Anda di halaman 1dari 28

Pencarian Losses Minyak di SPBU

A. LOSSES SPBU KAITANNYA DENGAN ANGKUTAN TRUK BBM

Sering terdengar komplain oleh SPBU terhadap kekurangan penerimaan BBM


yang berkaitan dengan pelayanan yang buruk oleh awak mobil angkutan BBM.
Bagaimana Hal ini dapat terjadi?
Beberapa Tehnik kecurangan oknum supir dan /atau kernet mobil tangki
terhadap SPBU:
1. Memainkan Kran Angin mobil tangki dengan cara menutup Kran Anginnya
yang umumnya terletak disamping kanan luar belakang supir tangki BBM
sesaat sebelum pembongkaran BBM di SPBU selesai. Hal tersebut akan
mengakibatkan tertahannya sisa minyak BBM yang berada di dalam tangki
BBM walaupun mobil BBMnya telah di tongkang dengan menggunakan
landasan yang menanjak.
2. Meletakkan Jerigen yang dimodifikasi sedemikian rupa (mirip ayunan di
dalam tangki BBM) sehingga dapat termuat di dalam tangki BBM. Hal ini
berfungsi sebagai kompartemen kecil yang berada di dalam tangki angkutan
BBM sehingga menahan/menampung BBM sehingga tidak dapat keluar dari
tangki BBM walaupun mobil truk tangkinya telah di tongkang dengan
menggunakan landasan tanjak.
3. Menggunakan selang khusus pada tangki BBM yang terhubung dengan media
penyimpanan kecil baik berupa jerigen ataupun botolan air mineral yang
telah dikosongkan yang diletakkan di dalam kendaraan/ di belakang kursi
supir/kernet.
4. Khusus pada mobil angkutan BBM jenis solar; menghubungkan tangki
angkutan mobil BBM dan Tangki bahan bakar mobil angkutan BBM itu sendiri
dengan menggunakan selang kecil. Hal ini akan mengakibatkan mengalirnya
BBM dari tangki pengakut BBM mengisi tangki BBM mobil angkutan BBM.
5. Meletakkan kain semacam handuk ke dalam tangki angkutan BBM. Hal ini
akan mengakibatkan tertahannya aliran BBM keluar dari dalam tangki
angkutan BBM.
6. “Kencing di jalan”, istilah ini menggambarkan proses pencurian BBM yang
dilakukan pada saat mobil tangki BBM telah keluar dari depot/instalasi dan
sedang menuju ke SPBU. Hal ini dilakukan dengan cara konvensional
mengeluarkan BBM dari angkutan tangki BBM dengan cara memutus segel
bawah kran pengeluaran BBM atau segel atas man hole tangki BBM. Hal ini
patut dicurigai apabila toleransi waktu tiba mobil tangki telat atau diluar
waktu sewajarnya.
7. “Minyak titipan/pesanan khusus”, misalkan SPBU A akan dikurangi
minyaknya sejumlah 200 liter dari Delivery Order 8.000 liter, sehingga SPBU
A hanya mendapatkan 7.800 liter, SPBU B mendapat tambahan minyak
sebesar 200 liter sehingga SPBU B akan menerima kelebihan minyak
sebesar 200 liter dari DO 8.000 liter dengan total 8.200 liter. Hal ini Dapat
terjadi apabila SPBU A memberikan sedikit uang pengantar faktur ke
supir/kernat dan mendapat lebih uang pengantar faktur pada SPBU B. Modus
ini juga tidak akan dapat terlaksana apabila tidak ada kerjasama dengan
orang dalam pengisian BBM ke mobil tangki (Filling Station Depot/Instalasi).
Istilah uang pengantar faktur sebenarnya tidak ada di dalam aturan tetapi
karena banyaknya BBM SPBU yang disunat oleh oknum nakal supir/kernet
maka uang pengantar faktur tetap diadakan oleh SPBU walaupun buntut-
buntutnya minyak SPBU tetap disunat juga.
8. Bekerja sama dengan petugas SPBU dengan system bagi hasil. Awak supir
akan menawari pengawas SPBU sejumlah imbalan uang asalkan pengawas
SPBU tidak melakukan pembongkaran seluruhnya, misalkan dengan
menyisakan sejumlah 1000 liter BBM/BBK pada mobil tanki.

B. PERHITUNGAN GAIN/LOSS
Gain/Loss adalah selisih stok akhir real BBM dibandingkan dengan stok akhir
teoritis dalam periode 1 bulan pembukuan. Nilai yang diperoleh dari perhitungan
selisih tersebut mungkin + (Gain) atau – (Loss).
Rumusnya adalah :
Gain/Loss = (stok real akhir – stok teoritis)
> Stok akhir real diperoleh dengan melakukan pengukuran pada setiap tangki
pendam BBM, untuk mengetahui sisa stok yang ada.
> Stok akhir teoritis diperoleh dari stok akhir real bulan sebelumnya ditambah
dengan jumlah penerimaan BBM dari Pembelian kemudian dikurangi
penjualan.
Secara matematis stok akhir teoritis dapat dituliskan sebagai berikut:
Stok akhir teoritis = (Stok akhir real bulan sebelumnya + Penerimaan BBM) –
Penjualan
Cara yang umum digunakan untuk menilai besar/kecilnya gain/loss ini adalah
ditentukan dengan nilai persen (%). Persentase ini diperoleh dari pembandingan
nilai gain/loss dalam liter terhadap jumlah penjualan dalam liter kemudian dikalikan
100.
Rumusnya adalah:
Gain/Loss = (Gain/Loss / Penjualan) x 100
Toleransi yang dianjurkan untuk gain/loss adalah 0,5%. Jika gain/loss SPBU kita
melebihi dari nilai di atas, maka dianggap ‘tidak normal’.
Ilustrasi perhitungannya adalah sebagai berikut, jika diketahui:
Diketahui :
- Stok akhir real bulan sblmnya = 8.000 liter
- Jumlah penerimaan = 32.000 liter
- Jumlah penjualan = 33.000 liter
- Stok akhir real bulan ini = 6.800 liter
Kita hitung terlebih dahulu Stok akhir teoritis dengan rumus :
Stok akhir teoritis = (Stok akhir real bulan sebelumnya + Penerimaan BBM) –
Penjualan
Stok akhir teoritis = (8.000 + 32.000) – 33.000
Stok akhir teoritis = 7.000 liter

Untuk mengetahui jumlah gain/loss dalam liter


Gain/Loss = (stok real akhir – stok teoritis)
Gain/Loss = 6.800 – 7.000
Gain/Loss = -200 liter (dalam hal ini berarti Loss yang diperoleh)

Untuk mengetahui persentasinya


Gain/Loss = (Gain/Loss : Penjualan) x 100
Gain/Loss = (-200 : 33.000) x 100
Gain/Loss = -0.60 % (melebihi batas toleransi -0.5%)
Untuk mempersingkat perhitungan Gain/Loss dalam liter bisa juga menggunakan
rumus berikut:
Gain/Loss = Stok akhir real – ((Stok akhir real bulan sblmnya + Penerimaan) –
Penjualan)

FAKTOR PENYEBAB LOSSES

Secara umum, ada tiga kategori faktor penyebab losses, yaitu: faktor alam,
faktor teknis, dan faktor manusia.
Faktor Alam
Seperti yang kita tahu, suhu dan tekanan merupakan faktor yang kuat dalam
mempengaruhi kualitas dan kuantitas BBM, dalam hal ini BBM jenis premium.
Setiap perubahan suhu 1oC akan mempengaruhi 0,12% dari volume BBM tersebut
dan mempengaruhi 0,001 – 0,003 dari massa jenisnya, dan tekanan yang kuat
akan lebih mempercepat proses penguapan. Suhu dan tekanan tidak dapat
dipisahkan, karena setiap kenaikan suhu akan membuat tekanan bertambah. Hal
ini bisa terlihat dari jenis bahan bakar lain yang lebih ringan, misalnya gas dalam
tabung, yang akan meledak jika dipanaskan.
Bagi seorang pekerja di SPBU seperti saya, bau bensin dan bau solar (bau
keduanya sama-sama melekat) sudah menjadi santapan tiap hari, terutama pada
saat proses bongkar BBM (lossing). Biasanya, saya ditemani oleh seorang asisten
dalam proses ini, tugasnya adalah memasang peralatan lossing seperti selang 4″,
leher angsa, mulut babi, dan membuka kunci pada setiap dombak yang akan diisi.
Sedangkan tugas saya adalah memeriksa kualitas dan kuantitas dari muatan BBM
pada tangki tsb.
Untuk mengukur kuantitas BBM dari mobil tangki, yang saya tahu, ada 4 macam
alat yang biasa digunakan, yaitu:
1. Salib ukur
Salib ukur ini berbentuk 2 ‘penggaris’ pada umumnya dimana tertera skala
(biasanya dalam cm) pada masing-masing penggaris. Hanya saja salah satu dari
‘penggaris’ itu mempunyai bentuk seperti sepatu. Untuk dapat menggunakan
salib ukur, kita harus menyilangkan kedua penggaris pada dudukan yang telah
disediakan sehingga menyerupai salib.
Metode yang digunakan jika kita menggunakan salib ukur adalah dengan
mengukur jarak t1 terhadap permukaan minyak. t1 adalah jarak dari bibir
lubang tangki (manhole) terhadap ijk bout. Ijk bout merupakan penunjuk
dimana permukaan minyak seharusnya berada. Posisi Ijk bout ini ditentukan
oleh Dinas Metrologi pada saat dilakukannya tera tangki, dan untuk mencegah
agar posisi ijk bout tidak berubah naik/turun, Dinas Metrologi akan
memasangkan segel timah pada ijk bout tersebut.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan salib ukur adalah:
- mengetahui nilai t1 tangki mobil dari buku TUM (Tangki Ukur Mobil) yang
dikeluarkan oleh Dinas Metrologi
- mengetahui nilai kepekaan tangki mobil dari buku TUM (Tangki Ukur
Mobil) yang dikeluarkan oleh Dinas Metrologi
- mengetahui tebal tutup tangki (dilakukan dengan melakukan pengukuran
sendiri secara manual)
- menggunakan waterpass untuk mendapatkan posisi datar pada tutup
tangki pada saat pengukuran.
2. Tongkat ukur
Tongkat ukur ini mirip dengan tongkat yang digunakan untuk dipping,
hanya saja ukurannya lebih pendek, karena disesuaikan dengan tinggi tangki
mobil pada umumnya. Pada bagian tongkat tertera skala dalam cm dan
terdapat sebuah klem sebagai penunjuk dimana posisi minyak seharusnya
berada.
Metode yang digunakan jika kita menggunakan tongkat ukur adalah dengan
mengukur jarak t2 terhadap permukaan minyak. t2 adalah jarak dari dasar
tangki terhadap ijk bout. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan
tongkat ukur adalah:
- mengetahui nilai t2 tangki mobil dari buku TUM
- mengetahui nilai kepekaan tangki mobil dari buku TUM
- memastikan dasar tangki tidak penyok, atau tidak terdapat tumpukan
karat, yang akan mengurangi keakuratan hasil pengukuran
- memastikan posisi tongkat ukur agar berada tegak lurus terhadap dasar
tangki, karena ini juga akan mempengaruhi hasil pengukuran.
3. Flowmeter
Flowmeter adalah alat yang digunakan untuk mengetahui nilai kuantitas
BBM pada proses lossing dengan cara membaca arus yang melalui corong pada
flowmeter tersebut.
Menggunakan flowmeter lebih gampang dan tidak memerlukan perhitungan,
seperti dua methode yang telah dituliskan di atas. Kita hanya harus
memasangkan flowmeter pada kran tangki dan membaca hasilnya pada saat
proses lossing selesai.
Namun, menurut keterangan yang saya dengar dari teman-teman yang
menggunakan flowmeter (saya sendiri belum pernah menggunakan alat ini),
jika dalam 1 kompatemen terdapat 8.000 liter BBM, maka pada saat proses
lossing selesai (sisa BBM mencapai ratusan liter), flowmeter sudah tidak bisa
lagi membaca arus BBM yang dikeluarkan. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh
faktor gravitasi.
4. ATG (Automatic Tank Gauge)
Yang ini lebih canggih lagi. ATG adalah perangkat terintegrasi, di dalamnya
terdapat alat pengukur suhu, pengukur permukaan minyak, dan juga (kalau
tidak salah) pengukur tekanan. Semua alat-alat tersebut ditanam di dalam
tangki pendam SPBU dan dibaca secara digital untuk kemudian hasilnya dikirim
ke sebuah layar dan atau printer. ATG bisa memberikan data suhu, stok, dan
pressure secara realtime.
Sebelum proses lossing, petugas hanya perlu mengeluarkan struk dari
printer ATG yang mencatat posisi awal stok sebelum lossing. Pada saat proses
lossing selesai, petugas kembali mengeluarkan struk dari printer ATG untuk
mengetahui stok setelah lossing dan menghitung selisihnya untuk mengetahui
berapa jumlah BBM yang masuk ke tangki pendam bersangkutan.
sdikit yang kami tahu :
- utk lokasi, cari di sepanjang jalan /rute provinsi…dimana yg sering dilalui
bis dan truk. terserah mo beli SPBU bekas ato bikin SPBU baru.
- klo bikin baru, cari mesin pompa yg second aza asal pinter2x milih kondisi
(lebih baek ajak org yg brpengalaman).
- kewajiban punya genset.
- bikin kerjasama dengan armada truk dan bis, misal model bayar telat dan
jaminan stok biosolar.
- fasilitas sperti mushola, toilet yg bersih dan kantin itu wajib, sukur2x ada
tempat sederhana untuk tidur2xan sopir ato klo ada modal lebih tambahkan
fasilitas penjucian kendaraan.
- jasa keamanan dengan polres sekitar dengan bentuk kerjasama gratis
BBM mobil patroli polisi (200rb per bln cukup^^).
- cari 2 org pgawai super jujur, 1 manager operasional dan staff untuk cek
truk bongkar muat BBM dari pertamina.
- jangan curang dengan ukuran literan dan oplosan.
- jika memang perlu, lakukan kerjasama dengan pom2x sekitar dlm bentuk
saling menjaga stok BBM.
- untuk stok maupun jumlah mesin pompa….80% solar 20% premium.
asumsi tsb target keuntungan didapat dr solar. untuk premium hanya bentuk
keuntungan tambahan aja.
- jgn buang modal untuk stok produk dr pertamina misal pelumas dll, cukup
jadikan syarat display aja.
- fasilitas gratis untuk para sopir truk dan bis (sopir langganan) sperti kaos
dan air minum gratis. untuk kaos klo bisa sebagai media promosi berjalan pom
bensin.
- berikan bonus2x di hari besar pas natal ato hariraya spert parcel atau
bentuk uang (terserah)…kepada langganan kita.
- manager operasional kudu wajib punya skill sosial yg tinggi, kepada para
langganan dan penduduk sekitar.
- sering2x sumbang dana untuk tambahan kegiatan masyarakat sekitar
misalnya acara 17 agustusan.
- sisanya tergantung kreatifitas aja dah, silahkan klo mo nambahin.
walaupun tampak mudah tetapi prakteknya bisnis ini cukup kompleks, tidak
cukup bermodalkan duit semata, banyak org berduit yang melepas bisnis SPBU.

C. T1 dan T2 TUM

Penasaran dengan losses yang tinggi, saya coba melakukan pengukuran Tangki
Ukur Mobil (TUM) BBM menggunakan T1 dan T2 secara bersamaan. Maksud dari
pengukuran tsb adalah untuk mengetahui posisi ijk bout TUM apakah benar-benar
sesuai dengan yang tercantum di buku tera TUM ybs.
Kebetulan, tanggal 07 Maret 2012 kemaren ada kiriman BBM produk Premium
dan Biosolar masing-masing 8KL. Singkat cerita, BBM dikirim oleh mobil dengan
nopol B92**UU kapasitas 32KL, alokasi BBM untuk spbu kami adalah komparteman
I produk Biosolar, dan kompartemen IV produk Premium.
Dengan melihat buku tera TUM, diperoleh data-data sebagai berikut:
I II III IV
T1 135 138 131 153
T2 1627 1618 1633 1610
T3 20 20 20 20
Peka 0.3 0.3 0.3 0.28
Hasil pengukuran riil di lapangan:
I IV
posisi Ijk bout (salib ukur) 155 187
posisi Ijk bout (tongkat ukur) 1627 1610
ketinggian permukaan BBM 151 173
Kesimpulan
Kompartemen I:
 Posisi ijk bout sesuai dengan tera TUM, baik menggunakan pengukuran T1
maupun T2.
 Posisi permukaan BBM bawaan lebih tinggi 4mm dari ijk bout, artinya: BBM
yang dibawa kompartemen I, +13 liter.
Kompartemen IV:
 Posisi ijk bout tidak sesuai dengan tera TUM. Seharusnya, jika menggunakan
salib ukur (T1), posisi ijk bout berada di 173mm. Ketika dilakukan pengukuran,
posisi ijk bout TERNYATA berada di 187mm.
 Secara visual, posisi permukaan BBM bawaan lebih tinggi dari ijk bout, tapi jika
dihitung secara seksama, TIDAK ADA KELEBIHAN BBM pada kompartemen IV.
Karena permukaan BBM = posisi ijk bout seharusnya.
Yang menjadi pertanyaan saya adalah, bagaimana ini bisa terjadi?
Bukankah yang melakukan kalibrasi dan menghitung nilai T1, T2, dst adalah
lembaga yang terpercaya (METROLOGI)?

D. FAKTOR PENYEBAB LOSSES

Secara umum, ada tiga kategori faktor penyebab losses, yaitu: faktor alam,
faktor teknis, dan faktor manusia.
1. Faktor Alam
Seperti yang kita tahu, suhu dan tekanan merupakan faktor yang kuat dalam
mempengaruhi kualitas dan kuantitas BBM, dalam hal ini BBM jenis premium.
Setiap perubahan suhu 1oC akan mempengaruhi 0,12% dari volume BBM tersebut
dan mempengaruhi 0,001 – 0,003 dari massa jenisnya, dan tekanan yang kuat
akan lebih mempercepat proses penguapan. Suhu dan tekanan tidak dapat
dipisahkan, karena setiap kenaikan suhu akan membuat tekanan bertambah. Hal
ini bisa terlihat dari jenis bahan bakar lain yang lebih ringan, misalnya gas dalam
tabung, yang akan meledak jika dipanaskan.
Jika terdapat stok sebanyak 10.000 liter di dalam tangki pendam, kemudian
terjadi kenaikan/penurunan suhu sebanyak 1oC maka volume BBM di dalam tangki
pendam akan bertambah/berkurang sebanyak = 0,12% x 10.000 liter = 12 liter.
Bertambah 12 liter jika suhu naik 1oC dikarenakan massa partikel yang menjadi
lebih renggang. Berkurang 12 liter jika suhu turun 1oC dikarenakan massa partikel
yang menjadi lebih rapat. Yang masih menjadi pertanyaan saya adalah berapa
jumlah BBM yang menguap dari kenaikan/penurunan suhu 1oC? Saya sendiri belum
bisa jawab, mungkin ada rekan-rekan yang bisa menjelaskan.
Menurut informasi dari WP/SR pada tahun 2000-an, ada seorang pengusaha
SPBU dengan title insinyur yang merancang SPBU-nya untuk menekan losses dan
berhasil. Beliau melakukan hal-hal berikut, yaitu menjaga suhu di sekitar lokasi
tangki pendam agar selalu sejuk sehingga penguapan dapat dikurangi, dengan cara
menggunakan water sprinkle (air mancur putar) taman dan mengoperasikannya
pada saat tertentu dimana suhu meninggi. Selain itu, beliau juga membangun
tembok beton sebagai pondasi tangki pendam, sehingga tangki pendam akan lebih
rigid dan tidak mudah miring karena pergeseran tanah.
Hal krusial berkaitan dengan suhu adalah perbedaan suhu rata-rata di SPBU
dengan suhu rata-rata di depot pengisian BBM. Mengapa? Kebetulan, SPBU tempat
saya bekerja (wilayah Sukabumi) mempunyai suhu rata-rata 25oC pada pagi hari,
data ini diperoleh dari pengukuran density pagi hari. Kami mendapat supply dari
Depot Plumpang (Jakarta Utara) dengan suhu rata-rata pada saat pengisian siang
adalah 32oC dan pengisian malam adalah 28oC, data ini diperoleh dari Surat
Pengantar Pengiriman yang divalidasi oleh depot.
Selisih suhu pada saat pengisian di depot dengan suhu pada saat pengukuran
tangki pendam di pagi hari sudah mencapai -3oC s.d. -7oC, ini berarti -58 liter s.d.
-134 liter. Walaupun pada saat penerimaan BBM dilakukan pengukuran dengan
hasil:
- permukaan BBM berada tepat pada posisi ijk bout (benar 16.000 liter)
- perbedaan suhu tidak terlalu jauh (2o – 3oC) tetap saja SPBU harus
kehilangan senilai 58 s.d. 134 liter pada pagi harinya, karena faktor suhu.
2. Faktor Teknis
a. Kebocoran
Kebocoran ini seringkali terjadi pada bagian-bagian berikut:
- Instalasi pipa dari pompa ke dispenser unit
Jika SPBU anda mengalami losses tinggi dan masih menggunakan pipa besi
untuk instalasi pipa di atas, anda harus melakukan pemeriksaan terhadap
kebocoran yang mungkin terjadi. Pipa besi yang digunakan sebagai jalur dari
pompa ke dispenser unit akan mengalami korosi, terutama jika BBM-nya adalah
Premium. Dari proses korosi ini, semakin lama ketebalan pipa akan semakin
berkurang dan semakin rapuh. Dengan tekanan yang kuat, apalagi bila kita
menggunakan pompa dorong, kemungkinan akan terjadinya kebocoran pipa
semakin besar.
Hal ini yang terjadi di SPBU kami (kalau tidak salah didirikan sekitar tahun ‘89).
Indikasi kebocoran pertama kali diketahui pada bulan Mei 2008, kebetulan pada
waktu itu saya baru saja masuk sebagai karyawan baru. Dalam 1,5 bulan SPBU
kami kehilangan 11.000 liter BBM karena kebocoran pada pipa. Akhirnya pipa besi
diganti dengan pipa dari semacam plastik fleksible dengan alasan lebih tahan
korosi.
Untuk melakukan test apakah instalasi pipa mengalami kebocoran atau tidak,
ada beberapa langkah mudah yang harus dilakukan:
1. tentukan terlebih dahulu jalur mana yang diduga mengalami kebocoran,
kemudian ketahui jalur tersebut menghubungkan tangki pendam yang mana,
ke dispenser unit yang mana.
2. hentikan penjualan yang dilayani oleh dispenser unit bersangkutan.
3. ukur stok BBM di tangki pendam, tapi sebelumnya biarkan selama 10 – 15
menit agar permukaan BBM di dalam tangki pendam benar-benar diam tanpa
ada riak gelombang, kemudian catat hasil pengukurannya.
4. jalankan pompa pada tangki pendam dengan cara enarik/mengangkat nozzle
pada dispenser hingga menunjukkan angka 0, lalu biarkan selama 5 – 10
menit. Proses ini akan mengalirkan BBM dari tangki pendam ke mesin
dispenser. Jangan mengeluarkan BBM dari nozzle, biarkan saja nozzle
tergeletak, hal ini mungkin akan menyebabkan dispenser berbunyi bip
berulang-ulang.
5. hentikan mesin pompa dengan cara kembalikan nozzle pada tempatnya
(dispenser unit) sehingga dispenser kembali pada posisi semula (idle).
6. diamkan selama 10 – 15 menit sehingga permukaan BBM pada tangki
pendam benar-benar dalam posisi diam dan tidak ada riak gelombang.
7. ukur kembali stok BBM di tangki pendam dan bandingkan dengan hasil
pengukuran awal yang disebutkan pada langkah ke 3.
Jika terdapat selisih dalam pembandingan hasil pengukuran awal dengan hasil
pengukuran akhir, maka dapat dipastikan bahwa pipa jalur mengalami kebocoran.
- tangki pendam
Cara pertama untuk mengetahui kebocoran pada tangki pendam adalah dengan
mengambil sample air yang terdapat pada sumur pantau. Logikanya, jika tangki
pendam mengalami kebocoran, BBM akan meresap ke dalam tanah dan resapan ini
akan tertampung dalam sumur pantau. Karena massa jenis BBM lebih kecil dari
massa jenis air (massa jenis air =1; massa jenis premium = 0,7; massa jenis solar
= 0,8) maka BBM akan mengapung di atas air. Untuk itulah perlu diambil sample
air dari sumur pantau dan dilihat apakah terdapat lapisan BBM pada
permukaannya.
Cara kedua adalah dengan mengetahui kadar air dalam tangki pendam. Jika tangki
pendam mengalami kebocoran, air di dalam tanah akan dengan mudah masuk ke
dalam tangki pendam. Cara untuk mengukur kadar air adalah dengan
menggunakan pasta air.
- pipa saluran filling pot ke tangki pendam (pipa lossing)
Setiap tangki pendam biasanya memiliki satu filling pot atau pipa lossing. Pipa
lossing ini merupakan saluran masuk BBM dari mobil tangki pada saat penerimaan
BBM. Cara untuk mengetahui kebocoran pada pipa lossing adalah sebagai berikut:
1. buka sambungan pipa lossing dengan tangki pendam, biasanya di atas
manhole tangki pendam terdapat sambungan pipa dari pipa yang keluar dari
dalam tanah dengan pipa yang menjulur masuk ke dalam tangki pendam.
Nah, sambungan ini-lah yang dibuka.
2. tutup ujung pipa yang keluar dari dalam tanah dengan plendes yang dilapisi
paking karet dan pastikan tutup plendes ini terpasang dengan baik tanpa
mengeluarkan tetesan BBM sedikit pun.
3. isikan BBM ke dalam pipa lossing (dari filling pot) hingga BBM meluap keluar
dari filling pot bertanda pipa lossing telah terisi penuh.
4. tutup dan biarkan untuk beberapa lama (1/2 – 1 hari).
5. periksa apakah permukaan BBM pada filling pot berkurang atau masih dalam
kondisi penuh. Pada kondisi normal tanpa kebocoran, BBM mungkin akan
berkurang sedikit saja karena pengaruh suhu dan penguapan.
b. Tera
Tera adalah takaran pengeluaran nozzle yang biasanya di ukur dengan
menggunakan bejana 20 liter yang telah disertifikasi oleh Dinas Metrologi. Dari
hasil pengeluaran nozzle sebanyak 20 liter ke dalam bejana akan terlihat nilai
pengeluaran sebenarnya.
Toleransi takaran yang dianjurkan untuk SPBU Pasti Pas adalah 0, namun dalam
kenyataannya -60 ml/20 liter adalah batas maksimal yang diperbolehkan. Tera
dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan disaksikan oleh petugas dari Dinas
Metrologi, dan dengan biaya yang lumayan tinggi.
Pada kondisi Tera mesin yang tidak stabil, bisa terjadi loncatan Tera dari
-30/20 ke 0/20 s.d. +30/20. Misalkan saja penjualan dari 1 nozzle dengan nilai
Tera tersebut mencapai 8.000 liter, berarti kita hanya kehilangan sebanyak 12 liter
saja.
Tapi, yang namanya mesin memang tidak bisa ditebak dan tidak bisa dipaksa untuk
terus konsisten.
Walupun kita telah melakukan setting Tera ke nilai -, namun menurut
keterangan dari teman-teman di SPBU lain, mesin dispenser tertentu memiliki
kecenderungan untuk berubah Tera-nya ke nilai +. Belum lagi teknik pengeluaran
BBM-nya itu sendiri, apakah melalui preset atau manual. JIka anda melihat berkas
laporan hasil audit Intertek, terdapat salah satu lembaran yang memuat hasil Tera
dari nozzle yang diuji (minimal 50% dari jumlah nozzle yang ada). Disitu tertulis
dua nilai untuk 1 nozzle yang di tes, yaitu preset dan manual. Perlu diketahui,
bahwa pengeluaran nozzle dengan methode manual cenderung memberikan nilai (-
) yang lebih kecil daripada dengan methode preset, jika kedua methode ini
digabungkan dengan teknik pengaturan speed pada nozzle. Yang dimaksud
pengaturan speed pada nozzle adalah banyaknya keluaran BBM dari besar kecilnya
bukaan klep di dalam nozzle.
Satu hal yang sangat penting adalah pengaturan speed di nozzle pada saat
pengeluaran BBM. Mungkin teman-teman juga sudah mengetahui, bahwa untuk
BBM jenis Premium, untuk memperoleh nilai (-) yang minimal, speed pengeluaran
BBM pada nozzle harus di set rendah atau lambat. Sedangkan untuk BBM jenis
Solar/Bio Solar, pengeluaran BBM pada nozzle harus di set tinggi atau cepat.
Tindakan ini bisa digunakan pada saat menghadapi Audit yang dilakukan oleh
Intertek, supaya hasil keluaran nozzle cenderung memiliki nilai (-) yang rendah.
Jika anda masih bingung, akan saya berikan rumusnya sbb:

- Premium : speed rendah + manual terlebih dahulu


- Solar : speed tinggi + manual terlebih dahulu
Hal lain yang menentukan besar kecilnya nilai Tera adalah seberapa sering
nozzle yang diuji digunakan oleh operator. Semakin lama nozzle tidak digunakan,
semakin besar kemungkinannya untuk mengeluarkan BBM dalam nilai (-) yang
tinggi. Ini dikarenakan BBM pada selang nozzle dan di dalam mesin mengalami
penyusutan, akibat jarang digunakan sehingga ruangan terisi oleh angin. Cara
terbaik untuk menjaga nilai Tera agar stabil adalah dengan melakukan test rutin
dan melakukan pengaturan ulang jika didapat nilai Tera yang mengalami
perubahan ke (+) atau (-).
Kondisi Tera seperti yang dijelaskan di atas, juga berlaku untuk Depot pengisian.
Seperti yang kita tahu, Depot juga menggunakan mesin dispenser, hanya saja
bentuk, ukuran dan mekanismenya berbeda. Maksud saya, apakah keluaran dari
filling point depot benar-benar 8.000 liter/kompartemen? Kalau lebih, sih, tidak jadi
masalah. Yang jadi masalah’kan kalau kurang? Toleransi untuk SPBU saja 60 ml
/20 liter atau -0,3%…. lalu toleransi untuk depot pengisian berapa? Oleh karena itu,
seharusnya ada proses Audit juga untuk depot pengisian, jangan cuma SPBU saja
yang di Audit.
3. Faktor Manusia
Jika kita telusuri dari awal, proses distribusi BBM hingga sampai ke konsumen
adalah sebagai berikut: Depot – Transportir – SPBU. Berapa banyak manusia yang
dilibatkan untuk menyelesaikan proses tersebut? yang jadi kendala utama adalah,
yang namanya manusia ada saja yang berbuat “nakal” dan kita tidak tahu pasti
pada proses yang mana “kenakalan” itu terjadi.
Keterangan yang saya tulis dibawah ini adalah bentuk “kenakalan” pada
umumnya, ada yang benar-benar terjadi, ada juga yang belum. Tapi ini patut
menjadi bahan masukan dan dicari tindak lanjut penyelesaiannya.
- Depot
Dengan semakin canggihnya teknologi saat ini, keterlibatan manusia dalam
proses pengisian BBM ke mobil tangki dibatasi. Sekarang, tidak ada lagi petugas
pengisian di Depot, para sopir/kernet yang akan mengisi mobil tangki tinggal
menekan tombol tertentu di filling point dan otomatis BBM akan tercurah senilai
8.000 liter pada setiap kompartemen mobil tangki mereka. Namun, katanya (baru
katanya, lho) keluaran BBM dari filling point depot tersebut masih bisa dirubah/di
set oleh petugas yang berada di kontrol room Depot. Nah, lho?…….
Caranya, sebelum melakukan pengisian, para sopir/kernet akan menghubungi
kontrol room (atau sebaliknya, kontrol room menghubungi sopir/kernet) dan sim
salabim…. kapasitas pengeluaran BBM pada filling point pun sesuai dengan yang
mereka kehendaki.
Bagi anda pekerja SPBU, pernahkah anda mendapati mobil tangki yang
membawa BBM ke SPBU anda dalam kondisi yang penuh pada setiap
kompatemennya? (mereka menyebutnya dengan istilah “stok”). Saya pernah
mendapati mobil tangki dengan stok sebanyak 200 liter/kompartemen, total 400
liter!!!! dan mereka (sopir/kernet) meminta pihak SPBU untuk membayar stok 400
liter tersebut senilai Rp. 1.200.000,- Ketika ditanya dari mana stok sebanyak itu,
mereka menjawab ini titipan “orang dalam”. “Kenakalan” lainnya adalah, mereka
memotong kapasitas BBM yang akan dikirim ke SPBU. Modusnya begini:
- mobil A akan mengirim BBM ke SPBU C, dengan tips (uang curah, DB, uang
makan) yang rendah atau bahkan tidak ada tips sama sekali.
- mobil B akan mengirim BBM ke SPBU D, dengan tips yang besar (> Rp.
50.000)
- mobil A akan memotong kapasitas keluaran BBM di filling point, yang
seharusnya 8.000 liter/kompartemen menjadi, misalkan, 7.900
liter/kompartemen.
- mobil B akan diisi sebanyak 8.000 liter/kompartemen + 100
liter/kompartemen (dari hasil pemotongan mobil A).
Bagaimana mana sistem jualbeli-nya, saya sendiri kurang paham, tapi yang
pasti, begitulah informasi yang saya dapat dari para sopir/kernet mobil. Mungkin,
masih banyak lagi kecurangan lainnya yang terjadi di Depot, tapi hanya itu yang
saya dengar, mungkin teman-teman punya informasi lain mengenai hal ini.
- Transportir
Dulu, sering ada istilah “kencing”. Kencing ini maksudnya para sopir/kernet
menjual BBM pada mobil tangki yang seharusnya dikirim ke SPBU, sebelum mereka
sampai di SPBU yang dituju. Entah sekarang, apakah masih terjadi atau tidak, yang
pasti untuk mencegah terjadinya hal seperti ini, perlu juga sekali-kali petugas SPBU
mengawal tangki yang akan menuju ke SPBU mereka.
- SPBU
Pengawas/supervisor atau foreman, ya, mereka-lah yang berbuat nakal. Ada
beberapa modus yang saya ketahui:
1. Pada saat lossing, petugas SPBU akan memeriksa kuantitas BBM, dengan
methode yang sudah saya jelaskan pada postingan sebelumnya. Seharusnya,
petugas SPBU memeriksa dengan teliti dan membuat Berita Acara
Penerimaan, jika diketahui kuantitas BBM pada mobil tangki yang
bersangkutan tidak sesuai, dalam hal ini selisih kurangnya lebih dari 12
liter/kompartemen. Dengan membiarkan terjadinya kekurangan tersebut,
petugas SPBU akan mendapat “tips” dari sopir/kernet.
2. Sopir/kernet yang telah bekerja sama dengan petugas SPBU, akan
menghentikan proses lossing pada saat BBM belum benar-benar
habis/kosong. Salah satu dari mereka akan menutup kran pada mobil tangki,
padahal proses lossing masih berjalan. Sisa BBM yang belum tercurah di
dalam mobil tangki, (mungkin) akan dijual oleh sopir/kernet, dan untuk
memperlancar aksi tersebut sopir/kernet akan memberi “tips” atau “uang
tutup mulut” kepada petugas SPBU yang bersangkutan.
Kedua modus ini benar-benar terjadi di SPBU kami, akibatnya losses Bio
Solar mencapai 1% pada saat itu, yang seharusnya 0,1% – 0,3% saja rata-
rata per bulannya.
Untuk mengatasi “kenakalan” seperti ini:
- petugas lossing tidak boleh dibiarkan sendiri dalam menjalankan tugasnya.
Dia harus ditemani oleh petugas SPBU lainnya yang dedikasi dan loyalitasnya
sudah terbukti, artinya benar-benar bisa dipercaya.
- setelah selesai lossing, pastikan untuk memeriksa kondisi di dalam mobil
tangki, apakah sudah benar-benar kosong.
- usahakan untuk tidak lossing pada malam hari (kecuali benar-benar
terpaksa)
- jalin hubungan yang baik dengan sopir/kernet sehingga mereka segan
untuk melakukan “kenakalan” seperti di atas.
5. Pengawas/supervisor SPBU akan berusaha mendapatkan kode untuk mesin
dispenser yang bisa merubah totalizer/nomerator digital penjualan pada masing-
masing nozzle. Perlu diketahui, kode ini hanya dimiliki oleh teknisi dari vendor
yang bersangkutan, tapi entah bagaimana caranya, toh kode ini bisa bocor ke
tangan yang tidak bertanggungjawab.
Untuk menjalankan modus ini, pengawas harus bekerja sama dengan operator,
karena operator yang menerima uang di lapangan hasil dari penjualan. Sebelum
masa shift kerja berakhir, pengawasnya sendiri atau operator yang telah diberi
kode tersebut, akan merubah nilai totalizer/nomerator penjualan seharusnya,
dengan nilai totalizer yang mereka kehendaki. Misalnya, totalizer seharusnya dari
hasil
penjualan adalah 192.480,123 mereka rubah ke 192.400,123 sebanyak 80 liter
mereka kurangi dari totalizer seharusnya. Berkurangnya totalizer ini tentu akan
mengurangi jumlah setoran penjualan seharusnya, tapi karena BBM nya benar-
benar terjual, maka yang terjadi adalah losses sebanyak -80 liter.
Selain kode untuk merubah totalizer, ada lagi kode untuk menghentikan totalizer
pada saat penjualan. Maksudnya, totalizer tidak akan bertambah walaupun
nozzle mengeluarkan BBM. Kalau yang ini, operator pelakunya, namun tidak
menutup kemungkinan, pengawas/supervisor berada di balik aksi mereka.
Saat ini, (lagi-lagi baru katanya) salah satu vendor mesin dispenser sedang
menyelidiki para staff dan teknisinya, mengenai bocornya kode rahasia tersebut.
Bocornya kode tersebut diketahui oleh managemen vendor dari komplain yang
dilakukan pengusaha SPBU.
Untuk mencegah aksi “nakal” seperti pada poin 3 di atas, yang perlu dilakukan
adalah:
- catatlah selalu tolalizer analog pada setiap berakhirnya masa kerja shift.
Totalizer analog ini biasanya terletak di bawah display digital pada mesin
dispenser. Pencatatan ini dilakukan untuk membandingkan hasil pengeluaran
totalizer digital dengan totalizer analog, apakah terdapat selisih yang terlalu
besar atau tidak.
- untuk mencegah “diutak-atiknya” totalizer analog, buatlah sabuk pengaman
yang mengelilingi tutup samping mesin dispenser, sehingga kap mesin
dispenser tidak mudah dibuka. Selain itu, lapisi bagian penutup totalizer
analog (biasanya penutupnya dari plastik) dengan kaca bening.
Cara Hitung Batas Kewajaran Susut BBM SPBU

Susut bbm adalah besaran selisih yang dihasilkan dari penghitungan stock
awal, banyaknya jumlah penerimaan bbm dan banyaknya jumlah penjualan harian
atau bulanan serta sisa stok akhir pada tangki pendam. Adapun batas toleransi
susut yang dianggap normal yakni 0,5 % dari total keseluruhan penjualan tiap
jenis produk yang dijual. Untuk mengetahui besaran susut yang Anda alami di Spbu
apakah masih wajar atau sudah melebihi batas dari kewajaran yang ditoleransi
dalam penghitungan susut. Silahkan bandingkan dengan contoh Cara Hitung Batas
Kewajaran Susut BBM Spbu di bawah ini :

Langkah penghitungan berikut merupakan cara umum untuk menilai besar


kecilnya loss yang ditentukan dengan nilai persen ( % ). Persentase ini diperoleh
dari perbandingan nilai dalam liter terhadap jumlah penjualan dalam liter :

Misal kita ingin menghitung batas kewajaran susut dari Premium. Stok sondingan
terakhir bulan kemarin 14.000 liter yang diambil dari total keseluruhan jumlah
tangki pendam untuk Premium.

~ Stok akhir = 14.000 liter.

Selanjutnya berapa total penerimaan kl dalam sebulan, misal 25 kompertemen


tangki berkapasitas 8 kl. Yakni, bukan banyaknya truk tangki yang bongkar tapi
mengacu pada banyaknya kapasitas yang dibawa oleh truk tangki.

~ 25 ( X ) 8.000 Kl = 200.000 Liter.

Lalu silahkan hitung berapa total penjualan sebulan. Misal pada contoh ini kita
memperoleh hasil penjualan dalam sebulannya 207.000 Liter.

~ Penjualan = 207.000 Liter.

Sampai di sini kita hitung dulu berapa sisa stok menurut hitungan (stok
teoritisnya), yakni:

Stok Awal = 14.000 Liter.

Penerimaan = 200.000 Liter

Penjualan = 207.000 Liter


Jadi, 14.000 (+) 200.000 (-) 207.000 = 7.000 Liter

Nilai 7.000 Liter dari hasil menurut hitungan teoritis di atas bukan merupakan hasil
akhir. Karena susut dapat diketahui setelah kita telah meng-sonding secara
langsung tangki pendam pada hari terakhir penutupan bulan menurut hitungan
kalender atau hari awal kita mengambil stok dasar untuk stok awal bulan. Misal
hasil sondingan akhir bulan 5.600 Liter, maka susut tangki sebenarnya adalah
Stok sondingan dikurangi stok teoritis.

5.600 (-) 7.000 = (-)1.400 Liter

Dan langkah terakhir bagaimana kita mengetahui apakah susut - 1.400 liter yang
dialami di atas apakah termasuk dalam batas kewajaran atau tidak:

- 1.400 (X) 100 (:) 207.000 = 0.67 %

Ternyata hasil yang didapatkan pada contoh di atas termasuk dalam susut yang
tidak wajar.
Contoh Menghitung Susut Harian SPBU

Bagi teman-teman yang masih bingung mengisi buku laporan harian atau
mencoba menghitung berapa besaran susut yang dialami selama satu hari kerja.
Dikarenakan belum pernah mengikuti pelatihan yang diadakan oleh
Pertamina Training Centre (PTC). Melalui tulisan ini, mencoba memberikan satu
contoh bagaimana mengisi pembukuaan harian susut.

Kalaupun nantinya ada perbedaan dari gambaran pembukuan di hadapan


teman-teman, ini sehubungan dengan tidak adanya sama sekali format lembaran
pengisian pembukuannya. Begitu pula dengan bagaimana cara-cara pengisian
untuk pembukuan lain, silahkan kirimkan lembar formatnya via email (kontak).

Contoh di bawah adalah bagaimana cara menghitung susut 2 (dua) tangki premium
dengan memakai dispenser pompa 4 (empat) nozzle. Perlu diingatkan, bahwa
perhitungan susut hari ini didasari dari penjualan operator shift pagi kemarin
sampai berakhirnya shift malam pada pagi hari ini.

Premium Tangki 1

NOZZLE TELLER AWAL TELLER AKHIR SELISIH

1 1000100 1000200 100

2 1000500 1000900 400

TOTAL 500

Nozzle 1 dan 2 terhubung dengan tangki satu premium. Rumusnya; nomor


teller akhir dikurangi nomor teller awal sama dengan selisih. Total keseluruhan
merupakan banyaknya penjualan (liter) yang dijual operator pada tangki
satu, yakni 500 liter.
Nomor teller awal diambil dari catatan nomor teller operator saat akan
memulai penjualan pagi atau pergantian shift malam ke pagi. Biasanya dituliskan di
buku penjualan yang dipegang oleh operator sendiri. Sedangkan nomor teller akhir
diambil ketika shift malam berakhir.

Dengan kata lain, nomor teller terakhir yang dicatat shift malam (pagi
ini) dikurangi nomor teller awal yang dicatat oleh shift pagi (kemarin). Dan di
antara tenggang waktu shift pagi sampai berakhirnya shift malam, ada
penerimaan bbm/pembongkaran sebanyak 16.000 liter.

Selanjutnya, stok sondingan pagi tangki pendam kemarin (stok awal)


sebanyak 1.000 liter (;setelah ketinggian sondingan dikonversi dari tabel kalibrasi
tangki). Dan stok sondingan tangki pendam hari ini sebanyak 16.411 liter

Bila semua data telah diketahui, seperti total penjualan/pembelian premium dari
shift pagi sampai shift malam 500 liter, jumlah penerimaan sebanyak 16.000, stok
sondingan pagi kemarin 1.000 liter dan stok sondingan hari ini sebelum operator
menjual adalah 16.411 liter

Rumus mencari susut yaitu; Stok sondingan pagi kemarin ditambah jumlah
penerimaan bbm kemarindikurangi total penjualan dari shift pagi sampai akhir
shift malam (nomor teller) sama dengan hasil susut menurut hitungan. Lalu stok
sondingan tangki hari ini dikurangi hasil susut menurut hitungan. Untuk lebih
jelasnya;

1.000 liter (+) 16.000 liter (-) 500 liter = 16.500 liter. Dan 16.411 liter (-) 16.500
liter = - 89 liter. Jadi, susut harian di tangki 1 (satu) Premium yakni minus 89 liter.

Selanjutnya, menghitung susut pada tangki 2 (dua) Premium.


Premium Tangki 2

NOZZLE TELLER AWAL TELLER AKHIR SELISIH

3 1000300 1000600 300

4 1000900 1001050 150

TOTAL 450

Stok sondingan pagi tangki pendam kemarin = 8.720 liter. Penerimaan bbm =
0 liter, penjualan = 450 liter dan stok sondingan pagi ini = 8.775 liter.

8.720 (+) 0 (-) 450 = 8.270. Maka, susut harian pada tangki dua adalah 8.755 (-)
8.720 = +35 liter .

Sekali lagi, bahwa kunci perhitungan susut harian didasari dari berapa stok
pagi kemarin, berapa total penjualan operator selama seharian (1 kali 24 jam),
berapa mobil truk tangki yang bongkar dan berapa sisa stok pada hari ini.
Agen BBM (SPBU) sebagai Pengusaha Kena Pajak,
Bagaimana SPT PPN nya?

Pada tulisan kali ini saya mencoba menyampaikan wacana perihal pengukuhan
agen/penyalur BBM sebagai pengusaha kena pajak (PKP). Sebagaimana diketahui
bahwa pengusaha yang hanya menjual BBM saja, tidak perlu dikukuhkan sebagai PKP
(Non PKP). (Lihat Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE- 10/PJ.51/1993
tanggal 3 April 1993 tentang Pengenaan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) atas BBM,
disebutkan bahwa bagi pengusaha yang dalam kegiatannya hanya semata-mata
menyerahkan produk BBM (premium, solar, minyak tanah, minyak diesel, minyak
bakar, avtur, avigas), selain PERTAMINA, tidak perlu dikukuhkan menjadi PKP).
Karena produk yang dijual, yaitu premium, solar, minyak tanah, dan lainnya, di dalam
harga jualnya sudah termasuk PPN. Jadi tidak perlu lagi mereka memungut PPN.

Pengusaha Non PKP ini, sesuai ketentuan perpajakan, tidak diperkenankan menerbitkan
faktur pajak dan otomatis tidak ada kewajiban melaporkan SPT Masa PPN (Pajak
Pertambahan Nilai). Ketentuan ini tidak berlaku apabila selain menjual BBM, pengusaha
juga menjual barang kena pajak lainnya. Dalam kasus ini, maka pengusaha tersebut
harus dikukuhkan sebagai pengusaha kena Pajak.

Selain perlakuan yang berbeda dalam hal PPN, dalam pengenaan Pajak Penghasilan
(PPh) terhadap penjual BBM ini pun diperlakukan berbeda pula, yaitu dikenakan secara
final. Karena dikenakan PPh final maka agen/penyalur BBM tidak berkewajiban
melaporkan PPh Pasal 25. Jadi meski pengusaha ini memperoleh keuntungan
bermilyar-milyar misalnya, SPT Tahunan yang dilaporkan akan tetap NIHIL alias tidak
ada pajak yang perlu disetor lagi. Itulah keistimewaan Wajib Pajak yang bergerak
dalam bidang penjualan BBM.

Kembali ke masalah pengukuhan sebagai pengusaha kena pajak (PKP). Baru-baru ini
PT Pertamina di Balikpapan menganjurkan agar para agen/penyalur BBM mengajukan
diri untuk dikukuhkan sebagai PKP di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di mana agen
tersebut terdaftar. Kabarnya, latar belakang Pertamina menganjurkan ini adalah karena
pihak Pertamina sudah tidak lagi menyediakan alat angkut BBM dari depot ke
paracustomer.

Para customer-lah yang harus menyediakan sendiri sarana angkutannya dan atas biaya
angkut yang dikeluarkan oleh customer tersebut nantinya di-reimburse ke Pertamina.
Nah, syarat mengajukan penagihan (reimburse)harus disertai dengan faktur pajak.
Berdasarkan peraturan pajak yang berlaku (Pasal 39A Undang-undang Nomor 28 Tahun
2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan) agar bisa menerbitkan
faktur pajak, customer (atau siapa saja) terlebih dahulu harus dikukuhkan sebagai PKP.
Yang menjadi masalah adalah bila agen sudah menjadi PKP, pelaporan/pengisian SPT
PPN-nya seperti apa?

Core business agen/penyalur BBM adalah menjual BBM. Dalam menjual BBM ini tidak
diperkenankan lagi memungut PPN karena harga jual di konsumen terakhir sudah
include PPN. Jadi tidak ada transaksi penjualan BBM yang perlu dilaporkan di SPT Masa
PPN. Lalu apa yang dilaporkan di SPT Masa PPN? Apakah hanya dari angkutan saja? Bila
dari angkutan saja, pajak masukannya dalam bentuk apa?

Untuk menjawab ini kita berasumsi bila agen tersebut semata-mata hanya menjual
BBM dan penjualanya ke konsumen non industri, maka yang dilaporkan di SPT PPN
Form 1107A adalah jumlah tagihan atas biaya angkut ke Pertamina. Bila ada pembelian
yang berhubungan dengan alat transportasi, misalnya pembelian spareparts, maka
pembelian tersebut dimasukkan/dilaporkan di Form 1107B.

Apabila agen tersebut di samping menjual BBM ke konsumen non industri tetapi juga
menjual ke konsumen industri, maka atas penjualan BBM ke non industri juga harus
dilaporkan di Form 1107A karena bila pembelinya adalah perusahaan
industri/manufaktur, biasanya pembeli tersebut meminta faktur pembeliannya. Dan
sebagai kredit pajak dari penjualan BBM ke industri ini adalah pajak masukan
pembelian BBM oleh agen ke Pertamina.

Paragraf terakhir adalah sebatas teori yang mudah-mudahan bisa menjadi jalan keluar
bagi para agen BBM dalam menjual BBM-nya ke industri. Karena praktek bisnis agen
BBM ke konsumen industri belum sepenuhnya saya pahami.
Sekilas Perpajakan Bagi Pengusaha SPBU
Salah satu hal yang dilakukan oleh Account Representative(selanjutnya disebut AR dalam jurnal ini)
dalam rangka pekerjaannya adalah memberikan pelayanan dan melakukan pengawasan, walau
sejujurnya sewaktu menjadi AR saya lebih mengutamakan pengawasan diantaranya adalah dalam
rangka penerimaan yaitu penggalian potensi. Salah satu yang menjadi perhatian saya adalah
pengusaha orang pribadi (Selanjutnya disebut OP dalam jurnal ini) yang sekaligus pemilik Stasiun
Pengisian Bahanbakar untuk Umum (selanjurnya disebut SPBU dalam jurnal ini). Berdasarkan hasil
kunjungan (visit) dan investigasi diketahui bahwa disamping pemilik SPBU, juga memiliki usaha
perdagangan seperti usaha meubel dan usaha material bangunan serta sebagai direktur dan
komisaris dibeberapa perusahaan dan tentu saja OP ini juga belum dikukuhkan sebagai Pengusaha
Kena Pajak (Selanjutnya disebut PKP dalam jurnal ini). Hal tersebut menarik buat saya, karena tidak
ada nilai pembayaran PPh Pasal 25 OP alias nihil dalam laporannya.
Nah dalam jurnal kali ini saya mencoba menuliskan permasalahan apa yang menyebabkan SPT OP
tersebut nihil, apakah karena pengusaha SPBU sudah dikenakan PPh Final sehingga tidak perlu
melaporkan kewajiban perpajakannya, lalu bagaimana dengan usaha lainnya? apakah memang
tidak perlu dilaporkan, atau ketidakperdulian wajib pajak atau ketidakperdulian petugas pajak?, atau
memang kekurangtahuan wajib pajak dalam pengisian SPT? Adapun judul jurnal kali ini adalah
Sekilas Perpajakan Bagi Pengusaha SPBU, harapannya pembaca baik itu pelaku usaha, petugas
pajak maupun lainnya dapat berbagi pengalaman dan informasi dalam rangka meluruskan informasi
yang salah dalam jurnal-jurnalan ini :).
Pengenalan Usaha SPBU
SPBU atau yang dikenal masyarakat sebagai pom bensin adalah prasarana umum yang disediakan
oleh PT. Pertamina (Persero) untuk masyarakat umum dalam memenuhi kebutuhan Bahan Bakar
Minyak (BBM). Premium, solar, pertamax dan pertamax plus merupakan BBM yang dijual oleh
SPBU. Adapun setiap SPBU memiliki prasarana standar yang sudah ditentukan oleh PT. Pertamina.
Terdapat dua jenis SPBU yaitu SPBU yang menjual produk Pertamina dan SPBU yang menjual
produk lain (seperti, Shell, Petronas) adapun perbedaan antara kedua SPBU itu adalah sebagai
berikut :
1. SPBU Pertamina, BBM yang dijual merupakan subsidi dari pemerintah (khusus untuk premium
dan solar), sedangkan pada SPBU Shell yang dijual merupakan non subsidi.
2. SPBU Pertamina, BBM yang dijual harganya tergantung kebijakan pemerintah, sedangkan pada
SPBU Shell yang dijual harganya berfluktuasi (sering naik turun).
Kepemilikian atas SPBU Pertamina terbagi menjadi dua macam yang dimiliki oleh pertamina itu
sendiri dan dimiliki oleh swasta. Sebagai syarat untuk membuka SPBU Pertamina diwajibkan untuk
menyediakan semua produk pertamina yang meliputi Solar, Premium, Pertamax, pertamax plus dan
pelumas.
Mekanisme transaksi pembelian ke Pertamina adalah sebagai berikut :
1. Hal yang pertama dimiliki SPBU adalah nomor pelanggan yang terdiri atas sold to dan ship
to yang keduanya berisikan nama pemilik SPBU dan kode-kode yang telah ditentukan oleh
Pertamina. Sold to menunjukan nomor NPWP pemilik SPBU dan ship to menunjukan alamat
daripada SPBU tersebut.
2. Pihak SPBU melakukan pemesanan produk kepada pertamina umumnya 4 (empat) produk yaitu
Solar, Premium, Pertamax, pertamax plus. Setiap pemesanan tiap item harus berkelipatan
delapan dikarenakan truk tangki yang mengangkut BBM tersebut bervolume 8 ribu kilo liter.
Pemesanan tersebut dilakukan di bank dengan mengisi formulir aplikasi standar yang khusus
disediakan oleh bank untuk kegiatan pemesanan produk-produk dari pertamina.
3. Setelah pemesanan, pihak SPBU melakukan pembayaran. Pembayaran dilakukan melalui
transfer di bank, dapat dilakukan dengan tunai maupun transfer. Pembayaran meliputi harga
pokok pembelian, PPN, PPh Pasal 22, dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB)
yang tertera dalam invoice. Dari pembayaran tersebut, bank akan mengeluarkan ship order (SO)
sebagai bukti telah dilakukan pembayaran atas pemesanan produk pertamina.
4. Selanjutnya, pihak pertamina layanan jual akan mengeluarkan DO (Delivery Order) yang
nantinya diserahkan dahulu pada pihak Patra. Patra adalah anak perusahaan pertamina yang
merupakan distributor antara pertamina dan SPBU. Pihak patra tersebut nantinya akan
mengeluarkan surat jalan yang akan dibawa oleh mobil pengangkut pada waktu pengiriman
barang.
5. Pihak pertamina memiliki sistem pengiriman barang ke pihak SPBU satu hari setelah dilakukan
pembayaran. Setelah dilakukan pembayaran, maka keesokan paginya akan dilakukan
pengiriman BBM dengan membawa surat jalan sampai ketujuan sesuai dengan alamat yang
tertera pada kolom ship to yang terdapat pada dokumen invoice. Harga pemesanan tersebut
berlaku pada saat penyerahan, misalkan pembayaran telah dilakukan hari ini juga dan barang
akan dikirim keesokan harinya tetapi keesokan harinya harga BBM mengalami kenaikan harga,
maka pihak SPBU harus membayar lagi atas kenaikan harga tersebut pada saat pengiriman.
Untuk SPBU yang menjual produk Pertamina mendapat laba (margin) yang telah ditentukan oleh
Pertamina. Laba yang diberikan kepada SPBU itu bermacam-macam tergantung dari jenis SPBU itu
sendiri. Ada tiga jenis SPBU jika dibedakan dari margin yang didapat yaitu : 1). Biasa, 2). Way dan
3). Pasti Pas. Untuk SPBU Biasa diberikan margin Rp. 180,00/liter, untuk SPBU Way diberikan
margin Rp. 190,00/liter dan untuk SPBU Pasti Pas diberikan margin Rp. 205,00/liter.
Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pada SPBU
Minyak mentah hasil pertambangan/pengeboran oleh Pertamina bukan merupakan Barang Kena
Pajak (Selanjutnya disebut BKP dalam jurnal-jurnalan ini) yang dikenakan PPN karena diambil
langsung dari sumbernya (UU PPN Pasal 4 ayat 2 huruf a). Namun setelah diolah menjadi BBM
yang siap dikonsumsi menjadi BKP yang dikenakan PPN. Jadi BBM yang dijual oleh Pertamina
kepada SPBU yang nantinya dikonsumsi oleh masyarakat umum merupakan BKP yang terutang
PPN. Namun terdapat aspek khusus untuk penjualan atas produk-produk Pertamina dimana yang
memungut PPN adalah Pertamina pada saat penebusan DO oleh SPBU (SE-10/PJ.51/1993). Harga
jual BBM kepada konsumen include PPN sebesar 10%, atas PPN telah dibayarkan oleh SPBU
kepada Pertamina karena di dalamnya sudah termasuk harga jual kepada konsumen. Dimana DPP
atas BBM dalam SPBU didapat dari harga jual dari pihak Pertamina kepada SPBU, jadi Pertamina
memungut PPN sebesar10% dari harga jual kepada SPBU.
Dalam SE- 10/PJ.51/1993 tanggal 3 April 1993 tentang Pengenaan PPN (Pajak Pertambahan Nilai)
atas BBM, disebutkan bahwa bagi pengusaha yang dalam kegiatannya hanya semata-mata
menyerahkan produk BBM (premium, solar, minyak tanah, minyak diesel, minyak bakar, avtur,
avigas), selain PERTAMINA, tidak perlu dikukuhkan menjadi PKP). Karena produk yang dijual, yaitu
premium, solar, minyak tanah, dan lainnya, di dalam harga jualnya sudah termasuk PPN
PPN atas pembelian BBM yang dibayarkan oleh SPBU kepada Pertamina dianggap sebagai biaya.
Atas penjualan BBM, SPBU tidak lagi memungut PPN kepada konsumen tetapi harga include PPN
atau lebih dikenal oleh pengusaha SPBU dengan sebutan PPN Final karena tidak perlu memungut
PPN lagi. Berdasarkan aspek khusus tersebut maka SPBU tidak terdapat Pajak Masukan dan Pajak
Keluarannya.
Perlakuan Pajak Penghasilan Pasal 22 (PPh 22) Pada SPBU
Berdasarkan Pasal 22 ayat 1(b) dan 2 UU PPh dikatakan bahwa Menteri Keuangan dapat
menetapkan bahwa badan-badan tertentu untuk memungut pajak dari Wajib Pajak yang melakukan
kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain. Dan ketentuan mengenai dasar
pemungutan, kriteria, sifat, dan besarnya pungutan pajak diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan.
Maka Pajak Penghasilan Pasal 22 adalah PPh yang dipungut oleh Pertamina dan badan usaha
selain pertamina yang bergerak dibidang bahan bakar minyak jenis premix dan gas, atas penjualan
hasil produksinya.
Atas penjualan hasil produksi pertamina dan badan usaha selain Pertamina yang bergerak dibidang
bahan bakar minyak jenis premix dan gas serta pelumas kepada penyalur dan/atau agennya
dipungut dengan tarif :
1. 0,25% dari penjualan tidak termasuk PPN untuk penjualan kepada SPBU Pertamina
2. 0,3% dari penjualan tidak termasuk PPN untuk penjualan kepada SPBU bukan pertamina & Non
SPBU
3. BBG: 0,3% dari penjualan tidak termasuk PPN
4. Pelumas: 0,3% dari penjualan tidak termasuk PPN
Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 terhadap Produsen atau importir bahan bakar minyak,
bahan bakar gas, dan pelumas, atas penjualan bahan bakar minyak, bahan bakar gas, dan
pelumas; atas penjualan kepada penyalur/agen bersifat final (PMK-224/PMK.011/2012 Pasal 9
ayat 2).
SPBU wajib membayar atas pungutan PPh Pasal 22 oleh Pertamina sebesar tarif yang telah
ditentukan di atas dari DPP yang didapatkan dari harga jual SPBU kepada konsumen. Dan saat
terhutang Pajak Penghasilan Pasal 22 atas penjualan bahan bakar minyak, bahan bakar gas, dan
pelumas, terutang dan dipungut pada saat penerbitan surat perintah pengeluaran barang/delivery
order diterbus (PMK-224/PMK.011/2012 Pasal 4 ayat 5).
Perlakuan PPh Orang Pribadi Pengusaha SPBU
Berdasarkan SE-11/PJ.41/1995 ayat 1 mengatakan bahwa SPBU, Agen/dealer produk Pertamina
Premium, Solar, Pelumas, Gas LPG dan Minyak Tanah tetap berkewajiban mengisi dan
menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan PPh yang harus melaporkan seluruh
penghasilannya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
Bagi SPBU, Agen/dealer produk Pertamina yang menerima atau memperoleh penghasilan semata-
mata dari usaha sebagai penyalur Premium, Solar, Pelumas, Gas LPG dan Minyak tanah, jumlah
PPh yang terutang untuk suatu tahun pajak adalah sama dengan jumlah PPh Pasal 25 yang telah
disetor selama tahun pajak tersebut berdasarkan perjanjian kerjasama. Dengan demikian,
sepanjang penyalur tersebut tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain selain dari usaha
sebagai Penyalur Premium, Solar, Pelumas, Gas LPG dan Minyak tanah, untuk tahun pajak yang
bersangkutan tidak ada Pajak Penghasilan yang kurang atau lebih bayar. Oleh karena itu ruang
besarnya angsuran PPh Pasal 25 untuk tahun pajak berikutnya diisi “NIHIL”. Dalam hal jumlah
pajak yang terutang sebagai hasil penerapan tarif berdasarkan Pasal 17 Undang-undang Pajak
Penghasilan 1984 atas Penghasilan Kena Pajak berdasarkan laporan keuangan tidak sama dengan
jumlah PPh yang telah disetor berdasarkan ketentuan Perjanjian Kerjasama, maka atas jumlah
penghasilan kena pajak tersebut dilakukan penyesuaian sehingga penerapan tarif Pasal 17 Undang-
undang Pajak Penghasilan 1984 atas penghasilan kena pajak yang telah disesuaikan adalah sama
dengan jumlah PPh yang telah disetor berdasarkan Perjanjian Kerjasama.
Berdasarkan hal tersebut diatas jelas bahwa Orang Pribadi pemilik SPBU wajib melaporkan semua
penghasilannya dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT Tahunan OP) meskipun Nihil dan wajib
dilampiri laporan laba rugi dan neraca. Di dalam SPBU, pembelian BBM diakui sebagai inventory
yang termasuk di dalamnya harga beli, PPN, PPh Pasal 22, Pajak BBKB yang merupakan cost of
inventory. Di dalam invoice juga terdapat margin yang diberikan kepada SPBU yang langsung
memotong jumlah yang harus dibayarkan kepada Pertamina yang nantinya menjadi keuntungan
bagi pihak SPBU dari penjualan BBM tersebut.
Pemilik SPBU Juga Pemilik Usaha Lain
Seperti yang yang saya jelaskan diawal tulisan ketika penulis masih menjadi AR (Tahun 2007) dan
dalam rangka tugas penggalian potensi menghadapi permasalahan : disamping pemilik SPBU, juga
memiliki usaha perdagangan seperti usaha meubel dan usaha material bangunan serta sebagai
direktur dan komisaris dibeberapa perusahaan dan belum dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak (PKP).
Berdasarkan uraian tersebut di atas sangat jelas bahwa OP yang hanya memiliki usaha SPBU saja
memungkinkan SPT Tahunannya Nihil dan tidak perlu dikukuhkan sebagai PKP. Namun berbeda
apabila kasus tersebut di atas. Apabila memiliki usaha lain yang berbentuk Perdagangan Meubel
dan Material Bangunan sekaligus dapatlah dipastikan bahwa seharusnya laporan perpajakannya
memiliki kewajiban PPh Pasal 25 dan harus dikukuhkan sebagai PKP apabila peredaran usahanya
selain SPBU memiliki peredaraan usaha (Omset) lebih dari Rp. 600.000.000,-.
Bagi OP yang memiliki usaha lain disamping SPBU sebaiknya segera melakukan pembetulan SPT
Tahunan OP 1770 dan melaporkan semua penghasilan dengan benar dan dapat
dipertanggungjawabkan. Tentang penghasilan atas ini terdapat pada Formulir 1771 Lampiran IV
bagi badan hukum, tentang bagaimana prosedur dan pengisiannya, silahkan tanya pada AR
Saudara yang ditunjuk.
Kesimpulan
Karena persyaratan untuk usaha SPBU tidak dibatasi, artinya boleh orang pribadi atau badan
hukum sepanjang memenuhi persyaratan perijinan SPBU, siapapun dapat menjadi mitra PT.
Pertamina dalam mendistribusikan kepada masyarakat luas guna memenuhi kebutuhan bahan
bakar dimana pada umumnya SPBU menjual bahan bakar sejenis premium, solar, pertamax dan
pertamax plus. Berdasarkan kasus yang menjadi contoh di atas, ada kemungkinan bahwa
disamping pemilik usaha SPBU wajib pajak OP tersebut juga memiliki penghasilan lain. Memang
akhirnya saya tidak melihat apakah usulan pemeriksaan yang saya rekomendasikan telah dilakukan
atau tidak karena keburu pindah dari kantor tersebut (usulan pemeriksaan dilakukan karena
beberapa himbauan tetap tidak direspon).
Maka setelah membaca uraian singkat ini dan semangat “self assesment system” bagi pengusaha
SPBU untuk melaporkan seluruh penghasilan dalam SPT Tahunan Orang Pribadi serta
menyampaikan ke KPP Pratama setempat, apalagi bulan Februari ini berdekatan dengan batas
penyampaian SPT Tahunan. :).
PPN PENGUSAHA SPBU
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 10/PJ.51/1993

TENTANG

PENGENAAN PPN ATAS BAHAN BAKAR MINYAK (BBM)

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 1993 dan adanya
pertanyaan-pertanyaan mengenai pengenaan PPN atas Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan ini
ditegaskan hal-hal sebagai berikut :
 Dengan Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 1993 tersebut telah diatur harga Bahan Bakar
Minyak sebagai berikut :
Harga
No Jenis BBM
( Rp)

Avigas
1. 420
Avtur
2. 420
Premium
3. 700
Minyak Tanah
4. 280
5. Solar 380
6. Minyak Diesel 360
7. Minyak Bakar 240

 Sesuai dengan Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1985, apabila dalam harga
jual telah ditetapkan PPN menjadi bagian dari harga jual, maka PPN yang terutang dihitung
10/110 dari harga jual tersebut. Oleh karena harga BBM yang telah ditentukan dalam
Keputusan Presiden tersebut merupakan harga jual kepada konsumen akhir, maka PPN
sudah termasuk dalam harga jual tersebut Dengan demikian PPN dihitung 10/110 X harga
jual.
 Khusus mengenai minyak tanah, berdasarkan harga yang ditetapkan dalam Keputusan
Presiden Nomor 1 Tahun 1993, Menteri Dalam Negeri akan menentukan Harga Eceran
Tertinggi Minyak Tanah sehingga seharusnya DPP PPN tidak dihitung berdasarkan harga
yang ditentukan dalam Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 1993 tersebut tetapi
berdasarkan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditentukan oleh Menteri Dalam Negeri.
Namun demikian untuk sementara waktu sampai ada penegasan lebih lanjut, PPN hanya
dikenakan sampai pada harga penyerahan oleh PERTAMINA.
 Mengingat harga yang sudah ditetapkan tersebut sudah termasuk PPN sampai pada tingkat
konsumen akhir dan PPN yang terutang sudah dikenakan pada saat penyerahan dari
PERTAMINA, maka bagi pengusaha lain selain PERTAMINA tidak perlu mengenakan PPN
lagi atas produk-produk tersebut dan bagi pengusaha yang dalam kegiatannya hanya
semata-mata menyerahkan produk BBM seperti tersebut diatas, selain PERTAMINA tidak
perlu dikukuhkan menjadi PKP. Sedangkan bagi pengusaha yang dalam usahanya selain
menyerahkan BBM sebagaimana tersebut di atas juga menyerahkan BKP/JKP lainnya tetap
harus dikukuhkan menjadi PKP sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

 PPN yang terutang atas penyerahan BBM per liter adalah sebagai berikut :
PPN PER LITER BBM
Harga
Harga
Tidak
Termasuk PPN
No Jenis BBM Termasuk
PPN Rp
PPN
Rp
Rp

Avigas 420 38,18 381,82


1.
Avtur 420 38,18 381,82
2.
Premium 700 63,64 636,36
3.
Minyak Tanah 280 25,45 254,55
4.
5. Solar 380 34,55 345,45

6. Minyak Diesel 360 32,73 327,27


7. Minyak Bakar 240 21,82 218,18

Demikian untuk diketahui, dan disebarluaskan di wilayah Saudara serta dilaksanakan


sebagaimana mestinya.

https://armuhammad.wordpress.com/tag/ssp/