Anda di halaman 1dari 112

PERENCANAAN GEDUNG KULIAH 3 LANTAI

UNIVERSITAS PROF.DR. HAZAIRIN, SH BENGKULU

LAPORAN PERHITUNGAN STRUKTUR


GEDUNG KULIAH 3 LANTAI
UNIHAZ BENGKULU
2018
KATA PENGANTAR

Laporan ini merupakan laporan perhitungan struktur pada pekerjaan Perencanaan


Gedung Kuliah 3 Lantai di Bengkulu. Secara umum dalam laporan ini disajikan
perhitungan desain struktur gedung kuliah 3 lantai dengan menggunakan sistem
struktur berupa Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) yang dikerjakan
berdasarkan peraturan dan standar perencanaan yang berlaku di Indonesia.
Berkaitan dengan hal tersebut, dalam laporan ini disajikan beberapa detail hitungan
dan data teknis mengenai peraturan dan standar perencanaan yang digunakan,
spesifikasi material struktur, analisis beban rencana, dan hitungan desain elemen
struktur. Selanjutnya hasil desain tersebut disajikan secara lengkap dalam gambar
struktur.
Ucapan terima kasih kami sampaikan atas kepercayaan yang telah diberikan
kepada kami untuk melaksanakan pekerjaan ini. Tidak lupa kami ucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah bekerja sama dan terlibat dalam pelaksanaan
pekerjaan ini.
Demikian laporan perhitungan struktur ini kami susun, semoga dapat digunakan
sebagaimana mestinya.

Bengkulu, 2018

Tim Perencana Struktur

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | i


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................. i


DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
A. Deskripsi Umum Pekerjaan................................................................................ 1
B. Peraturan dan Standar Perencanaan ................................................................ 1
C. Properti Material Struktur ................................................................................... 1
D. Beban Rencana ................................................................................................. 2
E. Kombinasi Beban Rencana.............................................................................. 29
F. Pemodelan Struktur ......................................................................................... 31
G. Input Beban Pada Model Struktur .................................................................... 32
H. Analisis dan Desain Struktur ............................................................................ 34
I. Desain Pelat Lantai .............................................. Error! Bookmark not defined.
J. Desain Balok ....................................................... Error! Bookmark not defined.
K. Desain Kolom...................................................... Error! Bookmark not defined.
L. Desain Fondasi ................................................... Error! Bookmark not defined.

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | ii


A. Deskripsi Umum Pekerjaan

Pada pekerjaan perencanaan Gedung Kuliah 3 Lantai khususnya untuk komponen


pekerjaan struktur terdiri dari desain struktur pelat, balok, kolom, dan fondasi.
Struktur atas pada Gedung Kuliah 3 Lantai ini menggunakan sistem struktur
SRMPK (Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus). Material beton bertulang dipilih
untuk digunakan pada struktur pelat, balok, dan kolom serta baja konvensional
dipilih untuk digunakan pada struktur atap. Struktur bawah pada Gedung Kuliah 3
Lantai ini menggunakan fondasi telapak menerus (continuous footing).

B. Peraturan dan Standar Perencanaan

Beberapa peraturan dan standar perencanaan yang digunakan dalam pekerjaan ini
adalah sebagai berikut:
1. Beban Minimum untuk Perancangan Bangunan Gedung dan Struktur Lain
(SNI 1727:2013)
2. Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung
(SNI 1726:2012)
3. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung
(SNI 2847:2013)
4. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung
(SNI 1729:2015)

C. Properti Material Struktur

Spesifikasi material yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut:
1. Beton
 Kuat tekan beton pada umur 28 hari, fc’ = 25 MPa (struktur atas)
 Modulus elastisitas beton, Ec = 4700  fc’ = 21019 MPa
 Kuat tekan beton pada umur 28 hari, fc’ = 25 MPa (struktur bawah)
 Modulus elastisitas beton, Ec = 4700  fc’ = 21019 MPa
2. Baja tulangan
 Baja tulangan dengan D > 12 mm, digunakan baja tulangan ulir (deform)
dengan tegangan leleh, fy = 390 MPa
 Baja tulangan dengan D ≤ 12 mm, digunakan baja tulangan polos dengan
tegangan leleh, fy = 235 MPa
 Modulus elastisitas baja, Es = 200.000 MPa

3. Baja profil
 Baja profil yang digunakan adalah BJ 37 dengan tegangan leleh, fy = 240
MPa dan tegangan ultimit, fu = 370 MPa
 Modulus elastisitas baja, Es = 200.000 MPa

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 1


D. Beban Rencana

Beban rencana yang dipertimbangkan bekerja pada struktur selama umur rencana
gedung adalah sebagai berikut:
1. Beban Gravitasi
Beban gravitasi ditetapkan berdasakan SNI 1727:2013 Beban Minimum untuk
Perancangan Bangunan Gedung dan Struktur Lain. Beban gravitasi dalam
pekerjaan desain struktur ini meliputi berat sendiri struktur/dead load (DL), beban
mati tambahan/additional dead load (ADL), dan beban hidup/live load (LL). Beban-
beban tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a. Berat Sendiri Struktur (DL)
Berat sendiri struktur/dead load adalah berat dari masing-masing elemen
struktur berupa pelat lantai, balok, kolom, dinding geser, dll yang menjadi
bagian dari struktur. Dalam pemodelan struktur dengan menggunakan
software, berat sendiri struktur akan dihitung otomatis oleh software
berdasarkan data berat jenis material dan dimensi elemen struktur yang
diinputkan dalam software tersebut.
b. Beban Mati Tambahan (ADL)
Beban mati tambahan/additional dead load adalah beban mati tambahan akibat
penggunaan komponen non-struktural (arsitektural dan MEP) yang melekat dan
membebani struktur utama bangunan. Beban mati tambahan tersebut
dijelaskan sebagi berikut:
1. Beban Mati Tambahan Pada Pelat Lantai
 Pasir (tebal 5 cm) = 0,05 x 16 kN/m3 = 0,80 kN/m2
 Spesi (tebal 3 cm) = 0,03 x 22 kN/m3 = 0,66 kN/m2
 Keramik (tebal 1 cm) = 0,01 x 24 kN/m3 = 0,24 kN/m2
 Plafon dan penggantung = 0,20 kN/m2
 Instalasi MEP = 0,25 kN/m2
Total Beban Mati Tambahan = 2,15 kN/m2
2. Beban Mati Tambahan Pada Balok
 Dinding (tinggi efektif 3,5 m) = 3,5 x 2,50 kN/m2 = 8,75 kN/m
3. Beban Mati Tambahan Struktur Atap
 Struktur Atap = 1.50 kN
c. Beban Hidup (LL)
Beban hidup/live load adalah beban yang bekerja akibat penggunaan struktur
bangunan. Beban hidup tersebut dapat berasal dari orang/barang yang dapat
berpindah tempat. Beban hidup ditetapkan berdasarkan SNI 1727:2013 yaitu
sebagai berikut:
 Ruang kuliah = 4,79 kN/m2

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 2


 Koridor lantai pertama = 4,79 kN/m2
 Koridor di atas lantai pertama = 3,83 kN/m2
 Cafetaria (pada area roof top) = 4,79 kN/m2
 Atap beton = 0,96 kN/m2
2. Beban Gempa
Beban gempa ditetapkan berdasarkan SNI 1726:2012 Standar Perencanaan
Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung. Langkah-langkah
perhitungan beban gempa rencana disajikan sebagai berikut:
a. Menentukan kategori risiko bangunan (I-IV)
Kategori risiko bangunan ditentukan berdasarkan fungsi operasional/jenis
pemanfaatan dari suatu bangunan. Dalam SNI 1726:2012, kategori risiko bangunan
dibedakan menjadi 4 jenis yaitu kategori risiko I, II, III, dan IV (lihat Tabel 1). Dalam
pekerjaan ini, struktur gedung termasuk dalam kategori gedung sekolah dan fasilitas
pendidikan sehingga ditetapkan sebagai kategori risiko bangunan IV.
Tabel 1. Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung

Kategori
Jenis Pemanfaatan
Risiko
Gedung dan non gedung yang memiliki risiko rendah terhadap jiwa manusia
pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk, antara lain:
 Fasilitas pertanian, perkebunan, perternakan, dan perikanan
I
 Fasilitas sementara
 Gudang penyiMPanan
Rumah jaga dan struktur kecil lainnya
Semua gedung dan struktur lain, kecuali yang termasuk dalam kategori risiko
I,III,IV, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
 Perumahan
 Rumah toko dan rumah kantor
 Pasar II
 Gedung perkantoran
 Gedung apartemen/ rumah susun
 Pusat perbelanjaan/ mall
Bangunan industri
Gedung dan non gedung yang memiliki risiko tinggi terhadap jiwa manusia pada
saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
 Bioskop
 Gedung pertemuan
 Stadion
 Fasilitas kesehatan yang tidak memiliki unit bedah dan unit gawat
darurat III
 Fasilitas penitipan anak
 Penjara
 Bangunan untuk orang jompo
Gedung dan non gedung, tidak termasuk kedalam kategori risiko IV, yang
memiliki potensi untuk menyebabkan daMPak ekonomi yang besar dan/atau
gangguan massal terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari bila terjadi

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 3


kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
 Pusat pembangkit listrik biasa
 Fasilitas penanganan air
 Fasilitas penanganan limbah
 Pusat telekomunikasi
Gedung dan non gedung yang tidak termasuk dalam kategori risiko IV,
(termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk fasilitas manufaktur, proses, penanganan,
penyiMPanan, penggunaan atau teMPat pembuangan bahan bakar berbahaya,
bahan kimia berbahaya, limbah berbahaya, atau bahan yang mudah meledak)
yang mengandung bahan beracun atau peledak di mana jumlah kandungan
bahannya melebihi nilai batas yang disyaratkan oleh instansi yang berwenang
dan cukup menimbulkan bahaya bagi masyarakat jika terjadi kebocoran.
Gedung dan non gedung yang ditunjukkan sebagai fasilitas yang penting,
termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk:
 Bangunan-bangunan monumental
 Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan
 Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang memiliki fasilitas
bedah dan unit gawat darurat
 Fasilitas pemadam kebakaran, ambulans, dan kantor polisi, serta
garasi kendaraan darurat
 TeMPat perlindungan terhadap gempa bumi, angin badai, dan teMPat
perlindungan darurat lainnya
IV
 Fasilitas kesiapan darurat, komunikasi, pusat operasi dan fasilitas
lainnya untuk tanggap darurat
 Pusat pembangkit energi dan fasilitas publik lainnya yang dibutuhkan
pada saat keadaan darurat
 Struktur tambahan (termasuk menara telekomunikasi, tangki
penyiMPanan bahan bakar, menara pendingin, struktur stasiun listrik,
tangki air pemadam kebakaran atau struktur rumah atau struktur
pendukung air atau material atau peralatan pemadam kebakaran )
yang disyaratkan untuk beroperasi pada saat keadaan darurat

Sumber: SNI 1726:2012

b. Menentukan faktor keutamaan gempa (Ie)


Faktor keutamaan gempa ditentukan berdasarkan kategori risiko bangunan.
Dalam Tabel 2 disajikan faktor keutamaan gempa (Ie) sesuai dengan SNI
1726:2012. Dalam pekerjaan ini, struktur gedung termasuk dalam kategori
risiko bangunan IV sehingga faktor keutamaan gempa (Ie) ditetapkan sebesar
1,50.
Tabel 1. Faktor keutamaan gempa (Ie)

Faktor Keutamaan
Kategori Risiko
Gempa (Ie)
I atau II 1,00
III 1,25
IV 1,50
Sumber: SNI 1726:2012

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 4


c. Menentukan parameter percepatan tanah (Ss dan S1)
Parameter percepatan tanah (Ss dan S1) dipengaruhi oleh properti tanah pada
lokasi proyek. Nilai Ss dan S1 digunakan untuk menentukan respons spektral
percepatan gempa MCER di permukaan tanah, dimana Ss dan S1 berturut-turut
merupakan parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan
untuk periode pendek dan periode 1,0 detik. Dalam Gambar 1 dan 2 berturut-
turut disajikan nilai Ss dan S1 untuk gempa maksimum yang dipertimbangkan
risiko-tertarget (MCER) pada batuan dasar. Dalam pekerjaan ini, lokasi
bangunan berada di Kota Surakarta sehingga digunakan nilai Ss = 1,130 g dan
S1 = 0,509 g.

Gambar 1. Ss, gempa maksimum yang dipertimbangkan risiko-tertarget (MCER)


pada batuan dasar untuk periode pendek (0,2 detik) (Sumber: SNI 1726:2012)

Gambar 2. S1 gempa maksimum yang dipertimbangkan risiko tertarget (MCER)


pada batuan dasar untuk periode 1 detik (Sumber: SNI 1726:2012)

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 5


d. Menentukan klasifikasi situs (SA - SF)
Karakteristik lokasi proyek khususnya yang berhubungan dengan aspek
geoteknik harus diidentifikasi dengan baik dalam proses perencanaan melalui
kegiatan penyelidikan lokasi proyek (site investigation). Kegiatan penyelidikan
lokasi proyek ini dapat berupa penyelidikan tanah di lapangan dan di
laboratorium. Selanjutnya hasil dari penyelidikan lokasi proyek tersebut akan
digunakan sebagai dasar dalam penentuan klasifikasi situs. Dalam SNI
1726:2012 klasifikasi situs dibedakan menjadi 6 jenis yaitu SA (batuan keras),
SB (batuan), SC (tanah keras), SD (tanah sedang), SE (tanah lunak), dan SF
(tanah khusus) (lihat Tabel 3).

Tabel 2. Klasifkasi Situs

Kelas situs atau


(m/detik) (kPa)
SA (batuan keras) >1500 N/A N/A
SB (batuan) 750 s/d 1500 N/A N/A
SC (tanah keras, 350 s/d 750 >50 ≥100
sangat padat dan
batuan lunak)
SD (tanah sedang) 175 s/d 350 15 s/d 50 50 s/d 100
SE (tanah lunak) <175 <15 <50
Atau setiap profil tanah yang mengandung lebih dari 3 m
tanah dengan karakteristik sebagai berikut:
1. Indeks plastisitas, PI > 20
2. Kadar air, w ≥ 40%
3. Kuat geser niralir, su < 25 kPa
SF (tanah khusus, Setiap profil lapisan tanah yang memiliki salah satu atau
yang membutuhkan lebih dari karakteristik berikut:
investigasi geoteknik 1. Rawan dan berpotensi gagal atau runtuh akibat beban
spesifik dan analisis gempa seperti mudah likuifaksi, lempung sangat
respons spesifik-situs sensitif, tanah tersementasi lemah
yang mengikuti Pasal 2. Lempung sangat organik dan/atau gambut (ketebalan
6.10.1) H > 3 m)
3. Lempung berplastisitas sangat tinggi (ketebalan H >
7,5 m dengan Indeks Plastisitas, PI > 75)
4. Lapisan lempung lunak/setengah teguh dengan
ketebalan H > 35 m dengan su < 50 kPa
Catatan: N/A = tidak dapat dipakai
Sumber: SNI 1726:2012)

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 6


Berdasarkan hasil penyelidikan tanah yang dilakukan di lapangan, site proyek
termasuk dalam klasifikasi situs SD (tanah sedang).

e. Menentukan koefisien situs (Fa dan Fv)


Untuk menentukan respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan di
permukaan tanah, diperlukan faktor amplifikasi pada periode 0,2 detik (Fa) dan
1 detik (Fv). Faktor amplifikasi tersebut ditentukan berdasarkan kelas situs dan
parameter percepatan tanah. Faktor amplifikasi pada periode 0,2 detik (Fa)
ditentukan oleh kelas situs dan parameter respons spektral percepatan gempa
MCER terpetakan untuk periode 0,2 detik (Ss). Sedangkan faktor amplifikasi
pada periode 1 detik (Fv) ditentukan oleh kelas situs dan parameter respons
spektral percepatan gempa MCER terpetakan untuk periode 1 detik (S1).
Penentuan koefisien situs (Fa dan Fv) didasarkan pada Tabel 4 Dan 5.

Tabel 3. Koefisien situs, Fa


Parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan
Kelas Situs pada periode pendek, T = 0,2 detik (Ss)
Ss ≤ 0,25 Ss = 0,5 Ss = 0,75 Ss = 1,0 Ss ≥ 1,25
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
SC 1,2 1,2 1,1 1,0 1,0
SD 1,6 1,4 1,2 1,1 1,0
SE 2,5 1,7 1,2 0,9 0,9
SF SSb
Sumber: SNI 1726:2012
Catatan:
(a) Untuk nilai-nilai antara Ss, dapat dilakukan interpolasi linier
(b) SS = situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons situs-
spesifik, lihat Pasal 6.10.1

Tabel 4. Koefisien situs, Fv


Parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan
Kelas Situs pada periode pendek, T = 0,2 detik (Ss)
S1 ≤ 0,25 S1 = 0,5 S1 = 0,75 S1 = 1,0 S1 ≥ 1,25
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
SC 1,7 1,6 1,5 1,4 1,3
SD 2,4 2,0 1,8 1,6 1,5
SE 3,5 3,2 2,8 2,4 2,4
SF SSb
Sumber: SNI 1726:2012
Catatan:
(a) Untuk nilai-nilai antara S1, dapat dilakukan interpolasi linier
(b) SS = situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons situs-
spesifik, lihat Pasal 6.10.1

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 7


Berdasarkan Tabel 4 dan Tabel 5, untuk kelas situs SD (tanah sedang)
didapatkan nilai Fa dan Fv berturut-turut 1,048 dan 1,500. Selanjutnya nilai Fa
dan Fv tersebut digunakan untuk menentukan parameter spektrum respons
percepatan pada periode pendek (SMS) dan periode 1 detik (SM1) yang dapat
dihitung menggunakan persamaan berikut:
SMS = Fa x Ss = 1,184 g
SM1 = Fv x S1 = 0,764 g

f. Menghitung parameter percepatan desain (SDS dan SD1)


Pada langkah sebelumnya sudah didapatkan nilai SMS dan SM1. Selanjutnya
berdasarkan nilai SMS dan SM1 tersebut, parameter percepatan spektral desain
untuk periode pendek 0,2 detik (SDS) dan periode 1 detik (SD1) perlu ditetapkan
untuk menyusun kurva respons spektra. Nilai SDS dan SD1 dihitung
menggunakan persamaan berikut:
SDS = 2/3 x SMS = 0,789 g
SD1 = 2/3 x SM1 = 0,509 g

g. Menyusun kurva respons spektra desain


Berdasarkan parameter respons spektra yang dihitung pada tahap sebelumnya,
kurva repons spektra desain dapat disusun sebagai berikut (lihat Tabel 6 dan
Gambar 3):

Gambar 3. Kurva respons spektra desain

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 8


Tabel 5. Nilai periode dan percepatan respons spektra

T (detik) Keterangan Sa (g) Keterangan

0 awal 0.3156 0.4 SDS


0.129 T0 = 0.2 SD1/SDS 0.789 SDS
0.6451 Ts = SD1/SDS 0.789 SDS
0.7451 Ts+0.1 0.6831 Sa = SD1/T
0.8451 Ts+0.2 0.6023 Sa = SD1/T
0.9451 Ts+0.3 0.5386 Sa = SD1/T
1.0451 Ts+0.4 0.487 Sa = SD1/T
1.1451 Ts+0.5 0.4445 Sa = SD1/T
1.2451 Ts+0.6 0.4088 Sa = SD1/T
1.3451 Ts+0.7 0.3784 Sa = SD1/T
1.4451 Ts+0.8 0.3522 Sa = SD1/T
1.5451 Ts+0.9 0.3294 Sa = SD1/T
1.6451 Ts+0.10 0.3094 Sa = SD1/T
1.7451 Ts+0.11 0.2917 Sa = SD1/T
1.8451 Ts+0.12 0.2759 Sa = SD1/T
1.9451 Ts+0.13 0.2617 Sa = SD1/T
2.0451 Ts+0.14 0.2489 Sa = SD1/T
2.1451 Ts+0.15 0.2373 Sa = SD1/T
2.2451 Ts+0.16 0.2267 Sa = SD1/T
2.3451 Ts+0.17 0.217 Sa = SD1/T
2.4451 Ts+0.18 0.2082 Sa = SD1/T
2.5451 Ts+0.19 0.2 Sa = SD1/T
2.6451 Ts+0.20 0.1924 Sa = SD1/T
2.7451 Ts+0.21 0.1854 Sa = SD1/T
2.8451 Ts+0.22 0.1789 Sa = SD1/T
2.9451 Ts+0.23 0.1728 Sa = SD1/T
3.0451 Ts+0.24 0.1672 Sa = SD1/T
3.1451 Ts+0.25 0.1618 Sa = SD1/T
3.2451 Ts+0.26 0.1569 Sa = SD1/T
3.3451 Ts+0.27 0.1522 Sa = SD1/T
3.4451 Ts+0.28 0.1477 Sa = SD1/T
3.5451 Ts+0.29 0.1436 Sa = SD1/T
3.6451 Ts+0.30 0.1396 Sa = SD1/T
3.7451 Ts+0.31 0.1359 Sa = SD1/T
3.8451 Ts+0.32 0.1324 Sa = SD1/T
3.9451 Ts+0.33 0.129 Sa = SD1/T
4 T=4 0.1273 Sa = SD1/T

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 9


h. Menentukan kategori desain seismik (KDS: A - F)
Struktur yang didesain harus ditetapkan termasuk dalam kategori desain
seismik (KDS) sesuai dengan Pasal 6.5 SNI 1726:2012. Dalam Tabel 7 dan
Tabel 8 disajikan kategori desain seismik yang didasarkan pada hubungan S DS
dan SD1 dengan KDS.

Tabel 6. Kategori desain seismik berdasarkan nilai SDS


Kategori Risiko
Nilai SDS
I atau II atau III IV
SDS < 0,167 A A
0,167 ≤ SDS < 0,330 B B
0,330 ≤ SDS < 0,500 C C
0,500 ≤ SDS D D
Sumber: SNI 1726:2012

Tabel 7. Kategori desain seismik berdasarkan nilai S D1


Kategori Risiko
Nilai SDS
I atau II atau III IV
SD1 < 0,167 A A
0,067 ≤ SD1 < 0,133 B B
0,133 ≤ SD1 < 0,200 C C
0,200 ≤ SD1 D D
Sumber: SNI 1726:2012

Dalam pekerjaan ini, berdasarkan Tabel 7 dan Tabel 8 didapatkan kategori


desain seismik (KDS) D.

i. Menentukan sistem dan parameter struktur (R, Cd, Ωo)


Sistem struktur penahan gaya gempa diizinkan untuk ditetapkan berbeda pada
masing-masing sumbu ortogonal struktur. Parameter R, Cd, Ωo untuk setiap tipe
sistem struktur penahan gaya gempa disajikan dalam Tabel 9.

Tabel 8. R, Cd, Ωo untuk sistem penahan gaya gempa


Batasan sistem struktur dan
tinggi struktur, hn (m)
Sistem penahan-gaya seismik R Ω0 Cd KDS
B C D E F
A. Sistem dinding penumpu 5 6 7 8 9
1. Dinding geser beton bertulang
5 2.5 5 TB TB 48 48 30
khusus

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 10


2. Dinding geser beton bertulang
4 2.5 4 TB TB TI TI TI
biasa
3. Dinding geser beton polos didetail 2 2.5 2 TB TI TI TI TI
4. Dinding geser beton polos biasa 1.5 2.5 1.5 TB TI TI TI TI
5. Dinding geser pracetak menengah 4 2.5 4 TB TB 12 12 12
6. Dinding geser pracetak biasa 3 2.5 3 TB TI TI TI TI
7. Dinding geser batu bata bertulang
5 2.5 3.5 TB TB 48 48 30
khusus
8. Dinding geser batu bata bertulang
3.5 2.5 2.25 TB TB TI TI TI
menengah
9. Dinding geser batu bata bertulang
2 2.5 1.75 TB 48 TI TI TI
biasa
10. Dinding geser batu bata polos
2 2.5 1.75 TB TI TI TI TI
didetail
11. Dinding geser batu bata polos
1.5 2.5 1.15 TB TI TI TI TI
biasa
12. Dinding geser batu bata
1.5 2.5 1.75 TB TI TI TI TI
prategang
13. Dinding geser batu bata ringan
2 2.5 2 TB 10 TI TI TI
(AAC) bertulang biasa
14. Dinding geser batu bata ringan
1.5 2.5 1.5 TB TI TI TI TI
(AAC) polos biasa
15. Dinding rangka ringan (kayu)
dilapisi dengan panel kayu yang
6.5 3 4 TB TB 20 20 20
ditujukan untuk tahanan geser, atau
dengan lembaran baja
16. Dinding rangka ringan (baja canai
dingin) yang dilapisi dengan panel
struktur kayu yang ditujukan untuk 6.5 3 4 TB TB 20 20 20
tahanan geser, atau dengan
lembaran baja
17. Dinding rangka ringan dengan
panel geser dari semua material 2 2.5 2 TB TB 10 TI TI
lainnya
18. Sistem dinding rangka ringan
(baja canai dingin) menggunakan 4 2 3.5 TB TB 20 20 20
bresing strip datar

B.Sistem rangka bangunan


1. Rangka baja dengan bresing
8 2 4 TB TB 48 48 30
eksentris
2. Rangka baja dengan bresing
6 2 5 TB TB 48 48 30
konsentris khusus
3. Rangka baja dengan bresing
3.25 2 3.25 TB TB 10 10 TI
konsentris biasa
4. Dinding geser beton bertulang
6 2.5 5 TB TB 48 48 30
khusus
5. Dinding geser beton bertulang
5 2.5 4.5 TB TB TI TI TI
biasa
6. Dinding geser beton polos detail 2 2.5 2 TB TI TI TI TI
7. Dinding geser beton polos biasa 1.5 2.5 1.5 TB TI TI TI TI
8. Dinding geser pracetak menengah 5 2.5 4.5 TB TB 12 12 12
9. Dinding geser pracetak biasa 4 2.5 4 TB TI TI TI TI
10. Rangka baja dan beton komposit
8 2 4 TB TB 48 48 30
dengan bresing eksentris

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 11


11. Rangka baja dan beton komposit
5 2 4.5 TB TB 48 48 30
dengan bresing konsentris khusus
12. Rangka baja dan beton komposit
3 2 3 TB TB TI TI TI
dengan bresing biasa
13. Dinding geser pelat baja dan
6.5 2.5 5.5 TB TB 48 48 30
beton komposit
14. Dinding geser baja dan beton
6 2.5 5 TB TB 48 48 30
komposit khusus
15. Dinding geser baja dan beton
5 2.5 4.5 TB TB TI TI TI
komposit biasa
16. Dinding geser batu bata
5.5 2.5 4 TB TB 48 48 30
bertulang khusus
17. Dinding geser batu bata
4 2.5 4 TB TB TI TI TI
bertulang menengah
18. Dinding geser batu bata
2 2.5 2 TB 48 TI TI TI
bertulang biasa
19. Dinding geser batu bata polos
2 2.5 2 TB TI TI TI TI
didetail
20. Dinding geser batu bata polos
1.5 2.5 1.25 TB TI TI TI TI
biasa
21. Dinding geser batu bata
1.5 2.5 1.75 TB TI TI TI TI
prategang
22. Dinding rangka ringan (kayu)
yang dilapisi dengan panel struktur
7 2.5 4.5 TB TB 22 22 22
kayu yang dimaksudkan untuk
tahana geser
23. Dinding rangka ringan (baja canai
dingin) yang dilapisi dengan panel
struktur kayu yang dimaksudkan 7 2.5 4.5 TB TB 22 22 22
untuk tahanan geser, atau dengan
lembaran baja
24. Dinding rangka ringan dengan
panel geser dari semua material 2.5 2.5 2.5 TB TB 10 TB TB
lainnya
25. Rangka baja dengan bresing
8 2.5 5 TB TB 48 48 30
terkekang terhadap tekuk
26. Dinding geser pelat baja khusus 7 2 6 TB TB 48 48 30

C.Sistem rangka pemikul momen


1. Rangka baja pemikul momen
8 3 5.5 TB TB TB TB TB
khusus
2. Rangka batang baja pemikul
7 3 5.5 TB TB 48 30 TI
momen khusus
3. Rangka baja pemikul momen
4.5 3 4 TB TB 10 TI TI
menengah
4. Rangka baja pemikul momen
3.5 3 3 TB TB TI TI TI
biasa
5. Rangka beton bertulang pemikul
8 3 5.5 TB TB TB TB TB
momen khusus
6. Rangka beton bertulang pemikul
5 3 4 TB TB TI TI TI
momen menengah
7. Rangka beton bertulang pemikul
3 3 3 TB TI TI TI TI
momen biasa
8. Rangka baja dan beton komposit
8 3 5.5 TB TB TB TB TB
pemikul momen khusus
9. Rangka baja dan beton komposit
5 3 4.5 TB TB TI TI TI
pemikul momen menengah

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 12


10. Rangka baja dan beton komposit
6 3 5.5 48 48 30 TI TI
terkekang parsial pemikul momen
11. Rangka baja dan beton komposit
3 3 2.5 TB TI TI TI TI
pemikul momen biasa
12. Rangka baja canai dingin pemikul
3.5 3 3.5 10 10 10 10 10
momen khusus dengan pembautan

D. Sistem ganda dengan rangka


pemikul momen khusus yang
mampu menahan paling sedikit 25
persen gaya gempa yang
ditetapkan
1. Rangka baja dengan bresing
8 2.5 4 TB TB TB TB TB
eksentris
2. Rangka baja dengan bresing
7 2.5 5.5 TB TB TB TB TB
konsentris khusus
3. Dinding geser beton bertulang
7 2.5 5.5 TB TB TB TB TB
khusus
4. Dinding geser beton bertulang
6 2.5 5 TB TB TI TI TI
biasa
5. Rangka baja dan beton komposit
8 2.5 4 TB TB TB TB TB
dengan bresing eksentris
6. Rangka baja dan beton komposit
6 2.5 5 TB TB TB TB TB
dengan bresing konsentris khusus
7. Dinding geser pelat baja dan beton
7.5 2.5 6 TB TB TB TB TB
komposit
8. Dinding geser baja dan beton
7 2.5 6 TB TB TB TB TB
komposit khusus
9. Dinding geser baja dan beton
6 2.5 5 TB TB TI TI TI
komposit biasa
10. Dinding geser batu bata
5.5 3 5 TB TB TB TB TB
bertulang khusus
11. Dinding geser batu bata
4 3 3.5 TB TB TI TI TI
bertulang menengah
12. Rangka baja dengan bresing
8 2.5 5 TB TB TB TB TB
terkekang terhadap tekuk
13. Dinding geser pelat baja khusus 8 2.5 6.5 TB TB TB TB TB

E.Sistem ganda dengan rangka


pemikul momen menengah
mampu menahan paling sedikit 25
persen gaya gempa yang
ditetapkan
1. Rangka baja dengan bresing
6 2.5 5 TB TB 10 TI TI
konsentris khusus
2. Dinding geser beton bertulang
6.5 2.5 5 TB TB 48 30 30
khusus
3. Dinding geser batu bata bertulang
3 3 2.5 TB 48 TI TI TI
biasa
4. Dinding geser batu bata bertulang
3.5 3 3 TB TB TI TI TI
menengah
5. Rangka baja dan beton komposit
5.5 2.5 4.5 TB TB 48 30 TI
dengan bresing konsentris khusus
6. Rangka baja dan beton komposit
3.5 2.5 3 TB TB TI TI TI
dengan bresing biasa
7. Dinding geser baja dan
5 3 4.5 TB TB TI TI TI
betonkomposit biasa

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 13


8. Dinding geser beton bertulang
5.5 2.5 4.5 TB TB TI TI TI
biasa

F.Sistem interaktif dinding geser-


rangka dengan rangka pemikul
momen beton bertulang biasa dan 4.5 2.5 4 TB TI TI TI TI
dinding geser beton bertulang
biasa

G.Sistem kolom kantilever didetail


untuk memenuhi persyaratan
untuk:
1. Sistem kolom baja dengan
2.5 1.25 2.5 10 10 10 10 10
kantilever khusus
2. Sistem kolom baja dengan
1.25 1.25 1.25 10 10 TI TI TI
kantilever biasa
3. Rangka beton bertulang pemikul
2.5 1.25 1.5 10 10 10 10 10
momen khusus
4. Rangka beton bertulang pemikul
1.5 1.25 1.5 10 10 TI TI TI
momen menengah
5. Rangka beton bertulang pemikul
1 1.25 1 10 TI TI TI TI
momen biasa
6. Rangka kayu 1.5 1.5 1.5 10 10 10 TI TI

H. Sistem baja tidak didetail


secara khusus untuk ketahanan
3 3 3 TB TB TI TI TI
seismik, tidak termasuk sistem
kolom kantilever
Sumber: SNI 1726:2012

Berdasarkan hasil analisis, Kategori Desain Seisimik (KDS) pada pekerjaan ini
ditetapkan KDS D. Sehingga, sistem struktur penahan gaya gempa yang
digunakan pada pekerjaan ini adalah SRPMK (Sistem Rangka Pemikul Momen
Khusus) sehingga diperoleh parameter struktur sebagai berikut: R = 8, Cd = 5,5,
dan Ωo = 3.

j. Mengevaluasi sistem struktur terhadap ketidakberaturan struktur


Dalam proses desain, struktur harus diklasifikasikan sebagai struktur beraturan
atau tidak beraturan dengan mengacu pada Pasal 7.3.2 SNI 1726:2012.
Ketidakberaturan struktur dibedakan menjadi ketidakberaturan horizontal dan
vertikal. Selanjutnya tipe dan penjelasan ketidakberaturan horizontal dan
vertikal berturut-turut disajikan lebih detail dalam Tabel 10 dan Tabel 11.

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 14


Tabel 9. Tipe dan penjelasan ketidakberaturan horizontal struktur
Penerapan
Pasal Kategori
Tipe dan Penjelasan Ketidakberaturan
Referensi Desain
Seismik
Ketidakberaturan torsi didefinisikan ada jika 7.3.3.4 D, E, F
simpangan antar lantai maksimum, torsi yang 7.7.3 B, C, D, E, F
dihitung termasuk tak terduga, di sebuah ujung 7.8.4.3 C, D, E, F
struktur melintang terhadap sumbu lebih dari 1,2 7.12.1 C, D, E, F
1a kali simpangan antar lantai tingkat rata-rata di Tabel 13 D, E, F
kedua ujung struktur. Pesyaratan ketidakberaturan 12.2.2 B, C, D, E, F
torsi dalam pasal-pasal referensi berlaku hanya
untuk struktur dimana diafragmanya kaku atau
setengah kaku
Ketidakberaturan torsi berlebihan didefinisikan 7.3.3.1 E, F
ada jika simpangan antar lantai tingkat 7.3.3.4 D
maksimum, torsi yang dihitung termasuk tak 7.7.3 B, C, D
terduga, di sebuah ujung struktur melintang 7.8.4.3 C, D
terhadap sumbu lebih dari 1,4 kali simpangan 7.12.1 C, D
1b
antar lantai tingkat rata-rata di kedua ujung Tabel 13 D
struktur. Persyaratan ketidakberaturan torsi 12.2.2 B, C, D
berlebihan dalam pasal-pasal referensi berlaku
hanya untuk struktur dimana diafragmanya kaku
atau setengah kaku
Ketidakberaturan sudut dalam didefinisikan ada 7.3.3.4 D, E, F
jika kedua proyeksi denah struktur dari sudut Tabel 13 D, E, F
2
dalam lebih besar dari 15% dimensi denah
struktur dalam arah yang ditentukan
Ketidakberaturan diskontinuitas diafragma 7.3.3.4 D, E, F
didefinisikan ada jika terdapat diafragma dengan Tabel 13 D, E, F
diskontinuitas atau variasi kekakuan mendadak,
termasuk yang mempunya daerah terpotong atau
3
terbuka lebih besar dari 50% daerah difragma
bruto yang melingkupinya, atau perubahan
kekakuan difragma efektif lebih dari 50% dari
suatu tingkat ke tingkat selanjutnya
Ketidakberaturan pergeseran melintang terhadap 7.3.3.3 B, C, D, E, F
bidang didefinisikan ada jika terdapat 7.3.3.4 D, E, F
4 diskontinuitas dalam lintasan tahanan gaya lateral, 7.7.3 B, C, D, E, F
seperti pergeseran melintang terhadap bidang Tabel 13 D, E, F
elemen vertikal 12.2.2 B, C, D, E, F
Ketidakberaturan sistem nonparalel didefinisikan 7.5.3 C, D, E, F
ada jika elemen penahan gaya lateral vertikal 7.7.3 B, C, D, E, F
5
tidak paralel atau simetris terhadap sumbu-sumbu Tabel 13 D, E, F
ortogonal utama sistem penahan gaya gempa 12.2.2 B, C, D, E, F
Sumber: SNI 1726:2012

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 15


Berikut disajikan hasil perhitungan dan pengecekan terhadap ketidakberaturan
horizontal struktur:
1.a. Ketidakberaturan torsi, didefinisikan ada jika simpangan antar lantai tingkat
maksimum (torsi yang dihitung termasuk torsi tidak terduga) di sebuah
ujung struktur melintang terhadap sumbu lebih dari 1,2 kali simpangan antar
lantai tingkat rata-rata di kedua ujung struktur (lihat Gambar 4). Persyaratan
ketidakberaturan torsi dalam pasal-pasal referensi berlaku hanya untuk
struktur yang diafragmanya kaku (rigid) atau setengah kaku (semi-rigid).

Gambar 4. Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan tipe 1a dan 1b


(Sumber: Budiono, 2011)
Berdasarkan pengecekan ketidakberaturan torsi, didapatkan hasil bahwa
simpangan antar lantai tingkat maksimum pada arah X dan Y kurang dari
1,2 kali simpangan antar lantai tingkat rata-rata sehingga tidak terdapat
ketidakberaturan horizontal tipe 1a pada struktur yang ditinjau.
1.b. Ketidakberaturan torsi berlebihan, didefinisikan ada jika simpangan antar
lantai tingkat maksimum (torsi yang dihitung termasuk torsi tidak terduga)
di sebuah ujung struktur melintang terhadap sumbu lebih dari 1,4 kali
simpangan antar lantai tingkat rata-rata di kedua ujung struktur (lihat
Gambar 4). Persyaratan ketidakberaturan torsi berlebihan dalam pasal-
pasal referensi berlaku hanya untuk struktur yang diafragmanya kaku (rigid)
atau setengah kaku (semi-rigid).
Berdasarkan pengecekan ketidakberaturan torsi berlebihan, didapatkan
hasil bahwa simpangan antar lantai tingkat maksimum pada arah X dan Y
kurang dari 1,4 kali simpangan antar lantai tingkat rata-rata sehingga tidak
terdapat ketidakberaturan horizontal tipe 1b pada struktur yang ditinjau.
2. Ketidakberaturan sudut dalam, didefinisikan ada jika kedua proyeksi denah
struktur dari sudut dalam lebih besar dari 15% dimensi denah struktur dalam
arah yang ditentukan (lihat Gambar 5)

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 16


Gambar 5. Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan horizontal tipe 2
(Sumber: FEMA 451B)
Berdasarkan pengecekan ketidakberaturan sudut dalam, didapatkan hasil
bahwa kedua proyeksi denah struktur dari sudut dalam kurang dari 15%
dimensi denah struktur dalam arah yang ditentukan sehingga tidak terdapat
ketidakberaturan horizontal tipe 2 pada struktur yang ditinjau.
3. Ketidakberaturan diskontinuitas diafragma, didefiniskan ada jika terdapat
diafragma dengan diskontinuitas atau variasi kekakuan mendadak,
termasuk yang memiliki daerah terpotong atau terbuka lebih besar dari 50%
daerah diafragma bruto yang melingkupinya, atau perubahan kekakuan
diafragma efektif lebih dari 50% dari suatu tingkat ke tingkat selanjutnya
(lihat Gambar 6)

Gambar 6. Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan horizontal tipe 3


(Sumber: FEMA 451B)
Berdasarkan pengecekan ketidakberaturan sudut dalam, didapatkan hasil
bahwa tidak terdapat ketidakberaturan horizontal tipe 3 pada struktur yang
ditinjau.
4. Ketidakberaturan pergeseran melintang terhadap bidang, didefinisikan ada
jika terdapat diskoninuitas dalam lintasan tahanan lateral, seperti
pergeseran melintang terhadap bidang elemen vertikal (lihat Gambar 7)

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 17


Gambar 7. Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan horizontal tipe 4
(Sumber: Budiono, 2011)
Berdasarkan pengecekan ketidakberaturan sudut dalam, didapatkan hasil
bahwa semua kolom terdistribusi menerus dari lantai atas hingga bawah
sehingga tidak terdapat ketidakberaturan horizontal tipe 4 pada struktur
yang ditinjau.

5. Ketidakberaturan sistem nonparalel, didefinisikan ada jika elemen penahan


lateral vertikal tidak paralel atau simetris terhadap sumbu-sumbu ortogonal
utama sistem penahan seismik (lihat Gambar 8)

Gambar 8. Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan horizontal tipe 5


(Sumber: FEMA 451B)
Berdasarkan pengecekan ketidakberaturan sudut dalam, didapatkan hasil
bahwa semua kolom berada pada sumbu ortogonal x dan y sehingga tidak
terdapat ketidakberaturan horizontal tipe 5 pada struktur yang ditinjau.

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 18


Tabel 10. Tipe dan penjelasan ketidakberaturan vertikal struktur
Penerapan
Pasal Kategori
Tipe dan Penjelasan Ketidakberaturan
Referensi Desain
Seismik
Ketidakberaturan kekakuan tingkat lunak, Tabel 13 D, E, F
didefinisikan ada jika terdapat suatu tingkat
1a dimana kekakuan lateralnya kurang dari 70%
kekakuan lateral tingkat di atasnya atau kurang
dari 80% kekakuan rata-rata 3 tingkat di atasnya
Ketidakberaturan kekakuan tingkat lunak 7.3.3.1 E, F
berlebihan, didefinisikan ada jika terdapat suatu Tabel 13 D, E, F
tingkat dimana kekakuan lateralnya kurang dari
1b
60% kekakuan lateral tingkat di atasnya atau
kurang dari 70% kekakuan rata-rata 3 tingkat di
atasnya
Ketidakberaturan berat (massa), didefinisikan ada Tabel 13 D, E, F
jika massa efektif semua tingkat lebih dari 150%
2
massa efektif tingkat di dekatnya. Atap yang lebih
ringan dari lantai di bawahnya tidak perlu ditinjau
Ketidakberaturan geometri vertikal didefinisikan Tabel 13 D, E, F
ada jika dimensi horizontal sistem penahan gaya
3 gempa di semua tingkat lebih dari 130% dimensi
hirozontal sistem penahan gaya gempa tingkat di
dekatnya
Diskontinuitas arah bidang dalam 7.3.3.3 B, C, D, E, F
ketidakberaturan elemen penahan gaya lateral 7.3.3.4 D, E, F
vertikal didefinisikan ada jika pergeseran arah Tabel 13 D, E, F
4
bidang elemen penahan gaya lateral lebih besar
dari panjang elemen itu atau terdapat reduksi
kekakuan elemen penahan di tingkat di bawahnya
Diskontinuitas dalam ketidakberaturan kuat lateral 7.3.3.1 E, F
tingkat didefinisikan ada jika kuat lateral tingkat Tabel 13 D, E, F
kurang dari 80% kuat lateral tingkat di atasnya.
5a
Kuat lateral tingkat adalah kuat lateral total semua
elemen penahan seismik yang berbagi geser
tingkat untuk arah yang ditinjau
Diskontinuitas dalam ketidakberaturan kuat lateral 7.3.3.1 D, E, F
tingkat yang berlebihan didefinisikan ada jika kuat 7.3.3.2 B, C
lateral tingkat kurang dari 65% kuat lateral tingkat Tabel 13 D, E, F
5b
di atasnya. Kuat tingkat adalah kuat total semua
elemen penahan seismik yang berbagi geser
tingkat untuk arah yang ditinjau
Sumber: SNI 1726:2012

Berikut disajikan hasil perhitungan dan pengecekan terhadap ketidakberaturan


vertikal struktur:
1.a. Ketidakberaturan kekakuan tingkat lunak, didefinisikan ada jika terdapat
suatu tingkat yang kekakuan lateralnya kurang dari 70% kekakuan lateral
tingkat di atasnya atau kurang dari 80% kekakuan rata-rata 3 tingkat di

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 19


atasnya (lihat Gambar 9). Berdasarakan pengecekan ketidakberaturan
kekakuan tingkat lunak, didapatkan hasil bahwa tidak terdapat
ketidakberaturan vertikal tipe 1a pada struktur yang ditinjau.

Gambar 9. Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan vertikal tipe 1a dan 1b


(Sumber: FEMA 451B)
1.b. Ketidakberaturan kekakuan tingkat lunak berlebihan, didefinisikan ada jika
terdapat suatu tingkat yang kekauan lateralnya kurang dari 60% kekakuan
lateral tingkat tingkat di atasnya atau kurang dari 70% kekakuan rata-rata 3
tingkat di atasnya (lihat Gambar 9). Berdasarakan pengecekan
ketidakberaturan kekakuan tingkat lunak berlebihan, didapatkan hasil
bahwa tidak terdapat ketidakberaturan vertikal tipe 1b pada struktur yang
ditinjau.
2. Ketidakberaturan berat (massa), didefinisikan ada jika efektif semua tingkat
lebih dari 150% efektif tingkat di dekatnya. Atap yang lebih ringan dari pada
lantai di bawahnya tidak perlu ditinjau (lihat Gambar 10). Berdasarakan
pengecekan ketidakberaturan berat (massa), didapatkan hasil bahwa tidak
terdapat ketidakberaturan vertikal tipe 2 pada struktur yang ditinjau.

Gambar 10. Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan vertikal tipe 2


(Sumber: FEMA 451B)

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 20


3. Ketidakberaturan geometri vertikal, didefinisikan ada jika dimensi horizontal
sistem penahan seismik di semua tingkat lebih dari 130% dimensi horizontal
sistem penahan seismik tingkat di dekatnya (lihat Gambar 11).
Berdasarakan pengecekan ketidakberaturan geometri vertikal, didapatkan
hasil bahwa tidak terdapat ketidakberaturan vertikal tipe 3 pada struktur
yang ditinjau.

Gambar 11. Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan vertikal tipe 3


(Sumber: FEMA 451B)
4. Diskontinuitas arah bidang dalam ketidakberaturan elemen penahan gaya
lateral vertikal, didefinisikan ada jika pergeseran arah bidang elemen
penahan lateral lebih besar dari panjang elemen itu atau terdapat reduksi
kekakuan elemen penahan di tingkat di bawahnya (lihat Gambar 12).
Berdasarakan pengecekan ketidakberaturan diskontinuitas arah bidang
dalam ketidakberaturan elemen penahan gaya lateral vertikal, didapatkan
hasil bahwa tidak terdapat ketidakberaturan vertikal tipe 4 pada struktur
yang ditinjau.

Gambar 12. Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan vertikal tipe 4


(Sumber: FEMA 451B)

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 21


5.a. Diskontinuitas dalam ketidakberaturan kuat lateral tingkat, didefinisikan ada
jika kuat lateral tingkat kurang dari 80% kuat lateral tingkat di atasnya. Kuat
lateral tingkat adalah kuat lateral total semua elemen penahan seismik yang
berbagi geser tingkat untuk arah yang ditinjau (lihat Gambar 13).
Berdasarakan pengecekan ketidakberaturan diskontinuitas dalam
ketidakberaturan kuat lateral tingkat, didapatkan hasil bahwa tidak terdapat
ketidakberaturan vertikal tipe 5a pada struktur yang ditinjau.

Gambar 13. Ilustrasi pengecekan ketidakberaturan vertikal tipe 5a dan 5b


(Sumber: FEMA 451B)
5.b. Diskontinuitas dalam ketidakberaturan kuat lateral tingkat yang berlebihan,
didefinisikan ada jika kuat lateral tingkat kurang dari 65% kuat lateral tingkat
di atasnya. Kuat lateral tingkat adalah kuat total semua elemen penahan
seismik yang berbagi geser tingkat untuk arah yang ditinjau (lihat Gambar
13). Berdasarakan pengecekan ketidakberaturan diskontinuitas dalam
ketidakberaturan kuat lateral tingkat yang berlebihan, didapatkan hasil
bahwa tidak terdapat ketidakberaturan vertikal tipe 5b pada struktur yang
ditinjau.

k. Menentukan fleksibilitas diafragma


Untuk struktur yang mempunyai ketidakberaturan struktur horizontal, diafragma
harus dimodelkan sebagai semi-rigid. Dalam pekerjaan ini, struktur gedung
masjid tidak memiliki ketidakberaturan struktur horizontal maupun vertikal
sehingga diafragma dimodelkan sebagai diafragma rigid.

l. Menentukan faktor redundansi (ρ)


Faktor redundansi (ρ) harus dikenakan pada sistem struktur penahan gaya
gempa pada masing-masing kedua arah ortogonal untuk semua struktur sesuai
dengan Pasal 7.3.4 SNI 1726:2012. Nilai ρ dapat diambil sama dengan 1,0 jika

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 22


masing-masing tingkat yang menahan lebih dari 35% gaya geser dasar pada
arah yang ditinjau harus memenuhi persyaratan Tabel 12.

Tabel 11. Persyaratan untuk masing-masing tingkat yang


menahan lebih dari 35% gaya geser dasar
Elemen Penahan
Persyaratan
Gaya Lateral
Rangka dengan Pelepasan bresing individu, atau sambungan yang terhubung,
bresing tidak akan mengakibatkan reduksi kuat tingkat sebesar lebih
dari 33%, atau sistem yang dihasilkan tidak mempunyai
ketidakberaturan torsi yang berlebihan (ketidakberaturan
struktur horizontal tipe 1b)
Rangka pemikul Kehilangan tahanan momen di sambungan balok ke kolom di
momen kedua ujung balok tunggal tidak akan mengakibatkan lebih
dari reduksi kuat tingkat sebesar 33%, atau sistem yang
dihasilkan tidak mempunyai ketidakberaturan torsi yang
berlebihan (ketidakberaturan struktur horizontal tipe 1b)
Dinding geser atau Pelepasan dinding geser atau pier dinding dengan rasio tinggi
pilar dinding terhadap panjang lebih besar dari 1,0 di semua tingkat, atau
dengan rasio tinggi sambungan kolektor yang terhubung, tidak akan
terhadap panjang mengakibatkan lebih dari reduksi kuat tingkat sebesar 33%,
lebih besar dari 1,0 atau sistem yang dihasilkan mempunyai ketidakberaturan torsi
yang berlebihan (ketidakberaturan struktur horizontal tipe 1b)
Kolom kantilever Kehilangan tahanan momen di dasar sambungan dasar
semua kolom kantilever tungggal tidak akan mengakinbatkan
lebih dari reduksi kuat tingkat sebesar 33%, atau sistem yang
dihasilkan mempunyai ketidakberaturan torsi yang berlebihan
(ketidakberaturan struktur horizontal tipe 1b)
Lainnya Tidak ada persyaratan
Sumber: SNI 1726:2012

Ketentuan lain yang mengizinkan ρ dapat diambil sama dengan 1,0 adalah jika
struktur dengan denah teratur di semua tingkat asalkan sistem penahan gaya
gempa terdiri dari paling sedikit dua bentang perimeter penahan gaya gempa
yang merangka pada masing-masing sisi struktur dalam masing-masing arah
ortogonal di setiap tingkat yang menahan lebih dari 35% gaya geser dasar.
Jumlah bentang untuk dinding geser harus dihitung sebagai panjang dinding
geser dibagi dengan tinggi tingkat atau dua kali panjang dinding geser dibadi
dengan tinggi tingkat untuk konstruksi rangka ringan. Jika kondisi tersebut tidak
dipenuhi maka, ρ harus diambil sama dengan 1,3. Dalam pekerjaan ini, faktor
redundansi yang digunakan adalah 1,3.

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 23


m. Memilih prosedur analisis gaya lateral/gempa (ELF, RS, TH)
Beban gempa yang diatur dalam SNI 1726:2012 dapat dikerjakan melalui 3
jenis prosedur analisis yaitu analisis gaya lateral ekivalen (equivalent lateral
forces), analisis spektrum respons raga (respons spectra), dan prosedur riwayat
respons seismik (time history). Prosedur analisis beban gempa yang diizinkan
untuk digunakan dipengaruhi oleh kategori desain seismik dan karakteristik
struktur seperti yang disajikan dalam Tabel 13. Berdasarkan Tabel 13, dalam
pekerjaan ini diizinkan untuk menggunakan analisis spektrum respons ragam
sebagai prosedur analisis beban gempa.
Tabel 12. Prosedur analisis yang boleh digunakan
Analisis Analisis Prosedur
Kategori Gaya Spektrum Riwayat
Desian Karakteristik Struktur Lateral Respons Respons
Seismik Ekivalen Ragam Seismik
(pasal 7.8) (Pasal 7.9) (Pasal 11)
B, C Bangunan dengan kategori
risiko I atau II dari
konstruksi rangka ringan I I I
dengan ketinggian tidak
melebihi 3 tingkat
Bangunan lainnya dengan
kategori risiko I atau II,
I I I
dengan ketinggian tidak
melebihi 2 tingkat
Semua struktur lainnya I I I
D, E, F Bangunan dengan kategori
risiko I atau I dari konstruksi
rangka ringan dengan I I I
ketinggian tidak melebihi 3
tingkat
Bangunan lainnya dengan
kategori risiko I atau II
I I I
dengan ketinggian tidak
melebihi 2 tingkat
Struktur beraturan dengan
T < 3,5 Ts dan semua
I I I
struktur dari konstruksi
rangka ringan
Struktur tidak beraturan
dengan T < 3,5 Ts dan
mempunyai hanya
I I I
ketidakberaturan horizontal
tipe 2, 3, 4, atau 5 dari
Tabel 10 atau

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 24


ketidakberaturan vertikal
tipe 4, 5a, atau 5b dari
Tabel 11
Semua struktur lainnya TI I I
Sumber: SNI 1726:2012
n. Menghitung beban gempa dengan prosedur gaya lateral ekivalen (ELF)
Prosedur analisis gaya lateral ekivalen (ELF) didasarkan pada respons ragam
pertama (first modes). Prosedur analisis ini berlaku hanya untuk struktur reguler
dengan T < 3,5 Ts (dimana Ts = SD1/SDS), kekakuan tingkat-tingkat yang
berdekatan tidak berbeda lebih dari 30%, kekuatan tingkat-tingkat yang
berdekatan tidak berbeda lebih dari 20%, dan massa pada tingkat-tingkat yang
berdekatan tidak berbeda lebih dari 50%. Jika hal tersebut tidak dipenuhi maka
harus digunakan prosedur analisis dinamik yaitu analisis spektrum respons
ragam atau prosedur riwayat waktu. Secara umum besar gaya gempa yang
dihasilkan oleh prosedur analisis ELF adalah fungsi dari berat seismik efektif
(W t) dan koefisien respons seismik (Cs). Selanjutnya gaya gempa tersebut
didistribusikan ke setiap tingkat dari struktur gedung yang akan didesain. Gaya
gempa hasil dari prosedur analisis ELF perlu dihitung karena jika digunakan
prosedur analisis dinamik, gaya gempa yang dihasilkan perlu dibandingkan
dengan gaya gempa haso; dari prosedur analisis ELF. Langkah perhitungan
gaya gempa dengan prosedur analisis ELF disajikan sebagai berikut:
1. Menentukan Periode Fundamental Alami Struktur (T)
Periode fundamental alami struktur akan menetukan nilai koefisien respons
seismik (Cs) yang juga akan menentukan nilai gaya geser dasar seismik
(VELF). Jika periode struktur yang lebih akurat (Tc) tidak dimiliki maka
periode struktur yang digunakan dapat diambil sebesar Ta. Namun, jika
periode struktur yang lebih akurat (Tc) bisa didapatkan (melalui pemodelan
struktur) maka periode struktur yang digunakan harus ditetapkan dengan
mengikuti ketentuan berikut ini (lihat juga Gambar 14):
 Jika Tc > Cu.Ta maka T = Cu.Ta
 Jika Ta < Tc < Cu.Ta maka T = Tc
 Jika Tc < Ta maka T = Ta

Gambar 14. Penentuan periode struktur yang digunakan


(Sumber: FEMA 481)

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 25


Periode fundamental pendekatan (Ta) ditentukan dengan berdasarkan
persamaan: Ta = Ct . hnx. Dimana hn adalah ketinggian struktur (dalam m),
sedangkan koefisien Ct dan x ditentukan berdasarkan Tabel 14.

Tabel 13. Nilai parameter periode pendekatan Ct dan x

Tipe Struktur Ct x
Sistem rangka pemikul momen dimana rangka
memikul 100% gaya gempa yang disyaratkan dan
tidak dilingkupi atau dihubungkan dengan komponen
yang lebih kaku dan akan mencegah rangka dari
defleksi jika dikenai gaya gempa:
Rangka baja pemikul momen 0,0724 0,8
Rangka beton pemikul momen 0,0466 0,9
Rangka baja dengan bresing eksentris 0,0731 0,75
Rangka baja dengan bresing terkekang terhadap tekuk 0,0731 0,75
Semua sistem struktur lainnya 0,0488 0,75

Nilai koefisien untuk batas atas periode struktur yang dihitung (Cu)
ditetapkan berdasarkan Tabel 15.

Tabel 14. Koefisien untuk batas atas pada periode yang dihitung
Parameter percepatan respons
Koefisien Cu
spektral desain pada 1 detik, SD1
≥ 0,4 1,4
0,3 1,4
0,2 1,5
0,15 1,6
≤ 0,1 1,7

Pada pekerjaan ini, tipe struktur yang digunakan adalah rangka beton
pemikul momen sehingga didapatkan nilai Ct = 0,0466 dan x = 0,9.
Selanjutnya berdasarakan nilai SD1 = 0,509 g didapatkan koefisien Cu = 1,4.
Sehingga didapatkan nilai Ta = 0,565 detik dan Cu.Ta = 0,791 detik. Nilai
periode struktur hasil pemodelan struktur, Tc = 0,643 detik (Ta < Tc < Cu.Ta)
sehingga periode struktur yang digunakan dalam analisis beban gempa
dengan prosedur ELF adalah 0,643 detik.

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 26


2. Menentukan Koefisien Respons Seismik (Cs)
Koefisien respons seismik (Cs) ditentukan berdasarkan persamaan berikut:
Cs = SDS / (R / Ie)
Nilai Cs yang dihitung sesuai dengan persamaan di atas tidak perlu melebihi
nilai Cs yang dihitung dengan persamaan berikut:
Cs = SD1 / (T x (R / Ie)
Namun nilai Cs harus tidak boleh kurang dari Cs yang dihitung dengan
persamaan berikut:
Cs = 0,044 SDS Ie ≥ 0,01
Pada pekerjaan ini, hasil perhitungan koefisien respons seismik (Cs) adalah
sebagai berikut:
Cs = SDS / (R / Ie) = 0,148
Cs = SD1 / (T x (R / Ie) = 0,148
Cs,min = 0,044 SDS Ie ≥ 0,01 = 0,052
Sehingga, diambil nilai Cs = 0,148
3. Menentukan Berat Seismik Efektif (W)
Berat seismik efektif struktur (W) harus menyertakan seluruh beban mati
dan beban lainnya yang temasuk dalam daftar berikut ini:
 Dalam daerah yang digunakan untuk penyimpanan: minimum sebesar
25% beban hidup lantai (beban hidup lantai di garasi publik dan struktur
parkiran terbuka, serta beban penyiMPanan yang tidak melebihi 5%
dari berat seismik efektif pada suatu lantai, tidak perlu disertakan)
 Jika ketentuan untuk partisi disyaratkan dalam desain beban lantai:
diambil sebagai yang terbesar diantara berat partisi aktual atau berat
daerah lantai minimum sebesar 0,48 kN/m2
 Berat operasional total dari peralatan yang permanen
 Berat lansekap dan beban lainnya pada taman atap dan luasan sejenis
lainnya
Dalam pekerjaan ini, berdasarkan hasil perhitungan didapatkan berat
seismik efektif (W) = 12.085,149 kN.
4. Menghitung Gaya Geser Dasar Seismik (VELF)
Gaya geser dasar seismik (VELF) dapat dihitung dengan operasi perkalian
antara koefisien respon seismik (Cs) dengan berat seismik efektif struktur
(W). Dalam pekerjaan ini, berdasarkan hasil perhitungan didapatkan gaya
geser dasar seismik (VELF) = 1.788,602 kN.

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 27


o. Menghitung dan menambahkan beban ortogonal (jika disyaratkan)
Penambahan beban ortogonal dikerjakan dengan cara memberikan beban
tambahan sebesar 30% dari beban lateral utama, tegak lurus terhadap arah
beban utama yang ditinjau (lihat Gambar 15). Beban ortogonal perlu
ditambahkan dan belaku pada struktur dengan kategori desain seismik C, D, E,
dan F. Pada pekerjaan ini, struktur termasuk dalam kategori desain seismik D
sehingga penambahan beban ortogonal perlu dilakukan. Penambahan ini
diakomodasi dalam kombinasi beban rencana.

Gambar 15. Beban ortogonal (Sumber: FEMA 451B)

p. Menghitung dan menambahkan beban torsi (jika disyaratkan)


Struktur gedung untuk semua kategori desain seismik (KDS) harus
mempertimbangkan torsi rencana dan torsi tak terduga. Torsi tak terduga
dikerjakan pada model struktur dengan memberikan eksentrisitas sebesar 5%
masing-masing pada arah sumbu X dan Y (lihat Gambar 16).

Gambar 16. Torsi tak terduga

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 28


Apabila struktur gedung termasuk dalam kategori desain seismik C, D, E, dan
F serta memiliki ketidakberaturan torsi 1a dan 1b maka harus
mempertimbangkan adanya pembesaran torsi tak terduga (lihat Gambar 2.17).
Pembesaran torsi tak terduga dihitung menggunakan persamaan berikut:
ex = eox + (0,05 B Ax)
ey = eoy + (0,05 L Ay)
dimana,
eox dan eoy adalah eksentrisitas bawaan, sedangkan 0,05 B Ax dan 0,05 L Ay
adalah eksentrisitas tak terduga

Gambar 17. Pembesaran torsi tak terduga


Pada pekerjaan ini, struktur gedung termasuk dalam kategori desain seismik
(KDS) D namun tidak terjadi ketidakberaturan torsi 1a dan 1b sehingga tidak
perlu mempertimbangkan pembesaran torsi tak terduga (cukup
mempertimbangkan torsi tak terduga dengan memberikan eksentrisitas sebesar
5% masing-masing pada arah sumbu X dan Y).

E. Kombinasi Beban Rencana

Kombinasi beban ultimit ditetapkan berdasarkan Pasal 4.2.2 SNI 1726:2012 Tata
Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung, yaitu sebagai berikut:
1. 1,4DL
2. 1,2DL + 1,6LL + 0,5(Lr atau R)
3. 1,2DL + 1,6(Lr atau R) + (1,0L atau 0,5W)
4. 1,2DL + 1,0W + 1,0L + 0,5(Lr atau R)
5. 1,2DL + 1,0E + 1,0LL
6. 0,9DL + 1,0W
7. 0,9DL + 1,0E

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 29


Untuk kombinasi beban nomor 5 dan 7 yang merupakan kombinasi beban gempa,
diatur secara khusus dalam Pasal 7.4 SNI 1726:2012 Standar Perencanaan
Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung, yaitu sebagai berikut:
1. (1,2+0,2SDS)DL + 1,0LL ± 0,3ρEx ± 1,0ρEy
2. (1,2+0,2SDS)DL + 1,0LL ± 1,0ρEx ± 0,3ρEy
3. (0,9-0,2SDS)DL ± 0,3ρEx ± 1,0ρEy
4. (0,9-0,2SDS)DL ± 1,0ρEx ± 0,3ρEy
Sedangkan kombinasi beban layan ditetapkan berdasarkan Pasal 4.2.3 SNI
1726:2012 Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung, yaitu
sebagai berikut:
1. DL
2. DL + LL
3. DL + (Lr atau R)
4. DL + 0,75LL + 0,75(Lr atau R)
5. DL + (0,6W atau 0,7E)
6. DL + 0,75(0,6W atau 0,7E) + 0,75LL + 0,75(Lr atau R)
7. 0,6DL + 0,6W
8. 0,6DL + 0,7E
dimana,
DL = Beban mati (berat sendiri struktur dan beban mati tambahan)
LL = Beban hidup
Lr = Beban hidup pada struktur atap
R = Beban hujan
W = Beban angin
Ex = Beban gempa arah x
Ey = Beban gempa arah y
ρ = Faktor redundansi
SDS = Parameter percepatan spektral desain untuk periode pendek 0,2 detik

Kombinasi beban ultimit yang digunakan dalam pekerjaan ini disajikan dalam Tabel
16.
Tabel 15. Kombinasi beban ultimit
Kombinasi
DL ADL LL Ex Ey
Beban
COMB1 1,40 1,40 - - -
COMB2 1,20 1,20 1,60 - -
COMB3 1,357 1.357 1,00 -1,30 -0,39
COMB4 1,357 1.357 1,00 -1,30 +0,39
COMB5 1,357 1.357 1,00 +1,30 -0,39
COMB6 1,357 1.357 1,00 +1,30 +0,39
COMB7 1,357 1.357 1,00 -0,39 -1,30

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 30


COMB8 1,357 1.357 1,00 -0,39 +1,30
COMB9 1,357 1.357 1,00 +0,39 -1,30
COMB10 1,357 1.357 1,00 +0,39 +1,30
COMB11 0,743 0,743 - -1,30 -0,39
COMB12 0,743 0,743 - -1,30 +0,39
COMB13 0,743 0,743 - +1,30 -0,39
COMB14 0,743 0,743 - +1,30 +0,39
COMB15 0,743 0,743 - -0,39 -1,30
COMB16 0,743 0,743 - -0,39 +1,30
COMB17 0,743 0,743 - +0,39 -1,30
COMB18 0,743 0,743 - +0,39 +1,30

Kombinasi beban layan yang digunakan dalam pekerjaan ini disajikan dalam Tabel
17
Tabel 16. Kombinasi beban layan
Kombinasi
DL ADL LL Ex Ey
Beban
COMB1 1,00 1,00 1,00 - -
COMB2 1,00 1,00 - -0,70 -0,21
COMB3 1,00 1,00 - -0,70 +0,21
COMB4 1,00 1,00 - +0,70 -0,21
COMB5 1,00 1,00 - +0,70 +0,21
COMB6 1,00 1,00 - -0,21 -0,70
COMB7 1,00 1,00 - -0,21 +0,70
COMB8 1,00 1,00 - +0,21 -0,70
COMB9 1,00 1,00 - +0,21 +0,70

F. Pemodelan Struktur

Pemodelan struktur dilakukan untuk mengetahui gaya-gaya dalam yang terjadi


pada elemen struktur serta perilaku struktur akibat beban yang bekerja. Hasil dari
pemodelan struktur digunakan sebagai dasar untuk mendesain dimensi
penampang elemen struktur beserta tulangan yang diperlukan. Model struktur
dikerjakan dengan beberapa idealisasi. Sebagai contoh, pelat lantai diidealisasikan
sebagai elemen shell, sedangkan balok dan kolom diidealisasikan sebagai elemen
frame. Pemodelan struktur yang dilakukan mampu mengakomodasi pengaruh
keretakan beton ketika terjadi gempa yaitu melalui reduksi momen inersia
penampang elemen struktur. Momen inersia pada pelat lantai direduksi menjadi
25% dari momen inersia awal. Pada elemen struktur balok, momen inersia direduksi
menjadi 35% dari momen inersia awal. Selain itu torsi juga direduksi menjadi 25%
untuk menyeimbangkan nilai reduksi terhadap inersia elemen struktur. Sedangkan
pada kolom, momen inersia direduksi menjadi 70% dari momen inersia awal.

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 31


Pada pekerjaan ini struktur gedung didesain dengan menggunakan sistem struktur
berupa sistem rangka pemikul momen khsusus (SRPMK). Struktur tersebut
dimodelkan dalam model 3 dimensi (3D Models) menggunakan bantuan software
(lihat Gambar 18).

Gambar 18. Model Struktur

G. Input Beban Pada Model Struktur

Beban gravitasi dan beban gempa rencana yang dipertimbangkan dalam desain
struktur gedung pada pekerjaan ini diinputkan dalam model struktur. Selanjutnya
berdasarkan input beban tersebut, software dapat menjalankan proses analisis dan
desain struktur. Input beban tersebut disajikan dalam Gambar 19, 20, 21, dan 22.

Gambar 19. Input Beban Mati Tambahan Struktur Atap

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 32


Gambar 20. Input Beban Mati Tambahan Pada Pelat Lantai

Gambar 21. Input Beban Hidup Pada Pelat Lantai

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 33


Gambar 22. Input Beban Gempa (Kurva Respon Spektra Desain)

H. Analisis dan Desain Struktur

Demand Capacity Ratio Pada Elemen Struktur Balok dan Kolom


Analisis struktur dilakukan dengan bantuan software SAP2000. Berdasarkan
kombinasi beban rencana, gaya-gaya dalam, dan deformasi yang terjadi pada
struktur, didapatkan nilai demand capacity ratio pada elemen struktur balok dan
kolom yang dapat dilihat dalam Gambar 23.

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 34


Gambar 23. Demand Capacity Ratio Pada Elemen Struktur Balok dan Kolom

Berdasarkan gambar di atas, disajikan bahwa nilai demand capacity ratio pada
balok dan kolom untuk struktur yang didesain memiliki nilai < 1,0 sehingga
disimpulkan bahwa balok dan kolom telah memenuhi persyaratan kekuatan yang
dipengaruhi oleh gaya-gaya dalam yang terjadi akibat kombinasi beban rencana
dan memenuhi persyaratan kenyamanan yang dipengaruhi oleh deformasi yang
terjadi pada struktur.

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 35


Rekap Output Joint Reaction

Tipe Fondasi: Telapak Menerus


No. Tipe Fondasi Keterangan Pu (kN) Mux (kNm)Muy (kNm) Hux (kN) Huy (kN)
1 CF1 - K1 Joint Reaction pada kolom K1 710.651 81.629 108.041 42.795 36.492
2 CF1 - K2 Joint Reaction pada kolom K2 324.703 50.724 35.772 15.788 21.585

Korelasi NSPT dengan sudut geser tanah Pasir


31.062 Peck
43.723 Japan Road Association
48.166 Ohsaki

Panjang Tumpuan Lapangan


No. Tipe Balok Keterangan Balok
(mm) Pu- (kN) V u (kN) Tu (kNm) Mu- (kNm) Mu+ (kNm) Pu- (kN) V u (kN) Tu (kNm) Mu- (kNm) Mu+ (kNm)
1 B1-300.500 B. Induk 4000 7.812 124.362 14.733 144.49 112.798 6.558 29.558 4.361 0 65.084
2 B2-250.500 B. Induk 4000 4.828 118.008 12.424 119.505 112.92 7.107 120.589 10.282 119.25 115.203
3 B3-300.400 B. Anak 4000 5.735 108.238 10.184 107.402 92.462 3.601 93.295 6.638 105.12 100.04
4 B4-250.300 B. Anak 4000 3.568 22.809 3.445 18.713 7.545 3.568 21.583 3.423 7.615 5.974
5 B6-150.250 B. Induk 4000 0 5.357 0.289 5.486 3.927 0 4.905 0.289 4.508 3.594
6 S1-300.400 Tie Beam 4000 0 8.064 0 5.376 1.008 0 4.68 0 1.482 2.688

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 1


Gaya Dalam Terfaktor (Output Pemodelan Struktur)

Panjang Batas (mm) Tumpuan Output Desain


Kombinasi
No. Tipe Kolom Kolom Tumpuan Tumpuan Sengkang (ETABS)
Beban Pu- (kN) Vu (kN) Mu,x (kNm) Mu,y (kNm)
(mm) Awal Akhir (mm2/mm)
1 K1-400x600 4000 COMB-MAX 1000 3000 984.36 85.012 150.841 206.701 1176.000
2 K2-400x400 4000 COMB-MAX 1000 3000 474.934 40.462 94.621 77.977 669.000
3 K5-200x200 2000 COMB-MAX 500 1500 14.538 7.166 7.307 13.846 908.000

Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 2


Laporan Perhitungan Struktur Gedung Kuliah 3 Lantai Bengkulu | 1
Perhitungan Plat

No : 1
Plat : 4 x 4
Jenis Ruang : Ruang Kuliah
Mutu Bahan
f'c : 25 MPa
Fy : 240 MPa
β : 0.85
Dimensi Plat
Lx : 4 m
Ly : 4 m
h : 0.12 m
p : 0.02 m : 20 mm

A. Pembebanan Plat

1. Beban Mati Tebal (m) x Bj (Kn/m³)


a. Plat : 0.12 x 24 = 2.88 kN/m²
b. Pasir : 0.04 x 18 = 0.72 kN/m²
Tebal (cm) x Berat (kN/m²)/cm
c. Spesi : 3 x 0.17 = 0.51 kN/m²
d. Penutup Lantai : 1 x 0.07 = 0.07 kN/m² +
Total Beban Mati (Wd) = 4.18 kN/m²

2. Beban Hidup
Beban Hidup (Wl) : 2.5 kN/m²
Faktor Reduksi : 1 1.3

3. Beban Ultimit
Beban Ultimit (Wu) : 1.2 Wd + 1.6 ( Wl x Fr )
: 1.2 4.18 + 1.6 ( 2.5 x 1)
: 9.016 kN/m²

B. Perhitungan Momen Plat

Diketahui di atas :
Ly 4 Clx = 25
: = 1.00 ……>>
Lx 4 Cly = 25
Ctx = 51
= 1.0
Cty = 51

Mu lx = 0.001 x Wu x Ix² x Clx


= 0.001 x 9.016 x 4.00 ² x 25
= 3.606 kNm
Mu ly = 0.001 x Wu x Ix² x Cly
= 0.001 x 9.016 x 4.00 ² x 25
= 3.606 kNm

Mu tx = 0.001 x Wu x Ix² x Ctx


= 0.001 x 9.016 x 4.00 ² x 51
= 7.357 kNm

Mu ty = 0.001 x Wu x Ix² x Cty


= 0.001 x 9.016 x 4.00 ² x 51
= 7.357 kNm

C. Perencanaan Penulangan Lx

Tebal Plat (h) : 120 mm


Diameter Tul. : 10 mm , maka luas tampang tulangan : 78.5398 mm²
Penutup Beton : 20 mm
Jarak efektif, d : Tebal Plat (h) - Penutup Beton (p) - Øs/2
: 120 - 20 - 5
: 95 mm

ρ balance : 0.85 x f'c x β 600


x ( )
Fy 600 + fy
: 0.85 x 25 x 0.85 600
x ( )
240 600 + 240
: 0.05376

ρ max : 0.75 x ρ balance ρ min 1.4


:
: 0.75 x 0.05 Fy
: 0.04 : 0.00583

Mu 3.606
: : 4.508 kNm
phi 0.8
Rn : 4.51 x 1000000
95 ² 1000
: 0.49950139

fy
m :
0.85 x f'c
240
:
0.85 x 240
: 1.17647

ρ perlu
:
1
m
x ( 1 -
√( 1 - ( 2 m x
Rn
fy
) )

:
1
1.18
x ( 1 -
√( 1 - ( 2 1.18 x
0.5
240
) )

: 0.85 x ( 1- √ 0.9951 )
: 0.00208381
As perlu : ρ perlu x b x d = 197.962 mm²
As min : ρ min x b x d = 554.167 mm²
1.33 As perlu : 1.33 x 197.962 = 263.289 mm² .. Terpakai 1,33 As perlu
As terpakai : 263.289
..OK..!!

Jarak antar tulangan : 78.5398 x 1000


= 298.302
263.2893991
Jarak Pakai : 240 mm P 10 - 240

Kontrol Kapasitas Momen


As terpakai : 78.5398 x 1000
= 327.249 mm²
240
a : 327.249 x 240
= 3.69599 mm
0.85 x 25 x 1000
Mn : 327.249 x 240 x ( 95 - 3.7 / 2) = 7.31614 kNm
1.33 Mu : 5.99564 kNm
phi Mn > Mu .....OK...!!!

D. Perencanaan Penulangan Ly

Tebal Plat (h) : 120 mm


Diameter Tul. : 10 mm , maka luas tampang tulangan : 78.5398 mm²
Penutup Beton : 20 mm
Jarak efektif, d : Tebal Plat (h) - Penutup Beton (p) - Øs/2
: 120 - 20 - 10 - 5
: 85 mm

ρ balance : 0.85 x f'c x β 600


x ( )
Fy 600 + fy
: 0.85 x 25 x 0.85 600
x ( )
240 600 + 240
: 0.05376

ρ max : 0.75 x ρ balance ρ min 1.4


:
: 0.75 x 0.05 Fy
: 0.04032 : 0.00583

Mu 3.606
: : 4.508 kNm
phi 0.8
Rn : 4.51 x 1000000
85 ² 1000
: 0.62394464
fy
m :
0.85 x f'c
240
:
0.85 x 25
: 11.2941

ρ perlu
:
m
1
x ( 1 -
√( 1 - ( 2 m x
Rn
fy
) )

:
1
11.3
x ( 1 -
√( 1 - ( 2 11.3 x
0.62
240
) )

: 0.09 x ( 1- √ 0.94128 )
: 0.0026391

As perlu : ρ perlu x b x d = 224.324 mm²


As min : ρ min x b x d = 495.833 mm²
1.33 As perlu : 1.33 x 224.324 = 298.35 mm² .. Terpakai 1,33 As perlu
As terpakai : 298.35
..OK..!!

Jarak antar tulangan : 78.5398 x 1000


= 263.247
298.3502818
Jarak Pakai : 240 mm P 10 - 240

Kontrol Kapasitas Momen


As terpakai : 78.5398 x 1000
= 327.249 mm²
240
a : 327.249 x 240
= 4.61999 mm
0.85 x 20 x 1000
Mn : 327.249 x 240 x ( 85 - 4.62 / 2) = 6.49445 kNm
1.33 Mu : 5.99564 kNm
phi Mn > Mu .....OK...!!!

E. Perencanaan Penulangan Tx

Tebal Plat (h) : 120 mm


Diameter Tul. : 10 mm , maka luas tampang tulangan : 78.5398 mm²
Penutup Beton : 20 mm
Jarak efektif, d : Tebal Plat (h) - Penutup Beton (p) - Øs/2
: 120 - 20 - 5
: 95 mm

ρ balance : 0.85 x f'c x β 600


x ( )
Fy 600 + fy
: 0.85 x 25 x 0.85 600
x ( )
240 600 + 240
: 0.05376
ρ max : 0.75 x ρ balance ρ min 1.4
:
: 0.75 x 0.05 Fy
: 0.04032 : 0.00583

Mu 7.357
: : 9.19632 kNm
phi 0.8
Rn : 9.20 x 1000000
95 ² 1000
: 1.01898283

fy
m :
0.85 x f'c
240
:
0.85 x 25
: 11.2941

ρ perlu
:
1
m
x ( 1 -
√( 1 - ( 2 m x
Rn
fy
) )

:
1
11.3
x ( 1 -
√( 1 - ( 2 11.3 x
1.02
240
) )

: 0.09 x ( 1- √ 0.9041 )
: 0.00435275

As perlu : ρ perlu x b x d = 413.512 mm²


As min : ρ min x b x d = 554.167 mm²
1.33 As perlu : 1.33 x 413.512 = 549.97 mm² .. Terpakai 1,33 As perlu
As terpakai : 549.97
..OK..!!

Jarak antar tulangan : 78.5398 x 1000


= 142.807
549.9704132
Jarak Pakai : 120 mm P 10 - 120

Kontrol Kapasitas Momen


As terpakai : 78.5398 x 1000
= 654.498 mm²
120
a : 654.498 x 240
= 9.23997 mm
0.85 x 20 x 1000
Mn : 654.498 x 240 x ( 95 - 9.24 / 2) = 14.1968 kNm
1.33 Mu : 12.2311 kNm
phi Mn > Mu .....OK...!!!

F. Perencanaan Penulangan Ty

Tebal Plat (h) : 120 mm


Diameter Tul. : 10 mm , maka luas tampang tulangan : 78.5398 mm²
Penutup Beton : 20 mm
Jarak efektif, d : Tebal Plat (h) - Penutup Beton (p) - Øs/2
: 120 - 20 - 5
: 95 mm
ρ balance : 0.85 x f'c x β 600
x ( )
Fy 600 + fy
: 0.85 x 25 x 0.85 600
x ( )
240 600 + 240
: 0.05376

ρ max : 0.75 x ρ balance ρ min 1.4


:
: 0.75 x 0.05 Fy
: 0.04032 : 0.00583

Mu 7.357
: : 9.19632 kNm
phi 0.8
Rn : 9.20 x 1000000
95 ² 1000
: 1.01898283

fy
m :
0.85 x f'c
240
:
0.85 x 25
: 11.2941
ρ perlu
:
1
m
x ( 1 -
√( 1 - ( 2 m x
Rn
fy
) )

:
1
11.3
x ( 1 -
√( 1 - ( 2 11.3 x
1.02
240
) )

: 0.09 x ( 1- √ 0.9041 )
: 0.00435275

As perlu : ρ perlu x b x d = 413.512 mm²


As min : ρ min x b x d = 554.167 mm²
1.33 As perlu : 1.33 x 413.512 = 549.97 mm² .. Terpakai 1,33 As perlu
As terpakai : 549.97
..OK..!!

Jarak antar tulangan : 78.5398 x 1000


= 142.807
549.9704132
Jarak Pakai : 120 mm P 10 - 120

Kontrol Kapasitas Momen


As terpakai : 78.5398 x 1000
= 654.498 mm²
120
a : 654.498 x 240
= 18.4799 mm
0.85 x 10 x 1000
Mn : 654.498 x 240 x ( 95 - 18.5 / 2) = 13.4711 kNm
1.33 Mu : 12.2311 kNm
phi Mn > Mu .....OK...!!!
ly = 4

P10-120

P10-120 P10-240 P10-120


lx = 4 P10-240

P10-120
PERHITUNGAN BALOK LANTAI (BEAM )

B1-300x500 (Tumpuan)

A. DATA BALOK LANTAI

BAHAN STRUKTUR
Kuat tekan beton, fc' = 25 MPa
Tegangan leleh baja (deform) untuk tulangan lentur, fy = 390 MPa
Tegangan leleh baja (polos) untuk tulangan geser, fy = 235 MPa
DIMENSI BALOK
Lebar balok b= 300 mm
Tinggi balok h= 500 mm
Diameter tulangan (deform) yang digunakan, D= 19 mm
Diameter sengkang (polos) yang digunakan, P= 10 mm
Tebal bersih selimut beton, ts = 40 mm

MOMEN DAN GAYA GESER RENCANA


Momen rencana positif akibat beban terfaktor, Mu+ = 112.798 kNm
Momen rencana negatif akibat beban terfaktor, Mu - = 144.490 kNm
Gaya geser rencana akibat beban terfaktor, Vu = 124.362 kN

B. PERHITUNGAN TULANGAN - TUMPUAN


Untuk : fc' ≤ 30 MPa, b1 = 0.85
Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = -
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,  b1 = 0.85
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
rb = b1* 0.85 * fc’/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0281
Faktor tahanan momen maksimum,
Rmax = 0.75 * rb * fy * [1 – ½*0.75* rb * fy / ( 0.85 * fc’ ) ] = 6.6242
Faktor reduksi kekuatan lentur, f = 0.80
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton, ds = ts +  + D/2 = 59.50 mm
Jumlah tulangan dlm satu baris, ns = ( b - 2 * ds) / ( 25 + D ) = 4.11
Digunakan jumlah tulangan dalam satu baris, ns = 4 bh
Jarak horisontal pusat ke pusat antara tulangan,
x = ( b - n s * D - 2 * ds ) / ( ns - 1 ) = 35.00 mm
Jarak vertikal pusat ke pusat antara tulangan, y = D + 25 = 44.00 mm

1. TULANGAN LENTUR - BAWAH

Momen positif nominal rencana, Mn = Mu+ / f = 140.998 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 75 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 425.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
2.6020
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00714
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00714
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 910
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
3.211
Digunakan tulangan, 4 D 19
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 1134
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.00
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 4 bh
ke ni yi ni * yi
1 4 59.50 238.00
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 4 S [ ni * yi ] = 238
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 59.50 mm
59.50 < 75  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 440.50 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 69.381 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 179.491 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 143.593 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu +

143.593 > 112.798  AMAN (OK)

2. TULANGAN LENTUR - ATAS

Momen negatif nominal rencana, Mn = Mu- / f = 180.613 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 75 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 425.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
3.3331
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00935
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, r min = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00935
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 1192
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
4.204
Digunakan tulangan, 6 D 19
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 1701
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.50
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 4 bh
ke ni yi ni * yi
1 4 59.50 238.00
2 2 103.50 207.00
3 0 0.00 0.00
n= 6 S [ ni * yi ] = 445
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 74.17 mm
74.17 < 75  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 425.8 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 104.072 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 247.999 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 198.399 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu -

198.399 > 144.490  AMAN (OK)

3. TULANGAN GESER

Gaya geser ultimit rencana, Vu = 124.362 kN


Faktor reduksi kekuatan geser, f= 0.60
Tegangan leleh tulangan geser, fy = 235 MPa
Kuat geser beton, Vc = (√ fc') / 6 * b * d * 10-3 = 106.250 kN
Tahanan geser beton, f * Vc = 63.750 kN
 Perlu tulangan geser
Tahanan geser sengkang, f * Vs = Vu - f * Vc = 60.612 kN
Kuat geser sengkang, Vs = 101.020 kN
Digunakan sengkang berpenampang : 2 P 10
Av = ns * p / 4 * P = 2
mm
2
Luas tulangan geser sengkang, 157.08
Jarak sengkang yang diperlukan : s = Av * fy * d / ( Vs * 10 ) =
3
155.30 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = d / 2 = 220.25 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = 250.00 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 155.30 mm
Diambil jarak sengkang :  s= 150 mm
Digunakan sengkang, 2 P 10 100
PERHITUNGAN BALOK LANTAI (BEAM )

B1-300x500 (Lapangan)

A. DATA BALOK LANTAI

BAHAN STRUKTUR
Kuat tekan beton, fc' = 25 MPa
Tegangan leleh baja (deform) untuk tulangan lentur, fy = 390 MPa
Tegangan leleh baja (polos) untuk tulangan geser, fy = 235 MPa
DIMENSI BALOK
Lebar balok b= 300 mm
Tinggi balok h= 500 mm
Diameter tulangan (deform) yang digunakan, D= 19 mm
Diameter sengkang (polos) yang digunakan, P= 10 mm
Tebal bersih selimut beton, ts = 40 mm

MOMEN DAN GAYA GESER RENCANA


Momen rencana positif akibat beban terfaktor, Mu+ = 65.084 kNm
Momen rencana negatif akibat beban terfaktor, Mu - = 0.000 kNm
Gaya geser rencana akibat beban terfaktor, Vu = 29.558 kN

B. PERHITUNGAN TULANGAN - LAPANGAN


Untuk : fc' ≤ 30 MPa, b1 = 0.85
Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = -
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,  b1 = 0.85
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
rb = b1* 0.85 * fc’/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0281
Faktor tahanan momen maksimum,
Rmax = 0.75 * rb * fy * [1 – ½*0.75* rb * fy / ( 0.85 * fc’ ) ] = 6.6242
Faktor reduksi kekuatan lentur, f = 0.80
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton, ds = ts +  + D/2 = 59.50 mm
Jumlah tulangan dlm satu baris, ns = ( b - 2 * ds) / ( 25 + D ) = 4.11
Digunakan jumlah tulangan dalam satu baris, ns = 4 bh
Jarak horisontal pusat ke pusat antara tulangan,
x = ( b - n s * D - 2 * ds ) / ( ns - 1 ) = 35.00 mm
Jarak vertikal pusat ke pusat antara tulangan, y = D + 25 = 44.00 mm

1. TULANGAN LENTUR - BAWAH

Momen positif nominal rencana, Mn = Mu+ / f = 81.355 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 75 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 425.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
1.5014
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00400
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00400
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 510
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
1.797
Digunakan tulangan, 6 D 19
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 1701
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.50
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 4 bh
ke ni yi ni * yi
1 4 59.50 238.00
2 2 103.50 207.00
3 0 0.00 0.00
n= 6 S [ ni * yi ] = 445
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 74.17 mm
74.17 < 75  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 425.83 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 104.072 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 247.999 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 198.399 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu +

198.399 > 65.084  AMAN (OK)

2. TULANGAN LENTUR - ATAS

Momen negatif nominal rencana, Mn = Mu- / f = 0.000 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 75 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 425.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
0.0000
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00000
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, r min = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00359
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 458
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
1.614
Digunakan tulangan, 4 D 19
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 1134
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.00
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 4 bh
ke ni yi ni * yi
1 4 59.50 238.00
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 4 S [ ni * yi ] = 238
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 59.50 mm
59.50 < 75  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 440.5 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 69.381 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 179.491 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 143.593 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu -

143.593 > 0.000  AMAN (OK)

3. TULANGAN GESER

Gaya geser ultimit rencana, Vu = 29.558 kN


Faktor reduksi kekuatan geser, f= 0.60
Tegangan leleh tulangan geser, fy = 235 MPa
Kuat geser beton, Vc = (√ fc') / 6 * b * d * 10-3 = 106.250 kN
Tahanan geser beton, f * Vc = 63.750 kN
 Hanya perlu tul.geser min
Tahanan geser sengkang, f * Vs = Vu - f * Vc = - kN
Kuat geser sengkang, Vs = 29.558 kN
Digunakan sengkang berpenampang : 2 P 10
Av = ns * p / 4 * P = 2
mm
2
Luas tulangan geser sengkang, 157.08
Jarak sengkang yang diperlukan : s = Av * fy * d / ( Vs * 10 ) =
3
530.76 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = d / 2 = 212.92 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = 250.00 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 212.92 mm
Diambil jarak sengkang :  s= 210 mm
Digunakan sengkang, 2 P 10 150
PERHITUNGAN BALOK LANTAI (BEAM )

B2-250x500 Tumpuan

A. DATA BALOK LANTAI

BAHAN STRUKTUR
Kuat tekan beton, fc' = 25 MPa
Tegangan leleh baja (deform) untuk tulangan lentur, fy = 390 MPa
Tegangan leleh baja (polos) untuk tulangan geser, fy = 235 MPa
DIMENSI BALOK
Lebar balok b= 250 mm
Tinggi balok h= 500 mm
Diameter tulangan (deform) yang digunakan, D= 16 mm
Diameter sengkang (polos) yang digunakan, P= 10 mm
Tebal bersih selimut beton, ts = 40 mm

MOMEN DAN GAYA GESER RENCANA


Momen rencana positif akibat beban terfaktor, Mu+ = 112.920 kNm
Momen rencana negatif akibat beban terfaktor, Mu - = 119.505 kNm
Gaya geser rencana akibat beban terfaktor, Vu = 118.008 kN

B. PERHITUNGAN TULANGAN - TUMPUAN


Untuk : fc' ≤ 30 MPa, b1 = 0.85
Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = -
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,  b1 = 0.85
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
rb = b1* 0.85 * fc’/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0281
Faktor tahanan momen maksimum,
Rmax = 0.75 * rb * fy * [1 – ½*0.75* rb * fy / ( 0.85 * fc’ ) ] = 6.6242
Faktor reduksi kekuatan lentur, f = 0.80
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton, ds = ts +  + D/2 = 58.00 mm
Jumlah tulangan dlm satu baris, ns = ( b - 2 * ds) / ( 25 + D ) = 3.27
Digunakan jumlah tulangan dalam satu baris, ns = 3 bh
Jarak horisontal pusat ke pusat antara tulangan,
x = ( b - n s * D - 2 * ds ) / ( ns - 1 ) = 43.00 mm
Jarak vertikal pusat ke pusat antara tulangan, y = D + 25 = 41.00 mm

1. TULANGAN LENTUR - BAWAH

Momen positif nominal rencana, Mn = Mu+ / f = 141.150 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 75 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 425.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
3.1258
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00871
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00871
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 926
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
4.603
Digunakan tulangan, 5 D 16
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 1005
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.67
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 3 bh
ke ni yi ni * yi
1 3 58.00 174.00
2 2 99.00 198.00
3 0 0.00 0.00
n= 5 S [ ni * yi ] = 372
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 74.40 mm
74.40 < 75  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 425.60 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 73.802 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 152.398 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 121.918 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu +

121.918 > 112.920  AMAN (OK)

2. TULANGAN LENTUR - ATAS

Momen negatif nominal rencana, Mn = Mu- / f = 149.381 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 75 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 425.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
3.3081
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00927
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, r min = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00927
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 985
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
4.899
Digunakan tulangan, 5 D 16
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 1005
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.67
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 3 bh
ke ni yi ni * yi
1 3 58.00 174.00
2 2 99.00 198.00
3 0 0.00 0.00
n= 5 S [ ni * yi ] = 372
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 74.40 mm
74.40 < 75  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 425.6 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 73.802 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 152.398 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 121.918 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu -

121.918 > 119.505  AMAN (OK)

3. TULANGAN GESER

Gaya geser ultimit rencana, Vu = 118.008 kN


Faktor reduksi kekuatan geser, f= 0.60
Tegangan leleh tulangan geser, fy = 235 MPa
Kuat geser beton, Vc = (√ fc') / 6 * b * d * 10-3 = 88.542 kN
Tahanan geser beton, f * Vc = 53.125 kN
 Perlu tulangan geser
Tahanan geser sengkang, f * Vs = Vu - f * Vc = 64.883 kN
Kuat geser sengkang, Vs = 108.138 kN
Digunakan sengkang berpenampang : 2 P 10
Av = ns * p / 4 * P = 2
mm
2
Luas tulangan geser sengkang, 157.08
Jarak sengkang yang diperlukan : s = Av * fy * d / ( Vs * 10 ) =
3
145.08 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = d / 2 = 212.80 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = 250.00 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 145.08 mm
Diambil jarak sengkang :  s= 140 mm
Digunakan sengkang, 2 P 10 100
PERHITUNGAN BALOK LANTAI (BEAM )

B2-250x500 Lapangan

A. DATA BALOK LANTAI

BAHAN STRUKTUR
Kuat tekan beton, fc' = 25 MPa
Tegangan leleh baja (deform) untuk tulangan lentur, fy = 390 MPa
Tegangan leleh baja (polos) untuk tulangan geser, fy = 235 MPa
DIMENSI BALOK
Lebar balok b= 250 mm
Tinggi balok h= 500 mm
Diameter tulangan (deform) yang digunakan, D= 16 mm
Diameter sengkang (polos) yang digunakan, P= 10 mm
Tebal bersih selimut beton, ts = 40 mm

MOMEN DAN GAYA GESER RENCANA


Momen rencana positif akibat beban terfaktor, Mu+ = 115.203 kNm
Momen rencana negatif akibat beban terfaktor, Mu - = 119.250 kNm
Gaya geser rencana akibat beban terfaktor, Vu = 120.589 kN

B. PERHITUNGAN TULANGAN - LAPANGAN


Untuk : fc' ≤ 30 MPa, b1 = 0.85
Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = -
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,  b1 = 0.85
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
rb = b1* 0.85 * fc’/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0281
Faktor tahanan momen maksimum,
Rmax = 0.75 * rb * fy * [1 – ½*0.75* rb * fy / ( 0.85 * fc’ ) ] = 6.6242
Faktor reduksi kekuatan lentur, f = 0.80
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton, ds = ts +  + D/2 = 58.00 mm
Jumlah tulangan dlm satu baris, ns = ( b - 2 * ds) / ( 25 + D ) = 3.27
Digunakan jumlah tulangan dalam satu baris, ns = 3 bh
Jarak horisontal pusat ke pusat antara tulangan,
x = ( b - n s * D - 2 * ds ) / ( ns - 1 ) = 43.00 mm
Jarak vertikal pusat ke pusat antara tulangan, y = D + 25 = 41.00 mm

1. TULANGAN LENTUR - BAWAH

Momen positif nominal rencana, Mn = Mu+ / f = 144.004 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 75 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 425.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
3.1890
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00890
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00890
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 946
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
4.706
Digunakan tulangan, 5 D 16
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 1005
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.67
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 3 bh
ke ni yi ni * yi
1 3 58.00 174.00
2 2 99.00 198.00
3 0 0.00 0.00
n= 5 S [ ni * yi ] = 372
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 74.40 mm
74.40 < 75  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 425.60 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 73.802 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 152.398 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 121.918 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu +

121.918 > 115.203  AMAN (OK)

2. TULANGAN LENTUR - ATAS

Momen negatif nominal rencana, Mn = Mu- / f = 149.063 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 75 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 425.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
3.3010
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00925
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, r min = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00925
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 983
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
4.888
Digunakan tulangan, 5 D 16
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 1005
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.67
nb < 3  (OK)

Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 3 bh


ke ni yi ni * yi
1 3 58.00 174.00
2 2 99.00 198.00
3 0 0.00 0.00
n= 5 S [ ni * yi ] = 372
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 74.40 mm
74.40 < 75  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 425.6 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 73.802 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 152.398 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 121.918 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu -

121.918 > 119.250  AMAN (OK)

3. TULANGAN GESER

Gaya geser ultimit rencana, Vu = 120.589 kN


Faktor reduksi kekuatan geser, f= 0.60
Tegangan leleh tulangan geser, fy = 235 MPa
Kuat geser beton, Vc = (√ fc') / 6 * b * d * 10-3 = 88.542 kN
Tahanan geser beton, f * Vc = 53.125 kN
 Perlu tulangan geser
Tahanan geser sengkang, f * Vs = Vu - f * Vc = 67.464 kN
Kuat geser sengkang, Vs = 112.440 kN
Digunakan sengkang berpenampang : 2 P 10
Av = ns * p / 4 * P = 2
mm
2
Luas tulangan geser sengkang, 157.08
Jarak sengkang yang diperlukan : s = Av * fy * d / ( Vs * 10 ) =
3
139.53 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = d / 2 = 212.80 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = 250.00 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 139.53 mm
Diambil jarak sengkang :  s= 130 mm
Digunakan sengkang, 2 P 10 150
PERHITUNGAN BALOK LANTAI (BEAM )

B3-300x400 Tumpuan

A. DATA BALOK LANTAI

BAHAN STRUKTUR
Kuat tekan beton, fc' = 25 MPa
Tegangan leleh baja (deform) untuk tulangan lentur, fy = 390 MPa
Tegangan leleh baja (polos) untuk tulangan geser, fy = 235 MPa
DIMENSI BALOK
Lebar balok b= 300 mm
Tinggi balok h= 400 mm
Diameter tulangan (deform) yang digunakan, D= 16 mm
Diameter sengkang (polos) yang digunakan, P= 10 mm
Tebal bersih selimut beton, ts = 40 mm

MOMEN DAN GAYA GESER RENCANA


Momen rencana positif akibat beban terfaktor, Mu+ = 92.464 kNm
Momen rencana negatif akibat beban terfaktor, Mu - = 107.402 kNm
Gaya geser rencana akibat beban terfaktor, Vu = 108.238 kN
B. PERHITUNGAN TULANGAN - TUMPUAN

Untuk : fc' ≤ 30 MPa, b1 = 0.85


Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = -
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,  b1 = 0.85
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
rb = b1* 0.85 * fc’/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0281
Faktor tahanan momen maksimum,
Rmax = 0.75 * rb * fy * [1 – ½*0.75* rb * fy / ( 0.85 * fc’ ) ] = 6.6242
Faktor reduksi kekuatan lentur, f = 0.80
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton, ds = ts +  + D/2 = 58.00 mm
Jumlah tulangan dlm satu baris, ns = ( b - 2 * ds) / ( 25 + D ) = 4.49
Digunakan jumlah tulangan dalam satu baris, ns = 4 bh
Jarak horisontal pusat ke pusat antara tulangan,
x = ( b - n s * D - 2 * ds ) / ( ns - 1 ) = 40.00 mm
Jarak vertikal pusat ke pusat antara tulangan, y = D + 25 = 41.00 mm

1. TULANGAN LENTUR - BAWAH

Momen positif nominal rencana, Mn = Mu+ / f = 115.580 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 80 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 320.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
3.7624
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.01070
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.01070
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 1027
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
5.108
Digunakan tulangan, 6 D 16
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 1206
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.50
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 4 bh
ke ni yi ni * yi
1 4 58.00 232.00
2 2 99.00 198.00
3 0 0.00 0.00
n= 6 S [ ni * yi ] = 430
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 71.67 mm
71.67 < 80  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 328.33 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 73.802 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 137.115 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 109.692 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu +

109.692 > 92.464  AMAN (OK)

2. TULANGAN LENTUR - ATAS

Momen negatif nominal rencana, Mn = Mu- / f = 134.253 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 80 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 320.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
4.3702
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.01268
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, r min = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.01268
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 1217
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
6.055
Digunakan tulangan, 6 D 16
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 1206
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.50
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 4 bh
ke ni yi ni * yi
1 4 58.00 232.00
2 2 99.00 198.00
3 0 0.00 0.00
n= 6 S [ ni * yi ] = 430
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 71.67 mm
71.67 < 80  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 328.3 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 73.802 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 137.115 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 109.692 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu -

109.692 > 107.402  AMAN (OK)

3. TULANGAN GESER

Gaya geser ultimit rencana, Vu = 108.238 kN


Faktor reduksi kekuatan geser, f= 0.60
Tegangan leleh tulangan geser, fy = 235 MPa
Kuat geser beton, Vc = (√ fc') / 6 * b * d * 10-3 = 80.000 kN
Tahanan geser beton, f * Vc = 48.000 kN
 Perlu tulangan geser
Tahanan geser sengkang, f * Vs = Vu - f * Vc = 60.238 kN
Kuat geser sengkang, Vs = 100.397 kN
Digunakan sengkang berpenampang : 2 P 10
Av = ns * p / 4 * P = 2
mm
2
Luas tulangan geser sengkang, 157.08
Jarak sengkang yang diperlukan : s = Av * fy * d / ( Vs * 10 ) =
3
117.66 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = d / 2 = 164.17 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = 250.00 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 117.66 mm
Diambil jarak sengkang :  s= 110 mm
Digunakan sengkang, 2 P 10 100
PERHITUNGAN BALOK LANTAI (BEAM )

B3-300x400 Lapangan

A. DATA BALOK LANTAI

BAHAN STRUKTUR
Kuat tekan beton, fc' = 25 MPa
Tegangan leleh baja (deform) untuk tulangan lentur, fy = 390 MPa
Tegangan leleh baja (polos) untuk tulangan geser, fy = 235 MPa
DIMENSI BALOK
Lebar balok b= 300 mm
Tinggi balok h= 400 mm
Diameter tulangan (deform) yang digunakan, D= 16 mm
Diameter sengkang (polos) yang digunakan, P= 10 mm
Tebal bersih selimut beton, ts = 40 mm

MOMEN DAN GAYA GESER RENCANA


Momen rencana positif akibat beban terfaktor, Mu+ = 100.040 kNm
Momen rencana negatif akibat beban terfaktor, Mu - = 105.120 kNm
Gaya geser rencana akibat beban terfaktor, Vu = 93.295 kN
B. PERHITUNGAN TULANGAN - LAPANGAN

Untuk : fc' ≤ 30 MPa, b1 = 0.85


Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = -
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,  b1 = 0.85
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
rb = b1* 0.85 * fc’/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0281
Faktor tahanan momen maksimum,
Rmax = 0.75 * rb * fy * [1 – ½*0.75* rb * fy / ( 0.85 * fc’ ) ] = 6.6242
Faktor reduksi kekuatan lentur, f = 0.80
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton, ds = ts +  + D/2 = 58.00 mm
Jumlah tulangan dlm satu baris, ns = ( b - 2 * ds) / ( 25 + D ) = 4.49
Digunakan jumlah tulangan dalam satu baris, ns = 4 bh
Jarak horisontal pusat ke pusat antara tulangan,
x = ( b - n s * D - 2 * ds ) / ( ns - 1 ) = 40.00 mm
Jarak vertikal pusat ke pusat antara tulangan, y = D + 25 = 41.00 mm

1. TULANGAN LENTUR - BAWAH

Momen positif nominal rencana, Mn = Mu+ / f = 125.050 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 80 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 320.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
4.0706
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.01169
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.01169
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 1122
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
5.583
Digunakan tulangan, 6 D 16
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 1206
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.50
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 4 bh
ke ni yi ni * yi
1 4 58.00 232.00
2 2 99.00 198.00
3 0 0.00 0.00
n= 6 S [ ni * yi ] = 430
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 71.67 mm
71.67 < 80  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 328.33 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 73.802 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 137.115 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 109.692 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu +

109.692 > 100.040  AMAN (OK)

2. TULANGAN LENTUR - ATAS

Momen negatif nominal rencana, Mn = Mu- / f = 131.400 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 80 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 320.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
4.2773
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.01237
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, r min = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.01237
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 1188
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
5.907
Digunakan tulangan, 6 D 16
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 1206
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.50
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 4 bh
ke ni yi ni * yi
1 4 58.00 232.00
2 2 99.00 198.00
3 0 0.00 0.00
n= 6 S [ ni * yi ] = 430
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 71.67 mm
71.67 < 80  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 328.3 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 73.802 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 137.115 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 109.692 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu -

109.692 > 105.120  AMAN (OK)

3. TULANGAN GESER

Gaya geser ultimit rencana, Vu = 93.295 kN


Faktor reduksi kekuatan geser, f= 0.60
Tegangan leleh tulangan geser, fy = 235 MPa
Kuat geser beton, Vc = (√ fc') / 6 * b * d * 10-3 = 80.000 kN
Tahanan geser beton, f * Vc = 48.000 kN
 Perlu tulangan geser
Tahanan geser sengkang, f * Vs = Vu - f * Vc = 45.295 kN
Kuat geser sengkang, Vs = 75.492 kN
Digunakan sengkang berpenampang : 2 P 10
Av = ns * p / 4 * P = 2
mm
2
Luas tulangan geser sengkang, 157.08
Jarak sengkang yang diperlukan : s = Av * fy * d / ( Vs * 10 ) =
3
156.47 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = d / 2 = 164.17 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = 250.00 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 156.47 mm
Diambil jarak sengkang :  s= 150 mm
Digunakan sengkang, 2 P 10 150
PERHITUNGAN BALOK LANTAI (BEAM )

B4-250x300 Tumpuan

A. DATA BALOK LANTAI

BAHAN STRUKTUR
Kuat tekan beton, fc' = 25 MPa
Tegangan leleh baja (deform) untuk tulangan lentur, fy = 390 MPa
Tegangan leleh baja (polos) untuk tulangan geser, fy = 235 MPa
DIMENSI BALOK
Lebar balok b= 250 mm
Tinggi balok h= 300 mm
Diameter tulangan (deform) yang digunakan, D= 16 mm
Diameter sengkang (polos) yang digunakan, P= 8 mm
Tebal bersih selimut beton, ts = 40 mm

MOMEN DAN GAYA GESER RENCANA


Momen rencana positif akibat beban terfaktor, Mu+ = 7.545 kNm
Momen rencana negatif akibat beban terfaktor, Mu - = 18.713 kNm
Gaya geser rencana akibat beban terfaktor, Vu = 22.809 kN
B. PERHITUNGAN TULANGAN - TUMPUAN

Untuk : fc' ≤ 30 MPa, b1 = 0.85


Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = -
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,  b1 = 0.85
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
rb = b1* 0.85 * fc’/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0281
Faktor tahanan momen maksimum,
Rmax = 0.75 * rb * fy * [1 – ½*0.75* rb * fy / ( 0.85 * fc’ ) ] = 6.6242
Faktor reduksi kekuatan lentur, f = 0.80
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton, ds = ts +  + D/2 = 56.00 mm
Jumlah tulangan dlm satu baris, ns = ( b - 2 * ds) / ( 25 + D ) = 3.37
Digunakan jumlah tulangan dalam satu baris, ns = 3 bh
Jarak horisontal pusat ke pusat antara tulangan,
x = ( b - n s * D - 2 * ds ) / ( ns - 1 ) = 45.00 mm
Jarak vertikal pusat ke pusat antara tulangan, y = D + 25 = 41.00 mm

1. TULANGAN LENTUR - BAWAH

Momen positif nominal rencana, Mn = Mu+ / f = 9.431 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 60 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 240.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
0.6549
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00171
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00359
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 215
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
1.071
Digunakan tulangan, 2 D 16
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 402
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 0.67
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 3 bh
ke ni yi ni * yi
1 2 56.00 112.00
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 2 S [ ni * yi ] = 112
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 56.00 mm
56.00 < 60  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 244.00 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 29.521 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 35.951 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 28.761 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu +

28.761 > 7.545  AMAN (OK)

2. TULANGAN LENTUR - ATAS

Momen negatif nominal rencana, Mn = Mu- / f = 23.391 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 60 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 240.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
1.6244
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00434
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, r min = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00434
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 260
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
1.294
Digunakan tulangan, 2 D 16
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 402
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 0.67
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 3 bh
ke ni yi ni * yi
1 2 56.00 112.00
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 2 S [ ni * yi ] = 112
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 56.00 mm
56.00 < 60  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 244.0 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 29.521 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 35.951 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 28.761 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu -

28.761 > 18.713  AMAN (OK)

3. TULANGAN GESER

Gaya geser ultimit rencana, Vu = 22.809 kN


Faktor reduksi kekuatan geser, f= 0.60
Tegangan leleh tulangan geser, fy = 235 MPa
Kuat geser beton, Vc = (√ fc') / 6 * b * d * 10-3 = 50.000 kN
Tahanan geser beton, f * Vc = 30.000 kN
 Hanya perlu tul.geser min
Tahanan geser sengkang, f * Vs = Vu - f * Vc = - kN
Kuat geser sengkang, Vs = 22.809 kN
Digunakan sengkang berpenampang : 2 P 8
Av = ns * p / 4 * P = 2
mm
2
Luas tulangan geser sengkang, 100.53
Jarak sengkang yang diperlukan : s = Av * fy * d / ( Vs * 10 ) =
3
248.58 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = d / 2 = 122.00 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = 250.00 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 122.00 mm
Diambil jarak sengkang :  s= 120 mm
Digunakan sengkang, 2 P 8 100
PERHITUNGAN BALOK LANTAI (BEAM )

B4-250x300 Lapangan

A. DATA BALOK LANTAI

BAHAN STRUKTUR
Kuat tekan beton, fc' = 25 MPa
Tegangan leleh baja (deform) untuk tulangan lentur, fy = 390 MPa
Tegangan leleh baja (polos) untuk tulangan geser, fy = 235 MPa
DIMENSI BALOK
Lebar balok b= 250 mm
Tinggi balok h= 300 mm
Diameter tulangan (deform) yang digunakan, D= 16 mm
Diameter sengkang (polos) yang digunakan, P= 10 mm
Tebal bersih selimut beton, ts = 40 mm

MOMEN DAN GAYA GESER RENCANA


Momen rencana positif akibat beban terfaktor, Mu+ = 5.974 kNm
Momen rencana negatif akibat beban terfaktor, Mu - = 7.615 kNm
Gaya geser rencana akibat beban terfaktor, Vu = 21.583 kN
B. PERHITUNGAN TULANGAN - LAPANGAN

Untuk : fc' ≤ 30 MPa, b1 = 0.85


Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = -
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,  b1 = 0.85
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
rb = b1* 0.85 * fc’/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0281
Faktor tahanan momen maksimum,
Rmax = 0.75 * rb * fy * [1 – ½*0.75* rb * fy / ( 0.85 * fc’ ) ] = 6.6242
Faktor reduksi kekuatan lentur, f = 0.80
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton, ds = ts +  + D/2 = 58.00 mm
Jumlah tulangan dlm satu baris, ns = ( b - 2 * ds) / ( 25 + D ) = 3.27
Digunakan jumlah tulangan dalam satu baris, ns = 3 bh
Jarak horisontal pusat ke pusat antara tulangan,
x = ( b - n s * D - 2 * ds ) / ( ns - 1 ) = 43.00 mm
Jarak vertikal pusat ke pusat antara tulangan, y = D + 25 = 41.00 mm

1. TULANGAN LENTUR - BAWAH

Momen positif nominal rencana, Mn = Mu+ / f = 7.468 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 60 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 240.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
0.5186
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00135
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00359
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 215
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
1.071
Digunakan tulangan, 2 D 16
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 402
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 0.67
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 3 bh
ke ni yi ni * yi
1 2 58.00 116.00
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 2 S [ ni * yi ] = 116
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 58.00 mm
58.00 < 60  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 242.00 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 29.521 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 35.638 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 28.510 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu +

28.510 > 5.974  AMAN (OK)

2. TULANGAN LENTUR - ATAS

Momen negatif nominal rencana, Mn = Mu- / f = 9.519 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 60 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 240.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
0.6610
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00172
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, r min = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00359
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 215
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
1.071
Digunakan tulangan, 2 D 16
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 402
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 0.67
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 3 bh
ke ni yi ni * yi
1 2 58.00 116.00
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 2 S [ ni * yi ] = 116
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 58.00 mm
58.00 < 60  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 242.0 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 29.521 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 35.638 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 28.510 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu -

28.510 > 7.615  AMAN (OK)

3. TULANGAN GESER

Gaya geser ultimit rencana, Vu = 21.583 kN


Faktor reduksi kekuatan geser, f= 0.60
Tegangan leleh tulangan geser, fy = 235 MPa
Kuat geser beton, Vc = (√ fc') / 6 * b * d * 10-3 = 50.000 kN
Tahanan geser beton, f * Vc = 30.000 kN
 Hanya perlu tul.geser min
Tahanan geser sengkang, f * Vs = Vu - f * Vc = - kN
Kuat geser sengkang, Vs = 21.583 kN
Digunakan sengkang berpenampang : 2 P 10
Av = ns * p / 4 * P = 2
mm
2
Luas tulangan geser sengkang, 157.08
Jarak sengkang yang diperlukan : s = Av * fy * d / ( Vs * 10 ) =
3
410.48 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = d / 2 = 121.00 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = 250.00 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 121.00 mm
Diambil jarak sengkang :  s= 120 mm
Digunakan sengkang, 2 P 10 150
PERHITUNGAN BALOK LANTAI (BEAM )

B6-150x250 Tumpuan

A. DATA BALOK LANTAI

BAHAN STRUKTUR
Kuat tekan beton, fc' = 25 MPa
Tegangan leleh baja (deform) untuk tulangan lentur, fy = 390 MPa
Tegangan leleh baja (polos) untuk tulangan geser, fy = 235 MPa
DIMENSI BALOK
Lebar balok b= 150 mm
Tinggi balok h= 250 mm
Diameter tulangan (deform) yang digunakan, D= 12 mm
Diameter sengkang (polos) yang digunakan, P= 10 mm
Tebal bersih selimut beton, ts = 20 mm

MOMEN DAN GAYA GESER RENCANA


Momen rencana positif akibat beban terfaktor, Mu+ = 3.927 kNm
Momen rencana negatif akibat beban terfaktor, Mu - = 5.486 kNm
Gaya geser rencana akibat beban terfaktor, Vu = 4.357 kN
B. PERHITUNGAN TULANGAN - TUMPUAN

Untuk : fc' ≤ 30 MPa, b1 = 0.85


Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = -
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,  b1 = 0.85
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
rb = b1* 0.85 * fc’/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0281
Faktor tahanan momen maksimum,
Rmax = 0.75 * rb * fy * [1 – ½*0.75* rb * fy / ( 0.85 * fc’ ) ] = 6.6242
Faktor reduksi kekuatan lentur, f = 0.80
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton, ds = ts +  + D/2 = 36.00 mm
Jumlah tulangan dlm satu baris, ns = ( b - 2 * ds) / ( 25 + D ) = 2.11
Digunakan jumlah tulangan dalam satu baris, ns = 2 bh
Jarak horisontal pusat ke pusat antara tulangan,
x = ( b - n s * D - 2 * ds ) / ( ns - 1 ) = 54.00 mm
Jarak vertikal pusat ke pusat antara tulangan, y = D + 25 = 37.00 mm

1. TULANGAN LENTUR - BAWAH

Momen positif nominal rencana, Mn = Mu+ / f = 4.909 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 55 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 195.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
0.8606
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00225
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00359
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 105
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
0.928
Digunakan tulangan, 2 D 12
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 226
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.00
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 2 bh
ke ni yi ni * yi
1 2 36.00 72.00
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 2 S [ ni * yi ] = 72
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 36.00 mm
36.00 < 55  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 214.00 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 27.676 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 17.657 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 14.126 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu +

14.126 > 3.927  AMAN (OK)

2. TULANGAN LENTUR - ATAS

Momen negatif nominal rencana, Mn = Mu- / f = 6.858 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 55 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 195.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
1.2023
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00318
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, r min = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00359
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 105
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
0.928
Digunakan tulangan, 2 D 12
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 226
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.00
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 2 bh
ke ni yi ni * yi
1 2 36.00 72.00
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 2 S [ ni * yi ] = 72
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 36.00 mm
36.00 < 55  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 214.0 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 27.676 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 17.657 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 14.126 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu -

14.126 > 5.486  AMAN (OK)

3. TULANGAN GESER

Gaya geser ultimit rencana, Vu = 4.357 kN


Faktor reduksi kekuatan geser, f= 0.60
Tegangan leleh tulangan geser, fy = 235 MPa
Kuat geser beton, Vc = (√ fc') / 6 * b * d * 10-3 = 24.375 kN
Tahanan geser beton, f * Vc = 14.625 kN
 Hanya perlu tul.geser min
Tahanan geser sengkang, f * Vs = Vu - f * Vc = - kN
Kuat geser sengkang, Vs = 4.357 kN
Digunakan sengkang berpenampang : 2 P 10
Av = ns * p / 4 * P = 2
mm
2
Luas tulangan geser sengkang, 157.08
Jarak sengkang yang diperlukan : s = Av * fy * d / ( Vs * 10 ) =
3
1652.09 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = d / 2 = 107.00 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = 250.00 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 107.00 mm
Diambil jarak sengkang :  s= 100 mm
Digunakan sengkang, 2 P 10 100
PERHITUNGAN BALOK LANTAI (BEAM )

B6-150x250 Lapangan

A. DATA BALOK LANTAI

BAHAN STRUKTUR
Kuat tekan beton, fc' = 25 MPa
Tegangan leleh baja (deform) untuk tulangan lentur, fy = 390 MPa
Tegangan leleh baja (polos) untuk tulangan geser, fy = 235 MPa
DIMENSI BALOK
Lebar balok b= 150 mm
Tinggi balok h= 250 mm
Diameter tulangan (deform) yang digunakan, P= 12 mm
Diameter sengkang (polos) yang digunakan, P= 10 mm
Tebal bersih selimut beton, ts = 20 mm

MOMEN DAN GAYA GESER RENCANA


Momen rencana positif akibat beban terfaktor, Mu+ = 3.594 kNm
Momen rencana negatif akibat beban terfaktor, Mu - = 4.508 kNm
Gaya geser rencana akibat beban terfaktor, Vu = 4.905 kN
B. PERHITUNGAN TULANGAN - LAPANGAN

Untuk : fc' ≤ 30 MPa, b1 = 0.85


Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = -
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,  b1 = 0.85
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
rb = b1* 0.85 * fc’/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0281
Faktor tahanan momen maksimum,
Rmax = 0.75 * rb * fy * [1 – ½*0.75* rb * fy / ( 0.85 * fc’ ) ] = 6.6242
Faktor reduksi kekuatan lentur, f = 0.80
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton, ds = ts +  + D/2 = 36.00 mm
Jumlah tulangan dlm satu baris, ns = ( b - 2 * ds) / ( 25 + D ) = 2.11
Digunakan jumlah tulangan dalam satu baris, ns = 2 bh
Jarak horisontal pusat ke pusat antara tulangan,
x = ( b - n s * D - 2 * ds ) / ( ns - 1 ) = 54.00 mm
Jarak vertikal pusat ke pusat antara tulangan, y = D + 25 = 37.00 mm

1. TULANGAN LENTUR - BAWAH

Momen positif nominal rencana, Mn = Mu+ / f = 4.493 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 55 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 195.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
0.7876
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00206
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00359
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 105
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
0.928
Digunakan tulangan, 3 D 12
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 339
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.50
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 2 bh
ke ni yi ni * yi
1 3 36.00 108.00
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 3 S [ ni * yi ] = 108
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 36.00 mm
36.00 < 55  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 214.00 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 41.513 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 25.571 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 20.457 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu +

20.457 > 3.594  AMAN (OK)

2. TULANGAN LENTUR - ATAS

Momen negatif nominal rencana, Mn = Mu- / f = 5.635 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 55 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 195.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
0.9879
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00259
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, r min = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00359
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 105
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
0.928
Digunakan tulangan, 3 D 12
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 339
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 1.50
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 2 bh
ke ni yi ni * yi
1 3 36.00 108.00
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 3 S [ ni * yi ] = 108
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 36.00 mm
36.00 < 55  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 214.0 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 41.513 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 25.571 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 20.457 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu -

20.457 > 4.508  AMAN (OK)

3. TULANGAN GESER

Gaya geser ultimit rencana, Vu = 4.905 kN


Faktor reduksi kekuatan geser, f= 0.60
Tegangan leleh tulangan geser, fy = 235 MPa
Kuat geser beton, Vc = (√ fc') / 6 * b * d * 10-3 = 24.375 kN
Tahanan geser beton, f * Vc = 14.625 kN
 Hanya perlu tul.geser min
Tahanan geser sengkang, f * Vs = Vu - f * Vc = - kN
Kuat geser sengkang, Vs = 4.905 kN
Digunakan sengkang berpenampang : 2 P 10
Av = ns * p / 4 * P = 2
mm
2
Luas tulangan geser sengkang, 157.08
Jarak sengkang yang diperlukan : s = Av * fy * d / ( Vs * 10 ) =
3
1467.52 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = d / 2 = 107.00 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = 250.00 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 107.00 mm
Diambil jarak sengkang :  s= 100 mm
Digunakan sengkang, 2 P 10 150
PERHITUNGAN BALOK LANTAI (BEAM )

S1-300x400 Tumpuan

A. DATA BALOK LANTAI

BAHAN STRUKTUR
Kuat tekan beton, fc' = 25 MPa
Tegangan leleh baja (deform) untuk tulangan lentur, fy = 390 MPa
Tegangan leleh baja (polos) untuk tulangan geser, fy = 235 MPa
DIMENSI BALOK
Lebar balok b= 300 mm
Tinggi balok h= 400 mm
Diameter tulangan (deform) yang digunakan, D= 19 mm
Diameter sengkang (polos) yang digunakan, P= 10 mm
Tebal bersih selimut beton, ts = 40 mm

MOMEN DAN GAYA GESER RENCANA


Momen rencana positif akibat beban terfaktor, Mu+ = 1.008 kNm
Momen rencana negatif akibat beban terfaktor, Mu - = 5.376 kNm
Gaya geser rencana akibat beban terfaktor, Vu = 8.064 kN
B. PERHITUNGAN TULANGAN - TUMPUAN

Untuk : fc' ≤ 30 MPa, b1 = 0.85


Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = -
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,  b1 = 0.85
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
rb = b1* 0.85 * fc’/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0281
Faktor tahanan momen maksimum,
Rmax = 0.75 * rb * fy * [1 – ½*0.75* rb * fy / ( 0.85 * fc’ ) ] = 6.6242
Faktor reduksi kekuatan lentur, f = 0.80
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton, ds = ts +  + D/2 = 59.50 mm
Jumlah tulangan dlm satu baris, ns = ( b - 2 * ds) / ( 25 + D ) = 4.11
Digunakan jumlah tulangan dalam satu baris, ns = 4 bh
Jarak horisontal pusat ke pusat antara tulangan,
x = ( b - n s * D - 2 * ds ) / ( ns - 1 ) = 35.00 mm
Jarak vertikal pusat ke pusat antara tulangan, y = D + 25 = 44.00 mm

1. TULANGAN LENTUR - BAWAH

Momen positif nominal rencana, Mn = Mu+ / f = 1.260 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 60 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 340.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
0.0363
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00009
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00359
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 366
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
1.291
Digunakan tulangan, 3 D 19
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 851
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 0.75
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 4 bh
ke ni yi ni * yi
1 3 59.50 178.50
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 3 S [ ni * yi ] = 178.5
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 59.50 mm
59.50 < 60  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 340.50 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 52.036 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 104.323 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 83.458 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu +

83.458 > 1.008  AMAN (OK)

2. TULANGAN LENTUR - ATAS

Momen negatif nominal rencana, Mn = Mu- / f = 6.720 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 60 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 340.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
0.1938
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00050
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, r min = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00359
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 366
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
1.291
Digunakan tulangan, 3 D 19
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 851
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 0.75
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 4 bh
ke ni yi ni * yi
1 3 59.50 178.50
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 3 S [ ni * yi ] = 178.5
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 59.50 mm
59.50 < 60  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 340.5 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 52.036 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 104.323 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 83.458 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu -

83.458 > 5.376  AMAN (OK)

3. TULANGAN GESER

Gaya geser ultimit rencana, Vu = 8.064 kN


Faktor reduksi kekuatan geser, f= 0.60
Tegangan leleh tulangan geser, fy = 235 MPa
Kuat geser beton, Vc = (√ fc') / 6 * b * d * 10-3 = 85.000 kN
Tahanan geser beton, f * Vc = 51.000 kN
 Hanya perlu tul.geser min
Tahanan geser sengkang, f * Vs = Vu - f * Vc = - kN
Kuat geser sengkang, Vs = 8.064 kN
Digunakan sengkang berpenampang : 2 P 10
Av = ns * p / 4 * P = 2
mm
2
Luas tulangan geser sengkang, 157.08
Jarak sengkang yang diperlukan : s = Av * fy * d / ( Vs * 10 ) =
3
1556.38 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = d / 2 = 170.25 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = 250.00 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 170.25 mm
Diambil jarak sengkang :  s= 170 mm
Digunakan sengkang, 2 P 10 100
PERHITUNGAN BALOK LANTAI (BEAM )

S1-300x400 Lapangan

A. DATA BALOK LANTAI

BAHAN STRUKTUR
Kuat tekan beton, fc' = 25 MPa
Tegangan leleh baja (deform) untuk tulangan lentur, fy = 390 MPa
Tegangan leleh baja (polos) untuk tulangan geser, fy = 235 MPa
DIMENSI BALOK
Lebar balok b= 300 mm
Tinggi balok h= 400 mm
Diameter tulangan (deform) yang digunakan, D= 19 mm
Diameter sengkang (polos) yang digunakan, P= 10 mm
Tebal bersih selimut beton, ts = 40 mm

MOMEN DAN GAYA GESER RENCANA


Momen rencana positif akibat beban terfaktor, Mu+ = 2.688 kNm
Momen rencana negatif akibat beban terfaktor, Mu - = 1.482 kNm
Gaya geser rencana akibat beban terfaktor, Vu = 4.680 kN
B. PERHITUNGAN TULANGAN - LAPANGAN

Untuk : fc' ≤ 30 MPa, b1 = 0.85


Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = -
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,  b1 = 0.85
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
rb = b1* 0.85 * fc’/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0281
Faktor tahanan momen maksimum,
Rmax = 0.75 * rb * fy * [1 – ½*0.75* rb * fy / ( 0.85 * fc’ ) ] = 6.6242
Faktor reduksi kekuatan lentur, f = 0.80
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton, ds = ts +  + D/2 = 59.50 mm
Jumlah tulangan dlm satu baris, ns = ( b - 2 * ds) / ( 25 + D ) = 4.11
Digunakan jumlah tulangan dalam satu baris, ns = 4 bh
Jarak horisontal pusat ke pusat antara tulangan,
x = ( b - n s * D - 2 * ds ) / ( ns - 1 ) = 35.00 mm
Jarak vertikal pusat ke pusat antara tulangan, y = D + 25 = 44.00 mm

1. TULANGAN LENTUR - BAWAH

Momen positif nominal rencana, Mn = Mu+ / f = 3.360 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 60 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 340.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
0.0969
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00025
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00359
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 366
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
1.291
Digunakan tulangan, 3 D 19
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 851
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 0.75
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 4 bh
ke ni yi ni * yi
1 3 59.50 178.50
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 3 S [ ni * yi ] = 178.5
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 59.50 mm
59.50 < 60  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 340.50 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 52.036 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 104.323 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 83.458 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu +

83.458 > 2.688  AMAN (OK)

2. TULANGAN LENTUR - ATAS

Momen negatif nominal rencana, Mn = Mu- / f = 1.853 kNm


Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 60 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 340.00 mm
Faktor tahanan momen, Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
0.0534
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00014
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, r min = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00359
As = r * b * d = mm
2
Luas tulangan yang diperlukan, 366
Jumlah tulangan yang diperlukan, n = As / ( p / 4 * D ) =
2
1.291
Digunakan tulangan, 3 D 19
As = n * p / 4 * D =2
mm
2
Luas tulangan terpakai, 851
Jumlah baris tulangan, nb = n / ns = 0.75
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak ns = 4 bh
ke ni yi ni * yi
1 3 59.50 178.50
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 3 S [ ni * yi ] = 178.5
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 59.50 mm
59.50 < 60  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 340.5 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 52.036 mm
Momen nominal, Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10-6 = 104.323 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 83.458 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu -

83.458 > 1.482  AMAN (OK)

3. TULANGAN GESER

Gaya geser ultimit rencana, Vu = 4.680 kN


Faktor reduksi kekuatan geser, f= 0.60
Tegangan leleh tulangan geser, fy = 235 MPa
Kuat geser beton, Vc = (√ fc') / 6 * b * d * 10-3 = 85.000 kN
Tahanan geser beton, f * Vc = 51.000 kN
 Hanya perlu tul.geser min
Tahanan geser sengkang, f * Vs = Vu - f * Vc = - kN
Kuat geser sengkang, Vs = 4.680 kN
Digunakan sengkang berpenampang : 2 P 10
Av = ns * p / 4 * P = 2
mm
2
Luas tulangan geser sengkang, 157.08
Jarak sengkang yang diperlukan : s = Av * fy * d / ( Vs * 10 ) =
3
2681.77 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = d / 2 = 170.25 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = 250.00 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 170.25 mm
Diambil jarak sengkang :  s= 170 mm
Digunakan sengkang, 2 P 10 150
Desain Kolom

Desain kolom dilakukan berdasarkan SNI 2847:2013. Pada bab ini disajikan prosedur
perhitungan/desain kolom yang digunakan dalam pekerjaan ini dengan menggunakan
diagram interaksi ØMn - ØPn.
Kolom K1-400x600 (Rasio Tulangan 1.900%)
P ( kN)
6000

(Pmax)

0 350

M (54°) ( k N m)

(Pmin)
-2000

Kolom K2-400x400 (Rasio Tulangan 1.510%)


P ( kN)
3500
(Pmax)

0 180

M (39°) ( k N m)

(Pmin)
-1000
Kolom K5-200x200 (Rasio Tulangan 1.510%)
P ( kN)
900 (Pmax)

1
0 25

M (62°) ( k N m)

(Pmin)
-400

Sengkang Geser Tulangan Pokok Tulangan Pokok


Ujung Tengah
No. Tipe Kolom ρ terpasang ρ min ρ max Cek:
nb nh ntotal D
n D s n D s (mm ) 2
(mm ) 2
(mm ) 2 ρmin≤ρtps≤ρmax

1 K1-400.600 2 10 100 2 10 150 4 4 12 22 1.901% 1% 6% OK


2 K2-400.400 2 10 100 2 10 150 4 4 12 16 1.508% 1% 6% OK
3 K5-200.200 2 8 100 2 8 150 3 3 8 12 2.262% 1% 6% OK
PERHITUNGAN FONDASI CONTINOUS FOOTING
(FOUNDATION GIRDER)

A. DATA FONDASI CONTINOUS FOOTING

1. DATA TANAH
Kedalaman fondasi, Df = 2.60 m
Berat volume tanah, g= 17.78 kN/m3
Sudut gesek dalam, f= 23.25 
Kohesi, c= 13.00 kPa
Tahanan konus rata-rata (hasil pengujian sondir di 3 titik), qc = 44.43 kg/cm2
2. DIMENSI FONDASI
Lebar dasar fondasi, B= 1.50 m
Panjang dasar fondasi arah x, Lx = 4.00 m
Panjang dasar fondasi arah y, Ly = 4.00 m
Lebar foundation girder, b= 0.30 m
Tinggi foundation girder arah x, hx = 0.60 m
Tinggi foundation girder arah y, hy = 0.60 m
Tebal foot plat, hp = 0.25 m
3 . BAHAN KONSTRUKSI
Kuat tekan beton, fc' = 25 MPa
Kuat leleh baja tulangan deform dengan  > 12 mm, fy = 390 MPa
Kuat leleh baja tulangan polos dengan  ≤ 12 mm, fy = 235 MPa
Berat beton bertulang, gc = 24 kN/m3

4 . BEBAN RENCANA FONDASI


Gaya aksial akibat beban terfaktor, Pu = 710.65 kN
Momen arah x akibat beban terfaktor, Mux = 81.63 kNm
Momen arah y akibat beban terfaktor, Muy = 108.04 kNm
Gaya lateral arah x akibat beban terfaktor, Vux = 42.80 kN
Gaya lateral arah y akibat beban terfaktor, Vuy = 36.49 kN

B. KAPASITAS DUKUNG TANAH

1. MENURUT TERZAGHI DAN PECK (1943)

Kapasitas dukung ultimit tanah menurut Terzaghi dan Peck (1943) :


qu = c * Nc * (1 + 0.3 * B / L) + Df * g * Nq + 0.5 * B * Ng * (1 - 0.2 * B / L)
c = kohesi tanah (kN/m2) c= 13.00 
Df = Kedalaman fondasi (m) Df = 2.60 m
g = berat volume tanah (kN/m3) g= 17.78 kN/m3
B = lebar fondasi (m) B= 1.50 m
L = panjang fondasi (m) L= 4.00 m
Sudut gesek dalam, f= 23.25 
f = f / 180 * p = 0.4057891 rad
(3*p / 4 - f/2)*tan f
a=e = 2.5221978
Kpg = 3 * tan [ 45 + 1/2*( f + 33) ] = 32.601888
2

Faktor kapasitas dukung tanah menurut Terzaghi :


Nc = 1/ tan f * [ a / (2 * cos (45 + f/2) - 1 ] =
2 2
22.136
Nq = a / [ (2 * cos (45 + f/2) ] = Nc * tan f + 1 =
2 2
10.510
Ng = 1/2 * tan f * [ Kpg / cos f - 1 ] =
2
8.081
Kapasitas dukung ultimit tanah menurut Terzaghi :
qu = c*Nc*(1+0.3*B/L) + Df*g*Nq + 0.5*B*Ng*(1-0.2*B/L) = 811.71 kN/m2
Kapasitas dukung tanah, qa = q u / 3 = 270.57 kN/m2

2. MENURUT MEYERHOF (1956)

Kapasitas dukung tanah menurut Meyerhof (1956) :


qa = qc / 33 * [ ( B + 0.3 ) / B ] * Kd
2
( dalam kg/cm2 )
dengan, Kd = 1 + 0.33 * Df / B harus  1.33

qc = tahanan konus rata-rata hasil sondir pada dasar fondasi ( kg/cm )


2

B = lebar fondasi (m) B= 1.50 m


Df = Kedalaman fondasi (m) Df = 2.60 m
Kd = 1 + 0.33 * Df / B = 1.572 > 1.33
 Diambil, Kd = 1.33
Tahanan konus rata-rata hasil sondir pada dasar fondasi, qc = 44.43 kg/cm2
qa = qc / 33 * [ ( B + 0.3 ) / B ] * Kd =
2
2.578 kg/cm2
Kapasitas dukung ijin tanah, qa = 252.94 kN/m2

4. KAPASITAS DUKUNG TANAH YANG DIPAKAI

1) Kapasitas dukung tanah tanah menurut Meyerhof : qa = 252.94 kN/m2


Diambil kapasitas dukung tanah,  qa = 252.94 kN/m2
C. PERHITUNGAN FONDASI

1. KONTROL TEGANGAN TANAH

Luas dasar fondasi, A = B * [ Lx + ( Ly - B ) ] = 9.7500 m2


Momen inersia luasan fondasi arah x,
Ix = 1/12 * B * Lx + 1/12 * ( Ly - B ) * B =
3 3
8.7031 m4
Momen inersia luasan fondasi arah y,
Iy = 1/12 * B * Ly + 1/12 * ( Lx - B ) * B =
3 3
8.7031 m4
Tahanan momen arah x, Wx = Ix / ( Lx / 2 ) = 4.3516 m3
Tahanan momen arah y, Wy = Iy / ( Ly / 2 ) = 4.3516 m3
Tekanan akibat berat beton dan tanah,
q = hp * gc + ( Df - hp ) * g = 47.791 kN/m2

Tegangan tanah maksimum yang terjadi pada dasar fondasi :


qmax = Pu / A + Mux / Wx + Muy / Wy + q = 164.265 kN/m2
Syarat : qmax ≤ qa
164.265 < 252.94  AMAN (OK)

Tegangan tanah minimum yang terjadi pada dasar fondasi :


qmin = Pu / A - Mux / Wx - Muy / Wy + q = 77.091 kN/m2
Syarat : qmin ≥ 0
77.091 > 0.00  tak terjadi teg.tarik (OK)
Tahanan lateral tanah, H = Pu * tan f = 305.32 kN
Gaya lateral arah x akibat beban terfaktor, Vux = 42.80 kN
Gaya lateral arah y akibat beban terfaktor, Vuy = 36.49 kN
Vu =  ( Vux + Vuy ) =
2 2
Resultan gaya lateral, 56.24 kN
Syarat : Vu ≤ H
56.24 < 305.32  AMAN (OK)

2. MOMEN DAN GAYA GESER PADA GIRDER

Tegangan netto tanah pada dasar fondasi : qn = qmax - q = 116.474 kN/m2


Lebar fondasi, B= 1.50 m

2.1. GIRDER ARAH X


Panjang bentang girder, Lx = 4.00 m
Mu = 1/12 * qn * B * Lx =
+ 2
Momen positif, 232.95 kNm
Mu = 1/24 * qn * B * Lx =
- 2
Momen negatif, 116.47 kNm
Gaya geser, Vu = 1/2 * qn * B * Lx = 349.42 kN

2.2. GIRDER ARAH Y


Panjang bentang girder, Ly = 4.00 m
Mu = 1/12 * qn * B * Ly =
+ 2
Momen positif, 232.95 kNm
Mu = 1/24 * qn * B * Ly =
- 2
Momen negatif, 116.47 kNm
Gaya geser, Vu = 1/2 * qn * B * Ly = 349.42 kN

3. GAYA GESER PADA FOOT PLAT


Jarak pusat tulangan terhadap sisi luar beton, d' = 0.05 m
Tebal efektif foot plat, d = hp - d' = 0.200 m
Jarak bid. kritis terhadap sisi luar foot plat, a=(B-b-d)/2= 0.500 m
Tegangan tanah netto, qn = qmax - q = 116.474 kN/m2
Lebar bidang geser untuk tinjauan per meter, b= 1500 mm
Gaya geser, Vu = qn * a = 58.237 kN
Tebal efektif footplat, d= 200 mm
Vc = 1 / 3 * √ fc' * b * d * 10 =
-3
Kuat geser foot plat, 500.000 kN
Faktor reduksi kekuatan geser, f = 0.75
Kuat geser foot plat, f * Vc = 375.000 kN
Syarat yang harus dipenuhi,
f * Vc ≥ Vu
375.000 > 58.237  AMAN (OK)

4. PEMBESIAN FOOTPLAT

Jarak tepi kolom terhadap sisi luar foot plat, a=(B-b)/2= 0.600 m
Tegangan tanah netto, qn = qmax - q = 116.474 kN/m2
Momen yang terjadi pada plat fondasi akibat tegangan tanah,
Mu = 1/2 * a * qn =
2
20.965 kNm
Lebar plat fondasi yang ditinjau, b= 1500 mm
Tebal plat fondasi, h= 250 mm
Jarak pusat tulangan thd. sisi luar beton, d' = 50 mm
Tebal efektif plat, d = h - d' = 200 mm
Kuat tekan beton, fc' = 25.0 MPa
Kuat leleh baja tulangan, fy = 390 MPa
Modulus elastis baja, Es = 2.00E+05 MPa
Faktor distribusi teg. beton, b1 = 0.85
rb = b1* 0.85 * fc’/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0280692
Faktor reduksi kekuatan lentur, f = 0.80
Rmax = 0.75 * rb * fy * [1-½*0.75* rb * fy / ( 0.85 * fc’ ) ] = 6.624
Mn = Mux / f = 26.207 kNm
Rn = Mn * 10 / ( b * d ) =
6 2
0.43678
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan,
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  {1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) } ] = 0.0011
Rasio tulangan minimum, rmin = 0.0025
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.0025
Luas tulangan yang diperlukan, As = r * b * d = 750.00 mm2
Diameter tulangan yang digunakan, D 12 mm
s = p / 4 * D * b / As =
2
Jarak tulangan yang diperlukan, 226 mm
Jarak tulangan maksimum, smax = 200 mm
Diambil jarak tulangan,  s= 200 mm
Digunakan tulangan, D 12 - 200
As = p / 4 * D * b / s = 848.23
2
Luas tulangan terpakai, mm2

5. TULANGAN SUSUT

Rasio tulangan susut minimum, rsmin = 0.0014


Luas tulangan susut, As = rsmin* b * d = 420.000 mm2
Diameter tulangan yang digunakan,  12 mm
sx = p / 4 *  * By / Asx =
2
Jarak tulangan susut, 404 mm
Jarak tulangan maksimum, smax = 200 mm
 s= 200 mm
Digunakan tulangan susut arah x,  12 - 200
D. PEMBESIAN GIRDER

Diameter tulangan (deform) yang digunakan, D= 19 mm


Diameter sengkang (polos) yang digunakan, P= 10 mm
Tebal bersih selimut beton, ts = 40 mm
Kuat tekan beton, fc' = 25 MPa
Tegangan leleh baja (deform) untuk tulangan lentur, fy = 390 MPa
Tegangan leleh baja (polos) untuk tulangan geser, fy = 235 MPa

1. PEMBESIAN GIRDER ARAH X

Lebar balok b= 300 mm


Tinggi balok h = hx = 600 mm
Mu =
+
Momen rencana positif akibat beban terfaktor, 81.629 kNm
Mu =
-
Momen rencana negatif akibat beban terfaktor, 108.041 kNm
Gaya geser rencana akibat beban terfaktor, Vu = 42.795 kN
Untuk : fc' ≤ 30 MPa, b1 = 0.85
Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = -
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,  b1 = 0.85
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
rb = b1* 0.85 * fc’/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0281
Faktor tahanan momen maksimum,
Rmax = 0.75 * rb * fy * [ 1 - ½ *0.75 * rb * fy / ( 0.85 * fc’ ) ] = 6.6242
Faktor reduksi kekuatan lentur, f = 0.80
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton, ds = ts + P + D/2 = 59.50 mm
Jumlah tulangan dlm satu baris, ns = ( b - 2 * ds) / ( 25 + D ) = 4.11
Digunakan jumlah tulangan dalam satu baris, ns = 4 bh
Jarak horisontal pusat ke pusat antara tulangan,
x = ( b - n s * D - 2 * d s ) / ( ns - 1 ) = 35.00 mm
Jarak vertikal pusat ke pusat antara tulangan, y = D + 25 = 44.00 mm

1.1. TULANGAN MOMEN POSITIF


Mn = Mu / f =
+
Momen positif nominal rencana, 102.036 kNm
Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 75 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 525.00 mm
Rn = Mn * 10 / ( b * d ) = 1.2340
6 2
Faktor tahanan momen,
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00326
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00359
Luas tulangan yang diperlukan, As = r * b * d = 565 mm2
n = As / ( p / 4 * D ) =
2
Jumlah tulangan yang diperlukan, 1.994
Digunakan tulangan, 6 D 19
As = n * p / 4 * D =
2
Luas tulangan terpakai, 1701 mm2
Jumlah baris tulangan, nb = n / n s = 1.50
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak
ke ni yi ni * yi
1 4 59.50 238.00
2 2 103.50 207.00
3 0 0.00 0.00
n= 6 S [ ni * yi ] = 445
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 74.17 mm
74.17 < 75  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 525.83 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 104.072 mm
Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10 =
-6
Momen nominal, 314.344 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 251.475 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu +

251.475 > 81.629  AMAN (OK)


1.2. TULANGAN MOMEN NEGATIF
Mn = Mu / f =
-
Momen negatif nominal rencana, 135.051 kNm
Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 60 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 540.00 mm
Rn = Mn * 10 / ( b * d ) = 1.5438
6 2
Faktor tahanan momen,
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00411
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00411
Luas tulangan yang diperlukan, As = r * b * d = 666 mm2
n = As / ( p / 4 * D ) =
2
Jumlah tulangan yang diperlukan, 2.350
Digunakan tulangan, 3 D 19
As = n * p / 4 * D =
2
Luas tulangan terpakai, 851 mm2
Jumlah baris tulangan, nb = n / n s = 0.75
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak
ke ni yi ni * yi
1 3 59.50 178.50
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 3 S [ ni * yi ] = 178.5
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 59.50 mm
59.50 < 60  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 540.5 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 52.036 mm
Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10 =
-6
Momen nominal, 170.668 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 136.535 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu -

136.535 > 108.041  AMAN (OK)

1.3. TULANGAN GESER


Gaya geser ultimit rencana, Vu = 42.795 kN
Faktor reduksi kekuatan geser, f= 0.75
Tegangan leleh tulangan geser, fy = 235 MPa
Vc = (√ fc') / 6 * b * d * 10 =
-3
Kuat geser beton, 131.250 kN
Tahanan geser beton, f * Vc = 98.438 kN
 Hanya perlu tul.geser min
Tahanan geser sengkang, f * Vs = V u - f * Vc = - kN
Kuat geser sengkang, Vs = 42.795 kN
Digunakan sengkang berpenampang : 2 P 10
Av = ns * p / 4 * P = 157.08
2
Luas tulangan geser sengkang, mm2
s = Av * fy * d / ( Vs * 10 ) = 452.85
3
Jarak sengkang yang diperlukan : mm
Jarak sengkang maksimum, smax = d / 2 = 262.92 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = 200.00 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 200.00 mm
Diambil jarak sengkang :  s= 200 mm
Digunakan sengkang, 2 P 10 200

2. PEMBESIAN GIRDER ARAH Y

Lebar balok b= 300 mm


Tinggi balok h = hy = 600 mm
Mu =
+
Momen rencana positif akibat beban terfaktor, 232.948 kNm
Mu =
-
Momen rencana negatif akibat beban terfaktor, 116.474 kNm
Gaya geser rencana akibat beban terfaktor, Vu = 349.422 kN
Untuk : fc' ≤ 30 MPa, b1 = 0.85
Untuk : fc' > 30 MPa, b1 = 0.85 - 0.05 * ( fc' - 30) / 7 = -
Faktor bentuk distribusi tegangan beton,  b1 = 0.85
Rasio tulangan pada kondisi balance ,
rb = b1* 0.85 * fc’/ fy * 600 / ( 600 + fy ) = 0.0281

Faktor tahanan momen maksimum,


Rmax = 0.75 * rb * fy * [ 1 - ½ *0.75 * rb * fy / ( 0.85 * fc’ ) ] = 6.6242
Faktor reduksi kekuatan lentur, f = 0.80
Jarak tulangan terhadap sisi luar beton, ds = ts + P + D/2 = 59.50 mm
Jumlah tulangan dlm satu baris, ns = ( b - 2 * ds) / ( 25 + D ) = 4.11
Digunakan jumlah tulangan dalam satu baris, ns = 4 bh
Jarak horisontal pusat ke pusat antara tulangan,
x = ( b - n s * D - 2 * d s ) / ( ns - 1 ) = 35.00 mm
Jarak vertikal pusat ke pusat antara tulangan, y = D + 25 = 44.00 mm

1.1. TULANGAN MOMEN POSITIF


Mn = Mu / f =
+
Momen positif nominal rencana, 291.185 kNm
Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 75 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 525.00 mm
Rn = Mn * 10 / ( b * d ) = 3.5215
6 2
Faktor tahanan momen,
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00994
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00994
Luas tulangan yang diperlukan, As = r * b * d = 1565 mm2
n = As / ( p / 4 * D ) =
2
Jumlah tulangan yang diperlukan, 5.519
Digunakan tulangan, 6 D 19
As = n * p / 4 * D =
2
Luas tulangan terpakai, 1701 mm2
Jumlah baris tulangan, nb = n / n s = 1.50
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak
ke ni yi ni * yi
1 4 59.50 238.00
2 2 103.50 207.00
3 0 0.00 0.00
n= 6 S [ ni * yi ] = 445
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 74.17 mm
74.17 < 75  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 525.83 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 104.072 mm
Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10 =
-6
Momen nominal, 314.344 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 251.475 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu +

251.475 > 232.948  AMAN (OK)


1.2. TULANGAN MOMEN NEGATIF
Mn = Mu / f =
-
Momen negatif nominal rencana, 145.592 kNm
Diperkirakan jarak pusat tulangan lentur ke sisi beton, d' = 75 mm
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 525.00 mm
Rn = Mn * 10 / ( b * d ) = 1.7608
6 2
Faktor tahanan momen,
Rn < Rmax  (OK)
Rasio tulangan yang diperlukan :
r = 0.85 * fc’ / fy * [ 1 -  * [1 – 2 * Rn / ( 0.85 * fc’ ) ] = 0.00472
Rasio tulangan minimum, rmin =  fc' / ( 4 * fy ) = 0.00321
Rasio tulangan minimum, rmin = 1.4 / fy = 0.00359
Rasio tulangan yang digunakan,  r= 0.00472
Luas tulangan yang diperlukan, As = r * b * d = 743 mm2
n = As / ( p / 4 * D ) =
2
Jumlah tulangan yang diperlukan, 2.621
Digunakan tulangan, 3 D 19
As = n * p / 4 * D =
2
Luas tulangan terpakai, 851 mm2
Jumlah baris tulangan, nb = n / n s = 0.75
nb < 3  (OK)
Baris Jumlah Jarak Juml. Jarak
ke ni yi ni * yi
1 3 59.50 178.50
2 0 0.00 0.00
3 0 0.00 0.00
n= 3 S [ ni * yi ] = 178.5
Letak titik berat tulangan,  d' = S [ ni * yi ] / n = 59.50 mm
59.50 < 75  perkiraan d' (OK)
Tinggi efektif balok, d = h - d' = 540.5 mm
a = As * fy / ( 0.85 * fc' * b ) = 52.036 mm
Mn = As * fy * ( d - a / 2 ) * 10 =
-6
Momen nominal, 170.668 kNm
Tahanan momen balok, f * Mn = 136.535 kNm
Syarat : f * Mn ≥ Mu -

136.535 > 116.474  AMAN (OK)

1.3. TULANGAN GESER


Gaya geser ultimit rencana, Vu = 349.422 kN
Faktor reduksi kekuatan geser, f= 0.75
Tegangan leleh tulangan geser, fy = 235 MPa
Vc = (√ fc') / 6 * b * d * 10 =
-3
Kuat geser beton, 131.250 kN
Tahanan geser beton, f * Vc = 98.438 kN
 Perlu tulangan geser
Tahanan geser sengkang, f * Vs = V u - f * Vc = 250.984 kN
Kuat geser sengkang, Vs = 334.646 kN
Digunakan sengkang berpenampang : 2 P 10
Av = ns * p / 4 * P = 157.08
2
Luas tulangan geser sengkang, mm2
s = Av * fy * d / ( Vs * 10 ) =
3
Jarak sengkang yang diperlukan : 57.91 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = d / 2 = 262.92 mm
Jarak sengkang maksimum, smax = 200.00 mm
Jarak sengkang yang harus digunakan, s= 57.91 mm
Diambil jarak sengkang :  s= 50 mm
Digunakan sengkang, 2 P 10 50