Anda di halaman 1dari 19

I.

PENDAHULUAN
Diare adalah suatu keadaan terjadinya gangguan saluran pencernaan yang biasanya
terjadi di daerah sekitar usus, yang dimana defekasi dengan tinja berbentuk cair atau setengah
cair dan frekuensi yang lebih banyak dari biasanya, sehingga penderita diare ini dapat
mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh yang serius apabila tidak ditangani dengan
baik, terutama pada penderita diare berat. ( PPT Farmakoterapi PPE : Konstipasi & Diare )
Pada diare berat dan muntaber, bisa terjadi dehidrasi akut yang berat yang mengancam
jiwa, karena banyak kehilangan air dari kompartemen ekstraseluler. Sebaliknya pada pasien
yang sakit dan dirawat inap karena diare kronis, asupan minum yang kurang atau ada demam
tinggi, terdapat kekurangan air juga di kompartemen intraseluler.
Maka, keseimbangan air dalam tubuh harus dipertahankan supaya jumlah yang diterima
sama dengan jumlah yang dikeluarkan. Penyesuaian dibuat dengan penambahan /
pengurangan jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat. Ini menekankan pentingnya
perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang masuk dalam bentuk minuman
maupun makanan dan dalam bentuk pemberian cairan lainnya. Elektrolit yang penting dalam
komposisi cairan tubuh adalah Na, K, Ca, dan Cl. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas
maka dibuatlah sediaan infuse pengganti cairan tubuh yaitu infuse Locke Ringers.
Infuse Locke-Ringer merupakan suatu sediaan steril yang sudah dipatenkan namanya oleh
pabrik. Infuse Locke-Ringer ini adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium klorida, dan
Kalsium klorida dalam air untuk obat suntik. Kadar ketiga zat tersebut sama dengan kadar zat-
zat tersebut dalam larutan fisiologis. Larutan ini digunakan sebagai penambah cairan elektrolit
yang diperlukan tubuh. (Ansel hal. 408)
Infuse Locke-Ringer ini digunakan sebagai larutan elektrolit yang secara terapetik digunakan
untuk:
a. Penyangga kebutuhan air secara fisiologis
b. Penyangga kebutuhan elektrolit secara fisiologis
c. Substitusi pengganti kehilangan air dan elektrolit
d. Komposisi terhadap gangguan keseimbangan asam basa
e. Pendukung fungsi ginjal yang terganggu (Voight hal 498-500 tahun 1995)

Infuse Locke-Ringer ini merupakan salah satu contoh dari sediaan steril Infus Intravena,
sehingga harus memiliki kriteria dan persyaratan-persyaratan yang baik seperti yang
tercantum pada literature. Infus intravena adalah sediaan steril berupa larutan atau emulsi,
bebas pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah. Disuntikkan langsung
kedalam vena dengan volume yang relatif banyak.(Farmakope Indonesia Ed. IV hal. 12)
Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu sediaan infus intravena, antara lain:
1. Sesuai kandungan bahan obat yang dinyatakan didalam etiket dan yang ada dalam sediaan,
tidak terjadi pengurangan efek selama penyimpanan akibat perusakan obat secara kimia,
dsb.
2. Penggunaan wadah yang cocok yang tidak hanya memungkinkan sediaan tetap steril tetapi
juga mencegah terjadinya interaksi bahan obat dengan material dinding wadah.
3. Tersatukan tanpa terjadi reaksi. Untuk itu, beberapa faktor yang paling menentukan
adalah :
a. Bebas kuman
b. Bebas pirogen
c. Bebas pelarut yang secara fisiologis tidak netral
d. Isotonis
e. Isohidri
f. Bebas bahan melayang (Voight hal. 462 tahun 1995)
Dalam bentuk infus bila terlampau jauh menyimpang dari isotonis maka ada
kemungkinan terjadi hemolisa. Bila larutan yang disuntikan hipotonis (tekanan osmosis lebih
kecil) terhadap cairan tubuh maka akan diserap masuk kedalam sel tubuh yang kemudian
akan mengembang dan dapat pecah. Bila larutan hipotonis (tekanan osmosis lebih besar)
terhadap cairan tubuh air dalam sel akan ditarik keluar dan akan mengakibatkan
mengkerutnya sel.

II. DATA PREFORMULASI


a. Zat Aktif
Fungsi
Nama zat Sifat fisika kimia Dosis Sterilisasi
Zat
Dektrosa Pemerian: Hablur tidak Sumber Dosis : 2,5-11,5% Sterilisasi
berwarna serbuk hablur atau nutrisi untuk intravena dengan
serbuk granul putih, tidak berbau [DI 88 hal. 1427] Autoklaf
rasa manis. [Farmakope [Martindale
Indonesia V hal 296] 28 hal 51]
Kelarutan: Mudah larut dalam
air, sangat mudah larut dalam
air mendidih, larut dalam etanol
mendidih, sukar larut dalam
etanol. [Farmakope Indonesia V
hal 296]
pH: 3,5 – 6,5 [Martindale 28 hal
51]
OTT: Sianokobalamin,
kanamisin SO4, novobiosin Na
dan wafarin Na [Martindale 28
hal 51]
Stabilitas: memiliki stabilitas
yang baik dalam wadah yang
kering. [HOPE ed.6, hal. 224]
Natrium Pemerian:Serbuk kristal putih Sumber Dosis: Autoklaf atau
klorida tidak berbau, berasa asin elektrolit filtrasi
1. Injeksi iv 3-5 %
[NaCl] [Martindale
Kelarutan:Mudah larut dalam dalam 100 ml
28 hal 638]
air, sedikit lebih mudah larut selama 1 jam
dalam air mendidih
2. 1-2 liter injeksi
pH:4,5 – 7,0 [DI 88, hal. 1415] NaCl
mengandung
OTT:Perak, garam merkuri
0,45% NaCl
[Martindale 28 hal. 635]
dalam sehari
Stabilitas :Larutan NaCl stabil (DI 88 hal
tetapi dapat menyebabkan 1416).
pemisahan terhadap partikel-
partikel gelas dari tipe gelas
tertentu yang digunakan sebagai
wadah penyimpanan
Kalium Pemerian: Kristal berbentuk Dosis: Autoklaf atau
klorida kubus, prisma atau serbuk kristal filtrasi
Konsentrasi
putih dengan rasa asin, tidak (Martindale
[KCl] kalium pada rute
berbau dan tidak berwarna. 28 hal. 35
intravena tidak
dan HOPE
Kelarutan: Mudah larut dalam lebih dari 40 mEq/L
ed.6, hal 572)
air, lebih mudah larut dalam air dengan kecepatan
mendidih. tidak lebih dari 20
mEq
/jam (DI 2010
pH: 4 – 8.(DI 88 hal.1410)
hal. 2725).
OTT: Perak dan garam merkuri.
Stabilitas: Larutan KCl stabil
dalam air.
Kalsium Pemerian: Granul atau serpihan, ? Dosis: Autoklaf atau
klorida putih keras, tidak berbau filtrasi
Kalsium secara
(CaCl2 ) [Martindale
Kelarutan: Mudah larut dalam intravena tidak
28 hal. 621]
air atau dalam etanol, sangat melampaui 0,7-
mudah larut dalam air panas 1,8 mEq/menit
pH: 5,5 – 7,5 [DI 88, hal. 1398] [DI 88th edition
hal.1400]
OTT: Larutan karbonat, sulfat,
fosfat, tartrat, amfotericin,
sefalotin Na, klorfeniramin
maleat, klortetrasiklin
hidroklorida, oksitetrasiklin
hidroklorida dan tetrasiklin
hidroklorida
Stabilitas :Injeksi Ca OTT
dengan larutan yang
mengandung bermacam-macam
obat. Oleh karena itu untuk
stabilitas CaCl2 diperlukan
referensi yang lebih spesifik (DI
88, hal. 1398-1399)
Magnesium Pemerian : tidak berwarna, ? Dosis : 25 mmol Autoklaf atau
klorida tidak berbau, kristal higroskopis dalam 500 ml filtrasi
dengan rasa pahit. [Martindale (martindale 28 (martindale
28 hal. 625] hal. 626) 28 hal 625)
Kelarutan : larut dalam 1:1
bagian air. [Martindale 28 hal.
625]
Ph : 4,5 – 7 [Martindale 28 hal.
625]
Khasiat : Digunakan terutama
sebagai sumber ion magnesium
pada hemodialisis dan solusi
untuk dialisis peritoneal. Telah
digunakan dalam pengobatan
hypomagnesemia. [Martindale
28 hal. 626]
Dosis : 25 mmol dalam 500 ml
[Martindale 28 hal. 626]

Na. Pemerian : serbuk hablur, ? Dosis : Pada Otoklaf atau


bikarbonat putih,. Sabil di udara kering, pemberian awal filtrasi
tetapi dalam udara lembab 120 mmol (120 (Martindale
secara perlahan-lahan terurai. mEq), setiap hari 28 hal. 634)
Larutan segar dalam air dingin kemudian
tanpa dikocok, besifat basa dikurangi 60
terhadap lakmus. Kebasaan mmol sampai
bertambah bila larutan dibiarkan, dosis yang
digoyang kuat atau dipanaskan. disarankan
(FI V Hal. 906) (Martindale 28
hal.634)
Kelarutan : larut dalam air,
tidak larut dalam etanol.
pH : antara 7,0 dan 8,5 (FI V
Hal. 909)
OTT : bereaksi dengan asam,
garam asam, dan banyak garam
alkaloid, dengan evolusi karbon
dioksida. Sodium bicarbonat
dapat mengintensifkan
penggelapan salisilat.
(Martindale 28 hal.634).
Dalam larutan, sodium
bikarbonat telah dilaporkan tidak
bercampur dengan banyak zat
obat seperti ciprofloxacin,
amiodarone, nicardipine, dan
levofloxacin. (HOPE ed.6, hal.
631)
Stabilitas :Injeksi kalsium
inkompatibel dengan larutan iv
yang mengandung banyak zat
aktif (DI 88th ed. hal. 1398).
Khasiat: Pengobatan asidosis
metabolik akut (Martindale 28,
hal. 634)

b. Zat Tambahan
Nama Fungsi
Sifat Fisika Kimia Zat Dosis Sterilisasi
Zat zat
Aqua Pemerian: cairan jernih, tidak berwarna; Pelarut Bebas Autoklaf suhu
Pro- tidak berbau; tidak mempunyai rasa [FI V 121O C selama 15
Injeksi hal. 57] menit [FI edisi III
[FI Ed IV hal 14]
Titik Didih : 1000C [HOPE ed. 6 hal.
hal 112]
766]
Kelarutan : bercampur dengan sebagian
besar pelarut polar [FI V hal. 57]
Stabilitas: stabil dalam semua bentuk
fisik statis (es, cairan, uap) (Handbook of
Pharmaceutical Excipients 6th edition
hal.766)
c. Teknologi Farmasi
Dalam Farmakope, yang dimaksud dengan Larutan Intravena Volume Besar
adalah injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah bertanda
volume lebih dari 100 mL. Memiliki zat pembawa berupa air yang steril, bebas
pyrogen, dan bebas dari partikel partikulat. Wadah untuk injeksi termasuk
penutup tidak boleh berinteraksi melalui berbagai cara baik secara fisik maupun
kimiawi dengan sediaan, yang dapat mengubah kekuatan, mutu atau kemurnian
diluar persyaratan resmi dalam kondisi biasa pada waktu penanganan,
pengangkatan, penyimpanan, penjualan, dan penggunaan. Wadah yang terbuat
dari bahan yang dapat mempermudah penanganan terhadap isi. (Farmakope
Indonesia Ed. IV hal. 10)

d. Farmakologi
1. Natrium
Natrium penting untuk membantu mempertahankan volume dan
keseimbangan cairan tubuh. Kadarnya dalam cairan tubuh diatur oleh
mekanisme homeostatik. Banyak individu mengkonsumsi natrium melebihi dari
yang dibutuhkan. Pembatasan natrium seringkali dianjurkan pada pasien gagal
jantung kongesif, sirosis hati dan hipertensi. Asupan yang kurang dari normal
yang dimulai sejak masa kanak-kanak dan berlanjut sampai dewasa dapat
membantu pencegahan hipertensi pada individu tertentu. Akan tetapi pembatasan
natrium pada wanita sehat selama kehamilan tidak dianjurkan.
Hipernatremia jarang ditemui pada individu sehat tetapi dapat terjadi setelah
diare atau muntah yang lama terutama pada bayi, pada gangguan ginjal,
fibrosis kistik atau insufisiensi korteks adrenal, atau pada gangguan diuretik
tiazid. Keringat yang berlebihan dapat mengakibatkan kehilangan natrium yang
banyak dan perlu diganti dalam bentuk air dan NaCl. (Farmakologi Dan Terapi
Edisi 5 hal. 790).

2. Kalium
Perbedaan kadar kalium (kation utama dalam cairan intrasel) dan natrium
(kation utama dalam cairan ekstrasel) mengatur kepekaan sel, konduksi impuls
saraf dan keseimbangan dan volume cairan tubuh.
Meskipun defisiensi jarang terjai pada individu yang mendapat makanan yang
cukup, hipokalemia dapat terjadi pada anak-anak yang makanannya
tidak mengandung protein. Penyebab hipokalemia yang paling sering adalah
terapi diuretik terutama tiazid. Penyebab lain hipokalemia adalah diare yang
berkepanjangan terutama pada anak, hiperaldosteronisme, terapi cairan parenteral
yang tidak tepat atau tidak mencukupi, penggunaan kortikosteroid atau laksan
jangka lama. Aritmia jantung dan gangguan neuromuscular merupakan akibat
hipokalemia yang paling berbahaya. Hiperkalemia paling sering disebabkan
gangguan ekskresi kalium oleh ginjal yang dapat terjadi pada pasien dengan
insufisiensi korteks adrenal, gagal ginjal akut, gagal ginjal kronik terminal, atau
penggunaan antagonis aldosteron. Aritmia jantung dan gangguan konduksi
merupakan gejala sisa yang paling berbahaya. Manifestasi lain hiperkalemia
termasuk kelemahan dan parestesia. (Farmakologi Dan Terapi Edisi 5 hal. 790)

3. Kalsium
Kalsium merupakan mineral yang paling banyak didapatkan di dalam
tubuh. Untuk absorpsinya diperlukan vitamin D. Kebutuhan kalsium meningkat
pada masa pertumbuhan, selama laktasi dan pada wanita pascamenopause. Bayi
yang mendapat susu buatan memerlukan tambahan kalsium. Selain itu asupan
kalsium juga perlu ditingkatkan bila makanan banyak mengandung protein
dan/atau fosfor. Banyak peneliti yang menganjurkan asupan sekitar 1,2 g/hari
untuk pasien alkoholik, sindrom malabsorpsi dan pasien-pasien yang mendapat
kortikosteroid,isoniazid, tetrasiklin atau antasid yang mengandung aluminium.
(Farmakologi Dan Terapi Edisi 5 hal. 789 -790).

4. Klorida
Klorida merupakan anion yang paling penting dalam
mempertahankan keseimbangan elektrolit. Alkalosis metabolik hipokloremik
dapat terjadi setelah muntah yang lama atau penggunaan diuretic
berlebihan. Kehilangan klorida berlebihan dapat menyertai kehilangan natrium
berlebihan. Kemungkinan terjadinya hiperkalemia perlu dipertimbangkan bila
terpaksa menggunakan KCl sebagai pengganti klorida yang hilang. (Farmakologi
Dan Terapi Edisi 5 hal. 791).

5. Natrium bikarbonat
Natrium bikarbonat merupakan agen pengalkali yang berdisosiasi
membentuk ion bikarbonat. Bikarbonat merupakan komponen basa konjugasi
dari buffer ekstraseluler utama yang ada di tubuh, yaitu buffer bikarbonat-asam
karbonat. Pada kondisi normal buffer ini menjaga ph plasma yaitu 7,37-7,42.
Namun bila terjadi gangguan pada sistem buffer ini maka pH plasma mdapat
naik ataupun turun. pH plasma yang dibawah mormal mengidentifikasikan
terjadinya asidosis metabolik pemberian natrium bikarbonat akan meningkatkan
konsentrasi bikarbonat plasma dan meningkatkan pH plasma sehingga pH plasma
normal kembali (DI 2003 hal. 2472-2473).

6. Dekstrosa
Dekstrosa dengan mudah dimetabolisme, dapat meningkatkan kadar
glukosa darah dan menambah kalori. Dekstrosa dapat menurunkan atau
mengurangi protein tubuh dan kehilangan nitrogen, meningkatkan pembentukan
glikogen dan mengurangi atau mencegah kitosis jika diberikan dosis yang cukup.
Dekstrosa dimetabolisme menjadi CO2 dan air, maka larutan dekstrosa dan air
dapat mengganti cairan tubuh yang hilang. Injeksi dekstrosa dapat juga
digunakan sebagai diuresis dan volume pemberian tergantung kondisi klinis
pasien. (DI 88 Hal. 1427) .
7. Magnesium
Magnesium mengaktifkan banyak sistem enzim ( misalnya alkali
fosfatase, leusin aminopeptidase)dan merupakan kofaktor yang penting pada
fosforilasi oksidatif , pengaturan suhu tubuh, kontraktilitas otot dan kepakaan
syaraf . Pada orang sehat , dengan makanan yang bervariasi defisiensi
magnesium jarang terjadi. Kebutuhan akan magnesium tergantung pada jumlah
protein, kalsiumm dan fosfor yang dimakan.
Hipomagnesemia meningkatkan kepekaan saraf dan transmisi
neuromuskular. Pada keadaan defisiensi berat mengakibatkan tetani dan konvulsi.
Hipomagnesemia dapat terjadi pada pasien alkaholik, tetani invantil, diabetes,
sindrom malabsobrsi, hiper atau hipo paratyroidisme, penyakit ginjal, selama
praktik diuretik pada pasien yang hanya mendapat makanan secara parenteral
pasca bedah. (Farmakologi terapi edisi 5 hal 790)

Farmakokinetik
Injeksi Sodium klorida dimasukkan secara subcutan, termasuk untuk orang tua
melalui hypodermoclisis yang berhubunagn dengan hyaluronidase, yang
memfasilitasi absorpsi dari cairan. Dextrose di absopsi dari saluran perncernaan.
Tiga jalur metabolisme yang dilalui: glikolisis menuju bentuk piruvat atau laktat
diikuti dengan siklus krabs menuju metabolisme karbondioksida dan air jalur
pentosa fosfat juga menuju karbondioksida dan air. Energi dilepaskan melalui
proses tersebut.

Farmakodinamik
Natrium didalam darah mampu mempertahankan volume dan keseimbangan
cairan tubuh. Ion kalium mengatur kepekaan sel, konduksi impuls saraf dan
keseimbangan dan volume cairan tubuh. Ion kalsium sebagai activator dan
berbagai macam reaksi enzimatik mampu mencegah konvulsi/ kejang maupun
iritabilitas. Ion magnesium mengaktifkan banyak system enzim dan merupakan
kofaktor pada fosforilasi oksidatif, pengaturan suhu tubuh, kontaktilitas otot dan
kepekaan saraf. ion bikarbonat akan meningkatkan konsentrasi bikarbonat
plasma dan meningkatkan pH plasma sehingga pH plasma dapat normal kembali.
Dektrosa meningkatkan kadar glukosa darah dan menambah kalori serta
meningkatkan pembentukan glikogen dan mengurangi atau mencegah kitosis.
(Farmakologi dan terapi edisi 5 hal 789-791).

Interaksi obat:
Larutan yang mengandung fosfat. (ISO vol 51 hal 367)

Indikasi :
Mengatasi dehidrasi, menggantikan cairan ekstraseluler tubuh dan ion Cl yang
hilang, mengembalikan keseimbangan elektrolit. (ISO vol 51 hal 367)
Kontraindikasi :
Hiperhidrasi, hipematremia, hiperkalemia, gangguan fungsi ginjal. (ISO vol 51
hal 367).

III. FORMULASI
A. Formulasi Rujukan
Sumber : (Farmakope Indonesia V hal.
Dekstrosa p 0,5g
Natrium Bikarbonat p 0,5g
Natrium Klorida p 9,0g
Kalium Klorida p 0,42g
Kalsium Klorida p 0,24g
Magnesium klorida p 0,2g
Aqua Pro.Injections ad 1000mL

B. Formulasi Jadi
Berdasarkan formula rujukan (FI edisi V )
Dekstrosa p 0,5g
Natrium Bikarbonat p 0,5g
Natrium Klorida p 9,0g
Kalium Klorida p 0,42g
Kalsium Klorida p 0,24g
Magnesium klorida p 0,2g
Aqua Pro.Injections ad 1000ml

C. Alasan pemilihan bahan


 Ion natrium (Na+) dalam injeksi berupa natrium klorida dapat digunakan untuk
mengobati hiponatremia, karena kekurangan ion tersebut dapat mencegah retensi air
sehingga dapat menyebabkan dehidrasi.
 Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam
cairan intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta
isotonis sel.
 Ion kalsium (Ca2+), bekerja membentuk tulang dan gigi, berperan dalam proses
penyembuhan luka pada rangsangan neuromuskuler. Jumlah ion kalsium di bawah
konsentrasi normal dapat menyebabkan iritabilitas dan konvulsi.
 Ion Magnesium (Mg2+) juga diperlukan tubuh untuk aktivitas neuromuskuler
sebagai koenzim pada metabolisme karbohidrat dan protein.
 Dekstrosa, suatu bentuk karbohidrat yang diberikan secara parenteral diharapkan
dapat memberikan tambahan kalori yang diperlukan untuk menambah energi pada
tubuh.
 Aqua Pro Injeksi digunakan sebagai pelarut dan pembawa karena bahan bahan yang
digunakan larut dalam air
 Karbo absorben digunakan untuk menyerap H202 bebas yang tidak berikatan dengan
pirogen (Voight hal. 475)
 H202 digunakan untuk menghilangkan pirogen pada aqua pi karena injeksi intravena
harus bebas pirogen. Pirogen dapat dimusnahkan dengan pemanasan yang tinggi,
dengan oksidasi atau pembakaran namun metode ini efektif untuk pirogen yang
mengkontaminasi alat-alat gelas dan wadah yang terbuat dari logam sedangkan
pirogen yang terdapat di dalam larutan dapat dihilangkan secara kimia dengan
oksidasi oleh peroksida, asam dan alkali oleh karena itu digunakan H202 untuk
menghilangkan pirogen (Steril Dosage Forms hal 47-48)

IV. ALAT DAN BAHAN


Alat :
- Gelasukur - Pipet tetes
- Batangpengaduk - Spatula
- Beaker - Pinset
- Kertassaring - Kacaarloji
- Erlenmeyer - Penjepitbesi
- Botolinfus - Karet pipet tetes
- Corong glass - Aluminium foil

Bahan :
- Dekstrose - Aqua Pro-injeksi
- NaCl - karbon adsorben
- KCl - H2O2
- MgCl
- CaCl2
- NaHCO3
V. PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN
A. Perhitungan

Kesetaraan ekivalen elektrolit (martindale edisi 28 dan sprowls hal ?)

Ca2+ 13,6 mEq ~ 1g CaCl2(martindale 36 hal.1686)

K+ 13,4 mEq ~ 1g KCL (Martindale 36 hal.1684)

Na+ 17,1 mEq ~ 1g NaCl (Martindale 36 hal.1686)

Mg2+ 9,8 mEq ~ 1g MgCl2

Na+ 1 mEq ~ 1g NaHCO3 ? yakin setara 1 mEq?

Akan dibuat infus 500 ml sebanyak 2 botol (1000 ml)

Volume total larutan yang dibuat = 1000 mL + (10 % x 1000 mL) = 1100 mL

Natrium klorida = 1100/1000 x 9.0 g = 9,9 g

Kalium klorida = 1100/1000 x 0.42 g = 0,462 g

Kalsium klorida = 1100/1000 x 0.24 g = 0,264 g

Magnesium klorida = 1100/1000 x 0.2 g = 0,22 g

Natrium bicarbonat = 1100/1000 x 0.5 g = 0,55 g

Dekstrosa = 1100/1000 x 0.5 g = 0,55 g

Aqua pro injection ad 1100 ml

Norit = 0,1 % x 1100 mL = 1,1 g

H2O2 = 0,1 / 100 x 1100 ml = 1,1 g

Perhitungan Ekivalensi (inikan formula? Kok judulnya perhitungan ekivalensi?)

Na. Bikarbonat p 0,5g


Na. Klorida p 9,0g
Kalium Klorida p 0,42g
Kalsium Klorida p 0,24g
Magnesium klorida p 0,2g
Aqua P.I 1000 ml
Kesetaraan ekivalensi

Ca2+ 13,6 mEq ~ 1g CaCl2


K+ 13,4 mEq ~ 1g KCL
Na+ 17,1 mEq ~ 1g NaCl
Mg2+ 9,8 mEq ~ 1g MgCl2
Na+ 1 mEq ~ 1g NaHCO3 ? Setara 1 mEq?? Di perhitungan 11,9

Rumus : W zat X = Meq zat X / kesetaraan x 1 g

Meq zat X= Wx kesetaraan / 1g

Meq Cacl = 0,24 x 13,6 / 1 g = 3,264 ~ 3 Meq/L

Meq Kcl = 0,42 x 13,4 / 1 g = 5,628 ~ 6 Meq/L

Meq Nacl = 9,0 x 17,1 / 1 g = 153,9 ~ 154 Meq/L

Meq Mgcl = 0,20 x 9,8 / 1 g = 1,96 ~ 2 Meq/L

Meq NaHCO= 0,50 x 11,9 / 1 g = 5,95 ~ 6 Meq/L

PerhitunganIsotonis

1,9
ENaCl= 1,00 E Dekstrosa = 17x198,2 = 0,16

EKCl = 0,76

ECaCl= 0,70

E MgCl = 0,45

E NaHCO3 = 0,65

V = {(W1 x E1) + (W2 x E2) + (W3 x E3) + (W4 x E4) + (W5 x E5)} x 111,11 (tambahin
w6xe6)

= {(9.0 x 1) + (0,42 x 0,76) + (0,24 x 0,70) + (0,2 x 0,45) + (0,5 x 0,65) + (0,5 x
0,16)} x 111,11
= {9.0 + 0,3192 + 0,168 + 0,09 + 0,325 + 0,08} x 111,11

= 1117,02162 mL

% Tonisitas = 1117,02162 mL x 0,9 % = 1,0053% (HIPERTONIS)

1100 ml

Laju tetes per menit = 0,9000 % x 40 tetes = 35,8 tetes ~ 35 tetes/menit ~ 1.75 ml
1,0053%
Data Penimbangan Bahan

Zat Bobot (g)

Dektrosa 0,55

NaCl 9,9

KCl 0,462

CaCl2 0,264

MgCl2 0,22

NaHCO3 0,3575

Aqua p.i. ad 1100 mL

Norit 1,1 mL

H2O2 1,1 mL

B. Cara Kerja Sterilisasi Alat dan Bahan

No. Alat dan Bahan Cara Sterilisasi Literatur


Aquadest didihkan
1. Aqua pro injection FI III halaman 14
selama 30 menit
Beaker glass, corong Pemanasan dengan oven
2. glass, botol tetes, suhu 1500C selama 1 FI III halaman 18
erlenmeyer, pipet tetes jam
Sterilisasi dengan
3. Gelas ukur, kertas saring autoklaf pada suhu FI III halaman 18
1210C selama 15 menit
Desinfection,
Batang pengaduk, spatula,
Rendam dalam alkohol sterilization and
4. pinset, kaca arloji,
selama 30 jam preservation
penjepit besi
halaman 233
Rebus dengan air
Karet pipet, karet tutup
5. mendidih selama 30 FI III halaman 18
botol
menit
Sterilisasi dengan
Sediaan infus Locke Martindale 28 hal
6. autoklaf pada suhu
Ringer 301
1210C selama 15 menit

C. Cara Kerja Sediaan


(Prinsip Sterilisasi?)
1. Alat-alat yang akan digunakan dicuci dan disterilkan dengan cara yang sesuai.
( tambahin dikalibrasi masing masing botol infus ad 500ml biar galupa )
2. Aqua P.I. dibuat dengan cara :
Aquadest dipanaskan sampai mendidih, dibiarkan mendidih selama 30 menit
kemudian + H2O2 sedikit demi sedikit melalui dinding erlenmeyer, dididihkan
selama 15 menit, didinginkan (FI III hal 14)
3. Bahan-bahan yang akan digunakan (Dekstrosa, NaCl, MgCl2, KCl, CaCl2,
NaHCO3, dan Karbo Adsorben) ditimbang dengan kaca arloji steril
4. Masing masing bahan dilarutkan dalam sebagian Aqua pro Injeksi, kemudian
dicampur, lalu ditambahkan Aqua pro Injeksi ad 1100 ml. (sebelum di ad cek
pH dulu. Hingga pH berapa? Menurut apa?)
5. Ditambahkan Karbo Adsorben, dipanaskan pada suhu 50-600C selama 15 menit
sambil diaduk
6. Disaring dengan kertas saring steril sebanyak dua kali ad jernih, pH dicek
(gausah dicek lagi)
7. Filtrat yang jernih dimasukkan ke dalam botol infus ad tepat tanda, tutup dengan
karet penutup dan kap alumunium
8. Dilakukan evaluasi In Process Control (IPC) (uji kejernihan, uji keseragaman
volume, uji ph) terhadap sediaan infus
9. Sterilisasi akhir dilakukan dalam autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit.
10. Dilakukan evaluasi Quality Control (QC) ( uji sterilitas, uji kejernihan, uji
keseragaman volume, uji pirogenitas, Uji penetapan kadar) terhadap sediaan
infus
11. Sediaan diberi etiket, dikemas dalam dus, dilengkapi dengan brosur,
kemudian diserahkan.

I. EVALUASI
A. IPC ( In Process Control )
1. Uji kejernihan ( Lachman hal. 1355 )

Produk dalam wadah diperiksa dibawah penerangan cahaya yang baik,


terhalang terhadap refleks dari mata, berlatar belakang hitam dan putih dengan
rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi memutar.

Syarat : semua wadah diperiksa secara visual dan tidak ada partikel yang
terlihat dari infus volume besar, batas 50 partikel 10 m dan lebih besar, serta
lima partikel sama dengan 25 m/ml.

2. Uji pH ( FI IV hal. 1039 – 1040 )


Cek pH larutan dengan menggunakan pH meter atau kertas indikator
universal.
Dengan pH meter :Sebelum digunakan, periksa elektroda dan jembatan garam
bila ada lakukan.
Pembakuan pH meter :Bila selektroda dan sel beberapa kali dengan larutan uji
dan isi sel dengan sedikit larutan uji. Baca harga pH.Gunakan air bebas CO2
untuk pelarutan dengan pengenceran larutan uji.
Syarat : pH 6,5
3. Uji keseragaman volume ( FI IV hal. 1044 )
a. Dipilih satu atau lebih wadah, bila volume 10 ml atau lebih. 3 wadah atau
lebih, bila volume lebih dari 3 ml dan kurang dari 10 ml.
b. Di ambil isi tiap wadah dengan alat suntik hipodemik kering berukuran
tidak lebih dari 3 kali volume yang akan diukur dan dilengkapi dengan
jarum suntik no.21, panjang tidak kurang dari 2,5 cm.
c. Keluarkan gelembung udara dari dalam jarum dan alat suntik dan
pindahkan isi dari alat suntik, tanpa mengkosongkan bagian jarum, kedalam
gelas ukur kering volume tertentu yang telah dibakukan sehingga volume
yang diukur memenuhi sekurang-kurangnya 40% volume dari kapsitas yang
tertera ( garis-garis petunjuk volume, gelas ukur menunjukan volume yang
ditampung, bukan yang dituang)
Syarat : seragam

B. QC ( QUALITY CONTROL )

1. Uji sterilitas ( FI IV hal. 855 )


Asas: larutan uji + media perbenihan, inkubasi pada 20o – 25oC-> Kekeruhan
/ pertumbuhan mikroorganisme ( tidak steril )
Metode uji: Teknik penyaringan dengan filter membran ( dibagi menjadi 2
bagian ) lalu diinkubasi
Syarat : Steril

2. Uji kejernihan ( Lachman hal. 1355 )


Pemeriksaan dilakukan secara visual dengan menggunakan background hitam
putih, harus benar-benarbebas dari partikel kecil yang dapat dilihat dengan
mata yakni partikel yang berukuran 30 – 40 dan lebih dari itu.
Syarat : Jernih

3. Ujikeseragaman volume ( FI IV hal. 1044 )


Cara I :
- Pilih 1 ataulebihwadahbila volume ≥ 10 ml, ambil isi tiap wadah dengan
alat suntik hipodemik kering berukuran tidak lebih dari 3 kali volume
yang akan diukur dan dilengkapi dengan jarum suntik no 21, panjang
tidak kurang dari 2,5 cm. keluarkan gelembung udara dari dalam jarum
dan alat suntik.
- Pindahkan isi dalam alat suntik, tanpa mengosongkan bagian jarum,
kedalam gelas ukur kering volume tertentu yang telah dibakukan sehingga
volume yang diukur memenuhi sekurang-kurangnya 40% volume
kapasitas tertera.
Cara II :
Isi alat suntik dapat dipindahkan kedalam gelas piala kering yang telah
ditara, volume dalam ml diperoleh dari hasil perhitungan berat dalam g
dibagi bobot jenis cairan. Isi dari wadah 10 ml atau lebih dapat ditentukan
dengan membuka wadah, memindahkan isi secara langsung kedalam gelas
ukur atau gelas piala yang telah ditara.
Syarat : Seragam

4. Uji pirogenitas (FI IV hal.908)

a. Uji Biologik
Berdasarkan peningkatan suhu badan kelinci setelah disuntikkan dengan
larutan 10 ml/kg bobot badan dalam vena auricularis.

b. Uji Serologi
Lisat darah kepiting (L. polyphemus) + endotoksin, gelatinasi dalam 30 menit.

Syarat: Tidak ada pirogen

5. Endotoksin bakteri (FI IV hal.905)


Tujuan : untuk memperkirakan kadar endotoksin bakteri yang mungkin ada
dalam atau pada bahan uji.
Cara : menggunakan “Limus Amebocyte Lysate” (LAL).
Penetapan titik akhir reaksi dilakukan dengan membandingkan langsung
enceran dari zat uji engan enceran endotoksin baku, dan jumlah endotoksin
dinyatakan dalam unit Endotksin (UE).
Pada penetapan adar secara kinetik (kolorimetri dan turbidimetri) serapan
diukur selama periode reaksi dan harga kecepatan reaksi ditetapkan dari
pengukuran tersebut. Pada pengukuran titik akhir secara kolorimetri, reaksi
dihentikan pada akhir dari waktu yang telah ditetapkan dengan penambahan
zat pemutus reaksi enzim sebelum pengukuran.
Syarat : Tidak ada bakteri
6. Penetapan kadar ( FI V hal 1104 - 1105)
a. Penetapan Kadar Kalsium: Ukur serapan larutan baku dan larutan uji pada
garis emisi kalsium pada 422,7 nm, dengan spektrofotometer serapan
atom yang dilengkapi dengan lampu tabung katode kalsium dan nyala
asetilen udara, terhadap blangko. Gambarkan kurva dari serapan larutan
baku terhadap kadar kalsium dalam mikrogram per ml, dengan
menghubungkan 3 titik. Hitung kadar kalsium dalam mg per 100 ml
injeksi yang digunakan, dengan rumus: 0,5 (C)
b. Penetapan Kadar Natrium: Lakukan penetapan seperti yang tertera kurva
baku dan prosedur dalam penetapan kadar kalium, atur fotometer nyala
hingga transmitrans maksimum pada panjang gelomang lebi kurang 589
nm. Hitung kadar natrium dalam mg per 100 ml injeksi
c. Penetapan kadar kalium: atur alat seperti yang tertera pada kurva baku,
ukur transmitan larutan uji dan hitung kadar kalium dalam mg per 100 ml
injeksi.
d. Penetapan kadar klorida: pipet 10,0 nl injeksi Locke Ringer ke dalam
wadah porselen, tambahkan 140 air dan 1 ml diklorofluoresin LP dan
campur. Titrasi dengan perak nitrat 0,1 N hingga perak klorida
menggumpal dan campuran berubah menjadi merah muda lemah.

II. DAFTAR PUSTAKA


American Society of Health System Pharmacist.1988. Drugs Information.
Bethesda, Maryland: American Hospital Formulary Services.
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi keempat.
Jakarta: UI Press.
DepartemenKesehatanRepublik Indonesia.2014.Farmakope Indonesia Edisi V.
Jakarta: DirektoratJenderalPengawasanObatdanMakanan.
DepartemenKesehatanRepublik Indonesia.1995.Farmakope Indonesia EdisiIV.
Jakarta: DirektoratJenderalPengawasanObatdanMakanan.
Gunawan, Sulistia Gan. 2007. Farmakologi dan Terapi edisi 5. Jakarta: FKUI.
Martindale.1996. The Extra Pharmacopoeia, 28th Edition. London : The
Pharmaceutical Press.
Lachman L, Lieberman HA, Kanig JL. 1994.Teori dan Praktek Farmasi
Industri. Diterjemahkan oleh Suyatmi S. Jakarta : UI Press.
Rowe, Raymond C dkk. Handbook of Pharmaceutical Excipient Sixth Edition.
London : Pharmaceutical Press
Voight, Rudolf. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Diterjemahkan oleh Soendani
Noerono Soewandhi. Yogyakarta: UGM Press