Anda di halaman 1dari 6

Mengembangkan Perangkat Pembelajaran Fisika Berbasis Elaboration Learning (EL) untuk

Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Sikap Ilmiah

Pendahuluan

Kurikulum KTSP dan K13 membutuhkan pendekatan yang berpusat pada siswa, bukan pendekatan yang
berpusat pada guru. Dalam kurikulum ini siswa diusulkan untuk aktif sehingga kompetensi dan tujuan
pembelajaran mereka dapat tercapai. Pembelajaran yang menyenangkan harus diciptakan dalam proses
belajar mengajar. Suasana pembelajaran seperti itu dapat diwujudkan dengan memilih model, strategi,
dan metode yang tepat.

Faktanya, tidak semua sekolah menerapkan kurikulum tersebut. Siswa masih memiliki masalah untuk
memahami konsep pemahaman fisika [1]. Di banyak sekolah proses belajar mengajar sebagian besar
mata pelajaran, termasuk fisika, masih berorientasi pada guru. Metode ceramah masih mendominasi
dalam proses belajar mengajar. Dalam metode ini sulit untuk mengembangkan sikap ilmiah siswa. Oleh
karena itu, diperlukan untuk menyelesaikan kondisi ini sehingga mandat KTSP dan K13 dapat terwujud.

Elaboration Learning (EL) adalah model dalam proses belajar mengajar. Ini dapat menjelaskan sub
proses konstruksi dalam pembelajaran [2]. Oleh karena itu, dapat diterapkan untuk menjawab
tantangan KTSP dan K13. Itu dapat membuat siswa menjadi aktif dan gembira. Siswa dapat diharapkan
untuk mencapai kompetensi mereka sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga
mereka mampu bersaing di masa depan. Mereka tidak hanya dilatih untuk berevolusi sendiri secara
mandiri, tetapi juga dapat berkolaborasi dengan kolega. Mereka perlu mengatur dan mengelola
informasi baru agar dapat mengingatnya dengan mudah dan menggunakannya secara efektif.

EL dapat secara signifikan meningkatkan prestasi siswa [3]. Kemampuan yang akan dikembangkan dalam
penelitian ini adalah pemahaman konsep dan sikap ilmiah. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah,
juga merupakan cara yang efektif untuk mengajarkan konsep yang sering dijumpai dalam masalah
sehari-hari [4]. Kemampuan tersebut sesuai dengan tuntutan kurikulum yang masih berlaku di
Indonesia, yang fokus pada pembelajaran yang berpusat pada siswa. Kami sering bertemu di sekolah,
siswa masih sering memiliki kesalahpahaman dalam belajar fisika. Hal ini dapat dilihat ketika siswa harus
menjawab tes tingkat pemikiran yang tinggi, yang perlu memahami dan menerapkan konsep fisika, dan
menganalisis fenomena fisika sehari-hari.

Sikap ilmiah siswa pada dasarnya mirip dengan keterampilan lain, yaitu keterampilan kognitif, sosial,
proses, dan psikomotorik [5]. Berdasarkan penelitian, ada hubungan positif dan signifikan antara sikap
ilmiah dan pengetahuan siswa [6]. Prestasi siswa secara signifikan berkorelasi dengan sikap ilmiah [7].
Sikap ilmiah siswa dapat ditumbuhkan dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan
indikator sikap ilmiah itu sendiri. EL adalah model yang dapat meningkatkan sikap ilmiah siswa. EL juga
dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa dalam fisika.

Produk, sikap dan proses adalah bagian penting dari pembelajaran fisika [8]. Elemen paling penting dari
pembelajaran adalah belajar siswa, guru, bahan ajar, dan hubungan antara guru dan siswa [9]. EL adalah
model pembelajaran yang menekankan kemandirian dan kebermaknaan siswa dalam proses
pembelajaran. Dengan demikian, penelitian ini dapat menghasilkan model EL pada pembelajaran fisika,
terutama dalam osilasi harmonik sederhana. Dalam model ini kita menciptakan fisika pembelajaran
dengan menyiapkan satu set materi pembelajaran yang terdiri dari silabus, rencana pelajaran, handout,
lembar kerja, dan tes pemahaman konsep. Diharapkan bahwa model EL dapat digunakan untuk
meningkatkan pemahaman konsep dan sikap ilmiah. Untuk merealisasikan model ini dalam kegiatan
pembelajaran perlu dikembangkan seperangkat pembelajaran fisika berbasis EL. Set ini termasuk
Rencana Pelajaran, Handout, Lembar Kerja Aktivitas Mahasiswa, Tes Pemahaman Konsep, dan Lembar
Evaluasi Sikap Ilmiah.

Set pembelajaran fisika yang digunakan dalam penelitian ini adalah rencana pelajaran, selebaran,
lembar kerja aktivitas siswa, dan tes pemahaman konsep. Perangkat Pembelajaran Fisika Berbasis EL

1. Rencana Pelajaran
Rencana Pelajaran adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan organisasi pembelajaran
untuk mencapai kompetensi dasar. Rencana pelajaran diterjemahkan dari silabus [10]. Ini
memiliki dua fungsi, yaitu fungsi perencanaan dan fungsi eksekusi. Fungsi perencanaan
bertujuan untuk mendorong guru agar siap melaksanakan kegiatan pembelajaran. Sebagai
fungsi pelaksanaan, rencana pelajaran harus sesuai dengan kebutuhan lingkungan, sekolah dan
kabupaten [11]. Ini terdiri dari identifikasi mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi
dasar, indikator pencapaian, tujuan pembelajaran, bahan ajar, alokasi waktu, metode
pengajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar [12] .
2. Selebaran
Fungsi selebaran, yaitu (1) membantu siswa melepaskan catatan mereka, dan (2) sebagai
penjelasan bersama dari guru [10]. Proses pembelajaran membutuhkan bahan ajar. Salah satu
bahan ajar yang dapat digunakan dalam pendidikan fisika adalah handout. Kata handout berasal
dari bahasa Inggris yang berarti informasi, berita atau lembar surat. Ini bersumber dari beberapa
literatur yang relevan tentang kompetensi dasar dan materi pelajaran yang diajarkan kepada
siswa. Bahan ajar diberikan kepada siswa untuk memfasilitasi mereka saat menghadiri proses
pembelajaran.
3. Lembar Kerja Aktivitas Mahasiswa
Lembar Kerja Kegiatan Mahasiswa adalah bahan ajar yang dicetak dalam bentuk lembar yang
berisi tugas yang berisi instruksi, langkah-langkah untuk menyelesaikan tugas. Ini terdiri dari
materi, ringkasan, dan tugas yang berkaitan dengan materi. Tujuan pembuatan lembar kerja
meliputi (1) membantu kegiatan belajar mengajar, (2) memberikan pengetahuan, sikap dan
keterampilan yang perlu dimiliki oleh siswa, (3) memeriksa tingkat pemahaman siswa tentang
materi yang dipelajari dan ( 4) mengembangkan dan menerapkan materi pelajaran yang
dianggap sulit untuk dipelajari oleh siswa.

4. Tes Pemahaman Konsep


Tes adalah pengukuran untuk sampel dari perilaku individu yang diambil dari proses sistematis
[13]. Berdasarkan bentuk pertanyaan, dibagi menjadi tes esai dan tes objektif. Tes esai adalah
tes dengan banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban analitis. Tes esai baik untuk
mengukur ranah pemahaman kognitif, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Tes obyektif
adalah tes yang memiliki jawaban alternatif. Ini baik untuk mengukur ranah pengetahuan
kognitif, pemahaman, aplikasi, dan analisis [14].

Dalam penelitian ini, kami menyebut tes sebagai tes pemahaman konsep. Ini digunakan untuk
mengukur pemahaman siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Itu dibangun berdasarkan
indikator pencapaian hasil tes yang merupakan penjabaran dari kompetensi standar.
A. Elaboration Learning (EL)
EL adalah model dari jenis belajar ide-ide baru berdasarkan apa yang siswa ketahui sebelumnya [15].
Ini adalah proses penyortiran ide-ide informasi baru, sehingga pembelajaran akan menjadi lebih
bermakna [16]. Ini sangat membantu bagi siswa yang tidak memiliki pengetahuan sebelumnya lebih
banyak, tetapi bagi siswa yang memiliki pengetahuan sebelumnya di bawah rata-rata kelas
membutuhkan bantuan lebih dari seorang guru [17]. Teori belajar EL menggunakan tujuh komponen
strategi: (1) urutan elaboratif untuk struktur utama pengajaran, (2) urutan prasyarat pembelajaran,
(3) ringkasan, (4) ringkasan, (4) sintesis, (5) analogi , (6) penggerak strategi kognitif, (7) kontrol
pembelajaran [18]. Berdasarkan Merrill dan Twitchell (1994: 80) Strategi pembelajaran EL memiliki
beberapa keunggulan karena (1) ada urutan yang mencakup keseluruhan sehingga memungkinkan
untuk meningkatkan motivasi dan kebermaknaan, (2) memberikan kemungkinan kepada siswa
untuk mengalami hal-hal yang berbeda. dan memutuskan urutan proses pembelajaran sesuai
dengan keinginannya, (3) untuk memfasilitasi siswa dalam mengembangkan proses belajar dengan
cepat, (4) mengintegrasikan berbagai pendekatan sesuai dengan teori variabel desain [19].

B. Pemahaman Konsep
Pemahaman konsep adalah kemampuan untuk menangkap dan mengendalikan lebih dari sejumlah
fakta yang memiliki hubungan dengan makna tertentu. Pemahaman dalam belajar fisika jauh lebih
dominan daripada elemen hafalan [20]. Pemahaman konsep itu sendiri adalah salah satu ranah
kognitif. Mereka dikelompokkan menjadi tujuh kategori dan proses kognitif: (1) menafsirkan, (2)
menunjukkan, (3) mengklasifikasikan, (4) merangkum, (5) menyimpulkan, (6) membandingkan dan
(7) menjelaskan. Berdasarkan tujuh kategori yang ada dalam penelitian ini akan dibatasi hanya enam
kategori, mereka menunjukkan, mengklasifikasikan, meringkas, menyimpulkan, membandingkan,
dan menjelaskan [21].

C. Sikap ilmiah
Sikap ilmiah adalah salah satu bagian dari sifat fisika pembelajaran yang meliputi proses, produk,
dan sikap. Sikap ilmiah siswa sangat berpengaruh dalam hasil belajar siswa. Ini adalah salah satu
bentuk kecerdasan yang dimiliki oleh setiap individu. Dalam penelitian ini, kami membatasi empat
dimensi sikap ilmiah yaitu rasa ingin tahu, sikap menghargai fakta, sikap berpikir kritis dan sikap
berpikir terbuka.
Metode

A. Jenis-jenis penelitian
Penelitian ini termasuk dalam ranah penelitian dan pengembangan (R&D). Tujuan utama dari
penelitian ini adalah untuk mengembangkan seperangkat pembelajaran fisika berbasis EL untuk
meningkatkan pemahaman konsep dan sikap ilmiah.
B. Waktu dan Tempat
Penelitian Penelitian dilakukan di Stella Duce 1 Yogyakarta dari SMA pada semester pertama
tahun akademik 2015/2016 dengan subjek Osilasi Harmonik Sederhana.
C. Subjek penelitian
Subjek penelitian dalam fase tes terbatas terdiri dari 34 siswa kelas XI Stella Duce 1 Yogyakarta
MIPA 3 SMA. Sampel dari penelitian ini mengambil dua kelas melalui teknik cluster random
sampling. Sampel penelitian subjek terdiri dari 35 siswa kelas XI MIPA 2 sebagai kelas
eksperimen dan 35 siswa kelas XI MIPA 1 sebagai kelas kontrol.
D. Prosedur
Prosedur penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah delapan dari sepuluh langkah
dalam penelitian dan pengembangan [22]. Langkah-langkah penelitian meliputi ;
(1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan bentuk awal produk, (4) pengujian
terbatas, (5) revisi hasil pengujian terbatas, (6) uji coba penelitian , (7) uji coba hasil penelitian
yang direvisi dan (8) diseminasi.
E. Data, Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi (1) kelayakan data produk oleh dua ahli
(dosen) dan 2 praktisi (guru), (2) pemahaman konsep data yang diukur menggunakan formulir
tes tentang pilihan ganda dan (3) data sikap ilmiah diukur menggunakan kuesioner dan
observasi.
F. Teknik Analisis Data
1. Data Kelayakan Produk Menilai kelayakan produk dihitung menggunakan Content Validity
Ratio (CVR). CVR digunakan untuk menilai apakah perangkat yang disetel dinilai valid atau
tidak valid untuk penelitian. CVR harus dihitung dengan menggunakan rumus 1 berikut.

dengan Ne adalah jumlah validator yang telah menyetujui (untuk memberikan skor yang
sama) dan N adalah jumlah validator. Berdasarkan Tabel 1, item yang memiliki nilai CVR 0
digunakan.
2. Implementasi Rencana Pelajaran Analisis implementasi Rencana Pelajaran dengan
menghitung rata-rata skor yang diberikan oleh pengamat dan mentransformasikannya
menjadi kriteria berdasarkan konversi skor aktual. Persentase implementasi Rencana
Pelajaran ditentukan dengan menggunakan rumus 2 berikut.
3. Kuesioner Respon Siswa. Respon kuesioner siswa diberikan dalam kelas eksperimen. Tujuan
dari kuesioner ini untuk menilai respon siswa terhadap perangkat dan implementasi fisika
berdasarkan materi EL Osilasi Harmonik Sederhana. Analisis data kuesioner menggunakan
rumus berikut 3.
4. Konsep Data Pemahaman dan Sikap Ilmiah Untuk menentukan pengaruh penggunaan model
pembelajaran berbasis fisika EL terhadap peningkatan pemahaman konsep dan sikap ilmiah
siswa menggunakan tes statistik bahwa data multivariat MANOVA termasuk dalam uji
statistik parametrik. Data yang diuji adalah Gain pemahaman konsep dan sikap ilmiah siswa.
Perhitungan Keuntungan dilakukan menggunakan rumus 4 Keuntungan dinormalisasi.
Tes Manova bertujuan untuk menguji hubungan antara pembelajaran berbasis EL dengan
pemahaman konsep dan sikap ilmiah. Ada empat jenis tes statistik Trace Pillai multivariat
pertama, Wilks'Lambda kedua, Trace Hotelling ketiga dan keempat adalah Roy's Root
Terbesar. Dalam penelitian ini uji Manova dilakukan dengan bantuan SPSS for windows versi
21, dengan tingkat signifikansi ( ) adalah 0,05. Hipotesis dapat dinyatakan sebagai berikut.
𝐻0: Tidak ada pengaruh penggunaan pembelajaran berdasarkan EL dengan pemahaman
konsep dan sikap ilmiah siswa. 𝐻𝑎: Ada pengaruh penggunaan pembelajaran berdasarkan EL
dengan pemahaman konsep dan sikap ilmiah siswa. Kriteria pengambilan keputusan adalah:
Jika nilai signifikansi maka 𝐻0 ditolak dan jika nilai signifikansi maka 𝐻0 diterima.

Penelitian ini dilakukan di Bukit Menoreh yang secara administratif termasuk dalam Distrik
Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Yogyakarta, Indonesia. Pemilihan lokasi penelitian
di Perbukitan Menoreh Kecamatan Kokap karena daerah penelitian termasuk daerah yang
mengalami masalah lingkungan sangat tinggi yaitu degradasi lahan akibat erosi dan tanah
longsor. Melalui penelitian ini diharapkan arahan penggunaan lahan dilakukan sesuai
dengan kemampuan suatu lahan, sehingga degradasi lahan yang telah terjadi dapat
dikurangi. Lokasi penelitian disajikan pada Gambar 1

HASIL DAN DISKUSI

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk-produk seperti pembelajaran fisika berbasis EL.
Model pembelajaran yang dikembangkan bertujuan menghasilkan seperangkat pembelajaran fisika
berbasis EL yang layak digunakan dalam pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman konsep dan
sikap ilmiah. Model pembelajaran yang dikembangkan dituangkan dalam bentuk set seperti RPP,
handout, lembar kerja siswa dan tes pemahaman konsep, RPP observasi, lembar observasi sikap ilmiah,
lembar angket sikap ilmiah dan lembar tanggapan angket siswa. Ada empat validator dalam penelitian
ini, dua ahli dan dua praktisi. Hasil penilaian produk yang ditetapkan berdasarkan CVR adalah sebagai
berikut.

Berdasarkan Tabel 3 set memiliki nilai rata-rata CVR 0,8-1. Dari skor yang diperoleh, set yang telah dinilai
memenuhi syarat digunakan untuk pengujian terbatas dengan kategori sangat baik. Implementasi
Rencana Pelajaran dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan skor rata-rata. Implementasi data
hasil rencana pembelajaran ditunjukkan pada Tabel 4.

Deskripsi O1 adalah pengamat pertama, pengamat O2 adalah 2 dan R adalah persentase implementasi
rencana pelajaran. Hasil dari pertemuan pertama, pertemuan kedua dan pertemuan ketiga
implementasi rencana pelajaran memiliki nilai R 75%. Kita dapat menyimpulkan bahwa implementasi
rencana pelajaran yang baik.
Kuisioner Respon Data hasil siswa ditunjukkan pada tabel 5.

Berdasarkan Tabel 5 dari empat tanggapan yang memiliki persentase tertinggi dari tanggapan relevansi
89,09% dan persentase tanggapan terendah percaya diri sebesar 77,62%. Berdasarkan hasil disajikan
skor pretest dan posttest dari pemahaman konsep N-gain dan sikap ilmiah untuk kelas kontrol dan kelas
eksperimen.

Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa pada kelas eksperimen jumlah siswa yang masuk dalam
kategori sedang dan tinggi dengan jumlah 35 siswa lebih banyak dibandingkan pada kelas kontrol
dengan jumlah 24 siswa.

Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat bahwa pada kelas eksperimen jumlah siswa yang masuk dalam
kategori sedang dan tinggi dengan 28 siswa lebih banyak daripada di kelas kontrol dengan jumlah 21
siswa. Uji Manova digunakan untuk menentukan perbedaan peningkatan pemahaman konsep dan sikap
antara kelas eksperimen dan kelas kontrol termasuk dalam kategori signifikan. Hasil tes pada tingkat
signifikansi ( ) 0,05 disajikan pada Tabel 8.

Tabel 6 menunjukkan bahwa nilai F to Pillai's Trace, Wilks'Lambda, Hotelling's Trace dan Roy's Largest
Root signifikansi 0,05. Berdasarkan hipotesis, jika rejected0 ditolak maka 𝐻𝑎 diterima. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan pembelajaran berbasis EL dengan
pemahaman konsep dan sikap ilmiah siswa.

KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian dan pengembangan ini adalah (1) Mengembangkan set pembelajaran fisika
berdasarkan EL dalam penelitian ini cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan kategori sangat
baik, berdasarkan penilaian CVR para ahli dan praktisi dengan nilai rata-rata 0,8 hingga 1 ( 2)
Mengembangkan set pembelajaran fisika berdasarkan EL dalam penelitian ini untuk meningkatkan
pemahaman konsep dan sikap ilmiah siswa SMA berdasarkan skor rata-rata pada tes N-gain pemahaman
konsep untuk kelas kontrol 0,40, dan kelas eksperimen 0,56. Rata-rata skor sikap ilmiah N-gain untuk
kelas kontrol 0,33 dan kelas eksperimen 0,44. (3) Hasil uji Manova menunjukkan bahwa nilai F
signifikansi 0,05. Berdasarkan hipotesis, jika ditolak maka ada pengaruh penggunaan pembelajaran
berbasis EL dengan pemahaman konsep dan sikap ilmiah siswa. Saran yang dapat diberikan untuk
pengembangan produk selanjutnya adalah produk diuji pada lebih banyak bahan sehingga dapat
mencerminkan bahwa model pembelajaran berbasis EL dapat meningkatkan pemahaman konsep dan
sikap ilmiah siswa secara umum.