Anda di halaman 1dari 30

4

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 KAMAR OPERASI


2.1.1 Pengertian Kamar Operasi
Kamar operasi adalah suatu unit khusus dirumah sakit tempat untuk melakukan
tindakan pembedahan baik segera ( emergency) maupun yang berencana ( elective) yang
membutuhkan keadaan suci hama/ steril( Depkes RI, 1993)
2.1.2 Sejarah Kamar Operasi
Perkembangan operasi terjadi di berbagai daerah pada waktu yang berbeda, di China,
India, Ameka Serikat, Mesopotamia, Persia, Arab dan akhirnya Eropa. Para ahli bedah
awal baik imam, penyihir, dokter atau tukang cukur, pedagang yang memahami anatomi
dan merasa nyaman dengan praktik umum amputasi dan trephination.Trephination
mungkin yang tertua dari operasi yang kita ketahui. Karena melibatkan pemotongan atau
grinding lubang di tengkorak, sisa-sisa yang berlimpah, seperti tulang tengkorak manusia
telah berlangsung selama sebanyak 12.000 tahun yang utuh. Neolitik bukti trephination
telah ditemukan diperadaban yang berbeda, mulai dari pra-inca di AS (2000SM), ke Eropa
awal di Perancis (5100 SM), untuk orang Mesir memperluas kembali untuk alasan spiritual
dan magis, dan dilakukan oleh raja-raja, imam, penyihir dan dokter.
Kemudian digunakan untuk meredakan tekanan untuk cidera kepala, kejang dan
gangguan mental seperti psikosis. Selama masa ini, praktisi yang paling umum adalah ahli
bedah medan perang, yang memindahkan panah, perban diterapkan, amputasi dilakukan
dan dibagikan berharap kasar untuk kedua terluka dan mereka yang terus melawan. Dia, di
kali, sangat dihargai baik oleh laki-laki dan petugas mereka.Seorang ahli bedah “yang tahu
bagaimana untuk memotong panah dan meringkan pedih dari luka oleh unguent
menenangkan adalah tentara lebih banyak nilai dari pahlawan lainya.”‘Dokter’ kata itu
mungkin diciptakan oleh Homer.Nama dari dialek lonia diucapkan di koloni-koloni Yunani
dan Aegea timur berarti “Extraktor anak panah.”
Dahulu prosedur operasi tidak selalu dilakukan dalam lingkungan khusus rumah
sakit, ahli bedah melakukan kunjungan rumah atau dipanggil untuk memeriksa pasien.Di
awal tahun 1900an, perawat kamar operasi diminta untuk menyiapkan kamar atau ruangan
yang sesuai yaitu ruangan dengan lalu lintas yang minimal dan sedikti suara untuk prsedur
operasi.Biasanya ruang makan, tapi kurang juga dapur.Segalanya dikeluarkan dari kamar,
terutama karpet, gantungan, gambar dan juga mebel. Kamar operasi diasapi dengan sulfur
dioksida selama 12 jam dan jika sudah waktunya mau dipakai. Ini dilakukan dengan
membakar 3 pon sulfur di peruak terbuat dari besi untuk tiap-tiap 100 kaki kubik ruangan.
Jendela dan pintu ditutup serapat mungkin.Ketika pengasapan telah selesai, tembok dan
permukaan disikat dengan karbol 5% atau larutan soda panas. Von Esmarch
menggambarkan pembersihan dinding meliputi proses penggosokan permukaan dengan
5

roti halus, dia mendasarkan tindakan ini pada eksperiemen pribadi. Jika waktu tidak cukup
dilakukan proses pengasapan/penyikatan, ruangan seharusnya telah dipenuhi dengan uap
dan ceret linen dan handuk yang akan dipakai direbus selama 5 menit di larutan soda untuk
digunakan sebagai spon, kompor dan oven bergna sebagai alat sterilisasi. Batu bata tetap
dioven untuk digunakan sebagai alat penghangat bagi pasien anak yang kedinginan.Meja
dapur atau ruang makan telah dialasi untuk digunakan meja operasi dan ditempat di bawah
tempat lilin, dengan kepala mengarah ke jendela. Untuk kerahasiaan, kertas tisu yang
berwarna putih digunakan di dekat jendela dengan memakai adonan tepung. Banyak ahli
bedah menggunakan lampu portable untuk digunakan di dalam rumah yang mempuyai
listrik.Ini sangat berguna di malam hari.Sprei tempat tidur putih di paku di semua pojok
sebagai lapisan pelindung, lingkungan fisik sangat penting untuk ahli bedah.Suhu kamar
harus dijaga pada suhu 75-80ºF dan tambahan alat untuk menghangatkan ruangan, seperti
selimut hangat, botol air panas, dan batu bata hangat dibungkus dengan kain flannel.
Disamping menyiapkan lingkunan, perawat kamar operasi diharuskan mempunyai 10
galon air steril yang panas yang siap digunakan, Termasuk tugas perawat yaitu meyiapkan
larutan garam steril dengan mendidihkan sebuah wadah besar yang berisi air dan
menambahkan 2 sendok the garam meja. Campuran direbus selam 30 menit, kemudian
disaring menggunakan kapas yang sudah dipanggang sampai berwarna kecoklatan ke
dalam botol steril.Gabus dipergunakan untuk menutup lubang. Terutama bila larutan
disimpan untuk penggunaan yang akan datang, botol yang sudah direbus selama 20 menit
selama 3 hari berurutan, ini dipercaya untuk tumbuhnya spora. Sebagai kesimpulan dari
prosedur pembedahan bahwa perawat kamar operasi diperlukan untuk membongkar,
mendidihkan, mengeringkan dan mengepak instrument ahli bedah ke dalam
tasnya.Ruangan dikembalikan pada keadaan semula dengan melepas dan membuang
lembaran-lembaran dari dinding dan mengeluarkannya untuk dicuci dan
mengembalikannya. Akhirnya perawat kamar operasi meninggalkan ruangan, keadaan
diwaktu dia mau menggunakannya

2.1.3 Pembagian Daerah Sekitar Kamar Operasi


Daerah kamar operasi dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
a. Daerah public yaitu daerah yang boleh dimasuki oleh semua orang tanpa syarat
khusus. Misalnya: kamar tunggu, depan komplek kamar operasi
b. Daerah semi public yaitu daerah yang bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu saja,
yaitu petugas. Dan diberi tulisan “DILARANG MASUK SELAIN PETUGAS”. Dan
sudah ada pembatasan tentang jenis pakaian yang dikenakan oleh petugas (pakaian
khusus kamar operasi) serta penggunaan alas kaki khusus di dalam.
c. Daerah aseptic yaitu daerah kamar bedah sendiri yang hanya bisa dimasuki oleh
orang yang langsung ada hubungannya dengan kegiatan pembedahan. Umumnya
daerah yang harus dijaga kesucihamaannya.
6

Daerah aseptic dibagi menjadi 3 bagian yaitu :


1) Daerah aseptik 0 yaitu lapangan operasi, daerah dilakukannya pembedahan
2) Daerah aseptik 1, yaitu daerah memakai gaun operasi, tempat duk/kain steril,
tempat instrument dan tempat perawat instrument mengatur dan mempersiapkan
alat. (area 1 meter dari aseptik 0 )
3) Daerah aseptik 2, yaitu tempat mencuci tangan, koridor penderita masuk, daerah
sekitar ahli anasthesia dan daerah operasi.
2.1.4 Persyaratan Kamar Bedah
Kamar operasi yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Letak
Letak kamar operasi berada ditengah-tengah rumah sakit berdekatan dengan unit
gawat darurat (IRD), ICU dan unit radiology
b. Bentuk
Kamar operasi tidak bersudut tajam, lantai, dinding, dan langit-langait berbentuk
melengkung dan warna tidak mencolok. Sedangkan lantai dan dinding harus dari
bahan yang rata, kedap air, mudah dibersihkan dan tidak menampung debu
c. Ukuran
Ukuran kamar bedah bermacam-macam tergantung dari besar kecilnya RS. Tetapi
bisa ditetapkan minimal 5,6 m x 5,6 m ( 29,1m2), dan untuk kamar operasi khusus 7,2
m x 7,8 m (56m2)
d. Sistem Ventilasi
Ventilasi kamar operasi harus dapat diatur dengan alat control dan penyaringan udara
dengan menggunakan filter. Idealnya menggunakan sentral AC dan pertukaran
sirkulasi udara harus berbeda. Daerah tropis suhu udara diantara 19º - 22º C,
sedangkan daerah dingin antara 20º - 24º C, kelembabannya antara 55%.
e. Sistem penerangan
Lampu operasi menggunakan lampu khusus, sehingga tidak menimbulkan panas,
cahaya terang, tidak menyilauakn dan arah sinar mudah diatur posisinya.Lampu
penerangan menggunakan lampu pijar putih dan mudah dibersihkan.Pencahayaannya
antara 300-500 lux, meja operasi 10.000 – 20.000 lux.

f. Peralatan
Semua peralatan yang ada di kamar operasi harus beroda dan mudah
dibersihkan.Untuk alat elektrik, petunjuk penggunaannya harus menempel pada alat
tersebut agar mudah terbaca. System pelistrikan dijamin aman dan dilengkapi dengan
elektroda untuk memusatkan arus listrik untuk mencegah bahaya gas anatesi
g. Sistem instalasi gas medis
Pipa ( out let ) dan konektor N2O dan oksigen , dibedakan warnanya, dan dijamin
tidak bocor serta dilengkapi dengan system pembuangan/penghisap udara untuk
mencegah penimbunan gas anestesi
h. Pintu
7

Pintu masuk dan keluar pasien dan petugas harus berbeda.Setiap pintu harus
menggunakan door closer (bila memungkinkan). Dan setiap pintu diberi kaca
pengintai untuk melihat kegiatan kamar tanpa membuka pintu
i. Pembagian area
Batas tegas antara area bebas terbatas, semi ketat dan area ketat, dan ada ruangan
persipan untuk serah terima pasien dari perawat ruangan pada parawat kamar operasi
j. Penentuan jumlah kamar operasi
Setiap RS merancang kamar oeprasi disesuaikan dengan bentuk dan lahan yang
tersedia, sehingga dikatakan bahwa rancang bentuk kamar operasi setiap RS berbeda,
tergantung dari besar atau tipe RS tersebut. Makin besar RS tentu membutuhkan
jumlah dan luas kamar bedah yang lebih luas. Jumlah kamar operasi tergantung dari
berbagai hal yaitu :
1) Jumlah dan lama waktu operasi yang dilakukan
2) Jumlah dokter bedah dan macam spesialisasi serta subspesialisasi bersama
fasilitas penunjang
3) Pertimbangan antara operasi berencana dan operasi segera
4) Jumlah kebutuhan waktu pemakaian kamar operasi baik jam per hari, maupun
per minggu
5) Sistem dan prosedur yang ditetapkan untuk arus pasien, petugas dan penyediaan
peralatan
k. Komunikasi
Sistem komunikasi di kamar bedah sangat vital, komunikasi tiap ruangan
menggunakan telepon paralel.

2.1.5 Tata Tertib Kamar Operasi


a. Wajib memakai baju operasi
b. Memahami pembagian area
c. Memahami tentang aseptik
d. Melaksanakan jadwal operasi
e. Petugas bekerja sesuai urutan tugas
f. Melaksanakan askep perioperatif sesuai peran dan fungsinya
g. Melakukan pemeliharaan alat
h. Mendokumentasikan semua tindakan.
i. Khusus pada pasien pembiusan regional tim bedah harus berbicara seperlunya karena
pasien dapat melihat dan mendengar keadaan sekitar
j. Wajib menjamin kerahasiaan informasi
k. Alur pasien, petugas dan peralatan
1) Alur pasien
 Pintu masuk pasien pre dan pasca bedah berbeda.
 Pintu masuk pasien dan petugas berbeda.
2) Alur petugas
Pintu masuk dan keluar petugas melalui pintu satu
3) Alur peralatan
Pintu masuknya peralatan bersih dan kotor berbeda

 Standart Peralatan Kamar Operasi


8

a. Ruang tunggu
Ruang tunggu pasien mempunyi peralatan sebagai berikut :
1) Kursi
2) Tempat sampah tertutup
b. Ruang tata usaha
Ruang tata usaha mempunyai peralatan sebagai berikut :
1) White broad
2) Alat komunikasi
3) Kursi dan meja kerja
4) Komputer
5) Papan pengumuman
6) Papan jadwal operasi
7) Filling cabinet
8) Tempat sampah tertutup
c. Ruang Kepala Kamar Operasi
Ruang kepala kamar operasi mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) White broad
2) Alat komunikasi
3) Kursi dan meja tulis
4) Filling cabinet
5) Tempat sampah tertutup
d. Ruang ganti baju
Ruang ganti baju mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Lemari pakaian
2) Locker
3) Rak sepatu
4) Wastafel dan cermin
5) Ember tertutup tempat baju kotor
6) Tempat sampah tertutup
e. Ruang istirahat
Ruang istirahat mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Kursi tamu atau sofa
2) Kursi dan meja makan
3) Tempat sampah terrtutup
4) Wastafel dan cermin
5) Peralatan minum
f. Gudang
Gudang mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Rak
2) Lemari alat
3) Kursi dan meja tulis
g. Kamar mandi dan WC
Kamar mandi dan WC mempunnyai peralatan sbagai berikut:
1) Ember dan gayung
2) Tempat sampah tertutup
3) Sandal kusus kamar mandi
h. Ruang persiapan / premedikasi
Ruang persiapan / premedikasi mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Brancard / kereta dorong
2) Standart infuse
3) Rak baju pasien
4) Suction pump
5) Tabung oksigen lengkap
6) Sampiran
7) Termameter
9

8) Tensimeter
9) Stetoscop
10) Bengkok
11) Pispot
12) Urinal
13) Alat cukur
14) Alat kodokteran dan alat kesehatan lainnya yang harus tersedia diruang
persiapan, tergantung kondisi rumeh sakit setampat.
i. Koridor
1) Papan acara operasi
2) Lampu merah disetiap pintu bagian atas kamar tindakan, jika menyala
menandakan operasi sedang berlangsung
j. Ruang Pulih
Ruang pulih mempunyai peralatan sebagai berikut :
1) Emegensi troli berisi:
 Obat-obatan penyelamat hidup
 Cairan infuse
 Air viva
 Gudel berbagai ukuran
 Laringoscop lurus dan bengkok dengan blade berbagai ukuran
 Magyl forcep
 Face mask
 Suction cateter
 Termometer
 Spatel lidah
 Infus set
 VCV set
 Tranfusi set
 Papan resusitasi
2) Tabung oksigen lengkap
 Suction pump
 DC shok ( untuk RS kelas A dan B )
 Tensimeter
 Stetoskop
 Tempat tidur pasca bedah
 Bengkok
 Alat komunikasi ( telepon / aerphon )
 Formullir observasi
k. Ruang Penyimpanan Alat Steril
Rak / almari
l. Ruang penyimpanan Alat Tidak Steril
Ruang penyimpanan alat tidak sterilmempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Lemari kaca
2) Tromol
m. Ruang Pencucian Instrumen
Ruang pencucian instrumen bekas pankai, mempunyai peralatan sebagai berikut :
1) Meja kerja kedap air
2) Bak pencuci alat
3) Troli
4) Sikat
5) Tempat sampah
6) Desinfektan/deterjen
n. Ruang Sterilisasi
Ruang sterilisasi mempunhyai alat sebagai berikut :
10

1) Sterilisator
2) Autoclave
3) Kereta dorong intrumen
4) Dry hate sterilizer
5) E.T.O sterilizer (bila memungkinkan)
o. Ruang Cuci Tangan
Ruang cuci tangan mempu nyaia sebagai berikut :
1) Tempat cuci tangan, kran air dengan pengumpil panjang
2) Tempat untuk sikat
3) Desinfektan dalam tempatnya
4) Sikat dari bahan termoplastik
5) Pengungkit kuku (pembersih)
6) Jam dinding

p. Ruang Tindakan
Ruang tindakan (kamar operasi) mempunyai peralatan sebagai berikut:
1) Alat kedokteran untuk anastesi
 Mesin anastesi
 Laryngoscope
 Magyl Forcep
 Harness
 Air viva
 Reservoir bag berbagai ukuran
 Brush tube
 Gudel
 Endotrakeal tube
 Canul
 Xylocain jelly
 Face mask
 Konektor
 Trolly ( meja dorong )
 Suction pump
 Resusitasi bayi
2) Alat untuk operasi
 Set instumen steril sesuai dengan jenis operasi
 Meja operasi lengkap
 Meja instrument
 Meja mayo
 Lampu operassi
 Waskom dan stadartnya
 Suction pump
 Diatermi/couter
3) Alat kesehatan
 N.G.T (maag slang)
 Feeding tube
 Suction cateter
 Slang O2
 Konektor
 Tampon steril
11

 Mata pisau steril berbagai ukuran


 Jarum steril berbagai ukuran
 Infus set
 Blood set
 Intravena kateter
 Tube drain steril
 Drain : sarung tangan, kateter steril
 Sarung tangan steril dalam tempatnya
 Urine bag steril
 Kapas
 Plaster
 Verband
 Gunting balutan
 Elastik Verband
 Gips
4) Obat-obatan dan cairan
 Obat-obatan untuk anastesi dan obat lain yang diperlukan
 Cairan infus berbagai jenis
 Cairan desinfektan
 Bangku/kursi
 Sandal khusus
2.1.6 Pencacatan dan pelaporan
Pencatatan dan pelaporan merupakan salah satu aspek dari suatu proses akhir dalam
perioperatif yang mencerminkan pertanggungjawaban dari tim bedah dalam pelaksanaan
pembedahan kepada psien atau masyarakat dan Rumah sakit.
Adapun pencatatan dan pelaporan tersebut meliputi :
a. Asuhan keperawatan
b. Registrasi kamar bedah
c. Pemakaian obat-obatan, harus ditulis dengan lengkap dan jelas di formulir yang telah
tersedia
d. Peritiwa atau kejadian luar biasa harus segera dilaporkan sesuai dengan system yang
berlaku
e. Catatan kegiatan rutin
f. Cacatan pengiriman dan pemeriksaan laboratorium harus ditulis lengkap, jelas dan
singkat pada formulir yang telah tersedia
g. Laporan operasi harus ditulis lengkap, jelas dan singkat oleh ahli bedah atau operator
h. Laporan anastesi harus ditulis lengkap, jelas dan singkat oleh dokter ahli anastesi atau
perawat anastesi
2.1.7 Keselamatan dan keamanan kerja
Keselamatan dan keamanan kerja ditujukan pada pasien, petgas dan alat meliputi hal-hal
sebgai berikut ;
a. Keselamatan dan keamanan pasien
Untuk menjamin keselamatan dan keamanan pasien semua anggota tim bedah
meneliti kembali;
1) Identitas pasien
2) Rencana tindakan
3) Jenis pemberian anastesi yang akan dipakai
4) Faktor-faktor alergi
5) Respon pasien selama perioperatif
6) Menghindari pasien dari bahaya fisik akibat penggunaan alat atau kurang teliti
b. Keselamatan dan keamanan petugas
12

1) Melakukan pemeriksaan secara periodic sesuai dengan ketentuan


2) Beban kerja harus sesuai dengan kemampuan dan konddisi petugas
3) Perlu adanya keseimbanagan antara kesejahteraan, penghargaan dan pendidikan
berkelanjutan
4) Melakukan pembinaan secara terus-menerus dalam pempertahankan hasil kinerja
5) Membina kerja sama yang baik inter dana natar profesi dalam pencapaian tujuan
tindakan pembedahan
c. Keselamatan dan keamanan alat-alat
1) Menyediakan pedoman atau manual dalam bahasa Indonesia tentang cara
penggunaan alat-alat dan menggantungakannya pada alat-alat tersebut
2) Memeriksa secara rutin kondisi alat dan member label khusus untuk alat yang
rusak
3) Semua petugas harus memahami penggunaan secara tepat
4) Melaksanakan pelatihan tentang cara penggunaan dan pemeliharaan alat secara
rutin dan berkelanjutan
5) Memeriksa setiap hari ada tidaknya kebocoran pada pipa gas medis (pemeriksaan
dilakukan oleh petugas IPSRS)
6) Memeriksa alat ventilasi udara agar berfungsi dengan baik
7) Memasang symbol khusus untuk daerah rawan bahaya atau mempuyai resiko
mudah terbakar
8) Mengguanakn diatermi tidak boleh bersamaan dengan pemakaian obat bius ether
9) Memriksa pemadan kebakan dalam keadaan siap pakai
10) Pemerisaan secara rutin alat elektrimedis yang dilakukan oleh petuga IPSRS

d. Program penjaminan mutu


1) Melaksanakan evaluasi pelayanan di kamar operasi melalui macam-macam audit
2) Melaksanakan Survailan infeksi nosokomial secara periodic dan
berkesinambungan

2.1.8 Pemeliharaan kamar operasi


Pemeliharaan kamar opersi merupakan proses pembersihan ruangan beserta alat-alat
standart yang ada di kamar oeprasi. Dilakukan teratur sesuai jadwal, tujuannya untuk
mencegah infeksi silang dari atau kepada pasien beserta mempertahankan sterilitas.
Cara membersihkan kamar operasi ada 3 :
a. Cara pembersihan rutin atau harian
Pembersihan rutin yairu pembersihan sebelum atau sesudah penggunaan kamar
operasi agar siap pakai, dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Semua permukaan peralatan yang terdapat dalam kamar operasi harus
dibersihkan menggunakan desinfektan atau dapat menggunakan air sabun
2) Permukaan meja operasi dan matras harus diperiksa dan dibersihkan
3) Ember tempat sampah harus dibersihkan setiap selesai dipakai, kemudian pasang
kantong plastic yang baru
4) Semua peralatan yang digunakan untuk pembedahan dibersihkan antara lain :
5) Slang suction dibilas
6) Cairan yang ada dalam botol suction dibuang, bak penampung tidak boleh
dibuang diember agar sampah yang ada tidak tercampur dengan cairan yang
berasal dari pasien
13

7) Alat anastesi dibersihkan, alat yang terbuat dari karet setelah dibersihkan
direndam dengan air desinfektan
8) Noda-noda yang ada di dinding harus dibersihkan
9) Lantai dibersihkan kemudian dipel dengan menggunakan cairan desinfektan. Air
pembilas dalam meber setiap kotor harus diganti dan tidak boleh untuk kamar
operasi lain
10) Lubang angin, kaca dan kusen harus dibersihkan
11) Alat tenun bekas pakai dikeluarkan dari kamar operasi. Jika alat tenun tersebut
bekas paien infeksi, maka penanganannya sesuai prosedur yang berlaku
12) Lampu operasi harus dibersihkan tiap hari. Pada waktu membersihkan lampu
harus dalam keadaan dingin
13) Alas kaki atau sandal khusus kamar operasi harus dibersihkan tiap hari

b. Cara pembersihan mingguan


Pembersihan mingguan yaitu pembersihkan yang dilakukan, untuk membersihkan
secara keseluruhan dengan ketentuan sebagai berikut :
1) Dilakukan secara teratur setiap seminggu sekali
2) Semua peralatan yang ada di dalam kamar bedah dikeluarkan dan diletakkan di
koridor/didepan kamar bedah
3) Peralatan kamar bedah harus dibersihkan/dicuci dengan memakai cairan
desinfektan atau cairan sabun. Perhatian harus ditujukan pada bagian peralatan
yang dapat menjadi tempat berakumulasinya sisa organism, seperti bagian dari
meja operasi, di bawah matras
4) Permukaan dicuci dengan menggunakan air mengalir
5) Lantai disemprot dengan menggunakan deterjen, kemudian permukaan lantai
disikat. Setelah itu dikeringkan
6) Setelah lantai bersih dan kering, peralatan yang sudah dibersihkan dapat dipindah
kembali dan diatur kedalam kamar operasi
c. Cara pembersihan sewaktu
Pembersihan sewaktu dilakukan bila kamar operasi diggnakan untuk tindakan
pembedahan

2.1.9 Penatalaksanaan Cara Kerja


a. Penatalaksanaan cara kerja
Pelaksanaan atau tata cara kerja perawat instrument merupakan tindakan yang
dilakukan perawat instrument pada waktu sebelum, selama, dan sesaat sesudah
dilingkungan operasi. Tugas dan tanggung jawab yang dilakukan adalah menyiapkan
ruangan, pasien, personil, maupun alat instrument dan bahan kebutuhan operasi lain
nya.
 Persiapan ruangan sebelum dan selama operasi
 Sesaat sebelum operasi, perawat kamar operasi melakukan pengecekan terhadap
kebersihan lingkungan, meja mayo, kelayakan alat, dll.
 Persiapan alat dan bahan kebutuhan operasi
14

b. Perawat kamar operasi sebaiknya mengetahui dan dapat menyiapkan alat instrument
dimulai dari instrumenat dasar sampai instrument tambahan. Sesuai dengan macam
dan jenis operasi yang dilakukan. Sesaat sebelum operasi perawat instrument meneliti
dan menghitung jumlah alat dan bahan yang akan digunakan, dan kemudian
menyiapkan alat di atas meja mayo setelah sterilisasi dilaksanakan.
 Persiapan pasien
Sesaat setelah pasien datang diruang Persiapan, kemudian dipindahkan ke
brancard dan mengganti baju khusus ruang OK hingga akhir operasi
berlangsung.
 Persiapan personil tim bedah
Personil yang dimaksud adalah operator, asisten, perawat instrument, dan yang
terlibat langsung dalam aseptic 0.
c. Instrument
Instrument adalah alat-alat yang digunakan untuk tindakan pembadahan. Instrument
terbagi menjadi 2 macam yaitu :
1) Instrument dasar (basic instrument)
Instrument dasar digunakan untuk pembedahan yang sifatnya sederhana dan
tidak memerlukan instrument tambahan.
 Pinset anatomis (Tissue forceps) :2
 Pinset chirurgis (Dissecting forceps) :2
 Gunting metzembaum (Metzemboum scissor) : 1
 Gunting jaringan (Surgical scissor) :1
 Gunting lurus (Surgical scissor straiht) :1
 Desinfeksi klem (washing and dressing forcep): 1
 Doek klem (towel klem) :4
 Mosquito klem ((Baby mosquito klem pean) : 2
 Klem pean bengkok (Forcep pean curve) :3
 Klem kocher bengkok(Forcep kocher curve) : 10
 Alise klem (Allies clamp) :2
 Haak tajam gigi 4 (wound hook sharp) :2
 Langenbeck (Rectractor US army) :2
 Nald volder (Needle holder) :2
 Handle mess :1
2) Instrument tambahan
Instrument tambahan yang dimaksud adalah alat-alat yang dipergunakan untuk
tindakan pembedahan yang sifatnya kompleks dalam macam pembedahan
maupun jenis pembedahan.

2.1.10 Keperawatan Perioperatif


a. Pengertian
Pada fase preoperatif ini perawat akan mengkaji kesehatan fisik dan emosional
klien,mengetahui tingkat resiko pembedahan,mengkoordinasi berbagai pemeriksaan
diagnostik,mengidentifikasi diagnosa keperawatan yang mengambarkan kebutuhan
klien dan keluarga,mempersiapkan kondisi fisik dan mental klien untuk pembedahan.
Perawatan Preoperatif
1) Kelengkapan rekam medis dan status
2) Memeriksa kembali persiapan pasien
3) Informed concent
15

4) Menilai keadaan umum dan TTV


5) Memastikan pasien dalam keadaan puasa
Pada fase intraoperatif perawat melakukan 1 dari 2 peran selama pembedahan
berlangsung,yaitu perawat sebagai instrumentator atau perwat sirkulator.
Perawat instrumentator memberi bahan-bahan yang dibutuhkan selama pembedahan
berlangsung dengan menggunakan teknik aseptic pembedahan yang ketat dan terbiasa
dengan instrumen pembedahan.Sedangkan perawat sirkulator adalah asisten
instrumentator atau dokter bedah.
b. Perawatan Intraoperatif Meliputi
1) Melaksanakan orientasi pada pasien
2) Melakukan fiksasi
3) Mengatur posisi pasien
4) Menyiapkan bahan dan alat
5) Drapping
6) Membantu melaksanakan tindakan pembedahan
7) Memeriksa persiapan instrument
c. Perawatan Post Operasi
Pada fase postoperasi setelah pembedahan,perawatan klien dapat menjadi komplek
akibat fisiologis yang mungkin terjadi.klien yang mendapat anastesi umum cenderung
mendapat komplikasi yang lebih besar dari pada klien yang mendapat anastesi lokal.
Perawatan postoperative meliputi :
1) Mempertahankan jalan napas dengan mengatur posisi kepala.
2) Melaksanakan perawatan pasien yang terpasang infus di bantu dengan perawat
anastesi
3) Mengukur dan mencatat produksi urine
4) Mengatur posisi sesuai dengan keadaan.
5) Mengawasi adanya perdarahan pada luka operasi
6) Mengukur TTV setiap 15 menit sekali

d. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada keperawatan:
Berdasarkan pada pengkajian, diagnosa keperawatan utama dapat mencakup yang
berikut :
1) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan inkontuinitas jaringan
(kehilangan integritas jaringan).
2) Nyeri berhubungan dengan cedera pada jaringan lunak, imobilisasi, stress,
ansietas.
3) Resiko tinggi terhadap disfungsi perifer berhubungan dengan
penurunan/interupsi aliran darah, cedera vaskuler langsung, edema berlebihan,
pembentukan trombus, hipovolemia.
4) Resiko tinggi terhadap gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan
aliran darah/emboli lemak, perubahan membran alveolar/kapiler.
5) Gangguan mobilitas berhubungan dengan nyeri
6) Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan donor berhubungan
dengan skin graf dan mobilisasi.
16

7) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan


berhubungan dengan salah informasi/tidak mengenal sumber informasi.
8) Gangguan pemenuhan ADL ; berhubungan dengan immobilisasi.
9) Gangguan konsep diri (body image) berhubungan dengan skin loss/ skin graf
10) Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
e. Perencanaan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka intervensi dan aktivitas
keperawatan perlu ditetapkan untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah
masalah keperawatan klien, maka langkah selanjutnya adalah memenuhi kebutuhan
tersebut melalui suatu perencanaan yang baik.
1) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan inkontuinitas jaringan
(kehilangan integritas jaringan)..
Tujuan Mencegah terjadinya infeksi untuk mencapai penyembuhan luka sesuai
waktu, bebas drainase purulen atau eritema dan demam.
Intervensi : Pantau TTV dan Tanda – tanda infeksi.
Rasional : Perubahan tanda vital mengindikasikan ada infeksi.
 Kaji nilai-nilai Lab terutama LED.
Rasional : Untuk mengetahui adanya tingkat infeksi
 Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi perubahan warna kulit
kecoklatan, bau drainage yang tak sedap atau asam.
Rasional : Tanda perkiraan infeksi gas gangren.
 Pertahankan tindakan isolasi dgn teknik isolasi.
Rasional : Mencegah penyebaran kuman / mikroorganisme agar tidak
terjadi infeksi silang.
 Rawat luka dengan cara aseptic steril..
Rasional : Meminimalkan Infeksi.
 Berikan obat sesuai indikasi, contoh antibiotik IV/topikal.
Rasional : Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secara profilaktik atau
dapat ditujukan pada mikroorganisme.
 Pantau adanya sepsis, demam, Takhipnoe.
Rasional :Sepsis, demam, takhipnoe menandakan Infeksi
 Ciptakan lingkungan yg tidak memungkinkan pertumbuhan bakteri
Rasional :Infeksi Mencegah infeksi bertambah parah dan mencegah infeksi
silang
2) Nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak, imobilisasi, stress, ansietas
 Tujuan :Menyatakan nyeri hilang atau berkurang, Menunjukkan tindakan
santai ; mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan cepat.
Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi.
Intervensi : tutup luka sesering mungkin
Rasional : Perubahan suhu dan paparan udara dapat menyebabkan nyeri
hebat pada pemajanan ujung syaraf
 Tinggikan ektrimitas secara periodik
Rasional : Setelah perubahan posisi dan peninggian menurunkan ketidak
nyamanan serta resiko kontraktur
 Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi / karakter dan intensitas ( skala 0 –
10 )
17

Rasional : Perubahan lokasi / karakter dan intensitas nyeri dapat


mengindikasikan terjadinya komplikasi
 Dorong ekspresi perasaan tentang nyeri
Rasional : Pernyataan memungkinkan pengungkapan emosi dan dapat
meningkatkan mekanisme koping
 Dorong penggunaan tehnik manajemen stress, contoh relaksasi progresif,
nafas dalam, bimbingan imajinasi dan visualisasi
Rasional : Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi dapat
menurunkan ketergantungan farmakologis
 Tingkatkan periode tidur tanpa gangguan
Rasional : Kurang tidur dapat meningkatkan persepsi nyeri / kemampuan
koping menurun.
3) Resiko tinggi terhadap disfungsi perifer berhubungan dengan
penurunan/interupsi aliran darah, cedera vaskuler langsung, edema berlebihan,
pembentukan trombus, hipovolemia
 Tujuan :Mempertahankan perfusi jaringan.
intervensi : Kaji aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan distal pada
fraktur.
Rasional : Kembalinya warna cepat (3 – 5 detik), warna kulit putih
menunjukkan gangguan arterial, sianosis diduga ada gangguan vena.
 Lakukan pengkajian neuromuskuler, perhatikan fungsi motorik/sensori.
Rasional : Gangguan perasaan bebas, kesemutan, peningkatan/ penyebaran
nyeri terjadi bila sirkulasi syaraf tidak adekuat atau syaraf rusak.
 Tes sensasi syaraf perifer dengan menusuk pada kedua selaput antara ibu
jari pertama dan kedua dan kaji kemampuan untuk dorsofleksi ibu jari bila
diindikasikan.
Rasional : Panjang dan posisi syaraf parineal meningkatkan resiko cedera
pada adanya fraktur kaki, edema/sindrom kompartement, atau melapisi alat
traksi.
 Kaji keseluruhan panjang ekstremitas yang cedera untuk
pembengkakan/pembentukan edema. Ukur ekstremitas yang cedera dan
bandingkan dengan yang tak cedera.
Rasional : Peningkatan lingkar ekstremitas yang cedera dapat diduga ada
pembengkakan jaringan/edema umum tetapi menunjukkan perdarahan.
 Awasi tanda vital, perhatikan tanda-tanda pucat, cyanosis, kulit dingin.
Rasional : Ketidakadekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem
perfusi jaringan.Berikan kompres es sekitar fraktur sesuai indikasi.
Rasional : Menurunkan edema/pembentukan hematoma yang dapat
mengganggu sirkulasi.
 Awasi Hb/Ht, pemeriksaan koagulasi.
Rasional : Membantu dalam kalkulasi kehilangan darah dan membutuhkan
keefektifan terapi penggantian.
4) Resiko tinggi terhadap gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan
aliran darah/emboli lemak.
18

 Tujuan Mempertahankan fungsi pernafasan yang adekuat.


Intervensi : Awasi frekuensi pernafasan.
Rasional : Takipnea, dispnea dan insufisiensi pernafasan.
 Auskultasi bunyi nafas perhatikan terjadinya ketidaksamaan bunyi
hiperesonan, juga adanya gemericik, ronchi, mengi, dan inspeksi
mengorok/sesak nafas.
Rasional : Perubahan dalam/adanya bunyi adventisius menunjukkan
terjadinya komplikasi pernafasan.
 Observasi sputum untuk tanda adanya darah.
Rasional : Hemodialisa dapat terjadi dengan emboli paru.
 Inspeksi kulit untuk petekie di atas garis puting pada aksilla meluas ke
abdomen/tubuh, mukosa mulut kantong konjungtiva dan retina.
Rasional : Ini adalah karakteristik yang paling nyata dari tanda emboli
lemak,. Yang tampak dalam 2 – 3 hari setelah cedera.
 Berikan tambahan oksigen bila diindikasikan.
Rasional : Meningkatkan sediaan O2 untuk oksigenasi optimal jaringan.
 Berikan obat sesuai indikasi, heparin dosis rendah
Rasional : Blok siklus pembekuan dan mencegah bertambahnya pembekuan
pada adanya tromboplebitis.
5) Gangguan mobilitas berhubungan dengan nyeri
 Tujuan Meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi
yang mungkin mempertahankan posisi fungsional.
• Intervensi :Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh
cedera/pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap mobilitas.
Rasional : Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan/persepsi diri tentang
keterbatasan fisik aktual memerlukan intervensi/informasi untuk
meningkatkan kemajuan kesehatan.
 Dorong penggunaan latihan isometrik mulai dengan tungkai yang tidak
sakit.
Rasional : kontraksi otot isometrik tanpa menekuk sendi atau menggerakkan
tungkai dan membantu mempertahankan kekuatan massa otot.
 Pertahankan posisi tubuh tepat dengan dukungan.
Rasional : Meningkatkan posisi fungsiinal pada extremita dan mencegah
kontraktur.
 lakukan latihan rentang gerak secara konsisten, di awali dgn pasif kemudian
aktif.
Rasional : Mencegah secara progresif mengencangkan jaringan parut dan
kontraktur, meningkatkan pemeliharaan fungsi otot sendi dan menurunkan
kehilangan kalsium dari tulang
 Berikan diet tinggi protein, karbohidrat, vitamin dan mineral, pertahankan
penurunan kandungan protein sampai setelah defekasi pertama.
Rasional : pada cedera muskuloskeletal, nutrisi yang diperlukan untuk
penyembuhan berkurang dengan cepat. Sering mengakibatkan penurunan
BB, selama traksi tulang ini dapat mempengaruhi massa otot, tonus dan
kekuatan.
19

 Konsul dengan ahli terapi fisik/okupasi dan atau rehabiltasi spesialis.


Rasional : Untuk membuat aktivitas individual/program latihan pasien dapat
memerlukan bantuan jangka panjang dengan gerakan, kekuatan dan
aktivitas yang mengandalkan BB.

6) Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan donor berhubungan


dengan skin graf dan mobilisasi.
 Tujuan : Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu.
Intervensi Kaji kulit untuk luka, benda asing, kemerahan, perdarahan,
perubahan warna.
Rasional : Berikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang
mungkin disebabkan oleh alat dan atau pemasangan gips/beban/traksi.
 Ubah posisi dengan sering, dorong penggunaan trapeze bila mungkin.
Rasional : Untuk mengurangi tekanan pada area yang sama dan
meminimalkan resiko kerusakan kulit, penggunaan trapeze dapat
menurunkan abrasi pada siku/tumit.
 Tinggikan area graft bila mungkin/tepat. Pertahankan posisi yang
diinginkan.
Rasional : Membatasi risiko pemisahan graft. Gerakan jaringan di bawah
graft dapat mengubah posisi yang mempengaruhi penyembuhan optimal..
 Gunakan plester traksu kulit dengan memanjang pada posisi tungkai yang
sakit.
Rasional : Plester traksi melingkari tungkai dapat mempengaruhi pada
sirkulasi.
 Letakkan bantalan pelindung di bawah kaki dan di atas tonjolan tulang.
Rasional : meminimalkan tekanan pada area ini.
7) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan salah informasi.
 Tujuan Menyatakan pemahaman kondisi, prognosis dan pengobatan.
Intervensi Kaji ulang patologi, prognosis dan harapan yang akan datang.
Rasional : Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat
pilihan informasi.
 Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai instruksi dengan
terapis fisik bila diindikasikan.
Rasional : perlambatan penyembuhan dapat terjadi terhadap ketidaktepatan
penggunaan alat ambulasi.
 Buat daftar aktivitas di mana pasien dapat melakukannya secara mandiri
dan yang memerlukan bantuan.
Rasional : Penyusunan aktivitas sekitar kebutuhan yang dapat bantuan.
 Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi yang sehat
Rasional : Mencegah kekakuan sendi, kontraktur dan kelelahan otot
meningkatkan kembalinya aktivitas sehari-hari.
 Kaji ulang perawatan pen/luka yang tepat.
Rasional : Menurunkan resiko infeksi
 Identifikasi tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh :
nyeri berat, demam tinggi, bau tak enak.
20

Rasional : Intervensi cepat menurunkan beratnya komplikasi seperti


infeksi/gangguan sirkulasi.
8) Gangguan pemenuhan ADL ; berhubungan dengan immobilisasi.
 Tujuan Kebutuhan rawat diri terpenuhi.
Intervensi Kaji tingkat kemampuan klien dalam merawat dirinya.
Rasional : Mengetahui sejauh mana kemampuan klien dalam merawat
dirinya.
 Bantu klien memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan anjurkan klien agar
dapat mengerjakan sebanyak mungkin untuk dirinya (memandikan klien).
Rasional : Perawatan ini membantu memelihara harga diri dan kembali
untuk hidup tanpa tergantung kepada orang lain.
 Sediakan waktu klien dalam melakukan aktivitas dengan segenap
kemampuannya.
Rasional : Mengurangi frustasi yang sering menyertai kesulitan yang
dihadapi bila belajar.
 Berikan pujian terhadap kemampuan yang dicapai oleh klien dalam
menolong dirinya.
Rasional : Untuk memotivasi agar mematuhi program rehabilitasi secara
kontinyu.
9) Gangguan konsep diri (body image) berhubungan dengan skin loss/ skin graft
 Tujuan Klien dapat melakukan interaksi dengan orang lain tanpa merasa
rendah diri.
 Intervensi Kaji derajat dukungan yang ada untuk pasien.
Rasional : Dukungan yang cukup dari orang terdekat dan teman dapat
membantu proses rehabilitasi.
 Diskusikan persepsi pasien tentang diri dan hubungannya dengan perubahan
dan bagaimana pasien melihat dirinya dalam pola/peran fungsi yang
biasanya.
Rasional : Membantu mengartikan masalah sehubungan dengan pola hidup
sebelumnya dan membantu pemecahan masalah.
 Perhatikan prilaku menarik diri, membicarakan diri tentang hal negatif,
penggunaan penyangkalan atau terus menerus melihat perubahan
nyata/yang diterima.
Rasional : Dibutuhkan pada masalah ini untuk membantu adaptasi lanjut
yang optimal dan rehabilitasi.
10) Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
 Tujuan Mewujudkan kemampuan untuk mengatasi masalah.
 Intervensi Berikan informasi akurat dan konsisten mengenai prognosis.
Rasional : Dapat mengurangi kecemasan dan ketidakmampuan pasien untuk
membuat keputusan/pilihan berdasarkan realita.
 Berikan lingkungan terbuka di mana pasien akan merasa aman untuk
mendiskusikan perasaan atau menahan diri untuk berbicara.
Rasional : Membantu pasien untuk merasa diterima pada kondisi sekarang
tanpa perasaan dihakimi dan meningkatkan perasaan harga diri dan kontrol.
21

 Berikan informasi yang dapat dipercaya dan konsisten, juga dukungan


untuk orang terdekat.
Rasional : menciptakan interaksi interpersonal yang lebih baik dan
menurunkan ansietas dan rasa takut.
 Libatkan orang terdekat sesuai petunjuk pada pengambilan keputusan
bersifat mayor.
Rasional : Menjamin adanya sistem pendamping bagi pasien dan memberikan
kesempatan orang terdekat untuk berpartisipasi dalam kehidupan pasien.

2.2 Pengertian Laparatomy

Laparatomy merupakan prosedur pembedahan yang melibatkan suatu insisi pada dinding
abdomen hingga ke cavitas abdomen (Sjamsurihidayat dan Jong, 1997). Ditambahkan pula
bahwa laparatomi merupakan teknik sayatan yang dilakukan pada daerah abdomen yang dapat
dilakukan pada bedah digestif dan obgyn. Adapun tindakan bedah digestif yang sering dilakukan
dengan tenik insisi laparatomi ini adalah herniotomi, gasterektomi, kolesistoduodenostomi,
hepatorektomi, splenoktomi, apendektomi, kolostomi, hemoroidektomi dfan fistuloktomi.
Sedangkan tindkan bedah obgyn yang sering dilakukan dengan tindakan laoparatomi adalah
berbagai jenis operasi pada uterus, operasi pada tuba fallopi, dan operasi ovarium, yang meliputi
hissterektomi, baik histerektomi total, radikal, eksenterasi pelvic, salpingooferektomi bilateral.

Tujuan pada prosedur ini dapat direkomendasikan pada pasien yang mengalami nyeri
abdomen yang tidak diketahui penyebabnya atau pasien yang mengalami trauma abdomen.
Laparatomy eksplorasi digunakan untuk mengetahui sumber nyeri atau akibat trauma dan
perbaikan bila diindikasikan.

2.3 Jenis Insisi

Ada 4 cara insisi pembedahan yang dilakukan, antara lain (Yunichrist, 2008):

a. Midline incision

Metode insisi yang paling sering digunakan, karena sedikit perdarahan, eksplorasi dapat lebih
luas, cepat di buka dan di tutup, serta tidak memotong ligamen dan saraf. Namun demikian,
kerugian jenis insis ini adalah terjadinya hernia cikatrialis. Indikasinya pada eksplorasi
gaster, pankreas, hepar, dan lien serta di bawah umbilikus untuk eksplorasi ginekologis,
rektosigmoid, dan organ dalam pelvis.

b. Paramedian

yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2,5 cm), panjang (12,5 cm). Terbagi atas 2 yaitu,
paramedian kanan dan kiri, dengan indikasi pada jenis operasi lambung, eksplorasi pankreas,
22

organ pelvis, usus bagian bagian bawah, serta plenoktomi. Paramedian insicion memiliki
keuntungan antara lain : merupakan bentuk insisi anatomis dan fisiologis, tidak memotong
ligamen dan saraf, dan insisi mudah diperluas ke arah atas dan bawah

c. Transverse upper abdomen incision

yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.

d. Transverse lower abdomen incision

yaitu; insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada
operasi appendectomy

2.4 Pengertian Ileum

Ileus adalah gangguan/hambat an pasase isi usus yang me rupakan tanda adanya obstruksi
usus akut yang segera membutuhkan pertolongan atau tindakan. Ileus ada 2 macam yaitu ileus
obstruktif dan ileus paralitik. Ileus obstruktif atau disebut juga ileus mekanik adalah keadaan
dimana isi lumen saluran cerna tidak bisa disalurkan ke distal atau anus karena adanya
sumbatan/hambatan mekanik yang disebabkan kelainan dalam lumen usus, dinding usus atau luar
usus yang menekan atau kelainan vaskularisasi pada suatu segmen usus yang menyebabkan
nekrose segmen usus tersebut. Sedangkan ileus paralitik atau adynamic ileus adalah keadaan di
mana usus gagal/ tidak mampu melakukan kontraksi peristaltik untuk menyalurkan isinya akibat
kegagalan neurogenik atau hilangnya peristaltik usus tanpa adanya obstruksi mekanik

2.4.1 Anatomi dan Fisiologi


a. Anatomi

Usus halus membentang dari pylorus hingga katup ileosekal. Panjang usus halus sekitar
12 kaki atau 3,6 meter . usus ini mengisi bagian tengah dan rongga abdomen. Ujung
proksimalnya berdiameter sekitar 3,8 cm tetapi makin kebawah garis tengahnya semakin
berkurang sampai menjadi sekitar dua cm. usus halus dibagi menjadi duodenum, jejunum dan
ileum.
23

Panjang duedonum sekitar 25 cm mulai dari pylorus sampai jejunum. Pemisahan


duodenum dan jejunum ditandai oleh adanya ligamentum treitz yaitu suatu pita muskulo
fibrosa yang berperan sebagai Ligamentum Suspensorium (penggantung). Sekitar 2/5 dari
usus halus adalah jejunum, Jejunum terletak diregio mid abdominalis sinistra dan ileum
terletak di regio mid abdominalis dextra sebelah bawah. Tiga perlima bagian akhir adalah
ileum. Masuknya kimus kedalam usus halus diatur oleh spingther pylorus, sedangkan
pengeluaran zat yang telah tercerna kedalam usus besar yang diatur oleh katup ileus sekal.
Katup illeus sekal juga mencegah terjadinya refluk dari usus besar ke dalam usus halus.
Apendik fermivormis yang berbentuk tabung buntu berukuran sebesar jari kelingking terletak
pada daerah illeus sekal yaitu pada apeks sekum.

Dinding usus halus terdiri dari empat lapisan dasar yang paling luar dibentuk oleh
peritoneum. Peritoneum mempunyai lapisan visceral dan parietal. Ruang yang terletak
diantara lapisan-lapisan ini disebut sebagai rongga peritoneum. Omentum memilik lipatan-
lipatan yang diberi nama yaitu mesenterium yang merupakan lipatan peritoneum lebar
menyerupai kipas yang menggantung jejenum dan ileum dari dinding posterior abdomen, dan
memungkinkan usus bergerak dengan leluasa. Omentum majus merupakan lapisan ganda
peritoneum yang menggantung dari kurva tura mayor lambung dan berjalan turun kedepan
visera abdomen. Omentum biasanya mengandung banyak lemak dan kelenjar limfe yang
membantu melindungi peritoneum terhadap infeksi. Omentum minus merupakan lipatan
peritoneum yang terbentuk dari kurvatura lambung dan bagian atas duodenum menuju ke hati,
membentuk ligamentum suspensorium hepatogastrika dan ligamentum hepatoduodenale .

Usus halus mempunyai dua lapisan lapisan luar terdiri dari serabut serabut longitudinal
yang lebih tipis dan lapisan dalam terdiri atas serabut serabut sirkuler. Penataan yang
demikian membantu gerakan peristaltic usus halus. Lapisan submukosa terdiri atas jaringan
ikat sedangkan lapisan mukosa bagian dalam tebal serta banyak mengandung pembuluh darah
dan kelenjar yang berfungsi sebagai absorbsi. Lapisan mukosa dan sub mukosa membentuk
lipatan-lipatn sirkuler yang disebut sebgai valvula coniventes atau lipatan kercking yang
menonjol kedalam lumen sekitar tiga sampai sepuluh millimeter. Villi merupakan tonjolan-
tonjolan mukosa seperti jari-jari yang jumlahnya sekitar 4 atau 5 juta yang terdapat di
sepanjang usus halus, dengan panjang 0,5 sampai 1,5 mm. Mikrovilli merupakan tonjolan
yang menyerupai jari-jari dengan panjang sekitar 1 mm pada permukaan luar setiap villus.
Valvula coni ventes vili dan mikrovilli sama sama-menambah luas permukaan absorbsi hingga
1,6 juta cm2.

b. Fisiologi
24

Usus halus memepunyai dua fungsi utama yaitu pencernaan dan absorbsi bahan-bahan
nutrisi dan air. Proses pencernaan yaitu proses pemecahan makanan menjadi bentuk yang
dapat tercerna melalui kerja berbagai enzim dalam saluran gastrointestinal. Proses pencernaan
dimulai dari mulut dan lambung oleh kerja ptyalin, HCL, Pepsin, mucus dan lipase lambung
terhadap makanan yang masuk. Proses ini berlanjut dalam duodenum terutama oleh kerja
enzim-enzim pancreas yang menghindrolisis karbohidrat, lemak dan protein menjadi zat-zat
yang lebih sederhana. Mucus memberikan perlindungan terhadap asam sekeresi empedu dari
hati membantu proses pemecahan dengan mengemulsikan lemak. Sehingga memberikan
permukaan yang lebih luas bagi kerja lipase pancreas.

Absorbsi adalah pemindahan hasil akhir pencernaaan karbohidrat, lemak dan protein
melalui dinding usus kedalam sirkulasi darah dan limfe untuk digunakan oleh sel-sel tubuh.
Selain itu juga diabsorbsi air, elektrolit dan vitamin. Walaupun banyak zat yang diabsorbsi
disepanjang usus halus namun terdapat tempat tempat absorbsi khusus bagi zat-zat gizi
tertentu. Absorbsi gula, asam amino dan lemak hampir selesai pada saat kimus mencapai
pertengahan jejunum. Besi dan kalsium sebagian besar diabsorbsi dalam duodenum dan
jejunum. Dan absorbsi kalium memerlukan vitamin D, larut dalam lemak (A,D,E,K) diabsorsi
dalam duodenum dengan bantuan garan-garam empedu. Sebagian besar vitamin yang larut
dalam air diabsorbsi dalam usus halus bagian atas. Absorbsi vitamin B12 berlangsung dalam
ileum terminalis melalui mekanisme transport usus yang membutuhkan factor intrinsic
lambung. Sebagian asam empedu yang dikeluarkan kantung empedu kedalam duodenum
untuk membantu pencernaan lemak akan di reabsorbsi dalam ileum terminalis dan masuk
kembali ke hati. Siklus ini disebut sebagai sirkulasi entero hepatic garam empedu, dan sangat
penting untuk mempertahankan cadangan empedu.

(Sabara, 2007 dikutip dari (http://www.Files-of-DrsMed.tk)

2.4.2 Etiologi

a. Adhesi ( perlekatan usus halus ) merupakan penyebab tersering ileus obstruktif,


sekitar 50-70% dari semua kasus. Adhesi bisa disebabkan oleh riwayat operasi
intraabdominal sebelumnya atau proses inflamasi intraabdominal. Obstruksi yang
disebabkan oleh adhesi berkembang sekitar 5% dari pasien yang mengalami operasi
abdomen dalam hidupnya. Perlengketan kongenital juga dapat menimbulkan ileus
obstruktif di dalam masa anak-anak.

b. Hernia inkarserata eksternal ( inguinal, femoral, umbilikal, insisional, atau


parastomal ) merupakan yang terbanyak kedua sebagai penyebab ileus obstruktif, dan
25

merupakan penyebab tersering pada pasien yang tidak mempunyai riwayat operasi
abdomen. Hernia interna (paraduodenal, kecacatan mesentericus, dan hernia foramen
Winslow) juga bisa menyebabkan hernia.

c. Neoplasma. Tumor primer usus halus dapat menyebabkan obstruksi intralumen,


sedangkan tumor metastase atau tumor intra abdominal dapat menyebabkan obstruksi
melalui kompresi eksternal.

d. Intususepsi usus halus menimbulkan obstruksi dan iskhemia terhadap bagian usus yang
mengalami intususepsi. Tumor, polip, atau pembesaran limphanodus mesentericus dapat
sebagai petunjuk awal adanya intususepsi.

e. Penyakit Crohn dapat menyebabkan obstruksi sekunder sampai inflamasi akut selama
masa infeksi atau karena striktur yang kronik.

f. Volvulus sering disebabkan oleh adhesi atau kelainan kongenital, seperti malrotasi
usus. Volvulus lebih sering sebagai penyebab obstruksi usus besar.

g. Batu empedu yang masuk ke ileus. Inflamasi yang berat dari kantong
empedu menyebabkan fistul dari saluran empedu ke duodenum atau usus halus yang
menyebabkan batu empedu masuk ke traktus gastrointestinal. Batu empedu yang besar
dapat terjepit di usus halus, umumnya pada bagian ileum terminal atau katup ileocaecal
yang menyebabkan obstruksi.

h. Striktur yang sekunder yang berhubungan dengan iskhemia, inflamasi, terapi radiasi,
atau trauma operasi.

i. Penekanan eksternal oleh tumor, abses, hematoma, intususepsi, atau penumpukan cairan.

j. Benda asing, seperti bezoar.

k. Divertikulum Meckel yang bisa menyebabkan volvulus, intususepsi, atau hernia Littre.

l. Fibrosis kistik dapat menyebabkan obstruksi parsial kronik pada ileum distalis dan kolon
kanan sebagai akibat adanya benda seperti mekonium

(Sabara, 2007 dikutip dari (http://www.Files-of-DrsMed.tk)

2.4.3 Patofisiologi

Semua peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa
memandang apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau non
mekanik. Perbedaan utama adalah pada obstruksi paralitik peristaltik dihambat dari
26

permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanik peristaltik mula-mula diperkuat, kemudian


intermitten, dan akhirnya hilang. Sekitar 6-8 liter cairan diekskresikan ke dalam saluran
cerna setiap hari. Sebagian besar cairan diasorbsi sebelum mendekati kolon. Perubahan
patofisiologi utama pada obstruksi usus adalah adanya lumen usus yang tersumbat, ini
menjadi tempat perkembangan bakteri sehingga terjadi akumulasi gas dan cairan (70% dari
gas yang tertelan). Akumulasi gas dan cairan dapat terjadi di bagian proksimal atau distal
usus. Apabila akumulasi terjadi di daerah distal mengakibatkan terjadinya peningkatan
tekanan intra abdomen dan intra lumen. Hal ini dapat meningkatkan terjadinya peningkatan
permeabilitas kapiler dan ekstravasasi air dan elektrolit di peritoneal. Dengan peningkatan
permeabilitas dan ekstravasasi menimbulkan retensi cairan di usus dan rongga peritoneum
mengakibatakan terjadi penurunan sirkulasi dan volume darah. Akumulasi gas dan cairan di
bagian proksimal mengakibatkan kolapsnya usus sehingga terjadi distensi abdomen. Terjadi
penekanan pada vena mesenterika yang mengakibatkan kegagalan oksigenasi dinding usus
sehingga aliran darah ke usus menurun, terjadilah iskemi dan kemudian nekrotik usus. Pada
usus yang mengalami nekrotik terjadi peningkatan permeabilitas kapiler dan pelepasan
bakteri dan toksin sehingga terjadi perforasi. Dengan adanya perforais akan menyebabkan
bakteri akan masuk ke dalam sirkulasi sehingga terjadi sepsis dan peritonitis.

Masalah lain yang timbul dari distensi abdomen adalah penurunan fungsi usus dan
peningkatan sekresi sehingga terjadi peminbunan di intra lumen secara progresif yang akan
menyebabkan terjadinya retrograde peristaltic sehingga terjadi kehilangan cairan dan
elektrolit. Bila hal ini tidak ditangani dapat menyebabkan syok hipovolemik. Kehilangan
cairan dan elektrolit yang berlebih berdampak pada penurunanan curah jantung sehingga
darah yang dipompakan tidak dapat memenuhi kebutuhan seluruh tubuh sehingga terjadi
gangguan perfusi jaringan pada otak, sel dan ginjal. Penurunan perfusi dalam sel
menyebabkan terjadinya metabolisme anaerob yang akan meningkatkan asam laktat dan
menyebabkan asidosis metabolic. Bila terjadi pada otak akan menyebabkan hipoksia
jaringan otak, iskemik dan infark. Bila terjadi pada ginjal akan merangsang pertukaran
natrium dan hydrogen di tubulus prksimal dan pelepasan aldosteron, merangsang sekresi
hidrogen di nefron bagian distal sehingga terjadi peningaktan reabsorbsi HCO3- dan
penurunan kemampuan ginjal untuk membuang HCO3. Hal ini akan menyebabkan
terjadinya alkalosis metabolic. (Price &Wilson, 2007)

2.4.4 Manifestasi Klinik

a. Mekanik sederhana – usus halus atas


27

Kolik (kram) pada abdomen pertengahan sampai ke atas, distensi, muntah, peningkatan bising
usus, nyeri tekan abdomen.

b. Mekanik sederhana – usus halus bawah

Kolik (kram) signifikan midabdomen, distensi berat, bising usus meningkat, nyeri tekan
abdomen.

c. Mekanik sederhana – kolon

Kram (abdomen tengah sampai bawah), distensi yang muncul terakhir, kemudian terjadi
muntah (fekulen), peningkatan bising usus, nyeri tekan abdomen.

d. Obstruksi mekanik parsial

Dapat terjadi bersama granulomatosa usus pada penyakit Crohn. Gejalanya kram nyeri
abdomen, distensi ringan dan diare.

e. Strangulasi

Gejala berkembang dengan cepat: nyeri hebat, terus menerus dan terlokalisir, distensi sedang,
muntah persisten, biasanya bising usus menurun dan nyeri tekan terlokalisir hebat. Feses atau
vomitus menjadi berwarna gelap atau berdarah atau mengandung darah samar. (Price
&Wilson, 2007)

2.4.5 Pemeriksaan Penunjang


a. Sinar x abdomen menunjukkan gas atau cairan di dalam usus
b. Barium enema menunjukkan kolon yang terdistensi, berisi udara atau lipatan sigmoid
yang tertutup.
c. Penurunan kadar serum natrium, kalium dan klorida akibat muntah, peningkatan hitung
SDP dengan nekrosis, strangulasi atau peritonitis dan peningkatan kadar serum amilase
karena iritasi pankreas oleh lipatan usus.
d. Arteri gas darah dapat mengindikasikan asidosis atau alkalosis metabolic.
(Brunner and Suddarth, 2002 )

2.4.6 Penatalaksanaan
28

Dasar pengobatan ileus obstruksi adalah koreksi keseimbangan elektrolit dan cairan,
menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi, mengatasi peritonitis dan syok
bila ada, dan menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus
kembali normal
a. Resusitasi
Dalam resusitasi yang perlu diperhatikan adalah mengawasi tanda - tanda vital,
dehidrasi dan syok. Pasien yang mengalami ileus obstruksi mengalami dehidrasi dan
gangguan keseimbangan ektrolit sehingga perlu diberikan cairan intravena seperti
ringer laktat. Respon terhadap terapi dapat dilihat dengan memonitor tanda - tanda vital
dan jumlah urin yang keluar. Selain pemberian cairan intravena, diperlukan juga
pemasangan nasogastric tube (NGT). NGT digunakan untuk mengosongkan lambung,
mencegah aspirasi pulmonum bila muntah dan mengurangi distensi abdomen.
b. Farmakologis
Pemberian obat - obat antibiotik spektrum luas dapat diberikan sebagai profilaksis.
Antiemetik dapat diberikan untuk mengurangi gejala mual muntah.
c. Operatif
Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastrik untuk mencegah sepsis
sekunder. Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah
yang disesuaikan dengan hasil eksplorasi selama laparotomi. Berikut ini beberapa
kondisi atau pertimbangan untuk dilakukan operasi: Jika obstruksinya berhubungan
dengan suatu simple obstruksi atau adhesi, maka tindakan lisis yang dianjurkan. Jika
terjadi obstruksi stangulasi maka reseksi intestinal sangat diperlukan. Pada umumnya
dikenal 4 macam cara/tindakan bedah yang dilakukan pada obstruksi ileus:
1. Koreksi sederhana (simple correction).
Hal ini merupakan tindakan bedah sederhana untuk membebaskan usus dari
jepitan, misalnya pada hernia incarcerata non-strangulasi, jepitan oleh
streng/adhesi atau pada volvulus ringan.
2. Tindakan operatif by-pass.
Membuat saluran usus baru yang “melewati” bagian usus yang tersumbat,
misalnya pada tumor intralurninal, Crohn disease, dan sebagainya.
3. Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi,
misalnya pada Ca stadium lanjut.
4. Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung
usus untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada carcinoma
colon, invaginasi, strangulata, dan sebagainya. Pada beberapa obstruksi ileus,
kadang-kadang dilakukan tindakan operatif bertahap, baik oleh karena
penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya, misalnya pada Ca
29

sigmoid obstruktif, mula-mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari


dilakukan reseksi usus dan anastomosis.
(Sabara, 2007 dikutip dari (http://www.Files-of-DrsMed.tk )

2.4.7 Komplikasi

a. Nekrosis usus, perforasi usus, dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi selalu lama pada
organ intra abdomen.
b. Sepsis, infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan baik dan cepat.
c. Syok-dehidrasi, terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma.
d. Abses Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi, karena absorbsi toksin
dalam rongga peritonium sehinnga terjadi peradangan atau infeksi yang hebat pada intra
abdomen.
e. Pneumonia aspirasi dari proses muntah,
f. Gangguan elektrolit, karena terjadi gangguan absorbsi cairan dan elektrolit pada usus.
g. Kematian

( Brunner and Suddarth, 2002 )

2.5 STOMA

Kolostomy adalah tindakan operasi yang di lakukan untuk mengeluarkan satu atau dua-dua
lumen proximal dan distal dari colon kepermukaan kulit untuk diversi feces untuk tujuan tertentu
atas indikasi medis.

2.5.1 Indikasi Diadakannya Stoma Kolostomi

Anda mungkin harus memiliki stoma jika pengobatan Anda melibatkan operasi untuk memotong
semua atau sebagian dari usus atau saluran kemih. Kondisi yang memerlukan pengobatan jenis
ini dapat termasuk:
 penyakit radang usus seperti kolitis ulserativa atau penyakit Crohn
 beberapa jenis kanker usus atau kandung kemih
 cedera usus
 masalah dengan ginjal, di mana air kencing tidak bisa keluar (jarang terjadi)

2.5.2 Tipe Kolostomi :


1. Kolostomi loop
30

Jenis kolostomi ini didesain sehingga baik segmen distal maupun proksimal usus terdapat
pada permukaan kulit.

2. Kolostomi Double Barrel

Pada kolostomi double barrel, dibuat dua stoma yang terpisah pada dinding abdomen. Stoma
bagian proksimal berhubungan dengan traktus gastrointestinal yang lebih atas dan akan
menjadi saluran pengeluaran feses. Stoma bagian distal berhubungan dengan rectum.
Kolostomi double barrel termasuk jenis kolostomi sementara. Kolostomi double barrel mudah
dan aman digunakan pada neonatus dan bayi

3.Kolostomi Devied

Kolostomi ini sering dibuat pada sigmoid pada karsinoma rektum yang tak dapat diangkat,
sehingga karsinoma tersebut tidak teriritasi oleh tinja

4.Kolostomi Terminal

Tipe ini dilakukan bila diperlukan untuk membuang kolon karena terlalu membahayakan bila
dilakukan anastomosis yang memudahkan timbulnya sepsis. Kontinuitas dapat diperbaiki
kemudian hari bila sepsis telah dapat diatasi dan kondisi penderita lebih baik.

5.Sekostomi dengan pipa (tube)


31

Sekostomi merupakan kolostomi sementara. Berguna untuk dekompresi gas dalam usus.
Sekostomi tidak cocok untuk diversi aliran feses. Saat ini sekostomi jarang digunakan
karena stoma sering tersumbat oleh feses dan seringkali diperlukan irigasi untuk kembali
melancarkan.

6.Hartmann Prosedure

Hartmann prosedure adalah prosedur standar yang di lakukan jika kita harus melakukan
kolostomi yang emergensi seperti ileus obstructif , trauma colon yang belum dilakukan
persiapan.sehingga dilakukan satu kolostomy dari bagian proksimal sedang bagian
distal di tutup dan di jahit lalu di tinggalkan di dalam cavum abdomen.Ini hanya bersifat
sementara sebab tidak boleh lebih dari 1 minggu.reseksi ususnya harus di sambung
kembali

2.6 Konsep Anastesi


2.6.1 Definisi Anastesi
Anastesi adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri atau sakit, baik sentral, maupun
lokal dan kehilangan kesadaran atau tidak disertai hilangnya kesadaran dan dapat pulih
kembali (reversible). (arif,masjoer, 2000).
Anastesi dilakukan oleh dokter spesialis anastesi atau anastesiologis. Dokter spesialis
anastesiologis selama pembedahan berperan memantau tanda-tanda vital pasien karena
sewaktu-waktu dapat terjadi perubahan yang memerlukan penanganan secepatnya.
Lima rangkaian kegiatan yang merupakan kegiatan sehari-hari dokter anastesi adalah:
a. Mempertahankan jalan nafas
b. Memberi nafas bantuan
b. Memberi kompresi jantung bila berhenti
c. Membantu peredaran darah
d. Mempertahankan kerja otak
Anastesi dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu :
a. Anastesi umum
32

Adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri atau sakit secara sentral disertai
hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali (reversible).
Cara pemberian anastesi meliputi :
1) Parenteral (Intramuskuler atau intravena)
2) Perectal dapat dipakai pada anak-anak atau tindakan singkat
3) Anastesi Inhalasi yaitu anastesi dengan menggunakan gas atau cairan anastesi yang
mudah menguap sebagai zat anastetik melalui udara pernafasan.

b. Anastesi lokal
Adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri atau sakit secara lokal tanpa disertai dengan
hilangnya kesadaran, pemberian anastetik lokal dapat dengan teknik :
1) Anastesi permukaan yaitu pengolesan atau penyemprotan analgesic lokal diatas
selaput mukosa seperti mata, hidung dan faring.
2) Anastesi infiltrasi yaitu penyuntikan larutan analgesic lokal langsung diarahkan
disektor tempat lesi, luka dan incisi.
3) Anatesi blok yaitu penyuntikan larutan analgesic lokal langsung ke saraf utama atau
ke fleksus syaraf, hal ini bervariasi dari blockade pada saraf tunggal misalnya saraf
oksipital dan fleksus brakialis, anastesi spina, anastesi epidural dan anastesi kaudal.
Pada anastesi spinal, analgesic lokal disuntikkan kedalam sub arachnoid di antara
konus medularis dan bagian akhir sub arachnoid. Anastesi epidural diperoleh dengan
menyuntikkan zat anastetik lokal dkedalam ruang epidural.Pada anastesi kaudal, zat
anastesi lokal disuntikkan melalui hiatus sakralis.
4) Anastesi regional intravena yaitu penyuntikkan larutan analgesic lokal intravena
ekstermitas dieksnguinasi dan diisolasi bagian proximalnya dari sirkulasi dengan
sistemik dengan tourniket pneumatik.

2.6.2 Komplikasi Pasca Anastesi Operasi


a. Respiratory complication (airway obstruksi, hypoxemia,hypoventilasi)
b. Circulation complication (hypotension syhock, hypertension, arytmia)
c. Renal complication
d. Nausea vomiting
e. Hypothermia dan shivening
f. Bleeding complication
g. Complication of spesifik of surgesi (vascular surgery, cardiac neuro, out pasien
surgery)
Komplikasi Pasca Anastesi Operasi
Dalam membius pasien, dokter anstesi memberi obat-obatan (suntik, hirup atau lewat
mulut) yang bertujuan menghilangkan rasa sakit (pain killer), menidurkan dan
membuat tenang (paretic drug).Pemberian ketiga macam obat itu disebut trangulasi.
Bermacam obat bius yang digunakan dalam anastesi saat ini seperti :
a. Thiopental (pertama digunakan pada tahun 1934)
b. Benzodiapine intravena
c. Propofol (2,6-di-isopropyl-phenol)
d. Etomidate (suatu derivate imidazole)
e. Ketamine (suatu derivate piperidine)
33

f. Halothaned (1951 charles w.suckling)


g. Enflurene (1963)
h. Opioid (1960 paul jansen)
i. Neurosteroid

2.6.3 Gejala Siuman (Awarenes)


Sering terjadi pasien ternyata dapat merasa dan sadar dari pengaruh bius akibat dari
pembiusan yang tidak baik bekerja dengan efektif. Untuk mengatasi masalah ini, ada suatu
alat yang disebut bispectral indec monitor yang akan memberi peringatan bahwa pasien yang
sedang dioperasi mengalami gejala siuman atau menjelang bangun tidur. Alat ini dapat
menunjukkan derajat derajat kondisi siuman pasien yang sedang mengalami suatu
pembedahan.Angka “100” menunjukkan pasien sadar sepenuhnya, angka “60” menunjukkan
pasien siap dioperasi, jika angka “0” menunjukkan pasien mengalami koma yang
dalam.Dengan mengamati derajat siuman dari alat ini, dokter anastesi dapat menambah obat
pembiusan apabila diperlukan atau memberikan dosis perawatan kepada pasien yang telah
mengalami kondisi yang ideal untuk dilakukan operasi.Disamping itu dokter bedah dapat
dengan tenang menyelesaikan operasinya sesuai rencana yang telah ditetapkan.
2.6.4 Pemilihan Teknik Anastesi
Pemilihan teknik anastesi adalah suatu hal yang komplek, memerlukan kesepakatan
dan pengetahuan yang dalam baik dengan pasien dan fraktur-fraktur pembedahan.Dalam
beberapa kelompok populasi pasien, pembiusan regional ternyata lebih baik daripada
pembiusan total.Blockade neuromaksimal biasa mengurangi resiko thrombosis vena, emboli
paru, tranfusi pneumonia, tekanan pernafasan, infark miokard dan kegagalan ginjal.
Perkembangan dunia bedah pada saat ini sudah sangat maju dibandingkan dengan
zaman dahulu. Hal ini disebabkan adanya kemajuan dalam ilmu pengetahuan
teknologi,peralatan dan obat–obatan antibiotik maupun anestetika. Di negara-negara maju
didapatkan data bahwa hampir separuh dari jumlah pasien yang masuk rumah sakit
membutuhkan tindakan pembedahan. Properti ini berbeda-beda antara satu negara dengan
negara lain dan berfariasi menurut waktu. Kebutuhan ruang untuk kamar operasi terus
meningkat akhir-akhir ini. Hal ini disebabkan karena perkembangan teknologi mutakhir
dalam bidang kedokteran yang telah memungkinkan dilaksanakanny operasi yang sulit dan
beresiko, misalnya operasi jantung, transplantasi, dan lain-lain.