Anda di halaman 1dari 51

TUGAS AKHIR MODUL 1 PROFESIONAL

Oleh:
YENI TUSIA DEWI, S.Pd RESTY HANDHAYANI, SPd
ASAL SEKOLAH: SMPN 5 SEBULU ASAL SEKOLAH: SMAN 1 MUARA WAHAU
NO. PESERTA: 19160215410066 NO. PESERTA : 19161015410208
KELAS: PPKN KELAS: PPKN

TUGAS BAGIAN 1
a. Diskusikan di kelompok anda tentang gagasan-gagasan the founding
fathers dalam merumuskan dasar negara Indonesia pada sidang BPUPKI
dan rumuskan kesimpulan dari diskusi kelompok anda.
Jawaban:
1. Pada tanggal 29 Mei 1945, Mr. Muhammad Yamin menyampaikan hasil
sidang BPUPKI melalui pidatonya untuk menyampaikan gagasan tentang
konsep dasar negara Indonesia yang merdekat. Gagasan Muhammad Yamin
adalah sebagai berikut:
a. Peri Kebangsaan
b. Peri Kemanusiaan
c. Peri Ketuhanan
d. Peri Kerakyatan
e. Kesejahteraan Rakyat
2. Pada tanggal 31 Mei 1945, Mr. Soepomo mengemukakan gagasannya
dalam sidang BPUKI yang isinya adalah sebagai berikut:
a. Paham Negara Kesatuan
Negara yang mengatasi segala golongan dan perorangan menjadi satu
kesatuan.
b. Penghubungan Negara dan Agama
Urusan agama dan negara dipisahkan dikarenakan setiap orang bebas
memeluk agama kepercayaannya masing-masing tanpa ada unsur
paksaan.
c. Sistem Badan Permusyawaratan
Kedudukan kepala negara dalam negara persatuan itu penting.Seorang
kepala negara haruslah bersatu jiwa dengan seluruh rakyatnya.
d. Sosialisme Negara
Dalam negara yang berlandaskan persatuan, dalam hal ekonomi dipakai
sistem sosialisme negara.Sistem tolong menolong dan sistem koperasi
hendaknya idpakai sebagai salah satu dasar ekonomi negara Indonesia.
e. Hubungan antarbangsa
Indonesia memiliki keragaman budaya, adat istiadat, suku dan bahasa
daerah.Hubungan tersebut harus dijalin dengan semangat kesatuan.
3. Pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno menyampaikan hasil pidatonya tanpa
teks mengenai rumusan dasar negara Indonesia. Dalam pidatonya tersebut,
Ir. Soekarno menyampaikan lima asas yang disebut sebagai Pancasila.
Rumusan Pancasila adalah sebagai berikut:
a. Kebangsaan Indonesia
b. Internasionalisme atau perikemanusiaan
c. Mufakat atau demokrasi
d. Kesejahteraan sosial
e. Ketuhanan yang Maha Esa

b. Buatlah kesimpulan kelompok diskusi anda tentang sejarah lahirnya


Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.
Jawaban:
Adapun beberapa keputusan politik yang berpengaruh terhadap lahirnya
Pancasila.
 Pembentukan BPUPKI (29 April 1946) Badan Penyelidik Usaha-usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) bertujuan untuk membahas
hal-hal yang berhubungan dengan tata pemerintahan Indonesa, termasuk
dasar negara.Sidang BPUPKI inilah yang menjadi sejarah Pancasila sebagai
dasar negara. Sidang BPUPKI ini diketuai oleh Dr. Radjiman Widyodiningrat
dengan 33 pembicara pada sidang pertama BPUPKI (29 Mei-1 Juni 1945).
1. Mohammad Yamin (29 Mei 1945)
Mohammad Yamin yang merupakan salah satu tokoh penting kemerdekaan
Indonesia, mengusulkan dasar negara yang disampaikan dalam pidato tidak
tertulisnya pada sidang BPUPKI yang pertama, diantaranya peri
kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan, dan
kesejahteraan rakyat. Setelah itu, beliau juga mengusulkan rumusan 5 dasar
yang merupakan gagasan tertulis naskah rancangan UUD Republik
Indonesia, yaitu:
a. Ketuhanan Yang Maha Esa.
b. Kebangsaan Persatuan Indonesia.
c. Rasa Kemanusian yang Adil dan Beradab.
d. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan.
e. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
2. Soepomo (31 Mei 1945)
Dasar negara yang diusulkan oleh Mr. Soepomo antara lain:
a. Paham Persatuan.
b. Perhubungan Negara dan Agama.
c. Sistem Badan Permusyawaratan.
d. Sosialisasi Negara.
e. Hubungan antar Bangsa yang Besifat Asia Timar Raya.
3. Soekarno (1 Juni 1945)
Pada sidang BPUPKI yang pertama ini, Soekarno juga mengusulkan dasar
negara yang terdiri dari 5 poin. Dan kemudian dinamakan dengan Pancasila
yang meliputi:
a. Kebangsaan Indonesia
b. Internasionalisme atau Perikemanusiaan
c. Mufakat atau Demokrasi
d. Kesejahteraan Sosial
e. Ketuhanan yang Berkebudayaan
Hasil usulan dari ketiga tokoh pada sidang BPUPKI tersebut ditampung dan
kemudian dibahas lagi pada lingkup kepanitiaan yang lebih kecil.Panitia yang
merupakan bentukan BPUPKI tersebut sering dikenal sebagai Panitia
Sembilan.
 Panitia Sembilan (22 Juni 1945)
Panitia yang beranggotakan sembilan orang ini berhasil merumuskan naskah
Rancangan Pembukaan UUD yang dikenal sebagai Piagam Jakarta (Jakarta
Charter). Adapun rumusan Pancasila yang termaktub dalam Piagam Jakarta:
a. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-
pemeluknya
b. Kemanusiaan yang adil dan beradab
c. Persatuan Indonesia
d. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksan dalam
permusaywaratan/perwakilan
e. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
 Sidang BPUPKI II(10-16 Juli 1945)
Untuk membahas hasil kerja panitia sembilan, BPUPKI mengadakan sidang
yang kedua dan menghasilkan beberapa keputusan, yang meliputi: pertama,
kesepakatan dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila seperti yang tertuang
dalam Piagam Jakarta. Kedua, negara Indonesia berbentuk negara Republik,
hsail ini merupakan kesepakatan 55 suara dari 64 orang yang hadir. Ketiga,
kesepakatan mengengai wilayah Indonesia yang meliputi wilayah Hindia
Belanda, Timor Timur, sampai Malaka (Hasil kesepakatan 39 suara). Dan
yang terakhir, pembentukan tiga panitia kecil sebagai: Panitia Perancang
UUD, Panitia Ekonomi dan Keuangan, Panitia Pembela Tanah Air. Akhirnya,
pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia secara resmi memproklamasikan
kemerdekaannya.Sehari setelah kemerdekaan, BPUPKI diganti oleh PPKI
yang bertujuan untuk menyempurnakan rumusan Pancasila yang tercantum
dalam Pembukaan UUD 1945.
 Sidang PPKI (18 Agustus 1945)
Dalam sejarah Pancasila, sidang PPKI yang dilakukan sehari setelah
Indonesia merdeka masih saja terjadi perubahan pada sila pertama yang
diusulkan oleh Muhammad Hatta. Sila pertama yang semula berbunyi
”Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-
pemeluknya”, kemudian diubah menjadi lebih ringkas, yaitu”Ketuhanan Yang
Maha Esa”. Sehingga Pancasila menjadi:
a. Ketuhanan Yang Maha Esa
b. Kemanusiaan yang adil dan beradab
c. Persatuan Indonesia
d. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/ perwakilan
e. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Penghapusan sembilan kata dari sila pertama tersebut sering menjadi isu
yang kontroversial pada saat itu, bahkan hingga kini.Namun yang harus kita
tanamkan dan catat untuk diri masing-masing dari materi sejarah Pancasila
ini, sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa berlaku untuk semua rakyat
Indonesia. Seharusnya apabila kita meresapi sejarah Pancasila sebagai dasar
negara Indonesia, segala permasalahan yang menyangkut dengan sila
pertama tidak harus dan tidak patut untuk terjadi lagi. Karena hal tersebut
akan bertentangan dengan Pancasila.

c. Lima sila Pancasila digali dari nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.


Diskusikan di kelompok anda, seperti apa penjelasan yang dapat diberikan
kepada siswa sehingga siswa dapat memahami pernyataan di atas.
Jawaban:
1. Sebagai guru sebelum melaksanakan kegiatan pemebelajaran harus terlebih
dahuu mempersiapkan perencanaan pembelajarann terlebih dahulu, memilih
metode atau model pembelajaran yang tepat terkait tema yang akan
disampaikan, mempersiapkan sarana dan prasarana yang mendukung agar
kegiatan berjalan sesuai dengan harapan.
2. Menyampaikan materi disertai dengan praktik langsung yang sebelumnya
diberikan contoh-contoh terkait dengan lima sila pancasila yang digali dari
nilai-nilai budaya bangsa indonesia.
3. Terlebih dahulu memberikan penjelasan mengenai pengertian, fungsi dan
peranan pancasila
4. Dalam kegiatan pembelajaran juga dapat bermain peran sebagai aplikasi
atau penerapan nilai nilai pancasila contohnya anak didik selalu berdoa
sebelum memulai kegiatan belajar, memberikan salam ketika bertemu
dengan orang yang lebih tua misal kepada gurunya ketika disekolah ataupun
berpapasan dijalan, salam ketika akan memasuki ruang guru, ruang kelas
dan ruang lainya.
5. Guru juga memegang peranan penting dalam penananaman nilai nilai
pancasila, jadi guru tidak hanya menjelaskan dan menyampaikan teori
melainkan guru juga dijadikan sebagai rule model bagi anak didik dimanapun
karena segala dikap dan tindak tanduk guru akan memberikan pengarh yang
sangat besar untuk terlaksananya kegiatan pembelajarn dikelas, jika guru
sudah tidak dapat memberikan contoh yang sesuai dengan nilai pancasila
tentunya anak didikpun tidak akan memberikan respon yang positif terhadap
pengajaran yang akan di berikan. Jadi stimulus yang baik akan menimbulkan
respon yang baik pula.
6. Teknik lain yang dapt memberikan pemahaman terhadap ank didik yaitu
contoh langsung jadi tidak hanya sekedar membayangkan contoh yang ada
diluaran, selain dihimbau anak didik dapat diajak langsung berpartisipasi
dalam setiap kegiatan positif yang dapat menumbuhkan semangat dalam
menerapkan nilai nilai pancasila. Yang paling sederhana adalah nilai
pancasila yang berhubungan dengan nilai-nilai ketuhanan yang terdapat
dalam sila pertama yaitu ketuhanan yang maha esa. Dimana nilai-nilai
ketuhanan ini menjadi fondasi dasar manusia dalam menjalankan
kehidupannya, sehingga setiap generasi muda harus benar-benar menjiwai
nilai ketuhanan ini. Untuk itu generasi muda dapat dilatih dan diarahakan
agar selalu rajin dalam menjalankan ibadah dalam agama mereka masing-
masing dengan cara-cara yang sederhana dan menarik. Misalnya, diadakan
sholat dzuhur berjamaah setiap hari disekolah, shalat dhuha, mengaji
bersama, pesantren kilat, kajian rutin oleh guru agama masing-masing,
melakukan solat berjamaah disekolah dan masih banyak cara-cara yang
dapat dilakukan untuk membina siswa dalam melakukan ibadah perlu
diketahui bahwa kegiatan keagamaan bukan hanya tugas guru agama saja
melainkan guru ppkn juga dan peran guru tidak hanya sekedr mengarahkan
namun juga harus ikut serta terlibat dalam kegiatan positif tersebut
7. Anak didik diberikan keleluasaan dalam menggali informasi terkait nilai nilai
pancasila melalui berbagai sumber belajar dan pemanfaatan media digital
juga sangat diperlukan untuk menunjang kegiatan pembelajaran.
TUGAS BAGIAN 2
a. Identifikasi beberapa akibat apabila suatu bangsa tidak memiliki
pandangan hidup!
Jawaban:
Jika suatu bangsa tidak memiliki pandangan hidup, bangsa tersebut tidak
mempunyai cerminan / gambaran dari masing masing sikap pada rakyatya dan
kehidupannya tidak teratur. Sehingga akan menjadi bangsa yang RAPUH karena
tidak memiliki arah dan tujuan jelas yang hendak dicapai, tidak memiliki
pedoman, pandangan dan pegangan hidup sehingga mudah terombang-ambing
dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul seiring dengan gerak
masyarakat yang dinamis. Keberadaan pandangan hidup ini penting sebab
dengan pandangan hidup lah sebuah bangsa bisa membangun diri dan
negaranya lebih terarah.

b. Amatilah perilaku masyarakat di sekitar anda. Buatlah daftar tentang


contoh perilaku masyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan
contoh perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Jawaban:

HASIL PENGAMATAN PERILAKU MASYARAKAT DISEKITAR TEMPAT


TINGGAL YANG SESUAI DAN TIDAK SESUAI DENGAN NILAI-NILAI
PANCASILA

PERILAKU TIDAK SESUAI DENGAN NILAI PANCASILA


1. Contoh sikap yang bertentangan dengan Sila ke-1 (Pertama) dalam Pancasila
adalah sebagai berikut :
 Tidak mengakui adanya Tuhan
 Tidak menjalankan kewajiban sebagai umat beragama
 Memaksakan suatu agama kepada orang lain
 Melakukan tindakan diskriminasi terhadap orang yang berbeda agama
 Tidak mau beribadah
 Menganggu orang yang sedang beribadah
 Melakukan pelecehan terhadap simbol agama
 Menghina agama lain
 Memusuhi penganut agama lain
 Menghalangi orang lain untuk beribadah
 Tidak mau bekerjasama dengan pemeluk agama lain
 Mengabaikan toleransi beragama dalam masyarakat
 Menghalangi orang lain menjalankan kewajiban agama
 Saling bermusuhan terhadap sesama penganut agama
 Menyebarkan paham atheis
2. Contoh-Contoh Sikap dan Perilaku yang Bertentangan dengan Sila ke-2 (Kedua)
Pancasila adalah sebagai berikut :
 Melanggar hak asasi manusia
 Tidak mau membantu korban bencana alam
 Masa bodoh terhadap orang yang mengalami musibah
 Melakukan penindasan terhadap orang lain
 Berbuat semena-mena terhadap orang lain
 Memusuhi bangsa lain
 Menyebarkan kebencian terhadap bangsa lain
 Merampas hak orang lain
 Tidak mau membela yang benar
 Membiarkan orang lain sengsara
 Menindas orang yang lemah
 Menghina orang miskin
 Memfitnah orang lain
 Tidak mengakui persamaan derajat
 Merendahkan martabat orang lain
3. Contoh-Contoh Sikap dan Perilaku yang Bertentangan dengan Sila ke-3 (Ketiga)
Pancasila
 Mengadu domba sesama teman
 Membuat keributan antar golongan
 Suka menuduh kelompok lain
 Menyebarkan berita yang tidak benar
 Membuat suasana saling mencurigai
 Tidak bangga sebagai bangsa Indonesia
 Tidak mau berkorban untuk kepentingan Negara
 Tidak bersedia membela Negara
 Menjelek-jelekkan bangsa sendiri
 Merusak persatuan dalam masyarakat
 Melecehkan simbol Negara
 Bersikap egois kedaerahan
 Memilih jalan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan
 Suka mencaci maki kelompok lain
 Merendahkan martabat bangsa
4. Contoh-Contoh Sikap dan Perilaku yang Bertentangan Dengan Sila ke-4 (Keempat)
Pancasila
 Memaksakan kehendak dalam musyawarah
 Tidak mau bermusyawarah
 Tidak menghargai pendapat orang lain
 Menolak hadir saat diundang rapat
 Bersikap tidak adil saat bermusyawarah
 Menolak hasil musyawarah
 Tidak menggunakan hal pilih dalam pemilihan umum
 Memaksa pilihan orang lain dalam pemilihan umum
 Tidak mengakui keputusan DPR
 Melanggar undang-undang yang disahkan DPR
 Mengabaikan hak politik orang lain
 Menghalangi orang lain untuk menggunakan hak pilih dalam pemilihan umum
 Bersekongkol untuk membuat keputusan yang tidak adil
 Mengutamakan kepentingan pribadi dalam membuat keputusan musyawarah
 Membuat keputusan secara sepihak dalam rapat
5. Contoh-Contoh Sikap dan Perilaku yang Bertentangan dengan Sila ke-5 (Kelima)
Pancasila
 Bersikap tidak adil dalam lingkungan social
 Tidak mau memenuhi kewajiban
 Melanggar peraturan lalu lintas
 Membuang sampah sembarangan
 Tidak mau bergotong royong
 Merusak fasilitas umum
 Bersikap boros
 Bergaya hidup mewah
 Membuat suara bising yang mengganggu tetangga
 Menerobos lampu merah saat berkendara
 Membuang sampah di got
 Menyerobot antrian
 Melakukan tindakan korupsi uang Negara
 Melakukan pemerasan terhadap orang lain
 Bersikap pilih kasih dalam pergaulan di masyarakat

PERILAKU SESUAI DENGAN NILAI PANCASILA


1. Nilai Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa.
 Selalu tertib dalam menjalankan ibadah.
 Tidak berbohong kepada guru maupun teman.
 Bersyukur kepada Tuhan karena memiliki keluarga yang menyayanginya.
 Tidak meniru jawaban teman (menyontek) ketika ulangan ataupun mengerjakan
tugas di kelas.
 Tidak mengganggu teman yang berlainan agama dalam beribadah.
 Menceritakan suatu kejadian berdasarkan sesuatu yang diketahuinya, tidak
ditambah-tambah ataupun dikurangi.
 Tidak meniru pekerjaan temannya dalam mengerjakan tugas di rumah.
 Percaya pada kemampuan sendiri dalam melakukan apapun , karena Allah
sudah memberian kelebihan dan kekurangan kepada setiap manusia.
2. Nilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
 Menolong teman yang sedang kesusahan.
 Tidak membeda-bedakan dalam memilih teman.
 Berbagi makanan dengan teman lain jika sedang makan didepan teman lain.
 Mau mengajari teman yang belum paham dengan pelajaran tertentu.
 Memberikan tempat duduk kepada orang tua, ibu hamil, atau orang yang lebih
membutuhkan saat ada di kendaraan umum.
 Tidak memaki-maki teman bersalah kepada kita.
 Meminta maaf atau memaafkan apabila melakukan kesalahan.
 Hormat dan patuh kepada guru, tidak membentak-bentaknya.
 Hormat dan patuh kepada orang tua.
3. Nilai Persatuan Indonesia
 Mengikuti upacara bendera dengan tertib.

 Bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah.

 Tidak berkelahi sesama teman maupun dengan orang lain.

 Memakai produk-produk dalam negeri.

 Menghormati setiap teman yang berbeda ras dan budayanya.

 Bangga menjadi warga negara Indonesia.

 Tidak sombong dan membangga-banggakan diri sendiri.

 Mengagumi keunggulan geografis dan kesuburan tanah wilayah Indonesia.

4. Nilai Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijasanaan/Permusyawaratan


 Membiasakan diri bermusyawarah dengan teman-teman dalam menyelesaikan
masalah.

 Memberikan suara dalam pemilihan ketua kelas ataupun ketua OSIS

 Menerima kekalahan dengan ikhlas apabila kalah bersainga dengan teman lain.

 Berani mengkritik teman, ketua kelan maupun guru yang bertindak semena-
mena.

 Mengutamakan rapat OSIS daripada bermain bersama teman.

 Berani mengemukakan pendapat di depan kelas.


 Melaksanakan segala aturan dan keputusan bersam dengan ikhlas dan
bertanggung jawab.

5. Nilai Keadilan Sosial Bagi Seluru Rakyat Indonesia


 Berlaku adil kepada siapapun.

 Berbagi makanan kepada teman lain dengan sama rata.

 Seorang ketua OSIS memberikan tugas yang merata dan sesuai dengan
kemampuan anggotanya.

 Seorang Ibu tidak boleh pilih kasih dalam membelikan mainan anaknya.

 Seorang guru memberikan pujian kepada siswa yang rajin dan memberi nasihat
kepada siswa yang malas.

 Tidak pilih-pilih dalam berteman.


c. Sesuai dengan yang anda amati pada tugas nomor 1 di atas, buatlah
identifikasi faktor-faktor penyebab dari masyarakat berperilaku tidak sesuai
dengan nilai-nilai Pancasila. Buatlah dalam bentuk laporan.
Jawaban:
LAPORAN PENYEBAB MASYARAKAT BERPRILAKU TIDAK SESUAI DENGAN
NILAI-NILAI PANCASILA
FAKTOR

NO PENYEBAB KETERANGAN

1 Kurangnya peranan Agama selalu membawa manusia pada jalan yang


pendidikan Agama benar. Agama mengajarkan kita untuk selalu berbuat
dalam baik bagi sesama. Jika kurangnya pegangan seseorang
pembentukan sikap pada ajaran agama, maka hilanglah kekuatan
remaja pengontrol yang ada didalam dirinya. Namun, jika
setiap orang utamanya generasi muda teguh dengan
keyakinannya kepada Tuhan serta menjalankan agama
dengan sungguh-sungguh, tidak perlu adanya
pengawasan yang ketat, karena setiap orang sudah
dapat menjaga dirinya sendiri atau kekuatan pengontrol
dalam dirinya, tidak mau melanggar hukum-hukum dan
ketentuan-ketentuan Tuhan. Sebaliknya dengan
semakin jauhnya remaja dari agama, semakin sulit
memelihara moral dalam diri remaja itu, dan semakin
kacaulah suasana, karena semakin banyak
pelanggaran-pelanggaran, hak, hukum dan nilai moral.
Pendidikan Agama seharusnya dapat meminimalkan
kenakalan-kenakalan remaja yang acuh terhadap
negaranya sendiri. Kehidupan remaja Indonesia akan
sangat bermanfaat apabila memiliki kesadaran
terhadap pentingnya Pancasila dalam kelangsungan
hidup bermasyarakat.

2 kurangnya Remaja adalah aset bangsa. Di dalam lingkungan


pendidikan sekolah kita rasa pendidikan Pancasila masih sangat
Pancasila kurang. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila
kurang menjadi perhatian yang penting bagi kalangan
remaja karena Nilai-nilai pancasila dianggap kurang
menarik untuk diterapkan, bahkan lebih parahnya lagi
belakangan ini remaja semakin mengarah kepada
paham barat yang identik dengan hidup bebas
sebebas-bebasnya. dan mereka mereka seakan telah
lupa memiliki dasar negara sendiri yaitu Pancasila.
Pendidikan moral juga sangat penting dalam
pertumbuhan dan perkembangan remaja menjadi
seorang dewasa yang akan lepas ke dunia yang lebih
keras. Indonesia perlu membentuk para remaja yang
berkualitas, yang cinta pada tanah airnya sendiri dalam
segala aspek kehidupan. Maka dari itu diperlukannya
pendidikan Pancasila untuk generasi muda bangsa dan
hendaknya diberikan sejak dini
3 Kurang efektifnya Pembinaan moral yang dilakukan oleh ketiga institusi ini
pembinaan moral tidak berjalan menurut semestinya. Pembinaan moral
yang dilakukan oleh dirumah tangga misalnya harus dilakukan dari sejak
rumah tangga, anak masih kecil, sesuai dengan kemampuan dan
sekolah maupun umurnya. Karena setiap anak lahir, belum mengerti
masyarakat. mana yang benar dan mana yang salah, dan belum
tahu batas – batas dan ketentuan moral yang tidak
berlaku dalam lingkungannya. Tanpa dibiasakan
menanamkan sikap yang dianggap baik, anak-anak
akan dibesarkan tanpa mengenal moral. Pembinaan
moral pada anak dirumah tangga bukan dengan cara
menyuruh anak menghapalkan rumusan tentang baik
dan buruk, melainkan harus dibiasakan.
Moral bukanlah suatu pelajaran yang dapat dicapai
dengan mempelajari saja, tanpa membiasakan hidup
bermoral dari sejak kecil. Seperti halnya rumah tangga,
sekolah pun dapat mengambil peranan yang penting
dalam pembinaan moral anak muda. Hendaknya dapat
diusahakan agar sekolah menjadi sarana yang baik
bagi pertumbuhan dan perkembangan mental dan
moral anak muda. Di samping tempat pemberian
pengetahuan, pengembangan bakat dan kecerdasan.
Dengan kata lain, supaya sekolah merupakan sarana
sosial bagi generasi muda, dimana pertumbuhan
mental, moral dan sosial serta segala aspek
kepribadian berjalan dengan baik. Selanjutnya
masyarakat juga harus mengambil peranan dalam
pembinaan moral. Masyarakat yang lebih rusak
moralnya perlu segera diperbaiki dan dimulai dari diri
sendiri, keluarga dan orang-orang terdekat dengan kita.
Karena kerusakan masyarakat itu sangat besar
pengaruhnya dalam pembinaan moral anak muda.
Terjadinya kerusakan moral dikalangan pelajar dan
generasi muda sebagaimana disebutkan diatas, karena
tidak efektifnnya keluarga, sekolah dan masyarakat
dalam pembinaan moral. Bahkan ketiga lembaga
tersebut satu dan lainnya saling bertolak belakang,
tidak seirama, dan tidak kondusif bagi pembinaan moral
4 Penyimpangan nilai Kenakalan remaja juga termasuk penyimpangan
– nilai Pancasila. terhadap nilai-nilai Pancasila. Bagaimana tidak,
Pancasila mengajarkan pada kita untuk mengutamakan
Tuhan didalam hidup kita, memiliki rasa simpati dan
empati, bersatu walaupun kita memiliki perbedaan satu
sama lain, dan tidak mengutamakan pribadi, serta
bersikap adil kepada sesama kita. Itu hanya beberapa
contoh kecil yang diberikan Pancasila. Namun, dalam
realita kehidupan masih banyak remaja yang
melakukan kenakalan remaja tanpa merasa bersalah
pada diri sendiri, keluarga, dan negara. Contohnya
seperti tawuran antar sekolah yang menunjukkan
bahwa anak muda sekarang sudah tidak memiliki sikap
toleransi, tenggang rasa, dan sikap saling menghargai.
Ada pula remaja yang bertengkar dan melakukan
kekerasan kepada temannya sendiri hanya karena
berselisih pendapat dan juga banyaknya perilaku
bullying, rasisme, serta diskriminasi. Itu menunjukkan
bahwa nilai – nilai Pancasila tak lagi dijadikan pedoman
oleh para generasi muda. Padahal dalam butir
Pancasila sila ke 3 kita mengetahui bahwa kita
hendaknya mengembangkan persatuan Indonesia atas
dasar Bhineka Tunggal Ika.
5 Efek Globalisasi Arus globalisasi sangat cepat merasuk ke dalam
masyarakat terutama di kalangan remaja di Indonesia.
Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu
kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat
banyak anak muda kehilangan kepribadian diri sebagai
bangsa Indonesia.
Hal tersebut ditunjukkan dengan gejala – gejala yang
muncul dalam kehidupan sehari – hari generasi muda
jaman sekarang. Pertama, dari cara berpakaian banyak
remaja – remaja yang bergaya layaknya selebritis yang
cenderung kebaratan. Mereka memakai pakaian yang
minim bahan. Padahal cara berpakaian tersebut jelas
tidak sesuai dengan kebudayaan kita.
Kedua, teknologi internet bukanlah hal yang asing lagi
di Indonesia. Teknologi internet dapat memberikan
informasi tanpa batas dan dapat diakses dengan
mudah oleh siapa saja. Apalagi bagi anak muda
internet sudah menjadi santapan sehari – hari. Jika
digunakan dengan semestinya tentu akan memperoleh
manfaat yang berguna. Namun jika disalahgunakan
akan membawa dampak buruk bagi kita.
Rasa sosial terhadap masyarakat akan memudar
karena mereka lebih memilih berkicau di media sosial
dan lebih sibuk memegang handphone masing –
masing.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah
lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek,
tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Karena globalisasi menganut kebebasan dan
keterbukaan, sehingga banyak anak muda yang
bertindak sesuka hatinya. Contohnya, geng motor anak
muda yang melakukan tindakan kekerasan yang
mengganggu ketentraman dan kenyamanan
masyarakat.
d. Dengan hasil pengamatan pada tugas 1 di atas, diskusikan di kelompok
anda, kemudian buat laporan kelompok tentang upaya apa yang harus
dilakukan agar masyarakat senantiasa berperilaku sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila untuk menciptakan keharmonisan sosial.

Jawaban:
LAPORAN UPAYA YANG HARUS DILAKUKAN AGAR MASYARAKAT SENANTIASA
BERPERILAKU SESUAI DENGAN NILAI-NILAI PANCASILA UNTUK MENCIPTAKAN
KEHARMONISAN SOSIAL

Kenyataan hidup berbangsa dan bernegara bagi kita bangsa Indonesia tidak
dapat dilepaspisahkan dari sejarah masa lampau.Demikian halnya dengan
terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, termasuk di dalamnya
Pancasila sebagai dasar negaranya.Sejarah masa lalu dengan masa kini dan masa
mendatang merupakan suatu rangkaian waktu yang berlanjut dan
berkesinambungan.Dalam perjalanan sejarah eksistensi Pancasila sebagai Dasar
Filsafat Negara Republik Indonesia mengalami berbagai macam interpretasi dan
manipulasi politik sesuai dengan kepentingan penguasa demi kokoh dan tegaknya
kekuasaan yang berlindung di balik legitimasi ideologi negara Pancasila.Kemudian
diperdebatkan kembali kebenaran dan ketepatannya sebagai Dasar dan Filsafat
Negara Republik Indonesia.Bagi bangsa Indonesia tidak ada keraguan sedikitpun
mengenai kebenaran dan ketepatan Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar
negara.
Pancasila sebagai dasar Negara bangsa Indonesia hingga sekarang telah
mengalami perjalanan waktu yang tidak sebentar, dalam rentang waktu tersebut
banyak hal atau peristiwa yang terjadi menemani perjalanan Pancasila tentang
dasar Negara supaya kedepan kita tetap seperti semboyan kita yaitu “Bhineka
Tunggal Ika”. Kemudian Pancasila sebagai dasar filsafat serta ideologi bangsa dan
Negara Indonesia, bukan terbentuk secara mendadak serta bukan hanya diciptakan
oleh seseorang sebagaimana yang terjadi pada ideologi-ideologi lain di dunia
namun terbentuknya Pancasila melalui proses yang cukup panjang dalam sejarah
bangsa Indonesia.
Dengan kondisi bangsa yang semakin dinamis dan semakin pesatnya
perkembangan dinia digital sehingga budaya luar banyak mempengaruhi nilai nilai
yang ada pada bangsa kita dan seraya menggeser bahkan mungkin suatu saat
akan mampu menggantikan budaya kita apabila bangsa kita tidak mampu lagi
memegang teguh nilai Pancasila yang ada dalam diri bangsa.
Adapun upaya yang harus dilakukan agar masyarakat senantiasa berperilaku
sesuai dengan nilai-nilai Pancasila untuk menciptakan keharmonisan sosial, antara
lain:
1. Pendidikan Agama yang harus menjadi peranan penting untuk membentuk
ketakwaan pada diri generasi muda Indonesia
2. Pendidikan moral bagi anak hendaknya dilakukan sedini mungkin agar
membentuk generasi muda yang bermoral dan taat kepada norma aturan.
3. Pendidikan Pancasila yang harus ditanamkan sehingga dapat menjadi
pedoman dan landasan bagi generasi muda.
4. Menumbuhkan kesadaran dalam diri generasi muda Indonesia untuk
membangkitkan semangat Pancasila.
5. Menumbuhkan semangat nasionalisme, misalnya mencintai produk dalam
negeri
6. Menanamkan dan mengamalkan nilai – nilai Pancasila dengan sebaik –
baiknya.
7. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dan keyakinan dengan sebaik
– baiknya.
8. Lebih selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ekonomi, maupun
budaya bangsa.
Selain hal tersebut diatas melakukan sebuah pembiasaan sikap dan perilaku yang
sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sangat penting dalam berbagai dimensi
kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai upaya meningkatkan perilaku yang
sesuai dengan nilai Pancasila, hal ini dikarenakan Pancasila merupakan identitas
dan jati diri bangsa Indonesia. Pembiasaan tersebut dapat dilakukan sebagai
berikut:
1. Membiasakan perilaku sesuai nilai-nilai Pancasila dalam lingkungan keluarga.
Perilaku yang sesuai nilai-nilai Pancasila yang dapat dilakukan dalam
lingkungan keluarga yaitu :
a. Taat dan patuh terhadap orangtua
b. Menjalan Ibadah di Rumah
c. Menghormati orang tua dan saudara
d. Sopan dan santun kepada orang tua
2. Membiasakan perilaku sesuai nilai-nilai Pancasila dalam lingkungan sekolah.
Lingkungan sekolah merupakan tempat yang sangat strategis dalam membina
dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku keseharian siswa,
dengan harapan kelak setelah lulus memiliki kemampuan yang cukup untuk
mengabdikan diri bagi bangsa dan negara. Contoh perilaku/sikap yang sesuai
dengan nilai-nilai Pancasila:
a. Mentaati tata tertib sekolah
b. Mengerjakan tugas sekolah dari guru dengan baik
c. Tidak mencontek ketika ulangan
d. Berteman dengan semua teman sekolah tanpa membedakan suku bangsa
dan agamanya
3. Membiasakan perilaku sesuai nilai-nilai Pancasila dalam lingkungan
pergaulan.
Perilaku dalam pergaulan yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila antara lain:
a. Menghargai pendapat teman
b. Tidak menyakiti hati teman
c. Selalu tolong-menolong terhadap teman yang mangalami musibah
d. Berkerja sama dengan teman untuk kerja bakti
4. Membiasakan perilaku sesuai nilai-nilai Pancasila dalam lingkungan
masyarakat
Lingkungan masyarakat merupakan aspek penting selanjutnya dalam
pelaksanaanperilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.Hal ini
dikarenakan lingkungan masyarakat merupakan lingkup yang lebih luas dari
anggota sebuah negara, yangmemegang peranan penting terhadap
kelestarian pandangan hidup suatu negara. Perilaku sesuai nilai-nilai
Pancasila lainnya dalam lingkungan masyarakat adalah:
a. Tidak mengganggu ibadah orang lain
b. Musyawarah dengan masyarakat untuk membangun lingkungan sekitar
c. Melakukan kerja bakti gotong royong
d. Melakukan poskamling pada malam hari
TUGAS BAGIAN 3
a. Diskusikan dalam kelompok tentang perilaku penyelenggara negara yang
tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Buat laporan hasil diskusi.
Jawaban:

LAPORAN HASIL DISKUSI


TENTANG PERILAKU PENYELENGGARA NEGARA YANG TIDAK SESUAI
DENGAN NILAI-NILAI PANCASILA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pancasila yang merupakan dasar negara Republik Indonesia. Pancasila memiliki
makna dan nilai-nilai luhur dalam setiap silanya, karena setiap butir pancasila itu
dirumuskan dari nilai-nilai yang sudah ada sejak zaman dulu. Pancasila memiliki
nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan pedoman hidup dalam berbangsa dan
bernegara. Penanaman dan penerapan nilai-nilai pancasila pada usia dini sangat
penting dan diperlukan dalam membentuk kepribadian generasi bangsa yang
berkarakter dan bermoral serta mampu bersaing dalam segala bidang.
Maka diskusi ini diselenggarakan untuk mencari solusi terhadap permasalahan
bangsa ini.
B. Tujuan
1. Menemukan solusi agar perilaku menyimpang dari Pancasila tidak terulang
kembali
2. Mencari cara agar masyarakat teredukasi pentingnya menerapkan nilai-nilai
Pancasila
3. Merumuskan strategi agar para generasi muda sibuk dengan hal positif.
C. TOPIK ATAU MASALAH DISKUSI
Perilaku penyelenggara negara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila
BAB II
HASIL DISKUSI

A. POKOK-POKOK MATERI SAJIAN DISKUSI


1. Faktor-faktor umum penyebab perilaku penyelenggaraan Negara yang tidak
sesuai Pancasila
2. Dampak perilaku penyelenggaraan Negara yang tidak sesuai Pancasila
3. Solusi untuk menangani perilaku penyelenggaraan Negara yang tidak sesuai
Pancasila

B. PERTANYAAN-PERTANYAAN DAN TANGGAPAN YANG DI SAMPAIKAN OLEH


PESERTA DISKUSI

Berikut ini beberapa pertanyaan yang di sampaikan oleh peserta:


1. Faktor-faktor umum penyebab perilaku penyelenggaraan Negara yang tidak
sesuai Pancasila
2. Contoh perilaku penyelengaraan Negara yang tidak sesuai dengan Pancasila
3. Dampak perilaku penyelenggaraan Negara yang tidak sesuai Pancasila
4. Solusi untuk menangani perilaku penyelenggaraan Negara yang tidak sesuai
Pancasila
Adapun tanggapan dari peserta diskusi yaitu:
1. Faktor-faktor umum penyebab perilaku penyelenggaraan Negara yang tidak
sesuai Pancasila:
a. Kekuasaan yang Tidak Dapat Dikendalikan, Jika tak dapat mengendalikan
kekuasaan, maka kitalah yang akan dikendalikan oleh kekuasaan tersebut
dan memicu timbulnya banyak penyimpangan.
b. Pandangan Salah Tentang Wewenang yang Diembannya, Seorang
pejabat atau pemimpin terkadang suka salah pandangan dan beranggapan
kalau ia memiliki jabatan tinggi akan bebas bertindak sesuka hati. Atau
memiliki wewenang tak terbatas atau bebas. Padahal memiliki jabatan yang
tinggi, wewenangnya makin tinggi bukanlah merupakan kekuasaan pribadi.
Jangan sampai salah pandangan.
c. Lemahnya Penegakan Hukum Terhadap Perilaku Penyalahgunaan
Wewenang, Di tengah kemiskinan warga, orang-orang buta hukum, korupsi
malah merajalela. Yang mencuri ayam dihukum seumur hidup, yang korupsi
milyaran dihukum beberapa tahun saja.
d. Kebijakan Publik Hanya Dilihat Sebagai Suatu Kesalahan Prosedural,
Memandang kebijakan publik sebagai suatu kesalahan prosedural, akan
tetapi bila tujuannya untuk keuntungan kelompok tertentu atau pribadi dan
merugikan negara, maka termasuk dalam tindak pidana.
e. Moral dan Mental yang Lemah, Maksudnya adalah seseorang yang
diberikan wewenang atau jabatan tinggi namun memiliki moral dan mental
pencuri misalnya, tidak akan dapat mengemban amanah dan menjalankan
tugas sesuai wewenangnya.
f. Tuntutan Ekonomi, Pemimpin atau pejabat pastilah memiliki keluarga yang
harus ia hidupi. Semakin tinggi jabatan, biasanya kebutuhan hidup juga
makin tinggi. Dan pengeluaran yang besar pasak daripada tiang
mengakibatkan seorang pejabat dapat menyalahgunakan wewenangnya
untuk meraup keuntungan materi bagi diri sendiri.
g. Pengawasan yang Lemah, Kurangnya pengawasan dari atas dan pihak-
pihak yang terkait, misalnya dalam pengawasan anggaran.

2. Contoh perilaku penyelengaraan Negara yang tidak sesuai dengan Pancasila


a. Korupsi oleh penyelenggaraan negara`
b. Penggunaan narkoba oleh penyelenggara negara

3. Dampak perilaku penyelenggaraan Negara yang tidak sesuai Pancasila


a. Korupsi oleh penyelenggara negara
 Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dengan membuat
distorsi dan ketidak efisienan yang tinggi.
 Di dalam dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata
pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan
proses formal.
 Korupsi politis ada di banyak negara, dan memberikan ancaman besar
bagi warga negaranya.
b. Penggunaan Narkoba oleh penyelenggara Negara
 Hilangnya rasa kepercayaan dari masyarakat
 Tidak fokus dalam memperjuangkan aspirasi rakyat

4. Solusi untuk menangani perilaku penyelenggaraan Negara yang tidak sesuai


Pancasila
a. Korupsi oleh penyelenggaraan negara`
1. Membangun Supremasi Hukum dengan Kuat, Hukum adalah pilar
keadilan. Ketika hukum tak sanggup lagi menegakkan sendi-sendi
keadilan, maka runtuhlah kepercayaan publik pada institusi ini. Ketidak
jelasan kinerja para pelaku hukum akan memberi ruang pada tipikor untuk
berkembang dengan leluasa. Untuk itu sangat oerlu dilakukan
membangun supremasi hukum yang kuat. Tidak ada manusia yang kebal
hukum, serta penegak hukum tidak tebang pilih dalam mengadili.
2. Menciptakan Kondisifitas Nyata di Semua Daerah, Salah satu
rangsangan tumbuhnya tipikor dengan subur adalah kondisifitas semu di
suatu wilayah otonom. Kondusifitas yang selama ini dielu-elukan adalah
kondusifitas semu belaka. kejahatan korup terus tumbuh dengan subur
tanpa ada yang menghentikannya. bagaimana suatu otonomi daerah
semestinya dikatakan kondusif? yakni daerah yang terbebas dari penyakit
tipikor , bersih penyelewengan serta tidak ada lagi tindak kejahatan yang
merugikan bangsa dan negara.
3. Eksistensi Para Aktivis, para aktifis seperti LSM harus gencar
menyerukan suaranya untuk melawan korupsi. Disini, peran aktif para
aktifis sangat diharapkan
4. Menciptakan Pendidikan Anti Korupsi, Upaya pemberantasan korupsi
melalui jalur pendidikan harus dilaksanakan karena tidak bisa dipungkiri
bahwa pendidikan merupakan wahana yang sangat startegis untuk
membina generasi muda agar menanamkan nilai-nilai kehidupan termasuk
antikorupsi.
5. Membangun Pendidikan Moral Sedini Mungkin, Mengapa banyak
pejabat Negara ini yang korupsi? Salah satu jawabannya karena mereka
bermoral miskin, bertabiat penjahat dan tidak bermartabat. Jika seseorang
memiliki moral yang rendah, maka setiap gerak langkahnya akan
merugikan orang. oleh karena itu sangat penting sekali membekali
pendidikan moral pada generasi muda.
6. Pembekalan pendidikan Religi yang Intensif, Semua agama
mengajarkan pada kebaikan. Tidak ada satupun agama yang menyuruh
kita berbuat untuk merugikan orang lin, seperti korupsi. Peran orang tua
sangat berpengaruf untuk menumbuhkan kesadaran religi pada anak agar
kelak saat dewasa memiliki moral dan mentalitas yang baik

b. Penggunaan narkoba oleh penyelenggara Negara


1. Kampanye anti penyalahgunaan narkoba, Program pemberian
informasi satu arah dari pembicara kepada pendengar tentang bahaya
penyalahgunaan narkoba. Kampanye ini hanya memberikan informasi
saja kepada para pendengarnya, tanpa disertai sesi tanya jawab.
Biasanya yang dipaparkan oleh pembicara hanyalah garis besarnya saja
dan bersifat informasi umum.Informasi ini biasa disampaikan oleh para
tokoh asyarakat. Kampanye ini juga dapat dilakukan melalui spanduk
poster atau baliho.Pesan yang ingin disampaikan hanyalah sebatas
arahan agar menjauhi penyalahgunan narkoba tanpa merinci lebih dala
mengenai narkoba.
2. Penyuluhan seluk beluk narkoba, Berbeda dengan kampanye yang
hanya bersifat memberikan informasi, pada penyuluhan ini lebih bersifat
dialog yang disertai dengan sesi tanya jawab. Bentuknya bisa berupa
seminar atau ceramah.Tujuan penyuluhan ini adalah untuk mendalami
pelbagai masalah tentang narkoba sehingga masyarakat/penyelenggara
negara menjadi lebih tahu karenanya dan menjadi tidak tertarik
enggunakannya selepas mengikuti program ini. Materi dalam program ini
biasa disampaikan oleh tenaga profesional seperti dokter, psikolog, polisi,
ahli hukum ataupun sosiolog sesuai dengan tema penyuluhannya
3. Pendidikan dan pelatihan kelompok sebaya , Perlu dilakukan
pendidikan dan pelatihan didalam kelompok masyarakat/penyelenggara
Negara agar upaya menanggulangi penyalahgunaan narkoba ini menjadi
lebih efektif. Pada program ini pengenalan narkoba akan dibahas lebih
mendalam yang nantinya akan disertai dengan simulasi penanggulangan,
termasuk latihan pidato, latihan diskusi dan latihan menolong penderita.
Program ini biasa dilakukan dilebaga pendidikan seperti sekolah atau
kampus dan melibatkan narasumber dan pelatih yang bersifat tenaga
profesional.
4. Upaya mengawasi dan mengendalikan produksi dan upaya distribusi
narkoba di masyarakat, Pada program ini sudah menjadi tugas bagi para
aparat terkait seperti polisi, Departemen Kesehatan, Balai Pengawasan
Obat dan Makanan (BPOM), Imigrasi, Bea Cukai, Kejaksaan, Pengadilan
dan sebagainya. Tujuannya adalah agar narkoba dan bahan pembuatnya
tidak beredar sembarangan didalam masyarakat namun melihat
keterbatasan jumlah dan kemampuan petugas, program ini masih belum
dapat berjalan optimal.
5. Pemberian sanksi
6. Pemberhentian dari jabatan sebagai penyelenggara negara
BAB III
KESIMPULAN

A. KESIMPULAN HASIL DISKUSI


Dalam diskusi kali ini dapat di tarik kesimpulan bahwa perilaku penyelenggara
Negara yang tidak sesuai dengan Pancasila akan membawa dampak buruk dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Di dalam Pancasila terkandung nilai-nilai
luhur, ajaran-ajaran moral yang kesemuanya itu meruapakan peljelmaan dari
seluruh jiwa manusia Indonesia. Menyadari bahwa untuk kelestarian nilai-nilai
pancasila itu perlu diusahakan secara nyata dan terus-menerus pengahayatan
dan pengamalan nila-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, oleh sebab itu
setiap warga Negara Indonesia, penyelenggara Negara, serta lembaga
kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan baik di pusat maupun di daerah harus
sama-sama mengamalkan nilai-nilai Pancasila demi kelestarianya.

B. SARAN-SARAN
Dalam hasil diskusi ini masih banyak kekeurangan, oleh karena itu, kami
berharap kritik maupun saran yang membangun.
b. Buat klipping berita tentang perilaku menyimpang dari penyelenggara
negara, buat analisismu tentang perilaku menyimpang tersebut.
Jawaban:
Dalam pelaksanaan penyelenggaraan Negara seringkali tidak sesuai atau
bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Pancasila yang seharusnya menjadi
acuan dalam penyelenggaraan Negara sekedar hanya menjadi simbol saja.
Padahal, apabila semua orang dapat melaksanakan tugas dan kewajiban
dengan sebaik-baiknya akan berdampak sangat baik terhadap kehidupan
bernegara. Berikut merupakan beberapa kasus perilaku menyimpang dari
penyelenggaraan Negara:
1. Korupsi wisma atlet oleh Nazarudin

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 dari Partai Demokrat


dengan Daerah Pemilihan Jawa Timur IV.

Kasus suap yang terjadi di Kementerian Pemuda dan Olahraga


(Kemenpora) awalnya tercium dari hasil penyadapan yang dilakukan oleh tim
penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Nazaruddin telah divonis
bersalah dalam kasus korupsi pembangunan wisma atlet. Dia juga divonis atas
penerimaan gratifikasi dan melakukan pencucian uang. Meski demikian,
Nazaruddin diduga memiliki keterlibatan dalam sejumlah kasus korupsi.
Menyandang predikat sebagai saksi pelaku yang bekerja sama dengan penegak
hukum, bekas anggota DPR itu dinilai banyak mengungkap kasus-kasus besar
lainnya.

2. Korupsi Proyek Wisma Atlet Di Palembang Oleh Angelina Sondakh

Anggota DPR Republik Indonesia periode 2004–2009 dan 2009–2014 dari Partai
Demokrat

Pada 3 Februari 2012, Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Angie


sebagai tersangka korupsi proyek wisma atlet di Palembang. Penetapan sebagai
tersangka korupsi disampaikan Ketua KPK Abraham Samad di Gedung KPK,
Jalan Kuningan, Jakarta Selatan. Pengumuman itu bertepatan dua hari
menjelang peringatan satu tahun meninggalnya Adjie Massaid. Dalam
persidangan terdakwa kasus suap wisma atlet, Muhammad Nazaruddin
disebutkan adanya uang Rp 2 miliar ke Angelina dan I Wayan Koster sebesar
Rp3 miliar . Dia juga telah dicegah untuk tidak bepergian ke luar negeri sejak 3
Februari 2012 hingga 3 Februari 2013. Ancaman hukuman sesuai Pasal 5 Ayat
(2) atau Pasal 11 atau Pasal 12 huruf a Undang-undang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi. Di antara 3 pasal alternatif tersebut, Pasal 12 huruf a memuat
ancaman hukuman paling berat. Pasal 12 huruf a menyebutkan, pegawai negeri
atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui
atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk
menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya,
yang bertentangan dengan kewajibannya, dianggap melakukan tindak pidana
korupsi. Ancamannya, pidana penjara paling singkat empat tahun dan paling
lama 20 tahun ditambah denda paling sedikit Rp200 juta dan paling banyak Rp1
miliar. Terhitung sejak 27 April 2012, KPK telah menahan Angie di Rumah
Tahanan Negara Salemba cabang KPK di Kuningan (Jakarta Selatan) untuk 20
hari ke depan. Pada 21 November 2013, Angie divonis 12 tahun penjara dan
hukuman denda Rp500 juta dari vonis sebelumnya 4 tahun 6 bulan. Majelis
kasasi juga menjatuhkan pidana tambahan berupa pembayaran uang pengganti
setara dengan Rp40 miliar.
Hasil analisis terkait Kasus Korupsi:
Terkait korupsi yang dilakukan oleh Nazarudin dan Angelina Sondakh membuktikan
bahwasannya penerapan nilai-nilai Pancasila masih jauh dari yang seharusnya, seakan
fenomena ini sudah menjadi suatu hal yang dianggap lumrah oleh seluruh masyarakat
Indonesia. Bagaimana tidak, praktek korupsi di Indonesia sudah terjadi sejak zaman
penjajahan hingga saat ini. Korupsi ini seakan-akan telah berakar dalam sendi-sendi
kehidupan masyarakat kita, mulai dari kasus Korupsi kelas kakap sampai kasus korupsi
kelas teri, mulai dari kasus korupsi BLBI sampai kasus yang terbaru yakni Korupsi
mega proyek Wisma Atlet dan Hambalang yang menjadi buah bibir saat ini di kalangan
masyarakat. Sudah sejak lama kita dengar seruan yang mengatakan “STOP KORUPSI”
tapi faktanya, korupsi masih saja merajalela dan bahkan mungkin sudah menjadi
budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dilihat dari nilai 4 nilai Pancasila, maka kasus ini melanggar nilai Pancasila:
1. Sila ke 1 “Ketuhanan yang maha esa”
Karena tidak satupun agama didunia ini yang mengajarkan tindak korupsi,
apalagi tindak korupsi ini dapat membuat seluruh rakyat Indonesia sengsara.
2. Sila ke 2 “Kemanusiaan yang adil dan beradab”
Tindak korupsi yang ditimbulkan dapat menyebabkan ketidakadilan bagi rakyat
Indonesia, dimana uang yang seharusnya digunakan untuk memajukan negeri ini
disalah gunakan untuk kepentingan pribadi. Apalagi pada kasus ini korupsi yang
ditimbulkan mencapai " Rp 2,5 Triliun. Ini tindakan yang menyalahgunakan
jabatannya sebagai anggota DPR.
3. Sila ke 4 “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan / perwakilan”
Setiap Pemimpin atau Pejabat sebelum melaksanakan tugasnya pasti disumpah
untuk meyakinkan bahwa pemimpin tersebut serius dengan Tugasnya, tetapi
seorang pejabat yang melakukan tindak korupsi akan melanggar sumpahnya.
Hal ini dikarenakan bahwa para pejabat yang tertangkap tangan telah melakukan
tindak korupsi telah menyalahgunakan hak kekuasaan, dimana tugas para
pejabat tersebut untuk mensejahterakan tetapi justru menyengsarakan rakyat
dengan tindak korupsi tersebut.
4. Sila ke 5 “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”
Kasus ini melanggar Sila ke 5 karena pada tindak korupsi dapat menimbulkan
tingkat kemiskinan yang tinggi.
TUGAS BAGIAN 4
a. Diskusikanlah dalam kelompok tentang fenomena sikap para generasi muda
termasuk siswa sekarang ini yang semakin tidak bermoral, berperilaku
menyimpang seperti kebrutalan gang motor, begal, mengkonsumsi narkoba,
pergaulan bebas dan lainnya. Rumuskan usulan tindakan dari kelompok anda
untuk mengatasinya.

Jawaban:
Generasi Muda merupakan ujung tombak sebuah bangsa yang
menentukan estafet kepemimpinan selanjutnya yang menentukan arah sebuah
bangsa dan menentukan maju tidaknya suatu bangsa. Oleh karena itu betapa
pentingnya generasi muda bagi suatu bangsa jika generasi mudanya baik maka
sebuah bangsa akan baik namun jika generasi mudanya buruk maka buruklah
sebuah bangsa itu. Masa muda adalah masa yang sangat produktif dimana
semangat muda yang meggelora kondisi fisik yang kuat sebagai tonggak dari
sebuah bangsa. Selain itu masa muda manusia bias melakukan hal-hal yang
produktif dengan kreatifitas tinggi. Pada masa muda juga banyak sekali
penemuan-peneman baru yang dihasilkan.
Namun dalam perkembangan zaman yang semakin modern ini generasi
muda bangsa ini seolah terkikis moral dan akhlaknya. Seharusnya zaman
semakin modern moral dan akhlak generasi muda bangsa ini menjadi lebih baik
lagi. Apalagi sebentar lagi bangsa ini akan mendapat hadiah besar yaitu
generasi muda yang sangat banyak,generasi yang produktif yang sangat
banyak. Mulai sekarang seharusnya dipersiapkan dengan matang generasi
mudanya didik dengan benar agar tetap mempertahankan identitas bangsa ini
dan berbudi luhur yang mempunyai akhlak dan moral yang baik.
Rumuskan usulan tindakan untuk mengatasi sikap generasi muda yang
tidak bermoral:
1. Teguran lisan atau tertulis bagi yang melakukan pelanggaran ringan.
2. Hukuman pemberian tugas yang sifatnya mendidik, misalnya membuat
rangkuman buku tertentu
3. Melaporkan secara tertulis kepada orang tua siswa tentang pelanggraan yang
dilakukan putra/puterinya
4. Memanggil orangtuanya dan siswa yang melakukan pelangganggaran agar
siswa tersebut tidak mengulangi lagi
5. Melakukan skorsing kepada siswa apabila melakukan pelanggaran berulang
kali
6. Mengeluarkan siswa dari sekolah apabila telah melakukan pelanggaran berat

b. Buatlah rancangan kegiatan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila bagi


siswa melalui ekstrakurikuler di sekolah.
Jawaban:
Ekstrakulikuler merupakan kegiatan yang diselenggarakan diluar jam pelajaran
wajib, untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan siswa yang
berhubungan dengan materi yang dipilih. Ekstrakulikuler merupakan bagian
pendidikan berbasis luas (broad base education). Dengan demikian,kegiatan
ekstrakulikuler merupakan proses yang dilakukan secara sadar dan sistematis
dalam membudayakan siswa agar memiliki kedewasaan sebagai bekal
kehidupannya.
Dengan kegiatan ekstrakulikuler diharapkan agar kemampuannya diberbagai
bidang. Selain itu digunakan untuk memupuk keimanan dan ketakwaan kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan
ketrampilan, mengembangkan kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian
unggul dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan
kebangsaan.
Kegiatan ekstrakulikuler dapat diartikan sebagai kegiatan yang disediakan oleh
sekolah untuk mengakomodasi. Mengembangkan dan memfasilitasi peserta
didik terkait minat, bakat, aspirasi dan harapan peserta didik. Mengingat minat,
bakat, aspirasi, dan harapan setiap peserta didik sangat beragam. Maka
kegiatan ekstrakulikuler sedapat mungkin dapat mewadahi keberagaman
minat,bakat, aspirasi, dan harapan mereka. Ini mengandung arti bahwa sekolah
dasar, bisa saja mengembangkan kegiatan ekstrakulikuler yang berbeda dengan
ekstrakulikuler yang lain. Kegiatan ekstrakulikuler dapat diselenggarakan di luar
jam pelajaran yang tercantum dalam susunan program sesuai dengan keadaan
dan kebutuhan sekolah.
Agar pelaksanaan kegiatan ekstrakulikuler mencapai hasil yang baik dalam
rangka mendukung program kulikuler dan membentuk karakter siswa maka
diperlukan upaya kongkrit dan oprasional baik ditingkat pusat, provinsi,
kabupaten/kota, dan sekolah. Pada pasal 4 UU Sisdiknas ayat 4 dinyatakan
bahwa pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun
kemauan, dan mengembangkan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran.
Menurut Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, kegiatan
ekstrakulikuler adalah bagian dari pengembangan diri.
1. Nilai Inti Pendidikan Karakter pada Ekstrakulikuler
Nilai-Nilai inti yang diutamakan dalam pendidikan karakter di sekolah dasar
bersumber dari nilai-nilai Pancasila. Nilai ini bersifat minimal sehingga sekolah
dapat menjabarkan lebih banyak lagi nilai-nilai yang lain, sepanjang nilai-nilai itu
dapat menjadikan manusia baik dan tidak berlawanan dengan nilai-nilai Pacnasila.
Adapun nilai-nilai inti dan penjabarannya kedalam ekstrakulikuler tampak pada
tabel berikut ini:
NO Nilai Inti Penjabaran Nilai Inti Indikator
Prespektif
Ekstrakulikuler
1 Ketuhanan Yang Mencintai Tuhan, iman Berdoa sebelum
Maha Esa takwa (kepercayaan, dan sesudah
kepatuhan, pengabdian, kegiatan
toleransi, rukun, tidak ekstrakulikuler
memaksa kehendak, Bersifat jujur dan
menghargai sikap hormat sportif
pada kepercayaan yang Mempunyai
berbeda) semangat toleransi
Tidak pilih kasih,
baik suku dan
agama
Disiplin
2 Kemanusiaan Penghargaan harkat dan Datang tepat waktu
yang adil dan martabat manusia Bertanggung jawab
beradap sebagai makhluk Tuhan, kepada diri dan
persamaan derajat, lingkungan
saling mencintai, Mengucapkan
tenggang rasa, tidak salam
semena-mena, peduli, Saling hormat
merasa menjadi manusi, menghormati
percaya diri, Tidak malas
menghormati, Bisa kerja sama
persahabatan, kerjasama Menjaga ketertiban
dengan bangsa lain, Berani menyatakan
cinta-kasih, empati, salah kepada diri
hormat, santun, berbudi sendiri dan juga
luhur, mandiri, kerja orang lain
kersas, disiplin, jujur, Tidak malu minta
sehat, kreatif. maaf
Menghargai prestasi
Bersifat inovatif,
kreatif, dan
menyenangkan.
3 Persatuan Cinta tanah air, dan Mengutamakan
Indonesia bangsa, nasionalisme, kebersamaan dan
patriotisme,persatuan kepentingan pribadi
bangsa diatas Mempunyai sikap
kepentingan mudah bergaul dan
pribadi/golongan, bekerja sama
kebersamaan, Menjaga persatuan
penghargaan, dan kekompakan
kepedulian,pengorbanan,
kebanggaan sebagai
bangsa indonesia,
perdamaian, bhinika
tunggal ika, pergaulan
demi persatuan bangsa.
4 Kerakyatan yang Kesamaan hak dan Berpartisipasi
dipimpin oleh kewajiban, tidak dalam menyusun
hikmat memaksakan kehendak, tata tertib kegiatan
kebijaksanaan musyawarah ekstrakulikuler
dalam kepentingan Musyawarah dalam
permusyawaratan bersama,semangat mencapai
perwakilan kekeluargaan, mufakatbersama
menghargai keputusan Mematuhi tata
bersama,melaksanakan tertib kegiatan
keputusan Bertanggung jawab
bersama,demokrasi, dalam
percaya wakil melaksanakan
rakyat,berdasar kegiatan
kemanusiaan, dengan Menghargai
semangat persatuan pendapat teman
Mau melaksanakan
sebagai ketua
dalam kegiatan
Berpartisipasi
dalam pemilihan
ketua dalam
kegiatan
5 Keadilan sosial Sikap kekeluargaan dan Suka membantu
bagi seluruh gotong royong, adil, teman dalam
rakyat indosenia sesama manusia, kesulitan
keseimbangan hak Memiliki sikap sabar
kewajiban, hormat hak Tidak berkelahi
orang lain, membantu Bersikap berani dan
orang lain untuk mandiri, mandiri
, anti pemerasan orang Menjaga barang
lain, hemat, hidup sendiri dan barang
sederhana, tidak orang lain dalam
merugikan orang lain, kegiatan
kerja keras, menghargai Patuh dalam aturan
karya untuk sesama, yang berlaku dalam
memeratakan keadaan kegiatan
sosial, kepatuhan hukum
2. Lingkup Pendidikan Karakter dalam Ekstrakulikuler
Lingkup pengembangan pendidikan karakter di sekolah mencakup tiga hal.
a. Pertama, pendidikan karakter yang menumbuhkan kesadaran sebagai makhluk
dan hamba Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini akan menumbuhkan nilai
transendensi dan nilai keagamaan yang kuat,sehingga pada gilirannya akan
tumbuh sikap kasih sayang, toleransi, saling menghargai dan menghormati,
jujur, serta menjauhkan diri dari prilaku anarkis.
b. Kedua, pendidikan karakter yang terkait dengan keilmuan. Karakter yang
dibangun tidak hanya kesantunan, tetapi secara bersamaan juga karakter yang
mampu menumbuhkan kepenasaran intelektual sebagai model untuk
membangun kreativitas, daya inovasi, dan dan kemandirian. Metode yang
dipilih hendaknya dapat merangsang tumbuhnya kepenasaran
intelektualsehingga dapat membangun pola pikir, tradisi dan budaya keilmuan.
c. Ketiga, pendidikan karakter yang menumbuhkan rasa cinta dan bangga menjadi
orang Indonesia. Kecintaan terhadap bangsa dan negara menumbuhkan
kebanggaan dilakukan melalui kegemaran untuk berprestasi. Prestasi ini kita
konstribusikan dan kita demi kemajuan bangsa dan negara. Hal inilah yang
menumbuhkan kebanggaan sejati.
3. Macam-Macam Kegiatan Ekstrakulikuler
Ada bermacam-macam kegiatan ekstrakulikuler. Kebutuhan dan kemampuan
dalam melaksanakan kegiatan ekstrakulikuler di setiap sekolah berbeda-beda.
Berikut merupakan lingkup kegiatan ekstrakulikuler yang dapat dikembangkan di
sekolah:
No Kegiatan Sub Kegiatan Karakter
Ekstrakulikuler Ekstrakulikuler Positifyang
Dibentuk dan
Diperkuat
1 Kesenian Ø Seni musik Jujur, disiplin, kerja
Ø Seni suara keras, kreatif,
Ø Seni rupa mandiri,
Ø Seni tari menghargai
Ø Seni sastra prestasi,
komunikatif,
tanggung jawab,
sabar
2 Olah Raga Ø Sepak bola Seportivitas, jujur,
Ø Bola voli disiplin, kerja keras,
Ø Bola basket menghargai
Ø Beladiri prestasi,
Ø Atletik Komunikatif,
Ø Futsal tanggung jawab,
Ø Badminton sabar, saling
Ø Tenis meja menghormati,
Ø Senam (SKJ) demokratis, punya
semangat
kebangsaan, cintah
tanah air
3 Kegiatan Ø Rohis Do’a bersama,
Keagamaan Ø Kebaktian religius, jujur,
Ø Peringatan hari toleransi, cinta
besar agama damai, peduli
lingkungan, saling
menghormati, jujur,
gemar membaca
4 Bidang Ø Kelompok Disiplin, kreatif,
Pengembangan matematika punya rasa ingin
Bakat Khusus Ø Kelompok bahasa tahu, cinta tanah
Ø Kelompok ipa air, menghargai
prestasi, tanggung
jawab
5 Bidang Ø Pramuka Toleransi, disiplin,
keorganisasian Ø Paskibra saling
dan sosial menghormati, cinta
damai, peduli
lingkungan, peduli
sosial, kerja keras,
kreatif, mandiri,
demokrasi
6 Bidang Ø Komputer Disiplin, kerja keras,
keterampilan Ø Tata boga kreatif, menghargai
Ø Elektronika prestasi, tanggung
Ø Berkebun-berternak jawab, gemar
membaca.
7 Kesehatan Ø UKS Toleransi, disiplin,
sekolah Ø Dokter kecil demokratis, punya
rasa ingin tahu
komunikatif, cinta
damai, tanggung
jawab, sabar
4. Prinsip Pengembangan Karakter Melalui Ekstrakulikuler
Prinsip pengembangan karakter melalui kegiatan ekstrakulikuler dalam rangka
pembentukan karakter siswa adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan ekstrakulikuler hendaknya dipandang sebaai bagian dari keseluruhan
kegiatan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu kegiatan ekstrakulikuler harus
mempunyai tujuan yang sama atau mendukung pencapaian tujuan pendidikan
di sekolah secara keseluruhan, termasuk pendidikan karakter.
b. Segala bentuk kegiatan ekstrakulikuler harus mengemban misi pendidikan
dalam rangka mendidik parasiswa dan bukan untuk yang lainnya.
c. Kegiatan ekstrakulikuler harus diupayakan untuk mempersatukan siswa yang
mempunyai aneka ragam latar belakang dan mempunyai banyak perbedaan,
dan menjaga persatuan.
d. Harus dipandang sebagai upaya pengaturan pembimbingan terhadap siswa
e. Harus mendorong dan memacu kemandirian siswa.
f. Harus mempunyai fungsi dalam kehidupan siswa, baik di sekolah atau di
masyarakat.
5. Pola Pelaksanaan
Strategi yang dapat dibentuk untuk membentuk karakter siswa melalui kegiatan
ekstrakulikuler adalah sebagai berikut:
a. Intervensi
Intervensi adalah bentuk campur tangan yang dilakukan pembimbing
ekstrakulikuler terhadap siswa. Jika intervensi ini dilakukan secara terus-
menerus, maka lama kelamaan karakter yang diinterversikan akan terpatri dan
mengkristal pada diri siswa. Pembimbing dapat melakukan interversi melalui
pemberian pengarahan, petunjuk, dan bahkan memberlakukan aturan ketat agar
dipatuhi oleh siswa yang mengikutinya.
b. Pemberian keteladanan
Kepala sekolah dan guru pembimbing siswa adalah model bagi siswa. Perilaku
mereka akan ditiru oleh siswa. Oleh karena itu, berbagai karakter positifyang
mereka miliki, sangat bagus jika ditampakkan kepada siswa agar siswa mau
meniru atau mencontohnya.
c. Habituasi
Ada ungkapan menarik terkait pembentukan karakter ini “hati-hati dengan kata-
katamu, karena itu akan menjadi kebiasaanmu. Hati-hati dengan kebiasaanmu,
karena itu akan menjadi karaktermu.” Pembiasaan yang dilakukan secara terus-
menerus, akan mengkristal menjadi karakter. “biasakanlah yang benar, dan
jangan membenarkan kebiasaan” kebenaran harus dibiasakan agar membentuk
karakter yang berpihak pada kebenaran. Sementara itu tidak semua kebiasaan
itu benar. Oleh karena itu hanya yang benar saja yang perlu dibiasakan.
d. Mentoring atau pendampingan
Pendampingan adalah suatu fasilitas yang diberikan oleh pendamping kegiatan
ekstrakulikuler kepada siswa dalam melaksanakan berbagai aktivitas, agar
karakter positif yang sudah disemaikan, dicangkokkan, dan diintervensikan tetap
terkawal dan diimplementasikan oleh siswa. Dalam proses pendampingan ini
mungkin ada persoalan keseharian yang ditanyakan siswa kepada
pembimbingnya. Oleh karena itu pembimbing dapat memberikan pencerahan
sehingga tindakan siswa tidak keluar dari koridor karakter positif yang hendak
dikembangkan.
Penguatan Dalam berbagai perspektif psikologi, penguatan yang diberikan oleh
pembimbing ekstrakulikuler bermanfaat untuk memperkuat prilaku siswa. Oleh
karena itu jangan sampai pembimbing didahului oleh peer group siswa dalam
memberikan penguatan prilaku sebayanya. Jika siswa telah dikuasai oleh per
groupnya yang mengarah ke tindakan-tindakan negatif, maka akan sulit dikuasai
oleh pembimbingnya.
6. Tahapan Pelaksanaan
Tahapan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler dalm pembentukan karakter siswa
meliputi perencanaan, implementasi rencana, dan evaluasi.
a. Perencanaan, Pada perencanaan, terdapat 3 (tiga) kegiatan yang dilakukan.
 Pertama, karakter yang hendak dibentuk perlu diintegrasikan dalam rencana
jangka menengah sekolah (RJMS) atau rencana kegiatan sekolah (RKS),
agar dapat memayungi semua kegiatan di sekolah. Dalam RKS, akan dapat
banyak aktivitas baik yang bersifat intrakurikuler dan ekstrakurikuler yang
dapat dipergunakan untuk membentuk karakter tertentu.
 Kedua, penjabaran karakter lebih lanjut dalam program kegiatan
ekstrakurikuler tahunan. Setelah karakter yang ingin dibentuk berada di RMJS
atau RKS dan dilakukan pengelompokan, selanjutnya dilakukan penjabaran
karakter lebih lanjut dalam program kegiatan ekstrakurikuler tahunan. Dalam
menjabarkan RKS menjadi program tahunan kegiatan ekstrakurikuler
ini,sebaiknya melibatkan para pemangku kepentingan (stake holders), agar
dapat mengakomodasi pikiran, aspirasi dan harapan mereka terhadap
karakter positif yang akan dibentuk. Keterlibatan mereka dalam menyusun
program tahunan kegiatan ekstrakurikuler ini, diharapkan bias menambah
dukungan dan penguatan ketika sudah berada di tataran implementasi.
Dengan adanya dukungan dari stake holders, terutama orangtua, karakter
yang dibentuk di sekolah dapat dikawal oleh mereka ketika sudah berada di
lingkungan keluarga dan masyarakat.
 Ketiga, berdasarkan program tahunan ekstrakurikuler ini, pembimbing
kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dapat menyusun program tahunan
pembinaan pada kegiatan ekstrakurikuler yang dibina. Disekolah dasar, bias
terjadi satu orang guru kelas membina lebih dari satu kegiatan ekstrakurikuler,
jika kegiatan ekstrakurikuler yang berada di sekolah tersebut memang banyak
dan beragam.
b. Implementasi
Setelah rencana/program tahunan kegiatan ekstrakurikuler yang difokuskan
pada pembentukan karakter tertentu disusun dan ditetapkan, selanjutnya
dilakukan implementasi program kegiatan ekstrakurikuler yang mengarah pada
pembentukan karakter. Dalam implementasi ini kepala sekolah hendaknya terus
memantau pelaksanaan agar para penanggung jawab kegiatan yang berada di
sekolah konsisten dalam mengimplementasikan program.
c. Evaluasi Program
d. Evaluasi program kegiatan ekstrakurikuler yang mengarah pada pembentukan
karakter tertentu, terdiri atas (1) evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatannya
(apakah sesuai dengan yang diprogramkan), (2) evaluasi terhadap tersemai dan
menguatnya karakter positif yang hendak dibentuk, dan (3) evaluasi terhadap
berkurangnya karakter negative yang hendak dieliminasi. Diharapkan karakter
positif yang dibentukmenunjukkan kecenderungan naik, dan karakter negative
yang dieliminasi secara kontinyu berkecenderungan menurun.
7. Peran dan Fungsi Stakeholder dalam Pendidikan Karakter melalui
Ekstrakulikuler
Pihak yang bertanggung jawab dalam pembentukan karakter melalui kegiatan
ekstrakurikuler meliputi kepala sekola, wakil kepala sekolah urusan kesiswaan, guru
pembimbing ekstrakurikuler, komite sekolah, pengawas sekolah, dan orangtua
siswa. Peran fungsi mereka dapat dikedepankan sebagai berikut.
a. Kepala Sekolah
 Bertanggung jawab secara formal operasional dalam keseluruhan program
pembentukan karakter siswa, termasuk yang melalui kegiatan ekstrakurikuler.
 Menetapkan kebijakan pembentukan karakter siswa melalui kegiatan
ekstrakurikuler.
 Memberikan arahan kepada wakil kepala sekolah pembimbing ekstrakurikuler,
dan stakeholder sekola yang lain terkait pembentukan karakter siswa melalui
kegiatan ekstrakurikuler.
 Memantau pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler yang mengerucut pada
pembentukan karakter.
 Memantau pelaksanaan pembimbingan kegiatan ekstrakurikuler yang
mengerucut pada pembentukan karakter.
 Melaporkan dan mempertanggungjawabkan program pembentukan karakter
siswa kepada stakeholder.

b. Pembimbing Kegitan Ekstrakurikuler


 Menyusun program kegiatan ekstrakurikuler yang dibina dengan memberikan
fokus pada pembentukan karakter siswa.
 Melaksanakan program kegiatan ekstrakurikuler yang dibina dengan
memberikan fokus pada pembentukan karakter siswa.
 Melakukan evaluasi program kegiatan ekstrakurikuler yang dibina dengan
memberikan fokus pada pembentukan karakter siswa.
 Memantau kemajuan yang dicapai oleh siswa yang mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler yang dibimbingnya terkait jenis karakter yang akan dibentuk.
 Bekerja sama dengan orangtua siswa dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler
kearah pembentukan karakter.

c. Pengawas Sekolah
 Memantau dan melakukan pengawasan terhadap program pembentukan
karakter siswa melalui ekstrakurikuler di lingkungan sekolah binaannya.
 Melakukan pembinaan terhadap kepala sekolah dan guru di lingkungan sekolah
binaanya, terkait dengan pelaksanaan pendidikan karakter melalui
ekstrakurikuler.
 Mempertanggungjawabkan kegitan pemantauan, pengawasa, dan pembinaan
karakter di lingkungan sekolah binaannya kepada kepala UPTD dan dinas
pendidikan kabupaten/kota.

d. Komite Sekolah
 Mengawal proses pembentukan karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler yang
dilakukakan oleh kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru pembina
ekstrakurikuler.
 Menjembatani aspirasi orangtua dan masyarakat terkait pembentukan karakter
siswa di sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler.

8. Karakter yang Dibentuk melalui Kegiatan Ekstrakulikuler


Karakter berarti sifat-sifat kejiwaan atau akhlak/budi pekerti yang membedakan
seseorang dengan orang lain. Karakter berkaitan dengan kekuatan moral dan
berkonotasi positif. Orang berkarakter adalah orang yang memiliki kualitas moral
positif. Dengan demikian, pendidikan membangun karakter, secara implisit
mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang berkaitan dengan
dimensi moral yang positif atau yang baik, bukan yang negatif atau buruk.
Pendidikan karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler adalah usaha sadar yang
dirancang dan dilaksanakan oleh pendidik untuk menyemaikan, mencangkokkan,
dan mempertahankan nilai-nilai yang khas baik melalui kegiatan ekstrakurikuler.
Setelah mengetahui nilai-nilai kebaikan, siswa bersedia mempraktikkan nilai-nilai
kebaikan dalam kehidupan nyata,sehingga bias berdampak baik terhadap
lingkungannya. Kegiatan ekstrakurikuler yang membentuk nilai universal akan
mampu memancarkan kebaikan olah piker, olah hati, olah raga, serta olah rasa dan
karsa seseorang atau sekelompok orang. Disini kegiatan ekstrakurikuler sekaligus
mencangkokkan nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam
menghadapi kesulitan dan tantangan pada diri seseorang atau sekelompok orang

c. Melalui diskusi kelompok, buatlah telaah anda tentang kehidupan


masyarakat yang makmur berkeadilan dan kehidupan yang adil
berkemakmuran.
Jawaban:
HASIL TELAAH KEHIDUPAN MASYARAKAT YANG MAKMUR BERKEADILAN
DAN KEHIDUPAN YANG ADIL BERKEMAKMURAN
1. Masyarakat makmur berkeadilan dan kehidupan adil berkemakmuran adalah
masayarakat yang telah mencapai suatu tingkatan dimana keadilan dan
kemakmuran telah dinikmati oleh seluruh rakyat. Masyarakat yang demikian
merupakan cita-cita bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Cita-
yang mengandung makna yang sangat luhur.
Adil berarti memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya atau
yang seharusnya diterima olehnya, sehingga ia dapat melaksanakan
kewajibannya tanpa rintangan. Hak bebas berpendapat, hak memperoleh
hidup aman dan tertib, hak mendapat pendidikan layak, hak bebas
menunaikan ibadat sesuai agama dan kepercayaannya, hak tidak dihukum
sebelum terbukti bersalah menurut hukum, dll. Semua itu perlu mendapatkan
perlindungan tegas dari hukum Negara. Oleh karena itu, untuk mewujudkan
keadilan, hukum harus tegak dan mengikat semua orang secara sama dan
tidak pandang bulu, termaksud penguasa.
Makmur berarti tersedianya barang kebutuhan hidup rakyat secara merata dan
tersebar sehingga rakyat mampu menentukan dan memenuhi kebutuhan
hidup mereka. Oleh sebab itu, suatu Negara disebut makmur apabila produksi
barang kebutuhan rakyat terus meningkat dan pendapatan rakyat juga
meningkat. Dalam suasana seperti ini, rakyat secara individual atau secara
bersama –sama dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka produksi barang
dan jasa dalam masyarakat harus lebih cepat dari pada pertambahan jumlah
penduduk. Dengan demikian daya beli rakyat dapat bertambah pula.
Masing-masing individu memperoleh kebutuhan untuk hidup secara
berbudaya dan secara cukup sehingga pendapatannya tidak seluruhnya
dipergunakan untuk konsumsi, tetapi juga untuk investasi dengan baik karena
tersedianya dana dan kredit yang diperlukan dalam masyarakat. Adil saja tidak
cukup karena apabila tidak ada sesuatu yang dapat dibagikan kepada
masyarakat secara merata. Sebaliknya makmur saja tidak cukup sebab
kemakmuran tanpa keadilan dapat menimbulkan golongan kaya disatu pihsak
dan miskin dipihak lain. Jalan menuju kemakmuran adalah adi;. Kemakmuran
dapat dicapai melalui pembangunan ekonomi secara bertahap, nyata dan
realistis. Kemakmuran harus dicapai pikiran dan kerja keras. Bagi bangsa
Indonesia, adil makmur merupakan suasana hidup kemasyarakatan yang
dicita-citakan seperti tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar
1945. Untuk mencapainya pembangunan nasional secara bertahap dan
berkesinambungan harus dilaksanakan
2. CARA MEWUJUDKAN MASYARAKAT ADIL DAN MAKMUR
Ada empat hal yang mendasar untuk mewujudkan keadilan dan
kemakmuran berdasarkan cita – cita yang tercantum dalam Pembukaan UUD
45. Empat hal tersebut adalah :
 Asas kepercayan
 Asas kerja sama (gotong royong)
 Asas keadilan, dan
 Asas kemakmuran.
Kita tidak cukup adil saja tanpa kemakmuran, atau makmur saja tanpa
keadilan. Prinsip adil dan makmur adalah menjadi satu kesatuan. Oleh
karena itu hak dan kewajiban masyarakan harus dijunjung tinggi sehingga
terciptalah masyarakat yang adil dan makmur

3. IDEOLOGI YANG TEPAT UNTUK MEWUJUDKAN MASYARAKAT ADIL DAN


MAKMUR
Seperti yang kita ketahui, Pancasila merupakan ideologi negara. Hal ini erat
kaitannya dengan terwujudnya kemakmuran masyarakat Indonesia. Pada UUD
1945 tercantum pokok pikiran:
a. Pemerintah yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan
bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
b. Bentuk negara Republik yang berkedaulatan rakyat.
c. Segala sesuatu berdasarkan undang-undang dasar negara.
d. Nilai-nilai Pancasila.

Pokok pikiran tersebut berhubungan dengan apa yang menjadi cita – cita
bangsa Indonesia di masa depan dan memiliki keluwesan yang memungkinkan
menerima pemikiran-pemikiran baru tanpa mengingkari hakikat/nilai Pancasila.
Dengan demikian, sebagai ideologi Pancasila dapat memberi pedoman untuk
melakukan kegiatan di segala bidang demi tercapainya kemakmuran dan
keadilan rakyat Indonesia. Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
mengandung nilai moral keadilan sosial antara lain: wujud keadilan sosial atau
kemasyarakatan meliputi seluruh rakyat Indonesia dalam seluruh bidang
kehidupan baik politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan-keamanan.
a. Bidang politik : Tidak adanya penyalahgunaan kekuasaan.
b. Ekonomi : Terdapat distribusi pendapatan yang merata.
c. Sosial Budaya : Perlakuan sama rata terhadap budaya daerah dan
pelaksanaan pendidikan nasional yang merata.
d. Pertahanan dan keamanan : Berkurangnya kriminalitas dan perlakuan
hukum yang sesuai dengan hak dan Undang – Undang yang ada.