Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidak
seimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
4) Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang proses penyakit

3. Intervensi Keperawatan

LUARAN INTERVENSI
NO DIAGNOSA
KEPERAWATAN KEPERAWATAN
1 Bersihan jalan Setelah dilakukan Observasi
nafas tidak efektif intervensi keperawatan 1. Monitor pola nafas
berhubungan selama 1 x 24 jam maka 2. Monitor bunyi nafas
dengan Respon bersihan jalan nafas tambahan
Alergi meningkat dengan 3. Monitor sputum
kriteria hasil: 4. Posisikan semi fowler
1. Batuk efektif : 5 5. Berikan minum hangat
2. Produksi sputum: 5 6. Lakukan fisioterapi
3. Mengi :5 dada (jika perlu)
4. Whezzing :5 7. Lakukan penghisapan
5. Dispnea :5 lendir
6. Ortopnea :5 8. Keluarkan sumbatan
7. Sulit bicara :5 benda padat
8. Sianosis :5 9. Berikan O2
9. Gelisah :5 10. Anjurka asupan cairan
10. Frekuensi nafas :5 11. Ajarkan teknik batuk
11. Pola nafas :5 efektif
12. Kolaborasi pemberian
brokodilator

2 Gangguan Rasa Setelah dilakukan 1. Identifikasi indikasi


Nyaman intervensi keperawatan dilakukan latihan
Berhubungan selama 1 x 24 jam maka pernapasan
dengan Gejala status kenyamanan 2. Monitor frekuensi
Penyakit meningkat dengan irama dan kedalaman
kriteria hasil: nafas sebelum dan
1. Kesejahteraan fisik : sesudah latihan
5 3. Sediakan tempat yang
2. Kesejahteraan tenang
psikologis : 5 4. Posisikan pasien
3. Dukungan sosial dari nyaman yang rileks
keluarga : 5 5. Tempatkan satu tangan
4. Dukungan sosial dari di dada dan satu tangan
teman : 5 di perut
5. Perawatan sesuai 6. Pastikan tangan di dada
keyakinan budaya : 5 mundur kebelakang
6. Perawatan dan telapak tangan di
sesuaikebutuhan : 5 perut maju kedepan
7. Kebebasan saat menarik nafas
melakukan ibadah 7. Ambil nafas dalam
8. Rileks: 5 secara perlahan melalui
hidung dan tahan
selama 7 hitungan
8. Jelaskan tujuan dan
prosedur latihan
pernapasan
9. Anjurkan mengulangi
latihan 4-5 kali

3 Intoleran Aktivitas Setelah dilakukan Observasi


berhubungan tindakan keperawatan 1. Identifikasi gangguan
dengan kelemahan, selama 3x24 jam, klien fungsi tubuh yang
ketidakseimbangan menunjukkan perubahan mengakibatkan
suplai dan dengan kriteria hasil : kelelahan
kebutuhan oksigen 1. Kemudahan dalam 2. Monitor kelelahan
melakukan aktivitas fisik dan emosional
sehari-hari : 5 3. Monitor pola dan jam
2. Kecepatan berjalan : tidur
5 4. Monitor lokasi dan
3. Jarak berjalan : 5 ketidaknyamanan
4. Keluhan lelah : 5 selama melakukan
5. Dyspnea saat aktivitas
aktivitas : 5 Terapeutik
6. Dyspnea setelah 1. Sediakan lingkungan
aktivitas : 5 nyaman dan rendah
7. Perasaan lemah : 5 stimulus
8. Warna kulit : 5 2. Lakukan latihan
9. EKG Iskemia : 5 rentang gerak pasif
dan aktif
3. Berikan aktivitas
distraksi yang
menenangkan
4. Fasilitas duduk disisi
tempat tidur, jika
tidak dapat berpindah
atau berjalan
Edukasi
1. Anjurkan tirah baring
2. Anjurkan melakukan
aktivitas secara
bertahap
3. Anjurkan
menghubungi perawat
jika tanda dan gejala
kelelahan tidak
berkurang
4. Ajarkan strategi
koping untuk
mengurangi kelelahan
Kolaborasi
1. Kolaborasi dengan
ahli gizi tentang cara
meningkatkan asupan
makanan
4 Defisit Setelah dilakukan Observasi
pengetahuan tindakan keperawatan 1. Identifikasi kesiapan
berhubungan selama 3x24 jam, klien dan kemampuan
dengan kurangnya menunjukkan perubahan menerima informasi
informasi tentang dengan kriteria hasil : 2. Identifikasi faktor-
proses penyakit 1. Perilaku sesuia faktor yang dapat
anjuran : 5 meningkatkan dan
2. Kemampuan menurunkan motivasi
menggambarkan perilaku hidup bersih
pengalaman dan sehat
sebelumnya yang Terapeutik
sesuai dengan topik : 1. Sediakan materi dan
5 media pendidikan
3. Pertanyaan tentang kesehatan
masalah yang 2. Jadwalkan pendidikan
dihadapi : 5 kesehatan sesuai
4. Persepsi yang keliru kesepakatan
terhadap masalah : 5 3. Berikan kesempatan
5. Menjalani untuk bertanya
pemeriksaan yang Edukasi
tidak tepat : 5 1. Jelaskan faktor risiko
6. Perilaku : 5 yang dapat
mempengaruhi
kesehatan
2. Ajarkan perilaku
hidup bersih dan
sehat
3. Ajarkan strategi yang
dapat digunakan
untuk meningkatkan
perilaku hidup sehat
dan bersih
DAFTAR PUSTAKA

Almazini, P. 2012. Bronchial Thermoplasty Pilihan Terapi Baru untuk Asma


Berat.Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Carpenito, L.J. 2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktik Klinis, edisi
6.Jakarta: EGC

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC

GINA (Global Initiative for Asthma) 2006.;Pocket Guide for Asthma


Management and Prevension In Children. www. Dimuat
dalam www.Ginaasthma.org (diakses tanggal 29 April 2019 pukul 01.00
WITA )

Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second


Edition.New Jersey: Upper Saddle River.

Linda Jual Carpenito, 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 . Jakarta:
EGC

Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius

Purnomo.2008. Faktor Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian


Asma Bronkial Pada Anak. Semarang: Universitas Diponegoro

Saheb, A. 2011.Penyakit Asma. Bandung: CV medika


Pathway

Faktor pencetus

Alergi Idiopatik

Edema dinding Spasme otot polos Seksresi mukus kental


Bronkiolus bronkiolus di dalam lumen bronkiolus

Ekspirasi Menekan sisi luar diameter bronkiolus mengecil


Bronkiolus

Gangguan Istirahat Dispnea Bersihan Jalan Napas


Dan Tidur Tidak Efektif

Kurang pengetahuantentang penyakit Cemas