Anda di halaman 1dari 5

Praktikum keempat Sosiologi Agribisnis

Tanggal : Selasa, 11 Februari 2019

Tema : Kelembagaan Industri - Agroindustri

Bacaan : Koperasi Kemiskinan dan Runtuhnya Solidaritas Ekonomi

Kelompok 1

Anggota :

1. Ade Syukron Taufik J3J118013


2. Maharani Nabilah Delima J3J118093
3. Aldino Nur Alamsyah J3J218446
4. Lutfia Utami Sukmawan J3J218470
5. Rahmah Nur Aqmarina J3J218483
6. Meidiena K J3J218492

Pembimbing : Ir. Wien Kuntari Msi

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS


SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2019

RINGKASAN

KOPERASI sebagai bentuk kerja sama ekonomi secara ideologis memuat makna
sebagai usaha penguatan sosial politik untuk mengatasi kemiskinan dan meningkatkan
kesejahteraan hidup rakyat. Akan tetapi, dalam praktiknya, muatan kepentingan politik dan
sosial ternyata lebih berat ketimbang muatan ekonominya sehingga usahanya sulit untuk
berkembang maju.

Di samping itu, banyak koperasi yang didirikan hanya untuk memenuhi formalitas
“ideologis”, sebagai cara yang mudah untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah yang
memang mensyaratkan adanya bentuk usaha koperasi. Akibatnya, aspek ekonomi bisnis
koperasi kurang berkembang optimal karena hidupnya sepenuhnya menjadi bergantung pada
adanya bantuan pemerintah tersebut. Karena itu, banyaknya koperasi tidak dengan sendirinya
mencerminkan adanya peningkatan kesejahteraan rakyat secara berkelanjutan.

Kenyataan bahwa tidak terjadi perluasan pasar bagi usaha kecil dan koperasi, bahkan
pasar domestik baginya juga semakin menyempit karena direbut produk luar negeri yang lebih
murah dan lebih berkualitas, mengakibatkan usaha mereka jatuh secara bersama- sama. Jika
di kandang sendiri saja kalah, betapa sulitnya menang di kandang lawan.

Karena itu, diperlukan pendekatan yang mampu mengintegrasikan ilmu ekonomi dengan
ilmu sosial, politik, hukum, budaya, dan agama, untuk memahami realitas kemiskinan secara
lebih multidimensi. Pendekatan tunggal yang menekankan aspek ekonomi telah gagal untuk
memahami realitas kemiskinan secara utuh.

Koperasi hanya akan bisa hidup dan menjadi kuat jika ditopang oleh kuatnya solidaritas
ekonomi bangsa, untuk menjaga pasar domestiknya yang besar dan menggalakkan
penggunaan produksi dalam negeri. Tanpa solidaritas ekonomi yang kuat, koperasi hanya
tinggal mimpi karena hanya ada dalam rumusan normatif UUD 1945, tetapi tidak pada realitas
sosial. Koperasi jadi antirealitas.

PERTANYAAN DAN JAWABAN

1. Paradigma merupakan suatu sistem nilai, jelaskan bagaimana koperasi sebagai


kelembagaan social-ekonomi memahami makna paradigma solidaritas social (dengan
berdasarkan UU nomor 12/1967) dan solidaritas ekonomi (UU nomor 25/1992) dalam
aktivitas social ekonominya!
JAWABAN :
 Solidaritas sosial koperasi
Koperasi sebagai bentuk kerjasama ekonomi secara ideologis memuat makna
sebagai usaha penguatan sosial politik untuk mengatasi kemiskinan dan
meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat. Realitas menunjukan bahwa
kekuatan dan keunggulan sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia baik
kehutanan, pertanian, perkebunan, perikanan, maupun kelautan, belum
sepenuhnya digarap secara sungguh-sungguh dengan jiwa entrepreneurship
yang tinggi.
 Solidaritas ekonomi koperasi
Kita harus konsisten menjalankan amanat UUD 1945 tentang azas kekeluargaan
dalam kehidupan ekonomi rakyat dengan melakukan social engineering. Tanpa
adanya solidaritas ekonomi yang kuat, koperasi sebagai manifestasi dan soko
guru ekonomi rakyat, tidak akan bisa tumbuh kuat . koperasi dan ekonomi rakyat
akan mati jiak dalam masyarakat sudah tidak ada lagi solidaritas ekonomi.
Koperasi hanya akan bisa hidup dan menjadi kuat jika ditopang oleh kuatnya
solidaritas ekonomi bangsa, untuk menjaga pasar domestiknya yang besar dan
menggalakan penggunaan produksi dalam negeri.
2. Jelaskan lembaga koperasi menurut unsur-unsur atau elemen kelembagaan
(koentjaraningrat, 1974), dan sistem norma yang mendasari kinerja koperasi apakah
belum menjadi acuan perilaku pengurus koperasi, sehingga koperasi tidak dapat
berposisi seimbang dengan pelaku ekonomi lainnya di Indonesia!
JAWABAN :
 Kelembagaan adalah sosial form ibarat organ-organ dalam tubuh manusia yang
hidup dalam masyarakat. Kata “kelembagaan” (Koentjaraningrat, 1997)
menunjuk kepada sesuatu yang bersifat mantap (established) yang hidup
(constitued) di dalam masyarakat. Suatu kelembagaan adalah suatu
pemantapan perilaku yang hidup pada suatu kelompok orang. Ia merupakan
sesuatu yang stabil, mantap, dan berpola; berfungsi untuk tujuan-tujuan tertentu
dalam masyarakat; ditemukan dalam sistem sosial tradisional dan modern, atau
bisa berbentuk tradisional dan modern; dan berfungsi untuk mengefisienkan
kehidupan sosial.
 Iya, Hal ini dikarenakan kelembagaan (misalkan kelompok tani atau Koperasi)
yang terdapat didalam sistem agribisnis belum berjalan dengan baik pula
dengan masih terdapatnya hambatan dan kendala yang perlu diselesaikan dan
dicarikan pemecahannya. Karena didalam suatu sistem apabila ada yang tidak
berjalan maka akan berdampak sistemik.
3. Jelaskan dari sisi kelembagaan agribisnis (konsep agribisnis dari B Saragih), pada
subsistem mana lembaga Koperasi berperan mendukung operasional aktivitas usaha
agribisnis-agroindustri?
JAWABAN :
Konsep agribisnis dari bungaran saragih adalah sektor agribisnis sebagai bentuk
modern dari pertanian primer paling sedikit mencakup empat subsistem: subsistem
agribisnis hulu, subsistem usahatani/produksi primer, subsistem hilir, dan subsistem
pendukung. Lembaga koperasi menurut konsep agribisnis dari bungaran saragih
berada pada subsistem pendukung/penunjang yang berperan mendukung dan melayani
serta mengembangkan kegiatan dari ketiga subsistem agribisnis yang lain. Keberadaan
kelembagaan pendukung pengembangan agribisnis nasional sangat penting untuk
menciptakan agribisnis Indonesia yang tangguh dan kompetitif.
4. Apakah lembaga Koperasi menerapkan fungsi kontrol dalam pengelolaan usahanya?,
dan Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau kegagalan peran koperasi tersebut ?
JAWABAN :
Iya, contohnya mengawasi pelaksanaan pengelolaan koperasi, meneliti yang tersedia,
dan memantau laporan tertulis dari hasil pemantauan. Keberhasilan atau kegagalan
koperasi ditentukan oleh keunggulan komparatif koperasi. Hal ini dapat dilihat dalam
kemampuan koperasi berkompetisi memberikan pelayanan kepada anggota dan dalam
usahanya tetap hidup (survive) dan berkembang dalam melaksanakan usaha.
Pengalaman empiris di mancanegara dan di negeri kita sendiri menunjukkan bahwa
struktur pasar dari usaha koperasi mempengaruhi performance dan success koperasi.

SIMPULAN

Berdasarkan bacaan diatas koperasi sebagai kelembagaan social-ekonomi memahami makna


paradigma solidaritas social adalah Koperasi sebagai bentuk kerjasama ekonomi secara
ideologis sebagai usaha penguatan sosial politik untuk mengatasi kemiskinan dan
meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat. Realitas menunjukan bahwa kekuatan dan
keunggulan sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia baik kehutanan, pertanian, perkebunan,
perikanan, maupun kelautan, belum sepenuhnya digarap secara sungguh-sungguh dengan jiwa
entrepreneurship yang tinggi. Sedangkan, solidaritas ekonomi dalam aktivitas sosial
ekonominya adalah koperasi harus konsisten menjalankan amanat UUD 1945 tentang azas
kekeluargaan dalam kehidupan ekonomi rakyat dengan melakukan social engineering. Tanpa
adanya solidaritas ekonomi yang kuat, koperasi sebagai manifestasi dan soko guru ekonomi
rakyat, tidak akan bisa tumbuh kuat. Koperasi hanya akan bisa hidup dan menjadi kuat jika
ditopang oleh kuatnya solidaritas ekonomi bangsa, untuk menjaga pasar domestiknya yang
besar dan menggalakan penggunaan produksi dalam negeri. Dari sisi kelembagaan sendiri
menurut Prof. Bungaran Saragih adalah sektor agribisnis sebagai bentuk modern dari pertanian
primer paling sedikit mencakup empat subsistem yaitu subsistem agribisnis hulu, subsistem
usahatani/produksi primer, subsistem hilir, dan subsistem pendukung. Lembaga koperasi
menurut konsep agribisnis dari bungaran saragih berada pada subsistem pendukung/penunjang
yang berperan mendukung dan melayani serta mengembangkan kegiatan dari ketiga subsistem
agribisnis yang lain. Keberadaan kelembagaan pendukung pengembangan agribisnis nasional
sangat penting untuk menciptakan agribisnis Indonesia yang tangguh dan kompetitif. Lembaga
koperasi menerapkan fungsi kontrol dalam pengelolaan usaha, karena agar koperasi bisa
mengawasi pelaksanaan pengelolaan koperasi, meneliti yang tersedia, dan memantau laporan
tertulis dari hasil pemantauan. Keberhasilan atau kegagalan koperasi ditentukan oleh
keunggulan komparatif koperasi. Hal ini dapat dilihat dalam kemampuan koperasi berkompetisi
memberikan pelayanan kepada anggota dan dalam usahanya tetap hidup (survive) dan
berkembang dalam melaksanakan usaha.

KEPUSTAKAAN

Definisi Agribisnis. 2015. Bisnis Tani.


https://bisnistaniblog.wordpress.com/2015/12/05/definisi-agribisnis/

Uchan. 2010. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Koperasi.


https://kuswan.wordpress.com/2010/11/17/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-koperasi/