Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

OLEH :

KELOMPOK 5

LOHOT HAMONANGAN S, S.Kep

MUHAMMAD NUR, S.Kep

DEWI PANGESTUTI S.Kep

AYU ISABELA S.Kep

SITI FATIMAH S.Kep

UMMI S.Kep

MONALISA S.Kep

SRI WAHYUNI S.Kep

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES PAYUNG NEGERI
PEKANBARU
2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : HALUSINASI
Sasaran : Pasien yang menderita Halusinasi
Tempat : UPT BINA LARAS KECAMATAN RUMBAI PEKANBARU
Hari / Tanggal : Selasa, 7 Mei 2019
Waktu : 09.00 WIB (30 Menit)

A. Tujuan Intruksional Umum :


Pada akhir proses penyuluhan pasien dapat mengenal dan memahami tentang
halusinasi.

B. Tujuan Intruksional Khusus


Setelah diberikan penyuluhan pasien dapat :
1. Memahami pengertian halusinasi
2. Menyebutkan tanda-tanda dan gejala halusinasi
3. Mengetahui penyebab terjadinya halusinasi
4. Cara penyelesaian masalah halusinasi

C. Materi Terlampir
1. Pengertian halusinasi
2. Tanda dan Gejala halusinasi
3. Penyebab terjadinya halusinasi
4. Cara penyelesaian halusinasi

D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
3.
E. Media
1. Power point
2. Laptop
3. Infocus
F. Kegiatan Penyuluhan

No. Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Audience


1. 3 Menit Pembukaan :
1. Salam pembuka 1. Menjawab salam
2. Memperkenalkan diri 2. Memperhatikan
3. Menjelaskan tujuan penyuluhan 3. Memperhatikan
4. Menyebutkan materi yang akan 4. Memperhatikan
Diberikan
2. 15 Menit Pelaksanaan :
1. Menjelaskan pengertian defisit 1. Memperhatikan
perawatan diri
2. Menyebutkan tanda dan gejala defisit 2. Memperhatikan
perawatan diri
3. Menjelaskan penyebab terjadinya 3. Memperhatikan
defisit perawatan diri
4. Menjelaskan cara penyelesaian 4. Memperhatikan
masalah defisit perawatan diri Commented [T1]: Tidak sesuai dengan judul….
Topic yg akan diberikan tntg halusinasi atau dpd???
3. 10 Menit Evaluasi :
1. Memberikan kesempatan pasien 1. Bertanya dan mende
untuk bertanya ngarkan jawaban
2. Meminta pasien menjelaskan tentang 2. Menjelaskan tentang
materi defisit perawatan diri Materi
4. 2 Menit Terminasi :
1. Mengucapkan terima kasih atas 1. Memperhatikan
perhatian yang diberikan
2. Mengucapkan salam penutup 2. Membalas salam

G. Pengorganisasian Kelompok
Moderator : Ummi, S. Kep
Leader : Muhammad Nur, S. Kep
Co leader : Monalisa, S. Kep
Observer : siti fatimah, S. Kep
Fasilitator : Lohot Hamonangan, S. Kep
Dewi Pangestuti, S. Kep
Sri Wahyuni, S. Kep
Dokumentasi : Ayu isabela, S. Kep

H. Deskripsi tugas :
Moderator
 memimpin jalannya acara
 membuka pertemuan
 mengatur setting tempat
 menutup kegiatan penyuluhan

Penyaji
 menjelaskan materi
 menggantikan posisi moderator bila diperlukan

Observer
 mengobservasi jalannya acara
 memberi penilaian
 memberi saran dan kritik setelah acara selesai
 mengevaluasi dan umpan balik kepada penyaji dan moderator

Fasilitator
 sebagai pemandu jalannya acara
 sebagai tempat bertanya penyaji dan moderaror tentang kegiatan yang akan
dilakukan.
 memberi petunjuk dalam acara supaya berlangsung baik.

Dokumentasi
 bertanggung jawab atas dokumentasi kegiatan
 merencanakan, melaksanakan dan menyimpan semua dokumentasi kegiatan
I. Setting Tempat

observer

modera LEA Co
tor DER LEADER

NB :
pasien pasien
:fasilitator

pasien pasien

1. Evaluasi Struktur
1) Kesiapan Materi
2) Kesiapan SAP
3) Kesiapan media : Laptop, power point, infocus.

2. Evaluasi Proses
1) Tiap fase dilalui sesuai waktu yang direncanakan.
2) Mendapat respon dari audien berupa beberapa pertanyaan diajukan tentang hal-
hal yang belum diketahui.
3) Suasana penyuluh berjalan tertib.

3. Evaluasi Hasil
a. Menjelaskan pengertian defisit perawatan diri
b. Menjelaskan tanda dan gejala defisit perawatan diri
c. Menjelaskan penyebab terjadinya defisit perawatan diri
d. Menjelaskan cara penyelesaian masalah defisit perawatan diri. Commented [T2]: Tidak sesuai dg judul
J. Materi
1. PENGERTIAN
a) HALUSINASI
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana pasien mengalami
perubahan sensori, persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan,
pengecapan, perabaan dan penghiduan, pasien merasakan stimulus yang sebetulnya
tidak ada ( Keliat, 2006).
Halusinasi merupakan pengindraan tanpa sumber rangsang eksternal dalam hal
ini dibedakan dari distori atau ilusi yang merupakan tanggapan salah dari rangsang
yang nyata ada. Pasien merasakan halusinasi sebagai sesuatu yang amat nyata,
paling tidak untuk suatu saat tertentu (Maramis, 2005).
Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya
rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi
pada saat kesadaran individu itu penuh/baik (Stuart & Sundenn, 1998).

2. TANDA DAN GEJALA


Tanda dan gejala hakusinasi dinilai dari hasil observasi terhadap pasien serta
ungkapan pasien. Tanda dan gejala pasien halusinasi adalah sebagai berikut :
a. Data Obyektif
1) Bicara atau tertawa sendiri
2) Marah-maah tanpa sebab
3) Memalingkan muka kearah telinga seperti mendengar sesuatu
4) Menutup telinga
5) Menunjuk-nunjuk kearah tertentu
6) Ketakutan pada sesuatu yang tidak jelas
7) Mencium sesuatu seperti sedang membaui bau-bauan tertentu
8) Menutup hidung
9) Sering meludah
10) Muntah
11) Mengggaruk-garuk permukaan kulit
b) data subyektif
1) Mendengar suara-suara atau kegaduhan
2) Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap
3) Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya
4) Melihat bayangan, sinar, bentuk geometri, bentuk kartun, melihat hantu atau
monster
5) Mencium bau-bauan seperti bau darah, urin, feses, kadang-kadang bau itu
menyenangkan.
6) Merasakan rasa seperti darah, urin atau feses
7) Merasa takut atau senang dengan halusinasinya
8) Mengatakan sering mendengar sesuatu pada waktu tertentu saat sedang
sendirian
9) Mengatakan sering mengikuti isi perintah halusinasi

Tanda dan gejala halusinasi adalah sebagai berikut:


a. Berbicara, senyum dan tertawa sendirian.
b. Mengatakan mendengar suara, melihat, menghirup, mengecap dan merasa
sesuatu yang tidak nyata.
c. Merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan
d. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal tidak nyata, serta tidak
mampu melakukan asuhan keperawatan mandiri seperti mandi, sikat gigi,
berganti pakaian dan berhias yang rapi
e. Sikap curiga, bermusuhan, menarik diri, sulit membuat keputusan, ketakutan,
mudah tersinggung, jengkel , mudah marah, ekspresi wajah tegang,
pembicaraan kacau dan tidak masuk akal, banyak keringat.

3. PENYEBAB
a. Faktor Predisposisi
1) Biologis :
(a) Genetik: Diturunkan melalui kromosom orangtua (kromosom keberapa
masih dalam penelitian). Diduga kromosom no.6 dengan kontribusi
genetik tambahan nomor 4, 8, 15 dan 22. Pada anak yang kedua
orangtuanya tidak menderita, kemungkinan terkena penyakit adalah satu
persen. Sementara pada anak yang salah satu orangtuanya menderita
kemungkinan terkena adalah 15%. Dan jika kedua orangtuanya penderita
maka resiko terkena adalah 35 persen. Kembar indentik berisiko
mengalami gangguan sebesar 50%, sedangkan kembar fraterna berisiko
mengalami gangguan 15%.
(b) Kelainan fisik: Lesi pada daerah frontal, temporal dan limbik.
Neurotransmitter dopamin berlebihan, tidak seimbang dengan kadar
serotonin.
(c) Riwayat janin pada saat prenatal dan perinatal meliputi trauma,
penurunan oksigen pada saat melahirkan, prematur, preeklamsi,
malnutrisi, stres, ibu perokok, alkohol, pemakaian obat-obatan, infeksi,
hipertensi dan agen teratogenik. anak yang dilahirkan dalam kondisi
seperti ini pada saat dewasa (25 tahun) mengalami pembesaran ventrikel
otak dan atrofi kortek otak. Anak yang dilahirkan dalam lingkungan
yang dingin sehingga memungkinkan terjadinya gangguan pernapasan
(d) Nutrisi: Adanya riwayat gangguan nutrisi ditandai dengan penurunan
BB, rambut rontok, anoreksia, bulimia nervosa.
(e) Keadaan kesehatan secara umum: misalnya kurang gizi, kurang tidur,
gangguan irama sirkadian, kelemahan, infeksi, penurunan aktivitas,
malas untuk mencari bantuan pelayanan kesehatan.
(f) Sensitivitas biologi: riwayat peggunaan obat halusinogen, riwayat
terkena infeksi dan trauma serta radiasi dan riwayat pengobatannya.
(g) Paparan terhadap racun : paparan virus influenza pada trimester 3
kehamilan dan riwayat keracunan CO, asbestos karena mengganggu
fisiologi otak
2) Psikologis
a) Intelegensi:
Riwayat kerusakan struktur di lobus frontal dan kurangnya suplay
oksigen terganggu dan glukosa sehingga mempengaruhi fungsi kognitif
sejak kecil misalnya: mental retardasi (IQ rendah)
b) Ketrampilan verbal
(1) Gangguan keterampilan verbal akibat faktor komunikasi dalam
keluarga, seperti : Komunikasi peran ganda, tidak ada komunikasi,
komunikasi dengan emosi berlebihan, komunikasi tertutup,
(2) Adanya riwayat gangguan fungsi bicara, akibatnya adanya riwayat
Stroke, trauma kepala
(3) Adanya riwayat gagap yang mempengaruhi fungsi sosial pasien
c) Moral : Riwayat tinggal di lingkungan yang dapat mempengaruhi moral
individu, misalnya lingkungan keluarga yang broken home, konflik,
Lapas.
d) Kepribadian: mudah kecewa, kecemasan tinggi, mudah putus asa dan
menutup diri
e) Pengalaman masa lalu :
(1) Orangtua yang otoriter dan selalu membandingkan
(2) Konflik orangtua sehingga salah satu orang tua terlalu menyayangi
anaknya
(3) Anak yang dipelihara oleh ibu yang suka cemas, terlalu melindungi,
dingin dan tak berperasaan
(4) Ayah yang mengambil jarak dengan anaknya
(5) Mengalami penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup
klien baik sebagai korban, pelaku maupun saksi
(6) Penilaian negatif yang terus menerus dari orang tua
f) Konsep diri : adanya riwayat ideal diri yang tidak realistis, identitas diri
tak jelas, harga diri rendah, krisis peran dan gambaran diri negative
g) Motivasi: riwayat kurangnya penghargaan dan riwayat kegagalan
h) Pertahanan psikologi: ambang toleransi terhadap stres rendah dan adanya
riwayat gangguan perkembangan
i) Self control: adanya riwayat tidak bisa mengontrol stimulus yang datang,
misalnya suara, rabaan, penglihatan, penciuman, pengecapan, gerakan
3) Social cultural
a) Usia : Riwayat tugas perkembangan yang tidak selesai
b) Gender : Riwayat ketidakjelasan identitas dan kegagalan peran gender
c) Pendidikan : Pendidikan yang rendah, riwayat putus sekolah dan gagal
sekolah
d) Pendapatan : Penghasilan rendah
e) Pekerjaan : Pekerjaan stresful, Pekerjaan beresiko tinggi
f) Status sosial : Tuna wisma, Kehidupan terisolasi
g) Latar belakang Budaya : Tuntutan sosial budaya seperti paternalistik dan
adanya stigma masyarakat, adanya kepercayaan terhadap hal-hal magis
dan sihir serta adanya pengalaman keagamaan
h) Agama dan keyakinan : Riwayat tidak bisa menjalankan aktivitas
keagamaan secara rutin dan kesalahan persepsi terhadap ajaran agama
tertentu
i) Keikutsertaan dalam politik: riwayat kegagalan dalam politik
j) Pengalaman sosial : Perubahan dalam kehidupan, misalnya bencana,
perang, kerusuhan, perceraian dengan istri, tekanan dalam pekerjaan dan
kesulitan mendapatkan pekerjaan
k) Peran sosial: Isolasi sosial khususnya untuk usia lanjut, stigma yang
negatif dari masyarakat, diskriminasi, stereotype, praduga negatif
b. Faktor Presipitasi
1. Nature
Enam bulan terakhir terjadi hal-hal berikut ini:
a) Faktor biologis : kurang nutrisi, Ada gangguan kesehatan secara umum
(menderita penyakit jantung, kanker, mengalami trauma kepala atau sakit
panas hingga kejang-kejang), sensitivitas biologi (terpapar obat
halusinogen atau racun, asbestosis, CO)
b) Faktor psikologis : mengalami hambatan atau gangguan dalam
ketrampilan komunikasi verbal, ada kepribadian menutup diri, ada
pengalaman masa lalu tidak menyenangkan (misalnya: menjadi korban
aniaya fisik, saksi aniaya fisik maupun sebagai pelaku, konsep diri yang
negatif (harga diri rendah, gambaran citra tubuh, keracuan identitas, ideal
diri tidak realistis, dan gangguan peran), kurangnya penghargaan,
pertahanan psikologis rendah (ambang toleransi terhadap stres rendah),
self control (ada riwayat terpapar stimulus suara, rabaan, penglihatan,
penciuman dan pengecapan, gerakan yang berlebihan dan klien tidak bisa
mengontrolnya
c) Faktor social budaya : usia, gender, pendidikan rendah/putus atau gagal
sekolah, pendapatan rendah, pekerjaan tidak punya, status social jelek
(tidak terlibat dalam kegiatan di masyarakat, latar belakang budaya, tidak
dapat menjalankan agama dan keyakinan, keikutsertaan dalam politik
tidak bisa dilakukan, pengalaman sosial buruk, dan tidak dapat
menjalankan peran sosial.
2. Origin
a) Internal : Persepsi individu yang tidak baik tentang dirinya, orang lain
dan lingkungannya.
b) Eksternal : Kurangnya dukungan keluarga, masyarakat, dan kurang
dukungan kelompok/teman sebaya
3. Timing: stres terjadi dalam waktu dekat, stress terjadi secara berulang-ulang/
terus menerus
4. Number: Sumber stres lebih dari satu dan stres dirasakan sebagai masalah
yang sangat berat
4. Jenis-Jenis Halusinasi

Jenis
Karakteristik
Halusinasi

Pendengaran Mendengar suara-suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara
(auditorius) berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas
berbicara tentang klien bahkan sampai ke percakapan lengkap antara 2
orang atau lebih tentang orang yang mengalami halusinasi.
Penglihatan Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar
(Visual) kartun, bayangan yang rumit atau kompleks, bayangan bisa menyenangkan
atau menakutkan seperti melihat monster.
Penghidu Membaui bau-bauan tertenru seperti bau darah, urine atau feces. Umumnya
(olfactorius) bau-bauan yang tidak menyenangkan. Kadang- kadang terhidu bau harum
Merasa mengecap rasa yang busuk seperti rasa darah, urine atau feces.
Pengecapan
(gustatorius) Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas, Rasa
tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
Perabaan Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan
(tactile) makanan atau pembentukan urine.
Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak
Senestetik

Kinesthetic

(Gail W. Stuart , 2007)

5. Akibat
Akibat dari halusinasi adalah resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Ini
diakibatkan karena klien berada di bawah halusinasinya yang meminta dia untuk melakukan
sesuatu hal di luar kesadarannya.
6. Rentang respon halusinasi
Rentang respon neurobiologis

Respon adaptif respon maladaptif

1. Pikiran logis 1. Kadang proses piker 1. Gangguan proses


2. Persepsi akurat terganggu piker (waham )
3. Emosi konsisten 2. Ilusi 2. Halusinasi
dengan pengalaman 3. Emosi 3. Kerusakan proses
4. Perilaku sesuai berlebihan/berkurang 4. Perilaku tidak
5. Hubungan sosial 4. Perilaku tidak biasa terorganisir
harmonis 5. Menarik diri 5. Isolasi sosial

(Stuart dan Laraia, 2007)

7. Pohon Masalah

Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

Gangguan sensori persepsi: halusinasi

Isolasi sosial : menarik diri

Gangguan konsep diri : harga diri rendah