Anda di halaman 1dari 20

I.

JUDUL
Identifikasi Bahan Kimia Obat Paracetamol dan Papaverin Dalam Obat Tradisional

II. TUJUAN
Untuk mengetahui identifikasi bahan kimia obat paracetamol.dan papaverim dalam obat
taradisional .

III. DASAR TEORI

Kecenderungan gaya hidup “Back to Nature” menyebabkan penggunaan obat


tradisional, obat herbal, maupun suplemen makanan cenderung meningkat, yang terjadi di
Negara maju maupun Negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia (Gusmali, D
dan Gitawati R, 2001).

Menyikapi kondisi ini banyak Industri Obat Tradisional yang memproduksi Obat
Tradisional (OT), Obat herbal atau pun suplemen sering kali menyatakan “tanpa efek
samping” karena bersifat alami, dan hanya melaporkan keberhasilannya saja (efektif)
sedangkan ke tidak berhasilan obat serta efeksamping tidak dilaporkan (Turana, 2003).

Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan asing berupa bahantumbuhan, bahan
hewan, bahan mineral, sediaan sarian galenik atau campurandari bahan tersebut yang
telah digunakan dalam pengobatan berdasarkanpengalaman (Badan POM RI, 2005).

Dalam kehidupan dari zaman dahulu sampai sekarang dikenal adanya cara
pengbatan.Cara pengoobatan yang telah dilakukan di kalangan masyarakat, yakni cara
pengobatantimur yang bersifat alternatif yang disebut pengobatan tradisional. Cara
pengobatan itubertujuan untuk meningkatkan sistem imum, menghambat pertumbuhan
penyakit,mengurangi keluhan pengguna, dan memperbaiki fungsi badan tubuh.
Pengobatan tradisionalpada awalnya merupakan tradisi turun temurun yang disampaikan
secara lisan dari satugenerasi ke generasi berikutnya (Zulkifli, 2004:1).

Tumbuhan herbal adalah tanaman obat yang dapat dimanfaatkan untuk


pengobatantradisional terhadap penyakit. Sejak zaman dahulu, tumbuhan herbal
berkhasiat obat sudahdimanfaatkan oleh masyarakat Jawa. Sampai sekarang, hal itu
banyak diminati olehmasyarakat karena biasanya bahan-bahannya dapat ditemukan
dengan mudah di lingkungan sekitar (Suparmi & Wulandari, 2012: 1).

Masyarakat Jawa merupakan masyarakat yangmenjadi penjaga tradisi yang sangat kuat.
Namun demikian, pemakai obat tradisionaldiharapkan sabar dalam melakukan terapi,
baik pada saat memilih ramuan maupunmenggunakannya (Rahimsyah&Hartatik, 2006:2).

Sampai sekarang pengobatan tradisionalterhadap penyakit dengan penggunaan obat


tradisional yang lebih dikenal dengan jamu terusdilestarikan oleh masyarakat modern
(Arisandi&Andriani,2011).

IV. ALAT DAN BAHAN


Alat :
- erlenmeyer
- Kertas PH
- Corong pisah
- Tangas air
- KLT
- Kertas saring
- Sinar UV
- Labu erlenmeyer
- Gelas ukur
- Pipet tetes
- Cawan
- Pembakar spirtus
- Backer glass
- Timbangan
- Kertas perkamen

Bahan :
- Cuplikan
- Air
- Natrium bikarbonat 8%
- Asam sulfat 3N
- Eter
- Etanol
- Paracetamol
- Papaverin
- Silica gel
- Kloroform
- Fericlorida 2%
- Asam asetat
- Toluene
- Dietilamin
- Kalium ferisianida 1%
- Ammonia
- Aquades

A. IDENTIFIKASI PARASETAMOL DALAM OBAT TRADISIONAL


1. larutan uji (34/OT/93)

Masukkan satu dosis cuplikan yang telah diserbuk halus ke dalam


Erlenmeyer.

Tambahkan 50 ml air dan beberapa tetes larutan natrium bikarbonat 8%


hingga PH 7

Kocok selama kurang lebih 30 menit dan saring ke dalam corong pisah

Asamkan filtrate dengan asam sulfat 3 N hingga PH 1, kemudian ekstraksi


dengan 20 ml eter
Uapkan kumpulan ekstrak eter diatas tangas air hingga kering, kemudian
larutkan dengan 5 ml etanol (A)

Dengan cara yang sama, ekstraksi cuplikan yang telah ditambah 50 mg


parasetamol

2. Larutan baku

Buat larutan parasetamol 0,1 % b/v dalam etanol (C)

3. Identifikasi
a. Cara Kromatografi Lapis Tipis

Totolkan larutan A, B dan C secara terpisah dan lakukan kromatografi lapis


tipis

- Fase diam : silica gel GF254


- Fase gerak :
i. sikloheksan-kloroform-metanol-asam asetat glacial (60:30:5:5)
ii. kloroform-metanol (90:10)
iii. toluene-etil asetat-asam asetat (60:39:1)
iv. toluene-dioksan-asam formiat (70:29:1)
v. kloroform : dietilamin (90:10)
- penjenuhan : dengan kertas saring
- volume penotolan : larutan A, B, dan C masing-masing 15 µl
- penampak bercak :

1. cahaya ultraviolet 25 nm bercak biru gelap


2. larutan feriklorida 2% + larutan kalium ferisianida 1% sama
banyak, bercak bewarna biru

b. Cara Spektrofotometri UV

Larutan A, B, dan C di kromatografi lapis tipis seperti cara diatas. Volume


penotolan disesuaikan sehingga diperoleh bercak setara dengan 100 µg
parasetamol

Tandai dan keroklah bercak baku dan bercak senyawa yang mempunyai harga
RF sama

Kocok hasil kerokan secara terpisah dengan 5 ml etanol, kemudian saring

Ukur serapan filtrate pada panjang gelombang antara 20 nm-300 nm

Parasetamol akan memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang


250 nm kurang 273 nm

B. IDENTIFIKASI PAPAVERIN DALAM OBAT TRADISIONAL


1. Larutan uji (3/OT/93)

Masukkan satu dosis cuplikan yang telah diserbuk halus ke dalam labu
Erlenmeyer 125 ml
tambahkan 20 ml air yang telah diasamkan dengan asam klorida 3 N sampai
PH 1,5. Kocok selama 30 menit dan saring

Tampung filtrat ke dalam corong pisah, basakan dengan ammonia sampai PH


9, kemudian ekstraksi 3 kali tiap kali dengan 20 ml campuran kloroform-
etanol (3:1)

saring kumpulan ekstrak dengan natrium sulfat anhidrat, dan uapkan diatas
penangas air sampai kering

Larutkan sisa penguapan kumpulan ekstrak dengan5 ml campuran kloroform-


etanol (3:1)

Dengan cara yang sama, ekstraksi cuplikan yang telah ditambah 25 mg


papaverin (B)

2. Larutan Baku

Buat larutan papaverin 1% b/v dalam etanol (C)

3. Identifikasi
a. Cara identifikasi kromatografi lapis tipis

Totolkan larutan A, B, dan C secara terpisah lakukan KLT sebagai berikut :


- Fase diam : silica gel GF254
- Fase gerak :
i. Larutan ammonia kuat-metanol (1,5:100)
ii. Kloroform-etanol 96% (90:10)
iii. Toluol-aseton (80:20)
- penejenuhan : dengan kertas saring
- Volume penotola : Larutan A, B, dan C masing-masing 15 µl
- Penampak bercak :
i. Cahaya ultraviolet 254 nm
ii. Pereaksi dragendorf
iii. Pereaksi acidified iodoplatinate
V. Hasil dan Pembahasan
Hasil

 Profil KLT

Sampel : Paracetamol

Fase gerak : klorofrom-metanol (9:10)

Fase diam : Silika gel GF 254

Pereaksi pendeteksi : FeCL3

A B C

Sampel Kode RF Warna noda


bercak Visual UV 254 UV 366 Pereaksi
nm nm (Dragendrof)

Larutan
uji RfA: 4,5 Tidak Biru Ungu Orange
5 terlihat
: 0,88

Sampel + RfB : 4,6 Biru Ungu Orange


larutan 5 Tidak
uji : 0,92 terlihat

RfC: 4,6 Biru Ungu Orange


Baku 5 Tidak
:0,92 terlihat

Keterangan gambar

Kesimpulan : Sampel obat tradisonal yang diuji (+) mengandung bko paracetamol

 Profil KLT

Sampel : Papaverin

Fase gerak : Amonia-metanol (9:10)

Fase diam : Silika gel GF 254

Pereaksi : Dragendrof
Sampel Kode RF Warna noda
bercak Visual UV 254 UV 366 Pereaksi
nm nm (Dragendrof)

Larutan
uji RfA: 4,5 Tidak Tidak Tidak Orange
5,5 terlihat terlihat terlihat
: 0,81

Sampel + RfB : 4,3 Tidak Tidak Tidak Orange


larutan 5,5 terlihat terlihat terlihat
uji : 0,78
Orange
RfC: 4,5 Tidak Biru Ungu
Baku 5,5 terlihat
: 0,81

Ketrangan gambar

Kesimpulan : Sampel obat tradisional yang diuji mengandung bko (+)papaverin.

 Profil KLT

Sampel : Paracetamol
Fase gerak : kloroform – metanol (90:10)

Fase diam : silika gel GF 254

Pereaksi : FeCl3

Sampel Kode Rf Warna noda


bercak
visual UV UV 366 Pereaksi
254 nm nm
FeCl3

Larutan Tidak Biru Ungu Orange


uji : terlihat

Sampel + Tidak
Biru Ungu Orange
larutan terlihat
uji :

Baku :
Tidak
terlihat Biru Ungu Orange
Keterangan gambar : sampel obat tradisional yang diuji positif mengandung bko yaitu
paracetamol

 Profil KLT

Sampel : papaverin

Fase gerak : kloroform – metanol (90:10)

Fase diam : silika gel GF 254

Pereaksi : Dragendrof

A B C
Sampel Kode Rf Warna noda
bercak
visual UV 254 UV 366 Pereaksi
nm nm
Dragendrof

Larutan Tidak Tidak Tidak Orange


uji : terlihat terlihat terlihat

Sampel + Tidak Tidak Tidak


Orange
larutan uji terlihat terlihat terlihat
:

Baku :
Tidak
terlihat Orange
Biru Ungu

Keterangan gambar : sampel obat tradisional yang diuji positif mengandung bko yaitu
papaverin
 Profil KLT

Sampel : Parasetamol

Fase gerak : Toluen:Dioksan:Asam formiat (70:29:1),


Kloroform:Dietilamin(90:10)

Fase diam : Silika gel GF 254

Pereaksi Pendeteksi : FeCl3

Sampel Kode bercak Rf


Toluen:Dioksan:Asam formiat (70:29:1)
Larutan uji A 0,9
= 0,18
5

Larutan pembanding B 0,8


= 0,16
5

Lar. Baku C 0,1


= 0,02
5

Kloroform:Dietilamin(90:10)
Lar. Uji A 0,9
= 0,1875
4,8

Lar. Pembanding B 0,9


= 0,1875
4,8
Lar. baku C 0,9
= 0,1875
4,8

 Profil KLT

Sampel : Papaverin

Fase Gerak : Toluen : Aseton ( 80:20 )

Fase Diam : Silika gel

Pereaksi Pendeteksi : Dragendorf

Gambar Kode RF WARNA


Kromatogram Bercak NODA
visual Uv 254 Uv 366 Pereaksi
nm nm dragendorf
Larutan Uji A 1,5/5,2
=0,288

Pembanding B 1,5/5,2
=0,288
Baku C 1,5/5,2
=0,288

 Profil KLT

Sampel : paracetamol

Fase gerak : toluen – etilasetat – asam asetat

Fase diam : silika gel GF 254

Pereaksi pendeteksi : FeCl3

sampel Kode RF Warna noda


bercak
Visual UV 254 nm UV 366 nm Pereaksi

Biru Hijau FeCl3

A 0,52 - - Hijau -

Larutan uji

B 0,52 - - Hijau -

Larutan uji
+ pct 150
mg

C 0,52 - - Hijau -

baku
Keterangan gambar :

Positif paracetamol karena nilai RF sampel sama dengan nilai RF baku.

 Profil KLT

Sampel : papaverin

Fase gerak : toluen – aseton (80:20)

Fase diam : silika gel GF 254

Pereaksi pendeteksi : dragon druf

sampel Kode RF Warna noda


bercak
visual UV 254 UV 366 nm Perekasi
nm
(HIAJU) Dragon druf
(BIRU)

A 0,48 - - Ungu samar -

Larutan uji

B 0,48 - - Ungu samar -

Larutan uji
+ papaverin
50 mg

C 0,48 - - ungu Merah muda

Baku
Keterangan gambar :

Positiv papaverin karena nilai RF sampel sama dengan nilai RF baku.

Pembahasan

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 007 Tahun 2012 tentang registrasi obat
tradisional yaitu, obat tradisional dilarang mengandung bahan kimia obat yang merupakan hasil
isolasi atau sintetik berkhasiat obat, tidak boleh mengandung narkotika atau psikotropika,
dilarang mengandung etil alkohol lebih dari 1%, kecuali dalam bentuk sediaan tingtur yang
pemakaiannya dengan pengenceran; dan tidak boleh mengandung bahan lain yang berdasarkan
pertimbangan kesehatan dan berdasarkan penelitian membahayakan kesehatan.Permenkes RI No
246/MENKES/PER/V/1990 dalam izin usaha industri obat tradisional dan pendaftaran obat
tradisional menyebutkan bahwa sediaan obat tradisional tidak diperkenankan mengandung bahan
kimia obat karena penambahan bahan kimia obat secara sembarangan dan secara liar berbahaya
bagi kesehatan. Untuk memastikan adanya kandungan BKO dalam sampel jamu maka dilakukan
uji kualitatif dengan KLT sebagai uji penegasan. Dalam identifikasi golongan senyawa dapat
dilakukan dengan uji warna, penentuan kelarutan, bilangan Rf, dan ciri spektrum UV. Dala
praktikum ini, yang paling berpengaruh adalah indeks kepolaran solven yang digunakan. Indeks
kepolaran disini dimaksudkan sebagai beberapa ururtan atau tingkatan dalam teori kelarutan
yang terdiri dari beberapa kriteria diantaranya, polar, semipolar, dan non polar

Pada praktikum ini dilakukan identifikasi bahan kimia obat paracetamol pada sampel
papaverin. Dilakukan identidikasi dengan metode KLT dengan berbagai fase gerak yang berbeda
untuk menentukan fase gerak mana yang lebih baik dalam mengidentifikasi senyawa tersebut.
Pada identifikasi kelompok I ini mengunakan silika gel sebagai fase diam dan fase gerak pada
kelompok satu mengunakan sikloheksan : kloroform : metanol asam asetat glasial
(60:30:5:5).Penampakan bercak dengan cahaya ultraviolet 254 nm dengan bercak biru dan
laturan feriklorida 2% + larutan ferisianida 1% sama banyak dan menghasilkan warna biru.
Pada larutan uji paracetamol memiliki Rf 0,80 dengan warna biru pada sinar UV 254 nm. Pada
hasil ekstraksi yang telah diberi paracetamol memiliki Rf 0,92 dengan warna biru pada UV 254
nm. Pada larutan baku memiliki Rf 0,92 dengan warna biru pada UV 254 nm. Dan dapat
disimpulkan bahwa sampel A positif mengandung paracetamol karena jarak Rf masih dalam
rentang yang sama antara uji ,hasil ekstraksi, dan baku.

Identifikasi selanjutnya menggunakan fase gerak klorofom : methanol ( 90: 10),larutan


uji,sampel dengan larutan uji dan baku memiliki Rf 0,23 semua dan pada sampel ini dilakukan
penyemprotan dengan pereaksi FeCl3 yang menghasilkan warna orange pada semua sampel hal
ini menandakan bahwa obat tradisional tersebut mengandung paracetamol, dan pengujian
menggunakan papaverin dengan fase gerak yang sama memiliki Rf larutan uji 0,66 ,sampel
ditambah larutan uji 0,63 dan baku 0,68 dan dilakukan penyemprotan pada lempeng dengan
pereaksi dragendrof dan menghasilkan warna orange yang menandakan bahwa obat tradisional
tersebut mengandung papaverin.

Pada fase gerak toluen - etil asetat - asam asetat (60 :39 :1) dengan pereaksi besi (III)
klorida hasil antara baku, larutan uji dengan pembanding sama-sama memiliki Rf 0,52 pada
panjang gelombang 366 nm dengan warna bercak hijau hal tersebut menandakabn bahwa semua
filtrat positif mengandung paracetamol. Dan untuk uji papaverin sendiri semua larutan memiliki
nilai Rf 0,48 paa pnjang gelombang 366 nm dengan bercak berwarna ungu samar samar hal ini
berarti sampel tersebut positif mengandung papaverin semua.

Lalu selanjutkan dilakukan identifikasi dengan menggunakan fase gerak Toluene - dioksan -
asam formiat ( 70 : 29 : 1 ) larutan uji memiliki Rf 0,18 , pembanding 0,16 dan baku memiliki Rf
0,02 baku lebih kecil karna bisa jadi dikarenakan adanya kesalahan dari praktikan. Lalu
dilakukan pengujian kembali dengan fase gerak yang sama dan hasil uji Rf yang sama antara
larutan uji, pembanding dan baku sebesar 0,1875 sehingga dapat disimpulkan memiliki
kandungan parasetamol pada obat tradisional tersebut. Pada pengujian sampel papaverin
menggunakan fase gerak Toluen – aseton didapatkan nilai Rf pada larutan uji, pembanding dan
baku yaitu 0,288 semua hal tersebut menandakan bahwa sampel tersebut positif mengandung
papaverin.

Pada pengujian papaverin dengan variasi fase gerak toluene - aseton ( 80 :20 ) pada sampel
pengujian paracetamol memiliki nilai Rf 0,48 pada larutan uji, pembanding dan juga baku hal ini
menandakan bahwa sampel tersebut positif mengandung parasetamol dikarenakan positif
mengandung Rf yang sama.

Dari perbedaan fase gerak saat pengujiaan KLT dapat dilihat bahwa hasil dari semua nilai Rf
mendekati sama semua dengan larutan uji, pembanding dan baku jadi dapat di artikan bahwa
semua fase gerak yang di pakai merupakan fase gerak yang baik untuk digunakan identifikasi
paracetamol dalam obat tradisonal.

VI. Kesimpulan

VII. Daftar Pustaka


Gusmali , D dan Gitawati R., 2001. Kajian Keamanan Beberapa Food Supplement yang
beredar di tiga kota besar berdasarkan informasi dari penandaan dan
pengalaman konsumen. Laporan Penelitian Puslitbang Farmasi, Badan Litbang
Kesehatan
Badan POM RI, 2005. Peraturan Perundang-undangan Di bidang Obat Tradisional, Obat
Herbal Tersatandar, fitofarmaka, Jakarta.
Turana Y., 2003. Meuju pengobatan alternative yang lebih rasional.
www.medikaholistik.com diakses 27 April 2019
Rahimsyah, M. B, & Hartatik, A. S, 2006, Aneka Resep Obat Kuno yang Mujarab,
Surabaya:Penerbit Karya Gemilang.
Suparmi, &Wulandari, A. 2012.Herbal Nusantara 1001 RamuanTradisionalAsli
Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset
Tandra, H. 2009. SegalaSesuatu yang HarusAndaKetahuitentang Osteoporosis.Jakarta
:Penerbit PT GramediaPustakaUtamaAnggota IKAPI.
Yuliarti, N. 2010. Sehat, Cantik, Bugar, dengan Herbal dan Obat Tradisional. Penerbit
ANDI.
Zulkifli, 2004. Pengobatan Tradisional sebagai Pengobatan Alternatif Harus
Dilestarikan. Jakarta: PT Agromedia Pustaka.