Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KASUS

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kepaniteraan


Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa

Pembimbing:
Hasrini Rowawi, dr., MHA., Sp.KJ (K-AR)

SUB KELOMPOK B2
Resa Shahana Ulfa (4151171475)
Lola Putri (4151171482)
Iftitahus Sa’diyah (4151171487)
Irma Islahul I (4151171488)

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2019
I.Identitas Pasien
Nama : Tn. S

No rekam medik : 00282965

Tempat, tanggal lahir : Bandung, 16/08/1980

Alamat : Padalarang

Status perkawinan : Belum Menikah

Pendidikan terakhir : SLTP

Agama : Islam

Pekerjaan : Pekerja Serabutan

Masuk tanggal : 12 April 2019

Penanggung Jawab Pasien

Nama : Tn.U

Hubungan : Saudara Jauh

Alamat : Padalarang

Keterangan Didapat dari

Nama : Tn.J

Hubungan : Kakak

Sifat perkenalan : Akrab

Kebenaran anamnesa : Dapat dipercaya

Lama perkenalan : ± 1 jam

II. Riyawat Psikiatrikus


Autoanamnesis
Tanggal 16 Aprilr 2019, pukul 07.00, di ruang 12 Rumah Sakit Dustira
Tanggal 18 April 2019, pukul 07.00, di ruang 12 Rumah Sakit Dustira
Tanggal 20 April 2019, pukul 07.00, di ruang 12 Rumah Sakit Dustira
Alloanamnesis
Tanggal 22 April 2019, pukul 16.00, melalui telepon

A. Keluhan Utama
Berdiam diri dan murung

B. Riwayat Gangguan Sekarang


Pasien datang diantar oleh saudara jauhnya dengan keluhan berdiam diri
dan terlihat murung. Keluhan tersebut dirasakan pasien sejak 2 bulan
yang lalu. Pasien sering berdiam diri dan mengurung diri dirumah
terutama dikamarnya, tidak mau menjawab ketika diajak berbicara oleh
keluarganya, dan bersikukuh bahwa pasien tidak mengalami masalah
apapun. Pasien juga sering melamun dan menarik diri dari keluarga.
Keluhan tersebut semakin lama semakin bertambah parah. Pasien sama
sekalii tidak mau keluar rumah, tidak mau bekerja, dan tidak ada
semangat untuk mengerjakan aktivitas apapun. Pasien hanya berdiam
diri dikamarnya, berbaring ditempat tidur sambil melamun. Akhir-akhir
ini pasien tidak mau makan dan minum hanya sedikit. Pasien juga tidak
mau minum obat yang seharusnya rutin dikonsumsi oleh pasien.
Sebelumnya pasien sering mengeluh jika setiap selesai bekerja pasien
tidak mendapat bayaran. Sesekali pasien menjawab pertanyaan yang
ditanyakan keluarganya tetapi pasien menjawab tidak spontan, lambat
dan tidak begitu jelas. Keluhan lain yang dirasakan pasien yaitu
terkadang pasien sulit tidur, atau terbangun pada malam hari saat sedang
tidur, dan sesekali pasien pernah melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat
keluarganya yang lain, tapi pasien tidak mengatakan apa yang bisa ia
lihat. Pasien memiliki keinginan yang sangat besar untuk menikah,
karena kakak dan adiknya sudah jauh lebih dulu menikah dan memiliki
anak. Menurut keluarga pasien, hal ini bisa menjadi salah satu beban
pikiran yang mungkin dialami oleh pasien. Pasien tidak merasa bahwa
dirinya sakit, bahkan beberapa kali pasien mengatakan bahwa dirinya
tidak perlu minum obat dan tidak perlu lagi kontrol ke Rumah Sakit.

C. Riwayat Gangguan Sebelum


1. Riwayat Gangguan Psikiatrik
Berdasarkan penjelasan keluarga pasien, sejak lulus SMP pada tahun
1994 dan tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
dikarenakan kekurangan biaya. Pasien terlihat menjadi orang yang lebih
pendiam dibandingkan sebelumnya. Tetapi saat itu pasien masih bisa
berkomunikasi baik dengan keluarga. Pasien memang orang yang cukup
tertutup, tidak pernah menceritakan masalah yang sedang dialaminya.
Namun, sebelumnya pasien adalah orang yang aktif, bahkan
disekolahnya saat itu ia sering mengikuti kegiatan kerohanian disalah
satu ekstrakulikuler sekolahnya. Pasien juga memiliki teman cukup
banyak, baik teman disekolah ataupun teman dilingkungan rumahnya.
Dua tahun setelah lulus SMP, pasien bekerja sebagai pekerja serabutan
dilingkungan rumahnya, dia bekerja jika hanya ada orang yang
membutuhkan jasanya. Semakin hari sikap pasien semakin pendiam dan
jarang bersosialisasi dengan lingkungan. Pada awal tahun 2015, pasien
sering menyendiri dirumahnya, sering marah-marah, berbicara sendiri
dan bicara melantur dan tidak jelas. Saat itu pasien dibawa ke Rumah
Sakit Dustira dan dirawat diruang perawatan XII selama <1 bulan,
awalnya pasien dimasukan ke ruang isolasi, setelah keluhan pasien
membaik dan pasien mulai kooperatif, kemudian pasien dipindahkan
kekamar biasa. Kemudian pasien dipulangkan dengan keadaan jauh
lebih baik, sudah tidak berbicara sendiri, tidak bicara melantur dan tidak
marah-marah. Pasien dibekali obat yang harus diminum rutin serta
diwajibkan kontrol tiap bulan. Kemudian 2 bulan lalu, tepatnya bulan
Februari 2019, pasien dibawa lagi ke Rumah Sakit Dustira dengan
keluhan yang sama seperti sebelumnya. Pasien dirawat kembali diruang
XII dengan lama perawatan selama 1 minggu. Pada bulan April 2019, 2
bulan setelah perawatan kedua, keluhan tersebut timbul kembali, tetapi
keluhan yang dominan yaitu sikap pasien yang sangat pendiam, tidak
mau berbicara, tidak menjawab saat diberi pertanyaan, tidak mau
beraktifitas dan berdiam diri dirumah, bahkan pasien tidak mau makan
dan minum serta tidak mau makan obat. Sehingga keluarga pasien
membawanya kembali untuk dirawat di ruang XII RS Dustira.
2. Riwayat Gangguan Medik
Pasien dan keluarga pasien mengatakan tidak pernah mengalami sakit
yang serius saat kecil dan tidak pernah dioperasi sebelumnya. Pasien
tidak pernah kejang sebelumnya. Pasien tidak pernah mengalami
kecelakaan atau trauma pada kepala yang menyebabkan pasien pingsan
atau mengalami penurunan kesadaran.

3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif


Pasien memiliki riwayat merokok 1 bungkus perhari. Pasien tidak
pernah minum-minuman yang beralkohol maupun menggunakan
NAPZA.

4. Grafik Perjalanan Penyakit (Gambar dan penjabaran per


tahun)
Tahun 2019
bulan April,
Tahun 2015, awal Tahun 2019, pasien dirawat
Tahun 2006, Orang
mula timbul bulan kembali
tua pasien memiliki keluhan pada psien februari, dengan
cucu dan anak yaitu pasien senang keluhan yang keluhan tidak
Tahun 1994, pertama dan
menyendiri, marah- sama timbul mau diajak
pasien lulus Tahun 1996, menyuruh pasien marah, bicara kembali, biacar,
SMP dan tidak pasien mulai untuk cepat melantur dan bicara pasien dirawat melamun,
melanjutkan bekerja sebagai menikah.
sendiri. lagi selama 1 murung, tidak
sekolah karena pekerja minggu. mau makan
kurang biaya. serabutan. dan minum.

Tahun 2005, Tahun 2010, Tahun 2015, pasien Tahun 2019,


kakak pasien adik pasien dirawat dan dipulangkan Februari pasien
menikah menikah. dengan keadaan membaik dipulangkan
namun harus rutin dengan kondisi
kontrol dan minum obat. membaik.
D. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien merupakan anak ke-2 dari 3 bersaudara yang direncanakan dan
diinginkan oleh orangtuanya. Riwayat prenatal dan perinatal tidak
diperoleh informasi karena kakak pasien tidak mengetahui pasien sejak
kecil. Riwayat komplikasi kelahiran, trauma, dan cacat bawaan
disangkal.

2. Riwayat Perkembangan Kepribadian


a. Masa Kanak Awal (0-3 tahun)
Pasien tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Tidak
ada keterlambatan berbicara, berjalan dan yang lain.
b. Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun)
Pasien hanya mempunyai teman cukup banyak terutama teman
pria di sekolah maupun di dekat rumah. Pasien merupakan anak
yang rajin, penurut dan tidak pernah melanggar peraturan. Pasien
merupakan seorang yang pendiam dan tidak pernah meceritakan
masalahnya.
c. Masa Kanak Akhir (Pubertas dan Remaja)
Menurut keluarga pasien, pasien merupakan orang yang
tertutup dan tidak pernah menceritakan masalahnya kepada
orang lain. Pasien hanya memendam masalahnya sendiri. Pasien
hanya berteman dengan laki-laki dibandingkan dengan wanita.

3. Riwayat Pendidikan
Pasien menjalani pendidikan hingga lulus SMP. Selama sekolah pasien
merupakan siswa yang biasa saja namun cukup aktif karena sering
mengikuti kegiatan kerohanian disekolah, pasien tidak pernah tinggal
kelas. Pasien tidak melanjutkan pendidikannya karena keterbatasan
biaya.

4. Riwayat Pekerjaan
Semenjak lulus SMP, pasien bekerja sebagai pekerja serabutan disekitar
rumahnya dengan pendapatan yang tidak menentu. Pasien juga tidak
bekerja jika tidak ada orang yang membutuhkan jasanya.

5. Kehidupan Beragama
Pasien beragama Islam dan seluruh keluarganya memeluk agama Islam.
Pasien merupakan orang yang taat beragama. Sebelum sakit, pasien rajin
beribadah seperti shalat dan mengaji.

6. Kehidupan Perkawinan/Psikoseksual
Pasien belum menikah.

7. Riwayat Pelaggaran Hukum


Pasien tidak pernah berurusan dan terlibat dengan aparat penegak
hukum.

8. Riwayat Sosial
Pasien tinggal di rumah dengan orang tua, kakak kandung, kakak
ipar dan keponakannya. Hubungan pasien dengan keluarganya
selama ini baik.

E. Riwayat Keluarga
Genogram

Tn.SR Ny.N

Ny.R Tn.J Commented [WU1]:

Tn.S
Ny.A
An.SS Tn.D
An.SH
An.E An.W

Keterangan:
= Laki-laki sehat = Perempuan meninggal
= Perempuan sehat = Laki-laki meninggal
= Perempuan sakit
= Laki-laki sakit = Tinggal satu rumah
Pasien merupakan anak ke-2 dari 3 bersaudara yang direncanakan dan
diinginkan oleh orangtuanya. Pasien tinggal di rumah dengan orang tua,
kakak kandung, kakak ipar dan keponakannya.
F. Situasi Kehidupan Sosial Ekonomi
Pasien memiliki status kehidupan menengah ke bawah. Pasien tidak
memiliki hobi khusus.

III . Status Mental


A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien seorang laki-laki berusia 38 tahun tampak sesuai dengan
usianya, mengenakan kaos putih, celana panjang berwarna hitam
dan sendal. Tampak tenang dan perawatan diri kurang baik. Pasien
berambut hitam pendek, kulit berwarna sawo matang dan terlihat
kurang terawat.

2. Kesadaran
Kesadaran compos mentis, pasien tampak sadar penuh saat
dilakukan wawancara.

3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor


a. Sebelum wawancara
Pasien tampak sedang berbaring ditempat tidur ruang isolasi
bangsal XII RS Dustira.
b. Selama wawancara
Pasien berbaring di tempat tidur sambil melamun. Dengan
ruangan yang terluhat tidak rapih karena ada beberapa
makanan yang berceceran dilantai. Saat diajak berbicara,
pasien tidak menatap wajah pemeriksa. Pasien terlihat kurang
kooperatif untuk diajak berbicara. Pasien tidak dapat
menjawab semua pertanyaan pemeriksa. Beberapa
pertanyaan dapat dijawab namun dengan suara yang lambat,
tidak jelas, volume suara rendah dan tidak spontan.
Terkadang pertanyaan harus diulang beberapa kali.
c. Sesudah wawancara
Pasien tidak mengucapkan kata apapun, hanya
menganggukan kepala.

4. Sikap Terhadap Pemeriksa


Pasien bersikap kurang kooperatif dan kurang sopan.

5. Pembicaraan
Cara bicara : pasien menjawab tidak spontan, volume rendah,
artikulasi tidak jelas, intonasi kurang baik.
Gangguan Bicara : tidak terdapat hendaya ataupun gangguan
bicara, namun pasien terlihat malas menjawab pertanyaan dan
tidak mau berbicara.

B. Alam Perasaan
Mood : Hipotimia
Afek : Menyempit
Kesesuaian : Sesuai

C. Gangguan Persepsi
Halusinasi : halusinasi visual (+), halusinasi olfactory(-),
halusinasi auditorik(-), halusinasi taktil(-).
Ilusi : tidak ada
Depersonalisasi : tidak ada
Derealisasi : tidak ada

D. Proses Pikir
1. Arus Pikir
Produktivitas : Tidak cukup ide
Kontinuitas : inkoheren
2. Isi Pikir
Preokupasi : Keinginannya untuk menikah
Waham : tidak ada
Obsesi : tidak ada
Fobia : tidak ada

E. Pengendalian Impuls
Baik (Pasien mampu mengendalikan dirinya)

F. Daya Nilai
- Daya Norma Sosial
Baik (Pasien mengetahui norma yang berlaku dilingkungannya)
- Uji Daya Nilai
Baik (Karena pasien mengatakan harus beribadah agar mendapat
pahala)
- Daya Nilai Realitas (RTA)
Terganggu (halusinasi visual)
G. Tilikan
Buruk (Derajat 1)

H. Reliabilitas
Dapat dipercaya

IV. Pemeriksaan Fisik


A. Internus
Keadaan Umum
Kesan sakit : Tidak tampak sakit
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital:
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Respirasi : 20 x/menit
Suhu : 37,1 ⁰C
Keadaan Gizi : Baik
Bentuk Tubuh : Atletikus
Kepala : Normocephal
Leher : KGB tidak teraba
Thoraks : DBN
Abdomen : DBN
Ekstremitas : DBN

B. Neurologik
Status Neurologikus
Saraf kranial I-XII : baik
Refleks fisiologis : +/+
Refleks patologis : -/-
Motorik : baik
Sensorik : baik
Fungsi luhur : baik
V. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi Rutin
Hb : 16 gr/dL
Leukoit : 8300mg/dL
Eritrosit : 7.400.000 mg/dL
Hematokrit : 49,7 mg/dL
Trombosit : 351.000 mg/dL
MCV : 67,7 fL
MCH : 21,7 Pq
MCHC : 32,2 g/dL
RDW : 15,9 %
Hiitung jenis leukosit : 0/1/75/18/6
b. Pemeriksaan Psikologis
Tidak dilakukan pemeriksaan
c. Pemeriksaan EEG
Tidak dilakukan pemeriksaan

VI. Ikhtisar Penemuan Bermakna


Pasien adalah seorang laki-laki berusia 38 tahun, belum menikah,
pasien sudah bekerja sebagai pekerja serabutan di sekitar lingkunga
rumahnya. Pasien beragama islam, berasal dari suku sunda. Saat ini tinggal
bersama orangtua. Dibawa ke rumah sakit Dustira oleh keluarga dengan
keluhan sering menyendiri di kamar, tidak mau diajak berbicara, tidak mau
bekerja atau beraktivitas, sering melamun dan tidak mau makan, tanpa
diketahui penyebabnya.
Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 2 bulan yang lalu sebelum pasien masuk rumah sakit, pasien
sering berdiam diri di kamarnya, tidak mau diajak berbicara, sering kali
tidak menjawab pertanyaan yang diberikan, sesekali pasien menjawab,
namun hanya satu kata dengan suara pelan dan berbisik. Pasien juga tidak
mau bekerja dan tidak mau beraktivitas diluar ataupun di rumah. Pasien
lebih sering berbaring di kamar sambil melamun. Pasien tidak mau makan
dan sedikit minum. Pasien juga tidak mau lagi makan obat. Hal ini terjadi
karena pasien sudah berumur 38 tahun namun belum menikah sedangkan
adiknya yang berumur 8 tahun lebih muda dari pasien sudah lebih dahulu
menikah. Pasien juga hanya bekerja serabutan, tidak menentu dengan gaji
yang kecil, karena keluarga khawatir dengan keadaan pasien semakin
memburuk, maka pasien dibawa ke rumah sakit Dustira pada tanggal 12
April 2019.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pertama kali dirawat di bangsal XII rumah sakit Dustira pada
tahun 2015. Pasien dirawat saat itu karena senang berdiam diri dan sering
marah-marah. Pasien juga sering berbicara sendiri, bicara melantur dan
tidak jelas. Pasien dirawat selama kurang lebih 2 minggu dan diberikan
obat. Keadaan pasien saat pulang yaitu pasien sudah tidak bicara sendiri dan
sudah bisa diajak berkomunikasi.
Pasien dirawat kembali di bangsal XII rumah sakit Dustira 3 bulan yang
lalu karena mengamuk lagi. Pasien marah-marah dan berdiam sendiri lagi di
kamarnya, tidak mau diajak bicara. Pasien dirawat selama 1 minggu.
Keadaan saat pulang pasien sudah tidak marah-marah lagi. Namun pasien
tetap malas minum obat.
Sampai saat ini pasien sudah dirawat sebanyak 3 kali dan menderita
gangguan jiwa sebanyak 3 kali.
Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak kedua dari 3 bersaudara, keluarga pasien
merupakan keluarga dengan ekonomi menengah kebawah. Kakak pasien
seorang laki-laki yang telah menikah, adik pasien seorang perempuan yang
juga telah menikah. Di keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan
yang sama seperti pasien.
Riwayat Hidup Pasien
Riwaat Hidup Pasien
Masa dikandung dan persalinan normal usia 38 minggu, masa bayi
pasien normal, tumbuh dan berkembang normal seusianya, ASI eksklusif.
Masa pra sekolah pasien tidak menderita penyakit, tidak ada keterlambatan
perkembangan atau pertumbuhan, hubungan dengan lingkungan baik. Masa
sekolah pasien sering bergaul dan mengaji di masjid. Masa pubertas, sehat
namun cendeerung pendiam dan masih sering pergi ke masjid. Masa
dewasa, pasien bekerja serabutan, pendiam, belum menikah dan mengalami
beberapa masalah kejiwaan yang dialami saat ini.
Riwayat Pekerjaan
Bekerja serabutan sejak usia 18 tahun dengan gaji yang tidak menentu.
Riwayat Perkawinan
Pasien belum menikah
Kepribadian Sebelum Sakit
Pasien tidak memiliki hobi khusus, sebelumnya pasien lebih sering
melakukan kegiatannya sendiri seperti menonton TV sendiri atau membaca
koran. Pasien juga sering ke masjid untuk mengaji dan sholat.
Pasien termasuk orang yang tertutup, tidak pernah menceritakan
masalahnya dan lebih sering memendamnya sendiri. Meskipun ekonomi
pasien tergolong kurang, pasien tidak pernah mengeluhkannya atau
menceritakannya kepada orang lain.
Hubungan pasien dan keluarga cukup baik hanya saja pasien sering
menarik diri dari lingkungan rumah, lingkungan tetangga atau temannya
akhir-akhir ini.
Biasanya pasien makan 3x/hari dengan porsi normal, minum cukup dan
merupakan perokok aktif sejak usia 23 tahun dan menghabiskan 1 bungkus
rokok dalam 1 hari.

VII. Formulasi Diagnostik (+alasan)


Aksis I: Gangguan klinis dan kondisi klinis yang menjadi fokus perhatian
khusus
1. Gangguan kejiwaan karena adanya:
- Gangguan/hendaya dan disabilitas: pada saat awal masuk didapati
hendaya dalan fungsi social dan hendaya fungsi sehari-hari
- Distress/penderitaan: pada saat awal masuk pasien sangat pendiam,
murung, marah-marah, bicara melantur dan tidak jelas
2. Gangguan merupakan gangguan fungsional karena:
 Tidak ada gangguan kesadaran neurologis
 Tidak disebabkan oleh gangguan medik umum
3. Gangguan psikotik, karena adanya hendaya dalam menilai realita yang
dibuktikan dengan adanya:
 Halusinasi visual: pasien melihat bayangan
Aksis II: Gangguan kepribadian dan retardasi mental
Tidak ada diagnosis (Perlu dilakukan observasi lebih lanjut)
Aksis III: Kondisi medis umum
Dari anamnesis, pemeriksaan neurologis, dan pemeriksaan penunjang tidak
ditemukan kelainan sehingga pada aksis III tidak ada diagnosis
Aksis IV: Problem psikososial dan lingkungan
 Masalah keluarga: pasien sering diingatkan oleh orangtuanya untuk
cepat menikah dan mempunyai pekerjaan yang jelas.
 Masalah Pribadi: kemungkinan pasien mengalami beban pikiran,
rasa tidak percaya diri dan tidak mau menceritakan masalahnya
kepada orang lain.
 Masalah Ekonomi: Keluarga yang memiliki ekonomi menengah
kebawah dan pekerjaan pasien yang tidak tetap serta pendapatan
yang tidak jelas.
Aksis V: GAF Scale
51-60 beberapa gejala sedang atau kesulitan sedang dalam fungsi social,
pekerjaan atau sekolah.

VIII. Evaluasi Multiaksial


Aksis I
• Gangguan klinik : F32.2 Episode Depresif Berat dengan Gejala
Psikotik
• Diagnosis banding : F25.1 Gangguan Skizoafektif Tipe Depresif
Aksis II
• Gangguan kepribadian: Tidak ada
• Retardasi mental : Tidak ada
Aksis III
• Kondisi medik umum : Tidak ada
Aksis IV
• Masalah psikososial : Masalah keluarga, masalah pribadi dan masalah
ekonomi
Aksis V
• GAF Scale : 51-60 beberapa gejala sedang atau kesulitan
sedang dalam fungsi social, pekerjaan atau sekolah.

IX. Daftar Masalah


 Biologi : Riwayat gangguan jiwa pada keluarga tidak ada.
 Psikologi : Waham (-), Halusinasi (visual), hipoaktif, emosi:
hipotimia, afek : menyempit, emosi dan afek sesuai.
 Sosial : Pasien sangat tertutup, tidak mau berkomunikasi dengan
orang sekitar dan tidak mau melakukan aktivitas.
X. Prognosis
Quo ad Vitam : ad bonam
Quo ad Functionam : dubia ad bonam
Quo ad Sanationam : dubia ad bonam

Faktor-faktor yang mempengaruhi


a. Factor yang memperingan:
 Adanya dukungan dari keluarga untuk menjadi pribadi yang
lebih baik
 Tidak adanya gangguan mental organik
b. Factor yang memperberat:
 Tilikan pasien buruk, karena pasien merasa dirinya tidak sakit,
tidak perlu minum obat dan tidak perlu kontrol rutin kerumah
sakit
 Pasien sudah dirawat sebelumnya sebanyak 2 kali karena
skizofrenia
 Kesadaran pasien akan pengobatan kurang baik

XI. Terapi
• Terapi Non Farmakologi
• Psikoterapi: Suportif individu dan keluarga
• Sosioterapi: Upaya mengembalikan fungsi aktivitas sehari-
hari
• Terapi Farmakologi
• Long acting anti psikotik atipikal: risperidal consta i.m 25
mg setiap 2 minggu
PEMBAHASAN

2.1 Depresi
2.1.1 Definisi Depresi
Depresi adalah penurunan atau merendahnya aktivitas fungsional. Keadaan
mental mood yang menurun yang ditandai dengan perasaan sedih putus asa dan
tidak bersemangat. Seseorang yang mengalami depresi dapat menunjukan rasa
rendah diri, rasa bersalah, menyalahkan diri sendiri, menarik diri, dari
lingkungannya dan adanya gangguan somatik berupa gangguan makan maupun
tidur.1Depresi dapat berjalan kronik ataupun rekuren yang dapat mempengaruhi
pekerjaan, ataupun kegiatan sehari-hari dari individu tersebut.17
Ketika penderita mengalami keadaan depresi sedang maka penderita dapat
dilakukan penatalaksaan tanpa menggunakan obat, namun ketika penderita sudah
mengalami depresi berat maka penderita harus melakukan penatalaksaan dengan
menggunakan obat.17
Berdasarkan DSM-V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders) gangguan depresi dapat terjadi tanpa adanya riwayat episode manik,
maupun episode campuran sebelumnya. Depresi dapat ditegakkan sekurang-
kurangnya dalam dua minggu.21
2.1.2 Gambaran Klinis Depresi
Penderita gangguan depresi menunjukan tanda dan gejala utama yaitu
merasakan kehilangan energi dan minat, perasaan bersalah, kesulitan
berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan sehingga menunjukan penderita
mengalami penurunan berat badan, dan pikiran tentang kematian atau bunuh diri.
Beberapa penderita depresi memiliki postur tubuh yang membungkuk, tidak
terdapat pergerakan spontan, dan pandangan mata yang putus asa dan kadang
kalanya memalingkan wajahnya. Retardasi psikomotor menyeluruh merupakan
gejala yang paling umum khususnya terjadi pada panderita yang sudah lanjut
usia.3
Tanda dan gejala lain depresi adalah konsentrasi maupun perhatian
berkurang, kepercayaan pada dirinya sendiri berkurang, memiliki pemikiran
bahwa dirinya tidak berguna, memiliki perasaan bersalah, memiliki pandangan
masa depan yang suram, bersikap pesimis, perubahan tingkat aktivitas,
kemampuan kognitif, pembicaraan, tidur, dan aktivitas seksual (libido menurun)
yang menyebabkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan dan interpersonal. Adapun
terdapatnya volume dan kecepatan berbicara yang menurun, berespon terhadap
pertanyaan tunggal, dan menunjukan respon yang melambat terhadap pertanyaan.
Pasien depresi memiliki pemikiran negatif tentang dirinya, isi pikiran mereka
melibatkan perenungan tentang kehilangan, bersalah, bunuh diri dan kematin.
Lebih dari 10% dari semua penderita depresi memiliki gejala jelas gangguan
berfikir.3
Duapertiga dari penderita gangguan depresi merenungkan bunuh diri, dan
10-15% melakukan bunuh diri. Namun terkadang penderita tidak menyadari akan
depresinya dan tidak mengeluhkan apapun walaupun penderita menunjukan
adanya penarikan diri dari keluarga, teman dan aktivitas yang mereka lakukan
sebelumnya.13
2.1.3 Diagnosis Gangguan Depresi
Diperlukan sekurang-kurangnya dua minggu untuk menegakkan diagnosis
gangguan depresi dari ketiga tingkat keparahan tersebut, namun apabila gejala
luar biasa berat dan berlangsung secara cepat maka dibenarkan mendiagnosis
gangguan depresi kurang dari dua minggu.5,6
Gangguan depresi menurut PPDGJ-III memiliki tiga derajat yaitu derajat
ringan, derajat sedang, dan derajat berat. Penderita gangguan depresi derajat
ringan biasanya memilik dua sampai tiga gejala utama ditambah dua gejala
lainnya sehingga sukar untuk meneruskan pekerjaan biasa dan kegiatan sosial,
namun penderita tetap bisa melakukannya tidak sampai berhenti sama sekali.
Penderita gangguan depresi sedang biasanya memliki gejala dua sampai tiga
gejala utama dan memiliki tiga gejala lainnya, sehingga mengalami kesulitan
untuk mengikuti kegiatasn sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga. Penderita
gangguan depresi berat memiliki tiga gejala utama ditambah empat gejala lainnya
dan berintensitas berat sehingga penderita sangat tidak mungkin mampu
meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga.5

2.1.4 Epidemiologi
Gangguan depresi berat merupakan suatu gangguan yang sering dialami,
dengan memiliki prevalensi seumur hidup kurang lebih 15%, dan memiliki
kemungkinan yang tinggi pada wanita yaitu sebanyak 25% atau 2 kali lebih tinggi
dibandingkan dengan laki-laki.3 Penelitian secara universal menyatakan bahwa
wanita memiliki prevalensi yang lebih tinggi di sebabkan adanya keterlibatan dari
hormon, efek kelahiran, perbedaan stresor psikososial yang terjadi pada wanita
maupun pada laki-laki, dan perilaku putus asa terhadap menghadapi masalah.3
Diantara anak berumur sekolah terdapat kejadian depresi sebesar 2%.9
Pada umumnya onset untuk gangguan depresi berat terjadi pada umur 40
tahun, dengan 50% dari semua penderita mempunyai onset 20 sampai 50 tahun.
Pada lanjut usia tidak menutup kemungkinan untuk terjadinya gangguan depresi,
namun angka kejadian pada usia ini dapat dibilang jarang terjadi. Gangguan
depresi berat memiliki kemungkinan meningkat pada usia kurang dari 20 tahun,
hal ini terjadi berhubungan dengan meningkatnya penggunaan alkohol dan zat-zat
terlarang pada usia ini.3
Gangguan depresi meningkat pada daerah perdesaan dibandingkan dengan
daerah perkotaan, namun tidak ditemukan perbedaan angka kejadian pada status
sosial ekonomi rendah maupun status sosial ekonomi yang tinggi.3
Gangguan depresi berat meningkat pada orang yang tidak memiliki
hubungan interpersonal yang erat atau kepada orang-orang yang bercerai maupun
yang berpisah.3
Sekitar 23% narapidana negara dan 30% narapidana lokal memiliki tanda
dan gejala depresi. Gangguan depresi terjadi sebanyak 10% pada narapidana laki-
laki dan 12% pada narapidana perempuan.7

2.1.5 Etiologi Depresi


Faktor penyebab depresi disebabkan oleh tiga faktor yaitu faktor biologis,
faktor genetika dan faktor psikososial. Terdapat kemungkinan bahwa ketiga faktor
ini dapat berinteraksi satu sama lainnya, sebagai contoh: faktor biologis dan faktor
genetika dapat mempengaruhi seseorang merespons terhadap stresor psikososial.3

2.1.5.1 Faktor Biologis


Penderita depresi memiliki beberapa kelainan di dalam metabolit amin
biogenik seperti 5-hydroxyindoleacetic acid (5-HIAA), homovanillic acid (HVA)
dan 3-methoxy-4-hydroxyphenylglycol (MHPG) di dalam darah, urin, dan cairan
serebrospinalis. Kelainan metabolik tersebut berhubungan dengan disregulasi
heterogen pada amin biogenik.3
Norepinefrin dan serotonin merupakan dua neurotransmiter yang berperan
penting dalam patologis dari depresi. Adanya aktivasi reseptor adregenik-alfa2
pada pasien depresi menyebabkan adanya penurunan jumlah norepinefrin yang
dilepaskan. Reseptor adrenergik-alfa2 juga berlokasi pada neuron serotonergik
dan mengatur jumlah serotonin yang dilepaskan.3
Serotonin merupakan neurotransmiter amin biogenik yang paling sering
dihubungkan dengan depresi. Depresi dapat dicetuskan dengan adanya penurunan
serotonin. Konsentrasi serotonin di dalam cairan serebrospinal yang rendah dan
konsentrasi serotonin di trombosit yang rendah sering ditemukan pada pasien
bunuh diri.3
Dopamin memiliki peranan dalam pasien depresi. Aktivitas dopamin
menurun pada pasien depresi namun meningkat pada mania.3
Neurotransmitter lainnya yang berperan dalam kejadin depresi adalah
GABA (Gama Aminobutyric Acid) dan AcH yang kadanya menurun apabila
seseorang mengalami depresi.19
2.1.5.2 Faktor Genetika
Faktor genetika merupakan faktor penting di dalam perkembangan
gangguan mood. Seorang anak memiliki risiko gangguan mood sebesar 10-25%
apabila orang tuanya memiliki gejala tersebut. Pada anak kembar memiliki
peningkatan risiko yaitu sebesar 50% terutama pada kembar monozigot.3

2.1.5.3 Faktor Psikososial


Faktor psikososial merupakan keadaan yang menyebabkan perubahan dalam
kehidupan seseorang, seseorang akan beradaptasi pada perubahan tersebut.3
Peristiwa kehidupan dan stres lingkungan merupakan penyebab timbulnya depresi
pada seseorang, stres yang menyerupai episode pertama gangguan mood dapat
merubah biologi otak yang cukup bertahan lama.3 Perubahan biologi otak yang
cukup lama ini dapat menyebabkan perubahan keadaan fungsional berbagai fungsi
neurotransmiter yang termasuk hilangnya neuron dan penurunan besar dalam
kontak sinaptik. Perubahan keadaan fungsional ini menyebabkan seseorang
berada dalam risiko tinggi menderita depresi bahkan tanpa adanya stresor
eksternal.3
Peristiwa kehidupan berperan utama dalam depresi. Peristiwa kehidupan
yang paling berhubungan dengan adanya depresi adalah kehilangan orang tua
sebelum usia 11 tahun dan stresor lingkungan yang paling berhubungan dengan
onset suatu episode depresi adalah kehilangan pasangan.3

2.1.6 Faktor Resiko Depresi


Terdapat beberapa faktor resiko dalam depresi, yaitu jenis kelamin, usia,
ras, status perkawinan, dan pertimbangan sosioekonomi dan kultural.
Terdapatnya prevalensi gangguan depresi berat pada wanita yang dua kali
lebih besar dibandingkan dengan laki-laki. Walaupun belum diketahui jelas
mengapa terdapatnya perbedaan tersebut. Namun adanya beberapa alasan yang
mengatakan bahwa perbedaan tersebut melibatkan perbedaan hormonal, efek
kelahiran, perbedaan stresor psikososial bagi wanita maupun laki-laki, dan
perilaku wanita maupun laki-laki dalam keputusasaan.9
Usia 40 tahun adalah usia rata-rata onset untuk terjadinya gangguan depresi.
50% dari semua pasien depresi memiliki onset antara usia 20 dan 50 tahun.
Depresi berat jarang terjadi pada usia anak-anak dan lanjut usia.9 Depresi pada
lanjut usia dapat berhubungan dengan status sosialekonomi rendah, kematian
pasangan, penyakit fisik dan isolasi sosial.3
Tidak adanya perbedaan prevalensi antara ras, namun terdapat beberapa
dokter akan mendiagnosis gangguan mood kepada pasien yang memiliki latar
belakang ras yang berbeda dengan dirinya.9
Gangguan depresi berat meningkat pada orang yang tidak memiliki
hubungan interpersonal yang erat atau yang bercerai maupun berpisah.9
Sosioekonomi tidak mempunyai hubungan dengan gangguan depresi.
Terdapat perbedaan angka depresi antara perdesaan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan daerah perkotaan.9

2.1.7 Pengukuran Derajat Depresi


Derajat depresi dapat diukur oleh 2 alat, yaitu Beck Deppresion Inventory
(BDI) atau Hamilton Deppresion Rating Scale (HDRS).19
Beck Deppresion Inventory (BDI) adalah suatu alat ukur depresi yang
dibuat oleh Aron T. Beck yang sudah dikembangkan sejak 1960. BDI merupakan
kuesioner yang terdiri dari 21 pertanyaan yang akan di jawab sesuai dengan
gambaran perasaan pengisi. Pertanyaan pertanyaan tersebut menggambarkan
perasaan sedih, pesimis, kegagalan, perasaan bersalah, kekecewaan terhadap diri
sendiri, menyalahkan diri sendiri, pikiran bunuh diri, dan lainnya.19

Tabel 2.1 Sebaran Pertanyaan BDI 18

Nomor Soal
Jumlah Soal
Manifestasi Emosional
1,4,5,10,11
5
Manifestasi Kognitif
2,3,6,7,8,14
6
Manifestasi Motivasional
9,12,13,15
4
Manifestasi Vegetatid
16,17,18,19,20,21
6
Total
21

BDI akan dihitung dengan cara menjumlahkan nomor-nomor pada jawaban


yang dipilih oleh penderita, nilai total dari BDI ini adalah 0-63. Nilai total 0-9
menunjukan normal atau tidak adanya depresi, nilai total 10-15 menunjukan
terdapatnya depresi ringan, nilai total 16-23 menunjukan terdapatnya depresi
sedang, dan nilai total 24-63 menunjukan terdapatnya depresi berat.18
2.1.8 Penatalaksanaan Depresi
Pengobatan pasien depresi harus diarahkan dengan beberapa tujuan.
Pertama, keamanan dari diri pasien itu sendiri harus dijamin. Kedua, pemeriksaan
diagnostik harus dilakukan dengan lengkap. Ketiga, rencana pengobatan pasien
harus dilakukan bukan hanya untuk menghilangkan gejala sekarang yang diderita
pasien, namun harus menyangkut dengan kesehatan pasien kedepannya.3
Pada saat ini pasien diberi penekanan penatalaksanaan berupa farmakologi
dan psikoterapi. Selain itu, faktor psikososial harus juga diperhatikan dengan cara
menjaga stresor pada saat pasien sudah sembuh, karena hal ini sangat
berhubungan dengan tingkat kekambuhan.3

2.1.8.1 Terapi Psikososial


Terdapat tiga jenis psikoterapi jangka pendek yaitu, terapi kognitif, terapi
interpersonal, dan terapi perilaku. Terdapat terapi psikososial lainnya yaitu terapi
psikoterapi berorientasi psikoanalitis. Terapi piskoterapi berorientasi psikoanalitis
ini banyak digunakan oleh klinisi sebagai metode utama untuk gangguan depresi.
Terdapat perbedaan dari terapi psikoterapi jangka pendek dengan terapi
pendekatan berorientasi psikoanalitis yaitu, peranan aktif dan mengarahkan dari
ahli terapi, tujuan langsung, dan titik akhir terapi.3

2.1.8.1.1 Terapi Kognitif


Terapi kognitif mulanya dikembangkan oleh Aaron Beck dengan tujuan
menghilangkan episode depresi dan mencegah terjadinya rekurensi dengan
membantu pasien mengidentifikasi dan uji kognitif negatif. Terapi ini dilakukan
dengan cara mengembangkan cara berpikir alternatif, fleksibel dan positif dan
melatih kembali respons kognitif dan perilaku yang baru.
Terapi kognitif ini merupakan terapi yang efektif dalam mengobati
gangguan depresi berat. Terapi ini memiliki efek samping yang lebih rendah
daripada terapi farmakoterapi dan berhubungan dengan followup yang lebih baik
daripada farmakoterapi.3

2.1.8.1.2 Terapi Interpersonal


Terapi ini dikembangkan oleh Gerald Klerman dengan menggunakan dua
anggapan terhadap satu atau dua masalah interpesonal pasien. Pertama, masalah
interpesonal sekarang ini kemungkinan memiliki akar pada hubungan awal yang
disfungsional. Kedua, masalah interpersonal sekarang kemungkinan terlibat dalam
mencetuskan atau memperberat gejala depresi yang di derita pasien pada saat ini.
Program terapi interpersonal biasanya berlangsung dari 12 sampai 16 sesion
mingguan. Terapi dilakukan dengan pendekatan terapeutik aktif.
2.1.8.1.3 Terapi Perilaku
Pada saat ini dinyatakan bahwa terapi perilaku adalah modalitas pengobatan
yang efektif untuk gangguan depresi berat. Terapi ini didasari oleh adanya pola
perilaku maladapatif yang menyebabkan seseorang mendapatkan sedikit umpan
balik positif dari masyarakat dan kemungkinan penolakan yang palsu. Pada terapi
ini pasien akan dipusatkan pada perilaku maladapatif tersebut sehingga pasien
akan belajar untuk berfungsi di lingkungan luar dengan cara tertentu di mana
mereka mendapatkan dorongan positif.
Pengobatan yang efektif dan spesifik telah tersedia untuk penderita gejala
depresi. Sekarang telah di perkenalkannya bupropion dan serotonin spesific
reuptake inhibitors (SSRI) contohnya, fluoxetine, paroxetine dan setraline yang
memberikan klinisi obat jauh lebih aman dan jauh lebih baik ditoleransi daripada
obat antidepresan sebelumnya.3
Indikasi utama untuk antidepresan adalah depresi episode berat. Beberapa
masalah yang sering dihadapi oleh penderita saat melakukan pengobatan
antidepresan adalah beberapa pasien tidak berespon terhadap pengobatan pertama,
antidepresan pada saat ini memerlukan waktu tiga sampai empat minggu untuk
menunjukan efek terapetik yang bermakna, sampai saat ini antidepresan masih
bersifat toksik pada overdosis yang dapat menimbulkan efek merugikan pada
penderita.3

Alternatif terhadap terapi obat adalah terapi elektrokonvulsif (ECT)


biasanya digunakan jika pasien tidak berespon terhadap pengobatan farmako,
pasien tidak dapat mentoleransi dari farmakoterapi, atau situasi klinis yang sangat
parah sehingga diperlukan perbaikan cepat yang terlihat pada ECT.3
LAMPIRAN

Anamnesis Symtom
Keterangan Autoanamnesis dilakukan pada
Umum tanggal 16 April 2019 pukul 07.00 Irritable
WIB, pasien sedang berbaring
ditempat tidur sambil melamun.
Mengenakan baju putih dan celana
hitam
T: Selamat pagi pak? Kontak: tidak ada, kurang
J:(pasien tidak menjawab, hanya kooperatif
melihat-lihat ke plafon atas)
T: nama saya Resa dan ini teman-
teman saya Iftitah, Irma dan Lola.
Apakah bapak bersedia berbincang-
incang bersama kami? Tidak kooperatif dan
J: (pasien masih tidak menjawab) konsentrasi terganggu
T: Pak? Pak Suhayat? Respon lambat
J: (pasien hanya menengok ke arah
kami)
T: Boleh tidak pak kita berbincang-
bincang dengan bapak? Mutisme
J: (pasien hanya mengangguk)
T: bapak namanya siapa? Cara bicara terganggu
J: Suhayat (namun pasien tidak
menjawab dengan spontan, bicaranya
pelan dan lambat)
T: bapak sekarang umurnya berapa?
J: 38 tahun
T: bapak pendidikan terakhir apa?
J: (pasien tidak menjawab)
T: bapak sudah menikah?
J: (pasien menjawab sambil senyum-
senyum) belum.
T: kenapa bapak senyum-senyum?
Bapak ingin menikah?
J: iya (pasein menjawab dengan
senyum-senyum lagi)
T: bapak sudah bekerja? Sebagai apa?
J: (pasien tidak menjawab)
T: rumah bapak dimana?
J: Babakan, Tagog Apu
T: bapak agamnya apa?
J islam
T: bapak kesini dianter siapa?
J: Ujang
T: Ujang itu siapa pak?
J: sodara
T: bapak hubungannya dekat dengan
pak Ujang?
J: tidak, keuheulka si Ujang
T: oh, bapak benci ke pak Ujang?
Kenapa pak?
J: iya soalnya di Ujang yang bawa saya
kesini
T: kenapa bapak dibawa kesini sama
pak Ujang?
J: (pasien hanya menggelengkan
kepala) Tilikan buruk
T: bapak merasa sekarang sedang
sakit?
J: enggak Orientasi, fungsi kognisi
T: bapaksebelumnya punya masalah? cukup baik
J: (pasien tidak menjawab)
T: bapak tau sekrang sedang dimana?
J: Dustira
T: bapak tau sekarang hari apa?
J: selasa
T: tanggal, bulan, dan tahunnya? Riwayat trauma (-)
J: April 2019 (pasien tidak enjawab
tanggal)
T: bapak sebelumnya pernah jatuh atau
kecelakaan?
J: enggak
T: apakah bapaksekarang merasa
sedih?
J: tidak
T: apa yang bapak rasakan sekarang?
J: tenang
T: apa ada keluhan nyeri di tubuh
bapak? Atau berdebar-debar?
J: enggak
T: bapak tidurnya terganggu? Atau
nyenyak?
J: biasa aja
T: buang air besar dan buang air kecil
ada keluhan tidak pak?
J: enggak Ilusi dan halusinasi dengar
T: bapak pernah melihat sesuatu yang (-)
tidak bisa dilihat oleh orang lain? Gangguan persepsi
J: (pasien tidak menjawab) penglihatan dan perabaan
T: bapak pernah mendengar bisikan (-)
bukan?
J: enggak
T: bapak apakah pernah merasa seperti
ada yang menyentuh bapak? Atau
bapak dapat menyentuh sesuatu yang
Keluhan tidak bapak lihat?
utama J: (pasien menggelengkan kepala)
T: bapak sudah berapa lama disini?
J: 5 hari
T: bapak ada perasaan seperti dikejar-
kejar orang?
J: enggak Penampilan dekorum
T: bapak merasa ada yang buruk
memerhatikan bapak atau melihat
bapak?
J: (pasien menggelengkan kepala) Intake makanan kurang
T: bapak, itu kenapa makanannya
berantakan?
J: (pasien hanya diam) Gangguan persepsi
T: kenapa gak dimakan pak? penciuman (-)
J: (pasien hanya menggelengkan
kepala)
T: makanannya bau atau bagaimana
pak? Memori baik,
J: (pasien tidak menjawab) kalkulasi baik
T: bapak sering mncium bau-bau
kemenyan? Atau bau-bauan lain?
J (pasien menggelengkan kepla)
T: baik kalau begitu pak, sekarang
bapak istirahat dulu. Jangan lupa
dimakan obatnya. Besok kita lanjutkan
lagi ya pak.
J: (pasien mengangguk)
Autoanamnesa tanggal 18 April 2019,
pukul 07.00 WIB. Pasien sedang Intake buruk
berbaring di tempat tidur
menggunakan baju berwarna biru dan
celana hitam
T: selamat pagi pak
J: pagi
T: bapak sudah makan?
J: sudah
T: (saya mengecek ke tempat makan
pasien ternyata masih penuh) Loh kok
ini makanannya masih utuh loh pak.
J: (pasien tidak menjawab)
T: jangan lupa dimakan ya pak
J: (pasien hanya mengangguk) Memori dan orientasi
T: pak, kemarin kan bapak dianter orang baik
kesini sama pak Ujang, itu saudara
kandung bapak bukan?
J: bukan
T: kerabat jauh?
J: iya Memori kurang baik atau
T: orangtua bapak namanya siapa? konsentrasi buruk
J: Sahru, Nunung
T: bapak anak ke berapa?
J: 2
T: dari berapa bersaudara pak?
J: 3
T: kakak bapak namanya siapa?
J: (pasien tidak menjawab)
T: adik bapak namanya siapa?
J: Ai
T: umur orangtua bapak berapa tahun?
J: gak tau
T: kakak bapak umurnya berapa pak?
J: jauh dari saya
T: keluarga sehat semua pak?
J: (pasien mengangguk) Penilaian abstrak cukup
T: bapak tinggal serumah dengan
orangtua?
J: iya
T: nyaman tidak pak tinggal di rumah?
J: gitu weh lah
T: pak, tahu arti dari besar kepala tidak
pak?
J: hmm... ya gitu, sombong
T: kalo panjang tangan?
J: ngambil barang orang lain
T: kalo pribahasa berakit-rakit kehulu
berenang-renang kemudian,
lanjutannya apa pak? Kalkulasi kurang baik
J: Hmm.. (pasien tidak menjawab)
T: bapak coba ulang kata-kata saya.
Batu, kuris, sendok
J: batu, kursi, sendok (menjawab Hipoaktivitas
lambat dan tidak spontan)
T: pak, kalau 10 + 10 berapa?
J: 20
T: kalau 7 + 7 berapa?
J: 21
T: sekali lagi ya pak, kalau 10 X 2?
J: 200
T: bapak waktu di rumah kegiatannya
ngapain aja? Salah satu stressor yaitu
J: diem aja, (pasien tidak langsung pasien belum menikah
menjawab)
T: bapak punya hobi gak pak? Suka
kegiatan apa pak biasanya?
J: gatau lah, biasa aja
T: pak cita-citanya pengen jadi apa
pak?
J: hehe... pengen punya cewek (pasien
menjawab sambil senyum-senyum)
T: oh iya iya, kakak bapak sudah
menikah?
J: sudah
T: adik bapak sudah menikah?
J: sudah.. hmm.. ya... tong kitu kuduna
mah
T: kenapa pak?
J: nggak
T: harusnya bapak dulu yang nikah?
J: ya gitulah, kudu ngarti
T: bapak kesel sama adik bapak?
J: ya gitu weh, sama Ujang
T: oh keselnya sama pak Ujang?
J: (pasien mengangguk)
T: bapak semalem bisa tidur nyenyak
pak?
J: bisa
T: bapak sudah mandi?
J: udah
T: kapan pak? Intake buruk
J: kemarin (pasien bangun dan berdiri
mengambil makanan kemudian duduk
lagi)
T: mau makan pak?
J: (pasien membuka makanan dan
menutupnya kembali?
T: kenapa pak? Gak suka
makanannya?
J: males
T: nanti dimakan pak ya. Bapak
sekolah terakhir dimana pak?
J: SMP
T: sekarang bapak kerja apa?
J: haha.. gak tau lah (pasien tidak
menjawab pekerjaannya)
T: tapi bapak sudah puas dengan gaji
bapak?
J: ya..kumaha deui lah, hese neang duit
mah
T: kenapa pak? Uangnya kurang?
J: (pasien tidak menjawab)
T: bapak pernah punya pengalaman di
bidang militer? Riwayatsebelumnya
J: (pasien menggelengkan kepala) aktivitas cukup baik
T: pernah ada urusan sama polisi atau
ssama pengadilan atau pernah masuk
penjara?
J: (pasien menggelengkan kepala)
T: bapak dulu suka ke masjid?
J: (pasien mengangguk)
T: di masjid ngapain aja pak?
J: sholat... ngaji..
T: sering bapak ke masjid?
J: lumayan
T: bapak suka baca buku?
J: (pasien menggelengkan kepala)
T: bapak kalau di rumah suka
melakukan hal apa?
J: di kamar
T: bapak sering ngobrol sama teman
atau tetannga?
J: enggak Apatis
T: yasudah, bapak istirahat dulu ya.
Kita lanjutkan besok. Jangan lupa
dimakan pak makanannya, dihabiskan
J: (pasien tidak menjawab)
Anamnesis dilakukan pada Sabtu,
tanggal 20 April 2019. Pasien sedang
duduk di tempat tidur menghadap ke
dinding. Memakai baju putih dan
celana hitam
T: selamat pagi, pak Suhayat
J: (pasien menoleh ke arah kami)
TL bapak sedang apa? Kenapa melihat
ke tembok pak?
J: (pasien menggelengkan kepala)
T: apa yang bapak rasakan sekarang?
J: ya gitu lah.. sedih Emosi dan afek sedih
T: sedih kenapa pak?
J: ya kenapa saya dibawa kesini sama
Ujang
T: kenapa pak disini gak betah?
J: iyalah.. pulang aja
TL bapak kan di rumah juga sama,
hanya diam saja di kamar kan?
J: ada teman Halusinasi lihat (+)
T: siapa pak?
J: ada lah pokoknya
T: dimana pak?
J: kamar
T: oh, di kamar bapak tidak sendirian?
J: enggak
T: suka ngobrol pak sama teman
bapak?
J: (pasien tidak menjawab) Tidak kooperatif
T: berapa banyak teman bapak di
kamar?
J: satu
T: teman apak suka bicara apa?
J: (pasien tidak menjawab)
T: bapak itu cemilannya masih utuh
ya, kenapa tidak dimakan?
J: (pasien tidak menjawab)
T: ini nasinya sedikit sekali yang
dimakan. Habiskan pak!
J: (pasien tidak menjawab)
T: bapak suka merokok?
J: (pasien mengangguk)
T: bapak sudah minum berapa gelas?
J: satu
T: sudah buang air besar belum?
J: (pasien menggelengkan kepala)
T: sudah buang air kecil?
J: (pasien menggelengkan kepala)
T: terakhir buang air besar kapan?
J: 3 hari yang lalu
T: yasudah, bapak harus banyak
minum dan makan ya. Habiskan
makanannya, cemilannya juga
dimakan ya pak, jangan dibuang-buang
gitu ya pakya?
J: (pasien mengangguk)
T: yasudah, bapak istirahat lagi ya pak
J: (pasien mengangguk)
DAFTAR PUSTAKA

1. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 31. Jakarta: EGC; 2007. hal. 578

2. World Health Organitation. Depression,

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs369/en/,

3. Kaplan S. Sadock B. Sinopsis psikiatri, Jilid 1. Jakarta: Bina Rupa

Aksara; 2010.

4. Kompasiana. http://www.kompasiana.com/atep_afia/17-4-juta-orang-

alami-stres-dan-depresi_5508e6a2a333112a452e39af ,

5. Badan Penelitian Kesehatan Kementrian Kesehatan Indonesia. Laporan

Hasil Riset kesehatan Dasar. Kementrian Kesehatan. Jakarta; 2013.

http://www.litbang.depkes.go.id/sites/download/rkd2013/Laporan_Riskesdas2013

.PDF

6. Maslim, Rusdi. Diagnosis Gangguan Jiwa (Rujukan Ringkas dari PPDGJ-

III dan DMS-5). Jakarta: PT Nuh Jaya; 2013. hal. 64-65

7. DEPKES. RI. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III

(PPDGJ-III). 1993. Direktorak Kesehatan Jiwa DEPKES RI. hal. 150-155

8. James RPO. Mental disorders among offenders in correctional settings..

new Oxford Textbook of Psychiatry: by MG. Gelder, JJ. Lopez-lbor, N

Andreasen, JR. Geddes (Editor). Oxford University Press, 2009. p 1933

9. Kaplan S. Sadock B. Sinopsis psikiatri, Jilid 1. Jakarta: Bina Rupa

Aksara; 2010. hal. 814.


10. American Psychiatric Association. Diagnostic statistical manual of

mental disorder (DSM-5). Edisi 5. Washington DC, London, England; 2013. P.

155-7

11. World Healt Organization (WHO). Mental health home disorders

management deppresion.

http://www.who.int/mental_health/management/depression/en/

12. Sadock, Benjamin, James, Sadock, Virgina, Alcott. Synopsis of

psychiatry. 10th ed. Philadephia: Lippincot Williams & Wilkins. 2007

13. Encyclopdia of Mental Disorders Beck Deppresion Inventory.

http://www.minddisorders.com/A-Br/Beck-Deppresion-Inventory.html.

14. Biokimia dibalik depresi wanita dan pria.

http://www.faktailmiah.com/2010/07/01/biokimia-dibalik-depresi-wanita-dan-

pria.html.

15. Psychiatric mental health : davis essensial nursing content + practice

questions. Hal 222

16. Kaplan S. Sadock B. Sinopsis psikiatri, Jilid 1. Jakarta: Bina Rupa

Aksara; 2010. hal. 87.