Anda di halaman 1dari 14

ANATOMI FISIOLOGI PEMBERIAN INJEKSI

Pemberian obat secara parenteral (harfiah berarti “di luar usus”) biasanya dipilih bila
diinginkan efek yang cepat, kuat, dan lengkap atau obat untuk obat yang merangsang atau
dirusak getah lambung (hormone), atau tidak direarbsorbsi usus (streptomisin), begitupula pada
pasien yang tidak sadar atau tidak mau bekerja sama. Keberatannya adalah lebih mahal dan
nyeri, sukar digunakan oleh pasien sendiri. Selain itu, adapula bahaya terkena infeksi kuman
(harus steril) dan bahaya merusak pembuluh atau saraf jika tempat suntikan tidak dipilih dengan
tepat.

a. Subkutan (hypodermal)
Injeksi di bawah kulit dapat dilakukan hanya dengan obat yang tidak merangsang dan
melarut baik dalam air atau minyak. Efeknya tidak secepat injeksi intramuscular atau
intravena. Mudah dilakukan sendiri, misalnya insulin pada penyakit gula.
Tempat yang paling tepat untuk melakukan injeksi subkutan meliputi area vaskular di
sekitar bagian luar lengan atas, abdomen dari batas bawah kosta sampai krista iliaka, dan
bagian anterior paha. Tempat yang paling sering direkomendasikan untuk injeksi heparin
ialah abdomen. Tempat yang lain meliputi daerah scapula di punggung atas dan daerah
ventral atas atau gloteus dorsal. Tempat yang dipilih ini harus bebas dari infeksi, lesi kulit,
jaringan parut, tonjolan tulang, dan otot atau saraf besar dibawahnya.
Obat yang diberikan melalui rute SC hanya obat dosis kecil yang larut dalam air (0,5
sampai 1 ml). Jaringan SC sensitif terhadap larutan yang mengiritasi dan obat dalam volume
besar. Kumpulan obat dalam jaringan dapat menimbulkan abses steril yang tak tampak
seperti gumpalan yang mengeras dan nyeri di bawah kulit.

Anatomi Fisiologi Lapisan Hipodermis

Lapisan ini terutama mengandung jaringan lemak, pembuluh darah dan limfe, saraf-saraf
yang berjalan sejajar dengan permukaan kulit. Cabang-cabang dari pembuluh-pembuluh dan
saraf-saraf menuju lapisan kulit jangat. Jaringan ikat bawah kulit berfungsi sebagai bantalan
atau penyangga benturan bagi organ-organ tubuh bagian dalam, membentuk kontur tubuh
dan sebagai cadangan makanan. Ketebalan dan kedalaman jaringan lemak bervariasi
sepanjang kontur tubuh, paling tebal di daerah pantat dan paling tipis terdapat di kelopak
mata. Jika usia menjadi tua, kinerja liposit dalam jaringan ikat bawah kulit juga menurun.
Bagian tubuh yang sebelumnya berisi banyak lemak, lemaknya berkurang sehingga kulit
akan mengendur sert makin kehilangan kontur.

b. Intrakutan (di dalam kulit)


Perawat biasanya memberi injeksi intrakutan untuk uji kulit. Karena keras, obat
intradermal disuntikkan ke dalam dermis. Karena suplai darah lebih sedikit, absorbsi lambat.
Pada uji kulit, perawat harus mampu melihat tempat injeksi dengan tepat supaya dapat
melihat perubahan warna dan integritas kulit. Daerahnya harus bersih dari luka dan relatif
tidak berbulu. Lokasi yang ideal adalah lengan bawah dalam dan punggung bagian atas.

Anatomi Fisiologi Lapisan Dermis

Dermis menjadi tempat ujung saraf perasa, tempat keberadaan kandung rambut, kelenjar
keringat, kelenjar palit atau kelenjar minyak, pembuluh-pembuluh darah dan getah bening,
dan otot penegak rambut (muskulus arektor pili). Dermis sering disebut kulit sebenarnya dan
95 % dermis membentuk ketebalan kulit. Ketebalan rata-rata dermis diperkirakan antara 1 - 2
mm dan yang paling tipis terdapat di kelopak mata serta yang paling tebal terdapat di telapak
tangan dan telapak kaki. Susunan dasar dermis dibentuk oleh serat-serat, matriks interfibrilar
yang menyerupai selai dan sel-sel. Masing-masing saraf perasa memiliki fungsi tertentu,
seperti saraf dengan fungsi mendeteksi rasa sakit, sentuhan, tekanan, panas, dan dingin. Saraf
perasa juga memungkinkan segera bereaksi terhadap hal-hal yang dapat merugikan diri kita.
Pada dasarnya dermis terdiri atas sekumpulan serat-serat elastis yang dapat membuat
kulit berkerut akan kembali ke bentuk semula dan serat protein ini yang disebut kolagen.
Serat-serat kolagen ini disebut juga jaringan penunjang, karena fungsinya dalam membentuk
jaringan-jaringan kulit yang menjaga kekeringan dan kelenturan kulit. Berkurangnya protein
akan menyebabkan kulit menjadi kurang elastis dan mudah mengendur hingga timbul
kerutan. Faktor lain yang menyebabkan kulit berkerut yaitu faktor usia atau kekurangan gizi.
Dari fungsi ini tampak bahwa kolagen mempunyai peran penting bagi kesehatan dan
kecantikan kulit. Perlu diperhatikan bahwa luka yang terjadi di dermis dapat menimbulkan
cacat permanen, hal ini disebabkan dermis tidak memiliki kemampuan memperbaiki diri
sendiri seperti yang dimiliki kulit ari. Di dalam lapisan dermis terdapat dua macam kelenjar
yaitu kelenjar keringat dan kelenjar palit.
a. Kelenjar keringat
Kelenjar keringat terdiri dari fundus (bagian yang melingkar) dan duet yaitu saluran
semacam pipa yang bermuara pada permukaan kulit membentuk pori-pori keringat.
Semua bagian tubuh dilengkapi dengan kelenjar keringat dan lebih banyak terdapat
dipermukaan telapak tangan, telapak kaki, kening dan di bawah ketiak. Kelenjar keringat
mengatur suhu badan dan membantu membuang sisa-sisa pencernaan dari tubuh.
Kegiatannya terutama dirangsang oleh panas, latihan jasmani, emosi dan obat-obat
tertentu. Ada dua jenis kelenjar keringat yaitu :
1. Kelenjar keringat ekrin
Kelenjar keringat ini mensekresi cairan jernih, yaitu keringat yang mengandung 95 –
97 persen air dan mengandung beberapa mineral, seperti garam, sodiumklorida,
granula minyak, glusida dan sampingan dari metabolisma seluler. Kelenjar keringat
ini terdapat di seluruh kulit, mulai dari telapak tangan dan telapak kaki sampai ke
kulit kepala. Jumlahnya di seluruh badan sekitar dua juta dan menghasilkan 14 liter
keringat dalam waktu 24 jam pada orang dewasa. Bentuk kelenjar keringat ekrin
langsing, bergulung-gulung dan salurannya bermuara langsung pada permukaan kulit
yang tidak ada rambutnya.
2. Kelenjar keringat apokrin
Hanya terdapat di daerah ketiak, puting susu, pusar, daerah kelamin dan daerah
sekitar dubur (anogenital) menghasilkan cairan yang agak kental, berwarna keputih-
putihan serta berbau khas pada setiap orang. Sel kelenjar ini mudah rusak dan sifatnya
alkali sehingga dapat menimbulkan bau. Muaranya berdekatan dengan muara kelenjar
sebasea pada saluran folikel rambut. Kelenjar keringat apokrin jumlahnya tidak
terlalu banyak dan hanya sedikit cairan yang disekresikan dari kelenjar ini. Kelenjar
apokrin mulai aktif setelah usia akil baligh dan aktivitas kelenjar ini dipengaruhi oleh
hormon.
b. Kelenjar palit (kelenjar sebasea)
Kelenjar palit terletak pada bagian atas kulit jangat berdekatan dengan kandung
rambut terdiri dari gelembung-gelembung kecil yang bermuara ke dalam kandung rambut
(folikel). Folikel rambut mengeluarkan lemak yang meminyaki kulit dan menjaga
kelunakan rambut. Kelenjar palit membentuk sebum atau urap kulit. Terkecuali pada
telapak tangan dan telapak kaki, kelenjar palit terdapat di semua bagian tubuh terutama
pada bagian muka.

c. Intramuskuler (i.m)
Rute IM memungkinkan absorbsi obat yang lebih cepat daripada rute SC karena
pembuluh darah lebih banyak terdapat di otot. Bahaya kerusakan jaringan berkurang ketika
obat memasuki otot yang dalam tetapi bila tidak berhati-hati ada resiko menginjeksi obat
langsung ke pembuluh darah. Dengan injeksi di dalam otot yang terlarut berlangsung dalam
waktu 10-30 menit. Guna memperlambat reabsorbsi dengan maksud memperpanjag kerja
obat, seringkali digunakan larutan atau suspensi dalam minyak, umpamanya suspensi
penisilin dan hormone kelamin. Tempat injeksi umumnya dipilih pada otot pantat yang tidak
banyak memiliki pembuluh dan saraf.
Tempat injeksi yang baik untuk IM adalah otot Vastus Lateralis, otot Ventrogluteal, otot
Dorsogluteus, otot Deltoid.

Anatomi Fisiologi Lokasi Injeksi Intramuskular

1. Otot Vastus Lateralis

Otot vastus lateralis yang tebal dan berkembang baik adalah tempat injeksi yang dipilih untuk
dewasa, anak-anak dan bayi. Otot ini terletak di bagian lateral anterior paha dan pada orang dewasa
sepanjang satu tangan diatas lutut sampai sepanjang satu tangan dibawah trokanter femur. Sepertiga
tengah otot merupakan tempat terbaik injeksi. Lebar tempat injeksi membentang dari garis tengah bagian
atas paha sampai kegaris tengah sisi luar paha.
Pada anak kecil atau klien kakeksia, memegang badab otot selama injeksi akan membantu
memastikan obat tersimpan dijaringan otot. Untuk membantu merelaksasikan otot, perawat meminta klien
berbaringan datar dengan lutut agak fleksi rendah atau klien dalam posisi duduk.
2. Otot Ventrogluteal

Otot ventrogluteal meliputi gluteus medius dan minimus. Klien berbaring diatas
salah satu sisi tubuh dengan menekuk lutut, perawat kemudian mencari otot dengan
menempatkan telapak tangan diatas trokanter mayor dan jari telunjuk pada spina iliaka
superior anterior panggul paha klien. Tangan kanan digunakan untuk panggul kiri dan
tangan kiri digunakan untuk panggul kanan. Perawat menunjukkan ibu jarinyakearah
lipat paha klien dan jari lain kearah kepala klien.

Tempat injeksi terpajan ketika perawat melebarkan jari tengah kebelakang


sepanjang krista iliaka kearah bokong. Jari telunjuk, jari tengah dan krista iliaka
membentuk sebuah segitiga dan tempat injeksi terletak ditengah segitiga tersebut. Klien
dapat berbaring miring/tengkurap. Memfleksi lutut dan panggul membantu klien
merelaksasi otot ini.
3. Otot Dorsogluteal
Otot dorsogluteal merupakan tempat yang biasa digunakan untuk injeksi IM.
Namun, insersi jarum yang tidak disengaja kedalam saraf siatik dapat menyebabkan
paralisis permanen atau sebagian pada tungkai yang bersangkutan. Pembuluh darah
utama dan tulang juga dekat tempat injeksi. Pada klien yang jaringannya kendur, tempat
injeksi. Pada klien yang jaringannya kendur, tempat injeksi sulit ditemukan. Daerah
dorsogluteal dapat ditemukan diatas luar kuadran atas luar bokong, kira-kira 5-8 cm
dibawah krista iliaka.

Klien dapat berbaring tengkurap dengan jari-jari kaki mengarah kebagian tengah
tubuh atau pada posisi berbaring miring dengan tungkai atas fleksi pada panggul dan
lutut. Sebuah garis khayal ditarik diantara dua penanda anatomi. Tempat injeksi terletak
diatas dan lateral terhadap garis.

4. Otot Deltoid
Untuk menentukan lokasi otot deltoid, perawat meminta klien memajankan
seluruh lengan atas dan bahunya. Perawat sebaiknya tidak menciba menggulung lengan
baju yang ketat. Perawat meminta klien merelaksasi lengan disamping dan menekuk
sikunya. Klien dapat duduk, berdiri atau berbaring. Perawat mempalpasi batas bawah
prosesus akromialis yang membentuk basis sebuah segitiga yang sejajar dengan titik
tengah bagian lateral lengan atas.

Tempat injeksi terletak dibagian tengah segitiga, sekitar 2,5 sampai 5 cm dibawah
prosesus akromion. Perawat juga dapat menentukan lokasi injeksi dengan menempatkan
empat jari diatas otot deltoid, dengan jari teratas berada disepanjang prosesus akromion.
Tempat injeksi terletak tiga jari dibawah prosesus akromion.
d. Intravena (i.v)
Injeksi dalam pembuluh darah menghasilkan efek tercepat dalam waktu 18 detik,
yaitu waktu satu peredaran darah, obat sudah tersebar ke seluruh jaringan. Tetapi, lama
kerja obat biasanya hanya singkat. Cara ini digunakan untuk mencapai penakaran yang
tepat dan dapat dipercaya, atau efek yang sangat cepat dan kuat. Tidak untuk obat yang
tak larut dalam air atau menimbulkan endapan dengan protein atau butiran darah.
Bahaya injeksi intravena adalah dapat mengakibatkan terganggunya zat-zat koloid
darah dengan reaksi hebat, karena dengan cara ini “benda asing” langsung dimasukkan ke
dalam sirkulasi, misalnya tekanan darah mendadak turun dan timbulnya shock. Bahaya
ini lebih besar bila injeksi dilakukan terlalu cepat, sehingga kadar obat setempat dalam
darah meningkat terlalu pesat. Oleh karena itu, setiap injeksi i.v sebaiknya dilakukan
amat perlahan, antara 50-70 detik lamanya.

Anatomi Fisiologi Lokasi Injeksi Intravena


Dasar-dasar Injeksi
Pemberian suntikan (injeksi) adalah kegiatan rutin dalam penanganan pasien, dan
teknik suntikan yang baik mengurangi rasa sakit yang dialami pasien. Namun, penguasaan
teknik tanpa mengembangkan dasar pengetahuan dapat memberikan risiko komplikasi yang
tidak diinginkan.
Ada empat pertimbangan utama mengenai pemberian suntikan: rute, lokasi, teknik dan
peralatan.
1. Rute Intravena:
Rute Intravena (IV) memanfaatkan sistem peredaran darah untuk menyebarkan baik cairan,
elektrolit, zat makanan maupun obat, termasuk juga darah dan komponen-komponennya.
Beberapa keuntungan menggunakan rute Intravena ni adalah merupakan rute yang langsung
dapat menyebarkan terapi ke seluruh tubuh, dapat dilakukan pada pasien tidak sadar maupun
yang tidak kooperatif, absorbsi obat langsung ke aliran darah. Namun rute ini mempunyai dapat
menuai kerugian, yaitu : dapat terjadi kelebihan cairan, embolus udara, septikemia maupun
infeksi setempat, thrombophlebitis, hematom, nyeri dan juga reaksi hipersensitifitas.
Secara umum suntikan Intravena mempunyai arti pemberian pengobatan dalam jumlah sedikit
yang langsung dimasukan ke dalam aliran vena. Metode ini mengharapkan reaksi obat yang
cepat. Biasanya, obat intravena akan diberikan dalam lingkungan di mana unit darurat dan
peralatan resusitasi tersedia. Karena risiko anafilaksis, epinefrin harus tersedia.
Rute ini menggunakan jarum 20G – 23G dan sebuah torniquet yang berguna untuk membendung
vena.
2. Rute Intradermal/Intrakutan
Rute intradermal lebih mengutamakan efek lokal daripada sistemik, dan lebih digunakan untuk
tujuan diagnostik seperti pengujian alergi atau tuberkulin atau untuk anestesi lokal.
Untuk memberikan suntikan intradermal digunakan jarum 25G yang ditusukan dengan sudut 10-
15 °, bevel up, sampai tepat di bawah epidermis, dan selanjutnya cairan disuntikkan 0.5 ml
sampai gembungan muncul di permukaan kulit. Lokasi yang cocok untuk suntikan intradermal
sama dengan untuk suntikan subkutan, termasuk juga lengan bagian dalam dan tulang belikat.
3. Rute Subdermal/Subkutan
Rute subkutan digunakan untuk penyerapan obat yang lambat dan berkelanjutan.
Biasanya cairan yang diberikan sebanyak 1-2 ml disuntikkan ke dalam jaringan
subkutan. Rute ini sangat ideal untuk obat-obatan seperti insulin, yang memerlukan
pelepasan obat yang lambat dan stabil, dan juga karena relatif bebas dari nyeri, sangat
cocok untuk suntikan yang sering dilakukan.
Suntikan Subkutan dilakukan dengan sudut 45 ° pada kulit yang sedikit diangkat.
Namun, dengan adanya jarum insulin yang lebih pendek (5, 6 atau 8 mm), direkomendasi
suntikan dengan sudut 90 ° untuk insulin. Pengangkatan kulit dilakukan dengan
mencubit kulit untuk mengangkat jaringan adiposa menjauhi otot yang berada di
bawahnya, terutama pada pasien kurus.
Jika suntikan diberikan terlalu dalam dan masuk ke dalam otot, insulin diserap lebih
cepat dan dapat menyebabkan ketidakstabilan glukosa dan potensi hipoglikemia. Episode
hipoglikemik ini dapat juga terjadi jika lokasi anatomis suntikan dipindah, seperti insulin
diserap pada tingkat yang bervariasi dari lokasi anatomi yang berbeda. Oleh karena itu
suntikan insulin harus sistematis diputar dalam lokasi anatomi misalnya, menggunakan
lokasi pada lengan atas atau perut selama beberapa bulan, sebelum dipindah ke tempat
lain di tubuh.
Aspirasi yang dilakukan sebelum suntikan Subkutan masih diperdebatkan. Peragallo-
Dittko (1997) melaporkan hasil penelitian yang mengemukakan darah tidak tersedot pada
aspirasi sebelum suntikan subkutan, menunjukkan bahwa menusuk pembuluh darah
dalam suntikan subkutan merupakan kejadian yang sangat langka. Selain itu, produsen
perangkat insulin tidak menganjurkan aspirasi sebelum suntikan
4. Rute Intramuskular
Suntikan Intramuskular (IM) merupakan teknik memasukan obat dengan memanfaatkan
perfusi otot, memberikan penyerapan sistemik yang cepat dan menyerap dosis yang
relatif besar. Pilihan lokasi dalam suntikan Intramuskular ini harus mempertimbangkan
keadaan umum pasien, usia, dan jumlah obat yang diberikan. Lokasi yang direncanakan
untuk suntikan harus diperiksa untuk mencari tanda-tanda adanya peradangan, dan harus
bebas dari lesi kulit. Demikian pula, 2-4 jam setelah suntikan, lokasi suntikan harus
diperiksa untuk memastikan tidak ada reaksi yang merugikan. Dokumentasi berupa foto
dan notifikasi diperlukan pada suntikan yang dilakukan berulang atau sering, untuk
memastikan rotasi yang seimbang. Hal ini dapat mengurangi ketidaknyamanan pasien
akibat suntikan yang berlebihan dari salah satu lokasi, dan mengurangi kemungkinan
komplikasi, seperti atrofi otot atau abses steril yang dihasilkan dari jeleknya absorbsi
jaringan.
Pasien yang telah berumur dan pasien kurus cenderung memiliki lebih sedikit otot
daripada yang lebih muda atau pasien yang aktif. Oleh karena itu lokasi suntikan harus
dinilai banyaknya massa otot. Pada pasien yang memiliki massa otot sedikit lebih baik
melakukan penggembungan otot sebelum penyuntikan.
Ada lima lokasi yang tersedia untuk suntikan Intramuskular, yaitu:
Otot deltoid lengan atas, yang digunakan untuk vaksin seperti hepatitis B dan
tetanus toksoid.
Lokasi dorsogluteal memanfaatkan musculus Gluteus maximus. Catatan, ada
komplikasi yang terkait dengan lokasi ini, karena ada kemungkinan merusak
nervus sciatic atau arteri Gluteal superior jika penusukan jarum salah. Beyea dan
Nicholl (1995) melaporkan suntikan ke lokasi dorsogluteal, cairan yang
disuntikan lebih sering masuk ke dalam jaringan adiposa daripada otot, dan
akibatnya memperlambat laju penyerapan obat.
Lokasi ventrogluteal merupakan pilihan yang lebih aman dalam mengakses
musculus Gluteus medius. Lokasi ini merupakan lokasi utama untuk suntikan
Intramuskular karena menghindari semua saraf utama dan pembuluh darah dan
tidak ada komplikasi dilaporkan. Selain itu, jaringan adiposa pada lokasi
ventrogluteal memiliki ketebalan yang relatif konsisten, yaitu: 3.75 cm
dibandingkan dengan 1-9 cm pada lokasi dorsogluteal, sehingga memastikan
bahwa ukuran jarum 21G akan menembus area otot gluteus medius.
Vastus lateralis adalah otot paha depan terletak di sisi luar tulang paha. Lokasi ini
umunya dipilih pada pasien anak-anak. Risiko yang terkait dengan otot ini adalah
cedera pada nervus femoralis dan atrofi otot dikarenakan suntikan yang sering.
Beyea dan Nicholl (1995) mengemukakan bahwa lokasi ini aman untuk pasien
anak-anak sampai usia tujuh bulan.
Musculus Rektus femoris adalah otot paha anterior yang jarang digunakan, tetapi
mudah dicapai jika menyuntik diri sendiri atau untuk bayi.

Sudut Masuk Jarum Suntik : Sudut masuk jarum dapat berkontribusi pada nyeri yang
dirasakan pasien. Suntikan intramuskular harus dilakukan dengan sudut 90° untuk
memastikan jarum mencapai otot, dan mengurangi rasa sakit. Tangan non dominan
diposisikan dekat dengan lokasi penyuntikan, berguna untuk fiksasi lokasi dan meningkatkan
akurasi. Oleh karena itu, untuk memastikan suntikan masuk dengan sudut yang tepat,
penyuntikan dimulai dengan bantalan telapak tangan (yang dekat dengan pergelangan)
diletakan pada ibu jari tangan non-dominan, dan memegang suntik antara ibu jari dan jari
telunjuk, selanjutnya dorong masuk jarum ke dalam kulit dengan tegas dan akurat pada sudut
yang tepat.
Untuk rute Intravena perlunya pembendungan vena untuk memunculkan vena ke superfisial
sehingga akan mempermudah penyuntikan. Dan jika perlunya suntikan yang sering dan
berkelanjutan, perlu dipertibangkan untuk pemasangan kanul bercabang (three way).

Teknik Z pada Suntikan IM: Teknik Z awalnya diperkenalkan untuk obat yang
meninggalkan noda pada kulit atau menyebabkan iritasi. Sekarang ini direkomendasikan
untuk digunakan pada berbagai obat Intramuskular dan diyakini dapat mengurangi rasa sakit,
serta kejadian kebocoran.
Pada teknik suntikan ini, kulit ditarik ke salah satu sisi pada lokasi yang dipilih. Dengan ini
kulit dan jaringan subkutan bergerak sekitar 1-2 cm. Penting untuk diingat, bahwa kulit yang
bergerak akan mengalihkan perhatian dari tujuan jarum yang akan disuntikan. Oleh karena
itu, setelah lokasi permukaan pertama kali diidentifikasi, selanjutnya adalah
memvisualisasikan otot yang akan menerima suntikan, dan arah tujuan ke lokasi itu, bukan
tanda pada kulit. Jarum dimasukkan dan suntikan diberikan. Biarkan sepuluh detik sebelum
mencabut jarum untuk memungkinkan obat untuk berdifusi ke otot. Setelah jarum dicabut,
kulit yang tadinya ditarik sekarang dapat dilepaskan. Jaringan kemudian akan menutup
deposit obat dan mencegah kebocoran. Menggerak-gerakan ekstremitas setelah penyuntikan
diyakini membantu penyerapan obat dengan meningkatkan aliran darah ke lokasi tersebut.
Prosedur Aspirasi sebelum Injeksi : Meskipun aspirasi tidak lagi direkomendasikan
untuk suntikan Subkutan, aspirasi harus dilakukan pada suntikan Intramuskular. Jika jarum
masuk dalam pembuluh darah, obat akan diberikan secara intravena dan dapat menyebabkan
embolus sebagai akibat dari komponen obat. Setelah penyisipan ke dalam otot, aspirasi harus
dipertahankan selama beberapa detik untuk memungkinkan darah muncul, terutama jika
diameter jarum kecil. Jika darah yang tersedot, jarum suntik harus dibuang dan obat baru
yang disiapkan. Jika darah tidak tersedot, lanjutkan untuk menyuntikkan obat dengan
tingkatan sekitar 1 ml setiap sepuluh detik. Suntikan yang lambat ini memungkinkan waktu
untuk serat otot untuk memperluas dan menyerap cairan. Ada beberapa obat yang harus
menunggu sepuluh detik sebelum jarum dapat ditarik keluar, untuk memungkinkan obat
untuk berdifusi ke otot. Jika ada rembesan dari lokasi, tekan lokasi suntikan menggunakan
kasa. Rekatkan plester kecil pada lokasi penyuntikan. Pijatan atau menggosok setelah
penyuntikan sebaiknya dihindari karena dapat menyebabkan obat bocor dari lokasi masuknya
jarum dan akan mengiritasi jaringan sekitar

Ilustrasi warna jarum suntik dan panjang; Untuk penyuntikan Intramuskular, jarum harus
cukup panjang untuk menembus otot dan masih memungkinkan seperempat jarum untuk
tetap di luar kulit. Ukuran yang paling umum untuk suntikan Intramuskular adalah nomor
21G (hijau) atau 23G (biru) dengan panjang 1,25-2 inchi. Pada pasien gemuk yang memiliki
banyak jaringan adiposa, jarum yang lebih panjang diperlukan untuk memastikan suntikan
mencapai otot sasaran. Cockshott et al (1982) menemukan bahwa pada lokasi dorsogluteal,
wanita memiliki jaringan adiposa hingga 2,5 cm lebih banyak dari pada laki-laki, oleh karena
itu dengan menggunakan jarum nomor 21G dengan panjang 1,5 inci (hijau) hanya akan
mencapai otot gluteus maximus pada 5% perempuan dan 15% laki-laki.
Beyea dan Nicholl (1995) merekomendasikan jarum harus diganti setelah pengambilan obat,
untuk memastikan bahwa jarum itu kering dan tajam. Pada pengambilan obat yang berasal
dari botol kaca, jarum yang mempunyai penyaring dianjurkan untuk digunakan, hal ini
menghindari potensi terhisapnya pecahan kaca yang masuk ke obat. Jika obat dari ampul
plastik, jarum dapat tumpul. Begitu juga pada penusukan karet penutup obat. Jarum yang
tumpul itu dapat menyebabkan trauma jaringan lokal, dan kontaminasi obat selama persiapan
akan meningkatkan sensitivitas jaringan, dan akibatnya nyeri bagi pasien.
Ukuran barel suntik ditentukan oleh jumlah cairan yang diperlukan untuk mengisi obat.
Untuk suntikan kurang dari 1 ml, barel suntik kecil (dosis rendah) harus digunakan untuk
memastikan dosis yang akurat. Untuk suntikan dari lebih 5 ml, disarankan agar dosis dibagi
sama rata untuk dua lokasi penyuntikan.