Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

Analisis Vegetasi Herba

OLEH :
SYARIF HIDAYATULLAH (1810631090067)

NADILA AISHA PUTRI (1810631090080)

ARUM TRI YUDYANTI (1810621090114)

NANDA AULIA RAHMA DINI (1810631090134)

M. HYAR DJAYADININGRAT (1810631090165)

1C-AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmatNya
sehingga praktikum Analisa Vegetasi Herba pada hari Minggu, tanggal 16 Desember
2018 di lahan persawahan di samping gedung baru Unsika dapat terselesaikan dengan
baik.

Praktikum ini merupakan bagian dari mata kuliah Biologi dan pada kesempatan ini
kami mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang telah membantu
terselesaikannya praktikum ini diantaranya :

1. Ibu Ani Lestari S.Si., M.Si sebagai koordinator mata kuliah Biologi
2. Ibu Siti Latifatus Siriyah Ssi., Msc. sebagai dosen pelaksana praktikum
3. Bapak Nurcahyo Widyodaru Saputro Ssi., Msc. sebagai dosen biologi
4. Para asisten dosen yang senantiasa membimbing kami

Akhir kata, semoga dengan dilaksanakannya praktikum ini pengetahuan dan wawasan
mahasiswa semakin bertambah dan membuat pertanian Indonesia semakin maju.

Minggu, 23 Desember 2018

Tim

i |Analisis Vegetasi Herba


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................... ii

DAFTAR TABEL ............................................................................................ iii

DAFTAR GAMBAR........................................................................................ iv

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1

1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1

1.2 Tujuan .............................................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 3

BAB III METODE PRAKTIKUM .................................................................. 13

3.1 Waktu dan Tempat ............................................................................ 13

3.2 Alat dan Bahan .................................................................................. 13

3.3 Cara Kerja ......................................................................................... 14

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................... 16

4.1 Tabel Hasil Pengamatan.................................................................... 16

4.2 Pembahasan ....................................................................................... 18

BAB V PENUTUP ........................................................................................... 23

5.1 Kesimpulan ....................................................................................... 23

5.2 Saran.................................................................................................. 23

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... v

LAMPIRAN ..................................................................................................... vii

ii |Analisis Vegetasi Herba


DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil Pengamatan Vegetasi ...................................................... 16

Tabel 2. Hasil Penghitungan terhadap Dominasi, Frekuensi, INP, dan Keanekaragaman


Hayati ..................................................................................................... 16

Tabel 3. Lampiran Tanaman .................................................................. vii

iii |Analisis Vegetasi Herba


DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Meteran ........................................................................................... 13

Gambar 2. Tali Rafia ........................................................................................ 13

Gambar 3. Gunting ........................................................................................... 14

Gambar 4. Kamera............................................................................................ 14

Gambar 5. Petak 1 ............................................................................................ 15

Gambar 6. Petak 2 ............................................................................................ 15

Gambar 7. Petak 3 ............................................................................................ 15

Gambar 8. Petak 4 ............................................................................................ 15

iv |Analisis Vegetasi Herba


BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Keanekaragaman spesies, ekosistem dan sumberdaya genetik semakin menurun pada


tingkat yang membahayakan akibat kerusakan lingkungan. Kepunahan akibat beberapa jenis
tekanan dan kegiatan, terutama kerusakan habitat pada lingkungan alam yang kaya dengan
keanekaragaman hayati, seperti hutan juhan tropik dataran rendah. Kepunahan
keanekaragaman hayati sebagian besar karena ulah manusia. Kepunahan akan berdampak
besar terhadap perubahan struktur komunitas ekosistem suatu hutan. Oleh karena itu, suatu
analisis untuk menentukan struktur komunitas hutan meliputi perhitungan jenis dan spesies
vegetasi perlu dilakukan untuk menentukann struktur komunitas hutan suatu wilayah

Menurut Marsono (1977), vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya


terdiri atas beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme
kehidupan bersama tersebut, terdapat interaksi yang erat, baik diantara individu penyusun
vegetasi itu sendiri, maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem
yang tumbuh dan hidup serta dinamis (Marsono, 1977)

Salah satu metode untuk mendeskipsikan suatu vegetasi yaitu analisis vegetasi. Analisa
vegetasi merupakan cara untuk mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur)
vegetasi atau masyarakat rumbuh-tumbuhan. Pada sutu kondisi hutan yang luas, kegiatan
analisa vegatasi erat kaitannya dengan sampling sehingga cukup ditempatan beberapa petak
contoh untuk mewakili habitat tersebut. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam sampling
ini, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh, dan teknik analisa vegetasi yang
digunakan (Soerianegara, 2005).

Pada suatu vegetasi terdapat beberapa macam Growth Form, yaitu sebagai berikut :

 Perdu / semak
 Herba
 Rumput
 Sapling
 Seeding

1 |Analisis Vegetasi Herba


Pada praktikum ini, dalam menganalisi vegetasi perlu dibuat sutu petak berbentuk
persegi dengan ukuran 1 m x 1 m. Percobaan ini penting dilakukan untuk mengetahui
keberagaman suatu spesies di suatu tempat dan dominasi spesies pada suatu vegetasi.

1.2 Tujuan

Menentukan struktur komunitas tumbuhan herbaa dengan menentukan karakteristik


spesies, kepentingan relatif dan indeks keanekaragaman spesies.

2 |Analisis Vegetasi Herba


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Ernest Haeckel, yaitu seorang ahli
biologi berkebangsaan Jerman pada tahun 1869. Istilah ekologi berasal dari bahasa Yunani,
yaitu oikos yang berarti rumah atau tempat tinggal atau tempat hidup atau habitat, dan logos
yang berarti ilmu, telaah, studi, atau kajian. Oleh karena itu, secara harfiah ekologi berarti
ilmu tentang atau ilmu menganai makhluk hidup dalam rumahnya atau ilmu tentang tempat
tinggal makhluk hidup (Inriyanto, 2006).

Ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan
hidupnya disebut ekologi. Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Enerst Haeckel,
seorang ahli biologi bangsa Jerman. Ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Oikos yang
berarti rumah dan logos yang berarti ilmu/telaah. Oleh karena itu ekologi berarti ilmu tentang
rumah (tempat tinggal) makhluk hidup. Dengan demikian ekologi biasanya diartinya sebagai
ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya
(Riberu, 2002).

Ekologi (Oikos dan logos) sedang ekonomi (Oikos dan nomos) sehingga kedua ilmu
itu banyak persamaannya. Namun dalam ekologi, mata uang yang dipakai dalam transaksi
bukan rupiah atau dolar, melainkan materi, energi, dan informasi. Arus materi, energi, dan
informasi dalam suatu komunitas atau beberapa komunitas mendapat perhatian utama dalam
ekologi, seperti uang dalam ekonomi. Oleh karena itu transaksi dalam ekologi berbentuk
materi, energi, dan informasi (Riberu, 2002).

Menurut Campbell (2004), komunitas secara dramatis berbeda-beda dalam kekayaan


spesiesnya, jumlah spersies yang mereka miliki. Mereka juga berbeda dalam hubungannya
dalam kelimpahan relative spesies. Beberapa komunitas terdiri dari beberapa spesies yang
jarang, sementara yang lainnya mengandung jumlah spesies yang sama dengan jumlah
spesies pada umumnya banyak ditemukan. Ekologi dapat dibagi menjadi empat tahap kajian
yang semakin menyeluruh sifatnya, yaitu :

3 |Analisis Vegetasi Herba


1. Ekologi organisme (organismal ecology), berhubungan dnegan cara-cara berperilaku,
fisiologis dan morfologis yang digunakan suatu organisme individual dalam
menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh lingkungan abiotiknya.
2. Populasi yaitu suatu kelompok individu dari spesies yang samma yang hidup dalam
daerah yang geografis tertentu. Ekologi populasi sebagian besar terpusat pada
faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran dan komposisi populasi.
3. Komunitas terdiri dari semua organisme yang menempati suatu daerah tertentu.
Komunitas adalah kumpulan populasi dari spesies yang berlainan.
4. Ekosistem meliputi semua faktor-faktor abiotik selain komunitas spesies yang ada
dalam suatu daerah tertentu.

Banyak ahli ekologi berpendapat bahwa kompetisi atau persaingan merupakan suatu
faktor utama yang membatasi keanekaragaman spesies yang dapat menempati suatu
komunitas. Hipotesis ini sebagian besar didasarkan pada pengamatan perbedaan relung dan
pembagian sumberdaya di antara spesies simpatrik. Para ahli ekologi tersebut berpendapat
bahwa jumlah tertentu sumberdaya hanya dapat dibagi sedemikian kecilnya sebelum
pengaruh dari kompetisi, yang tanpa dapat dihindarkan, mengakibatkan kepunahan pesaing
yang lebih lemah, yang menentukan batas jumlah spesies yang dapat hidup bersama-sama
(Campbell, 2004).

Vegetasi dalam artian lain merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan biasanya terdiri


dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme
kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat baik diantara sesama individu
penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu
sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis. Analisa vegetasi adalah cara mempelajari
susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan.
Hutan merupakan komponen habitat terpenting bagi kehidupan oleh karenanya kondisi
masyarakat tumbuhan di dalam hutan baik komposisi jenis tumbuhan, dominansi spesies,
kerapatan nmaupun keadaan penutupan tajuknya perlu diukur (Natassa dkk, 2010).

Pengelolaan lingkungan hidup bersifat Antroposentris, artinya perhatian utama


dihubungkan dengan kepentingan manusia. Kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan atau
hewan, dikaitkan dengan peranan tumbuhan atau hewan itu untuk memenuhi kebutuhan
hidup manusia, baik material (bahan makanan) dan non-material (keindahan dan nilai ilmiah).

4 |Analisis Vegetasi Herba


Dengan demikian kelangsungan hidup manusia dalam lingkungan hidup sangat ditentukan
oleh tumbuhan,hewan, dan unsur tak hidup (Riberu, 2002).

Menurut Odum (1979) dalam bukunya “Fundamentals of Ecology”, lingkungan hidup


didasarkan beberapa konsep ekologi dasar, seperti konsep: biotik, abiotik, ekosistem,
produktivitas, biomasa, hukum thermodinamika I dan II, siklus biogeokimiawi dan konsep
faktor pembatas. Dalam komunitas ada konsep biodiversitas, pada populasi ada konsep
“carrying capacity”, pada spesies ada konsep distribusi dan interaksi serta konsep suksesi dan
klimaks. Makhluk hidup (organisme) memiliki tingkat organisasi dari tingkat yang paling
sederhana sampai ke tingkat organisasi yang paling kompleks. Tingkatan organisasi tersebut
terlihat sebagai deretan biologi yang disebut spektrum biologi.

Adapun spektrum biologi yang dimaksud yaitu: protoplasma (zat hidup dalam sel); sel
(satuan dasar suatu organisme); jaringan (kumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi
sama); organ (alat tubuh, bagian dari organisme), sistem organ (kerjasama antara struktur dan
fungsional yang harmonis); organisme (makhluk hidup, jasad hidup); populasi (kelompok
organisme yang sejenis yang hidup dan berbiak pada suatu daerah tertentu); komunitas
(semua populasi dari berbagai jenis yang menempati suatu daerah tertentu); ekosistem; dan
biosfer (lapisan bumi tempat ekosistem beroperasi) (Riberu, 2002).

Suatu populasi memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh individu-individu yang
membangun populasi tesebut. Kekhasan dasar suatu populasi yang menarik bagi seorang
ekolog adalah ukuran dan rapatannya. Jumlah individu dalam populasi mencirikan ukurannya
dan jumlah individu populasi dalam suatu daerah atau satuan volume adalah rapatannya.
Kelahiran (Natalitas), kematian (mortalitas), yang masuk (imigrasi), dan yang keluar
(emigrasi) dari anggota mempengaruhi ukuran dan rapatan populasi. Kekhasan lain dari
populasi yang penting dari segi ekologi adalah keragaman morfologi dalam suatu populasi
alam sebaan umur, komposisi genetik dan penyebaran individu dalam populasi
(Odum, 1993).

Jika suatu wilayah berukuran luas/besar, vegetasinya terdiri atas beberapa bagian
vegetasi atau komunitas tumbuhan yang menonjol. Sehingga terdapat berbagai tipe vegetasi.
Contoh bentuk pertumbuhan (growth form): termasuk herba tahunan (annual), pohon selalu
hijau berdaun lebar, semak yang meranggas pada waktu kering, tumbuhan dengan umbi atau

5 |Analisis Vegetasi Herba


rhizome, tumbuhan selalu hijau berdaun jarum, rumput menahun (perennial), dan semak
kerdil (Soetjipta, 1994).

Suatu konsep sentral dalam ekologi adalah ekosistem (sistem ekologi yang terbentuk
oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Oleh karena itu
ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan
yang saling mempengaruhi. Berdasarkan pengertian di atas, suatu sistem terdiri dari
komponen komponen yang bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan. Ekosistem
terbentuk oleh komponen hidup (biotik) dan tak hidup (abiotik) yang berinteraksi membentuk
suatu kesatuan yang teratur. Keteraturan itu terjadi karena adanya arus materi dan energi,
yang terkendali oleh arus informasi antara komponen dalam ekosistem (Riberu, 2002).

Secara umum pola penyebaran tumbuhan di alam dapat dikelompokkan kedalam 3 pola,
yaitu acak (random), mengelompok (clumped), dan teratur (regular). Tiap-tiap jenis
tumbuhan tentunya mempunyai pola penyebaran yang berbeda-beda tergantung pada model
reproduksi dan lingkungan mikro. Untuk mengetahui skala perubahan-perubahan komponen
ekosistem di alam dapat dilakukan penelitian yang didalamnya terdapat parameter-parameter
yang diukur antara lain:nilai kerapatan (densitas), dominansi, frekuensi, Indeks Nilai Penting
(INP), dan Indeks Dominansi (ID). Berdasarkan parameter-parameter tersebut, maka dapat
diketahui pola penyebaran vegetasi herbal tersebut di alam (Nuri, 2010).

Hardjosuwarno (1990), mengemukakan sejumlah istilah yang kemudian berkaitan dengan


pembahasan tersebut di atas:

a. Frekuensi mutlak adalah frekuensi munculnya satu spesies dari seluruh frekuensi
totaltumbuhan. Frekuensi mutlak ini diperoleh dengan rumus jumlah frame yang
ditempatispesies A dibagi jumlah frame keseluruhan
b. Frekuensi relatif merupakan frekuensi satu spesies dalam
bentuk persentase darifrekuensi total tumbuhan. Jadi frekuensi relative disini
dinyatakan dalam satuan persen.Frekuensi relatif ini diperoleh dengan rumus
jumlah frekuensi mutlak spesies A dibagi jumlah keseluruhan frekuensi mutlak
dikali seratus persen

6 |Analisis Vegetasi Herba


c. Dominansi mutlak sering diartikan sebagai cover spesies tertentu pada suatu
daerah daritotal cover tumbuhan. Dominansi mutlak diperoleh dengan rumus yaitu
jumlah tusukanyang mengenai spesies A dibagi dengan jumlah total tusukan.
d. Dominansi relatif sering disinonimkan dengan cover relative yaitu dominansi
spesiestertentu dalam bentuk persentase pada suatu vegetasi dari total cover
tumbuhan.
e. Dominansi relatif diperoleh dengan rumus yaitu jumlah dominansi mutlak spesies
Adibagi jumlah keseluruhan DM.
f. Kerapatan Mutlak mempunyai pengertian yang sama dengan densitas
mutlak yaitu jumlah individu per satuan luas area. Jadi dalam hal ini kita berbicara
mengenaikepadatan suatu spesies dalam suatu vegetasi. Kerapatan mutlak
dperoleh denganrumus jumlah tusukan yang mengenai spesies A dibagi dengan
luas total area.6.
g. Kerapatan relatif mempunyai arti yang identik dengan densitas relatif yaitu
jumlahtumbuhan persatuan luas area yang dinyatakan dalam bentuk persentase
dari densitastotal tumbuhan. Jadi dalam hal ini kita berbicara mengenai kepadatan
suatu spesiesdalam suatu vegetasi yang dinyatakan dengan persen. Kerapatan
mutlak dperolehdengan rumus jumlah tusukan yang mengenai spesies A dibagi
dengan luas total area.

Menurut Riberu (2002), masing-masing komponen mempunyai fungsi (relung). Selama


masing-masing komponen tetap melakukan fungsinya dan bekerjasama dengan baik,
keteraturan ekosistem tetap terjaga. Apabila kita hanya melihat fungsinya, suatu ekosistem
terdiri atas dua komponen yaitu sebagai beriukut:

a) Komponen autotrofik: organisme yang mampu menyediakan atau mensintesis


makanannya sendiri berupa bahan organik dan bahan-bahan anorganik dengan
bantuan energi matahari atau klorofil. Oleh karena itu semua organisme yang
mengandung klorofil disebut organisme autotrofik.
b) Komponen heterotrofik: organisme yang mampu memanfaatkan bahan bahan organik
sebagai bahan makanannya. Bahan makanan itu disintesis dan disediakan oleh
organisme lain.

7 |Analisis Vegetasi Herba


Apabila dilihat dari segi penyusunannya, maka dapat dibedakan menjadi empat komponen
yaitu:

1. Bahan tak hidup (abiotik, non hayati): komponen fisik dan kimia, misalnya: tanah, air,
matahari, dan lain-lain. Komponen ini merupakan medium (substrat) untuk
berlangsungnya kehidupan.
2. Produsen: organisme autotrofik (tumbuhan hijau)
3. Konsumen: organisme heterotrofik, misalnya: manusia, hewan yang makan organisme
lainnya.
4. Pengurai (perombak atau dekomposer): organisme heterotrofik yang mengurai bahan
organik yang berasal dari organisme mati.

Suatu wilayah berukuran luas atau besar, vegetasinya terdiri atas beberapa bagian vegetasi
atau komunitas tumbuhan yang menonjol sehingga terdapat berbagai tipe vegetasi.Vegetasi
terbentuk oleh atau terdiri atas semua spesies tumbuhan dalam suatu wilayah dan
memperlihatkan pola distribusi menurut ruang dan waktu. Tipe-tipe vegetasi dicirikan oleh
bentuk pertumbuhan tumbuhan dominan tau paling besar atau paling melimpah dan
tumbuhan karakteristik (Harjosuwarno, 1990)

Habitat dan relung, dua istilah tentang kehidupan organisme. Habitat adalah tempat hidup
suatu organisme. Habitat suatu organisme dapat juga disebut “alamat”. Relung (niche atau
nicia) adalah profesi atau status suatu organisme dalam suatu komunitas dan ekosistem
tertentu, sebagai akibat adaptasi struktural, tanggal fisiologis serta perilaku spesifik
organisme itu. Penyesuaian diri secara umum disebut adaptasi. Kemampuan adaptasi
mempunyai nilai untuk kelangsungan hidup. Makin besar kemampuan adaptasi makin besar
kementakan kelangsungan hidup organisme (Riberu, 2002).

Kehadiran vegetasi pada suatu landscape akan memberikan dampak positif bagi
keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Secara umum peranan vegetasi dalam
suatu ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon dioksida dan oksigen dalam
udara, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah, pengaturan tata air tanah dan lain-lain.
Meskipun secara umum kehadiran vegetasi pada suatu area memberikan dampak positif,
tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh
pada daerah itu. Sebagai contoh vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi tanah,

8 |Analisis Vegetasi Herba


tetapi besarnya tergantung struktur dan komposisi tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi
daerah tersebut (Arrijani, dkk, 2006).

Menurut Latifah (2005), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah spesies di dalam
suatu daerah antara lain :

1. Iklim Fluktuasi iklim musiman merupakan faktor penting dalam membagi keragaman
spesies. Suhu maksimum yang ekstrim, persediaan air, dan sebagainya menimbulkan
kemacetan ekologis (bottleck) yang membatasi jumlah spesies yangdapat hidup secara
tetap di suatu daerah.
2. Keragaman Habitat Habitat dengan daerah yang beragam dapat menampung spesies
yangkeragamannya lebih besar di bandingkan habitat yang lebih seragam.
3. Ukuran Daerah yang luas dapat menampung lebih besar spesies dibandingkan
dengandaerah sempit. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa hubungan antara
luas dan keragaman spesies secara kasar adalah kuantitatif.

Hewan dan tumbuhan cenderung menunjukkan tingkat pertumbuhan yang lebih baik jika
faktor-faktor beragam bila dibandingkan dengan jika faktor-faktor tetap. Faktor-faktor yang
dipertimbangkan disini adalah faktor-faktor udara, tanah, organisme, dan beberapa faktor
stabil yang mempengaruhi ekosistem. Organisme lain dan beberapa faktor stabil yang lain
adalah kemiringan tanah, arah hadapan, ketinggian, lintang, letak, dan pH. Ini mempengaruhi
tanaman dan tumbuhan secara tidak langsung melalui pengaruh tersebut terhadap faktor tanah
dan udara (Odum, 1993).

Vegetasi dalam (komunitas) tanaman diberi nama atau digolongkan berdasarkan spesies
atau makhluk hidup yang dominan, habitat fisik atau kekhasan yang fungsional. Dalam
mempelajari vegetasi, pengamat melakukan penelitian. Unit penyusun vegetasi (komunitas)
adalah populasi. Oleh karena itu semua individu yang berada di tempat pengamatan
dilakukan dengan cara mengamati unit penyusun vegetasi yang luas secara tepat sangat sulit
dilakukan karena pertimbangan kompleksitas, luas area, waktu dan biaya. Sehingga
pelaksanaanya peneliti bekerja dengan melakukan pencuplikan (sampling) dalam
menganalisa vegetasi dapat berupa bidang (plot/kuadran) garis atau titik (Supriatno, 2001).

9 |Analisis Vegetasi Herba


Teknik sampling kuadrat merupakan suatu teknik survey vegetasi yang sering digunakan
dalam semua tipe komunitas tumbuhan, petak contoh yang dibuat dalamteknik sampling ini
bisa berupa petak tunggal atau beberapa petak. Petak tunggal mungkin akan memberikan
informasi yang baik bila komunitas vegetasi yang diteliti bersifat homogen. Adapun petak-
petak contoh yang dibuat dapat diletakkan secara random atau beraturan sesuai dengan
prinsip-prinsip teknik sampling. Bentuk petak contoh yang dibuat tergantung pada bentuk
morfologis vegetasi dan efisiensisampling pola penyebarannya. Sehubungan dengan efisiensi
sampling banyak studi yang dilakukan menunjukkan bahwa petak bentuk segi empat
memberikan datakomposisi vegetasi yang lebih akurat dibanding petak berbentuk lingkaran,
terutama bila sumbu panjang dari petak sejajar dengan arah perubahan keadaan lingkungan
atau habitat (Suwena, 2007).

Ada sejumlah cara untuk mendapatkan informasi tentang struktur dan komposisi
komunitas tumbuhan darat. Namun yang paling luas diterapkan adalah cara pencuplikan
dengan kuadrat atau plot berukuran baku. Cara pencuplikan kuadrat dapat digunakan pada
semua tipe komunitas tumbuhan dan juga untuk mempelajari komunitas hewan yang
menempati atau tidak berpindah.Rincian mengenai pencuplikan kuadrat meliputi ukuran,
cacah, dan susunan plot cuplikan harus ditentukan untuk membentuk komuniatas tertentu
yang dicuplik berdasarkan pada informasi yang diinginkan (Supriatno, 2001).

Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membentuk populasinya,
dimana sifat-sifatnya bila di analisa akan menolong dalam menentukan struktur komunitas.
Sifat-sifat individu ini dapat dibagi atas dua kelompok besar, dimana dalam analisanya akan
memberikan data yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Analisa kuantitatif meliputi:
distribusi tumbuhan (frekuensi), kerapatan (density), atau banyaknya (abudance). Dalam
pengambilan contoh kuadrat, terdapat empat sifat yang harus dipertimbangkan dan
diperhatikan, karena hal ini akan mempengaruhi data yang diperoleh dari sample. Keempat
sifat itu adalah (Odum, 1998):

1. Ukuran petak.
2. Bentuk petak.
3. Jumlah petak.
4. Cara meletakkan petak dilapangan
.

10 |Analisis Vegetasi Herba


Kurva spesies-area (bahasa Inggris: species-area curve, SAC), dalam ekologi,
adalah grafik yang menggambarkan hubungan antara jumlah jenis dengan ukuran kuadrat
(petak ukur). Grafik itu biasanya menunjukkan pola pertambahan jumlah jenis yang relative
tajam pada ukuran kuadrat kecil sampai pada suatu titik tertentu dan sesudah itu semakin
mendatar seiring dengan peningkatan ukuran kuadrat. SAC dapat digunakan untuk
menentukan luas kuadrat tunggal minimum yang mewakili suatu komunitas tumbuhan dari
segi jenis penyusun (Wikipedia, 2014).

Plot sampel yang permanen telah terbukti sangat bermanfaat untuk menginvetarisir
spesies tumbuhan dan memonitor dinamika hutan dalam suatu rentang waktu (Condit et al.
1996). Inventarisasi kuantitatif dengan menggunakan plot sampel permanen (PSP) juga telah
banyak diterapkan di hutan-hutan di Indonesia, akan tetapi sebagian merupakan informasi
yang sangat penting dalam perencanaan kegiatan manajemen dan restorasi kawasan hutan
(Sutomo, 2012).

Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar individu jenis yang
ada dalam contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup kecil agar individu yang ada
dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa duplikasi atau pengabaian. Karena titik berat
analisa vegetasi terletak pada komposisi jenis dan jika kita tidak bisa menentukan luas petak
contoh yang kita anggap dapat mewakili komunitas tersebut, maka dapat menggunakan
teknik Kurva Spesies Area (KSA). Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan:
(1) luas minimum suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur, (2) jumlah
minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang
mewakili jika menggunakan metode jalur (Andre, 2009).

Sistem analisis pada praktikum ini adalah dengan metode kuadrat: Keragaman spesies dapat
diambil untuk menanadai jumlah spesies dalam suatu daerah tertentu atau sebagai jumlah
spesies diantara jumlah total individu dari seluruh spesies yang ada. Hubungan ini dapat
dinyatakan secara numeric sebagai indeks keragaman atau indeks nilai penting. Jumlah
spesies dalam suatu komunitas adalah penting dari segi ekologi karena keragaman spesies
tampaknya bertambah bila komunitas menjadi makin stabil (Michael, 1995).

Keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk
menentukan indeks nilai penting dari penvusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis

11 |Analisis Vegetasi Herba


vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas
tumbuhan. Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi dikelompokkan ke
dalam 3 kategori yaitu (1) pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-
batas jenis dan membandingkan dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu
pengamatan berbeda; (2) menduga tentang keragaman jenis dalam suatu areal; dan (3)
melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan tertentu atau
beberapa faktor lingkungan (Irwanto, 2005).

Luas petak contoh mempunyai hubungan erat dengan keanekaragaman jenis yang
terdapat pada areal tersebut. Makin tinggi keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal
tersebut, maka makin luas petak contoh yang digunakan. Bentuk luas minimum dapat
berbentuk bujursangkar, empat persegi panjang dan dapat pula berbentuk lingkaran. Luas
petak contoh minimum yang mewakili vegetasi hasil luas minimum, akan dijadikan patokan
dalam analisis vegetasi dengan metode kuadrat (Sugianto, 1994).

Praktikum pembuatan kurva spesies area dilakukan untuk mengetahui luasan petak minimum
yang akan mewakili ekosistem yang ada di suatu hutan yaitu dengan cara membuat dan
mengamati suatu petak contoh yang kita buat yang mewakili suatu tegakan hutan. Besarnya
petak contoh yang kita amati ini tidak boleh terlalu besar ukurannya agar luas minimum dari
suatu ekosistem hutan dapat terpenuhi. Pada praktikum ini, ukuran petak pertama yang kita
amati menggunakan luas 1m x 1m (Kusuma dan Istomo, 1995).

12 |Analisis Vegetasi Herba


BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Hari / Tanggal : Minggu, 16 Desember 2018

Pukul : 07.30 s/d 10.30 WIB

Tempat : Lahan di samping gedung baru Unsika

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah tali rafia, meteran, gunting, solatip, alat tulis, dan kamera/
HP

Sedangkan untuk bahan-bahannya cukup ranting dan tanaman-tanaman herba yang


terdapat di lahan.

Untuk lebih jelasnya, beberapa peralatan yang digunakan disajikan pada gambar 1
hingga 4

Gambar 1. Meteran

13 |Analisis Vegetasi Herba


Gambar 2. Tali Rafia

Gambar 3. Gunting

Gambar 4. Kamera

3.3 Cara Kerja

 Siapkan alat dan bahan untuk kegiatan praktikum


 Menentukan lahan atau lokasi yang akan digunakan untuk menganalisis vegetasi
tumbuhan.
 Membuat plot ukuran 1m x 1m dengan cara menarik tali sepanjang 1 m hingga
membentuk lahan kecil pada tempat yang telah ditentukan.
 Mengidentifikasi menganalisis spesies yang berada pada lahan tersebut (1 m x 1
m).
 Mencatat dan memfoto spesies apa yang ditemukan.
 Lakukan hal yang sama untuk membuat 3 petak yang lain

14 |Analisis Vegetasi Herba


Gambar 5. Petak 1 Gambar 6. Petak 2

Gambar 7. Petak 3 Gambar 8. Petak 4

 Melakukan perhitungan INP setiap jenisnya, berikut tahap-tahapnya :


a. Cover Mutlak (CM) jenis i = jumlah cover jenis i / luas plot
Cover Relatif (CR) jenis i = (CMi / CM seluruh jenis) x 100%
b. Frekuensi Mutlak (FM) jenis i = Jumlah plot yang terdapat jenis i / jumlah
seluruh plot
Frekuensi Relatif (FR) jenis i = (FMi / FM seluruh jenis) x 100 %
c. INP jenis i = CR jenis i + FR jenis i
d. Indeks Keanekaragaman Jenis

H* = - pi In pi Pi = ni/N

Keterangan :

INP : Indeks Nilai Penting

Ni : Jumlah total jenis i

N : Jumlah cover total seluruh jenis

15 |Analisis Vegetasi Herba


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabel Hasil Pengamatan

Tabel 1. Hasil Pengamatan Vegetasi

No. Jenis Vegetasi Nama Latin Jumlah Keterangan


1 Rumput teki Cyperus rotundus L. 78 Pada petak 1,2,3, dan 4
2 Alang-alang Imperata cylindrica 5 Pada petak 1
3 Rumput mutiara Hedyotis corymbosa L. 15 Pada petak 2 dan 3
4 Rumput krokot Portulaca oleracea 10 Pada petak 2
5 Anting-anting Acalypha indica. L 1 Pada petak 4

Tabel 2. Hasil Penghitungan terhadap Dominasi, Frekuensi, INP, dan Keanekaragaman


Hayati

NO Jenis Vegetasi CM CR FM FR INP H*


1. Rumput Teki (Cyperus 19,5 80,4% 1 44,4% 122%
rotundus L.)
2. Alang-alang (Imperata 1,25 5,1% 0,25 11% 16,1%
cylindrica)
3. Rumput mutiara (Hedyotis 3,75 15,4% 0,5 22% 37,4% 0,92
corymbosa L.)
4. Rumput Krokot (Portulaca 2,5 10% 0,25 11% 21%
oleracea)
5. Anting anting (Acalypha 0,25 1% 0,25 11% 12%
indica. L)
JUMLAH 24,25 111,9% 2,25 99,4% 208,5

 Perhitungan Hasil
a) Rumput Teki (Cyperus rotundus L.) [ Jumlah : 78 ]
Jumlah cover jenis 78
a. CM = = = 19,5
luas total plot 4

16 |Analisis Vegetasi Herba


CM 19,5
b. CR = x 100%= x 100% = 0,804 x 100% =
CM seluruh jenis 24.25

80,4 %
jml plot jenis i 4
c. FM = = =1
jml seluruh plot 4
FMi 1
d. FR = x 100% = x 100% = 44 %
FM seluruh jenis 2,25

e. INP = (R jenis i + FR jenis i) = 80,4% + 44% = 122%


ni 78
f. Pi = = = 0,7
N 109

b) Alang-alang (Imperata cylindrica) [ Jumlah : 5 ]


Jumlah cover jenis 5
a. CM = = = 1,25
luas total plot 4
CM 1,25
b. CR = x 100%= x 100% = 0,051 x 100% =
CM seluruh jenis 24.25

5,1 %
jml plot jenis i 1
c. FM = = = 0,25
jml seluruh plot 4
FMi 0,25
d. FR = x 100% = x 100% = 11 %
FM seluruh jenis 2,25

e. INP = (R jenis i + FR jenis i) = 5,1% + 11% = 16,1%


ni 5
f. Pi = = = 0,045
N 109

c) Rumput mutiara (Hedyotis corymbosa L.) [ Jumlah : 15 ]


Jumlah cover jenis 15
a. CM = = = 3,75
luas total plot 4
CM 3,75
b. CR = x 100%= x 100% = 0,051 x 100% =
CM seluruh jenis 24.25

15,4%
jml plot jenis i 2
c. FM = = = 0,5
jml seluruh plot 4
FMi 0,5
d. FR = x 100% = x 100% = 22 %
FM seluruh jenis 2,25

e. INP = (R jenis i + FR jenis i) = 15,4% + 22% = 37,4%


ni 15
f. Pi = = = 0,137
N 109

17 |Analisis Vegetasi Herba


d) Rumput Krokot (Portulaca) [ Jumlah : 10 ]
Jumlah cover jenis 10
a. CM = = = 2,5
luas total plot 4
CM 2,5
b. CR = x 100%= x 100% = 0,10 x 100% = 10%
CM seluruh jenis 24.25
jml plot jenis i 1
c. FM = = = 0,25
jml seluruh plot 4
FMi 0,25
d. FR = x 100% = x 100% = 11 %
FM seluruh jenis 2,25

e. INP = (R jenis i + FR jenis i) = 10% + 11% = 21%


ni 10
f. Pi = = = 0,091
N 109

e) Anting anting (Acalypha indica. L) [Jumlah : 1 ]


Jumlah cover jenis 1
a. CM = = = 0,25
luas total plot 4
CM 0,25
b. CR = x 100%= x 100% = 0,01 x 100% = 1%
CM seluruh jenis 24.25
jml plot jenis i 1
c. FM = = = 0,25
jml seluruh plot 4
FMi 0,25
d. FR = x 100% = x 100% = 11 %
FM seluruh jenis 2,25

e. INP = (R jenis i + FR jenis i) = 1% + 11% = 12%


ni 1
f. Pi = = = 0,0091
N 109

H* = - pi In pi = - ( 0,7 In 0,7 + 0,137 In 0,137 + 0,045 In 0,045 + 0,091 In 0,091 +


0,0091 In 0,0091)

= - (-0,249) + (-0,272) + (-0,139) + (-0,218) + (-0,042)

= - (-0,92)

= 0,92

4.2 Pembahasan

Dari hasil pengamatan yang diperoleh dapat diketahui bahwa pada plot 1m×1m terdiri
dari 5 jenis tumbuhan yaitu :

18 |Analisis Vegetasi Herba


a. Rumput Teki (Cyperus rotundus L.)
Rumput teki adalah rumput liar yang tumbuh di tempat terbuka, sering dianggap
sebagai gulma dan sering tumbuh di pinggir jalan, tegalan, lapangan rumput atau
lahan pertanian
 Klasifikasi

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionto

Super Divisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Sub Kelas : Commelinidae

Ordo : Cyperales

Famili : Cyperaceae

Genus : Cyperus

Spesies : Cyperus rotundus L

b. Alang-alang (Imperata cylindrica)


Rumput berdaun tajam yang tumbuh di lahan pertanian, dan di tepi jalan. Bagi
petani alang-alang sangat merugikan karena dapat menurunkan hasil akibat dari
persaingan dengan tanaman budidaya dalam menyerap nitrisi. Alang-alang sangat
sulit untuk di kendalikan karena berkembang biaknya sangat cepat dan mudah.
Bunga yang mengandung biji matang berbulu dan ringan sehingga mudah
menyebar kearea lainnya dan berkembang biak menjadi tumbuhan pengganggu.
 Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Imperata
Spesies : Imperata cylindrica

19 |Analisis Vegetasi Herba


c. Rumput Mutiara (Hedyotis corymbosa L)
Tanaman rumput liar yang termasuk ke dalam famili Rubiaceae dan dikenal
dengan nama daerah rumput siku-siku, daun mutiara, lidah ular, atau
katepan. Rumput ini tumbuh subur di tanah yang lembap, di kebun kosong yang
basah, halaman rumah, pinggir jalan, dan selokan. Rumput mutiara terkenal
sebagai tanaman obat yang dimanfaatkan di Cina, India dan wilayah Asia
Tenggara untuk mengobati berbagai jenis penyakit

 Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Rubiales
Famili : Rubiaceae
Genus : Hedyotis
Spesies : Hedyotis corymbosa L.

d. Daun Krokot (Portulaca oleracea)


Genus dari tanaman dari suku Portulacaceae. Terdapat sekitar 40-100 spesies yang
ditemukan di daerah tropis dan daerah bermusim empat.
Salah satu spesies yaitu Portulaca oleracea dikenal sebagai tanaman yang dapat
dimakan dan dikenal di beberapa daerah sebagai tanaman hama. Beberapa spesies
Portulaca juga menjadi makanan bagi ulat ngengat dan kupu-kupu.
 Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio (Pembagian) : Magnoliophyta
Class (Kelas) : Magnoliopsida
Ordo (Bangsa) : Caryophyllales
Familia (Suku) : Portulacaceae
Genus (Marga) : Portulaca
Species (Jenis) : Portulaca oleracea L.

20 |Analisis Vegetasi Herba


e. Anting anting (Acalypha indica. L)
Salah satu jenis tanaman obat herbal ataupun tradisional. Tanaman anting-anting
dibeberapa daerah, terutamnya di Indonesia dikenal Cekamas, Lelatang, Kucing-
kucingan, Rumput kekosongan, Rumput bolong-bolong, Wonggole dan
sebagainya, sedangkan di Cina dikenal dengan sebutan Tie xian.
 Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Subkingdom : Trachebionta
Super divisi : Spematophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Acalypha
Spesies : Acalypha australis

Frekuensi terbesar ditemukan pada vegetasi spesies Rumput teki sebesar 44% dari 4
plot yang diamati. Jenis ini merupakan jenis yang nilai kerapatan dan frekuensinya
tertinggi sehingga dapat dianggap sebagai jenis yang rapat serta tersebar luas pada
hampir seluruh lokasi pengamatan. Kedua nilai ini penting artinya dalam analisis
vegetasi karena saling terkait satu dengan yang lainnya.

Dominansi pada setiap vegetasi yang ditemukan terbesar pada spesies rumput teki
sebesar 80,4% dan spesies rumput mutiara sebesar 15,4%, sementara dominasi terendah
terdapat pada vegetasi jenis spesies rumput krokot (10%) , spesies alang-alang (5,1%)
dan spesies anting-anting (1%).

Indeks Nilai Penting merupakan hasil penjumlahan nilai relatif ketiga parameter
(kerapatan, frekuensi dan dominasi) yang telah diukur sebelumnya, sehingga nilainya
juga bervariasi. Nilai INP tertinggi ditemukan pada jenis spesies rumput teki sebesar
122%. Besarnya indeks nilai penting menunjukkan peranan jenis yang bersangkutan
dalam komunitasnya atau pada lokasi penelitian. Sehinga dari pengamatan yang telah

21 |Analisis Vegetasi Herba


dilakukan diperoleh hasil bahwa vegetasi dominan yang tersebar pada Lahan di
samping gedung baru Unsika adalah dari spesies rumput teki.

22 |Analisis Vegetasi Herba


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari percobaan analisis vegetasi yang telah dilkukan diperoleh kesimpulan sebagai
berikut:

 Terdapat 5 jenis vegetasi dari 4 plot area pada Lahan di samping gedung baru
Unsika, setiap jenis vegetasi memiliki kerapatan, frekuensi, dominansi dan INP
yang berbeda-beda
 Kerapatan vegetasi tertinggi terdapat pada Spesies rumput teki sebesar 19,5
 Frekuensi vegetasi tertinggi terdapat pada Spesies rumput teki sebesar 44,4%
 Dominansi vegetasi tertinggi terdapat pada Spesies rumput teki sebesar 80,4%
 INP vegetasi tertinggi terdapat pada Spesies rumput teki sebesar 122%
 Analisis Vegetasi dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pesatnya
penyebaran suatu spesies pada suatu area pangamatan/penelitian. Sehingga dapat
diketahui kerapatan, frekuensi, dominansi, dan INP dari spesies itu sendiri.

5.2 Saran

1. Pada praktikum Ekologi Tumbuhan selanjutnya sebaiknya praktikan membawa


buku identifikasi tumbuhan/kunci determinasi sehingga tumbuhan yang
ditemukan pada plot dapat dengan mudah diidentifikasi
2. Memilih lokasi praktikum yang lebih strategis agar diperoleh hasil data yang
lebih bagus.

23 |Analisis Vegetasi Herba


DAFTAR PUSTAKA

 Andre. M. 2009. Apa dan Bagaimana Mempelajari Analisa Vegetasi.


http://boymarpaung.wordpress.com. Makassar: Diakses tanggal: 23 Desember 2018.
 Marsono, D. 1977. Deskripsi Vegetasi dan Tipe-tipe Vegetasi Tropika. Fakultas
Kehutanan UGM: Yogyakarta.
 Campbell, Neil.A, Mitchell, Ritche. 2004. Biologi Jilid 4. Erlangga: Jakarta.
 Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara: Bandar Lampung.
 Riberu, Paskalis. 2002. Pembelajaran ekologi. Jurnal pendidikan penabur. No 1/Th. I.
Universitas Negeri Jakarta: Jakarta
 Natassa, dkk. 2010. Analisa Vegetasi dengan Metode Kuadran.
http://riyantilathyris.wordpress.com/2010/11/26/laporan-analisis-vegetasi/. Bekasi:
Diakses tanggal : 23 Desember 2018.
 Odum, E . P. 1972. Fundamentals of Ecology. W. B. Saunder Company Philadelphia.
London Toronto.
 Nuri. 2010. Analisis Vegetasi Herba. http://nurichem.blogspot.com/2010/03/analisis-
vegetasi-herba.html. Bekasi: Diakses tanggal: 23 Desember 2018.
 Soetjipta.1994. Dasar-Dasar Ekologi Hewan. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Dan
Peningkatan Mutu Tenaga Pendidikan. Yogyakarta.
 Arrijani, dkk. 2006. Analisis Vegetasi Hulu DAS Cianjur Taman Nasional Gunung
Gede Pangrango. Biodiversitas. Volume 7, Nomor 2, Hal 147-153. Jurusan Biologi
FMIPA Universitas Negeri Manado: Bandar Lampung
 Harjosuwarno, S. 1990. Dasar-dasar Ekologi Tumbuhan. Fakultas Biologi UGM:
Yogyakarta
 Latifah, S. 2005. Analisis Vegetasi Hutan Alam. USU Reository: Sumatera Utara
 Supriatno, B. 2001. Pengantar Praktikum Ekologi Tumbuhan. FMIPA Universitas
Pendidikan Indonesia: Bandung.
 Kusuma dan Istomo. 1995. Ekologi Hutan. Fahutan IPB: Bogor
 Michael, P.1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan
Laboratorium. UI Press: Jakarta.
 Sutomo, dkk. 2012. Studi Awal Komposisi dan Dinamik Vegetasi Pohon Hutan
Gunung Pohen Cagar Alam Batu Gahu Bali. Jurnal Bumi Lestari, Volume. 12. No.
UPT-BKT Kebun Raya “Eka Kaya”: Bali.

v |Analisis Vegetasi Herba


 Wikipedia. 2014. http://id.wikipedia.org/wiki/kurvaspesies. Bekasi: Diakses tanggal :
23 desember 2018..
 Harjosuwarno, S. 1990. Dasar-dasar Ekologi Tumbuhan. Fakultas Biologi UGM :
Yogyakarta
 Nur, R. 2014. Kurva Spesies Area.
https://rahayunur458.wordpress.com/2014/12/24/laporan-ekologi-tumbuhan-analisis-
vegetasi/. Bekasi: Diakses tanggal: 23 Desember 2018.

vi |Analisis Vegetasi Herba


LAMPIRAN
No. Jenis Vegetasi Gambar
1. Rumput Teki (Cyperus rotundus L.)

2. Alang-alang (Imperata cylindrica)

3. Rumput mutiara (Hedyotis corymbosa


L.)

4. Rumput Krokot (Portulaca oleracea)

vii |Analisis Vegetasi Herba


5. Anting anting (Acalypha indica. L)

Foto-foto Kegiatan

viii |Analisis Vegetasi Herba


Foto bukti ACC

ix |Analisis Vegetasi Herba