Anda di halaman 1dari 20

FIS/3.10/4.

10/2/10-17
FISIKA MOMENTUM DAN IMPULS
1. IDENTITAS UKBM-17
Mata Pelajaran : Fisika
Semester :2

Materi Indikator Pencapaian Kompetensi


Kompetensi Dasar (KD)
Pokok (IPK)
Momentum 3.10 Menerapkan konsep momentum 3.10.1 Mengaplikasikan hubungan
dan Impuls dan impuls, serta hukum implus dan momentus
kekekalan momentum dalam 3.10.2 Mengaplikasikan definisi
kehidupan sehari-hari momentum dalam penyelesaian
tumbukan,
3.10.3 Menentukan jenis-jenis
tumbukan
3.10.4 Mengaplikasikan konsep
momentum dan impuls, serta
hukum kekekalan momentum
dalam kehidupan sehari-hari
4.10 Menyajikan hasil pengujian 4.10.1 Merancang dan membuat roket
penerapan hukum kekekalan sederhana dengan menerapkan
momentum, misalnya bola jatuh hukum kekekalan momentum
bebas ke lantai dan roket secara berkelompok
sederhana 4.10.2 Mempresentasikan peristiwa bola
jatuh ke lantai dan pembuatan
roket sederhana

Materi Pokok : Momentum dan Impuls


Alokasi Waktu : 3JP × 3

Tujuan Pembelajaran
Pertemuan Pertama
Menjelaskan hubungan implus dan momentum
Menjelaskan definisi momentum dalam penyelesaian tumbukan
Menentukan jenis-jenis tumbukan
Pertemuan kedua
Menerapkan konsep momentum dan impuls, serta hukum kekekalan momentum dalam kehidupan
sehari-hari
Pertemuan ketiga
Menyajikan hasil pengujian penerapan hukum kekekalan momentum, misalnya bola jatuh bebas ke
lantai dan roket sederhana

Materi Pembelajaran
(a). Faktual :
Mobil
(b). Konseptual :
Tumbukan elastis sempurna atau lenting sempurna adalah tumbukan dua benda atau lebih yang
memenuhi hukum kekekalan momentum dan hukum kekekalan energi kinetik. Pada tumbukan ini
memiliki koefisien restitusi satu, e = 1.
Momentum sering disebut sebagai jumlah gerak. Momentum suatu benda yang bergerak didefinisikan
sebagai hasil perkalian antara massa dengan kecepatan benda
Impuls didefinisikan sebagai hasil kali gaya dengan waktu yang dibutuhkan gaya tersebut bergerak

Syams Ardhi .....1


(c). Prosedural :
Merancang dan membuat roket sederhana dengan menerapkan hukum kekekalan momentum secara
berkelompok

2. PETA KONSEP

3. KEGIATAN PEMBELAJARAN
a. Pendahuluan
Impuls didefinisikan sebagai hasil kali gaya inpulsif rata-rata (𝐅̅) dan selang waktu singkat (∆t) selama
gaya impulsif bekerja
𝐈 = 𝐅̅ ∆𝑡 = 𝐅̅ (𝑡2 − 𝑡1 )
Impuls termasuk besaran vektor, dan satuannya dalam SI adalah N s atau kg ms-1.

Momentum adalah ukuran kesukaran untuk memberhentikan suatu benda, dan didefinisikan sebagai
hasil kali massa dengan kecepatannya 𝐏 = 𝑚𝐯
Momentum adalah besaran vektor, dan satuannya dalam SI adalah kg ms-1
Bagaimana pendapat Anda? Apakah sajian di atas dapat Anda fahami? Untuk mampu
memahami hal tersebut, mari kita lanjutkan kegiatan belajar berikut ini.
a. Kegiatan Inti
(1). Petunjuk Belajar
(a). Baca dan pahami BTP (Buku Teks Pembelajaran) Fisika untuk Siswa SMA-MA / SMK-MAK Kelas X,
Edisi Revisi 2017, Penerbit : YRAMA WIDYA 2017 atau UKBM yang ada di classroom google secara
online.
(b). Setelah memahami isi materi, berlatihlah memperluas pengalaman belajar melalui tugas-tugas atau
kegiatan-kegiatan belajar 1 dan 2 yang harus kalian kerjakan sendiri dan bersama teman sebangku atau teman
lainnya sesuai instruksi guru.
(c). Kerjakan tugas-tugas di buku kerja yang sudah kalian siapkan sebelumnya.

Syams Ardhi .....2


(d). Apabila kalian sudah paham dan mampu menyelesaikan tantangan dalam kegiatan belajar 1 dan 2, kalian
boleh sendiri atau mengajak teman lain yang sudah siap untuk mengikuti tes formatif agar kalian dapat belajar
ke UKBM berikutnya (jika belum memenuhi KKM kalian harus mempelajari ulang materi ini kemudian
minta tes lagi sampai memenuhi KKM).
(e). Jangan lupa melalui pembelajaran ini kalian dapat mengembangkan sikap jujur, peduli, dan
bertanggungjawab, serta dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi,
kreativitas.
(2). Kegiatan Belajar
Jika kalian sudah memahami apa yang harus kalian lakukan dalam pembelajaran ini, selanjutnya ikuti
kegiatan belajar berikut dengan penuh semangat dan pantang menyerah!

Kegiatan Belajar 1
RINGKASAN MATERI
Penjumlahan momentum mengikuti aturan penjumlahan vektor. Sebagai contoh untuk 𝐩 = 𝐩1 + 𝐩2 di
mana 𝐩1 dan 𝐩2 membentuk sudut 𝜃, maka besar momentum resultannya dapat dihitung dengan rumus
kosinus :
𝑝 = √𝑝12 + 𝑝22 + 2𝑝1 𝑝2 cos 𝜃
Arah resultan p terhadap salah satu vektor komponennya dapat dihitung dengan rumus sinus.

Teorema impuls-momentum menyatakan bahwa impuls yang dikerjakan pada suatu benda sama dengan
perubahan momentum yang dialami benda itu, yaitu beda antara momentum akhir dan momentum
awalnya.
𝐈 = ∆𝐩 = 𝐩akhir − 𝐩awal = 𝑚(𝐯akhir − 𝐯awal )
Untuk grafik gaya impulsif terhadap waktu (grafik F-t) diketahui, maka Impuls = luas daerah di bawah
grafik F-t

Hukum II Newton dalam bentuk asli menyatakan bahwa gaya yang dikerjakan pada suatu benda sama
dengan laju perubahan momentum benda tersebut.
∆𝐩 ∆(𝑚𝐯)
𝐅= =
∆𝑡 (∆𝑡)
∆𝐯
Untuk massa konstan, berlaku hukum II Newton 𝐅 = 𝑚 ∆𝑡 = 𝑚𝐚
Hukum II Newton bentuk momentum ini dapat menjelaskan munculnya gaya dorong pada roket dan jet
∆𝑚
( ∆𝑡 ).

Contoh :
Konsep Impuls dan momentum
1. Satuan SI untuk impuls dan momentum adalah…
A. 𝑘𝑔. 𝑚. 𝑠 −1 B. 𝑘𝑔. 𝑚2 . 𝑠 −1 C. 𝑘𝑔2 . 𝑚. 𝑠 −1 D. 𝑘𝑔. 𝑚. 𝑠 −2 E. 𝑘𝑔. 𝑚−2 . 𝑠 −1
Pembahasan :
Impuls = hasil kali vektor gaya 𝐹⃗ dengan besaran skalar selang waktu ∆𝑡
𝐼 = 𝐹 × ∆𝑡
𝐼 = 𝑁. 𝑆
Momentum merupakan hasil kali antara besaran skalar massa dengan besaran vektor kecepatan
𝑃 = 𝑚𝑉

Syams Ardhi .....3


𝑃 = 𝑘𝑔. 𝑚. 𝑠 −1

2. Dari analisis dimensi, impuls dan momentum adalah dua besaran vektor yang setara dibuktikan
dengan …
A. [P] = [F] B. [m] = [v] C. [I] = [P] D. [∆𝑡]= [F] E. [W] = [P]
Pembahasan :
[𝐼] = [𝐹][∆𝑡]
= [𝑘𝑔][𝑚][𝑠]−2 [𝑠]
= [𝑀][𝐿][𝑇]−1
maka [𝐼] = [𝑃]
[𝑃] = [𝑘𝑔][𝑚][𝑠]−1
= [𝑀][𝐿][𝑇]−1
Impuls dan momentum adalah dua besaran vektor yang sama

Pemahaman besaran momentum


3. Ditetapkan arah utara sebagai arah positif. (a) momentum mobil sedan 1000 kg yang
sedang bergerak dengan kelajuan 20 m/s ke utara dan (b) momentum tangki bensin 2 × 108
kg yang sedang bergerak dengan kelajuan 8 m/s ke selatan serta (c) momentum elektron 2 ×
10-31 kg yang sedang bergerak dengan kelajuan 2 × 107 m/s ke utara adalah …
A. 20000 kg.ms-1, – 6 m.s-1, dan 2,8×10-23 kg.m.s-1
B. 10000 kg.ms-1, – 5 m.s-1, dan 1,8×10-22 kg.m.s-1
C. 20000 kg.ms-1, – 8 m.s-1, dan 1,8×10-23 kg.m.s-1
D. 23000 kg.ms-1, – 2 m.s-1, dan 1,8×10-20 kg.m.s-1
E. 27000 kg.ms-1, – 8 m.s-1, dan 1,8×10-13 kg.m.s-1
Pembahasan :
(a) 𝑚 = 1000 𝑘𝑔; 𝑣 = 20 𝑚⁄𝑠 (𝑎𝑟𝑎ℎ 𝑢𝑡𝑎𝑟𝑎)
𝑃 = 𝑚. 𝑣 = (1000)(20) = 20000 𝑘𝑔 𝑚 𝑠 −1
(b) 𝑚 = 2 × 108 𝑘𝑔; 𝑣 = −8 𝑚 𝑠 −1 (𝑎𝑟𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑡𝑎𝑛)
𝑃 = 𝑚. 𝑣 = (2 × 108 )(−8) = −16 × 108 𝑘𝑔 𝑚 𝑠 −1
(c) 𝑚𝑒 = 9 × 10−31 𝑘𝑔
𝑣 = 2 × 107 𝑚 𝑠 −1 (𝑘𝑒 𝑢𝑡𝑎𝑟𝑎)
𝑃 = 𝑚. 𝑣 = (9 × 10−31 )(2 × 107 ) = 1,8 × 10−23 𝑘𝑔 𝑚 𝑠 −1

Resultan dua vektor momentum


4. Dua mobil A dan mobil B bermassa 800 kg dan 400 kg. Momentum resultan A dan B (besar
dan arahnya) jika mobil A bergerak ke timur dengan kelajuan 10 m/s dan mobil B bergerak
dengan kelajuan 15 m/s : (a) ke barat, dan (b) ke selatan serta (c) ke arah θ dari timur jika cos
θ = ¼ adalah …
A. 10000 kg.ms-1, 20000 kg.m.s-1, dan 33,45o
B. 22000 kg.ms-1, 11000 kg.m.s-1, dan 39,45o
C. 20000 kg.ms-1, 10000 kg.m.s-1, dan 31,45o
D. 23000 kg.ms-1, 12000 kg.m.s-1, dan 30,45o
E. 21000 kg.ms-1, 11000 kg.m.s-1, dan 32,45o
Pembahasan :
𝑚𝑎 = 800 𝑘𝑔 𝑃𝑎 = 𝑚𝑎 𝑣𝑎 = 800 × 10
𝑚𝑏 = 400 𝑘𝑔 = 800 𝑘𝑔 𝑚 𝑠 −1
−1
𝑣𝑎 = 10 𝑚 𝑠 𝑃𝑏 = 𝑚𝑏 𝑣𝑏 = 400 × 15
−1
𝑣𝑏 = 15 𝑚 𝑠 = 600 𝑘𝑔 𝑚 𝑠 −1
Arah positif adalah arah timur
(a). Mobil A ke timur, mobil B ke barat → gerak dalam satu dimensi

Syams Ardhi .....4


PA = +8000 kg m s-1
PB = -6000 kg m s-1
𝑃 = 𝑃𝐴 + 𝑃𝐵 = (+8000) + (−6000) = +2000 𝑘𝑔 𝑚 𝑠 −1

(b) mobil A ke timur, mobil B ke selatan → gerak dua dimensi ⃗⃗⃗⃗⃗


𝑃𝐴 dan ⃗⃗⃗⃗⃗
𝑃𝐵 membentuk sudut 90o, maka
besar 𝑃⃗⃗ = ⃗⃗⃗⃗⃗
𝑃𝐴 + ⃗⃗⃗⃗⃗
𝑃𝐵 dihitung dengan dalil phytagoras
𝑃 = √𝑃𝐴2 + 𝑃𝐵2 → 𝑃 = √(8000)2 + (−6000)2 = 10.000 𝑘𝑔 𝑚 𝑠 −1

Arah resultan momentum


𝑃𝐵 −6000 3
tan 𝛼 = = =−
𝑃𝐴 8000 4
𝛼 = −37° 𝑎𝑡𝑎𝑢 37° 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑘𝑢𝑎𝑑𝑟𝑎𝑛 𝐼𝑉

(c) Mobil A ke timur, mobil B ke arah 𝜃 dari timur → gerak dalam dua dimensi momentum kedua
mobil membentuk sudut 𝜃 maka besar momentum resultan P

𝑃 = √(8000)2 + (−6000)2 + 2(8000)(6000)(0,25) = √108 + 24 × 106 = 2000√31 𝑘𝑔 𝑚 𝑠 −1


Arah vektor 𝑃⃗⃗ terhadap arah timur (∝) dihitung dengan persamaan sinus
𝑐𝑜𝑠𝜃 = 0,25 ↔ 𝜃 = 75,5°
𝑠𝑖𝑛 𝜃 = 31,45°
𝑃𝐵 𝑃
=
𝑠𝑖𝑛𝛼 𝑠𝑖𝑛𝜃
𝑃𝐵 𝑠𝑖𝑛𝜃
𝑠𝑖𝑛 𝛼 =
𝑃
6000(0,968)
sin 𝛼 = = 0,522
2000 √31
𝛼 = 31,45°

Syams Ardhi .....5


Aplikasi teorema impuls – momentum
5. Bola 0,25 kg yang melayang ke kanan dengan kelajuan 16 m/s dipukul oleh pemukul hingga
berbalik ke kiri dengan kelajuan 20 m/s. Pemukul bersentuhan dengan bola hanya selama 0,01
sekon. (a) Gaya rata-rata kayu pemukul pada bola dan (b) percepatan rata-rata bola selama
bersentuhan dengan kayu pemukul adalah …
A. – 800 N dan – 3000 m.s-2
B. – 920 N dan – 3400 m.s-2
C. – 800 N dan – 3300 m.s-2
D. – 910 N dan – 3500 m.s-2
E. – 900 N dan – 3600 m.s-2
Pembahasan :
Massa bola 𝑚 = 0,25 𝑘𝑔
Kecepatan awal 𝑣1 = 16 𝑚⁄𝑠 (𝑘𝑒 𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛)
Kecepatan akhir 𝑣2 = −20 𝑚⁄𝑠 (𝑘𝑒 𝑘𝑖𝑟𝑖)
Impuls yang diberikan kayu pemukul pada bola sama dengan perubahan momentum bola
𝐼 = ∆𝑃 = 𝑃2 − 𝑃1 = 𝑚 𝑣2 − 𝑚 𝑣1
𝐼 = 𝑚(𝑣2 − 𝑣1 ) 𝑚𝑠 −1 = 0,25 𝑘𝑔 [−20 𝑚𝑠 −1 − (16 𝑚𝑠 −1 )] = −9 𝑁𝑠
Tanda negatif menanyatakan bahwa impuls berarah mendatar ke kiri
(a). Gaya rata-rata kayu pemukul pada bola selama selang waktu ∆𝑡 = 0,01 𝑠
𝐼 = 𝐹⃗ ∆𝑡
𝐼 −9 𝑁𝑠
𝐹⃗ = = = −900 𝑁
∆𝑡 0,01 𝑠
(b). Percepatan rata-rata 𝑎⃗ dapat dihitung dengan persamaan
𝐹⃗ = 𝑚𝑎⃗
𝐹⃗ −900 𝑁
𝑎⃗ = = = −3600 𝑚𝑠 −2
𝑚 0,25 𝑘𝑔
Tanda negatif menyatakan bahwa arah percepatan adalah mendatar ke kiri

Ayoo kita berlatih ... Semangaat mengerjakan !!


EVALUASI
1. Dua bola bermassa masing-masing 2 kg dan 4 kg bergerak saling mendekat dengan
kecepatan masing-masing 4 m/s dan 2 m/s. Keduanya bertabrakan dan melekat satu sama lain.

Hitunglah :
(a). Momentum setiap bola sebelum tumbukan (tabrakan)
(b). Momentum total sebelum tumbukan
(c). Momentum total sesudah tumbukan
(d). Kecepatan setiap bola sesudah tumbukan
(e). Energi kinetik setiap bola sebelum tumbukan
(f). Energi kinetik total sebelum tumbukan
(g). Energi total sesudah tumbukan
(h). Pengurangan energi kinetik selama tumbukan
Pembahasan :
𝑚1 = 2 𝑘𝑔

Syams Ardhi .....6


𝑉1 = 4 𝑚⁄𝑠 (kearah kanan)
𝑚2 = 4 𝑘𝑔
𝑉2 = −2 𝑚⁄𝑠 (kearah kiri)
𝑉2′ = 𝑉1′ = 𝑉′
a. Momentum sebelum bertumbukan
𝑃1 = 𝑚1 𝑉1 = (2)(4) = 8 𝑘𝑔 𝑚𝑠 −1
𝑃2 = 𝑚2 𝑉2 = (4)(−2) = −8 𝑘𝑔 𝑚𝑠 −1
b. 𝑃𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = 𝑃1 + 𝑃2 = 8 − 8 = 0
c. Dari hukum kekekalan momentum, maka momentum akhir sesudah tumbukan adalah
sama, yaitu 𝑃′ = 𝑃 = 0
d. 𝑃′ = 𝑃 = (𝑚1 + 𝑚2 )𝑉 ′ = 0
=0
1 2 2
f. 𝐸𝑘 = 2 (𝑚1 𝑉1 + 𝑚2 𝑉2 )
1 1
= [2(4)2 + 4(−2)2 ] = (32 + 16)
2 2
𝐸𝑘 = 24 𝐽
1 1
e. 𝐸𝑘1 = 2 𝑚1 𝑉1 2 = 2 (2)(4)2 = 16 𝐽
1 1
𝐸𝑘2 = 𝑚2 𝑉1 2 = (4)(−2)2 = 8 𝐽
2 2
g. 𝐸𝑘 ′ = 0 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑉 ′ = 0
h. Energi kinetik yang hilang sebesar 24 J

2. Balok bermassa m1 = 4 kg bergerak di atas lantai yang licin dengan kecepatan 7,5 m/s menuju
balok kedua bermassa m2 = 6 kg yang diam. Kedua balok bertumbukan dan melekat.

(a). Tentukan kecepatan kedua balok sesudah tumbukan.


(b). Jika mula-mula balok m2 bergerak ke kiri dengan kelajuan 15 m/s, tentukan kecepatan
masing-masing balok sesudah tumbukan.
(c). Hitung energi kinetik total yang hilang.
Pembahasan :
𝑚1 = 4,0 𝑘𝑔 (a) 𝑉2′ = 𝑉1′ = 𝑉′
𝑚2 = 6,0 𝑘𝑔 kekekalan momentum
𝑉1 = 7,5 𝑚⁄𝑠 𝑚1 𝑉1 + 𝑚2 𝑉2 = (𝑚1 + 𝑚2 )𝑉′
𝑉2 = 0 4(7,5) + 0 = (4 + 6)𝑉′
𝑉2′ = 𝑉1′ = 𝑉 ′ 10𝑉 ′ = 30
𝑉 ′ = 3 𝑚𝑠 −1
(b). 𝑉2 = −15 𝑚𝑠 −1
𝑚1 𝑉1 + 𝑚2 𝑉2 = (𝑚1 + 𝑚2 )𝑉 ′
4(7,5) − 6(15) = (4 + 6)𝑉 ′
30 − 90 = 10𝑉 ′
60 = 10𝑉 ′ → 𝑉 ′ = 6 𝑚𝑠 −1
(c). Pada soal (a)
1 1 1
𝐸𝑘𝑡 = 𝑚1 𝑉1 2 + 𝑚2 𝑉2 2 = (4)(7,5)2 + 0
2 2 2
𝐸𝑘𝑡 = 112,5 𝐽

Syams Ardhi .....7


1 1 1 2
𝐸𝑘𝑡′ = 𝑚1 𝑉1 ′2 + 𝑚2 𝑉2 ′2 = (𝑚1 + 𝑚2 )𝑉 ′
2 2 2
1
𝐸𝑘𝑡′ = 2 (4 + 6)32 = 45 𝐽
energi kinetik yang hilang
∆𝐸𝑘 = 112,5 − 45 = 67,5 𝐽
Pada soal (b)
1 1 1
𝐸𝑘𝑡 = [𝑚1 𝑉1 2 + 𝑚2 𝑉2 2 ] = [(4)(7,5)2 + (6)(−15)2 ] = (112,5 + 1350) = 731,25 𝐽
2 2 2
1 2 1
𝐸𝑘𝑡′ = (𝑚1 + 𝑚2 )𝑉 ′ = (6 + 4)(6)2 = 180 𝐽
2 2
Energi kinetik yang hilang adalah : ∆𝐸𝑘 = 731,25 − 180 = 551,25 𝐽

Kegiatan Belajar 2
RINGKASAN MATERI
Bunyi hukum kekekalan momentum linear: dalam suatu interaksi (antara dua benda atau
lebih), momentum total sistem sesaat sebelum dan sesudah interaksi adalah sama asalkan hanya
gaya-gaya interaksi antarbenda dalam sistem (disebut gaya dalam) yang bekerja terhadap
sistem dan tidak ada gaya dari luar sistem interaksi yang bekerja. Untuk sistem interaksi antara
A dan B berlaku:
𝑚A 𝐯A + 𝑚B 𝐯B = 𝑚A 𝐯A ′ + 𝑚B 𝐯B ′
Contoh interaksi hukum kekekalan momentum berlaku adalah peristiwa: ledakan, tumbukan,
penembakan proyektil dan peluncuran roket.

Untuk semua jenis tumbukan berlaku hukum kekekalan momentum. Tumbukan lenting
sempurna adalah tumbukan kekekalan energi kinetik berlaku. Soal-soal tumbukan lenting
sempurna diselesaikan dengan menggunakan dua persamaan berikut:
𝑚1 𝑣1 + 𝑚2 𝑣2 = 𝑚1 𝑣1 ′ + 𝑚2 𝑣2 ′
∆𝑣 ′ = −∆𝑣 atau 𝑣2 ′ − 𝑣1 ′ = −(𝑣2 − 𝑣1 ).

Pada tumbukan tidak lenting sama sekali, kedua benda yang bertumbukan akan bersatu dan
bergerak bersama sesaat sesudah tumbukan. Pada jenis tumbukan ini, kekekalan energi kinetik
tidak berlaku sebab sebagian energi diubah ke bentuk energi kalor, energi bunyi, dan kerusakan
permanen pada kedua benda. Soal-soal tumbukan tidak lenting sama sekali diselesaikan oleh
persamaan :
𝑚1 𝑣1 + 𝑚2 𝑣2 = (𝑚2 + 𝑚1 ) 𝑣′

Koefisien restitusi e adalah ukuran kelentingan (elastisitas) tumbukan, dan didefinisikan


sebagai negatif perbandingan antara kecepatan relatif sesudah tumbukan dan kecepatan relatif
sebelum tumbukan.
−∆𝑣′ −(𝑣′2 − 𝑣′1 )
𝑒= =
∆𝑣 𝑣2 − 𝑣1
Tumbukan lenting sempurna, e = 1; tumbukan tidak lenting sama sekali, e = 0; dan tumbukan
lenting sebagian, 0 < e < 1. Koefisien restitusi bola-lantai untuk bola yang dijatuhkan bebas dari
ketinggian h1 dan terpantul setinggi h2 adalah :
ℎ2
𝑒=√
ℎ1

Syams Ardhi .....8


Bola A, bola B, dan bola C adalah tiga bola sodok (biliar) yang terletak di atas permukaan licin.
Bola B dan bola C bersentuhan.

Jika bola A dipukul dengan perlahan, maka bola A akan bergerak, kemudian menumbuk bola
B sehingga saat sesudah tumbukan akan didapat bola A dan bola B berhenti, bola C terus
bergerak

Contoh :
Ledakan proyektil
1. Senapan 4 kg menembakkan peluru 0,016 kg dengan kelajuan 80 m/s ke kanan : (a) kecepatan
terpentalnya senapan seketika setelah peluru ditembakkan dan (b) Jika senapan berhasil dihentikan oleh
bahu penembak setelah terpental 8 cm, gaya rata-rata yang dikerjakan senapan pada bahu penembak
adalah …
A. 0,52 m s-1 dan – 112 N
B. 0,42 m s-1 dan – 312 N
C. 0,38 m s-1 dan – 212 N
D. 0,32 m s-1 dan – 512 N
E. 0,33 m s-1 dan – 412 N
Pembahasan :
Massa senapan m1 = 4 kg
Massa peluru m2 = 0,016 kg
Kecepatan awal peluru v1 = 0 m/s
Kecepatan awal senapan v2 = 0 m/s
Kecepatan peluru sesudah tembakan v2 = 80 m/s ke arah kanan
(a) karena interaksi adalah satu dimensi. Maka notasi vektor dapat digantikan dengan notasi skalar
dengan arah dinyatakan dengan tanda positif atau negatif. Momentum sistem (senapan + peluru)
sesaat sebelum tembakan adalah, p
𝑃 = 𝑚1 𝑣1 + 𝑚2 𝑣2 = (4)(0) + (0,016)(0) = 0
Momentum sesaat sesudah tembakan F
𝑃 = 𝑚1 𝑣1 + 𝑚2 𝑣2 = (4)(0) + (0,016)(80)
Hukum kekelan momentum linier memberikan P’ = P
4𝑣1′ + (0,016 × 80) = 0
4𝑣1′ = −1,28
𝑣1′ = −0,32 𝑚⁄𝑠
Tanda negatif menyatakan bahwa senapan terpental ke kiri dengan kelajuan 0,32 m s-1

(b) kecepatan akhir senapan setelah terpental v = 0 m/s, jarak tempuh x = 8 cm = 0,08 m
maka percepatan senapan, a
𝑣 2 − 𝑣 2 0 02 (0,32)2
𝑎= = = −0,64 𝑚 𝑠 −2
2𝑥 2 × 0,08
Waktu yang ditempuh, t
𝑣 − 𝑣0 0 − (0,32)
𝑣 = 𝑣0 + 𝑎𝑡 → 𝑡 = = → 𝑡 = 0,5 𝑠
𝑎 −0,64
Tanda negatif pada percepatan, menunjukkan bahwa senapan diperlambat.
Perubahan momentum sistem, ∆𝑃
𝑃=0
𝑃′ = 4(−0,32) + (−1,28) = −1,28 − 1,28 = −2,56 𝑘𝑔 𝑚⁄𝑠
Maka ∆𝑃 = 𝑃′ − 𝑃 = −2,56 − 0 = −2,56 𝑘𝑔 𝑚⁄𝑠
Gaya rata-rata senapan pada bahu penembak
∆𝑃 −2,56
𝐹̅ = = = −5,12 𝑁
∆𝑡 0,5

Syams Ardhi .....9


2. Benda yang semula diam meledak menjadi dua bagian dengan perbandingan massa masing-masing
bagian adalah 100 : 1. Setelah kedua bagian terpisah, bagian yang massanya lebih besar terpental dengan
kecepatan 10 m/s. Maka (a) kecepatan yang bagian massanya lebih kecil dan (b) perbandingan energi
kinetik seketika sesudah kedua bagian terpisah adalah …
A. – 1000 m/s dan 1 : 4 B. – 1000 m/s dan 1 : 1 C. – 2000 m/s dan 1 : 3
D. – 1000 m/s dan 2 : 3 E. – 1000 m/s dan 2 : 5
Pembahasan :
Benda mula-mula dalam keadaan diam (v0=0) sehingga momentum awal benda, P
𝑃 = 𝑚. 𝑡 = 𝑚(0) = 0
Benda meledak menjadi dua bagian dengan perbandingan massa
𝑚1 ∶ 𝑚2 = 100 ∶ 1 → 𝑚1 = 100 𝑚2
Dimana 𝑚 = 𝑚1 + 𝑚2 = 101𝑚2
Kecepatan akhir 𝑚1 𝑣1′ = 10 𝑚⁄𝑠
(a) kecepatan akhir m2 dihitung dengan kekelan momentum
𝑃 = 𝑃′
0 = 𝑚1 𝑣1′ + 𝑚2 𝑣2 ′
0 = 100 𝑚2 (10) + 𝑚2 𝑣2 ′
0 = 𝑚2 (1000 + 𝑣2′ ) → 𝑣2′ = −1000 𝑚⁄𝑠
Tanda negatif menyatakan bahwa arah gerak m2 berlawanan arah dengan m1

(b) perbandingan energi kinetik seketika setelah kedua bagian terpisah


1
𝐸𝑘1 2 𝑚1 𝑣1 ′ 𝑚1 𝑣1 ′ 10
= = = 100 ( )=1
𝐸𝑘2 1 𝑚 𝑣 ′ 𝑚2 𝑣2 ′ 1000
2 2 2

Tumbukan lenting sempurna


3. Bola 40 gram bergerak ke kanan dengan kelajuan 30 cm/s menumbuk bola lain 80 gram
yang awalnya diam. Jika terjadi tumbukan lenting sempurna, kecepatan setiap bola setelah
tumbukan adalah …
A. – 12 cm/s B. – 10 cm/s C. – 11 cm/s D. – 13 cm/s E. – 14 cm/s
Pembahasan :
v1 = 30 cm/s
𝑣2 = 0
𝑚1 = 40 𝑔
𝑚2 = 80 𝑔

Pada tumbukan lenting sempurna berlaku :


𝑚1 𝑣1 + 𝑚2 𝑣2 = 𝑚1 𝑣1′ + 𝑚2 𝑣2 ′
40 × (30) + 𝑚2 (0) = 40 × 𝑣1′ + 80 × 𝑣2 ′
(40)(30 − 𝑣1′ ) = 80 𝑣2 ′
30 − 𝑣1′ = 2 𝑣2 ′

Syams Ardhi .....10


𝑣1′ = 30 − 2𝑣2′ 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑣1′ + 2𝑣2 ′ = 30 … (∗)
Persamaan lenting sempurna memberikan :
𝑣2′ − 𝑣1′ = −(𝑣2 − 𝑣1 ) = −(0 − 30)
𝑣2′ − 𝑣1′ = 30 𝑎𝑡𝑎𝑢 −𝑣1 + 𝑣2′ = 30 … (∗∗)
Dari persamaan (*) dan (**)
𝑣1′ + 2𝑣2 ′ = 30
−𝑣1 + 𝑣2′ = 30
+
3𝑣2′ = 60
60
𝑣2′ = 3 = 20 𝑐𝑚 𝑠 −1 (ke kanan)
𝑣2′ − 𝑣1′ = 30 → 𝑣1′ = 𝑣2′ − 30 → 𝑣1′ = 20 − 30 = −10 𝑐𝑚 𝑠 −1 (ke kiri)

4. Bola 6 kg bergerak dengan kecepatan 7,5 m/s ke kanan menumbuk lenting sempurna bola lain 15
kg yang sedang bergerak dengan kelajuan 3 m/s. Kelajuan bola setelah tumbukan jika : (a) kedua bola
bergerak searah dan (b) kedua bola bergerak berlawanan arah adalah …
3,5
A. 7 𝑚 𝑠 −1dan – 6,5 m.s-1
4,5
B. 𝑚 𝑠 −1dan – 3,5 m.s-1
7
7,5
C. 7 𝑚 𝑠 −1dan – 7,5 m.s-1
7,5
D. 4 𝑚 𝑠 −1dan – 4,5 m.s-1
7,5
E. 𝑚 𝑠 −1dan – 5,5 m.s-1
3
Pembahasan :
(a) kedua bola searah

𝑚1 = 6 𝑘𝑔 𝑚2 = 15 𝑘𝑔
−1
𝑣1 = 7,5 𝑚 𝑠 𝑣2 = 3 𝑚 𝑠 −1
Dari persamaan berikut :
𝑚1 𝑣1 + 𝑚2 𝑣2 = 𝑚1 𝑣1′ + 𝑚2 𝑣2 ′
6(7,5) + 15(3) = 6 𝑣1′ + 15 𝑣2 ′
45 + 45 = 6 𝑣1′ + 15 𝑣2 ′
90 = 6 𝑣1′ + 15 𝑣2′ … (∗)
Persamaan lenting sempurna memberikan :
𝑣2′ − 𝑣1′ = −(𝑣2 − 𝑣1 ) = −(3 − 7,5)
−𝑣1′ + 𝑣2′ = 4,5 … (∗∗)
Dari persamaan (*) dan (**)
6 𝑣1′ + 15 𝑣2′ = 90 |× 1|
−𝑣1′ + 𝑣2′ = 4,5|× 6|

6𝑣1′ + 15𝑣2 ′ = 90
−6𝑣1 + 6𝑣2′ = 27
+
21𝑣2′ = 117
39
𝑣2 = 7 m/s
39
−𝑣1′ + 𝑣2′ = 4,5 → 𝑣1′ = − 4,5
7
Syams Ardhi .....11
39 31,5 7,5
𝑣1′ = − = 𝑚 𝑠 −1
7 7 7
Setelah tumbukan kedua bola bergerak searah

(b) kedua bola berlawanan arah

𝑚1 = 6 𝑘𝑔 𝑚2 = 15 𝑘𝑔
𝑣1 = +7,5 𝑚 𝑠 −1 𝑣2 = −3 𝑚 𝑠 −1 (𝑘𝑒 𝑘𝑖𝑟𝑖)
Dengan hukum kekelan momentum
𝑚1 𝑣1 + 𝑚2 𝑣2 = 𝑚1 𝑣1′ + 𝑚2 𝑣2 ′
6(7,5) + 15(−3) = 6 𝑣1′ + 15 𝑣2 ′
45 + (−45) = 6 𝑣1′ + 15 𝑣2 ′
0 = 6 𝑣1′ + 15 𝑣2′ … (∗)
Persamaan tumbukan lenting sempurna memberikan :
𝑣2′ − 𝑣1′ = −(𝑣2 − 𝑣1 ) = −(−3 − 7,5)
𝑣2′ − 𝑣1′ = 10,5 … (∗∗)
Dari persamaan (*) dan (**)
6 𝑣1′ + 15 𝑣2′ = 0 |× 1|
−𝑣1′ + 𝑣2′ = 10,5|× 6|

6𝑣1′ + 15𝑣2 ′ = 0
−6𝑣1 + 6𝑣2′ = 63
+
21𝑣2′ = 63
𝑣2 = 3 m/s
𝑣2′ − 𝑣1′ = 10,5 → 𝑣1′ = 𝑣2′ − 10,5 → 𝑣1′ = 3 − 10,5 = −7,5 𝑚 𝑠 −1
Tanda ( –) menyatakan bahwa kecepatan akhir m, ke kiri (berlawanan arah dengan m2)

Ayoo kita berlatih ... Semangaat mengerjakan !!


EVALUASI
Tumbukan tak lenting sama sekali
1. Peluru 10 gram ditembakkan mendatar ke dalam balok kayu 7 kg yang berdiri pada meja
mendatar licin sempurna.

Peluru tertanam dalam balok dan balok meluncur dengan kelajuan ½ m/s sesudah tumbukan.
Maka (a). kecepatan awal peluru ketika ditembakkan dari senapan
dan (b). energi mekanik total yang hilang dalam peristiwa pada tumbukan ini adalah …
A. 350,5 m.s-1 dan 613,4 J B. 352,5 m.s-1 dan 612,4 J C. 330,5 m.s-1 dan 623,4 J
D. 320,5 m.s-1 dan 643,4 J E. 310,5 m.s-1 dan 413,4 J

Syams Ardhi .....12


2. Balok kayu 10 kg bergantung bebas dan diam pada seutas kawat vertikal. Peluru 10 gram
ditembakkan ke dalam balok dan menyebabkan balok naik vertikal setinggi h = 3,2 cm.

Tentukanlah kecepatan peluru itu ditembakkan. Sebagian besar hilangnya energi kinetik ketika
tumbukan berlangsung adalah …
A. Energi kinetik pada sistem dikonversi menjadi energi mekanik, sehingga balok dapat naik hingga
ketinggian h.
B. Energi kinetik pada sistem dikonversi menjadi impuls, sehingga balok dapat naik hingga ketinggian
h.
C. Energi kinetik pada sistem dikonversi menjadi energi potensial, sehingga balok dapat naik hingga
ketinggian h.
D. Energi kinetik pada sistem dikonversi menjadi momentum, sehingga balok dapat naik hingga
ketinggian h.
E. Energi kinetik pada sistem dikonversi menjadi energi kalor, sehingga balok dapat naik hingga
ketinggian h.

Koefisien restitusi
3. Bola tenis 100 gram dilepaskan dari ketinggian tertentu. Pada pemantulan pertama, tinggi yang
dicapai 3 meter dan pada pemantulan kedua 1,5 m. Koefisien restitusi dan tinggi bola tenis mula-mula
adalah …

A. ½ √2 dan 4 m B. ½ √2 dan 6 m C. ½ √2 dan 5 m D. ½ √2 dan 7 m E. ½ √2 dan 9 m

Kegiatan Belajar 3
RINGKASAN MATERI
Roket dan mesin jet bekerja berdasarkan hukum II Newton, hukum III Newton, hukum kekekalan
momentum. Bedanya, roket membawa pembakar oksigen dalam tangkinya, sedang mesin jet
mengambil oksigen dari udara di sekitarnya. Oleh karena itu, roket dapat bekerja di antariksa yang
hampa udara bahkan dapat bekerja lebih baik di antariksa karena roket tidak perlu mengatasi gesekan
udara. Sebaliknya, mesin jet hanya dapat bekerja di lingkungan atmosfer bumi, sementara di antariksa
belum mampu. Roket berbeda dengan kapal terbang karena roket menggunakan prinsip aksi dan
reaksi. Persamaan gerak roket ternyata sangat rumit. Persamaan yang dipelajari di SMA atau Fisika
Dasar adalah penyederhanaan (idealisasi) yang luar biasa. Bagian berikut merupakan penjelasannya.

Contoh :
Memahami gaya dorong pada roket
1. Roket pada gambar berikut menyemburkan gas buangan sehingga keluar dengan kelajuan
debit 100 kg/s.

Syams Ardhi .....13


Kecepatan semburan gas adalah 200 m/s. Gaya dorong pada roket adalah …
A. 27 kN B. 21 kN C. 23 kN D. 20 kN E. 22 kN
Pembahasan :
Kelajuan debit Q = 100 kg/s artinya massa gas buangan tiap detik (t=1 s) adalah m=100 kg
Keceptan semburan gas v = 200 m/s.
Perubahan momentum gas (∆𝑃) selama selang waktu ∆𝑡 = 1 𝑠 adalah
𝑚
∆𝑃 = 𝑃2 − 𝑃1 = 𝑚 𝑣2 − 0 = (100)(200) − 0 = 20000 𝑘𝑔 . Momentum awal gas sama dengan nol
𝑠
sebab gas mula-mula diam. Gaya dorong pada roket
∆𝑃 20000 𝑘𝑔 𝑚/𝑠
𝐹 = ∆𝑡 = 1𝑠
= 20000 𝑁

2. Roket mainan dari botol plastik, sebagiannya diisi dengan air. Ruang di atas air mengandung
udara bertekanan, seperti ditunjukkan dalam gambar.

Pada suatu saat dalam penerbangan roket, air dengan masa jenis 𝜌 dipaksa menyembur keluar
melalui mulut roket plastik (jari-jari mulut = r) pada kelajuan v relatif terhadap mulut. Tentukan
dalam 𝜌, r, dan v :
(a). Massa air yang disemburkan keluar dari mulut persatuan waktu (∆𝑚/∆𝑡);
(b). Laju perubahan momentum air (∆𝑝/∆𝑡). Kemudian tunjukkan bahwa gaya pemercepat F
yang bekerja pada roket diberikan oleh pernyataan : F = 𝜋r2𝜌v2 – mg dengan m adalah massa
roket beserta isinya saat ditinjau.
Pabrik roket mainan menyetujui agar roket sebaiknya diisi air kira-kira 550 cm3 sebelum
meluncur. Jika tekanan udara awal dalam botol adalah 1,6 × 105 Pa, maka semua air ini akan

Syams Ardhi .....14


disemburkan keluar hingga tekanan berkurang sampai tepat sama dengan tekanan atmosfer
sesaat setelah massa air terakhir disemburkan. Akan tetapi dalam suatu peluncuran, ternyata
volume air adalah 750 cm3, sedangkan tekanan udara awal dalam botol masih tetap 1,6 × 105
Pa. (soal HOTS)
Pembahasan :
∆𝑚 𝐿𝑖𝑛 ∆𝑚 𝑑𝑚
(a) = = 𝑑𝑡
∆𝑡 ∆𝑡 → 0 ∆𝑡
𝑑𝑚 𝜌𝑑𝑉 𝜌(𝜋𝑟 2 𝑑𝑥)
= =
𝑑𝑡 𝑑𝑡 𝑑𝑡
Jadi gas dianggap bola uniform ; 𝜋𝑟 2 = 𝐴
𝑑𝑚 𝑑𝑥 ∆𝑚
= 𝜌𝐴 𝑑𝑡 = 𝜌𝐴𝑉 maka : ∆𝑡 = 𝜌𝐴𝑉𝑟 = 𝜋𝑟 2 𝜌𝑉𝑟
𝑑𝑡

(b). Gaya eksternal yang bekerja pada sistem hanya gaya berat mg. Impuls gaya berat dalam
waktu dt (dengan mengambil arah ke atas sebagai positif) – mg dt

M= massa yang disemburkan per satuan waktu


M dt = massa yang dilepas
Momentum awal : mV
Momentum akhir : (m – M t)(V+dt)
Momentum bahan yang tersembur : V’ Mdt
maka: − 𝑚𝑔𝑑𝑡 = [(𝑚 − Mt)(𝑉 + 𝑑𝑉) + 𝑉 ′ Mdt] − 𝑚𝑉 dengan 𝑉 ′ = 𝑉 − 𝑉𝑟
V’ = kecepatan bahan yang dilepaskan
Vr = kecepatan roket relatif terhadap bahan yang menyembur
maka 𝑚 𝑑𝑉 = 𝑉𝑟 M dt − 𝑚𝑔 𝑑𝑡
Jadi, M dt dV diabaikan
Perubahan massa roket dm = – M dt
𝑚𝑑𝑉 = 𝑉𝑟 𝑑𝑚 − 𝑚𝑔 𝑑𝑡
Bagi kedua ruas dengat dt sehingga diperoleh
𝑑𝑉 𝑑𝑚 𝑑𝑚
𝑚 𝑑𝑡 = 𝑉𝑟 𝑑𝑡 − 𝑚𝑔 dengan 𝑑𝑡 = 𝜌𝐴𝑉𝑟 sehingga :
𝐹 = 𝑉𝑟 (𝜌𝐴𝑉𝑟 ) − 𝑚𝑔
𝐹 = 𝜌𝐴𝑉𝑟2 − 𝑚𝑔 = 𝜋𝑟 2 𝜌𝑉𝑟2 − 𝑚𝑔

3. Dari ketinggian 12 m di atas lantai, bola dijatuhkan vertikal dengan kelajuan 2√21 m/s. Setelah
terpantul, bola naik hingga ketinggian 4,06 m di atas lantai. (a). Kelajuan bola seketika sebelum dan
sudah menumbuk lantai dan (b). Koefisien restitusi antara bola dan durian adalah …
A. 𝑣1 = 2√39 𝑚 𝑠 −1 dan 𝑣1′ = +9 𝑚 𝑠 −1 ; 0,72

Syams Ardhi .....15


B. 𝑣1 = 2√39 𝑚 𝑠 −1 dan 𝑣1′ = +8 𝑚 𝑠 −1 ; 0,62
C. 𝑣1 = 2√33 𝑚 𝑠 −1 dan 𝑣1′ = +6 𝑚 𝑠 −1 ; 0,52
D. 𝑣1 = 2√29 𝑚 𝑠 −1 dan 𝑣1′ = +9 𝑚 𝑠 −1 ; 0,72
E. 𝑣1 = 2√19 𝑚 𝑠 −1 dan 𝑣1′ = +3 𝑚 𝑠 −1; 0,72
Pembahasan :
Ketinggian awal h = 12
Kelajuan awal bola vo = 2√2 m/s
Ketinggian pantulan h1 = 4,05 m
Gravitasi g = 10 ms-2
(a) dari kekelan energi mekanik, kelajuan sisa sebelum bola menyentuh lantai, v1
1
𝑚(𝑣𝑜2 + 𝑣12 ) = 𝑚 𝑔 ℎ
2
𝑣𝑜2 + 𝑣12 = 2 𝑔 ℎ
𝑣12 = 2 𝑔 ℎ − 𝑣𝑜2
2
𝑣12 = 2 (10)(12) − (2√21) = 156
𝑣1 = 2√39 𝑚 𝑠 −1
Kelajuan sesudah menyentuh lantai, v1’
1
𝑚𝑣1′ = 𝑚 𝑔 ℎ
2
𝑣1′ = √2 𝑔 ℎ = √2(10)(4,05) = √81
𝑣1′ = 9 𝑚 𝑠 −1
Perhatikan bahwa sebelum menyentuh lantai arah kecepatan adalah ke bawah, sedangkan arah
kecepatan sesudah menyentuh lantai adalah ke atas. Ambil arah ke atas sebagai arah positif, sehingga :
𝑣1 = 2√39 𝑚 𝑠 −1 dan 𝑣1′ = +9 𝑚 𝑠 −1

(b) koefisien restitusi dihitung dengan persamaan


−(𝑣2′ − 𝑣1 ′) −(0 − 9) 9
𝑒= = = = 0,72
𝑣2 − 𝑣1 0 − (−2√39) 2√39
v2 dan v2’ adalah kecepatan lantai sesudah dan sebelum tumbukan karena lantai selalu dalam keadaan
diam, maka v2 = v2’= 0

Ayoo kita berlatih ... Semangaat mengerjakan !!


EVALUASI
1. Tanpa melakukan perhitungan (tetapi dengan memberi alasan), nyatakan efek peningkatan
volume air ini terhadap :
(a). Gaya dorong awal roket;
(b). Gaya resultan pemercepat awal;
(c). Percepatan awal roket;
(d). Massa akhir roket dan isinya;
(e). Ketinggian maksimum yang dicapai roket.

2. Bola karet dijatuhkan dari ketinggian 1 meter seperti gambar berikut !

Jika bola memantul kembali ke atas dengan ketingggian 0,6 meter, tentukan tinggi pantulan
bola berikutnya!

Syams Ardhi .....16


Penutup
Bagaimana Anda sekarang?
Berikut diberikan tabel untuk mengukur diri Anda terhadap materi yang sudah dipelajari.
Jawablah sejujurnya terkait dengan penguasaan materi tersebut.
No Pernyataan Ya Tidak
1. Apakah Anda telah memahami materi Momentum dan Impuls?
2. Dapatkah Anda menjelaskan definisi Momentum dan Impuls?
3. Dapatkah Anda menjelaskan Momentum, Impuls, dan Hukum
konversi momentum
4. Dapatkah Anda membuat rumus Momentum dan Impuls serta
perluasan dari persamaaan tersebut?
5. Dapatkan Anda memecahkan masalah Fisika kontekstual dengan
Momentum dan Impuls?
Jika Anda menjawab “TIDAK” pada salah satu paparan di atas, maka pelajarilah materi
tersebut dalam Buku Teks Pelajaran, UKBM online, internet, websites yang sangat banyak itu
dengan bimbingan teman sejawat dan guru Anda. Apabila Anda menjawab “YA” pada semua
pertanyaan, maka lanjutkanlah dengan meminta penilaian harian kepada guru Anda.

Refleksi diri Anda


Dimana Posisimu ?
Ukurlah diri Anda dalam penguasan materi Momentum dan Impuls dalam rentang 0 – 100,
tuliskan dalam kotak yang tersedia !

Penghargaan
Anda berhak mendapatkan penghargaan dari guru atau sekolah Anda jika Anda memiliki
kemampuan yang sangat diharapkan. Setelah Anda menuliskan penguasaan terhadap
Momentum dan Impuls, kerjakan evaluasi berikut !

EVALUASI
Konsep Impuls dan Momentum
1. Mobil A bermassa 1.500 kg bergerak ke timur dengan kelajuan 25 m/s dan mobil B bermassa
2.500 kg bergerak ke utara dengan kelajuan 20 m/s (lihat gambar).

Momentum mobil A dan B dan Resultan momentum A dan B (besar dan arah) adalah …

Syams Ardhi .....17


A. 37300 kg.m.s-1; 52000 kg.m.s-1 dan 61500 kg.m.s-1; 53,13o
B. 37520 kg.m.s-1; 50030 kg.m.s-1 dan 62300 kg.m.s-1; 52,13o
C. 37500 kg.m.s-1; 50000 kg.m.s-1 dan 62500 kg.m.s-1; 53,13o
D. 37530 kg.m.s-1; 50400 kg.m.s-1 dan 62540 kg.m.s-1; 53,13o
E. 37530 kg.m.s-1; 50020 kg.m.s-1 dan 62550 kg.m.s-1; 53,13o

Hubungan Impuls dan Momentum


2. Bola tenis dengan massa m dan kelajuan v menumbuk dinding pada sudut 45o dan terpantul
dengan kelajuan yang sama pada sudut 45o (lihat gambar). Berapa impuls yang dikerjakan
dinding pada bola?

3. Benda bermassa 2 kg bergerak mendatar (sumbu-x) dengan kecepatan awal 3,5 m/s. Benda
diberi gaya mendatar Fx seperti pada grafik.

Impuls gaya yang dialami benda dari t = 0 s sampai t = 4 s dan kecepatan benda pada saat t =
4 s adalah …
A. 5 N.s dan 6 m/s B. 2,5 N.s dan 6,2 m/s C. 4 N.s dan 5 m/s D. 15 N.s dan 16 m/s
E. 25 N.s dan 26 m/s

4. Kapal motor menyedot air laut melalui selang, lalu menyemprotkannya secara mendatar
dengan kecepatan 5 m/s. Diameter selang 14 cm, dan anggap bahwa tidak ada air yang tercecer
dan memenuhi geladak kapal itu. Anggap massa jenis air laut 1g/cm3. Gaya mendatar yang
harus diberikan baling-baling agar kapal tetap diam! (ambil 𝜋 = 22/7) adalah …

Syams Ardhi .....18


A. 750 N B. 770 N C. 760 N D. 730 N E. 765 N

Hukum Kekekalan Momentum


5. Benda bermassa 200 kg dijatuhkan menimpa tiang pancang bermassa 50 kg (lihat gambar).

(a). Energi kinetik benda sesaat sebelum menumbuk tiang pancang, (b). Kecepatan benda dan
tiang pancang bergerak bersamaan sesudah tumbukan dan (c). Energi mekanik yang hilang
selama proses tumbukan adalah …
A. 44000 J, 17 m.s-1, 0 – 14400 J B. 41000 J, 15 m.s-1, 0 – 14400 J
C. 40000 J, 13 m.s-1, 0 – 14400 J D. 40000 J, 16 m.s-1, 0 – 14700 J
E. 40000 J, 16 m.s , 0 – 14400 J
-1

Setelah menyelesaikan evaluasi di atas, coba Anda diskusikan kembali penyelesaian di awal
UKBM ! Materi ini adalah bagian akhir dari UKBM Fis/3.10/4.10/10-17, mintalah pada guru
Anda untuk UKBM berikutnya yaitu Fis/3.11/4.11/2/11-18 dan Fis/3.11/4.11/2/11-19 tentang
Gerak Harmonik.

SELAMAT BELAJAR DAN SUKSES,


KALIAN ADALAH GENERASI CERDAS

Syams Ardhi .....19


DAFTAR PUSTAKA
1. Super Coach, Fisika Kelas X SMA, Yrama Widya Bandung 2018
2. Marthen Kanginan, Fisika Kelas X SMA, Penerbit Erlangga Jakarta 2015
3. David Halliday & Robert Resnick. 1985. Fisika Jilid 1 Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga.
4. Hugh D. Young & Roger A. Freedman. 2002. Fisika Universitas Edisi Kesepuluh Jilid 1.
Jakarta: Erlangga
5. Douglas C. Giancoli. 2001. FISIKA Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Syams Ardhi .....20