Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI

Analisis Vegetasi Pohon

Oleh
Mas Linda Wati / 17030204032
Ervi Ifadah / 17030204039
Dyah Novira Dwi J / 17030204041

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Analisis vegetasi merupakan studi yang bertujuan untuk mengetahui
komponen dari sutau lingkungan ekosistem. Umumnya kegiatan vegetasi dilakukan
dengan dua macam cara yakni, dengan metode petak dan tanpa petak. Salah satu
metode jalur (untuk risalah pohon) dengan metode garis peak untuk risalah
permudaan) (Latifa, 2005). Analisis vegetasi pada kawasan tertentu (seperti hutan)
ditunjukkan untuk mengetahui struktur vegetasi suatu kawasan, komposisi jenis, dan
pola distribusi (Greig-Smith, 1983; Kusmana, 1997). Informasi ilmiah mengenai
kondisi vegetasi pada kawasan lahan dapat mengontrol dan mengupayakan
pencegahan untuk menangani berbagai masalah lingkungan yang menjamin
tercapainya tujuan perlindungan sistem-sistem ekologis dan sistem penyangga
kehidupan, pengawetan sumber plasma nutfah dan pelestarian sumberdaya secara
lestari. Analisis vegetasi (komunitas tumbuhan) digolongkan berdasarkan spesies atau
bentuk hidup yang dominan, habitat fisik maupun kekhasan spesies atau bentuk hidup
yang fungsional. Analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui komposisi dan
struktur suatu komunitas tumbuhan ( pohon maupun herba) (Kusmana, 1997).
Kehadiran vegetasi pada suatu landscape akan memberikan dampak positif
bagi keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas terkait dengan pengaturan
keseimbangan karbon dioksida dan oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia
dan biologis tanah, pengaturan tata air tanah dan lain-lain. Meskipun secara umum
kehadiran vegetasi pada suatu area memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya
bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah
itu. Sebagai contoh vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi tanah, tetapi
besarnya tergantung struktur dan komposisi tumbuhan yang menyusun formasi
vegetasi daerah tersebut.
Di dalam kegitan penelitian di bidang ekologi seperti pada ilmu lain yang
memiliki keterpautan dengan sumber daya alam, dikenal dua tipe pengukuran, yakni
pengukuran yang bersifat merusak (detructive measure) dan pengukuran yang bersifat
tidak merusak (non destructive measure). Agar valid secara statistika, makan kedua
tipe pengukuran tersebut menggunakan satuan contoh (sampling unit). Sampling unit
ini memudahkan bagi peniliti untuk memperoleh informasi atau data yang diinginkan
dengan lebih cepat, teliti, dengan penghematan energi dan biaya (Latifa, 2005).
Metode sampling unit didahului dengan menentukan metode sampling yang
akan digunakan, jumlah, ukuran, dan peletakkan satuan-satuan unit. Pemilihan metode
sampling didasari oleh morfologi dan penyebaran populasi. Tujuan penelitia, biaya,
dan tenaga dari data yang telah dikumpulkan dapat diketahui jenis dominan dsn
kodominan, pola asosiasi, nilai keragaman jenis, dan atribut komunitas tumbuhan
lainnya yang berguna bagi pengelolaan lingkungan (Latifa, 2005).
Kawasan Universitas Negeri Surabaya kampus Ketintang memiliki banyak
pohon yang menunjang kebutuhan oksigen bagi warga kampus, juga makhluk hidup
lainnya yang ada di kampus. Pohon-pohon tersebut beraneka ragam. Pada beberapa
kawasan memiliki susunan yang berbeda dengan lainnya. Misalnya pada kawasan
sekitar halaman timur gedung C2 dan C3 di mana di sana dijumpai populasi pohon
mahoni dan ada pula pohon flamboyant. Sedangkan di kawasan lain, memiliki pohon
yang berbeda.
Pohon-pohon di kawasan tersebut tersusun dengan jarak tertentu. Dengan umur
yang berbeda pula sehingga besar ukuran pohon juga berbeda-beda. Oleh karenanya
pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui populasi penyusun suatu kawasan yakni
kawasan halaman timur gedung C2 dan C3.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari praktikum ini antara lain :
1. Apa saja pohon yang dapat diidentifikasi di halaman depan gedung C2-C3
Unesa Ketintang?
2. Berapa kerapatan populasi pohon di halaman depan gedung C2 dan C3 Unesa
Ketintang?
3. Berapa dominansi relatif pohon di halaman depan gedung C2 dan C3 Unesa
Ketintang?
4. Berapa frekuensi relatif pohon di halaman depan gedung C2 dan C3 Unesa
Ketintang?
5. Berapa nilai penting suatu komunitas pohon di halaman depan gedung C2 dan
C3 Unesa Ketintang?
6. Bagaimana analisis vegetasi pohon di halaman depan gedung C2 dan C3 Unesa
Ketintang?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, dapat ditentukan tujuan praktikum ini
diantaranya :

1. Mengidentifikasi macam-macam pohon di halaman depan gedung C2 dan C3


Unesa Ketintang
2. Menentukan kerapatan populasi pohon di halaman depan gedung C2 dan C3
Unesa Ketintang
3. Menentukan dominansi relatif pohon di halaman depan gedung C2 dan C3
Unesa Ketintang
4. Menentukan frekuensi relatif pohon di halaman depan gedung C2 dan C3 Unesa
Ketintang
5. Menentukan nilai penting suatu komunitas pohon di halaman depan gedung C2
dan C3 Unesa Ketintang
6. Melakukan analisis vegetasi pohon di halaman depan gedung C2 dan C3 Unesa
Ketintang
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Switenia mahagoni
Tanaman mahoni merupakan tanaman tahunan, dengan tinggi rata-rata 5-25 m
(bahkan ada yang mencapai lebih dari 30 m), berakar tunggang dengan batang bulat,
percabangan banyak, dan kayunya bergetah. Daunnya berupa daun majemuk, menyirip
genap, helaian daun berbentuk bulat telur, ujung dan pangkal daun runcing, tepi daun
rata, tulang menyirip dengan panjang daun 3 – 15 cm. Daun yang masih muda
berwarna merah dan setelah tua berubah menjadi hijau. Bunga tanaman mahoni adalah
bunga majemuk, tersusun dalam karangan yang keluar dari ketiak daun. Ibu tangkai
bunga silindris, berwarna coklat muda. Kelopak bunganya lepas satu sama lain dengan
bentuk menyerupai sendok, berwarna hijau. Mahkota bunga silindris, berwarna kuning
kecoklatan. Benang sari melekat pada mahkota. Kepala sari berwarna putih/kuning
kecoklatan. Tanaman mahoni ini baru akan berbunga setelah usia 7 atau 8 tahun.
Setelah berbunga, tahap selanjutnya adalah berbuah. Buah mahoni merupakan buah
kotak dengan bentuk bulat telur berlekuk lima. Ketika buah masih imut berwarna hijau,
dan setelah besar berwarna coklat. Di dalam buah terdapat biji berbentuk pipih dengan
ujung agak tebal dan warnanya coklat kehitaman. Buah yang sudah tua sekali kulit
buahnya akan pecah dengan sendirinya dan biji-biji pipih itu akan bebas berterbangan
kemana angin meniup. Bila jatuh ke tanah yang cocok akan tumbuh menjadi tanaman
mahoni generasi baru.
Tanaman mahoni ini merupakan tanaman tropis dan banyak ditemukan tumbuh
liar di hutan jati dan tempat-tempat lain yang dekat dengan pantai. Tanaman ini dapat
tumbuh dengan subur di pasir payau dekat dengan pantai. Tanaman ini menyukai
tempat yang cukup sinar matahari langsung (tidak ternaungi). Tanaman ini termasuk
jenis tanaman yang mampu berttahan hidup di tanah gersang sekalipun. Walaupun
tidak disirami selama berbulan-bulan, mahoni masih mampu untuk bertahan hidup.

B. Vegetasi Pohon
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa
jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan
bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun
vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu
sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Marsono, 1977).
Vegetasi tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai
keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di
tempat 1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan
sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya.
Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi
secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur
vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan
analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan
indeks nilai penting dari penvusun komunitas hutan tersebut.
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis
suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai
dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat
seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus
diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Syafei, 1990).
Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan
komposisi suatu komunitas tumbuhan. Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif
komunitas vegetasi dikelompokkan kedalam 3 kategori yaitu sebagai berikut:
1. pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-batas jenis dan
membandingkan dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu
pengamatan berbeda
2. menduga tentang keragaman jenis dalam suatu areal
3. melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan tertentu
atau beberapa faktor lingkungan (Greig-Smith, 1983).

C. Metode Analisis Vegetasi


Untuk mempelajari komposisi vegetasi dapat dilakukan dengan Metode Berpetak
(Teknik sampling kuadrat : petak tunggal atau ganda, Metode Jalur, Metode Garis
Berpetak) dan Metode Tanpa Petak (Metode berpasangan acak, Titik pusat kwadran,
Metode titik sentuh, Metode garis sentuh, Metode Bitterlich) (Kusuma, 1997).
Pola komunitas dianalisis dengan metode ordinasi yang menurut Mueller-
Dombois dan Ellenberg (1974) pengambilan sampel plot dapat dilakukan dengan
random, sistematik atau secara subyektif atau faktor gradien lingkungan tertentu. Untuk
memperoleh informasi vegetasi secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan
menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar koefisien uketidaksamaan. Variasi dalam
releve merupakan dasar untuk mencari pola vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh
releve vegetasi dalam bentuk model geometrik yang sedemikian rupa sehingga releve
yang paling serupa mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya akan
mempunyai posisi yang saling berdekatan, sedangkan releve yang berbeda akan saling
berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan untuk menghubungkan pola sebaran jenis-
jenis dengan perubahan faktor lingkungan.
Untuk mengamati unit penyusun vegetasi yang luas secara tepat sangat sulit
dilakukan karena pertimbangan kompleksitas, luas area, waktu, dan biaya. Oleh karena
itu, dalam pelaksanaannya peneliti bekerja dengan melakukan pencuplikan (sampling).
Unit cuplikan atau unit sampling dalam analisis vegetasi dapat berupa bidang (plot,
kuadrat), garis atau titik. Dalam perkembangannya, unit cuplikan yang dipergunakan
untuk suatu analisis vegetasi menggambarkan metode yang digunakan. Dengan
demikian dalam pencuplikan mengenai suatu vegetasi digunakan berbagai alternatif
metode diantaranya: metode kuadrat (quadrat methods), metode garis (line intercept,
skrip trasect, bisect methods) dan metode titik (point methods).
Pemilihan metode untuk analisis vegetasi tergantung pada bermacam variabel,
antara lain:
1. Tujuan penelitian
2. Tipe struktur vegetasi
3. Karakter vegetasi yang akan di ukur, misalnya densitas (kerapatan), dominansi,
dan frekuensi spesies
4. Derajat persisi dan akurasi yang diinginkan
5. Waktu, biaya, dan tenaga peneliti yang tersedia
Kesemua faktor ini perlu dipertimbangkan, sehingga dapat membantu memilih
metode yang terbaik untuk situasi yang di hadapi di lapangan.
Pengamatan parameter vegetasi berdasarkan bentuk hidup pohon, perdu, serta
herba. Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen
utama yaitu komponen biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan
merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan,
padang ilalang, semak belukar dan lain-lain. Struktur dan komposisi vegetasi pada
suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi,
sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya
merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat
mengalami perubahan drastik karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984;
Sundarapandian dan Swamy, 2000).
Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika
digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan
metode kwarter.
1. Metode Titik Pusat Kuadran (Point Centered Quartered Method)
Metode ini merupakan metode tanpa petak contoh. Pada dasarnya
memanfaatkan pengukuran jarak antar individu tumbuhan atau jarak dari pohon
yang dipilih secara acak terhadap individu-individu tumbuhan yang terdekat
dengan asumsi individu tumbuhan menyebar secara acak. Salah satu metode
tersebut ialah Metode Titik Pusat Kuadran (Point Centered Quartered Method).
Metode ini dalam pelaksanaanya mempunyai dua macam keterbatasan, yaitu (1)
setiap kuadran harus terdapat paling sedikit satu individu tumbuhan dan (2) setiap
individu (seperti halnya pada random pair method) tidak boleh terhitung lebih
dari satu kali. Prosedur metode ini dalam pelaksanaan di lapangan adalah:
a) Peletakan sejumlah titik contoh secara acak dalam komunitas tumbuhan.
Berdasarkan pengalaman di lapangan, sebaiknya dibuat suatu seri garis arah
kompas (garis rintis) dalam komunitas tumbuhan yang akan diteliti, kemudian
sejumlah titik contoh dipilih secara acak atau secara teratur sepanjang garis
rintis tersebut. Cottam dan Curtis (1956) menyarankan paling sedikit 20 titik
contoh harus dipilih untuk meningkatkan ketelitian sampling dengan teknik
ini.
b) Pembagian areal sekitar titik contoh menjadi empat kuadran yang berukuran
sama. Hal ini dapat dilakukan dengan kompas atau bila suatu seri garis rintis
digunakan kuadran-kuadran tersebut dapat dibentuk dengan menggunakan
garis rintis itu sendiri dan suatu garis yang tegak lurus terhadap gads rintis
tersebut melatui titik contoh.
Dalam metode ini di setiap titik pengukuran dibuat garis absis dan ordinat
khayalan, sehingga di setiap titik pengukuran terdapat empat buah quadran.
Pengukuran dimensi pohon hanya dilakukan terhadap keempat pohon yang
terpilih.
Gambar 1. Desain point centered quarter method di lapangan

D. Parameter Vegetasi Pohon


Untuk analisis vegetasi pohon selain menggunakan parameter yang digunakan
pada analisis vegetasi herba juga menggunakan parameter yang lain yaitu:
1. Basal area
Basal area merupakan penutupan areal hutan mangrove oleh batang pohon.
Basal area didapatkan dari pengukuran batang pohon mangrove yang diukur secara
melintang (Cintron dan Novelli, 1984). Diameter batang tiap spesies tersebut
kemudian diubah menjadi basal area dengan menggunakan rumus :
BA = (1/2 d)2 x π
Dimana : BA = Basal Area
π = 3,14
d = Diameter batang
2. Densitas (kerapatan)
Densitas (kerapatan) adalah jumlah cacah individu suatu spesies per satuan
luas. Luas tersebut dapat dalam meter persegi (m2) atau hektar (Ha = 10.000 m2).
Kerapatan total = luas area cuplikan
(rata-rata jarak spesies ke titik pusat)2
Luas area cuplikan adalah jumlah plot dan luas plot yang diteliti. Misalnya
jumlah plot yang diteliti 10 buah, dengan luas masing-masing 10 m x 10 m = 100
m2, jadi luas total seluruh area yang di cuplik adalah 10 m x 100 m = 1.000 m 2.
misalnya ditemukan total cacah individu spesies A pada seluruh plot yang di kaji
354
(10 plot) = = 3,45 m2
1.000
Perhitungan di atas adalah perhitungan densitas absolut atau disebut densitas
aktual. Untuk tujuan tertentu akan sangat berguna bila kontribusi cacah individu
dari satu spesies diekspresikan sebagai hubungan antara cacah individu suatu
spesies dengan total cacah individu seluruh spesies yang akan di temukan di dalam
seluruh plot yang dikaji. Ini disebut sebagai densitas relatif.
Kerapatan mutlak spesies A = Jumlah individu spesies A x kerapatan total
Jumlah seluruh individu
Kerapatan relatif spesies A = KM spesies A x 100%
Jumlah total KM seluruh spesies
3. Frekuensi
Frekuensi adalah pengukuran distribusi atau agihan spesiesyang ditemukan
pada plot yang dikaji. Frekuensi menjawab pertanyaan pada plot mana saja spesies
tersebut ditemukan atau beberapa kali munculnya suatu spesies pada plot yang di
teliti. Frekuensi diekspresikan sebagai prosentase munculnya cacah plot tempat
suatu spesies ditemukan.
Frekuensi Mutlak spesies A = jumlah titik pusat terkandung spesies A x 100%
jumlah seluruh plot yang dicuplik
Misalnya spesies A dalam 10 plot yang di teliti ditemukan 2 kali atau muncul 2
2
kali, Jadi frekuensi spesies A = x 100 % = 20 %
10
Frekuensi dapat di nyatakan dalam pecahan atau dalam persen. Frekuensi dapat
juga di ekspresikan dengan istilah relatif.
Frekuensi relatif spesies A = frekuensi mutlak spesies A x 100 %
Jumlah total frekuensi FM seluruh spesies A

4. Dominansi
Dominasi atau spesies dapat di tentukan dengan mengukur basal area pohon
atau penutup (coverage) pohon atau herba. Luas basal area suatu jenis pohon dapat
diperoleh dari diameter pohon setinggi 1,5 m dari permukaan tanah. Bila pohonnya
mempunyai akar banir maka diameter pohon di ukur langsung di atas banirnya.
Penutup pohon atau herba adalah luas proyeksi tajuk atau kanopi pohon atau herba.
Penentuannya hampir mirip dengan penentuan densitas, satunya adalah cm2 atau
m2. misalnya total luas total basal area atau nilai penutup spesies A adalah 1.250
dari plot yang diteliti. Masing-0masing plot luasnya 100. jadi luas total area
cuplikan 10 x 100 = 1.000
1.250cm 2
jadi dominansinya = 2
= 1.250 m2
1.0m
Dominansi mutlak spesies A = Jumlah basal area spesies A x 100 %
Jumlah basal area seluruh spesies
Dominansi relatif spesies A = dominansi mutlak untuk suatu spesies x 100 %
Jumlah total DM seluruh spesies

5. Indeks Nilai Penting (INP)


Merupakan penjumlahan nilai relatif dari frekuensi kerapatan dan dominansi
suatu jenis. INP sering dipakai karena memudahkan dalam interpretasi hasil analisis
vegetasi.
Nilai penting = kerapaatan nilai relatif + dominansi relatif + frekuensi relative

E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tipe-tipe Vegetasi


Di bumi ini, terdapat beberapa tipe-tipe vegetasi. Adanya variasi tipe vegetasi
disebabkan oleh berbagai faktor antara lain :
1. Faktor iklim
Faktor iklim meliputi sifat-sifat umum iklim daerah, kadang-kadang bersifat
beraturan. Faktor-faktor itu dapat pula menunjukkan variasi yang bersifat lokal,
memberikan iklim lokal, bahkan hal demikian itu terjadi pula dalam lingkungan
yang sangat terbatas dan melahirkan apa yang dinamakan “iklim mikro”. Adapun
yang dapat mempengaruhi iklim antara lain :
a. Cahaya
Cahaya merupakan suatu faktor yang esensial untuk fotosintesis. Iklim cahaya
pada suatu tempat bergantung pada lamanya penyinaran, agihan waktu,
intensitas, dan kualitas cahaya yang diterima. Pengaruh cahaya terhadap
fotosintesis sebagian besar sangat bergantung pada intensitas yang juga
mempengaruhi pertumbuhan.
b. Suhu
Faktor ini mempunyai arti yang vital, karena suhu menentukan kecepatan
reaksi-reaksi dan kegiatan-kegiatan kimiawi yang mencakup kehidupan.
c. Presipitasi (curah hujan)
Curah hujan menentukan ketersediaan air untuk pertumbuhan dan proses-
proses vital lainnya
d. Daya penguapan
Daya penguapan berpengaruh pada laju transpirasi tumbuhan.
e. Angin
Angin pada umumnya mempengaruhi faktor-faktor ekologi lainnya di suatu
tempat, misalnya mempengaruhi penguapan air – terutama juga dapat
mempunyai pengaruh langsung terhadap vegetasi.
2. Faktor Fisiologi
Faktor-faktor fisiologi berpengaruh terhadap vegetasi setempat terutama melalui
peristiwa iklim dan edafik yang mereka timbulkan. Faktor fisiologi dapat
mempengaruhi vegetasi di daerah-daerah dengan topografi yang drastik dan iklim
yang keras
3. Faktor-faktor Edafik
Faktor-faktor edafik adalah faktor-faktor yang bergantung pada tanah dan
keadaannya sebagai tanah – pada konstutisinya, kandungan air dan udara,
organisme yang hidup di dalamnya. Faktor yang berpengaruh terhadap vegetasi
adalah kandungan air tanah akan garam-garam organik yang terlarut yang berasal
dari bahan mineral yang ada dari penguraian bahan organik.
4. Faktor biotik
Faktor-faktor biotik adalah faktor yang ditimbulkan oleh makhluk hidup, baik
hewan maupun tumbuhan – yang menurut kenyataannya berkisar dari manusia,
pemakan tumbuhan yang besar, pohon-pohon sampai ke mikroorganisme tanah.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah pengamatan atau observasi.

B. Waktu dan Tempat Penelitian


Praktikum ini dilakukan pada hari Senin 25 Februari 2019 di halaman depan
gedung C2 dan C3 Unesa Ketintang.

C. Variabel Penelitian
Variable Kontrol: pola plot
Variabel Manipulasi: lokasi plot
Variabel Respon: Indeks Nilai Penting, Indeks Dominansi, Kerapatan Relatif,
Dominansi Relatif, Dan Frekuensi Relatif, jenis pohon, suhu, pH, dan kelembaban.

D. Definisi operasional penelitian


Pada penelitian ini terdapat variabel manipulasi yaitu lokasi plot pada lahan
hijau halaman depan gedung C2 dan C3 Unesa Ketintang yang memiliki populasi
pohon yang akan diketahui jenis-jenisnya.
Variabel kontrol yaitu pola plot yang diteliti pada lahan hijau halaman depan
gedung C2 dan C3 Unesa Ketintang dengan pola titki pusat ditengah dan dikelilingi
4 sub titik pusat.
Variabel respon yaitu Indeks nilai penting, Indeks Dominansi, Kerapatan
Relatif, Dominansi Relatif, dan Frekuensi relatif, suhu, pH, dan kelembaban yang
digunakan untuk menganalisis vegetasi pohon yang ada di lahan hijau halaman
depan gedung C2 dan C3 Unesa Ketintang.

E. Alat dan Bahan


1. Kantong Plastik
2. Karet Gelang
3. Kertas dan Pulpen
4. Meteran Gelang
5. Tali raffia
6. Thermometer Hg atau alcohol
7. pH dan kelembaban tanah
8. Buku identifikasi
F. Rancangan Percobaan
Point center

I II

IV III

Point center

IV III
4 Tumbuhan dekat point center

Jarak tumbuhan dari point center, keliling tumbuhan, dan


diameter tumbuhan

Identifikasi dan analisis vegetasi pohon

G. Langkah Kerja
1. Ditentukan luas daerah yang diteliti sepanjang garis transek di Sekitar Taman
Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Mengukur setiap jarak di sepanjang 1
m garis transek. Ditandai tiap-tiap transek sebagai titik cuplikan tiap kelompok
2. Tiap kelompok mengambil setiap titik 4 kali.
3. Pada masing-masing plot kuadrat, menentukan titik pusatnya. Dari titik pusat
tersebut ditentukan 4 sub titik pusat. Setelah itu menentukan jarak dari masing-
masing sub titik pusat (Metode Point Centered Quarter).
4. Diidentifikasi spesises tumbuhan pada sub titik pusat dan mengukur diameternya
serta diukur jaraknya dari point center.
5. Diambil daun atau bagian pohon tersebut untuk dibuat herbarium agar
mempermudah melakukan identifikasi.
6. Diidentifikasi pohon tersebut dengan menggunakan buku identifikasi.
7. Diukur pH tanah dan kelembaban tanah masing-masing dengan menggunakan
soil pH.
8. Mengukur suhu tanah dengan thermometer alcohol atau Hg.
BAB IV
HASIL DAN ANALISIS

A. Hasil
Tabel 1. Hasil Analisis Data Vegetasi Pohon di Lahan Depan Gedung C03 dan
C02 FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Spesies Rata- Kerapata Jumlah Kerapata Dominans Frekuens Nilai


rata n Absolut Habitu n Relatif i Relatif i Relatif Pentin
Jarak (m) s dalam (%) (%) (%) g (IV)
{P(m) Area
}
Swieteni 3,8175 5 5 100% 100% 100% 300%
a
mahogini

Tabel 2. Analisis Data Kondisi Lingkungan Vegetasi Pohon di Lahan Depan


Gedung C03 dan C02 FMIPA Universitas Negeri Surabaya

No. Diagonal Diameter Keliling Suhu (ºC) pH Kelembapan


Stasiun Rata-rata Rata-rata (m)
(m) (m)
1 4,5325 0,304 2,582 29 6,8 10%
2 2,9425 0,34 1,652 30 6,8 10%
3 3,725 0,368 1,920 30 6,8 10%
4 5,175 0,4 2,450 30 6,8 10%
5 2,7125 0,306 1,638 29 6,8 10%
Rata-rata 3,8175 0,3436 2,0484 29,6 6,8 10%

B. Analisis Data
Dari praktikum analisis vegetasi yang telah dilakukan pada 5 stasiun plot kuadrat,
dengan 4 sub titik pusat bertempat di lahan depan Gedung C03 dan C02, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Surabaya, Ketintang,
diperoleh suatu hasil data antara lain meliputi jarak rata-rata 3,81 m, kerapatan absolut
sebesar 5, jumlah habitus dalam area 5, kerapatan relatif 100%, dominansi relatif 100%,
frekeunsi relatif 100%, sehingga diperoleh nilai penting sebesar 300%, yang mana
dengan didominansi oleh satu jenis pohon, yaitu Swietenia mahogini. Adapun pada data
kondisi lingkungan yang diperoleh pada kelima stasiun plot kuadrat, diperoleh hasil
analisis yaitu besar nilai rata-rata diagonal 3,8175 m, rata-rata diameter 0,3436 m,
keliling 2,0484 m, suhu rata-rata sebesar 29,6 ºC, pH 6,8 dan kelembapan dengan
persentase sebesar 10%.

C. Pembahasan
Pada analisis vegetasi yang dilakukan bertempat pada lahan depan Gedung C03
dan C02, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri
Surabaya, Ketintang, di mana digunakan metode dengan mengukur setiap jarak di
sepanjang 1 m garis transek kemudian ditandai tiap-tiap transek sebagai titik cuplikan
tiap kelompok. Sucipto (2008), menyatakan bahwa luas area tempat pengambilan
contoh komunitas tumbuhan atau vegetasi sangat bervariasi, tergantung pada bentuk
atau struktur vegetasi tersebut. Yang perlu diperhatikan dalam menentukan luas
minimum yang dipakai adalah seluas apapun percontohan diambil harus dapat
menggambrkan bentuk vegetasi secara keseluruhan. Pada hasil data analisis vegetasi
yang didapatkan, jenis pohon Swietenia mahogini merupakan satu-satunya spesies
tunggal yang mendominasi, yaitu dengan hasil analisis meliputi jarak rata-rata 3,81 m,
kerapatan absolut sebesar 5, jumlah habitus dalam area 5, kerapatan relatif 100%,
dominansi relatif 100%, frekeunsi relatif 100%, sehingga diperoleh nilai penting sebesar
300%. Dominansi vegetasi jenis pohon Swietenia mahogini dapat ditarik suatu
kesesuaian terkait kondisi tanah dan lingkungan di mana diperoleh data analisis yaitu
temperatur rata-rata sebesar 29,6 ºC, pH 6,8 dan kelembapan dengan persentase sebesar
10%.
Indeks Nilai Penting merupakan salah satu parameter yang dapat memberikan
gambaran tentang peranan spesies yang bersangkutan dalam komunitasnya atau pada
lokasi penelitian (Sundarapandian dan Swami, 2000). Dalam hasl analisis vegetasi ini,
Indeks Nilai Penting Vegetasi dengan besar 300% oleh spesies Swietenia mahogini
adalah menunjukkan dominansi penuh atau mutlak berkaitan dengan peran terhadap
komunitas dalam ekosistemnya. Tanaman mahoni sudah lama dibudidayakan di
Indonesia dan sudah beradaptasi dengan iklim tropis di Indonesia. Mahoni adalah
tumbuhan tropis yang tumbuh liar di hutan jati, pinggir pantai dan banyak ditanam di
pinggir jalan atau di lingkungan rumah dan halaman perkantoran sebagai tanaman
peneduh (Arief, 2002). Tanaman ini termasuk jenis tanaman yang tidak memiliki
persyaratan tipe tanah secara spesifik, mampu bertahan hidup pada berbagai jenis tanah
bebas genangan dan reaksi tanah sedikit asam-basah tanah, gersang atau marginal
walaupun tidak hujan selama berbulan-bulan mahoni masih mampu untuk bertahan
hidup. Pertumbuhan mahoni akan tetap subur, bersolum dalam dan aerasi baik pH 6,5
sampai 7,5 tumbuh dengan baik sampai ketinggian maksimum 1.000 mdpl sampai 1.500
mdpl (Mindawati dan Megawati, 2014). Mahoni termasuk tanaman yang tahan naungan
(tolerance spesies) yang mampu bersaing dengan alang-alang ataupun semak belukar
dalam memperoleh sinar matahari, sehingga cocok untuk tanaman reboisasi pada areal
alang – alang yang rapat. Perakaran waktu muda sangat cepat tumbuhnya terutama akar
tunggang sehingga memerlukan jenis tanah dengan solum yang agak tebal. Mahoni
ditanam di pulau jawa pada berbagai jenis tanah, di daerah dengan curah hujan 500 –
2500 mm/th atau tipe iklim A-D menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson pada sampai
1000 mdpl. Iklim yang cocok untuk tanaman mahoni sangat bervariasi, umumnya yang
mempunyai curah hujan yang tinggi. Mahoni tumbuh di Amerika Tengah dengan curah
hujan kira – kira 1500 mm/th. Mahoni umunya tumbuh di daerah tropis, di daratan
rendah hingga ketinggian 1500 mdpl (Ramdan, 2004). Keanekaragaman spesies yang
kurang bervariasi, di mana hanya ditemukan satu jenis spesies Swietenia mahogini, hal
ini dapat disebabkan oleh metode penempatan plot yang sangat berdekatan di mana
dilakukan dalam mengetahui luasan petak minimum yang akan mewakili ekosistem
yang terdapat pada suatu petak yang diplot. Di mana luasan petak contoh adalah
mempunyai hubungan erat dengan keragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut.
Semakin tinggi keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut, makin luas
petak contoh yang digunakan (Sugianto, 1994). Menurut Latifah (2005), terdapat faktor-
faktor yang mempengaruhi jumlah spesies di dalam suatu daerah, antara lain fluktuasi
iklim yang berdampak terhadap persediaan air dan suhu ekstrim, keseragaman habitat,
serta ukuran luas daerah sebagai kuantitatif daya tampung keseragaman secara kasar.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
1. Nama tumbuhan Swietenia mahagoni
2. Kerapatan populasi 100%
3. Dominansi relative sebesar 100%
4. Frekuensi relative sebesar 100%
5. Nilai penting komunitas 300%
6. Didapatkan pohon Swietenia mahagoni pada setiap plot

B. Saran
Praktikum vegetasi pohon merupakan praktikum yang mudah namu memerlukan
waktu yang lama dan kerjasama antar anggota tim karena banyaknya bagian-bagian
yang harus diukur dan dihitung.
DAFTAR PUSTAKA
Arief, O.E. 2002. Pohon-pohon Pelindung Jalan. Bogor: PPAK LPH Bogor.

Cottam, G., dan Curtis, J. T. (1956). The Use of Distance Measures in Phytosociological
Sampling. Ecology, 37(3), 451-460.

Cintrόn, G., dan Novelli, Y. S. (1984). Methods for Studying Mangrove Structure.dalam
Snedaker, S.C., dan Snedaker, J.G. (Eds.). The Mangrove Ecosystem: Research
Methods. Paris: UNESCO.

Greig-Smith, P. 1983. Quantitative Plant Ecology, Studies in Ecology. Volume 9. Oxford:


Blackwell Scientific Publications.

Kusmana, C. 1997. Metode Survey Vegetasi. PT. Penerbit Institut Pertanian Bogor: Bogor.

Latifah, Siti. 2005. Analisis Vegetasi Hutan Alam. http://www.geocities.com/ejurnal/.pdf .


diakses 8 Maret 2019.

Latifah, S. 2005. Analisis Vegetasi Hutan Alam. Sumatra Utara: USU Respitory.

Marsono D. 1977. Deskripsi Vegetasi dan Tipe-tipe Vegetasi Tropika. Yayasan Pembina
Fakultas Kehuatanan UGM.Yogyakarta

Mindawati, N., dan Megawati. 2014. Manual Budaya Mahoni (Swietenia macrophylla king).
Bogor: PT Citra Adidaya Bakti.

Mueller-Dombois, D. dan H. Ellenberg. 1974. Aims And Methods Of Vegetation Ecology.


New York.

Ramdan, H. 2004. Evaluasi Pertumbuhan Tanaman Mahoni Daun Besar pda Beberapa Jenis
Studi Kasus di KPH Banten. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB.

Setiadi. 1984. Ekologi Tropika. Bandung : Institut Teknologi Bandung.

Sundarpandian, S.M., Swamy, P.S. 2000. “Forest Ecosystem Structureand Composition


Along An Altitudinal Gradient in The Western Ghats, South India”. Journal of
Tropical Forest Science. Vol. 12 No. (1): 104-123.

Sucipto, H. 2008. Teori dan Praktik Ekologi. Surabaya: Airlangga Press.

Sugianto, A. 1994. Ekologi Kuantitatif, Metode Analisis Populasi dan Komunitas. Malang:
Usaha Persada.
Syafei, E.S. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung: ITB.
LAMPIRAN

Plot pohon Switenia mahagoni Mengukur keliling plot

Suhu tanah disekitar pohon

Anda mungkin juga menyukai