Anda di halaman 1dari 31

IDENTITAS REVIEWER

NAMA: AGRI AZIZAH AMALIA


NIM: 1310105094
PRODI: ILMU KEPERAWATAN

PERILAKU PIJAT BAYI BERHUBUNGAN DENGAN PENGETAHUAN DAN


DUKUNGAN KELUARGA
Dadang Kusbiantoro

LATAR BELAKANG
Pijat bayi disebut juga terapi sentuh. Dikatakan terapi sentuh karena melalui pijat bayi
akan terjadi komunikasi yang nyaman dan aman antara ibu dan buah hatinya. Sentuhan
kepada bayi dengan memberikan pijatan-pijatan ringan segera setelah kelahiran merupakan
suatu kontak tubuh kelanjutan yang diperlukan bayi untuk mempertahankan rasa aman dan
nyaman (Ria Riksani, 2012)
Pijat bayi tradisional masih sering dijumpai didaerah-daerah, biasanya dilakukan oleh
dukun bayi. Banyak diantara ibu, ayah atau anggota keluarga lain belum mengetahui manfaat
dari pijat bayi. Mereka beranggapan bahwa pijat bayi hanya dilakukan sebagai terapi untuk
menyembuhkan penyakit.
Pada kenyataannya, pijatan yang dilakukan ibu, ayah, atau anggota keluarga lain
merupakan pijatan terbaik karena terbukti dapat menghasilkan perubahan
fisiologis yang menguntungkan terutama bisa memenuhi kebutuhan kasih sayang. Sentuhan
yang diberikan oleh ibu selama pemijatan akan direspon oleh bayi sebagai bentuk
perlindungan, kasih sayang, perhatian dan ungkapan cinta yang tulus (Ria Riksani, 2012).
Semakin sering frekuensi sentuhan atau pemijatan, maka akan semakin dekat pula
hubungan emosional antara ibu dan bayi. Namun, sebaliknya tidak hanya ibu yang bisa
melakukan pijat bayi, tetapi ayah, nenek, atau kakek juga bisa dilibatkan. Hal ini bermanfaat,
terutama untuk mengurangi ketergantungan bayi terhadap ibunya.
Manfaat lain dari pijat bayi yaitu membuat bayi semakin tenang karena selama
pemijatan, bayi akan mengalami tekanan, peregangan, dan relaksasi, kemudian dapat
meningkatkan efektifitas istirahat (tidur) bayi. Bayi yang otot-ototnya distimulus dengan
urutan atau pemijatan akan nyaman dan mengantuk, dapat memperbaiki konsentrasi bayi,
meningkatkan produksi ASI, membantu meringankan ketidaknyamanan dalam pencernaan
dan tekanan emosi, memacu perkembangan otak dan sistem syaraf, meningkatkan gerak
peristaltik untuk pencernaan, menstimulasi aktivitas nervus vagus untuk perbaikan
pernafasan, meningkatkan aliran oksigen dan nutrisi menuju sel, meningkatkan kepercayaan
diri ibu, memudahkan orang tua mengenali bayinya dan merupakan hiburan yang
menyenangkan bagi keluarga (Yazid Subakti, Deri Rizky A, 2009).
Pijat bayi merupakan tradisi lama yang digali kembali dengan sentuhan ilmu
kesehatan dan tinjauan ilmiah yang bersumber dari penelitian para ahli neonatologi, syaraf,
dan psikologi anak (Yazid Subakti, Deri Rizky A, 2009).Dewasa ini penelitian di Australia
membuktikan bahwa bayi yang dipijat oleh orang tuanya akan mempunyai kecenderungan
peningkatan berat badan, hubungan tingkat emosional, dan sosial yang lebih baik (Utami,
Roesli, 2001). Sayangnya, masih banyak orang tua yang belum mengerti tentang pijat bayi,
Sebagian dari mereka beranggapan bahwa pijat bayi dilakukan hanya pada bayi yang sakit
serta dilakukan oleh dukun atau tenaga medis yang menguasai pijat bayi. Hal ini tidak
sepenuhnya salah, melalui teknik tertentu, pijat bayi diyakini mampu mengatasi kolik
sementara, sembelit dan bayi rewel. Namun, manfaat utama dari pijat bayi adalah membantu
mengoptimalkan tumbuh kembang bayi. Kurangnya informasi yang tepat tentang
perkembangan terbaru pijat bayi di masyarakat juga membuat orang tua takut menyentuh
bayinya. Banyak faktor yang mempengaruhi penatalaksanaan pijat bayi oleh ibu meliputi
faktor internal dan eksternal. Faktor internal diantaranya pendidikan, dengan pendidikan yang
tinggi ibu akan lebih paham tentang kesehatan bayinya, faktor pengetahuan, dengan
pengetahuan ibu yang luas akan berpengaruh pula pada keinginan ibu untuk melakukan pijat
bayi, selain itu ada pula faktor pekerjaan, sikap dan presepsi yang dapat mempengaruhi ibu
untuk melakukan pijat bayi. Faktor eksternal meliputi faktor kebudayaan, ibu melakukan pijat
bayi kepada bayinya dikarenakan sudah menjadi sebuah kepercayaan dan tradisi tersendiri,
faktor lingkungan sosial serta dukungan keluarga juga berpengaruh pada minat ibu untuk
melakukan pijat bayi (Enidya, Santi, 2012). Dengan memijat bayi mereka, rasa percaya diri
orang tua bertambah. Mereka belajar untuk memperhatikan dan memahami reaksi bayi pada
saat disentuh, mengetahui perkembangan naluri alamianya, apa yang disukai dan tidak
disukainya, sehingga membuat orang tua lebih mudah mengerti dan terkadang menjadi sabar
disaat mereka tidak sanggup menenangkannya. Saat orang tua memperhatikan dan mengenali
reaksi anak-anaknya dan memberikan responnya, para bayi memberikan reaksinya kembali
dan terbangunlah sebuah hubungan yang positif diantara mereka. Untuk mewujudkan semua
itu, maka diperlukan pengetahuan yang cukup bagi orang tua dan juga dukungan keluarga
untuk melaksanakan pijat bayi, sehingga dengan adanya pengetahuan yang cukup dan
dukungan keluarga maka mendorong terbentuknya perilaku melakukan pijat bayi. Serta
berusaha meningkatkan pelaksanaan pijat bayi di masyarakat terutama pada ibu yang
mempunyai bayi yaitu, dengan diadakannya penyuluhan oleh tenaga kesehatan (perawat atau
bidan) terhadap ibu. Dalam penyuluhan ini perawat atau bidan harus memberikan informasi
lebih tentang pijat bayi, mengenalkan pijat bayi dengan teknik tertentu dan menjelaskan
manfaat dari dilakukannya pijat bayi. Kegiatan ini bisa dilakukan pada saat pemeriksaan
kehamilan, nifas dan saat pelaksanaan posyandu. Diharapkan juga pijat bayi dijadikan
program rutin di posyandu. Peningkatan pengetahuan perawat dan bidan tentang pijat bayi
juga harus dikembangkan agar pengetahuan tentang stimulasi khususnya pijat bayi merata
bukan hanya di kalangan masyarakat tapi juga di kalangan tenaga kesehatan.

TUJUAN
Tujuan penelitian ini Mengetahui hubungan pengetahuan ibu dan dukungan keluarga
dengan perilaku pijat bayi usia 0-12 bulan di Posyandu Desa Made Lamongan tahun 2013.

METODOLOGI/ METODE
Desain penelitian dalam penelitian ini adalah menggunakan metode analitik
korelasional dengan pendekatan cross sectional yaitu jenis penelitian yang menekankan pada
waktu pengukuran atau observasi variabel independen dan dependen hanya satu kali pada
satu saat (Nursalam, 2003).
Populasi sejumlah 52 ibu yang memiliki bayi usia 0-12 bulan di posyandu Desa Made
kecamatan Lamongan Tahun 2013. Sampel sebanyak 46 ibu diambil secara simple random
sampling.data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Data dianalisa dengan menggunakan uji
Spearman Rank.

HASIL
1. Data Umum
1) Karakteristik Responden
(1) Distribusi umur ibu
1. Menunjukkan sebagian besar ibu berumur 21-30 tahun.
(2) Distribusi pekerjaan ibu
2. Menunjukkan sebagian besar (60,9 %) ibu tidak bekerja.
(3) Karakteristik pendidikan ibu
3. menunjukkan sebagian besar (54,3 %) ibu berpendidikan SLTA
2. Data Khusus
1). Pengetahuan ibu
Menunjukkan sebagian besar (69,6 %) ibu mempunyai pengetahuan kurang tentang pijat
bayi.
2). Dukungan Keluarga
Menunjukkan hampir setengah (45,7 %) mendapat dukungan kurang dari keluarga.
3). Perilaku ibu dalam pijat bayi
Menunjukkan sebagian besar (65,2 %) perilaku ibu kurang dalam melaksanakan pijat bayi.
4). Hubungan pengetahuan dengan perilaku pijat bayi
Menunjukkan sebagian besar (53,1 %) ibu berpengetahuan kurang mempunyai perilaku
kurang dalam melaksanakan pijat bayi. Tidak satupun (0 %) ibu berpengetahuan baik
mempunyai perilaku pijat bayi baik. Berdasarkan uji statistik didapatkan p = 0,007 dimana
kurang dari p=0,05. Terdapat hubungan pengetahuan ibu dengan perilaku ibu melaksanakan
pijat bayi.
5) Hubungan dukungan Keluarga dengan perilaku pijat bayi.
menunjukkan hampir seluruhnya (78,9 %) dukungan keluarga cukup perilaku ibu kurang
dalam melakukan pijat bayi. Sebagian kecil (16,7 %) dukungan keluarga baik didapatkan ibu
berperilaku baik pula. Uji statistik didapatkan p=0,043 dimana kurang dari p=0,05. Terdapat
hubungan dukungan keluarga dengan perilaku pijat bayi

KESIMPULAN
1) Sebagian besar ibu di posyandu desa Made Lamongan memiliki pengetahuan kurang
tentang pijat bayi

2) Hampir setengah ibu di posyandu desa Made Lamongan mendapat dukungan kurang dari
keluarga

3) Sebagian besar ibu di posyandu desa Made Lamongan memiliki perilaku kurang dalam
melakukan pijat bayi

4) Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dengan perilaku ibu dalam melaksanakan pijat
bayi di posyandu desa Made Lamongan
5) Terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku pijat bayi di posyandu desa
Made Lamongan

DAFTAR PUSTAKA

Kusbiantoro, Dadang. "Perilaku Pijat Bayi Berhubungan dengan Pengetahuan dan Dukungan
Keluarga." Jurnal Surya 3.19 (2014).
Kusbiantoro, D. (2014). Perilaku Pijat Bayi Berhubungan dengan Pengetahuan dan
Dukungan Keluarga. Jurnal Surya, 3(19).
KUSBIANTORO, Dadang. Perilaku Pijat Bayi Berhubungan dengan Pengetahuan dan
Dukungan Keluarga. Jurnal Surya, 2014, 3.19.
NAMA: ATEP NANDANG C

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI SATU


JAM PERTAMA SETELAH MELAHIRKAN

Abstrak

Di Indonesia, Angka Kematian Bayi (AKB) masih yang tertinggi di negara-negara ASEAN.
Penyebab utama kematian anak balita tersebut adalah penyakit infeksi saluran nafas dan diare
yang dapat dicegah antara lain dengan pemberian ASI secara benar dan tepat. Pada periode
2002-2003, sekitar 95,9% balita sudah mendapat ASI, tetapi hanya 38,7 % balita mendapat ASI
pertama satu jam setelah lahir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berbagai faktor
yang berhubungan
dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah melahirkan. Penelitian ini menggunakan
sumber data sekunder SDKI 2002-2003 dengan desain cross sectional. Sampel berjumlah 6.018
terdiri dari ibu yang memiliki anak berusia 0 – 24 bulan terakhir yang masih hidup dan dilahirkan
tanpa operasi dan mendapat ASI. Analisis data dilakukan dengan model regresi logistik
multivariat. Ditemukan proporsi pemberian ASI satu jam pertama setelah melahirkan adalah
38,3%. Faktor dominan yang berhubungan dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama
adalah tenaga periksa hamil. Faktor lain adalah daerah tempat tinggal, kehamilan diinginkan,
tenaga periksa hamil, penolong persalinan, akses terhadap radio, dan berat lahir. Terdapat
interaksi antara daerah dengan tenaga periksa, kehamilan diinginkan dengan tenaga periksa, dan
berat lahir dengan penolong persalinan. Perlu upaya meningkatkan pengetahuan dan motivasi
petugas kesehatan mengenai pentingnya ASI segera dan ASI eksklusif, upaya peningkatan
pengetahuan ibu dan calon ibu mengenai tata laksana pemberian ASI yang benar serta program
keluarga berencana.

Kata kunci: ASI satu jam pertama, faktor risiko, SDKI 2002 – 2003.

Abstract

Infant Mortality Rate (IMR) in Indonesia is still the highest among the other ASEAN countries.
The major cause for infant and children mortality is infections, especially the upper respiratory
tracts infection and diarrhea. The prevention efforts for reducing the infections are a good
nutrition management for infant and children such as adequate and appropriate breastfeeding. A
good start for breastfeeding is about 30 minutes after delivery. The Indonesia DHS 2002-2003
showed that 95.5% children under five have already have breast-milk, but only 38.7% of them
are having the first breast-milk within one hour after delivery. The Objective of this study is to
know the factors related to the breastfeeding given within one hour after delivery. The study
uses secondary source of data of the Indonesia DHS 2002-2003 with a cross-sectional design.
The number of sample is 6.018, which are mothers who have the latest life child aged 0 to 24
months and still having breastfed and delivered without surgery. Data are analyzed using the
application multivariate logistic regression. The study has found that the proportion of
breastfeeding given within one hour after delivery as high as 38.28%. The dominant factor
related to the breastfeeding given within one hour after delivery is the antenatal care provider.
Other factor are: the residential location, wanted pregnancy, the antenatal care provider, birth
attendance, accessibility on radio, and newborn’s weight. There is an interaction between
residential location and the antenatal care provider, wanted pregnancy and the antenatal care
provider, and newborn’s weight and the birth attendance. There is a need to make an effort on:
increasing the knowledge and motivation for the health provider about the importance of the
immediate administration of breastfeeding to the newborn and the exclusive breastfeeding. The
efforts should be supported by government policy.

Key words: Breastfed in first one hour, risk factor, IDHS 2002-2003.

Pembahasan

Angka Kematian Bayi (AKB) adalah indikator status kesehatan yang peka
menerangkan derajat kesehatan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan proporsi pemberian
ASI dalam satu jam pertama setelah melahirkan di Indonesia sebesar 38,28%. Masih banyaknya
ibu yang memberikan ASI lebih dari satu jam pertama setelah melahirkan (menunda inisiasi
ASI) menyebabkan bayi mendapat makanan prelaktal dan konsekuensinya kemampuan bayi
mengisap ASI berkurang. Hal ini didukung oleh penelitian Simandjuntak yang menyatakan
bahwa salah satu faktor yang berhubungan dengan umur pemberian MP-ASI dini adalah inisiasi
ASI dimana inisiasi yang terlambat berisiko 5,4 kali untuk menyebabkan pemberian MP-ASI
dini dibandingkan inisiasi ASI segera. Hasil yang sama juga didapat pada penelitian Fikawati
dan Syafiq yang dilakukan di Jawa Barat dan Jawa Timur bahwa ibu yang tidak memberikan
ASI segera dalam 30 menit setelah melahirkan (immediate breastfeeding) berisiko memberikan
makanan/minuman pralaktal 1,8 sampai 5,3 kali lebih besar dibandingkan ibu yang immediate
breastfeeding. Jenis makanan/minuman yang diberikan kepada bayi meliputi susu formula,
madu, air putih, air gula, pisang, dan lainnya (seperti nasi papak). Pemberian makanan/minuman
pada bayi baru lahir dapat menyebabkan terjadinya diare jika penyediaannya tidak higienis. Di
samping itu pemberian prelacteal feeding seperti air gula juga dapat menghilangkan rasa haus
bayi dan menjadikan bayi malas menetek. Daerah tempat tinggal berhubungan dengan
pemberian ASI dalam satu jam pertama dan sangat dipengaruhi oleh tenaga periksa hamil. Hasil
yang menunjukkan bahwa ibu di perkotaan dan periksa hamil dengan tenaga kesehatan justru
kemungkinan untuk dapat memberikan ASI dalam satu jam pertama lebih kecil, hal ini dapat
disebabkan kurangnya peranan tenaga kesehatan dalam memberikan informasi mengenai
bagaimana manajemen menyusui yang baik pada waktu periksa Ibu yang tidak periksa hamil
dan tinggal di pedesaan memiliki kemungkinan paling besar untuk dapat memberikan ASI dalam
satu jam pertama, hal ini dapat disebabkan karena kurangnya peran tenaga kesehatan dalam
memberikan informasi yang benar kepada ibu mengenai manajemen laktasi yang baik. Di
samping itu ibu yang tinggal di desa adalah ibu dengan sosial ekonomi yang
rendah dan tidak mempunyai daya beli terhadap susu formula. Hubungan ibu-anak dalam ikatan
yang sehat dan mesra tetap hidup di daerah pedesaan dimana menyusui merupakan kebiasaan
yang umum dalam keluarga. Ibu pada golongan ini sebagian besar melahirkan di rumah. Pada
persalinan di rumah, ibu dan bayi biasanya tidak dipisah dan persalinan di rumah kurang
terpapar dengan gencarnya promosi susu formula. Berdasarkan penelitian di Bogor
menunjukkan sebagian besar ibu
menyatakan bahwa 76% promosi susu formula bersumber pada sarana pelayanan kesehatan.
Kehamilan yang diinginkan mempunyai hubungan yang bermakna dengan pemberian ASI
dalam satu jam pertama. Ibu yang periksa hamil dengan tenaga non kesehatan dan menginginkan
kehamilannya justru mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk dapat memberikan ASI
dalam satu jam pertama dibandingkan ibu yang menginginkan kehamilan dan periksa dengan
tenaga kesehatan. Hal ini dapat disebabkan karena motivasi dan peranan tenaga kesehatan yang
kurang dalam memberikan informasi mengenai pemberian ASI yang benar dan tepat sewaktu
ibu melakukan periksa hamil. Penyebab lain adalah dari analisis lebih rinci menunjukkan bahwa
ibu yang periksa dengan tenaga non kesehatan sebagian besar melahirkan di rumah dimana
paparan promosi susu formula lebih sedikit, ibu dan bayi tidak terpisah setelah melahirkan dan
daya beli terhadap susu formula rendah karena kondisi sosial ekonomi yang rendah. Program
utama yang dapat digunakan untuk merencanakan kehamilan adalah program keluarga
berencana (KB). Selanjutnya perlu dilakukan sosialisasi program keluarga berencana kepada
seluruh pasangan usia subur melalui kegiatan penyuluhan serta meningkatkan keterjangkauan
alat kontrasepsi.Akses terhadap media dalam hal ini media elektronik yaitu radio mempunyai
hubungan yang bermakna dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama. Hasil penelitian yang
menunjukkan bahwa ibu yang aksesnya kurang baik terhadap radio justru kemungkinan untuk
dapat memberikan ASI dalam satu jam pertama lebih besar dapat disebabkan karena penilaian
keterpaparan dengan media radio disini kurang menggambarkan apakah ibu juga terpapar
dengan informasi mengenai kesehatan terutama pemberian ASI karena akses yang dinilai hanya
frekuensi saja, dan tidak mencakup materi atau informasi kesehatan apa yang didapatkan.
Penyebab lain adalah bahwa sebagian besar siaran radio masih didominasi dengan acara yang
bersifat hiburan, sedangkan pemberian informasi mengenai kesehatan masih sangat kurang.
Komposisi siaran radio tergantung pada misi radio tersebut. Radio milik pemerintah memiliki
komposisi siaran untuk penerangan 40%, pendidikan (kesehatan,agama, dan pengetahuan
populer) sebesar 30%, hiburan 20%, dan iklan 10%. Siaran radio swasta sedikit berbeda yaitu
untuk penerangan 20%, pendidikan 25%, hiburan 40%, dan iklan 15%.16 Tenaga periksa hamil
berhubungan bermakna dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama. Ibu yang periksa hamil
dengan tenaga non kesehatan dan tinggal di pedesaan serta tidak menginginkan kehamilannya
mempunyai kemungkinan paling besar untuk dapat memberikan ASI dalam satu jam pertama
yaitu sampai 50 kali dibandingkan ibu yang tidak periksa hamil. Ibu yang melakukan periksa
hamil dengan tenaga non kesehatan maupun ibu yang tidak melakukan periksa hamil biasanya
berada pada tingkat sosial ekonomi yang rendah. Alasan ibu tidak periksa hamil atau periksa
dengan tenaga non kesehatan karena jika periksa dengan tenaga kesehatan memerlukan biaya
yang tinggi dibanding periksa pada dukun, di samping itu ibu merasa sehat dan tidak bermasalah
dengan kehamilannya. Ibu dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah mempunyai daya beli
yang rendah terhadap susu formula dibandingkan ibu dari sosial ekonomi yang tinggi. Pada ibu
yang periksa hamil dengan tenaga kesehatan, kemungkinan untuk dapat memberikan ASI dalam
satu jam pertama justru lebih kecil daripada ibu yang periksa dengan tenaga non kesehatan. Hal
ini menunjukkan bahwa tenaga kesehatan kurang berperan dalam memberikan informasi
mengenai pemberian ASI yang benar pada waktu pemeriksaan kehamilan. Pada ibu yang sama-
sama tinggal di desa dan tidak menginginkan kehamilannya, kemungkinan untuk dapat
memberikan ASI dalam satu jam pertama lebih besar pada ibu yang periksa dengan tenaga non
kesehatan dibandingkan ibu yang tidak periksa hamil. Hal ini dapat disebabkan karena ibu yang
tidak menginginkan kehamilannya akan tetapi melakukan periksa hamil dengan tenaga non
kesehatan menunjukkan bahwa ibu memiliki kesadaran lebih baik dan berusaha untuk menjaga
kehamilan sesuai dengan kemampuannya daripada ibu yang tidak periksa hamil. Program
pemerintah berkaitan dengan tenaga pemeriksa kehamilan adalah dengan penempatan tenaga
dokter PTT di daerah terpencil dan penempatan bidan di desa-desa. Akan tetapi dalam penelitian
ini masih dijumpai ibu hamil yang tidak memeriksakan kehamilannya, oleh karena itu perlu
upaya untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil sendiri untuk memeriksakan kehamilannya
serta keaktifan dari petugas dalam memotivasi ibu hamil untuk rutin memeriksakan
kehamilannya. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah peningkatan pengetahuan dengan
pelatihan dan penyegaran secara rutin terhadap petugas kesehatan terutama bidan dan petugas
kesehatan di tingkat desa. Penolong persalinan berhubungan bermakna dengan pemberian ASI
dalam satu jam pertama. Hasil ini sejalan dengan penelitian Tjandrarini, dan penelitian Hasyim
dkk di Palembang yang menyatakan adanya hubungan bermakna antara penolong persalinan
dengan pertama kali pemberian ASI setelah melahirkan. Penolong persalinan merupakan kunci
utama keberhasilan pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah melahirkan (immediate
bresatfeeding) karena dalam tersebut peran penolong persalinan masih sangat dominan. Apabila
penolong persalinan menfasilitasi ibu untuk segera memeluk bayinya maka interaksi ibu dan
bayi diharapkan segera terjadi. Dengan immediate breastfeedingibu semakin percaya diri untuk
tetap memberikan ASInya sehingga tidak merasa perlu untuk memberikan makanan/minuman
apapun kepada bayi karena bayi bisa nyaman menempel pada payudara ibu atau tenang dalam
pelukan ibu segera setelah lahir. Berat lahir berhubungan bermakna dengan pemberian ASI
dalam satu jam pertama dan berinteraksi dengan penolong persalinan. Hasil yang menunjukkan
bahwa kemungkinan untuk memberikan ASI dalam satu jam pertama lebih besar pada bayi yang
ditolong olehtenaga non kesehatan maka hal ini dapat disebabkan bahwa ibu yang persalinannya
ditolong oleh petugas kesehatan melahirkan bayinya di rumah sakit atau tempat bersalin dimana
masih banyak terdapat tata laksana rumah sakit yang kurang mendukung keberhasilan menyusui
seperti bayi tidak segera disusui, memberikan makanan prelaktal, gencarnya promosi susu
formula. Pada sebagian besar sarana persalinan pemberian makanan pralaktal sudah menjadi
kebiasaan, berupa susu formula, susu sapi, atau air gula. Hasil penelitian di Bogor menunjukkan
bahwa 60% ibu menyatakan menerima susu formula bayi melalui rumah sakit atau rumah
bersalin dan sekitar 40% ibu menerima hadiah dari perusahaan susu formula untuk bayi.
Penelitian ini juga menemukan hasil bahwa 14,8% bidan menyatakan setuju untuk memberikan
susu formula kepada bayi baru lahir.

Kesimpulan

1. Proporsi pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah melahirkan di Indonesia masih
rendah.
2. Faktor ibu yang berhubungan dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah
melahirkan adalah daerah tempat tinggal, kehamilan yang diinginkan dan akses terhadap media
radio. Besarnya efek daerah dan efek kehamilan diinginkan terhadap pemberian ASI dalam satu
jam pertama setelah melahirkan tergantung pada tenaga periksa hamil.
3. Faktor pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan pemberian ASI dalam satu jam
pertama setelah melahirkan adalah tenaga periksa kehamilan dan penolong persalinan. Besarnya
efek tenaga periksa hamil terhadap pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah melahirkan
tergantung pada daerah tempat tinggal dan kehamilan diinginkan.
4. Faktor bayi yaitu berat lahir berhubungan dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama
setelah melahirkan. Besarnya efek berat lahir terhadap pemberian ASI dalam satu jam pertama
setelah melahirkan tergantung pada penolong persalinan.
5. Faktor yang dominan berhubungan dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah
melahirkan adalah tenaga periksa hamil.

DAFTAR PUSTAKA

1. Badan Pusat Statistik, BKKBN, Departemen Kesehatan (2004). Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia 2002-2003. Jakarta.
2. The World Factbook (2003). Infant mortality rate,
http://www.cia.gov/publication/factbook, diakses Februari 2005.
3. Departemen Kesehatan. Laporan studi mortalitas 2001: pola penyakit penyebab
kematian di Indonesia. Jakarta: Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan RI; 2002
4. Moehji, Sjahmien. Pemeliharaan gizi bayi dan balita. Jakarta: Bhratara Karya Aksara;
1988.
5. Lawrence, R. Breastfeeding a guide for the medical profession, 5 th Ed, Mosby-Inc,
USA; 1994.
6. Whorthington-Roberts, B.S., et al. Nutrition in pregnancy and lactation, 5 th Ed,
Mosby-Inc, USA; 1993.
7. Departemen Kesehatan. Manajemen laktasi, buku pegangan bagi petugas kesehatan.
Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan KesehatanMasyarakat, Departemen Kesehatan
RI; 2002.
8. Fikawati, Sandra& Syafiq, Ahmad. Hubungan antara menyusui segera (immediate
breastfeeding) dan pemberian ASI eksklusif sampai dengan empat bulan. Jurnal
Kedokteran Trisakti. Mei – Agustus; 22 (2); 2003.
9. Irawati, Anies dkk. Pola inisiasi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan
keterlambatan inisiasi ASI di Indonesia, Journal Of Indonesian Nutrition Association,
Jakarta; 1996.
10. Manuaba, Ida Bagus Gede. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan, dan keluarga
berencana untuk pendidikan bidan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG; 1998.
11. Roesli, Utami. Mengenal ASI eksklusif, Jakarta: Trubus Agriwidya; 2000
12. Simandjuntak, Dahlia. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian makanan
pendamping ASI dini pada bayi di Kecamatan Pasar Rebo, Kotamadya Jakarta Timur
Tahun 2001. [Tesis]. Jakarta: Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia; 2002.

Judul : Penatalaksanaan Terkini asma pada Anak

Reviewer : Dewi yanti Siti maryam

Tanggal : 10 Januari 2017

Volume & Halaman : Volume: 55, Nomor:3, Maret 2005

Abstrak

Asma pada anak mempunyai berbagai aspek khuss yang umumnya berkaitan dengan
proses tumbuh kembang seorang anak, baik pada maa bayi, balita, maupun anak besar. Peran
atopi pada asma anak sangat besar dan merupakan faktor terpenting yang harus
dipertimbangkan dengan baik untuk diagnosis dan upaya penatalaksanaan. Mekanisme
senitisasi terhadap alergen serta perkembangan perjalanan alamiah penyakit alergi dapat
memberi peluang untuk mengubah dan mencegah terjadinya asma melalui kontrol lingkungan
dan pngobatan pada seorang anak. Pendidikan pada pasien dan keluarga merupakan unsur
penting penatalaksanaan asma pada anak yang bertujuan untuk memnimalkan morbiditas fisis
dan fsikis serta mencegah disabilitas. Upaya pengobatan asma anak tidak dapat dipisahkan dari
pemberian kortikosteroid.yang merupakan anti-implamasi terpilih untuk semua jenis dan
tingkatan asma. Peberian kortikosteroid topikal melalui inhalasi memberikan hadil sangat baik
untuk mengontrol asma tanpa pengaruh buruk, walaupun pada anak kecil tidak begitu mudah
untuk dilakukan sehingga masih memerlukan alat bantu inhalansi.
Kata kunci: reaksi inflamasi, allergic march, mengi, relievers controllers

Pendahuluan

Penulis mengatakan patogenesis asma berkembang sangat pesat. Pada awal 60-an,
bronkokonstriksi merupakan patogenesis asma, kemudian pada 70-an berkembang menjadi
proses inflamasi kronis, sedangkan tahun 90-an selain inflamasi juga disertai adanya
remodelling. Berkembangnya patogenesis tersebut berdampak pada tatalaksana asma secara
mendasar, sehingga berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi asma.

Selain upaya mencari tatalaksana asma yang terbaik, beberapa ahli membuat suatu
pedoman tatalaksana asma yang bertujuan sebagai standar penanganan asma, misalnya Global
Initiative for Asthma (GINA) dan konsensus Internasional.

Tatalaksana asma dibagi menjadi 2 kelompok yaitu tatalaksana pada saat serangan asma
(eksaserbasi akut) atau aspek akut dan tatalaksana jangka panjang (aspek kronis). Pada asma
episodik sering ada ama persisten, selain penanganan pada saat serangan, diperlukan obat
pengendali (controller) yang diberikan sebagai pencegahan terhadap serangan asma.

Klasifikasi

Klasifikasi asma sangat diperlukan karena berhubungan dengan tatalaksaan lanjutan


(jangka panjang). GINA membagi asma menjadi 4 klasifikasi yaitu asma intermiten, asma
persisten ringan, asma persisten sedang, dan asma persisten berat. Berbeda dengan GINA,
PNAA membagi asma menjadi 3 yaitu asma episodik ringan, asma episodik sedang, dan asam
persisten.

Tatalaksana Asma

Tatalaksana asma anak dibagi menjadi beberapa hal yaitu tatalaksana komunikasi,
informasi, dan edukasi (KIE)pada penderita dan keluarganya, penghindaran terhadap faktor
pencetus, dan medikamentosa. Pada KIE perlu ditekankan bahwa keberhasilah terapi atau
tatalaksana sangat bergantung pada kerja saa yang baik antara keluarga (penderita) dan dokter
yang menanganinya.

Tatalaksana medikamentosa dibagi dalam dua kelompok besar yaitu tatalaksana saat
serangan dan tatalaksana jangka panjang. Pada saat serangan pemberian α-2 agonis pada awal
serangan dapat mengurangi gejala dengan cepat. Bila diperlukan dapat diberikan kortikosteroid
sistemik pada serangan sedang dan berat.

Tatalaksana jangka panjang (aspek kronis) pada asma anak diberikan pada asma
episodik sering dan persisten, sedangkan pada asma episodik jarang tidak diperlukan.

Pada tahap awal, diosis kortikosteroid yang diberikan dimulai dengan dosis rendah
(pada anak ≥12 tahun setara dengan budesonide 200-400 mg, sedangkan pada anak ≤12 tahun
100-200 mg) dan dipertahankan untuk beberapa saat (6-8 minggu) aabila keadaan asmanya
stabil. Peberian dosis tersebut mempunyai efektivitas yang baik pada asma yang membutuhkan
obat pengendali. Selain itu efek samping yang di kuatirkan yaitu gangguan pertumbuhan tidak
terjadi dengan kartikosteroid dosis rendah. Bila gejaa asma sudah stabil dosis dapat diyurunkan
secara perlahan sampai akhirnya tidak mengunakan obat lagi.

Apabila dengan peberian kortikosteroid dosis rendah hasilnya belum memuaskan, dapat
dikombinasi dengan long acting beta-2 agonist (LABA) atau dengan theophylline slow release
(TSR), atau dengan antileukotrien, atau menigkatkan dosis kortikosteroid menjadi dosis
medium (setara dengan budesonide 200-400 ug). Pemberian kortikosteroid secara inhalasi
tidak mempunyai efek samping terhadap tumbuh kemnang anak selama dosis yang diberikan
≤400 ug dan dengan cara yang benar.

Kesimpulan

Asma merupakan penyakit respiratorik kroni yang ditandai adanya proses inflamasi
yang disertai proses remodelling. Prevalensi asma meningkat dari waktu ke waktu yang
berhubungan dengan pola hidup dan polusi. Klasifikasi asma adalah asma espisodik jarang,
asma episodik sering, dan asma persisten. Pada asma episodik jarang hanya diberikan obat
reliever saja tanpa controller, sedangkan pada asma episodik sering dan persisten diperlukan
terapi jangka panjng (controller).pada terapi jangka panjang setelah diberikan kortikosteroid
dosis rendah kurang memuaskan dapat diberikan terapi kombinasi kortikosteroid dosis rendah
dan LABA, atau TSR, atau antileukotrien. Terapi kombinasi tersebut dapat memperbaiki uji
fungsi paru, gejala asma, dan aktivitas sehari-hari yang pada akhirnya meningkatan kualitas
hidup anak asma. Dengan kombinasi diatas, dosis kortikosteroid dapat diturunkan sehingga
efek samping terhadap tumbuh kembang anak dapat dikurangi. Terapi kombinasi tersebut
merupakan suatu harapan baru dalam tatalaksana asma.

Kelebihan Penelitian

1. Teori dan model analiis yang digunakan sangan baik dan tepat
2. Bahasa yang di gunakan penulis dapat dengan udah dipahami maksud dan tujuannya
oleh pembaca.

Kelemahan Penelitian

-
REVIEW JURNAL

Judul HUBUNGAN POLA PERAWATAN


PADA ANAK UBERKULOSIS
PARU PRIMER DENGAN LAMA
PENYEMBUHAN PADA ANAK
USIA 1 -6 TAHUN DI DESA CIBUNTU
CIBITUNG BEKASI 2007
Jurnal Sport and Fitness Journal
ISSN : 2302-688X
Download JURNAL KESEHATAN SURYA
MEDIKA YOGYAKARTA
Volume & Halaman Volume 4, No.1 : 25-36, April 2016

Tahun
Penulis Yomah Yuliana
Reviewer Fariz gimnastiar fauzi
Tanggal 1-1-2017
Abstrak
Pola perawatan orang tua terhadap anak TB Paru primer dapat
mendukung masa penyembuhan pasien, yang meliputi: lingkungan
perumahan,pemantauan pengobatan, pemenuhan kebutuhan nutrisi,
pemenuhan istirahat, perawatan masalah khusus pada gangguan pernafasan
dan pemenuhan rasa nyaman (Ngatsiyah, 2003). Menurut Bahar 2001 ,
pengobatan pasien TB dalam jangka waktu yang panjang dan telah melebihi
masa penyembuhan yang semestinya (6-9 bulan) akan memerlukan biaya
yang lebih banyak, dengan ditemukannya rifampisin terjadi
semacam”minirevolusi” dalam kemo terapi terhadap tuberculosis, karena
jangka waktu pengobatan dapat dipersingkat menjadi 6-9 bulan. Tujuan
penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara pola perawatan pada
anak TB Paru primer dengan lama penyembuhan pada anak usia 1 -6 tahun di
desa Cibuntu, Cibitung, Bekasi.
Pendahuluan
Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan
nasional dan keduanya saling terkait. Tujuan pembangunan kesehatan
adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup
sehat masyarakat yang optimal tanpa membedakan status sosial. Upaya
tersebut sesuai dengan kebijakan pemerintah Republik Indonesia yang di
kenal dengan “Indonesia Sehat 2010”, yang pada intinya menekankan peran
serta aktif masyarakat untuk memelihara kesehatan secara mandiri (Dep Kes
RI, 2000).
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang telah lama dikenal.
Penyakit ini menjadi masalah yang cukup besar bagi kesehatan masyarakat
terutama di negara yang sedang berkembang. Tuberculosis merupakan
penyebab utama kematian diantara berbagai infeksi yang dilaporkan.
Penyakit ini sangat menular dan menyerang semua umur.
Indonesia diantara tiga juta penduduk yang suspek tuberkulosis,
220.000 dengan sputum BTA positif atau 2,4 per seribu penduduk. Menurut
Amin (1999), tuberkulosis merupakan penyakit nomer satu dan merupakan
penyebab kematian nomer tiga.
Sebagaimana disebutkan Depkes RI (2001) sejak tahun 1995 program
pemberantasan penyakit TB paru telah dilaksanakan dengan strategi DOTS
(Directly Observed Treatment Shortcourse), dimana strategi ini dapat
memberikan angka kesembuhan yang tinggi dan paling costeffective. Adapun
secara jelasnya strategi penanggulangan TB nasional antara lain:
Paradigma sehat dilakukan dengan meningkatkan penyuluhan untuk
menemukan kontak sedini mungkin serta meningkatkan cakupan program.
Promosi kesehatan dalam rangka prilaku hidup sehat yang meningkat serta
upaya perbaikan perumahan dan peningkatan status gizi (Dep Kes RI, 2001).
Strategi DOTS ditekankan pada pengobatan dengan panduan OAT
jangka pendek dan PMO (Pengawas Minum Obat) secara langsung.
Peningkatan mutu pelayanan terutama pada ketersediaan OAT untuk semua
penderita TB, ketepatan diagnosa TB, kualitas laboratorium dan
http://www.skripsistikes.wordpress.com
pembentukan kelompok puskesmas pelaksana (KPP). Pengembangan
program dilakukan secara bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan.
Peningkatan kerjasama dengan semuah pihak. Kabupaten/kota sebagai titik
berat manajemen program. Kegiatan penelitian dan pengembangan.
Memperhatikan komitmen internasional (Dep Kes RI, 2001).
Visi dari program nasional penanggulangan TB paru adalah TB tidak
lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Untuk mendukung visi tersebut
ditetapkan tujuan berupa jangka panjang dan jangka pendek (Dep Kes RI,
2001).
Tujuan jangka panjang yaitu menurunkan angka kesakitan dan angka
kematian dengan cara memutuskan rantai penularan. Sementara tujuan
jangka pendeknya adalah tercapainya angka kesembuhan minimal 85% dari
semua penderita baru yang ditemukan serta tercapainya cakupan penemuan
penderita secara bertahap sehingga pada tahun 2005 dapat mencapai 70%
(Dep Kes RI, 2001).
Untuk mencapai tujuan tersebut ditetapkan target program adalah
angka konversi pada akhir pengobatan tahap intensif minimal 80%, angka
kesembuhan minimal 85% dari kasus baru. Selain itu penyediaan OAT
diberikan secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaanya (Dep kes RI, 2001).
Lebih dari 100 tahun tuberkulosis masih merupakan sebuah masalah
kesehatan masyarakat di berbagai penjuru dunia, tetapi kini tuberculosis
dianggap sebagai suatu penyakit yang sudah dapat dicegah dan diobati
namun tetap memerlukan perhatian masyarakat (Smeltzer, 2001). Meskipun
obat – obatan dan vaksin untuk penyakit tuberculosis sudah lama ditemukan,
namun penyakit yang dikenal sejak ratusan tahun ini belum dapat
dimusnahkan. Angka kejadian infeksi masih tetap tinggi bahkan cenderung
meningkat pesat sejalan dengan pesatnya laju pertumbuhan penduduk.
Sesudah beberapa puluh tahun penurunan insidensi tuberculosis, angka
kasus tuberculosis telah bertambah secara dramatis selama decade terakhir
ini. Hampir 1,3 juta kasus dan 450.000 kematian terjadi pada anak setiap
tahun. Insiden tuberculosis masa anak bertambah 40% di Amerika Serikat
dari tahun 1987 sampi tahun 1993 sebagai akibat kemiskinan, imigrasi dari
negara yang berprevalensi tinggi, epidemi infeksi virus imunodefisiensi
http://www.skripsistikes.wordpress.com
manusia (HIV), dan keterbatasan pada pelayanan perawatan (Richard. Et al,
2000).
Tuberkulosis primer disebut juga penyakit tuberkulosis pada bayi dan
anak serta merupakan penyakit sistemik, juga penyakit menular yang
disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosa tipe humanus ( jarang oleh
tipe Mycobacterium bovines ). Mycobacterium tuberculosa masuk melalui
saluran nafas (droplet infection) sampai alveoli terjadilah infeksi primer. Lesi
di dalam paru dapat terjadi dimanapun terutama di perifer dekat pleura. Lebih
banyak terjadi di bagian bawah paru dibandingkan dengan bagian atas.
Pembesaran kelenjar regional lebih banyak terdapat pada anak dan
penyembuhan terutama kearah kalsifikasi serta penyebaran hematogen lebih
banyak terjadi pada bayi dan anak kecil (Ngastiyah, 2003).
Masalah klinis yang sering dihadapi adalah sulitnya diagnosis karena
gambaran rontgen paru dan gambaran klinis yang tidak terlalu khas,
sedangkan penemuan basil TB sulit. Anak biasanya tertular sumber infeksi
yang umumnya penderita TB dewasa. Anak yang tertular TB disebut
mendapat infeksi primer TB. Penyakit TB biasanya menimbulkan gejala,
tetapi karena gejala tersebut seringkali tidak jelas maka pasien atau orang
tuanya tidak menyadari atau memeperhatikannya.
Penatalaksanaan tuberkulosis primer ini berhubungan dengan
penatalaksanaan secara medik dan keperawatan. Untuk penyembuhan
pasien tuberkulosis hanya dengan pengobatan yang spesifik dan adekuat
serta ditunjang dengan perawatan yang benar, sehingga seharusnya pasien
tuberkulosis dapat sembuh dalam waktu 1 tahun (Ngastiyah, 2003). Menurut
Bahar (2001), dengan ditemukanya Rifampisin terjadi semacam “Mini
revolusi” dalam kemotherapi terhadap tuberculosis, karena jangka waktu
pengobatan dapat dipersingkat menjadi 6-9 bulan.
Tuberculosis primer cenderung sembuh sendiri, akan tetapi sebagian
besar menyebar lebih lanjut dan dapat menimbulkan komplikasi. Juga dapat
meluas kedalam jaringan paru sendiri. Basil tuberculosis dapat masuk
langsung ke dalam aliran darah atau melalui kelenjar getah bening. Didalam
aliran darah basil dapat mati atau dapat pula berkembang terus, hal ini
tergantung pada keadaan pasien serta virulensi kuman. Melalui aliran darah
basil dapat mencapai alat tubuh lain seperti selaput otak, tulang, hati, ginjal,
http://www.skripsistikes.wordpress.com
dan lainnya. Dalam alat tubuh tersebut basil tuberkulosis dapat segera
menimbulkan penyakit (Ngastiyah. 2003).
Pengobatan pasien tuberkulosis dalam jangka waktu yang panjang dan
telah melebihi masa penyembuhan yang semestinya (6 sampai 9 bulan) akan
memerlukan biaya yang lebih banyak (Bahar, 2001). Pola perawatan orang
tua terhadap anak tuberkulosis primer dapat mendukung masa penyembuhan
pasien, yang meliputi : lingkungan perumahaan, pemantauan pengobatan,
pemenuhan kebutuhan nutrisi, pemenuhan istirahat, dan perawatan masalah
khusus pada gangguan pernafasan dan pemenuhan rasa nyaman. Dengan
lama waktu pengobatan yang lebih panjang dari yang seharusnya sering
orang tua tidak sabar dan merasa kasihan pada anaknya karena harus terus
minum obat maka orang tua tidak datang membawa berobat kembali anaknya
sehingga obat akan berhenti sebelum waktunya yang justru dapat
menimbulkan komplikasi yang sebagian besar terjadi dalam 2 bulan setelah
terjadinya penyakit dan merupakan fokus reaktivasi nantinya (Ngastiyah,
2003).
Menurut Kusmardhani (1995), tuberkulosis pada anak berhubungan
erat dengan gangguan nutrisi yang mengandung gizi yang akan
mempengaruhi tumbuh kembang anak. Komplikasi yang merupakan
penyebaran patogen pada tuberkulosis anak dapat terjadi di tulang, kelenjar
getah bening dan penyebaran dapat menyebabkan tuberkulosis milier dan
meningitis tuberkulosis yang mengenai selaput otak sehingga terjadi keadaan
morbiditas dan mortalitas yang besar terutama pada bayi dan anak kecil
(Braunwald, 2000). Selain itu juga akan timbul resistensi kuman
mycobacterium tuberculosa terhadap beberapa obat anti tuberculosis (OAT)
sebagai akibat dari pengobatan yang tidak tuntas (Depkes RI, 2000).
Setelah dilakukan wawancara terhadap ibu-ibu sebanyak 15 orang
pada tanggal 1 -3 Juni 2007 maka data yang didapat 65% penderita TB primer
dari golongan umur 1 -6 tahun, 5% dari golongan usia lebih dari 6 tahun, 10%
dari golongan remaja sampai dengan dewasa, 20% merupakan golongan
orang tua. Dari data tersebut didapatkan jumlah terbanyak penderita adalah
dari golongan usia 1 -6 tahun sebanyak 65% penderita TB paru primer. Dari
15 penderita telah melakukan kemotherapi dengan pengobatan jangka
pendek (6-9 bulan), dan didapatkan data dari 9 responden sembuh pada 10-
http://www.skripsistikes.wordpress.com
12 bulan, 4 responden sembuh pada 6-9 bulan, 2 responden sembuh lebih
dari 1 tahun.
Adapun pola perawatan yang dilakukan ibu dalam penanganan anak
TB paru primer yaitu ibu melakukan perawatan penderita sama dengan
penderita panyakit lain, tetapi ibu terkadang lupa mengawasi penderita untuk
menelan obat secara teratur sesuai anjuran. Selanjutnya pola pemenuhan
nutrisi, ibu tidak memberikan menu yang bergizi setiap hari kepada penderita.
Pola istirahat, ibu tidak mengatur pola istirahat yang baik serta efektif bagi
penderita. Olah raga, ibu kurang menganjurkan si penderita untuk berolah
raga di tempat terbuka, olah raga hanya di lakukan satu kali dalam seminggu.
Pola perawatan lingkungan, ibu selalu membersihkan lingkungan rumah dan
kamar si penderita setiap hari, akan tetapi jendela rumah & kamar tidak di
buka setiap hari dikarenakan banyaknya polusi (debu).
Didalam program pencegahan TB paru primer di Desa Cibuntu
Cibitung Bekasi dilakukan dengan pemberian Imunisasi BCG pada bayi baru
lahir, serta pemberian penyuluhan kesehatan tentang TB paru. Namun masih
banyak dijumpai jangka waktu pengobatan menjadi panjang sehingga waktu
penyembuhan menjadi lebih lama.
Terkait dengan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai “hubungan pola perawatan pada anak tuberkulosis paru
primer dengan lama penyembuhan pada anak usia 1 -6 tahun di Desa Cibuntu
Cibitung Bekasi ”. Sedangkan perumusan masalahnya adalah : “Apakah ada
hubungan pola perawatan pada anak TB primer dengan lama penyembuhan
pada anak usia 1 -6 tahun di Desa Cibuntu Cibitung Bekasi”.
Pembahasan
Pada bagian pembahasan, penulis membagi sub pokok bahasan menjadi tiga bagian,
yaitu:
Pertama, Pola Perawatan. Pola perawatan terhadap anak TB Paru
primer dapat mendukung masa penyembuhan pasien, yang meliputi:
lingkungan perumahan, pemantauan pengobatan, pemenuhan kebutuhan
nutrisi, pemenuhan istirahat, perawatan masalah khusus pada gangguan
pernafasan dan pemenuhan rasa nyaman (Ngatsiyah, 2003). Hasil penelitian
menunjukkan dari 30 responden 18 ibu (60%) berpola perawatan baik, dan 12
ibu (40%) berpola perawatan sedang. Pasien dengan TB tidak dirawat
dirumah sakit oleh karena jumlahnya cukup banyak dan dapat dirawat
dirumah kecuali bila terjadi komplikasi seperti TB milier, meningitis TB,
pleuritis dan sebagainya (Sacharin. R.M, 1999).
Keluarga merupakan unit dasar dari masyarakat manusia dan dalam
unit ini lahirlah anak yang lebih muda yang sebagian besar dari kebutuhan
perkembangan harus dipenuhi oleh ayah dan ibu si anak. Jika salah satu dari
kebutuhan dasar tidak dipenuhi secara adekuat, perkembangan akan
terhambat atau terganggu. Disamping itu keluarga merupakan unit utama
dimana pencegahan dan pengobatan dilakukan serta diperlukannya
keterlibatan dan dukungan dalam keluarga, sehingga tanpa hal itu maka
rehabilitasi akan lebih sukar (Sacharin. R.M, 1999). Jadi mayoritas
responden berpola perawatan baik 18 ibu (60%), dilihat dari pemantauan /
http://www.skripsistikes.wordpress.com
pengawasan pengobatan sebanyak 8 responden dengan kriteria baik,
pemenuhan kebutuhan nutrisi sebanyak 7 responden dengan kriteria baik,
dan 3 reponden dengan kriteria baik untuk lingkungan perumahan, kebutuhan
aktivitas dan istirahat.
Pemantauan/ pengawasan pengobatan sebanyak 8 responden dengan
kriteria baik Penderita TB paru yang berobat tidak teratur memiliki resiko
untuk tidak sembuh sebesar 6,91 kali dibandingkan dengan penderita yang
berobat teratur. Untuk itu sangat diperlukan dukungan keluarga untuk
memantau dan memotivasi penderita supaya tidak lalai dalam minum obat
dan mengambil obat bila obat akan habis. Pengawasan yang ketat dalam
pengobatan sangat penting untuk mencegah resistensi kuman TB terhadap
obat dan kekambuhan (Kusnarto, 1995).
Pemenuhan kebutuhan nutrisi sebanyak 7 responden, Selain obat
yang diminum teratur, penderita TB perlu makanan yang bergizi.
Sebagaimana yang disebutkan oleh Aris (2000), bahwa 89,61% penderita TB
dengan gizi jelek dan hanya 10,39% dengan status gizi baik. Ditegaskan pula
bahwa status gizi berpengaruh terhadap penularan penyakit TB paru.
Setatus gizi yang buruk dapat mempengaruhi tanggapan tubuh berupa
pembentukan antibodi dan limfosit terhadap adanya kuman penyakit. Untuk
pembentukan ini diperlukan bahan baku protein dan karbohidrat, sehingga
pada anak dengan gizi jelek produksi antibody dan limfosit terhambat. Selain
itu gizi yang buruk dapat menyebabkan gangguan imunologis dan
mempengaruhi proses penyembuhan penyakit (Alsagaf & Mukty, 1999).
Diet penderita TB harus cukup mengandung protein. Makanan tidak
cukup hanya nasi dan sayur saja tetapi perlu lauk-pauk seperti ikan,daging,
http://www.skripsistikes.wordpress.com
telur dan susu. Akibat dari kuman TB, paru-paru menjadi keropos dan terjadi
proses pengkapuran (kalsifikasi). Sehingga penderita perlu asupan zat kapur
lebih banyak. Zat kapur banyak terkandung pada susu, ikan teri atau tablet
kalsium. Jadi makanan bergizi dan zat kapur ibarat semen untuk menebalkan
bagian tubuh / paru yang berlubang dan keropos akibat digerogoti kuman TB
(Nadesul, 2000).
Untuk lingkungan perumahan, kebutuhan aktivitas dan istirahat yang
sebesar 3 reponden. Dikarenakan banyaknya responden yang tinggal
dilingkungan/areal industri dan jarangnya ibu-ibu yang mengajak anaknya
untuk berolah raga ditempat yang berudara segar secara rutin. Lingkungan
rumah yang berpengaruh mendukung kesembuhan serta mencegah
penularan antara lain sanitasi perumahan, kepadatan hunian, ventilasi serta
pencahayaan. Pemukiman yang sehat dirumuskan sebagai tempat tinggal
secara permanent, berfungsi sebagai tempat bermukim, beristirahat,
bersantai dan berlidung dari pengaruh lingkungan, yang memenuhi
persyaratan fisiologis, psikologis, bebas dari penularan penyakit dan
kecacatan. Upaya dalam mendukung perawatan penderita TB paru seperti
lantai rumah dibuat dari tegel atau semen dan tidak lembab. Apabila lantai
masih tanah, diusahakan permukannya dibuat rata, dan jika akan menyapu
lantai hendaknya disiram dulu sehingga akan mengurangi debu berterbangan
(Depkes RI, 1997). Ventilasi dan pencahayaan berpengaruh pada kesegaran
dan kelembaban lingkungan rumah, dimana hal tersebut dapat
mempengaruhi kondisi penderita (Notoatmodjo, 2003)
Aktivitas seperti olah raga sangat dibutuhkan oleh tubuh termasuk
penderita TB primer untuk mendapatkan kesegaran fisik dan meningkatakan
http://www.skripsistikes.wordpress.com
daya tahan tubuh. Usahakan olah raga ditempat terbuka yang berudara segar
sehingga paru-paru bisa lebih penuh mengembang. Udara segar banyak
mengandung zat asam yang menyehatkan paru-paru, membuat aliran darah
lancer (Nadesul, 2000).
Tubuh juga memerlukan istirahat untuk menghindari kelelahan dan
kelemahan. Istirahat bisa dengan tidur siang atau kegiatan santai yang
menghibur dan tidak memrlukan benyak tenaga. Kebutuhan istirahat tidur
anak harus diperhatikan, malam 10-12 jam dan siang 1 -2 jam, dan anak tidak
boleh tidur terlalu malam (Lewer Helen, 1996). Perlu diketahui pula agar anak
menghindari udara dingin, udara malam, terhembus angin kencang, aktivitas
yang berkutat dengan debu, menghirup gas / minyak wangi yang
kesemuanya dapat menimbulkan batuk. Setiap batuk akan membuat luka
diparu-paru menjadi terkoyak / menganga. Untuk itu perlu disediakan obat
batuk dirumah apabila terjadi batuk darah atau bahkan muntah darah, segera
bawa anak kerumah sakit karena kondisi tersebut berbahaya dan
memerlukan pengobatan dan perawatan dirumah sakit secara intensif
(Alsagaf & Mukty, 1999).
Sedangkan 12 ibu (40%) berpola perawatan sedang, dilihat dari
masalah pernafasan 6 responden berpola pernafasan sedang dan
pemenuhan rasa nyaman sebanyak 6 responden berpola perawatan sedang.
Masalah pernafasan terdapat 6 responden sesuai dengan Penderita
TB paru primer dapat beragam keadaanya, dari yang tanpa gejala hingga
dengan gejala berat dan dapat menyebabkan kematian. Gejala yang umum
adalah batuk dan produksi sputum yang banyak. Selain itu adanya destruksi
dan proses peradangan pada parenkhim paru dapat menimbulkan gangguan
http://www.skripsistikes.wordpress.com
fungsi pernafasan. Batuk kadang tidak menyesakkan penderita tetapi dengan
batuk dapat melelahkan dan berakibat pada kecepatan pernafasan serta
memerlukan peningkatan usaha pernafasan. Hambatan mukus / sputum
membuat jalan nafas tidak efektif, hal ini dapat menyebabkan atelektasis dan
gangguan pertukaran gas antara alveolar dan membrane kapiler. Dari
kerusakan parenkhim dan kavitas membuat perubahan transport gas dengan
berkurangnya daerah untuk difusi (Bahar, 2001).
Adanya masalah tersebut yaitu pola nafas tidak efektif karena batuk,
jalan nafas tidak efektif karena peningkatan secret dan gangguan pertukaran
gas, perlu dilakukan tindakan / perawatan pada penderita. Upaya yang dapat
dilakukan keluarga antara lain (Tucker, Et al 1995: Cit Fadul, 2000) :
Memantau tanda-tanda vital penderita dan gejala hipoksia seperti : denyut
jantung yang cepat, nadi yang keras, nafas cepat dan sesak, irama jantung
tidak teratur, pusing kelelahan dan bingung. Batasi aktivitas fisik, anjurkan
pendrita untuk istirahat. Atur posisi penderita sehingga dapat bernafas
optimal, posisi semi fowler (setengah duduk) atau high fowler (duduk).
Membantu penderita batuk secara efektif untuk mengeluarkan dahak, bagian
kepala ditinggalkan dan posisi pendrita miring untuk memudahkan
keluararnya dahak. Berikan banyak minum untuk memberikan kebutuhan
cairan dan mengencerkan dahak. Akan lebih baik lagi bila diberikan jus buahbuahan. Atur
waktu istirahat dan aktivitas penderita untuk menghindari
kelelahan. Beri penderita obat batuk yang dianjurkan untuk mengurangi batuk
dan memudahkan pengeluaran dahak.
Rice (1996: Cit Aris, 2000), menambahkan untuk kualitas udara rumah
bagi pederita agar menghindari kondisi yang dapat mengiritasi pernafasan
http://www.skripsistikes.wordpress.com
seperti tidak merokok, bebas bulu binatang, debu, serbuk sari, spray,
perubahan mencolok temperature ruangan. Anjurkan pendrita untuk tinggal
dirumah bila udara luar berdebu dan polusi yang buruk. Gunakan sleyer atau
masker agar melindungi muka bila cuaca dingin untuk mencegah
bronkhospasme. Dengan usaha tersebut diharapkan batuk dan sesak nafas
berkurang, kecepatan, kedalam dan suara nafas normal.
Pemenuhan rasa nyaman terdapat 6 responden hal ini sesuai dengan
teori Sebagaimana diketahui bahwa gejala TB antara lain demam, menggigil,
keringat malam, batuk-batuk, badan lemah bahkan nyeri dada. Kesemua hal
tersebut membuat pendrita tidak nyaman. Tidak enak / tidak rileks, dan
sangat mengganggu tidur, akibatnya pendrita tidak bisa istirahat dengan
cukup.
Tindakan yang dapat dilakukan oleh keluarga antara lain (Calne &
Bufalino,(1987 Cit Fadul, 2000): Pantau suhu tubuh penderita paling tidak tiap
4 jam, berikan obat turun panas bila perlu atau kompres untuk menurunkan
suhu tubuh. Anjurkan penderita untuk mandi sebelum tidur dan atau pada
pagi hari supaya badan terasa segar, tidak terjadi pusing pagi hari. Ganti alatalat tenun yang
basah / lembab pada tempat tidur pendrita, untuk
memberikan rasanyaman saat tidur dan mencegah iritasi kulit. Sediakan
pakaian yang kering dan bersih untuk penderita. Atur kegiatan dan aktivitas
penderita sehingga tidak mengganggu waktu tidur. Jaga ketenangan saat
penderita sedang tidur. Rencanakan atau atur waktu istirahat penderita tiap
hari.
Peranan orang tua menekankan sifat mengalir dari hubungan anak
orang tua dan pentingnya memahami pengaruh-pengaruh resiprokal dan
http://www.skripsistikes.wordpress.com
interaktif antara orang tua, bayi dan lingkungan dalam pengembangan
peranan orang tua yang berkembang sejalan dengan perkembangan anak
(Burns Et al, 1996: Cit Fadul, 2000).
Perawatan penderita TB paru primer diutamakan kepada keluarga
(orang tua) dan lingkungan sekitar. Untuk itu diharapkan keluarga mampu
merawat anggota keluarganya (Depkes RI, 2000) yaitu dengan : Mengawasi
anggota keluarga yang sakit untuk menelan obat secara teratur sesuai
anjuran. Mengetahui adanya gejala samping obat dan secara teratur sesuai
anjuran. Memberikan makanan bergizi. Memberikan waktu istirahat kepada
anggota keluarga yang sakit minimal 8 jam perhari. Olah raga secara teratur
di tempat yang berudara segar. Memodifikasi lingkungan yang dapat
mendukung kesembuhan penderita TB paru primer, antara lain
mengupayakan rumah yang memenuhi persyaratan kesehatan misalnya
mempunyai jendela atau ventilasi yang cukup, bebas debu rumah dan lantai
tidak lembab.
Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang pertama
tingkat pendidikan responden yang terbanyak SLTA sebanyak 11 reponden
(36,67%), kemudian SD sebanyak 8 responden (26,67%), selanjutnya SLTP
sebanyak 6 responden (20%), dan yang terakhir Perguruan Tinggi (PT)
sebanyak 5 responden (16,66%). Pendidikan merupakan hal yang sangat
penting, karena pendidikan sangat mempengaruhi pola piker seseorang
tenteng sesuatu hal yang nantinya akan berpengaruh dalam pengambilan
keputusan tertentu. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan
semakin besar juga pengetahuan yang dimiliki, dan tingginya tingkat
http://www.skripsistikes.wordpress.com
pendidikan seseorang akan berdampak pada kemudahan seseorang dalam
meningkatkan kesejahteraan hidup (Notoatmodjo, 2003).
Faktor yang yang selanjutnya yaitu Pekerjaan Ibu dari hasil penelitian
didapatkan pekerjaan ibu yang mendominasi yaitu Ibu Rumah Tangga (IRT)
sebanyak 15 responden (50%), kemudian terbanyak kedua Petani dengan
jumlah 7 responden (23,33%), selanjutnya Wirasuwasta sebanyak 6
responden (20%),dan yang terakhir PNS sebanyak 2 responden (%6,67).
Pada umumnya pemenuhan kebutuhan primer sehari-hari sama pentingnya
dengan pemeliharan kesehatan pada anak penderita TB primer melalui pola
perawatan yang benar dan teratur guna penyembuhan penyakit tepat pada
waktunya. Pendidikan juga mempengaruhi kegagalan pengobatan, makin
rendahnya pendidikan penderita menyebabkan kurangnya pengertian
penderita terhadap penyakit dan bahayanya (Zoebir, 1981, Cit Aris, 2000).
Dan faktor yang terakhir yaitu usia anak dari hasil penelitian
didapatkan hasil terbanyak yaitu anak dengan usia 3-4 tahun sebanyak 11
anak (36,67%), kemudian terbanyak keduan yaitu usia 1 -2 tahun sebanyak 10
anak (33,33%), dan yang terakhir 5-6 tahun sebanyak 9 anak (30%).
Tuberculosis primer merupakan peradangan yang terjadi sebelum tubuh
mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil Mycobacterium tuberculosa
(Amin, 1999). Umur penderita dapat mempengaruhi kerja dan efek obat
karena metabolisme obat dan fungsi ginjal kurang efisien pada bayi dan pada
orang tua. Sehingga akan menimbulkan efek lebih kuat dan lebih panjang
pada kelompok ini. Fungsi ginjal akan menurun sejak usia 20 tahun, pada
usia 50 tahun menurun 25% dan pada usia 75 tahun turun 50% (Tanzil, 1992;
Cit Fadul, 2000).
http://www.skripsistikes.wordpress.com
Kedua, Lama Penyembuhan. Dari 30 responden didapatkan hasil
sebanyak 13 anak (43,33%) sembuh sedang 10-12 bulan, kemudian 9 anak
(30%) sembuh cepat 6-9 bulan, dan yang terakhir 8 anak (26,67%) sembuh
lambat >12 bulan. Menurut Ngastiyah (2003), dalam penyembuhan penyakit
TB dapat dicapai dengan pengobatan spesifik yang adekuat dan didukung
perawatan yang benar yaitu meliputi kepatuhan minum obat, kepatuhan
datang berobat, kebutuhan makanan yang cukup mengandung gizi,
kebutuhan istirahat tidur, kebersihan lingkungan dan ventilasi udara sekitar
tempat tinggal. Sehingga pasien dengan TB primer seharusnya dapat
sembuh dalam waktu 1 tahun.
Menurut Bahar (2001), dengan ditemukannya rifampisin terjadi
semacam “mini revolusi” dalam kemoterapi terhadap TB, karena jangka waktu
pengobatan dipersingkat menjadi 6-9 bulan. Telah ditegakkan dengan baik
bahwa regimen INH dan Rifampisin menyembuhkan lebih dari 98% kasus TB
sesudah pemberian pengobatan setiap hari selama 1 -2 bulan pertama, kedua
obat dapat diberikan setiap hari atau 2 kali seminggu selama sisa 7-8 bulan
dengan hasil yang sama dan frekuensi reaksi yang merugikan rendah.
Penambahan PZA pada permulaan regimen mengurangi lamanya keperluan
pengobatan menjadi 6 bulan dimana anak dengan pengobatan harus
mendapatkan perawatan pendukung secara teliti dengan mendorong
ketaatan pada terapi, memantau reaksi toksik pada pengobatan, nutrisi yang
cukup adalah penting dan penderita harus diperiksa setiap bulan dan harus
diberikan pengobatan yang cukup berakhir sampai kunjungan berikutnya. Jadi
mayoritas responden yaitu sembuh sedang 10-12 bulan sebanyak 13 anak
(43,33%). Hal ini dipengaruhi oleh masalah pernafasan sebanyak 6
http://www.skripsistikes.wordpress.com
responden dengan kategori sedang, dan pemenuhan kebutuhan nutrisi
dengan kategori baik sebanyak 7 responden.
Masalah pernafasan terdapat 6 responden sesuai dengan Penderita
TB paru primer dapat beragam keadaanya, dari yang tanpa gejala hingga
dengan gejala berat dan dapat menyebabkan kematian. Gejala yang umum
adalah batuk dan produksi sputum yang banyak. Selain itu adanya destruksi
dan proses peradangan pada parenkhim paru dapat menimbulkan gangguan
fungsi pernafasan. Batuk kadang tidak menyesakkan penderita tetapi dengan
batuk dapat melelahkan dan berakibat pada kecepatan pernafasan serta
memerlukan peningkatan usaha pernafasan. Hambatan mukus / sputum
membuat jalan nafas tidak efektif, hal ini dapat menyebabkan atelektasis dan
gangguan pertukaran gas antara alveolar dan membrane kapiler. Dari
kerusakan parenkhim dan kavitas membuat perubahan transport gas dengan
berkurangnya daerah untuk difusi (Bahar, 2001).
Rice (1996, Cit Aris, 2000), menambahkan untuk kualitas udara rumah
bagi pederita agar menghindari kondisi yang dapat mengiritasi pernafasan
seperti tidak merokok, bebas bulu binatang, debu, serbuk sari, spray,
perubahan mencolok temperature ruangan. Anjurkan pendrita untuk tinggal
dirumah bila udara luar berdebu dan polusi yang buruk. Gunakan sleyer atau
masker agar melindungi muka bila cuaca dingin untuk mencegah
bronkhospasme. Dengan usaha tersebut diharapkan batuk dan sesak nafas
berkurang, kecepatan, kedalam dan suara nafas normal.
Pemenuhan kebutuhan nutrisi sebanyak 7 responden, Selain obat
yang diminum teratur, penderita TB perlu makanan yang bergizi.
Sebagaimana yang disebutkan oleh Aris (2000), bahwa 89,61% penderita TB
http://www.skripsistikes.wordpress.com
dengan gizi jelek dan hanya 10,39% dengan status gizi baik. Ditegaskan pula
bahwa status gizi berpengaruh terhadap penularan penyakit TB paru.
Dan yang terbanyak kedua yaitu responden dengan kategori sembuh
cepat 6-9 bulan sebanyak 9 anak (30%). Hal ini dipengaruhi oleh Pemenuhan
rasa nyaman sebanyak 6 reponden dengan kategori sedang, Keadaan
lingkungan rumah,Kebutuhan aktivitas istirahat sebanyak 3 responden
dengan kategori baik.
Pemenuhan rasa nyaman terdapat 6 responden Tindakan yang dapat
dilakukan oleh keluarga antara lain (Calne & Bufalino, (1987, Cit Fadul, 2000):
Pantau suhu tubuh penderita paling tidak tiap 4 jam, berikan obat turun panas
bila perlu atau kompres untuk menurunkan suhu tubuh. Anjurkan penderita
untuk mandi sebelum tidur dan atau pada pagi hari supaya badan terasa
segar, tidak terjadi pusing pagi hari. Ganti alat-alat tenun yang basah /
lembab pada tempat tidur pendrita, untuk memberikan rasanyaman saat tidur
dan mencegah iritasi kulit. Sediakan pakaian yang kering dan bersih untuk
penderita. Atur kegiatan dan aktivitas penderita sehingga tidak mengganggu
waktu tidur. Jaga ketenangan saat penderita sedang tidur. Rencanakan atau
atur waktu istirahat penderita tiap hari.
Untuk lingkungan perumahan, kebutuhan aktivitas dan istirahat yang
sebesar 3 reponden. Dikarenakan banyaknya responden yang tinggal
dilingkungan/areal industri dan jarangnya ibu-ibu yang mengajak anaknya
untuk berolah raga ditempat yang berudara segar secara rutin. Lingkungan
rumah yang berpengaruh mendukung kesembuhan serta mencegah
penularan antara lain sanitasi perumahan, kepadatan hunian, ventilasi serta
pencahayaan. Pemukiman yang sehat dirumuskan sebagai tempat tinggal
http://www.skripsistikes.wordpress.com
secara permanent, berfungsi sebagai tempat bermukim, beristirahat,
bersantai dan berlidung dari pengaruh lingkungan, yang memenuhi
persyaratan fisiologis, psikologis, bebas dari penularan penyakit dan
kecacatan. Upaya dalam mendukung perawatan penderita TB paru seperti
lantai rumah dibuat dari tegel atau semen dan tidak lembab. Apabila lantai
masih tanah, diusahakan permukannya dibuat rata, dan jika akan menyapu
lantai hendaknya disiram dulu sehingga akan mengurangi debu berterbangan
(Depkes RI, 1997). Ventilasi dan pencahayaan berpengaruh pada kesegaran
dan kelembaban lingkungan rumah, dimana hal tersebut dapat
mempengaruhi kondisi penderita (Notoatmodjo, 2003)
Aktivitas seperti olah raga sangat dibutuhkan oleh tubuh termasuk
penderita TB primer untuk mendapatkan kesegaran fisik dan meningkatakan
daya tahan tubuh. Usahakan olah raga ditempat terbuka yang berudara segar
sehingga paru-paru bisa lebih penuh mengembang. Udara segar banyak
mengandung zat asam yang menyehatkan paru-paru, membuat aliran darah
lancer (Nadesul, 2000).
Tubuh juga memerlukan istirahat untuk menghindari kelelahan dan
kelemahan. Istirahat bisa dengan tidur siang atau kegiatan santai yang
menghibur dan tidak memrlukan benyak tenaga. Kebutuhan istirahat tidur
anak harus diperhatikan, malam 10-12 jam dan siang 1 -2 jam, dan anak tidak
boleh tidur terlalu malam (Lewer Helen, 2002). Perlu diketahui pula agar anak
menghindari udara dingin, udara malam, terhembus angin kencang, aktivitas
yang berkutat dengan debu, menghirup gas / minyak wangi yang
kesemuanya dapat menimbulkan batuk. Setiap batuk akan membuat luka
diparu-paru menjadi terkoyak/ menganga. Untuk itu perlu disediakan obat
http://www.skripsistikes.wordpress.com
batuk dirumah apabila terjadi batuk darah atau bahkan muntah darah, segera
bawa anak kerumah sakit karena kondisi tersebut berbahaya dan
memerlukan pengobatan dan perawatan dirumah sakit secara intensif
(Alsagaf & Mukty, 1999).
Dan yang terakhir sembuh lambat >12 bulan sebanyak 8 responden
(26,67%), dipengaruhi oleh pengawasan/ pemanatauan pengobatan sebesr 8
responden. Terkadang ibu lupa untuk meminumkan obat kepada anaknya, ibu
yang bekerja tidak dapat langsung mengawasi anaknya minum obat secara
rutin. lingkungan rumah dan kebutuhan aktivitas, istirahat yang hanya 3
responden dikarenakan lingkungan rumah penderita berada di areal Industri.
Serta kurangnya ibu mengajak anaknya untuk berolah raga di tempat yang
berudara segar setiap harinya. Kurangnya pengetahuan tentang TB paru
primer, dengan pendidikan ibu sebanyak 8 responden (26,67%)
berpendidikan SD.
Ketiga, Hubungan Pola Perawatan Dengan Lama Penyembuhan TB
Paru Primer. Dengan perhitungan rumus dari koefisien biserial diperoleh
bahwa ada hubungan antara pola perawatan dengan lama penyembuhan
anak dengan TB paru primer usia 1 -6 tahun dan didapatkan koefisien korelasi
sebesar r = 0,898 dengan taraf signifikan 0,05. semakin baik pola perawatan
ibu maka semakin cepat pula lama penyembuhan TB paru primer usia 1 -6
tahun.
Dari 18 responden (60%) yang berpola perawatan baik, 3 responden
(10%) sembuh cepat 7 anak (23,33%) sembuh sedang, 8 anak (26,67%)
sembuh lambat. 12 responden (40%) yang berpola perawatan sedang, 6
responden (20%) sembuh cepat 6-9 bulan, 6 anak (20%) sembuh sedang.
http://www.skripsistikes.wordpress.com
Dengan 13 responden (43,33%) sembuh sedang 10-12 bulan, maka
pola perawatan ibu sebanyak 6 responden dengan masalah pernafasan
kategori sedang, dan 7 responden berpola perawatan baik untuk kebutuhan
nutrisi. Kemudian sembuh cepat 6-9 bulan sebanyak 9 responden (30%),
dengan berpola perawatan sedang sebanyak 6 responden untuk pemenuhan
rasa nyaman, dan 3 responden berpola perawatan baik untuk lingkungan
rumah dan kebutuhan aktivitas,istirahat. Dan yang terakhir untuk sembuh
lambat >12 bulan, sebanyak 8 responden (26,67%) dengan pola perawatan
baik untuk pemantawan/pengawasan pengobatan. Akan tetapi hal ini
kemungkinan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan rumah dan kebutuhan
aktivitas, istirahat yang hanya 3 responden dikarenakan lingkungan rumah
penderita berada di areal Industri. Serta kurangnya ibu mengajak anaknya
untuk berolah raga di tempat yang berudara segar setiap harinya. Kurangnya
pengetahuan tentang TB paru primer, dengan pendidikan ibu sebanyak 8
responden (26,67%) berpendidikan SD.
Dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa adanya hubungan antara
pola perawatan pada anak TB paru primer dengan lama penyembuhan anak
usia 1 -6 tahun di Desa Cibuntu, Cibitung Bekasi
Dalam sub pokok bahasan diatas penulis menjelaskan dengan sangat rinci.
Pembahasan yang dilakukan oleh penulis mudah dipahami maksud dan tujuannya oleh
pembaca.
Simpulan
Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan yang telah diuraikan
sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, sebagian
besar pola perawatan menunjukkan 18 responden (60%) berpola perawatan
baik, 12 responden (40%) berpola perawatan sedang. Kedua, sebagian besar
responden sebanyak 13 anak (43,33%) sembuh sedang 10-12 bulan. Ketiga,
Ada hubungan antara pola perawatan dengan lama penyembuhan pada anak
TB Paru primer dengan usia 1 -6 tahun, hal ini berarti semakin baik pola
perawatan ibu maka semakin cepat proses waktu penyembuhan anak TB
Paru primer usia 1 -6 tahun. Hasil uji korelasi Product Moment r hitung= 0,898
dengan taraf signifikan 0,05
Kekuatan Penelitian
1. Teori dan model analisis yang digunakan tepat
2. Bahasa yang digunakan penulis mudah dipahami maksud dan tujuannya oleh
pembaca. Analisis nya sangat rinci dan mudah dipahami.
Kelemahan Penelitian
1. Penulis kurang lengkap dalam menyimpulkan keseluruhan isi jurnal
2. Penulis kurang detail dalam memberikan hasil yang didapat dalam melakukan
penelitiannya.
Nama: GILANG NUR RUSYDAH (1310105104)

A. Judul : Pengetahuan dan Dukungan Hubungan Sosial Meningkatkan Self-Care


Behavior Pada Anak Sekolah dengan Thalasemia Mayor

B. Nama Peneliti

1. Indanah dari Program Studi Magister Fakultas ilmu Keperawatan Universitas


Insonesia (UI), Depok 16424,Indonesia
2. Krisna Yetti dari Fakulas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia ( UI ),
Depok 16424, Indonesia
3. Luknis Sabri dari Fakultas Kesehatan MasyarakatUniversitas Indonesia ( UI ),
Depok 16424, Indonesia

C. No ISSN : 1410-4490
D. Bahasa : Indonesia
E. Penerbit : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
F. Penerbitas : Edisi No1 / Vol.15 / March 2012
G. Kata Kunci : Anak usia sekolah, Self-care behavior, Thalasemia Mayor
H. Hasil Penelitian:

Menurut Martin, Foote, & Carson, (2004) Penyakit Thalasemia adalah Penyakit
kelainan genetik yang sering di temukan di Dunia. Kelainan ini biasanya di
temukandi kawasan Maditernia, Afrika, Asia Tenggara dengan Frekuensi sebagai
pembawa Gen sekitar 5% - 30%.

Dampak anemia yang terjadi biasanya terlihat pada perilaku self-care behavior (
perawatan diri ). Banyak studi yang meneliti tentang self-care behaviour, namun
penelitian yang terkait dengan self-care behaviour pada anak usia sekolah yang
menderita Thalasemia mayor belum pernah di lakukan.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan analitik deskriptif


dengan desain penelitian cross sectional. Pengambilan sampel pada penelitian
menggunakan teknik non probability sampling, dengan pendekatan purposive
sampling.

Populasi penelitian ini adalah semua pasien thalasemia mayor di usia sekolah
yang di rawat di sebuah rumah sakit di jakarta. Sampel penelitian sejumlah 131
pasien dengan kriteria anak usia 6-12 tahun dengan lama sakit selma 1 tahun dan
tidak mengalami komplikasi penyakit lain. Dengan menggunakan kuesioner
penelitian ini mengambil data.

Penelitian ini membuktikan dan menjawab pertanyaan penelitian yang di ajukan


bahwa apakah ada hubungan antara usia , jenis kelamin, lama sakit, status
kesehatan, dukungan sosial, dengan self-care behaviour pada anak usia sekolah
penderita thalasemia.

Hasil Self-care behaviour responden penderita thalasemia mayor sebagian besar


berada dalam kategori baik yaitu sebanyak 116 0rang ( 89% ), Aspek Universal
Self-care yaitu sebanyak 117 ( 89%) dan yang masih kurang pada aspek
developmental self-care sebanyak 41 ( 31%) responden.

Adanya hubungan antara jenis kelamin, status kesehatan, pengetahuan, dan


dukungan sosial dengan di gambarkan bahwa adanya hubungan yang signifikan
antara pengetahuan dan dukungan sosial dengan self-care behaviour (p=0,000 ;
a=0,05 )
Dan tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, status kesehatan,
dengan self-care behaviour.

Berdasarkan analisis yang terkait pengetahuan pasien mengenai faktor genetik


thalasemia, penyebab jaundice, penatalaksanaan mempertahankan kadar HB pada
level 10 Mmhg, serta jenis permainan yang diperhatikan pada pasien talasemia,
dengan demikian dijadikan sebagai bahan bagi perawat untuk memberikan
pendidikan kesehatan.

Dukungan orang tua yang belum di rasakan pasien adalah tentang peran serta
orang tua untuk memberikan diet rendah zat besi untuk anknya, hasil penelitian ini
mengindikasikan bahwa perlunya upaya dalam menungkatkan dukungan terhadap
orangtua dengan memberikan penkes kepada orang tua dalam memberikan diet
rendah zat besi untuk thalasemia. Hal ini di dapat menyebabkan penderita
memiliki potensi terjadinya penumpukan zat besi dan berbahaya bagi kesehatan
tubuhnya.

Anak yang menderita penyakit kronis seperi talasemia yang harus menjalani
program therapi secara rutin hingga anak tidak dapat bebas beraktifitas
sebagaimana anak lainya, oleh karena itu dukungan sosial terutama keluarga dan
teman sebayanya merupakan sumber yang sangat penting dalam self-care
behaviour ( yang.et al., 2001). Berdasarkan hasl analisis bahwa 78 (59%)
responden melaporkan mendapatkan dukungan dari teman sebaya, dukungan
tersebut di tunjukan dengan keterlibatan aktivitas bermain yang tidak menguras
energi anak, dan dukungan teman sebaya yang paling rendah di rasakan oleh anak
adalah kunjungan teman jika di rawat di rumah sakit.

Hasil penelitian ini pula menunjukan bahwa adanya perbedaan yang signifikan
antara usia anak dengan self-care behaviour thalasemia yang baik dan yang
kurang baik. Kelompok yang menunjukan self-care behaviour yang kurang
adalah pada kelompok dengan usia 6 tahun. Sementara yang pada kelompok usia
11-12 tahun menunjukan self-care behaviour yang baik.

Thalasemia mayor mulai menunjukan gejala yang klinis pada tahun pertama
kehiupan, cenderung mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
anak, dengan kondisi fisik yang ada, anak cenderung banyak tergantung pada
orang tua yang melakukan aktivitas perawatan diri. Akan tetapi pada
bertambahnya usia anak akan mengurangi ketergantungan pada orangtua. Untuk
membantu menigkatkan self-care behaviour maka penting bagi orang tua untk
membantu memberi dukungan dan keterlibatanya.

Self-care behaviour pada anak usia sekolah dalam kategori baik, terutama pada
Universal Self-Care, sedangkan yang masih kurang pada aspek Developmental
Self-Care. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan dukungan
sosial, namun tidak adanya hubungan yang signifikan antara status kesehatan dan
jenis kelamin dengan self-care behaviour.