Anda di halaman 1dari 37

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH 2.1. Geografis
BAB II
BAB
II

GAMBARAN UMUM WILAYAH

2.1.

Geografis dan Administratif

2.1.1

Geografis

Secara geografis Kabupaten Buru Selatan terletak pada posisi 2º30' Lintang Selatan dan 5º50' Lintang Selatan dan antara 125º00' Bujur Timur dan 127º00' Bujur Timur. Luas wilayah daratan Kabupaten Buru Selatan 5.060 km². Ditinjau dari luas menurut kecamatan, masing-masing antara lain Kecamatan Leksula adalah 1.900 km², kecamatan Kapala Madan 1.276 km², kecamatan Waesama 724 km², Kecamatan Namrole 326 km² dan yang terkecil adalah kecamatan Ambalau adalah 306 km², ditambah satu kecamatan pemekaran dari Kecamatan Leksula adalah Kecamatan Fena Fafan yang memilki luas 528 km². Luas Lautan adalah 1.603 km², pada lautan tersebut terdapat daratan kepulauan sejumlah 11 pulau dengan 3 Pulau yang berpenghuni dan 8 Pulau tidak berpenghuni. Wilayah kepulauan tersebut merupakan Kecamatan Ambalau yang berada di gugus kepulauan Ambalau, yakni gugus pulau- pulau yang ada di laut Buru.Daerah Aliran Sungai di Kabupaten Buru Selatandapat dilihat di Tabel dibawah ini :

Tabel 2.1 Nama, Luas wialayah dan Jumlah Kelurahan per-Kecamatan

Nama Kecamatan

Jumlah

 

Luas Wilayah

 

Kelurahan

 

/Desa

Administrasi

Terbangun

(Ha)

(%) thd

(Ha)

(%) thd total

total

Leksula

19

189.900

37,5

308

32,8

Kepala Madan

16

127.600

25,2

255

27,1

Waisama

11

72.400

14,3

145

15,4

Namrole

17

32.600

6,4

65

6,9

Ambalau

7

30.600

6,1

61

6,5

Fenafafan

11

52.800

10,4

106

11,3

Total

81

506.000

100

940

100

Sumber : Buru Selatan Dalam Angka 2013

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Berdasarkan pengukuran secara kartografis dan hasil penelitian

Berdasarkan pengukuran secara kartografis dan hasil penelitian lapangan, maka luas total daerah penelitian wilayah DAS Wae Tina adalah sebesar 48.132,00 ha. Secara administratif, daerah penelitian termasuk dalam wilayah Kecamatan Leksula yaitu Desa Waenamaolon dan Kecamatan Namrole yaitu Desa Waefusi, Desa Batu Hitam, Desa Kawalale, Desa Fatmite, Desa Lektama, Desa Namrinat, Dusun Walaflau, Dusun Wamtoto.

Untuk lebih jelasnya mengenai Daerah Aliran Sungai Kabupaten Buru Selatan dapat dilihat pada Peta2.1.

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Peta 2.1 Peta Daerah Aliran Sungai Kabupaten

Peta 2.1 Peta Daerah Aliran Sungai Kabupaten Buru Selatan

Buru Selatan Tahun 2014 Peta 2.1 Peta Daerah Aliran Sungai Kabupaten Buru Selatan Pokja Sanitasi Kabupaten

Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

2.1.2 Administrasi

(BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 2.1.2 Administrasi Kabupaten Buru Selatan merupakan daerah kepulauan yang

Kabupaten Buru Selatan merupakan daerah kepulauan yang secara secara administratif meliputi 6 Kecamatan dan 81 Desa luas total 6.663 km 2 yang terdiri dari luas lautan 1.603 km 2 dan luas daratan 5.060km 2 .

Daerah yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Buru Selatan mempunyai batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara

Sebelah Timur

Sebelah Selatan

Sebelah Barat

Untuk lebih jelasnya mengenai letak geografis Kabupaten Buru Selatan dapat dilihat pada Peta2.2.

: Berbatasan dengan Laut Seram

: Berbatasan dengan Selat Manipa dan Kabupaten Buru

: Berbatasan dengan Laut Banda

: Berbatasan dengan Laut Banda

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Peta 2.2 PetaAdminisrtasi Kabupaten Buru Selatan Pokja

Peta 2.2 PetaAdminisrtasi Kabupaten Buru Selatan

Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Peta 2.2 PetaAdminisrtasi Kabupaten Buru Selatan Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan

Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 2.1.3 Kondisi Fisik Wilayah a. Klimatologi Iklim

2.1.3 Kondisi Fisik Wilayah

a. Klimatologi

Iklim di Buru Selatan ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut terhadap permukaan laut dan jaraknya dari pantai secara umum, desa-desa di Kabupaten Buru Selatan merupakan desa pesisir sehingga memilki suhu udara yang relative tinggi. Pada tahun 2010, suhu udara berkisar antara 20,30 0 Celsius, sampai 33,40 0 Celcius. Suhu udara maksimum terdapat pada bulan Nopember (33,40 0 Celsius), sedangkan suhu udara minimum terdapat pada bulan Agustus (22,40 0 Celsius). Kelembaban udara relatif tinggi dengan rata-rata berkisar antara 84,0 0 persen. Curah hujan beragam menurut bulan, rata-rata curah hujan selama tahun 2010 berkisar antara 6,3 mm (bulan September) sampai 306,7 mm (bulan Februari). Keadaan angin pada tahun 2010 rata-rata kecepatan angin perbulan berkisar antara 4 hingga 8 knot. Kecepatan angin tertinggi terjadi pada bulan Juni sebesar 26 knot. Walau demikian, curah hujan tahunan yang berlangsung di wilayah Maluku khususnya daerah Buru Selatan dapat dikatakan cukup bervariasi, sehingga iklim di Maluku dapat dikelompokan dalam beberapa zona. Berdasarkan Peta Zone Agroklimat Provinsi Maluku (LTA-72, 1986) dan klasifikasi iklim Oldeman (1980), Kabupaten Buru Selatan termasuk dalam tiga zone Agroklimat yaitu zone I.3, III.1, dan zone III.2 dengan curah hujan tahunan berkisar antara 1800 3000 mm, dan memiliki 3 6 BB dan 2 3 BK (zone C2 dan D2).

b. Geologi

Kondisi Geologi di Pulau Buru adalah sebagai berikut :

(1). Satuan Litostratigrafi Pulau Buru disusun oleh Batuan Metamorfosa / malihan, yang dituutp oleh batuan sedimen baik selaras maupun tidak selaras di atasnya, sertabatuan terobosan / intrusi yang memotong batuan metamorfosa dan batuan sedimen diatasnya. Untuk melihat susunan stratigrafis Pulau Buru.

(2).

Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa batuan tertua di Pulau Buru adalah Kompleks, metamorfosa / malihan regional dinamotermal yang berumur Pra Tersier (Permo). Poros Lipatan (antiklin dan sinklin) yang berarah Barat laut Tenggara menunukanbahwa tekanan gaya Kompressoal berasal dari Timur laut Barat daya untuk batuan yang berumur Pra Tersier. Kemudian pda tersier pola arah umum perlipatan menjadi Timur Barat, yang berarti bahwa arah gaya Kompressional berarah Utara Selatan, hal ini menunjukan adanya rotasi dari Pra Tersier ke Tersier.

Struktur Geologi

c. Hidrogeologi

Kondisi Hidrogeologi Kabupaten Buru Selatan adalah sebagai berikut :

(1).

Pola Aliran Sungai Sebagaimana telah dijelaskan didepan, sungai sebagai unsur geografi yang ada di Kabupaten Buru Selatan (136 sungai) mempunyai pola aliran ; dendritik (menurun), Parallel, Trellis, Rektanguler, dan radier mengalir menuju pantai di control oleh struktur geologi (patahan, ekahan, dan sistem perlipatan batuan) yang terdapat di wilayah ini. Tingkat kerapatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 (2). sungai sangat intensif, dimana hampir seluruh

(2).

sungai sangat intensif, dimana hampir seluruh wilayah Kabupaten Buru tertutup oleh pola aliran sungai baik yang bersifat permanen maupun intermittent. Berdasarkan kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS), maka kondisi pola aliran sungai dapat di bagi kedalam 3 (tiga) arah aliran sungai yaitu (a). DAS Namrole yang mengalir kearah Timur dengan tingkat kecepatan tinggi sangat tinggi; (b). DAS Leksula yang mengalir kearah Selatan dengan tingkat Kecepatan sedang tinggi; (c). DAS Labuan Leku yang mengalir kearah Barat dengan tingkat Kecepatan rendah sedang. Zona Air Tanah Dari kondisi tersebut di atas dan di dukung oleh kontrol batuan dan struktur geologi, maka secara umum neraca air tanah menunjukkan terapat 2 (dua) zona air tanah yaitu :

(3).

(a). Zona air tanah rendah, yang pada umumya menempati peunggung pemisah air morfologi ("morphological water devided") sebagai pemisah daerah tangkapan hujan ("catchment area") keempat wilayah DAS tersebut diatas, serta pada 2 (dua) punggung yang terdapat di selatan daerah studi. (b). Zona air tanah sedang tinggi menempati hampir seluruh wilayah studi, yang mengelilingi Pulau Buru. Kawasan ini dapat tercapai jika sistem vegetasi tetap terjaga, sehingga tingkat peresapan ("recharged") dapat di pertahankan, dan "surface run off" dapat dicegah dan diperkecil. Hidro Oceanografi Sesuai dengan kondisi geografisnya Kabupaten Buru dikeleingi oleh Laut Seram di Utara dan Laut Banda di Selatan, dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan sebagai Kabupaten yang berada di dalam Provinsi Kepualuan Maluku. Oleh karena itu pada bagian Utara dan Selatan berada pada posisi gapura energi gelombang yang tinggi pada musim Barat maupun musim Timur, dengan arus Laut dari Selatan yang sangat kuat pada nusim Tiur yang berlangsung Juni sampai September. Berdasarkan kondisi tersebut dan sesuai dengan posisi Pulau Buru yang berada di Busur Luar Kepulauan Non Magmatik, maka Laut Seram di Utara dan Laut Banda di Selatan merupakan 2 (dua) palungLaut dalam (Samudera) yang sangat mempegaruhi wilayah ini, dengan kondisi batimetri yang sangat dalam. Disisi lain Pulau Buru memiliki potensi Sumber daya perikanan yang tinggi di dukung keberadaan di jalur ALKI III menghubungkan Timur Barat dan Utara seperti telah dijelaskan dimuka.

2.1. Demografi

a. Jumlah, Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk

Pada tahun 2013 tercatat jumlah penduduk Kabupaten Buru Selatan sebanyak 70.646 jiwa, dengan komposisi penduduk terdiri dari 32.848 jiwa penduduk berjenis kelamin perempuan,sementarapenduduk dengan jenis kelamin laki-laki adalah sebesar 37.798 jiwa. Rata rata pertumbuhan penduduk sebesar 2,12 % pertahun

Sementara itu bila dilihat dari segi kepadatan penduduk, yaitu dengan memperhatikan luas wilayah suatu wilayah, Kabupaten Buru Selatan dengan jumlah penduduk tahun 2013 sebanyak 70.646 jiwa,dan dengan luas wilayah sebesar 5.060 Km 2 , memiliki

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 kepadatan penduduk sebesar 121,13 jiwa per Km

kepadatan penduduk sebesar 121,13 jiwa per Km 2, sebagian besarnya bermukim di daerah pesisir dan pantai (93,15%). Kecamatan terpadat antara lain Kecamatan Namrole dengan kepadatan sebesar 24,44 per km 2 , Kecamatan Waesama sebesar 23,47 jiwa per km 2 , Kecamatan Fena Fafan sebesar 20,1 jiwa per km 2 dan Kecamatan Ambalau sebesar 17,81 jiwa per km 2 . sedangkan Kecamatan yang penduduknya paling jarang karena umumnya kecamatan ini memiliki wilayah yang cukup luas antara lain kecamatan Kepala Madan sebesar 12,73 jiwa per km 2 . Kecamatan Leksula sebesar 5,58 jiwa per km 2 .

b. Proyeksi Penduduk Kabupaten Buru Selatan

Untuk memprediksikan jumlah penduduk Kabupaten Buru Selatan sampai dengan akhir tahun perencanaan yaitu tahun 2018, proyeksi pertumbuhan penduduk didasarkan pada data Statistik yaitu rata-rata laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Buru Selatan periode tahun 2009-2013 sebesar 2,1 persen. Pertumbuhan penduduk ini dikarenakan terjadinya fertilitas yang cukup tinggi (pertumbuhan penduduk alami) dan terjadinya migrasi masuk.

Untuk data tahun 2010-2011, penduduk Kecamatan Fena Fafan masih menjadi satu dengan penduduk Kecamatan Leksula,selengkapnya jumlah penduduk 5 (lima) tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 2.2 dan untuk proyeksi jumlah penduduk Kabupaten Buru Selatan dapat dilihat pada Tabel 2.3

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Tabel 2.2. Jumlah dan Penduduk 3-5 Tahun

Tabel 2.2. Jumlah dan Penduduk 3-5 Tahun Terakhir Kabupaten Buru Selatan Tahun 2010-2013

   

JUMLAH PENDUDUK

   

JUMLAH KK

 

TINGKAT PERTUMBUHAN

KEPADATAN PENDUDUK

 

TAHUN

   

TAHUN

   

TAHUN

   

TAHUN

 

KECAMATAN

2010

2011

2012

2013

2010

2011

2012

2013

2010

2011

2012

2013

2010

2011

2012

2013

Namrole 13.123 14.610 15.820 16.640 3.281 3.653 3.955 4.160 2,1 2,1 2,1 2,1 11,39 12,68
Namrole
13.123
14.610
15.820
16.640
3.281
3.653
3.955
4.160
2,1
2,1
2,1
2,1
11,39
12,68
13,73
24,44

Leksula

13.219

14.169

14.429

15.249

3.305

3.542

3.607

3.812

2,1

2,1

2,1

2,1

4,84

5,18

5,28

5,58

Waesama

11.436

12.923

14.133

14.953

2.859

3.231

3.533

3.738

2,1

2,1

2,1

2,1

17,95

20,29

22,19

23,47

Kepala Madan

9.597

11.066

12.276

12.846

2.399

2.767

3.069

3.274

2,1

2,1

2,1

2,1

9,33

10,75

11,93

12,73

Ambalau

5.657

5.947

7.157

7.977

1.414

1.487

1.789

1.994

2,1

2,1

2,1

2,1

26,81

28,18

33,92

17,81

Fena Fafan

-

-

2.161

2981

-

-

540

745

-

-

-

-

-

-

19,65

20,1

Total 53.032 58.715 65.976 70.646 13.258 14.679 16.494 17.724 2,1 2,1 2,1 2,1 70,32 77,08
Total
53.032
58.715
65.976
70.646
13.258
14.679
16.494
17.724
2,1
2,1
2,1
2,1
70,32
77,08
106,70
121,13

Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencataan Sipil Kab.Buru Selatan, 2013

Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Tabel 2.3. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Saat

Tabel 2.3. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Saat Ini dan Proyeksi 5 Tahun kedepan Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014-2018

JUMLAH PENDUDUK JUMLAH KK TINGKAT PERTUMBUHAN KEPADATAN PENDUDUK KECAMATAN TAHUN TAHUN TAHUN TAHUN 2014 2015
JUMLAH PENDUDUK
JUMLAH KK
TINGKAT PERTUMBUHAN
KEPADATAN PENDUDUK
KECAMATAN
TAHUN
TAHUN
TAHUN
TAHUN
2014
2015
2016
2017
2018
2014
2015
2016
2017
2018
2014
2015
2016
2017
2018
2014
2015
2016
2017
2018
Namrole
16.989
17.346
17.710
18.082
18.462
4.247
4.337
4.428
4.521
4.616
2,1
2,1
2,1
2,1
2,1
14,75
15,06
15,37
15,70
16,03
Leksula
15.598
15.926
16.260
16.602
16.951
3.900
3.982
4.065
4.150
4.238
2,1
2,1
2,1
2,1
2,1
5,71
5,83
5,95
6,07
6,20
Waesama
15.302
15.624
15.952
16.287
16.629
3.826
3.906
3.988
4.072
4.157
2,1
2,1
2,1
2,1
2,1
24,02
24,53
25,04
25,57
26,11
Kepala Madan
13.445
13.728
14.016
14.310
14.611
3.361
3.432
3.504
3.578
3.653
2,1
2,1
2,1
2,1
2,1
13,07
13,34
13,62
13,91
14,20
Ambalau
8.326
8.501
8.680
8.862
9.048
2.082
2.125
2.170
2.216
2.262
2,1
2,1
2,1
2,1
2,1
39,46
40,29
41,14
42,00
42,88
Fena Fafan
3.330
3.400
3.472
3.545
3.619
833
850
868
886
905
2,1
2,1
2,1
2,1
2,1
30,28
30,91
31,56
32,22
32,90
Total
72.993
74.525
76.091
77.688
79.320
18.248
18.631
19.023
19.422
19.830
2,1
2,1
2,1
2,1
2,1
127,28
129,95
132,68
135,47
138,31

Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencataan Sipil Kab.Buru Selatan, 2013

Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 2.2. Keuangan dan Perekonomian Daerah 2.3.1 Keuangan

2.2. Keuangan dan Perekonomian Daerah

2.3.1 Keuangan daerah

Pada kurun waktu 2010-2013 APBD Kabupaten Buru Selatan mengalami peningkatan. Struktur pendapatan Kabupaten Buru Selatan sekitar 15,14 % bersumber dari dana perimbangan, sedangkan selebihnya sekitar 7,06 % berasal dari lain-lain pendapatan yang sah dan 24,37 % dari pendapatan asli daerah. Dari struktur pendapatan tersebut dapat diketahui bahwa pembangunan di Kabupaten Buru Selatan masih sangat tergantung dari dana perimbangan. Belanja APBD Kabupaten Buru Selatan terdiri dari belanja langsung dan belanja tidak langsung.Pada kurun waktu 2010-2013, porsi belanja langsung lebih besar dibanding belanja tidak langsung.Surplus APBD Kabupaten Buru Selatan pada tahun 2012 mencapai Rp. 27 milyar lebih. Perkembangan APBD Kabupaten Buru Selatan tahun 2010 sampai tahun 2013 tampak pada Tabel 2.4.

2.3.2 Pendapatan dan Belanja Modal Sanitasi

Pendanaan subsektor sanitasi di Kabupaten Buru Selatan belum menunjukkan konsistensi pendanaan setiap tahunnya, Tahun 2010 Anggaran Sektor sanitasi yaitu sekitar Rp. 7,826,887,757,- sementara tahun 2013 pendanaan untuk program sanitasi menurun sebesar Rp. 6,544,493,440,-

Dana Pendapatan dan Belanja Sanitasi masih sangat kurang dan masih sangat tergantung dengan kucuran dana dari Pemerintah Pusat melalui Dana Alokasi Khusus. Berdasarkan perkembangan realisasi anggaran tahun 2010-2014, diperoleh data bahwa realisasi program sektor sanitasi terhadap total belanja pembangunan rata rata hanya mencapai 1,53 % . Subsektor yang mendapat alokasi pendanaan terbesar berturut-turut adalah subsektor PHBS 2,96%,sub sektor persampahan 1,80%, sub sektor drainase 0,90%, selanjutnya subsektor air limbah 0,90%.

Subsektor PHBS memiliki alokasi anggaran yang cukup besar diantara dua sektor lainnya, hal ini disebabkan subsektor ini banyak melakukan sosialisasi dibidang sanitasi yang banyak dilakukan pemerintah.

Subsektor Limbah merupakan subsektor sanitasi yang dua tahun terakhir ini banyak mendapat perhatian pemerintah, melalui program pamsimas dan sanimas, banyak program program pembuatan MCK dilakukan, baik perbaikan MCK di permukiman maupun di sekolah sekolah melalui SKPD PU Cipta Karya, Dinas Kesehatan, Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Diknas dan Lingkungan Hidup

Subsektor drainase tampak belum mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Buru Selatan, mengingat belum adanya masterplan drainase dan pembukaan akses jalan dalam kota secara keseluruhan.

Rata rata belanja sanitasi per penduduk 182,8 % perpenduduk

Tabel 2.7.

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 2.1 Keuangan dan Perekonomian Daerah Tabel 2.4:

2.1 Keuangan dan Perekonomian Daerah

Tabel 2.4: Rekapitulasi Realisasi APBD Kabupaten/Kota Buru Selatan Tahun 2010 2013

No.

Anggaran

 

Tahun

2010

2011

2012

2013

A.

Pendapatan

       

1.

Pendapatan Asli daerah (PAD)

1.442.782.952,00

2.521.268.520,02

2.249.936.502,76

2.455.362.171,62

2.

Dana Perimbangan (Transfer)

251.164.491.741,00

318.641.886.218,00

326.000.234.549,00

378.942.398.809,00

3.

Lain-lain Pendapatan yang Sah

75.993.002.058,00

6.774.268.832,00

11.969.029.650,92

16.227.808.255,64

Jumlah Pendapatan

328.600.276.751,00

327.907.423.570,02

340.219.200.702,68

397.625.569.235,93

B.

Belanja

       

1.

Belanja Tidak Langsung

96.949.673.650,00

106.963.008.062,03

109.558.112.277,00

129.401.091.913,00

2.

Belanja Langsung

292,227,740,602.00

327,167,735,560.00

331,997,132,662.00

283,580,393,952.00

Jumlah Belanja

263.060.906.007,00

308.879.424.807,03

312.277.393.833,00

390.786.996.425,00

Surplus/(Defisit) Anggaran

2.570.973.745,00

19.027.998.762,99

27.991.806.869,68

6.838.572.810,93

Sumber : Badan Pengelolaan Keuangan 2014, diolah

Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Tabel 2.5. Rekapitulasi Realisasi Belanja Sanitasi SKPD

Tabel 2.5. Rekapitulasi Realisasi Belanja Sanitasi SKPD Kabupaten Buru Selatan Tahun 2010 sampai 2014

No

Uraian

 

Belanja Sanitasi (Rp)

 

Rata-rata

2010

2011

2012

2013

2014

Pertumbuhan

1

Belanja Sanitasi

4,950,277,000

1,956,661,150

2,376,170,000

832,580,000

820,800,000

-26%

1.1

Air Limbah

-

 

-

     

Domestik

-

-

-

1.1.1

Biaya O&M

           

(Justified)

1.2

Sampah Rumah

993,469,000

696,954,150

401,870,000

507,730,000

771,000,000

2%

Tangga

1.2.1

Biaya O&M

993,469,000

696,954,150

401,870,000

507,730,000

771,000,000

 

(Justified)

1.3

Drainase

3,956,808,000

1,259,707,000

1,974,300,000

324,850,000

49,800,000

-45%

Lingkungan

1

Biaya O&M

3,956,808,000

1,259,707,000

1,974,300,000

324,850,000

49,800,000

 

(Justified)

Sumber: APBD Kabupaten Buru Selatan Tahun 2010-2014, Diolah

Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Tabel 2.6 Perhitungan Pendanaan Sanitasi Oleh APBD

Tabel 2.6 Perhitungan Pendanaan Sanitasi Oleh APBD Kabupaten Buru SelatanTahun 2010 sampai 2014

No

Uraian

 

Belanja Sanitasi (Rp)

 

Rata-rata

2010

2011

2012

2013

2014

Pertumbuhan

1

Belanja Sanitasi

7,826,887,757

7,733,492,500

6,253,362,000

6,833,183,000

6,544,493,440

 

(1.1+1.2+1.3+1.4)

1.1

Air Limbah Domestik

1,126,040,750

134,882,500

441,557,500

640,000,000

149,500,000

-134.79%

1.2

Sampah

4,632,465,500

5,874,510,500

4,027,563,500

4,311,348,000

3,720,263,000

-2.82%

1.3

Drainase Lingkungan

1,958,725,000

1,239,737,000

1,711,806,000

1,844,610,000

2,530,155,440

11.57%

1.4

PHBS

109,656,507

484,362,500

72,435,000

37,225,000

144,575,000

124.11%

2

Dana Alokasi Khusus

           

(2.1+2.2+2.3)

3,797,000,000

659,350,000

3,443,395,700

2,314,100,000

919,400,000

2.1

DAK Sanitasi

2,978,000,000

-

2,570,745,700

1,444,300,000

-

-36%

2.2

DAK Lingkungan Hidup

819,000,000

659,350,000

872,650,000

869,800,000

919,400,000

5%

2.3

DAK Perumahan dan Permukiman

-

-

-

-

-

0%

3

Pinjaman Hibah

0

0

0

0

0

0

Untuk Sanitasi

Belanja APBD Murni untuk Sanitasi (1-2-3)

4,029,887,757

7,074,142,500

2,809,966,300

4,519,083,000

5,625,093,440

25.14%

Total Belanja Langsung

292,227,740,602

327,167,735,560

331,997,132,662

283,580,393,952

286,378,904,710

-0.04%

% APBD murni terhadap Belanja Langsung

1.38%

2.16%

0.85%

1.59%

1.96%

 

Sumber : APBD Tahun 2010 2014, Diolah

Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Tabel 2.7 Belanja Sanitasi Perkapita Kabupaten Buru

Tabel 2.7 Belanja Sanitasi Perkapita Kabupaten Buru Selatan Tahun 20102013

No

D e s k r i p s i

 

Tahun

 

Rata-rata

2010

2011

2012

2013

1

Total Belanja Sanitasi Kabupaten/Kota

7,826,887,757

7,733,492,500

6,253,362,000

6,833,183,000

383,8

2

Jumlah Penduduk

53.671

55.158

56.368

57.188

2,1

 

Belanja Sanitasi Perkapita (1 / 2)

11.550

122.063

75.906

180.878

182,8

Sumber : APBD dan BPS, diolah

Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Tabel 2.8 Realisasi dan Potensi retribusi Sanitasi

Tabel 2.8 Realisasi dan Potensi retribusi Sanitasi per Kapita Kabupaten Buru Selatan 20102013

No

SKPD

 

Retribusi Sanitasi Tahun (Rp)

 

Pertumbuhan

2011

2012

2013

2014

(%)

1

Retribusi Air Limbah

         

1.a

Realisasi retribusi

-

-

-

 

- -

1.b

Potensi retribusi

-

-

-

 

- -

2

Retribusi Sampah

         

2.a

Realisasi retribusi

-

-

-

 

- -

2.b

Potensi retribusi

-

-

-

 

- -

3

Retribusi Drainase

         

3.a

Realisasi retribusi

-

-

-

 

- -

3.b

Potensi retribusi

-

-

-

 

- -

5

Total Potensi Retribusi Sanitasi (1b+2b+3b)

         

6

Proporsi Total Realisasi Potensi Retribusi Sanitasi (4/5)

         

Keterangan : (-) Belum ada Retribusi

Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Tabel 2.9 Tabel Peta Perekonomian Kabupaten Buru

Tabel 2.9 Tabel Peta Perekonomian Kabupaten Buru Selatan Tahun 2010 - 2014

No

D e s k r i p s i

 

Tahun

 

2010

2012

2013

2014

1

PDRB harga konstan (struktur perekonomian) (Rp.)

       

2

Pendapatan Perkapita Kabupaten/Kota (Rp.)

1.382.819

1.421.452

1.345.992

1.394.397

3

Pertumbuhan Ekonomi (%)

       

Sumber : APBD dan BPS, diolah

Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 2.3.3 Data Perekonomian Kabupaten Buru Selatan Struktur

2.3.3 Data Perekonomian Kabupaten Buru Selatan

Struktur ekonomi menggambarkan kontribusi atau peranan masing-masing sektor dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dalam konteks lebih jauh akan memperlihatkan bagaimana suatu perekonomian mengalokasikan sumber-sumber ekonomi di berbagai sektor. PDRB merupakan salah satu indikator kesejahteraan masyarakat suatu daerah.Perkembangan pertumbuhan PDRB yang positif menunjukkan penyelenggaraan pembangunan daerah memiliki daya dorong terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Nilai PDRB Kabupaten Buru Selatan selama kurun waktu 2008-2012 terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan, baik PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) maupun PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK). Nilai PDRB ADHB pada tahun 2008 sebesar Rp.191.919,17 juta naik menjadi Rp.325.784,28 juta pada tahun 2012 atau naik sebesar Rp.133.865,11 juta atau 151,81 persen.

Sedangkan Nilai PDRB ADHK pada tahun 2009 sebesar Rp. 111.314,89 juta naik menjadi Rp. 137.195,72 juta pada tahun 2012 atau naik sebesar Rp.25.880,83 juta atau 29,33 persen.Perkembangan nilai PDRB Kabupaten Buru Selatan tahun 2008-

2012.

Nilai PDRB merupakan agregasi dari PDRB sektoral. Untuk PDRB ADHB, kinerja sektor pertanian sangat tinggi ditandai dengan nilai rata-rata sektoral sebesar Rp.186.150,73 juta per tahun, diikuti sektor perdagangan, hotel dan restoran rata- rata sebesar Rp.48.599,28 juta per tahun dan sektor jasa-jasa rata-rata sebesar Rp. 30.296,57 juta per tahun. Sedangkan kinerja sektor terendah adalah sektor industri pengolahan dengan nilai rata-rata per tahun sebesar Rp.1.132,50 juta. Begitu pula PDRB ADHK, sektor pertanian menempati posisi pertama perolehan nilai sektoral tertinggi dengan nilai rata-rata sektor sebesar Rp.91.721,49 juta per tahun, diikuti sektor perdagangan, hotel dan restoran rata-rata sebesar Rp.71.317,15 juta per tahun dan sektor jasa-jasa rata-rata sebesar Rp.43,048.14 juta per tahun, dan sektor yang memiliki nilai PDRB sektoral terkecil adalah sektor Listrik dam Air Minum dengan nilai rata-rata per tahun sebesar Rp.611,26 juta.Perkembangan nilai PDRB ADHB dan PDRB ADHK sektoral Kabupaten Buru Selatan tahun 2009-2013.

Berdasarkan Nilai PDRB ADHK diatas, diketahui pertumbuhan PDRB Kabupaten Buru Selatan yang mengalami peningkatan cukup signifikan selama kurun waktu 2008-2012.Pada tahun 2008 pertumbuhan PDRB Kabupaten Buru Selatan berada angka 3,42 persen meningkat menjadi 7,02 persen pada tahun 2012, atau naik sebesar 3,6 persen, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,98 persen per tahun. Pertumbuhan PDRB Kabupaten Buru Selatan tahun 2008-2012 dapat dilihat pada grafik berikut.

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Grafik 1 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Buru Selatan
Grafik 1 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Buru Selatan 2008 - 2012 8 7 7.02 6 5.24
Grafik 1
Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Buru Selatan
2008 - 2012
8
7
7.02
6
5.24
5
4
4.61
4.61
3
3.42
2
1
0
2008
2009
2010
2011
2012

a. Pendapatan Domestik Regional Perkapita Pendapatan perkapita merupakan salah satu indikator ekonomi untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu negara atau daerah.Sesuai dengan konsep dan definisi, pengertian pendapatan perkapita suatu daerah adalah pendapatan regional daerah tersebut dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahunnya. Sampai saat ini dalam perhitungan pendapatan regional dari provinsi maupun kabupaten dan kota di Indonesia, umumnya masih hanya sebatas Pendapatan Domestik Regional, sehingga angka Pendapatan Domestik Regional yang disajikan disini adalah angka Pendapatan Domestik Regional Perkapita. Pendapatan Domestik Regional Perkapita Kabupaten Buru Selatan atas dasar harga berlaku selama tahun 2007 sebesar Rp. 3.727.781, tahun 2008 sebesar Rp. 4.089.025, tahun 2009 menjadi 4.428.916, tahun 2010 menjadi 4.406.156, tahun 2011 menjadi Rp. 5.067.950, dan tahun 2012 menjadi 5.740.186. Pendapatan Domestik Regional Perkapita Kabupaten Buru Selatan bila dilihat dari sisi atas dasar harga konstan 2000, maka secara rill pendapatan yang diterima oleh penduduk Buru Selatan pada tahun 2007 sebesar Rp. 2.334.238, pada tahun 2008 naik sebesar 3,47% atau sebesar Rp.2.415.238, pada tahun 2009 naik sebesar 3,11% menjadi Rp. 2.490.378 dan pada tahun 2010 turun sebesar 7,57% menjadi Rp. 2.301.967 kemudian pada tahun 2011 sebesar 3,22% menjadi Rp. 2.376.067, dan tahun 2012 naik sebesar 5,89% menjadi Rp. 2.461.351.

2.3.4

Inflasi

Inflasi adalah keadaan ekonomi suatu daerah atau negara yang mengalami kenaikan harga-harga barang dan jasa secara umum dan berlangsung dalam kurun waktu tertentu.Inflasi yang tinggi dapat menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat karena pendapatan riil masyarakat menurun, memperburuk distribusi pendapatan dan terganggunya stabilitas ekonomi.

Pada Tahun 2010, Laju Inflasi Umum sebesar 6.07 % merupakan andil dari kelompok bahan makanan sebesar 3.14%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 1.17%, kelompok perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 0.63%, kelompok sandang 0.53%, kelompok kesehatan 0.14%, kelompok

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 pendidikan, rekreasi dan olahraga 0.06% dan kelompok

pendidikan, rekreasi dan olahraga 0.06% dan kelompok transport komunikasui dan jasa keuangan 0.41%, begitu pun yang terjadi pada tahun 2011, 2012 dan 2013.

Grafik 2. Perkembangan Laju Inflasi Kab. Buru Selatan Tahun 2010-2013

LAJU INFLASI 10.00 8.15 8.00 6.07 6.00 LAJU INFLASI 4.00 2.00 (0.96) 0.17 - 2010
LAJU INFLASI
10.00
8.15
8.00
6.07
6.00
LAJU INFLASI
4.00
2.00
(0.96)
0.17
-
2010
2011
2012
2013
(2.00)

2.3. Tata Ruang Wilayah

2.4.1. Kebijakan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Buru Selatan

Kebijakan pengembangan wilayah adalah suatu arahan pengembangan seluruh sistem kegiatan dalam ruang wilayah kabupaten, serta pengaturan keterkaitan antar elemen tersebut, sebagai dasar penyusunan rencana tata ruang wilayah. Penyusunan kebijakan pengembangan wilayah itu sendiri didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan terhadap permasalahan, potensi dan peluang pengembangan wilayah yang dapat mendorong perwujudan pencapaian tujuan.

Kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Buru Selatan meliputi :

a. Pengembangan sentra-sentra pertanian, perkebunan dan perikanan sebagai penghasil utama komoditas unggulan kabupaten;

b. Pengembangan industri pertanian, perkebunan dan perikanan serta kelautan

yang terpadu berbasis masyarakat dalam rangka mendukung fungsi kawasan Buru Selatan sebagai kawasan andalan Nasional;

c. Pengembangan infrastruktur yang menjangkau seluruh wilayah Kabupaten untuk membuka akses wilayah-wilayah yang terisolasi serta mendukung distribusi hasil pertanian, perkebunan dan perikanan;

d. Pembagian pusat pertumbuhan ekonomi wilayah secara merata dan berhirarki di setiap kecamatan;

e. Pelestarian kawasan pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan untuk menjamin keberlanjutan produksi; dan

f. Perlindungan terhadap kawasan untuk pertahanan dan keamanan Negara.

2.4.2. Rencana Struktur RuangWilayah Kabupaten Buru Selatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Rencana struktur ruang wilayah adalah gambaran susunan

Rencana struktur ruang wilayah adalah gambaran susunan unsur-unsur pembentuk rona lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan buatan yang digambarkan secara hirarkis dan berhubungan satu sama lain.

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Buru Selatan tahun 2009- 2029Rencana struktur ruang wilayahmeliputi :

a. Pengembangan setiap pusat pelayanan kegiatan/pemukiman, yang meliputi :

1. Rencana pengembangan sistem perkotaan; dan

2. Rencana pengembangan sistem pedesaan.

b. Pengembangan sistem jaringan prasarana wilayah, yang meliputi :

1. Rencana pengembangan sistem jaringan transportasi;

2. Rencana pengembangan sistem jaringan energi;

3. Rencana pengembangan sistem jaringan telekomunikasi;

4. Rencana pengembangan sistem jaringan sumber daya air; dan

5. Rencana pengembangan sistem prasarana pengelolaan lingkungan;

I.

Rencana Pengembangan Sistem Perkotaan

(1)

Sistem perkotaan sebagaimana terdiri atas :

a. Wilayah pengembangan;

b. Hirarki perkotaan.

a. Wilayah Pengembangan

Pembagian

Selatanmeliputi :

Wilayah

Pengembangan

(WP)

di

Kabupaten

Buru

1.

Wilayah

Pengembangan

I

yang meliputi Kecamatan Namrole

dengan pusat pelayanan di Kota Namrole, yang memiliki fungsi

utama sebagai :

 

b. Pusat Pemerintahan dan Pelayanan Jasa;

c. Pusat Transportasi Regional;

 

d. Sentra produksi pertanian tanaman pangan;

e. Sentra produksi kehutanan;

 

f. Sentra Produksi Pertambangan;

g. Sentra Produksi Peternakan:

h. Sentra produksi perikanan; dan

i. Wisata.

2.

Wilayah

Pengembangan

II yang meliputi Kecamatan Leksula

dengan pusat pelayanan di Kota Leksula, yang memiliki fungsi utama

sebagai :

a. Pusat Perdagangan;

 

b. Pusat Pelayanan Jasa;

c. Sentra produksi kehutanan;

 

d. Sentra produksi pertanian (hortikultura)

e. Sentra Produksi Pertambangan;

 

f. Sentra Produksi Peternakan

g. Sentra produksi perkebunan;

h. Sentra produksi perikanan; dan

i. Wisata.

3.

Wilayah

Pengembangan

III yang meliputi Kecamatan Kepala

Madan dengan pusat pelayanan di Kota Biloro, yang memiliki fungsi utama sebagai :

a. Sentra produksi pertanian;

b. Sentra produksi perkebunan;

c. Sentra Produksi kehutanan

d. Sentra Produksi perikanan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 e. Sentra Produksi Peternakan f. Pusat pelayanan

e. Sentra Produksi Peternakan

f. Pusat pelayanan jasa; dan

g. Wisata.

4. Wilayah Pengembangan IV yang meliputi Kecamatan Waisama

dengan pusat pelayanan di Kota Wamsisi, yang memiliki fungsi utama sebagai :

a. Sentra produksi pertanian;

b. Sentra produksi perkebunan;

c. Sentra produksi perikanan;

d. Sentra Produksi Peternakan

e. Sentra Produksi Kehutanan

f. Sentra Wisata;dan

g. Pusat pelayanan jasa.

Kecamatan Ambalau

dengan pusat pelayanan di Kota Waelua, yang memiliki fungsi utama sebagai :

a. Sentra produksi perkebunan;

b. Sentra produksi perikanan;

c. Sentra Produksi Peternakan;

d. Pusat Pelayanan Jasa;dan

e. Wisata.

5. Wilayah

Pengembangan

V

yang

meliputi

b. Hirarki Perkotaan Hirarki perkotaan yang ada di Kabupaten Buru Selatan, dibagi atas PKW, PKL dan PPK berdasarkan fungsi dan pelayanannya dalam menunjang pertumbuhan ekonomi Kabupaten, yaitu :

a. PKW yang diusulkan meliputi :

1. Kota Namrole di Kecamatan Namrole

2. Kota Biloro di Kecamatan Kepala Madan

b. PKL yang ditetapkan di Kabupaten, meliputi :

1. Kota Waesama di Kecamatan Namrole; dan

2. Kota Leksula di Kecamatan Leksula.

3. Kota Waelua di Kecamatan Ambalau

c. PPK yang ditetapkan di Kabupaten, meliputi :

1. Kota Waekatin di Kecamatan Fena Fafan.

Sitem pusat pemukiman pedesaan dilakukan dengan menetapkan beberapa Desa di wilayah Kecamatan sebagai pusat pelayanan lingkungan (PPL) yang berfungsi

melayani kegiatan skala antar Desa. PPL sebagaimana dimaksud diatas secara berhirarki memiliki hubungan dengan PPK sebagai kawasan perkotaan terdekat, dan dengan ibukota Kabupaten sebagai PKL. PPL di Kabupaten Buru Selatan ditetapkan di :

1. Desa Nanali di Kecamatan Kepala Madan;

2. Desa Waepandan di Kecamatan Kepala Madan;

3. Desa Fogi di Kecamatan Kepala Madan;

4. Desa Waemulang di Kecamatan Leksula

5. Desa Tifu di Kecamatan Leksula;

6. Desa Ewiri di Kecamatan Leksula;

7. Desa Wamkana di Kecamatan Namrole;

8. Desa Labuang di Kecamatan Namrole;

9. Desa Oki Baru di Kecamatan Namrole

10. Desa Wailikut di Kecamatan Waisama

11. Desa Simi di Kecamatan Waesama;

12. Desa Waetawa di Kecamatan Waesama;dan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 13. Desa Ulima di Kecamatan Ambalau; II.

13. Desa Ulima di Kecamatan Ambalau;

II. Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Transportasi

Rencana pengembangan sistem jaringan transportasi wilayah mencakup sistem jaringan transportasi darat, sitem jaringan transportasi laut dan sistem jaringan transportasi udara; Sistem jaringan transportasi darat mencakup sistem jaringan transportasi jalan serta sistem jaringan transportasi penyeberangan; Sistem jaringan transportasi darat mencakup jaringan rute penerbangan yang membentuk satu kesatuan sistem dengan angkutan laut dan angkutan darat.

a. Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Transportasi Darat

(1)

Rencana pengembangan sistem jaringan transportasi darat diarahkan untuk

menghubungkan jalur-jalur penghubung utama Kabupaten, yang meliputi :

a. Jalur Selatan : Namrole - Leksula - Tifu - Biloro - Waehotong;

b. Jalur Tengah : Namrole - Oki Modan Mohe;

c. Jalur Selatan - Utara : Tifu - Danau Rana; dan

d. Jalur Timur : Namrole - Wamsisi - Waetawa

b.

Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Transportasi Laut

Rencana pengembangan sistem jaringan transportasi laut diarahkan untuk membentuk jaringan pelayanan transportasi laut yang optimal dalam mendukung dan membangun aksesibilitas antar Kota Kecamatan dan desa-desa terpencil yang belum terhubung oleh jaringan jalan darat.

Rencana pengembangan sistem jaringan transportasi laut, meliputi :

a. Meningkatkan kondisi dan fasilitas dermaga/kapal rakyat/speed boat/kapal

perintis yang melayani pergerakan antar pulau (kecamatan) serta tambahan perahu yaitu kecamatan Kepala Madan (Fogi, Pasir Putih), kecamatan Leksula (Tifu, Leksula), kecamatan namrole (Lektama) kecamatan Waisama (Wamsisi) dan kecamatan Ambalau (Wailua);

b. Mengembangkan pelabuhan laut yang meliputi pelabuhan pengumpan; dan

c. Mengembangkan jalur transportasi laut antar Provinsi guna membuka akses distribusi komoditi unggulan ke provinsi terdekat.

Pengembangan pelabuhan laut meliputi :

a. Pengembangan pelabuhan Namrole dan Leksula sebagai pelabuhan pengumpan; dan

b. Pengembangan pelabuhan pengumpan di Tifu, Fogi, Biloro, Leksula, Namrole,

Wamsisi, Waetawa dan Waeluwa.

III. Rencana Pengembangan Sistem jaringan Transportasi Udara

Rencana pengembangan sistem jaringan transportasi udara di Kabupaten meliputi :

a. Mengembangkan Bandar udara Namrole;

b. Meningkatkan sarana dan prasarana Bandar Udara Namrole sesuai dengan fungsinya sebagai Bandar udara pengumpan; dan

c. Meningkatkan pelayanan dengan menambah jalur penerbangan udara baru, yaitu :

1. Namrole - Ternate;

2. Namrole - Kendari - Bitung; dan

3. Namrole - Baubau - Makassar.

IV. Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Energi

Rencanasistem jaringan energi di Kabupaten meliputi :

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 a. Pembangunan pembangkit listrik tenaga mikro hidro

a. Pembangunan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) yang tersebar disetiap Kecamatan;

b. Pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Desa waimulang dan Desa Waimala di Kecamatan Leksula, Desa Biloro di Kecamatan Kepala Madan, Namrole dan Waetina di Kecamatan Namrole dengan kapasitas kurang lebih 12 Mega watt;

c. Pembangunan Pembangkit listrik Geothermal di Desa Sekat, Kecamatan Kepala Madan; dan

d. Pembangunan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di Desa Walbele di Kecamatan Kepala Madan, Kecamatan Leksula, Desa Wamsisi di Kecamatan Waesama dan Kecamatan Ambalau

V. Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Telekomunikasi

Rencana pengembangan sistem jaringan telekomunikasi di Kabupaten meliputi:

a. Penyediaan fasilitas telekomunikasi hingga menjangkau seluruh ibukota kecamatan dan desa-desa yang terpencil di Kabupaten;

b. Pembangunan menara pemancar di Namrole, Fakal, Pasir Putih, Leksula, Waemulang, Tifu Wamsisi dan Ambalau; dan

c. Penyediaan prasarana informatika di Namrole.

VI. Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Sumber Daya Air

(1) Rencana pengembangan sistem jaringan sumber daya air di arahkan untuk mendukung peningkatan produksi pertanian dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih.

(2)

a. Pengelolaan wilayah sungai Buru sesuai dengan fungsinya sebagai Wilayah Sungai Strategis Nasional;

b. Pembangunan jaringan irigasi teknis untuk mendukung program lumbung pangan Kabupaten di Waemulang dan Waekatin;

c. Pemanfaatan mata air dan sungai di pegunungan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, energi listrik, perikanan dan pariwisata;

Rencana pengembangan sistem jaringan sumber daya air, meliputi :

d. Penyediaan air bersih dilakukan dengan sistem sebagai berikut :

1. Sambungan langsung dari pusat penyediaan air bersih (PAM) setempat, dengan sumber air dari sungai-sungai dan atau mata air yang ada;

2. Kran umum, disediakan pada kawasa-kawasan pemukiman padat; dan

3. Sambungan langsung dari PAM di pedesaaan, dengan sumber air baku dari mata air di pegunungan diwilayahnya.

VII. Rencana Pengembangan Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan

(1)

Rencana system prasarana pengelolaan lingkungan di Kabupaten Buru Selatan meliputi :

a. Rencana pengelolaan persampahan;

b. Rencana pengelolaan air limbah; dan

c. Ruang dan jalur evakuasi bencana.

(2)

Rencana pengelolaan persampahan sebagaimana, meliputi :

a. Pengelolaan sampah dengan menggunakan metode sanitary landfill; dan

b. Pembangunan TPA di setiap kecamatan, yang berlokasi sekitar 5 (lima)

(3)

kilometer dari pusat pemukiman (ibukota kecamatan). Rencana pengelolaan air limbah meliputi :

a. Pengolahan air limbah domestik dengan menggunakan metode kolam aerasi;

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 b. Pengolahan air limbah industri denganmenggunakan sistem

b. Pengolahan air limbah industri denganmenggunakan sistem pengolahan

biologis; dan

c. Pembangunan Instalasi Pengolah Lumpur Tinja (IPLT) dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) disetiap kecamatan. (4) Ruang evakuasi bencana sebagaimana terdiri dari 5 titik yang terdapat di setiap kecamatan yang merupakan tempat paling aman dari ancaman berbagai bencana. (5) Jalur evakuasi bencana direncanakan mengikuti jaringanjalan dengan rute terdekat ke ruang evakuasi dan merupakan jaringan jalan paling aman dari ancaman berbagai bencana.

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Peta 2.2 :Rencana Struktur Ruang Kabupaten Buru

Peta 2.2 :Rencana Struktur Ruang Kabupaten Buru Selatan

Buru Selatan Tahun 2014 Peta 2.2 :Rencana Struktur Ruang Kabupaten Buru Selatan Pokja Sanitasi Kabupaten Buru

Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 2.4.3. Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Buru

2.4.3. Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Buru Selatan

Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. Pola ruang wilayah kabupaten merupakan gambaran pemanfaatan ruang wilayah kabupaten baik untuk pemanfaatan yang berfungsi lindung maupun budidaya.

Rencana pola ruang wilayahKabupaten Buru Selatanmeliputi :

a. Kawasan lindung memiliki luas kurang lebih 124.100 Ha yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan Ha meliputi :

1. Kawasan hutan lindung;

2. Kawasan perlindungan setempat;

3. Kawasan suaka alam, dan pelestarian alam;

4. Kawasan rawan bencana alam;

5. Kawasan lindung geologi; dan

6. Kawasan lindung lainnya.

b. Kawasan budidaya meliputi :

1. Kawasan peruntukan hutan produksi;

a. Kawasan peruntukan hutan produksi terbatas (HPT), tersebar di hampir semua Kecamatan kecuali di Kecamatan Ambalau, dengan luas kurang lebih 79.700 Ha.

b. Kawasan peruntukan hutan produksi tetap (HP), tersebar di hampir semua Kecamatan kecuali Kecamatan Ambalau, direncanakan seluas kurang lebih 65.000 Ha.

c. Kawasan peruntukan hutan produksi yang dapat dikonservasi (HPK), tersebar di semua wilayah Kecamatan, dengan luas kurang lebih 81.000 Ha.

2. Kawasan hutan rakyat;

3. Kawasan peruntukan pertanian;

a. Kawasan peruntukan pertanian lahan basah, terdapat di Kecamatan Kepala Madan, Kecamatan Leksula dan Kecamatan Namrole, seluas kurang lebih 6.700 Ha, dengan komoditi utama padi.

b. Kawasan peruntukan pertanian lahan kering, terdapat di Kecamatan Ambalau, Kecamatan Leksula, Kecamatan Namrole dan Kecamatan Waesama seluas kurang lebih 5.200 Ha, dengan komoditi utama jagung, ubi kayu, kacang-kacangan serta berbagai jenis tanaman sayuran.

c. Kawasan peternakan,

4. Kawasan peruntukan perkebunan;

5. Kawasan peruntukan perikanan;

6. Kawasan peruntukan pertambangan;

7. Kawasan peruntukan industri;

8. Kawasan peruntukan pariwisata; dan

9. Kawasan peruntukan pemukiman.

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Peta 2.3 : Rencana Pola Ruang Kabupaten

Peta 2.3 : Rencana Pola Ruang Kabupaten Buru Selatan

Buru Selatan Tahun 2014 Peta 2.3 : Rencana Pola Ruang Kabupaten Buru Selatan Pokja Sanitasi Kabupaten

Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 2.4.1. Kawasan Rawan Bencana Berdasarkan kondisi Kondisi

2.4.1. Kawasan Rawan Bencana

Berdasarkan kondisi Kondisi geologis, topografis, klimatologis, hidrologis dan letak geografis, wilayah Kabupaten Buru Selatan dikategorikan sebagai wilayah rawan bencana yang dapat berakibat timbulnya korban jiwadan dampak psikologis serta timbulnya kerusakanlingkungan.Potensi bencana yang terjadi di wilayah ini.

Kawasan rawan bencana di Kabupaten Buru Selatan meliputi :

a. Kawasan rawan banjir, terdapat di aliran sungai yang melewati Waimulang, Waemala, Ewiri, Waefusi, Oki Lama, Wamsisi, Simi, Waesili, Waetawa dan Waelua.

b. Kawasan rawan longsor terdiri dari :

1. Kerawanan longsor tinggi terjadi di pegunungan dan bukit-bukit utara di bagian tengah Kecamatan Kepala Madan;

2. Kerawanan longsor sedang tersebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten.

c. Kawasan rawan erosi, terdapat di area perbukitan karst.

Kawasan lindung geologi berupa kawasan meliputi :

a. Kawasan rawan gempa bumi terdiri dari :

rawan bencana alam geologi yang

1. Kerawanan tinggi tersebar di Kecamatan Namrole, Kota Tifu, Kota Waemulang, dan Pantai Kota Fogi dan Kota Waikatin;

2. Kerawanan sedang meliputi hampir semua kecamatan yang ada di Kabupaten

termasuk Pulau Ambalau.

b. Kawasan rawan Tsunami terdiri dari :

1. Kerawanan tsunami tinggi terkonsentrasi di Pulau Ambalau bagian selatan, Kecamatan Waisama dan Kecamatan Namrole;

2. Kerawanan tsunami sedang dan rendah di sepanjang pesisir pantai Pulau Buru dan Pulau Ambalau.

c. Kawasan rawan abrasi.

2.4. Sosial Budaya

Sebagai bagian dari pemetaan kondisi sanitasi di Kabupaten Buru Selatan, perlu dilakukan identifikasi terhadap kondisi sosial dan budaya wilayah Kabupaten Buru Selatan. Kondisi sosial dan budaya tersebut secara tidak langsung akan mencerminkan kualitas penduduk di Kabupaten Buru Selatan. Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kondisi sosial budaya masyarakat yaitu kondisi tempat tinggal dan ketersediaan fasilitas pendidikan.Informasi sosial dan budaya ini penting untuk turut ditinjau sebagai dasar untuk menentukan strategi sanitasi Kabupaten Buru Selatan kedepan.

Pada dokumen buku putih sanitasi ini, beberapa variabel terkait aspek sosial dan budaya masyarakat Kabupaten Bandung akan meliputi beberapa variabel sebagai berikut:

a. Pendidikan ;

b. Tingkat Kemiskinan;

c. Jumlah Rumah per Kecamatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

2.5.1. Pendidikan

(BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 2.5.1. Pendidikan Hingga akhir tahun 2013 Kabupaten Buru Selatan telah

Hingga akhir tahun 2013 Kabupaten Buru Selatan telah memiliki Unit Sekolah sebanyak 142unit sekolah, terdiri dari 87 unit SD/MI,35 unit SMP/MTs, serta 20 unit SMA/SMK/MA Negeri.

2.5.2. Kemiskinan

Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, antara lain: tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi, geografis, gender, dan kondisi lingkungan. Mengacu pada petunjuk teknis Buku Putih Sanitasi, angka kemiskinan dapat dihitung berdasarkan proporsi jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera 1 dengan formula:

(∑ Pra-KS + ∑ KS1) Angka Kemiskinan =

∑ KK

X 100 %

Ditinjau berdasarkan tingkat kesejahteraan penduduk, masih terdapat 4.579 KK (Kepala Keluarga) atau sekitar 24,4 % KK di Kabupaten Buru Selatan yang masih berada dalam kategori Miskin. Jumlah KK tersebut terdistribusi di setiap kecamatan.Pada tahun 2012, jumlah KK Miskin terbanyak terdapat di Kecamatan Leksula yaitu berjumlah 1.514 KK atau sekitar 8.06 %. Sedangkan kecamatan dengan jumlah KK Miskin terrendah yaitu Kecamatan Waesama, berjumlah 617 KK atau sekitar 3,28 % dari total keluarga prasejahtera di Kabupaten Buru Selatan. Kecamatan lain dengan jumlah KK miskin yang relative rendah di Kabupaten Buru Selatan yaitu Kecamatan Ambalau dengan jumlah KK miskin sebanyak 754 KK atau sekitar 4,01 % dari total jumlah KK di kabupaten Buru Selatan.

2.5.3. Jumlah Rumah

Rumah merupakan tempat berkumpul bagi semua anggota keluarga dan menghabiskan sebagian besar waktunya, sehingga kondisi kesehatan perumahan sangat berperan sebagai media penularan penyakit di antara anggota keluarga atau tetangga sekitarnya. Berdasarkan data Tim Penaggulangan Kemiskinan Daerah Tahun 2012, jumlah rumah atau Bangunan Tempat Tinggal yang ada di Kabupaten Buru Selatan ada sebanyak 4.579 unit rumah yang tersebar di lima Kecamatan.

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 2.5. Kelembagaan Pemerintah Daerah Secara garis besar,

2.5. Kelembagaan Pemerintah Daerah

Secara garis besar, kelembagaan pemerintah daerah Kabupaten Buru Selatan meliputi Sekretariat Daerah, Dinas Daerah dan Organisasi Lembaga Teknis Daerah yang masing- masing dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Sekretariat Daerah

Berdasarkan PeraturanBupatiBuru SelatanNomor32 Tahun 2012tentangUraian Tugas Jabatan Struktural OrganisasiSekretariat Daerah Kabupaten Buru Selatanadalah sebagai berikut:

A. Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat membawahi :

1. Bagian Tata Pemerintahan

2. Bagian Kesejahteraan Rakyat dan Kemasyarakatan

3. Umum dan Humas

B. Asisten Bidang Administrasi Umum, Perekonomian dan Pembangunan :

1. Bagian Perekonomian dan Pembangunan

2. Bagian Organisasi Tata Laksana

3. Bagian Hukum

2. Sekretariat DPRD, dipimpin oleh Sekretaris Dewan, dibantu oleh : Bagian Umum yang membawahi Sub Bagian umum dan Kepegawaian dan Sub Bagian Risalah dan Persidangan; Bagian Keuangan yang membawahi Sub Bagian Perencanaan dan Sub Bagian Tata Usaha Keuangan; Bagian Hukum yang membawahi Sub Bagian Perundang- undangan dan Sub Bagian Dokumentasi dan Bantuan Hukum.

3. Pembentukan Organisasi Dinas Otonom Daerah sebanyak 13 Dinas Otonom Daerah, yaitu :

1. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga

2. Dinas Kesehatan

3. Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi

4. Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika

5. Dinas Pertanian

6. Dinas Kebudayaan dan Parawisata

7. Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah

8. Dinas Pekerjaan Umum

9. Dinas Kelautan dan Perikanan

10. Dinas Kehutanan

11. Dinas Energi Sumberdaya Mineral

12. Dinas Pendapatan

13. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil

14. Dinas Perindustrian dan Perdagangan

4. Pembentukan Organisasi Lembaga Teknis Daerah Sesuai Perda Nomor 05 TAHUN 2013 yaitu :

1. Inspektorat;

2. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan;

3. Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintah Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana;

4. Badan Kepegawaian Daerah, Pendidikan dan Pelatihan;

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 5. Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan

5. Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat;

6. Badan Lingkungan Hidup;

7. Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan;

8. Badan Penanaman Modal Daerah Dan Pelayanan Perizinan;

9. Badan Penanggulangan Bencana Alam;

10. Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah;

11. Badan Narkotika;

12. Rumah Sakit Umum Daerah;

13. Kantor Satuan Polisi Pamong Praja;

14. Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah;

5.

Kecamatan

1. Kecamatan Namrole

2. Kecamatan Leksula

3. Kecamatan Kepala Madan

4. Kecamatan Waesama

5. Kecamatan Ambalau

6. Kecamatan Fena Fafan

Dalam pelaksanaan pembangunan program sanitasi di Kabupaten Buru Selatan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang terkait pembangunan sanitasi antara lain :

1)

Bappeda dan Litbang

2)

Dinas Kesehatan

3)

Dinas Pekerjaan Umum

4)

Badan Lingkungan Hidup

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Gambar 2.1 Struktur Organisasi Pemerintah Kabupaten Buru

Gambar 2.1 Struktur Organisasi Pemerintah Kabupaten Buru Selatan

SEKRETARIAT DPRD BUPATI - Bagian Umum WAKIL DPRD BUPATI - Bagian Risalah& Persidangan - Bagian
SEKRETARIAT DPRD
BUPATI
- Bagian Umum
WAKIL
DPRD
BUPATI
- Bagian Risalah&
Persidangan
- Bagian Humas
SEKRETARIAT DAERAH
- Bagian Keuangan
Asisten Pemerintahan dan
Kesejahteraan Rakyat
Asisten Perekonomian&
Asisten Bidang Administrasi dan
Pembangunan
Tata Laksana
STAF AHLI
- Bagian Pemerintahan
-
- Bagian
Ekonomi
Bagian Hukum
- Bagian Umum dan Humas
Pembangunan (Ekbang)
-
Bagian
Organisasi
dan
Tata
- Kesejahteraan
Bagian
Laksana
Rakyat
Dinas Daerah Lembaga Teknis Daerah 1. Dinas Kehutanan 1. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Litbang
Dinas Daerah
Lembaga Teknis Daerah
1. Dinas Kehutanan
1. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Litbang
2. Dinas Pertanian
2. Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah
3. Dinas Kelautan dan Perikanan
3. Badan Kepegawaian Daerah dan Diklat
KECAMATAN
4. Dinas Kesehatan
4. Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat
5. Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi
5. Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan
Perempuan, Pemerintahan Desa dan KB
6. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga
7. Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika
6. Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah
7. Inspektorat
8. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah
8. Rumah Sakit Umum Daerah
9. Dinas Perindustrian dan Perdagangan
10. Dinas Pertambangan dan Energi
9. Badan Lingkungan Hidup
10. Kantor Perpustakaan Daerah dan Arsip
11. Dinas Pekerjaan Umum
11. Kantor Satuan Polisi Pamong Praja
12. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil
12. Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan
13. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
13. Badan Penanggulangan Bencana Daerah
14. Dinas Pendapatan

Pokja Sanitasi Kabupaten Buru Selatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Gambar 2.2. : Struktur SKPD yang terkait

Gambar 2.2. : Struktur SKPD yang terkait Pembangunan Sanitasi Kabupaten Buru Selatan

BUPATI BAPPEDA DAN LITBANG DINAS PEKERJAAN UMUM DINAS KESEHATAN BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG
BUPATI
BAPPEDA DAN
LITBANG
DINAS PEKERJAAN
UMUM
DINAS KESEHATAN
BADAN
PENGENDALIAN
LINGKUNGAN HIDUP
BIDANG
BIDANG
PENYEHATAN,
BIDANG TEKNIS
PERENCANAAN
KOMUNIKASI DAN
BIDANG MONITORING
DAN EVALUASI
PEMBERDAYAAN

Berdasarkan Tugas Pokok dan Fungsi dari masing-masing SKPD terkait sektor sanitasi di Kabupaten Buru Selatan, maka terdapat empat SKPD yang masuk dalam kelompok kerja sanitasi yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari kelompok kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) yang ada di Kabupaten Buru Selatan. SKPD tersebut masing- masing adalah Bappeda dan Litbang, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan dan Dinas Pekerjaan Umum. Bappeda dan Litbang bertugas untuk menghimpun seluruh data terkait sektor sanitasi yang direkam oleh SKPD lain yang selanjutnya Bappeda bersama-sama dengan seluruh SKPD terkait melakukan analisa data untuk menentukan posisi pengelolaan sanitasi di Kabupaten Buru Selatan, Hasil justifikasi tersebut selanjutnya menjadi kesepakatan masing- masing pihak yang dituangkan dalam Strategi Sanitasi Kabupaten yang akan diterjemahkan menjadiKomunikasi dan Mediaprogram dan kegiatan di masing-masing SKPD terkait.

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Tabel 2.12: Kegiatan Komunikasi terkait Sanitasi No

Tabel 2.12: Kegiatan Komunikasi terkait Sanitasi

No

Kegiatan

Tahun

Dinas

 

Tujuan

Khalayak Sasaran

Pesan Kunci

Pembelajaran

Pelaksana

Kegiatan

1

Pemicuan

2014

Dinas

Merubah

5

Kecamatan

Sanitasi

 

Masih

STBM

Kesehatan,

Perilaku

 

buruk

dan

ditemukan

(Sosialisasi

STBM

Puskesmas

perilaku

hidup

tidak

masyarakat

BABS

di

bersih

dan

sembarangan

tidak sehat itu menjijikan dan memalukan

tempat(Pantai,

Sungai,Kebun

)belum

adanya

dan membuat

kesadarn

sakit

 

Masyarakat

karenanya

untuk

stop

perlu

kita

BABS

perbaiki

sanitasi

dan

biasakan

PHBS

2

Program

2014

Dinas

Pemicuan

Masyarakat di 10

   

PAMSIMAS

Pekerjaan

terhadap

Desa penerima

   
 

Umum,

masyarak

Program Pamsimas

Dinas

at

untuk

dan Siswa-siswi di

Kesehatan

melakuka

10 desa tersebut.

n

PHBS

dan Siswa

Sekolah

Dasar

mampu

dan mau

melakuka

n

CTPS

yang baik

dan benar

3

Pemicuan

2013

Dinas

Merubah

6

Kecamatan

Sanitasi

 

Masih

STBM

Kesehatan,

Perilaku

 

buruk dan perilaku hidup tidak bersih dan tidak sehat itu menjijikan dan memalukan dan membuat sakit karenanya perlu kita perbaiki sanitasi dan biasakan PHBS

ditemukan

(Pemicuan

Puskesmas

masyarakat

 

CLTS)

 

BABS di

sembarangan

tempat(Pantai,

Sungai,Kebun

)belum

adanya

kesadarn

Masyarakat

untuk stop

BABS

4

Sosialisasi

2013

Badan

Mengajak

Masyarakat

1.

Laut dan

 

melalui

Lingkunga

masyarak

umum.

Sungai

Media

n Hidup

at

untuk

Bersih,

Publikasi

membuan

Alam Lestari

(bentuk

g

sampah

kita tidak

Baliho)

di

tempat

mewarisinya

yang telah

dari nenek

disediakan

moyang kita

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014             melainkan
           

melainkan pinjaman dari anak cucu kita.

 

2. Air Bersih Lingkungan kita capai peradaban berakhlak bersih

3. Jagalah Kebersihan Lingkungan, Bersih Ciri Masyarakat Beradab

4. Buanglah Sampah pada tempatnya, Lautku bukan Keranjang Sampah

5. Stop Buang Sampah di Kali dan Got. Buang sampah di Kali dan Got membahaya kan Diri Sendiri dan Orang Lain.

5

Sosialisasi

2013

Badan

Mengajak

Masyarakat di

Dengan

Kurangnya

Kebijakan

Lingkunga

masyarak

Kecamatan

membuang

dukungan

Pengelolaan

n Hidup

at

untuk

Namrole

sampah di

dana sehingga

Persampah

membuan

tempat yang

sasaran

an

g sampah

telah

hanya

di

tempat

disediakan,

ditargetkan

yang telah

berarti kita

pada satu

disediakan

telah belajar

kelurahan.

untuk hidup

sehat

Sumber: Badan Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan Umum Kab. Buru Selatan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2014 Tabel 2.13 Media Komunikasi dan Kerjasama terkait

Tabel 2.13 Media Komunikasi dan Kerjasama terkait Sanitasi

No

Jenis

Khalayak

Pendanaan

Isu yang

Pesan Kunci

Efektivitas

Media

b)

c)

Diangkat

e)

f)

a)

d)

1.

-

-

-

-

-

-

Keterangan (-): Tidak ada